Tampilkan postingan dengan label Akomodasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akomodasi. Tampilkan semua postingan
Malam-malam tiba di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, Bali, rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur. Meski sudah jam 9 malam, tapi sepanjang jalan Monkey Forest para bule masih berjalan kaki di sepanjang trotoar dan masih banyak yang menikmati sajian di resto yang sudah mengalami akulturasi Asia dan Eropa. Bahkan beberapa pasangan terlihat saling cium di tempat umum. OH! Saya merasa tidak sedang di Indonesia.

Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali
Don't judge a hotel by its cover haha

Welcome to Yulia Inn, Ubud, Bali

Saya segera ke resepsionis dan menanyakan kamar atas nama saya dan dari UWRF. Namun sayang seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya, nama saya tidak ada. Betapa kaget nya. Wajah saya berubah jadi bingung, lelah dan amarah. Masnya sempat agak gimana begitu. Saya cek panduan saat tiba di Ubud yang dikirim oleh Mbak Sarah.  Memang untuk check in bisa dimulai tanggal 22 Oktober malam. Saya pun memberitahukan kepada pihak hotel. Sembari mereka mengecek, pegawai lain memberi welcome drink seperti es teh ditambah lemon. Segar. Sesekali ada bule yang mematikan jadwal check in mereka.

Akhirnya saya diperbolehkan check in juga setelah mereka cek dan konfirmasi bahwa Itu kesalahan mereka karena waktu itu memang sedang perbaikan sistem. Jadi, alhamdulillah.


Baca juga : Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai)



Menu Makanan Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali

Sebelum mengantar saya ke kamar, Mas Resepsionis memberi saya selembar menu untuk sarapan pagi besok. Aturannya, jika ingin sarapan besok pagi maka satu hari sebelumnya harus sudah memesan menu makanannya. Maksimal jam 9 malam. namun, karena saya baru datang (lebih dari jam 9 malam) maka saya tetap diperbolehkan booking menu dulu.

Menunya dalam bahasa inggris jadi saya peru mem bayangkan apa saja makanan-makanan itu. Ada bacon, nasi goreng, mie goreng, pancake, omelet. Saya pilih nasi goreng saja dua dan jus jeruk meski saya tidak yakin saya suka dengan jeruk nya apa nggak.

Pegawai resepsionis mem bantu membawakan koper kami, sementara anak saya yang pertama minta gendong saya karena sudah ngantuk berat. Jadinya si kecil digendong ayahnya.

Kami melewati parkir hotel yang cukup luas.

Tempat Parkir Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Kemudian melewati Gapura kecil khas Bali.

Kami melewati taman yang remanh - remang karena lampu taman yang tidak cukup terang. Melewati kolam renang dan tiga kamar dalam satu bangunan atau dua kamar dalam satu bangunan. Antara bangunan dipisah oleh taman dan jalan. Apa ya namanya? bungalow?

Depan Kamar Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Kamar Yulia Inn yang Nyaman


Pegawai hotel membukakan pintu dan masuk ke kamar.. Melihat kamarnya saya merasa hommy.  Yes, saya dan keluar harus merasa hommy karena di kamar ini saya harus tinggal hingga 5 hari ke depan. lama ya. But, anak-anak suka! Karena kamarnya nyaman. Ada tegasnya juga untuk duduk-duduk. Di dalam kamar, ada tempat tidur double. Untungnya saya sudah bilang pihak panitia kalau saya akan membawa keluarga. Jadi saya dapat kamar dengan tempat tidur double.

Kamar di Yulia Inn, Ubud, Bali

Kamar di Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Di sebelah tempat tidur ada tempat santai untuk menonton. Seperti kursi sofa tapi saya lihat seperti tempat tidur dengan beberapa guling kecil dan bantal kecil. Hanya saja tidak seempuk springbed. Masnya menjelaskan bahwa di kulkas itu berbayar. Yang gratis hanya coffee and tea, mineral yang di luar kulkas.
Di kamar mandi ada shower , wastafel, kloset, lemari dan hair dryer. Pintunya juga klasik sekali karena terbuat dari kayu jati (sepertinya) dengan ukiran. Kuncinya pun pakai pengunci kayu.

Masnya pun pergi setelah saling mengucapkan terima kasih.

Sarapan di Yulia Inn


Besoknya, kami pun sarapan nasi goreng dan jus jeruk. Saya kira, jus nya akan eneg ternyata segar banget. Saya saja yang nggak doyan jeruk jadi doyan banget sama minuman jus dari hotel itu. Kami juga bisa menikmati roti, teh, kopi, krimer, air putih yang disediakan di meja dilengkapi dengan alat pemanggang roti. Beberapa hari di sana saya rasanya mulai bosan jika makan nasi goreng terus. Akhirnya saya coba saja semua menu kecuali bacon. Ternyata daging bacon bisa diganti sosis ayam. Yang pasti saya memastikan kesalahannya. Ah! saya lupa memotret nya!  Maklum saya sudah terlalu lapar. Di hari yang lain, saya memesan mie goreng. Rasanya Rasanya jugaenak. Hari selanjutnya saya coba pancake. Dan rasanya enak dan lembut. sekitar empat pancake di tumpuk kemudian diberi madu dan gula khas Bali. Di hari lain, saya memesan (saya lupa namanya) kentang puree tapi digoreng ada crispy,  sosis, telor, roti baguette, dan sayuran. Lengkap deh gizinya. Ada menu lain yang belum saya coba yaitu menu cereal.

Restoran Yulia Inn

Untuk masalah jus nya, semuanya ENAK! Saya coba jus semangka, jus jeruk, jus pisang (awalnya saya kebayang enek nya tapi ternyata enaaak), dan jus nanas. Pasti mereka membuat sesuai takaran biar tidak terlalu manis dan enek.

Fasilitas di Yulia Inn


Kolam Renang Hotel Yulia Inn

Fasilitas lain yang ditunggu anak-anak adalah kolam renang. Pagi-pagi kami berenang dan airnya hangat! Saya kira airnya dingin seperti di surabaya. Di dekat kolam renang juga ada kamar mandi dan shower untuk ganti baju tapi rupanya mandi di kamar sendiri lebih enak.

Jangan khawatir lantai basah karena jalan menuju ke kamar memang di luar ruangan. Tidak seperti waktu saya di hotel Ibis Budget Jakarta utara yang kolam renangnya indoor jadi kalau mau ke kamar harus melewati lobby, dan lift. Basah semua deh. Meski enak kalau indoor nggak bakal kehujanan. (eh, kok jadi bandingin begini hehe). Untungnya lagi ada tempat menjemur pakaian. Jadi setelah berenang, baju renang saya jemur dulu di kamar mandi (tempat jemur handuk) setelah airnya tidak menetes saya jemur di teras.

Setiap hari kamar hotel selalu dibersihkan. Seprai dan selimut. Karena pakai AC, anak saya lebih sering pipis dan kadang malah tembus di kasur padahal sudah pakai popok. Jadi saya juga laporan kalau baru saja diompolin anak. Pegawai kebersihan pun akan mengganti sprei kamar.


Baca juga : Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019


Oiya, di hotel ini juga disediakan sewa kendaraan. Saya tanya untuk motor sebesar 80rb rupiah per hari (24 jam). Lumayan juga yah. Pada akhirnya saya menyewa motor dekat tempat acara seharga 70 ribu rupiah saat hari ketiga, dan di akhir acara saya rencana agak terlambat mengembalikan jadi menambah 30 ribu.  Jadi sama aja sih jatuhnya 80ribu. Haha. Menyewa motor menurut saya lebih efisien dari segi waktu dan nggak Begitu capek karena saya beberapa waktu saya membiarkan anak saya di hotel, sedangkan saya mengikuti acara. Dan saya pun harus segera pulang setelah acara selesai.

Sebenarnya saya ada penjemputan dan pengantaran saat sesi saya, tapi menungu dijemput dan diantar juga cukup memakan waktu karena harus antri. Jadi saya memilih menyewa saja biar anak-anak tidak kelamaan menunggu saya.

Memang lokasi hotel ini berada tidak jauh dari pusat kota. Jalan kaki ke tempat makan juga dekat meski kebanyakan yang dijual makanan bule. Ada juga kok yang menjual makanan halal. Kalau biasa jalan kaki sih enak. Kalau tidak biasa mending sewa motor. Makanan halal di Ubud yang sudah pernah saya coba nanti saya tuliskan ya.
 

Read More

Saat lebaran Idul Fitri tiba, banyak keluarga memanfaatkan waktu tersebut untuk berkumpul dengan keluarga. Mereka yang merantau tentu sudah menyiapkan rencana jauh-jauh hari untuk berkumpul di suatu tempat. Maka tak heran jika banyak tempat wisata dibanjiri pengunjung. 

Salah satu tempat yang nyaman untuk berkumpul dengan keluarga adalah villa. Memang salah satu tempat ini tidak banyak yang merencanakan. Selain harganya yang lumayan, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain memanfaatkan kumpul bersama atau family time.

Biasanya Villa ini banyak tersebar di daerah yang berada di dataran tinggi seperti kota Batu, Malang, Pasuruan, Bandung, Magetan dekat Telaga Sarangan, Ponorogo daerah Telaga Ngebel.

Villa di kota Batu juga sudah banyak sekali tersebar. Keluarga dari suami sudah jauh-jauh hari mencari villa yang nyaman untuk anak kecil, orang tua dan bisa untuk kumpul-kumpul. Akhirnya kami menemukan villa yang memiliki kolam renang, nyaman dan harganya cukup murah.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Villa di pagi hari

Lokasi

Lokasi villa ini ke Alun-Alun Kota Batu sekitarr 1,5 km. Jalanannya naik turun yaa cukup membakar kalori yaa… villa ini berada di pojokan perumahan alias di jalan buntu. Namanya Perumahan Metro Orchid di Jalan Metro, Kota Batu. Perumahannya juga tidak besar. hanya berada dalam satu ruas jalan. Jalan perumahannya pun mepet untuk dua mobil. Karena di jalan buntu otomatis untuk memutar kendaraan cukup butuh usaha hehe. Apalagi jalanannya sedikit menanjak.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.


Harga

Untuk harga vila saat lebaran/liburan 6 juta untuk 2 malam sedangkan hari biasa hanya sekitar 2 juta. Gila ya perbedaannya! Tapi karena waktu itu hari kedua lebaran sudah ada yang booking jadi kami mau hanya pakai hari pertama lebaran sampai hari kedua lebaran siang hari. Kebetulan sekali! Karena setelah itu, anak-anak mertua saya sudah rencana berlebaran di keluarga suami di daerah yang lain. Nah karena cuma semalam jadi kami hanya membayar villa 3,5 juta. Kalau dibandingkan dengan harga villa lainnya di saat lebaran, harga sewa di villa itu sudah termasuk murah.

Fasilitas Villa

Villa yang kami sewa juga memiliki fasilitas yang cukup banyak. Fasilitas villa yang biasanya dicari orang adalah kolam renang apalagi kalau anggota keluarga banyak anak kecil.

Kolam renang

Yang paling disuka sama villa ini adalah ada kolam renangnya dengan pemandangan pegunungan. Dan karena berada di dataran tinggi, airnya dingin sekali. Saya saja baru beberapa menit sudah kedinginan. Sedangkan anak-anak bisa tahan sekali berenang berlama-lama. Setelah itu saya langsung olesi minyak telon/minyak kayu putih dan saya pakaikan baju panjang. Sayangnya, kami tidak bawa ban kecil untuk anak-anak sehingga mereka tidak bisa berenang sendirian karena kedalaman airnya cukup tinggi untuk anak usia 3 tahun.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Kolam renang Villa

Kamar

Kamar di villa ini ada 3 kamar dengan 3 extra bed. Menurut saya sudah cukup untuk keluarga mertua saya yang berjumlah 13 dewasa dengan 7 anak-anak dan balita. Di dalam kamar juga sudah disediakan bantal, kursi, lemari, selimut. menurut saya kamar villa ini cukup enak.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.

Kamar mandi

Saya juga suka sama kamar mandinya karena selain bersih juga memiliki fasilitas air panas, shower, bathtub, ember, gayung, wastafel, kloset duduk, wc jongkok. Kamar mandi yang memiliki bath tub dan kloset duduk ada di bawah tangga. Sedangkan kamar mandi yang hanya shower dan wc jongkok ada di dekat dapur. Yakin deh setelah berdingin-dingin di kolam renang, langsung masuk kamar mandi untuk mandi air hangat. 

Kamar mandi villa (dok. pribadi)
Sayangnya, dari kolam renang menuju ke kamar mandi harus melewati ruang keluarga atau dapur sehingga lantai basah dan tidak ada kain pel. Sering sekali anak-anak terpeleset karena belum sempat dibersihkan mereka sudah jalan di atas lantai yang basah itu.

Tempat jemur

Di villa ini juga disediakan tempat jemuran di lantai 2. Jadi setelah berenang, bajunya masih bisa dipakai buat besok dan sementara dijemur di lantai 2 ini.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Tempat jemur (dok. pribadi)

Teras atas

Kalau kalian mencari villa dengan pemandangan yang bagus dan villa dengan teras atas, maka villa ini bisa menjadi pertimbangan kalian. Di teras atas villa, terdapat meja kayu yang cukup besar dan juga kursi kayu dimana kami bisa duduk-duduk sambil menikmati minuman hangat dan pemandangan pegunungan, kebun-kebun, rumah-rumah, dan awan indah yang berarak menutupi pegunungan.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Indahnya Pemandangan Batu dari Teras Atas Villa

Di tempat ini juga kami bisa bekumpul sambil duduk lesehan dengan tikar yang kami bawa sendiri dari rumah. Jaket, kaos kaki, baju tebal dan baju panjang menjadi sangat berguna saat duduk berlama-lama di teras ini karena anginnya cukup kencang. Belum lagi hawanya yang dingin.

Garasi

Kami kesana dengan membawa dua mobil. Sebenarnya garasi ini cukup untuk 1 mobil. Namun kami tetap memasukkan dua mobil ke garasi. Alhasil, pagarnya tidak bisa tertutup. Hehe. Setidaknya lumayan lah mobil tidak kepanasan dan kehujanan.

Shower dekat kolam renang

Sebelum berenang atau setelah berenang biasanya kami membilas diri kami dulu. Biasanya… nah, di pinggir kolam renang ini disediakan shower terbuka untuk membilas badan.

Tempat bakar

Sebenarnya tidak semua villa menyediakan tempat bakar. Namun pemilik villa ini bisa menyediakan tempat bakar sate dan kipasnya. Itu pun penyewa harus request dulu. Jika tidak, mungkin tidak dibawakan. Hanya saja untuk arang kami cari sendiri. Kipas untuk menyalakan arang juga penyewa bawa sendiri. 

Waktu itu, kami sempat kehabisan arang bakar. Akhirnya mencari di sekamir kota Batu yang menyediakan tempat bakar. Kami sudah memperkirakan biaya yang dikeluarkan ternyata gratis. Alhamdulillah.

Wifi

Meski family time itu sebagai kegiatan utama, rasanya kurang lengkap kalau tidak mengkoneksi internet dan membagikannya ke media social, hehe. Awalnya wifi villa ini tidak bisa diakses meski sudah diberi tahu kodenya. Setelah menghubungi pihak villa, akhirnya wifi bisa diakses.

Dapur (kompor dan peralatan)

Sebelum kami deal menyewa villa ini, saya dan suami sempat melihat-lihat villa-nya. Di dapurnya memang disediakan kompor gas, tabung gas dua biji, pisau, wajan, panci, Teflon, sutil, piring, rice cooker, sendok, dan gelas. Karena kami akan masak cap cay dengan porsi besar sedangkan di villa tidak disediakan jadi kami membawa wajan yang besar.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Dapur Villa (dok. pribadi)

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Dapur Villa (dok. pribadi)

Gallon

Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah air gallon. Karena keluarganya cukup banyak maka menyediakan air gallon lebih murah dibanding air mineral botolan. Khawatir kurang, kami tetap membawa 1 galon meski sudah tersedia di villa. Hehe. Bayangkan bawaan kami sebanyak 3 mobil sudah seperti orang mau pindahan rumah. Haha.

Televisi

Alat elektronik satu ini sepertinya menjadi alat yang dapat mendiamkan anak-anak kecil yang aktif. Mereka yang aktif secara cepat akan duduk manis dan terdiam menonton acara televisi yang disuguhkan. Yah, setidaknya mamaknya seneng bisa bersantai-santai, hehe.

Menurut saya, fasilitas dalam villa itu cukup lengkap. Namun, kalian tetap booking jauh-jauh hari biar tidak kehabisan. Sebenarnya suami saya dapat villa ini juga dari website. Hanya saja saya kurang tahu website yang mana. Hehe. Nanti kalau dapat kontaknya saya update lagi.
Read More
Jaman sekarang ya sebagian besar orang sudah punya media sosial baik untuk menulis status tanpa foto maupun yang pakai foto seperti instagram. Hampir setiap tempat yang kita kunjungi tak luput dari bidikan kamera smartphone kita. Dan pastinya tak luput jua mengunggahnya di media sosial.

Begitu pun saat saya sedang mengadakan pelatihan di Yogyakarta. Tempat acaranya berada di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Alhamdulillah saya punya kesempatan menikmati hotel-hotel gratis. Hehe. Sebelumnya berkesempatan merasakan Hotel Kartika Chandra dan hotel Ibis Style Sunter.

Lokasi hotel Tjokro Style yang merupakan hotel bintang tiga ini sangat strategis karena berada tak jauh dari bandara Adi Sutjipto dan tak jauh dari Keraton Yogyakarta.

Berwisata ke Yogyakarta memang perlu memperhatikan aspek lokasi hotel yang strategis. Traveling ke Yogyakarta pun rasanya nggak cukup kalau nggak diunggah di media sosial. Siapa juga yang nggak tahu Yogyakarta, kota yang terkenal dengan gudeg dan Keraton Hamengkubuwono sudah sering menjadi destinasi wisata para turis mancanegara.

Nah, kebetulan saya ingin mereview hotel yang saya tinggali selama tiga malam ini. Karena saya sampai sana malam hari jadi saya nggak begitu ngeh dengan desain interiornya.

Saat hari kedua, saya baru mulai merasa ada yang berbeda dengan hotel Tjokro Style ini. Hotel ini sangat instagrammable. Yuk, coba kita lihat aja.

Lobby Hotel

Lobby hotel ini terkesan sangat lowong walaupun berada di tanah yang tidak begitu lebar. Lah, wong bapak saya mau parkir saja harus muter ke depan ke belakang sama tukang parkir. Gara-gara parkirannya nggak cukup sedangkan tamu yang datang cukup banyak.

Selama tiga hari tiga malam di sana memang hotel bintang tiga ini sering digunakan untuk kegiatan meeting dari berbagai instansi. Dan bagi saya lobyy hotel yang terkesan luas ini membuat siapapun yang datang merasa lelahnya hilang. Di pojokan banyak sofa disediakan bagi tamu yang ingin santai sejenak. Belum lagi background dinding yang cocok untuk berfoto-foto.


Di dekat meja resepsionis juga ada kursi becak panjang dengan topi-topi petani berwarna-warni diletakkan di atas kursi becak. Di sampingnya, ada properti foto tradisional yang bisa digunakan untuk menambah manisnya foto kita seperti blangkon dan baju jawa.




Di sudut lainnya, ada properti foto dengan latar jendela buatan (nggak bolong) dan sepeda vintage. Ada juga frame foto dari kayu bertuliskan happy forever.




Oiya, meja resepsionisnya pun didesain dari batu bata dan latar resepsionisnya dari balok-balok yang disusun.



Free Welcoming Drink

Suasana lobby yang nyaman, sofa yang cukup banyak dan nyaman semakin terasa menyenangkan saat ada fasilitas free welcoming drink. Yang disediakan nggak cuma minuman hangat (saya nggak begitu yakin sih kayaknya teh rosella) tapi juga cemilan seperti keripik telo ungu dan cemilan lain yang saya nggak tahu namanya. Setidaknya saya bisa menyuguhkan orang tua saya minuman hangat setelah perjalanan dari Sragen.


Kamar

Saat saya masuk kamar, teman saya sudah di kamar beserta seorang anak perempuan yang cantik. Kamar yang diberikan panitia dengan model tempat tidur twin bed. Saya melihat keluar jendela. Pemandangan rumah-rumah terhampar di kelilingi oleh pegunungan.

Fasilitas yang ada layaknya fasilitas di hotel bintang tiga lainnya. Selama tiga hari di hotel, saya selalu merepotkan pegawai hotel. Pertama, saya minta dibersihkan sampahnya. Kedua, saya minta irisan bawang merah karena anak saya lagi demam. Untungnya mereka nggak jutek atau malas-malasan.

Restoran

Apa yang unik dari restorannya setelah saya amati di hari kedua di sana adalah atap restoran yang terbuat dari jendela-jendela kuno rumah jawa. Restorannya saja juga instagrammable.





Menu yang disajikan lebih banyak menu-menu Indonesia seperti bubur ayam, soto, sop sayur, gudeg, nasi kuning, bubur sum-sum, bubur kacang hijau, gorengan. Sedangkan menu luar negeri yang saya rasakan seperti tom yum, salad sayur, kue pastry. Makanan yang disajikan cukup beragam walaupun ada beberapa menu yang sama setiap harinya seperti makanan tradisional jawa.

Menurut saya, secara keseluruhan, makanannya yang memakai sambal cukup pedas. Biasanya kalau di hotel, sambalnya nggak pedas. Saya sempat merasakan tom yum nya. Dan ya ampun pedas banget. Mungkin tom yum memang disajikan pedas ya?

Oiya, saya suka sekali dengan butter. Jadi saat saya melihat ada butter di samoing meses saya pun mengoleskan pada roti baguette yang disediakan. Saya sempat sedikit surprise ketika saya mengambil butter dan saya oleskan pada roti baguette-nya. Saya kira bener-bener butter seperti merk elle & vire, eh ternyata butternya adalah margarine, hehe.

Nggak hanya di dalam ruangan, bagi yang suka merokok bisa makan di luar ruangan dekat dengan kolam. Di luar ruangan juga ada bar untuk minuman coffee.



Selain itu, di luar ruangan ada permainan sepak bola yang dilakukan pakai tangan. Apa ya namanya?

Kolam renang

Kolam renangnya juga nggak terlalu luas. Kedalamannya hanya sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter. Warnanya biru membuat saya ingin berenang. Sayangnya, hujan terlalu sering mengguyur Yogyakarta dan waktu yang nggak pas untuk berenang. Kamar mandi kolam renang pun terlihat nyaman dan bersih.


Di dekat lift, ada sebuah kursi dengan beberapa bingkai foto di dinding belakangnya. Saya pun mengambil foto saat saya sudah selesai melaksanakan pelatihan.

Anak demam?

Di hari kedua saya di sana, anak saya demam. Saya kurang tahu sebabnya apa. Yang saya ingat saat hari kedua, saya nggak menemukan kaos kaki anak saya di kamar. Sementara di ruangan meeting cukup dingin. Saat bangun tidur saya merasakan tubuh anak saya panas.

Malam hari, saya pun mencari apotek. Untungnya, apotek ada di depan hotel. Hanya jalan sedikit. Di hotel pun, saya sempat meminta irisan bawang merah sama pegawai hotel. Saya pun mengoleskannya pada seluruh badan anak saya. Demam anak saya naik turun. Bahkan sampai rumah di Sidoarjo, demamnya kadang muncuk kadang nggak. Sempat khawatir tapi alhamdulillah sudah nggak muncul lagi saat hari ketiga.

Akhirnya berakhir juga pelatihan menulis saya di Hotel Tjokro Style. Menginap di hotel di Yogyakarta ini bukan hanya dimanjakan oleh nyamannya kamar hotel tapi juga makanannya dan spot fotonya.

Read More
Bulan Oktober, saya dapat kesempatan untuk ikut pertemuan Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa kemdikbud. Pada pertemuan tersebut membahas perbaikan-perbaikan naskah buku yang lolos seleksi.

Pertemuan tersebut diselenggarakan di salah satu hotel di Jakarta. Hotel di Jakarta Utara bernama Hotel Ibis Style Sunter. Hotel Ibis memang banyak tersebar di beberapa negara. Yang saya tahu selain Ibis Style adalah Ibis Budget sengan harga yang sesuai dengan budget kita.

Lokasi

Hotel Ibis Style Sunter ini berlokasi di daerah Sunter di Jalan Gaya Motor di Jakarta Utara. Jika dibandingkan dengan dua bandara di Jakarta, hotel ini lebih dekat ke Bandara Halim Perdana Kusuma ketimbang Bandara Soekarnohatta. Itu kalau lihat di petanya.

Sesampainya di Lobby hotel, saya pun registrasi ke panitia. Setelah itu, saya bertanya tentang kamar saya. Ternyata saya belum dapat kamar, padahal badan sudah legrek semua. Sepertinya kamarnya memang lagi dibersihkan.
Akhirnya saya ke ruang aula untuk makan siang yang sudah di sediakan. Uniknya, untuk ke aulanya tidak menyatu dengan bangunan kamar hotelnya. Aula dan tempat menginap berada di gedung yang berbeda.

Kolam renang

Kolam renang Hotel Ibis Style Sunter berada di lantai atas dan berada di dalam ruangan (indoor). Kedalaman kolam renang sekitar 1,5 meter untuk dewasa dan 0,5 meter untuk anak-anak. Kolam renang anak bersebelahan dengan playground dan terdapat perosotan yang mengarah ke kolam renang dan playground.


Playground 

Saya sempat kaget juga ternyata di hotel ini ada fasilitas playground di dekat kolam renang anak. Dan lokasinya dekat dengan Hall tempat pertemuan berlangsung. Playgroundnya nggak banyak. Ada perosotan yang mengarah ke kolam renang dan ke arah playground. Selain itu, ada mainan kuda-kuda sebanyak dua buah.

Di playground ini berada di luar ruangan sehingga nggak menggunakan AC. Jadi suasana di playground cukup panas. Tapi menurut saya penyediaan fasilitas playground di Hotel Ibis Style Sunter ini menunjukkan bahwa hotelnya cukup ramah anak.

Mungkinkah bawa stroller?

Sayangnya, untuk menuju ke aulanya harus melewati tangga cukup tinggi. Jadi, saya nggak bisa bawa stroller ke aulanya padahal stroller cukup membantu agar saya nggak perku gendong bayi.

Play room

Tak hanya playground, hotel ini juga menyediakan ruang khusus anak yang dekat dengan lobby. Dindingnya di cat bergambar kartun. Di dalam ruangan itu ada kursi dan meja berwarna-warni. Bantal untuk bersandar. Sayangnya, saya nggak ingat jenis mainan apa yang ada di sana walaupun nggak banyak sih.

Akses Lift

Setelah saya selesai makan yang disesiakan oleh catering panitia, saya pun pergi ke kamar. Untungnya Allah beri saya kekuatan untuk membawa 1 ransel, 1 tas jalan dan bayi digendong di depan.

Akses lift ini menggunakan kartu yang sama untuk membuka pintu kamar. Untungnya, sama pegawai hotel, lift sebelah kirinya di loss kan jadi siapa aja bisa naik turun dengan lift. Mungkin karena hari itu ada dua instansi yang mengadakan acara.

Saya lupa minta kartu kamar ke resepsionis karena kata panitia sudah ada teman sekamar saya yang datang.

Desain kamar yang unik

Saya turun di lantai enam. Saat masuk kamar dengan mengetuk pintu, saya kaget karena biasanya panitia menyediakan twin bed buat peserta dalam satu kamar. Ternyata cuma queen size. Karena saya bawa bayi 9 bulan jadi saya merasa sedikit nggak enak hati kepada teman sekamar saya. Khawatirnya mengganggu. Apalagi khawatirnya dia jadi kurang nyaman karena harus ndusel2 sama bayi saya.

Alhasil, saya harus meminta maaf dulu karena saya bawa bayi hehe. Ternyata dia pun kaget karena biasanya panitia menyediakan twin bed. Ehm. Pernah juga sih satu kali waktu pertemuan tahun lalu kasurnya juga queen size hanya saja saya tidur sama anak saya, nggak ada teman sekamar yang lain, jadi terkesan luas hehe.

Satu hal dari desain kamarnya yang sempat buat kaget adalah pintu lemari yang bisa digunakan sekaligus untuk menutup kamar mandi. Jadi kalau lemari itu ditutup maka kamar mandi terbuka. Tapi kalau pintu lemari digeser alias dibuka maka kamar mandi jadi ketutup. Pintu lemarinya bisa buat kaca satu badan penuh.

Breakfast

Selama dua kali sarapan di hotel, saya rasa makanannya hampir sama. Sepertinya hampir semua hotel seperti itu ya? Menu yang dihidangkan saat sarapan seperti sayur capcay, mie, sosis, ayam kecap, bubur ayam, bubur sumsum, roti-rotian, salad sayur, salad buah, aneka makanan jawa yang ditaruh di atas gerabah. Dan beberapa menu lain yang saya lupa menunya.

Saat makan siang memang menunya lebih sedikit. Hanya saja menunya juga hampir sama. Saya juga kurang tahu apakah makan siang disediakan dari hotel apa nggak? Karena kalau saya lihat menunya hampir sama.
Biasanya kalau acara di hotel, saat sarapan setiap tamu hotel diabsen sesuai nomor kamar. Tapi pas saya di Ibis Style saya nggak diabsen jadi siapa aja bisa masuk.

Restoran di Ibis Style Sunter (dok. Pribadi)

Wifi

Penggunaan wifi berpassword di ruang aula saat acara berlangsung memang cukup membantu untuk mendukung berjalannya acara. Mungkin karena dipakai orang banyak jadi terkadang jaringannya sibuk dan susah konek. Sedangkan saat di kamar, sambungan internet wifi cukup lancar.

Balkon

Saya dapat kamar dengan balkon semi tertutup. Pemandangan gedung-gedung tampak dimana-mana maklum lah namanya juga kota besar. Saya jarang sekali duduk-duduk di balkon. Ketika saya membuka pintu balkon dan duduk di sana justru bukan udara segar yang saya dapat tapi udara Jakarta yang sudah banyak polusi. Belum lagi hawanya panas. Yasudahlah. Saya tutup kembali balkonnya.
Sedangkan fasilitas lain sama seperti hotel berbintang lainnya seperti teh, kopi, gula, dan pemanas air.


Kamar mandi

Karena kamarnya minimalis dan modern maka kamar mandinya menggunakan shower yang ditutup oleh kaca bening. Butuh waktu pula untuk menggunakan air panas baik di showernya ataupun di wastafelnya.

Kaca kamar mandi yang bisa tembus ke tempat tidur (dokumen pribadia)

Anak mengompol?

Saya punya pengalaman saat bermalam di sana, ompol anak saya sempat tembus padahal sudah pakai popok. Jadinya, besoknya saya minta ke resepsionis untuk mengganti seprei. Tak lama, seorang petugas datang membawa beberapa lapisan seprei di tangannya. Dia begitu sigap mengganti sepreinya. Dia juga cerita kalau tembus ompol masih nggak apa-apa tapi kalau darah mens itu harganya hampir (separuh-kalo nggak salah) dari harga kamar. Untung saja.

Hari Jumat pun tiba, saya mulai berkemas-kemas sebelum acara dimulai. Biar nanti saat acara selesai saya bisa check out sebelum jam 12 siang. Menunggu Pak Menteri takmkunjung tiba, saya sempat khawatir karena saya ada janji ke Kemristek untuk ambil SK. Untungnya, saya bisa pamit duluan. Ada rasa sedih bercampur senang saya meninggalkan  acara lebih dulu. Sedih karena saya belum tahu tahun depan apakah masih bisa berkumpul dengan penulis-penulis lainnya. Senang karena akhirnya acara dan tanggungan saya selesai. Saatnya bertemu anak yang saya titipkan ke Mbahnya di Sragen, hehe.


Read More
Setelah tiba di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul enam sore, aku sempat bingung mau naik apa ke tempat acara. Kalau dari bandara sih yang murah biasanya pakai bus DAMRI tapi ya gitu harus menunggu cukup lama. Apalagi jam acara dimulai pukul tujuh malam. Jadi aku harus pilih kendaraan yang bisa cepat. Apalagi kalau bukan taksi? Tinggal memutuskan taksi online atau taksi bandara. 

Begitu keluar pintu kedatangan, aku nggak melihat counter-counter taksi bandara walaupun banyak taksi bandara berkeliaran. Di tempat lain, kulihat beberapa orang memenuhi counter taksi online.
Apa ikut antri taksi online kali ya? Duh, tapi aku nggak punya aplikasi taksi online soalnya tabletku nggak support untuk aplikasi macam itu. Sebenarnya bisa aja sih ngehubungi saudara yang bisa pesankan taksi online, tapi kok ekspresi orang-orang yang berdiri di counter taksi online pada bete ya. Apa nunggunya lama? Mungkin saja sangat lama.

Akhirnya aku ikut masuk antrian orang-orang yang ingin menaiki taksi bandara. Antriannya memang mengular. Tapi taksi yang datang pun banyak langsung tiga taksi jadi sebenarnya tidak terasa juga. Sekitar 15 menit tiba juga giliranku yang naik taksi.

Kali ini tujuanku ke Hotel Kartika Chandra adalah untuk mengikuti Pertemuan Penulis Tahap Pertama. Pertemuan ini merupakan pertemuan para penulis yang menang sayembara bahan bacaan SD oleh Badan Bahasa Kemdikbud.

Lokasi Hotel Kartika Chandra

Hotel Kartika Chandra ini berada di Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 18-20, Karet Semanggi, Setia Budi, RT.8/RW.2, Jakarta Selatan

Ternyata hotel ini berada di deretan bangunan-bangunan penting di ibukota. Jadi nggak begitu sulit mencarinya. Hanya saja waktu itu lagi jam pulang kantor sekitar jam setengah tujuh malam. Alhasil, jalanan di google map berwarna merah. Banyak titik-titik macet. Sempat khawatir juga karena jam tujuh malam acara selanjutnya dimulai.

Sebenarnya Pak Sopir menyarankan lewat tol saja biar cepat tapi kami sama-sama nggak punya e-money.  Bapaknya sempat bilang nekad aja lewat tol tanpa e-money tapi nanti pinjam e-money mobil belakang.

Haduh, repot banget deh. Akhirnya aku bilang lewat bawah aja. Nggak usah lewat tol.

Alhamdulillah walaupun melewati macet setidaknya nggak telat-telat banget sampai tempat acara.

Begitu sampai hotel, aku takjub. Dari luar bangunannya mewah banget dan besar.

Hotel Kartika Chandra dari depan (traveloka.com)


Parkir hotel

Parkir hotelnya luas banget. Kalau aku disuruh jalan kaki dari depan gerbang hotel ke lobby hotel dengan bawa anak dan tas mungkin aku sudah pingsan kali saking luasnya.

Di sebelah hotel ada bioskop XXI juga. Wah, kebayang nih kalau sudah selesai acara pada nonton di bioskop. Tapi aku nggak mungkin sih soalnya bawa bayi, hehe.

Bangunan Hotel

Kalau dilihat-lihat dari luar, bangunan hotel Kartika Chandra seperti bangunan tua. Kutebak hotel itu dibangun sekitar tahun 1980/1990-an. Walaupun begitu, bangunan ini terlihat mewah dari luar.

Keramahan Pegawai Hotel

Taksi pun menurunkan aku di depan pintu lobby. Seorang pegawai hotel berpakaian jas hitam dan kopi hitam menyambutku dengan senyuman ramah.
Kubilang, “Saya mau ikut acara badan bahasa.”

Ia pun mempersilakanku untuk check in terlebih dahulu. Aku pun setuju karena ingin menaruh barang-barang di kamar. 

Di resepsionis, seseorang menerimaku dan memberikan sebuah daftar nama setelah tahu bahwa aku salah satu peserta pertemuan. Aku menandatangani daftar nama itu. Aku sekamar dengan teman yang sudah cukup kukenal. Namanya Mbak Ira Diana.

Lobi Hotel Kartika Chamdra

Aku pun menuju ke kamar setelah mendapatkan kunci yang berupa kartu dari pegawai resepsionis.

Kamar Old-fashioned dan Elegant

Begitu masuk kamar, lampu redup kamar hotel bintang 4 ini membuat mataku ingin terlelap. Ups, aku ingat kalau harus ikut materi. Aku rebahkan si kecil di tempat tidur yang lagi tertidur pulas.

Tempat tidur twin-bed memang diperuntukkan untuk aku dan Mbak Ira. Tapi aku nggak lihat barang-barang Mbak Ira. Mungkin Mbak Ira nggak nginep di hotel? Soalnya Mbaknya memang tinggal di Jakarta. 

Aku mencoba mengatur suhu kamar agar tidak kedinginan. Tapi aku kaget karena AC nya nggak seperti AC masa kini. Tombolnya juga berbeda. Semua tombol di kamar benar-benar tombol old-fashioned!

Aku seperti sedang memecahkan teka-teki. Kulihat dan kuperhatikan dengan seksama tombol AC kamar. Kuharap ada petunjuk yang jelas untuk mengurangi dan menambah suhu. Mungkin karena sudah malam dan lelah jadinya aku nggak begitu teliti. 

Setelah selesai acara, aku penasaran dengan tombol AC. Begitu kulihat lagi, eh ternyata tinggal memutar saja seperti putaran kipas angin. Hehe.

Tombol-tombol lampu pun begitu. Inginnya mematikan salah satu lampu kamar tapi aku nggak menemukan tombolnya. Yang kulihat hanya tombol tua yang kuanggap sebagai tombol lampu kamar. Kutekan-tekan tombolnya, tak ada perubahan. Kucari tombol-tombol lain di setiap sudut kamar tapi hanya tombol tadilah yang kutemukan.

Aku menghembuskan nafas. Sepertinya hotel old-fashioned ini benar-benar membuatku kebingungan. Jadinya aku membiarkan lampu-lampu itu menyala sepanjang siang dan malam hari.

Kamar Hotel Kartika Chandra

Kamar Mandi

Aku mencoba melihat kamar mandi. Jangan-jangan aku harus mencari tombol-tombol ajaib untuk menyalakan air. Ketika kubuka pintu kamar mandi, kulihat wastafel di sebelah pintu kamar mandi dengan tempat tisu berbahan besi tertempel di dinding. Kamar mandinya cukup luas. Di sebelah kiri, ada bathtub dengan shower terletak di atas kran air. Kloset berada di ujung. 

Memang hotel-hotel baru dan modern hampir nggak menggunakan bathtub lagi. Katanya penggunaan bathtub itu membuat air boros dibanding shower.

Melihat kamar mandi sejenak ternyata membuat aku memutuskan untuk mandi saja sebelum ikut acara. Secepat kilat, aku mandi. Untung si bayi masih terlelap. Segera aku gendong lagi dan pergi ke tempat acara.

Hall

Tempat acaranya berada di Gedung sebelah. Jadi aku berjalan kaki melewati restoran hotel yang sudah tutup. Aku baru ingat kalau aku belum makan malam hanya roti dari pesawat untuk mengganjal perutku. Itu belum cukup. Aku berdoa semoga maag ku nggak kambuh. 

Begitu aku tiba di ruang acara dan melengkapi keperluan administrasi, aku pun membuka pintu kayu yang berat dengan ukir-ukiran bunga. Aku lupa nama Hall nya apa ya, hehe.

Acara-acara sudah dimulai. Kursi-kursi sudah penuh terisi peserta. Ada beberapa kursi yang kosong tapi di tengah-tengah. Aku harus blusuk untuk bisa duduk disitu. Akhirnya aku memilih kursi di pojok ruangan. Mungkin kursi untuk panitia. Lebih nyaman karena aku bisa menyusui dengan mudah kalau anakku menangis. Dan lagi aku langsung bisa ngeloyor pergi kalau tangisan anakku tak kunjung berhenti.

Hall hotel Kartika Chandra kubilang cukup mewah. Mungkin karena ada ukir-ukirannya. Dengan jumlah peserta sekitar 150 orang, Hall itu cukup untuk menampung peserta tanpa overload dan masih lowong. Yang pasti AC-nya nggak panas. 

Musholla

Musholla juga disediakan bagi peserta yang ingin sholat tanpa harus ke kamar. Letaknya di sebelah Hall. Ruangannya cukup luas untuk sebuah musholla hotel. Biasanya Musholla ini tempatku menyusui si bayi.


Breakfast

Dengan rate per kamar 800an ribu, aku merasa sangat worth it mendapatkan segala fasilitas yang diberikan termasuk sarapannya. Menurutku selama sarapan di beberapa hotel, menu sarapan di Hotel Kartika Chandra sangat beragam. Ada masakan Indonesia dan masakan Eropa. Tak perlu bingung buat turis asing yang nggak terbiasa dengan makanan kaya rempah bisa menikmati makanan dari negaranya seperti salad sayur, salad buah, roti-roti, wafel. Bagi orang Indonesia juga nggak perlu risau karena makanannya sudah disesuaikan dengan lidah orang indo yang kaya rempah seperti bubur ayam, nasi goreng, capcay, ayam, ikan fillet. Aku kayak orang kalap pas sarapan di sana. Semua menu kucoba. Wkwkwk.

Karena anakku masih 7 bulan. Jadinya aku belikan dia jus buah pepaya tanpa gula dan tanpa konsentrat di resto hotel. Harganya lumayan bowkk. 45 ribu. Wkakaka. Dan anaknya malah makan sedikiitttt. Sedihh.

Oiya, ternyata pas ketemu Mbak Ira katanya nginep di kamar satunya karena dapat jatah dari kantor dan sekalian bawa anaknya, hehe.

Selesai sudah menginap di hotel yang old-fashioned tapi elegant. Acara pun selesai. Tanggungan selesai. Tapi masih ada pertemuan kedua lagi.




Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower