Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Dari Sebuah Buku

Baru saja kita kehilangan seorang cendikiawan muslim Indonesia yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia yang ketiga. Seorang pahlawan intelektual yang pernah sukses dengan kecerdasannya dalam membuat pesawat juga dijuluki Mr. Crack karena menemukan rumus yang kemudian dipakai dalam dunia penerbangan.

Pesan Pak Habibie (makassar.tribunnews.com)

Saya pun membayangkan bagaimana orang tua beliau mendidik menjadi orang yang sukses sekarang. Ternyata salah satu kunci utamanya adalah hobi Pak Habibie yang suka membaca. Habibie yang memiliki pemikiran kritis sejak kecil juga suka mencari jawaban atas pemikirannya melalui buku-buku. Sampai beliau membaca buku Jules Verne yang berbahasa Belanda dan berjudul "Lima Minggu di Balon Udara" jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dari buku itu beliau terinspirasi untuk bisa membuat pesawat.

Ternyata buku membawa pengaruh yang besar bagi diri Pak Habibie. Beliau memiliki etos kerja, semangat, integritas tinggi, dan nasionalis. Tak hanya Habibie, tokoh Indonesia lain yang sangat suka membaca dan membawa pengaruh positif terhadap kemajuan bangsa Indonesia adalah Soekarno, Moh. Hatta, dan Kartini.

Seperti yang terjadi pada soekarno, berawal dari hobi ayahnya yang suka membaca, Soekarno pun suka membaca buku-buku ayahnya, perpustakaan di sekolah, juga membaca buku di rumah Tjokroaminoto.

Dari sinilah awal rasa nasionalisme Soekarno mulai tumbuh subur karena bacaan-bacaan yang beliau baca.

Moh. Hatta juga menjadi suka baca buku ketika pamannya mengajaknya ke toko buku dan membelikannya beberapa buku. Setelah itu, ia pun jadi rajin membeli buku.

Bacaan-bacaan ekonomi-lah yang mempengaruhi pemikiran beliau dalam menggagas pemikiran tentang ekonomi kerakyatan, hingga dijuluki bapak koperasi Indonesia.

Kartini pun gemar membaca buku ketika kakaknya memberinya buku. Ia juga suka membaca buku koran dan majalah milik ayahnya. Hal itu membuat wawasannya menjadi luas. Dengan membaca pula, ia menjadi jago menulis hingga akhirnya pemikiran-pemikirannya mempengaruhi para wanita Indonesia untuk menjadi lebih baik. Kartini menjadi sosok mandiri, nasionalis dan peduli sosial karena banyaknya buku yang beliau baca.

Jika kembali ke zaman keemasan Islam, dimana banyak cendikiawan muslim yang berhasil membuat kitab yang menjadi rujukan seluruh dunia, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Umar Khayyam, dan lain-lain. Semua berasal dari kegemaran akan membaca buku. Jelas, pengaruh buku sangat besar sekali terhadap kemajuan suatu bangsa seperti tokoh-tokoh yang telah saya sebutkan. Begitu pun negara-negara besar dunia juga memiliki tokoh yang sangat gemar membaca, seperti Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Ma, dan lainnya.

Besarnya pengaruh buku-buku berkualitas terhadap pemikiran seseorang bahkan bisa memajukan suatu bangsa harusnya menjadi perhatian bagi kita semua. 

Namun, sayang di negara kita, masih banyak orang yang kurang begitu berminat untuk membaca buku meski sudah dibangun perpustakaan daerah, perpustakaan digital, Taman Bacaan Masyarakat. Lebih banyak mereka habiskan waktunya untuk menonton televisi atau pun melihat video melalui telepon seluler. Meski sekarang sudah banyak ebook yang dijual, platform membaca cerita, maupun aplikasi membaca, tetap saja belum bisa menarik "yang jarang membaca" ini untuk membaca.

Melihat para tokoh besar Indonesia, untuk menjadi seseorang yang gemar membaca buku memang tidak bisa dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Semua harus ada yang mengawali. Harus ada yang ditiru. Harus ada yang "menarik" mereka masuk ke dalam dunia buku.

Pak Soekarno meniru ayahnya yang suka membaca buku dan memiliki banyak koleksi buku. Kartini menjadi suka membaca karena kakaknya dan ayahnya menariknya masuk ke dalam dunia buku. Berkat pamannya, Mak Etek Ayub, Moh. Hatta pun jadi gemar membaca dan mengoleksi buku. Pak Habibie pun suka membaca sejak kecil karena memang disuruh ayahnya membaca buku untuk menjawab pertanyaannya tentang sesuatu.

Manfaat Membaca Buku

Dari para tokoh-tokoh Indonesia yang sudah disebutkan di atas, kita bisa menyimpulkan manfaat-manfaat jika seseorang gemar membaca buku, yaitu :
- Memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan.
- Berpikiran terbuka.
- Memunculkan jiwa nasionalis karena pengaruh dari jenis buku yang dibaca.
- Memajukan bangsa atas pengetahuan yang dimiliki.
- Menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap cerita yang ada dalam buku.
- Menumbuhkan cita-cita dalam diri.
- Memunculkan sifat kritis dalam diri anak.
- dlsb.

Peran keluarga dalam membudayakan literasi

Ada banyak anak Indonesia, bahkan di kalangan orang dewasa sendiri, tidak suka baca buku. Mereka menganggap tulisan yang banyak di buku itu membuat sakit kepala. Cerita kurang menarik. Memang untuk membuat seseorang menyukai buku itu harus dilatih sejak kecil. Jika anak sudah suka dengan buku sejak kecil, insyaallah saat dewasa pun terus mengikuti. Namun, jika setelah dewasa sudah kurang berminat dengan buku, maka akan sangat sulit sekali mengajaknya untuk gemar membaca buku.
Oleh karena itu, selagi anak masih kecil, masih dalam usia emas (0-5 tahun), maka sebaiknya sebuah keluarga sudah mengenalkan buku sejak kecil. Tentu, buku-buku yang menarik untuk anak.

Bagaimana dengan keluarga kita sekarang? Apakah sudah menarik anak-anak kita masuk ke dalam dunia buku? apakah kita sudah memancing anak-anak kita untuk suka membaca buku? Apakah kita sendiri sudah memberi contoh untuk gemar membaca buku? Bagaimana anak kita gemar membaca buku jika kita sendiri tidak menyediakan buku yang menarik untuk anak. Jika kita sendiri tidak memberi contoh untuk membaca buku.

Peran keluarga dalam membudayakan literasi sangat penting sekali karena anak memulai menyukai sesuatu bisa berawal dari keluarga. Jika keluarga tidak membiasakan membaca buku maka anak pun tidak terbiasa membaca padahal banyak manfaat yang diperoleh ketika anak suka membaca.

Sebenarnya Kemdikbud sudah mengeluarkan indikator untuk mengukur pencapaian literasi baca-tulis dalam keluarga, yaitu :

1. Jumlah dan variasi bahan bacaan yang dimiliki keluarga;

2. Frekuensi membaca dalam keluarga setap harinya;

 3. Jumlah bacaan yang dibaca oleh anggota keluarga;

4. Jumlah tulisan anggota keluarga (memo, kartu ucapan, baik cetak maupun elektronik, catatan harian di buku atau blog, artkel, cerpen, atau karya sastra lain); dan

5. Jumlah pelatihan literasi baca-tulis yang aplikatif dan berdampak pada keluarga.

Indikator itu yang disarankan agar bisa dilakukan setiap keluarga sehingga literasi baca-tulis bisa dicapai dalam keluarga. Kalau saya melihat indikator itu tidak semua keluarga saya bisa melaksanakannya. Misalnya jumlah tulisan anggota keluarga atau jumlah pelatihan literasi.

Qodarullah memang saya sedang berminat dalam dunia tulis menulis maka untuk jumlah tulisan yang saya buat lebih intens dibanding keluarga anggota saya lainnya. Sedangkan anak saya yang masih 3 tahun hanya bisa corat-coret atau menggambar mobil yang hanya terlihat wujud bannya saja. Begitu pun untuk jumlah pelatihan literasi, saya pernah mengikuti beberapa workshop menulis tapi untuk anak saya maupun suami saya memang belum.

Beberapa indikator itu saya laksanakan dalam keluarga saya, meski ada yang belum, dan juga menyesuaikan pada nilai-nilai budaya literasi dalam keluarga yaitu dekat, mudah, murah, kontinyu (Trini Haryanti, Rumah Dunia Serang Banten, 2014), menyenangkan, dan bermakna.

Nah, peran keluarga untuk mewujudkan indikator yang sejalan dengan nilai budaya literasi di keluarga saya sendiri adalah :

- penyedia bahan bacaan anak yang menarik dan bervariasi di rumah. Penyediaan buku di rumah ini memang bisa diperoleh dengan berbagai cara, bisa membeli di toko buku, toko online, pameran buku. Memang banyak sekali yang merasa sayang karena sudah keluar uang banyak untuk membeli buku, tapi menurut saya, uang yang dikeluarkan untuk membeli buku adalah sebuah investasi jangka panjang.

Kakak dan adek senang setelah mendapat buku baru

Sebenarnya tidak harus membeli, keluarga bisa mengajak anak ke perpustakaan daerah dan meminjam beberapa buku yang menarik. Sekarang pun sudah banyak platform daring yang menyediakan bahan bacaan anak, seperti aplikasi Let's Read, Ipusnas yang bisa diunduh di playstore.Namun untuk anak saya yang masih usia 3 tahun, saya belum mau karena biasanya dia akan meminta menonton yang lain dan pada akhirnya malah main ponsel terlalu lama.

Frekuensi untuk menyediakan bahan bacaan ini di rumah saya biasanya tergantung jam santai saya. Kalau saya sibuk di dapur maka mereka bermain. Setelah selesai, biasanya mereka meminta dibacakan buku, bisa pagi hari atau malam hari. Seharusnya semakin meningkat frekuensi semakin bagus ya. Untuk anak saya sendiri yang masih balita, mereka masih suka meminta membacakan buku-buku yang saya beli. Mereka suka meminta mengulangi cerita dalam buku tersebut karena mereka masih perlu banyak belajar kosakata baru. Semakin sering diulang, maka mereka semakin mudah mengingat kosakata baru. Ini bisa termasuk dalam budaya literasi yang kontinyu (berkelanjutan).

Saat di pameran buku Mizan


Buku yang bervariasi juga tidak lupa menjadi perhatian. Sebenarnya lebih baik jika dalam sebulan ada buku baru di rumah. Baiasanya saya pun membelikan buku ketika ada pameran buku. Harganya lebih terjangkau. Pernah dalam beberapa bulan saya tidak membeli buku untuk anak karena belum ada pameran. Menurut saya, itu tak jadi soal. Namun, ketika ada pameran saya bisa beli cukup banyak buku ya sekitar sepuluh buku sudah cukuo. Jumlah ini bisa disesuaikan dengan budget masing-masing keluarga. Ini termasuk dalam nilai budaya literasi yang murah.

Apalagi kalau mau gratis dan bervariasi, bisa pinjam di perpustakaan daerah. Jenis bahan bacaan pun bisa bervariasi, bisa tentang kehidupan sehari-hari manusia dan cerita fabel dalam bentuk buku bergambar. Kalau saya sendiri, biasanya saya memilih buku anak tentang pengembangan moral ataupun tentang agama saya ketika berada di pameran buku.



Out of The Books 


Peletakan buku cerita juga mempengaruhi minat baca anak di rumah. Setelah selesai membaca dan saat membereskan kamar biasanya saya meletakkan buku di atas lemari, ternyata tidak dilirik anak-anak. Mereka jadi lupa kalau mereka punya buku. Ketika salah satu buku bergeletakan di atas meja atau di atas kasur maka bisa dipastikan anak-anak saya minta dibacakan cerita.

Kakak minta dibacakan buku
 

Kalau ada pojok khusus membaca di rumah atau perpustakaan keluarga lebih bagus lagi tapi karena rumah saya keciiiillll jadi hanya di atas lemari baju saja saya letakkan buku. Bahkan saya taruh saja di kursi dekat tempat tidur. Nilai budaya literasi yang dekat dan mudah ini yang mampu mendukung terwujudnya budaya literasi keluarga.

- pembaca cerita anak yang menyenangkan. Tidak hanya menyediakan bahan bacaan saja, keluarga juga harus menjadi storyteller bagi anaknya. Apalagi saya memiliki dua balita yang belum bisa membaca. Saya membacakan buku cerita dengan penuh ekspresif atau bahkan saya improve biar anak tidak bosan. Yang pasti saya bukan seperti pendongeng profesional. Paling-paling saya hanya memainkan intonasi saja dan menirukan suara hewan. Kalau kita sendiri bisa bercerita dengan sangat menyenangkan maka anak akan terus meminta membacakan buku seperti pada anak saya. Tidak hanya saya, suami pun berperan serta dalam membudayakan literasi. Terkadang saya meminta suami saya untuk membacakan cerita kepada mereka. Selain menigkatkan kedekatan dengan anak, tentu anak akan senang karena kehadiran ayahnya dalam membudayakan literasi.

Hal yang paling lucu, ketika saya sudah mengantuk sekali dan anak saya minta bacakan buku, saya bisa bercerita sambil tertidur dengan pengucapan yang kurang jelas. Hebat, ya! Kalau sudah begitu, anak saya malah bertanya atas kalimat saya yang terdengar "nggremeng" karena tidak jelas (maklum sudah mulai terbuai mimpi). Begitu tahu saya tertidur, dia akan membangunkan saya dan melarang saya untuk tidur. Ia aka memaksa saya untuk membacakan cerita. Mau tidak mau saya membacakan buku juga meski setengah mengantuk. Saya sangat senang jika anak saya bersemangat meminta membacakan buku cerita. Harapan nilai budaya literasi yang menyenangkan pun bisa terwujud sehingga saat dewasa nanti dia tidak merasa asing dan sakit kepala jika berhadapan dengan buku. Aammiinn.

- pemberi contoh untuk anak. Anak balita tentu akan mengikuti kebiasaan orang tuanya. Jika sebuah  keluarga suka menonton televisi, maka anak juga akan mengikuti kebiasaan tersebut. Jika sebuah keluarga menyempatkan waktunya untuk membaca buku di depan anak sesering mungkin, anak juga akan mengikuti kebiasaan orang yang ada di rumah. Makanya saya juga selalu menyediakan buku untuk saya baca sendiri. Jika tidak ada buku, mungkin keluarga bisa menyediakan majalah atau koran untuk bacaan orang dewasa sebagai bentuk contoh yang diberikan pada anak.

- pengingat pesan moral. Biasanya anak saya akan mudah mengingat sesuatu dari sebuah buku, misalnya harus jujur, berkata lembut, tidak kasar, dan sayang dengan sesama. Maka ketika ia melakukan kesalahan, misal tidak jujur, maka saya pun memintanya untuk jujur. Atau saat ia berbicara kasar, saya pun mengingatkan dia bahwa harus berkata yang baik seperti yang ada di dalam buku. Meski sebenarnya peran keluarga yang ini cukup berat karena mau tidak mau keluarga juga harus melakukannya.

- teman bermain anak. Keluarga juga bisa menjadi teman bermainnya. Permainan yang dianjurkan untuk meningkatkan budaya literasi dalam keluarga adalah permainan yang melibatkan penggunaan kata, bisa monopoli, scrabble, teka-teki, dan sejenisnya bagi yang sudah bisa membaca. Namun karena anak saya masih berusia 3 tahun dan belum bisa baca, saya mengajaknya mencari huruf pada sebuah buku aktivitas yang saya beli. Kalau perlu, membuat huruf dan angka dari kain flanel dan ditempel di dinding atau di tempat yang terlihat.

Saya berharap budaya literasi yang saya terapkan tersebut dapat bermakna untuknya terutama untuk pengembangan pendidikan karakter anak, misalnya kejujuran, rasa ingin tahu, gemar membaca tanpa paksaan, peduli sosial, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena dari sebuah buku anak-anak bisa belajar sikap dan perilaku.

Tak hanya baca tulis untuk anak saja

Sebenarnya beberapa waktu yang cukup lama, saya sempat dilanda kebingungan. Mungkin banyak ibu-ibu di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Ketika anaknya sudah berusia tiga tahun maka orang tua harus memutuskan apakah anak akan dimasukkan sekolah PAUD atau tidak. Saya sempat menimbang-nimbang, karena sebenarnya saya sedikit khawatir jika anak saya jauh ketinggalan dengan teman-temannya.

Terkadang saya bertemu dengan seorang anak yang usianya sepantaran anak saya sudah bisa menghitung angka 1-15 atau sudah hafal surah-surah pendek pada juz 30 atau sudah bisa menulis huruf meski belum sempurna atau bisa menulis namanya sendiri. Sedangkan saya masih berusaha keras membujuk anak saya untuk belajar abjad, angka, atau menghitung benda. Saya pun sadar bahwa setiap anak itu tidak bisa disamakan. Saya tetap berpikiran positif bahwa anak saya kelak juga akan bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Meski saya tetap berusaha untuk mengenalkan abjad dan angka.

Maka saya pun memilih tidak memasukkan anak saya ke PAUD walau banyak orang yang menanyakan sudah sekolah apa belum (mungkin karena badannya yang sedikit terlihat lebih tinggi dibanding anak-anak seusianya). Sepertinya zaman sekarang kalau anaknya belum masuk PAUD agak dipandang sebelah mata. Tapi saya tetap stay cool saja. Saya tetap mengajarkan berhitung benda dan membaca angka yang ada dimana saja.

Sedangkan untuk melatih keluwesan tangan anak agar mudah belajar menulis huruf dan angka, saya masih mengajarkan membuat garis, lingkaran dan kotak. Untuk saat ini, anak saya lebih suka mewarnai bukunya dibanding menulis huruf atau angka. Saya pun tidak bisa memaksa meski saya terbayang anak-anak seusianya di luar sana sudah bisa membaca angka, huruf, bahkan iqra'. Itu memang bisa dijadikan motivasi saya tapi tidak membebani. Saya yakin kelak ia akan bisa membaca dan menulis tepat pada waktunya.

Video saat menggambar


Sebenarnya tidak hanya baca tulis saja untuk meningkatkan literasi dan tidak hanya ditujukan untuk anak. Keluarga juga mestinya terlibat dalam kegiatan literasi di rumah. Seperti yang dikutip dari Kemdikbud, bahwa implementasi literasi baca-tulis tidak terpisahkan dari literasi numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Sedangkan untuk anak saya 3 tahun memang masih belajar untuk membaca, menulis, dan berhitung (numerasi). Saya sendiri memang suka membaca. Sebulan di rumah tanpa ada bahan bacaan rasanya aneh sekali. Apalagi waktu itu tablet saya eror, tidak bisa buat baca di Ipusnas dan menulis. Seperti ada yang hilang. Suami saya pun beberapa kali suka menulis sesuatu yang dia suka di luar kewajibannya sebagai pengajar di kampus.

Untuk literasi sains selama ini masih lewat buku saja, belum aplikasi. Kalau literasi digital memang saya belum mengenalkan lebih lanjut untuk anak saya. Paling-paling saya saja yang memakai aplikasi Ipusnas untuk membaca ataupun menggunakan tablet untuk menulis dan mempostingnya di blog atau kirim ke media massa. Suami saya malah lebih tertarik menonton video di ponselnya.

Literasi finansial ternyata tak hanya untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran saja, tapi juga penggunaan jasa dan produk keuangan untuk tabungan, investasi, kredit, dan asuransi. Kita harus tahu semua informasi kekurangan dan kelebihan penggunaan produk dan jasa keuangan tersebut. Melek literasi keuangan bisa membantu kita memutuskan produk dan jasa keuangan apa yang akan dipakai. Kalau saya tidak hanya menanyakan langsung kepada lembaga yang megeluarkan produk dan jasa keuangan tersebt tapi juga mencari pengalaman orang melalui blog atau tanya ke rekan yang pernah menggunakannya.

Literasi budaya dan kewargaan pun kami akui belum begitu terasa di keluarga kami. Meski terkadang saya menyanyikan lagu kebangsaan di depan anak saya dan terkadang ia mengikutinya.


Peran masyarakat dalam membudayakan literasi

Tidak jauh berbeda dengan indikator pada keluarga, indikator yang digunakan untuk mengukur pencapaian literasi baca-tulis pada masyarakat justru lebih kompleks. Di lingkungan saya tinggal, yaitu di Sidoarjo, ada satu Rumah Pintar yang di dalamnya terdapat Taman Baca. Jika dilihat ketersediaan fasilitas taman baca itu tentunya bisa disimpulkan bahwa budaya literasi sudah terwujud. Nyatanya, tidak bisa disimpulkan begitu.

TBM di Rumah Pintar (www.kumparan.com)


Setelah saya melihat indikator pencapaian literasi baca-tulis, ternyata kesuksesan literasi baca-tulis memang tidak sekedar membaca dan menulis saja tapi lebih luas dari itu. Indikator tersebut yaitu:

1. Jumlah dan variasi bahan bacaan yang dimiliki fasilitas publik. Jika saya lihat memang sudah banyak bahan bacaan di TBM dekat rumah saya, tapi memang seharusnya harus ada penambahan jumlah dan jenis buku di TBM tersebut secara berkala.

2. Frekuensi membaca bahan bacaan setiap hari. Sayangnya, TBM dekat rumah saya tidak setiap hari buka hanya hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu sehingga indikator ini tidak bisa tercapai. Salah satu penyebabnya saya kira karena kurangnya sumber daya manusia.

3. Jumlah bahan bacaan yang dibaca oleh masyarakat. Rata-rata buku yang dibaca pengunjung TBM sekitar 3-5 buku itupun hanya di hari tertentu. Ada yang membaca sampai selesai, ada pula yang hanya dilewati saja lembaran demi lembaran.

4. Jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacan. Menurut cerita yang saya dengar, ada warga yang memang menyumbang buku untuk TBM meski tidak intens.

5. Jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi baca-tulis. Di lingkungan saya sendiri hanya ada satu TBM itu, kalau pun mau ke perpustakaan ya harus pergi dulu ke kota Surabaya yang jaraknya bisa sampai 5 km.

6. Jumlah kegiatan literasi baca-tulis yang ada di masyarakat. Ini juga masih sangat jarang dilakukan. Memang ernah diadakan lomba mewarnai, tapi saat ada perayaan hari besar tertentu saja.

7. Jumlah komunitas baca tulis di masyarakat. Setahu saya, saya baru lihat ada satu TBM di lingkungan tempat tinggal saya sedangkan komunitas masih belum terdengar dan terlihat aktivitasnya.

8. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi. Biasanya anak-anak di hari Sabtu dan Minggu datang ke TBM untuk membaca buku. Saya rasa partisipasi masyarakat cukup aktif jika memang komunitas mengadakan kegiatan literasi untuk anak dan remaja.

9. Jumlah publikasi buku per tahun. Rasanya indikator ini cukup menantang bagi saya sendiri sebagai masyarakat untuk tergerak membuat karya buku untuk menambah bahan bacaan. Meski tentunya sudah banyak sekali penulis-penulis yang melahirkan publikasi buku khususnya Jawa Timur.

10. Kuantitas pengguna bahasa Indonesia di ruang publik. Meski saya ada di tanah Jawa, bahasa Indonesia masih umum digunakan di lingkungan saya meski ada memasukkan kosakata bahasa Jawa.

11. Jumlah pelatihan literasi baca-tulis yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat. Saya sendiri mengikuti workshop kepenulisan yang diselenggarakan di kota lain sedangkan di lingkungan saya masih belum syaa lihat kegiatannya.

Saat ikut workshop penulisan cerita anak Inovasi-FLP bersama Bu Sofie Dewayani


Jika dari indikator tersebut masih banyak literasi baca-tulis dalam masyarakat yang belum tercapai, maka saya pun mencoba menempatkan diri saya dalam masyarakat karena saya juga termasuk bagian dari masyarakat. Jadi saya bisa berperan sebagai obyek sekaligus subyek dalam masyarakat.

Sebagai Subyek dalam Masyarakat
Menjadi subyek dalam masyarakat menurut cukup berat karena mau tak mau saya harus melakukan sesuatu dan memiliki andil dalam meningkatkan budaya literasi dalam masyarakat. Saya memang belum bisa berkontribusi banyak dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Namun, setidaknya saya mulai melakukan sesuatu yang memancing anak suka membaca.
Saya mulai dari lingkungan orang tua saya. Bukannya saya mau mengungkit-ungkit. Ketika lebaran tiba, saya pulang ke kampung orang tua saya di daerah Ponorogo dan Sragen. Saya tidak memberi angpau uang kepada mereka tapi saya memberi buku kepada beberapa anak di keluarga besar saya. Mungkin mereka berharap angpau dalam wujud uang yang lebih mereka inginkan tapi saya berharap hadiah buku ini bisa memancing mereka untuk mulai menyukai buku. Buku juga investasi jangka panjang. Mereka bisa membuka dan membacanya lagi sewaktu-waktu. Menurut saya memiliki ilmu pengetahuan itu lebih longlasting daripada memiliki uang yang cepat habis jika hanya dibelikan sesuatu yang manfaatnya juga cepat habis.
Hadiah buku

Sebagai Obyek dalam Masyarakat
Sebagai obyek masyakarat, saya memanfaatkan fasilitas membaca yang disediakan di lingkungan rumah saya (Sidoarjo) seperti di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Pernah juga saya mengajak anak saya mengunjungi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di dekat rumah saya. Kebetulan TBM nya bergabung dengan sekolah PAUD. Saya pun dikira ingin mendaftarkan anak saya untuk sekolah PAUD. Begitu tahu saya hanya ingin baca-baca, mereka pun memberi buku daftar pengunjung untuk diisi.
Saya pun mengajak anak saya membaca. Memang beberapa menit, dia betah membaca tapi kemudian dia memilih berlari-larian padahal ada satu orang pengunjung lain. Nah, di sini tantangan saya untuk mengajarkan kesopanan di tempat umum. Alias tidak menganggu orang lain. Namun, dia masih saja tidak bisa duduk diam. Alhasil, saya membawanya pulang lagi. Sayang sekali...

Di TBM dekat rumah saya biasanya akan ramai dikunjungi anak-anak pada hari sabtu dan minggu. Bukunya pun saya bilang cukup bervariasi. Tidak hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang tua terutama ibu-ibu. Sayangnya belum banyak kegiatan literasi yang bisa diikuti di TBM untuk menarik anak-anak.

Tidak hanya TBM, suatu waktu saya mengajak anak saya ke perpustakaan daerah di Malang (tempat mertua saya). Karena di ruang baca anak ada ruangan khusus mainan, jadi dia malah memilih mainan. Meski sebelum itu, dia melihat-lihat buku-buku yang ada di rak dan setelah itu memilih bermain-main. Tak apa-apalah, menurut saya mengenalkan anak dengan fasilitas membaca bisa dimulai sejak kecil agar mereka tidak merasa asing dengan buku.

Setelah saya mengevaluasi diri dari indikator pencapaian literasi baca-tulis, rupanya masih ada indikator yang belum dilakukan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Ini memang terlihat berat karena tidak terbiasa. Apalagi di dalam masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri, harus dilakukan secara bersama-sana.

Harapannya dengan gemar membaca buku, selain menciptakan insan yang relijius, nasionalis, mandiri,  peduli sosial, juga bisa memberi kontribusi pada kemajuan bangsa.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga


Pustaka
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Materi Pendukung Literasi Baca-Tulis. Jakarta : Kemdikbud.
Roestanto, Apriliani. 2017.  Literasi Keuangan. Yogyakarta: Istana Media.
Sumarwan, Eri. 2017. Tokoh Indonesia Yang Gemar Membaca Buku. Jakarta: Balai Bahasa Kemdikbud.



Read More
Sejak pindah ke Sidoarjo tahun 2016 silam, saya harus mengikuti aturan tempat tinggal saya yang ramah lingkungan. Mulai dari memilah sampah, menanam tanaman, belanja dengan tas ramah lingkungan agar mengurangi sampah plastik (menuju zero waste). Bahkan sempat ada program menyiram tanaman di kebun RT yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah.

Namun, pelaksanaan program yang ramah lingkungan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kali ini saya akan cerita tentang gaya hidup yang ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal saya di Perum. Rewwin, meski sebenarnya tidak 100% ramah lingkungan. Saya pun masih berusaha keras mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan. Ternyata susah-susah gampang.

Oiya. Di perumahan saya memang belum semuanya menerapkan program-program itu. Di RT saya sudah menjalankan program itu cukup lama. Mungkin memang tergantung dari pengurus RT/RW dan juga kerja sama masyarakatnya.

Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,

Pemilahan Sampah

Seorang kader lingkungan yang tinggal berjarak dua rumah terlihat sibuk ketika akan ada penilaian tentang pemilahan sampah warga. Beliau memastikan bahwa warganya sudah benar dalam memilah sampah. Jika ada yang salah, biasanya beliau tegur langsung, termasuk saya. Hehe.. Beliau memang bertugas mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, kebersihan lingkungan dan penghijauan di depan rumah warga.

Penilaian tahun lalu ini para juri akan datang ke RT dan menanyakan terkait dengan pemilahan sampah. Pertanyaan yang diajukan cukup sederhana, seperti, "Tusuk sate masuk sampah apa? Bungkus indomie masuk sampah mana?"

Gampang menjawab pertanyaan itu bagi praktisi pemilah sampah. Bungkus mie waktu itu masuk residu karena tidak laku dijual. Tusuk sate masuk residu/limbah beracun berbahaya. Saya sempat ditegur sama kader lingkungan saat saya memasukkan ke sampah organik, katanya tusuk sate masuk limbah berbahaya. Begitu saya tanya alasannya, tusuk sate masuk limbah berbahaya. Padahal menurut saya definisi limbah berbahaya bukan itu ya. Atau saya yang selama ini salah? Beliau cerita kaki petugas sampah pernah terkena tusuk sate dan bengkak. Akhirnya tusuk sate termasuk sampah berbahaya/residu dan harus diikat dengan karet.

Tahun lalu pemilahan sampah hanya tiga kategori yaitu sampah basah (organik), sampah kering (anorganik dan bisa dijual) dan residu atau limbah B3 (anorganik dan tidak bisa dijual). Jadi setiap rumah akan memiliki 1 bak ember cat yang besar itu untuk sampah organik sedangkan sampah residu dimasukkan dalam kresek dan akan saya keluarkan saat ada jadwal pengambilan sampah.

Pertama kali menerapkan itu, saya cukup kagok. Antara teori yang saya dapatkan sangat berbeda dengan praktiknya. Setiap mau buang sampah saya pasti mikir, ini masuk mana ya? Pada akhirnya kadang ya masukkan semuanya ke residu (sampah popok, pembalut, stereofoam, bungkus saos, dll) hehe. Sedangkan sampah kering seperti botol aqua, botol saos, botok kecap, kemasan rinso, kertas, duplex, mika, karton, semua diserahkan sama seorang pengurus Bank Sampah di RT. Di rumahnya pun sampai ada daftar bungkus-bungkus plastik yang tidak laku dijual di pasaran. Biasanya beliau mencatat total timbangannya di buku khusus. Hasilnya sih selama ini baru digunakan untuk rekreasi ibu-ibu ke tempat wisata. Hihi.

Oiya, FYI, masyarakat disini kebanyakan pensiunan meski beberapa masih ada yang bekerja. Bayangkan, para orang tua ini di masa tuanya masih harus memikirkan sampah-sampah ini. Kadang saya malu sendiri, yang masih muda, tapi nggak bersemangat. Yaah meski beberapa ada yang asal saja dan tidak dipilah. Biasanya nih petugas sampah nggak akan mengambil sampah yang tidak dipilah. Serem kan.

Terus kalau ada yang protes akhirnya dijawab, "Bapaknya nggak mau ngambil kalau nggak dipilah". Gimana coba masalah sampah saja kadang bikin gregetan atau malah bikin memunculkan permasalahan antar warga? Makanya di beberapa RW tidak begitu berjalan karena memang masyarakatnya sendiri kurang mendukung. Akhirnya kader lingkungan juga kurang aktif bergerak.

Tahun ini, pembagian sampah lebih banyak lagi. Selain residu dan sampah basah, kita harus memilah lagi ke dalam kategori plastik kotor seperti plastik bekas beli sayur, ikan, daging, ayam, udang, bumbu-bumbu, tahu, wafer, cokelat, dll. Nah sampah residu ini nggak boleh ada kresek. Dulu saya cuma pakai kresek besar khusus residu, sekarang pakai bak cat biar nggak kececeran dan biar terlihat rapi saja.

Jadi setiap rumah itu harusnya punya 3 macam wadah pemilahan sampah (di tempat kami berupa bak cat). Karena saya cuma punya 1 bak, saya beli lagi bak seharga 20.000 di tetangga, sedangkan plastik kotor saya pakai tempat es krim kiloan punya mbak hehe. Jadwal pengambilan pun lebih sering. Jadi plastik-plastik itu tidak boleh dimasukkan dalam bak residu karena harapannya plastik/kresek kotor ini setelah dibersihkan bisa dijual lagi.


Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah Residu dan Plastik Kotor

Awalnya saya juga bingung, karena belum terbiasa. Biasanya plastik saya langsung masukkan ke residu. Sekarang harus saya masukkan di tempat khusus. Kalau dulu mau buang softex biasa pakai kresek, sekarang nggak boleh dan harus pakai kertas/koran. Dulu buang popok bekas pup pakai kresek, sekarang nggak.

Akibatnya, rumah saya banyak sekali sampah-sampah kering karena saya biasanya mengumpulkan sampah kering itu sampai bertumpuk baru kemudian menyerahkan pada Bank Sampah. Begitu pun dengan sampah residu, jadwalnya hari selasa, dan cuma seminggu sekali. Jadi sampah residu masih tersimpan di rumah sampai minggu depannya. Kadang bertumpuk banyak. Kadang nggak banyak.
Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah kering yang berisi botol, duplex, dan bungkus plastik

Selain itu, karena rumah saya ada pohon mangga dan sekarang lagi musim kemarau, otomatis banyak sekali daun berguguran. Saya harus menyapunya sampai berkali-kali dalam sehari. Kadang nggak sama sekali. Begitu lihat keluar rumah udah bersih karena tetangga yang nyapu wkwkwk.

Penghijauan

Meski rumah kami kecil dan tidak memiliki halaman rumah, namun kami memiliki petak kecil di depan rumah untuk tempat menanam tanaman. Jenis tanaman yang dianjurkan adalah tanaman toga, zodia, dan.., hmm lupa apa. Wkwkwkwk.

Nah, biasanya kader lingkungan akan sibuk mengabsen satu persatu rumah di RT. Beliau akan memastikan jenis tanaman yang diminta juri sudah tersedia demi lomba penghijauan 17 agustus. Minggu kemaren penilaian ketersediaan tanaman Zodia di RT saya sudah terlaksana. Tanaman Zodia ini katanya bermanfaat untuk mencegah berkembangnya nyamuk termasuk nyamuk aedes penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Beberapa minggu sebelumnya, warga mulai heboh mencari tanaman Zodia. Laris deh penjual tanaman kalau program penghijauan ini terus berjalan. Untung pembelian Zodia dilakukan secara kolektif, jadi biasanya ibu-ibu beli kolektif saja daripada harus cari sendiri.

Penggunaan tas belanja

Suatu ketika, saya diberi sebuah tas berwarna hijau oleh bu RT. Katanya untuk meminimalisir plastik jadi belanjanya pakai tas belanja. Well, maksudnya baik. Namun, kenyataannya, terkadang saya masih lupa untuk membawa tas belanja ini saat belanja sayur pada abang yang lewat. Kalau ke pasar justru kepakai karena tas belanja saya taruh di keranjang sepeda. Ya, saya naik sepeda ke pasar dengan gonceng si besar di belakang dan si bayi gendong depan. Meski tetap, kresek masih masuk ke dalam tas belanja saya.

Sebenarnya program-program ini cukup penting mengingat dunia kita sudah banyak menanggung tumpukan sampah plastik. Jadi, mau tidak mau kita harus menjaganya. Mau tidak mau juga harus melaksanakan program yang diminta pemerintah agar sampah tidak makin bertumpuk bahkan bisa melaksanakan zero waste. Sebagai umat muslim pun tidak merusak bumi adalah perintha yang tertuang dalam ayat Al Quran. Memang efeknya, sampai saat ini tidak terasa tapi untuk kedepan pasti sangat berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.


Read More
Sejak dulu, saat masih kuliah, saya paling sulit berhias diri. Tak hanya urusan make-up wajah tapi juga untuk urusan penampilan. Terkadang adik saya gregetan melihat saya berpakaian seadanya.

"Bajumu itu nah. Kayak orang rembes!"

Begitu protesnya setiap saya dan adik saya akan pergi ke Mall dan saya memakai baju 'rembes' di mata dia. Maksudnya, saya seperti -maaf- pemulung. Sadis kan!

Meskipun menurut saya, penampilan saya itu biasa saja. Pakai celana jeans dan kaos lengan panjang serta jilbab segiempat. Tak cuma sekali, berkali-kali dia suka protes dengan penampilan saya. Tak jarang, ibu juga ikut mengomentari pakaian yang saya kenakan.

Waktu itu, saya ketawa saja. Karena ketika saya nyaman akan sesuatu ternyata menurut pandangan orang itu jelek. Pada akhirnya, saya memasrahkan diri. Saya biarkan adik atau ibu saya memilihkan pakaian jalan untuk saya. Kadang, saya protes dengan pakaian yang mereka pilih karena saya merasa semakin kurus, semakin hitam, dan semakin semakin lah memakai baju yang mereka pilih. Terkadang juga saya menurut saja apa yang mereka pilihkan.

Betapa cueknya saya padahal saya sudah cukup dewasa untuk bisa memilih pakaian yang saya inginkan. Nyatanya, tidak juga.

Ketika di kampus, saya sudah terlepas dari penglihatan adik dan ibu saya, otomatis saya makin bebas dong memakai pakaian yang nyaman menurut saya. Tidak ada lagi yang protes-protes saya mau pakai baju apa.

Namun, kecuekan saya itu tidak berlangsung lama. Saya suka melihat teman-teman saya yang bajunya mengikuti perkembangan jaman. Meski di fakultas teknik, banyak teman-teman saya yang perempuan penampilannya fashionable. Semua chic mulai dari jilbab, baju, tas dan sepatu. Misal hari ini pakai baju hijau, besok baju pink, lusa baju biru.

Sedangkan saya? Baju, jilbab dan sepatu saya banyak sekali yang berwarna netral, seperti hitam, coklat, biru navy. Karena saya ingin menjadi seperti mereka, saya pun pergi ke toko baju.

Lima menit. Sepuluh menit. Lihat baju model A. Lihat baju mode B. Lihat baju berwarna A. Lihat baju berwarna B. Selama satu jam akhirnya saya memutuskan untuk beli baju model Z dengan warna yang tidak jauh beda dengan warna-warna pakaian yang ada di lemari saya. Cokelat muda.
Begitu saya pakai ke kampus, saya merasa aneh karena tidak bisa jadi diri sendiri. Kenapa pula harus mengikuti jaman kalau memang tidak nyaman dan tidak percaya diri?

Sampai suatu ketika, saya penasaran mau coba kosmetik di dokter kecantikan. Dengan biaya cukup murah, kulit wajah saya yang kusam bisa menjadi kinclong, segar dan terasa kenyal seperti karet. #eh. Ada perasaan yang berbeda setiap saya melihat wajah saya saat melewati kaca. Seperti ada yang bersinar. Ciyeh. Beneran.

Wisuda pun tiba. Saya harus memakai kosmetik dari periasnya. Dan kalian tahu apa? Dua hari setelah wisuda, wajah saya langsung jerawatan. BANYAK. Merah-merah. Sampai satu wajah. Jerawat membandel pokoknya. Saya mulai bingung bagaimana menghilangkan jerawat yang banyak dan parah ini.

Saya pun ke dokter kulit (namanya Dokter Rofiq, dokter kulit yang ramai dan terkenal di Malang) dan menceritakan semuanya. Dokter pun menyuruh saya menghentikan memakai kosmetik dari dokter kecantikan itu. Kata beliau, itu yang menyebabkan jerawat. Saya tidak percaya. Masak sih? Namun, karena saya dalam masa pengobatan, saya pun menurutinya. Selama 1,5 tahun akhirnya jerawat saya sembuh!

Semenjak itu, saya tidak berani memakai kosmetik macam-macam. Saya pun kembali ke perawatan sederhana saya. Facial foam, krim siang dan bedak. Setiap saya mau jalan jauh, saya masih bisa pakai krim siang dan bedak. Terkadang juga lipstik. Sama seperti memilih warna baju, saya memilih warna lipstik pun beraninya cuma warna natural.

Setelah menikah, kecuekan saya semakin menjadi-jadi soal penampilan. Awal-awal saya memang masih bisa memperhatikan penampilan setiap mau keluar rumah atau jalan-jalan. Lama-lama saya semakin tak perduli. Saya masih sangat nyaman memakai kaos panjang, celana kain (dulunya celana jeans), jilbab segiempat dan kadang sandal jepit. Apalagi ada dua anak yang aktif, memakai baju yang nyaman dan membuat bebas bergerak masih menjadi pilihan utama.

Urusan berdandan wajah lain lagi. Meski saat SMA, sekolah pernah mengadakan beauty class, saya tidak benar-benar bisa berdandan. Paling-paling pakai facial foam, krim siang, dan bedak. Saat kuliah pun masih bertahan pakai tiga benda itu.


Namun, semenjak 2 tahun belakangan ini, saya jarang pakai facial foam atau krim siang. Bahkan bedak sekalipun. Saya sudah tidak telaten padahal perawatan diri adalah salah satu cara bersyukur kita pada Allah kan ya.

Untungnya, ketidaktelatenan saya tidak diprotes suami. Dia justru tidak suka kalau saya dandan. Pakai lipstik saja diketawain. Katanya aneh. Lah padahal saya pakai lipstik dengan warna natural meski menurut saya warna natural tetap muncul warna merahnya.

Kemudian, beberapa hari lalu, saya  diajak suami ke Tunjungan Plaza. Sebenarnya suami ingin nyari sesuatu di toys kingdom tapi tidak ada. Jadi kami jalan-jalan dari TP 3 ke TP 1. Setiap saya melewati kaca, saya melihat diri saya yang benar-benar 'rembes'. Sepertinya kalau adik saya ada, dia bakal ngomel-ngomel melihat penampilan saya. Tidak cuma masalah pakaian saja, tapi juga kulit wajah.

Tuh kan penampilan saya (kanan) wkwkwk

Saya lihat wajah saya semakin hitam dan kusam, seperti kembali ke jaman SMP. Padahal saya jarang sekali keluar rumah. Saya sampai malu sendiri. Sampai saya bilang ke suami.

"Weh. Weh. Aku kaya keluar dari goa. Kok bisa hitam kayak gini padahal jarang keluar rumah," kataku pada suami. Seperti biasa, suami cuma mesem saja. Dia juga sama. Cuek saja.

Setelah sampai di rumah, saya langsung pakai facial foam, cream cleansing sama tonic. Sepertinya saya harus jalan-jalan begitu dulu biar tergerak hati saya buat membersihkan wajah. Wkwkwk.

Melihat ketidaktelatenan saya, apa teman-teman punya resep khusus biar wajah tetap kinclong tanpa harus ribet perawatan wajah?

Kalau masalah pakaian, sepertinya saya memang belum tergerak untuk bisa tampil fashionable seperti orang-orang di Mall. Wkwkwkwk.

Kalau begitu, sampai kapan saya mulai tergerak memperhatikan penampilan dan merawat kulit wajah?

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower