Tampilkan postingan dengan label Life at Abroad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life at Abroad. Tampilkan semua postingan
"Eropa Barat"

Yup, kalau mendengar dua kata itu, apa yang terpikir di otak kita?
Negara maju. Keren. Negara impian. Dan kehebatan-kehebatan lainnya.

Ketika saya masih kecil, saya sangat ingin mengunjungi negara-negara di Eropa Barat. Semakin besar, keinginan saya ke Eropa semakin besar. Saya suka dengan bangunannya yang memiliki ciri khas. Saya suka dengan jalanannya yang bersih. Saya suka sungainya yang bersih. Saya suka melihat putihnya salju di musim dingin.

Allah mewujudkan impian saya di tahun 2012. Saya tinggal di kota Paris, Prancis selama satu tahun untuk menempuh pendidikan S2. Semakin lama saya semakin memahami ternyata Eropa tidak hanya tentang keindahan bangunan, jalanan, sungai dan saljunya, tapi juga kehidupan kaum minoritasnya. Kehidupan kaum muslim.

Dan ternyata, sudah enam tahun saya meninggalkan negara itu. Ada kerinduan ingin kembali kesana. Saya rindu dengan semua kemegahan yang terlihat di depan mata. Saya rindu berjalan-jalan di pinggir sungai Seine. Rindu menaiki Métro, kereta bawah tanah. Rindu melihat gemerlapnya lampu di Champs-Élysées. Rindu merasakan butiran-butiran salju yang menembus sepatu hingga membuat kaki dingin.

Musée du Louvre
Sumber foto : dokumen pribadi


Kalaupun saya ingin kesana, saya hanya ingin menikmati jalan-jalan saja. Bernostalgia mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Berwisata bersama keluarga. Yang pasti wisatanya halal.

WISATA HALAL

Ngomong-ngomong tentang wisata halal, sekarang mulai digencarkan tentang wisata halal. Pertama mendengar istilah ini agak kaget juga karena tak pernah terpikirkan kalau mau berwisata ya harus halal.

Memang artinya apa?

Wisata halal adalah melakukan perjalanan yang bertujuan untuk bersenang-senang, memperluas pengetahuan dan lain-lainnya dengan fasilitas yang mendukung umat muslim dalam menjalankan syariat agama.

Kenapa harus ada wisata halal?

Ternyata pertumbuhan penduduk muslim yang melakukan perjalanan (travelling) semakin pesat. Di tahun 2017, diperkirakan ada sekitar 131 juta pengunjung muslim di seluruh dunia dan ini akan terus meningkat. Maka sudah seharusnya agen perjalanan (travel) memperhatikan kebutuhan umat Muslim. Apalagi menurut Global Muslim Travel Index tahun 2017, Indonesia menempati urutan kedua dalam hal Wisata Halalnya sedangkan Malaysia menempati urutan pertama. Maka sudah seharusnya agen tur di Indonesia memperhatikan keperluan para muslim traveller yang akan mengadakan perjalanan keluar negeri, khususnya negara-negara sekuler seperti Eropa Barat dan Eropa Timur.

Karena wisata halal itu tidak melulu soal menu makanan yang diberikan tapi juga pengajuan visa, penginapan, transportasi, destinasi wisata, dan kemudahan beribadah.

Pengajuan visa
Saya dulu sempat diminta visa dengan telinga yang terlihat. Tapi karena teman saya yang menguruskan jadinya batal. Saya tetap memakai foto berjilbab di visa saya.

Makanan Minuman
Kalau mau wisata keluar negeri, terutama negara sekuler, kita harus hati-hati. Kita harus hati-hati dalam memilih makanan dan minuman yang halal. Apalagi nggak semua produk disana ada tulisan halal dari MUI. Kalau beruntung, ada beberapa supermarket yang memang menyediakan tempat khusus makanan halal seperti ayam dan daging-dagingan yang disembelih sesuai syariat agama Islam.

Di beberapa restoran pun kita harus pintar-pintar memilih menu makanan. Walaupun kita memilih sop ikan, kita pun harus hati-hati. Ikannya sih memang halal. Kuahnya? Kita nggak tahu kan bahannya ada minyak babi atau nggak. Begitu juga ikan yang dikasih krim. Di Prancis, ada menu ikan dikasih krim. Kita juga nggak tahu apa campurannya ada wine. Amannya memang kita harus menanyakan langsung ke penjualnya apakah mengandung minyak babi, wine?

Di Paris, lumayan banyak kok yang buka restoran halal misalnya restoran kebab turki yang ada tulisan halalnya loh ya. Atau makanan china yang ada tulisan halalnya. Di daerah Belleville lumayan juga banyak restoran china yang halal. Soalnya daerah Belleville adalah Chinatown yang juga banyak kaum muslimnya, apalagi di sana ada masjid kecil.

Kalau mau coba makanan khas Prancis, seperti Escargot, di restoran yang ada label halalnya? Juga ada banyak di sana. Coba buka web ini. Banyak banget pilihannya.

Kalau di Amsterdam, jangan heran di sana bakal banyak orang Indonesia dibanding di negara lain di Eropa Barat. Maklum dulu kan kita dijajah mereka, hehe. Toko-toko yang menjual makanan Indonesia pun lebih banyak. Setidaknya nggak sesulit mencari makan di Paris.

Oiya, di Eropa Barat, khususnya di Prancis, sangat terkenal banget dengan pattisérie-nya. Kuenya enak-enak. Yang paling terkenal sih macarons. Saya belum menemukan macarons yang halal karena saya kurang tahu juga rum yang dipakai halal atau nggak. Saya pernah dipesenin sama orang muslim Prancis di sana. Kalau dibungkus kuenya ada keterangan gelatin saja, biasanya itu dari babi. Tapi kalau ada keterangan gelatin nabati berarti itu halal.

Penginapan
Untuk penginapan memang perlu dipastikan juga menu makanan yang disediakan pihak hotel. Biasanya sarapan pagi itu roti, omelet, atau cereal jadi setidaknya lebih aman.

Transportasi
Sebagian besar Parisiens (orang-orang Paris), bahkan Eropa Barat secara keseluruhan, memakai transportasi umum untuk melakukan perjalanan. Ada Métro dan RER (kereta bawah tanah). Ada bus. Ada trem. Juga sepeda yang bisa disewa dengan kartu langganan. Karena gabung dengan orang banyak, pastinya stasiun-stasiun yang dekat dengan tempat wisata akan ramai sekali penumpangnya. Dan tentunya keamanannya pun harus diperhatikan.

Kemudahan beribadah
Menurut pengalaman saya, agak susah bagi saya untuk melaksanakan ibadah karena jadwal kuliah yang padat. Maka seringnya saya melakukan shalat jamak. Di dekat kampus saya ada masjid Jami'. Lumayan besar. Biasanya saya selalu ke sana saat istirahat siang. Jadi, Grande Mosquée de Paris ini wajib didatangi saat wisata halal.

Destinasi Wisata
Di Eropa Barat, dominan penduduknya beragama kristen katolik. Makanya akan banyak sekali gereja-gereja dengan gaya gotik atapun dari abad pertengahan. Gereja-gerja menjadi salah satu destinasi wisata dari seluruh dunia. Tur wisata halal mungkin hanya melewati saja gereja-gereja itu karena memang dimana-mana ada banyak gereja. Tur wisata halal bisa mengunjungi masjid-masjid di negara sekuler.

Nah, di negara kita ini ada agen tur wisata yang menyediakan paket tour wisata muslim. Paket tur ini sesuai dengan kebutuhan umat islam seperti makanan dan minuman saat tur juga saat di penginapan terjamin halal; destinasi wisata ke beberapa masjid di Eropa Barat; transportasi aman dan nyaman; dan tak lupa tetap menjalankan shalat.

Agen tour halal itu adalah CHERIA HOLIDAY TRAVEL.

Agen tour travel ini berdiri sejak taun 2012 dan sudah melayani ribuan wisatawan. Agen ini melayani paket tour muslim dan luar negeri. Lokasi kantornya ada daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Alamat: Gedung Twink Lt. 3,Jl. Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12790

Untuk Tiket Cheria adalah Agen IATA baik Domestik maupun Internasional dan Untuk Layanan Haji Plus dan Umroh Cheria adalah Agen Resmi Madinah Iman Wisata Cabang Jakarta dengan Izin Resmi Depag No. 118/2015 dan D/70/2015.

Nggak perlu khawatir karena agen ini sudah RESMI. Ada legalitas dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Agen ini juga sudah punya izin penyelenggara ibadah haji khusus Madinah Iman Wisata dan Izin umroh madinah iman wisata.

Agen tour ini sudah punya paket tour wisata muslim ke Eropa Barat. Penasaran, kan, kemana aja destinasi wisatanya? Yuk, check it out!

DESTINASI WISATA

Tour wisata halal Cheria Holiday Travel ke Eropa Barat ini akan mengunjungi negara Italia, Swiss, Jerman, Belanda, Belgia dan Prancis. Rutenya adalah Milan-Mt. Titilis-Lucerne-Zurich-Frangkfurt-Amsterdam-Brusseles-Paris.

Milan

Di Milan, kita akan diajak City mengunjungi atau melewati Sforza Castle, Da Vinci Statue, La Scala Theatre, Duomo Cathedral yaitu Maskot kota Milan yang memiliki arsitektur bergaya gothic. Kemudian kita akan Mengunjungi Masjid di Milan. Selanjutnya acara bebas di Galleria Vittorio Emanuele II tempat ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di dunia. Galleria ini memang satu kawasan dengan katedral Duomo dimana banyak sekali burung-burung merpati terbang bebas di sini. Ada penjual makan burungnya juga loh. Waktu itu sih saya nggak beli, hehe.

Karena saya tiba di Milan pagi hari dari Paris naik bis dan berangkat lagi ke Venice naik kereta, jadi saya nggak ke masjid di Milan. Milan cuma tiga jam menunggu jadwal kereta. Gallerianya bahkan belum buka. Maklum, dulu kan saya bukan travel wisata halal. Jadi nggak berkunjung ke masjid, hehe.

Swiss

Ini adalah negara yang belum sempat saya kunjungi. Dan saya pengen banget ke gunungnya yang penuh salju itu. Hiks. Apalagi naik Cable Car yang bisa berputar 360°. Saya kebayang bisa melihat pemandangan gunung bersalju yang memesona. Saya pun ingin banget bisa main salju di Gunung Titilis.

Jangan lupa ya bawa sepatu boot khusus (bawahnya mirip sepatu safety) biar nggak licin, jaket tebal, baju tebal, syal dan penutup wajah. Wajah kita akan sangat kering kalau kena hawa dingin. Kadang bisa sampai berdarah karena saking keringnya. Tapi kalau cuma sebentar sih biasanya nggak begitu parah efeknya. Hanya jaga-jaga saja.

Kalau ikut tour wisata muslim Cheria, kita bisa menikmati makan siang MENU HALAL di Panorama Restaurant. Apa yang paling unik dari restoran ini adalah PEMANDANGANNYA! Kita bisa lihat pemandangan Gunung Titlis yang memukau.

Nah, kalau mah belanja jam tangan dan barang branded Swiss itu ada di Lucerne. Kota ini juga indah dan termasuk salah satu keinginan saya pergi ke sana. Yang saya tahu, kalau mau ke Lucerne nggak perlu pakai visa lagi, cukup dengan visa Schengen. Maklum Swiss kan bukan masuk negara Schengen.

Lucerne untuk memulai City Tour Mengunjungi atau Melewati Chapel Bridge, Lion Monument, Old Town, dan Lucerne Lake. Di lanjutkan menuju Titisee dan mengunjungi Danau Titise, Cuckoo Clok Shop and Factory dan Drubba Shop dimana kita bisa membeli Tas Koper RIMOWA dan barang barang Branded buatan Jerman dengan harga Pabrik.
Well, saya semakin ngiler.

Frankfurt

Di Frankfurt, kita akan diajak City Tour Mengunjungi atau Melewati Old City, Frankfurt Cathedral, Eschenheimer Turm, Goethe House and Romerberg Square.

Melanjutkan perjalanan menuju Cologne, Jerman untuk melewati atau mengunjungi bangunan iconic Cologne yang terkenal bergaya Gothic yaitu Cologne Cathedral, Romanesque Church of Great St.Martin, dan City Hall serta berkesempatan juga untuk membeli souvenir khas Cologne.

Saya dulu jalan kaki dari stasiun Köln ke Cologne Cathedral, Romanesque Church, City Hall terus melewati jembatan kereta yang penuh dengan gembok cinta. Duduk-duduk di sungai Rouen terus melewati jembatan sampai akhirnya saya tersesat dan dibuntuti orang tua yang mungkin melihat keanehan saya berjalan sendiri berjilbab. Haha.

Sayangnya saya hanya melihat Old Town dari seberang sungai gara-gara tersesat tadi. Saya pun nggak tahu kalau ada Cologne Central Mosque yang terbesar di Eropa. Rugiiiii banget deh!
Yang paling menyeramkan adalah saya menginap di penginapan dalam satu kamar ada enam orang gabung cowok cewek. Haha. Aman sih. Nggak ada yang hilang tapi tetap saja serem. Merekanya biasa saja. Sayanya yang memeluk tas dan menutup selimut biar mereka nggak macam-macam. Travelling saya benar-benar bukan wisata halal!

Amsterdam

Waktu saya ke Amsterdam saya ditawari teman saya ke Heineken, pusatnya minuman bir. Untungnya saya menolak karena nggak ada gunanya juga saya ke sana. Parahnya saya diajak ke tempat yang terkenal dengan prostitusinya. Alamak. Wkwkwkwk. Saya menggeleng-geleng.

Jangan khawatir, di Cheria Holiday Tour nggak akan mengajak kita mengunjungi tempat-tempat yang bikin dosa! Sumpah! Jangan juga minta agen kesana! Dosa! Inget dosa! Saya juga nggak mau menyebutkan tempat itu namanya apa. Pokoknya itulah distrik "remang-remang"!

Agen Cheria akan mengajak kita ke tempat-tempat eksotiknya Belanda, seperti kincir angin, pembuatan keju, sampai pakai baju khas belanda.
Ikon Amsterdam (sumber foto:dokumen pribadi)

Belgia

Selain atomium, Grand Place (Grote Markt), Mannekin Pis, Old Town, dan Royal Palace, negara ini juga terkenal dengan coklat wafel nya makanya kita harus mencobanya. Yang pasti coklat wafel yang halal, ya!

Sumber foto : dokumen pribadi

Paris

Apa sih yang paling ditunggu-tunggu kalau ke Paris? Pastilah berfoto di menara Eiffel nya. Kita juga akan diajak ke beberapa tempat yang terkenal seperti Place de la Concorde dan Champs Elysees jalanan paling mahal sejagat, Louvre Museum, Arc du Triomphe, Eiffel Tower, Les Invalides, Trocadero, Notre Dame Cathedral, Galerie Lafayette. Masjid Paris adalah tempat yang penting bagi kita setelah berkeliling Paris.

Sumber foto : dokumen pribadi


Dengan harga yang tidak terlalu mahal, kita sudah menikmati banyak sekali destinasi-destinasi wisata yang terkenal. Obyek-obyek yang jadi destinasi itu adalah obyek-obyek yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Makanya, kita nggak rugi pilih Cheria Holiday Travel sebagai agen tour wisata muslim kita.
Read More

   Alhamdulillah Ramadhan kali ini sudah di Indo, tahun lalu sempat merasakan puasa Ramadhan di Eropa, di Paris. Une experience inoubliable pkoknya (pengalaman tak terlupakan). Gimana gak, selain jauh dari keluarga, berada di negara minoritas muslim (alias negara sekuler), perbedaan waktu yang jauh berbeda dengan di Indonesia, dan puasa selama 18 jam!
     
     Seperti halnya di Indo, yang masih ada gak puasa, disana juga sama ada yang puasa dan ada yang nggak. Ketika bertemu seorang muslim disana, ada yang bertanya apa saya puasa? saya jawab iya tentu, dan dia merasa takjub dan mengakui kalau dia nggak puasa karena bekerja. Saya hanya diam, seperti halnya di indo, bekerja saat puasa aja lemes, gimana kalau di Eropa yang harus 18 jam.  Apalagi di negara sekuler, mana peduli puasa atau nggak, yang penting kerjaan beres.
      
      Beberapa kesulitan saat menjalankan puasa Ramadhan di Paris:

1.      Perbedaan waktu permulaan puasa

Well, karena Paris berada di lintang dan bujur yang berbeda dengan Indonesia, maka lama waktu puasa pun berbeda. Waktu indonesia puasa sekitar 12 jam, maka di Paris karena saat itu musim panas dan siangnya lebih panjang maka lama puasa menjadi 18 jam. Dan entahlah panasnya disana berbeda dengan panasnya di Indonesia. Walaupun sama2 32°C tapi musim panas di paris, kering ngga ada angin sepoi2, kalaupun ada, rasanya kaya ditiup pake sedotan!
Dan paling kerasa itu, hari pertama puasa, belum terbiasa puasa 18 jam, saat jarum jam mengarah di angka 6. Wew rasanyaa setengah bahagiaamau buka puasa, berasa banget tubuh udah saatnya untuk dimasuki makanan karena kebiasa di Indo buka puasa sekitar jam 6, tapi setelah melengok ke jendela baru disadarkan kalau ternyata matahari masih sangaaattt terang benderang (masih waktu ashar). Mesti harus bersabar. Ternyata masih ada 3,5 jam lagi buka puasa. Karena belum kebiasa puasa dengan waktu yang selama itu, pas jam 8 sore, mata berkunang-kunang, badan lemes, pengennya tidur terus. Tapi, hari-hari berikutnya, akhirnya udah kebiasa. Itu kenapa, di beberapa belahan dunia umat muslim lebih memilih tidur saat siang hari karena emang siangnya lama bangeett. Tapi namanya hidup di negeri orang, ngga ada makanan indo, makanan masak sendiri, jam 6 walaupun lemes tetep masak buat buka puasa.


 2.       Buka puasa


Akhirnya setelah puasa 18 jam, buka puasa juga ! sekitar pukul 21h35 CET . Padahal ya kalo di Indo jam segitu udah selesai taraweh (bayangkan pukul 21h35 itu suasana magrib di Indo. Di Paris saat itu masih azan maghrib (azan dr lepi sih, hehe.. sedih ga pernah denger azan berkumandang selain di masjid itupun suaranya ga boleh terdengar sampe keluar). Buka puasa seadanya dengan masakan seadanya. Dan semakin mendekati Idul Fitri, entah kenapa buka puasa semakin lamaaa dan waktu sahurnya semakin cepattt, waktu isyanya semakin mendekati sahur, huhuhu….alias siangnya lebih lamaaaa lagiii.

 3.       Waktu Sholat isya dan taraweh


Nah ini dia menyesuaikan jam tidur dengan jam sholat isya.. pas bulan ramadhan isya nya jam 12 malem yang harusnya jam segitu saya sudah tidur nyenyaakkk. Yang jelas sy ngga pernah solat taraweh di masjid. Gimana bisa, tempat saya ke masjid butuh sekitar 20 menit, apalagi tengah malem, udah sepi, serem pula, bisa-bisa pulang ke apartemen udah kehabisan kereta, trus naik bis malem yg nunggunya lamaaa,  tapi yang jelas sih setauku ga ada solat taraweh bareng di masjid. Tapi untung ada temen di kamar jadi sering taraweh bareng, walaupun konsentrasi kadang hilang karena udah jam dua belassss malemmm, lupa berapa rakaat, tapi seenggaknya ada yg ingetin. Hehe. 



4.       Sahur

Kesulitan lainnya, setelah selesai solat taraweh jam 00h30 CET adalah belum masak buat sahur, kadang jam 01h30 baru selese masak, nah kalo udah selese gitu, bingung mau tidur atau lanjut sampe sahur, soalnya imsaknya jam 03h30! IMSAKKKK setengah empaattt…padahal mata udah kriyip2, kepala udah berat, kalau saya tidur, bisa2 ngga bisa bangun sahur, kalau ngga sahur, waduh … dengan lama puasa 18 jam kayanya saya ngga kuat…Bagi saya hal terberat saat puasa di Paris, saat malam hari, godaannya macam2. Pilihannya: Mau menjamak taqdim isya dan maghrib tapi ngga taraweh. ATAU tunggu sampe selesai taraweh terus tidur, tapi kawatir ga bisa bangun sahur. Dan akhirnya sih setia menunggu sampe isya yg setengah satu malem...
    Dan disaat badan dah capek, ngantuk, pengen tidur, ternyata belum ada makanan untuk sahur, alhasil ya masak dulu. Pernah juga suatu malam karena kawatir ngga bisa bangun sahur akhirnya ngga tidur, setelah solat subuh baru tidur.
    Dan rasanyaaa.. cuma batin, betapa nikmatnya puasa di negeri sendiri, sesusah-susahnya puasa jadi anak kos di indo, ternyata lebih susah puasa jadi anak kos di negeri orang. Di Indo, anak kos bakal susah cari makan sahur, tapi di paris, ngga cuma susah nyiapin masakan apa buat sahur, tapi membagi waktu solat isya, taraweh, tidur, sahur, imsak, subuh itu yang susah.  Dan akhirnya saya jadi terbiasa puasa 18 jam, yang penting:

DO :

- NIAT. Saat sebelum tidur malam sudah diniatin hendak sahur dan puasa. Minta sama Allah dibangunkan sahur, hehe.. (kalau saya permintaan sangat kecil itu sangat berguna, karena pasti selalu dibangunkan asalkan yang serius mintanya, insyallah). Karena kadang disaat saya benar-benar pengen tidurrrrr, ngga kuat melek jadinya minta doa dibangunin sahur, hehehee (atau bisa minta bangunin temen via telp, tapi ngga pernah sih, karena kalau udah capek banget mau ditelp berkali2, digedor2, ngga bakal bangun, jadi minta sama Allah, namanya juga roh kita dipegang Allah :D ). Berdoa juga semoga dikuatkan dan bisa melewatinya.

- SAHUR.Penting nih sahurr, soalnya untuk menjaga tubuh kita tetap vit. Minum susu, makan keju, roti, atau makan buah. Kalau sampe ketiduran ngga sahur, diniatkan aja dan berdoa semoga dikuatkan dan dimudahkan menjalani.

-  TIDUR. Kalau bisa, tidur ajaa.. tapi karena musim panas ga ada angin, kalau saya malah ngga bisa tidur, panas banget..kalau saya sih biasanya tidur pagi hariii.. matahari belum panas, udara masih dingin :D 

DON’T:

- mengeluarkan kata keluhan sedikitpun. Pertama-tama sering banget tuh, ngeluh “Panasnyaaa…lamanyaa..kapan bukaa puasaaa..” ternyata bener ngga kuatttt (ngga pernah batal tapi). Tapi kemudian mencoba membiasakan diri ngga mengeluh, kalaupun mau ngeluh cukup disimpan dalam hati aja. Dijamin, puasa bakal tahan 18 jam, insyallah! Bukan berarti puasa 18 jam, ngga bisa ngapa2in, bahkan saat bulan puasa sy masih bisa jalan-jalan, maen ke taman, ke danau, ke museum sampai berjam-jam. Emang lemes sih, lapar dan haus. Tapi kalau dah niat, sahur, doa dan ngga ngeluh insyallah bisa. Bahkan saya sempet ke Itali pas bulan puasa, inget banget nyampe di venesia panasssssssssss puoolll, ngalah2in paris, maklum deket laut mediterania, jadinya panass. Sampe partner, mba Nia, yang bareng ke venesia heran kok bisa tahan, padahal dia dah kehausan sampe antri di keran air minum gratis yang keliatan banget segernyaaa. Aku ya aslinya ngga tahan, panas banget, tapi ngga tau saat itu yakin aja bisa sampe buka puasa, dan masih semangat jalan. Apa karena euforiaku yang berlebihan bisa visit ke Venesia ya, membuat capek haus laparku ngga kerasa .. :D (maklum seminggu lagi harus meninggalkan eropa jadi nyempetin jalan2 hehe)

 Puasa panas2 ke Venezia




Puasa Panas2 naik gondolanya Venezia sampe itemm

 Pengalaman puasa saat musim dingin


Tapiiiii ada lagi puasa yang menurut saya lebih ga enak. Puasa pas musim dingin. Waktu itu 2 bulan setelah nyampe Paris, sy bayar puasa wajib. Waktu itu sih mikirnya, ah puasa pas musim dingin kan enak, siangnya lebih pendek. Ternyataaaa…. Nggaa enaaakkkkk… enak juga puasa pas musim panas, walaupun siangnya lebih panas. Kenapa bisa begitu???Yaiyalah, saat musim dingin harusnya tubuh kita diisi banyak asupan kalori, asupan makanan, kalau bisa makan roti, kentang, keju terus, sedangkan saat puasa, tubuh kita kosong dan ngga bisa menahan dingin. Keingat, puasa saat musim dingin, bener2 ngga tahan dingin, walaupun sudah ada pemanas ruangan, sudah pake sweater dan baju lapis 2. Tetap dingiiin! Untungnya puasa cuma beberapa hari, jadi masih tahan. 
Lah wong ngga puasa aja, pas musim dingin makan nasi 3x sehari, tubuh masih lapar kedinginan, dan butuh asupan terus. Giliran saya makan kentang, mayonais, keju, yogurt, ternyata kuat sampe makan malam. Kalau musim dingin jangan makan nasi deh, makan keju roti kentang aja, karena kalorinya besar jadi bisa menghangatkan tubuh.


saat musim dingin salju jarang turun di Paris, paling bisa diitung dengan jari kapan turunnya, tapi dinginnya ga nguatiinnn

   Dan sekarang berkesempatan Ramadhan di Indo semoga bisa menjalankan ibadah dg sebaik2nya ditengah2 pekerjaan yang ckckckckckk.....
     Semoga semua dimudahkan menjalankan ibadah puasanya dan selalu diberi keberkahan oleh Allah, amin amin amin




Read More
Yesterday sunday afternoon, I unintentionally opened my food photos reminds me how hard life was in Paris. The daily needs were too expensive and the most important was how I lived without rice and Indonesia’s spice. And u know what make I looked veryyy foolish was when my first flight across continents I’ve kept my Rice Cooker on my cabin (sure on my handbag), from Indonesia to France!!!! MDRRRRRRR!!! It surely reduced my capacity to bring other stuff, like clothes. I’d rather bring rice cooker than any clothes! I couldn’t live without eating rice. I couldn’t imagine there was no rice on my breakfast, lunch and dinner?? I'm really really addicted to eating rice because of my digestion problem. And I knew that everything was expensive there so it was impossible to buy rice cooker with limited budget of my scholarship then I’ve kept my money just for important things.

I’ve arrived safely with some jetlag I thought. I’ve got headache. It was a long-haul trip (15hours by bus from Solo to Jakarta then continued by plane about 18 hours from Jakarta to Paris). I could hardly feel how Paris was in first time I’ve set my foot there. It was autumn at 8 or 15° C I guess. I could barely remember my first lunch because of my headache and jetlag. But when I saw these photos, I remember my menus in first weeks. I took my breakfast/lunch happily because of rice!!! The next day I ate egg, vegetables and Serondeng thanks to my friend bringing its Indonesian speciality. How I said many many thanks to God just because of this.



A few days later, I’ve tried to buy Nasi Goreng, rice cooked in oil and some spices, but Nasi Goreng I bought was totally different. OK. But at least I ate RICE however different the taste.







This was a breakfast when I stayed for few days in Ibis Paris (free from Campus France). I was speechless of this menu. NO RICE! But yeah this menu surprisingly made my stomach survive until at noon.
When I got settled enough in Paris and got some stuffs from my seniors, my sisters, all Indonesian people that gave me many many ‘precious stuff’, like a spoon, fork, plate, glass, or other stuffs. It was so useful. Que Dieu vos benisse tous. Amin.

I used to cooking most of my breakfast and dinner. How lucky I was, there was a free market near my apartment in where the vendors were most Arabians. There was luckily also a shop ‘Alimentation générale’ that sells rice, couscous, some spices, oil, and others.




Place d’Aligre, the cheapest free market in Paris

Potato, paprika, bean, avocado, carrots, garlic, onions were the most important vegetables I had to buy. This was very simply Indonesian menu, except paprika. I’ve cooked soup and Nasi Goreng for many times, because I had no idea about what I wanna cook. Don’t ask how the taste! Soup was not really Indonesian taste, because of not having enough spices. Hahahaaa.




For the first month, I didn’t buy meat or chicken but sardine. Poor me! But I enjoyed it.
Thanks to my ex-roommate, Bulan, a creative woman I’d ever know about her ideas for cooking everything being possible to combine, for another time in your support, strength, and optimism. And I’m happy for you that you are working in ministry now. You deserve to get all of this because of your efforts and patience when you were in Paris. Thanks to be my partner. I miss all the crazy moments we did together. Haha. I knew when u came into my Rue de Cîteaux’s room; it would become “inoubliable moments”. Ihiyyy..
Well, we go back. Because of her, I had more ideas to cook any menus. Then I’ve cooked a combined soup with paprika, broccoli, chou fleur (cabbage), etc.



When my expenses were not too over, I bought a meat and chicken. Thanks God. When I missed my mother food, I’ve cooked Oseng-Oseng with oil, meat and bean. If I have no idea, I just combined all of vegetables I had in my frigo.














I’ve saved my money then I could cook many special Indonesian foods, like Gongso (similar to oseng-oseng but different spice and vegetables), Perkedel kentang, sop ayam (indonesian chicken soup), keripik kentang pedas (spicy potato), lalapan (fried chicken and salade) and others (fu yung hai, salad, omelette, etc)

Because of reconstruction of my apartment, then I had to move to other Résidence Universitaire in Ourcq. As a request from Bulan to cook Nasi Kuning after moving to new room and for my birthday in March, then I’ve cooked the most special food, Nasi Kuning (yellow rice made by tumeric/ saffron) and other foods (sambel kentang, mie goreng, sayur oseng, bakwan, ayam dan telur).  Voilà!!!



As the day passed, the scholarship was too late; CAF was too difficult to get immediately. I’ve applied some jobs, but I’ve forgotten I lived in secular country; it was difficult to get job with hijab.  I’ve got financial problem. It was lately two months of paying the apartment. My parents had no idea how to fix it. Then I tried to go to Social Service in my university. With all of my efforts to explain to them in French (absolutely difficult) that I got financial problem, they didn’t want to help.  But I tried to explain unceasingly. And I did it. They would help me. They explained that I had to wait a confirmation. Ok. C’est la vie difficile à ce moment là.

Two weeks later, I’ve got a call from Social Service that I got a commission. Thanks Allah. When I was there, they gave me like voucher to eat in restaurant universitaire , free of charge of 60 Euros and also cash commission in few days later.

Ok, I think we should forget how finally I’ve payed the apartment. but I never forget all of your gentillesse and kindness my friends, I thanks you all guys. Que Dieu vos benisse tous. Amin.

La vie était très dure quand même.

We back!! Just focused on this alimentation :D

This was menus in restaurant universitaire. I loved Ratatouille (eggplant, tomato, paprika mixed with sauce) and pastry so delicious. I’ve never eat ratatouille in French restaurant.







For us, Indonesian, we have no appétit to taste such menus. But if you try to eat them, you may love them. And I’m guarantee if you have lunch with these menus, you won’t be hungry until dinner time especially in winter.

I’ve tried to eat rice on winter, you know I ate four times a day and bread/sandwich. When I had lunch with this menu, I just ate three times a day without bread/sandwich. That’s why I’ve gained my weight 3 kilos on winter.

In French style, we could eat salad, entrée, plat, dessert, so we couldn’t be hungry until dinner :D


 

The beautiful views of university restaurants I love are in my university with modern view (left bottom) and Sorbonne area with old buildings view (right).

you may also wonder why I was so obsessed capturing these foods always. Some researches showed that there may be a mental illness of the people taking photograph the foods before eating. I didn't find the relation of it. This was just to reminds me how difficult to cook my daily foods in different country.
Read More

Cuek

sebuah perasaan yg aneh ketika tiba di negara lain dan kaget dengan budayanya.
Semenjak tiba di Paris,mungkin yg masih dirasakan sebuah euforia yang mengalahkan perbedaan budaya di Prancis dengan indonesia.

sedikit lupa sih gimana awal dulu pertama tiba di perancis bagaimana kagetnya budaya disana.
tapi yang kuingat kalo mau ngurus administrasi dll kalau mereka bilang ngga ya ngga.
udah gitu,mereka cuek, 



bayangkan kalo d indo saat d terminal atau stasiun bertanya 'mau kemana mba'?naik kereta apa' adalah hal yg biasa karena keramahtamahan orang indo, tapi di perancis, jangan coba2 menjadi ramah bgitu,yg ada diplengosin dan pergi,kenapa emang ? bisa-bisa dikira kita ingin berbuat kejahatan dengan orang itu.

Setelah 6 bulan tinggal disana, hal itu benar-benar kurasakan. Ketika itu aku sedang menunggu bus,sekitar 10 menit lagi, tapi bagiku saat itu sangat lamaaaa,tapi yaudah demi naik bus yang lebih dekat turun depan rumah karena bawaan belanjaan banyak banget,

kalo naik metro selain harus jalan dulu ke stasiunx, banyak banget tangganya. Terus di halte itu, ada seorang ibu-ibu mengamatiku dari atas sampe bawah, terang aja risih banget, tapi pura-pura aja cuek, trus aku sesekali lihat rute bus dipapan halte, untuk memastikan aku ngga salah ambil bus. Melihat aku bolak balik lihat papan rute bus, ibunya tiba2 negur aku, ''mau kemana?'' terus terang kaget, jarang banget orang paris nanya begitu, yang ada dipikiran saat itu, orang ini orang baik2 atau jahat ya, tapi karena ngeliat ibunya berjilbab, dalam hati jadi tenang, insyallah orangnya baik, ternyata benar, setelah ngasih tau tujuanku,malah ditunjukkin detail banget, harus turun di halte mana, padahal sebelumnya udah nentuin mau turun di halte mana, akhirnya turun seperti yang disarankan ibux. Tak lupa mengucapkan Merci sebagai ucapan terimakasih atas jasa orangnya.

Kalo masalah cuek, kalau udah lama disana, agaknya sedikit terpengaruh dengan budaya sana. Suatu ketika, aku ke Belanda, betapa mudahnya melihat orang tersenyum disana, bahkan ketika kita nyebrang, orang didalam mobil pun masih bisa tersenyum. Pas disenyumin sayangnya wajahku cuek banget. Terus ketika seorang kakek salah posisi me-scan kartu transportnya di bus den haag, dan melihat aku berhasil, kakek itu tersenyum seolah mengatakan 'oohh begituu!', aku cuma melengos terus pergi ninggalin tu kakek seolah-olah nunjukin wajah 'capekdehh'. Pas duduk baru kerasa kalo ternyata aku cuek banget, kaya' Parisienne. Hahaha.



Ucapan Merci

Satu hal yang membuat saya suka orang sana adalah seringnya mereka mengucapkan Merci. Sekecil apapun jasa orang itu pasti mengucapkan terimakasih. Seperti memberi jalan di eskalator, di metro, membukakan pintu keluar di stasiun metro, menahan pintu masuk utama apartemen tetap terbuka saat dibelakang kita masih ada yang ingin masuk, menunggu orang untuk masuk lift. Setibanya disana, memang agak aneh hal2 yang sangat kecil harus mengucapkan terimakasih, tapi mau ngga mau ya harus saya ikuti.



Dan akhirnya menjadi gampang bagiku untuk mengatakan Merci disana. Setelah balik dari indo, sepertinya agak aneh kalau hal2 seperti itu diterapin. Contihnya saat ke bioskop 21, seorang satpam membuka pintu bioskop 21 trus aku bilang makasih, masnya sumringah banget, ngga tau kenapa, aku juga merasa aneh ngomong 'makasih' panjang bgt dibanding Merci :D dan setiap keluar masuk bioskopx aku selalu bilang seperti itu. Ngga salah sih, tp setelah lihat orang lain dibelakangku tidak mengucapkan seperti itu. Baru sadar keadaan udah berbeda.


Pardon! Excusez-moi! Maaf!

Selain merci, orang sana juga ngga segan untuk mengatakan pardon. Misalnya saja ngga sengaja nginjak kaki orang di transport umum, atau mau nglewati padatnya orang di transport umum maka kita cukup bilang Pardon atau Excusez-moi. Kalo di indo, kaki keinjak aja, syukur2 tu orang sadar ngeliat ke arah kaki kalo dia habis nginjak orang. Kalo ngga sadar tu, ya paling minta maafnya pake telepati.



Au Revoir!


Ini dia kata yang juga sering diucapkan orang sana saat berpisah. Misal kita ke bank setelah selesai dengan CS bank kita lazimnya disana mengucapkan Merci Au revoir! (terimakasih, sampai jumpa), kalau di Indo paling mentok ya bilang Makasih ya mba... masak mau bilang "Makasih ya mbak, sampai jumpa lagi.." yang ada bisa diketawain. Jadinya sampe sana ya harus seringnya ngucapin kata itu saat berpisah, mau kita sebel sama orang sana mau ngga, ya kudunya ngucapin kata itu.

Malah banyak sekali ucapan perpisahan, seperti à bientôt, à toute à l'heure, à demain, à plus, salut, etc. dan itu juga tergantung dari jangka waktu kita bertemu lagi.

à demain ucapan perpisahan tapi besok ketemu lagi.

Au revoir itu kita ngga tau kapan bertemu.

A bientôt segera akan bertemu

à toute à l'heure itu akan bertemu lagi dalam waktu sangat singkat, misal 1 jam lagi ketemu lagi.
bahkan orang sana sudah dilatih dari kecil mengucapkan kata itu, pernah suatu ketika melewati toko kue dan ada ibu dan anaknya selesai membeli kue, terus sang ibu berkata "ayo gimana bilang sama madame nya?bilang merci au revoir madame" kata sang ibu kepada anaknya agar diikuti sang anak, akhirnya anakx ngikutin.



Ngasih jalan saat di eskalator

hadeuhh agak aneh dehh ditegur sama orang-orang di eskalator. Saat itu aku naik eskalator yang untungnya ngga begitu ramai, dan aku berdiri di sebelah kiri, dari belakang tiba-tiba orang melewatiku dan berkata ''Pardon'' (maaf) terus lewat di sebelah kiriku, dan itu berulang berkali-kali tiap naik eskalator. Baru setelah itu ku perhatikan, ternyata di eskalator juga punya jalur sendiri-sendiri. Sebelah kiri untuk mendahului, hehe. Jadi kalau ngga mau jalan cepat, ya di sebelah kanan aja, jangan sampe nghalangin jalur cepat di sebelah kiri, hehe. Soalnya pernah ngalami, gara-gara satu orang di lajur kiri berhenti akhirnya ngga bisa gerak, jadi satu baris ke belakang pada ngomel-ngomel. Termasuk saya yang ada di barisan itu. Ya sebel juga sih, jadi ngga bisa cepat2, hehe. Itulah kenapa kecepatan jalan pas di Paris meningkat. Hehe.


Bergaul

nah ini dia, problem yang bener-bener kerasa bedanya. Menjadi bagian dari mereka yang bukan budaya kita cukuplah susah untuk beradaptasi. Setiap orang punya karakteristik yang berbeda-beda mgkn dimana2 hampir sama, ada yang baikkk, ada yang ramaahh bangeett, ada yang cuekkk ampun-ampun, ada yang keliatannya serem tapi dia helpful banget, ada yang resek, ngeremehin, beda2 deh. Mungkin yang bikin susah itu ya bahasanya. Mau dipelototin sampe keluar bola mata, kalo yang dipake bahasa gaulx anak muda sana, ya tetep ngga paham.
Kuliahku ada di 2 kampus,dan mahasiswanya pun beda-beda, dikampus A sekelas sekitar 30an orang, di kampus B sekitar 15 orang emang kebanyakan juga ikut kuliah di kampus A. Nah emang agak susah bergaul ke 30orang itu. tapi bagiku berteman dengan orang dr bretagne,normandie dan selatan prancis itu menyenangkan, orangnya ramah-ramah. Kalau aku sih, kalau orangnya cuek ngga bisa diajak berteman, yaudah, masih ada yang lainnn. Dunia belum berakhir kok kalo dicuekin, hehe.

Cipika cipiki


ni dia budaya sana banget, tapi ngga aku banget.. salam perpisahan dengan teman biasanya pake cipika cipiki itu menandakan satu kedekatan dengan teman. Terkadang bisa menghindari cipika cipiki dengan lawan jenis, karena mereka paham saya berjilbab, tapi kadang bagi teman yang ngga paham, mereka tetap saja melakukan cipika cipiki, yang membuat saya pun kaget. Jadi saya lebih baik menghindar, dan kalopun ingin berpisah, menunjukkan gelagat kalo saya ngga cipika cipiki. Ngga cuma orang prancis, orang indo yang udah lama tinggal disana pun sudah tidak biasa melakukan hal itu, seperti halnya kita kalo melihat acara-acara di tv, artis-artis yang melakukan cipika cipiki dengan lawan jenis.
Read More
Kali ini lagi termenung ngerjain thesis..
dan ternyata pikiran melayang ke Eropa... Paris tepatnya..
Ternyata aku merindukannya..
walau bagaimanapun sekulernya negara itu..
bagaimana caranya mereka menghalang-halangi (secara ngga langsung) umat Islam untuk beribadah..
ngga ada tempat ibadah (ada sih tp cuma 4 atau 5 masjid di paris), ngga ada azan (kecuali didalam masjid dan ngga boleh suaranya sampe terdengar keluar), kerja ngga boleh berjilbab, administrasi kadang diminta foto yang ngga berjilbab (pfiuh...kenangan buruk)
saking netralnya mereka dengan permasalahan agama.
padahal salah satu motto negara itu ya Liberté artinya kebebasan, tapi ngga ada sih kebebasan kita untuk berjilbab saat bekerja, untuk mengumandangkan azan, solat, administrasi, dll dah...

walaupun begitu, banyak yang membuatku kangen
kangen disapa "bonjour" sama orang2 di apartemen
kangen ngeliat wajah mereka yang cuek2, 
kangen ngedenger mereka ngomong "Pardon, Excusez-moi" saat di Métro pas lewati orang,
kangen ngejar2 métro yang hampir menutup pintu keretanya, dan was2 kawatir kalo kejepit, padahal tiap 3 menit métro selalu ada
kangen dengerin musik akordion yang biasa dimainkan pengamen di stasiun métro,
kangen bangeeet dengerin mereka ngomong bahasa itu dengan seksinya,
kangen dengerin mereka mengumpat "Merde" dan "Putain"
kangen disapa temen "ça va toi?"
kangen mengucap "au revoir, à bientôt, à demain, à toute à l'heure" sama temen
kangen roti kerasnya "baguette" yang enak banget kalo diisi keju, salad, tomat, ikan tuna, saos dan mayonais
kangen ke pasar orang arab yang selalu menyapaku dengan ucapan "Assalamualaikum," dan kadang dilanjut "vous venez dans quel pays?" (kamu berasal dari negara mana) dan kemudian melanjutkan obrolan ringan lainnya 
kangen banget bisa jalan cepet diantara orang-orang perancis berlalu lalang
kangen nyebrang jalan pas detik2 pertama lampu hijau mobil mulai nyala
kangen dempet2an di métro walo resiko ada copet
kangen bangeet internet yang super cepeettt

Pokoknya kangen Paris..
Un jour, je serai là encore avec mon mari, amin !! (suatu saat, saya akan disana lagi dengan suamiku, amin) 
Read More
Samarinda,
12 Maret 1989

24 tahun lalu di kota itu,
sujud syukurku pada Allah SWT, memberikan kado terindah di umur yang ke 24,
dan merayakannya.. disini.. walo tanpa ayah, ibu, adik, maupun pacar..
dan tanpa kue tart..

Paris,
12 Maret 2013

Masih mengira ini mimpi, tapi... plok plok plookk #tamparwajah it's not a dream !

terbangun di pagi hari, sholat, dan berdoa, berucap syukur bahwa aku masih diberi umur, kesehatan, dan kekuatan untuk hidup di negara yang membuat hati "naik turun", alhamdulillah.. it will be ok, mec ! :)

menengok ke jendela, ternyata salju turun lagi di paris !!
jarang banget salju turun, dari 3 bulan musim dingin, paling cuma 2 kali turun salju, itupun cuma 1 atau 2 hari,
tapi yang dirasa adalah "la neige tombe au 12 mars" salju turun di 12 maret!

Tiba-tiba ada sms,
ternyata ajakan seorang kawan mengunjungi Eiffel saat salju turun, 
finally, cuma sikat gigi, cuci muka, makan bentar, pake t-shirt, sweeter,mantel panjang, kaos tangan dan syal, terus berangkat.

Keluar residence, bener2 putih bersiih salju itu, 
tapi sekali manusia menginjaknya, salju tidak lagi terlihat putih dan bersih.
Dan lagi, harus berjalan pelan2 kalo ngga mau kepeleset.

Sesampainya di Eiffel,
yang biasanya banyak turis, ini cuma beberapa saja, ada Bus tourist sih. Kebayang deh kalo jadi turis datang ke eiffel saat salju itu sayang banget.
Suhu saat itu - 2°C.
Badanku masih tahan dingin, tapi tangan dan kaki sudah kedinginan.


Gaya nge-rock !!! :D


Happy B'day Lita :)


Salju membuat kamera berembun -___-






Carrousel ala Paris, près de la tour Eiffel !



Grand Merci, Allah ... :)
Efek diluar saat salju itu :
jari2 kaki dan tangan beku, susah digerakkan, padahal udah pake sarung tangan, kalo untuk kaki, karena airnya masuk ke jari kaki, jadinya dingin buangett !
kerasa mau pingsan deh.
Pulang2nya segera di siram pake air pancuran yang hangat, tapiii... setelah itu gatal2, ngga tau kenapaa.. kaget kali dari dingin ke panas, kaki merah2, telapak tangan merah2 juga.
Tapi, nggak apa2 laah.. namanya juga baru sekali main salju2an :D
Read More
Hadeuhh.. emang ya slogan "Kalo bisa dibuat susah, ngapain di permudah" itu kerasaaa banget dah disini. Semua pengurusan administrasi, ribeeettt buangeeett -___-

Berawal gara2 residence ku yang lama mau ada travaux (pekerjaan perbaikan/rehab) bangunannya, jadi semua penghuninya harus disuruh pindah, dan semua yang di residence universitaire Crous Cîteaux harus di pindah ke Crous Ourcq. Pertama liat lokasinya di mana, byoohh, au bout du monde (ujung dunia) banget dah. Mepet pinggiran kota paris sih. Dan lagi itu termasuk Arrondissement (seperti kecamatan dalam suatu kota tapi dipimpin walikota) 19 yang notabene kebanyakan orang migran nya dan terkenal kriminalitas cukup tinggi.

Setelah ujian selesai, besoknya mulai ngurus ke admin di residence yang lama, terus dikasih attestation de loyer  (surat keterangan udah bayar bulanan).

Jadi, aku harus ke Crous Paris sebagai institusi publik dibawah menteri pendidikan perancis untuk membantu mahasiswa, termasuk mahasiswa asing, untuk studi di Perancis, dari membuka restaurant untuk mahasiswa, kegiatan kebudayaa, mencari pekerjaan sampingan, dan yang paling penting ini -- mengurusi tempat tinggal (logement). Dan hari itu juga aku ke Crous Pusat nya Paris, disana suruh nunjukin surat keterangan beasiswa dari Campus France namanya Attestation de Bourse, kalo misal ngga ada itu, pihak Crous ngga mau melayani. Setelah aku nunjukin surat itu, akhirnya aku diajak ke Madame yang bagian ngurusin logement. 

Setelah ngutarain maksudku mau laporan pindahan, diminta attestation de loyer dan attestation de bourse, baru deh Madame nya ngetik2 di komputer (mungkin database gitu) trus nyatet2, ga ngerti apaan, trus ditawarin kalo di Crous Ourcq yang baru ini harganya 427 euro per bulan dan garatie (uang jaminan kalo nyewa kamar, dan nanti dibalikin kalo kluar) 200 euro. 
"Quoi???"
(Apaa??) ekspresi yang kaget. Ya jelaslah seharga segitu, setengah dari beasiswa ku boowwk ! 
Trus aku tanya, "emang ngga ada yang paling murah Madame ??"
trus kata Madame nya kalo di tempat tinggalku yang lama itu yang paling murah di paris. 
Iya sih sebulan cuma 234euro yang chambre (semua fasilitas kecuali kamar mandi karena harus bareng2). Itupun dapat bantuan CAF jadi sebulan aku cuma bayar sekitar 120 euro. Muraah :D (Nb: kalo dapat CAF loh yah, soalx ngedapetinnya pun harus nunggu sampe 3 bulan, ckckckck )

Trus aku masih ngetet dunk, "emang di residence lain ngga ada yang lebih murah dari Ourcq, Madame??" (karena ada temen di residence lain, bisa lebih murah dengan fasilitas yang sama).
Si Madame bilang "kalo itu udah aturan, jadi semua yang di Cîteaux harus dipindah ke Ourcq". (bilang aja ga mau repot ya madame??)
Hufff... Ngga bisa jawab lagi daah kalo dah dikasih alasan "Aturan".
Aku bilang, "tapi segitu bagi saya udah mahal madame"
Madame nya bilang "ya terserah kamu, mau terima atau ngga?"
oh là là,, itu namanya pemaksaan.
Hmm... tapi yawuda deh, daripada harus rempong nyari tempat tinggal di paris, akhirnya dengan sangat pasrah dan terpaksa "yawuda deh madame, j'accèpte (aku terima)" dengan wajah melas tentunya. Yah kebayang deh makin ngirit2 aja buat makan nii, padahal selalu tergoda ama cemilan disini.
Trus madame bilang kalo tgl 1 aku harus bayar residence ourcq yang baru.

terus ke admin di residence yang lama, bilang kalo aku udah ke crous paris, dan ternyata gw di marah2in kalo aku harus ke crous ourcq, nah looh, padahal si madame sblumx bilang aku ke residence yang baru buat bayarnya mulai tgl 1. Akhirnyaa, aku ke crous ourcq, sampe sana untung ngga antri, setelah aku ngisi2 form2 gitu, aku harus balik lagi buat ngelengkapin berkas, dan bayar logement plus garantie-nya.
List yang harus dibutuhkan :
- Attestation de bourse
- Certificat de scolarité (seperti surat keterangan aktif jadi mahasiswa)
- RIB (no rekening kita) yang biasanya harus di prin dari website bank dg akun kita atau minta ke bank
- Pièce d'identité (identitas kita, aku pake paspor sih)
- Assurance d'habitation dan Assurance civile (asuransi tempat tinggal,ini minta ke bank, dan aku harus ganti assurance yang udah aku punya dengan alamat yang baru)

Alhasil karena aku kurang assurance d'habitation dengan alamat yang baru, akhirnya baru bisa besok ke bank deh. 
Besoknya..
ternyata kata bank nya, hari senin baru bisa di ambil (padahal aku kesana hari rabu) -__-
Akhirnya menunggu dengan sangat lama deehh..
Hari minggu aku udah mulai beres2 baju sih, pas hari senin, aku tinggal ambil assurance d'habitation ke bank trus ke crous ourcq, itupun pake rempong dulu dah pokoknya, ngantri disalip2 orang, walopun si orang lain merasa bersalah, aku malas aja dah. Udah tau adminnya rempong, lama, ngelayani orang yg nelpon, pake disalip segala pula. Hmmm.. Kalo aku ga ngijinin, pasti dibilangin "C'est pas gentille" (bukan orang baik) --males kan..

Setelah giliran aku, trus ngasi semua dokumen yang dibutuhkan, dengan wajah males. Apalagi yang petugas yang satu ini, agak kurang paham apa ya, bingung sendiri ngurus berkas2nya, surat2nya dibaca satu2, oh là là... repot daah... Apalagi mau bayar, udah aku bilang aku blm bayar loyer, masih aja repot nanya temennya aku udah bayar atau belum... Grrrrr..
Setelah bayar, akhirnya dapat kunci, 3 biji : kunci depan pake sensor, kunci kamar, dan kunci loker.
Setelah itu pake tanda tangan sebagai tanda terima kalo aku udah nerima kuncinya dengan kalimat2 persis seperti apa yg adminnya katakan. Dia bilang "tolong tulis disini 'trois clés réçus le 3 mars 2013'"

Setelah itu, balik lah ke residence yang lama untuk angkut2 barang, dibantu dengan Bulan dan Mba Ulfa, merrciii bcp mes chères amies :* :* :*
Udah ngotong2 bolak balik 2 kali, dengan 2 koper besar, tas ransel dan tas jinjing, bawa ember, sampe isi tas yang salade nya keliatan dan diliatin orang dg cekikikan. Ahh Je m'en fous banget laah (I don't care).
Akhirnya nyampe juga di kamar yang baru, beres2.

dan besoknya ke residence yang lama buat état de lieu (pengkondisian tempat) artinya pada saat keluar kondisi kamar harus sama kaya saat masuk. Makanya saat masuk pertama dikasih kertas isi nya semua list yang ada di kamar itu, seperti jenis lantai dan kondisinya, meja, lemari, tempat tidur, pemanas, dapur, selimut, bantal etc. Dan saat keluar, dicek sama petugas kebersihan. Ada beberapa temen malah disuruh bersihin lagi, karena harus bener2 bersih saat ditinggal, syukurnya sih aku ngga ada.

Dan sekarang aku harus ngelengkapi list di kamar yang baru.. Biasanya kalo ada barang yang rusak, nanti dipotong dari garantie nya. 





amar yang lama yg cuma tipe chambre, ngga ada kamar mandi;











kamar yang baru tipe studio lebih lengkap dengan kamar mandi

Habis ini masih ngurus CAF biar dapet potongan tempat tinggal, moga dapat caf yaa.. amiin :D
Read More
Hey hey hey ...
Ini dia yang ditunggu2, membuat aku selalu kepikiran. Ujian tulis pertama di eropa, Perancis, mending ya pake bahasa inggris, ini pake bahasa perancis, ngga yakin deh si dosen ngerti tulisanku :'(

Belajar dari beberapa hari, baca2 catatan temen, sampe nemu ujian tahun sebelumnya yang dikasih temenku, yeay ! pas liat soalx, bingung mau jawab apa, hahaa !

Akhirnya, aku baca sampe habis tu catatan temen, terus baca catatanku yang acak kadut ! Karena kuliahnya tentang pengembangan pertanian, jadinya banyak kata2 yang ngga aku paham, terpaksa di catet di kertas kosong, mulai dari verbe, nom, adjective. Dan setiap catatan temen, aku cuma ngerangkum tentang pengembangan pertanian terutama tentang revolusi pertanian di berbagai negara, soalnya kuliahnya detail banget sampe rotasi tanaman, irigasi, kalender tanam, dll. dan aku ngga ada kapasitas untuk itu -____-
Setidaknya aku paham (sedikiiittt) tentang perubahan perkembangan pertanian di negara perancis, inggris, ukraina, senegal, vietnam, amerika, meksiko, dll, hehehe..

Besoknya, pas ujian, temen2ku donk, bawa catatan mereka yang setebel kamus prancis indo nya Winarsih en Farida, gilaakk ! trus aku tanya:
kamu sempet baca semua catatanmu ?? 
temenku jawab :
ngga ! -___-
terus pas ujian boleh liat catatan ngga ?? 
harusnya sih boleh, tapi ngga tau, kita liat aja nanti ! tenang aja, yang penting itu ini (sambil nunjuk otaknya)

kalo dia bilang gitu, berarti ujiannya bukan plek sama catatan, tapi lebih analisis. 

Duduknya pun mereka udah ngerti sendiri, ngga diatur2 mau deket siapa, ngga pake rebutan mau di belakang atau depan, pokoknya duduk aja, dan diatur jaraknya pula, jadi ngga ada yang duduk dempet2, yang biasanya bertiga jadi cuma berdua, biar ada jarak. Dan aku pilih duduk paling belakang, paling atas, soalxnya modenya kaya amphi teathre gt. Paling enak bisa ngeliatin cara mereka ujian juga :D
kalo nyontek mah ngga bisa, lagian tulisan mereka juga susah dibacaaaa !

Pas soal udah dibagiin, ternyataaa soalx mirip dengan tahun sebelumnya, antara senang atau ngga. Senangnya setidaknya aku udah nyiapin jawaban walau hanya beberapa poin. Ngga senangnya karena bingung memulai darimana.

Ngeliat temen.....
karena ujiannya cuma dua soal dan itupun pilihan, mau sintesis atau komentar teks, dan aku pilih sintesis, kalo pilih yang komentar, bisa2 ngga selese baca teks nya doank. Dan syukurnya bisa buka catatan, salahnya aku cuma bawa catatanku yg sedikiiiiitttt bisa diandalkan. Ya sudahlah.
Akhirnya mulai lah aku ngerjain jawabannya.
................
................
................
terus ngeliat mereka ada yang maju, kirain mau ngumpulin kerjaan; ternyataaaa nambah kertaaassss !! pas liat temen didepan dia nulis lembar yang ketiga. Waktu kurang setengah jam lagi, ternyata ada yang udah 4 lembar, ya ampuuunn mereka ngejelasin apaan sih ??? sampe bingung.
Sedangkan aku, cuma 1,5 lembar donkkk, itupun udah kehabisan kata2 mau ngejelasin apaan/
Akhirnya yaudah deeh, aku kumpul ajaahh !!!
Oh ujian di eropaaa !
Read More
Ternyata bersama mereka itu hanya sebentaarr,, 6 bulan bagiku belum cukup untuk mengenal mereka dan dekat atau bercandaan dengan mereka, walaupun 6 bulan itu juga ada becanda sih, tapi kalo dibanding di indo, aku sering banget ketawa2 bareng temen, kalo disini ngga ngerti karakteristik mereka.

Pertama kali masuk kelas, jelas ya, harus ontime ! padahal kalo di indo suka telat ni masuknya, hihihi.. terus pilih tempat duduk di depan dunk, kelas masih sepi, belum ada orang ternyata, ya iyalah masih sepi, kuliah dimulai jam 9 sedangkan aku dateng setengah 9, rajin kaaan :D
Sedikit demi sedikit mereka pada datang, seperti biasa, karena orang indo itu sama orang baru ngga bisa kalo ngga senyum, jadinya aku senyum, dan mereka selalu menyapa dengan sapaan yang selalu diucapkan kalo bertemu seseorang. Bonjour ! aku juga menyapanya dengan Bonjour !
Aku memberanikan diri untuk kenalan, namanya Lola, terus tanya-tanya tentang kuliah selama seminggu dan tanya berapa mahasiswanya. Soalnya aku baru tau, kalau perkuliahan di Agro itu udah dimulai seminggu sebelumnya. Dan dia berbaik hati menawariku catatannya. Merci Lola ! :)

Ngga cuma dia, yang jelas aku memberanikan diri lagi kenalan sama Claire, Camille dan Pauline. Tiga teman yang selalu bersama-sama, dan aku berusaha untuk selalu bergabung ama mereka, walau kadang ngga ngerti mereka ngomongin apaan -__- tp ça va :D
aku juga pinjem catatan pauline, eh inget pas nyatet dirumah, ngga tau kok kena air, bsokx pas mau balikin, ditegur hrus hati2, -____- pardon !

Hari-hari berlalu, akhirnya kenal juga sama kaum2 adam di kelas, itupun gara2 pas makan di kantin kampus mereka ngajak aku makan bareng. Terus disini juga suka banget ama soirée, acara kumpul2 di rumah seseorang dan tiap orang bawa makanan sendiri2 terus dimakan bareng. Yah biasa lah, di soirée aku juga ajang mengenali mereka. Agak kurang nyaman sih, soalnya ngga ngerti mereka ngomong apa, lagi ngebahas apa, bahasa sehari2nya susah dimengerti, dan banyak kata yang aku ngga ngerti. Akhirnya nyari aman lah, deketin temen yang udah aku kenal, seperti Angelyke, yang aku kenal di kampus Nanterre, Pauline, Camille, dan Claire. Selebihnya kenalan sama Sybile dan Gemma.

Ngga cuma mereka, akhirnya aku kenal Zab yang tiba2 negur aku, terus cerita kalo dia punya teman coloc (colocataire=teman sekamar) bernama Mémé yang pernah ke indonesia penelitian selama 6 bulan, akhirnya aku diajak dia untuk kenalan dengan Mémé, dan dia cerita macam2 waktu dia di indo.

Nggak cuma soirée, ada juga acara pique-nique. Pas kuliah, tiba2 disodorin kertas isinya nama, dan pilih salé atau sucre,, nah loh, aku ngga ngerti itu apaan, akhirnya aku ngga ngisi dulu. Pas istirahat, aku tanya temen, ternyata itu pique-nique habis kuliah, makan bareng didepan kelas, seperti soirée tapi dalam waktu singkat. Kita disuruh pilih makanan yang akan dibawa mau salé (makanan yang asin) atau yang sucre (makanan yang manis). Oh gitu,, akhirnya pada saat pique nique aku bawa pisang goreng doonk. Nah itu ada di cerita Kisah Pisang Goreng. Ini dia pique-nique nya :)





















Dan ngga terasa, 6 bulan berlalu dan ada soirée lagi, bedanya soirée yang terakhir, mereka langsung menyerbu makanan yang aku bawa, pada seneng soalnya :D
temenku bernama Michael memujiku "Tous ce que tu fais sont bons !" artinya semua yang kamu buat itu enak ! Hahaha .. merci michael ! padahal kalo di indo, pasti itu ngga ada rasanya :D

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower