Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Perempuan Berumah Tangga dan Pengembangan Kemampuan

Kehidupan ibu-ibu berumah tangga itu identik sekali dengan stereotype dapur, sumur dan kasur. Seolah stereotype itu begitu melekat pada perempuan yang sudah menikah yang hanya untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Well, sebagai seseorang yang lahir di era milenial yaitu abad 20, stereotype itu cukup mengganggu diriku. Aku nggak mau kehidupanku sebagai ibu rumah tangga hanya berputar pada tiga hal itu. Aku ingin ada hal lain yang harus aku kembangkan di era teknologi 4.0 ini.

 

Tujuannya tak lain adalah mengasah otakku sendiri. Sepertinya stereotype itu hanya terjadi pada perempuan jaman dulu. Sekarang, sudah banyak perempuan berumah tangga yang juga berkontribusi bagi kehidupan masyarakat luas, misalnya bekerja atau sekedar menyalurkan hobi.

Literasi Digital
Literasi Digital


Bekerja pun saat ini bisa dilakukan di kantor maupun di rumah. Yah, meski status orang bekerja kantoran dan dikerjakan di rumah (Work From Home), mereka punya high prestige-lah dibanding di rumah. Eh, benar tidak? Sebenarnya tidak juga. Toh sekarang semua juga tahu kalau bekerja bisa dari rumah gara-gara pandemi Covid-19. Baik yang punya status pegawai kantor ataupun freelance. Toh, semua sama-sama bisa menghasilkan.


Rasanya ibu rumah tangga saat ini memang harus dituntut mengikuti perkembangan jaman, mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan zaman. Eh, zaman yang gimana? Yah, zaman yang erat kaitannya dengan era teknologi 4.0 dimana teknologi sudah cukup maju, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak terpisahkan. 


Perempuan berumah tangga (yang tidak bekerja sebagai pegawai kantoran) harus mampu memberi nutrisi pada otaknya dan mengasahnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya mencari ilmu pengetahuan melalui artikel di internet, mengikuti webinar-webinar, ataupun berkontribusi memberi pengetahuan kepada khalayak umum seperti menulis di media online ataupun memanfaatkan media digital.


Kemampuan berpikir kritis bisa terasah dan memiliki kepercayaan diri kalau seorang perempuan berumah tangga terus mengembangkan pengetahuannya dengan mengikuti berita secara digital ataupun online dan memanfaatkan teknologi saat ini. 


Apalagi saat ini digaungkan literasi digital sebagai upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Eh, perlu sekali kan seorang perempuan berumah tangga yang bukan berstatus pegawai kantor melaksanakan literasi digital. Dan literasi digital memang untuk semua kalangan sih. Sebenarnya lingkup literasi digital itu apa aja?


Apa itu Literasi Digital?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Sebutan lain literasi adalah aksara. Jadi sebenarnya literasi tidak memiliki arti sempit yang memiliki lingkup membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan lain untuk mengolah informasi atau pengetahuan. Literasi ini biasanya digabungkan dengan bidang kemampuan lain seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi komputer, literasi sains, literasi internet, literasi finansial, dan sederet penggabungan kata lain.


Sedangkan arti dari literasi digital, menurut seorang penulis dari buku yang berjudul digital literacy yang diterbitkan pada tahun 1997, adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Belshaw menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan, alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi.


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adanya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namanya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi.


Jadi literasi digital itu sangat luas lingkupnya. Memanfaatkan literasi digital itu berarti membaca informasi secara digital melalui perangkat komputer atau ponsel, menggunakan aplikasi digital untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi dengan sebuah kreativitas.



Perkembangan Teknologi dan Minat Baca Masyarakat

Saat ini perkembangan teknologi memang sangat besar. Di Indonesia, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi cukup besar. Menurut Kominfo tahun 2018, kepemilikan telepon genggam sebanyak 355 juta sedangkan menurut APJII tahun 2018, pengguna internet sebanyak 171 juta jiwa. 


Namun sayang, jumlah tersebut tidak sesuai dengan minat baca masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.


Yang paling disayangkan lagi, minat baca masyarakat Indonesia itu rendah tapi menatap layar ponsel atau PC bisa sampai sembilan jam hanya untuk scrol-scrol saja! Padahal hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan literasi digital kita.

 

Literasi Digital, Apa Manfaatnya?


Sebenarnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari literasi digital:

1. Merangsang minat baca masyarakat. Jika sembilan jam digunakan hanya untuk membaca status masyarakat di linimasa yang biasanya kurang bermanfaat, sepertinya lebih baik untuk membaca berita atau cerita yang ada di media digital. Sembilan jam itu sangat banyak untuk bisa menyerap jutaan informasi di media digital. Dan untuk menghabiskan satu buku cerita saja, baik digital maupun bentuk fisik, sudah bisa selesai. Jadi, ini sebagai hal positif yang harus dialihkan ke arah yang lebih bermanfaat.


2. Lebih aware dan kritis dalam menerima informasi dari sumber digital. Dalam dunia digital, informasi apapun sangat mudah diperoleh. Mungkin pertama-tama ketika terjun dalam literasi digital, semua informasi dianggap benar sehingga mudah percaya dengan informasi apapun yang berseliweran di media digital. Namun, lama-lama kita akan paham sendiri dan mampu menilai serta mengolah manakah informasi yang layak dipercaya dan tidak. Bahkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang informasi melalui media digital.


3. Memudahkan dalam membuat keputusan. Informasi yang banyak tersedia di media digital sangat memudahkan masyarakat untuk membuat keputusan. Misalnya, jika berencana pergi ke suatu tempat maka informasi tentang cuaca, lokasi kemacetan, lokasi penginapan, dan lain sebagainya yang tersedia di internet memudahkan kita untuk mengambil keputusan. Semua tinggal cari di internet saja.


4. Memperoleh hiburan digital. Tak cuma tentang berita saja, masyarakat bisa memperoleh hiburan secara digital, misalnya menonton film di web tertentu, Youtube, video atau konten yang tersebar di media sosial.


5. Tidak ketinggalan berita. Manfaat literasi digital lainnya adalah tidak ketinggalan berita karena setiap membuka sosial media maka akan ada banyak komentar orang tentang suatu berita. Atau setidaknya ada pemberitahuan berita berlangganan.


6. Hemat biaya dan waktu. Untuk mencari informasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke tempat lain untuk memperoleh informasi. Jika tersedia di internet maka akan sangat memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan biaya rendah dan dengan waktu yang singkat. 


7. Bisa memperoleh pendapatan dari media digital. Tidak percaya? Coba saja diseriusi. Banyak caranya. Mulai menulis di blog dengan konten yang sering dicari orang. Bisa pengalaman sendiri saat travelling, hamil, menyusui, anak sakit, dll.


8. Mengurangi resiko penuaan dini. Eh, maksud aku setidaknya kalau otak kita terus terasah, maka insyallah resiko penyakit tua bisa berkurang karena otak sering terasah, seperti cepat lupa atau hilang konsentrasi. Maklum biasanya ibu-ibu yang hanya mengurus rumah lama-lama kemampuan otak akan menurun. Sayang banget kalau nggak memanfaatkan media digital untuk mengasah kemampuan otak.


Apalagi kalau view sudah ribuan dalam satu bulan. Bisa dapat google adsense, content placement, atau sponsor post. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan itu. Hihi. Eh, kecuali google adsense. Tidak cuma blog, kalau suka editing video dibanding menulis bisa juga untuk membuat konten di Youtube atau editing audio untuk publikasi di podcast. 


Aplikasi editing video yang user friendly banyak sekali tersedia di Play Store. Mudah dan murah. Kadang ada juga agency yang cari Youtuber yang biasa review produk di Youtube. Apalagi kalau view ribuan. 


Instagram, Twitter dan Facebook saja bisa juga menghasilkan uang dengan meningkatkan follower dan membuat konten yang menarik di medsos. Eh, tentunya ada prosesnya loh ya. Nggak langsung ujug-ujug dapat duit.



Perananku Dalam Membangun Literasi Digital yang Positif

Sebagai rumah tangga yang mengisi waktunya untuk menulis di blog dan media lainnya, ada beberapa peranan dalam membangun literasi digital, adalah:


1. Memanfaatkan media digital untuk menambah pengetahuan. Ini adalah perananku yang paling rendah karena aku hanya menggunakan media digital untuk mencari informasi, baik dari aplikasi peminjaman buku (Ipusnas), membaca cerita di platform menulis, membaca blog, menonton Youtube, mendengarkan Podcast, mengunduh aplikasi berita, dan lain sebagainya.


2. Pembuat konten di beberapa media digital dengan aplikasi user friendly. Selain itu, aku juga berusaha membuat konten positif di blog, platform menulis, Youtube atau podcast. Dan aplikasi yang aku gunakan tidak mempersulitkanku.


3. Penyebarluasan konten positif baik sebagai penulis blog, fiksi, youtuber maupun podcaster. Banyak sekali konten-konten yang menyebarkan berita negatif atau sesuatu yang memancing kerusuhan. Daripada aku menyebar fitnah yang belum jelas kebenarannya-karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya, hanya dari pihak ketiga yang belum benar infromasinya-maka lebih baik aku menyebarkan konten positif baik di blog, di platform menulis (Wattpad), Youtube dan Podcast.


4. Menjadi blogger dan penulis yang memperhatikan kaidah penulisan EBI. Masih banyak di luar sana yang masih menulis tapi tidak memperhatikan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Maka dengan menulis EBI yang benar, setidaknya pembaca akan terbiasa membaca EBI yang benar sehingga mempengaruhi cara pembaca untuk menulis selanjutnya. Karena kalau kita menulis dengan tata bahasa yang baik maka akan enak dibaca seperti yang dijelaskan oleh Gemaulani saat Materi 1 Kelas Growthing Blogger 2 tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost. Jadi aku harus menerapkannya dalam tulisanku ini. 



Jadi, teman-teman lebih baik kita menjadi insan yang literat digital ya daripada insan yang suka melakukan perundungan sana sini. Pertanggungjawabannya sampai akhirat loh, apalagi kalau menyebarkan hoax yang belum tentu benar. Jadinya fitnah kan! 

Yuk, emak-emak kita manfaatkan saja media digital untuk pengembangan diri kita. 










Sumber :

https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/

https://www.jawapos.com/opini/29/09/2019/literasi/

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media







Read More
Seperti janji saya di blog saya sebelumnya. Baca di SINI. Sekarang saya ingin berbagi pengetahuan tentang penggunaan audiobook di beberapa negara terutama Australia, Inggris dan Indonesia. Sesi roundtable itu dihadiri oleh beberapa penulis dari Australia, Amerika, Turki, Indonesia, India, Italia, dan mungkin negara lain yang saya lupa darimana saja.

Dalam sesi ini, kita mengajukan beberapa tema yang bisa dibahas. Setelah dibuat daftarnya, kami memvoting tema mana yang menarik. Empat terbanyak itulah yang terpilih. Dan saya memilih tema audiobook. Kemudian saya berkumpul dengan kelompok audiobook.



Saya mengikuti tema ini karena memang penasaran bagaimana perkembangan audiobook di negara-negara luar terutama Australia.

Trend Audiobook di Luar Negeri

Di luar negeri, trend audiobook saat ini populer untuk pembaca perempuan. Mungkin karena perempuan bisa mendengarkan audiobook sambil melakukan pekerjaan rumah atau mengasuh anak. Sedangkan dulu, audiobook sering didengar oleh laki-laki saat mereka sedang menyetir mobil.

Di Australia (mungkin juga negara lain seperti Singapura dan Malaysia), trend audibook ini berbentuk podcast (mirip radio tapi bisa diputar berulang-ulang) dan bisa berlangganan. Isinya bisa berupa majalah, komedi, dan bahasan-bahasan ringan lainnya.
Penulis harus mebaca kontrak secara detail.

Di luar negeri seperti Australia dan Inggris, kebanyakan saat ini menerbitkan buku sekalian membuat rekaman audio dari buku itu. Sedangkan dulu, setelah buku terbit baru dibuat audiobook-nya.

Seorang penulis dari Australia kalau tidak salah, dia sudah menghasilkan sebuah buku dan menjualnya di Amazon. Suatu ketika dia kaget karena menemukan audiobook dari buku dia. Dia pun akhirnya tahu kalau hak versi audionya dijual ke perusahaan lain. Makanya dia berpesan bahwa setiap penulis harus tahu hak penerbitan walau kontraknya panjang. Penulis harus membaca secara detail semua yang ada dalam kontrak.

Genre Audiobook

Genre yang biasanya dibuat rekaman audionya adalah fiksi dan nonfiksi. Meski tidak semua genre fiksi dibuat audionya, seperti puisi masih belum populer dibuat audionya. Yang saat ini lagi populer di luar negeri adalah genre crime fiction, romantic fiction. Sedangkan audiobook untuk genre nonfiksi ini memang dari dulu sudah populer. Kata para penulis ini, rata-rata kalau nonfiksi, pembaca masih malas untuk membaca, jadi membuat audiobook itu adalah salah satu alasan agar mereka tertarik membaca genre nonfiksi.

Perusahaan Audiobook

Di luar negeri, perusahaan audiobook yang terkenal adalah AUDIBLE. Ada website dan aplikasinya tapi berbayat. Kalau di Indonesia aplikasi audiobook namanya AudioBuku yang bisa diunduh di Playstore secara gratis.

Pilih Audio dari Negara Mana?

Aksen adalah salah satu pertimbangan perusahaan penerbitan untuk membuat audiobook. Menurut orang Inggris, aksen orang Australia itu jelek sedangkan aksen Inggris yang lebih disukai di Inggris.

Di Inggris sendiri, aksen seseorang pun bisa menunjukkan status sosialnya. Wow. Di negara itu, aksen seseorang bisa dibagi jadi aksen "atas" dan aksen "bawah". Hmm.. aksen menengah mungkin ada kali ya.

Dan ini mempengaruhi perusahaan audiobook di Australia untuk memilih narator audiobook dari negaranya juga pertimbangan untuk distribusi audiobooknya.

Orang Inggris sendiri tahu mana speaker audiobook berasal dari aksen "atas" dan aksen "bawah" yang dilihat dari cara menyampaikan sesuatu, dari struktur kalimat, dan banyak hal. Aksen "atas" ini biasanya berasal dari golongan keturunan bangsawan, atau memang dari keluarga terpandang, kaya raya, keluarga berpendidikan tinggi sehingga pendidikan dari kecil mempengaruhi cara berbicara dan aksennya.

Audiobook di Indonesia?

Sementara beberapa perpustakaan di Indonesia memang sudah ada yang menyediakan audiobook meski jumlahnya tidak sebanyak perpustakaan di luar negeri.Tak hanya di perpustakaan, di aplikasi Play Store sudah banyak aplikasi Audiobuku Indonesia secara gratis dan berbayar.

Audiobuku bisa jadi solusi untuk siapa pun yang nggak doyan baca buku tapi ingin meningkatkan pengetahuan yang dimiliki. Nggak hanya buat yang malas baca buku, audiobook ini sangat memudahkan bagi penyandang tuna netra untuk tetap bisa memperoleh pengetahuan tanpa harus membaca buku braille. Maklum buku braille di Indonesia juga belum banyak.
Selamat Mendengarkan Audiobook!

Read More
Literasi Baca Tulis
Literasi Baca Tulis (eliterasi.blogspot.com)

Literasi baca-tulis adalah Literasi dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kemampuan individu untuk bisa membaca dan menulis adalah penting di era digital ini. Tidak hanya mampu membaca dan menulis juga, tetapi juga memahami apa maksud dari sebuah bacaan dan tulisan.

Literasi baca-tulis inilah sebagai bentuk terwujudnya awal kesuksesan suatu bangsa. Bayangkan jika warganya tidak memiliki kemampuan dalam Literasi baca-tulis sepertI pada jaman penjajahan. Kita dijajah terus menerus. Eh, tapi meski sekarang juga masih 'dijajah' ya. Ups. Maksud saya, kita benar-benar tidak dibodohi seperti kita biasa mem bodoh anak kecil yang belum tahu baca dan tulis. #duehpengalaman

Kapan mengajarkan Literasi Baca-tulis?

Kira -kira kapan tepatnya diajarkan baca-Tulis untuk anak? Saya sendiri tidak punya patokan kapan anak saya diajarkan baca tulis. Yang penting lihat kesiapan mental anaknya.

Paling-paling saya mengajarkan huruf masing  A-C dan angka 0-5 pada anak saya yang berumur 4 tahun. Sedangkan huruf dan angka arab masih perlahan. Itupun dia sukanya main-main.
Ya udahlah.  beberapa anak seumuran anak saya memang sudah bisa baca tulis, namun, saya buat santai saja. Saya khawatir terlalu memaksakan akan membuat dia trauma dan justru tidak mau belajar.

Membacakan Buku sambil Belajar Abjad

Saat usianya masih dua tahun, saya hanya membacakan cerita saja. Namun, sekarang ketika akan berusia empat tahun, saya sudah mulai menunjukkan beberapa huruf padanya. Saya tidak punya target khusus agar anak bisa hapal 26 abjad di usia PAUD. Saya hanya mempermudah diri saya sendiri untuk mengajarkannya membaca dan menulis abjad saat sekolah. Kalau misal sekarang saat sekolah dasar harus bisa menulis dan membaca abjad maka saya harus sedikit bekerja keras mengajarkan anak saya membaca abjad dan menulis.

Belajar sambil bermain

Saya mencoba menerapkan prinsip belajar sambil bermain. jadi saat sedang bermain, saya mencoba menanyakan huruf dan angka yang tertera pada mainnya. Dengan begitu,  dia akan lebih suka belajar.

Saya jadi teringat masa kecil saya saat diajarkan baca tulis oleh orang tua saya. mungkin beberapa dari teman pernah merasakan hal serupa. Diajarkan oleh ayahnya dengan KERAS?  Duduk di depan ayah dan mulai mengikuti arahan dari ayah untuk membaca setiap huruf dan angka. Jika tidak bisa, maka bentakan akan muncul. Atau pukulan kecil- yang seringkali terlihat besar saat kita masih kecil- sering dilayangkan.  Well, itu sebenarnya membuat saya sedikit takut sama bapak sendiri. wkwkwk.
Kadang setelah saya mengenalkan padanya beberapa huruf dan angka, dia selalu menunjuk angka dan huruf yang dia temui di jalan. Meski dia belum bisa membedakan mana angka dan mana huruf, setidaknya dia sudah tahu bahwa di sekelilingnya dia banyak sekali abjad dan angka yang bisa dibaca.

Nah, saAt saya melihat apa yang dia tunjuk, maka saya menanyakan huruf apa atau angka berapa? Kadang dia bisa benar menjawab, kadang dia juga salah. Karena saya baru mengenalkan dia angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan huruf A, B, C.

Belajar memegang pulpen

Sebenarnya latihan memegang pulpen ini sudah saya ajarkan sejak usianya hampir dua tahun. Awal - awal memang sangat kaku. Namun, lama-lama dia akan terbiasa meski sekarang kadang masih salah.

Setelah dia mulai terbiasa memegang pulpen, maka sesekali saya ajarkan dia membuat garis lurus, melengkung, zigzag. Tujuannya biar mempermudah anak saya untuk menulis angka dan huruf. Setelah itu, baru saya ajarkan dia menulis angka 1, 2 dan 3. Sedangkan menulis huruf belum saya ajarkan. Saya tidak ingin menjadi semuanya takut dia kebingungan. wkwkwk. Mungkin juga teori saya salah.

#WritingChallenge #FLPJatim

Read More
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud.

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More
Tak terasaa akhirnya sudah hampir di ujung acara UWRF yaitu di Hari Keempat UWRF. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari festival ini.


Sabtu, 27 Oktober 2019

Begitu lega saya setelah mengisi workshop kemaren, saya jadi lebih santai. Hari ini ada banyak sesi menarik untuk diikuti. Saya sudah menjadwalkan akan mengikuti lima sesi Main Program tapi kenyataannya saya hanya bisa satu sesi saja karena saya harus ikut private roundtable jam 2 siang padahal di jam-jam itu, sesi nya banyak yang menarik.

Main program : Precious Peatlands

Saya sempat mengikuti sesi ini meski sedikit terlambat. Sesi ini berbicara tentang konservasi hutan diisi oleh Nirarta Samadhi, Butet Manurung, I Wayan Juniarta, Saras Dewi,  dan Nirwan Dewanto. Saya benar-benar tidak pernah terpikir untuk menulis tentang konservasi hutan dimana materi itu sebenarnya tidak jauh dari materi kuliah saya. Kalau mengingat kembali materi kuliah saya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dijadikan bahan cerita. Hanya saja memang butuh diolah sehingga tidak kaku.
Saya memang sudah mengetahui tulisan-tulisan yang berbau lingkungan atau disebut dengan Sastra Hijau tapi memang saya belum mencoba menuliskannya. Padahal tema-tema lingkungan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.

Wawancara dengan Literary Podcasts Malaysia


Oiya, saya lupa di hari ini, saya janji dengan Honey ahmad, seorang warga Malaysia yang memiliki toko buku dan juga Literary podcasts di sana. Janji itu adalah sebuah wawancara untuk podcast nya. Ia pun mengeluarkan peralatan untuk merekam. Pertanyaannya juga sederhana seperti latar belakang pendidikan, kapan mulai menulis, buku yang sudah diterbitkan, dan pesan-pesan bagi yang siapapun terutama ibu rumah tangga untuk tetap bisa menulis. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya jadi banyak mengenal orang. Wawancara pun selesai dalam waktu 18 menit meski sempat tersendat karena anak saya menangis. hehe.
Bersama Honey Achmad dan Nurillah

Main Program : Reza Aslan: God, A Human History

Reza Aslan ini adalah penulis yang hidup pada keluarga syiah, dan dia migrasi ke US saat revolusi Iran terjadi. Kemudian dia convert ke kristen dan pindah lagi ke islam. Dia menceritakan pengalaman kehidupan dia yang berpengaruh dalam proses menulisnya. Dan sesi yang dilaksanakan di Restaurant Industri ini sangat penuuh sekali padahal biasanya pasti ada kursi kosong. Saya juga nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan karena begitu penuh dan soundsystem kurang jelas terdengar bagi saya yang bahasa inggrisnya terbatas jadi saya memilih untuk pulang ke hotel.

Private Roundtable

Setelah mengantarkan anak ke hotel untuk dititipkan ke suami, saya pun pergi ke Blockchain zoo, lokasinya bersebelahan dengan tempat acara. Setelah sudah mencentang nama saya yang ada di daftar peserta, saya dan teman-teman emerging lainnya naik ke ruangan atas. Di dalamnya sudah ada beberapa penulis dari USA dan Australia.

Moderator Inno (kiri) dan Jim Coney (kanan)





Jadi sesi ini memang dihadiri khusus penulis dan mendiskusikan beberapa kondisi dunia kepedulian dari negara yang berbeda. Topik yang dibahas pun juga sesuai permintaan audiensi.  Jim Coney, lulusan RMIT University ini bekerja di penerbitan di Australia. Dia menjadi moderator pada sesi ini bersama dengan Innogato, penulis USA yang masa kecilnya tinggal di Indonesia.
Setelah mengadakan voting pada topik yang dibahas maka didapatlah empat topik utama yang menjadi bahasan tiap kelompok. Saya tertarik dengan audiobook jadilah saya ikut kelompok audiobooks. Cerita tentang audio books akan saya tulis secara khusus nanti ya.

Kik benar-benar membantu saya dalam menginterpretasi pembicaraan para speaker. Mereka berbicara sangat cepat sekali dan banyak istilah atau idiom yang tidak begitu saya pahami.
Setelah sesi itu, saya pun pergi ke rental motor untuk memperpanjang penyewaan sampai minggu malam. Saya harus menambah 30 ribu karena menambah 6 jam lagi.

Oya, sebenarnya setiap malam, UWRF mengadakan acara Live music and art, jadi isinya membaca puisi, pertunjukan musik, menonton film, menari tradisional, dan lain-lain. Sayangnya, saya sudah terlalu lelah jadi saya memilih beristirahat di hotel.

Di Hari Kelima UWRF, saya sempatkan jalan-jalan keliling Ubud dengan sewaan sepeda motor seperti yang saya ceritakan di blog saya yang berjudul Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai).

Read More
Akhirnya Hari Kedua UWRF yang mendebarkan pun terlewati, rasanya masih panjaaang sekali perjalanan saya di UWRF dan saya menikmati setiap harinya di sana. Hari Ketiga UWRF ini tak kalah serunya bahkan saya pengen salto, wkwkwk.

Jumat, 25 Oktober 2019

Sebenarnya dari kemaren saya ingin ikut beberapa sesi Main Program.  Banyak sebenarnya sesi Main Program yang sangat menarik, tapi beberapa sesi jadwalnya bersamaan, jadi saya harus memilah lagi beberapa yang saya butuhkan. Sayangnya, kemaren karena anak membutuhkan perhatian lebih, jadi saya mengajaknya makan Di sekitar pusat ubud dengan motor sewaan. Akhirnya saya tidak mengikuti sesi yang saya inginkan.

Hari ini rencananya saya mau ikut sesi Main Program: Imagining The Past yang diisi oleh Iksaka Banu, Azhari Aiyub, Alessandro Baricco, Toni Jordan, dan Sebastian Partogi. Saya suka sebenarnya menulis hal-hal yang berbau historis, menantang tapi juga cukup sulit karena memang tidak pernah menyaksikan momen itu. Jadi hanya imajinasi dan beberapa kejadian sejarah yang mendukung cerita kita. Otomatis riset mendalam sangat dibutuhkan seperti yang dilakukan oleh Iksaka Banu.

Selanjutnya, saya mengikuti sesi Andreas Harsono: Race, Islam, and Power. Saya sedikit terlambat pada sesi ini jadi saya hanya mengikuti sebagian. Dalam Sesi ini ia menceritakan tentang pengalaman dia saat pergi ke pelosok dan melihat kehidupan penduduk ras tertentu, kalau nggak salah daerah Papua dan Ambon. Dan dia menceritakan kehidupan suku Ambon dan yang memeluk agama islam.

Short Story Session

Karena suami pergi mencari masjid Ubuddiyah untuk sholat jumat, jadi saya pergi ke Green room untuk menunggu suami sekaligus bersiap-siap workshop children and youth : short story session. Nah, waktu beberapa bulan lalu, saya sempat mengisi formulir kemampuan saya yang sedikiiiitttttt dan belum banyak pengalaman ini yang bisa dibagikan. Saya menulis mengisi workshop short story untuk anak-anak. Sebenarnya, maksud saya short story nya bercerita tentang cerita anak-anak, tapi audiens nya tetap orang dewasa. Eh, ternyata saya dimasukkan dalam workshop children and youth festival. Ya nggak apa-apa sebagai pengalaman aja.


Terus kesalahan saya selanjutnya adalah katanya saya akan mendapat interpreter selama di sana, jadi saya mengajukan workshop dengan bahasa bilingual. Ketika ditempat workshop, ternyata tidak ada interpreter. Saya pun baru sadar kalau bilingual itu nanti saya yang harus berbicara sendiri dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Nah, LOH!

Awalnya saya minta panitia saja menerjemahkan tapi lama-lama saya menjelaskan sendiri dalam bahasa inggris. eciyeeehh. Untung saja bahasanya masih sederhana. Jadi saya masih bisa lah meski kadang beberapa kata saya lupa dalam bahasa inggrisnya. Jadi saya tanya panitia.



Eh, untungnya audiens nya kebanyakan anak-anak bule yang memang sedikit bisa bahasa indonesia dan orang indonesia yang bisa bahasa inggris. Jadi benar-benar kombinasi yang menguntungkan lah. Tapi ada juga dari Australia yang memang tidak bisa bahasa Indonesia.

Di akhir penjelasan, saya meminta mereka menulis cerita pendek yang sangat pendek dalam satu halaman hvs. Tanpa berpikir lama, mereka langsung menuliskannya dengan baik. Semua peserta menuliskannya dalam bahasa inggris termasuk juga peserta dari indonesia. Keren sekali mereka. Saya kalah deh, Imajinasi mereka juga keren.


Jangan kira semua berjalan dengan damai, tenang, dan kalem. Anak-anak bule itu cukup ramai dan kritis. Saya sampai kagok deh dibuatnya. Bener-bener pengen SALTO deh. hahaha. But, saya buat santai ajalah, ketimbang saya stres sendiri, jadi kadang saya ajak guyon aja.

Setelah selesai, saya pun segera pulang ke hotel bersama anak-anak dan suami yang sudah menunggui saya saat Short Story Session. Makasih banget deh sama suami yang udah mau jagain si kecil.

Di Hari Keempat UWRF ini semakin banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Yuk, dibaca saja di blog saya berjudul Ilmu Baru di Hari Keempat UWRF.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower