Satu jam lagi, jadwal kereta saya akan berangkat. Saya kemudian meminta mengantsr saya dan anak-anak ke staisiun Wonokromo, stasiun yang dekat dengan rumah. Saya dan anak-anak memang berencana akan menginap di rumah mbahnya di Sragen. 
Peron di Stasiun Sragen setelah diberi Kanopi dan ditinggikan (Sumber Google Map Brian Images)

Awalnya, saya sempat bimbang mengenai pilihan moda transportasi massal untuk pergi ke rumah mbahnya. Dulu, saya termasuk orang yang suka bepergian dengan transportasi massal, seperti bis dan kereta. Saya lebih suka naik bis karena jadwalnya dari Surabaya-Solo selalu tersedia setiap saat. Tentunya harganya murah. 

Akhirnya, saya memilih menggunakan kereta api Indonesia karena menurut saya sekarang kereta api Indonesia sudah lebih baik dari segi keselamatan, keamanan dan kenyamanannya. Apalagi saya membawa dua anak saya.

Semenjak perusahaan perkeretaapian Indonesia melakukan "perbaikan diri"-nya, naik kereta api menjadi semakin nyaman dan aman. Selama lima tahun ini (2014-2019), kinerja transportasi kereta api Indonesia menjadi lebih baik. 

Pencapaian Pembangunan Perkeretaapian (Sumber : Kemenhub)

Capaian pembangunan sarana dan prasana perkeretaapian Indonesia begitu terlihat ketika saya melakukan perjalanan dari Surabaya ke Sragen dengan kereta. Capaian-capaian yang dilakukan Kementerian Perhubungan yaitu :

MEMODERNISASI STASIUN

Sepanjang mata saya memandang jendela kereta di saat kereta berhenti di stasiun-stasiun, saya melihat stasiun-stasiun sekarang sudah dimodernisasi bangunan dan juga sistemnya.
Selain memudahkan tentu memodernisasi stasiun ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan menggunakan transportasi massal. Sehingga harapannya masyarakat terus memilih moda transportasi yang murah dan tidak terkena macet ini.

Stasiun Sragen setelah dimodernisasi (Sumber Google Map Fery Kustiawan)

PEMBANGUNAN STASIUN ATAU BANGUNAN OPERASIONAL KA

Beberapa stasiun saya lihat sedang dibangun juga direnovasi. Beberapa bangunan stasiun saya lihat sudah bagus. 

Saya pun kepo ingin tahu tentanng pembangunan stasiun ini. Menurut Kementerian Perhubungan dalam majalah Transmedia, stasiun yang dibangun ada sebanyak 45 stasiun. Stasiun yang dibangun adalah 

- stasiun Double-double track (DDT) di Kranji, Klender, Klender Baru, Cakung, dan Buaran Baru
- stasiun elektrifikasi (KRL) di Cibitung dan Bekasi Timur

PEMBANGUNAN JALUR GANDA DAN REAKTIVASI

Kementerian Perhubungan juga membangun Double Track (DT) dan Double Double Track (DDT). Saya lihat beberapa petugas sedang memperbaiki jalur ganda di beberapa titik antara Jombang-Madiun-Kedungbanteng-Sragen. Seluruh Indonesia jalur ganda ini membentang sepanjang 735 km.
Setelah saya searching di google, ternyata jalur ganda ini tidak hanya itu saja tapi juga :
- Jalur ganda kereta bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat
- Jalur ganda kereta Maja - Rangkasbitung, Banten
- Jalur ganda kereta Martapura - Baturaja, Sumatera Selatan
- Jalur ganda kereta bandara Soekarno Hatta, Banten
- Jalur ganda kereta Prabumulih - Kertapati, Sumatera Selatan
- Jalur ganda kereta Purwokerto - Kroya
- Jalur ganda kereta Kutoarjo - Gombong
- Jalur ganda kereta Gombong - Kroya
- Jalur ganda kereta Bogor - Sukabumi
Sedangkan untuk Double-Double Track (DDT) dibangun pada jalur Manggarai - Cikarang dengan total 38 km. 

Pengembangan Jalur Kereta Api (Sumber : Kemenhub)

PENINGKATAN REGULASI PERKERETAAPIAN

Selama lima tahun, Kementerian Perhubungan telah membuat regulasi perkeretaapian untuk meningkatkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan kinerja perkeretaapian. Sejak tahun 2014 hingga 2019, ada enam peraturan menteri perhubungan terkait perkeretaapian yang telah disahkan.

Keselamatan, Keamanan dan Kenyamanan Perkeretaapian

Salah satu regulasi yang hsrus dipenuhi oleh perusahaan perkeretaapian adalah standar pelayanan minimum (SPM) yang memberi keselamatan, keamanan dan keselamatan penumpangnya. SPM ini digunakan sebagai acuan penyelenggara dalam mengoperasikan perkeretaapian. Dengan SPM inilah kita merasakan hasilnya yang bisa kita lihat dan rasakan kenyamanannya sekarang, seperti :
- Ketersediaan parkir. Memang sebagian besar stasiun sudah memiliki tempat parkir mobil dan motor. Bedanya sekarang sudah ada palang otomatis saat masuk dan keluar tempat parkir. Jadi pembayaran karcis parkir otomatis langsung tercatat di sistem. Tidak ada lagi pungutan liat parkir kendaraan. 

- Media Informasi. Di stasiun, informasi ini bisa berupa papan informasi maupun audio informasi. Saat saya tiba di stasiun Wonokromo, saya melihat papan informasi yang memberikan keterangan informasi kereta api yang akan berangkat dan jam keberangkatan di dekat pintu masuk. Di atas petugas boarding juga ada jam dinding tertempel agar penumpang tidak perlu lihat hape jika ingin melihat jam. 
 
Audio informasi pun jelas disampaikan beberapa menit sebelum kereta berangkat sehingga penumpang bisa mempersiapkan diri. Ini penting sekali buat saya yang membawa balita dan barang-barang. Karena mengkondisikan anak cukup memakan waktu. Jadi, audio informasi sangat penting sebelum kereta tiba.

- Fasilitas layanan penumpang. Fasilitas ini bertujuan untuk memberikan informasi perjalanan kereta api dan layanan menerima pengaduan. Untuk fasilitas ini hanya tersedia di stasiun besar dan tidak tersedia di stasiun sedang dan kecil. Biasanya di stasiun besar disediakan satu meja khusus dengan  orang petugas yang bisa memberikan informasi tentsng perjalanan kereta dan menerima pengaduan. 

Cuma kalau di stasiun sedang dan kecil jika kita ingin mendapat informasi, kita bisa bertanya pada petugas loket untuk informasi perjalanan kereta api. Atau malah ingin mengadu? Coba bicarakan dengan petugasnya saja.

- Loket. Satu lagi yang membuat perjalanan kereta sekarang lebih menyenangkan adalah dalam hal pemesanan tiket kereta api. Akibat berkembangnya teknologi, kita bisa memesan tiket melalui online seperti aplikasi KAI access atau jasa-jasa penyedia tiket kereta online. Pembayaran pun bisa melalui M banking, internet banking, kredit, debet, maupun ATM. 

Nah setelah kita mendapat tiket, baru deh dicetak dimesin boarding. Tinggal scan barcode atau ketik kode booking di komputer, keluar deh tiket kereta api yang berbentuk lembaran berwarna oranye itu.
Tapi, kalau tidak ingin kena charge saat pesan online, kita bisa pesan tiket melalui loket KAI langsung. Sistemnya sudah terintegrasi. Kita perlu mencatat di lembar pembelian tiket, kemudian petugas yang akan meng-input data kita sengan menunjukkan KTP. Jadi tidak ada lagi jasa-jasa calo penjual tiket. Dan pelayanan ini harus maksimal 180 menit. Memang harus cepat. Hanya kadang antrinya saja yang banyak.

Kita juga bisa pilih tempat duduk saat membeli. Kalau saya lebih suka duduk agak ke tengah dan gerbong nomor 3, 4, atau 5 karena gerbongnya berhenti pas di tengah stasiun. Saya tidak perlu jauh jalan ke ujung peron.

Betapa nyamannya kan kereta api sekarang!

- Ruang tunggu. Sekarang sudah banyak sekali stasiun kereta yang direnovasi atau dibangun kembali. Tidak terlihat suram dan menyeramkan. Kita akan merasa nyaman begitu masuk ke stasiunnya. Ruang tunggu disediakan sebelum masuk check-in. Dan di sini merupakan batas pengantar penumpang diizinkan. Tempat duduk di ruang tunggu stasiun pun sudah nyaman. Tak perlu risau membawa anak, lansia, naik kereta, deh!

Ruang Tunggu Stasiun Sragen yang sudah dimodernisasi (Sumber Google Map)

- Musholla dan ruang menyusui. Setiap stasiun sekarang sudah punya musholla yang nyaman meski kecil. Di stasiun kecil tidak ada ruangan ini hanya di stasiun besar dan sedang. Meskipun saya menyusui, saya belum pernah nyoba masuk ke ruang menyusui.

- Toilet. Di tempat umum BIASANYA saya kurang sreg dengan toilet, entah baunya, kamar mandinya yang kotor, maupun airnya yang kurang bersih. Tapi, saya tidak merasakan itu di stasiun yang pernah daya kunjungi (Waru, Wonokromo, Sragen, Gubeng). Toiletnya sudah modern (ada kloset jongkok juga duduk), bersih, dan tidak bau pesing. Selain itu, toiletnya GRATIS!

Toilet Stasiun Wonokromo (Sumbe Google Map Edo Novanto)

- Ruang boarding Ruang ini hanya boleh dimasuki oleh penumpang yang sudah memvalidasi kartu identitasnya. Saya melihat ada tempat duduk prioritas yang dekat dengan pintu boarding untuk ibu hamil, balita, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Pemeriksaan tiket di Stasiun Sragen yang sudah dimodernisasi (Sumber Google Map Rokhmad Astika)


- Fasilitas kemudahan naik/turun penumpang. Sebenarnya ini menjadi salah satu kekhawatiran saya saat menaiki kereta. Dulu, waktu saya berangkat sama anak saya pertama, di stasiun kecil masih belum tinggi peronnya. Otomatis saya haru manjat. Syukur-syukur ada tangga untuk naik. Kadang saya turun dari kereta pun tidak ada tangga, otomatis saya harus loncat dengan bawa anak bayi di gendongan depan dan tas ransel di belakang. Ah! Nggak nyaman pokoknya. Namun, sekarang peron sudah tinggi sehingga lantsi kereta dan peron sama tingginya jadi tinggal melangkah saja saya sudah masuk gerbong kereta. Tidak perlu manjat dan loncat. Makanya saya tidak perlu khawatir lagi bawa dua anak balita saya naik kereta.
Pintu keluar stasiun (Sumber Google Map)

Tinggi Peron memudahkan penumpang naik kereta (Sumber Google Map Edo Novanto)

Tapi bagi stasiun yang tinggi peronnya dibawah lantai kereta, stasiun memang harusnya menyediakan bancik atau peron tidak permanen. Tujuannya agar memudahkan penumpang yang masuk ke kereta.

- Fasilitas keselamatan dan keamanan. Untuk keselamatan, di dalam stasiun besar, kecil dan sedang disediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), petunjuk jalur evakuasi, titik kumpul evakuasi, dan informasi nomor telepon darurat. Sedangkan untuk keamanan setiap stasiun paling tidak menyediakan informasi nomor telepon darurat dan petugas pengamanan sedangkan kamera CCTV hanya ada di stasiun sedang dan besar.

- Fasilitas penyandang disabilitas. Menggunakan kereta juga nyaman untuk penyandang disabilitas maupun yang menggunakan kereta dorong karen ada ramp dengan kemiringan 20° dan akses jalan penyambung antar peron. Sedangkan lift atau eskalator disediakan untuk stasiun yang jumlah lantainya bertingkat.

Stasiun Wonokromo (Sumber Google Map)

- Fasilitas kesehatan. Setiap stasiun harus memiliki P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan), tandu dan kursi roda. 

- Dalam perjalanan. Saya senang sekarang menggunakan kereta antar kota karena tidak ada lagi penumpang-penumpang berdiri pada kereta jarak jauh. Saya tidak perlu berdesak-desakan dengan mereka di kereta. Saya tidak kesulitan lagi pergi ke kamar mandi karena harus melewati penumpang berdiri. Apalagi saya membawa anak maka kenyamanan itu menjadi prioritas. Di setiap gerbong kereta juga sudah disediakan kursi prioritas yang berhak ditukar oleh orang hamil, balita, lansia dan penyandang disabilitas.

Selain itu, jika dulu sirkulasi udara pada kereta kelas ekonomi hanya jendela yang terbuka sehingga angin sepoi-sepoi bisa masuk ke gerbong, sekarang setiap gerbong dilengkapi dengan tiga unit AC. Kadang saya kedinginan, kadang kepanasan. Kalau kepanasan kita bisa minta tolong petugas kereta untuk menurunkan suhu agar dingin. Hanya saja untuk toilet saya merasa perlu menjadi perhatian lagi agar tidak menimbulkan bau yang kurang sedap.

Nah, Kemenhub juga membagikan apa saja yang perlu diperhatikan demi keselamatan saat menggunakan kereta api. Coba simak ya!





Kemenhub juga memberikan tips saat menaiki kereta api. Simak ya!



Oiya, saya juga baru tahu kalau ada tarif reduksi bagi lanjut usia kalau memesan tiket melalui KAI Access. Dan ini termasuk capaian terbaru untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat Indonesia yang ingin menggunakan jasa kereta api. 

Selain regulasi tentang Standar Pelayanan Minimal tersebut, masih ada regulasi lain terkait perkeretaapian yaitu:

PM 47 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api

PM 48 tahun 2014 tentang Tata Cara Pemuatan, Penyusunan, Pengangkutan dan Pembongkaran Barang dengan Kereta Api

PM 121 tahun 2017 tentang Lalu Lintas Kereta Api

PM 69 tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian

PM 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang Antara Jalur Kereta Api dengan Jalan


Saya harap untuk tahun selanjutnya pelayanan kereta api semakin baik lagi sehingga tidak kalah dengan pelayanan kereta api kelas dunia di negara lainnya.

Yuk, follow media sosialnya Kemenhub:

Twitter : Kemenhub151
Facebook : Kemenhub151
Instagram: Kemenhub151


Website Kementerian Perhubungan yaitu http://dephub.go.id/ atau klik Kemenhub



Salam Selamat, Aman, dan Nyaman! Ciaoo!


Referensi:
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2018. Capaian 4 tahun Pembangunan Infrastruktur Transportasi. Majalah Transmedia Edisi 08/2018.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesi Nomor : PM 47 Tahun 2014 Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api 

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2016. Merangkai Menyatukan Indonesia: Capaian 2015 dan Agenda Strategis 2016. Jakarta : Kemenhub.

Read More
Setelah diumumkan lolos seleksi emerging writer Ubud Writers and Readers Festival 2019, salah satu festival literasi yang mengundang beberapa penulis asing, email terus berdatangan, paling sering dari Mbak Sarrah Monessa selaku koordinator program, untuk persiapan menuju festival tersebut yang masih 3,5 bulan lagi sejak pengumuman. Email dari Mbak Sarrah ini masih berbahasa Indonesia.

Pertama tentang persetujuan cerita saya yang berjudul Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan dalam antologi dan dijual saat festival.

Saya juga diminta menjawab pertanyaan untuk dipublish di web UWRF. Baca selengkapnya disini.

Setelah itu, saya diminta profil bio penulis dan diminta mengisi form penulis termasuk kemampuan apa yang bisa diberikan untuk audiens. Awalnya saya ingin mengisi teater dan menari tradisional, tapi saya pikir-pikir, itu kemampuan yang sudah lama tidak saya asah lagi. Dan pasti cukup ribet kalau saya harus menari tradisional. Haha.

Akhirnya saya tidak memilih ituu. Hanya mengisi form workshop tentang menulis cerpen untuk anak-anak. Yang akhirnya kemudian saya diminta oleh Mas Gustra untuk mengisi sesi workshop menulis pada Youth and Children Program. Program ini juga bilingual dan penerjemahnya disediakan panitia. Saya pun mengisi detail tentang acara tersebut. Saat itu email dikirim akhir Juli. Dan sekarang materi saya untuk workshop belum fix. Wkwkwk. The Power of Kepepet.

Terus Mbak Sarrah mengirimkan dokumen persetujuan yang isinya tentang biaya yang ditanggung pihak UWRF juga book launch. Nah, saya mulai galau, apakah mengajak anak saya dua-duanya atau cuma satu saja. Karena yang paling kecil masih menyusui jadi mau tidak mau saya harus bawa. Sayangnya, panitia khawatir akan mengganggu jalannya acara kalau saya membawa anak bayi masuk ke dalam sesi panel. Otomatis saya harus mengajak suami atau keluarga saya.

Nah, setelah itu Mas Reindy menghubungi saya untuk pembelian tiket. Padahal saya masih galau harus mengajak siapa. Apalagi, mereka membelikan saya tiket, dan tidak bisa membeli bersama bayi saya meski saya mau menggantikan uang tapi mereka tidak terima sistem reimburse. Orang tua saya ditanyain juga masih bingung apa bisa ikut dua-duanya ke Bali.

Setelah pertimbangan yang panjang dengan suami dan cukup lama, akhirnya suami dan anak-anak saya ikut serta saat festival nanti. Saya pun dipesankan tiket oleh Mas Reindy di tanggal dan jam tertentu. Kemudian saya membeli tiket untuk suami dan dua anak saya dengan jadwal yang sama.

Setelah tiket terbeli dan belum ada email lagi dari UWRF. Beberapa minggu tepatnya awal bulan Oktober, kemudian saya mendapat email dari Mbak Wening yang memperkenalkan salah satu supporter festival bernama Peter dalam bahasa inggris. Dan saya pun menjawabnya dengan bahasa inggris yang kurang begitu yakin apakah cara saya benar atau tidak hehe.
Beberapa hari kemudian saya mendapat email dari Alexis, yang saya menduganya dia berasal dari Rusia karena nama terakhirnya. Ia memberitahukan bahwa saya dan 4 teman emerging writers lainnya akan mengikuti workshop yang akan diselenggarakan tanggal 23 Oktober 2019. Pematerinya diisi oleh Mirandi Riwoe (Penulis Australia) dan Chyntia Dewi Oka (Penulis yang sekarang tinggal di USA).

Beberapa hari kemudian Mbak Sarrah mengirimkan email lagi tentang persiapan saat mengisi sesi Children's and Youth Program. Saya mendapat panduan selama acara di sana. Saat saya tiba di Bali yag akan dijemput oleh panitia, menuju Ubud dengan kendaraan yag disediakan panitia, lokasi menginap saya. Di UWRF ini memang banyak sekali acaranya. Namun saya hanya wajib mengikuti beberapa sesi seperti workshop, book launch, dan The Hijab Files. Festival nantinya ada di tempat Neka Museum, Indus Restaurant, Taman Baca, dan Joglo @ Taman Baca. Lokasinya saya lihat agak berjauhan dan otomatis saya perlu kendaraan untuk ke lokasi itu.
Di email itu juga saya memberitahukan kalau saya membutuhkan LCD, projector dan laptop. Yes, saya masih belum pro untuk ngisi workshop tanpa alat itu. Hehe.

Dan saya juga diperkenalkan dengan Mbak Wulan Dewi selaku selaku Writer Liaison (WL) yang akan membantu mengingatkan jadwal saya selama festival berlangsung nanti. WL adalah sukarelawan yang dengan senang hati membantu kelancaran festival.

Dan email yang menurut saya agak berat adalah dari Maryam, penulis beragama muslim dari Australia. Karena dia akan menjadi moderator pada acara Hijab Files, jadi ia mengirimkan beberapa pertanyaan untuk acara itu dan saya harus menjawabnya dalam bahasa Inggris meski pakai bantuan gugel biar cepet yang kemudian saya edit lagi. Wkwk. Ketahuan kannn.
Beberapa hari kemudian saya mendapat email lagi dari beliau daaann pertanyaannya lebih kompleks tentang hijab. Intinya sih apa pengaruhnya hijab yang kita pakai dengan tulisan kita. Lumayan saya harus mencuci otak. Eh, memutar otak.

H-4 ternyata saya mulai deg-degan. Bagaimana tidak? Materi saya buat workshop anak-anak belum matang. The power of kepepet sih. Pertanyaan2 tentang Hijab Files belum terjawab. Dan tanggungan tulisan lainnya juga belum selesai. Sementara kalau siang, saya susah konsentrasi karena lebih fokus pada anak-anak.

Nah! Yang jadi malah blog ini. Wkwkwk. Mumpung yang kecil lagi tidur dan si kakak minta nonton. Untuk cerita hari pertama UWRF bisa dibaca di blog saya berjudul Hari Pertama Mengikuti UWRF 2019.

Read More
Huruf Braille (www.freepik.com)

Bulan November tahun 2018, saya mengikuti workshop penulisan cerita anak yang berjenjang dan inklusif. Waktu itu, saya belum tahu menahu tentang berjenjang dan inklusif itu yang seperti apa sampai akhirnya saya hadir di workshop itu. Workshop itu dilaksanakan di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Kalau berjenjang itu mungkin sudah banyak yang tahu, dalam menulis cerita anak memang ada level-levelnya misal penjenjangan dari Room to Read (RtR) dan juga dari Kemdikbud. Ketika saya workshop penjenjangan yang dipakai itu dari RtR. Jadi mau tidak mau kita harus mengikuti kaidah tersebut, baik jumlah kata, kerumitan kata, jumlah halaman maupun perlu tidaknya kehadiran sebuah konflik.

Sedangkan inklusi itu biasanya mempertimbangkan kondisi masyarakat berkebutuhan khusus. Jadi dalam pembuatan buku bahan bacaan anak itu mempertimbangkan kondisi masyarakst difabel. Hasil akhir dari workshop itu adalah buku cerita anak bergambar dengan tambahan gambar bahasa isyarat. Karena itu dihadirkan salah satu pembicara yang merupakan anggota Deaf Art Community, Yogya. Pembicara yang bernama Mas Arif memang seorang tuna rungu dan tuna wicara yang menurut saya punya semangat yang tinggi untuk tidak mau kalah dengan manusia normal lainnya. Sekarang Mas Arif kuliah di salah satu universitas ternama di Yogyakarta (saya lupa dimana). Selain itu dihadirkan pula penerjemah bahasa isyarat jadi peserta tetap bisa memahami apa yang dibicarakan.

Saya terenyuh selama beliau bercerita bahwa saat kecil dia sangat sulit memahami isi buku. Dia terbiasa menggunakan bahasa isyarat dan kebingungan ketika membaca kata-kata di buku jika tidak ada yang mencoba menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Apalagi buku-buku di Indonesia memang belum menyertakan bahasa isyarat. Meskipun tidak menyertakan bahasa isyarat, setidaknya gambar yang ada di buku mudah dipahami. Jadi dia merasa tertekan sendiri. Dia minta bantuan orang tuanya untuk menerjemahkan maksud dari buku itu. Dia pernah baca buku cerita dari Jepang yang menurut dia mudah dipahami. Kadang juga ada buku yang sudah ada bahasa isyaratnya. Makanya dia sangat senang sekali saat FLP yang bekerja sama dengan INOVASI akan meluncurkan buku yang dilengkapi dengan bahasa isyarat.
Mas Arif saat bercerita pengalamannya membaca buku saat masih kecil

Mas Arif sangat bersyukur saat keluarganya men-support dia untuk terus maju dengan mengajarkan sesuatu lewat buku-buku. Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang mengumumkan sebuah aplikasi terbaru dari perusahaan telekomunikasi untuk memudahkan para tuna wicara untuk bisa membaca buku tanpa kebingungan maksud dari kata-kata itu. Namanya StorySign. Aplikasi ini sangat membantu anak-anak yang belum banyak mengenal kosakata dapat mengerti dari bantuan bahasa isyarat pada aplikasi tersebut. Namun saat saya coba di playstore ternyata belum tersedia, hanya tersedia beberapa aplikasi sejenis kamus bahasa isyarat.

Selain tuna wicara dan tuna rungu, penyandang disabilitas yang cukup sulit untuk mengakses buku adalah tuna netra. Mereka harus membaca buku yang dilengkapi dengan tulisan braille. Sedangkan tidak banyak buku yang dijual itu menyediakan tulisan braille. Kalaupun ada, pasti harganya bisa dua kali lipat lebih mahal. Kalau di Kota Malang sendiri, perpustakaan kota sudah memiliki ruangan khusus untuk para tuna netra dimana banyak buku-buku cerita dengan tulisan braille. Sebenarnya, ada banyak alternatif agar penyandang tuna netra tetap bisa membaca buku. Misalnya dengan mengunduh aplikasi audiobook di playstore, bisa juga kunjungi web www.ayobaca.in. Kompas Klasika juga ada audio dongeng jadi penyandang ini tetap bisa mendengarkan cerita dari sebuah tulisan.

Saya rasa ini menjadi tantangan bagi penyedia bahan bacaan untuk menghadirkan sebuah bacaan yang inklusi, yang bisa dinikmati oleh penyandang disabilitas. Tidak hanya menyediakan audiobook bagi tuna netra tapi juga bahan bacaan yang bisa dinikmati oleh tuna rungu dan tuna wicara. Harapannya, dengan adanya penyediaan bahan bacaan yang inklusi maka #LiterasiKeluarga dapat terwujud.

#LiterasiKeluarga #SahabatKeluarga
Read More

Dari Sebuah Buku

Baru saja kita kehilangan seorang cendikiawan muslim Indonesia yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia yang ketiga. Seorang pahlawan intelektual yang pernah sukses dengan kecerdasannya dalam membuat pesawat juga dijuluki Mr. Crack karena menemukan rumus yang kemudian dipakai dalam dunia penerbangan.

Pesan Pak Habibie (makassar.tribunnews.com)

Saya pun membayangkan bagaimana orang tua beliau mendidik menjadi orang yang sukses sekarang. Ternyata salah satu kunci utamanya adalah hobi Pak Habibie yang suka membaca. Habibie yang memiliki pemikiran kritis sejak kecil juga suka mencari jawaban atas pemikirannya melalui buku-buku. Sampai beliau membaca buku Jules Verne yang berbahasa Belanda dan berjudul "Lima Minggu di Balon Udara" jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dari buku itu beliau terinspirasi untuk bisa membuat pesawat.

Ternyata buku membawa pengaruh yang besar bagi diri Pak Habibie. Beliau memiliki etos kerja, semangat, integritas tinggi, dan nasionalis. Tak hanya Habibie, tokoh Indonesia lain yang sangat suka membaca dan membawa pengaruh positif terhadap kemajuan bangsa Indonesia adalah Soekarno, Moh. Hatta, dan Kartini.

Seperti yang terjadi pada soekarno, berawal dari hobi ayahnya yang suka membaca, Soekarno pun suka membaca buku-buku ayahnya, perpustakaan di sekolah, juga membaca buku di rumah Tjokroaminoto.

Dari sinilah awal rasa nasionalisme Soekarno mulai tumbuh subur karena bacaan-bacaan yang beliau baca.

Moh. Hatta juga menjadi suka baca buku ketika pamannya mengajaknya ke toko buku dan membelikannya beberapa buku. Setelah itu, ia pun jadi rajin membeli buku.

Bacaan-bacaan ekonomi-lah yang mempengaruhi pemikiran beliau dalam menggagas pemikiran tentang ekonomi kerakyatan, hingga dijuluki bapak koperasi Indonesia.

Kartini pun gemar membaca buku ketika kakaknya memberinya buku. Ia juga suka membaca buku koran dan majalah milik ayahnya. Hal itu membuat wawasannya menjadi luas. Dengan membaca pula, ia menjadi jago menulis hingga akhirnya pemikiran-pemikirannya mempengaruhi para wanita Indonesia untuk menjadi lebih baik. Kartini menjadi sosok mandiri, nasionalis dan peduli sosial karena banyaknya buku yang beliau baca.

Jika kembali ke zaman keemasan Islam, dimana banyak cendikiawan muslim yang berhasil membuat kitab yang menjadi rujukan seluruh dunia, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Umar Khayyam, dan lain-lain. Semua berasal dari kegemaran akan membaca buku. Jelas, pengaruh buku sangat besar sekali terhadap kemajuan suatu bangsa seperti tokoh-tokoh yang telah saya sebutkan. Begitu pun negara-negara besar dunia juga memiliki tokoh yang sangat gemar membaca, seperti Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Ma, dan lainnya.

Besarnya pengaruh buku-buku berkualitas terhadap pemikiran seseorang bahkan bisa memajukan suatu bangsa harusnya menjadi perhatian bagi kita semua. 

Namun, sayang di negara kita, masih banyak orang yang kurang begitu berminat untuk membaca buku meski sudah dibangun perpustakaan daerah, perpustakaan digital, Taman Bacaan Masyarakat. Lebih banyak mereka habiskan waktunya untuk menonton televisi atau pun melihat video melalui telepon seluler. Meski sekarang sudah banyak ebook yang dijual, platform membaca cerita, maupun aplikasi membaca, tetap saja belum bisa menarik "yang jarang membaca" ini untuk membaca.

Melihat para tokoh besar Indonesia, untuk menjadi seseorang yang gemar membaca buku memang tidak bisa dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Semua harus ada yang mengawali. Harus ada yang ditiru. Harus ada yang "menarik" mereka masuk ke dalam dunia buku.

Pak Soekarno meniru ayahnya yang suka membaca buku dan memiliki banyak koleksi buku. Kartini menjadi suka membaca karena kakaknya dan ayahnya menariknya masuk ke dalam dunia buku. Berkat pamannya, Mak Etek Ayub, Moh. Hatta pun jadi gemar membaca dan mengoleksi buku. Pak Habibie pun suka membaca sejak kecil karena memang disuruh ayahnya membaca buku untuk menjawab pertanyaannya tentang sesuatu.

Manfaat Membaca Buku

Dari para tokoh-tokoh Indonesia yang sudah disebutkan di atas, kita bisa menyimpulkan manfaat-manfaat jika seseorang gemar membaca buku, yaitu :
- Memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan.
- Berpikiran terbuka.
- Memunculkan jiwa nasionalis karena pengaruh dari jenis buku yang dibaca.
- Memajukan bangsa atas pengetahuan yang dimiliki.
- Menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap cerita yang ada dalam buku.
- Menumbuhkan cita-cita dalam diri.
- Memunculkan sifat kritis dalam diri anak.
- dlsb.

Peran keluarga dalam membudayakan literasi

Ada banyak anak Indonesia, bahkan di kalangan orang dewasa sendiri, tidak suka baca buku. Mereka menganggap tulisan yang banyak di buku itu membuat sakit kepala. Cerita kurang menarik. Memang untuk membuat seseorang menyukai buku itu harus dilatih sejak kecil. Jika anak sudah suka dengan buku sejak kecil, insyaallah saat dewasa pun terus mengikuti. Namun, jika setelah dewasa sudah kurang berminat dengan buku, maka akan sangat sulit sekali mengajaknya untuk gemar membaca buku.
Oleh karena itu, selagi anak masih kecil, masih dalam usia emas (0-5 tahun), maka sebaiknya sebuah keluarga sudah mengenalkan buku sejak kecil. Tentu, buku-buku yang menarik untuk anak.

Bagaimana dengan keluarga kita sekarang? Apakah sudah menarik anak-anak kita masuk ke dalam dunia buku? apakah kita sudah memancing anak-anak kita untuk suka membaca buku? Apakah kita sendiri sudah memberi contoh untuk gemar membaca buku? Bagaimana anak kita gemar membaca buku jika kita sendiri tidak menyediakan buku yang menarik untuk anak. Jika kita sendiri tidak memberi contoh untuk membaca buku.

Peran keluarga dalam membudayakan literasi sangat penting sekali karena anak memulai menyukai sesuatu bisa berawal dari keluarga. Jika keluarga tidak membiasakan membaca buku maka anak pun tidak terbiasa membaca padahal banyak manfaat yang diperoleh ketika anak suka membaca.

Sebenarnya Kemdikbud sudah mengeluarkan indikator untuk mengukur pencapaian literasi baca-tulis dalam keluarga, yaitu :

1. Jumlah dan variasi bahan bacaan yang dimiliki keluarga;

2. Frekuensi membaca dalam keluarga setap harinya;

 3. Jumlah bacaan yang dibaca oleh anggota keluarga;

4. Jumlah tulisan anggota keluarga (memo, kartu ucapan, baik cetak maupun elektronik, catatan harian di buku atau blog, artkel, cerpen, atau karya sastra lain); dan

5. Jumlah pelatihan literasi baca-tulis yang aplikatif dan berdampak pada keluarga.

Indikator itu yang disarankan agar bisa dilakukan setiap keluarga sehingga literasi baca-tulis bisa dicapai dalam keluarga. Kalau saya melihat indikator itu tidak semua keluarga saya bisa melaksanakannya. Misalnya jumlah tulisan anggota keluarga atau jumlah pelatihan literasi.

Qodarullah memang saya sedang berminat dalam dunia tulis menulis maka untuk jumlah tulisan yang saya buat lebih intens dibanding keluarga anggota saya lainnya. Sedangkan anak saya yang masih 3 tahun hanya bisa corat-coret atau menggambar mobil yang hanya terlihat wujud bannya saja. Begitu pun untuk jumlah pelatihan literasi, saya pernah mengikuti beberapa workshop menulis tapi untuk anak saya maupun suami saya memang belum.

Beberapa indikator itu saya laksanakan dalam keluarga saya, meski ada yang belum, dan juga menyesuaikan pada nilai-nilai budaya literasi dalam keluarga yaitu dekat, mudah, murah, kontinyu (Trini Haryanti, Rumah Dunia Serang Banten, 2014), menyenangkan, dan bermakna.

Nah, peran keluarga untuk mewujudkan indikator yang sejalan dengan nilai budaya literasi di keluarga saya sendiri adalah :

- penyedia bahan bacaan anak yang menarik dan bervariasi di rumah. Penyediaan buku di rumah ini memang bisa diperoleh dengan berbagai cara, bisa membeli di toko buku, toko online, pameran buku. Memang banyak sekali yang merasa sayang karena sudah keluar uang banyak untuk membeli buku, tapi menurut saya, uang yang dikeluarkan untuk membeli buku adalah sebuah investasi jangka panjang.

Kakak dan adek senang setelah mendapat buku baru

Sebenarnya tidak harus membeli, keluarga bisa mengajak anak ke perpustakaan daerah dan meminjam beberapa buku yang menarik. Sekarang pun sudah banyak platform daring yang menyediakan bahan bacaan anak, seperti aplikasi Let's Read, Ipusnas yang bisa diunduh di playstore.Namun untuk anak saya yang masih usia 3 tahun, saya belum mau karena biasanya dia akan meminta menonton yang lain dan pada akhirnya malah main ponsel terlalu lama.

Frekuensi untuk menyediakan bahan bacaan ini di rumah saya biasanya tergantung jam santai saya. Kalau saya sibuk di dapur maka mereka bermain. Setelah selesai, biasanya mereka meminta dibacakan buku, bisa pagi hari atau malam hari. Seharusnya semakin meningkat frekuensi semakin bagus ya. Untuk anak saya sendiri yang masih balita, mereka masih suka meminta membacakan buku-buku yang saya beli. Mereka suka meminta mengulangi cerita dalam buku tersebut karena mereka masih perlu banyak belajar kosakata baru. Semakin sering diulang, maka mereka semakin mudah mengingat kosakata baru. Ini bisa termasuk dalam budaya literasi yang kontinyu (berkelanjutan).

Saat di pameran buku Mizan


Buku yang bervariasi juga tidak lupa menjadi perhatian. Sebenarnya lebih baik jika dalam sebulan ada buku baru di rumah. Baiasanya saya pun membelikan buku ketika ada pameran buku. Harganya lebih terjangkau. Pernah dalam beberapa bulan saya tidak membeli buku untuk anak karena belum ada pameran. Menurut saya, itu tak jadi soal. Namun, ketika ada pameran saya bisa beli cukup banyak buku ya sekitar sepuluh buku sudah cukuo. Jumlah ini bisa disesuaikan dengan budget masing-masing keluarga. Ini termasuk dalam nilai budaya literasi yang murah.

Apalagi kalau mau gratis dan bervariasi, bisa pinjam di perpustakaan daerah. Jenis bahan bacaan pun bisa bervariasi, bisa tentang kehidupan sehari-hari manusia dan cerita fabel dalam bentuk buku bergambar. Kalau saya sendiri, biasanya saya memilih buku anak tentang pengembangan moral ataupun tentang agama saya ketika berada di pameran buku.



Out of The Books 


Peletakan buku cerita juga mempengaruhi minat baca anak di rumah. Setelah selesai membaca dan saat membereskan kamar biasanya saya meletakkan buku di atas lemari, ternyata tidak dilirik anak-anak. Mereka jadi lupa kalau mereka punya buku. Ketika salah satu buku bergeletakan di atas meja atau di atas kasur maka bisa dipastikan anak-anak saya minta dibacakan cerita.

Kakak minta dibacakan buku
 

Kalau ada pojok khusus membaca di rumah atau perpustakaan keluarga lebih bagus lagi tapi karena rumah saya keciiiillll jadi hanya di atas lemari baju saja saya letakkan buku. Bahkan saya taruh saja di kursi dekat tempat tidur. Nilai budaya literasi yang dekat dan mudah ini yang mampu mendukung terwujudnya budaya literasi keluarga.

- pembaca cerita anak yang menyenangkan. Tidak hanya menyediakan bahan bacaan saja, keluarga juga harus menjadi storyteller bagi anaknya. Apalagi saya memiliki dua balita yang belum bisa membaca. Saya membacakan buku cerita dengan penuh ekspresif atau bahkan saya improve biar anak tidak bosan. Yang pasti saya bukan seperti pendongeng profesional. Paling-paling saya hanya memainkan intonasi saja dan menirukan suara hewan. Kalau kita sendiri bisa bercerita dengan sangat menyenangkan maka anak akan terus meminta membacakan buku seperti pada anak saya. Tidak hanya saya, suami pun berperan serta dalam membudayakan literasi. Terkadang saya meminta suami saya untuk membacakan cerita kepada mereka. Selain menigkatkan kedekatan dengan anak, tentu anak akan senang karena kehadiran ayahnya dalam membudayakan literasi.

Hal yang paling lucu, ketika saya sudah mengantuk sekali dan anak saya minta bacakan buku, saya bisa bercerita sambil tertidur dengan pengucapan yang kurang jelas. Hebat, ya! Kalau sudah begitu, anak saya malah bertanya atas kalimat saya yang terdengar "nggremeng" karena tidak jelas (maklum sudah mulai terbuai mimpi). Begitu tahu saya tertidur, dia akan membangunkan saya dan melarang saya untuk tidur. Ia aka memaksa saya untuk membacakan cerita. Mau tidak mau saya membacakan buku juga meski setengah mengantuk. Saya sangat senang jika anak saya bersemangat meminta membacakan buku cerita. Harapan nilai budaya literasi yang menyenangkan pun bisa terwujud sehingga saat dewasa nanti dia tidak merasa asing dan sakit kepala jika berhadapan dengan buku. Aammiinn.

- pemberi contoh untuk anak. Anak balita tentu akan mengikuti kebiasaan orang tuanya. Jika sebuah  keluarga suka menonton televisi, maka anak juga akan mengikuti kebiasaan tersebut. Jika sebuah keluarga menyempatkan waktunya untuk membaca buku di depan anak sesering mungkin, anak juga akan mengikuti kebiasaan orang yang ada di rumah. Makanya saya juga selalu menyediakan buku untuk saya baca sendiri. Jika tidak ada buku, mungkin keluarga bisa menyediakan majalah atau koran untuk bacaan orang dewasa sebagai bentuk contoh yang diberikan pada anak.

- pengingat pesan moral. Biasanya anak saya akan mudah mengingat sesuatu dari sebuah buku, misalnya harus jujur, berkata lembut, tidak kasar, dan sayang dengan sesama. Maka ketika ia melakukan kesalahan, misal tidak jujur, maka saya pun memintanya untuk jujur. Atau saat ia berbicara kasar, saya pun mengingatkan dia bahwa harus berkata yang baik seperti yang ada di dalam buku. Meski sebenarnya peran keluarga yang ini cukup berat karena mau tidak mau keluarga juga harus melakukannya.

- teman bermain anak. Keluarga juga bisa menjadi teman bermainnya. Permainan yang dianjurkan untuk meningkatkan budaya literasi dalam keluarga adalah permainan yang melibatkan penggunaan kata, bisa monopoli, scrabble, teka-teki, dan sejenisnya bagi yang sudah bisa membaca. Namun karena anak saya masih berusia 3 tahun dan belum bisa baca, saya mengajaknya mencari huruf pada sebuah buku aktivitas yang saya beli. Kalau perlu, membuat huruf dan angka dari kain flanel dan ditempel di dinding atau di tempat yang terlihat.

Saya berharap budaya literasi yang saya terapkan tersebut dapat bermakna untuknya terutama untuk pengembangan pendidikan karakter anak, misalnya kejujuran, rasa ingin tahu, gemar membaca tanpa paksaan, peduli sosial, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena dari sebuah buku anak-anak bisa belajar sikap dan perilaku.

Tak hanya baca tulis untuk anak saja

Sebenarnya beberapa waktu yang cukup lama, saya sempat dilanda kebingungan. Mungkin banyak ibu-ibu di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Ketika anaknya sudah berusia tiga tahun maka orang tua harus memutuskan apakah anak akan dimasukkan sekolah PAUD atau tidak. Saya sempat menimbang-nimbang, karena sebenarnya saya sedikit khawatir jika anak saya jauh ketinggalan dengan teman-temannya.

Terkadang saya bertemu dengan seorang anak yang usianya sepantaran anak saya sudah bisa menghitung angka 1-15 atau sudah hafal surah-surah pendek pada juz 30 atau sudah bisa menulis huruf meski belum sempurna atau bisa menulis namanya sendiri. Sedangkan saya masih berusaha keras membujuk anak saya untuk belajar abjad, angka, atau menghitung benda. Saya pun sadar bahwa setiap anak itu tidak bisa disamakan. Saya tetap berpikiran positif bahwa anak saya kelak juga akan bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Meski saya tetap berusaha untuk mengenalkan abjad dan angka.

Maka saya pun memilih tidak memasukkan anak saya ke PAUD walau banyak orang yang menanyakan sudah sekolah apa belum (mungkin karena badannya yang sedikit terlihat lebih tinggi dibanding anak-anak seusianya). Sepertinya zaman sekarang kalau anaknya belum masuk PAUD agak dipandang sebelah mata. Tapi saya tetap stay cool saja. Saya tetap mengajarkan berhitung benda dan membaca angka yang ada dimana saja.

Sedangkan untuk melatih keluwesan tangan anak agar mudah belajar menulis huruf dan angka, saya masih mengajarkan membuat garis, lingkaran dan kotak. Untuk saat ini, anak saya lebih suka mewarnai bukunya dibanding menulis huruf atau angka. Saya pun tidak bisa memaksa meski saya terbayang anak-anak seusianya di luar sana sudah bisa membaca angka, huruf, bahkan iqra'. Itu memang bisa dijadikan motivasi saya tapi tidak membebani. Saya yakin kelak ia akan bisa membaca dan menulis tepat pada waktunya.

Video saat menggambar


Sebenarnya tidak hanya baca tulis saja untuk meningkatkan literasi dan tidak hanya ditujukan untuk anak. Keluarga juga mestinya terlibat dalam kegiatan literasi di rumah. Seperti yang dikutip dari Kemdikbud, bahwa implementasi literasi baca-tulis tidak terpisahkan dari literasi numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Sedangkan untuk anak saya 3 tahun memang masih belajar untuk membaca, menulis, dan berhitung (numerasi). Saya sendiri memang suka membaca. Sebulan di rumah tanpa ada bahan bacaan rasanya aneh sekali. Apalagi waktu itu tablet saya eror, tidak bisa buat baca di Ipusnas dan menulis. Seperti ada yang hilang. Suami saya pun beberapa kali suka menulis sesuatu yang dia suka di luar kewajibannya sebagai pengajar di kampus.

Untuk literasi sains selama ini masih lewat buku saja, belum aplikasi. Kalau literasi digital memang saya belum mengenalkan lebih lanjut untuk anak saya. Paling-paling saya saja yang memakai aplikasi Ipusnas untuk membaca ataupun menggunakan tablet untuk menulis dan mempostingnya di blog atau kirim ke media massa. Suami saya malah lebih tertarik menonton video di ponselnya.

Literasi finansial ternyata tak hanya untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran saja, tapi juga penggunaan jasa dan produk keuangan untuk tabungan, investasi, kredit, dan asuransi. Kita harus tahu semua informasi kekurangan dan kelebihan penggunaan produk dan jasa keuangan tersebut. Melek literasi keuangan bisa membantu kita memutuskan produk dan jasa keuangan apa yang akan dipakai. Kalau saya tidak hanya menanyakan langsung kepada lembaga yang megeluarkan produk dan jasa keuangan tersebt tapi juga mencari pengalaman orang melalui blog atau tanya ke rekan yang pernah menggunakannya.

Literasi budaya dan kewargaan pun kami akui belum begitu terasa di keluarga kami. Meski terkadang saya menyanyikan lagu kebangsaan di depan anak saya dan terkadang ia mengikutinya.


Peran masyarakat dalam membudayakan literasi

Tidak jauh berbeda dengan indikator pada keluarga, indikator yang digunakan untuk mengukur pencapaian literasi baca-tulis pada masyarakat justru lebih kompleks. Di lingkungan saya tinggal, yaitu di Sidoarjo, ada satu Rumah Pintar yang di dalamnya terdapat Taman Baca. Jika dilihat ketersediaan fasilitas taman baca itu tentunya bisa disimpulkan bahwa budaya literasi sudah terwujud. Nyatanya, tidak bisa disimpulkan begitu.

TBM di Rumah Pintar (www.kumparan.com)


Setelah saya melihat indikator pencapaian literasi baca-tulis, ternyata kesuksesan literasi baca-tulis memang tidak sekedar membaca dan menulis saja tapi lebih luas dari itu. Indikator tersebut yaitu:

1. Jumlah dan variasi bahan bacaan yang dimiliki fasilitas publik. Jika saya lihat memang sudah banyak bahan bacaan di TBM dekat rumah saya, tapi memang seharusnya harus ada penambahan jumlah dan jenis buku di TBM tersebut secara berkala.

2. Frekuensi membaca bahan bacaan setiap hari. Sayangnya, TBM dekat rumah saya tidak setiap hari buka hanya hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu sehingga indikator ini tidak bisa tercapai. Salah satu penyebabnya saya kira karena kurangnya sumber daya manusia.

3. Jumlah bahan bacaan yang dibaca oleh masyarakat. Rata-rata buku yang dibaca pengunjung TBM sekitar 3-5 buku itupun hanya di hari tertentu. Ada yang membaca sampai selesai, ada pula yang hanya dilewati saja lembaran demi lembaran.

4. Jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan bahan bacan. Menurut cerita yang saya dengar, ada warga yang memang menyumbang buku untuk TBM meski tidak intens.

5. Jumlah fasilitas publik yang mendukung literasi baca-tulis. Di lingkungan saya sendiri hanya ada satu TBM itu, kalau pun mau ke perpustakaan ya harus pergi dulu ke kota Surabaya yang jaraknya bisa sampai 5 km.

6. Jumlah kegiatan literasi baca-tulis yang ada di masyarakat. Ini juga masih sangat jarang dilakukan. Memang ernah diadakan lomba mewarnai, tapi saat ada perayaan hari besar tertentu saja.

7. Jumlah komunitas baca tulis di masyarakat. Setahu saya, saya baru lihat ada satu TBM di lingkungan tempat tinggal saya sedangkan komunitas masih belum terdengar dan terlihat aktivitasnya.

8. Tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi. Biasanya anak-anak di hari Sabtu dan Minggu datang ke TBM untuk membaca buku. Saya rasa partisipasi masyarakat cukup aktif jika memang komunitas mengadakan kegiatan literasi untuk anak dan remaja.

9. Jumlah publikasi buku per tahun. Rasanya indikator ini cukup menantang bagi saya sendiri sebagai masyarakat untuk tergerak membuat karya buku untuk menambah bahan bacaan. Meski tentunya sudah banyak sekali penulis-penulis yang melahirkan publikasi buku khususnya Jawa Timur.

10. Kuantitas pengguna bahasa Indonesia di ruang publik. Meski saya ada di tanah Jawa, bahasa Indonesia masih umum digunakan di lingkungan saya meski ada memasukkan kosakata bahasa Jawa.

11. Jumlah pelatihan literasi baca-tulis yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat. Saya sendiri mengikuti workshop kepenulisan yang diselenggarakan di kota lain sedangkan di lingkungan saya masih belum syaa lihat kegiatannya.

Saat ikut workshop penulisan cerita anak Inovasi-FLP bersama Bu Sofie Dewayani


Jika dari indikator tersebut masih banyak literasi baca-tulis dalam masyarakat yang belum tercapai, maka saya pun mencoba menempatkan diri saya dalam masyarakat karena saya juga termasuk bagian dari masyarakat. Jadi saya bisa berperan sebagai obyek sekaligus subyek dalam masyarakat.

Sebagai Subyek dalam Masyarakat
Menjadi subyek dalam masyarakat menurut cukup berat karena mau tak mau saya harus melakukan sesuatu dan memiliki andil dalam meningkatkan budaya literasi dalam masyarakat. Saya memang belum bisa berkontribusi banyak dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Namun, setidaknya saya mulai melakukan sesuatu yang memancing anak suka membaca.
Saya mulai dari lingkungan orang tua saya. Bukannya saya mau mengungkit-ungkit. Ketika lebaran tiba, saya pulang ke kampung orang tua saya di daerah Ponorogo dan Sragen. Saya tidak memberi angpau uang kepada mereka tapi saya memberi buku kepada beberapa anak di keluarga besar saya. Mungkin mereka berharap angpau dalam wujud uang yang lebih mereka inginkan tapi saya berharap hadiah buku ini bisa memancing mereka untuk mulai menyukai buku. Buku juga investasi jangka panjang. Mereka bisa membuka dan membacanya lagi sewaktu-waktu. Menurut saya memiliki ilmu pengetahuan itu lebih longlasting daripada memiliki uang yang cepat habis jika hanya dibelikan sesuatu yang manfaatnya juga cepat habis.
Hadiah buku

Sebagai Obyek dalam Masyarakat
Sebagai obyek masyakarat, saya memanfaatkan fasilitas membaca yang disediakan di lingkungan rumah saya (Sidoarjo) seperti di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Pernah juga saya mengajak anak saya mengunjungi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di dekat rumah saya. Kebetulan TBM nya bergabung dengan sekolah PAUD. Saya pun dikira ingin mendaftarkan anak saya untuk sekolah PAUD. Begitu tahu saya hanya ingin baca-baca, mereka pun memberi buku daftar pengunjung untuk diisi.
Saya pun mengajak anak saya membaca. Memang beberapa menit, dia betah membaca tapi kemudian dia memilih berlari-larian padahal ada satu orang pengunjung lain. Nah, di sini tantangan saya untuk mengajarkan kesopanan di tempat umum. Alias tidak menganggu orang lain. Namun, dia masih saja tidak bisa duduk diam. Alhasil, saya membawanya pulang lagi. Sayang sekali...

Di TBM dekat rumah saya biasanya akan ramai dikunjungi anak-anak pada hari sabtu dan minggu. Bukunya pun saya bilang cukup bervariasi. Tidak hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang tua terutama ibu-ibu. Sayangnya belum banyak kegiatan literasi yang bisa diikuti di TBM untuk menarik anak-anak.

Tidak hanya TBM, suatu waktu saya mengajak anak saya ke perpustakaan daerah di Malang (tempat mertua saya). Karena di ruang baca anak ada ruangan khusus mainan, jadi dia malah memilih mainan. Meski sebelum itu, dia melihat-lihat buku-buku yang ada di rak dan setelah itu memilih bermain-main. Tak apa-apalah, menurut saya mengenalkan anak dengan fasilitas membaca bisa dimulai sejak kecil agar mereka tidak merasa asing dengan buku.

Setelah saya mengevaluasi diri dari indikator pencapaian literasi baca-tulis, rupanya masih ada indikator yang belum dilakukan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Ini memang terlihat berat karena tidak terbiasa. Apalagi di dalam masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri, harus dilakukan secara bersama-sana.

Harapannya dengan gemar membaca buku, selain menciptakan insan yang relijius, nasionalis, mandiri,  peduli sosial, juga bisa memberi kontribusi pada kemajuan bangsa.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga


Pustaka
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Materi Pendukung Literasi Baca-Tulis. Jakarta : Kemdikbud.
Roestanto, Apriliani. 2017.  Literasi Keuangan. Yogyakarta: Istana Media.
Sumarwan, Eri. 2017. Tokoh Indonesia Yang Gemar Membaca Buku. Jakarta: Balai Bahasa Kemdikbud.



Read More

Follower