Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan

Tahun ini adalah tahun ke 32 aku terlahir di dunia. Jika ditanya kapan ulang tahun yang paling berkesan? Aku perlu waktu untuk mengingat-ingat kapankah ulang tahun yang paling berkesan? Apakah waktu SD, SMP, SMA, kuliah, kerja atau saat berumah tangga?


Sebenarnya aku tidak begitu banyak mengingat momen ulang tahun yang berkesan. Entah mengapa juga banyak memoriku yang hilang. SMP aku nggak ingat sama sekali momen ulang tahun yang berkesan. Mungkin hidupku terlalu biasa kali ya. Haha. Beda dengan teman-teman SMA ku yang bisa mengingat banyak kejadian yang lucu-lucu.


Setiap momen ulang tahun yang kuingat sama seperti 'menu makanan' yang selalu berbeda. Mempunyai 'cita rasa' yang berbeda. Jadi agak susah membandingkan dua momen yang paling berkesan.


Ulang Tahun Paling Berkesan Saat Sekolah Dasar


Ini adalah salah satu momen yang aku ingat.Hanya saja aku lupa kelas berapa. Kemungkinan antara kelas 1 sampai kelas 3.


Ada satu momen ulang tahun yang paling aku ingat adalah ketika tiba-tiba ibu menyuruhku untuk mengajak teman-temanku di kompleks datang ke rumah setelah maghrib. 


Awalnya aku bertanya untuk apa? Kata ibu, hari itu aku ulang tahun dan akan merayakannya. Betapa senangnya aku waktu itu meskipun aku pun tidak akan ingat hari ulang tahunku kalau tidak diingatkan begitu. Namanya anak kecil belum mikir tentang ulang tahun dan perayaannya. 


mSetelah aku undang semua temanku yang hanya beberapa orang saja, aku pun siap-siap. Aku ingat aku memakai baju mirip gaun yang dibelikan bapak. Sayangnya tanpa lengan jadi mirip model you can see tapi bawahnya rok mekar. Entah lah apa namanya ya?


Terus, aku lihat kue tart yang menggiurkan sudah di depan mata. Ketika semua sudah berkumpul, kami menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan. Kalau aku pikir sekarang, wajah temanku waktu itu ada yang senyum dan ada yang tanpa ekspresi. Tak bisa dideskripsikan.


Setelah sesi foto-foto bersama kedua orang tua baru deh aku memotong kue tart nya yang dibantu tangan ibu. Potongan kue pun dibagikan ke teman-temanku yang datang.


Betapa senangnya aku waktu itu. Dan aku berharap temanku juga senang dengan acara yang aku buat.



Ulang Tahun Paling Berkesan Saat SMA


Aku langsung aja ke masa SMA ya karena aku benar-benar tidak ingat dengan masa SMP. Ketika SMA aku bersekolah di sekolah berasrama di Samarinda. Jadi aku juga tinggal di asrama yang satu kompleks dengan sekolahku.


Di asramaku diberlakukan sistem semi militer dalam pengasuhan asrama. Jadi semua kegiatan tidak jauh dengan urusan kedisiplinan, hukuman fisik dan mental. 


Yang paling unik adalah siswa yang baru masuk akan mendapat satu kakak asuh. Untuk mendapatkan kakak asuh pun harus dengan lomba lari cepat-cepatan siapa yang dapat kakak asuh. Dan disetiap kakak asuh berada di sebuah keluarga asuh yang terdiri dari beberapa 'keturunan'. 


Kebetulan karena angkatanku jumlahnya lebih banyak dari angkatan sebelumnya, jadi ada satu kakak asuh yang mendapat dua adik. Bukannya mendapat kakak asuh yang cewek tapi aku mendapat kakak asuh yang cowok. Alhasil, segala urusan di asrama putri diserahkan oleh kakak asuh lain beda keturunan dalam satu keluarga asuh.


Aku mendapat keluarga asuh bernama Oksigen Median. Satu keluarga asuh di sana mendapat tiga nama yaitu Kimia, Matematika dan Fisika. Yang kuingat hanya dua itu nama keluarga asuhku.


Setiap jam makan, sudah ditentukan setiap murid duduk dengan siapa. Biasanya duduk dengan senior kelas 2 dan 3 tapi beda keluarga asuh. Ketika akhir pekan biasanya tempat duduk diatur bersama keluarga asuh. Jadi meja panjang disusun jadi satu dan semua keluarga asuh duduk bersama.


Momen makan bersama keluarga asuh adalah momen menyenangkan menurutku. Karena selalu ramai dan semakin mempererat hubungan dengan senior.


SMAN 10 Melati Samarinda
Gambar hanya contoh tapi mirip seperti itu. Dulu kursinya masih bahan alumunium.


Aku lupa apakah saat makan bersama keluarga itu aku sedang berulang tahun atau tidak. Yang aku ingat, keluarga asuhku beramai-ramai menumpukiku ompreng tempat makanan setelah selesai makan. 


Menjadi sebuah tradisi ketika ada yang berulang tahun, maka teman atau senior yang memiliki hubungan dekat akan menumpuki ompreng setelah makan. Harusnya setelah makan setiap murud membereskan ompreng makanannya sendiri terkecuali kalau ada yang berulang tahun. Alhasil, aku harus membereskan semua ompreng yang bertumpuk di depanku secepat mungkin tanpa ada bantuan. 


Ompreng


Di sisi lain aku kesal tapi aku harus menerimanya dengan baik. Alhamdulillah aku tidak dilempar tepung dan telur yang baunya bikin muntah.



Ulang Tahun Paling Berkesan Saat Kuliah


Aku benar-benar sudah lupa atas kejadian ulang tahun saat kuliah. Cuma ada satu momen ulang tahun paling berkesan saat aku kuliah yaitu merasakan salju tepat di hari ulang tahunku.


Seumur hidup aku nggak pernah melihat salju dan salju turun tepat di hari ulang tahunku yang ke 24 tahu seperti yang sudah pernah aku tulis di sini.


Rasanya senang. Meskipun aku tidak merayakan bersama keluarga, aku cukup senang menikmati salju yang turun dengan derasnya di usia 24 tahun. Tak peduli dingin sampai ujung kaki terasa beku, bibir kering, mata berair dan hidung memerah mampet, aku menerobos hujan salju yang sangat jarang turun. Mencari spot terbaik untuk berfoto-foto. Bahkan berlanjut keesokan harinya.


Salju di Eiffel
Semoga ultah selanjutnya dapat tumpukan duit ya wkwkw amiin


Demikianlah beberapa momen ulang tahun yang paling berkesan saat menempuh pendidikan. Selanjutnya momen ulang tahun hanyalah momen untuk mengingat betapa diri ini harus menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam beribadah. Menjadi pengingat diri bahwa hidup cepat sekali berjalan dan menjadi evaluasi terhadap apa yang sudah aku berikan untuk orang tua dan keluargaku. Kadang malah sedih karena aku tidak bisa berbuat banyak untuk menjadi orang yang bermanfaat. Meskipun setidaknya menjadi orang yang paling dibutuhkan di dunia ini oleh dua anakku.

Read More
Menulis blog



Terjerumus dalam Dunia Blog


Sebenarnya tak ada yang menjerumuskan aku ke dalam dunia blog. Aku sudah menulis di blog tahun 2008. Aku lupa nama blog pertamaku apa dulu tapi masih belum domain berbayar alias belakangnya masih blogspot.com. Eh iya, banyak banget yang salah mengira kalau di belakang URL blogspot.com itu depannya pakai www. Misalnya www.namablog.blogspot.com. Padahal kalau pakai www itu artinya sudah domain berbayar atau sudah Top Level Domain (TLD) sedangkan kalau blogspot.com itu artinya blog masih belum TLD.


Dulu, aku berencana mencatat semua pengalamanku dari semester 1 sampai selesai. Sayangnya, itu belum terwujud. Alasannya karena setiap semester terlalu banyak tugas dan jadwal kuliah.


Di awal menulis blog pribadi, hanya ada tiga artikel di tahun 2008 dan tiga artikel di tahun 2009. Semua tulisan tentang materi perkuliahan, satu artikel tentang organisasi dan satu artikel tentang kehidupan perkuliahan. 


Di tahun 2010 mulai meningkat sebanyak sepuluh artikel. Aku mulai mencoba mewujudkan keinginanku untuk menulis pengalaman dari semester satu sampai selesai karena waktu itu aku sudah lulus. Kupikir akan ada banyak waktu untuk menulis blog. Nyatanya, tidak juga. Hahhaa.


Aku berpikir untuk apa aku menulis di blog? Apa sebenarnya tujuanku mengabadikan tulisan di blog kalau cuma isinya tidak ada manfaatnya sama sekali. Aku kemudian berpikir bagaimana blogku setidaknya bermanfat bagi orang yang ingin mendapatkan informasi sesuatu.


Kemudian, aku mulai memanfaatkan blogku dengan memasukkan tugas-tugas kuliah di sana. Dan itu bertahan sampai S2. Terkadang juga menceritakan tentang pengalaman pergi ke suatu tempat atau mengisi weekend di sela-sela kuliah. Dan gimana isinya? Bisa dipastikan isinya sangat sederhana dan tidak seperti sekarang. Dulu, isi blog diceritakan sangat umum sekali. Kurang mendetail. Terasa sekali banyak informasi yang kurang.


Alasan Bertahan di Dunia Blog

Sampai suatu ketika, view blogku setiap artikel mulai bertambah gara-gara setelah tugas selesai aku memasukkan dalam blog. Entah kenapa aku dulu tidak kepikiran plagiarisme ya. Jadi pokoknya tugas artikel itu aku masukkan ke dalam blog.


Hasilnya, view dari cuma 10-an bisa sampai 50-an. Bahkan ada komentar ucapan terima kasih karena telah memublikasikan suatu artikel tentang mata kuliah. Aku merasa menjadi lebih bersemangat. Aku menulis tentang tempat yang aku kunjungi, tentang apa pun yang mungkin orang lain perlu tahu. 


Aku mulai lebih banyak menulis pengalaman aku hidup di luar negeri. Meski tidak begitu banyak tapi alhamdulillah view artikel sudah mencapai ratusan waktu itu.


Sampai suatu ketika, aku menikah dan resign dari pekerjaanku, aku mengikuti lomba blog dari Goodnewsfromindonesia. Tak menyangka, artikelku menjadi dua puluh pemenang lomba blog dan dibukukan dengan judul Inovasi Daerahku. 


Prestasi pertama dalam dunia menulis di blog itulah yang menjadi lecutan untuk terus menulis di blog. Prestasi pertama itulah yang akhirnya aku mengubah nama domainku. Waktu itu, nama domainku adalah litaetlavie.blogspot.com yang tercantum dalam buku Inovasi Daerahku. Setelah itu, prestasi menulis blog alhamdulillah masih lanjut meski tidak banyak. 


Dibalik Nama Domain Lestelita.com

Aku lupa bagaimana ceritanya. Seorang temanku di FLP dan blogger, Mbak Fauziah, mengiming-imingiku untuk mengganti nama blog menjadi TLD. Ibaratnya investasi untuk blog. Mbak Fauziah bilang menulis blog bisa dibayar karena akan ada banyak sekali tawaran job kalau blognya sudah TLD. 


Awalnya aku tidak percaya. Apakah benar menulis blog bisa mendapatkan uang? Mengingat investasi blog itu lumayan juga. Untuk beli domain saja sekitar 150.000 rupiah selama satu tahun tergantung pakai hosting yang mana. Beliau malah cerita, harga segitu sudah murah sekali apalagi kalau dapat job di total bisa berkali-kali lipat.


Memang sih selama ini aku lebih sering menulis artikel blog tapi belum pernah kepikiran untuk mengganti menjadi TLD. Apalagi memperoleh pendapatan dari blog. Rasanya itu jauh dari bayangan. 


Nama blogku sebelum TLD adalah litaetlavie.blogspot.com. Kalau dalam bahasa Prancis, Lita et La vie itu artinya Lita dan kehidupannya. Tapi kemudian aku mengubah nama itu menjadi nama lain yang lebih mudah dibaca yaitu Lestelita. 


Kenapa Lestelita?

Kalau temanku SMA pasti sudah tahu alasannya karena Leste itu nama panggilanku waktu SMA. Gara-gara aku memberi nama gelasku itu Lesteea dari nama belakang Lestianti. Eh, diplesetin sama temanku itu Leste. Timor Leste!


Oh! Setelah itulah nama panggilanku Lita menjadi Leste. Haha. Dan atas kisah masa lalu itulah, aku memberi nama blogku Leste ditambah nama asliku Lita. Jadilah nama domain blogku Lestelita. Dan itu berubah sekitar tahun 2015. Tapi untuk headernya blog aku kasih nama Lestiaa's.


Masyallah, tidak menyangka aku sudah bertahan lima tahun!


Keputusan Membeli Top Level Domain (TLD)

Kembali lagi ketika aku akhirnya memutuskan membeli domain. Alasannya, aku mau mencoba membuktikan. Haha. Jika ternyata satu tahun berjalan aku tidak dapat pemasukan dari blogku, ya lebih baik kembali ke blogspotcom saja.


Aku pun mencari-cari provider yang menyediakan domain dengan harga yang cukup murah tapi kualitas lumayan. Akhirnya aku memilih salah satu agen hosting yang lumayan murah dan profesional setelah cari di internet berjam-jam.


Eh, setelah aku beli domain dan nama blogku berubah menjadi lestelita.com seperti yang teman-teman lihat sekarang. Alhamdulillah benar saja. Aku mendapat beberapa tawaran job, mulai dari sponsored post maupun content placement.


Tapi yang harus diingat semua juga tidak ujug-ujug begitu ya. Kita harus konsisten menulis untuk mendapatkan view. Dan dari keputusan membeli domain TLD itu aku mulai mengenal edit html, edit template, desain logo blog, dan lain sebagainya. Paling tersulit adalah aku belajar SEO dasar, misalnya menulis keyword yang biasa dicari orang, biar bisa page one meski aku tidak pernah berhasil, haha. Bahkan akhirnya aku memasang Google Analytic dan Google Search Console demi melihat perkembangan blogku dan.. untuk job. Haha.


Tentang Blog Lestiaa's

Dulunya dari view cuma hitungan jari, sekarang hitungan jari kali seribu per bulan. Alhamdulillah sekarang viewku setiap bulan masih sekitar 7.800 pageview.

Memangnya di blog membahas apaan? Blogku memang awal-awal banyak menjelaskan tentang materi kuliah. Kalau aku lihat sekarang, viewnya memang lumayan. Apakah karena sudah lama? Atau memang pencarian materi kuliah tertentu selalu banyak? Kalau begitu sepertinya aku akan menulis materi kuliah yang lain. wkwkwk.

Karena sekarang aku tidak bekerja, jadi aku menceritakan pengalamanku sebagai seorang ibu, baik saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak yang sakit, ataupun segala hal tentang kehidupan seorang ibu dengan anaknya. Tak cuma itu, aku juga menceritakan segala hal tentang tempat yang aku kunjungi, literasi, review produk kecantikan dan perawatan kecantikan, bahkan lomba blog yang aku ikutin juga aku tulis di blog.


Sepertinya tulisan yang sampai sekarang selalu bermunculan komentarnya adalah tentang penipuan online. Banyak sekali yang bertanya tentang kasus mereka apakah uang bisa kembali.


Rata-rata sih aku menulis dengan gaya storytelling yang katanya lebih memikat klien. Namun, rupanya aku masih kurang kuat gaya storytelling dalam blog. Aku harus lebih banyak belajar menulis blog dengan gaya storytelling setelah mengikuti materi Storytelling dari Bambang Irwanto di kelas Growthing Blogger Batch 2.


Menurut beliau, menulis dengan gaya storytelling memiliki keuntungan. Pertama, personal branding akan terbentuk lewat tulisan karena orang akan mengenal diri kita dengan gaya menulis kita. Kedua, dengan menulis artikel bergaya story telling, maka tulisan akan lebih natural. Ketiga, dengan menulis bergaya storytelling, maka dijamin kemampuan menulis akan semakin berkembang. Tidak akan plagiat. 



Keinginan dari Blog Lestiaa's

Sampai saat ini, aku berharap bisa terus mengembangkan blogku, menjadikan blogku jadi lebih sehat. Karena ketika aku ikutan Kelas Growthing Blogger dan menilai blogku pakai SEO Tools, ternyata blogku kurang sehat. Haha. 


Skor website-ku cuma 64 dari 100, performa blogku di rentang moderate. Alias aku harus berhati-hati karena berada tidak jauh di atas batas performa rendah. Tak cuma itu, aku mau meningkatkan view blogku, menulis blog yang baik dan benar dan bisa dapat uang dari blog. Eh, monetisasi sebenarnya tidak melulu soal uang ya. Karena monetisasi bisa juga berupa produk. 


Namun, keinginanku yang paling utama adalah blog Lestiaa's ini bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan suatu informasi sesuai dengan slogan blogku. The more we share, the more useful we are to others. Tapi kalau ada yang ingin menjadikan blog yang berubah domain menjadi sumber penghidupan, maka perlu strategi lain, termasuk belajar SEO. Nah, kalau aku sih, selama ini memang buat senang-senang dan berbagi informasi saja, syukur-syukur kalau dapat sponsored post atau content placement dari luar. 


Jadi kebayang kan 12 tahun ini blog untuk apa aja. Dan gimana perkembangannya yang sangat lamban jika dibandingkan blogger-blogger lainnya.


Nah, teman-teman yang sudah punya blog tapi belum diurus sama sekali, apa tidak tertarik merawat blognya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain? 






Read More

Pada bulan Desember 2019, virus corona atau coronavirus deasease (Covid-19) muncul pertama kali di Wuhan, Cina Pemberitaan itu emmbuat heboh seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus itu menyebar begitu cepat dan membuat banyak orang mati karenanya. Yang paling membuat bergidik, saat penayangan video beberapa orang di Wuhan yang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh dan meninggal. Dan itu terjadi pada banyak orang di Wuhan. 

Berita selanjutnya dari Italia, dimana banyak orang yang meninggal karena virus corona. Maklum di Italia banysk sekali penduduk berusia senja yang rentan dengan virus itu. Negara Italia di lockdown. Nggak ada yang bisa masuk dan keluar dari negara itu. Juga Taiwan, Singapura, dan negara lain.

Apa yang terjadi setelah itu?

1. Pemberitaan tak pernah berhenti

Setelah itu, pemberitaan tentang corona tak pernah berhenti. Informasi tentang jumlah kematian orang yang terkena corona terus meningkat. Semua jadi waspada, mungkin lebih tepatnya takut. Semua tahu ciri-ciri terkena corona adalah demam 38°C, batuk, sesak nafas, namun ternyata gejalanya tidak hanya itu saja. Diare, infeksi pencernaan juga katanyaa bisa disebabkan oelh corona. Huft.

2. Status pengidap corona

Kukira pengidap corona hanya satu disebut pengidap corona saja. Nyatanya tidak. Ada banyak status seperti PDP, ODP, dan OTG. Dan yang menyusahkan adalah pengidap OTG yang dinyatakan positif setekah ikut tes tapi dia tidak merasakan gejala apapun. 

3. Lockdown, WFH, WFO, SFH.

Aktifitas negara lumpuh. Bandara, pelabuhan, akses keluar negeri dan masuk ditutup. Semua disarankan stay at home saja sampai-sampai hashtag itu menjadi trending di media sosial. Kita tidak boleh keluar rumah, bekerja dan sekolah di rumah. Lingkungan rumah di lockdown, alias tidak ada yang boleh keluar rumah selama 40 hari. Yang terpaksa bekerja di luar rumah harus punya keterangan surat dari tempat bekerja dan surat domisili. Karena ketika di lockdown, lingkungan hanya dibuka satu pintu itupun jam 9 malam sampai jam 4 pagi ditutup. 

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Meskipun tetap saja masih ada orang yang berkeliaran di jalan. Di Sidoarjo, di dekat rumahku, jalanan cukup sepi dari aktivitas orang.

Sampai bulan September 2020, sekolah-sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pembelajaran dilakukan secara daring. Beberapa perkantoran sempat dilakukan Work From Home (WFH) meski pada akhirnya pekerjaan tetap dilakukan di kantor (WFO).

4. Cafe, Mall, ditutup

Pemerintah mengeluarkan edaran agar aktifitas bukan primer ditutup, seperti Mall dan Cafe. Kebayang berapa kerugian yang didapat oleh owner dan vendor. Tidak ada lagi orang yang 

5. Banyak orang kehilangan pekerjaan

Akibat aktivitas di luar rumah berkurang, banyak pengusaha mengalami kerugian. Dan pastinya banyak karyawan yang akhirnya kehilangan pekerjaan.

6. Kewajiban Memakai Masker dan Cuci Tangan

Pada akhirnya, masker menjadi barang yang dicari-cari karena himbauan pemerintah untuk memakai masker saat keluar rumah. Karena virus corona akan cepat berpindah melalui kontak secara langsung.

Begitu juga dengan hand sanitizer yang sempat langka karena banyak orang yang memborongnya karena dianggap Corona akan mati jika terkena alkohol yang ada di dalam kandungan hand sanitizer. Sebagai gantinya, sabun menjadi alternatif bila tidak memiliki hand sanitizer. 

Jadi penggunaan masker dan cuci tangan saat sampai rumah seperti menjadi gaya hidup saat ini. Alias menjadi kebiasaan. Bahkan orang yang baru sampai di rumah setelah melakukan keperluan di luar rumah disarankan untuk cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian.



Bayangkan,  bagaimana omset usaha masker, sabun dan hand sanitizer di masa pandemi? seolah berkah, pendapatan mereka menjadi meningkat. 

7. Sering di rumah, suntuk melanda

Kupikir akan banyak orang stres selama pandemi ini. Aku membayangkan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tapi harus tetap menghidupi keluarganya, apalagi sekolah daring yang membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Aku saja yang memang selalu di rumah, di masa pandemi ini, aku tidak kemana-mana. Sampai akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan New Normal, aku masih merasa tidak bisa dengan leluasa pergi kemana-mana. Meskipun aku tetap berkunjung ke rumah eyangnya anak-anak sebelum itu dan pergi ke pantai satu kali. Itu juga tiap ngelihat orang bawaannya serem aja.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama masa pandemi ini. 


Read More

Mengurus BPJS memang nggak susah tapi kadang ribet. Kupikir dengan diluncurkan mpbile JKN segalanya hanya perlu klik-klik semua beres. Nyatanya tidak semua urusan bisa dilakukan di aplikasi itu.

Contohnya untuk menambah anggota tidak bisa dilakukan di aplikasi tersebut. Ceritanya, setelah lahir anak kedua, sekitar dua tahun kemudian saya baru mau mengurus BPJS. Saya lebih sering di Sidoarjo daripada di Malang. Dan untuk mengurus BPJS di Sidoarjo jaraknya cukup jauh dari rumah belum lagi saya harus bawa dua anak saya karena tidak mungkin ditinggal di rumah dalam jangka waktu lama.

Jadi saya memilih mengurus di Malang, selain jaraknya yang dekat dengan rumah mbahnya, saya bisa titipkan anak saya.

Akhirnya sebelum corona datang, saya sempatin datang ke kantor BPJS. Oiya, status anak saya ini sudah dilaporkan di kantor suami. Jadi selain dapat tunjangan anak, gaji suami sudah pemotongan biaya BPJS semua anggota. Jadi saya rugi kalau tidak mengurus kartu. Benar kan begitu?

Saya kira kalau cuma nambah anggota, saya hanya bawa akte lahir anak dan KK. Ternyata saya harus bawa slip gaji suami lagi padahal saya tidak bawa. Akhirnya saya pulang ke rumah, dan besok-besoknya saat suami ke kantor, suami minta slip gaji ke kantor.

Eh, setiap ke Malang cuma weekend jadi nggak bisa ke kantor BPJS. Sampai beberapa bulan setelah Corona datang, sekitar bulan April, saya dapat kiriman surat dari kantor BPJS. Isinya adalah kartu BPJS anak kedua saya yang belum saya daftarin waktu itu.

Kaget. Saya sendiri datang kesana ditolak karena berkas nggak lengkap. Sekarang kartunya malah sudah jadi.

Akhirnya saya coba cek di mobile JKN. Setelah masukkan data, saya pun login.

Wow. Tambah kaget lah saya karena ternyata faskesnya tingkat 3 bukan tingkat 1 seperti punya saya, suami dan anak pertama saya. Itu pun datanya tidak bisa gabung jadi satu dengan punya kami bertiga. Jadi anak saya yang kedua terpisah dari tiga anggota lainnya. Fyi, untuk pengabdi negara dari kementerian memang dapatnya faskes 1.



Nah, kebetulan saya ke Malang pas jam kerja. Di masa pandemi begini memang agak khawatir kalau mau ke sana kemari. Di kantor BPJS sendiri sudah menerapkan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan di depan kantor, cek suhu tubuh, dan tempat duduk yang berjarak. Selain itu, kantor BPJS juga tidak seramai biasanya. Jadi tidak begitu khawatir aih meski ada rasa deg-degan.



Setelah saya bertanya dengan petugas yang ada di depan, saya pun baru tahu alasan anak saya dapat kartu BPJS meski belum daftar.

Saya semakin kaget.

Ternyata, pemerintah kota Malang baru memiliki kebijakan bahwa semua NIK kota Malang yang belum terdaftar BPJS memperoleh bantuan biaya premi BPJS setiap bulan.

Karena anak saya sudah terdaftar dari kantor suami dan kemungkinan juga sudah dipotong untuk biaya BPJS maka saya minta diubah saja datanya. Petugas menyuruh saya mengambil nomor antrian setelah memberi blanko.

Eh, dasar sayanya sih nggak baca detail. Jadi saya langsung ambil nomor antrian dan menunggu.

Ketika dipanggil, ternyata blangko yang dikasih tadi harus dilengkapi dan diberi materai 6.000. Waduh, dimana beli materai? Biasanya saya selalu sedia materai di dompet. Tapi waktu itu habis karena sudah dipakai. Alhasil saya beli di toko sebelah kantor BPJS.

Setelah itu saya antri lagi. Untung saja tidak ramai. Begitu dipanggil, saya langsung maju dan memberi semua persyaratan yang diminta.



Setelah semua berkas lengkap, petugas pun mengisi data di komputer. Dalam waktu kurang dari lima menit semua data sudah dimasukkan. Dan karena bulan Juli sudah mau habis, jadi BPJS anak kedua saya baru dimulai bulan Agustus 2020.

Kenapa kok saya tetap mengubah data faskes anak saya? Padahal kan enak dapat bantuan dari pemerintah kota. Pertama, saya tidak mau ambil resiko karena kebijakan pemerintah daerah itu bisa saja berubah lebih cepat. Dan berdampak pada keharusan saya membayar premi meski didiskon.

Kedua, karena memang gaji suami saya juga sudah dipotong untuk BPJS anak saya.

Ketiga, karena bantuan dari pemerintah kota Malang, jadi saya tidak bisa pindah faskes di kota lain meski sama-sama faskes 3. Dan ini tidak mungkin saya harus berobat ke Malang saat anak saya butuh pertolongan medis di Sidoarjo. 2 jam perjalanan lumayan juga.
Setelah petugas menginput data, saya pun memperoleh kartu BPJS anak kedua saya dengan data yang sudah diubah. Anak saya pun bukan lagi menjadi penerima bantuan dari pemerintah kota Malang.

Salam sehat.


Read More
Di usia balita, bermain sepeda dapat melatih kognitif dan motorik anak. Biasanya sebelum berlatih keseimbangan, anak akan menggunakan sepeda roda tiga untuk belajar mengayuh. Sejak usianya 2 tahun, anak saya sudah naik sepeda roda tiga meski belum bisa mengayuh karena kakinya belum sampai. Namun, lama-lama, dia bisa mengayuh karena kakinya sudah sampai.
Jenis sepeda roda tiga ini juga memiliki bermacam-macam fitur ya. Ada yang pakai dorongan, ada yang pijakan kaki di belakang (sepeda shincan), penutup kepala, keranjang, lagu dan mainan, sandaran.

Pilih Yang Mana?

Semua tergantung kebutuhan ya. Kalau anak masih usia dua tahun kurang dan kaki belum sampai, memang sepeda roda tiga dengan fitur yang mainan sangat menyenangkan anak-anak. Kalau misal, mau ajak anak-anak jalan dengan sepeda roda tiga, memang enaknya jika ada keranjang atau tempat menaruh barang dan yang ada pegangan dorong untuk orang tua. Biasahya anak diajak jalan di sekitar rumah agar mau makan atau sekedar cari udara segar. Jadi orang tua tidak perlu membungkuk untuk mendorong. Namun, anak jadi terus merasa tergantung dengan orang tua meski usianya sudah tiga tahun.

Jika usia anak sudah di atas dua tahun dan ingin belajar mengayuh, maka cukup membeli sepeda roda tiga tanpa fitur pegangan dorong. Ini lebih memudahkan anak untuk mengayuh karena lebih ringan dibanding sepeda dengan fitur bermacam-macam. Dan anak dituntut berusaha sendiri mengayuh sepeda tanpa perlu bantuan orang tua.

Semua tergantung kebutuhan ya. Anak saya juga memiliki sepeda roda tiga tanpa pegangan dorong dan keranjang. Jadi saya harus menunggu usianya di atas 2 tahun agar kakinya sampai. Setelah tiga tahun, dia bisa naik sendiri dan mengayuh sendiri.

Kelebihan dan kekurangan sepeda roda tiga

Kelebihan dan kekurangan menggunakan sepeda roda tiga secara umum berdasarkan pengalaman anak saya adalah :

Kelebihan sepeda roda tiga

1. Berlatih otot kaki untuk belajar mengayuh. Awalnya tidak mudah untuk belajar mengayuh sepeda karena ada yang berat dan ada yang ringan. Hanya saja, anak-anak akan terbiasa mengayuh sepeda saat kakinya sudah sampai.

2. Berlatih mengarahkan. Setelah berlatih mengayuh sepeda, anak juga akan membiasakan diri berlatih mengarahkan ke kanan, ke kiri atau putar arah di jalan sempit.

3. Tanpa pompa ban. Enaknya, sepeda roda tiga ini bukan ban yang dipompa. Jadi nggak perlu khawatir meletus atau kempes.

4. Memudahkan orang tua, khusus sepeda yang memiliki pegangan dorong. Anak-anak yang masih usia 1-2 tahun memang belum bisa mengayuh sendiri maka sepeda yang memiliki pegangan akan memudahkan orang tua mengajak jalan tanpa harus membungkuk untuk mendorong.

5. Menyenangkan dan bisa belajar dari lagu, khusus sepeda yang memiliki fitur musik dan mainan. Anak-anak suka sekali dengan sepeda yang banyak hiasannya, warna terang, fitur mainan dan musik.

6. Terlindung dari panas matahari dan rintik hujan, khusus yang memiliki penutup kepala. Nggak perlu takut kepanasan atau kena rintikan hujan. Asalkan bukan hujan deras ya, Mom. hehe.

7. Aman karena memiliki sandaran, khusus yang memiliki sandaran. Sepeda roda tiga juga ada yang memiliki sandaran dan ada yang nggak memiliki sandaran. Jika anak sudah bisa paham, maka Mom nggak perlu khawatir beli sepeda roda tiga tanpa sandaran tempat duduk.

Kekurangan sepeda roda tiga

1. Terkadang anak merasa malas untuk mengayuh jika terbiasa didorong terus (khusus sepeda roda tiga dengan pegangan dorong). Menurut pengalaman saya, anak yang sudah terbiasa didorong, maka anak cenderung akan merasa malas untuk mengayuh. Mungkin beberapa fitur bisa dicopot sehingga anak bisa belajar mengayuh sepeda sendiri.

2. Rawan jatuh ke belakang, khusus sepeda tanpa sandaran badan. Hati-hati membeli sepeda roda tiga tanpa sandaran badan karena anak akan rawan jatuh apalagi jika digunakan untuk usia 1-2 tahun.

3. Terlalu berat untuk mengayuh, khusus sepeda yang memiliki fitur banyak seperti lagu, mainan, penutup kepala, keranjang, dan lain-lain. Bisa saja fiturnya dilepas agar memudahkan anak belajar mengayuh.

4. Rawan jatuh saat berbelok. Menurut pengalaman, anak saya yang empat tahun pakai sepeda roda tiga dengan fitur sederhana alias nggak ada keranjang, penutup kepala, mainan, dll, saat ngebut dan langsung berbelok dia nyaris terjatuh untung saja dia sangga kakinya. Bahayanya saat adiknya berdiri di belakang dia ikut terjatuh.

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 1-2 tahun

Ada beberapa jenis sepeda tiga roda yang cocok untuk usia anak 1-2 tahun. Mengingat usia tersebut anak-anak masih belum bisa mengayuh dan perlu bantuan orang dewasa.

1.Family 993 DT Musik Lebah Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga yang ada musik ini pasti disukai anak-anak usia 1-2 tahun. Belum lagi desainnya yang lucu dan berwarna cerah yang biasa disukai anak-anak.


Harga 500.000


2. PMB T05 Musik Scoopy Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga model scoopy ini juga bisa jadi pilihan Mom. Musik lagu yang ada di sepeda membuat anak suka. Model dan warnanya pasti disukai anak-anak. Model ini juga ada penutup kepala, pendorong, dan pengaman agar anak tidak jatuh.



Harga 412.500


3. PMB 921 BMX Stick Bell Sandaran Tricycle Sepeda Roda Tiga Anak

Model ini lebih sederhana untuk anak usia 1-2 tahun. Kelebihannya ada pengamannya sehingga anak tidak mudah jatuh. Hanya saja perlu diperhatikan apakah anak suka ada pengaman atau tidak.


Harga 315.000

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 2-4 tahun 

Untuk usia di atas dua tahun, Mom bisa beli yang tidak banyak fiturnya, jadi anak bisa belajar mengayuh dan menyetir sendiri.

1. WIMCYCLE Hotwheels Sepeda Anak [Roda 3]

Untuk usia 2-4 tahun, jenis sepeda ini cukup cocok untuk belajar mengayuh dan mengarahkan. Tidak ada sandarannya. Jadi anak perlu hati-hati.

Harga 425.000

2. Tricycle PMB Roda Tiga Sandaran Sepeda Anak - Biru

Desain yang unik dan warna yang cerah membuat anak suka memiliki sepeda roda tiga ini. Kelebihannya adalah ada keranjang dan sandaran kursinya.Di bagian belakang bisa juga digunakan untuk berdiri jika ada temannya. Tapi ini perlu pengawasan ya.


Harga 345.000

3. Alfrex Tricycle Sepeda Anak Roda Tiga - Biru

Warnanya cerah untuk anak-anak pasti suka. Sepeda ini cukup sederhana dan mungkin anak akan merasa nyaman untuk mengayuh dengan model seperti ini.


Harga 325.000

Tapi itu semua tergantung pilihan Mom, ya. Mau pilih fitur lengkap, sampai yang sederhana. Pastikan lagi Mom memilih model sepeda tiga roda  sesuai kebutuhan Mom.

Mom bisa beli sepeda tiga roda tersebut di website blibli.com. Banyak sekali model pilihan sepeda tiga roda  yang sesuai dengan kebutuhan Mom.

Nah, itulah rekomendasi sepeda roda tiga dari usia 1-4 tahun. sedangkan di atas empat tahun, saya sarankan untuk membeli sepeda roda dua dengan dua tambahan bantuan roda kecil di samping ban belakang. Sekalian belajar keseimbangan.

Read More
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More
Tak terasaa akhirnya sudah hampir di ujung acara UWRF yaitu di Hari Keempat UWRF. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari festival ini.


Sabtu, 27 Oktober 2019

Begitu lega saya setelah mengisi workshop kemaren, saya jadi lebih santai. Hari ini ada banyak sesi menarik untuk diikuti. Saya sudah menjadwalkan akan mengikuti lima sesi Main Program tapi kenyataannya saya hanya bisa satu sesi saja karena saya harus ikut private roundtable jam 2 siang padahal di jam-jam itu, sesi nya banyak yang menarik.

Main program : Precious Peatlands

Saya sempat mengikuti sesi ini meski sedikit terlambat. Sesi ini berbicara tentang konservasi hutan diisi oleh Nirarta Samadhi, Butet Manurung, I Wayan Juniarta, Saras Dewi,  dan Nirwan Dewanto. Saya benar-benar tidak pernah terpikir untuk menulis tentang konservasi hutan dimana materi itu sebenarnya tidak jauh dari materi kuliah saya. Kalau mengingat kembali materi kuliah saya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dijadikan bahan cerita. Hanya saja memang butuh diolah sehingga tidak kaku.
Saya memang sudah mengetahui tulisan-tulisan yang berbau lingkungan atau disebut dengan Sastra Hijau tapi memang saya belum mencoba menuliskannya. Padahal tema-tema lingkungan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.

Wawancara dengan Literary Podcasts Malaysia


Oiya, saya lupa di hari ini, saya janji dengan Honey ahmad, seorang warga Malaysia yang memiliki toko buku dan juga Literary podcasts di sana. Janji itu adalah sebuah wawancara untuk podcast nya. Ia pun mengeluarkan peralatan untuk merekam. Pertanyaannya juga sederhana seperti latar belakang pendidikan, kapan mulai menulis, buku yang sudah diterbitkan, dan pesan-pesan bagi yang siapapun terutama ibu rumah tangga untuk tetap bisa menulis. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya jadi banyak mengenal orang. Wawancara pun selesai dalam waktu 18 menit meski sempat tersendat karena anak saya menangis. hehe.
Bersama Honey Achmad dan Nurillah

Main Program : Reza Aslan: God, A Human History

Reza Aslan ini adalah penulis yang hidup pada keluarga syiah, dan dia migrasi ke US saat revolusi Iran terjadi. Kemudian dia convert ke kristen dan pindah lagi ke islam. Dia menceritakan pengalaman kehidupan dia yang berpengaruh dalam proses menulisnya. Dan sesi yang dilaksanakan di Restaurant Industri ini sangat penuuh sekali padahal biasanya pasti ada kursi kosong. Saya juga nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan karena begitu penuh dan soundsystem kurang jelas terdengar bagi saya yang bahasa inggrisnya terbatas jadi saya memilih untuk pulang ke hotel.

Private Roundtable

Setelah mengantarkan anak ke hotel untuk dititipkan ke suami, saya pun pergi ke Blockchain zoo, lokasinya bersebelahan dengan tempat acara. Setelah sudah mencentang nama saya yang ada di daftar peserta, saya dan teman-teman emerging lainnya naik ke ruangan atas. Di dalamnya sudah ada beberapa penulis dari USA dan Australia.

Moderator Inno (kiri) dan Jim Coney (kanan)





Jadi sesi ini memang dihadiri khusus penulis dan mendiskusikan beberapa kondisi dunia kepedulian dari negara yang berbeda. Topik yang dibahas pun juga sesuai permintaan audiensi.  Jim Coney, lulusan RMIT University ini bekerja di penerbitan di Australia. Dia menjadi moderator pada sesi ini bersama dengan Innogato, penulis USA yang masa kecilnya tinggal di Indonesia.
Setelah mengadakan voting pada topik yang dibahas maka didapatlah empat topik utama yang menjadi bahasan tiap kelompok. Saya tertarik dengan audiobook jadilah saya ikut kelompok audiobooks. Cerita tentang audio books akan saya tulis secara khusus nanti ya.

Kik benar-benar membantu saya dalam menginterpretasi pembicaraan para speaker. Mereka berbicara sangat cepat sekali dan banyak istilah atau idiom yang tidak begitu saya pahami.
Setelah sesi itu, saya pun pergi ke rental motor untuk memperpanjang penyewaan sampai minggu malam. Saya harus menambah 30 ribu karena menambah 6 jam lagi.

Oya, sebenarnya setiap malam, UWRF mengadakan acara Live music and art, jadi isinya membaca puisi, pertunjukan musik, menonton film, menari tradisional, dan lain-lain. Sayangnya, saya sudah terlalu lelah jadi saya memilih beristirahat di hotel.

Di Hari Kelima UWRF, saya sempatkan jalan-jalan keliling Ubud dengan sewaan sepeda motor seperti yang saya ceritakan di blog saya yang berjudul Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai).

Read More
Akhirnya Hari Kedua UWRF yang mendebarkan pun terlewati, rasanya masih panjaaang sekali perjalanan saya di UWRF dan saya menikmati setiap harinya di sana. Hari Ketiga UWRF ini tak kalah serunya bahkan saya pengen salto, wkwkwk.

Jumat, 25 Oktober 2019

Sebenarnya dari kemaren saya ingin ikut beberapa sesi Main Program.  Banyak sebenarnya sesi Main Program yang sangat menarik, tapi beberapa sesi jadwalnya bersamaan, jadi saya harus memilah lagi beberapa yang saya butuhkan. Sayangnya, kemaren karena anak membutuhkan perhatian lebih, jadi saya mengajaknya makan Di sekitar pusat ubud dengan motor sewaan. Akhirnya saya tidak mengikuti sesi yang saya inginkan.

Hari ini rencananya saya mau ikut sesi Main Program: Imagining The Past yang diisi oleh Iksaka Banu, Azhari Aiyub, Alessandro Baricco, Toni Jordan, dan Sebastian Partogi. Saya suka sebenarnya menulis hal-hal yang berbau historis, menantang tapi juga cukup sulit karena memang tidak pernah menyaksikan momen itu. Jadi hanya imajinasi dan beberapa kejadian sejarah yang mendukung cerita kita. Otomatis riset mendalam sangat dibutuhkan seperti yang dilakukan oleh Iksaka Banu.

Selanjutnya, saya mengikuti sesi Andreas Harsono: Race, Islam, and Power. Saya sedikit terlambat pada sesi ini jadi saya hanya mengikuti sebagian. Dalam Sesi ini ia menceritakan tentang pengalaman dia saat pergi ke pelosok dan melihat kehidupan penduduk ras tertentu, kalau nggak salah daerah Papua dan Ambon. Dan dia menceritakan kehidupan suku Ambon dan yang memeluk agama islam.

Short Story Session

Karena suami pergi mencari masjid Ubuddiyah untuk sholat jumat, jadi saya pergi ke Green room untuk menunggu suami sekaligus bersiap-siap workshop children and youth : short story session. Nah, waktu beberapa bulan lalu, saya sempat mengisi formulir kemampuan saya yang sedikiiiitttttt dan belum banyak pengalaman ini yang bisa dibagikan. Saya menulis mengisi workshop short story untuk anak-anak. Sebenarnya, maksud saya short story nya bercerita tentang cerita anak-anak, tapi audiens nya tetap orang dewasa. Eh, ternyata saya dimasukkan dalam workshop children and youth festival. Ya nggak apa-apa sebagai pengalaman aja.


Terus kesalahan saya selanjutnya adalah katanya saya akan mendapat interpreter selama di sana, jadi saya mengajukan workshop dengan bahasa bilingual. Ketika ditempat workshop, ternyata tidak ada interpreter. Saya pun baru sadar kalau bilingual itu nanti saya yang harus berbicara sendiri dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Nah, LOH!

Awalnya saya minta panitia saja menerjemahkan tapi lama-lama saya menjelaskan sendiri dalam bahasa inggris. eciyeeehh. Untung saja bahasanya masih sederhana. Jadi saya masih bisa lah meski kadang beberapa kata saya lupa dalam bahasa inggrisnya. Jadi saya tanya panitia.



Eh, untungnya audiens nya kebanyakan anak-anak bule yang memang sedikit bisa bahasa indonesia dan orang indonesia yang bisa bahasa inggris. Jadi benar-benar kombinasi yang menguntungkan lah. Tapi ada juga dari Australia yang memang tidak bisa bahasa Indonesia.

Di akhir penjelasan, saya meminta mereka menulis cerita pendek yang sangat pendek dalam satu halaman hvs. Tanpa berpikir lama, mereka langsung menuliskannya dengan baik. Semua peserta menuliskannya dalam bahasa inggris termasuk juga peserta dari indonesia. Keren sekali mereka. Saya kalah deh, Imajinasi mereka juga keren.


Jangan kira semua berjalan dengan damai, tenang, dan kalem. Anak-anak bule itu cukup ramai dan kritis. Saya sampai kagok deh dibuatnya. Bener-bener pengen SALTO deh. hahaha. But, saya buat santai ajalah, ketimbang saya stres sendiri, jadi kadang saya ajak guyon aja.

Setelah selesai, saya pun segera pulang ke hotel bersama anak-anak dan suami yang sudah menunggui saya saat Short Story Session. Makasih banget deh sama suami yang udah mau jagain si kecil.

Di Hari Keempat UWRF ini semakin banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Yuk, dibaca saja di blog saya berjudul Ilmu Baru di Hari Keempat UWRF.

Read More
Setelah cukup disibukkan dengan Hari Pertama UWRF, maka Hari Kedua UWRF ini tidak kalah serunya dan mendebarkan.

Kamis, 24 Oktober 2019

Saya sudah mencentang beberapa Main Program yang ingin saya ikuti. Main program ini adalah program utama yang diisi oleh penulis-penulis dari Indonesia maupun luar negeri. Sayangnya, saya tidak mengikuti satu pun.

Mungkin saya terlalu lelah, jadinya pagi hari di hotel saya istirahat dan menemani anak berenang. Jam 10 saya dijemput untuk sesi Main Program : Indonesian Emerging Writers 2019.

Sesi Indonesian Emerging Writers

Saya dan teman-teman menunggu di Green Room setengah jam sebelum acara dimulai. Para interpreter pun sudah berseliweran di dekat ruangan itu dan siap melaksanakan tugasnya. Kik juga mengingatkan saya kalau berbicara pelan-pelan saja agar memudahkan memudahkan untuk menginterpretasi.
Meski saya tidak sendiri, saya cukup deg-degan duduk di atas panggung dengan audiens yang cukup banyak. Maklum saya biasanya juga di dapur, audiens saya cuma dua anak saya dan suami saya, jadi wajarlah rasa nervous itu ada. wkwk.


Pada sesi itu, saya diminta memperkenalkan diri saya, kapan mulai menulis, latar belakang menulis cerita pendek saya, dan lain-lain. Karena di profil saya tertulis ibu rumah tangga, moderator pun bertanya bagaimana mengatur waktu menulis. Yaah saya jawab saja, memang waktu kita 24 jam, mestinya ada waktu untuk menulis, biasanya saya menulis saat malam hari atau sebelum subuh, bisa juga saat siang hari, yang paling penting saat anak-anak tidur. Itu yang bisa saya sarankan untuk ibu rumah tangga yang juga ingin menulis. Kita juga perlu aktivitas "Me Time" dengan menulis. Ketika ada karya yang dihasilkan pasti rasa senangnya juga berlipat. Mungkin itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan buat ibu rumah tangga dengan segala kewajibannya di rumah yang kadang bahkan sering bikin ngelus dada. wkwkwk. Namun, semua kembali kepada masing-masing individu yang bisa menentukan prioritas yang mana. Dan aktivitas "Me Time" apa yang memang menyenangkan buat seorang ibu rumah tangga.  Dan penting juga suami mengetahuI kesukaan istri.
Bukan karena gaya pembacaan saya yang mengagumkan tapi karena dia mencari-cari paragraf mana yang saya baca agar Kik bisa membacakan bahasa inggrisnya

Selain itu, saya dan teman-teman juga diminta membacakan cerita milik masing-masing. Pertanyaannya sebenarnya tidak terlalu susah paling hanya sebatas karya kita saja, tapi kalau tanpa persiapan juga bikin kagok, hehe.

Serunya, setelah sesi ini, ada yang ingin berfoto dan berkenalan dengan saya. Ada juga yang memberi portofolio desain ilustrasi.  Saya juga diperkenalkan oleh Kik kepada penerjemah cerita pendek saya yang bernama Pamela Allen, seorang pensiunan dosen universitas Tazmania, Australia.
Bersama Pamela Allen

Nah, uniknya, saat saya sedang duduk di Green Room, seseorang yang berasal dari singapura mendekati saya dan minta waktu kapan saya bisa diwawancarai. Wah, saya kaget tapi juga senang. Dia perlu waktu untuk membaca karya saya dan meminta wa saya. Saya pun minta hari sabtu siang saja karena lebih lowong. Ia pun menyetujui.

Hal yang bisa saya pelajari dalam sesi ini adalah bahwa isu sosial, permasalahan dalam masyarakat, sekecil apapun bisa menjadi bahan untuk dijadikan cerita pendek. Dan saya masih terus belajar dan terus belajar.

Sesi Hijab Files


Setelah selesai sesi pertama, Kik mendekati saya dan meminta saya untuk mempersiapkan materi untuk sesi selanjutnya. Sebenarnya moderator, Maryam, seorang penulis dari Australia,  sudah mengirimkan email pertanyaan untuk sesi ini. Salah satunya, apa pengaruh hijab dalam proses menulis saya. Saya bingung untuk menjawab, mengingat saya belum pernah menulis cerita yang tokohnya memakai hijab. Meski, dalam cerita anak saya, tokoh ibu ini memakai hijab tapi hanya sebagai setting yang tidak begitu kuat. Sesi ini sebenarnya cukup membuat saya ingin untuk segera menyelesaikan cerita saya yang tokohnya berhijab.
Ternyata, apa yang saya bayangkan terjadi juga. Ketika Maryam bertanya tentang tantangan apa yang saya terima saat menulis tokoh berhijab. Saya jawab tidak ada. Beberapa pertanyaan lain saya juga menjawab tidak. Sesungguhnya memang tulisan saya belum membahas orang berhijab.
Sesi Hijab Files bersama Maryam (kiri), Uzma Jalaluddin (kanan), saya dan Nurillah (paling kanan) 

Untungnya, Uzma Jalaluddin, penulis dari Kanada, membeberkan tantangan dia sebagai penulis muslim dan minoritas di negaranya. Dia cukup sulit mencari memprofilkan dirinya di sana karena dia berhijab. Begitu juga cerita dalam bukunya yang berjudul Ayesha At Last yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang berjudul Ayesha.

Menjawab pertanyaan


Menurut saya, sesi ini cukup sulit apalagi saat audiens,  yang jumlahnya 2 kali lipat dari sesi saya sebelumnya, memberi pertanyaan yang cukup menggebu-gebu yang menurut saya sudah di luar dari konteks sesi.

Contohnya bagaimana pendapat anda saat ada yang pertama berhijab kemudian melepasnya, atau bagaimana pendapat anda tentang perpaduan agama dan budaya, misalnya saat menikah harus memakai konde-konde, dll, bagaimana pendapat anda tentang peraturan di Aceh yang mengharuskan berhijab.

Saya tidak menjawab mengenai ketika seseorang melepas hijab karena si penanya pernah melakukan itu dan dia merasa bebas, tidak ada beban, ketika melepaskannya. Karena menurut saya mereka sudah tahu dalam islam itu berjilbab adalah perintah. Setiap orang yang beragama islam tahu sendiri tidak semua bisa menjalankan perintah yang sudah jelas. Jadi saya tidak menjawab daripada menimbulkan perdebatan.

Saya langsung menjawab bahwa ketika menikah saya memakai baju Jawa dan hijab dan di rias seperti pernikahan jawa, sedangkan prosesi menginjak telur, menyuapi suami, adalah sebuah simbolik yang lebih penting esensinya. Sedangkan peraturan di Aceh saya kemudian bercerita bahwa saya TERPAKSA melepas hijab ketika di Prancis saat mereka meminta pas foto tanpa hijab. Kalau tidak maka saya tidak bisa mengurus kemitraan. Saya pun pergi ke fotobox dan melepas hijab tanpa dilihat orang kemudian memakainya lagi dan memberikan pasfoto tanpa hijab saya kepada petugas imigrasi.

Setelah itu saya bilang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi kalau kamu pergi ke Aceh untuk dinas atau liburan dan harus memakai hijab, ya pakai saja..toh bukan sebuah dosa kan dalam kepercayaan kalian? Sedangkan saya pun terpaksa melakukan hal yang dilarang dalam agama saya yaitu melepas jilbab. Itu pendapat saya yang mungkin masih banyak orang yang belum setuju.

Tambahan : oiya, maksud saya mengemukakan peribahasa tersebut sebenarnya bukan berarti saya jadi buka2an, minum alkohol, dll di negara saya berpijak dulu, Prancis. Selama saya bisa menolak karena tidak sesuai dengan perintah agama saya dan bagi mereka tak masalah, ya tak apa2 kan. Misal saat saya ada Soirée dan rata2 minum alkohol. Mereka tahu saya tidak minum alkohol maka mereka memaklumi dan tidak menawari saya.

Ya kembali ke kalian aja. Karena kalau saya tidak menuruti aturan "foto tanpa alas di kepala", maka keimigrasian saya dicabut dan tidak akan bisa sekolah. Sama kalau kalian ke Aceh dan tidak mengikuti aturan di sana, kalian tidak akan bisa menyelesaikan urusan kalian di sana.

Yang pasti, ada beban baru saat saya selesai mengikuti sesi ini. Masih banyak yang menganggap hijab adalah bentuk ketidakbebasan,  pengekangan, teroris, dan banyak hal image buruk. Dari situ, saya bisa melihat, bahwa penulis muslim cukup memiliki beban yang berat untuk menghasilkan tulisan yang bisa membuka mata tentang pendapat mereka selama ini. Tentunya, pesan-pesan tanpa menggurui. Sebagai penulis muslim harus punya karakter dalam setiap karyanya.

Setelah sesi ini juga, saya didekati oleh orang bule dari Belanda dan meminta foto bersama. Ya allah, saya berasa artis, wkwk. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia meski dia lebih suka berbahasa Inggris. Dan Kik bersedia menerjemahkan nya.

Thanks Kik.
Karena sudah jam 5 sore, saya pun segera pamit pulang dengan motor yang saya sewa dari rental motor yang dekat dengan tempat acara.

Selanjutnya, cerita Hari Ketiga UWRF saya malah Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019, bisa dibaca di sini ya.
Read More
Selasa, 22 Oktober 2019

Tiba juga saya, suami, dan dua anak saya di bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul delapan malam. Setelah mengambil bagasi, kami segera keluar dari pintu kedatangan. Saya sempat khawatir karena biasanya saat di bandara saya harus mengontak orang yang menjemput saya, tapi dalam acara ini, tidak ada kontak dengan penjemput. Saya hanya diberi panduan untuk menemui panitia dengan baju UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) atau seseorang yang berpakaian Bali yang menjemput saya sambil membawa kertas bertuliskan Lita Lestianti.

Saya tidak melihat, justru suami saya melihat dan menunjuk ke arah panitia. Oiya, benar! Ada nama saya TERPAMPANG!  haha. sungguh saya tidak pernah dijemput dengan model seperti artis itu. Perjalanan dari bandara ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam karena waktu itu memang lalu lintas padat sedangkan jalan-jalan di Bali pun kebanyakan tidak lebar.

Saya pun sampai di hotel Yulia Village Inn yang ada di Jalan Monkey Forest. Rupanya, saya sudah kelelahan sampai saya lupa senyum kepada resepsionis. Gara-gara, katanya malam itu saya belum masuk dalam daftar reservasi. OMG! saya sudah kebayang saya akan cari hotel malam-malam yang belum tentu tersedia. Ternyata setelah di cek, petugas hotelnya yang salah memasukkan ke sistem karena waktu pemesanan dari panitia, sistemnya memang sempat eror. Ugh, leganya.

Dijemput panitia UWRF


Setelah mandi, saya pun ingin segera beristirahat di kamar yang nyaman sekali. Sayangnya, anak-anak baru saja terbangun dan mengajak main. Saya mempelajari jadwal acara UWRF.  Entah kenapa saya pun tidak bisa tidur membayangkan acara yang akan saya lalui lima hari selanjutnya. Setelah berhasil membujuk anak untuk tidur, saya pun ikut tidur.


Rabu, 23 Oktober 2019


Patron Brunch

Esoknya, saya pun siap-siap berangkat untuk Patron Brunch sekitar jam 10 pagi. Nah, di sini ada miskom dengan Writer Liaison (WL) saya. Dari awal sebenarnya sudah dibilang ada sesi penjemputan kendaraan pada sesi saya. Nah, beberapa jam sebelum acara saya tidak mendapat informasi via wa atau email, jadi saya kira tidak ada penjemputan. Ketika saya tanya WL, bisa tanya ke sesi transportasi, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut siapa sesi transportasi (begitulah karena saya malu bertanya jadi kelamaan di jalan wkwk). Alhasil, saya, suami dan anak saya berharap pada shuttle bus di Museum Puri Lukisan yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari hotel saya. Begitu sampai museum itu, ternyata shuttle bus gratis untuk acara UWRF baru ada besok tanggal 24 Oktober 2019. wkwk wkwk.  Akhirnya kami memutuskan jalan kaki karena melihat di peta masih 2 kilo lagi. Sedangkan kalau naik taksi harus bayar 80rb. mahal yee padahal deket aja. Dan ternyata jalannya menanjak saudara-saudaraaaa. Beberapa kali kami harus berhenti di jalan. Si kecil kasihan karena kadang digendong, kadang harus jalan sendiri. wkwk.  kebodohan hakiki.



Nah, begitu sampai tempat acara, saya melihat ada briefing untuk para volunteer UWRF. Selanjutnya, anak dan suami saya pun menunggu di Indomaret, saya pun mengikuti Patron Brunch bersama si kecil.

Patron Brunch ini merupakan private event yang mempertemukan emerging writers dengan Indonesia Patron, Julia, dengan Founder event UWRF, Janet Deneefe, sambil menikmati makan siang nasi campur ala Bali.

Dari Patron Brunch ini saya mengenal keempat penulis emerging lainnya, yaitu Nurillah dari Jember, Ilhamdi dari Padang, Chandra dari Jakarta, dan Heru dari Nganjuk. Saya juga mengenal Manajer Program, Pak I Wayan Juniarta (Ijun) yang sudah menyeleksi karya sebanyak sekitar 1500an karya.
Patron Brunch UWRF 2019 (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF)

Kami berbicara banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, latar belakang cerita, dan segala hal. Karena Julia ini dari Australia jadi kebanyakan dia berbicara bahasa Inggris yang kadang kami menimpali dengan bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Syukurlah ada Pak Ijun yang bersedia menerjemahkan.
Ya Allah baru kusadari aku kumus kurus soalnya jarang ngaca wkwk (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF) 

Saya kira hanya orang Eropa saja yang suka memuji. Ternyata orang Australia juga sangat suka sekali memuji. Apapun itu. Mulai dari makanannya, bayi saya yang lucu, cerita kami berempat, dan everything. Namun, memang saat mereka tidak suka, mereka akan bilang terus terang. Saya pernah mengalaminya saat saya berada di negeri antah berantah.

Briefing

Setelah Patron Brunch, saya dan teman-teman lainnya briefing bersama para interpreter. Interpreter saya adalah Kik Hughes, seorang bule Australia yang tinggal di Singapura. Interpreter ini yang akan membantu saya saat saya tidak mengerti bahasa inggris dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dalam bahasa inggris. Maklum emak-emak yang hampir nggak pernah ngomong bahasa inggris. Daripada kagok di depan audiensi mending saya pakai jasa interpreter. Dan ternyata berguna banget!

Bersama Mbak Kik Hughes (Credit: Kik Hughes)


saat briefing kami diberitahu agar saat berbicara itu hanya dua paragraf dulu agar interpreter tidak bingung. Saya pun juga menyadari bahwa tidak hanya kami berlima saja yang grogi, para interpreter yang sudah berpengalaman pun bisa saja nervous. Saya pun akhirnya mengetahui kalau audiensi yang banyak bule itu kebanyakan juga bisa bahasa Indonesia,  itulah mengapa jika interpreter salah menginterpretasi atau ada yang kurang infonya, mereka akan merasa gagal di depan para audiens.

Workshop

Nah, sesi selanjutnya adalah sesi workshop menulis dengan Mirandi Riwoe, seorang penulis dari Australia di sebuah ruangan dengan pemandangan Bukit Campuhan dan sebuah gunung. Anak saya yang kecil pun saya titipkan pada ayahnya dan dibawa ke hotel. Saya pun bisa konsentrasi belajar dan tidak mengganggu peserta lain.

Di workshop ini dia menjelaskan ceritanya tentang crime fiction, bagaimana membuat judul, bagaimana menulis genre yang berbeda, bagaimana mengatasi writers block, dan banyak hal.
Buku yang dia tulis (saya lupa judulnyaa) merupakan hasil dari tugasnya saat kuliah di jurusan Creative Writing di Australia.  Nah, buku yang dia tulis itu harus menjadi rujukan pada disertasinya S3. Dia menulis dari sudut historis tapi yang kejadiannya bisa terjadi masa sekarang seperti Human Trafficking dan Racism.
Mengerjakan tugas menulis 2 paragraf (Credit : Kik Hughes)

Hanya ada dua interpreter di workshop ini yaitu mas Raka dan Kik. Untungnya bahasa inggris masih mudah dimengerti dan kadang saya perlu melatih bahasa inggris saya, kadang saya juga perlu interpreter untuk menjelaskan kembali maksud saya dalam bahasa inggris.

Sesi Tanya Jawab (dokumen pribadi)
Namun, yang saya bisa ambil pelajaran dari workshop dari Mirandi ini adalah bahwa hadapi saja distraksi atau penundaan saat menulis cerita. Karena dari penundaan atau distraksi itu merupakan proses kita untuk berpikir cerita yang kita tulis. Mirandi berpesan, jangan tulis seluruhnya, tapi tinggalkan beberapa untuk besok sehingga ada keinginan untuk terus menulis. namun,  dia juga memberi saran untuk mengatasi writer's block yaitu Keep writing, writing  and writing!
o iyaa, dia juga bilang kalau misal kalah dalam perlombaan maka jangan kecewa karena lomba itu jurinya subjektif. Jadi jangan sampai terpuruk dan tidak menulis karena kecewa kalah lomba. Ah! menohok banget bagi saya nih yang juga sering kalah lomba. haha.

Workshop bersama Mirandi Riwoe


Saya pun balik ke hotel diantar oleh driver UWRF. Setelah bertemu anak dan mandi, saya pun dijemput untuk mengikuti acara Gala Opening di Ubud Palace. Tidak jauh dari hotel saya sih tapi setelah berjalan 3 kilometer saya memilih untuk naik kendaraan saja.

Gala opening

Saya pergi bersama anak saya yang kecil. Saya pun mengisi buku tamu. Beberapa peserta berfoto-foto di depan baliho-baliho ala artis Hollywood. Dua orang perempuan Bali dengan pakaiannya yang khas Bali menyematkan bunga di baju para peserta. Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk, saya pun melewati para peserta yang berdiri dekat pintu masuk. Ramai sekali. Sesak.
Eh, saya bertemu dengan Seno Gumira Ajidarma. Tapi sayang saya malu-malu minta foto bahkan Mengucap hello, hehe.
Saya mencari tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Saya sampai tidak bisa menikmati pertunjukannya karena anak saya yang mulai rewel. Saya pun membeli snack untuk anak saya. Oiya, toko-toko di Bali sudah tidak menggunakan plastik, loh! Keren, ya. Jadi siap-siap bawa tas sendiri untuk menampung makanan-makanan yang kalian beli.



Gala Opening (dokumen pribadi)

Writer's Dinner

Saya pun bertemu teman-teman saya. Jam 7 malam kami menuju Casa Luna, resto ala Bali yang dimiliki oleh Janet Deneefe. Karena ini private event jadi panitia harus mengecek nama yang akan masuk ke resto yang memang sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya.

Sayangnya, mungkin karena saya terlalu capek, jadi saya tidak maksimal. Maksimal dalam artian saya tidak bisa membangun koneksi alias SKSD. Sok kenal sok dekat sok yes lah sama mereka. haha. Setidaknya untuk berkenalan dengan Writer yang sudah terkenal. Saya hanya ingin segera pulang ke hotel. Saya dan dua teman Emerging yang wanita pun pulang ke hotel diantar oleh driver UWRF.

Masih ada hari esok dan saya merasa lelah sekali. Sampai di hotel Yulia Village Inn yang saya review di sini juga, ternyata saya tidak bisa tidur. OH!

Lanjut cerita hari kedua UWRF yang Mendebarkan.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower