Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud.

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More
Tak terasaa akhirnya sudah hampir di ujung acara UWRF yaitu di Hari Keempat UWRF. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari festival ini.


Sabtu, 27 Oktober 2019

Begitu lega saya setelah mengisi workshop kemaren, saya jadi lebih santai. Hari ini ada banyak sesi menarik untuk diikuti. Saya sudah menjadwalkan akan mengikuti lima sesi Main Program tapi kenyataannya saya hanya bisa satu sesi saja karena saya harus ikut private roundtable jam 2 siang padahal di jam-jam itu, sesi nya banyak yang menarik.

Main program : Precious Peatlands

Saya sempat mengikuti sesi ini meski sedikit terlambat. Sesi ini berbicara tentang konservasi hutan diisi oleh Nirarta Samadhi, Butet Manurung, I Wayan Juniarta, Saras Dewi,  dan Nirwan Dewanto. Saya benar-benar tidak pernah terpikir untuk menulis tentang konservasi hutan dimana materi itu sebenarnya tidak jauh dari materi kuliah saya. Kalau mengingat kembali materi kuliah saya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dijadikan bahan cerita. Hanya saja memang butuh diolah sehingga tidak kaku.
Saya memang sudah mengetahui tulisan-tulisan yang berbau lingkungan atau disebut dengan Sastra Hijau tapi memang saya belum mencoba menuliskannya. Padahal tema-tema lingkungan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.

Wawancara dengan Literary Podcasts Malaysia


Oiya, saya lupa di hari ini, saya janji dengan Honey ahmad, seorang warga Malaysia yang memiliki toko buku dan juga Literary podcasts di sana. Janji itu adalah sebuah wawancara untuk podcast nya. Ia pun mengeluarkan peralatan untuk merekam. Pertanyaannya juga sederhana seperti latar belakang pendidikan, kapan mulai menulis, buku yang sudah diterbitkan, dan pesan-pesan bagi yang siapapun terutama ibu rumah tangga untuk tetap bisa menulis. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya jadi banyak mengenal orang. Wawancara pun selesai dalam waktu 18 menit meski sempat tersendat karena anak saya menangis. hehe.
Bersama Honey Achmad dan Nurillah

Main Program : Reza Aslan: God, A Human History

Reza Aslan ini adalah penulis yang hidup pada keluarga syiah, dan dia migrasi ke US saat revolusi Iran terjadi. Kemudian dia convert ke kristen dan pindah lagi ke islam. Dia menceritakan pengalaman kehidupan dia yang berpengaruh dalam proses menulisnya. Dan sesi yang dilaksanakan di Restaurant Industri ini sangat penuuh sekali padahal biasanya pasti ada kursi kosong. Saya juga nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan karena begitu penuh dan soundsystem kurang jelas terdengar bagi saya yang bahasa inggrisnya terbatas jadi saya memilih untuk pulang ke hotel.

Private Roundtable

Setelah mengantarkan anak ke hotel untuk dititipkan ke suami, saya pun pergi ke Blockchain zoo, lokasinya bersebelahan dengan tempat acara. Setelah sudah mencentang nama saya yang ada di daftar peserta, saya dan teman-teman emerging lainnya naik ke ruangan atas. Di dalamnya sudah ada beberapa penulis dari USA dan Australia.

Moderator Inno (kiri) dan Jim Coney (kanan)





Jadi sesi ini memang dihadiri khusus penulis dan mendiskusikan beberapa kondisi dunia kepedulian dari negara yang berbeda. Topik yang dibahas pun juga sesuai permintaan audiensi.  Jim Coney, lulusan RMIT University ini bekerja di penerbitan di Australia. Dia menjadi moderator pada sesi ini bersama dengan Innogato, penulis USA yang masa kecilnya tinggal di Indonesia.
Setelah mengadakan voting pada topik yang dibahas maka didapatlah empat topik utama yang menjadi bahasan tiap kelompok. Saya tertarik dengan audiobook jadilah saya ikut kelompok audiobooks. Cerita tentang audio books akan saya tulis secara khusus nanti ya.

Kik benar-benar membantu saya dalam menginterpretasi pembicaraan para speaker. Mereka berbicara sangat cepat sekali dan banyak istilah atau idiom yang tidak begitu saya pahami.
Setelah sesi itu, saya pun pergi ke rental motor untuk memperpanjang penyewaan sampai minggu malam. Saya harus menambah 30 ribu karena menambah 6 jam lagi.

Oya, sebenarnya setiap malam, UWRF mengadakan acara Live music and art, jadi isinya membaca puisi, pertunjukan musik, menonton film, menari tradisional, dan lain-lain. Sayangnya, saya sudah terlalu lelah jadi saya memilih beristirahat di hotel.

Di Hari Kelima UWRF, saya sempatkan jalan-jalan keliling Ubud dengan sewaan sepeda motor seperti yang saya ceritakan di blog saya yang berjudul Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai).

Read More
Akhirnya Hari Kedua UWRF yang mendebarkan pun terlewati, rasanya masih panjaaang sekali perjalanan saya di UWRF dan saya menikmati setiap harinya di sana. Hari Ketiga UWRF ini tak kalah serunya bahkan saya pengen salto, wkwkwk.

Jumat, 25 Oktober 2019

Sebenarnya dari kemaren saya ingin ikut beberapa sesi Main Program.  Banyak sebenarnya sesi Main Program yang sangat menarik, tapi beberapa sesi jadwalnya bersamaan, jadi saya harus memilah lagi beberapa yang saya butuhkan. Sayangnya, kemaren karena anak membutuhkan perhatian lebih, jadi saya mengajaknya makan Di sekitar pusat ubud dengan motor sewaan. Akhirnya saya tidak mengikuti sesi yang saya inginkan.

Hari ini rencananya saya mau ikut sesi Main Program: Imagining The Past yang diisi oleh Iksaka Banu, Azhari Aiyub, Alessandro Baricco, Toni Jordan, dan Sebastian Partogi. Saya suka sebenarnya menulis hal-hal yang berbau historis, menantang tapi juga cukup sulit karena memang tidak pernah menyaksikan momen itu. Jadi hanya imajinasi dan beberapa kejadian sejarah yang mendukung cerita kita. Otomatis riset mendalam sangat dibutuhkan seperti yang dilakukan oleh Iksaka Banu.

Selanjutnya, saya mengikuti sesi Andreas Harsono: Race, Islam, and Power. Saya sedikit terlambat pada sesi ini jadi saya hanya mengikuti sebagian. Dalam Sesi ini ia menceritakan tentang pengalaman dia saat pergi ke pelosok dan melihat kehidupan penduduk ras tertentu, kalau nggak salah daerah Papua dan Ambon. Dan dia menceritakan kehidupan suku Ambon dan yang memeluk agama islam.

Short Story Session

Karena suami pergi mencari masjid Ubuddiyah untuk sholat jumat, jadi saya pergi ke Green room untuk menunggu suami sekaligus bersiap-siap workshop children and youth : short story session. Nah, waktu beberapa bulan lalu, saya sempat mengisi formulir kemampuan saya yang sedikiiiitttttt dan belum banyak pengalaman ini yang bisa dibagikan. Saya menulis mengisi workshop short story untuk anak-anak. Sebenarnya, maksud saya short story nya bercerita tentang cerita anak-anak, tapi audiens nya tetap orang dewasa. Eh, ternyata saya dimasukkan dalam workshop children and youth festival. Ya nggak apa-apa sebagai pengalaman aja.


Terus kesalahan saya selanjutnya adalah katanya saya akan mendapat interpreter selama di sana, jadi saya mengajukan workshop dengan bahasa bilingual. Ketika ditempat workshop, ternyata tidak ada interpreter. Saya pun baru sadar kalau bilingual itu nanti saya yang harus berbicara sendiri dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Nah, LOH!

Awalnya saya minta panitia saja menerjemahkan tapi lama-lama saya menjelaskan sendiri dalam bahasa inggris. eciyeeehh. Untung saja bahasanya masih sederhana. Jadi saya masih bisa lah meski kadang beberapa kata saya lupa dalam bahasa inggrisnya. Jadi saya tanya panitia.



Eh, untungnya audiens nya kebanyakan anak-anak bule yang memang sedikit bisa bahasa indonesia dan orang indonesia yang bisa bahasa inggris. Jadi benar-benar kombinasi yang menguntungkan lah. Tapi ada juga dari Australia yang memang tidak bisa bahasa Indonesia.

Di akhir penjelasan, saya meminta mereka menulis cerita pendek yang sangat pendek dalam satu halaman hvs. Tanpa berpikir lama, mereka langsung menuliskannya dengan baik. Semua peserta menuliskannya dalam bahasa inggris termasuk juga peserta dari indonesia. Keren sekali mereka. Saya kalah deh, Imajinasi mereka juga keren.


Jangan kira semua berjalan dengan damai, tenang, dan kalem. Anak-anak bule itu cukup ramai dan kritis. Saya sampai kagok deh dibuatnya. Bener-bener pengen SALTO deh. hahaha. But, saya buat santai ajalah, ketimbang saya stres sendiri, jadi kadang saya ajak guyon aja.

Setelah selesai, saya pun segera pulang ke hotel bersama anak-anak dan suami yang sudah menunggui saya saat Short Story Session. Makasih banget deh sama suami yang udah mau jagain si kecil.

Di Hari Keempat UWRF ini semakin banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Yuk, dibaca saja di blog saya berjudul Ilmu Baru di Hari Keempat UWRF.

Read More
Setelah cukup disibukkan dengan Hari Pertama UWRF, maka Hari Kedua UWRF ini tidak kalah serunya dan mendebarkan.

Kamis, 24 Oktober 2019

Saya sudah mencentang beberapa Main Program yang ingin saya ikuti. Main program ini adalah program utama yang diisi oleh penulis-penulis dari Indonesia maupun luar negeri. Sayangnya, saya tidak mengikuti satu pun.

Mungkin saya terlalu lelah, jadinya pagi hari di hotel saya istirahat dan menemani anak berenang. Jam 10 saya dijemput untuk sesi Main Program : Indonesian Emerging Writers 2019.

Sesi Indonesian Emerging Writers

Saya dan teman-teman menunggu di Green Room setengah jam sebelum acara dimulai. Para interpreter pun sudah berseliweran di dekat ruangan itu dan siap melaksanakan tugasnya. Kik juga mengingatkan saya kalau berbicara pelan-pelan saja agar memudahkan memudahkan untuk menginterpretasi.
Meski saya tidak sendiri, saya cukup deg-degan duduk di atas panggung dengan audiens yang cukup banyak. Maklum saya biasanya juga di dapur, audiens saya cuma dua anak saya dan suami saya, jadi wajarlah rasa nervous itu ada. wkwk.


Pada sesi itu, saya diminta memperkenalkan diri saya, kapan mulai menulis, latar belakang menulis cerita pendek saya, dan lain-lain. Karena di profil saya tertulis ibu rumah tangga, moderator pun bertanya bagaimana mengatur waktu menulis. Yaah saya jawab saja, memang waktu kita 24 jam, mestinya ada waktu untuk menulis, biasanya saya menulis saat malam hari atau sebelum subuh, bisa juga saat siang hari, yang paling penting saat anak-anak tidur. Itu yang bisa saya sarankan untuk ibu rumah tangga yang juga ingin menulis. Kita juga perlu aktivitas "Me Time" dengan menulis. Ketika ada karya yang dihasilkan pasti rasa senangnya juga berlipat. Mungkin itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan buat ibu rumah tangga dengan segala kewajibannya di rumah yang kadang bahkan sering bikin ngelus dada. wkwkwk. Namun, semua kembali kepada masing-masing individu yang bisa menentukan prioritas yang mana. Dan aktivitas "Me Time" apa yang memang menyenangkan buat seorang ibu rumah tangga.  Dan penting juga suami mengetahuI kesukaan istri.
Bukan karena gaya pembacaan saya yang mengagumkan tapi karena dia mencari-cari paragraf mana yang saya baca agar Kik bisa membacakan bahasa inggrisnya

Selain itu, saya dan teman-teman juga diminta membacakan cerita milik masing-masing. Pertanyaannya sebenarnya tidak terlalu susah paling hanya sebatas karya kita saja, tapi kalau tanpa persiapan juga bikin kagok, hehe.

Serunya, setelah sesi ini, ada yang ingin berfoto dan berkenalan dengan saya. Ada juga yang memberi portofolio desain ilustrasi.  Saya juga diperkenalkan oleh Kik kepada penerjemah cerita pendek saya yang bernama Pamela Allen, seorang pensiunan dosen universitas Tazmania, Australia.
Bersama Pamela Allen

Nah, uniknya, saat saya sedang duduk di Green Room, seseorang yang berasal dari singapura mendekati saya dan minta waktu kapan saya bisa diwawancarai. Wah, saya kaget tapi juga senang. Dia perlu waktu untuk membaca karya saya dan meminta wa saya. Saya pun minta hari sabtu siang saja karena lebih lowong. Ia pun menyetujui.

Hal yang bisa saya pelajari dalam sesi ini adalah bahwa isu sosial, permasalahan dalam masyarakat, sekecil apapun bisa menjadi bahan untuk dijadikan cerita pendek. Dan saya masih terus belajar dan terus belajar.

Sesi Hijab Files


Setelah selesai sesi pertama, Kik mendekati saya dan meminta saya untuk mempersiapkan materi untuk sesi selanjutnya. Sebenarnya moderator, Maryam, seorang penulis dari Australia,  sudah mengirimkan email pertanyaan untuk sesi ini. Salah satunya, apa pengaruh hijab dalam proses menulis saya. Saya bingung untuk menjawab, mengingat saya belum pernah menulis cerita yang tokohnya memakai hijab. Meski, dalam cerita anak saya, tokoh ibu ini memakai hijab tapi hanya sebagai setting yang tidak begitu kuat. Sesi ini sebenarnya cukup membuat saya ingin untuk segera menyelesaikan cerita saya yang tokohnya berhijab.
Ternyata, apa yang saya bayangkan terjadi juga. Ketika Maryam bertanya tentang tantangan apa yang saya terima saat menulis tokoh berhijab. Saya jawab tidak ada. Beberapa pertanyaan lain saya juga menjawab tidak. Sesungguhnya memang tulisan saya belum membahas orang berhijab.
Sesi Hijab Files bersama Maryam (kiri), Uzma Jalaluddin (kanan), saya dan Nurillah (paling kanan) 

Untungnya, Uzma Jalaluddin, penulis dari Kanada, membeberkan tantangan dia sebagai penulis muslim dan minoritas di negaranya. Dia cukup sulit mencari memprofilkan dirinya di sana karena dia berhijab. Begitu juga cerita dalam bukunya yang berjudul Ayesha At Last yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang berjudul Ayesha.

Menjawab pertanyaan


Menurut saya, sesi ini cukup sulit apalagi saat audiens,  yang jumlahnya 2 kali lipat dari sesi saya sebelumnya, memberi pertanyaan yang cukup menggebu-gebu yang menurut saya sudah di luar dari konteks sesi.

Contohnya bagaimana pendapat anda saat ada yang pertama berhijab kemudian melepasnya, atau bagaimana pendapat anda tentang perpaduan agama dan budaya, misalnya saat menikah harus memakai konde-konde, dll, bagaimana pendapat anda tentang peraturan di Aceh yang mengharuskan berhijab.

Saya tidak menjawab mengenai ketika seseorang melepas hijab karena si penanya pernah melakukan itu dan dia merasa bebas, tidak ada beban, ketika melepaskannya. Karena menurut saya mereka sudah tahu dalam islam itu berjilbab adalah perintah. Setiap orang yang beragama islam tahu sendiri tidak semua bisa menjalankan perintah yang sudah jelas. Jadi saya tidak menjawab daripada menimbulkan perdebatan.

Saya langsung menjawab bahwa ketika menikah saya memakai baju Jawa dan hijab dan di rias seperti pernikahan jawa, sedangkan prosesi menginjak telur, menyuapi suami, adalah sebuah simbolik yang lebih penting esensinya. Sedangkan peraturan di Aceh saya kemudian bercerita bahwa saya TERPAKSA melepas hijab ketika di Prancis saat mereka meminta pas foto tanpa hijab. Kalau tidak maka saya tidak bisa mengurus kemitraan. Saya pun pergi ke fotobox dan melepas hijab tanpa dilihat orang kemudian memakainya lagi dan memberikan pasfoto tanpa hijab saya kepada petugas imigrasi.

Setelah itu saya bilang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi kalau kamu pergi ke Aceh untuk dinas atau liburan dan harus memakai hijab, ya pakai saja..toh bukan sebuah dosa kan dalam kepercayaan kalian? Sedangkan saya pun terpaksa melakukan hal yang dilarang dalam agama saya yaitu melepas jilbab. Itu pendapat saya yang mungkin masih banyak orang yang belum setuju.

Tambahan : oiya, maksud saya mengemukakan peribahasa tersebut sebenarnya bukan berarti saya jadi buka2an, minum alkohol, dll di negara saya berpijak dulu, Prancis. Selama saya bisa menolak karena tidak sesuai dengan perintah agama saya dan bagi mereka tak masalah, ya tak apa2 kan. Misal saat saya ada Soirée dan rata2 minum alkohol. Mereka tahu saya tidak minum alkohol maka mereka memaklumi dan tidak menawari saya.

Ya kembali ke kalian aja. Karena kalau saya tidak menuruti aturan "foto tanpa alas di kepala", maka keimigrasian saya dicabut dan tidak akan bisa sekolah. Sama kalau kalian ke Aceh dan tidak mengikuti aturan di sana, kalian tidak akan bisa menyelesaikan urusan kalian di sana.

Yang pasti, ada beban baru saat saya selesai mengikuti sesi ini. Masih banyak yang menganggap hijab adalah bentuk ketidakbebasan,  pengekangan, teroris, dan banyak hal image buruk. Dari situ, saya bisa melihat, bahwa penulis muslim cukup memiliki beban yang berat untuk menghasilkan tulisan yang bisa membuka mata tentang pendapat mereka selama ini. Tentunya, pesan-pesan tanpa menggurui. Sebagai penulis muslim harus punya karakter dalam setiap karyanya.

Setelah sesi ini juga, saya didekati oleh orang bule dari Belanda dan meminta foto bersama. Ya allah, saya berasa artis, wkwk. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia meski dia lebih suka berbahasa Inggris. Dan Kik bersedia menerjemahkan nya.

Thanks Kik.
Karena sudah jam 5 sore, saya pun segera pamit pulang dengan motor yang saya sewa dari rental motor yang dekat dengan tempat acara.

Selanjutnya, cerita Hari Ketiga UWRF saya malah Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019, bisa dibaca di sini ya.
Read More
Selasa, 22 Oktober 2019

Tiba juga saya, suami, dan dua anak saya di bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul delapan malam. Setelah mengambil bagasi, kami segera keluar dari pintu kedatangan. Saya sempat khawatir karena biasanya saat di bandara saya harus mengontak orang yang menjemput saya, tapi dalam acara ini, tidak ada kontak dengan penjemput. Saya hanya diberi panduan untuk menemui panitia dengan baju UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) atau seseorang yang berpakaian Bali yang menjemput saya sambil membawa kertas bertuliskan Lita Lestianti.

Saya tidak melihat, justru suami saya melihat dan menunjuk ke arah panitia. Oiya, benar! Ada nama saya TERPAMPANG!  haha. sungguh saya tidak pernah dijemput dengan model seperti artis itu. Perjalanan dari bandara ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam karena waktu itu memang lalu lintas padat sedangkan jalan-jalan di Bali pun kebanyakan tidak lebar.

Saya pun sampai di hotel Yulia Village Inn yang ada di Jalan Monkey Forest. Rupanya, saya sudah kelelahan sampai saya lupa senyum kepada resepsionis. Gara-gara, katanya malam itu saya belum masuk dalam daftar reservasi. OMG! saya sudah kebayang saya akan cari hotel malam-malam yang belum tentu tersedia. Ternyata setelah di cek, petugas hotelnya yang salah memasukkan ke sistem karena waktu pemesanan dari panitia, sistemnya memang sempat eror. Ugh, leganya.

Dijemput panitia UWRF


Setelah mandi, saya pun ingin segera beristirahat di kamar yang nyaman sekali. Sayangnya, anak-anak baru saja terbangun dan mengajak main. Saya mempelajari jadwal acara UWRF.  Entah kenapa saya pun tidak bisa tidur membayangkan acara yang akan saya lalui lima hari selanjutnya. Setelah berhasil membujuk anak untuk tidur, saya pun ikut tidur.


Rabu, 23 Oktober 2019


Patron Brunch

Esoknya, saya pun siap-siap berangkat untuk Patron Brunch sekitar jam 10 pagi. Nah, di sini ada miskom dengan Writer Liaison (WL) saya. Dari awal sebenarnya sudah dibilang ada sesi penjemputan kendaraan pada sesi saya. Nah, beberapa jam sebelum acara saya tidak mendapat informasi via wa atau email, jadi saya kira tidak ada penjemputan. Ketika saya tanya WL, bisa tanya ke sesi transportasi, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut siapa sesi transportasi (begitulah karena saya malu bertanya jadi kelamaan di jalan wkwk). Alhasil, saya, suami dan anak saya berharap pada shuttle bus di Museum Puri Lukisan yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari hotel saya. Begitu sampai museum itu, ternyata shuttle bus gratis untuk acara UWRF baru ada besok tanggal 24 Oktober 2019. wkwk wkwk.  Akhirnya kami memutuskan jalan kaki karena melihat di peta masih 2 kilo lagi. Sedangkan kalau naik taksi harus bayar 80rb. mahal yee padahal deket aja. Dan ternyata jalannya menanjak saudara-saudaraaaa. Beberapa kali kami harus berhenti di jalan. Si kecil kasihan karena kadang digendong, kadang harus jalan sendiri. wkwk.  kebodohan hakiki.



Nah, begitu sampai tempat acara, saya melihat ada briefing untuk para volunteer UWRF. Selanjutnya, anak dan suami saya pun menunggu di Indomaret, saya pun mengikuti Patron Brunch bersama si kecil.

Patron Brunch ini merupakan private event yang mempertemukan emerging writers dengan Indonesia Patron, Julia, dengan Founder event UWRF, Janet Deneefe, sambil menikmati makan siang nasi campur ala Bali.

Dari Patron Brunch ini saya mengenal keempat penulis emerging lainnya, yaitu Nurillah dari Jember, Ilhamdi dari Padang, Chandra dari Jakarta, dan Heru dari Nganjuk. Saya juga mengenal Manajer Program, Pak I Wayan Juniarta (Ijun) yang sudah menyeleksi karya sebanyak sekitar 1500an karya.
Patron Brunch UWRF 2019 (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF)

Kami berbicara banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, latar belakang cerita, dan segala hal. Karena Julia ini dari Australia jadi kebanyakan dia berbicara bahasa Inggris yang kadang kami menimpali dengan bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Syukurlah ada Pak Ijun yang bersedia menerjemahkan.
Ya Allah baru kusadari aku kumus kurus soalnya jarang ngaca wkwk (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF) 

Saya kira hanya orang Eropa saja yang suka memuji. Ternyata orang Australia juga sangat suka sekali memuji. Apapun itu. Mulai dari makanannya, bayi saya yang lucu, cerita kami berempat, dan everything. Namun, memang saat mereka tidak suka, mereka akan bilang terus terang. Saya pernah mengalaminya saat saya berada di negeri antah berantah.

Briefing

Setelah Patron Brunch, saya dan teman-teman lainnya briefing bersama para interpreter. Interpreter saya adalah Kik Hughes, seorang bule Australia yang tinggal di Singapura. Interpreter ini yang akan membantu saya saat saya tidak mengerti bahasa inggris dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dalam bahasa inggris. Maklum emak-emak yang hampir nggak pernah ngomong bahasa inggris. Daripada kagok di depan audiensi mending saya pakai jasa interpreter. Dan ternyata berguna banget!

Bersama Mbak Kik Hughes (Credit: Kik Hughes)


saat briefing kami diberitahu agar saat berbicara itu hanya dua paragraf dulu agar interpreter tidak bingung. Saya pun juga menyadari bahwa tidak hanya kami berlima saja yang grogi, para interpreter yang sudah berpengalaman pun bisa saja nervous. Saya pun akhirnya mengetahui kalau audiensi yang banyak bule itu kebanyakan juga bisa bahasa Indonesia,  itulah mengapa jika interpreter salah menginterpretasi atau ada yang kurang infonya, mereka akan merasa gagal di depan para audiens.

Workshop

Nah, sesi selanjutnya adalah sesi workshop menulis dengan Mirandi Riwoe, seorang penulis dari Australia di sebuah ruangan dengan pemandangan Bukit Campuhan dan sebuah gunung. Anak saya yang kecil pun saya titipkan pada ayahnya dan dibawa ke hotel. Saya pun bisa konsentrasi belajar dan tidak mengganggu peserta lain.

Di workshop ini dia menjelaskan ceritanya tentang crime fiction, bagaimana membuat judul, bagaimana menulis genre yang berbeda, bagaimana mengatasi writers block, dan banyak hal.
Buku yang dia tulis (saya lupa judulnyaa) merupakan hasil dari tugasnya saat kuliah di jurusan Creative Writing di Australia.  Nah, buku yang dia tulis itu harus menjadi rujukan pada disertasinya S3. Dia menulis dari sudut historis tapi yang kejadiannya bisa terjadi masa sekarang seperti Human Trafficking dan Racism.
Mengerjakan tugas menulis 2 paragraf (Credit : Kik Hughes)

Hanya ada dua interpreter di workshop ini yaitu mas Raka dan Kik. Untungnya bahasa inggris masih mudah dimengerti dan kadang saya perlu melatih bahasa inggris saya, kadang saya juga perlu interpreter untuk menjelaskan kembali maksud saya dalam bahasa inggris.

Sesi Tanya Jawab (dokumen pribadi)
Namun, yang saya bisa ambil pelajaran dari workshop dari Mirandi ini adalah bahwa hadapi saja distraksi atau penundaan saat menulis cerita. Karena dari penundaan atau distraksi itu merupakan proses kita untuk berpikir cerita yang kita tulis. Mirandi berpesan, jangan tulis seluruhnya, tapi tinggalkan beberapa untuk besok sehingga ada keinginan untuk terus menulis. namun,  dia juga memberi saran untuk mengatasi writer's block yaitu Keep writing, writing  and writing!
o iyaa, dia juga bilang kalau misal kalah dalam perlombaan maka jangan kecewa karena lomba itu jurinya subjektif. Jadi jangan sampai terpuruk dan tidak menulis karena kecewa kalah lomba. Ah! menohok banget bagi saya nih yang juga sering kalah lomba. haha.

Workshop bersama Mirandi Riwoe


Saya pun balik ke hotel diantar oleh driver UWRF. Setelah bertemu anak dan mandi, saya pun dijemput untuk mengikuti acara Gala Opening di Ubud Palace. Tidak jauh dari hotel saya sih tapi setelah berjalan 3 kilometer saya memilih untuk naik kendaraan saja.

Gala opening

Saya pergi bersama anak saya yang kecil. Saya pun mengisi buku tamu. Beberapa peserta berfoto-foto di depan baliho-baliho ala artis Hollywood. Dua orang perempuan Bali dengan pakaiannya yang khas Bali menyematkan bunga di baju para peserta. Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk, saya pun melewati para peserta yang berdiri dekat pintu masuk. Ramai sekali. Sesak.
Eh, saya bertemu dengan Seno Gumira Ajidarma. Tapi sayang saya malu-malu minta foto bahkan Mengucap hello, hehe.
Saya mencari tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Saya sampai tidak bisa menikmati pertunjukannya karena anak saya yang mulai rewel. Saya pun membeli snack untuk anak saya. Oiya, toko-toko di Bali sudah tidak menggunakan plastik, loh! Keren, ya. Jadi siap-siap bawa tas sendiri untuk menampung makanan-makanan yang kalian beli.



Gala Opening (dokumen pribadi)

Writer's Dinner

Saya pun bertemu teman-teman saya. Jam 7 malam kami menuju Casa Luna, resto ala Bali yang dimiliki oleh Janet Deneefe. Karena ini private event jadi panitia harus mengecek nama yang akan masuk ke resto yang memang sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya.

Sayangnya, mungkin karena saya terlalu capek, jadi saya tidak maksimal. Maksimal dalam artian saya tidak bisa membangun koneksi alias SKSD. Sok kenal sok dekat sok yes lah sama mereka. haha. Setidaknya untuk berkenalan dengan Writer yang sudah terkenal. Saya hanya ingin segera pulang ke hotel. Saya dan dua teman Emerging yang wanita pun pulang ke hotel diantar oleh driver UWRF.

Masih ada hari esok dan saya merasa lelah sekali. Sampai di hotel Yulia Village Inn yang saya review di sini juga, ternyata saya tidak bisa tidur. OH!

Lanjut cerita hari kedua UWRF yang Mendebarkan.

Read More
Setelah perjalanan panjang dari Surabaya, tibalah rombongan kami di hotel Hardys Rofa. Saya segera memberesi barang-barang yang ada di bawah kursi dan kabin Bus. Suami membawa beberapa tas dan menggendong si Raceqy turun dari bus. Suami juga menurunkan tas-tas dari bagasi dan stroller yang kami sewa di Surabaya. Ini gara-gara stroller di Malang nggak dibawa ke Surabaya.

Baca juga : Jasa Sewa Stroller di Rungkut Surabaya

Karena kesulitan membawa tas, akhirnya strollernya kami gunakan untuk membawa tas-tas. Benar-benar efektif. Sebenarnya stroller ini kami sewa untuk menaruh bayi kalau ke Tana Lot karena di sana sudah bisa pakai stroller tapi karena kesorean akhirnya batal ke Tana Lot. Menyedihkan.
Kami pun mengambil kunci kamar hotel Hardys Rofa yang sudah ditentukan oleh panitia. Saya dapat kamar di lantai lima. Saya dan suami langsung masuk lift setelah antri dengan rombongan yang lain.

Angin sore Legian memasuki sebagian koridor hotel yang terbuka. Kami berjumpa dengan cleaning service yang sedang membersihkan kamar. Mereka tersenyum ramah kepada kami.

Kunci berbentuk kartu

Kami pun tiba di pintu kamar. Kunci yang berbentuk kartu di scan di mesin pembuka pintu. Klik. Pintu terbuka. Saya memasukkan kartu di tempat samping pintu. Listrik pun menyala otomatis. Kami menyalakan lampu yang belum menyala. Kunci semacam ini memang biasa diterapkan di hotel-hotel berbintang. Kekurangannya kalau sampai kuncinya tertinggal dan pintu sudah menutup maka hanya pihak hotel yang bisa membukanya.

Kamar nyaman

Begitu saya melihat spring bed diselimuti bed cover putih, saya langsung menidurkan bayi saya. Melihatnya terlelap dan merasa kasihan karena dia sudah melewati perjalanan darat yang sangat panjang.
Kamar yang nyaman di Hardys Rofa via Trip Advisor

Balkon

Suami membuka gorden. Kami melihat kolam renang di bawah sana. Dia mencoba membuka pintu dan menikmati udara sore Legian yang kencang. Beberapa orang mengobrol-obrol di balkon sambil merokok dan menikmati minuman yang disediakan di setiap kamar.

View Hotel Dari Balkon Kamar via IG @ly_lestem


Pendingin ruangan

Saya menyalakan pendingin ruangan yang bermerk Daikin dengan pengaturan suhu pada titik 29 dersel. Bagi pecinta AC tentu suhu segitu masih panas. Tapi karena saya dari luar dan tidak ingin merasakan suhu yang begitu drastis maka saya menyalakan pada titik 29 dersel. Padahal sih memang tidak tahan AC, hehe.


Kamar mandi

Menurut saya, kondisi sebuah hotel bisa dilihat dari kamar mandinya. Jika kamar mandinya bagus dan bersih maka secara tidak langsung hotel itu sangat memperhatikan kebersihan di setiap bagian hotel. Saya memberi nilai 8 pada kamar mandinya karena ada beberapa bagian lantai yang muncul kerak.  Sama seperti kebanyakan hotel, fasilitas kamar mandinya dilengkapi wastafel, kloset duduk, tempat jemur handuk, handuk bersih, shower, tempat sampah, sabun, sikat gigi, shower cap, sabun, dan shampoo.
Air panasnya pun berfungsi walaupun harus menunggu beberapa saat. Saya memandikan si kecil cukup di wastafel saja.

Fasilitas kamar

Selain pendingin ruangan, di dalam kamar juga disediakan lemari, gantungan baju, meja, kursi, note dan pensil, brankas, heater dan air mineral.

Ruang Aula

Ruang aula ini berada di lantai dasar. Sesampainya di hotel Hardys Rofa, kami tidak makan di restoran hotel tapi di aula karena makanannya pakai catering. Setelah itu, ada acara yang diadakan panitia untuk anak kecil maupun bernyanyi. Sayangnya karena saya ingin segera istirahat dan kasihan juga bayi saya yang masih usia satu bulan, maka saya memutuskan kembali ke kamar dan tidur.

Baca Juga : Senangnya Jalan-Jalan wisata Ke Bali

Restoran

Besok paginya, kami sarapan di restoran hotel Hardys Rofa. Menunya cukup beragam walaupun dua hari sarapan di restoran hotel Hardys Rofa menunya tidak jauh berbeda dengan menu sebelumnya. Ada menu jawa nasi, sayur dan lauk. Eh tapinya lauknya sosis sih, hehe. Ada makanan barat seperti roti panggang, sereal, salad buah dan salad sayur. Minumannya ada susu, teh, kopi, air putih, dan infused water.

Restoran hotel Hardys Rofa ini berada di lantai dua jadi ada tempat duduk di balkon atau teras sehingga bisa melihat pemandagan keluar hotel walaupun pemandangannya hanya jalan raya, hehe.

Kamar mandi umum

Bagi yang ingin menyelenggarakan acara di hotel Hardys Rofa ini, tidak perlu khawatir soal kamar mandi karena ada kamar mandi umum di lantai dua dekat dengan restoran.


Kolam Renang

Fasilitas lainnya yang tidak kalah penting adalah kolam renang. Di hari kedua ketika saya dan suami tidak ikut rombongan jalan-jalan, suami dan anak memanfaatkan kolam renang hotel.

Sewa Motor dan Mobil

Tidak hanya itu, di hotel ini juga disediakan persewaan motor dan mobil. Kalau ingin menyewa motor atau mobil tinggal bilang ke petugas keamanan di depan hotel. mereka yang akan menghubungi persewaan untuk datang ke hotel. setelah itu kita langsung transaksi dengan pemiliknya. Harganya 75.000 per hari untuk motor dan siap-siap dana lebih sekitar 30.000 jika terjadi ban bocor. Pengalaman sewa motor di Bali sudah saya ceritakan di blog sebelumnya ya.

Harga per kamar

Bagi saya, hotel Hardys Rofa ini cukup murah untuk fasilitas yang diberikan. Setelah saya google di internet. Harga kamar di hotel Hardys Rofa ini mulai dari 400.000 rupiah.

Lokasi Hotel

Lokasi Hotel Hardys Rofa ini berada di Jalan Nakula No. 9, Legian, Kuta. Tidak jauh dari Pantai Kuta sekitar tujuh menit kalau naik motor. Tapi kalau ke Denpasar, dari hotel Hardys Rofa ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

Demikian review saya tentang hotel Hardys Rofa. Bagi kalian yang ingin ke Bali dan mencari hotel. Hotel Hardys Rofa ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk menginap.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower