Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Menulis blog



Terjerumus dalam Dunia Blog


Sebenarnya tak ada yang menjerumuskan aku ke dalam dunia blog. Aku sudah menulis di blog tahun 2008. Aku lupa nama blog pertamaku apa dulu tapi masih belum domain berbayar alias belakangnya masih blogspot.com. Eh iya, banyak banget yang salah mengira kalau di belakang URL blogspot.com itu depannya pakai www. Misalnya www.namablog.blogspot.com. Padahal kalau pakai www itu artinya sudah domain berbayar atau sudah Top Level Domain (TLD) sedangkan kalau blogspot.com itu artinya blog masih belum TLD.


Dulu, aku berencana mencatat semua pengalamanku dari semester 1 sampai selesai. Sayangnya, itu belum terwujud. Alasannya karena setiap semester terlalu banyak tugas dan jadwal kuliah.


Di awal menulis blog pribadi, hanya ada tiga artikel di tahun 2008 dan tiga artikel di tahun 2009. Semua tulisan tentang materi perkuliahan, satu artikel tentang organisasi dan satu artikel tentang kehidupan perkuliahan. 


Di tahun 2010 mulai meningkat sebanyak sepuluh artikel. Aku mulai mencoba mewujudkan keinginanku untuk menulis pengalaman dari semester satu sampai selesai karena waktu itu aku sudah lulus. Kupikir akan ada banyak waktu untuk menulis blog. Nyatanya, tidak juga. Hahhaa.


Aku berpikir untuk apa aku menulis di blog? Apa sebenarnya tujuanku mengabadikan tulisan di blog kalau cuma isinya tidak ada manfaatnya sama sekali. Aku kemudian berpikir bagaimana blogku setidaknya bermanfat bagi orang yang ingin mendapatkan informasi sesuatu.


Kemudian, aku mulai memanfaatkan blogku dengan memasukkan tugas-tugas kuliah di sana. Dan itu bertahan sampai S2. Terkadang juga menceritakan tentang pengalaman pergi ke suatu tempat atau mengisi weekend di sela-sela kuliah. Dan gimana isinya? Bisa dipastikan isinya sangat sederhana dan tidak seperti sekarang. Dulu, isi blog diceritakan sangat umum sekali. Kurang mendetail. Terasa sekali banyak informasi yang kurang.


Alasan Bertahan di Dunia Blog

Sampai suatu ketika, view blogku setiap artikel mulai bertambah gara-gara setelah tugas selesai aku memasukkan dalam blog. Entah kenapa aku dulu tidak kepikiran plagiarisme ya. Jadi pokoknya tugas artikel itu aku masukkan ke dalam blog.


Hasilnya, view dari cuma 10-an bisa sampai 50-an. Bahkan ada komentar ucapan terima kasih karena telah memublikasikan suatu artikel tentang mata kuliah. Aku merasa menjadi lebih bersemangat. Aku menulis tentang tempat yang aku kunjungi, tentang apa pun yang mungkin orang lain perlu tahu. 


Aku mulai lebih banyak menulis pengalaman aku hidup di luar negeri. Meski tidak begitu banyak tapi alhamdulillah view artikel sudah mencapai ratusan waktu itu.


Sampai suatu ketika, aku menikah dan resign dari pekerjaanku, aku mengikuti lomba blog dari Goodnewsfromindonesia. Tak menyangka, artikelku menjadi dua puluh pemenang lomba blog dan dibukukan dengan judul Inovasi Daerahku. 


Prestasi pertama dalam dunia menulis di blog itulah yang menjadi lecutan untuk terus menulis di blog. Prestasi pertama itulah yang akhirnya aku mengubah nama domainku. Waktu itu, nama domainku adalah litaetlavie.blogspot.com yang tercantum dalam buku Inovasi Daerahku. Setelah itu, prestasi menulis blog alhamdulillah masih lanjut meski tidak banyak. 


Dibalik Nama Domain Lestelita.com

Aku lupa bagaimana ceritanya. Seorang temanku di FLP dan blogger, Mbak Fauziah, mengiming-imingiku untuk mengganti nama blog menjadi TLD. Ibaratnya investasi untuk blog. Mbak Fauziah bilang menulis blog bisa dibayar karena akan ada banyak sekali tawaran job kalau blognya sudah TLD. 


Awalnya aku tidak percaya. Apakah benar menulis blog bisa mendapatkan uang? Mengingat investasi blog itu lumayan juga. Untuk beli domain saja sekitar 150.000 rupiah selama satu tahun tergantung pakai hosting yang mana. Beliau malah cerita, harga segitu sudah murah sekali apalagi kalau dapat job di total bisa berkali-kali lipat.


Memang sih selama ini aku lebih sering menulis artikel blog tapi belum pernah kepikiran untuk mengganti menjadi TLD. Apalagi memperoleh pendapatan dari blog. Rasanya itu jauh dari bayangan. 


Nama blogku sebelum TLD adalah litaetlavie.blogspot.com. Kalau dalam bahasa Prancis, Lita et La vie itu artinya Lita dan kehidupannya. Tapi kemudian aku mengubah nama itu menjadi nama lain yang lebih mudah dibaca yaitu Lestelita. 


Kenapa Lestelita?

Kalau temanku SMA pasti sudah tahu alasannya karena Leste itu nama panggilanku waktu SMA. Gara-gara aku memberi nama gelasku itu Lesteea dari nama belakang Lestianti. Eh, diplesetin sama temanku itu Leste. Timor Leste!


Oh! Setelah itulah nama panggilanku Lita menjadi Leste. Haha. Dan atas kisah masa lalu itulah, aku memberi nama blogku Leste ditambah nama asliku Lita. Jadilah nama domain blogku Lestelita. Dan itu berubah sekitar tahun 2015. Tapi untuk headernya blog aku kasih nama Lestiaa's.


Masyallah, tidak menyangka aku sudah bertahan lima tahun!


Keputusan Membeli Top Level Domain (TLD)

Kembali lagi ketika aku akhirnya memutuskan membeli domain. Alasannya, aku mau mencoba membuktikan. Haha. Jika ternyata satu tahun berjalan aku tidak dapat pemasukan dari blogku, ya lebih baik kembali ke blogspotcom saja.


Aku pun mencari-cari provider yang menyediakan domain dengan harga yang cukup murah tapi kualitas lumayan. Akhirnya aku memilih salah satu agen hosting yang lumayan murah dan profesional setelah cari di internet berjam-jam.


Eh, setelah aku beli domain dan nama blogku berubah menjadi lestelita.com seperti yang teman-teman lihat sekarang. Alhamdulillah benar saja. Aku mendapat beberapa tawaran job, mulai dari sponsored post maupun content placement.


Tapi yang harus diingat semua juga tidak ujug-ujug begitu ya. Kita harus konsisten menulis untuk mendapatkan view. Dan dari keputusan membeli domain TLD itu aku mulai mengenal edit html, edit template, desain logo blog, dan lain sebagainya. Paling tersulit adalah aku belajar SEO dasar, misalnya menulis keyword yang biasa dicari orang, biar bisa page one meski aku tidak pernah berhasil, haha. Bahkan akhirnya aku memasang Google Analytic dan Google Search Console demi melihat perkembangan blogku dan.. untuk job. Haha.


Tentang Blog Lestiaa's

Dulunya dari view cuma hitungan jari, sekarang hitungan jari kali seribu per bulan. Alhamdulillah sekarang viewku setiap bulan masih sekitar 7.800 pageview.

Memangnya di blog membahas apaan? Blogku memang awal-awal banyak menjelaskan tentang materi kuliah. Kalau aku lihat sekarang, viewnya memang lumayan. Apakah karena sudah lama? Atau memang pencarian materi kuliah tertentu selalu banyak? Kalau begitu sepertinya aku akan menulis materi kuliah yang lain. wkwkwk.

Karena sekarang aku tidak bekerja, jadi aku menceritakan pengalamanku sebagai seorang ibu, baik saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak yang sakit, ataupun segala hal tentang kehidupan seorang ibu dengan anaknya. Tak cuma itu, aku juga menceritakan segala hal tentang tempat yang aku kunjungi, literasi, review produk kecantikan dan perawatan kecantikan, bahkan lomba blog yang aku ikutin juga aku tulis di blog.


Sepertinya tulisan yang sampai sekarang selalu bermunculan komentarnya adalah tentang penipuan online. Banyak sekali yang bertanya tentang kasus mereka apakah uang bisa kembali.


Rata-rata sih aku menulis dengan gaya storytelling yang katanya lebih memikat klien. Namun, rupanya aku masih kurang kuat gaya storytelling dalam blog. Aku harus lebih banyak belajar menulis blog dengan gaya storytelling setelah mengikuti materi Storytelling dari Bambang Irwanto di kelas Growthing Blogger Batch 2.


Menurut beliau, menulis dengan gaya storytelling memiliki keuntungan. Pertama, personal branding akan terbentuk lewat tulisan karena orang akan mengenal diri kita dengan gaya menulis kita. Kedua, dengan menulis artikel bergaya story telling, maka tulisan akan lebih natural. Ketiga, dengan menulis bergaya storytelling, maka dijamin kemampuan menulis akan semakin berkembang. Tidak akan plagiat. 



Keinginan dari Blog Lestiaa's

Sampai saat ini, aku berharap bisa terus mengembangkan blogku, menjadikan blogku jadi lebih sehat. Karena ketika aku ikutan Kelas Growthing Blogger dan menilai blogku pakai SEO Tools, ternyata blogku kurang sehat. Haha. 


Skor website-ku cuma 64 dari 100, performa blogku di rentang moderate. Alias aku harus berhati-hati karena berada tidak jauh di atas batas performa rendah. Tak cuma itu, aku mau meningkatkan view blogku, menulis blog yang baik dan benar dan bisa dapat uang dari blog. Eh, monetisasi sebenarnya tidak melulu soal uang ya. Karena monetisasi bisa juga berupa produk. 


Namun, keinginanku yang paling utama adalah blog Lestiaa's ini bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan suatu informasi sesuai dengan slogan blogku. The more we share, the more useful we are to others. Tapi kalau ada yang ingin menjadikan blog yang berubah domain menjadi sumber penghidupan, maka perlu strategi lain, termasuk belajar SEO. Nah, kalau aku sih, selama ini memang buat senang-senang dan berbagi informasi saja, syukur-syukur kalau dapat sponsored post atau content placement dari luar. 


Jadi kebayang kan 12 tahun ini blog untuk apa aja. Dan gimana perkembangannya yang sangat lamban jika dibandingkan blogger-blogger lainnya.


Nah, teman-teman yang sudah punya blog tapi belum diurus sama sekali, apa tidak tertarik merawat blognya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain? 






Read More

Pada bulan Desember 2019, virus corona atau coronavirus deasease (Covid-19) muncul pertama kali di Wuhan, Cina Pemberitaan itu emmbuat heboh seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus itu menyebar begitu cepat dan membuat banyak orang mati karenanya. Yang paling membuat bergidik, saat penayangan video beberapa orang di Wuhan yang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh dan meninggal. Dan itu terjadi pada banyak orang di Wuhan. 

Berita selanjutnya dari Italia, dimana banyak orang yang meninggal karena virus corona. Maklum di Italia banysk sekali penduduk berusia senja yang rentan dengan virus itu. Negara Italia di lockdown. Nggak ada yang bisa masuk dan keluar dari negara itu. Juga Taiwan, Singapura, dan negara lain.

Apa yang terjadi setelah itu?

1. Pemberitaan tak pernah berhenti

Setelah itu, pemberitaan tentang corona tak pernah berhenti. Informasi tentang jumlah kematian orang yang terkena corona terus meningkat. Semua jadi waspada, mungkin lebih tepatnya takut. Semua tahu ciri-ciri terkena corona adalah demam 38°C, batuk, sesak nafas, namun ternyata gejalanya tidak hanya itu saja. Diare, infeksi pencernaan juga katanyaa bisa disebabkan oelh corona. Huft.

2. Status pengidap corona

Kukira pengidap corona hanya satu disebut pengidap corona saja. Nyatanya tidak. Ada banyak status seperti PDP, ODP, dan OTG. Dan yang menyusahkan adalah pengidap OTG yang dinyatakan positif setekah ikut tes tapi dia tidak merasakan gejala apapun. 

3. Lockdown, WFH, WFO, SFH.

Aktifitas negara lumpuh. Bandara, pelabuhan, akses keluar negeri dan masuk ditutup. Semua disarankan stay at home saja sampai-sampai hashtag itu menjadi trending di media sosial. Kita tidak boleh keluar rumah, bekerja dan sekolah di rumah. Lingkungan rumah di lockdown, alias tidak ada yang boleh keluar rumah selama 40 hari. Yang terpaksa bekerja di luar rumah harus punya keterangan surat dari tempat bekerja dan surat domisili. Karena ketika di lockdown, lingkungan hanya dibuka satu pintu itupun jam 9 malam sampai jam 4 pagi ditutup. 

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Meskipun tetap saja masih ada orang yang berkeliaran di jalan. Di Sidoarjo, di dekat rumahku, jalanan cukup sepi dari aktivitas orang.

Sampai bulan September 2020, sekolah-sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pembelajaran dilakukan secara daring. Beberapa perkantoran sempat dilakukan Work From Home (WFH) meski pada akhirnya pekerjaan tetap dilakukan di kantor (WFO).

4. Cafe, Mall, ditutup

Pemerintah mengeluarkan edaran agar aktifitas bukan primer ditutup, seperti Mall dan Cafe. Kebayang berapa kerugian yang didapat oleh owner dan vendor. Tidak ada lagi orang yang 

5. Banyak orang kehilangan pekerjaan

Akibat aktivitas di luar rumah berkurang, banyak pengusaha mengalami kerugian. Dan pastinya banyak karyawan yang akhirnya kehilangan pekerjaan.

6. Kewajiban Memakai Masker dan Cuci Tangan

Pada akhirnya, masker menjadi barang yang dicari-cari karena himbauan pemerintah untuk memakai masker saat keluar rumah. Karena virus corona akan cepat berpindah melalui kontak secara langsung.

Begitu juga dengan hand sanitizer yang sempat langka karena banyak orang yang memborongnya karena dianggap Corona akan mati jika terkena alkohol yang ada di dalam kandungan hand sanitizer. Sebagai gantinya, sabun menjadi alternatif bila tidak memiliki hand sanitizer. 

Jadi penggunaan masker dan cuci tangan saat sampai rumah seperti menjadi gaya hidup saat ini. Alias menjadi kebiasaan. Bahkan orang yang baru sampai di rumah setelah melakukan keperluan di luar rumah disarankan untuk cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian.



Bayangkan,  bagaimana omset usaha masker, sabun dan hand sanitizer di masa pandemi? seolah berkah, pendapatan mereka menjadi meningkat. 

7. Sering di rumah, suntuk melanda

Kupikir akan banyak orang stres selama pandemi ini. Aku membayangkan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tapi harus tetap menghidupi keluarganya, apalagi sekolah daring yang membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Aku saja yang memang selalu di rumah, di masa pandemi ini, aku tidak kemana-mana. Sampai akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan New Normal, aku masih merasa tidak bisa dengan leluasa pergi kemana-mana. Meskipun aku tetap berkunjung ke rumah eyangnya anak-anak sebelum itu dan pergi ke pantai satu kali. Itu juga tiap ngelihat orang bawaannya serem aja.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama masa pandemi ini. 


Read More

Mengurus BPJS memang nggak susah tapi kadang ribet. Kupikir dengan diluncurkan mpbile JKN segalanya hanya perlu klik-klik semua beres. Nyatanya tidak semua urusan bisa dilakukan di aplikasi itu.

Contohnya untuk menambah anggota tidak bisa dilakukan di aplikasi tersebut. Ceritanya, setelah lahir anak kedua, sekitar dua tahun kemudian saya baru mau mengurus BPJS. Saya lebih sering di Sidoarjo daripada di Malang. Dan untuk mengurus BPJS di Sidoarjo jaraknya cukup jauh dari rumah belum lagi saya harus bawa dua anak saya karena tidak mungkin ditinggal di rumah dalam jangka waktu lama.

Jadi saya memilih mengurus di Malang, selain jaraknya yang dekat dengan rumah mbahnya, saya bisa titipkan anak saya.

Akhirnya sebelum corona datang, saya sempatin datang ke kantor BPJS. Oiya, status anak saya ini sudah dilaporkan di kantor suami. Jadi selain dapat tunjangan anak, gaji suami sudah pemotongan biaya BPJS semua anggota. Jadi saya rugi kalau tidak mengurus kartu. Benar kan begitu?

Saya kira kalau cuma nambah anggota, saya hanya bawa akte lahir anak dan KK. Ternyata saya harus bawa slip gaji suami lagi padahal saya tidak bawa. Akhirnya saya pulang ke rumah, dan besok-besoknya saat suami ke kantor, suami minta slip gaji ke kantor.

Eh, setiap ke Malang cuma weekend jadi nggak bisa ke kantor BPJS. Sampai beberapa bulan setelah Corona datang, sekitar bulan April, saya dapat kiriman surat dari kantor BPJS. Isinya adalah kartu BPJS anak kedua saya yang belum saya daftarin waktu itu.

Kaget. Saya sendiri datang kesana ditolak karena berkas nggak lengkap. Sekarang kartunya malah sudah jadi.

Akhirnya saya coba cek di mobile JKN. Setelah masukkan data, saya pun login.

Wow. Tambah kaget lah saya karena ternyata faskesnya tingkat 3 bukan tingkat 1 seperti punya saya, suami dan anak pertama saya. Itu pun datanya tidak bisa gabung jadi satu dengan punya kami bertiga. Jadi anak saya yang kedua terpisah dari tiga anggota lainnya. Fyi, untuk pengabdi negara dari kementerian memang dapatnya faskes 1.



Nah, kebetulan saya ke Malang pas jam kerja. Di masa pandemi begini memang agak khawatir kalau mau ke sana kemari. Di kantor BPJS sendiri sudah menerapkan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan di depan kantor, cek suhu tubuh, dan tempat duduk yang berjarak. Selain itu, kantor BPJS juga tidak seramai biasanya. Jadi tidak begitu khawatir aih meski ada rasa deg-degan.



Setelah saya bertanya dengan petugas yang ada di depan, saya pun baru tahu alasan anak saya dapat kartu BPJS meski belum daftar.

Saya semakin kaget.

Ternyata, pemerintah kota Malang baru memiliki kebijakan bahwa semua NIK kota Malang yang belum terdaftar BPJS memperoleh bantuan biaya premi BPJS setiap bulan.

Karena anak saya sudah terdaftar dari kantor suami dan kemungkinan juga sudah dipotong untuk biaya BPJS maka saya minta diubah saja datanya. Petugas menyuruh saya mengambil nomor antrian setelah memberi blanko.

Eh, dasar sayanya sih nggak baca detail. Jadi saya langsung ambil nomor antrian dan menunggu.

Ketika dipanggil, ternyata blangko yang dikasih tadi harus dilengkapi dan diberi materai 6.000. Waduh, dimana beli materai? Biasanya saya selalu sedia materai di dompet. Tapi waktu itu habis karena sudah dipakai. Alhasil saya beli di toko sebelah kantor BPJS.

Setelah itu saya antri lagi. Untung saja tidak ramai. Begitu dipanggil, saya langsung maju dan memberi semua persyaratan yang diminta.



Setelah semua berkas lengkap, petugas pun mengisi data di komputer. Dalam waktu kurang dari lima menit semua data sudah dimasukkan. Dan karena bulan Juli sudah mau habis, jadi BPJS anak kedua saya baru dimulai bulan Agustus 2020.

Kenapa kok saya tetap mengubah data faskes anak saya? Padahal kan enak dapat bantuan dari pemerintah kota. Pertama, saya tidak mau ambil resiko karena kebijakan pemerintah daerah itu bisa saja berubah lebih cepat. Dan berdampak pada keharusan saya membayar premi meski didiskon.

Kedua, karena memang gaji suami saya juga sudah dipotong untuk BPJS anak saya.

Ketiga, karena bantuan dari pemerintah kota Malang, jadi saya tidak bisa pindah faskes di kota lain meski sama-sama faskes 3. Dan ini tidak mungkin saya harus berobat ke Malang saat anak saya butuh pertolongan medis di Sidoarjo. 2 jam perjalanan lumayan juga.
Setelah petugas menginput data, saya pun memperoleh kartu BPJS anak kedua saya dengan data yang sudah diubah. Anak saya pun bukan lagi menjadi penerima bantuan dari pemerintah kota Malang.

Salam sehat.


Read More
Di usia balita, bermain sepeda dapat melatih kognitif dan motorik anak. Biasanya sebelum berlatih keseimbangan, anak akan menggunakan sepeda roda tiga untuk belajar mengayuh. Sejak usianya 2 tahun, anak saya sudah naik sepeda roda tiga meski belum bisa mengayuh karena kakinya belum sampai. Namun, lama-lama, dia bisa mengayuh karena kakinya sudah sampai.
Jenis sepeda roda tiga ini juga memiliki bermacam-macam fitur ya. Ada yang pakai dorongan, ada yang pijakan kaki di belakang (sepeda shincan), penutup kepala, keranjang, lagu dan mainan, sandaran.

Pilih Yang Mana?

Semua tergantung kebutuhan ya. Kalau anak masih usia dua tahun kurang dan kaki belum sampai, memang sepeda roda tiga dengan fitur yang mainan sangat menyenangkan anak-anak. Kalau misal, mau ajak anak-anak jalan dengan sepeda roda tiga, memang enaknya jika ada keranjang atau tempat menaruh barang dan yang ada pegangan dorong untuk orang tua. Biasahya anak diajak jalan di sekitar rumah agar mau makan atau sekedar cari udara segar. Jadi orang tua tidak perlu membungkuk untuk mendorong. Namun, anak jadi terus merasa tergantung dengan orang tua meski usianya sudah tiga tahun.

Jika usia anak sudah di atas dua tahun dan ingin belajar mengayuh, maka cukup membeli sepeda roda tiga tanpa fitur pegangan dorong. Ini lebih memudahkan anak untuk mengayuh karena lebih ringan dibanding sepeda dengan fitur bermacam-macam. Dan anak dituntut berusaha sendiri mengayuh sepeda tanpa perlu bantuan orang tua.

Semua tergantung kebutuhan ya. Anak saya juga memiliki sepeda roda tiga tanpa pegangan dorong dan keranjang. Jadi saya harus menunggu usianya di atas 2 tahun agar kakinya sampai. Setelah tiga tahun, dia bisa naik sendiri dan mengayuh sendiri.

Kelebihan dan kekurangan sepeda roda tiga

Kelebihan dan kekurangan menggunakan sepeda roda tiga secara umum berdasarkan pengalaman anak saya adalah :

Kelebihan sepeda roda tiga

1. Berlatih otot kaki untuk belajar mengayuh. Awalnya tidak mudah untuk belajar mengayuh sepeda karena ada yang berat dan ada yang ringan. Hanya saja, anak-anak akan terbiasa mengayuh sepeda saat kakinya sudah sampai.

2. Berlatih mengarahkan. Setelah berlatih mengayuh sepeda, anak juga akan membiasakan diri berlatih mengarahkan ke kanan, ke kiri atau putar arah di jalan sempit.

3. Tanpa pompa ban. Enaknya, sepeda roda tiga ini bukan ban yang dipompa. Jadi nggak perlu khawatir meletus atau kempes.

4. Memudahkan orang tua, khusus sepeda yang memiliki pegangan dorong. Anak-anak yang masih usia 1-2 tahun memang belum bisa mengayuh sendiri maka sepeda yang memiliki pegangan akan memudahkan orang tua mengajak jalan tanpa harus membungkuk untuk mendorong.

5. Menyenangkan dan bisa belajar dari lagu, khusus sepeda yang memiliki fitur musik dan mainan. Anak-anak suka sekali dengan sepeda yang banyak hiasannya, warna terang, fitur mainan dan musik.

6. Terlindung dari panas matahari dan rintik hujan, khusus yang memiliki penutup kepala. Nggak perlu takut kepanasan atau kena rintikan hujan. Asalkan bukan hujan deras ya, Mom. hehe.

7. Aman karena memiliki sandaran, khusus yang memiliki sandaran. Sepeda roda tiga juga ada yang memiliki sandaran dan ada yang nggak memiliki sandaran. Jika anak sudah bisa paham, maka Mom nggak perlu khawatir beli sepeda roda tiga tanpa sandaran tempat duduk.

Kekurangan sepeda roda tiga

1. Terkadang anak merasa malas untuk mengayuh jika terbiasa didorong terus (khusus sepeda roda tiga dengan pegangan dorong). Menurut pengalaman saya, anak yang sudah terbiasa didorong, maka anak cenderung akan merasa malas untuk mengayuh. Mungkin beberapa fitur bisa dicopot sehingga anak bisa belajar mengayuh sepeda sendiri.

2. Rawan jatuh ke belakang, khusus sepeda tanpa sandaran badan. Hati-hati membeli sepeda roda tiga tanpa sandaran badan karena anak akan rawan jatuh apalagi jika digunakan untuk usia 1-2 tahun.

3. Terlalu berat untuk mengayuh, khusus sepeda yang memiliki fitur banyak seperti lagu, mainan, penutup kepala, keranjang, dan lain-lain. Bisa saja fiturnya dilepas agar memudahkan anak belajar mengayuh.

4. Rawan jatuh saat berbelok. Menurut pengalaman, anak saya yang empat tahun pakai sepeda roda tiga dengan fitur sederhana alias nggak ada keranjang, penutup kepala, mainan, dll, saat ngebut dan langsung berbelok dia nyaris terjatuh untung saja dia sangga kakinya. Bahayanya saat adiknya berdiri di belakang dia ikut terjatuh.

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 1-2 tahun

Ada beberapa jenis sepeda tiga roda yang cocok untuk usia anak 1-2 tahun. Mengingat usia tersebut anak-anak masih belum bisa mengayuh dan perlu bantuan orang dewasa.

1.Family 993 DT Musik Lebah Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga yang ada musik ini pasti disukai anak-anak usia 1-2 tahun. Belum lagi desainnya yang lucu dan berwarna cerah yang biasa disukai anak-anak.


Harga 500.000


2. PMB T05 Musik Scoopy Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga model scoopy ini juga bisa jadi pilihan Mom. Musik lagu yang ada di sepeda membuat anak suka. Model dan warnanya pasti disukai anak-anak. Model ini juga ada penutup kepala, pendorong, dan pengaman agar anak tidak jatuh.



Harga 412.500


3. PMB 921 BMX Stick Bell Sandaran Tricycle Sepeda Roda Tiga Anak

Model ini lebih sederhana untuk anak usia 1-2 tahun. Kelebihannya ada pengamannya sehingga anak tidak mudah jatuh. Hanya saja perlu diperhatikan apakah anak suka ada pengaman atau tidak.


Harga 315.000

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 2-4 tahun 

Untuk usia di atas dua tahun, Mom bisa beli yang tidak banyak fiturnya, jadi anak bisa belajar mengayuh dan menyetir sendiri.

1. WIMCYCLE Hotwheels Sepeda Anak [Roda 3]

Untuk usia 2-4 tahun, jenis sepeda ini cukup cocok untuk belajar mengayuh dan mengarahkan. Tidak ada sandarannya. Jadi anak perlu hati-hati.

Harga 425.000

2. Tricycle PMB Roda Tiga Sandaran Sepeda Anak - Biru

Desain yang unik dan warna yang cerah membuat anak suka memiliki sepeda roda tiga ini. Kelebihannya adalah ada keranjang dan sandaran kursinya.Di bagian belakang bisa juga digunakan untuk berdiri jika ada temannya. Tapi ini perlu pengawasan ya.


Harga 345.000

3. Alfrex Tricycle Sepeda Anak Roda Tiga - Biru

Warnanya cerah untuk anak-anak pasti suka. Sepeda ini cukup sederhana dan mungkin anak akan merasa nyaman untuk mengayuh dengan model seperti ini.


Harga 325.000

Tapi itu semua tergantung pilihan Mom, ya. Mau pilih fitur lengkap, sampai yang sederhana. Pastikan lagi Mom memilih model sepeda tiga roda  sesuai kebutuhan Mom.

Mom bisa beli sepeda tiga roda tersebut di website blibli.com. Banyak sekali model pilihan sepeda tiga roda  yang sesuai dengan kebutuhan Mom.

Nah, itulah rekomendasi sepeda roda tiga dari usia 1-4 tahun. sedangkan di atas empat tahun, saya sarankan untuk membeli sepeda roda dua dengan dua tambahan bantuan roda kecil di samping ban belakang. Sekalian belajar keseimbangan.

Read More
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud.

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More
Tak terasaa akhirnya sudah hampir di ujung acara UWRF yaitu di Hari Keempat UWRF. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari festival ini.


Sabtu, 27 Oktober 2019

Begitu lega saya setelah mengisi workshop kemaren, saya jadi lebih santai. Hari ini ada banyak sesi menarik untuk diikuti. Saya sudah menjadwalkan akan mengikuti lima sesi Main Program tapi kenyataannya saya hanya bisa satu sesi saja karena saya harus ikut private roundtable jam 2 siang padahal di jam-jam itu, sesi nya banyak yang menarik.

Main program : Precious Peatlands

Saya sempat mengikuti sesi ini meski sedikit terlambat. Sesi ini berbicara tentang konservasi hutan diisi oleh Nirarta Samadhi, Butet Manurung, I Wayan Juniarta, Saras Dewi,  dan Nirwan Dewanto. Saya benar-benar tidak pernah terpikir untuk menulis tentang konservasi hutan dimana materi itu sebenarnya tidak jauh dari materi kuliah saya. Kalau mengingat kembali materi kuliah saya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dijadikan bahan cerita. Hanya saja memang butuh diolah sehingga tidak kaku.
Saya memang sudah mengetahui tulisan-tulisan yang berbau lingkungan atau disebut dengan Sastra Hijau tapi memang saya belum mencoba menuliskannya. Padahal tema-tema lingkungan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.

Wawancara dengan Literary Podcasts Malaysia


Oiya, saya lupa di hari ini, saya janji dengan Honey ahmad, seorang warga Malaysia yang memiliki toko buku dan juga Literary podcasts di sana. Janji itu adalah sebuah wawancara untuk podcast nya. Ia pun mengeluarkan peralatan untuk merekam. Pertanyaannya juga sederhana seperti latar belakang pendidikan, kapan mulai menulis, buku yang sudah diterbitkan, dan pesan-pesan bagi yang siapapun terutama ibu rumah tangga untuk tetap bisa menulis. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya jadi banyak mengenal orang. Wawancara pun selesai dalam waktu 18 menit meski sempat tersendat karena anak saya menangis. hehe.
Bersama Honey Achmad dan Nurillah

Main Program : Reza Aslan: God, A Human History

Reza Aslan ini adalah penulis yang hidup pada keluarga syiah, dan dia migrasi ke US saat revolusi Iran terjadi. Kemudian dia convert ke kristen dan pindah lagi ke islam. Dia menceritakan pengalaman kehidupan dia yang berpengaruh dalam proses menulisnya. Dan sesi yang dilaksanakan di Restaurant Industri ini sangat penuuh sekali padahal biasanya pasti ada kursi kosong. Saya juga nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan karena begitu penuh dan soundsystem kurang jelas terdengar bagi saya yang bahasa inggrisnya terbatas jadi saya memilih untuk pulang ke hotel.

Private Roundtable

Setelah mengantarkan anak ke hotel untuk dititipkan ke suami, saya pun pergi ke Blockchain zoo, lokasinya bersebelahan dengan tempat acara. Setelah sudah mencentang nama saya yang ada di daftar peserta, saya dan teman-teman emerging lainnya naik ke ruangan atas. Di dalamnya sudah ada beberapa penulis dari USA dan Australia.

Moderator Inno (kiri) dan Jim Coney (kanan)





Jadi sesi ini memang dihadiri khusus penulis dan mendiskusikan beberapa kondisi dunia kepedulian dari negara yang berbeda. Topik yang dibahas pun juga sesuai permintaan audiensi.  Jim Coney, lulusan RMIT University ini bekerja di penerbitan di Australia. Dia menjadi moderator pada sesi ini bersama dengan Innogato, penulis USA yang masa kecilnya tinggal di Indonesia.
Setelah mengadakan voting pada topik yang dibahas maka didapatlah empat topik utama yang menjadi bahasan tiap kelompok. Saya tertarik dengan audiobook jadilah saya ikut kelompok audiobooks. Cerita tentang audio books akan saya tulis secara khusus nanti ya.

Kik benar-benar membantu saya dalam menginterpretasi pembicaraan para speaker. Mereka berbicara sangat cepat sekali dan banyak istilah atau idiom yang tidak begitu saya pahami.
Setelah sesi itu, saya pun pergi ke rental motor untuk memperpanjang penyewaan sampai minggu malam. Saya harus menambah 30 ribu karena menambah 6 jam lagi.

Oya, sebenarnya setiap malam, UWRF mengadakan acara Live music and art, jadi isinya membaca puisi, pertunjukan musik, menonton film, menari tradisional, dan lain-lain. Sayangnya, saya sudah terlalu lelah jadi saya memilih beristirahat di hotel.

Di Hari Kelima UWRF, saya sempatkan jalan-jalan keliling Ubud dengan sewaan sepeda motor seperti yang saya ceritakan di blog saya yang berjudul Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai).

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower