Kesuksesan Glintung Go Green Menjadi Kampung Bebas Banjir dan Kekeringan

2 comments
"Ada berjuta alasan mengapa kita harus tetap bangga menjadi orang Indonesia dan optimis akan masa depannya. Indonesia. It's not perfect. It's AWESOME!"

Yup

Jika kita melihat ketidaksempurnaan di negeri ini, belum tentu terdapat kesempurnaan di negara lain. Karena untukku, Indonesia jauh lebih membanggakan. Ada banyak karya anak negeri ini yang bisa membanggakan. Prestasi tidak hanya lingkup nasional maupun internasional. 

Yang lebih membanggakan lagi adalah ketika ide-ide kreatif dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar sebagai bentuk inovasi daerah untuk Indonesia. Satu lagi ada Kabar Baik yang datangnya dari Kota Malang, sebuah kampung yang dulunya terkesan kumuh dan sering banjir kini menjadi asri dan bebas banjir. Sebuah kampung yang bisa menjadi contoh bagi pengembangan perkampungan di Indonesia. Kampung Glintung Gang IV RW 23, berada di Kecamatan Blimbing, disebut sebagai Glintung Go Green (G3) karena keberhasilannya dalam menjadikan Glintung yang peduli terhadap lingkungan. Kampung ini mulai menjalankan program penghijauan sejak akhir tahun 2012.

Apa yang Membuatnya Terkenal?

Berbeda dengan kampung lain, kampung yang mengusung konsep Green City ini telah berhasil memanfaatkan ruang yang ada untuk penghijauan. Jika daerah lain masih mengalami masalah banjir dan kekeringan, maka datanglah dan belajarlah dari Kampung G3 ini. Kampung ini berhasil mengatasi masalah banjir karena adanya biopori dan sumur injeksi/ sumur resapan. Program inovatif yang utama adalah program GEMAR atau Gerakan Menabung Air yang menjadi pionir di Kota Malang. Tidak hanya itu, taman gantung (vertical garden) dan tanaman pada kanopi menjadi elemen yang tidak ketinggalan dalam mempercantik kampung Glintung. 

Suasana Hijau di Kampung Glintung Go Green
Sumber: Dokumen Pribadi

Kampung Glintung menjadi kampung percontohan dalam keberhasilan pelaksanaan urban farming. Sudah banyak mahasiswa, pemerintah daerah juga kader lingkungan yang mengunjungi kampung ini. Bahkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, pernah mengunjungi Kampung Glintung pada bulan September 2015 sebagai inspirasi inovatif dalam penanganan banjir di Jakarta. Kampung ini tidak hanya mendapat dukungan dari Pemerintah Kota, Universitas Brawijaya, tetapi juga dari salah satu universitas di Tokyo, Jepang.

Uniknya lagi, saat ada warga yang ingin membuat Kartu Keluarga, Pak RW menyarankan untuk menanam satu tanaman, jika tidak mampu bisa dibantu RW. Jika tidak menanam, maka tidak akan mendapat kartu keluarga. Memang warga ada yang menentang aturan itu, tetapi lama-kelamaan warga mulai mengerti dan menerima aturan yang ada.

Berikut ini program-program pengembangan penghijauan yang berkontribusi dalam mengatasi banjir dan kekeringan:

Tanaman Hidroponik 

Kalau kita masuk dari pintu gang maka kita akan melihat tanaman-tanaman hidroponik yang tersusun rapi nan hijau tergantung di dinding bangunan pinggir jalan. Masyarakat menanam tanaman di media hidroponik ini dengan jenis tanaman yang bisa dikonsumsi seperti sayur-sayuran: kubis, cabe, daun bawang, Sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dari hasil tanaman hidroponik.

Penduduk juga menanam tanaman yang bisa diperdagangkan, misalnya saat ada kunjungan wisata edukasi ke Glintung. Dari hasil penjualan ini dipergunakan warga untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan tanaman dan sumur injeksi. Dengan tetap menghemat air, penghijauan juga bisa dilakukan dengan cara hidroponik ini. 

Tanaman Hidroponik yang Mempercantik Kampung G3
Sumber: Dokumen Pribadi
Tanaman Hidroponik di Depan Rumah Warga
Sumber: Dokumen Pribadi


Tanaman pada Kanopi

Inovasi lain dalam mewujudkan lingkungan hijau adalah dengan membuat tanaman pada kanopi. Pot tanaman digantung di kanopi. Tanaman merambat juga mulai ditanam di setiap tiang kanopi. Saat saya kesana, kanopi di gang utama belum seluruhnya ditutupi tanaman. Sedangkan kanopi di gang-gang kecil sudah tertutupi tanaman merambat.

Kanopi yang Siap Ditanami
Sumber: Dokumen Pribadi

Kanopi dengan Tanaman yang Membuat Lingkungan Asri
Sumber: Dokumen Pribadi


Tanaman Merambat yang Menyelimuti Kanopi
Sumber: Dokumen Pribadi


Taman Gantung (Vertical Garden)

Tanaman Gantung ini menjadi elemen utama dalam penghijauan Kampung G3. Saat kita masuk gang, kita sudah disuguhi oleh keindahan vertical garden. Jenis tanaman yang ditanam juga berupa sayur-sayuran.

Vertical Garden untuk Tanaman Selada
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden untuk Tanaman Seledri
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Di Gang Sempit
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Memanfaatkan Pipa Paralon
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Permukiman Pinggir Rel Kereta
Sumber: Dokumen Pribadi

Biopori

Pembuatan biopori dilakukan dengan menggali tanah dan memasukkan pipa paralon sedalam 1 meter. Lubang ini dapat diisi dedaunan atau sampah organik sehingga menghasilkan kompos. Dengan biopori ini, penyerapan air ke dalam tanah menjadi lebih tinggi jika dibandingkan tanah tanpa biopori. Perkampungan yang semua di paving dan tidak ada air yang masuk ke dalam tanah, tentu menjadi penyebab terjadinya banjir dan kekurangan air sumur pada musim kemarau. Ini kenapa biopori menjadi peran dalam mengatasi banjir. 

Total biopori di kampung G3 ini sekitar 503 biopori kecil, 10 biopori besar dan 4 biopori super jumbo (sumber disini). Saat musim kemarau mendapat kompos 5 ton dan diolah hingga dijual sebesar Rp. 2.000 per kg (Sumber disini). 

Biopori di Kampung G3
Sumber disini


GEMAR (Gerakan Menabung Air) dan Sumur Injeksi

Salah satu upaya untuk mengatasi banjir secara efektif adalah menggalakkan GEMAR atau Gerakan Menabung Air. Bentuk gerakan ini yaitu dengan membuat sumur injeksi. Sistemnya air hujan akan masuk ke dalam sumur dan akan meresap ke tanah sehingga cadangan air dalam tanah akan meningkat. Penerapan sumur injeksi ini merupakan upaya konservasi air dalam menjaga ketersediaan air tanah. 

Sumur injeksi dibangun sebanyak lima unit dengan bahan beton diameter 1 meter dan kedalaman 4 meter. Dasar sumur ini diberi kerikil sebagai filter genangan air yang masuk ke dalam tanah. Jika dalam kondisi tertutup dapat menampung 4.000 liter air (sumber disini). 


Sumur Injeksi sebagai Wujud Program GEMAR
Sumber: Dokumen Pribadi

GEMAR
Sumber: Dokumen Pribadi

Sumur Injeksi, Hasil Kerjasama dengan FTUB
Sumber: Dokumen Pribadi
Pembangunan Sumur Injeksi
Sumber: disini


Bank Sampah dan Kompos

Pengelolaan sampah di Kampung Glintung pun dibagi berdasarkan dua jenis yaitu sampah basah dan sampah kering. Pemilahan ini akan memudahkan bagi petugas Bank Sampah untuk memilah sampah yang bisa diolah lagi dan yang bisa dijadikan kompos. Di kampung Glintung juga disediakan komposter untuk sampah organik. Bahkan di beberapa tempat ada tempat khusus membuang puntung rokok.

Tempat Sampah Berdasarkan Jenisnya
Sumber: dokumen pribadi

Komposter Glintung
Sumber: dokumen pribadi

Tas Daur Ulang Berbahan Karung Tempat Menyimpan Sampah Untuk Bank Sampah
Sumber: dokumen pribadi

Asbak yang Digantung di Beberapa Dinding Rumah
Sumber: dokumen pribadi
Larangan Membuang Putung Rokok Sembarangan dan Sanksinya
Sumber: dokumen pribadi

Sudut Kampung G3

Kampung G3 benar-benar menunjukkan komitmennya dalam pelaksanaan penghijauan. Tidak hanya program yang disebutkan di atas. Kampung G3 juga membuat taman diatas parit sehingga terkesan cantik. Selain itu, ada dapur mini dilengkapi dengan tungku, panci, dan peralatan memasak lainnya. Selain menambah estetika lingkungan, juga dapat difungsikan saat warga jaga malam untuk merebus air minum.


Taman diatas Parit
Sumber: dokumen pribadi

Dapur Mini, Si Penambah Estetika
Sumber: dokumen pribadi

Dapur Mini
Sumber: dokumen pribadi

Dampak yang Dirasakan

Fisik :

- Kampung terlihat asri, sejuk, bersih, nyaman.
- Tidak lagi terjadi banjir dan kekurangan air saat kemarau

Ekonomi :

- Tingkat perekonomian menjadi lebih baik karena adanya wisatawan yang datang, adanya kemandirian pangan, hasil dari pengelolaan Bank Sampah.

Sosial Budaya :

- Masyarakat sadar akan budaya kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya dan memilahnya.
- Masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kelangsungan hidup tanaman.
- Masyarakat antusias dalam menanam tanaman walaupun menggunakan kaleng atau botol bekas.
- Mempererat hubungan antar warga karena masyarakat harus kerja bakti dalam mewujudkan penghijauan.
- Tidak ada lagi konflik perebutan air saat musim kemarau. Sebelumnya, kadang muncul konflik antar warga yang merasa air di sumurnya habis akibat cadangan air tanah berkuran karena adanya pengambilan air dari sumur lain dengan pompa secara berlebih. Dengan adanya sumur injeksi ini, cadangan air tanah tidak lagi berkurang sehingga warga tetap bisa mengkonsumsi air sumur tanpa kekurangan.


Prestasi

- Juara 1 Program Kota Malang "Kampoeng Hijau"

Upaya-upaya yang dicontohkan Kampung G3 dapat memberi inspirasi bagi daerah lain dalam mengatasi permasalahan yang sama yaitu banjir dan kekeringan. Jika semua daerah yang dilanda banjir melakukan hal itu, tentu kita tidak perlu lagi pesimis bahwa masalah tak kunjung selesai. Justru dengan komitmen kuat, lingkungan masyarakat yang dulunya kumuh, langganan banjir dan kekeringan menjadi hunian yang nyaman, asri, bebas banjir dan kekeringan. Semoga kampung lain bisa melaksanakan program-program seperti di Kampung G3 sehingga permasalahan banjir dan kekeringan bisa teratasi.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

2 komentar

Mahfuzh Huda mengatakan...

Dimana kampung ini? Lahh keren amat! Kenapa dulu aku nggak tahu.. Arrrgh!

Lita Lestianti mengatakan...

Kalo dr masjid sabilillah,setelah carrefour blimbing sebelah kiri..muncul di net tv sm metro tv jga kok.

Follower