Kekhawatiran Naik Pesawat Bawa Bayi Kurang dari Dua Tahun

10 comments
Sudah lama pengen nulis tentang pengalaman naik pesawat bersama bayi kurang dari dua tahun. Waktu itu ada pertemuan Gerakan Literasi Nasional di Jakarta.

Saya juga sempat bingung, apakah saya harus membawa Raceqy ke acara atau menitipkannya ke tempat mbahnya? Setelah saya mengkomunikasikan kepada panitia dan dibolehkan akhirnya saya membawa Raceqy.

Saya pun searching-searching cari tiket pesawat.  Untungnya, bayi kurang dari dua tahun tidak dikenai tiket pesawat penuh hanya membayar 10% saja. setelah tiket terbeli, saya pun mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jakarta.
Diedit dari www.pexels.com

Kekhawatiran Saat Naik Pesawat

Sebelum naik pesawat, pastinya saya punya kekhawatiran yaitu anak nggak betah di dalam pesawat kemudian anak menangis saat di dalam pesawat.
Nah, karena Raceqy waktu itu belum bisa ngomong. Alhasil saya pun memperkirakan apa-apa saja yang membuat  dia menangis. Mungkin saja Raceqy:

Lapar
Untuk mengatasi ini akhirnya saya membeli cemilan untuk dimakan di pesawat. Cemilan yang saya pilih pun yang disukai Raceqy. Tahunya pun saat mengajak Raceqy ke minimarket dan membiarkan dia memilih sendiri. Dengan begitu, dia akan merasa excited melihat makanan pilihannys.

Mengantuk
Sebenarnya kalau mengantuk terus tidur sih enak aja. Tapi kalau mengantuk dan nggak bisa tidur itu biasanya anak kecil akan rewel. Untuk kekhawatiran ini, nggak ada yang saya persiapkan selain berdoa semoga dia nggak rewel.

Boring
Anak boring karena nggak bisa ngapa-ngapain di pesawat juga bisa membuat anak rewel. Satu jam di pesawat lumayan sekali tuh apalagi kalau anaknya sangat aktif sekali. Akhirnya saya bawa mainan dia yang biasanya dia suka.

Buang air besar
Sebenarnya ini tidak terlalu bermasalah sih. Hanya saja anak pun bisa saja rewel karena popoknya kotor. Apalagi kalau membersihkan di pesawat agak susah karena toiletnya yang kecil dan airnya serba terbatas. Belum lagi harus menidurkan dulu saat ganti popok.

Hal pertama yang dilakukan sebelum naik pesawat

Ada hal penting yang harus dilakukan penumpang yang membawa anak kecil sebelum naik pesawat yaitu melaporkan diri dan anak bayi yang dibawa. Biasanya petugas di counter check in akan menanyakan usia anak berapa. Mereka akan mengarahkan penumpang untuk melaporkan diri ke petugas bandara/ maskapai yang ada di pintu boarding.

Saat melaporkan diri, kita akan diminta boarding pass dan KTP kemudian mereka akan memberi surat untuk ditandatangani. Surat itu berisi pernyataan bahwa pihak maskapai tidak bertanggung jawab atas kejadian yang menyebabkan kerugian bagi anak kecil seperti kerusakan pendengaran akibat suara pesawat.

Sebaiknya berapa usia minimal bayi boarding pesawat?

Bagi orang tua yang harus bepergian dengan pesawat dan membawa anak bayi pasti akan bertanya apakah anaknya akan aman naik pesawat. Bukan masalah rewelnya saja, tapi kesehatan gendang telinganya. Saya ingat sekali waktu saya masih SD, saya naik pesawat dari Balikpapan ke Surabaya. Saat di pesawat saya diberi permen oleh pramugari dan sama bapak saya disuruh makan. Katanya biar nggak sakit. Saya nggak tahu apa memang benar seperti itu.

Saya punya saudara yang lahiran di Malang dan suaminya di Jakarta jadi dia harus pergi naik pesawat. Setelah sekitar 1 bulan (saya lupa tepatnya usia berapa anaknya naik pesawat), dia pun ke Jakarta naik pesawat. Menurut bidan setelah dia konsultasi, saat akan take off dan landing, anaknya lebih baik disusui saja.

Untuk batas usia minimal apalagi saat bayi masih satu bulan dan terpaksa harus naik pesawat lebih baik konsultasikan ke dokter. Kondisi tiap anak pun beda-beda.

Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Setelah saya memperkirakan kekhawatiran yang mungkin terjadi pada anak saat di pesawat, maka saya pun membawa beberapa hal agar meminimalisir kekhawatiran saya tersebut:

Mainan
Untuk mengatasi anak boring, saya biasanya membawa mainan yang dia sukai. Atau bisa juga membawa pulpen dan kertas untuk dicoret-coret.

Cemilan
Karena anak saya sudah 1,5 tahun jadi tidak terlalu susah membelikan cemilan. Sebelum berangkat saya membelikan cemilan yang ada di minimarket.

Tisu Basah
Menurut saya tisu basah ini efisien untuk membersihkan tangan anak yang kotor karena makanan tanpa harus ke kamar mandi apalagi yang sudah ada antiseptiknya. Jadi tangan bayi bersih.  Tisu basah ini juga bisa untuk membersihkan setelah buang air besar di popok selama di perjalanan. Kulit Raceqy agak sensitif kalau pakai tisu basah. Biasanya kulitnya akan mrintis-mrintis atau ruam di area popok. Tapi kebanyakan tisu basah saya pakai buat bersihkan kulit yang kena makanan saja.

Pempers
Nah, bagi yang sudah punya bayi, pampers atau popok sekali pakai adalah barang penting yang harus dibawa saat bepergian. Dan saya selalu taruh di tas saya tanpa harus buka koper untuk ambil popok.

Sabuk pengaman bayi

Pramugari selalu menyambut penumpangnya di pintu masuk. Sebenarnya tujuan lainnya adalah mengetahui kondisi penumpang yang sedang hamil, bawa anak, lanjut usia, atau seseorang yang perlu perhatian khusus. Dan ketika saya sampai di pintu pesawat, pramugari akan menanyakan usia anak saya kemudian mereka akan menanyakan apakah saya sudah tanda tangan surat di pintu boarding? Jika belum, maka mereka akan meminta surat pernyataan dan menyuruh kita tanda tangan di pesawat.

Setelah saya duduk, pramugari akan memberikan sabuk pengaman dan pelampung untuk anak saya. Dia pun bersedia memberi penjelasan tentang penggunaan sabuk pengaman untuk anak bayi dan panduan keselamatan yang harus dilakukan bagi ibu yang membawa anak kecil.

Menyusui

Bagi saya, menyusui adalah salah satu cara mengurangi rewel anak. Jadi, saat anak sudah mulai tidak betah atau menangis, maka menyusui adalah cara yang ampuh agar anak tidak rewel. Tapi jika ternyata anak nggak mau menyusui di pesawat mungkin memang ada penyebab lain yang membuat dia nggak betah. Mungkin dia kedinginan, popok nggak bersih atau penyebab lain.

Perlukah bawa stroller saat naik pesawat?

Pertanyaan ini cukup membingungkan bagi saya. Beberapa kali saya maju mundur untuk membawa stroller. Masalahnya adalah begitu turun dari pesawat di bandara Cengkareng, penumpang harus jalan kaki yang cukup jauh ke tempat pengambilan bagasi. Apalagi saya bawa anak yang maunya digendong, pasti berat banget apalagi saya bawa ransel isi laptop. Tapi kalau saya bawa stroller, saya membayangkan turun tangga bawa stroller, bayi, dan tas ransel kalau misalnya saya dapat pesawat harus naik bis dulu setelah pemeriksaan boarding pass. Nggak bisa ditebak sih.

Saya bertanya pada saudara saya yang sudah pengalaman naik pesawat bawa anak dan stroller. Dia menyarankan saya untuk membawa stroller saja. katanya saat turun pesawat bilang saja sama awak pesawat minta ambil stroller.

Akhirnya saya pun membawa stroller, sampai counter check in, petugasnya memberi label cabin pada stroller saya. Akhirnya saya pakai stroller tanpa keberatan membawa bayi saya. Apalagi Gate saya cukup jauh. Begitu boarding, saya bilang ke petugas bandara atau awak pesawat tentang stroller saya, mereka malah menyarankan masukkan ke bagasi. Saya sih iya saja. Mereka pun membantu memasukkan ke bagasi.

Setelah pesawat landing di Jakarta, perasaan saya nggak enak. Kira-kira strollernya diambilin lagi nggak yah? Begitu saya bilang ke pramugari. Mbaknya pun memberi tahu petugas bandara. Dan betullah, mereka bilang kalau stroller saya diambil di pengambilan bagasi. Hiks.

Terpaksa saya harus menyuruh anak saya jalan kaki. Tak lama ia capek. Pada akhirnya saya harus menggendongnya sampai pengambilan bagasi. Lumayan sekali loh jalannya di bandara Soekarno Hatta. Jadi intinya, membawa stroller ke dalam pesawat hanya mempermudah saya saat berangkat. Saat di tempat acara, stroller itu cukup membantu. Jadi saya tak perlu menggendong-gendong anak saya saat saya harus mengedit naskah buku.

Oiya, alhamdulillah saat di pesawat, anak saya nggak rewel. Jadi kekhawatiran saya hilang. Hanya saja saat pulang dari Jakarta, saya sempat memesan tempat duduk di bagian depan jadi lebih leluasa. Ternyata dia malah berdiri-berdiri. Terus bosan. Alhasil saya mengeluarkan semua barang-barang untuk mengurangi  kebosanannya. Tak lama, dia pun capek dan minta mimik. Alhamdulillah tidur. Sempat panik juga dia mulai rewel.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

10 komentar

  1. Bawa anak kecil naik pesawat memang kudu dipersiapkan ya mb...Detil penjelasannya mb, bermanfaat pasti buat emak2 yg msh punya anak kecil...thx infonya yaa

    BalasHapus
  2. Seneng tuh kalau pas naik pesawat bawa bayi, ada pramugari/pramugara yang mau nyapa dan ngajakin ngobrol si bayi walau sebentar.

    BalasHapus
  3. Itulah kenapa suami gak mau ngajak jalan2 anak2 naik pesawat kalau mereka masih kecil, padahal bagi emaknya ya biar hemat karena cuma bayar 10 % kan ya hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk iya mba mumpung belum 2 tahun, soalnya bayar full kan gimana gt

      Hapus
  4. Emak jagoan bener ini mah, bawa bayi sendirian. Top!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soale sik nyusu mbak.. kalo nggak mgkin titp mbahe 😂😂 mumpun mssih bayar 10% hihii

      Hapus
  5. Aku ga kesampaian bawa anak naik pesawat kurang dr 2 taun ni mba. Tp menurut ku enak pas masih bayik ya.. ga ribet nenen aja ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk..iya mba..tiket jg belum full hehehe

      Hapus

Follower