Di Surabaya itu.... sumpah panas bangett!!

Saya yang beberapa tahun merasakan tinggal di Malang saat kuliah disana, berhawa sejuk, langsung kaget dibuatnya! Padahal saya dari kecil tinggal di kota yang dekat dengan khatulistiwa. Otomatis panas ya. Lah kok, pertama-tama pindah ke Waru, Sidoarjo, mepet Surabaya, rasanya nggak tahan sama panasnya kota metropolitan itu.

Pada akhirnya, karena kami keluarga baru, kami membeli pendingin ruangan yang murah. Bukan AC, tapi kipas angin yang dipasang dalam kamat. Hadirnya kipas angin ini membuat kamar kami sedikit lebih sejuk. Tidur lebih nyaman walaupun awal-awal saya harus adaptasi karena tidak terbiasa pakai kipas angin. Efeknya, saya sering masuk angin.

Beberapa bulan kemudian, kipas angin dengan speed 2 pun masih kurang mengatasi panasnya Sidoarjo. Kasihan si kecil yang terus-terusan kena biang keringat dan pastinya rewel. Nggak ada cara lain selain memberikan bedak di badannya biar nggak semakin parah. Tidur pun selalu berkeringat sampai kasur basah terus dan sering ganti seprei.

Coba-coba datang ke salah satu toko elektronik terbesar dan sudah terkenal di beberapa kota termasuk di Malang, kebetulan pas weekend selalu ke Malang. Disana ada jual berbagai macam merk AC. Saya tanya-tanya AC setengah pk yang hemat energi terus suaranya nggak ramai. Petugasnya menjawab beberapa produk, salah satunya Daikin. Saya penasaran karena saya belum pernah mendengar merk itu.

Lihat-Lihat AC di Mall Elektronik

Petugasnya bilang AC Daikin memang merk udah lama, tapi dia kelas atas. Terus saya lihat fitur-fiturnya. Nggak sekuno yang saya bayangkan, sih. Saya lihat yang paling murah di merk itu untuk tipe standarnya 1/2 PK FTV 15 AXV14"STANDARD. Tipe itu adalah tipe split untuk hunian, coba cek di webnya AC Daikin. Walaupun paling murah fiturnya menyenangkan.

Sumber AC Daikin


Teknologi dari Jepang itu sudah menggunakan teknologi modern yang memang dibutuhkan di jaman sekarang. Terutama fitur AC hemat energi. Karena kamar saya tidak terlalu besar maka ukuran setengah pk ini cocok untuk ruangan sekitar 3x3 m. Selain itu, bentuk panelnya datar yang memudahkan pembersihan berkala.

Ada mode senyap juga. Waktu saya masih di kalimantan, rumah dinasnya kan sudah tua termasuk AC di dalam rumah. Lah, kalau dinyalakan pasti suaranya bising banget. Saya sih maklum mungkin karena sudah model lama. Dan pasti kurang hemat energi. Daikin ini model lama tapi sudah mengikuti jaman modern. Makanya ada mode senyap juga.

Biasanya AC itu aliran udaranya cuma satu arah. Kerasa banget kalau lagi di bawah AC kepala langsung cenut-cenut karena dinginnya langsung kena kepala. Kalau AC Daikin ini bisa diatur aliran udaranya biar bisa menyebar jadi rata ke seluruh ruangan. Wah, cocok buat saya yang tidak begitu tahan berlama-lama di bawah AC!

Setelah pulang dari sana, saya penasaran cari testimoni orang-orang tentang Daikin. Di satu forum terkenal, ternyata rata-rata pilih Daikin, katanya sama hemat energinya dengan salah satu merk AC. Suaranya juga nggak terlalu bising. Pengaturan suhu AC Daikin juga lebih tepat.

Saya nggak tahu kalau ternyata AC Daikin termasuk pilihan keluarga Indonesia karena sudah nyaman dan hemat energi pula!

Kebetulan ini ada AC Daikin waktu acara seminar suami. (sebelah kanan di foto)



Kalau AC ya Daikin!

Read More
Sejak SMA, belum pernah ganti kacamata (lensanya juga). Sekarang lerasa banget kalau frame sudah nggak jelas miring-miring karena sering keinjak, ketindihan badan, sampe ditarik-tarik si kecil sampai patah tu gagangnya. Mau ganti itu males, udah kadung jatuh hati soalnya, hehe. Tapi kalau malam kadang masih nggak jelas kalau lihat tulisan pada jarak tertentu.

Pernah nyoba pakai lensa kontak udha disesuaikan sama minusnya tapi kok malah bikin pusing, terus nggak nyaman.

Nah, gara-gara itu jadi terbayang kalau ganti lensa kacamata apa bikin kepala pusing?

Akhirnya aku ke dokter mata di RSUB Malang buat ganti kacamata dengan memanfaatkan BPJS. Padahal sih malas banget soalnya prosesnya lumayan bikin capek.


Prosesnya pun agak panjang. Aku harus ke dokter umum yang jadi faskesku untuk minta surat rujukan ke dokter mata. Kebetulan dokterku itu di rumah sakit yang nggak jauh dari rumah.



Pas ke RSUB ternyata dokternya pindah ke poliklinik UB di kampus. Setelah di sana, mendaftar, menunggu hampir 1 jam, terus akhirnya dapat juga surat rujukan. Nah waktu itu ditanya mau pilih di rumah sakit mana untuk dokter spesialis mata. Aku pilih di RSUB aja yang dekat rumah.

Sampai di sana, aku masih harus melakukan pendaftaran dan menunggu. Sekitar hampir satu jam sampai akhirnya dipanggil dokter spesialis mata.

Di ruangan dokternya sudah ada beberapa alat dan tivi kecil. Seperti biasa, mata diukur.

Dari berkunjung ke dokter ini, akhirnya aku tau kalau memasang lensa kontak tidak bisa sembarangan. Biasanya kita cuma mengukur di optik untuk minus dan plus nya. Ternyata tidak cuma itu tapi harus periksa ke dokter untuk menghitung ukuran bola mata. Kalau lensa kontak tidak pas di bola mata, misal terlalu renggang maka akan membuat kuman tumbuh. Kalau terlalu ketat maka akan membuat peredaran darah di mata berkurang dan itu seperti jari tangan yang kejepit.

Makanya kenapa pengguna lensa kontak yang sangat sering menyebabkan mata merah, perih, dll. Itu karena lensanya kurang pas di mata. Tidak hanya plus minusnya tapi juga ukuran bola matanya.

Di Malang ini adanya di rumah sakit syaiful anwar. Kalau mau ke sana bilang saja ke dokter mata mau pakai lensa mata.
Dan sepertinya tidak ditanggung BPJS kecuali yang mengalami kelainan dan harus pakai lensa proskratik (apa gitu namanya hehe).

Setelah diperiksa mataku, ternyata mata sebelah kiri nambah seperempat. Kanan -3,00 dan kiri -2,50. Pantesan kadang kalau lihat tulisan sedikit rabun.

Dokternya pun bilang kalau cuma seperempat nggak ganti juga nggak apa-apa. Walaupun akhirnya si dokter memberiku surat rujuk untuk ganti kacamata. Dokternya pun bilang harusnya tiap tahun periksa mata untuk yang jarak jauh dan dekat. Kalau kurang dari minus 4 pemeriksaan dilakukan setiap setahun sekali atau ganti kacamata setahun sekali. Kalau diatas minus 4 (-5, -6, -7, dst) harus periksa atau ganti kacamata tiap enam bulan sekali. Lah, aku malah dari SMA nggak pernah ganti.




Sampailah di optik yang menanggung BPJS seperti optik internasional. Ada lagi sih optik lain (interkontinental, internasional, vista, dll). Nah aku cari paling dekat dengan rumah. Sampai di sana, memang sudah dipisah kacamata per kelas bpjs. Kalau mau lensa yang bagus atau di luar kelas harus nambah harga.

Semangat banget milih-milih, tapi ternyata rujuk dari dokter harus dilegalisir BPJS. Alhasil belum bisa beli kacamata itu.

Untung masih Jumat, jadi pagi hari aku langsung ke BPJS. Kebayang donk antriannya yang bikin males banget. Sampai di sana emang ramai. Tapi untuk antrian klaim pembayaran cuma sedikit jadi aku datang cuma antri dua orang terus dipanggil. Dapatlah legalisir di kertas aslinya. Gak perlu fotokopi.

Malamnya langsung deh cuuss cari kacamata. Sampainya di optik, aku langsung tanya kacamata yang ditanggung bpjs kelas 1. Kebanyakan memang frame full. Ada yg frame setengah juga sih. Bahannya pun rata2 metal, mika atau dof.

Karena kacamata sebelumnya frame setengah dan dari metal maka pengennya sekarang full frame sama bahan selain metal. Kekurangan bahan metal itu lapisannya cepat mengelupas.

Sayangnya, kacamata pilihan BPJS terbatas, jadi kalau mau diluar pilihan itu harus nambah lagi tergantung harga frame-nya. Cari dari harga 600an ribu sampai 1 jutaan, ternyata nggak mudah.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku memilih full frame dengan bentuk tidak kotak seperti kacamata sebelumnya.

Setelah memilih frame, di optik nanti diukur lagi. Setelah itu menunggu tiga hari lensa jadi. Ada juga optik yang membutuhkan waktu 1 jam selesai tapi itu kalau stok lensanya ada.

Ini mah pilihan suami dan keluarga, katanya biar nggak kotak terus kacamatanya

Akhirnya bisa diambil juga. Oiya, cara ngelap lensa kacamata harus satu arah ya, nggak boleh bolak-balik kayak seterikaan. Nanti lensanya tergores dan itu tidak ditanggung garansi dari optiknya. Mereka hanya menanggung lapisan UV nya aja dalam jangka waktu tertentu.
Read More
Selama hidup nggak pernah deh milah-milah sampah. Walaupun pas kuliah dapat teori pemisahan sampah tapi nggak pernah langsung mengaplikasikannya.



Dan ternyataa... susaahhh...

Saat pindah di rumah Waru, aku didatangin salah seorang ibu-ibu yang memang perhatian masalah persampahan di RW.

Sampahnya dipisah antara sampah basah, B3 dan kering (yang bisa diolah). Ada lagi sisa jelantah ditaruh di botol dan ada yang mengambilnya setiap periode tertentu.

Sampah basah ini bisa disebut sampah organik termasuk sampah sisa makanan, sayur-sayuran, kulit telur, daun-daunan. Semua sampah itu dijadikan satu di tong sampah. Warnanya orange dan setiap rumah dapat satu. Sampah-sampah ini nanti diolah biar jadi kompos. Selain itu, komposter juga ditaruh di beberapa titik di setiap RT/RW. Komposter ini digunakan mengurai daun-daunan dan sisa makanan agar jadi pupuk. Tetangga saya rajin banget menaruh sampah organik di komposter ini, terus hasilnya dia pakai buat pupuk tanamannya.

Komposter Aerob


Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) seperti sampah popok. Ada bak sampah sendiri. Bak sampah ini dibangun permanen di depan setiap rumah. Setiap 2x seminggu akan diambil oleh petugas kebersihan dengan truk sampah.

Sampah kering (yang bisa diolah). Sampah ini yang masih sulit kulakukan. Awalnya cuma memilah sampah botol, kertas, kotak nasi karton, kardus atau koran. Eh, ternyata nggak cuma ituuuu!

Sampah botol yang digepengkan dulu, tutup botolnya juga dipisahin. Labelnya dibuang. 


Kertas duplex

Plastik bening dan warna

Sampah Sachet

Kaleng, botol, bungkus minyak

Ini pembagiannya :
- kertas Duplex
- Plastik bening
- Bungkus plastik (mie telor, kapal api, deterjen,sachet)
- Kaleng. Kaleng pun dibedakan ada kaleng yang bahan keras dan tidak keras. Seperti kaleng susu dan bear brand kan beda.
- Botol putih
- Botol bening
- Botol yakult karena bahannya keras. Duh, saya lupa istilahnya apa. Nanti deh kalau saya ingat diedit lagi.
- Aqua gelas
- Odol
- Botol kaca
- Bungkus minyak

Nah, sampah-sampah inilah yang disebut sampah bernilai ekonomis!

Dan sisa tas dari kain spunbond itu yang biasa buat bungkus makanan malah nggak laku kalau dijual.

Memang tidak semua ibu-ibu di perumahan saya bisa telaten pisahin sampah termasuk saya. Biasanya mereka akan memasukkan sampah yng bisa diolah itu dalam glansing tanpa dipisah. Nah, nanti tugas salah satu ibu-ibu uang memang bertugas milah sampah yang akan memilahnya. Itupun ibunya seikhlasnya. Dan pas acara 17 agustusan ibunya termasuk pemilah sampah teladan di RT ku.

Nah nanti sampah-sampah yang dikumpulkan itu akan dihitung dalam buku tabungan bank sampah. Ibunya juga yang menghitung. Hasilnya nanti tergantung kesepakatan RT apa mau dibagikan atau dibuat rekreasi RT.

Kalau mau belajar memilah sampah emang bisa banget belajar ke ibu satu ini. Eh, belum punya fotonya tapi. Haha.

Terus kelebihan memilah sampah buat apa?

1. Bisa dijual lagi

Banyak kan para pengepul yang nyari-nyari sampah buat diolah lagi. Nah, kita bisa memanfaatkan sampah-sampah yang sudah dipilah ini untuk dijual lagi. walaupun harganya tidak seberapa, kalau terus dikumpulin lumayan bisa buat beli sayur, hehe. Kalau di RT tempat tinggalku malah disatuin terus buat rekreasi RT.

2. Menjaga lingkungan

Pernah nonton Wall-E nggak? dimana bumi isinya sampah semua. Nggak ada satupun tanaman bisa tumbuh. Kebayang gimana bumi kita kalau isinya sampah tanpa ada yang diolah. Jelas bisa mencemari lingkungan padahal kita butuh lingkungan yang bersih dan sehat.

Read More
Ini cerita sempat mengecewakan tapi mungkin berakhir bahagia. Halah. Seperti drama film. Sempat kehilangan sesuatu yang mungkin tidak terlalu berharga. Walaupun sempat kecewa sih. Apa ini termasuk cinta hal keduniawian? Sebagai manusia biasa, hal yang wajar bersedih karena kehilangan sesuatu.


Waktu itu, paket internet saya sudah habis. Biasanya saya pakai untuk dipasang di modem. Seringnya di ponsel. Saya suka pakai Indosat karena harganya yang termasuk ramah di kantong. Walaupun di daerah tempat tinggal saya, ponsel susah menerima sinyal internet. Sebelumnya saya pakai provider yang lebih mahal juga sama saja, tetap susah sinyal. Mungkin ponsel saya sudah tua, hehe.

Karena masuk masa tenggang, saya pun beli pulsa waktu itu malam hari. Kali ini, saya tidak ke counter tapi beli lewat ATM. Selama saya beli pulsa Indosat lewat ATM, tidak ada kena charge. Jadi saya lebih senang beli di ATM, hehe. Dasar emak-emak.

Setelah saya masukkan nomor telepon dan jumlah pulsa 100.000, saya pun menunggu sms dari provider memberitahukan pulsa terisi. Sampai rumah, tidak ada sms pemberitahuan.

Saya pikir, ah mungkin sinyal lagi susah.

Saya masih sabar menunggu sampai besok pagi. Ternyata tidak terisi juga. Duh, saya mulai khawatir. Apalagi dulu sempat beli pulsa di tempat teman dan tidak terisi juga. 50ribu rupiah. Yang itu sudah saya ikhlaskan. Lah kok ini isi pulsa 100ribu nggak sampai lagi.

Apa nomor saya yang eror?

Saya mulai ketar ketir.

Ternyata ditunggu tiga hari, pulsa belum terkirim juga. Akhirnya saya memutuskan ke Galeri Indosat.

Kalau ada di benak pembaca "uang segitu aja dibela-belain"?

Saya juga malas sebenarnya. Saking saja saya penasaran kenapa tidak masuk pulsanya. Kebayang kan kalau besok-besok beli pulsa lagi terus nggak terisi juga? Rugi berapa?

Daripada nyesel kehilangan banyak.

Sesampainya di Galeri Indosat, saya menyampaikan keluh kesah saya. Sekalian memberikan struk pembelian pulsa dari ATM.

Setelah dilakukan pengecekan dan menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya saya pun tahu alasannya.

Yaitu : angka berakhiran 0 memang tidak terbaca sistem di ATM, jadi kalau mau isi pulsa ke counter pulsa saja.

Makanya besok kalau beli nomor, jangan yang berakhiran 0 ya!

Nah loh, lega deh saya, walaupun saya mengatakan pada mereka, kalau saya tahu begitu, saya tidak mau beli pulsa di ATM atau saya tidak akan membeli nomor yang berakhiran 0.

Mereka pun memproses keluhan ke pihak atasan dan juga ke bank bersangkutan. Katanya lagi, saya harus melaporkam sendiri ke Bank dimana saya membeli pulsa.

Sayangnya, saya tidak bisa melanjutkan mengurus karena harus pemilik rekening (suami) sendiri yang mengurusnya. Karena waktu tidak sempat, yaudahlah saya biarin saja. Rencana minggu depan laporan.

Lah, kok hari senin pas iseng cek pulsa ternyata pulsa saya sudah masuk.

100.000!

Sampai-sampai saya harus menghitung jumlah angka 0 nya. Kali aja cuma 1000. Eh, ternyata ada lima angka 0. Wew, terkejutlah. Langsung saya buat paketan internet.


Alhamdulillah yaa uang bisa kembali.

Setelah itu, saya nggak pernah beli pulsa indosat di ATM karena nomor belakangnya 0.

Kejadian 2

Lah kok sekarang ikutan promo internet dari *929# kuota 3 giga harga 10ribu. Jelang waktu dua minggu pulsa 50ribu tinggal 39ribu padahal nggak pernah dipakai telpon.



Terus kudu gimana? masak ke indosat lagi. kalau ini mah kayaknya nggak mungkin di proses.

Coba ya keluar masuk pulsa kayak sistem di bank pakai mutasi begitu. Jadi tahu pulsa terakhir dibuat apa. Kalau provider lain kan ada dan itu sangat membantu mengetahui penggunaan pulsa atau paket data terakhir.

Kejadian 3

Nah ini sih terjadi sama nomor im3 suami yang udah dipakai dari jaman baheula. Jadi pakai paoet internetnya yang Super Internet 39K dapat 2 giga. Tapi pas mau paketin Kuota 39K nggak ada jawaban. Diulang-ulang terus kirim sms ke 363 akhirnya jawabannya begini.



Wah, paketnya sudah tidak tersedia. Akhirnya dicoba kirim sms Kuota 49K. Nggak berapa lama ada sms seperti ini.



Cuma dapat dua giga! Haha.

Seminggu kemudian...
Suami dapat sms kalau paket data menggunakan pulsa reguler. Lah! Seminggu masak 2 giga habiiss?? Kalau dulu 2 giga bisa buat sebulan. padahal penggunaan datanya normal cuma facebook, bbm dan whatsapp itupun jarang nonton video.

Mau komplain tapi lagi hari minggu nih. Kalau nggak pakai internet rasanya hampa banget ya...
Read More
Siapaa yang nggak galau kalau anaknya nggak mau makan? Kayaknya hampir semua ibu yaa...

Harapannya anak mau makan banyakkk eh tapii...kok yaaa....



Ini pengalamanku nyuapin anak dari yang mulus-mulus aja sampai bergeronjal-geronjal.

Sebelum MPASI, persiapan yang aku lakukan tidak cukup ribet, paling-paling membaca teori MPASI dari WHO (entah saya belum dapat link langsung di web WHO).

Dari awal perjalanan memberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) memang bisa dibilang cukup mulus. Teori-teori MPASI dari WHO pun sudah habis dibaca dan walaupun tidak semua dilakukan. hehe..

Apalagi godaan-godaan dari lingkungan sekitar yang ingin memberi makanan macam-macam membuatku banyak menolak bahkan mungkin terlihat "berlebihan".

Nah perjuangan memberi makan anak MPASI hingga dia bisa makan nasi utuh itu perjuangan. Kadang bikin dilema. Dilema mengolahnya, dilema menunya.

Tekstur dan Rasa

Saat usia enam bulan, bayi masih berkenalan dengan tekstur baru. Tingkat kecairannya masih seperti asi. Encer. Jadinya saya blender dengan air sedikit. Atau bisa pakai saringan ditekan-tekan. Kekurangannya saringan jadi cepat rusak. Haha.

Kalau sudah mulai terbiasa baru dinaikkan tingkat kekentalannya sampai jadi bubur halus. Nah, pas saat bikin bubur halus ini kebanyakan di blender. Nah, galaunya itu kalau buat cuma sedikit, blender bisa rusak. Tapi kalau banyak-banyak malah nggak habis. Lagipula, hasil blender pagi hari, nanti pas sore udah encer. Kalau encer jadi kasihan bayinya, bisa kembung.

Semakin lama bayi sudah mulai bisa makan makanan dengan tekstur yang agak kasar. Jadi aku coba masak nasi tim. Dan paling malas masak nasi tim ini, soalnya lama bangettt. Setengah jam aja belum halus. Yah, pastinya ngehabis-habisin gas. Haha. Akhirnya sesekali aku beli bubur bayi tim di tempat jual khusus makanan bayi. Itu juga mentok-mentok kalau anaknya lagi bosen masakan emaknya dan susah makan. Suka nggak suka memang lebih milih masak sendiri, sih. Padahal kalau dihitung-hitung biaya gas dan tenaganya juga lebih besar dibanding beli. Tapi homemade kayaknya lebih terjamin.

Karena kata panduannya sebelum satu tahun, makanan anak jangan dicampur dengan gula dan garam dulu. Kalaupun mau dicampur itu sedikit sekali. Tapi aku ngasih gula garam pas usia 11 bulanan itu pun cuma sejumput aja. Soalnya si kecil udah mulai kenal rasa macam-macam dan mulai milih-milih. Kalau nggak ada rasa sama sekali, malah nggak mau. Mungkin karena udah ngerasain makanan yang beli diluar jadi pas ngerasain makanan emaknya nggak mau hambar. Kalau udah begitu, emaknya yang pusing mau masak apa.

Saat gigi depan sudah mulai tumbuh (pertama tumbuh gigi usia 8 bulan), bawaannya anak ingin mengasah gigi, menggigit-gigit makanan. Padahal belum bisa mengunyah, ini yang kadang perlu diawasi agar anak tidak tersedak. Karena anakku sering sekali keselek.

Menu 1 bintang sampai 4 bintang

Nah menurut panduan WHO, sih, pertama dikasih menu 1 bintang misal buah atau sayur. Saya lupa MPASI pertama anak saya apa ya, mungkin buah, tapi saya lupa buah apa. Seringnya sih alpukat karena kandungan nutrisinya yang besar.

Walaupun menu tunggal, ini yang membuat saya kadang bingung mau membuatkan apa. Kadang saya buatkan apa saja yang ada si kulkas.
Apalagi beralih dari menu tunggal ke menu 4 bintang. Tambah bingung lagi menentukan menu. Yah paling sering sih makan nasi, sayur, tahu, ikan/ayam yang diolah dengan di blender atau di tim. Anak saya tidak begitu suka tempe mungkin teksturnya yang keras. Sampai usia 1,5 tahun pun dia tidak suka.

Kadang kalau pas nggak ada protein nabati ya nggak dikasih, atau pas lagi tnggak ada protein hewani ya nggak ditambahkan. Jadi nggak melulu komplit sih. Seadanya di kulkas. Bahkan anakku nggak pernah kukasih evoo, ub (unsalted butter), atau bahan-bahan mahal lainnya. Selain mahal juga susah dicari karena tidak dijual di tukang sayur gerobakan, hehe.

Alhamdulillah sih tiap bulan timbangan masih naik kadang sampai sekilo. Pokoknya ya nggak memberatkan diri, karena menyiapkan makan sesuai panduan WHO saja udah penuh perjuangan. Itu belum menyuapinya loh.

Setelah 1 tahun

Setelah lewat satu tahun ada rasa hati lega. Lega karena boleh makan gula garam walaupun kadarnya juga tidak berlebihan. Setelah satu tahun ini aku tetap memasakkan nasi tim khusus. Sayur atau lauknya ikut masakan keluarga. Kadang kalau masak makanan pedas akhirnya saya memasakkan khusus buat si kecil. Setidaknya setelah satu tahun sudah tidak sesulit sebelumnya.

Nah, karena dia sudah mulai makan macam-macam, emak-emak perlu hati-hati loh. Dalam waktu 4 bulan dia kena radang tenggorokan sampai tiga kali. Setelah diingat-ingat, radang pertama karena kebanyakan kerupuk. Kedua juga gitu, makan kerupuk terus. Sampai bolak balik ke dokter. Pas ketiga, kayaknya kebanyakan beli makan diluar, kondisinya waktu itu baru pindah rumah, belum ada kompor, akhirnya aku kasih minyak jintan hitam sehari sampai 3 kali. Eh, alhamdulillah tiga harian gitu membaik. Anak mulai mau makan.

Emang kalau sudah umur segitu, walaupun sudah boleh makan gula garam tapi perlu diperhatikan juga. Bahkan awalnya saya agak berat kalau dia makan makanan yang dijual diluar tapi karena terpaksa habis pindahan akhirnya beli deh. Ya gitu, hasilnya, nggak lama anak kena sakit tenggorokan. Kita kan mana tahu ya bahan-bahan yang dipakai.

Kesulitan menyuapi

Pada usia 8 bulan, anak seperti mengalami kejenuhan makan. Apalagi waktu itu anak tergolong telat duduk. Belum bisa duduk sendiri jadi masih disangga termasuk makan. Alhasil kadang aku harus nyuapin bayi sambil berbaring. Karena mulai jenuh, anak sering menolak makan. Untungnya, masih bisa dimasukin mulut. Nah, itupun harus diajak ngomong, ketawa-ketawa, atau diajak main-main biar mau membuka mulut.

Setelah satu tahun apalagi setelah bisa jalan (usia 14 bulan), wah sudah bisa menolak makanan. Geleng-geleng sambil tutup mulut. Aku juga bingung darimana dia bisa tahu cara menolak. Haha. Setelah diingat-ingat, ternyata dia ikut ayah ibunya. Kadang dia sok-sokan nyuapin ayah ibunya tapi aku dan suami menolak dengan menutup mulut dan menggeleng-geleng kepala. Dari situlah si anak belajar menolak makanan. makanya Mom jangan geleng-geleng kepala dan tutup mulut kalau anak nyuapi sesuatu biar nggak ditiru. Eh, ngga tau deh ngefek nggak ya...

Agar Anak Mau Makan

Ini hal-hal yang sudah saya coba biar anak mau makan.
- Makan sambil bermain. Semenjak dia sudah bisa jalan, dia lebih suka makan sambil main. Jelas perhatiannya teralihkan. Jadi membuka mulutnya semakain mudah.

- Makan sambil jalan naik stroller. Apalagi ini, suka sekali dia jalan-jalan naik stroller. Sekitar hampir dua bulan dia makan sambil jalan naik stroller. Hampir setiap pagi. Walaupun tidak setiap pagi. Memang berpengaruh sih. Sebulan pertama bisa habis nasinya. Eh, bulan selanjutnya kayaknya sudah mulai ngerti jadi kadang udah muter jauh cm habis separuh.

- Memasakkan makanan yang berkuah. Kita aja kalau makan makanan berkuah pasti cepat nelennya dibandingkan makanan tanpa kuah. Aku sering membuatkan semacam sop. Pokoknya ada kuahnya jadi mudah buat nelen.

- Mencari pengganti nasi. Karbohidrat memang tidak melulu nasi. Kadang aku ganti dengan kentang, makaroni, oatmeal, jagung, kalau mie hampir tidak pernah saya kasih (lupa sih pernah ngasih apa nggak hehe). Biasanya aku buatkan macaroni schotel atau sop makaroni. Kalau makaroni schotel kan larena pakai susu jadi dikasihnya setelah satu tahun. Begitu juga makanan lain seperti klappertart atau oatmeal yang bersusu dan bergula. Pas sebelum satu tahun, biasanya aku cuma kasih oatmeal aja nanti campur sayur atau buah.



- Mencoba menu baru. Ini jelas menjadi tantangan buat emak-emak. Mencoba menu baru yang kira-kira cocok di lidah itu tidak mudah. Aku sering sekali kepoin akun-akun instagram tentang MPASI juga artikel-artikel yang sering di share di Facebook terus simpan atau screen capture. Eh, malah nggak dilakukan. Kebanyakan bahan yang digunakan susah dicari alias harus ke supermarket. Selain itu, harganya juga lumayan. Sayang belinya sudah mahal, capek-capek dimasakin eh nggak dimakan..bisa stres dobel hehe...

- Menyuapi lauk dan sayur secara terpisah
Di usia satu tahun, si bayi sering banget radang tenggorokan. Mungkin dia sudah mulai makan macam-macam. Jadi kalau aku buatkan makanan, nasi, lauk dan sayur sudah nggak diblender. Alhasil kadang pas disuapi ikannya aja malah mau, atau sayurnya aja. Kadang nasinya nggak mau, atau makaroni aja baru mau.

- Membuatkan fingerfood
Semakin lama si kecil semakin penasaran dengan benda-benda yang bisa digenggam dan dimasukkan mulut. Nah, itu kadang aku manfaatin memegang buah apel atau pepaya untuk dimakan. Kadang dia nggak bisa ngunyah, kalau udah keselek aku ambil. Biasanya aku kasih pepaya yang sudah matang banget kan agak lembek jadi dia bisa ngunyah.

- Memberi vitamin/nafsu makan (diatas satu tahun)
Setelah satu tahun akhirnya aku kasih vitamin nafsu makan. Rata-rata vitamin nafsu makan itu untuk anak di atas dua tahun. Jadi coba tanyakan sama petugas apotek vitamin untuk anak satu tahun. Biasanya aku kasih madu nafsu makan. Emang efeknya dia jadi suka makan, tapi kalau berhenti ya jadi berhenti juga.

- Biarkan makan sendiri
Kadang dia penasaran sih pengen makan sendiri. Jadinya, aku biarin aja sambil diawasi. Kadang dia malah lahap, loh. Selain memang belajar megang sendok sendiri, yang pasti lantai jadi kotor karena makanan berceceran. Demi bisa makan sendiri, ya...

- Membiarkan saja tidak makan sampai lapar
Kondisi ini dimana aku sudah nggak tahu mau ngapain lagi biar anak mau makan. Jadi kalau sudah capek, ya aku biarin saja deh dia asyik main dan nggak mau makan. Hasilnya emang akhirnya dia cari-cari sesuatu buat dimakan. Rewel gitu. Nah, setelah itu baru deh disuapin. Biasanya dia lebih lahap dan makan banyak.

Dan sekarang diusianya sudah mau dua tahun, kadang masih juga susah makan, kadang lahap banget. Tapi udah nggak se-stres dulu kalau dia nggak mau makan.

Read More

Follower