Jaman sekarang ya teknologi sangat berkembang pesat. Inovasi dalam transaksi keuangan pun terus mengalami peningkatan. Jika kasir jaman dulu hanya bisa menerima kartu kredit, kemudian lama-lama jasa pembayaran mulai lebih inovatif, bisa dengan debit card, e-money, ataupun dengan alat EDC.

 
Berbicara tentang QR Code, saya punya adik ipar yang cukup sering berbelanja menggunakan QR Code. Belanja makanan, minuman, go-pay, OVO, dia sering pakai QR Code. Jadi QR Code ini tetap sesuai aplikasi yang digunakan seperti Gojek, OVO, atau masing-masing bank.

Misalnya ketika dia membeli minuman di kedai tertentu, dia akan bertanya pada merchant apakah bisa menggunakan QR Code? Meskipun di Jakarta, warung-warung sudah ada yang menyediakan media transaksi dengan QR Code, saudara saya biasa bertanya dulu, karena memang tidak semua merchant menyediakan QR Code. Setelah tahu merchant menyediakan pembayaran dengan QR Code kemudian ia bisa memindai QR Code merchant di hapenya sesuai dengan aplikasi yang mau digunakan. Misalkan membayar dengan OVO maka buka aplikasi OVO dan pilih pembayaran dengan QR Code. Setelah itu pindai QR Code yang ada di merchant di hape. Pilih proses. Kemudian selesai!




Saya sempat bertanya-tanya, apa itu QR Code? QR code atau Quick Respons Code adalah kode-kode yang tersimpan dalam bentuk dua dimensi dan berfungsi untuk menyampaikan suatu informasi dan meresponnya dengan cepat. Dan QR Code ini biasanya juga sudah banyak yang menampikan ini seperti di majalah, iklan, brosur, kartu nama, sarana pembayaran, dan lain-lain.

Ketika QR Code mengalami kecatatan tidak lebih dari 30% maka pemindai masih bisa membaca kode-kode yang ada dan masih bisa terbaca. Hal ini karena QR Code memiliki kode-kode numerik yang lebih banyak hingga 350an kali daripada barcode. Sehingga perusahaan bisa menambahkan logo perusahaan di tengah-tengah QR Code tersebut. QR Code juga membutuhkan tempat yang sedikit.

Kenapa harus QR Code?

Saya pun bertanya kepada saudara saya alasan membayar pakai QR Code. Dia menjawab :

 Alasan keamanan
Bayar pakai QR Code aman kok! Kan nanti disuruh memasukkan password. Jadi jangan khawatir kalau saldo kita tiba-tiba berkurang melebihi jumlah pembayaran yang seharusnya. karena akan ada pengecekan pembayaran

Praktis
Menurut penuturan saudara saya, dia merasa praktis dengan melakukan pembayaran dengan QR Code. Cashless memang membuat segalanya lebih praktis. Tanpa harus bawa uang banyak-banyak, dia tetap bisa bertransaksi.

Untung
Siapa sih yang nggak suka dapat untung? Pasti semua suka! Selain si merchant untung, pembeli juga bisa untung. Bagaimana coba? Sudah dapat produk, masih dapat untung juga. Yup, kata saudara saya, kalau belanja dengan aplikasi Gojek, OVO, atau DANA, dia sering dapat cashback. Alias uang kembali yang masuk ke saldo aplikasi. Lumayan bisa dibuat belanja yang lain.

Saat saya tanya, memang harganya lebih mahal? Katanya sih sama saja. Apalagi jaman sekarang ya, kalau merchant mau untung, mau banyak pembeli, harus mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.

Gratis
Saat melakukan transaksi dengan QR Code ini, pembeli tidak dibebani oleh biaya tambahan dalam penggunaan jasa tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan

Kalau transaksi dengan QR Code ini harus memperhatikan beberapa hal, seperti:

Kamera yang memadai
Karena untuk memindai QR Code ke hape pembeli, maka kamera hape pembeli pun harus memiliki pixel yang cukup bagus agar QR Code bisa terbaca di hape pembeli dan transaksi pun dapat berjalan dengan lancar.

Hindari berada di ruangan yang memantulkan cahaya atau mengalami reflektif pada QR Code sehingga saat pemindaian kode tersebut dapat berhasil. Begitu juga saat di kendaran, usahakan tidak bergerak karena jika bergerak maka proses pemindaian bisa saja tidak berhasil.

-        Koneksi harus stabil
Gangguan saat transaksi dengan QR Code bisa saja terjadi. Dan gangguan ini bisa berasal dari merchant atau pembeli. Jika terdapat gangguan koneksi dari salah satu sisi saja maka pembayaran tidak bisa dilakukan. Maka pastikan dulu koneksi sudah tersambung dengan baik.

Batasan transaksi
Bank Indonesia membatasi transaksi dengan QR Code ini sebesar dua juta rupiah per transaksi.

Nah, yang suka dengan transaksi cashless ini, bisa instal aplikasi di ponsel masing-masing dan isi saldo agar siap digunakan untuk transaksi dengan QR Code ini. Lebih aman, praktis, untung dan pastinya gratis!


#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk

Read More

Satu jam lagi, jadwal kereta saya akan berangkat. Saya kemudian meminta mengantsr saya dan anak-anak ke staisiun Wonokromo, stasiun yang dekat dengan rumah. Saya dan anak-anak memang berencana akan menginap di rumah mbahnya di Sragen. 
Peron di Stasiun Sragen setelah diberi Kanopi dan ditinggikan (Sumber Google Map Brian Images)

Awalnya, saya sempat bimbang mengenai pilihan moda transportasi massal untuk pergi ke rumah mbahnya. Dulu, saya termasuk orang yang suka bepergian dengan transportasi massal, seperti bis dan kereta. Saya lebih suka naik bis karena jadwalnya dari Surabaya-Solo selalu tersedia setiap saat. Tentunya harganya murah. 

Akhirnya, saya memilih menggunakan kereta api Indonesia karena menurut saya sekarang kereta api Indonesia sudah lebih baik dari segi keselamatan, keamanan dan kenyamanannya. Apalagi saya membawa dua anak saya.

Semenjak perusahaan perkeretaapian Indonesia melakukan "perbaikan diri"-nya, naik kereta api menjadi semakin nyaman dan aman. Selama lima tahun ini (2014-2019), kinerja transportasi kereta api Indonesia menjadi lebih baik. 

Pencapaian Pembangunan Perkeretaapian (Sumber : Kemenhub)

Capaian pembangunan sarana dan prasana perkeretaapian Indonesia begitu terlihat ketika saya melakukan perjalanan dari Surabaya ke Sragen dengan kereta. Capaian-capaian yang dilakukan Kementerian Perhubungan yaitu :

MEMODERNISASI STASIUN

Sepanjang mata saya memandang jendela kereta di saat kereta berhenti di stasiun-stasiun, saya melihat stasiun-stasiun sekarang sudah dimodernisasi bangunan dan juga sistemnya.
Selain memudahkan tentu memodernisasi stasiun ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan menggunakan transportasi massal. Sehingga harapannya masyarakat terus memilih moda transportasi yang murah dan tidak terkena macet ini.

Stasiun Sragen setelah dimodernisasi (Sumber Google Map Fery Kustiawan)

PEMBANGUNAN STASIUN ATAU BANGUNAN OPERASIONAL KA

Beberapa stasiun saya lihat sedang dibangun juga direnovasi. Beberapa bangunan stasiun saya lihat sudah bagus. 

Saya pun kepo ingin tahu tentanng pembangunan stasiun ini. Menurut Kementerian Perhubungan dalam majalah Transmedia, stasiun yang dibangun ada sebanyak 45 stasiun. Stasiun yang dibangun adalah 

- stasiun Double-double track (DDT) di Kranji, Klender, Klender Baru, Cakung, dan Buaran Baru
- stasiun elektrifikasi (KRL) di Cibitung dan Bekasi Timur

PEMBANGUNAN JALUR GANDA DAN REAKTIVASI

Kementerian Perhubungan juga membangun Double Track (DT) dan Double Double Track (DDT). Saya lihat beberapa petugas sedang memperbaiki jalur ganda di beberapa titik antara Jombang-Madiun-Kedungbanteng-Sragen. Seluruh Indonesia jalur ganda ini membentang sepanjang 735 km.
Setelah saya searching di google, ternyata jalur ganda ini tidak hanya itu saja tapi juga :
- Jalur ganda kereta bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat
- Jalur ganda kereta Maja - Rangkasbitung, Banten
- Jalur ganda kereta Martapura - Baturaja, Sumatera Selatan
- Jalur ganda kereta bandara Soekarno Hatta, Banten
- Jalur ganda kereta Prabumulih - Kertapati, Sumatera Selatan
- Jalur ganda kereta Purwokerto - Kroya
- Jalur ganda kereta Kutoarjo - Gombong
- Jalur ganda kereta Gombong - Kroya
- Jalur ganda kereta Bogor - Sukabumi
Sedangkan untuk Double-Double Track (DDT) dibangun pada jalur Manggarai - Cikarang dengan total 38 km. 

Pengembangan Jalur Kereta Api (Sumber : Kemenhub)

PENINGKATAN REGULASI PERKERETAAPIAN

Selama lima tahun, Kementerian Perhubungan telah membuat regulasi perkeretaapian untuk meningkatkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan kinerja perkeretaapian. Sejak tahun 2014 hingga 2019, ada enam peraturan menteri perhubungan terkait perkeretaapian yang telah disahkan.

Keselamatan, Keamanan dan Kenyamanan Perkeretaapian

Salah satu regulasi yang hsrus dipenuhi oleh perusahaan perkeretaapian adalah standar pelayanan minimum (SPM) yang memberi keselamatan, keamanan dan keselamatan penumpangnya. SPM ini digunakan sebagai acuan penyelenggara dalam mengoperasikan perkeretaapian. Dengan SPM inilah kita merasakan hasilnya yang bisa kita lihat dan rasakan kenyamanannya sekarang, seperti :
- Ketersediaan parkir. Memang sebagian besar stasiun sudah memiliki tempat parkir mobil dan motor. Bedanya sekarang sudah ada palang otomatis saat masuk dan keluar tempat parkir. Jadi pembayaran karcis parkir otomatis langsung tercatat di sistem. Tidak ada lagi pungutan liat parkir kendaraan. 

- Media Informasi. Di stasiun, informasi ini bisa berupa papan informasi maupun audio informasi. Saat saya tiba di stasiun Wonokromo, saya melihat papan informasi yang memberikan keterangan informasi kereta api yang akan berangkat dan jam keberangkatan di dekat pintu masuk. Di atas petugas boarding juga ada jam dinding tertempel agar penumpang tidak perlu lihat hape jika ingin melihat jam. 
 
Audio informasi pun jelas disampaikan beberapa menit sebelum kereta berangkat sehingga penumpang bisa mempersiapkan diri. Ini penting sekali buat saya yang membawa balita dan barang-barang. Karena mengkondisikan anak cukup memakan waktu. Jadi, audio informasi sangat penting sebelum kereta tiba.

- Fasilitas layanan penumpang. Fasilitas ini bertujuan untuk memberikan informasi perjalanan kereta api dan layanan menerima pengaduan. Untuk fasilitas ini hanya tersedia di stasiun besar dan tidak tersedia di stasiun sedang dan kecil. Biasanya di stasiun besar disediakan satu meja khusus dengan  orang petugas yang bisa memberikan informasi tentsng perjalanan kereta dan menerima pengaduan. 

Cuma kalau di stasiun sedang dan kecil jika kita ingin mendapat informasi, kita bisa bertanya pada petugas loket untuk informasi perjalanan kereta api. Atau malah ingin mengadu? Coba bicarakan dengan petugasnya saja.

- Loket. Satu lagi yang membuat perjalanan kereta sekarang lebih menyenangkan adalah dalam hal pemesanan tiket kereta api. Akibat berkembangnya teknologi, kita bisa memesan tiket melalui online seperti aplikasi KAI access atau jasa-jasa penyedia tiket kereta online. Pembayaran pun bisa melalui M banking, internet banking, kredit, debet, maupun ATM. 

Nah setelah kita mendapat tiket, baru deh dicetak dimesin boarding. Tinggal scan barcode atau ketik kode booking di komputer, keluar deh tiket kereta api yang berbentuk lembaran berwarna oranye itu.
Tapi, kalau tidak ingin kena charge saat pesan online, kita bisa pesan tiket melalui loket KAI langsung. Sistemnya sudah terintegrasi. Kita perlu mencatat di lembar pembelian tiket, kemudian petugas yang akan meng-input data kita sengan menunjukkan KTP. Jadi tidak ada lagi jasa-jasa calo penjual tiket. Dan pelayanan ini harus maksimal 180 menit. Memang harus cepat. Hanya kadang antrinya saja yang banyak.

Kita juga bisa pilih tempat duduk saat membeli. Kalau saya lebih suka duduk agak ke tengah dan gerbong nomor 3, 4, atau 5 karena gerbongnya berhenti pas di tengah stasiun. Saya tidak perlu jauh jalan ke ujung peron.

Betapa nyamannya kan kereta api sekarang!

- Ruang tunggu. Sekarang sudah banyak sekali stasiun kereta yang direnovasi atau dibangun kembali. Tidak terlihat suram dan menyeramkan. Kita akan merasa nyaman begitu masuk ke stasiunnya. Ruang tunggu disediakan sebelum masuk check-in. Dan di sini merupakan batas pengantar penumpang diizinkan. Tempat duduk di ruang tunggu stasiun pun sudah nyaman. Tak perlu risau membawa anak, lansia, naik kereta, deh!

Ruang Tunggu Stasiun Sragen yang sudah dimodernisasi (Sumber Google Map)

- Musholla dan ruang menyusui. Setiap stasiun sekarang sudah punya musholla yang nyaman meski kecil. Di stasiun kecil tidak ada ruangan ini hanya di stasiun besar dan sedang. Meskipun saya menyusui, saya belum pernah nyoba masuk ke ruang menyusui.

- Toilet. Di tempat umum BIASANYA saya kurang sreg dengan toilet, entah baunya, kamar mandinya yang kotor, maupun airnya yang kurang bersih. Tapi, saya tidak merasakan itu di stasiun yang pernah daya kunjungi (Waru, Wonokromo, Sragen, Gubeng). Toiletnya sudah modern (ada kloset jongkok juga duduk), bersih, dan tidak bau pesing. Selain itu, toiletnya GRATIS!

Toilet Stasiun Wonokromo (Sumbe Google Map Edo Novanto)

- Ruang boarding Ruang ini hanya boleh dimasuki oleh penumpang yang sudah memvalidasi kartu identitasnya. Saya melihat ada tempat duduk prioritas yang dekat dengan pintu boarding untuk ibu hamil, balita, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Pemeriksaan tiket di Stasiun Sragen yang sudah dimodernisasi (Sumber Google Map Rokhmad Astika)


- Fasilitas kemudahan naik/turun penumpang. Sebenarnya ini menjadi salah satu kekhawatiran saya saat menaiki kereta. Dulu, waktu saya berangkat sama anak saya pertama, di stasiun kecil masih belum tinggi peronnya. Otomatis saya haru manjat. Syukur-syukur ada tangga untuk naik. Kadang saya turun dari kereta pun tidak ada tangga, otomatis saya harus loncat dengan bawa anak bayi di gendongan depan dan tas ransel di belakang. Ah! Nggak nyaman pokoknya. Namun, sekarang peron sudah tinggi sehingga lantsi kereta dan peron sama tingginya jadi tinggal melangkah saja saya sudah masuk gerbong kereta. Tidak perlu manjat dan loncat. Makanya saya tidak perlu khawatir lagi bawa dua anak balita saya naik kereta.
Pintu keluar stasiun (Sumber Google Map)

Tinggi Peron memudahkan penumpang naik kereta (Sumber Google Map Edo Novanto)

Tapi bagi stasiun yang tinggi peronnya dibawah lantai kereta, stasiun memang harusnya menyediakan bancik atau peron tidak permanen. Tujuannya agar memudahkan penumpang yang masuk ke kereta.

- Fasilitas keselamatan dan keamanan. Untuk keselamatan, di dalam stasiun besar, kecil dan sedang disediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), petunjuk jalur evakuasi, titik kumpul evakuasi, dan informasi nomor telepon darurat. Sedangkan untuk keamanan setiap stasiun paling tidak menyediakan informasi nomor telepon darurat dan petugas pengamanan sedangkan kamera CCTV hanya ada di stasiun sedang dan besar.

- Fasilitas penyandang disabilitas. Menggunakan kereta juga nyaman untuk penyandang disabilitas maupun yang menggunakan kereta dorong karen ada ramp dengan kemiringan 20° dan akses jalan penyambung antar peron. Sedangkan lift atau eskalator disediakan untuk stasiun yang jumlah lantainya bertingkat.

Stasiun Wonokromo (Sumber Google Map)

- Fasilitas kesehatan. Setiap stasiun harus memiliki P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan), tandu dan kursi roda. 

- Dalam perjalanan. Saya senang sekarang menggunakan kereta antar kota karena tidak ada lagi penumpang-penumpang berdiri pada kereta jarak jauh. Saya tidak perlu berdesak-desakan dengan mereka di kereta. Saya tidak kesulitan lagi pergi ke kamar mandi karena harus melewati penumpang berdiri. Apalagi saya membawa anak maka kenyamanan itu menjadi prioritas. Di setiap gerbong kereta juga sudah disediakan kursi prioritas yang berhak ditukar oleh orang hamil, balita, lansia dan penyandang disabilitas.

Selain itu, jika dulu sirkulasi udara pada kereta kelas ekonomi hanya jendela yang terbuka sehingga angin sepoi-sepoi bisa masuk ke gerbong, sekarang setiap gerbong dilengkapi dengan tiga unit AC. Kadang saya kedinginan, kadang kepanasan. Kalau kepanasan kita bisa minta tolong petugas kereta untuk menurunkan suhu agar dingin. Hanya saja untuk toilet saya merasa perlu menjadi perhatian lagi agar tidak menimbulkan bau yang kurang sedap.

Nah, Kemenhub juga membagikan apa saja yang perlu diperhatikan demi keselamatan saat menggunakan kereta api. Coba simak ya!





Kemenhub juga memberikan tips saat menaiki kereta api. Simak ya!



Oiya, saya juga baru tahu kalau ada tarif reduksi bagi lanjut usia kalau memesan tiket melalui KAI Access. Dan ini termasuk capaian terbaru untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat Indonesia yang ingin menggunakan jasa kereta api. 

Selain regulasi tentang Standar Pelayanan Minimal tersebut, masih ada regulasi lain terkait perkeretaapian yaitu:

PM 47 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api

PM 48 tahun 2014 tentang Tata Cara Pemuatan, Penyusunan, Pengangkutan dan Pembongkaran Barang dengan Kereta Api

PM 121 tahun 2017 tentang Lalu Lintas Kereta Api

PM 69 tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian

PM 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang Antara Jalur Kereta Api dengan Jalan


Saya harap untuk tahun selanjutnya pelayanan kereta api semakin baik lagi sehingga tidak kalah dengan pelayanan kereta api kelas dunia di negara lainnya.

Yuk, follow media sosialnya Kemenhub:

Twitter : Kemenhub151
Facebook : Kemenhub151
Instagram: Kemenhub151


Website Kementerian Perhubungan yaitu http://dephub.go.id/ atau klik Kemenhub



Salam Selamat, Aman, dan Nyaman! Ciaoo!


Referensi:
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2018. Capaian 4 tahun Pembangunan Infrastruktur Transportasi. Majalah Transmedia Edisi 08/2018.

Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesi Nomor : PM 47 Tahun 2014 Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api 

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2016. Merangkai Menyatukan Indonesia: Capaian 2015 dan Agenda Strategis 2016. Jakarta : Kemenhub.

Read More
Setelah diumumkan lolos seleksi emerging writer Ubud Writers and Readers Festival 2019, salah satu festival literasi yang mengundang beberapa penulis asing, email terus berdatangan, paling sering dari Mbak Sarrah Monessa selaku koordinator program, untuk persiapan menuju festival tersebut yang masih 3,5 bulan lagi sejak pengumuman. Email dari Mbak Sarrah ini masih berbahasa Indonesia.

Pertama tentang persetujuan cerita saya yang berjudul Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan dalam antologi dan dijual saat festival.

Saya juga diminta menjawab pertanyaan untuk dipublish di web UWRF. Baca selengkapnya disini.

Setelah itu, saya diminta profil bio penulis dan diminta mengisi form penulis termasuk kemampuan apa yang bisa diberikan untuk audiens. Awalnya saya ingin mengisi teater dan menari tradisional, tapi saya pikir-pikir, itu kemampuan yang sudah lama tidak saya asah lagi. Dan pasti cukup ribet kalau saya harus menari tradisional. Haha.

Akhirnya saya tidak memilih ituu. Hanya mengisi form workshop tentang menulis cerpen untuk anak-anak. Yang akhirnya kemudian saya diminta oleh Mas Gustra untuk mengisi sesi workshop menulis pada Youth and Children Program. Program ini juga bilingual dan penerjemahnya disediakan panitia. Saya pun mengisi detail tentang acara tersebut. Saat itu email dikirim akhir Juli. Dan sekarang materi saya untuk workshop belum fix. Wkwkwk. The Power of Kepepet.

Terus Mbak Sarrah mengirimkan dokumen persetujuan yang isinya tentang biaya yang ditanggung pihak UWRF juga book launch. Nah, saya mulai galau, apakah mengajak anak saya dua-duanya atau cuma satu saja. Karena yang paling kecil masih menyusui jadi mau tidak mau saya harus bawa. Sayangnya, panitia khawatir akan mengganggu jalannya acara kalau saya membawa anak bayi masuk ke dalam sesi panel. Otomatis saya harus mengajak suami atau keluarga saya.

Nah, setelah itu Mas Reindy menghubungi saya untuk pembelian tiket. Padahal saya masih galau harus mengajak siapa. Apalagi, mereka membelikan saya tiket, dan tidak bisa membeli bersama bayi saya meski saya mau menggantikan uang tapi mereka tidak terima sistem reimburse. Orang tua saya ditanyain juga masih bingung apa bisa ikut dua-duanya ke Bali.

Setelah pertimbangan yang panjang dengan suami dan cukup lama, akhirnya suami dan anak-anak saya ikut serta saat festival nanti. Saya pun dipesankan tiket oleh Mas Reindy di tanggal dan jam tertentu. Kemudian saya membeli tiket untuk suami dan dua anak saya dengan jadwal yang sama.

Setelah tiket terbeli dan belum ada email lagi dari UWRF. Beberapa minggu tepatnya awal bulan Oktober, kemudian saya mendapat email dari Mbak Wening yang memperkenalkan salah satu supporter festival bernama Peter dalam bahasa inggris. Dan saya pun menjawabnya dengan bahasa inggris yang kurang begitu yakin apakah cara saya benar atau tidak hehe.
Beberapa hari kemudian saya mendapat email dari Alexis, yang saya menduganya dia berasal dari Rusia karena nama terakhirnya. Ia memberitahukan bahwa saya dan 4 teman emerging writers lainnya akan mengikuti workshop yang akan diselenggarakan tanggal 23 Oktober 2019. Pematerinya diisi oleh Mirandi Riwoe (Penulis Australia) dan Chyntia Dewi Oka (Penulis yang sekarang tinggal di USA).

Beberapa hari kemudian Mbak Sarrah mengirimkan email lagi tentang persiapan saat mengisi sesi Children's and Youth Program. Saya mendapat panduan selama acara di sana. Saat saya tiba di Bali yag akan dijemput oleh panitia, menuju Ubud dengan kendaraan yag disediakan panitia, lokasi menginap saya. Di UWRF ini memang banyak sekali acaranya. Namun saya hanya wajib mengikuti beberapa sesi seperti workshop, book launch, dan The Hijab Files. Festival nantinya ada di tempat Neka Museum, Indus Restaurant, Taman Baca, dan Joglo @ Taman Baca. Lokasinya saya lihat agak berjauhan dan otomatis saya perlu kendaraan untuk ke lokasi itu.
Di email itu juga saya memberitahukan kalau saya membutuhkan LCD, projector dan laptop. Yes, saya masih belum pro untuk ngisi workshop tanpa alat itu. Hehe.

Dan saya juga diperkenalkan dengan Mbak Wulan Dewi selaku selaku Writer Liaison (WL) yang akan membantu mengingatkan jadwal saya selama festival berlangsung nanti. WL adalah sukarelawan yang dengan senang hati membantu kelancaran festival.

Dan email yang menurut saya agak berat adalah dari Maryam, penulis beragama muslim dari Australia. Karena dia akan menjadi moderator pada acara Hijab Files, jadi ia mengirimkan beberapa pertanyaan untuk acara itu dan saya harus menjawabnya dalam bahasa Inggris meski pakai bantuan gugel biar cepet yang kemudian saya edit lagi. Wkwk. Ketahuan kannn.
Beberapa hari kemudian saya mendapat email lagi dari beliau daaann pertanyaannya lebih kompleks tentang hijab. Intinya sih apa pengaruhnya hijab yang kita pakai dengan tulisan kita. Lumayan saya harus mencuci otak. Eh, memutar otak.

H-4 ternyata saya mulai deg-degan. Bagaimana tidak? Materi saya buat workshop anak-anak belum matang. The power of kepepet sih. Pertanyaan2 tentang Hijab Files belum terjawab. Dan tanggungan tulisan lainnya juga belum selesai. Sementara kalau siang, saya susah konsentrasi karena lebih fokus pada anak-anak.

Nah! Yang jadi malah blog ini. Wkwkwk. Mumpung yang kecil lagi tidur dan si kakak minta nonton. Untuk cerita hari pertama UWRF bisa dibaca di blog saya berjudul Hari Pertama Mengikuti UWRF 2019.

Read More

Follower