A.      Definisi Pesisir

Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara darat dan laut sehingga secara fisik terdiri atas darat dan laut. Bagian darat di wilayah pesisir yaitu bagian darat yang masih dipengaruhi sifat-sifat air laut, seperti pengaruh pasang surut, ombak, angin laut, dan perembesan air laut. Bagian laut mencakup bagian perairan yang masih dipengaruhi oleh proses alami di darat, seperti aliran air tawar dan sedimentasi dari daratan. Penggunaan tanah di wilayah pesisir mengalami gradasi perubahan yang tajam bila dibandingkan dengan wilayah daratan dan laut (Sadyohutomo, 2006:61-62).
Wilayah pesisir dan laut merupakan tatanan ekosistem yang memiliki hubungan sangat erat dengan daerah lahan atas (upland) baik melalui aliran air sungai, air permukaan (run off) maupun air tanah (ground water), dan dengan aktivitas manusia. Keterkaitan tersebut menyebabkan terbentuknya kompleksitas dan kerentanan di wilayah pesisir. Secara konseptual, hubungan tersebut dapat digambarkan dalam keterkaitan antara lingkungan darat (bumi), lingkungan laut, dan aktivitas manusia, seperti disajikan pada berikut (Rahmawaty, 2004:5).

Gambar 1. Keterkaitan Lingkungan Darat, Laut, Dan Aktivitas Manusia Di Wilayah Pesisir 
(Sumber: Rahmawaty, 2004:5)


B.      Ekosistem Pesisir dan Laut

Ekosistem yang ada di pesisir dan laut sangat beranekaragam. Ekosistem tersebut terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem padang lamun, dan ekosistem eustaria.

1)      Ekosistem Terumbu Karang

Fungsi ekologis dari terumbu karang adalah sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat bermain dan asuhan berbagai biota laut. Selain itu, fungsi ekonomis terumbu karang adalah menghasilkan berbagai jenis ikan, udang karang, alga, teripang, dan kerang mutiara (Dahuri, et al, 2001:86).
Ekosistem terumbu karang terdapat di perairan yang agak dangkal, seperti paparan benua dan gugusan pulau-pulau di daerah tropis. Terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, suhu perairan yang hangat, gerakan gelombang yang besar, dan sirkulasi air lancar, dan terbebas dari sedimentasi (Dahuri, et al, 2001:197). Rusaknya terumbu karang akan mengakibatkan terjadinya erosi di pantai yang akan berakibat pula pada lokasi permukiman dan pola tata guna lahan setempat. Degradasi terumbu karang merupakan akibat pengelolaan pantai dan daerah hulu yang kurang baik sehingga tingginya tingkat sedimentasi yang masuk ke perairan dan menutupi terumbu karang (Dahuri, et al, 2001:198).

2)      Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Hutan mangrove sebagai fungsi ekologis dalam penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, angin taufan, tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan sebagainya. Selain sebagai fungsi ekologis, hutan mangrove juga memiliki fungsi ekonomis yaitu penyedia kayu, daun-daunan baku untuk obat-obatan, dan lain-lain (Dahuri, et al, 2001:82).
Mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara maksimum pada kondisi penggenangan dan sirkulasi air permukaan yang menyebabkan pertukaran dan pergantian sedimen terus menerus, sirkulasi yang terus menerus meningkatkan pasokan oksigen dan nutrien, untuk keperluan respirasi dan produksi yang dilakukan tumbuhan. Secara umum, mangrove tahan akan gangguan-gangguan dan tekanan lingkungan, akan tetapi peka terhadap pengendapan/sedimentasi, tinggi rata-rata permukaan air, pencucian, dan tumpahan minyak. Hal tersebut menyebabkan penurunan kadar oksigen sehingga mengganggu mangrove untuk kebutuhan respirasi dan kelama-lamaan menyebabkan kematian mangrove (Dahuri, et al, 2001:202).
Permasalahan utama adalah pengaruh dan tekanan habitat mangrove bersumber dari keinginan manusia untuk mengkonversi areal hutan mangrove menjadi areal pengembangan perumahan, industri dan perdagangan, kegiatan-kegiatan komersial maupun pergudangan. Dalam situasi seperti ini habitat dasar dan fungsinya menjadi hilang dan kehilangan ini disertai dengan hilangnya ruang terbuka hijau yang jauh lebih besar dari nilai penggantinya (Mulyadi, et al, 2009: 55).
Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami (Mulyadi, et al, 2009: 52).

3)      Ekosistem Padang Lamun

Padang lamun dapat ditemui di perairan laut antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Fungsi dari padang lamun yaitu sebagai penstabil dasar laut, penangkap sedimen, penyedia makanan bagi ikan, habitat berbagai macam ikan, pupuk, bahkan biji padang lamun untuk makanan manusia (Dahuri, et al, 2001:89-92). Ekosistem padang lamun dapat bertahan hidup pada perairan yang dangkal, memiliki substrat yang lunak, dan perairan yang cerah. Ekosistem padang lamun tidak dapat tumbuh di kedalaman lebih dari 20 meter, kecuali perairan tersebut sangat jernih dan transparan. Kerusakan padang lamun yang terjadi saat ini diakibatkan oleh kegiatan pengerukan, reklamasi, penimbunan yang semakin meluas, dan pencemaran air, termasuk pembuangan limbah garam, fasilitas produksi minyak, pemasukan pencemaran di sekitar fasilitas industri, dan limbah air panas dari pembangkit tenaga listrik. Kehilangan padang lamun diindikasikan hilangnya biota laut, diakibatkan oleh kerusakan habitat (Dahuri, et al, 2001:204).

4)      Ekosistem Eustaria

Ekosistem eustaria memiliki kemampuan untuk pemulihan dan pemeliharaan secara alami secara luar biasa setelah mengalami gangguan, bila karakter dasar habitat yang menyokong formasi ekosistem tersebut terpelihara. Faktor-faktor riskan yang mempengaruhi kehidupan ekosistem eustaria yaitu salinitas, suhu, dan siklus nutrien. Saat ini kondisi eustaria sudah mengkhawatirkan, terutama pada daerah-daerah industri, perkotaan, atau padat penduduk. Degradasi ekosistem eustaria terjadi karena adanya pembuangan limbah secara terus menerus yang berdampak pada kematian ikan secara tiba-tiba dan hewan laut lainnya dimana hewan-hewan tersebut merupakan bagian dari rantai makanan. Hewan-hewan laut tersebut mati maka akan memutuskan rantai makanan yang pada akhirnya juga berpengaruh pada kehidupan manusia (Dahuri, et al, 2001:206).
Read More
Pada tahun 2000, United Nations mengadopsi MDGs (Millennium Development Goals yang dihasilkan pada konferensi internasional sekitar tahun 1990-an) yang dianggap cukup mendefinisikan tujuan global. Dalam hal ini, hasil dari pencapaian tujuan dianggap lebih penting dibanding bagaimana proses pencapaiannya. MDGs tersebut meliputi:
1.        Memberantas kemiskinan dan kelaparan;
2.        Mencapai tingkat pendidikan yang lebih baik;
3.        Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
4.        Mengurangi kematian anak;
5.        Meningkatkan kesehatan kelahiran;
6.        Melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya;
7.        Memastikan keberlanjutan lingkungan;
8.        Mengembangkan kerjasama global untuk pembangunan.
Dalam mendefinisikan pembangunan atau ‘development’ itu sendiri, ada berbagai sudut pandang. Pembangunan seringkali juga diasosiasikan sebagai bentuk ‘modernisasi’ yang dianggap sebagai progres kemajuan, bisa dari sudut pandang teknologi, ekonomi, atau sosial. Namun, argumen tentang pembangunan sebagai modernisasi muncul seiring interpretasi modernisasi yang berdampak pada krisis budaya, perusakan lingkungan dan penurunan kualitas hidup. Pembangunan dilihat dari sudut pandang sebagai proses kemajuan ekonomi memang sudut pandang yang paling umum. World Bank sendiri misalnya menjadikan GNP (Gross National Product per capita) sebagai dasar untuk membagi negara-negara ke dalam kategori-kategori pembangunan. Namun cara ini merupakan cara paling umum untuk melihat tingkat pembangunan suatu negara secara ekonomi dimana total GNP dibagi dengan jumlah populasi negara. Kategorinya meliputi negara berpenghasilan rendah (US$746 - 2.975), negara berpenghasilan menengah (US$2.976 – 9.205), dan negara berpenghasilan tinggi (US$9.206 atau lebih).

PEMBANGUNAN MANUSIA

Dalam menentukan kesejahteraan manusia atau dimensi non-ekonomi biasanya menggunakan indikator GNP, akan tetapi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) lebih sering digunakan dimana IPM dirancang oleh UNDP. IPM mengklasifikasikan tiap negara kedalam golongan pembangunan masyarakat rendah, sedang, dan tinggi. Pengukuran ini mencakup tiga dimensi pembangunan dalam kesejahteraan manusia: kehidupan yang sehat dan lama, pendidikan dan pengetahuan, dan standar hidup yang layak. UNDP memilih empat indikator kuantitatif dalam mengukur dimensi tersebut.

Gambar 1. Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia

Indikator-indikator harus dikonversi menjadi indeks 0 sampai 1 untuk memungkinkan pembobotan yang sama antara tiga dimensi. Setelah nilai indeks dihitung pada setiap dimensi, nilai tersebut dirata-ratakan dan hasil akhirnya adalah nilai IPM. Semakin tinggi nilai, maka semakin tinggi tingkat pembangunan manusia. Negara-negara pada Eropa Barat, AS, Kanada, Jepang, Australia, dan Selandia Baru memiliki GNP dan IPM yang tinggi, sedangkan beberapa negara di Afrika Sub-Sahara dikategorikan sebagai negara dengan pendapatan rendah dan IPM rendah.
Ada beberapa alasan mengapa pengukuran IPM tidak tepat. Pertama, ada tumpang tindih (overlap). Sebagai contoh, ketika Cina dan Argentina diklasifikasikan sebagai negara pendapatan medium, akan tetapi nilai IPM negara tersebut  menunjukkan kategori pembangunan manusia tinggi. Selain itu, negara India yang dikategorikan sebagai negara pendapatan rendah oleh Bank Dunia, tetapi pada penilaian UNDP, negara India merupakan kelompok pembangunan manusia menengah. Bagi beberapa orang, diskusi pengukuran yang tepat pada status nasional tidak penting, karena mereka merasa pengukuran tersebut tidak mempertimbangkan ketidakmerataan pada spasial ataupun sosial.

PENTINGNYA SKALA

Ketimpangan dapat dilihat dari skala spasial khusus. Pengukuran ketimpangan yaitu dengan Koefisien Gini dan Indeks Gini. Koefisien tersebut untuk mengukur ketimpangan pendapatan atau ketimpangan konsumsi antara individu, rumah tangga, atau kelompok. Bila koefisien Gini semakin mendekati 0 maka menunjukkan distribusi pendapatan yang semakin sama, sedangkan bila mendekati 1 maka menunjukkan ketimpangan. Negara-negara dengan koefisien Gini diantara 0.5 dan 0.7 menunjukkan distribusi pendapatan yang tidak sama, sedangkan koefisien Gini 0.2 – 0.35 menunjukkan distribusi yang relatif sama. Pengukuran Indeks Gini digunakan oleh UNDP dengan range 0 – 100. Angka 0 menunjukkan kesamarataan dan 100 menunjukkan ketimpangan.
Ketika tingkat pendapatan per kapita dan IPM “Memuaskan” sesuai dengan standar internasional, akan tetapi tidak semua orang di negara tersebut memiliki tingkat pendapatan standar hidup layak.  Jika kita mempertimbangkan indikator ekonomi dan kesejahteraan sosial, hal tersebut akan terlihat jelas pada ketimpangan desa-kota dengan populasi desa yang secara umum lebih buruk dibanding perkotaan.
Sebagai contoh ketimpangan di Amerika Serikat, dengan GNP US$ 34,870 di tahun 2001, AS menjadi salah negara terkaya di dunia. Bagaimanapun, jumlah rata-rata nasional tidak menunjukkan ketimpangan yang besar pada pendapatan dan kehidupan yang sangat berbeda. Dengan indeks Gini 40.8, menunjukkan bahwa tidak semua orang Amerika memiliki bagian yang sama dari kekayaan negara. Berdasarkan Biro Statistik AS, tahun 1973 sekitar 20% penghasilan di AS memiliki 44% dari total pendapatan. Tahun 2000 meningkat menjadi 50%. Jumlah semua kesejahteraan, tidak hanya pendapatan, menunjukkan pola yang sama pada ketimpangan, dengan 1% rumah tangga yang paling kaya menyumbangkan 38% kesejahteraan nasional, sedangkan 80% rumah tangga yang berada di bawah menyumbangkan 17%. Ketimpangan ekonomi juga menunjukkan indikator sosial. Amartya Sen membandingkan beberapa kelompok di AS dengan masyarakat di belahan selatan dunia menunjukkan bahwa orang Amerika dapat menjadi posisi yang lebih buruk daripada rekan-rekan mereka di negara miskin. orang Bangladesh memiliki kesempatan hidup melebihi usia 40 tahun daripada orang Afrika-Amerika yang tinggal di kota makmur di New York (1999:23).

MENGUKUR 'PEMBANGUNAN'          

Hal yang sulit untuk mendefinisikan pembangunan. Pembangunan diasumsikan sesuatu yang harus diukur dan dinilai. Dalam beberapa pelaku pembangunan, mengukur suatu pembangunan dirasa penting. Contohnya mengetahui posisi pembangunan, menilai dampak pembangunan serta informasi tentang kaum marginal. Mengukur pembangunan dibutuhkan criteria-kriteria tertentu yang telah disepakati. Sebagai contoh pembangunan ekonomi oleh Bank Dunia, indikator yang digunakan pendapatan kotor nasional perkapita . Memutuskan suatu indikator tidak langsung, kadang butuh pembahasan isu-isu yang sedang berkembang.
Masalah lain dalam mengukur pembangunan adalah faktor pembandingnya. Bisa dilihat dari waktu ke waktu atau antar negara yang berbeda. Hal ini membutuhkan data yang banyak, misal melalui sensus nasional. Selain itu sumber daya yang signifikan (personil terlatih dan teknomogi menganalisis hasil). Pengumpulan data dapat terganggu oleh kerusuhan politik atau perang, dan beberapa komunitas atau kelompok dapat dikecualikan dari survei dan studi lainnya dilihat secara sosial, ekonomi atau marjinal geografis (Chambers 1997).
Akhirnya, langkah-langkah pengukuran pembangunan hampir selalu kuantitatif, yaitu mereka dapat dinyatakan dalam bentuk numerik. Fokus ini dimengerti untuk membuat perbandingan waktu dan  ruang, dan juga untuk merumuskan  data yang berjumlah besar. Namun, dengan berfokus pada pengukuran kuantitatif, dimensi subjektif kualitatif  pembangunan  dikecualikan. Ini berarti tidak termasuk perasaan, pengalaman dan pendapat individu dan kelompok. Pendekatan ini juga cenderung untuk memperkuat 'ide-ide 'orang luar tentang pembangunan', daripada pikiran orang lokal tentang  'pembangunan', atau seharusnya.
Sebuah contoh dari perdebatan ini adalah definisi 'kemiskinan' (McIlwaine 2002; White 2002). Definisi kemiskinan yang digunakan dalam target adalah ekonomi dan pengukuran yang digunakan adalah garis kemiskinan. Orang yang hidup kurang dari satu US $ 1 per hari didefinisikan dalam "kemiskinan ekstrim 'dan kurang dari US $ 2 per hari berada dalam 'Kemiskinan'. Namun, ekonomi tersebut melihat kemiskinan  sangat terbatas dan mengasumsikan hubungan yang jelas antara pendapatan kemiskinan dan  pengukuran lain yang merugikan.
Karena itu, UNDP telah merancang Indeks Kemiskinan Penduduk (HPI). Ada dua ukuran yang sedikit berbeda; HPI-2 untuk 17 negara Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) (negara-negara maju) dan HPI-1 untuk 88 negara berkembang, namun  keduanya mencakup indikator kesehatan, pendidikan dan standar hidup. Pengukuran kemiskinan ini cenderung diterapkan pada skala nasional. Indeks-indeks kemiskinan masih mengecualikan pemeriksaan kualitatif terhadap pengalaman dari kemiskinan. 
Tabel 1. Indeks Kemiskinan Penduduk

Penelitian kualitatif tentang kemiskinan menempatkan pengalaman dari orang yang terkena dampak langsung di inti penelitian. Untuk beberapa pendekatan pembangunan  berpusat pada rakyat adalah kunci dan menggambarkan pergeseran pertimbangan di tingkat nasional. Walaupun Bank Dunia biasanya menggunakan pengukuran pembangunan kuantitatif, dalam persiapan 2000/2001 Laporan Pembangunan Dunia yaitu 'Menyerang Kemiskinan', menugaskan sebuah studi besar yang berjudul “Suara-Suara Miskin' yang mencoba untuk meneliti pengalaman kemiskinan di seluruh dunia (Parnwell 2003). Sementara informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini dimasukkan  dalam Laporan Pembangunan Dunia 2000/2001, tampaknya telah kembali ke ukuran kuantitatif  (Williams dan McIlwaine 2003). Diskusi tentang pengukuran kemiskinan menunjukkan bagaimana bahkan yang paling 'dasar' dari pengukuran 'pembangunan' sulit untuk dinilai.

Read More
Menurut Djojodipuro (1992:107), dalam pengembangan teori lokasi, Isard menggunakan peralatan ekonomi seperti kurva isokuan, garis perbandingan harga dan kurva biaya. Analisa keseimbangan lokasi industri Isard memiliki dua asumsi yaitu pertama adalah bahwa aktivitas produksi industri yang bersangkutan tidak mempengaruhi variabel lokasi, seperti harga satuan angkutan, harga bahan mentah, penyebaran konsumen dan penghematan ekstern yang dibawakan oleh gejala aglomerasi; sedangkan asumsi kedua adalah bahwa tingkah laku industri yang bersangkutan tidak mengundang balasan dari pihak saingannya. Lokasi industri yang bersifat immobile tentu akan berlokasi yang dekat dengan bahan mentah, sedangkan apabila lokasi industri bersifat mobile maka perlu dilakukan pemecahan dalam penentuan lokasi industri tersebut.
Pada teori ini, diasumsikan bahwa sumber bahan mentah tidak hanya pada satu lokasi tetapi di banyak lokasi, misalnya bahan mentah 1 (B1) dan bahan mentah 2 (B2). Apabila industri bersifat immobile, maka industri berlokasi di B2. Akan tetapi, bila industri bersifat mobile maka lokasi industri bisa ditentukan dengan menggunakan kurva transformasi jarak dari daerah konsentrasi konsumen (K) ke B1. Bentuk kurva tersebut dipengaruhi oleh jarak antara titik lokasi satu dengan yang lainnya.
Gambar 5. Keseimbangan Lokasi; Garis Transformasi Putus-Putus



Garis transformasi SHJT bersama price-ratio line AD menentukan keseimbangan lokasi parsial industri (perusahaan) di titik J. Keseimbangan yang ditunjukkan oleh J dapat diterima (valid) karena melalui titik ini terdapat sarana angkutan ke B1, B2, dan K, selain itu titik J merupakan titik menyentuh price-ratio line. Keseimbangan tersebut juga menentukan jarak optimum dari kedua lokasi bahan mentah dengan jarak dari K diasumsikan konstan (sehingga tidak digambar).
Keseimbangan lokasi yang dicari baru diketemukan bila ketiga keseimbangan lokasi parsial ini berimpit dalam satu titik yang disebut full equilibrium. Bila variabel jarak yang harus dipertimbangkan untuk menentukan lokasi semakin banyak, maka untuk menemukan full equilibrium, semakin banyak pula penentuan keseimbangan parsial. Dengan kata lain, untuk n jarak diperlukan ½ n (n-1) keseimbangan lokasi parsial untuk menemukan full equilibrium.





Read More
Pada teori sebelumnya yaitu teori lokasi Palander belum mencakup segi entry dan diminishing returns. Segi tersebut mendapat perhatian oleh Edgar Hoover, dimana teorinya masih banyak dipengaruhi oleh teori Palander. Berdasarkan atas asumsi persaingan bebas dan mobilitas tenaga, Hoover berpendapat bahwa lokasi industri ditentukan oleh biaya angkutan dan biaya produksi. Misalnya pada industri pertambangan batu bara akan berlokasi di area yang memiliki bahan tambang. Akan tetapi, perlu dilihat sampai sejauh mana pasar yang akan dijangkau. Jangkauan ini ditentukan oleh tinggi harga yang diminta oleh si pengusaha dan dibayar oleh konsumen. Sebaliknya harga merupakan biaya penambangan ditambah dengan biaya angkutan ke tempat lokasi konsumen; dalam hal ini diasumsikan kegiatan penambangan telah memperhitungkan keuntungan. Oleh karena itu, semakin jauh pasar yang dijangkau, makin tinggi keuntungan yang diperoleh pengusaha yang bersangkutan. Bila seorang pembeli menghadapi dua industri pertambangan yang satu berlokasi di T1 dan yang lain di T2, maka pembeli dapat memilih untuk membeli dari penjual yang menawarkan harga yang paling rendah. Hoover memperhatikan berlakunya law of diminishing returns dalam industri pertambangan, dimana hal tersebut sebagai perbaikan terhadap teori Weber. Semakin jauh daerah pasar yang dilayani, semakin banyak yang harus diproduksikan dan berlakulah hukum tersebut (Djojodipuro, 1992:103).

(a) Increasing Returns


(b) Decreasing Returns


Gambar 1. Batas Pasar Antara Dua Industri

Seperti pada gambar tersebut, maka sumbu tegak menggambarkan biaya produksi dan juga keuntungan, sedangkan sumbu datar adalah daerah pasar berbentuk garis linear yang dilayani oleh industri pertambangan T1 dan T2. Kedua industri ini diasumsikan berproduksi dibawah kondisi yang sama yaitu increasing returns atau ditinjau dari segi biaya decreasing cost, selain itu, industri menghadapi harga yang satuan angkutan yang sama pula. Kondisi yang pertama ditunjukkan oleh biaya yang bertambah kurang dari sebanding dengan pertambahan luas pasar yang sama, sedangkan yang kedua ditunjukkan oleh kemiringan garis angkutan yang sama. Bila industri pertambangan yang berlokasi di T1 melayani pasar sejauh A, maka biaya produksi (termasuk keuntungan) industri tersebut di tempat lokasi industri adalah T1 –a dan a –a’ menggambarkan bagaimana biaya angkutan meningkat dari pusat pertambangan T1 hingga di pasar A; harga batu bara per satuan tertentu (misalnya ton) di A adalah A – a’. Bila pasar yang dilayani meluas hingga B, maka produksi harus ditingkatkan dan biaya produksi akan meningkat dengan a – b. Garis b – b’ menunjukkan bagaimana biaya angkutan meningkat dari pusat pertambangan hingga ke B, harga batubara ke B adalah B – b’. Garis a – a’ dan b – b’ berjalan sejajar satu sama lain, karena harga satuan angkutan yang dihadapi oleh industri pertambangan yang berlokasi di T1 diasumsi tak berubah karena produksi yang makin besar tersebut. Jika industri tersebut meluaskan pasar hingga C, maka biaya produksi akan makin meningkat dengan b – c yang lebih kecil daripada a – b. Berdasarkan atas uraian yang sama, dapat ditemukan titik c. Gambar 1 (a) menunjukkan bahwa a – b, b – c, c – d berturut – turut semakin kecil. Keadaan ini menunjukkan terjadinya gejala increasing returns (decreasing cost). Bila titik a’, b’, dan c’ dihubungkan satu sama lain, maka garis a’ b’ c’ merupakan garis marjin (margin line), garis ini merupakan tempat kedudukan harga penyerahan di setiap pasar sepanjang pasar linear yang dapat dilayani. Apa yang dapat dijalankan industri pertambangan di lokasi T1 dapat pula dilaksanakan pada industri pertambangan berlokasi di T2. Dengan demikian diperoleh garis marjin bagi industri pertambangan kedua ini yang bentuknya ditentukan oleh tinggi biaya dan kondisi produksi, sebagai akibat berlakunya law of diminishing returns serta harga satuan angkutan. Pada titik perpotongan kedua garis marjin, kedua perusahaan tersebut menawarkan harga yang sama; di tempat lain salah satu menawarkan harga yang lebih rendah. Titik perpotongan tersebut sebagai batas pasar kedua industri tersebut (Djojodipuro, 1992:104-106).

Selain industri pertambangan, kondisi tersebut juga dapat dilakukan pada industri pengolahan. Bedanya industri pertambangan tidak dapat mobil karena lokasi bahan baku mentah, sedangkan industri pengolahan tidak, sehingga dapat mobil. Pada industri pengolahan selain berlaku diminishing return juga berlaku law returns to scale dimana dapat digambarkan dalam jalan garis marjin yang merupakan refleksi kondisi produksi industri yang bersangkutan. Pada garis increasing returns, garis marjin akan semakin landai, makin jauh pasar yang dilayani, sedangkan pada decreasing returns, garis marjin akan semakint terjal. Sehingga pada kasus tersebut mungkin saja garis marjin tersebut tidak berpotongan. Bila kedua garis marjin tersebut berpotongan, maka seluruh pasar dilayani oleh kedua perusahaan yang bersangkutan dan entry oleh perusahaan lain akan sulit. Sebaliknya, jika decreasing returns to scale bekerja secara tajam, maka mungkin sekali garis marjin kedua perusahaan tadi tidak berpotongan dan perusahaan yang bersangkutan hanya melayani sebagian pasar yang tersedia – lihat gambar 1 (b); maka keadaan tersebut mengundang entry oleh perusahaan lain. Gejala entry mudah terjadi dengan industri pengolahan yang lokasinya lebih bebas daripada industri pertambangan. Dengan memasukkan masalah entry maka teori Hoover merupakan kerangka pemikiran bagi pengaruh lokasi daerah pasar terhadap distribusi spasial industri yang bersangkutan. Hoover juga mengatakan bahwa lokasi industri dapat ditentukan dengan menggunakan isodapan seperti pada teori Weber. Lokasi industri dapat berorientasi ke tempat bahan mentah, pasar, atau di antara keduanya (Djojodipuro, 1992:106).


Pada gambar 2 (b), mengatakan bahwa industri menggunakan material di X kemudian menjualnya di pasar Y, gradien biaya pemindahan XY dan x’ y’ menunjukkan secara berurutan biaya pergerakan bahan jauh dari X dan biaya pendistribusian terhadap pasar pada Y. Jarak vertikal x ke y merupakan tempat lokasi alternatif. Pemberhentian atau terminal atau muatan pada sumber bahan dan Yy merupakan biaya terjadi dalam pendistribusian jika pabrik tersebut ada pada pasar. Kurva x’’ y’’ merupakan biaya transfer total (jumlah xy dan x’ y’) dan menunjukkan lokasi biaya yang kecil pada y. Dengan gradian convex, maka jumlah biaya lebih dibatasi di antara x dan y. Pengaruh dari titik trans-shipment diilustrasikan dengan mengasumsikan suatu kota T merupakan biaya pemindahan tambahan yang terjadi. Lokasi dalam kota menghindarkan muatan trans-shipment (pengiriman barang) dan akan memberi keuntungan pada sumber material (Smith, 1971:83-84).
 Hoover juga berpendapat sama seperti Palander, bahwa sumber bahan mentah dan pasar lebih menentukan lokasi industri daripada biaya angkutan. Jika dijumpai suatu lokasi dalam segitiga lokasi maka keadaan ini lebih ditentukan oleh tersedianya tenaga murah di tempat tersebut. Sehingga pengaruh biaya angkutan justru akan mendorong industri untuk berlokasi di tempat bahan mentah, pasar, atau persimpangan lalu lintas yang tidak jarang merupakan transport breaking point (Djojodipuro, 1992:107).





Read More
Gambaran Umum Pulau Sebatik
Pulau ini terletak di bagian utara Kalimantan Timur yang dimiliki oleh dua negara, sebelah utara dan barat pulau ini berbatasan langsung dengan Malaysia dimana dibagi menjadi Kecamatan Sebatik dan Sebatik Barat dengan total luas 246,61 km2. Letak geografis tersebut merupakan potensi besar bagi daerah ini untuk mengembangkan jalinan hubungan internasional dengan dunia luar khususnya negara Malaysia, sehingga mampu memcerminkan kemajuan pembangunan di wilayah Republik Indonesia.

Kawasan perbatasan Kalimantan memiliki aksesibilitas yang tinggi terhadap kota-kota di Malaysia seperti Kota Tawau, sedangkan aksesibilitas antar kota-kota di Kalimantan Timur sendiri masih sangat rendah. Pada tahun 2007, jumlah penduduk Kecamatan Sebatik sebesar 16% dan Kecamatan Sebatik Barat Sebesar 9%. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Sebatik sebesar 194,24 jiwa/km2, kemudian di Kecamatan Sebatik Barat sebesar 77,56 jiwa/km2. Secara keseluruhan, persentase penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 yang paling banyak pada sektor pertambangan penggalian, pertanian dan perdagangan dengan persentase masing-masing untuk pertambangan sebesar 51,478 %, pertanian sebesar 24,823 % dan perdagangan 11,277 %. Persentase penduduk yang bekerja pada sektor keuangan, listrik, gas dan air minum, bangunan, komunikasi/transportasi, listrik, gas dan air serta yang lainnya sebesar 0 % - 5 %.
Kegiatan ekonomi mayoritas di Sebatik pada sektor pertanian dengan komoditas berupa padi, palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, sedangkan sektor perkebunan kakao, kelapa dalam, dan kopi. Sektor perikanan yang dominan adalah perikanan laut dan tambak.
Selain itu dari segi transportasi, untuk menjangkau Kota Tarakan dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan keberangkatan pada waktu tertentu, sedangkan untuk menjangkau Kota Nunukan harus melakukan perjalanan darat selama 2 jam kemudian ke dermaga Bambangan dan menempuh Kota Nunukan sekitar 15 menit. Dermaga yang ada di Sebatik yaitu Sungai Nyamuk dimana selain bisa menjangkau Tarakan bisa menjangkau Tawau, Malaysia. Sedangkan untuk menempuh perjalanan ke Tawau cukup perjalanan 15 menit menggunakan speedboat, dan jam keberangkatan pun dari pagi hingga sore. Oleh karena itu, tidak mengherankan masyarakat Sebatik memilih melakukan aktivitas ekonomi ke Tawau dibanding ke Tarakan atau kota-kota lainnya di Kalimantan Timur (Noveria, 2006:35).

Aplikasi Teori Von Thunen
Sebenarnya pusat kota di Kabupaten Nunukan yaitu di Kecamatan Nunukan, sedangkan Kecamatan Sebatik lebih bersifat sebagai daerah yang memproduksi hasil komoditas pertanian atau perkebunan. Hasil komoditas yang masih berupa barang mentah dari Sebatik diekspor ke Malaysia kemudian diolah menjadi barang jadi yang kemudian dibeli dari Malaysia. Hasil komoditas pertanian di Sebatik berupa padi sawah, sedangkan hasil bumi lainnya yaitu kelapa sawit, kakao, pisang, sayur-sayuran, dan ikan, dimana hasil komoditas tersebut dijual ke Malaysia (Tawau/Sebatik Malaysia), sedangkan kebutuhan sehari-hari seperti gula, telur, elpiji, minyak goreng, hingga daging sapi dibeli oleh masyarakat Sebatik dari Malaysia. Misalnya, kelapa sawit dari Sebatik kemudian diolah di Malaysia menjadi minyak goreng yang kemudian dibeli lagi oleh masyarakat Sebatik untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat Sebatik menjual hasil bumi ke Tawau karena pasar yang lebih menjanjikan, misalnya untuk kelapa sawit, pabrik pengolahan di Tawau menawarkan harga sekitar 600 RM atau Rp 1,7 juta per ton tandan buah segar (TBS), sedangkan pabrik di Semanggaris, Nunukan, hanya berani membeli Rp 1 juta per ton TBS (Susilo, 2011).
Hal tersebut menyebabkan aktivitas Sebatik dan Tawau lebih tinggi bila dibandingkan Sebatik dengan kota lain di Kalimantan Timur. Adanya aksesibilitas yang tinggi ke Malaysia, maka produk yang ada di Sebatik didominasi oleh produk-produk Malaysia, mulai dari makanan, minuman (susu, minuman coklat), barang keperluan rumah tangga, seperti gula, minyak goreng, gas untuk memasak, ember, dan lain-lain.
Sangat sedikit sekali masyarakat Sebatik yang mengambil barang jadi dari Nunukan, ataupun menjual hasil pertanian/perkebunan ke Nunukan. Bahkan, yang seharusnya masyarakat Nunukan menikmati hasil pertanian Sebatik justru harus menikmati hasil pertanian dari daerah lain yaitu dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Ruru, 2011).
Menurut teori Von Thunen (Djojodipuro,1992:149), lokasi pertanian akan berkembang pada pola tertentu tergantung pada tujuh asumsi:
1.  Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah pedalamannya dan merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian.
2.  Daerah perkotaan tersebut merupakan daerah penjualan kelebihan produksi daerah pedalaman dan tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain.
3.  Daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali ke daerah perkotaan.
4.  Daerah pedalaman merupakan daerah berciri sama (homogenous) dan cocok untuk tanaman dan peternakan dalam menengah
5.  Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang terdapat di daerah perkotaan
6.  Satu-satunya angkutan yang terdapat pada waktu itu adalah angkutan darat.
7.  Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar.


Dengan asumsi tersebut maka daerah lokasi berbagai jenis pertanian akan berkembang dalam bentuk lingkaran tidak beraturan yang mengelilingi daerah pertanian.
Pada teori tersebut masih bisa berlaku di Sebatik, dimana beberapa asumsi dari teori von thunen membentuk guna lahan di Sebatik. Pada asumsi pertama, Sebatik merupakan daerah terpencil karena sulit untuk mengakses kota-kota besar di Kalimantan Timur, apalagi pada jarak yang dekat, seperti Nunukan dan Tarakan, sedangkan potensi sumberdaya alam Sebatik bisa untuk memenuhi daerahnya dan daerah lainnya. Akan tetapi, potensi tersebut justru untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga. Pada asumsi kedua, sudah sesuai dengan kondisi di Sebatik, dimana Sebatik tidak menerima penjualan pertanian dari daerah lain, akan tetapi Sebatik hanya menerima penjualan barang-barang yang telah diolah dan menjual hasil pertaniannya ke daerah perkotaan yaitu ke Kota Tawau, Malaysia, seperti pada asumsi ketiga. Sedangkan asumsi ke empat juga sesuai karena Sebatik datarannya homogen. Sebagian besar masyarakat Sebatik bekerja sebagai petani seperti pada asumsi kelima, dan petani berusaha mencari keuntungan dari hasil pertanian yang dijual ke Tawau. Pada asumsi keenam, tidak berlaku lagi angkutan darat untuk mengangkut hasil komoditas, karena pengangkutan dilakukan dengan angkutan laut. Pada asumsi ke tujuh, biaya ditanggung oleh petani, tetapi sudah dimasukkan dalam biaya penjualan.




Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya teori Von Thunen masih bisa diaplikasikan di Sebatik sebagai daerah yang terpencil. Masyarakat Sebatik tidak menjual hasil pertaniannya ke Nunukan, Tarakan, atau kota besar lainnya, karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Apabila dilakukan penjualan pada jarak yang jauh, maka keuntungan yang diperoleh juga sedikit, sedangkan pada jarak dengan pasar yang dekat, dalam hal ini adalah Tawau, maka akan memperoleh keuntungan yang besar. Misalnya saja diterapkan harga komoditas sesuai jarak tempuh transportasi, maka semakin jauh lokasi pemasaran maka akan semakin mahal juga harga jualnya, sedangkan belum tentu daerah pemasaran yang dituju akan membeli dengan harga yang tinggi tersebut seperti yang diungkapkan Susilo (2011), bahwa pedagang kelapa sawit di Sebatik lebih memilih menjual hasil perkebunannya di Tawau karena memperoleh hasil jual Rp 1,7 juta per ton tandan buah segar (TBS), sedangkan di Nunukan hanya membeli Rp 1 juta per ton TBS. Dalam jarak yang dekat pedagang Sebatik sudah memperoleh harga jual yang lebih tinggi daripada menjual dagangan pada jarak yang jauh. Oleh karena itu, bila ingin meningkatkan pemasaran hasil komoditas di Sebatik, maka perlu perbaikan prasarana transportasi/jaringan jalan antara penyedia bahan baku dengan pasar/wilayah lainnya, sehingga aksesibiltas antar daerah semakin tinggi. Dengan akses yang cepat ke daerah lainnya kemungkinan hasil penjualan juga akan meningkat.

Kesimpulan
Teori Von Thunen masih bisa dilakukan pada daerah-daerah terpencil, pemasaran hanya pada daerah-daerah yang memungkinkan dilakukan pemasaran. Semakin jauh dari pusat kota, maka akan semakin mahal juga sewa lahannya, dalam artian biaya transportasi yang ditanggung semakin besar, sedangkan balik modal kecil. Hal tersebut yang menyebabkan interaksi antara Sebatik – Tawau lebih sering dibanding Sebatik – Nunukan/Tarakan dikarenakan aksesibilitas Sebatik – Nunukan/Tarakan rendah. Sebatik sebagai daerah penyedia bahan baku bagi Tawau, Malaysia, sedangkan Tawau sebagai penyedia bahan jadi bagi Sebatik. 


Read More

Follower