Review Film Goosebumps: Ketika Penulis Mengisolasi Diri dari Kehidupan Nyata

2 comments
Malam minggu ni saatnya kencan dulu.. Liat-liat di websitenya 21 ternyata ada film Goosebumps. Misua ngajakin nonton. Pas baca juduknya, pikiranku melayang ke beberapa tahun silam saat masih kecil dan mengingat tumpukan novel Goosebumps entah tumpukan di rak punya teman atau di perpus kota Samarinda. Yang jelas judul itu mengingatkanku tentang cerita yang menyeramkan. Dan actually, aku ga suka.

Tapi karena diajakin, dan mumpung weekend ketemunya. Jadilah aku mengiyakan untuk nonton, mengingat setelah menonton trailer nya di youtube juga lumayan bagus.

Di tengah padatnya lalu lintas kota Malang di malam minggu, akhirnya kami meluncur ke bioskop Dieng, jarak yang dekat dan murah. Untungnya, setelah terduduk manis di kursi bioskop, film pun dimulai. Jadi nggak ketinggalan. Ini dia review Film Goosebumps



Film ini berkisah saat Zacharia (Dylan Minnette) bersama ibunya pindah dari kota besar ke kota kecil yaitu Madison. Zach bertemu dengan tetangganya yang aneh dan agak misterius pada awalnya. Tetangganya, R. L. Stine (Jack Black) yang juga penulis Goosebumps, punya anak yang diciptakan dari khayalannya bernama Hannah (Odeya Rush).

Zach berkenalan dengan Hannah dan ayahnya sangat membenci pertemanan mereka. Zach selalu diancam untuk menjauhi Hannah, kalau tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Tapi siapa peduli, Hannah tetap mengajak Zach ke taman yang tidak terawat dan jauh dari rumahnya.

Kejadian demi kejadian, membuat R.L.Stine membenci Zach. Awal mula musibah terjadi, saat Zach melihat ada yang tidak beres dengan Hannah dari jendela kamarnya. Saat R. L. Stine pergi, Zach mendatangi rumahnya lewat gudang. Saat di dalam rumah, tidak sengaja salah satu novel karya R. L. Stine yang tersusun rapi di rak dibuka dengan kunci khusus. Ya, semua novel karyanya digembok!

Ternyata saat novel itu dibuka, semua monster yang diciptakan dari khayalan R.L. Stine keluar dari buku dan menghancurkan seisi rumah. Bahkan monsternya keluar rumah, Hannah berusaha menangkap monsternya. Walau tertangkap oleh ayahnya, ternyata buku-buku yang lain telah terbuka kunci gemboknya. Dan, semua monster keluar dari buku dan menghancurkan seisi kota.

Walaupun aku belum pernah baca bukunya, sepertinya filmnya ini menggabungkan semua monster karya R.L. Stine dalam novelnya yang kemudian bersatu melawan sang penulis. Idenya unik juga.

Petualangan yang menarik saat Hannah, Zach, temannya, dan R.L.Stine mencoba memasukkan monster-monster itu ke dalam buku, tapi sayang semua buku sudah dibakar oleh monster jahat itu. Hingga akhirnya R.L. Stine harus menulis ulang karyanya dalam waktu singkat agar monster itu masuk kembali ke dalam buku.

Tapi gangguan demi gangguan terus terjadi membuat Zach yang harus menyelesaikan ceritanya. Lucunya, dalam proses pembuatan cerita, ada teknik yang bisa diambil jadi pelajaran, seperti pembuatan cerita harus dalam kondisi yang tenang, konsentrasi, dan tidak terburu-buru memberikan endingnya. Begitupun diungkapkan secara singkat bahwa ada 3 bagian dalam menulis cerita yaitu bagian awal, tengah, dan kejutan (twist).

Aku menganggap bahwa R.L.Stine bisa menyelesaikan ceritanya ternyata bukan. Zach lah yang menyelesaikannya. Ketika monster-monster itu masuk ke dalam buku, ternyata Hannah juga masuk ke dalam bukunya karena saat Zach menulis ceritanya dia tidak berpikir bahwa Hannah juga akan hilang. Walau sebenarnya dia tahu Hannah hanya makhluk khayalan seperti monster itu. Dan Zach sudah terlanjur menulis ceritanya. Saat Zach menulis ceritanya, dia tergesa-gesa, tidak tenang, karena monster-monster itu hendak memakan Zach karena dia yang akan mengakhiri ceritanya. Ternyata Zach sudah menyelesaikan ceritanya tanpa berpikir panjang.

Film ini benar-benar membuatku berpikir, menulis cerita dengan khusyuk, seolah-olah tokoh yang ada itu nyata dan kita larut ke dalam cerita, harus benar-benar dikendalikan. Seperti tokoh R. L. Stine yang takut bergaul dengan manusia. Mengisolasi dirinya dari kehidupan nyata sampai menganggap semua manusia itu berbahaya. Memang penting sekali bagi penulis, terutama penulis horor, untuk mensekat pikirannya dari dunia imajinasi dan dunia nyata. Itulah kenapa aku sendiri belum berani menulis cerita horor. Suka ketakutan sendiri, belum mensekat dua hal itu. Apalagi masih awam sekali dengan dunia tulis menulis.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

2 komentar

Penyuka Novel Goosebumps mengatakan...

Goosebumps ini serial favorit saat saya SMA. Suka rebutan sama anak-anak kalau pinjam di perpustakaan. Saya lihat Gramedia menerbitkan serial ini lagi bbrp bulan ini. Mungkin karena adanya film ini.

Lita Lestianti mengatakan...

Wahh ditunggu2 bangett ni ya karyanya R. L. Stine.. nostalgia masa silam hehe

Follower