Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan

Ketika mempunyai anak laki-laki, pasti akan mikir tentang sunat, metode sunat, dan kapan enaknya sunat atau khitan? Aku yang punya dua anak laki-laki sempat belum punya bayangan kapan harus sunat. Tapi aku sudah punya rencana nanti dua anakku akan disunat bersama-sama.


Membujuk anak agar mau khitan atau khitan

Tidak semua anak mau menerima tawaran di khitan, termasuk anakku. Mungkin semua bermula dari orang2 yang menakut-nakuti anak kecil kalau nakal akan disunat atau dipotong. Dan itu membuat anak kecil akan membayangkan betapa mengerikannya di khitan. Ketika orang tua mengajak anak dikhitan, si anak langsung marah-marah, nangis-nangis dan mungkin bisa sampai ngamuk-ngamuk. Itu terjadi pada anakku.

Suatu ketika ada program sunat gratis yang diselenggarakan Rumah Sakit Universitas Islam Malang (Unisma). Aku mencoba kontak nomor yang tertera. Sebenarnya aku ingin tahu pakai metode apa. Aku nggak mau kalau pakai khitan konvensional (bukan laser) karena repotnya pasti double. Kalau kata suami sih pastinya laser. Tapi narahubung malah meminta data anakku. Lah, tanpa pikir panjang langsung aku isi aja. Akhirnya aku masuk grup whatsapp khusus orang tua peserta khitan. Belum ada jawaban tuh pakai metode khitan apa. Pikirku, kalau bukan laser aku masih bisa mengundurkan diri H-3 acara. Tak lama, dijawab metodenya laser. Alhamdulillah. Aku kabarilah keluarga di Malang kalau Raceqy dan Ghalib akan khitan hari sabtu. Utinya senang banget. Dampai dibelikan sarung, baju baru dan sandal baru. haha.


Beritahu alasan khitan pada anak

Awalnya, Raceqy teriak, marah dan nangis ketika aku bilang Raceqy mau dikhitan. Oiya, karena dia marah-marah kalau aku bilang sunat atau khitan akhirnya aku bilang 'dibersihkan' ujungnya biar tidak sakit. Dia tetap tidak mau dan jerit-jerit. Dia meminta kalau tidak mau dibersihkan. Aku nggak menjawab. Sepertinya dia sudah tahu kalau dikhitan itu sama dengan dibersihkan. Sementara adiknya biasa saja. Mungkin karena masih 3 tahun jadi dia belum tahu apa-apa.

Aku coba segala cara untuk membujuk anakku dikhitan. Aku bilang kalau orang muslim itu harus dikhitan. Khitan dapat membedakan orang muslim dan non muslim. Khitan itu wajib bagi anak laki-laki. Tapi ya namanya anak kecil mana ngefek kalau dikasih alasan abstrak begitu.

Pada akhirnya, aku jelaskan sampai urat leher rasanya mau copot. Aku bilang, kalau tujuan dibersihkan ujungnya (maksudnya khitan) adalah agar tidak ada kuman yang berkumpul di bagian ujung lias untuk mencegah penyakit. Oiya, sebelum khitan anakku pernah mengalami sakit saat pipis dan sering sakit perut. Aku bilang aja kalau kuman di ujung titit bisa membuat sakit di perut dan saat pipis juga sakit. Dan itu kuulang-ulang terus. Bahkan sampai kutunjukkan kuman di internet. Kutunjukkan pula penyakit-penyakit yang mungkin muncul ketika tidak dikhitan.

Terus aku cerita kalau omnya pernah terkena hernia terus dikhitan sekalian. Eh, entah kenapa malah dianggap gara-gara nggak dikhitan malah kena hernia. wkwkwk. Mungkin karena aku ceritanya dari penyakit dulu makanya dianggap begitu.

Tapi baguslah, akhirnya anakku diam dan mau dibersihkan alias dikhitan. Aku juga mengiming-imingi makan es krim setelah dikhitan karena kupikir setelah khitan laser anak masih bisa jalan-jalan. Nyatanya. wkwkwk.


Proses khitan gratis

Ketika tiba di RS Unisma sekitar jam setengah 10, aku kira sudah langsung dipanggil mengingat aku juga datang terlambat. Peserta khitan dibagi menjadi dua gelombang untuk menghindari terjadinya kerumunan. Gelombang pertama jam 7 pagi sedangkan gelombang kedua jam 9 pagi.

Setelah mengisi presensi, di gedung lantai 6 aku dan anak-anak menunggu dipanggil bersama peserta gelombang kedua lainnya. Sekitar 20 menit menunggu akhirnya semua peserta disuruh ke lantai 7. Beberapa peserta sudah dipanggil. Suara jerit tangis anak-anak begitu terdengar. Aku khawatir jika anakku terpengaruh dan ikut menangis. Jadilah tantenya yang ikut menemani mencoba mengajak ngobrol. Haha. Sementara aku merasa deg-degan. Sudah kebayang yang nggak-nggak. Kebayang dua anakku nangis jerit-jerit.

Akhirnya dikasih nonton Youtube Upin Ipin. Haha. Solusi terakhir. Nama anakku dipanggil karena dua bersaudara dikasih satu ruang yang sama dan diberi urutan terakhir. 

Pas masuk kamarnya, anakku kedua mulai nempel ke ayahnya nggak mau dilepas. Sementara aku membujuk Raceqy untuk naik di tempat tidur. Awalnya dia nggak mau. Malah minta Upin Ipin akhirnya dikasih deh. Dia tidur sambil nonton Upin Ipin. Ketika dibuka celananya pun tidak protes. Bahkan sampai selesai dikhitan dia tidak menangis, tidak menjerit atau menunjukkan reaksi berlebihan. Kekhawatiranku nggak terjadi. 

Ketika Ghalib yang mau ditidurkan, dia menangis menjerit minta gendong. Nendang-nendang pula. Duh, aku mulai pusing. Mau tidak mau dengan segala upaya dan mengerahkan orang banyak, anakku berbaring dengan sangat terpaksa dan masih menangis. Ditawari nonton Upin dan Ipin pun juga nggak mau. Sepanjang dikhitan, aku memegang tangan. Sementara ayahnya mencoba membujuk. Kutahu suami pasti nggak tega ngelihat si Ghalib mengeluarkan air mata menangis sedih.

Sepanjang dikhitan aku pun nggak berani melihat. Yang aku lihat alat laser, suntikan, dan benang berseliweran di depanku. Ternyata meski dilaser, tetap saja dijahit. Dan jahitan itu yang cukup lama dibersihkan. Sekitar 15 menit akhirnya selesai juga prosesnya. Ghalib dipakaikan celana khusus khitan yang ada tempurungnya. Lumayan untuk menghindari gesekan pada luka. 

Khitan Anak 5 Tahun
Ketika Raceqy selesai khitan


Waktu yang tepat untuk khitan anak

Sebenarnya menurut Islam sendiri, tidak ada batasan usia khitan. Bisa saat bayi, balita atau pas anak-anak. Aku sebenarnya juga tidak ada patokan dan nggak ada bayangan kapan anakku khitan. Tapi karena ada khitan gratis mungkin inilah waktu yang tepat. 

Menurut pengalamanku, khitan sebaiknya dilakukan ketika anak sudah bisa bilang buang air kecil atau buang air besar sendiri. Kalau nggak sekalian masih bayi baru lahir saja. Kenapa? Karena meskipun laser, anak masih perlu penyesuaian dengan jahitan setelah laser. Lukanya masih terasa dan tidak boleh kena air sekitar seminggu. Anakku Ghalib jadi sering ngompol sembarangan dan nggak mau pipis di kamar mandi. Mungkin dia takut kalau airnya kena bagian lukanya. Tapi kalau sudah bisa ngomong seperti Raceqy lebih enak nggak perlu ngepel sering-sering. Ghalib juga sudah nggak mau dipakaikan popok jadi agak susah kalau diajak jalan jauh. hiks. Pernah sedikit kotorannya jatuh di keset dan pada ngga tahu. Ngertinya pas aku masuk kamar dia berdiri di pojokan sambil berekspresi mau buang air besar. Langsung aku bawa ke kamar mandi. Beruntung aku nggak menginjak keset. 


Hal yang dilakukan setelah khitan

Berjalan sebentar

Setelah khitan, saat bius habis, anakku menangis karena merasa sakit. Mau pipis saja nangis teriak-teriak dulu. Takut kesakitan. Mau buang air besar juga takut padahal kan nggak kena depannya. Bawaannya tidur-tidur saja di kamar sambil nonton film di ponsel. Tapi pas saudaranya datang dia langsung main-main meski jalannya sedikit kesulitan. Dokter menyarankan memang tidak boleh banyak gerak tapi tetap harus bergerak sedikit seperti berjalan ke depan kamar dan kembali lagi.

Tidak boleh dikasih minyak tawon

Orang dulu bilang biar lukanya cepat kering harus dikasih minyak tawon, sementara dokternya melarang karena kasihan akan kepanasan. Beberapa orang tua malah dikasih macam-macam, seperti saleb atau obat apa gitu tapi aku tidak berani. Cukup rutin minum obat dari dokter.

Makan apa saja

Beberapa orang tua menganggap khitan seperti habis operasi caesar jadi pantang makanan tertentu. Bahkan ada yang merasa hasil jahitan khitan tidak cepat kering karena sering makan sup atau berkuah. Kata dokter justru nggak pengaruh. Dimakan saja semua tanpa pantangan. Itu mitos saja sepertinya.


Tidak boleh terkena air

Nggak banyak yang kulakukan setelah anak khitan. Paling-paling tidak boleh kena air dulu sampai seminggu, tidak boleh mandi, minum obat dan makan apa saja. Jadi ketika buang air bersih cukup dibersihkan pakai tisu.

Sebenarnya aku risih sendiri melihat anakku nggak mandi karena kulit terasa lengket atau pliket. Jadi tetap aku mandikan di hari ketiga dengan cara tertentu, seperti membasuh dan memberi sabun pada paha dan kaki, bagian punggung, pantat, dan tangan. Sementara bagian dada depan dan perut aku basuh dengan air dan sabun sedikit dan pelan-pelan. 

Kontrol setelah khitan

Sebenarnya ada yang merasa tidak perlu khitan karena sudah kering jahitannya. Padahal ketika kontrol itu dokter akan melihat lebih detail apakah lukanya sudah kering atau sedikit lagi kering. Biasanya dokter juga akan menyarankan sesuatu saat kontrol, seperti mandi air hangat ketika lukanya sudah kering (waktu itu dokternya bilang hari sabtu). Dokternya bilang sudah mulai kering jangan dikasih air dulu. Hari sabtu sudah boleh mandi dengan berendam air hangat. Tapi hari sabtu sekarang aku masih belum berani memandikan berendam air hangat. Katanya anak-anak kadang masih sedikit sakit kalau dibersihkan dengan tisu. Kadang muncul darah sedikit. Alhamdulillah obat habis sudah nggak kelihatan lukanya. Cuma Raceqy belum berani lepas celana khitannya. Haha.


Bersyukur banget bisa ikutan khitan yang diadakan Unisma dalam rangka Harlah NU. Mungkin kalau tidak begitu, aku malah menunda-nunda mengkhitankan anak. 


Read More

Setelah bolak-balik tes darah yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya tetang Bintik Merah dan Trombosit Turun. Sekarang aku mau cerita tentang pengalaman anakku opname di Rumah Sakit Bunda, Waru, sidoarjo, yang terkenal reviewnya yang jelek.


Aku nggak tahu kenapa tetap nekat pergi ke rumah sakit itu. Mungkin karena rumah sakit Bunda lokasinya strategis dan dekat dari rumah, jadi kalau aku perlu apa sama suami, nggak perlu jauh-jauh datang.


Oiya, sebelum Ghalib sakit, sejak dia mulai makan nasi lembut, sekitar usia 10 bulan (sebelumnya makan bubur bayi), dia sudah menunjukkan ketidaktertarikannya dengan makanan apapun kecuali snack. Jadi setiap dia makan nasi cuma tiga suap setelah itu nggak mau sama sekali. Dipaksa pun nggak bisa. Beda sama Masnya meskipun sulit makan, dipaksa kadang masih bisa. Apalagi timbangan Ghalib nggak naik-naik. Grafik berat badan dia sudah mepet kuning soalnya. Aku kira, mungkin karena itulah anakku akhirnya jatuh sakit. 


Sesampainya di IGD rumah sakit Waru, dokter IGD memeriksa hasil tes darah dan widal yang aku berikan. Beliau mengatakan anakku harus diopname. Aku disuruh tanya ke bagian administrasi dulu apakah masih ada kamar atau tidak. Kalau ada, baru daftar sesuai prosedur opname di rumah sakit.


Lobi rumah sakit Bunda, Waru, ramai penuh sesak. Meski Covid belum merebak, aku agak-agak ngeri lihat keramaian di rumah sakit waktu itu. Para adminnya sibuk melayani keluarga pasien yang mau bayar, pasien BPJS, mau daftar, menunggu dokter, dan lain-lain.


Aku menunggu sekitar 3 orang, kemudian giliranku. Aku bertanya apa masih ada kamar? Petugas yang super sibuk tetap bisa bercanda bersama pegawai lain di sela-sela melayani keluarga pasien. Dia menanyakan pasien BPJS atau bukan. Karena aanakku belum punya kartu BPJS, jadi aku mengatakan bukan BPJS.


Dia menyuruhku menunggu. Dan dia masih menyelesaikan pekerjaan lainnya. Tak lama, dia menelepon petugas yang ada di bagian back office. 


Alhamdulillah masih sisa 1 kamar kelas dua. Lega banget. Kemudian dia menjelaskan jumlah biaya opname rumah sakit Bunda yang harus dikeluarkan per malam. Aku lupa tepatnya berapa biayanya. Kalau nggak salah 150.000, diluar obat per hari dan visitasi. Aku iya-iya aja deh. Nggak mikir yang penting anakku segera ditangani.


Akhirnya aku pun mendaftar, membaca ketentuan, prosedur opname di rumah sakit, dan membayar sejumlah uang untuk DP. Jadi nanti total berapa tergantung berapa jumlah hari menginap terus kekurangannya bisa dibayar saat mau keluar dari rumah sakit.


Kira-kira butuh waktu setengah jam aku melakukan pendaftaran apalagi petugasnya memang sering bercanda dengan pegawai lain. Aku perhatikan sih wajar lah mereka begitu, pasti kerjaan mereka bikin kepala puyeng. Yang penting nggak sampai terbengkalai pasien. 


Setelah itu aku kembali ke IGD dan mereka mempersiapkan alat untuk menginfus anakku. Anakku melihat ruangan IGD yang banyak tempat tidur nggak mau sama sekali lepas dariku. Mungkin ia takut karena merasa asing dengan tempatnya itu. Meski sudah kubujuk-bujuk untuk tidur di tempat tidur IGD, dia nggak mau. Okelah, akhirnya aku pangku sambil gendong.


Aku pun sempat bertanya bintik merah pada kulit bayi setelah demam? Mereka menjawab bisa jadi karena panasnya tinggi.


Perawat pun mendatangiku. Semua petugas di IGD pada menanyakanku, "Kemana keluarganya? Ayahnya?"


Aku bilang, "Nggak ada, Pak. Suami saya jaga anak saya yang kena tipes di rumah." Duh, berasa sedih banget ya. Mereka mungkin kasihan sama aku. Karena aku harus tetap wira-wiri untuk ambil obat dan bayar dan siapa yang akan menjaga anakku kalau aku wira-wiri.


Seharusnya sih rumah sakit punya sistem atau aturan yang bisa mengantisipasi masalah itu. Nggak semua pasien punya keluarga terdekat yang bisa dimintai tolong untuk menolong.


Akhirnya, petugas IGD malah membantuku untuk membelikan obat dari resep dokter IGD. Alhamdulillah, Allah beri kemudahan. Aku sangat berterima kasih karena kebaikan beliau. Aku pun membayar sejumlah uang sesuai yang tertera di kwitansi. Beliau pun kembali lagi ke apotek. Menunggu obat jadi, saatnya anakku dikasih infus.


Dan ini adalah momen yang nggak aku lupa. Rasanya pengen nangis saat melihat tangan kecilnya ditusukkan jarum. Anakku menangis, menendang-nendang, dna memukul-mukulkan tangannya. Aku memeluk dan menahan tangannya agar perawat gampang memasukkan infus.


Anakku cuma mengatakan sambil menangis dan mengeluarkan air mata, "Acit, Bu...Acit..." dengan pengucapannya yang belum jelas. Aku cuma bisa bilang, "Sabar, ya.. Sabar... nanti sembuh, kok..." Meskipun aku nggak yakin dia bakal paham arti dari sabar, tapi tetap saja kukatakan begitu.


Perawat IGD cukup kesulitan memasukkan jarum infus ke tangannya karena trombositnya rendah. Masnya cerita kalau trombosit rendah itu biasanya pembuluh darah sulit ditembus atau pecah atau gimana gitu ya. Aku nggak paham. Jadi harus bolak-balik ditusuk lagi dengan jarum. Hiks..


Setelah beberapa menit, akhirnya, jarum infus masuk juga. Tangan anakku sudah dikasih infus beserta penyangga kayunya biar tidak mudah lepas. Ghalib heran melihat tangannya diberi infus dan kayu. Dia melihat-lihat sambil memutar-mutarkan tangannya. Karena itulah, infusnya selalu berdarah. Aku gupuh karena darahnya jadi masuk ke infus. Kata petugasnya kalau bisa posisinya turun ke bawah tangannya.


Setelah kamar siap, akupun diantar dengan naik kursi roda. Ya. Aku naik kursi roda sambil menggendong anakku yang lemas. Tas berisi pakaianku dibawakan sama masnys. Oh, Ya Allah beruntunglah aku karena mereka super baik. Aku pun lewat lift khusus yang hanya bisa diakses dengan ID petugas karena ada barcode nya.


Akhirnya aku sampai juga di kamarku lantai 2. Begitu masuk, aku melihat ada tiga tempat tidur yang disekat-sekat. Dan semua sudah penuh kecuali di pojokan. Aku pun membaringkan anakku di sana. Awalnya dia nggak mau dan takut tapi aku membujuknya. Akhirnya dia mau juga.


Dan mulailah malam itu kami bermalam di sana.


Makan malam selalu diberikan pukul 4 sore, sementara makan pagi pukul 6 pagi, dan makan siang pukul 11. Setiap makan selalu ada sayur, lauk ayam/ikan, tempe/tahu dan cemilan. Anakku juga disuruh minum obat antibiotik 1 hari 2x dengan jeda 6 jam, minum obat diare (kebetulan saat sebelum ke rumah sakit dia diare), dan obat batuk pilek (meski bapil cuma sedikit). 


Drama banget lah saat minumin obat. Aku sempat bingung karena dia pasti lonjak-lonjak sementara tangannya diinfus. Aku takut aja dia lonjak-lonjak terus lepas. Eh, alhamdulillah dia masih bisa dikendalikan meski aku harus menahan badan dan tangannya dengan kakiku kemudian kedua tanganku meminumkan obat. Pfiuh. Alhamdulillah juga dia mau makan nasinya.


Jangan tanyakan aku makan gimana. Aku benar-benar lupa. Ingatku aku masak opor dengan bumbu instan dan aku bawa saat itu. Kalau nggak ya aku makan sisa makan Ghalib. Pengalaman luar biasa. Aku nggak pernah opname, malah anakku yang opname. Hiks.


Saat visitasi pertama di hari kedua sekitar jam 8 malam, dokter datang dan menanyakan keluhan dan kondisi. Aku juga nggak tahu kenapa dokternya baru datang di hari kedua. Orang di sebelahku udah protes kesal karena dokternya visitasi cuma sekali satu hari. Aku sih biasa aja. Aku nggak pernah berurusan dengan rumah sakit, jadi aku nggak bisa membandingkan dengan rumah sakit lainnya. Mungkin bunda-bunda punya pengalaman di rumah sakit berapa kali dokternya visitasi ke pasien?


Pas dokternya datang, Ghalib diperiksa suhu tubuhnya, denyut jantungnya. Terus aku bilang awalnya sempat mencret, nggak mau makan, demam, batuk. Saat visitasi, Ghalib sudah nggak mencret, nggak demam, tapi masih lemes dan nggak mau makan. Setelah itu, dokter akan menentukan apakah masih lanjut dengan obatnya, ditambahi obat, atau berhenti. Karena anakku sudah nggak mencret, jadi obat diarenya disuruh berhenti minum.


Ketika air infus habis, aku menghubungi perawat untuk segera diganti. Eh, kebetulan perawat yang menangani baru pindahan dari rumah sakit lain. Kayaknya lebih muda gitu jadi agak ragu saat akan memutuskan sesuatu tapi sudha cukup mahir untuk mengganti infus.


Dua hari sudah aku di rumah sakit, alhamdulillah anakku di rumah sudah baikan. Untungnya di rumah ada tantenya juga pas weekend ada yang nemenin dan masakin. Tapi pas besoknya, ayahnya harus kerja. Tantenya juga kerja. Jadi terpaksa anakku pertama ikut menunggu di rumah sakit. Aku menyuruhnya pakai masker dan jaket. Begitu juga dengan suamiku. 


Pas Ghalib ngelihat ayahnya dan masnya, ada rasa senang terlihat di wajahnya apalagi dibelikan makanan meski dia masih merasa lemas tidur di tempat tidur. Ayahnya juga sempat menggendong Ghalib. Pas digendong itu, Ghalib malah cerita banyak meski suaranya nggak begitu jelas. Kelihatan banget dia semangat bercerita. Begitu ayahnya pulang, Raceqy yang susah dibujuk karena nggak mau ayahnya pergi. 


Akhirnya tak ajak nonton televisi. Meskipun Raceqy menonton televisi di kamar sambil duduk di pinggir tempat tidur, tapi tetep aja dia nggak betah. Ngelihat anakku yang kedua terbaring di tempat tidur, wajahnya sedikit takut-takut gitu. Mungkin juga ada rasa kasihan. Beberapa kali minta pulang.


Pas dokternya datang visitasi malah ditegur kok ikut ke rumah sakit. Haha. Ya gimana sih. Menjelang maghrib akhirnya suamiku datang dan menjemput anakku. 


Aku lupa berapa kali Raceqy datang menjenguk ke rumah sakit. Ingatku cuma sekali. Total empat hari aku di rumah sakit. Hari keempat, aku sudah boleh pulang oleh dokter. Kondisi anakku sudah nggak begitu lemas. Diminumin obat udah punya tenaga untuk menolak. Aku kewalahan sendiri. Makan juga udah mulai lahap. Mencret udah nggak. 


Pas dokternya visitasi terakhir sebelum aku pulang, aku tanyakan penyakit apa kok trombosit turun tapi bukan DBDn. Soalnya trombosit turun menurut artikel yang aku baca dokternya nggak bilang kena penyakit apa. Beliau cuma bilang paling cuma infeksi. Kan aku bingung. Tapi yaudahlah.


Susahnya menjaga anak sendirian itu, pas aku harus mengurus administrasi, aku harus meminta orang untuk menjaga Ghalib. Kebetulan waktu itu ayahnya lagi nggak ads jadwal ngajar jadi bisa nemaninRaceqy di rumah. Akhirnya aku meminta tolong perawat menjaga anakku yang sedang tidur sementara aku ke lobi.


Oiya, untuk mengurus administrasi kepulangan aku harus menunggu aba-aba dari perawat yang stand by dekat kamar karena mereka yang harus menyelesaikan semua daftar tanggungan yang harus aku bayar. Kira-kira satu jam, baru deh aku disuruh ke lobi.


Aku kira urusan langsung selesai, ternyata aku harus wiwa wiri. Ke apotek dulu, bayar obat dulu, nunggu resep, terus ke lobi, masih nunggu lagi, terus dipanggil. Total biaya opname di rumah sakit Bunda Waru lumayan banget sih 4 hr sekitar 2jt rupiah (di kelas 2). Hiks..Gara-gara nggak pake BPJS. Yaudahlah. Yang penting anakku sehattt.


Sama dokternya, aku masih disuruh cek satu bulan lagi tapi waktu itu pas jadwalnya pas aku nggak bisa. Aku lupa lagi kemana ya. Suami juga bilang yaudahlah anak juga sudah sembuh wkwkwkwk. 


Alhamdulillah, semenjak keluar dari rumah sakit, makannya lahap banget dan banyak. Sampai aku kewalahan. Kalau tengah malam banguh, dia minta makan, bingung nggak ada lauk. Untungnya dia mau nasi kecap doang. Semakin lama, sekitar 1 tahun kemudian, sudah nggak selahap itu. Udah bosan makan nasi kecap juga. Sukanya makan ikan. Masyaallah. Sampai sekarang makannya jadi membaik. Dulu cuma tiga suap sekarang sudah banyak. Cuma ya gitu, kalau nggak mau ya bener-bener nggak mau. Ngemil juga banyak. Dan... badannya tetap kurus. Haha.


Sekian ya cerita pengalaman anakku opname di rumah sakit gara-gara bintik merah di kulit bayi dan trombosit turun disertai demam tapi bukan DBD.

Ketika menemani anak opname di rumah sakit, banyak hikmah yang kudapat seperti:

1. Banyak kondisi anak lain yang lebih parah saat diopname. Ini adalah hal pertama yang harus disyukuri. 


2. Betapapun kuatnya si ibu, tetap saja ia akan lemah melihat anaknya sakit. Itulah kenapa ibu-ibu selalu merasa khawatir saat anaknya sakit tapi tinggal jauh. Yang dekat saja sudah terasa sedihnya, apalagi jauh. 


3. Sesendiri apapun kamu, akan selalu ada Allah menemanimu. Sebaik-baik penolong ya Allah. Minta sama Allah. Orang lain menganggap kamu nggak bisa melakukannya sendiri tapi berkat Allah semua bisa. Entah tiba2 ada saja yang nolongin.


4. Googling tentang penyakit yang diaami anak itu bisa membuat kita tenang atau malah makin kalut. Biar tenang, pergi ke dokter dan berdoa pada Pemilik Kehidupan.


5. Jangan percaya dengan kata orang atau komentar orang tentang pelayanan suatu fasilitas kalau tidak mengalaminya sendiri. Memang harus dicoba dulu baru percaya. Setiap orang punya standar sendiri2. Bisa aja orang bilang baik, kita menganggap biasa aja atau malah bagus.

Read More

Sebenarnya ini cerita 1 tahun yang lalu, tepatnya awal bulan Februari 2020. Cerita yang bikin aku galau dan mewek.


Waktu itu anakku tiba-tiba demam dan nggak mau makan. Aku lupa siapa yang duluan sakit. Anak pertama (Raceqy) atau anak kedua (Ghalib). Yang kuingat mereka sama-sama sakit demam. 


Aku kira mereka mau batuk pilek. Jadi aku kasih Sanmol. Biasanya setelah  satu hari, demam akan turun. 


Demam Raceqy turun di siang hari, pas malamnya malah panas nggak karuan. Sampe menggigil. Belum lagi dia mengeluh sakit perut. Nggak mau makan. Jadi aku belikan makanan kesukaannya, yang penting ada makanan masuk termasuk susu. Sanmol juga tetap kuberikan. Tapi sakit tak kunjung turun. Nggak ada tanda-tanda dia pilek atau batuk seperti biasanya. Eh, apa batuk juga ya. Aku agak lupa. Seingatku nggak batuk atau batuk tapi nggak parah. 


Belum sembuh si kakak, adiknya juga ikutan sakit. Ghalib juga cuma tidur-tiduran di tempat tidur. Demam. Lemas. Menggigil. Nggak mau makan, maunya minum susu formula. Dia sudah lepas menyusui satu bulan sebelum itu. Yang agak aneh itu dia selalu menatap satu sudut kamar tanpa mengerlipkan mata. Aku coba ajak dia ngmong tapi dia cuma emnoleh sebentar terus kembali lagi menatap sudut kamar. Aku agak merinding sih.


Di hari ketiga ternyata Raceqy masih demam naik turun, lemas, nggak mau makan. Cuma dari kondisi mereka berdua, kondisi Raceqy yang agak memperihatinkan. Aku mulai khawatir nih. Tapi pas aku lihat kulitnya nggak ada bintik-bintik merah. Terus dia mengeluh sakit perut di bagian bawah. Kupikir dia mencret tahunya nggak. 


Pas hari ketiga juga aku cek kulit Ghalib ternyata malah muncul bintik-bintik merah. Duh, langsung khawatir deh. Akhirnya aku ajak dia cek darah lengkap dan widal di klinik dekat rumah. Aku cek darah dinKlinik Geo Medika, Waru, Sidoarjo. Harganya 120-40ribu, aku lupa tepatnya. Maaf. Sementara Raceqy di rumah sama ayahnya.



Saat itu Ghalib lagi lemas. Saking lemasnya, saat jarum suntik dimasukkan ke dalam kulit, dia nggak menjerit, tapi nangis aja pasrah gitu. Duh, baru ini lihat anakku diambil darahnya rasanya gimanaaa gitu.


Terus aku minta petugas kesehatan untuk ke rumah, maunya periksa anakku yang pertama di rumah aja. Karena setahuku petugas klinik bisa datang ke rumah. Home Visit gitu. Kayaknya aku nggak mungkin ajak mereka berdua ke klinik pas periksa anak kedua. Maklim anakku yang kedua masih nggak bisa pisah sama mboknya. 


Ternyata dokternya lagi keluar jadi aku harus menunggu dokter bisa datang ke rumah. Aku pun pulang dan menunggu di rumah. Sayangnya dokter nggak kunjung datang, jadi aku nggak ngarep lagi dokter datang ke rumah. Aku kesana lagi untuk ambil hasil tes darah.


Satu kekhawatiranku saat baca hasil tes darah pertama Ghalib adalah aku nggak paham isinya. Setelah aku buka amplopnya, aku tanya sama petugas klinik di sana. Dia pun menjelaskan kalau trombosit anakku Ghalib masih normal sekitar 222.000 jadi kemungkinan demam berdarah rendah. Tiphoid negatif. Semua normal kecuali Hb dan Hematokrit. Aku tanya Hematrokit apa. Dia menjelaskan dengan bahasa awam intinya karena kurang air jadi darah pekat. 






Oh. Ok. Aku lega karena bintik-bintik itu berarti bukan demam berdarah. Tapi aku penasaran terus kenapa? Akhirnya aku minta ketemu dokter.


Terus dokternya bilang kalau tes darahnya masih terhitung 2 hari karena aku tes hari ketiga dia sakit. Bukan seperti hitungan dokter.


Kalau menurut dokternya, harusnya 3 hari setelah demam. Bukan hari ketiga ya. Jadi 24 jam setelah dia demam berarti dihitung satu hari. Jadi hari keempat baru valid kelihatan hasilnya. Dokternya minta aku datang lagi besok lagi. 


Dia juga bilang kalau bintik-bintik demam berdarah bukan begitu. Kalau bintik demam berdarah itu, kalau kita tekan jari kita ke bintiknya dan mengusapnya bintik merahnya masih kelihatan berarti DB tapi kalau ditekan kencang dan nggak kelihatan bintik merah berarti bukan seperti pada kulit Ghalib. Jadi dokternya menekan kulit Ghalib dan bintiknya memang nggak kelihatan. Lega sih. 


Akhirnya aku besok datang lagi dan membawa anakku Raceqy untuk ambil tes darah juga. Jadi ku harus kebal lah mendengar mereka berdua nangis. Rasanya teriris banget lah. Hiks. Mewek.


Kami pun pulang lagi. Dan aku mengambil hasilnya dua jam kemudian. Ketika kulihat hasil tes darah  Raceqy hasil tiphoid nya postif 1/80 yang artinya anakku kena tifus kalau kata mbak petugasnya. Langsung deh aku minta ketemu dokter. 


Benarlah kata petugasnya, menurut dokter Raceqy kena tifus. Pengen nangis rasanya. Tapi dokter bilang tingkatnya masih rendah, jadi masih bisa dirawat di rumah dengan resep dari dokternya. Nggak perlu diopname di rumah sakit. Legalah akhirnya.


Ketika melihat hasil tes darah Ghalib yang trombositnya makin menurun menjadi 110.000 meskipun masih di atas normal sedikit. Sayang, aku lupa foto dan aku lupa taruh dimana.


Aku khawatir. Aku jadi tanya ke dokternya. Memang sih turunnya dalam seminggu sakit nggak seperti DB yang bisa sehari saja drop banget. Itu yang dikatakan dokternya. Dia bilang besok tes lagi aja, kalau misal turun lagi ya terpaksa harus diopname. Pas pulang, aku belikan minuman jus jambu. Pokoknya semua makanan yang dia suka dan yang bisa menambah trombosit. Sari kurma, madu. Tapi aku nggak yakin bisa nambah trombosit dalam waktu satu hari.


Karena besoknya Ghalib masih lemes, sementara Raceqy meski masih tidur-tiduran, tapi suaranya sudah muali bersemangat. Kuanggap dia mulai baikan, jadi aku tes darah lagi untuk Ghalib. Duh, kasihan banget bolak-balik tes darah gara-gara salah perhitungan hari. Maklum sudah khawatir duluan ngelihat bintik-bintik merahnya.


Aku bilang sama suami. Kalau misal trombositnya masih turun lagi, aku nyerah. Aku sudah berupaya buat trombositnya naik, tapi kalau belum berhasil, aku terpaksa ke rumah sakit.


Besok pagi-pagi setelah mendapat hasil tes lab darah yang ketiga kalinya, aku cukup sedih. Hasil trombositnya semakin turun sekitar 80.000. Sayangnya hasil tes ini aku kasih ke dokter di rumah sakit jadi belum sempat foto karena sudah kalut.


Ingetku aku langsung pulang ke rumah dan memberitahukan hasilnya kepada suami. Kami sempat bingung mau ke rumah sakit mana. Apalagi Ghalib belum sempat dibuatkan BPJS. Ada rumah sakit besar A tapi biayanya pasti besar banget. Ada juga rumah sakit kecil B semacam ruko gitu, parkir mobil susah, tapi katanya sih lumayan dibanding rumah sakit C. Sedangkan rumah sakit C katanya pelayanan jelek, di dekat kampung, pasar, tapi parkir besar dan lebih besar dari rumah sakit B. Harganya juga murah kalo aku lihat-lihat di internet. Memang aku sempat searching malam sebelumnya.


Akhirnya kami memutuskan ke rumah sakit C. Rumah Sakit Bunda Waru. Bismillah aja. 


Aku pun masukkan baju ke dalam tas. Bajuku dan Ghalib. Aku minta suami jagain anak pertama di rumah, sedangkan aku pergi ke rumah sakit dengan Go-Car. Dia juga pasrah aja waktu itu. Sepanjang perjalanan rasanya campur aduk.


Sampai sana aku langsung ke IGD,petugas IGD bilang memang harus opname kalo trombosit segitu. Disuruh tanya dulu ada kamar atau nggak. Setelah itu urus administrasi.


Pas ke administrasi, banyak banget pengunjungnya. Aku menunggu antrianku. Untuk cerita selanjutnya, aku ceritain kapan-kapan ya. Pegel juga nih ngetiknya. Haha.


Beberapa pelajaran yang bisa diambil sebagai orang tua ketika anak sakit adalah :


1. Jangan biarkan anak terbiasa makan snack terus-terusan tanpa asupan protein, karbohidrat, serat yang cukup. Hasilnya bisa dilihat pada anakku Ghalib. Ia mengalami hemoglobin rendah, trombosit turun dan berdampak banget sama berat badan.


2. Kepanikan saat anak sakit malah membuat kita tidak bisa berpikir jernih. 


3. Tiga hari adalah batas yang bisa ditolerir memberikan obat anak selama di rumah. Kalau lebih dari tiga hari, maka harus dibawa ke dokter. Kalau bisa sampai hari keempat. Karena biasanya dokter juga belum bisa mendiagnosis penyakit apa. Karena biasanya setelah tiga hari, tanda2 spesifik akan terlihat. Apalagi saat bintik merah terlihat, mending cek darah untuk menenangkan diri.


4. Setiap detik kita harus peka terhadap perubahan kondisi anak. Kalau bisa diperiksa seluruh badannya setiap hari.

Read More
Gambar dari merdeka.com


Seorang teman dari grup WAG bercerita tentang anak bayinya yang baru lahir mengalami gumoh. Beberapa teman mengatakan itu wajar. Setelah cerita-cerita lagi, ternyata gumohnya banyak banget bahkan seperti air mancur.

Aku pun teringat dengan anak bayiku dulu yang mengalami gumoh seperti air mancur. Jadi setiap aku habis menyusui si bayi, tiba-tiba dia gumoh seperti orang muntah bahkan keluar seperti air mancur. Nggak setiap menyusui sih. Pokoknya kalau stok ASI cukup banyak biasanya anakku gumoh parah. Kalaupun di stop juga nggak bisa karena si bayi pasti nangis-nangis.

Awalnya aku biasa saja, lama-lama kok mengkhawatirkan. Bingung harus gimana apalagi anak bayiku ini adalah anak pertama. Beberapa cara jika bayi mengalami hal itu.


Kepala Bayi Ditinggikan

Katanya setiap habis menyusui, kepala bayi ditinggikan biar nggak keluar. Memang sih, saat menyusui itu posisi bayiku tidur, tanpa bantal, jadi posisi keplaa dan perut itu sama. Tips itu coba aku praktekkin, eh ternyata tetap aja. Malahan, sebelum selesai menyusui, bayiku udah gumoh air mancur begitu. 

Menyusui dengan disangga bantal

Terus aku nyoba nyusui dengan memberi bantal di bawah badan bayi, tapi ternyata susah banget. Kadang aku malah menyusui sambil duduk dan bayiku kusangga dengan bantal atau tanganku yang kusangga bantal. Hasilnya? Malah capek banget. Karena nggak kuat, aku kembalikan dia di posisi semula. Menyusui sambil tidur.

Mengolesi minyak kayu putih

Ada yang bilang juga kalau air ASI nya nggak kental, atau ibunya masuk angin jadi berdampak sama ASI. Aku nggak tahu sih apa memang seperti itu karena aku merasa nggak masuk angin. Tapi ya namanya orang lain yang ngomong coba aja aku olesi kayu putih dll karena kan ibu menyusui nggak boleh minum obat-obat sembarangan. 

Sayangnya, gumoh tetap terjadi. Dan kejadian itu berlangsung selama enam bulan. Aku sampai cari di internet, siapa tahu ada yang mengalami hal serupa. Nyatanya malah membuatku khawatir berlebih. Katanya sistem pencernaan belum sempurna, katupnya juga belum sempurna jadi saat memasukkan ASI, cairan kembali lagi.

Ternyata...

Aku coba bawa ke dokter, tapi katanya nggak apa-apa dan dikasih obat. Terus dokter juga bilang karena belum mpasi jd begitu. Nanti kalau sudah mpasi nggak begitu.

Muncul kelegaan dalam hati meski aku harus menahan-nahan diri melihat anakku gumoh habis mimik. 

Benar saja setelah MPASI, anakku nggak pernah gumoh parah lagi. Bahkan sudah sembuh dan hilang sama sekali. Pas anak kedua malah nggak pernah seperti itu.

Mungkin yang perlu dikhawatirkan itu kalau gumoh muntah terus terjadi dan berat badan bayi yang mengalami penurunan. Kalau seperti itu memang harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut baik ke dokter umum, spesialis atau rumah sakit.

Apa bayi ibu-ibu juga pernah mengalami gumoh seperti air mancur? Terus gimana? Apa dibawa ke dokter?


Read More
Yang dinanti-nanti pun tiba. Menyapih anak kedua di usianya yang tepat 2 tahun. Ada rasa khawatir sebenarnya, bisakah aku menyapihnya tanpa sebab yang memaksa? Maksudku, dulu anak pertama, aku terpaksa menyapihnya di usia 22 bulan karena waktu itu aku hamil usia 8 bulan dan selalu mengalami konstraksi setiap menyusui. Jadi aku terpaksa menyapihnya. Sedangkan, pada anak kedua, aku sempat bingung, apakah sudah perlu di usia 2 tahun? kenapa tidak 2 tahun setengah?
Alasannya produksi ASI sudah mulai menurun. Kalau dipaksa justru membuat aku sakit. Apalagi dalam ayat Al-Quran pun dituliskan :

"Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya." (QS. Al-Baqarah: ayat 233).

Yang paling terpenting adalah kerelaan dan adanya pembahasan antara kedua belah pihak. Saat ingin menyapih anak kedua sebenarnya tidak ada halangan untuk segera menyapih di usia dua tahun. Jadi tidak harus tepat dua tahun. Makanya saat saya menyapihnya, saya tidak seperti anak pertama yang harus berhasil menyapih dalam waktu tiga hari. Dan pada anak kedua, saya menyapihnya selama seminggu. Itu pun dengan perasaan tega dan nggak tega. Saat tega ya saya biarin nangis-nangis. Saat nggak tega ya terpaksa saya susui kembali termasuk saran suami untuk disuruh pelan-pelan biar nggak kaget.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan." (QS. Al-Ahqaf: ayat 15)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS. Luqman: ayat 14).

Kalau anak pertama, aku langsung melepasnya, nggak boleh mimik sama sekali satu hari penuh. Katanya dengan begitu, anak lebih cepat disapihnya. Biar nggak ingat mimik ke ibunya, dia diajak ayahnya jalan-jalan. Pas kebetulan memang ayahnya ada perlu di bengkel temannya. Dan menyapih anak pertama berhasil hanya dalam 3 hari. Selebihnya dia sadar sendiri dan tidur sendiri. Bagaimana dengan anak kedua? Yang ini perlu ekstra sabar.

Hari pertama menyapih

Meski sudah di sounding jauh-jauh hari, tetap saja dia nggak terima. Di hari pertama, dia nangis teriak-teriak nggak karuan karena nggak dikasih mimik. Hingga dia tertidur sendiri. Begitu bangun, dia teriak-teriak lagi sampai narik-narik baju. Aku tawari susu dan dia mau. Ujung-ujungnya tidur sambil minta gendong. Begitu juga saat malam hari, dia nggak bisa tidur karena nggak bisa mimik. Akhirnya minta digendong. Aku tawari susu juga. Jadi, gara-gara menyapih, dia minum susu cukup sering dan nggak habis. Setiap dia tertidur dalam gendongan, aku taruh lagi di tempat tidur. Kadang bangun dan nangis. Kadang nggak bangun dan lanjut tidur. Kalau begitu, aku senang banget.

Hari kedua menyapih

Saat tidur siang masih minta mimik, nangis-nangis, tarik baju. Masih sering minta susu. Minta tidur digendong juga. Nah, pas malam hari, dia sempat tidak bisa dibujuk, nangis-nangis ngamuk parah, sampai suami nggak tega, dan nyuruh pelan-pelan biar nggak kaget. Kebetulan juga di hari kedua, rasanya sakit PD karena nggak dimimiki. Mungkin anak bayi punya ikatan batin yang kuat dengan PD ibunya, makanya dia ngamuk nggak terkendali. Terpaksa, aku mimiki deh. Paginya, saat dia minta mimik, nggak aku kasih, dan dia sadar meski nangis dulu akhirnya minta susu. Setelah itu main seperti biasa.

Hari ketiga menyapih

Anakku sudah mulai mengerti kalau nggak mimik ke ibunya. Jadi dia minta susu pas inget mau mimik ke ibunya. Tidur siang juga sudah tidur sendiri. Pas malam juga sudah mulai bisa tidur sendiri. Meski tengah malam bangun minta mimik, tapi aku kasih susu. Dan dia mau.

Hari keempat menyapih

Aku kira, aku sudah berhasil menyapihnya. Karena waktu anak pertama, hanya perlu waktu tiga hari anak langsung menyapih sendiri. Ternyata anak kedua nggak bisa. Di hari keempat, saat tidur siang dia sudah bisa tidur sendiri. Pas malam hari, dia malah ngamuk-ngamuk parah. Dia minta mimik pas bangun tengah malam. Ayahnya nggak tahan dengar tangisannya. Kebetulan juga PD ku terisi lagi dan kerasa sakit. Terpaksa aku kasih mimik lagi. Hufff.. Berasa gagal menyapih.

Hari kelima menyapih

Sepertinya memang benar, anak itu paham dengan kondisi ibunya. Saat hari kelima, anakku sudah nggak mimik dan kebetulan PD ku nggak sakit lagi. Meski dia perlu penyesuaian. Masih meringik minta mimik tapi nggak maksa-maksa dan nggak ngamuk-ngamuk lagi. Jadi setiap dia minta mimik, aku tawari minum susu formula. Dan mau.

Yang paling melelahkan adalah menggendongnya saat dia mau tidur. Bisa sampai setengah jam. Dibuat duduk langsung nangis. Ditidurkan juga nangis. Kemeng deh pokoknya tanganku. Dan benar-benar nggak minta mimik itu setelah lebih dari dua minggu.

Jadi memang nggak bisa memaksa anak untuk menyapih sih karena kalau dipaksa ibunya juga sakit karena masih produksi. Memang yang benar itu perlahan-lahan tidak dikasih biar nggak kaget. Karena PD ibu dan naluri anak itu saling berhubungan. Meskipiun begitu, ditolak aja kalau dia minta mimik selama masih bisa ditolak. Tapi kalau teriak-teriak nggak bisa dibujuk ya mau bagaimana lagi.

Read More

Seberapa seringkah kalian mencuci mukenah kalian?

Hayo, teman-teman bakal menjawab berapa lama? Ada yang sampai satu tahun? Hihihi. Saya kayaknya pernah deh. Apalagi pas masih gadis, masih belum peduli nyuci sendiri. Terus kalau nggak sampai hitam jamuran nggak bakal dicuci. Eh, kalau sudah hitam jamuran sih biasanya susah dibersihkan. Padahal Allah suka dengan sesuatu yang bersih. Masak iya kita menghadap Allah tapi badan dan pakaian kita kotor?
Mukenah (foto Tribunnews)

Sebenarnya kenapa sih bisa jamuran seperti itu?

Saya dulu waktu masih gadis suka pakai mukenah dengan kondisi kepala yang masih basah. Terus pas pakai mukenah jadi ikut basah. Lama-kelamaan, di bagian kepala pasti hitam-hitam berjamur. semenjak itu, saya selalu membersihkan bekas wudhu dengan handuk. Kalaupun mukenah saya basah, saya jemur atau minimal saya gantung di gantungan paku sampai benar-benar kering. Pokoknya jangan sampai lembab. Meski sampai sekarang, jamur-jamur bintik hitam itu masih menempel di mukenah saya, tapi nggak secepat kalau wudhu tanpa pakai handuk.
Terus, saya paling nggak suka kalau ada orang pinjam mukenah tapi kepalanya nggak dibersihkan dulu. Soalnya agak gimana gitu abis dipakai orang terus basah gitu. Nggak nyaman aja pas sholat. Apalagi pas lagi sholat di luar terus mukenah dipakai orang dengan kondisi basah, sholat jadi nggak nyaman ditambah bau-bau lembab mukenah. Untung saja karena pakai jilbab jadi mukenah yang basah nggak kena kepala langsung. Endel ya. Hahaa.

Cara menghilangkan jamur pada mukena?

Saya pernah mencoba menghilangkan bintik-bintik hitam pada pakaian dengan cara-cara yang digunakan di internet. Beberapa pakaian memang nggak berhasil, tapi di beberapa jenis pakaian yang lain berhasil. Saya nggak tahu apakah karena yang berhasil itu belum lama berjamurnya jadi gampang dicucinya. Menurut saya juga, jenis kain juga mempengaruhi hilangnya bintik hitam.

Kalau warna pakaiannya putih, memang lebih mudah kita memakai pemutih terus di sikat dengan kayu. Kalau yang ini saya belum berhasil. Tapi saya pernah membersihkan kain stroller anak saya, sudah ada bintik-bintik jamurnya. Langsung deh saya bersihkan pakai deterjen atau sabun mandi terus saya sikat. Eh, alhamdulillah hilang. Saya juga pernah coba pakai baking soda pada pakaian anak saya yang banyak bintik hitam, juga nggak pengaruh.

Kalau baca di internet sih katanya pakai jeruk nipis, cuka, atau garam. Namun saya belum mempraktekkannya di mukenah. Ada yang sudah coba?

Terus kalau nggak bisa hilang jamurnya?

Yaudah, kayaknya memang harus beli baru. Hehe, maksa ya! Nggak maksa juga sih. Menurut saya perlu aja tuh sesekali beli mukenah lagi. Allah kan menyukai keindahan dan kebersihan. Jadi, ketika kita berjumpa dengannya dalam sholat, usahakan pakaian kita bersih dan kita dalam keadaan suci.

Nah, apa pertimbangan teman-teman memilih mukenah?

Sebagai Muslimah di Indonesia yang beriklim tropis, tentunya kita bisa mengevaluasi sendiri mukenah yang cocok buat kita yang seperti apa. Saya pernah memakai mukenah berbahan tipis sekali sampai-sampai kalau ada angin lewat, mukenahnya melayang-layang. Kalau jenis seperti itu memang cocok untuk dibuat travelling karena bahannya ringan. Kalau kena basah pun cepat keringnya. Kalau di tempat yang banyak anginnya kayaknya enak aja tuh, karena angin bisa masuk dari sela-sela mukenah. Haha. 

Saya juga punya mukenah katun, kainnya tebal. Kado dari seseorang saat saya baru menikah. Menurut saya kainnya enak. Namun lama keringnya kalau kena basah. Meski bahannya adem, tetap saja saya kepanasan karena saya tinggal di Sidoarjo yang panas. Hehe.

Nah, katanya ada kain mukenah yang nyaman saat dipakai alias bahannya adem, dan tidak menerawang. Namanya kain rayon. Saya pun baru tahu ada jenis ini. Jenis kain ini pun berbeda tingkatannya. Ada yang sangat tipis. Ada juga yang cukup tebal. Jenis kain rayon ini yang paling dicari di tahun 2018 silam loh!

Kalau teman-teman ingin cari kain mukenah berbahan rayon ini, kalian bisa cari di website blibli.com di Menu Fashion Wanita kemudian pilih Muslim Kategori Wanita. Selanjutnya pilih Perlengkapan Sholat Wanita. Harganya bervariasi.


Mukenah Wanita

Nggak hanya mukenah jenis rayon, jenis katun pun juga ada. Atau teman-teman mencari mukenah untuk traveling? blibli.com juga menyediakan berbagai macam model dan warna mukenah. Harganya juga bervariasi. Paling murah Rp. 75.000,- dan paling mahal sekitar Rp. 950.000,-.

Tak perlu capek-capek keliling pasar yaa. Langsung cuusss ajaa... Ada yang mau beliin saya nggak? hhehehe

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower