Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Kalau ditanya kenapa bisa lolos UWRF, saya pasti bingung mau menjawab apa, karena saya pun nggak tahu. Mungkin memang lagi rezeki kali ya. hehe.

Beneran, deh. Saya tuh nggak punya cerpen yang dimuat di media tapi memang saya beberapa kali menulis cerpen meski cuma saya simpan saja di laptop. Belum ada keberanian lah buat kirim ke media. Saya ikut lomba saja kalah terus. Haha. Sampai suatu ketika, saya memberanikan diri merombak cerpen yang saya ikutkan lomba yang kalah. Hasil rombakan yang saya kirim ke UWRF juga berbeda jauuuhhhh, meski hampir sama tentang pemanen madu.


Hal Yang Saya Lakukan Sebelum Ikut Seleksi UWRF 2019


Meski saya nggak tahu kenapa saya bisa lolos, saya mau share aja apa yang saya lakukan sebelum saya mengirim cerpen ikut seleksi. Sekalian biar saya juga ingaat terus bagaimana saya bisa menghasilkan cerpen saya Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan Nunsulat.

1. Baca buku

Saya sudah tamat membaca buku Kompas Jurnalistik ke NTT, saya sangat tertarik pada bahasantentang Meo Oni, petani madu dari NTT. Menurut saya sangat unik karena mereka tidak boleh berbuat jahat sebelum memanen madu. Mereka punya ritual pembersihan diri Nakete sebelum memanen madu. Saya kebayang, betapa mendebarkannya saat mereka harus memanen madu di atas pohon Ankai yang sangat tinggi di hutan. Terus saya membayangkan bagaimana kalau mereka tidak benar-benar bertobat saat pembersihan diri itu? Katanya, mereka akan mendapat musibah, entah digigit tawon atau jatuh dari pohon. Nah, dari sini saya coba dramatisir cerita. Dari baca buku ini saya juga mengetahui kondisi lain bahwa orang sana begitu kesulitan sehingga kerja ke kampung lain. Namanya Sore-Kasih artinya kerja pagi dan upah dikasih saat sore hari.

2. Lihat Youtube

Karena saya belum yakin dengan kondisi di sana, jadi saya coba cari di Youtube tentang Meo Oni atau panen madu di NTT. Ternyata banyak sekali dokumentasi panen madu hutan. Jadi saya bisa terbayang bagaimana mereka berjalan ke hutan, mendengar suara hewan, bernyanyi, kemudian memanen. Menonton ini sebenarnya bertujuan untuk menempatkan diri saya sendiri di lokasi tersebut, meski saya belum pernah ke sana. Dengan begitu, cerita lebih hidup seolah-olah kita pernah mengalami memanen madu. Perasaan inilah saya tuangkan dalam cerita. Bagaimana mengerikannya mereka memanjat pohon yang tinggi di pinggir jurang. Jadi saya sudah punya bayangan saat akan mendeskripsikan latar dalam cerita saya.

3. Baca blog orang

Mungkin karena di pedalaman, jadi masih jarang sekali orang yang menuliskan pengalamannya saat berkunjung ke daerah tersebut. Tentang bagaimana perilaku masyarakat, makanan khas yang biasa mereka makan, atau mungkin bagaimana bentuk tempat tinggal mereka (jarak yang berjauhan, berdempetan, rumah kayu lantai tanah, dll). Itu semua menjadi penting, agar cerita menjadi sangat kental lokalitasnya. Dari baca-baca blog ini, saya jadi tahu makanan khas mereka (seperti yang ceritakan sedikit saat Rachel berbicara dengan ibunya yang merupakan sebuah konflik awal ketika waktu makan). Saya juga jadi tahu tempat tinggal mereka sehingga begitu kerasa bagaimana kondisi perekonomian mereka, yang kemudian saya hubungkan dengan pekerjaan Rachel dan ibunya menjadi pekerja Sore-Kasih. Kenapa harus ada jenis pekerjaan itu? Karena tidak mau terkesan menempel, jadi setelah mereka pulang kerja Sore-Kasih itulah si Rachel bertemu Victor. Nah, saya sungguh berterima kasih bagi kalian-kalian yang suka bepergian ke bagian belahan bumi mana pun dan menceritakannya lewat blog, media sosial yang bisa diakses umum, atau pun mendokumentasikannya lewat Youtube.

    

Saya pun menulis dengan bayangan yang sudah ada di kepala saya. Saya tulis aja lah pokoknya semua yang ada di kepala. Masalah utamanya adalah si ibu yang nggak setuju Rachel dengan kekasihnya yang jadi Meo Oni. Saya bahkan belum tahu cerita akhirnya tapi saya tulis. Sampai cerita akhirnya menggantung.

Cerita awalnya juga, hanya seorang wanita, Rachel yang menjalin kasih dengan seorang Meo Oni, Victor. Rachel ingin meminta kejelasan hubungan mereka tapi Victor belum tahu ke arah mana. Apalagi ibunya Rachel tidak setuju dengan pekerjaan Victor. Isu sosial ini sebenarnya sudah sering terjadi di lingkungan manapun. Ibu yang tidak setuju dengan pasangan anaknya hanya karena pekerjaan yang tidak jelas. Nah, saya tambahkan juga, kenapa ibunya tidak setuju? rupanya bapaknya Victor dulu juga Meo Oni dan meninggal karena jatuh. Terus saya hubungkan, apakah si suaminya itu melakukan kesalahan? dan saya pun memilih si suami selingkuh. Kemudian awalnya saya terbayang, Victor ini ternyata punya kekasih. Tapi saya rasa kurang kuat. Terus pas saya tahu tema UWRF ini karma, maka saya hubungkan saja. Apa yang dilakukan bapaknya Rachel kembali kepada Rachel. Jadi saya bayangkan Victor ini sudah punya istri. Dan istri ini adalah selingkuhan bapaknya Rachel dulu. Jadi karmanya, bapaknya selingkuh maka anaknya jadi diselingkuhi. Mbulet ya? :D

Plot

Awalnya plotnya maju saja. Tapi katanya awal yang memikat itu dari sebuah tragedi, atau misteri agar orang mau membaca terus. Jadi saya buat tragedi si istri Victor menangis2 melihat Victor berdarah-darah jatuh dari pohon. Setelah itu, saya pakai alur mundur ketika Rachel dan ibunya berdebat tentang pasangan Rachel. Kemudian mundur lagi tentang pertemuan Rachel dan Victor. Kemudian maju saat Rachel meminta kejelasan hubungan. Kemudian maju lagi saat tragedi Victor jatuh di pohon. Kemudian kembali saat tragedi istri Victor menangis-nangis saat warga sedang melayat ke rumah Victor yang memunculkan obrolan ibunya Rachel dan Rachel. Nah, disini saya baru membuka rahasia bahwa Rachel baru tahu kalau Victor sudah punya istri tapi ibunya tidak tahu kalau kekasihnya itu adalah Victor. Jadi jangan buka rahasia di awal cerita, ya! hehe.

5. Minta Kritik Saran, Menghapus, Menambah, Menulis

Setelah itu saya minta krisan dari teman saya, apa yang aneh dan kurang. Bahkan saya baru sadar temanya adalah Karma setelah cerpen yang belum dikritik teman saya itu selesai. Setelah itu, saya rombak lagi dan saya tambah lagi, sampai akhirnya menghasilkan tulisan yang saya kirim untuk seleksi UWRF dan pastinya sesuai tema.

6. Check persyaratan

Nah, ini sangat penting sekali. Setelah cerpen selesai dan akan dikirim saya buka lagi persyaratan yang diminta.
Coba kita lihat persyaratan seleksi UWRF 2020 ya...

- Karya dikirim dalam bentuk dokumen digital (Word atau PDF) yang dapat diunggah melalui formulir di bawah. -->Cerpennya diunggah yaa ..nggak pake email2an sama panitianya..

- Karya yang dikirim merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan. Panitia menggunakan piranti lunak untuk memeriksa kemungkinan karya tiruan. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya fiksi berupa cerita pendek atau puisi. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya yang belum pernah diterbitkan. --> CHECK

- Karya yang dikirim mencerminkan pergulatan manusia dengan isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan. --> Nah, coba deh identifikasi mana isu sosial, isu budaya dan isu lingkungan di cerita kalian?

- Karya yang dikirim menunjukkan kreativitas dalam penggarapan cerita serta pelukisan karakter. --> Twist juga merupakan salah satu kreativitas dalam cerita ya (so jangan umbar semua rahasia ya!) CMIIW. Apa cerita kalian sudah menunjukkan kreativitas? Pelukisan karakter. Kalo ini sudah pasti jago semua ya.

- Peserta cukup mengirimkan satu karya untuk cerita pendek atau dua karya untuk puisi. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori cerita pendek adalah 3.000 kata. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori puisi adalah 300 kata. --> CHECK

- Panitia memiliki hak untuk menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya yang terpilih ke dalam antologi tahunan festival. -->OK. kalian pasti menyetujui kan.

- Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online melalui tautan di bawah. --> JANGAN LUPAKAN INI YA....

- Paling penting, PERHATIKAN HARI DAN JAM pengumpulan terakhir. Jumat, 6 Maret 2020 jam 5 sore ya..

Jadi jangan sampe ada yang ngirim jam 11 malam pas saat akan ganti hari (seperti saat ikut lomba2 lain yang deadline nya tengah malam).

Saya sendiri pun tak menyangka bisa menghasilkan cerpen begitu dalam semalam (meski persiapannya dari membaca dan menonton bisa sampai sebulan), tiga hari menjelang deadline. Jadi saya menulisnya mengalir saja.

Tapi bukan berarti kalian harus mengikuti plot saya yang maju mundur maju mundur cantik! Jika itu ternyataa membuat ceritamu malah nggak seru ya nggak usah dipaksain plot itu. Dan kalian juga nggak perlu cerita budaya kalau misal kalian sendiri nggak menguasai permasalahan sosialnya. Kalian bisa cerita tentang isu sosial, budaya, lingkungan di daerah urban. Yang paling penting sesuai persyaratan yang diminta.

Saya juga nggak yakin apa saya bisa membuat cerita budaya seperti itu lagi? Sungguh itu kelangkaan yang benar-benar langka. XD


Cerita saya ketika mengikuti Ubud Writers and Readers Festival bisa dibaca di SINI ya.
Read More
Saat mengikuti Workshop Kompas 2015, peserta dapat goodie bag yang isinya kereenn kereenn, mulai dari note, pulpen Kompas, topi bahkan yang paling menarik dapat buku Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2014. Dan buku itu baru selesai baca ya baru minggu kemaren dan sempat ngeblog juga baru sekarang, hehe...



Aku coba mengulas secara singkat mengenai komentar juri Kompas, menyimpulkan buku antologi cerpen tersebut. Setiap minggu koran Kompas selalu ada rubrik Cerita Pendek. Dari semua cerpen yang tembus di koran minggu masih harus diseleksi lagi untuk dijadikan Antologi Cerpen Pilihan Kompas.

Penulis

Penulis yang terlibat pun dari tiga generasi ada 25 penulis, yaitu Afrizal Malna, Agus Noor, Anggun Prameswari, Budi Darma, Des Alwi, Djenar Maesa Ayu, Eep Saefulloh Fatah, Faisal Oddang, Gde Aryantha Soethama, Guntur Alam, Gus tf Sakai Indra Trenggono, Joko Pinurbo, Made Adnyana Ole, Parakitri T. Simbolon, Putu Wijaya, Radhar Panca Dahana, Sapardi Djoko Damono Seno Gumira Ajidarma, Tenni Purwanti, Triyanto Triwikromo, Vika Wisnu, Yanusa Nugroho, Zaidinoor, LG Saraswati Putri.

Juri

Juri pemilihan cerpen Kompas dalam antologi cerpen piliha Kompas 2014 adalah Frans Sartono, Hariadi Saptono, Myrna Ratna, Putu Fajar Arcana, Efix Mulyadi.

Kriteria Layak

Rubrik Cerpen di Koran Kompas (bagiku) sangatlah susah ditembus. Kita harus memiliki ide, alur, pesan yang menarik dalam sebuah cerita. Nah, bagaimana cerpen-cerpen Kompas yang layak masuk dalam Antologi Cerpen Pilihan Kompas? Kompas memiliki kriteria tulisan layak dimuat Kompas. Cerita yang mengangkat kisah kehidupan, ekspresi kebudayaan dan nilai keutamaan dari berbagai kelompok masyarakat.

Keunikan setiap cerita membuat juri jatuh hati.

Karya Vika Wisnu berjudul "Pacar Pertama" memiliki problematika, pendekatan dan penuturan yang mirip seperti cerpen di majalah wanita. Hal ini sebagai tujuan untuk merengkuh pembaca yang selama ini kurang direngkuh.

"Angela" menyuguhkan situasi yang aneh dengan karakter yang unik, juga dongeng yang kesan mendalam.

"Travelogue" nya Seno dan " Matinya Seorang Demonstran" menunjukkan kelihaian seorang penutur terhadap suatu kisah.

"Kaing-kaing Anjing Terlilit Jaring" menunjukkan sikap manusia yang gampang terjebak pada jaring-jaring pemikiran yang dibangunnya sendiri. Cerita ini mengkritisi sikap manusia yang sering terjadi.

"Lima Cerpen Sapardi" yang segar dan ringkas.

tapi satu cerpen yang terpilih untuk dijadikan cover buku adalah karya dari Faisal Oddang berjudul "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon". Tulisan ini memiliki kelebihan dalam perkara unik budaya yang mencerminkan keragaman Indonesia

Banyaknya bahasa daerah yang muncul dan menyulitkan pembaca mengerti artinya walaupun diberi footnote bagi juri kompas tidak mengapa. Bagi juri, hal itu sebagai keutuhan ekspresi budaya yang selama ini kurang dikenal. Dengan kata lain, istilah, sejumlah kosakata, cara berpikir, adat, kepercayaan dan seluruh elemen budaya Toraja merupakan subject-matter dari karya yang bersangkutan.

Menurut juri, Faisal Oddang berhasil menempatkan kata dan istilah yang terkesan asing itu secara hati-hati. Tidak ada satu pun yang tidak berguna dalam membangun ceritanya. Cerpen itu memiliki syarat-syarat kelengkapan sebagai cerpen yang baik. Menurut juri, Faisal berhasil menyuguhkan karya yang kaya warna dan dinamika. Ia selalu menantang rasa keingintahuan pembaca dan disajikand engan teknik penceritaan yang unik dan khas.

Warna Lokal

Kebanyakan cerpen Kompas mengangkat tema budaya lokal. Elemen adat dan kepercayaan lokal hanya menjadi latar cerita. Artinya kalau kisahnya dipindah ke daerah lain tidak akan merusak keutuhan cerita.

Akan tetapi jangan sampai unsur lokal itu menjadi latar yang benar-benar tidak dibutuhkan. Juri menganggap hal itu sama buruknya dengan memberi setting di luar negeri akan tetapi kisahnya tetap menarik jika lokasinya di pindah ke Klaten. Latar yang menjadi sia-sia nggak berguna kan?

Bagiku itu yang menjadi PR penulis, bagaimana agar latar itu, unsur budaya tidak sekedar menempel tapi memiliki hubungan erat dengan keutuhan cerita. Karena sebagian penulis akan memasukkan unsur lokal atau luar negeri itu sebagai daya tarik belaka.

Tapi ada juga penulis yang berhasil meramu unsur lokal benar-benar sesuai kebutuhan seperti karya Gde Aryantha Soethana yang masuk ke ranah spiritual, yang tidak kasatmata, dalam alam kepercayaan Bali.

Begitu juga dengan cerpen Emil Amir berjudul "Ambe Masih Sakit" tentang adat Toraja dan karya Sandi Firly berjudul "Perempuan Balian" tentang ritual pengusiran roh jahat di kawasan pegunungan Meratur, Kalimantan Selatan.

Cara Mempelajari Teknik Berkisah

Menurut juri, cerita dengan warna lokal mengundang petualangan imajinasi dan memberi harapak akan pencarian terhadap kisah-kisah yang khas Nusantara.
Juri juga memberi tips cara mempelajari teknik berkisah yaitu:

  • Membaca kisah-kisah dunia
  • Mengikuti workshop menulis dengan guru-guru mumpuni
  • Dalam mengamati kisah yang terjadi di masyarakat tradisional, diperlukan waktu yang lama dan matang, karena menurut juri tidak bisa melakukannya dalam sehari

Demikian sharing yang bisa aku lakukan setelah membaca Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2014. Semoga kita terus berkarya bahkan bisa terpilih dalam rubrik Koran Minggu Kompas.
Read More
Lama banget nggak nelorin tulisan di blog gimana bisa dapet PA (page authority) mendekati 100, kalau ngeblog aja mood-moodan. Iya di draft masih banyak di otak juga masih banyak, lah tapi kok ngga nelor sih.

Akhirnya ini, ngeblog lagi. Kali ini tentang sharing pengalaman Workshop Cerpen Kompas. Sejak ikut organisasi kepenulisan FLP Malang, passion yang terpendam saat SD eh SMP, dimunculkan lagi. Terbiasa menggunakan otak kiri, saat ingin menghasilkan karya fiksi, otak kanan sepertinya sudah kaku sekali. Permainan gitar yang biasa kupetik (genjreng lebih tepatnya) rasanya juga tak mampu membuat otak kananku berkembang.

Alhasil, selalu ketawa saat dikritik karyanya karena terlalu otak kiri, kurang imajinatif, kurang dramatis, kurang berperasaan, kurang emosional lah intinya. Haha.

Pendaftaran Workshop

Suatu ketika, dari grup FLP ada pengumuman Workshop Cerpen Kompas yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang dan kerjasama dengan Kompas. Memang workshop ini sudah dilakukan di banyak kampus. Dan kali ini workshopnya diseleksi. 30 orang yang terpilih cerpennya berhak mengikuti workshop. Waktu itu,mikirnya pengen ikutan, biar tahu bagaimana sih style dan trik orang Kompas bikin cerita yang dianggap layak masuk Kompas. Karena yang datang langsung, cerpenis Kompas, Agus Noor dan juga editor Kompas, Putu Arcana.

Awalnya sih mikir pesimis, mungkin nggak sih bersaing sama mereka? Maklum baru menyentuh dunia kepenulisan juga tahun kemarin. Bersaing sama orang-orang se jatim yang sudah punya pengalaman nulis lebih lama dan juga belajar karya sastra sudah lama.

Sampai beberapa hari menjelang batas terakhir pengumpulan, masih aja kurang ide. Bahkan galau, ikut apa nggak. Atas dorongan mbak wulan, ketua FLP malang, akhirnya ikut juga. Karya kukirim ke mbak wulan untuk dikoreksi sebelum dikirim ke panitia. Ada dua cerita, tentang albino di Afrika dan tentang gadis Tengger yang terjebak karena adat. Semua bukan teenlit loh ya, tapi tentang kebudayaan. Cerpen kedua aku buat saat hari H pengumpulan. Wew. Karya fiksi nggak bisa begitu sebenarnya. Ia butuh waktu dipendam sebelum akhirnya dipublikasi.

Setelah transfer biaya pendaftaran 25ribu, aku datang ke rumah mbak Wulan minta saran. Dan yah, lagi-lagi otak kiri banget katanya. Hahaha...
Setelah bertapa di depan laptop, jam 9 malam, cerpen Kabut Bromo ku akhirnya selesai. Dan well, aku kirim lah. Biarin deh kalau nggak lolos.

Pengumuman

Pengumumannya diundur sehari karena yang ikut mbludak, kata panitia via email dan sms. Baiklah, sainganku ternyata banyak.

Keesokannya, coba cek email. Ada email masuk katanya aku lolos jadi peserta workshop. Hahahhaaa, itu respon pertama saat tahu aku lolos. Gimana nggak ketawa, bisa-bisanya karya itu layak. Yang jelas, kalau nggak karena mbak Wulan juga nggak mungkin bisa lolos. Trims mbak wul.

Workshop

Hari H workshop pun tiba. Emak-emak yang lagi bawa 1 kilo makhluk mungil di perutnya berharap semoga kuat sampai selesai. Kalaupun nggak, siap-siap minta jemput buat pulang. Workshop rencananya dari jam 9 sampe jam 5.

Sampai di perpus UM, panitia memberikan seminar kit gitu, goodie bag yang isinya topi dari kompas, blocknote, pulpen, kumpulan cerpen kompas pilihan 2014 juga baju yang harus dipakai saat itu juga, serta sekotak snack.



Acara pun dimulai, setelah sambutan-sambutan (dari sambutan aku tahu total pendaftar sekitar 70an) kemudian presentasi dari Bli Can. Diawali dengan permainan bahwa seluruh peserta memilih seorang peserta lain yang tidak dikenal dan melakukan percakapan, dan di akhir workshop menjelaskan tentang karakter lawan bicara. Setelah itu, Bli Can menjelaskan tentang sejarah rubrik cerpen Kompas dari dulu hingga sekarang. Terus ada grafik juga kecenderungan penulis mengirim cerpennya. Dari grafik itu bisa disimpulkan...

Tips mengirim cerpen ke koran Kompas:

Jangan mengirim karya saat peak month

Sebenarnya agak susah disimpulkan karena dalam dua tahun jumlah pengirim cerpen yang cukup tinggi di akhir dan awal tahun, pertengahan juga. Tapi dalam satu tahun, kecenderungan penulis menurun di awal tahun. Entahlah. Mungkin kesimpulan sementara bahwa peak month nya di awal dan akhir tahun (setelah tulisan blog ini terpublish bisa jadi malah trend peak month nya berubah, bukan lagi awal dan akhir tahun, hehe). Dari situ juga kebayang, mungkin untuk rubrik opini juga gitu kali ya..

Penulis yang sudah dikenal

Yang ini agak susah bersaingm karena saat kita mengirim karya dan saat itu ada penulis yang sudah dikenal kompas. Maka biasanya editor bakal memilih penulis yang sudah mereka kenal untuk dipublikasi.

Inti Workshop

Yang jelas, aku termasuk peserta workshop pasif. Kenapa? Satu, aku bukan terlahir dari jurusan sastra. Dan aku baru saja mengenal dunia kepenulisan karya fiksi. Kedua, tentu ada ketidakpercayaan diri, biasanya persentasi tentang tata kota, sekarang kudu berkata-kata sastra. Ketiga, kaum pemerhati sepertiku hanya belajar dari mereka yang sudah lebih berpengalaman dariku.

Saat inti ini diisi langsung oleh cerpenis Kompas, Agus Noor. Ia mengungkapkan tips menulis berikut.

Di awal kalimat, beri perspektif berbeda

Beliau memberi game untuk mendeksripsikan tentang ruang workshop. Bagi sebagian peserta workshop, menjadikan deskripsi ruang sebagai cerita inti yang singkat, padahal bisa dijadikan latar belakang dari cerita inti. Dan pemikiran Agus Noor memang agak beda.

Beri sesuatu agar pembaca mempertanyakan, ada apa ini? Kira-kira orang lain tidak kepikiran. Selain itu, jangan terlalu terbawa perasaan dulu.

Cara temukan ide : bermain kata

Kadang ide susah ditemukan saat tangan ingin menulis. Ada trik yang bisa memancing ide yaitu dengan bermain kata. Sebutkan kata yang terlintas yang paing utama, kemudian tulis kata lain yang terlintas, tak perlu berkaitan. Biasanya hasil dari karya ini nggak pernah terpikirkan oleh orang.

Selain itu, bisa juga diambil kata pungutan dari sobekan koran atau kata apapun yang ditemukan di jalan.

Bermain kata juga tidak gampang, saat kita menemukan kata-kata dalam sobekan kertas, maka kita harus merangkainya dengan kata sambungan seminim mungkin sehingga menjadi satu kalimat. Itu menguji keterampilan dan imajinasi kita.

Jika stuck? 

Membuat karya fiksi penulis juga pernah mengalami kebuntuan (stuck), maka menurut Agus Noor caranya adalah mendengarkan kisah atau curhatan orang lain atau juga bertemu orang. Bisa jadi curhatan itu menjadi inspirasi.

Bahkan ketika kita melihat di sekeliling kita, misal batu, maka deskripsikan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain tentang batu, maka gampang sekali membuat karya fiksi (okeh, kapan aku praktekkan setelah ini?).


Dalam workshop ini juga dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian tiap kelompok melakukan observasi di sekitaran kampus UM atau kalau mungkin melakukan wawancara. Kemudian, tiap kelompok membuat karya cerpen sesuai hasil observasi yang dibaca oleh perwakilan kelompok saat didepan.

Sayangnya, saat kelompokku belum dibahas, waktu sudah mendekati pukul 5 sore, dan didalam perut rasanya sudah pengen pulang dan baring-baring.
Demikian berbagi kisah workshop Kompas 2015. Yang terpenting sih, smoga bisa mempraktekkan ilmunya dan bisa mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti dan jangan sombong kalau udah jadi penulis. Apalagi jangan sampai lupa sama Yang Menciptakan kita karena berkat Dia, kita bisa bernafas dan menikmati karuniaNya (bahkan ketika menjadi penulis terkenal)...
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower