Tampilkan postingan dengan label Urban & Regional Planning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Urban & Regional Planning. Tampilkan semua postingan
Sejak pindah ke Sidoarjo tahun 2016 silam, saya harus mengikuti aturan tempat tinggal saya yang ramah lingkungan. Mulai dari memilah sampah, menanam tanaman, belanja dengan tas ramah lingkungan agar mengurangi sampah plastik (menuju zero waste). Bahkan sempat ada program menyiram tanaman di kebun RT yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah.

Namun, pelaksanaan program yang ramah lingkungan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kali ini saya akan cerita tentang gaya hidup yang ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal saya di Perum. Rewwin, meski sebenarnya tidak 100% ramah lingkungan. Saya pun masih berusaha keras mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan. Ternyata susah-susah gampang.

Oiya. Di perumahan saya memang belum semuanya menerapkan program-program itu. Di RT saya sudah menjalankan program itu cukup lama. Mungkin memang tergantung dari pengurus RT/RW dan juga kerja sama masyarakatnya.

Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,

Pemilahan Sampah

Seorang kader lingkungan yang tinggal berjarak dua rumah terlihat sibuk ketika akan ada penilaian tentang pemilahan sampah warga. Beliau memastikan bahwa warganya sudah benar dalam memilah sampah. Jika ada yang salah, biasanya beliau tegur langsung, termasuk saya. Hehe.. Beliau memang bertugas mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, kebersihan lingkungan dan penghijauan di depan rumah warga.

Penilaian tahun lalu ini para juri akan datang ke RT dan menanyakan terkait dengan pemilahan sampah. Pertanyaan yang diajukan cukup sederhana, seperti, "Tusuk sate masuk sampah apa? Bungkus indomie masuk sampah mana?"

Gampang menjawab pertanyaan itu bagi praktisi pemilah sampah. Bungkus mie waktu itu masuk residu karena tidak laku dijual. Tusuk sate masuk residu/limbah beracun berbahaya. Saya sempat ditegur sama kader lingkungan saat saya memasukkan ke sampah organik, katanya tusuk sate masuk limbah berbahaya. Begitu saya tanya alasannya, tusuk sate masuk limbah berbahaya. Padahal menurut saya definisi limbah berbahaya bukan itu ya. Atau saya yang selama ini salah? Beliau cerita kaki petugas sampah pernah terkena tusuk sate dan bengkak. Akhirnya tusuk sate termasuk sampah berbahaya/residu dan harus diikat dengan karet.

Tahun lalu pemilahan sampah hanya tiga kategori yaitu sampah basah (organik), sampah kering (anorganik dan bisa dijual) dan residu atau limbah B3 (anorganik dan tidak bisa dijual). Jadi setiap rumah akan memiliki 1 bak ember cat yang besar itu untuk sampah organik sedangkan sampah residu dimasukkan dalam kresek dan akan saya keluarkan saat ada jadwal pengambilan sampah.

Pertama kali menerapkan itu, saya cukup kagok. Antara teori yang saya dapatkan sangat berbeda dengan praktiknya. Setiap mau buang sampah saya pasti mikir, ini masuk mana ya? Pada akhirnya kadang ya masukkan semuanya ke residu (sampah popok, pembalut, stereofoam, bungkus saos, dll) hehe. Sedangkan sampah kering seperti botol aqua, botol saos, botok kecap, kemasan rinso, kertas, duplex, mika, karton, semua diserahkan sama seorang pengurus Bank Sampah di RT. Di rumahnya pun sampai ada daftar bungkus-bungkus plastik yang tidak laku dijual di pasaran. Biasanya beliau mencatat total timbangannya di buku khusus. Hasilnya sih selama ini baru digunakan untuk rekreasi ibu-ibu ke tempat wisata. Hihi.

Oiya, FYI, masyarakat disini kebanyakan pensiunan meski beberapa masih ada yang bekerja. Bayangkan, para orang tua ini di masa tuanya masih harus memikirkan sampah-sampah ini. Kadang saya malu sendiri, yang masih muda, tapi nggak bersemangat. Yaah meski beberapa ada yang asal saja dan tidak dipilah. Biasanya nih petugas sampah nggak akan mengambil sampah yang tidak dipilah. Serem kan.

Terus kalau ada yang protes akhirnya dijawab, "Bapaknya nggak mau ngambil kalau nggak dipilah". Gimana coba masalah sampah saja kadang bikin gregetan atau malah bikin memunculkan permasalahan antar warga? Makanya di beberapa RW tidak begitu berjalan karena memang masyarakatnya sendiri kurang mendukung. Akhirnya kader lingkungan juga kurang aktif bergerak.

Tahun ini, pembagian sampah lebih banyak lagi. Selain residu dan sampah basah, kita harus memilah lagi ke dalam kategori plastik kotor seperti plastik bekas beli sayur, ikan, daging, ayam, udang, bumbu-bumbu, tahu, wafer, cokelat, dll. Nah sampah residu ini nggak boleh ada kresek. Dulu saya cuma pakai kresek besar khusus residu, sekarang pakai bak cat biar nggak kececeran dan biar terlihat rapi saja.

Jadi setiap rumah itu harusnya punya 3 macam wadah pemilahan sampah (di tempat kami berupa bak cat). Karena saya cuma punya 1 bak, saya beli lagi bak seharga 20.000 di tetangga, sedangkan plastik kotor saya pakai tempat es krim kiloan punya mbak hehe. Jadwal pengambilan pun lebih sering. Jadi plastik-plastik itu tidak boleh dimasukkan dalam bak residu karena harapannya plastik/kresek kotor ini setelah dibersihkan bisa dijual lagi.


Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah Residu dan Plastik Kotor

Awalnya saya juga bingung, karena belum terbiasa. Biasanya plastik saya langsung masukkan ke residu. Sekarang harus saya masukkan di tempat khusus. Kalau dulu mau buang softex biasa pakai kresek, sekarang nggak boleh dan harus pakai kertas/koran. Dulu buang popok bekas pup pakai kresek, sekarang nggak.

Akibatnya, rumah saya banyak sekali sampah-sampah kering karena saya biasanya mengumpulkan sampah kering itu sampai bertumpuk baru kemudian menyerahkan pada Bank Sampah. Begitu pun dengan sampah residu, jadwalnya hari selasa, dan cuma seminggu sekali. Jadi sampah residu masih tersimpan di rumah sampai minggu depannya. Kadang bertumpuk banyak. Kadang nggak banyak.
Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah kering yang berisi botol, duplex, dan bungkus plastik

Selain itu, karena rumah saya ada pohon mangga dan sekarang lagi musim kemarau, otomatis banyak sekali daun berguguran. Saya harus menyapunya sampai berkali-kali dalam sehari. Kadang nggak sama sekali. Begitu lihat keluar rumah udah bersih karena tetangga yang nyapu wkwkwk.

Penghijauan

Meski rumah kami kecil dan tidak memiliki halaman rumah, namun kami memiliki petak kecil di depan rumah untuk tempat menanam tanaman. Jenis tanaman yang dianjurkan adalah tanaman toga, zodia, dan.., hmm lupa apa. Wkwkwkwk.

Nah, biasanya kader lingkungan akan sibuk mengabsen satu persatu rumah di RT. Beliau akan memastikan jenis tanaman yang diminta juri sudah tersedia demi lomba penghijauan 17 agustus. Minggu kemaren penilaian ketersediaan tanaman Zodia di RT saya sudah terlaksana. Tanaman Zodia ini katanya bermanfaat untuk mencegah berkembangnya nyamuk termasuk nyamuk aedes penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Beberapa minggu sebelumnya, warga mulai heboh mencari tanaman Zodia. Laris deh penjual tanaman kalau program penghijauan ini terus berjalan. Untung pembelian Zodia dilakukan secara kolektif, jadi biasanya ibu-ibu beli kolektif saja daripada harus cari sendiri.

Penggunaan tas belanja

Suatu ketika, saya diberi sebuah tas berwarna hijau oleh bu RT. Katanya untuk meminimalisir plastik jadi belanjanya pakai tas belanja. Well, maksudnya baik. Namun, kenyataannya, terkadang saya masih lupa untuk membawa tas belanja ini saat belanja sayur pada abang yang lewat. Kalau ke pasar justru kepakai karena tas belanja saya taruh di keranjang sepeda. Ya, saya naik sepeda ke pasar dengan gonceng si besar di belakang dan si bayi gendong depan. Meski tetap, kresek masih masuk ke dalam tas belanja saya.

Sebenarnya program-program ini cukup penting mengingat dunia kita sudah banyak menanggung tumpukan sampah plastik. Jadi, mau tidak mau kita harus menjaganya. Mau tidak mau juga harus melaksanakan program yang diminta pemerintah agar sampah tidak makin bertumpuk bahkan bisa melaksanakan zero waste. Sebagai umat muslim pun tidak merusak bumi adalah perintha yang tertuang dalam ayat Al Quran. Memang efeknya, sampai saat ini tidak terasa tapi untuk kedepan pasti sangat berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.


Read More


 Pernahkah terbayang bagaimana kehidupan masyarakat yang tinggal dekat dengan Tempat Penampungan Sampah (TPS) atau Tempat Penampungan Akhir (TPA) Sampah?

Dulunya, di wilayah timur kota Surabaya, terdapat kampung yang terkenal kumuh dan dekat dengan eks TPA. Namanya Kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo.

Kondisi bangunan tidak sesuai standar kenyamanan, keamanan, kesehatan dan lainnya. Penyediaan air minum yang terbatas karena tidak ada perpipaan PDAM. Pengelolaan persampahan buruk. Sampah-sampah berserakan. Pengelolaan air limbah buruk. Lingkungan kampung Keputih Tegal Timur Baru terlihat gersang. Tak ada tanaman yang meneduhi lingkungan mereka. 

Wilayah ini terisolasi dari hiruk pikuknya Kota Surabaya. Sebuah kampung yang tak banyak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya Surabaya. Penduduknya merupakan golongan prasejahtera dengan mata pencaharian buruh, pemulung, dan lainnya. 

Hingga muncul pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat untuk membuat perubahan yang lebih baik pada kampung Keputih Tegal Timur Baru.

Bagaimana agar kampung ini menjadi lebih baik sehingga dikenal orang?

Bagaimana agar orang mau berkunjung ke kampung mereka?

Musyawarah antar warga pun dilakukan. Mereka mulai berembug pada setiap permasalahan penataan lingkungan di Kampung Keputih Tegal Timur Baru. Masyarakatnya sendiri siap menjadi agent of change untuk hidup yang lebih baik.

Seberapa jauh kampung Keputih Tegal Timur Baru bisa menjadi agent of change?

Gapura KBA Keputih


Sampah Tak Lagi Berceceran

Mereka harus memikirkan bagaimana agar masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, bagaimana agar lingkungan mereka bebas sampah, bahkan bisa menghasilkan.

Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota membuat petugas sampah dari Dinas Kebersihan tidak mengangkut sampah di kampung mereka. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo, berinisiatif menyediakan petugas sampah dari kampung mereka. Biayanya diperoleh dari hasil iuran kebersihan warga. Bisa dibayangkan, golongan prasejahtera itu masih harus membayar iuran kebersihan. Mereka tetap berkomitmen untuk membuat lingkungan mereka bersih dan layak dikunjungi.

Tak hanya menyediakan petugas sampah sendiri, masyarakat sudah paham bahwa sampah-sampah yang mereka hasilkan setiap hari masih bisa dijual kembali. Tentunya, ini bisa menambah penghasilan masyarakat.

Mereka belajar mengelola Bank Sampah. Pihak kecamatan melatih mengelola Bank Sampah pada masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru. Awalnya, memang susah untuk memisahkan sampah basah, sampah kering dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Seiring berjalannya waktu, kebiasaan memilah sampah membuat masyarakat tidak lagi kesulitan.

Hasil pemilahan sampah mampu sedikit tambahan pendapatan masyarakat kampung Tegal Timur Baru untuk kebutuhan sehari-hari.

Gayung pun bersambut, PT. Astra International Tbk memberikan bantuan kepada Kampung BERSERI (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri) Astra, termasuk kepada Kampung Tegal Timur Baru untuk merenovasi bangunan Bank Sampah yang sudah ada ditambah dengan papan nama Bank Sampah.

Kampung Menjadi Lebih Hijau

Kampung yang dulunya gersang kini disulap menjadi kampung yang asri nan hijau. Awalnya, para masyarakat desa merasa perlu untuk menambah tanaman-tanaman di depan rumah mereka. Mereka membeli tanaman sendiri walaupun hanya tanaman-tanaman kecil. Pot-pot kecil diletakkan di depan rumah masing-masing. Tanaman-tanaman itu pun merupakan hasil swadaya masyarakat.

Kampung yang Asri di Kampung Keputih Tegal Timur Baru



Tak hanya itu, warga bergotong-royong untuk mempercantik kampung dengan memberi pagar dan mengecat bagian pinggir jalanan berpaving, mengecat pot-pot bunga dan pagar bambu di depan rumah.

Tak hanya swadaya masyarakat, PT. Astra International Tbk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) memberikan bantuan yang berwujud Rumah Toga dan beberapa pot-pot untuk diletakkan di depan rumah warga. Tanaman merambat Markisa juga ditanam di depan rumah-rumah warga.

Tanaman Markisa Meneduhi Jalanan di Kampung Keputih (dok.pribadi)

Berdasarkan data dari Khasanah (2015), pembangunan yang Astra laksanakan dari Juni 2013 hingga akhir 2014 berupa pengembangan pusat pembibitan tanaman dengan pemberian 8100 bibit tanaman produktif seperti Cabe, Terong, dan Tomat, dan bibit tanaman hias seperti Markisa dan Anggur.


Air Terbatas, Bukan Alasan Untuk Menyerah

Masalah tak hanya selesai sampai penyediaan vegetasi saja tapi masyarakat mengalami kesulitan air untuk menyirami tanaman. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru berada di daerah yang sulit dijangkau dengan air bersih. Kualitas air pun kurang bagus. Sebenarnya ada Master Meter dari PDAM masuk ke kampung tapi sayanganya debitnya terlalu kecil sehingga saat pagi dan sore masyarakat tidak kebagian. 

Agar tetap bisa hidup, masyarakat harus mengambil dan membeli air di sumber PDAM dengan jerigen atau membeli air pada warga yang dialiri PDAM. Ada juga yang mengambil air di Bumi Marina. Masyarakat pun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sebulan bisa sampai ratusan ribu. Kondisi itu berjalan hingga bertahun-tahun lamanya. Bahkan sampai saat ini.

Persediaan air yang terbatas tak membuat mereka menyerah untuk menyediakan vegetasi pada kampung mereka dan menyirami tanaman-tanaman tersebut.

Mengetahui permasalahan tersebut PT. Astra International Tbk bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membangun Water Treatment Plant (Instalasi Pengolahan Air) untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari warga.

Water Treatment Plant di Keputih

Masyarakat membayar delapan jerigen air untuk harga Rp. 2.000,-. Harganya lebih murah daripada harus membeli air dari PDAM seharga Rp. 10.000,- untuk delapan jerigen (Khasanah, 2015).
Warga Kampung Keputih Menampung Air di Jerigen

Kendala penggunaan WTP adalah saat air sungai surut, air di WTP tidak bisa dimanfaatkan karena rasanya asin sehingga masyarakat membeli air di jerigen-jerigen dari wilayah lain. 

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di depan musholla juga membantu masyarakat membuat sisa air wudhu untuk menyirami tanaman.

Air Hasil IPAL untuk Menyiram Tanaman

Menuju Kampung yang Cerdas

Tak hanya ingin mengubah lingkungan menjadi bersih, sehat dan hijau, PT. Astra International Tbk membangun Rumah Pintar untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat. Awalnya bangunan Rumah Pintar itu adalah balai RT. Rumah Pintar pun diresmikan oleh Bu Ani Yudhoyono tahun 2014. Bangunan dua lantai tersebut berisi buku bacaan anak-anak, alat permainan edukatif, pembelajaran audio visual, computer, printer, dan sentra kriya.

Hanya saja, Rumah Pintar ini belum begitu efektif dan masyarakat belum menggunakannya secara maksimal untuk meningkatkan budaya literasi.

Kampung yang Mandiri

Selain pengumpulan sampah kering di Bank Sampah yang bernilai ekonomis, sampah basah dikumpulkan di Rumah Kompos yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Tentunya dapat menambah penghasilan masyarakat. Menurut Khasanah (2015), Setiap bulannya Rumah Kompos dapat memproduksi 500 kilogram pupuk kompos dengan penghasilan sebesar Rp. 1.000.000,-. Sedangkan setiap bulannya Bank Sampah dapat mengumpulkan 500 kilogram barang bekas (Khasanah, 2015). Tanpa kerja sama dan komitmen masyarakat untuk menjalankan Bank Sampah dan Rumah Kompos, maka bantuan dari Astra tersebut tak optimal memberi manfaat.

Kehadiran Rumah Jamur yang dikelola oleh warga dengan bantuan dari Astra, khususnya RT 8, rupanya memberikan nuansa baru bagi geliat perkembangan perekonomian kampung. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga tumbuh di kampung tersebut, seperti UKM Tempe, UKM Saridele, UKM Kerupuk, dan UKM Binatu (Laundry). 

Sayangnya, usaha pengolahan Markisa tidak berjalan karena tanaman Markisa yang semakin menurun. Harapannya bantuan-bantuan tersebut untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam perekonomian.

Mural Graffiti Pengolahan Buah Markisa

Menuju Masyarakat yang Sehat

Dulunya, banyak warga yang tidak punya kamar mandi sendiri sehingga dibangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) Komunal. Saat saya kesana, saya melihat MCK Komunal tersebut seperti kurang terawat atau mungkin tidak terpakai dan kurang terjaga kebersihannya.

MCK Komunal di Keputih Tegal Timur Baru

Kampung Keputih Tegal Timur Baru juga memiliki lapangan olahraga yang tak hanya dimanfaatkan untuk berolahraga (futsal, voli, bulutangkis, dan basket) tapi juga untuk kegiatan sosial kemasyarakatan seperti perayaan kemerdekaan Indonesia dan pertemuan lainnya.

Pembawa Perubahan

Bukan sebuah perjalanan yang singkat untuk menjadi Kampung Berseri Astra. Warga bergotong-royong menciptakan lingkungan yang hijau, bersih dan sehat untuk mengikuti lomba kebersihan tingkat kota Surabaya. Sampah-sampah tidak lagi berserakan. Vegetasi banyak menghiasi sepanjang jalan kampung. Bank Sampah yang dikelola masyarakat mengubah perilaku mereka sedikit demi sedikit untuk lebih memanfaatkan sampah. Walaupun akhirnya masuk dalam peringkat 500 besar tapi lingkungan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hingga pada akhirnya Kampung Keputih Tegal Timur Baru terpilih menjadi Kampung Berseri Astra yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Astra International Tbk. 

Kenapa bisa terpilih? 

Menjadi Kampung Berseri Astra, sebuah kampung harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Kampung Keputih Tegal Timur Baru telah memenuhi kriteria-kriteria seperti tata lingkungan yang baik, memiliki sifat gotong-royong, dan kemudahan akses untuk sosialisasi dan pengawasan program.

PT. Astra International Tbk bersama masyarakat Kampung Keputih Tegal Timur Baru sudah melakukan pengembangan penataan lingkungan yang akhirnya membawa kampung tersebut beberapa kali menjadi pemenang dalam lomba Green and Clean Kota Surabaya.



Sejak Juni 2013, Astra melakukan pengembangan-pengembangan lingkungan agar kampung tersebut menjadi kampung yang bersih, asri dan menjadi pusat edukatif. Dalam jangka 2013-2015, Astra telah memberikan bantuan barang bernilai Rp. 400.000.000,- untuk merenovasi balai RT menjadi Rumah Pintar, membangun Rumah Kompos, membangun WTP, IPAL, Bank Sampah, pembelian mesin pencacah sampah organic, bibit tanaman, pemavingan lapangan, pembelian bamboo untuk batas jalan, polybag, pembangunan gapura, pengecatan bamboo dan gapura, dan peresmian Kampung Berseri Astra tanggal 14 Oktober 2014. Harapannya, di tahun 2020, Kampung Keputih Tegal Timur Baru akan menjadi ikon kota Surabaya.

Beberapa penghargaan yang pernah diterima antara lain Pemenang Green and Clean Tema Lingkungan Berbunga Kategori Pemula Tahun 2013, Partisipasi Masyarakat Terbaik Green and Clean Kategori Berimbang Tahun 2014, Pengelolaan Lingkungan Terbaik Green and Clean Kategori Maju Tahun 2015, Partisipasi Masyarakat Terbaik Kategori Maju tahun 2016, dan masih banyak lagi.

Astra bersama masyarakat kampung tersebut masih terus mengembangkan lingkungan kampung tersebut agar berhasil mewujudkan Kampung Keputih Tegal Timur Baru menjadi kampung yang BERSERI atau Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri.

Progress is impossible without change, those who cannot change their minds cannot change anything
- George Bernard Shaw -

Perkataan Bernard Shaw, seorang novelis asal Inggris, mungkin benar untuk siapapun yang ingin membuat perubahan lebih baik dalam hidup. Tidak mudah mengubah perilaku yang sudah melekat dalam suatu individu.

Menjadi masyarakat yang bertindak sebagai agent of change di kampung Keputih Tegal Timur Baru adalah sebuah pekerjaan yang tak mudah. Bukan berarti tak mungkin. Masyarakat kampung tersebut memiliki semangat dan kerja keras untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lebih baik. Mereka bisa membuktikan dengan mengubah mindset mereka ke arah yang positif. Itulah agent of change.

Tak cukup hanya mengandalkan bantuan dari PT. Astra International Tbk,  keikutsertaan masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru dalam pengembangan kampung menjadikan kampung tersebut berseri dan lebih hidup.



DAFTAR PUSTAKA
Khasanah, Anisa Nur. 2015. Implementasi Program Corporate Social Responsiility Pt. Astra International Tbk Di Kampung Berseri Astra. Jurnal Publika Vol 3, No 2  Tahun 2015.
Prasetyo, Galih Adi. 2017. Air Jagir Bisa Siap Pakai Dengan WTP. https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20170724/282278140394299




Read More


Generasi millenial atau disebut juga dengan Gen Y adalah generasi yang lahir pada jaman dimana teknologi sudah mulai berkembang, televisi sudah berwarna, gadget berkembang, ketergantungan pada internet, kebutuhan eksistensi. Menurut wikipedia, generasi millenial lahir dalam rentang waktu tahun 1980-2000an.

Pandangan para baby boomers, atau pendahulu, terhadap Gen Y ini terkadang memberi kesan yang buruk. Menurut para baby boomers, mereka lebih menyukai yang instan, tidak mau ribet, seenaknya saja dan tidak mau berusaha keras. Padahal Gen Y ini juga memiliki sisi positifnya yang jika dibimbing dan diarahkan akan memberi pengaruh positif bagi kehidupan kedepannya. Sehingga Gen Y ini memiliki masa depan cerah dan penuh harapan baru.

Kalau dilihat sisi positifnya, pengaruh perkembangan teknologi membuat karakteristik generasi millenial jelas berbeda dengan generasi sebelumnya, baby boomers. Mereka lebih kritis, inovatif dan kreatif. Pengetahuannya tentang teknologi jauh lebih baik dibanding orang tua mereka. Mereka lebih menyukai kepraktisan dibanding cara konvensional pendahulu mereka.

Generasi millenial bisa diarahkan dalam bidang apapun. Salah satu bidang yang menjadi perhatian dunia adalah bidang energi. 

Secara sederhana, kita bisa menjadi generasi Langit Biru. Generasi ini adalah generasi millenial yang mementingkan kualitas hidup untuk masa depan yang lebih baik. 

Beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi pada langit biru adalah:

Budayakan jalan kaki pada jarak yang masih bisa ditempuh. Kondisi iklim Indonesia yang panas, penuh debu dan berpolusi memang membuat siapapun malas untuk berjalan kaki. Tapi kita bisa menguranginya kalau ingin menjangkau tempat-tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal kita. Hemat bensin, lingkungan pun berkualitas.

Yuk, gunakan transportasi umum. Transportasi umum di beberapa kota besar memang masih menjadi pilihan penduduknya. Selain fasilitasnya yang sudah memadai, penggunaan transportasi umum ini bisa mengurangi kemacetan juga polusi udara secara tidak langsung.

Penggunaan pertamax sebagai kontribusi pada Langit Biru. Setiap kendaraan selalu ada rekomendasi bahan bakar yang digunakan dan dapat dilihat pada buku manualnya. Dengan oktan tertentu, maka bahan bakar kendaraan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik. Tujuannya agar peforma mesin tetap berjalan baik. Selain itu, penggunaan pertamax dapat mengurangi sisa pembakaran gasoline yang menyebabkan polusi udara.

Penanaman vegetasi di perkotaan. Semakin banyak tanaman pada suatu kota maka semakin banyak pula karbon monoksida yang diserap tanaman. Dengan begitu, udara menjadi bersih. Polusi berkurang. Lingkungan menjadi sejuk dan langitpun terlihat cantik karena warnanya yang biru.

Generasi Langit Biru (Sumber gambar : dok pribadi)

Proyek Langit Biru

Sebenarnya Langit Biru adalah proyek Pertamina untuk menjawab permasalahan kilang minyak yaitu menurunnya efisiensi dan fleksibilitas kilang. Akhirnya Pertamina melakukan revitalisasi dan modernisasi kilang eksisting yang ada di Cilacap dengan nama Proyek Langit Biru Cilacap.

Pembangunan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) adalah proyek pembangunan kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas RU IV agar setara dengan Euro IV. Selama ini Indonesia memberlakukan standar emisi kendaraan EURO II, sedangkan di Eropa sudah menggunakan standar Euro VI.

Standar emisi kendaraan ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan. Emisi gas kendaraan adalah sisa hasil pembakaran gas buang yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Negara Eropa yang memberlakukan pertama kali standar emisi gas ini tahun 1992. Pemberlakuan standar emisi ini agar lingkungan tetap hijau.

PLBC ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas produk BBM dari Premium (RON 88) menjadi Pertamax (RON 92). Nilai RON ini membedakan kualitasnya saat digunakan pada kendaraan. Memang tidak semua tahu perbedaan kedua jenis RON tersebut. Perbedaan jenis RON ini mempengaruhi kinerja mesin. Semakin besar oktan maka bahan bakarnya semakin lama terbakar sehingga menghasilkan residu yang sedikit bahkan tidak sama sekali. Semakin sedikit residu pada kendaraan maka semakin bagus kinerjanya terhadap mesin kendaraan. 

Standar Emisi Kendaraan Ringan (Sumber gambar : dok pribadi)
Selain itu, buangan NOx dan COx pada premium semakin besar dibanding pertamax. Limbah buangan ini yang akan dilepas ke udara dan dikenal sebagai polusi yang membahayakan kesehatan. Itu kenapa pertamax menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan dibanding premium.

Dengan program Langit Biru itu harapannya peningkatan kualitas BBM menjadi pertamax juga meningkatkan kualitas udara. PLBC ini mampu menghemat pengeluaran Pertamina sekitar 21 Miliar Rupiah per hari. Direncanakan proyek ini selesai tahun 2018. Setelah PLBC selesai maka gasoline yang dihasilkan seluruhnya memiliki oktan minimum 92 atau minimum jenis Pertamax. Diharapkan Pertamina mampu produksi pertamax di PLBC sebanyak 91000 barel per hari.

PLBC (Sumber gambar : dok pribadi)


Future Blue Sky

Menjadi generasi Langit Biru dan melakukan hal-hal yang mengurangi polusi udara seperti yang disebutkan sebelumnya adalah cara-cara agar kehidupan masa depan menjadi berkualitas.

Aktivitas perkotaan tetap seimbang karena memperhatikan alam.

Udara segar dan polusi berkurang karena aksi penanaman pohon-pohon atau vegetasi yang dilakukan oleh Gen Langit Biru.

Generasi Y atau generasi milenial ini seharusnya mewarisi kehidupan yang berkualitas baik kepada generasi Z sehingga sudah sepatutnya Gen Langit Biru melestarikan langit agar tetap berwarna biru dan melestarikan lingkungan yang berkelanjutan.

Future Blue Sky dan Grey Sky (Sumber gambar : dok pribadi)
Mungkin sekarang lingkungan tempat tinggal kita di perkotaan menjadi lingkungan Grey Sky alias langit abu-abu karena polusi udara. Tapi beberapa tahun ke depan dengan adanya proyek Langit Biru, kita berharap agar lingkungan kita akan berubah menjadi Future Blue Sky sehingga generasi selanjutnya akan selalu lebih baik dari kita dan penuh dengan harapan-harapan baru.





Sumber:

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower