Setelah perjalanan panjang dari Surabaya, tibalah rombongan kami di hotel Hardys Rofa. Saya segera memberesi barang-barang yang ada di bawah kursi dan kabin Bus. Suami membawa beberapa tas dan menggendong si Raceqy turun dari bus. Suami juga menurunkan tas-tas dari bagasi dan stroller yang kami sewa di Surabaya. Ini gara-gara stroller di Malang nggak dibawa ke Surabaya.

Baca juga : Jasa Sewa Stroller di Rungkut Surabaya

Karena kesulitan membawa tas, akhirnya strollernya kami gunakan untuk membawa tas-tas. Benar-benar efektif. Sebenarnya stroller ini kami sewa untuk menaruh bayi kalau ke Tana Lot karena di sana sudah bisa pakai stroller tapi karena kesorean akhirnya batal ke Tana Lot. Menyedihkan.
Kami pun mengambil kunci kamar hotel Hardys Rofa yang sudah ditentukan oleh panitia. Saya dapat kamar di lantai lima. Saya dan suami langsung masuk lift setelah antri dengan rombongan yang lain.

Angin sore Legian memasuki sebagian koridor hotel yang terbuka. Kami berjumpa dengan cleaning service yang sedang membersihkan kamar. Mereka tersenyum ramah kepada kami.

Kunci berbentuk kartu

Kami pun tiba di pintu kamar. Kunci yang berbentuk kartu di scan di mesin pembuka pintu. Klik. Pintu terbuka. Saya memasukkan kartu di tempat samping pintu. Listrik pun menyala otomatis. Kami menyalakan lampu yang belum menyala. Kunci semacam ini memang biasa diterapkan di hotel-hotel berbintang. Kekurangannya kalau sampai kuncinya tertinggal dan pintu sudah menutup maka hanya pihak hotel yang bisa membukanya.

Kamar nyaman

Begitu saya melihat spring bed diselimuti bed cover putih, saya langsung menidurkan bayi saya. Melihatnya terlelap dan merasa kasihan karena dia sudah melewati perjalanan darat yang sangat panjang.
Kamar yang nyaman di Hardys Rofa via Trip Advisor

Balkon

Suami membuka gorden. Kami melihat kolam renang di bawah sana. Dia mencoba membuka pintu dan menikmati udara sore Legian yang kencang. Beberapa orang mengobrol-obrol di balkon sambil merokok dan menikmati minuman yang disediakan di setiap kamar.

View Hotel Dari Balkon Kamar via IG @ly_lestem


Pendingin ruangan

Saya menyalakan pendingin ruangan yang bermerk Daikin dengan pengaturan suhu pada titik 29 dersel. Bagi pecinta AC tentu suhu segitu masih panas. Tapi karena saya dari luar dan tidak ingin merasakan suhu yang begitu drastis maka saya menyalakan pada titik 29 dersel. Padahal sih memang tidak tahan AC, hehe.


Kamar mandi

Menurut saya, kondisi sebuah hotel bisa dilihat dari kamar mandinya. Jika kamar mandinya bagus dan bersih maka secara tidak langsung hotel itu sangat memperhatikan kebersihan di setiap bagian hotel. Saya memberi nilai 8 pada kamar mandinya karena ada beberapa bagian lantai yang muncul kerak.  Sama seperti kebanyakan hotel, fasilitas kamar mandinya dilengkapi wastafel, kloset duduk, tempat jemur handuk, handuk bersih, shower, tempat sampah, sabun, sikat gigi, shower cap, sabun, dan shampoo.
Air panasnya pun berfungsi walaupun harus menunggu beberapa saat. Saya memandikan si kecil cukup di wastafel saja.

Fasilitas kamar

Selain pendingin ruangan, di dalam kamar juga disediakan lemari, gantungan baju, meja, kursi, note dan pensil, brankas, heater dan air mineral.

Ruang Aula

Ruang aula ini berada di lantai dasar. Sesampainya di hotel Hardys Rofa, kami tidak makan di restoran hotel tapi di aula karena makanannya pakai catering. Setelah itu, ada acara yang diadakan panitia untuk anak kecil maupun bernyanyi. Sayangnya karena saya ingin segera istirahat dan kasihan juga bayi saya yang masih usia satu bulan, maka saya memutuskan kembali ke kamar dan tidur.

Baca Juga : Senangnya Jalan-Jalan wisata Ke Bali

Restoran

Besok paginya, kami sarapan di restoran hotel Hardys Rofa. Menunya cukup beragam walaupun dua hari sarapan di restoran hotel Hardys Rofa menunya tidak jauh berbeda dengan menu sebelumnya. Ada menu jawa nasi, sayur dan lauk. Eh tapinya lauknya sosis sih, hehe. Ada makanan barat seperti roti panggang, sereal, salad buah dan salad sayur. Minumannya ada susu, teh, kopi, air putih, dan infused water.

Restoran hotel Hardys Rofa ini berada di lantai dua jadi ada tempat duduk di balkon atau teras sehingga bisa melihat pemandagan keluar hotel walaupun pemandangannya hanya jalan raya, hehe.

Kamar mandi umum

Bagi yang ingin menyelenggarakan acara di hotel Hardys Rofa ini, tidak perlu khawatir soal kamar mandi karena ada kamar mandi umum di lantai dua dekat dengan restoran.


Kolam Renang

Fasilitas lainnya yang tidak kalah penting adalah kolam renang. Di hari kedua ketika saya dan suami tidak ikut rombongan jalan-jalan, suami dan anak memanfaatkan kolam renang hotel.

Sewa Motor dan Mobil

Tidak hanya itu, di hotel ini juga disediakan persewaan motor dan mobil. Kalau ingin menyewa motor atau mobil tinggal bilang ke petugas keamanan di depan hotel. mereka yang akan menghubungi persewaan untuk datang ke hotel. setelah itu kita langsung transaksi dengan pemiliknya. Harganya 75.000 per hari untuk motor dan siap-siap dana lebih sekitar 30.000 jika terjadi ban bocor. Pengalaman sewa motor di Bali sudah saya ceritakan di blog sebelumnya ya.

Harga per kamar

Bagi saya, hotel Hardys Rofa ini cukup murah untuk fasilitas yang diberikan. Setelah saya google di internet. Harga kamar di hotel Hardys Rofa ini mulai dari 400.000 rupiah.

Lokasi Hotel

Lokasi Hotel Hardys Rofa ini berada di Jalan Nakula No. 9, Legian, Kuta. Tidak jauh dari Pantai Kuta sekitar tujuh menit kalau naik motor. Tapi kalau ke Denpasar, dari hotel Hardys Rofa ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

Demikian review saya tentang hotel Hardys Rofa. Bagi kalian yang ingin ke Bali dan mencari hotel. Hotel Hardys Rofa ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk menginap.

Read More
Bulan Februari lalu, rombongan kantor suami mengadakan tur wisata ke Bali. Waktu masih di Malang beberapa hari sebelumnya, saya sudah bilang suami bawa stroller saja. Katanya buat apa? Ternyata pas briefing beberapa hari sebelum berangkat, pihak travelnya malah menyarankan membawa stroller karena di Tana Lot itu bisa pakai stroller.

Alhasil, saya dan suami menyesal strollernya ditinggal di Malang. Saya pernah tahu kalau di Surabaya ada tempat yang menyewakan stroller. Saya telusuri di Google. Ternyata ada banyak sekali tempat penyewaan stroller. Ada yang webnya lengkap sampai semua barang di foto dan disebutkan detailnya. Ada yang ala kadarnya.

Baca juga : Senangnya Jalan-Jalan Wisata ke Bali

Akhirnya saya bilang ke suami sewa stroller saja daripada capek-capek pulang ke Malang cuma ambil stroller. Harga sewanya mulai dari 60.000 per minggu tergantung jenis strollernya.

Kami pun berencana menyewa stroller di Baby Farra Rental karen dekat dengan rumah.

Jam Buka

Minggu - Jumat pukul 09.00 - 17.00 WIB

Lokasi

Lokasi penyewaan stroller Baby Farra Rental ada di daerah Rungkut. Akhirnya kami memutuskan ke sana hari rabu, H-1 sebelum berangkat. Dengan mengikuti petunjuk Google akhirnya kami sampai di Baby Farra Rental di Jalan Rungkut Asri Barat X No. 8.



Begitu kami masuk, sudah ada mbak-mbak admin berjilbab dan berbaju batik yang duduk manis di depan komputer. Saya juga melihat banyak sekali perlengkapan bayi dan mainan-mainan bayi yang tersusun di lemari.




Saya pun menanyakan stroller yang ada tempat barangnya di bawah tempat duduk. Tujuan pilih stroller jenis itu sih biar ada tempat untuk menaruh tas yang berisi popok, minyak telon, dan baju ganti cadangan.

Eh, malah ditunjukin stroller yang ada di depan mata yang habis dipinjam penyewa. Berwarna ungu dan cukup besar. Tapi belum dicuci. Memang menurut aturan di Baby Farra Rental, barang yang sudah dikembalikan dicuci dulu oleh pihak rental sebelum dipinjamkan penyewa lainnya.
Tapi karena kami tidak ada waktu lagi, maka kami langsung menyewa saja dan belum dicuci.

Syarat menyewa

Pembayaran dilakukan di depan. Adapun syarat menyewa adalah :
- menyerahkan identitas (KTP/SIM) atau uang sebagai jaminan.
- menandatangani surat pernyataan bermaterai (disediakan pihak rental, kita bayar biaya materai)
- mengisi data diri


Menyewa lewat online

Sebenarnya tidak perlu susah-susah datang ke rumahnya, Baby Farra Rental juga menyediakan jasa antar barang yang disewa. Tapi kita yang menanggung biaya antar jemputnya sesuai lokasi tempat tinggal. Karena saya baru pertama menyewa jadi saya memiih datang langsung ke lokasi rental. Selain ingin memastikan sebenarnya karena saya sedikit kurang yakin begitu kalau transaksi tanpa bertemu dengan penyewanya, hehe.

Setelah saya mengisi data diri, menyerahkan identitas, mengisi surat pernyataan, dan membayarnya. Kami pun membawa stroller itu ke mobil.
Oiya, kalau sebelum dibawa, pihak penyedia jasa mengarahkan saya bagaimana membuka dan menutup stroller.

Jadi di Baby Fara rental ini tidak saja hanya menyewakan stroller, bouncer, baby walker, meja dan kursi, mobil baterai, tempat tidur bayi, tapi juga beberapa mainan yang ada di playground.

So, bagi yang di Surabaya, kalau mau butuh stroller hanya dalam waktu beberapa hari bisa pinjam di Baby Fara Rental.

Website Baby Fara Rental www.babyfarrarental.com
Read More
Bulan Februari lalu, saat hari kejepit, kantor suami mengadakan tur wisata ke Bali. Saya yang baru melahirkan sebulan sebelumnya bingung apakah harus ikut atau tinggal. Kalau saya tinggal, saya rasanya nggak mampu melihat Raceqy mencari-cari ayahnya beberapa hari. Saya pun nggak bisa mengatasi sendirian kalau dia rewel. Kalau ikut, saya sebenarnya kasihan juga dengan bayi yang masih satu bulan harus perjalanan jauh. Saya pun menyuruh suami saja berangkat sama Raceqy tapi suami nggak mau.

Akhirnya saya minta pendapat bidan. Beliau berkata asal jangan mengarahkan AC ke muka bayi langsung. Mending dimatikan saja.
Baiklah. Saya pun merasa lega dan nekad tetap ikut. Kami pun berkumpul di kantor suami jam tiga sore tapi Bus baru berangkat jam setengah tujuh malam karena ada sesuatu hal. Ternyata di tol macet sekali.

Di Probolinggo, kami sampai di rumah makan untuk makan malam sekitar jam 11 malam. Kemudian lanjut ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sampai di sana sekitar pukul empat pagi. Semua pun melaksanakan sholat di musholla pelabuhan.

Sekitar hampir satu jam kami menyeberangi selat Bali. Perjalanan pun dilanjutkan. Rencananya kami akan mengunjungi Tana Lot dan Pura apa gitu. Sayangnya karena terlalu sore, jadi perjalanan langsung menuju tempat makan sekaligus tempat jual oleh-oleh di Denpasar. Sampai di hotel di Legian sekitar jam setengah enam. Karena sudah masuk Waktu Indonesia Tengah, jadi jam segitu masih agak terang.

Setelah mendapatkan kunci kamar, kami pun segera masuk kamar. Betapa leganya kami sudah bisa membaringkan badan setelah perjalanan hampir 24 jam.

Setelah makan malam, panitia menyiapkan acara. Saya tidak ikut acaranya karena ingin membaringkan si kecil. Raceqy ikut ayahnya mengikuti acara walaupun tidak sampai selesai.

Besoknya, tujuan wisata selanjutnya ke Pantai Pandawa, Uluwatu, Tanjung Benoa, dan Pulau Penyu. Saya dan suami memilih tidak ikut dan tinggal di hotel untuk beristirahat. Resikonya kami tidak dapat makan siang. Paginya suami dan anak menikmati di kolam renang hotel Hardys Rofa.

Baca Juga : Hardys Rofa: Hotel Nyaman Tidak Jauh dari Pantai Kuta

Sewa Motor

Kami pun berencana pergi sendiri dengan nyewa motor yang banyak menyediakan jasa sewa kendaraan di Bali. Saya pun menelepon jasa-jasa yang ada di internet. Rata-rata minimal dua hari dengan harga 100an ribu per hari. Padahal kami rencana satu hari saja karena besoknya akan ke Danau Bratan.

Eh, karena minimal dua hari, akhirnya saya coba tanya resepsionis apakah hotel menyediakan sewa motor. Eh, ternyata memang menyediakan sewa motor dan mobil. Harganya 75 ribu per hari untuk satu motor. Setelah saya pesan ke satpam, pemilik sewa pun datang ke hotel sambil memberi kunci dan STNK.

Pantai Kuta dan Seminyak

Kami pun berkelana ke daerah Legian atau Kuta dan daerah Seminyak. Bermodal Google Map, kami pun menyelusuri jalan-jalan sempit di daerah Kuta. Banyak bule-bule dengan pakaian sedikit terbuka membuatku merasa seperti bukan di Indonesia. Beberapa toko didesain seperti di luar negeri dengan kanopi khas Eropa Amerika. Beberapa rumah khas tradisional dengan bangunan Pura nya yang terlihat di beberapa titik di wilayah Kuta menyadarkanku berada di negeri sendiri.

Daerah Kuta adalah daerah tujuan wisata internasional. Pantas saja kalau daerah ini cukup ramai bahkan macet di jam-jam tertentu. Toko-toko menjual pakaian yang terbuka untuk para turis, juga cinderamata atau kerajinan tangan karya lokal. Beberapa titik juga menyediakan jasa tukar uang asing.

Kami pun hendak belok kiri inginnya ke Pantai Kuta. Sayangnya jalannya ditutup dan dijaga beberapa petugas keamanan. Kami pun berbalik arah dan memilih belok kanan menuju jalan yang kami tak tahu itu dimana. Ternhata kami menelusuri jalan pinggir pantai di Seminyak.

Saya sedikit terpukau dengan hotel-hotel mewah di pinggir pantai. Dari jalanan terlihat bule-bule sedang berjemur di sebuah ruang terbuka yang saya duga sedang di pinggir kolam hotel. Saya pun baru tahu kalai Seminyak adalah kawasan hotel-hotel, villa, resort mewah walaupun jalannya sempit. Bahkan kami sempat nyasar ke sebuah wilayah resort atau hotel mewah yang berada di culdesac (jalan buntu).

Tragedi Ban Bocor

Begitu puas melewati pantai dan kawasan pinggir pantai, kami pun pulang ke hotel. Setelah maghrib, saat kami akan jalan-jalan lagi ternyata ban motornya bocor. Padahal tadi tidak kenapa-kenapa. Terpaksa kami menelepon si pemilik motor. Begitu mereka datang, mereka bilang jam segini nggak ada tambal ban. Ujung-ujungnya kami harus mengganti ban seharga tiga puluh ribu rupiah. Dengan harga segitu di Kuta apa wajar? Memang sih di bukti pembayaran ada perjanjian kalau kerusakan ban atau ban kempes tidak ditanggung. Lah kalau ada yang iseng dikempesin terus kita harus menanggung tiga puluh ribu? Walah. Yasudah deh. Saya juga tidak mau cari masalah. Jadinya jatuhnya sama saja tuh seperti agen-agen sewa yang ada di internet.

Pulang Mampir ke Joger

Besoknya kami bersiap-siap untuk check-out. Karena ada beberapa rekan kantor suami yang meneruskan bermalam di Bali jadinya panitia harus mengurus pendataan dan pemindahan penumpang di Bus lain.

Sepanjang perjalanan kami ditemani seorang pemandu yang benar-benar menyenangkan karena kelucuannya. Perjalanan menjadi tidak terasa. Saya juga benar-benar menikmati Bali dengan keunikan rumah tradisionalnya yang selalu menyisakan sedikit untuk ruang terbuka.

Kami juga melewati kantor Kabupaten Badung yang terkenal mewah karena memiliki pendapatan daerah tertinggi dibanding kabupaten lainnya di Provinsi Bali. Maklum Kabupaten Badung memiliki, Kuta, Legian, Seminyak, Uluwatu, Tanjung Benoa, Jimbaran, Bandara Ngurah Rai yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

Tidak lama kami pun tiba di tempat belanja oleh-oleh Bali yang paling terkenal yaitu Joger. Sudah banyak Bus-Bus yang parkir di depan tempat belanja itu. Jalan yang sempit membuat banyak berhenti di pinggir jalan untuk menurunkan penumpng dan menyebabkan tundaan-tundaan kendaraan.

Masuk Joger juga ada syaratnya tuh. Bagi yang rombongan akan ditempeli stiker di bajunya dan harus antri sesuai rombongannya. Paling penting tidak boleh pakai kaos Joger palsu atau produk lainnya. Kalau tidak nanti disuruh lepas. Antisipasinya, dengan memakai jaket atau melepas produk palsu itu.
Begitu melewati pintu pemeriksaan, saya mengikuti pengunjung yang lain. Ternyata masuk ke ruang kaos-kaos. Banyak sekali pengunjung-pengunjung melihat kaos Joger. Duh, akhirnya saya putar balik karena saya bawa bayi. Kasihan. Apalagi suami kalau berada di kerumunan orang bakal pusing.
Akhirnya saya pun lihat sandal-sandal di atas. Ada satu sandal yang menarik hati tapi ukurannya kecil. Suami juga cari sandal ukurannya kecil-kecil sedangkan ukuran kaki suami sekitar 42. Akhirnya beli sandal ukuran 40. Alasannya nanti juga melar. Lah?!

Semakin siang Joger semakin ramai apalagi pas libur kejepit. Setelah semua selesai berbelanja, kami pun menaiki bus dan segera menuju ke Danau Beratan Bedugul.

Wisata Danau Bratan Bedugul

Udara dingin sejuk menerpa wajah. Danau Bratan Bedugul berada di daerah ketinggian dan dikelilingi pegunungan. Beberapa orang menuju masjid untuk shalat Dzuhur yang berada di ketinggian. Suami cerita sambil menawari cilok yang ternyata rasanya enak itu kalau pemandangan dari masjid bagus sekali. Pemandangan Danau Bratan dan Pura nya dikelilingi dengan pegunungan jelas terlihat. Walaupun saya tidak ke masjid tapi saya bisa membayangkan betapa indah pemandangan Danau Bratan.

Kami pun makan siang dulu di Bus dengan nasi kotak. Setelah itu kami masuk ke tempat wisata yang terkenal itu.

Taman-tamannya luas belum lagi ditambah pepohonan menambah keteduhan siang itu. Untungnya matahari tidak begitu menyengat. Saya dan suami sudah membawa payung khawatir kalau tiba-tiba hujan. Maklum kita liburannya saat musim hujan.

Taman di Tempat Wisata Danau Bratan


Ada area bermainnya juga yang dipenuhi anak-anak. Raceqy begitu semangat bermain di taman bermainnya.

Ada restaurant dan pujasera juga.


Saya melihat ke dermaga sudah banyak orang yang antri ingin naik perahu dan sepeda air. Ada juga jasa pembuatan tato dekat dermaga. Saya melihat beberapa orang dibuatkan tato-tato non permanen yang hanya menggunakan stiker.


Dermaga di Danau Bratan

Setelah puas bermain, saya dan suami menuju ke Pura yang menjadi ikon di uang 50.000 itu. Sudah lama saya ingin ke Bedugul, akhirnya kesampaian juga. Kami pun berfoto berlatar Pura dan Danau Bratan itu. Saya ingin mengetahui lebih dekat Pura itu tapi lautan manusia membuat saya mengurungkan niat melihatnya.

Pura di Danau Bratan


Tidak lama hujan mulai turun. Walaupun gerimis tapi sudah membuat para wisatawan yang sedang berfoto kelabakan mencari tempat berteduh.
Saya dan suami segera menuju Bis. Perjalanan selanjutnya pulang ke Surabaya sekitar pukul tiga sore.

Bus-bus kami melewati pegunungan dengan pemandangan Danau Beratan. Indah sekali terlihat dari atas. Sampai di Surabaya pukul tiga pagi hari senin. Kami pun segera bergegas pulang ke rumah karena suami harus berangkat lagi ke kantor.

Read More
Selama tinggal di Waru, aku dan suami belum menjelajahi kota Surabaya atau bahkan Sidoarjo sendiri untuk menikmati hari libur. Maklum biasanya kalau akhir pekan kami ke Malang. Kebetulan saat hari buruh, kami ada di Malang dan baru balik ke Waru hari selasa malam. Daripada bolak-balik Malang, kami stay di rumah aja pas akhir pekan. Lah kok pas di lingkungan rumah juga banyak acara, ada syukuran, arisan dan rapat RT, jadi kami nggak ke Malang. Mbahkung dan mbah uti Sragen juga datang ke rumah.

Sabtu pagi aku mengajak Mbahkung dan Mbah uti ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) padahal mbah kung sama mbah uti mau pulang ke Sragen, hehe. Lah gara-gara suami protes, masak nggak diajak jalan-jalan cuma disuruh masak tok. Yaudah deh. Padahal yang mau masak itu Uti sendiri, loh. Hehe.

Sudah sejak lama pengen ngajak Raceqy lihat hewan-hewan di Kebun Binatang Surabaya (KBS) biar sekalian mengenalkan nama-nama hewan di sana. Terakhir saya kesana waktu masih kecil. Itu pun sudah lupa bagaimana bentuknya di dalamnya.

Kebun Binatang Surabaya (KBS) ini memiliki luas sekitar 15 hektar. KBS sudah didirikan sejak tahun 1920. Pas jaman Belanda tiketnya gratis tapi lama-kelamaan mengalami krisis dan terancam tutup tapi anggotanya tidak setuju. Akhirnya dibaut pengurus baru dan dapat bantuan dari walikota. Saat ini Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS dikelola oleh pemerintah kota.



Lokasi

Hari Sabtu kami ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang ada di Jalan Setail No.1, Darmo, Wonokromo.  Akses menuju KBS ini bisa naik Bus dari Bungurasih ke arah terminal Joyoboyo terus berhenti depan kebun binatang Surabaya. Kalau mau lebih praktis bisa pakai taksi online, hehe.

Landmark

Ketika melihat landmark atau ikon kota Surabaya yang berupa patung suro (hiu) dan boyo (buaya) maka kita sudah sampai di KBS.

Parkir

Kalau naik kendaraan pribadi, maka kita akan masuk parkir dengan tarif parkir KBS 8.000 rupiah untuk mobil. Kalau motor, saya lupa nanya, hehe. Kalau parkir mobil harus pintar-pintar biar bus-bus bisa lewat. Karena kalau sudah siang, pengunjung akan ramai sekali terutama saat weekend. Apalagi parkiran juga dipakai buat berjualan membuat mobil-mobil susah keluar.

Tiket Masuk

Tiket masuk Kebun Binatang Surabaya per orang 15.000. Untuk anak-anak yang tingginya lebih dari 85 cm sudah harus bayar tiket. Sedangkan tiket rombongan harganya 13.000 per orang untuk minimal 30 orang. Di pintu masuk ini ada papan untuk mengukur ketinggian. Jadi anak-anak diukur dulu sebelum masuk kebun binatang. Setiap pengunjung akan diberi satu gelang dari kertas yang ditempel.

Kebun Binatang Surabaya

Begitu masuk, pengunjung akan melihat peta besar yang berisi tata letak kebun binatang dengan fasilitas dan persebaran hewan-hewannya. Ada jenis burung-burung, reptil juga mamalia. Jenis mamalia ini yang paling banyak dipelihara di KBS apalagi dari spesies monyet. Banyak sekali monyet-monyet yang dipelihara. Sepertinya mereka sudah beranak cucu. Mungkin karena iklim tropis jadi monyet mampu bertahan hidup.



Sebenarnya ada larangan untuk tidak memberi makan hewan tapi ada saja yang memberi makan hewan. Apalagi mereka kelihatannya lapar. Jadi setiap ada lemparan kacang, monyet segera menyambutnya. Termasuk saya yang memberi makan monyet, hehe. Habis gemes sih lihat mereka nangkap kacang. Bahkan sampai ada yang berenang di sungainya.

Ada atraksi gajah juga, loh. Jadi kita bisa naik gajah yang dipandu oleh petugas kebun binatang. Kalau tidak salah, bisa sarapan dan naik gajak tapi bayar 75.000.

Biasanya Raceqy cuma lihat hewan-hewan melalui gambar atau video atau televisi, di KBS aku mencoba mengenalkan dia dengan hewan-hewan itu. Mulai dari melatih mengucapkan sampai mengulang-ulang pertanyaan. Entah kenapa semua hewan yang bisa ditunggangi dia sebut kambing.
Kusebutkan ciri-ciri umum setiap hewan, misal jerapah lehernya panjang, gajah itu besar, monyet itu melompat.

Raceqy senang banget melihat rusa-rusa yang mendekati kami karena kami kasih rumput-rumput yang disediakan di depan kandang.



Fasilitas

Fasilitas Kebun Binatang Surabay ini cukup banyak.

- Tenda rombongan
Waktu saya kesana, banyak sekali anak-anak PAUD/TK yang berkunjung kesana. Di area KBS ini disediakan tenda-tenda tanpa tikar dan bisa digunakan untuk duduk lesehan. Saya juga kurang tahu untuk biaya sewa tenda di KBS nya, apakah memang sudah gratis dari sananya atau harus bayar. Begitu juga alas duduknya.

- Kolam renang
Sayangnya, kemarin saya tidak melihat ikan-ikan di sana jadi tidak melihat ada kolam renang. Tahunya juga pas lihat foto peta KBS.

- Warung dan Pujasera
Bagi yang ingin membeli makanan kecil, di area KBS disediakan stand-stand penjual makanan kecil dan gorengan. Ada juga yang menjual mainan-mainan. Pujasera juga disediakan di KBS dengan harga standar 15.000-20.000. Makanan yang dijual seperti soto, bakso, rujak, nasi campur, dan lain-lain.

- Perpustakaan
KBS juga memiliki perpustakaan. Waktu saya kesana perpustakaan sepi. Jadi saya memilih menjelajah KBS sambil mengenalkan kepda anak tentang hewan-hewan.

- Wisata Perahu
Wisata perahu ini ada di dekat tempat atraksi gajah. Satu kapal bisa dinaiki 3-5 orang. Tiap penumpang akan diwajibkan menggunakan pelampung. Sayangnya saya lupa tanya harganya. Haha. Wisata perahu ini kita diajak menikmati kebun binatang dengan hewan-hewan yang ada di tengah pulau.

- Sepeda Air
Sepeda air ini berada di bagian belakang KBS setelah kandang singa dan harimau. Harganya 25.000 rupiah untuk dua orang, sedangkan 30.000 rupiah untuk sepeda air berisi empat orang. Naik sepeda air ini benar-benar seperti di tengah hutan. Saya menemukan biawak dan kura-kura berenang saat saya menggunakan sepeda air. Mungkin karena lokasi sepeda air tidak begitu terawat. Banyak tanaman liar yang tumbuh. Banyak tanaman air yang tidak pernah diambil. Ada juga rumah-rumah non permanen yang berada di pinggir lokasi seperti potret rumah di pinggir kali.

- Panggung anak
Begitu selesai main sepeda air satu putaran, kami pun pulang. Kami melewati pujasera dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kemudian ada panggung anak yang bisa digunakan untuk acara-acara sekolah.

- Playground dan Flying Fox
Di dekat panggung anak, ada playground dan flying fox juga. Saya tidak kesana karena sudah sangat capek mengelilingi KBS.

- Toilet
Toilet ini berada dekat dengan pintu keluar.


Sampai parkiran, sudah banyak sekali bus, mobil yang parkir. Parkiran sangat padat sekali dengan penjual dan pembeli. Saya datang jam setengah sembilanan dan selesai mengelilingi KBS jam 11an. Rasanya memang mending datang pagi-pagi biar nggak terlalu panas dan suasana pun belum ramai benar.
Read More
Bagi kalian yang pernah ke Kediri dari Malang lewat kota Batu pasti melewati daerah dataran tinggi yang dingin dengan jalan berkelok-kelok. Daerah itu adalah Pujon. Salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terkenal dengan produksi susu sapi SAE Pujon.

Di kecamatan Pujon ini ada obyek wisata baru yang sangat menarik untuk di kunjungi. Obyek wisata itu adalah Cafe Sawah Pujon Kidul. Lokasinya ada di kelurahan Pujon Kidul. Selama ini, saya hanya lihat di postingan teman-teman tentang lokasi ini. Menarik banget emang. Lah, tapi di Pujon Kidul? Kebayang harus melewati jalan berbelok-belok dulu.

Eh, akhirnya kesampaian. Mertua mengajak saya dan saudara-saudara jalan-jalan ke Cafe Sawah di Pujon Kidul. Karena kami keluarga besar jadi kami membawa dua mobil sedan. Kami berangkat sebelum dzuhur.

Akses

Kami kebayang karena weekend daerah Soekarno Hatta-Dinoyo-Dau akan macet, akhirnya kami lewat belakangnya kampus UMM. Walaupun jalannya sempit tapi nggak macet. Setelah ketemu pertigaan, belok kiri tembus jalan besar. Nanti ketemunya pertigaan yang ada pos polisi itu. Kami pun belok kanan.

Karena adzan dzuhur tiba, kami sholat dulu di masjid besar sebelah kiri jalan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalannya sama seperti ke arah Coban Rondo tapi kita ambil jalan yang lurus yang ada spanduk bertuliskan Cafe Sawah Pujon Kidul. Selain Cafe Sawah, ada juga obyek wisata Air Terjun Sumber Pitu tapi kami nggak ke sana mengingat sudah terlalu siang. Jadi kalau mau mengunjungi Air Terjun Sumber Pitu mending pagi-pagi berangkatnya.

Kami masuk ke wilayah pedesaan yang tenang. Jalannya pun tidak terlalu bagus untuk tujuan obyek wisata yang sudah terkenal. Kami sering berpapasan dengan mobil-mobil yang kemungkinan sudah berkunjung ke Cafe Sawah. Sayangnya, kalau kesini nggak bisa naik bus karena jalannya yang sempit. Tidak perlu khawatir tersesat karena ada penunjuk jalannya menuju Cafe Sawah.

Tiket

Perjalanan dari depan gerbang yang bertuliskan spanduk tadi sekitar 15 menit. Sesampainya disana, kami melewati loket dengan membayar tiket delapan ribu per orang ditambah biaya parkir mobil. Tiket ini menggunakan sistem voucher. Jadi setiap belanja di area Cafe Sawah dengan menggunakan tiket ini akan dipotong lima ribu rupiah. Hem.. jadi sebenarnya harga tiket masuk tiga ribu saja. Hanya saja voucher lima ribu rupiah tadi memang jatah untuk penjual-penjual yang ada di dalam area Cafe Sawah.

Parkir

Area parkirnya masih berupa tanah dengan pemandangan pegunungan yang menyenangkan. Tempat parkirnya dibatasi oleh kebun sayur-sayuran. Di tempat parkir juga ada kamar mandinya. Parkir yang disediakan pun cukup luas untuk parkir mobil. Pemandangan pegunungan yang indah dari tempat parkir membuat saya berhenti sejenak untuk mengambil foto-foto.



Fasilitas

Warung oleh-oleh

Walaupun udara sejuk, matahari terik membuatku membawa payung biar si bayi nggak kepanasan. Kami pun menyusuri jalan menuju ikon-nya Cafe Sawah. Banyak warung-warung di pinggir jalan yang menjual buah-buahan juga sayur-sayuran segar yang bisa dijadikan oleh-oleh dari Pujon Kidul. Ada juga yang berjualan bakso, tahu crispy, susu sapi, rujak manis, pakaian bertuliskan Cafe Sawah.

Cafe Sawah



Akhirnya kami tiba di Cafe Sawah, saya memang penasaran dengan obyek wisata kuliner yang dipadukan dengan panorama alam ini. Kami memasuki ruang makan dengan tembok permanen yang menjual banyak makanan seperti bakso, nasi campur, dan juga minuman botolan. Dari ruang makan ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Cafe Sawah yang unik dan tradisional. Panas matahari siang hari tak menyurutkan semangat pengunjung untuk berfoto-foto. Ada kolam-kolam ikan. Ada gazebo-gazebo kecil atau gazebo yang lebih panjang untuk tempat makan-makan dengan pemandangan sawah di depan mata. Gazebo-gazebo itu diberi jomor-nomor yang berfungsi untuk memesan minuman.

Jadi harus ingat nomor gazebonya ya.

Titik foto yang menjadi rebutan pengunjung adalah spot foto bertuliskan Wisata Pujon Kidul. Baru juga turun ke gazebo-gazebonya, perut ini sudah lapar dan tenggorokan mulai haus.

Saya dan adik ipar saya pun segera memesan makanan dan minuman. Sayangnya tidak ada pelayan yang datang di tiap gazebo untuk mencatat pesanan. Jadi kami harus datang ke stand makanan dan minuman. Stand ini berupa bangunan yang semi permanen yang terbuat dari bambu-bambu dan kayu. Karena kami melewati stand penjual minuman, jadi kami mampir dulu.

Menu yang dijual cukup beragam seperti jus buah, susu murni, kopi, teh, jahe, atau susu jahe. Penjualnya benar-benar sibuk karena banyaknya yang pesan minuman dari stand makanan. Dia melayani kami sambil memegang handie-talkie (HT) dan berbicara dengan seseorang. Jangan lupa voucher yang kita beli di loket bisa ditukarkan saat membeli minuman. Pesanan minumannya nanti diantar pegawainya. Harganya sekitar 8.000-15.000an rupiah.

Setelah itu, kami memesan makanan yang ada di stand berbeda. Pemesanan makanan pun harus datang langsung ke ruang prasmanannya. Saya mengambil piring rotan yang sudah diberi kertas makanan.

Jangan bayangkan menu makanan yang dijual seperti di cafe-cafe modern. Menu yang dijual tidak jauh seperti makanan tradisional Jawa. Menu yang disediakan seperti nasi jagung, nasi putih, sayur sop, ayam crispy, tahu, tempe, lodeh, kare, urap-urap, telor bacem. Harga sesuai dengan apa yang kita ambil. Rata-rata 10.000-20.000an rupiah. Kasirnya pun menghitung makanan yang kita ambil. Kalau mau pesan minuman juga bisa di kasirnya. Sesekali dia berbicara di HT menyebutkan pesanan-pesanan minuman pengunjung. Ternyata penjual minuman tadi berbicara dengan si kasir ini.



Kami pun menuju gazebo kami yang ada di atas. Memang lebih baik memilih gazebo yang dekat penjual makanan saja biar nggak naik turun dan nggak capek.

Setelah makan dengan lahap, kami pun berfoto-foto di spot foto terdekat. Mengingat kalau harus turun lagi ke bawah dan naik lagi di siang bolong saat itu, rasanya nggak kuat dan bisa-bisa lapar lagi.

Arena Main ATV

Setelah puas menikmati sajian makanan dan minuman di Cafe Sawah, kami menuju ke arena main ATV. Anak-anak sangat excited sekali bermain motor ATV ini. Harganya 50.000 untuk dua kali putaran (saya agak lupa berapa putaran). Karena kami banyak orang jadi sempat dikasih bonus sekali putaran, hehe.

Arena Berkuda

Setelah itu, kami menuju ke arena berkuda walaupun kudanya dikendalikan bisr nggak lari, hehe. Harusnya untuk masuk ke arena berkuda ini aksesnya dari pintu depan dimana setiap orang harus bayar uang masuk 5.000 rupiah karena ada tempat makannya juga. Tapi karena kami nggak tahu, kami masuk aja lewat belakang dan bayar kudanya sekitar 50.000 rupiah untuk satu kali putaran satu orang. Walaupun satu kuda dua orang jadinya harga dua orang.

Gardu Pandang

Di arena berkuda ada juga gardu pandang yang bisa melihat sekitar Cafe Sawah dari kejauhan. Sayangnya saya nggak naik gardu pandang itu karena merasa sudah sangat capek (maklum semakin tua, wkwkwk).

Jasa Pijat

Di dekat gardu pandang banyak stand-stand penjual makanan minuman ringan dan stand jasa pijat.


Toilet

Di obyek wisata Cafe Sawah ini juga disediakan toilet dekat ruang makan yang dinding permanen itu. Di beberapa warung juga disediakan toilet walaupun berbayar.

Tempat Bermain Anak

Saat kami menuju jalan pulang, aku melewati stand penjual es krim. Akhirnya aku mampir dulu. Di dekatnya juga ada arena bermain anak sederhana. Ada perosotan, mandi bola, dan panjat yang menggunakan tali itu. Kalau tidak salah masuknya 15.000 per jam.

Jam Buka

Karena sudah mulai sore dan kami pun sudah capek, akhirnya kami pulang. Saat pulang kami masih berpapasan dengan mobil-mobil yang baru datang. Katanya kalau saat matahari terbenam, Cafe nya terlihat romantis karena senja dan sendu bercampur jadi satu. Ciyehh.

Jam buka Cafe Sawah ini dari jam 08.00-19.00 weekday, jam 08.00-22.00 weekend.

Saya pun memilih memejamkan mata saat perjalanan pulang karena saking capeknyaaa.. Sepertinya memang kurang olahraga, hehe.


Read More

Follower