Pelibatan Keluarga pada Era Digital Yang Mengalihkan Dunia Anak-Anak

1 comment
Era digital yang semakin berkembang sangat menuntut kita pandai-pandai mengendalikan diri agar tidak ketergantungan pada perangkat digital. Perangkat digital tidak hanya handphone atau smartphone tapi juga televisi, komputer, laptop, jam tangan digital, dan perangkat permainan genggam.
Sumber : pixabay yang diedit

Sekarang itu jamannya serba digital. Hal-hal yang konvensional dikonversi digital misalnya buku cetak menjadi buku elektronik, surat-surat menjadi surat elektronik, mesin ketik menjadi komputer, telepon dering menjadi telepon seluler, jam tangan manual menjadi jam tangan digital kemudian jadi smartwatch.

Berdasarkan hasil survei lembaga We Are Social tahun 2016, pengguna internet aktif Indonesia sebesar 34% atau sekitar 88,1 juta jiwa dari 259,1 juta jiwa total populasi. Indonesia rangking ke-4 dalam menghabiskan waktu berinternet kira-kira selama 8 jam 51 menit. Indonesia juga menempati rangking ke-3 sebagai pengguna sosial media atau sekitar 23%.


Pengguna Intenet Aktif menurut We Are Social (www.wearesocial.com)

Manfaat alat digital

Dengan era digital yang didukung oleh alat-alat digital ini semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses internet yang akhirnya memudahkan menerima informasi seluas-luasnya. Adanya alat digital seperti perangkat permainan genggam juga bisa membangun kreativitas. Anak-anak  yang menonton kanal-kanal video, seperti Youtube, juga mampu memberikan ide-ide tentang banyak hal untuk bermain atau membuat kerajinan tangan.

Sekarang pun kampus-kampus memanfaatkan perangkat digital untuk menyampaikan materi perkuliahan secara online. Jejaring sosial menghubungkan teman lama yang tak pernah bersua menjadi saling bertegur sapa dan mengetahui kondisi teman lama.

Perangkat digital yang semakin berkembang juga membuat pedagang online shop juga banyak. Tentunya ini mampu mendorong pertumbuhan usaha.
Manfaat perangkat digital memang sangat banyak jika kita menggunakannya dengan bijak. Jangan sampai penggunaan digital justru malah merugikan karena sudah sangat tergantung pada gadget.

Tingkat kecanduan pada gadget

Ketergantungan pada gadget ini tidak melihat berapapun usianya. Tua, muda, bahkan anak usia dini bisa saja mengalami ketergantungan pada gadget. Intensitas penggunaan gadget juga mempengaruhi tingkat ketergantungan gadget.

Menurut Sari dan Mitsalia (2016), penggunaan gadget dengan intensitas tinggi jika lama pengunaannya lebih dari dua jam per hari. Penggunaan gadget dengan intensitas sedang jika lama penggunaannya lebih dari 40-60 menit per hari. Penggunaan gadget dengan intensitas rendah jika lama penggunaan kurang dari 30 menit /hari. Intensitas rendah ini bisa disebut penggunaan yang baik. Pada intensitas rendah ini bisa juga akan beralih menjadi sedang bahkan tinggi jika tidak bisa mengendalikannya dari awal.

Menurut Bu Abyz Wigati, seorang psikolog, saat kuliah online tentang "Bijak Menggunakan Gadget" tanggal 6-8 Agustus 2018, tingkat kecanduan gawai ringan ciri-cirinya gelisah jika tidak bersama gadget, bingung tidak tahu melakukan apa tanpa gadget. Tingkat sedang seperti berani melakukan hal-hal yang salah demi bisa bergadget, misalnya berbohong. Tingkat berat seperti lupa diri, tak merasa ngantuk, lapar, haus, lelah, dan lain lain. Di tingkatan ini kontrol sarafnya sudah tidak jalan.

Kerugian kecanduan gadget

Jika penggunaan gadget tidak ada pengendalian dan pengawasan terutama untuk anak-anak, maka kecanduan gadget akan berdampak buruk bagi penggunanya.

Kecanduan gadget pada tingkat rendah saja sudah mengalami kerugian bagi penggunanya apalagi tingkat berat. Beberapa kerugian yang dialami bagi pecandu gadget menurut Sahabat Keluarga Kemdikbud dan tambahan dari penulis, misalnya:
  • Kesehatan mata dan pendengaran. Cahaya dari layar gadget jika digunakan secara terus menerus akan menggangu penglihatan mata. Begitu juga volume suara yang terlalu besar akan berpengaruh pada kesehatan gendang telinga. 
  • Masalah tidur. Ini bisa terjadi karena melihat layar digital yang lama dan mungkin bisa menyebabkan insomnia.
  • Kesulitan konsentrasi. Karena terlalu sering melihat gadget, akan berdampak pada keterampilan mengubah perhatian anak sehingga bisa meningkatkan perilaku terlalu aktif dan sulit berkonsentrasi.
  • Menurunnya prestasi belajar. Yang pernah saya tahu, bagi anak-anak penghafal al-Quran benar-benar tidak diijinkan menggunakan gadget, kalaupun dibolehkan mungkin sangat dibatasi sekali. Karena terpapar gadget membuat kesulitan menghapal. Tak hanya itu, prestasi belajar juga menurun.
  • Otot dan syaraf tidak terlatih. Saya pernah membaca, saya lupa baca dimana, bahwa anak yang terpapar barang digital seperti smartphone, televisi atau perangkat permainan genggam, maka dia tidak akan banyak menggunakan ototnya untuk melakukan aktivitas. Jika terus-terusan terjadi, maka otot dan syaraf itu tidak berfungsi optimal karena semakin jarang digunakan. Akhirnya berdampak buruk pada kesehatan tubuh.
  • Meniru. Jeleknya lagi, keseringan menonton tayangan-tayangan pada televisi atau gadget akan berpengaruh pada perilaku anak. Apalagi anak adalah peniru yang baik. Dia akan meniru apa saja yang dia lihat. Saya memiliki anak yang sebenarnya saya membatasinya menonton film di laptop. Dalam seminggu dia hanya menonton dua kali film anak-anak yang sangat terkenal di kalangan saya masih anak-anak. Ternyata ada adegan yang dia tiru yaitu ketika si musuh memukul tokoh utama. Anak saya melakukan itu pada diri saya ditambah lagi dengan ekspresi seperti di film itu. saya sempat kaget karena begitu besar pengaruhnya. 
  • Lambat bicara. Untuk anak-anak yang usianya kurang dari dua tahun dan sudah terpapar gadget biasanya akan mengalami penundaan perkembangan bahasa. Jika tidak diimbangi oleh peran orang tua untuk melatih anak dan mengajarkan anak berbicara. Anak menjadi sangat pasif karena terlalu banyak menonton televisi. Belum lagi bahasa yang digunakan dalam media tersebut masih terlalu sulit untuk ukuran anak usia dini sehingga tidak bisa dipraktikkan oleh mereka. Beda lagi, jika orang tua langsung mengajarkan dengan menyebutkan satu persatu kata dengan pelan. 


Pelibatan Orang Tua Untuk Generasi Digital

Orang tua memang tidak bisa melarang anak-anak untuk tidak menggunakan gadget. Alih-alih, mereka malah menggunakannya secara diam-diam. Orang tua hanya bisa mengawasi, mengontrol dan mengarahkan anak agar penggunaan gadget benar-benar memiliki manfaat.

Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk anak-anak yang sudah kecanduan gadget atau menonton televisi dari Sahabat Keluarga Kemdikbud dan tambahan dari penulis adalah :

  • Menentukan batasan-batasan. Bagi anak yang sudah kecanduan berat, akan sangat susah kalau dilarang. Oleh karena itu, perlu proses yang agak panjang seperti mengurangi intensitas penggunaan gadget atau menonton televisi. 
  • Menjelaskan penggunaan yang benar. Bukan saja pembatasan waktu untuk menonton, tapi orang tua juga menjelaskan fungsi yang sebenarnya dari gadget atau jenis tontonan yang bermanfaat misalnya untuk mendukung pelajaran, menonton tayangan yang menambah pengetahuan (science), mencari bahan untuk berkreativitas dan lain-lain. Sedangkan untuk anak usia dini yang sudah terpapar gadget cukup intens bisa diarahkan pada konten yang bermanfaat seperti mengunduh aplikasi game yang membantu meningkatkan keterampilan bahasa atau keterampilan berhitung. 
  • Menjelaskan resiko bermain gadget. Orang tua bisa menjelaskan resiko bermain gadget dari segi kesehatan dan prestasi akademik. Setidaknya agar anak bisa mengendalikan dirinya. Tak henti-henti orang tua mengingatkan anak agar tidak berlama-lama dengan gadgetnya.
  • Mengarahkan kepada hal positif. Setelah menjelaskan penggunaan gadget yang benar, orang tua sebaiknya mengarahkan anak pada hal yang positif. Misalnya, ketika anak kecanduan game online maka media itu bisa digunakan untuk menambah kosakata bahasa inggris, bisa juga untuk melatih menggambar tokoh jika anak suka menggambar. Bagi anak yang suka nonton youtube juga bisa diajak untuk berbicara bahasa asing yang ada dalam konten tersebut. Saya punya keluarga yang suka sekali nonton youtube. Pada akhirnya anak itu jadi fasih berbicara bahasa inggris karena orang tuanya ikut mengajaknya berbicara bahasa inggris. Jika ibu tidak bisa bahasa inggris, maka lebih baik gunakan bahasa indonesia. Tontonannya pun lebih baik yang memiliki pesan pendidikan karakter dan jauh dari kekerasan. Nah, ini yang harus diikuti oleh peran orang tua. Apalagi saat ini, banyak e-book untuk anak-anak dan remaja yang memang sesuai usianya seperti yang disediakan oleh Badan Bahasa Kemdikbud (bisa lihat di link ini). Selain itu, di laman Anggun PAUD juga banyak e-book cerita bergambar dan game yang mendidik anak (bisa lihat di link ini).
  • Mengawasi tontonan. Orang tua juga mengawasi tontonan-tontonan anak-anak. Jangan sampai ada adegan kekerasan, pornografi atau cyberbullying.
  • Berkomunikasi saat menonton atau main game. Banyak anak saat di depan gadget dia tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Mata dna hatinya benar-benar sudah terfokus pada gadget. Maka pelibatan orang tua dengan mengajak anak berkomunikasi tentang apa yang dia tonton adalah penting sehingga fokus anak tidak melulu kepada apa yang dia lihat.
  • Berikan aktivitas eksplorasi untuk anak. Anak usia dini sangat senang sekali bereksplorasi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya seperti bermain tanah, air, sepeda, tumbuh-tumbuhan atau bahkan beras. Jika memungkinkan, inspirasi aktivitas eksplorasi yang mendidik anak bisa dicari di internet.

Bagaimana dengan faktor lingkungan?

Ini menjadi sangat sulit ketika faktor lingkungan mempengaruhi kebijakan orang tua dalam mengendalikan gadget untuk anak-anaknya. Anak pun tidak bisa dijauhkan dari lingkungan masyarakat. Orang tua bertugas membujuk rayu anaknya agar mau melepaska  gadget-nya.

Selain melatih anak agar tidak ketergantungan gadget atau media digital lainnya, orang tua juga harus mendukung agar tidak sering menggunakan gadget. Buktikan bahwa orang tua juga punya waktu-waktu tertentu untuk menggunakan gadget.

#sahabatkeluarga


Sumber pustaka:

Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika. 2016. Data Statistik Semester I 2016. Jakarta: Kominfo

Sari, P dan Mitsalia A. A. 2016. Pengaruh Penggunaan Gadget Terhadap Personal Sosial Anak Usia Pra Sekolah di Tkit Al Mukmin. Jurnal Profesi 13 (2) : 73 – 77

https://wearesocial.com/blog/2018/01/global-digital-report-2018


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

  1. Harus seimbang antara main gadget dan real life biar ga rusak mata dan indera lainnya

    BalasHapus

Follower