Jaman sekarang ya sebagian besar orang sudah punya media sosial baik untuk menulis status tanpa foto maupun yang pakai foto seperti instagram. Hampir setiap tempat yang kita kunjungi tak luput dari bidikan kamera smartphone kita. Dan pastinya tak luput jua mengunggahnya di media sosial.

Begitu pun saat saya sedang mengadakan pelatihan di Yogyakarta. Tempat acaranya berada di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Alhamdulillah saya punya kesempatan menikmati hotel-hotel gratis. Hehe. Sebelumnya berkesempatan merasakan Hotel Kartika Chandra dan hotel Ibis Style Sunter.

Lokasi hotel Tjokro Style yang merupakan hotel bintang tiga ini sangat strategis karena berada tak jauh dari bandara Adi Sutjipto dan tak jauh dari Keraton Yogyakarta.

Berwisata ke Yogyakarta memang perlu memperhatikan aspek lokasi hotel yang strategis. Traveling ke Yogyakarta pun rasanya nggak cukup kalau nggak diunggah di media sosial. Siapa juga yang nggak tahu Yogyakarta, kota yang terkenal dengan gudeg dan Keraton Hamengkubuwono sudah sering menjadi destinasi wisata para turis mancanegara.

Nah, kebetulan saya ingin mereview hotel yang saya tinggali selama tiga malam ini. Karena saya sampai sana malam hari jadi saya nggak begitu ngeh dengan desain interiornya.

Saat hari kedua, saya baru mulai merasa ada yang berbeda dengan hotel Tjokro Style ini. Hotel ini sangat instagrammable. Yuk, coba kita lihat aja.

Lobby Hotel

Lobby hotel ini terkesan sangat lowong walaupun berada di tanah yang tidak begitu lebar. Lah, wong bapak saya mau parkir saja harus muter ke depan ke belakang sama tukang parkir. Gara-gara parkirannya nggak cukup sedangkan tamu yang datang cukup banyak.

Selama tiga hari tiga malam di sana memang hotel bintang tiga ini sering digunakan untuk kegiatan meeting dari berbagai instansi. Dan bagi saya lobyy hotel yang terkesan luas ini membuat siapapun yang datang merasa lelahnya hilang. Di pojokan banyak sofa disediakan bagi tamu yang ingin santai sejenak. Belum lagi background dinding yang cocok untuk berfoto-foto.


Di dekat meja resepsionis juga ada kursi becak panjang dengan topi-topi petani berwarna-warni diletakkan di atas kursi becak. Di sampingnya, ada properti foto tradisional yang bisa digunakan untuk menambah manisnya foto kita seperti blangkon dan baju jawa.




Di sudut lainnya, ada properti foto dengan latar jendela buatan (nggak bolong) dan sepeda vintage. Ada juga frame foto dari kayu bertuliskan happy forever.




Oiya, meja resepsionisnya pun didesain dari batu bata dan latar resepsionisnya dari balok-balok yang disusun.



Free Welcoming Drink

Suasana lobby yang nyaman, sofa yang cukup banyak dan nyaman semakin terasa menyenangkan saat ada fasilitas free welcoming drink. Yang disediakan nggak cuma minuman hangat (saya nggak begitu yakin sih kayaknya teh rosella) tapi juga cemilan seperti keripik telo ungu dan cemilan lain yang saya nggak tahu namanya. Setidaknya saya bisa menyuguhkan orang tua saya minuman hangat setelah perjalanan dari Sragen.


Kamar

Saat saya masuk kamar, teman saya sudah di kamar beserta seorang anak perempuan yang cantik. Kamar yang diberikan panitia dengan model tempat tidur twin bed. Saya melihat keluar jendela. Pemandangan rumah-rumah terhampar di kelilingi oleh pegunungan.

Fasilitas yang ada layaknya fasilitas di hotel bintang tiga lainnya. Selama tiga hari di hotel, saya selalu merepotkan pegawai hotel. Pertama, saya minta dibersihkan sampahnya. Kedua, saya minta irisan bawang merah karena anak saya lagi demam. Untungnya mereka nggak jutek atau malas-malasan.

Restoran

Apa yang unik dari restorannya setelah saya amati di hari kedua di sana adalah atap restoran yang terbuat dari jendela-jendela kuno rumah jawa. Restorannya saja juga instagrammable.





Menu yang disajikan lebih banyak menu-menu Indonesia seperti bubur ayam, soto, sop sayur, gudeg, nasi kuning, bubur sum-sum, bubur kacang hijau, gorengan. Sedangkan menu luar negeri yang saya rasakan seperti tom yum, salad sayur, kue pastry. Makanan yang disajikan cukup beragam walaupun ada beberapa menu yang sama setiap harinya seperti makanan tradisional jawa.

Menurut saya, secara keseluruhan, makanannya yang memakai sambal cukup pedas. Biasanya kalau di hotel, sambalnya nggak pedas. Saya sempat merasakan tom yum nya. Dan ya ampun pedas banget. Mungkin tom yum memang disajikan pedas ya?

Oiya, saya suka sekali dengan butter. Jadi saat saya melihat ada butter di samoing meses saya pun mengoleskan pada roti baguette yang disediakan. Saya sempat sedikit surprise ketika saya mengambil butter dan saya oleskan pada roti baguette-nya. Saya kira bener-bener butter seperti merk elle & vire, eh ternyata butternya adalah margarine, hehe.

Nggak hanya di dalam ruangan, bagi yang suka merokok bisa makan di luar ruangan dekat dengan kolam. Di luar ruangan juga ada bar untuk minuman coffee.



Selain itu, di luar ruangan ada permainan sepak bola yang dilakukan pakai tangan. Apa ya namanya?

Kolam renang

Kolam renangnya juga nggak terlalu luas. Kedalamannya hanya sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter. Warnanya biru membuat saya ingin berenang. Sayangnya, hujan terlalu sering mengguyur Yogyakarta dan waktu yang nggak pas untuk berenang. Kamar mandi kolam renang pun terlihat nyaman dan bersih.


Di dekat lift, ada sebuah kursi dengan beberapa bingkai foto di dinding belakangnya. Saya pun mengambil foto saat saya sudah selesai melaksanakan pelatihan.

Anak demam?

Di hari kedua saya di sana, anak saya demam. Saya kurang tahu sebabnya apa. Yang saya ingat saat hari kedua, saya nggak menemukan kaos kaki anak saya di kamar. Sementara di ruangan meeting cukup dingin. Saat bangun tidur saya merasakan tubuh anak saya panas.

Malam hari, saya pun mencari apotek. Untungnya, apotek ada di depan hotel. Hanya jalan sedikit. Di hotel pun, saya sempat meminta irisan bawang merah sama pegawai hotel. Saya pun mengoleskannya pada seluruh badan anak saya. Demam anak saya naik turun. Bahkan sampai rumah di Sidoarjo, demamnya kadang muncuk kadang nggak. Sempat khawatir tapi alhamdulillah sudah nggak muncul lagi saat hari ketiga.

Akhirnya berakhir juga pelatihan menulis saya di Hotel Tjokro Style. Menginap di hotel di Yogyakarta ini bukan hanya dimanjakan oleh nyamannya kamar hotel tapi juga makanannya dan spot fotonya.

Read More

"Ngapain aja di rumah? Kok gini-gini aja rumahnya?"

Kalimat itu memang terdengar sedikit sarkasme saat suami pulang kerja dan melihat rumah berantakan tak karuan sedangkan makanan yang dimasak nggak menarik.

Kadang saya bingung juga kenapa isi rumah juga nggak beres-beres. Setiap saya bersihkan kotor lagi. Bersihkan lagi. Kotor lagi. Siapa lagi kalau bukan si anak kecil yang ngotorin.

Sampai suatu ketika saat lagi nggak mood, akhirnya saya bilang, "Ya udah pasang cctv aja, biar tahu di rumah ngapain aja." Saya galak ya? Hahaa.

Pernah juga saat bapak datang ke rumah terus komentar, "Ya ampun kotor banget."

Kadang sih kepikiran artikel yang pernah saya baca di media sosial. Alhamdulillah rumah berantakan. Pertanda anak masih sehat. Hehe. Tapi kalau seperti ortu sama suami yang capek habis dari luar ngelihat rumah berantakan pasti rasanya risih.

Saya sih senyum aja. Mau gimana lagi punya anak cowok. Baru diberesin bentar sudah diacak-acak lagi. Apalagi si anak kelihatan bingung kalau kamar bersih. Pasti langsung bongkar-bongkar mainan padahal sih nggak dimainin. Wkwkwk.

Sampai-sampai saya mengajak dia bermain yang membuat dia anteng (diam) sejenak. Nggak cuma bisa membuat dia anteng saja, tapi juga bisa melatih motorik kasar dan halusnya.

Awalnya, saya pikir, toh anak akan belajar sendiri tanpa harus diajari. Ternyata saya salah, masa kritis perkembangan anak justru harus dilatih agar tidak terjadi disfungsi otak minor, kecerdasan kurang dan keterlambatan bicara, termasuk gangguan perkembangan motorik halus dan kasar seperti yang dijelaskan oleh WHO (World Health Organitation) dan Depkes RI (2006).

Serem, ya!

Sebenarnya tiap hari aktivitas anak saya, Raceqy yang akhir tahun ini berusia 3 tahun, juga sudah mengasah motorik kasar dan halusnya, seperti berlari, melompat, atau bahkan mencoret-coret.

Katanya, motorik kasar anak yang sudah biasa dilatih maka akan lebih mudah menstimulasi motorik halusnya. Makanya, anak-anak akan lebih sering melakukan aktivitas motorik kasarnya dibanding motorik halus karena motorik kasar lebih mudah dilakukan dibanding motorik halus.

Aktivitas dengan menggunakan motorik kasar ini dilakukan dengan otot-otot tubuh seperti berlari, melompat, bersepeda, dan lain-lain.

Ternyata melatih motorik anak tak hanya bisa membantu perkembangan otak anak usianya tapi juga bisa menggapai prestasi. Asal kita sebagai orang tua mengarahkan dengan baik. Banyak sekali aktivitas-aktivitas anak yang melatih motoriknya sekaligus sebagai ajang untuk menggali bakat anak.
Di golden age ini saya tidak ingin melewatkan satu golden moment pun untuk melatih motorik kasar dan halus anak.

Perbedaan Motorik Kasar dan Motorik Halus

MOTORIK HALUS

Buah Kesabaran Mengajak Menggambar

Momen yang tak terlupakan bagi saya saat melatih motorik halusnya adalah saat saya mengajaknya menggambar walaupun saya nggak jago gambar. Saya merasa semakin lama anak saya semakin kebingungan dengan aktivitas yang dia jalani. Mungkin mainannya kurang bervariasi kali ya. Hehe.
Saya membuatkan gambar yang mudah seperti ikan, rumah, mobil, sepeda, motor. Maklum nggak bisa yang sulit-sulit. Kebetulan ada spidol warna jadi sekalian saya warnai.

Saya ajarkan dia juga untuk memegang spidol. Pertama memang kesusahan memegang spidol atau pulpen tapi akhirnya dia jadi terbiasa.

Lama-lama kok Raceqy ketagihan yaa. Bukan ketagihan gambar sendiri tapi minta digambarin. Wkwkwk. Iya kalau gambarinnya dua gambar udah, lah ini minta gambarinnya itu-itu aja. Berkali-kali pula.

Untungnya saya masih punya stok sabar jadi saya sabar aja walau kadang capek juga. Saya mau masak, dia minta gambarin dulu. Saya mau sholat, dia minta gambarin dulu.

Sampai-sampai saya googling cara menggambar hewan-hewan dan transportasi. Terus saya ikutin caranya bagaimana, hehe.

Kadang saya nolak karena benar-benar harus masak, bisa kelaperan. Sampai akhirnya, dia mau gambar sendiri walau gambarnya corat-coret nggak jelas. Dia juga mewarnai hasil gambarnya atau gambar saya walau harus keluar dari garis.

Aktivitas begitu aja sudah bikin dia anteng sekali. Emaknya juga senang banget dong karena bisa disambi macam-macam, hehe.

Pencapaian
Sampai suatu ketika, saya sempat kaget. Di rumah mertua ada papan tulis dan spidol. Dia pun menggambar. Mungkin karena saya sering menggambar ikan ditambah dengan matanya jadi dia ngikuti membuat bentuk ikan disertai dengan matanya walaupun gambar ikannya belum sempurna. Hanya saja sudah terlihat bentuk badan dan matanya.

Hasil Melatih Motorik Halus


Dia bilang sendiri, "Bu, ini ikan. Ini mata. Bagus, kan?"

Saya pun kaget, ternyata selama ini dia minta gambar ikan berulang-ulang ternyata terekam di memori otaknya. Kemudian dia pun menirunya. Saya sempat menyesal kenapa saya menolaknya saat dia minta gambarin ikan, mobil dan motor karena saat itu saya bosan dan lelah. Kalau saya telaten menurutinya, mungkin dia sudah bisa gambar mobil dan motor kali ya. Hehe.


Melukis Ikan

Suatu saat, saya mengajaknya melukis ikan di gerabah yang diselenggarakan oleh salah satu toko asesoris. Pihak penyelenggara menyediakan pensil, gerabah berbentuk ikan dan cat minyak. Peserta tinggal mengecat dari fasilitas yang diberikan.

Untuk melukis, saya pun nggak punya bakat. Motivasi saya mengikutsertakan anak saya dalam latihan melukis biar dia punya aktivitas lain yang menarik dan mengasah motorik halusnya.

Dan anak saya adalah peserta termuda. Saya pun tak pernah mengajarkan dia melukis. Makanya saat ibu-ibu lain mengajari anak-anak mereka melukis dengan harapan hasilnya indah, saya malah membiarkan dia melukis sesuka hatinya.

Cat yang sudah saya tuang di palette dengan warna yang berbeda akhirnya tercampur juga gara-gara anak saya ngecat nggak dibersihkan di air dulu. Cat merah tercampur dengan cat kuning. Biru dengan merah. Putih dengan biru.
Hasilnya? Jangan ditanya. Namanya "ikan kelunturan cat". Hehe.

Melatih Motorik Halus Dengan Melukis


Pencapaian
Untuk melukis, memang Raceqy belum menunjukkan pencapaian yang luar biasa. Tapi bagi saya, dia mampu menyelesaikan lukisannya tanpa bantuan orang dewasa adalah pencapaian yang cukup menyenangkan hati saya. Dia sudah menunjukkan kemandirian dan kepercayaan dirinya dengan lukisan yang dia buat. Saya dan suami tentu tak lupa memberikan pujian atas lukisan yang sudah dia selesaikan.


MOTORIK KASAR

Tetap Having Fun dengan Bersepeda

Momen yang tak terlupakan lainnya bagi saya adalah mengajarkan dia bersepeda sampai dia berhasil naik podium walaupun mengajarkan bersepeda juga tidak mudah.

Sejak bayi, suami sudah membelikan anak saya sepeda. Hanya saja sepeda yang dibelikan roda tiga seperti sepeda dalam film kartun Sinchan. Jadi sampai anak usia 2,5 tahun, dia bermain sepeda tua itu.

Awalnya dia kesulitan untuk mengayuh pedalnya. Maklum sepeda tua tapi lama-lama dia terbiasa dengan sendirinya tanpa harus diajarin atau dilatih.
Setelah itu, suami saya membelikan sepeda yang bukan sepeda biasa. Sepeda ini tanpa pedal!

Saya juga sempat kaget, sepeda macam apa ini??

Saya pun tahu kalau sepeda itu bernama balance bike atau push bike.
Anak saya pun belum terbiasa dengan sepeda tanpa pedal itu. Jadi pertama dia takut-takut naik sepeda push bike. Suami tetap mengajari naik sepeda itu dan menenangkan dia untuk tidak perlu takut.

Saat suami kerja, giliran saya yang mengajarinya naik sepeda walau hanya di dalam rumah. Dia memang masih takut-takut. Saya cari cara agar dia nggak takut. Mau tahu apa?

Saya menaiki sepeda kecilnya! Haha. Untung saja saya kurus. Dia melihat saya dengan rasa penasaran tinggi. Lama-lama dia pun memberanikan diri walaupun saya harus membujuknya sampai gregetan. Pernah juga saya bilang, "Ya sudah, saya kasih Pak De saja, ya.”

Langsung saja dia menolak, "Nggak mau.” 

Setelah itu, dia mau deh naik sepedanya, hehe.

Melatih Motorik Kasar dengan Bersepeda

Tak sedikit juga anak saya nangis gara-gara jatuh padahal sepeda balance bike ini harusnya nggak sampai jatuh. Ia jatuh saat dia sedang berbelok di dalam terus nggak seimbang. Pernah juga saat latihan di Rampal ternyata lapangan rumputnya nggak rata dan ada lubang, anak saya pun terjatuh sampai menangis.

Gara-gara sering jatuh, dia sempat mogok naik sepeda. Dia maunya naik sepeda roda tiganya. Waduh! Saya membujukinya terus agar dia mau naik sepedanya. Lah, gimana sudah beli mahal-mahal nggak dipakai. Hehe. Untungnya mogoknya cuma beberapa hari aja. Setelah itu, dia mulai menikmati sepedanya.

Kompetisi pertama

Suatu ketika, ada push bike competition di Gondanglegi, Kabupaten Malang. Sekitar 45 menit dari kota Malang. Suami sangat bersemangat sekali mengajak anak saya ikut lomba itu. Sedangkan saya sendiri nggak terlalu berminat. Toh, anak saya mau bersepeda saja sudah senang. Apalagi biaya pendaftarannya juga tidak murah. Sempat juga saya bilang, "Walah, nanti aja kalau udah sering latihan.”

Tapi suami saya tetap ingin anak saya ikut kompetisi itu. Sedangkan anak saya sih mana tahu kalau dia sedang lomba. Yang dia tahu cuma main sama kakak-kakak dan balapan.

Sampai di tempatnya, suami menuntunnya untuk latihan di sirkuit sederhana. Saya hanya melihat dari tempat penonton.

Balapan pun di mulai. Anak saya yang nggak mengerti tentang dunia kompetisi balap sepeda. Saat lomba dimulai, saya berteriak histeris di pinggir sirkuit. Meneriakkan dan memberinya semangat untuk bisa melaju.

Pencapaian
Tak disangka, ternyata anak saya bisa menjadi juara 2. Alhamdulillah.
Sedangkan Raceqy, dia senang sekali bisa naik podium walaupun dia belum tahu makna kemenangan dan podium. Tapi melihat dia mau bermain bersama teman-teman yang belum dia kenal adalah sebuah pencapaian dalam menunjukkan keberaniannya.



Dia mampu menyelesaikan kompetisi sampai selesai dengan mood yang bagus adalah sebuah pencapaian dalam pengendalian emosinya.
Dia mampu menuruti apa yang menjadi aturan dalam kompetisi adalah sebuah pencapaiannya menunjukkan bentuk kerja samanya.

Melatih kemampuan motorik kasar memang menghabiskan energi. Apalagi saat kompetisi, anak saya cuma mau makan sedikit. Sedih sih tapi sudah sering begitu. Susah makan. Alhasil, saya selalu memberi apapun yang dia suka yang penting ada yang masuk ke perut. Waktu itu saat saya beli degan dia minta es campur. Baiklah saya turuti.

Waktu selesai melukis ikan, saya dan suami cari makan siang. Anak saya hanya mau makan sedikit. Maunya cemilan, kue atau snack.

Pentingnya Kemampuan Oromotorik

Ternyata, saya baru tahu kalau salah satu penyebab anak picky eater (memilih makanan) adalah stimulasi oromotor yang kurang. Menurut detik.com, oromotor atau oral motorik artinya sistem gerak otot yang mencakup area rongga mulut, termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi.

Menurut dr. Damayanti pada detik.com, stimulasi oromotor berfungsi untuk mendukung kemampuan makan anak dan berbicara pada anak. Tak hanya picky eater, gangguan oromotor bisa dilihat dari kemampuan anak untuk makan yang sering tersedak, kesulitan menghisap air dari sedotan, sulit beralih ke tekstur makanan yang sesuai perkembangannya. Kalau sudah ada tanda begini maka lebih baik segera berkonsultasi pada dokter.



Suatu ketika saya dapat informasi di internet, kalau kukis Monde Boromon adalah kukis yang bisa melatih motorik anak yang ada di lidah dan mulut bayi.

Membantu melatih motorik

Kukis Monde Boromon  sudah menjawab masalah oromotor ini pada anak bayi.  Kukis ini punya tekstur yang lembut sehingga mudah meleleh saat kena air liur di mulut dan pastinya mudah dicerna. Dengan mengkonsumsi ini, maka akan melatih motorik yang ada pada lidah dan mulut bayi sehingga akan membantu bayi mengeksplorasi rasa, bentuk, tekstur dan kemampuan untuk makan.

Gluten free

Gluten adalah kandungan yang ada dalam tepung terigu. Tahu sendiri kan biasanya untuk membuat kukis itu pakai tepung terigu. Sedangkan kukis Monde Boromon ini bebas gluten (gluten-free).

Kenapa harus bebas gluten? Di beberapa anak yang mengalami alergi gluten, orang tua tidak memberikan makanan yang mengandung gluten, seperti makanan dari gandum, tepung, oat, cracker, biskuit, pasta, roti, kue, kukis, karena mengalami masalah pada usus halusnya.

Kandungan Bergizi Kukis Monde Boromon 

Kukis Monde Boromon ini terbuat dari sari pati kentang, gula dan telor dengan tambahan madu. Tepung yang digunakan pun bukan tepung terigu yang mengandung gluten tapi tepung kentang yang mengandung karbohidrat tinggi selain nasi. Adanya DHA pada kukis ini sangat bagus untuk perkembangan otak anak.



Kelebihan kukis Monde Boromon untuk melatih oromotorik ini memang bagus untuk perkembangan bayi. Karena terkadang, picky eater itu membuat emak-emak macam saya ini mudah emosi.

Nah, udah pasti ya kita sebagai orang tua nggak hanya melatih motorik kasar dan halus anak saja tapi juga oral motorik (oromotor) anak. Melatih tiga kemampuan ini akan memudahkan anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pencapaian-pencapaian luar biasa yang ditunjukkan anak kita jangan sampai kita lewatkan. Lelah yang kita rasa pastinya segera sirna melihat pencapaian yang mereka tunjukkan.

Ada yang juga punya pengalaman seru saat menemani anak menstimulasi motorik mereka?




Sumber :
http://www.parenting.co.id/bayi/-bayi-sulit-makan-akibat-gangguan-fungsi-oromotor
https://m.detik.com/health/ibu-dan-anak/d-1647039/melatih-oral-motor-anak-agar-bisa-makan-dengan-benar
Read More
Setelah puas naik kereta wisata di Museum Kereta Ambarawa, kami pun pulang. Karena hari sudah menjelang tengah hari, saya dan keluarga memutuskan mencari makan siang. Suami penasaran dengan Wisata Apung Kampung Rawa yang tak jauh dari Museum Kereta Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Resto Apung Kampoeng Rawa ini berada di pinggir Rawa Pening, Kabupaten Semarang. Salah satu wisata kuliner di Ambarawa ini dibuat dan dikelola oleh 12 paguyuban petani nelayan di danau Rawa Pening. Memang saat saya naik kereta wisata dan melewati Rawa Pening, saya melihat banyak sekali keramba-keramba di pinggir danau.

Ketika saya tiba di depan gapura bertuliskan Wisata Apung Kampoeng Rawa Ambarawa terdapat bis yang sedang berhenti. Rupanya mereka sedang menunggu rombongan.


Setelah itu, saya melewati sebuah loket dan saya harus membayar tiket. Saya sempat kaget juga, untuk makan saja saya harus mengeluarkan tiket. Biaya masuk ke lokasi Wisata Apung Kampoeng Rawa adalah Rp. 15.000,- untuk mobil sedangkan untuk bis sebesar 20.000 rupiah. Dan ternyata, wisata kuliner di Ambarawa ini bukan hanya wisata kuliner biasa tapi juga terintegrasi dengan wisata alam juga wisata buatan.

Saya pun tiba si tempat parkir mobil cukup luas. Beberapa bagian yang terdapat pepohonan sudah terisi penuh. Jadi kami dapat bagian yang sangat terik matahari. Mungkin karena weekend dan kami berangkat sudah siang jadi kami nggak dapat tempat parkir yang teduh.

Toko Oleh-oleh

Di dekat tempat parkir terdapat beberapa warung yang menjual oleh-oleh dan berbagai produk makanan. Ada juga rumah khusus yang menjual oleh-oleh khas Semarang dan Ambarawa

Pendopo Joglo

Ada pendopo berbentuk joglo dekat tempat parkir.  Siapapun bisa menggunakan pendopo joglo itu. Bisa juga kali ya untuk melaksanakan resepsi pernikahan.


Pemancingan Ikan

Di wisata ini ada juga resto yang menyediakan pemancingan ikan bagi yang suka memancing. Awalnya suami mengajak untuk memancing ikan tapi saya nggak mau. Bayangkan saja masa saya harus menunggu mancing dulu. Perut mah sudah keroncongan.

Wahana permainan

Sebelum pintu masuk, ada wahaan permainan sederhana seperti trampolin, mandi bola, dan kereta-keretaan. Harganya Rp. 10.000,- sepuasnya.




Anak saya sudah mupeng duluan. Saya mengatakan harus makan dulu baru main. Untungnya dia mau dibujuk walaupun cukup lama. Nggak cuma itu aja, tapi ada juga bebek air yang ada di depan restoran.


Perahu masuk ke Resto

Yang unik adalah untuk masuk ke resto, saya harus naik perahu yang ditarik tali. Si bapak menarik tali dengan pelan. Kami melewati kolam yang banyak sekali ikan-ikan yang siap diolah dan dikonsumsi. Sebenarnya ada satu jalan untuk masuk ke restonya dan berada di pinggir restoran tapi saya nggak tahu. Baru tahunya pas sudah duduk di gazebonya. Hehe.





Menunggu-nunggu Pelayan

Begitu turun dari perahu/getek, saya merasakan resto apung yang bergerak mengikuti ombak air Rawa Pening. Saya pun mencari tempat duduk. Di resto apung ini kita bisa memilih temoat lesehan atau yang menggunakan kursi. Saya mencari tempat lesehan karena bisa selonjoran. Maklum perjalanan jauh rasanya ingin selonjoran saja. Sayang, karena saat weekend disana ramai sekali jadilah kami dapat gazebo di bagian depan bukan di bagian belakang yang dekat sawah dengan pemandangan gunung Sumbing, Sindoro, Telomoyo, Ungaran, dan Merbabu.



Seorang petugas sibuk sekali berlalu lalang melayani pengunjung. Kami dilewati begitu saja. Saya sempat deg-degan jangan-jangan karena sedikit jadi dilayani belakangan. Cukup lama menurutku sampai kami bisa memegang menu makanan yang beragam.

Menu-menu makanan

Makanan yang disuguhkan nggak cuma ikan-ikanan saja, seperti : gurame, mujair, lele, nila, tapi juga ada ayam, udamg, sop, oseng/cah. Minumannya juga ada degan, jus buah, es Kampoeng Rawa, es lidah buaya, es kacang manado, dan lainnya. Karena kami berada di warung apung jadinya kami memesan ikan bakar dan minuman saja. Si Raceqy terlihat seperti nggak mood makan jadi saya pesankan french fries saja. Di Restoran Kampoeng Rawa ini disediakan menu untuk anak-anak (Kids menu). Ada juga paket hemat dari harga Rp. 34.000-Rp. 54.000,-. Isinya juga lengkap dari Nila/Ayam/Bebek, nasi, sambel, sayur lalapan, tahu tempe dan minuman. Karena Restoran Kampoeng Rawa juga menyediakan tempat untuk meeting atau acara jadi menyediakan paket prasmanan dengan menu berbeda-beda tiap paket.
Menu lebih lengkapnya coba klik link ini ya.

Harga

Menurut saya harganya nggak murah tapi juga nggak terlalu mahal dan sesuai dengan yang disajikan. Misalnya ikan gurame bakar seharga 12ribu per ons (rata2 1 ekor sampai 4 ons) bisa untuk dua orang. Untuk selera saya sih rasa manis dan gurihnya udah cukup.

Spot Foto

Yang pasti, di Wisata Apung Kampoeng Rawa banyak sekali tempat foto yang cocok untuk berselfie atau wefie ria, seperti gazebo dengan pemandangan sawah dan gunung, di atas perahu, ataupun gazebo tengah kolam yang ada kursinya dan di belakangnya bertuliskan "Kampung Rawa".



Akhirnya selesai juga wisata kuliner saya di tengah danau Rawa Pening di Ambarawa. Wisata Apung Kampoeng Rawa memang wajib dicoba bagi siapapun yang merencanakan liburan di Ambarawa atau Semarang.
Read More
Setelah sebelumnya mengunjungi Taman Harmoni dan Hutan Bambu yang ada di Sukolilo, Surabaya. Weekend ini kami mencoba mengunjungi Taman Flora di Surabaya. Tujuan awal sih untuk mengajak anak main sepeda di sana. Tapi pas mencari parkiran, kondisi ramai sekali dengan anak-anak sekolah yang sedang ada acara. Mereka berpakaian dan berdandan aneh-aneh.

Dari jauh sudah terdengar suara musik drumband dengan suara yel-yel anak-anak sekolah.

Kami melewati pujasera di luar taman. Suasana warung masih cukup sepi dari pengunjung. Aku belum sempat lihat menu-menunya karena lagi fokus melihat jalan yang sangat ramai dengan orang.

Di pintu gerbang taman banyak sekali penjual yang menjual makanan untuk kita juga makanan untuk rusa. Suasana panas Surabaya membuat penjual es teh paling laris.

Aku banyak berpapasan dengan anak SD yang memakai pakaian daur ulang. Ternyata mereka sedang mengikuti lomba yel-yel lingkungan hidup.

Banyak dari mereka yang lesehan sambil makan siang di bawah pohon-pohon taman. Terlihat wajah mereka yang kelelahan. Aku berhenti sejenak melihat yel-yel mereka. Mereka benar-benar kreatif. Aku membayangkan yang repot begini pasti ibu dan guru-gurunya, hehe.

Aku melihat seorang petugas sedang menyiram tanaman. Wah, kebayang berapa jumlah air yang habis untuk menyiram satu taman Flora yang luas itu.

Taman Flora ini dulunya bernama Kebun Bibit Bratang dengan luas 2,4 hektar. Taman ini menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang murah di Kota Surabaya. Taman ini tidak dipungut biaya.



Dengan lokasi di tengah kota dan parkir yang tersedia di ruko-ruko depan taman membuat taman ini mudsh diakses. Taman Flora ini berada di Jalan Manyar No.80, Gubeng, Surabaya.

Aneka Tanaman

Di Taman Flora ini banyak tanaman berjenis tanaman pelindung, perdu, tanaman langka, dan palem. Tanaman-tanaman yang besar dan tinggi diberi papan nama kecil bertuliskan jenis tanaman dan bahasa latinnya. Disini kita bisa mengenal jenis tanaman yang sering kita lihat tapi nggak tahu namanya. Nggak perlu khawatir kepanasan karena pohon yang besar membuat pengunjungnya teduh. Makanya beberapa mahasiswa duduk-duduk di bawahnya dengan menggelar tikar.


 Playground

Setelah selesai melihat beberapa pertunjukan, aku dan keluarga keliling-keliling taman. Suasana teduh. Di beberapa titik banyak playground. Sayangnya playgroundnya beralaskan pasir jadi pertama-tama anakku kurang nyaman tapi lama-lama dia mau juga bergabung dengan teman-teman yang lain. Kayaknya setelah dibujuk ayahnya, hehe.


Ruang Menyusui

Eh ternyata ada ruang menyusui di dalam kantor pengelola tamannya cuma belum lihat fasilitas di dalamnya ada apa aja.

Mini Outbond

Anak juga bisa berpetualang di mini outbond yang melatih keseimbangan, otot dan kebernaian anak. Ada panjat tebing yang dibuat untuk anak-anak. Ukurannya mungkin sekitar 2 meter. Beberapa anak sekolah juga ada yang sedang latihan pramuka. Selain itu ada permainan berdiri di atas satu tali dengan berpegangan pada tali lainnya. Latihan itu untuk melatih keseimbangan dan otot tangan.


Taman Fauna

Walaupun namanya Taman Flora tapi di taman ini juga ada Taman Fauna dengan satwa burung dan rusa. Kita bisa ngasih makan ke rusa-rusa itu. Kebun Rusa ini ada di pinggir jalan dekat lampu merah. Kebayang bagi pengendara yang berhenti di lampu merah mencium bau-bau rusa. Haha. Rusa-rusa selalu mendekat setiap ada pengunjung yang datang mendekati mereka. Rusa-rusa itu tampak lapar. Beberapa pengunjung terlihat memberi makan mereka.


Perpustakaan

Aku cukup kaget karena Taman Flora ini ada perpustakaannya. Bentuk bangunannya semi terbuka. Jadi dindingnya bertembok tapi tanpa jendela hanya temboknya separuh. Hal ini membuat angin bisa masuk ke dalam perpustakaan sehingga kita akan merasa teduh dan nggak kepanasan. Di beberapa bagian tergantung foto-foto para pejuang kemerdekaan dan foto Tempo Doeloe (kutebak mungkin para pejuang dari Surabaya dan foto Surabaya Tempo Doeloe).


Broadband Learning Center

Aku penasaran dengan ruang digitalnya tapi sayang ruangannya dikunci jadi nggak bisa lihat isinya. Kalau dari judulnya sih tempat pembelajaran teknologi informasi. Kuduga di dalam banyak komputer dengan jaringan internet sehingga anak-anak bisa belajar teknologi informasi.


Rumah Kompos

Pemerintah Kota Surabaya memang sedang menggalakkan program yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan pengembangan rumah kompos. Di beberapa titik juga ada bak sampah untuk diolah jadi kompos.


Musholla

Karena waktu itu bekum masuk waktu dzuhur, jadi aku nggak sempat merasakan sholat di Musholla. Kulihat seseorang petugas sedang membersihkan musholla sebelum digunakan.

Toilet

Namanya juga fasilitas umum, di Taman Flora ini disediakan toilet. Tapi toiletnya cukup sederhana. Untung aku dan anakku belum kebelet pipis.

Air mancur

Keunggulan lainnya yang bisa menarik perhatian anak-anak adalah adanya air mancur di tengah-tengah taman.

Taman ini menjadi sangat penting bagi kepentingan ekologis kita karena tumbuhan yang ada di dalamnya merupakan penyumbang oksigen bagi penghuni kota. Tak hanya berfungsi ekologis, Taman Flora juga dapat berfungsi sebagai wadah untuk mengedukasi dan memberi hiburan pada anak dengan harga yang ramah di kantong alias murah. Maka, Taman Flora bisa menjadi pilihan keluarga untuk membawa anak-anak saat liburan.
Read More
Bulan Oktober, saya dapat kesempatan untuk ikut pertemuan Gerakan Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa kemdikbud. Pada pertemuan tersebut membahas perbaikan-perbaikan naskah buku yang lolos seleksi.

Pertemuan tersebut diselenggarakan di salah satu hotel di Jakarta. Hotel di Jakarta Utara bernama Hotel Ibis Style Sunter. Hotel Ibis memang banyak tersebar di beberapa negara. Yang saya tahu selain Ibis Style adalah Ibis Budget sengan harga yang sesuai dengan budget kita.

Lokasi

Hotel Ibis Style Sunter ini berlokasi di daerah Sunter di Jalan Gaya Motor di Jakarta Utara. Jika dibandingkan dengan dua bandara di Jakarta, hotel ini lebih dekat ke Bandara Halim Perdana Kusuma ketimbang Bandara Soekarnohatta. Itu kalau lihat di petanya.

Sesampainya di Lobby hotel, saya pun registrasi ke panitia. Setelah itu, saya bertanya tentang kamar saya. Ternyata saya belum dapat kamar, padahal badan sudah legrek semua. Sepertinya kamarnya memang lagi dibersihkan.
Akhirnya saya ke ruang aula untuk makan siang yang sudah di sediakan. Uniknya, untuk ke aulanya tidak menyatu dengan bangunan kamar hotelnya. Aula dan tempat menginap berada di gedung yang berbeda.

Kolam renang

Kolam renang Hotel Ibis Style Sunter berada di lantai atas dan berada di dalam ruangan (indoor). Kedalaman kolam renang sekitar 1,5 meter untuk dewasa dan 0,5 meter untuk anak-anak. Kolam renang anak bersebelahan dengan playground dan terdapat perosotan yang mengarah ke kolam renang dan playground.


Playground 

Saya sempat kaget juga ternyata di hotel ini ada fasilitas playground di dekat kolam renang anak. Dan lokasinya dekat dengan Hall tempat pertemuan berlangsung. Playgroundnya nggak banyak. Ada perosotan yang mengarah ke kolam renang dan ke arah playground. Selain itu, ada mainan kuda-kuda sebanyak dua buah.

Di playground ini berada di luar ruangan sehingga nggak menggunakan AC. Jadi suasana di playground cukup panas. Tapi menurut saya penyediaan fasilitas playground di Hotel Ibis Style Sunter ini menunjukkan bahwa hotelnya cukup ramah anak.

Mungkinkah bawa stroller?

Sayangnya, untuk menuju ke aulanya harus melewati tangga cukup tinggi. Jadi, saya nggak bisa bawa stroller ke aulanya padahal stroller cukup membantu agar saya nggak perku gendong bayi.

Play room

Tak hanya playground, hotel ini juga menyediakan ruang khusus anak yang dekat dengan lobby. Dindingnya di cat bergambar kartun. Di dalam ruangan itu ada kursi dan meja berwarna-warni. Bantal untuk bersandar. Sayangnya, saya nggak ingat jenis mainan apa yang ada di sana walaupun nggak banyak sih.

Akses Lift

Setelah saya selesai makan yang disesiakan oleh catering panitia, saya pun pergi ke kamar. Untungnya Allah beri saya kekuatan untuk membawa 1 ransel, 1 tas jalan dan bayi digendong di depan.

Akses lift ini menggunakan kartu yang sama untuk membuka pintu kamar. Untungnya, sama pegawai hotel, lift sebelah kirinya di loss kan jadi siapa aja bisa naik turun dengan lift. Mungkin karena hari itu ada dua instansi yang mengadakan acara.

Saya lupa minta kartu kamar ke resepsionis karena kata panitia sudah ada teman sekamar saya yang datang.

Desain kamar yang unik

Saya turun di lantai enam. Saat masuk kamar dengan mengetuk pintu, saya kaget karena biasanya panitia menyediakan twin bed buat peserta dalam satu kamar. Ternyata cuma queen size. Karena saya bawa bayi 9 bulan jadi saya merasa sedikit nggak enak hati kepada teman sekamar saya. Khawatirnya mengganggu. Apalagi khawatirnya dia jadi kurang nyaman karena harus ndusel2 sama bayi saya.

Alhasil, saya harus meminta maaf dulu karena saya bawa bayi hehe. Ternyata dia pun kaget karena biasanya panitia menyediakan twin bed. Ehm. Pernah juga sih satu kali waktu pertemuan tahun lalu kasurnya juga queen size hanya saja saya tidur sama anak saya, nggak ada teman sekamar yang lain, jadi terkesan luas hehe.

Satu hal dari desain kamarnya yang sempat buat kaget adalah pintu lemari yang bisa digunakan sekaligus untuk menutup kamar mandi. Jadi kalau lemari itu ditutup maka kamar mandi terbuka. Tapi kalau pintu lemari digeser alias dibuka maka kamar mandi jadi ketutup. Pintu lemarinya bisa buat kaca satu badan penuh.

Breakfast

Selama dua kali sarapan di hotel, saya rasa makanannya hampir sama. Sepertinya hampir semua hotel seperti itu ya? Menu yang dihidangkan saat sarapan seperti sayur capcay, mie, sosis, ayam kecap, bubur ayam, bubur sumsum, roti-rotian, salad sayur, salad buah, aneka makanan jawa yang ditaruh di atas gerabah. Dan beberapa menu lain yang saya lupa menunya.

Saat makan siang memang menunya lebih sedikit. Hanya saja menunya juga hampir sama. Saya juga kurang tahu apakah makan siang disediakan dari hotel apa nggak? Karena kalau saya lihat menunya hampir sama.
Biasanya kalau acara di hotel, saat sarapan setiap tamu hotel diabsen sesuai nomor kamar. Tapi pas saya di Ibis Style saya nggak diabsen jadi siapa aja bisa masuk.

Restoran di Ibis Style Sunter (dok. Pribadi)

Wifi

Penggunaan wifi berpassword di ruang aula saat acara berlangsung memang cukup membantu untuk mendukung berjalannya acara. Mungkin karena dipakai orang banyak jadi terkadang jaringannya sibuk dan susah konek. Sedangkan saat di kamar, sambungan internet wifi cukup lancar.

Balkon

Saya dapat kamar dengan balkon semi tertutup. Pemandangan gedung-gedung tampak dimana-mana maklum lah namanya juga kota besar. Saya jarang sekali duduk-duduk di balkon. Ketika saya membuka pintu balkon dan duduk di sana justru bukan udara segar yang saya dapat tapi udara Jakarta yang sudah banyak polusi. Belum lagi hawanya panas. Yasudahlah. Saya tutup kembali balkonnya.
Sedangkan fasilitas lain sama seperti hotel berbintang lainnya seperti teh, kopi, gula, dan pemanas air.


Kamar mandi

Karena kamarnya minimalis dan modern maka kamar mandinya menggunakan shower yang ditutup oleh kaca bening. Butuh waktu pula untuk menggunakan air panas baik di showernya ataupun di wastafelnya.

Kaca kamar mandi yang bisa tembus ke tempat tidur (dokumen pribadia)

Anak mengompol?

Saya punya pengalaman saat bermalam di sana, ompol anak saya sempat tembus padahal sudah pakai popok. Jadinya, besoknya saya minta ke resepsionis untuk mengganti seprei. Tak lama, seorang petugas datang membawa beberapa lapisan seprei di tangannya. Dia begitu sigap mengganti sepreinya. Dia juga cerita kalau tembus ompol masih nggak apa-apa tapi kalau darah mens itu harganya hampir (separuh-kalo nggak salah) dari harga kamar. Untung saja.

Hari Jumat pun tiba, saya mulai berkemas-kemas sebelum acara dimulai. Biar nanti saat acara selesai saya bisa check out sebelum jam 12 siang. Menunggu Pak Menteri takmkunjung tiba, saya sempat khawatir karena saya ada janji ke Kemristek untuk ambil SK. Untungnya, saya bisa pamit duluan. Ada rasa sedih bercampur senang saya meninggalkan  acara lebih dulu. Sedih karena saya belum tahu tahun depan apakah masih bisa berkumpul dengan penulis-penulis lainnya. Senang karena akhirnya acara dan tanggungan saya selesai. Saatnya bertemu anak yang saya titipkan ke Mbahnya di Sragen, hehe.


Read More

Follower