Literasi Baca Tulis
Literasi Baca Tulis (eliterasi.blogspot.com)

Literasi baca-tulis adalah Literasi dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kemampuan individu untuk bisa membaca dan menulis adalah penting di era digital ini. Tidak hanya mampu membaca dan menulis juga, tetapi juga memahami apa maksud dari sebuah bacaan dan tulisan.

Literasi baca-tulis inilah sebagai bentuk terwujudnya awal kesuksesan suatu bangsa. Bayangkan jika warganya tidak memiliki kemampuan dalam Literasi baca-tulis sepertI pada jaman penjajahan. Kita dijajah terus menerus. Eh, tapi meski sekarang juga masih 'dijajah' ya. Ups. Maksud saya, kita benar-benar tidak dibodohi seperti kita biasa mem bodoh anak kecil yang belum tahu baca dan tulis. #duehpengalaman

Kapan mengajarkan Literasi Baca-tulis?

Kira -kira kapan tepatnya diajarkan baca-Tulis untuk anak? Saya sendiri tidak punya patokan kapan anak saya diajarkan baca tulis. Yang penting lihat kesiapan mental anaknya.

Paling-paling saya mengajarkan huruf masing  A-C dan angka 0-5 pada anak saya yang berumur 4 tahun. Sedangkan huruf dan angka arab masih perlahan. Itupun dia sukanya main-main.
Ya udahlah.  beberapa anak seumuran anak saya memang sudah bisa baca tulis, namun, saya buat santai saja. Saya khawatir terlalu memaksakan akan membuat dia trauma dan justru tidak mau belajar.

Membacakan Buku sambil Belajar Abjad

Saat usianya masih dua tahun, saya hanya membacakan cerita saja. Namun, sekarang ketika akan berusia empat tahun, saya sudah mulai menunjukkan beberapa huruf padanya. Saya tidak punya target khusus agar anak bisa hapal 26 abjad di usia PAUD. Saya hanya mempermudah diri saya sendiri untuk mengajarkannya membaca dan menulis abjad saat sekolah. Kalau misal sekarang saat sekolah dasar harus bisa menulis dan membaca abjad maka saya harus sedikit bekerja keras mengajarkan anak saya membaca abjad dan menulis.

Belajar sambil bermain

Saya mencoba menerapkan prinsip belajar sambil bermain. jadi saat sedang bermain, saya mencoba menanyakan huruf dan angka yang tertera pada mainnya. Dengan begitu,  dia akan lebih suka belajar.

Saya jadi teringat masa kecil saya saat diajarkan baca tulis oleh orang tua saya. mungkin beberapa dari teman pernah merasakan hal serupa. Diajarkan oleh ayahnya dengan KERAS?  Duduk di depan ayah dan mulai mengikuti arahan dari ayah untuk membaca setiap huruf dan angka. Jika tidak bisa, maka bentakan akan muncul. Atau pukulan kecil- yang seringkali terlihat besar saat kita masih kecil- sering dilayangkan.  Well, itu sebenarnya membuat saya sedikit takut sama bapak sendiri. wkwkwk.
Kadang setelah saya mengenalkan padanya beberapa huruf dan angka, dia selalu menunjuk angka dan huruf yang dia temui di jalan. Meski dia belum bisa membedakan mana angka dan mana huruf, setidaknya dia sudah tahu bahwa di sekelilingnya dia banyak sekali abjad dan angka yang bisa dibaca.

Nah, saAt saya melihat apa yang dia tunjuk, maka saya menanyakan huruf apa atau angka berapa? Kadang dia bisa benar menjawab, kadang dia juga salah. Karena saya baru mengenalkan dia angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan huruf A, B, C.

Belajar memegang pulpen

Sebenarnya latihan memegang pulpen ini sudah saya ajarkan sejak usianya hampir dua tahun. Awal - awal memang sangat kaku. Namun, lama-lama dia akan terbiasa meski sekarang kadang masih salah.

Setelah dia mulai terbiasa memegang pulpen, maka sesekali saya ajarkan dia membuat garis lurus, melengkung, zigzag. Tujuannya biar mempermudah anak saya untuk menulis angka dan huruf. Setelah itu, baru saya ajarkan dia menulis angka 1, 2 dan 3. Sedangkan menulis huruf belum saya ajarkan. Saya tidak ingin menjadi semuanya takut dia kebingungan. wkwkwk. Mungkin juga teori saya salah.

#WritingChallenge #FLPJatim

Read More
"Kamu ikut tidak ke ruang bawah tanah?" ajak seorang teman saat kami berkunjung ke sebuah warisan cagar budaya di tengah Kota Semarang.

Bangunannya yang besar dan dikenal sebagai tempat pembantaian pada jaman kependudukan Jepang itu cukup membuat saya agak merinding saat teman menawarkan masuk ke terowongan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat pembantaian pribumi dan orang Belanda.


Lawang Sewu
Lawang Sewu (Sumber : IDN Times)

Kesan Melihat Lawang Sewu

Entah mengapa kesan yang terlihat dari bangunan tua itu adalah menyeramkan padahal kemegahannya cukup membuat siapa pun berdecak kagum saat melihat bangunan itu. Mungkin karena sudah terlanjur banyak cerita 'menarik' saat pengunjung datang ke bangunan dengan pintu yang konon katanya mencapai seribu itu - hingga disebut sebagai Lawang Sewu atau pintu seribu-. Mungkin juga karena pengalaman orang yang melihat penampakan dipertontonkan pada salah satu acara stasiun televisi.

Lawang Sewu
Lawang Sewu (heritage.kai.id)

Dari atas, saya melihat terowongan yang gelap melalui pintu masuk yang turun ke bawah. Sambil menelan ludah, saya membayangkan apa yang di dalam. Antara percaya dan tidak percaya akan cerita-cerita tersebut, saya pun menerima tawaran teman saya. 

Setelah membayar tiket masuk ke ruang bawah tanah - Saya lupa harganya berapa. Sepertinya antara 10.000 hingga 25.000 -, kami pun memakai sepatu boot dan membawa senter. 

Seorang pemandu berjalan di depan kami dan mempersilakan kami masuk ke dalam terowongan. Gemericik air sudah terdengar saat saya menuruni tangga. Mata saya mulai beradaptasi dengan terowongan gelap yang hanya disinari senter. Bau pengap cukup menyesakkan dada.

Pemandu sudah memperingatkan kami dengan jalan yang licin sehingga kami perlu berhati-hati. Pemandu bercerita tentang sejarah terowongan bawah tanah dulu. 

Yang masih saya ingat apa yang diceritakan oleh pemandu itu adalah bahwa pada jaman pendudukan Belanda, terowongan tersebut untuk tempat saluran air. Apalagi Semarang kan rawan banjir rob sejak jaman dulu jadi memang diperuntukkan untuk itu. Dan Lawang Sewu memang digunakan untuk kantor perkeretaapian. 

Kemudian saat Jepang datang, terowongan bawah tanah ini digunakan sebagai tempat penjara untuk para pribumi dan orang Belanda. Mereka dibiarkan berdiri di penjara berdiri berdesak-desakan sampai tidak bisa bergerak dan ditutup teralis. Bahkan dengan kondisi banyak air. Pemandu menunjukkan sebuah penjara berdiri yang ukurannya hanya sekitar 1 X 2 meter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya para terhukum di ruangan menyesakkan itu. 

Terowongan itu sepanjang hampir satu kilometer membuat saya hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Entah kenapa saya merasa ingin menangis. Rasa sesak yang saya rasakan membuat saya ingin kembali ke pintu masuk. Namun, itu tidak mungkin. Jadi saya terus bertanya kepada pemandu kapan sampai. Saya tak sabar ingin segera mengakhiri perjalanan terowongan yang hanya berisi pipa, air, tembok, dan penjara.

Akhirnya, tiba juga saya dan teman saya di ujung terowongan itu. Saya dan teman-teman lega sekali karena sudah sampai. Setelah mengucapkan terima kasih dan melepas boot, kami pun berkeliling dan berfoto-foto di Lawang sewu.

Saya sangat terkesan dengan bangunan peninggalan Belanda yang didesain dengan sangat komprehensif. Mulai dari ketinggian bangunan (jarak antara lantai dan atap) sehingga membuat sirkulasi udara yang membuat tidak terlalu panas meski berada di daerah tropis. Jendela dan pintu dibuat tinggi. 

Lawang Sewu


Di jaman itu,  bahan-bahan untuk membangun Lawang Sewu pada bangunan pertama menggunakan bahan yang diimpor dari Belanda. Kemudian bangunan selanjutnya menggunakan bahan lokal karena kesulitan mengimpor bahan dari Belanda. 

Bangunan ini katanya juga tidak menggunakan semen, tapi adonan bligor (campuran pasir, kapur, dan batu bata merah). Katanya bligor ini membuat bangunan tidak mengalami retak, lebih awet dan mudah menyerap air sehingga ruangan terasa sejuk. Konstruksi pada atap juga tanpa besi sehingga beban tidak terlalu berat.

Belum lagi di ruang utama ada kaca patri setinggi dua meter dengan simbol kota dagang Belanda, gambar Ratu Belanda, Dewi Fortuna, Dewi Sri, Tanaman dan hewan yang merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pembangunan Lawang Sewu pada jaman itu.


Fungsi bangunan Lawang Sewu berubah dari waktu ke waktu. Pertama, digunakan untuk kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau kantor administrasi perkeretaapian. Kedua, saat pendudukan Jepang, Lawang sewu digunakan untuk kantor militer Jepang. Ketiga, setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Keempat, gedung Ini dijadikan Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro). Kelima, gedung ini digunakan untuk Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. 

Setelah itu, gedungnya tidak digunakan sampai sekarang. Waktu saya kuliah di Semarang, saya mendengar isu kalau gedung ini mau digunakan untuk hotel. Namun, rupanya rencana itu tidak berhasil.

Sampai saat ini, setidaknya ketika saya melanjutkan kuliah S2 di Undip tahun 2011, Lawang Sewu masih dimanfaatkan untuk pariwisata saja. Belum dimanfaatkan untuk bisnis. 

Tidak hanya pada bangunan Lawang Sewu saja, bangunan bersejarah lain di Semarang atau pun di kota-kota lainnya juga mengalami permasalahan yang serupa. Belum banyak bangunan cagar budaya itu dimanfaatkan dengan baik.

Banyak faktor penghambat dalam pengelolaan bangunan cagar budaya baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri seperti:

- biaya yang besar dalam merawat dan melestarikan bangunan. Memang sebagian besar dilema akan kehadiran bangunan cagar budaya Indonesia. Bahan-bahan berkualitas yang digunakan sejak membangun bangunan itu membuat perawatannya juga membutuhkan biaya yang cukup besar pula. 

- kurangnya kesadaran dari berbagai pihak untuk melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya.

- masih banyak yang menganggap bahwa bangunan cagar budaya itu kurang menguntungkan dari segi bisnis.

- pajak yang besar jika ingin mengelola bangunan cagar budaya. 
Padahal bangunan bersejarah itu bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan instagramable. Coba perhatikan foto-foto bangunan tua yang ada di luar negeri, bangunan-bangunanya itu menjadi ikon kota mereka. Sama seperti Lawang Sewu yang menjadi ikon kota semarang. 

Tidak hanya untuk berfoto, bangunan tua Lawang Sewu sebagai bukti bahwa dulu pernah terdapat perjuangan yang besar untuk merebut kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Harusnya kita cukup berbangga hati karena memiliki bangunan kokoh peninggalan jaman Belanda diantara bangunan - bangunan tua yang sudah hancur termakan usia.

Bagaimana kalau sampai Lawang Sewu ini tidak terawat dan hancur musnah serta tidak dibangun lagi. Pasti banyak yang bersedih hati karena merasa kehilangan Ikon utama kota Semarang yang fenomena itu. Makanya Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah.

Alasan Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya adalah:

1. Usianya sudah 1 abad lebih. Sedangkan menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kriteria bangunan cagar budaya adalah usianya lebih dari 50 tahun.

2. Menyimpan nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa bangunan tersebut sebagai saksi sejarah dalam perebutan kekuasaan dan saksi pembantaian para pejuang bangsa Indonesia.

Jika bangunan cagar budaya tersebut musnah atau kehilangan sebagian besar unsur atau kehilangan bentuk dan wujud aslinya, maka bangunan itu tidak lagi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. 

Makanya sebagai masyarakat yang ikut menikmati kehadiran bangunan bersejarah itu harusnya ikut serta menjadi bagian dalam pelestarian bangunan bersejarah Lawang Sewu. 

Masyarakat yang dimaksud tidak hanya sebagai pengunjung bangunan bersejarah tapi juga pemilik bangunan bersejarah dimanapun berada.

Saya memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat untuk upaya pelestarian cagar budaya. Tidak hanya Lawang Sewu saja tetapi juga untuk cagar budaya secara umum. 

Upaya Pelestarian Bangunan Bersejarah



Upaya - Upaya pelestarian bangunan bersejarah atau cagar budaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah :

1. Menjadi bagian dari komunitas masyarakat peduli sejarah. Sudah banyak komunitas yang cinta sejarah yang sangat peduli dengan segala hal yang terkait dengan sejarah maupun bangunan bersejarah. Adanya komunitas ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap bangunan bersejarah sekaligus sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat umum baik pemilik maupun pengunjung. 

2. Melakukan kampanye peduli bangunan bersejarah. Kampanye ini bisa dilakukan oleh komunitas peduli bangunan bersejarah maupun dari masyarakat umum. Di era teknologi ini media sosial adalah media yang tepat untuk kampanye peduli bangunan bersejarah. 

3. Memberi fungsi yang baru atau memanfaatkan bangunan bersejarah dengan aktivitas sosial budaya dan pariwisata. Agar tidak terlihat mati tanpa aktivitas, maka masyarakat bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya Lawang Sewu maupun bangunan bersejarah lainnya untuk melaksanakan kegiatan festival budaya, literasi atau pameran. Asalkan saat penambahan fasilitas tidak menyalahi aturan konservasi dan tidak merusak unsur bangunannya. Dengan adanya revitalisasi bangunan bersejarah maka diharapkan bangunan akan terus hidup. Tentunya dengan diselenggarakannya festival di bangunan bersejarah bisa membantu perekonomian masyarakat maupun untuk membantu pemasukan pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut.

4. Memanfaatkan untuk pengembangan aspek ekonomi atau sebagai lahan bisnis. Di beberapa tempat, bangunan bersejarah sudah dimanfaatkan untuk lahan bisnis, seperti hotel, Cafe maupun restoran. Masyarakat umum yang memang seorang pebisnis bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya ini untuk usaha mereka. Apalagi jika ditambah spot - spot untuk berfoto dimana hal tersebut bisa menjadi daya tarik pengunjung.

5. Mengikuti festival budaya atau pameran yang ada di bangunan cagar budaya. Dengan mengikuti festival atau acara yang dilakukan di area bangunan bersejarah maka secara tidak langsung kita menghidupkan suasana bangunan bersejarah tersebut agar tidak terlihat mati. Selain itu, pemasukan dari festival itu bisa menyokong untuk upaya pelestarian cagar budaya.

6. Menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini adalah upaya yang tidak sulit untuk dilakukan. Jangan membuang sampah atau mengotori bangunan bersejarah yang dikunjungi. Tanpa mengotorinya maka kita sudah berkontribusi dalam merawat bangunan bersejarah tersebut agar bertahan lebih lama.

7. Tidak merusak bagian dari bangunan cagar budaya. Kita tahu sendiri merestorasi bangunan bersejarah itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jika masyarakat tidak peduli dan suka merusak bagian bangunan cagar budaya, itu sama saja membiarkan bangunan cagar budaya musnah sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi ikon kebanggaan kota.

8. Tidak mencuri barang-barang peninggalan cagar budaya. Mungkin kita tidak mungkin melakukan itu, tapi ada saja loh yang berniat mencuri barang-barang bersejarah itu untuk dijual demi mendapatkan uang lebih. Bahkan di Lawang Sewu ada bagian dari bangunan yang dicuri. Apakah kalian bangga memiliki salah satu unsur bangunan bersejarah yang ternyata dilarang oleh pemerintah? Pencuri itu harusnya mendapat hukuman sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2011.

9. Tidak melakukan vandalisme. Meski saya yakin, pembaca blog saya adalah pengunjung bangunan cagar budaya yang taat peraturan.  Namun, saya sangat mengutuk siapa pun yang melakukan aksi vandalisme. Tahukah bahwa vandalisme Itu mengakibatkan kerusakan unsur-unsur bangunan cagar budaya. Bagaimana jika rumah kalian rusak karena perbuatan vandalisme yang orang lain lakukan? Pasti marah, kan? Sama lah seperti bangunan cagar budaya.

10. Mematuhi peraturan saat berkunjung ke tempat cagar budaya. Setiap bangunan cagar budaya akan berbeda-beda peraturannya. Maka usahakan membaca peraturan sebelum atau saat mengunjungi bangunan cagar budaya. Biasanya akan ada larangan memegang benda-benda bersejarah yang dipamerkan karena sentuhan tangan pengunjung bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan benda bersejarah tersebut.

Jadi, jangan pernah menyepelekan segala aturan yang ditetapkan dalam bangunan cagar budaya karena semua sudah ada alasannya. Pastinya merawat bangunan tua itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang besar. Kita sebagai masyarakat harus menjaga, melindungi, merawat dan melestarikan bangunan bersejarah di tempat kita masing-masing. Caranya gampang sekali, kan? 

Terus manfaatnya apa melestarikan bangunan bersejarah? 

Pertama, bisa menambah lapangan pekerjaan. Bangunan bersejarah yang dimanfaatkan untuk pariwisata tentu akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Tentu saja itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Para pemandu, penjual kerajinan tangan, souvenir, penjual makanan, tukang parkir, dan lain-lain. Kalian mau kan membantu masyarakat lain agar keadaan ekonomi meningkat?

Kedua,  mengurangi beban anggaran pemerintah. Jelas, jika masyarakat banyak yang berkunjung ke tempat wisata bangunan bersejarah akan mengurangi beban anggaran pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut karena adanya tiket masuk. Asalkan tidak merusak ya.

Ketiga, menciptakan sarana - sarana baru. Lawang Sewu sebagai ikon kota semarang sangat menarik wisatawan yang datang ke Semarang. Dengan begitu, fasilitas rumah makan, perdagangan dan penginapan akan berkembang juga. Coba kalau tidak ada Lawang Sewu, pasti Semarang jadi sepi. Makanya kita sebagai masyarakat harus melestarikan bangunan cagar budaya.

Ternyata betapa besar ya manfaat yang diberikan kalau kita sebagai masyarakat melestarikan bangunan bersejarah atau bangunan cagar budaya Indonesia. Semua yang kita lakukan ternyata berdampak juga secara langsung maupun tidak langsung untuk kita. Sesuai lah jika saya menyebutnya :

Pelestarian Cagar Budaya itu Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita

Maka jangan pernah menyepelekan pelestarian cagar budaya Indonesia. Semua ada timbal baliknya.


Selamat menjaga,  melindungi, dan merawat cagar budaya Indonesia.


Ayo, teman-teman ikut partisipasi lomba Blog "Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!"

Lomba Blog Cagar Budaya

REFERENSI :
BBC. 2015. Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang? http.s://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150805_majalah_cagarbudaya_semarang

Galikano, Silvia. 2015. Menyingkap Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151119195551-269-92834/menyingkap-kecerdasan-arsitektur-lawang-sewu

Minarti, Ria Ari & Sumiyatun. 2016. PERAN DINAS PARIWISATA KOTA SEMARANG DALAM UPAYA MELESTARIKAN GEDUNG LAWANG SEWU SEBAGAI OBJEK WISATA PENINGGALAN BELANDA DI KOTA SEMARANG JAWA TENGAH TAHUN 2011 – 2014. Jurnal HISTORIA Volume 4, Nomor 1, Tahun 2016, ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728).

Zulfikar, M. 2013. Dedy Gumelar: Pelestarian Cagar Budaya Banyak Manfaatnya. https://m.tribunnews.com/nasional/2013/06/14/dedy-gumelar-pelestarian-cagar-budaya-banyak-manfaatnya

Read More
Saya baru membaca sebuah artikel tentang Ranger di Pulau Komodo. Namanya mengingatkan saya pada Power rangers. Bukan. Bukan itu. Ranger disini maksudnya para pawang komodo. Saya membaca kehidupan pawang komodo ini tidak gampang. Mereka menjadi pemandu bagi wisatawan yang datang ke Pulau Komodo. Biasanya Ranger ini adalah masyarakat asli yang ada di pulau itu. Jadi mereka terbiasa sejak lahir melihat Komodo. Menjadi Ranger pun tidak ada pelatihannya. Ilmu menjadi pawang komodo diberikan secara turun temurun dari kakek nenek mereka.

Ranger akan meminta wisatawan untuk menjaga jarak dengan hewan karnivora ini. Jika dia menyerang kita, maka gigitannya yang besar itu akan bisa membuat tubuh kita kehilangan banyak darah. Tapi siapa yang tidak penasaran Ingin melihat hewan yang panjangnya tiga meter ini? Kesempatan bisa pergi ke Labuan Bajo maka seharusnya juga mengunjungi pulau Komodo ini.

Apa saja yang bisa kita lakukan di Pulau Komodo?

1. Melihat Komodo yang menjadi daya tarik para turis mancanegara untuk datang ke pulau ini. Tahu sendiri kan kalau komodo ini merupakan hewan langka dan sudah sangat tua. Jadi memang tidak banyak negara yang memiliki hewan ini.

2. Melihat sunset dan sunrise di spot tertentu. Keindahan pulau ini tidak hanya terletak pada pantai dan kontra berbukit-bukIt tapi juga keindahan yang ditawarkan sehingga bisa melihat matahari terbenam dan matahari terbit di pulau tersebut.

3. Melihat satwa liar lainnya. Kehidupan di Pulau komodo tidak hanya mendukung kehidupan komodo saja tapi juga satwa liar lainnya. Wisatawan bisa melihat kerbau super besar.

Nah, kalau kita mau pergi ke Pulau Komodo ini bisa dengan mandiri atau dengan agen tur. Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Alhamdulillah saya pernah melakukan traveling secara mandiri maupun pakai agen tour.

Jika ditanya, suka mana? Saya bingung mau menjawab apa karena menurut saya semua ada kelebihan dan kekurangannya.


Travelling secara mandiri

Menurut saya traveling secara mandiri ini kita bisa menyesuaikan waktu dan tempat yang kita inginkan. Selain itu interaksi dengan masyarakat lokal lebih intens karena saat kita tidak tahu jalan, tersesat, maka kita harus tanya dengan orang lokal. Yang pasti, lebih banyak mikirnya. hehe. Susahnya, kadang kita bisa saja dimanfaatkan orang lokal karena ketidaktahuan kita. Makanya kita harus lebih berhati-hati saat melakukan traveling secara mandiri.

Traveling melalui agen tur

Bukan berarti ikut agen tur juga tidak perlu berhati-hati, traveling dengan agen tur juga harus berhati-hati dalam hal barang bawaan bukan pungutan liar. Saya baru tahu kalau mereka punya jaringan yang kuat. Biasanya mereka sudah banyak kerjasama dengan tempat-tempat wisata. Kepuasan dengan agen tur juga tergantung pilih agen tur yang mana ya. Saya pernah pakai agen tur ke Bali, sebenarnya mereka bisa berangkat on time,  hanya saja waktu itu menunggu beberapa orang yang akhirnya membuat keberangkatan pun molor. Itinerary pun sudah disusun sesuai jadwal. Jadi kita tidak perlu pusing - pusing lagi cari kendaraan menuju ke tempat wisata karena sudah diatur sama agen tur. Orang lokal pun Jadi tidak macam-macam sama kita. Alias jika ingin menghindari pungutan liar di tempat wisata ya pakai agen tur saja.

Mandiri atau Agen Tour?

Kembali Kembali lagi pertanyaannya. Kalau melihat lokasi masih asing dan jauh dari perkotaan mungkin alangkah baiknya kalau menggunakan agen tur. Biasanya agen tur sudah tahu transportasi yang digunakan, lokasi tempat wisata, tempat makan, tempat menginap , penjual oleh-oleh. Dan ini memudahkan kita. Biasanya juga agen tur sudah punya paket wisata yang harganya lebih murah dIbanding kalau kita traveling Mandiri. Karena di beberapa lokasi wisata, biasanya ada sharing cost begitu, misal saat menyewa perahu yang ada minimal penumpangnya sehingga harganya bisa lebih murah. Kalau pakai agen tur, kita tidak perlu pusing lagi cari orang untuk sharing cost.

Kalau kalian mau pilih agen tur, salah satu alternatif adalah menggunakan agen tur Blibli tur. Di Blibli ini ada paket wisata pulau Komodo yang beraneka macam. Blibli menawarkan paket wisata pulau Komodo yang berbeda jumlah hari dan fasilitasnya.


Kenapa harus beli paket tur wisata di Blibli? 


1. Satu-satunya toko online yang jual paket tur. Blibli memang punya Brand agen tur sendiri bernama Blibli Tur yang menyediakan jasa paket wisata pulau Komodo dan wisata lainnya. Tak hanya itu, brand yang menjual paket wisata pulau Komodo di Blibli juga banyak dengan harga berbeda karena jumlah hari berbeda dan fasilitas juga berbeda. Untuk khusus brand Blibli Tour sendiri yang ada gambarnya Blibli di samping tulisannya.

2. Harga terjangkau. Hal ini karena di Blibli biasanya ada promo menarik yang membuat harga paket turnya lebih murah.

3. Rewards. Setiap kita belanja di Blibli maka kita akan mendapatkan rewards. Nah, rewards ini bisa ditukarkan saat kita berbelanja di Blibli selanjutnya.

4. Bisa cicilan. Bagi yang sudah ingin sekali liburan tapi belum ada dana, maka bisa mengikuti program cicilan ini tanpa harus pakai kartu kredit. Pasti pada mikir bunga ya? cicilan cuma 0%. Untuk syarat dan ketentuan ini bisa dilihat di setiap paket wisata ya.

Hanya saja, untuk meeting dan ending point nya biasanya langsung di bandara. Jadi, tiket pesawat kita yang beli sendiri. Karena bisa saja setiap individu senang dengan maskapai tertentu. Selamat berlibur!

Read More
Malam-malam tiba di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, Bali, rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur. Meski sudah jam 9 malam, tapi sepanjang jalan Monkey Forest para bule masih berjalan kaki di sepanjang trotoar dan masih banyak yang menikmati sajian di resto yang sudah mengalami akulturasi Asia dan Eropa. Bahkan beberapa pasangan terlihat saling cium di tempat umum. OH! Saya merasa tidak sedang di Indonesia.

Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali
Don't judge a hotel by its cover haha

Welcome to Yulia Inn, Ubud, Bali

Saya segera ke resepsionis dan menanyakan kamar atas nama saya dan dari UWRF. Namun sayang seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya, nama saya tidak ada. Betapa kaget nya. Wajah saya berubah jadi bingung, lelah dan amarah. Masnya sempat agak gimana begitu. Saya cek panduan saat tiba di Ubud yang dikirim oleh Mbak Sarah.  Memang untuk check in bisa dimulai tanggal 22 Oktober malam. Saya pun memberitahukan kepada pihak hotel. Sembari mereka mengecek, pegawai lain memberi welcome drink seperti es teh ditambah lemon. Segar. Sesekali ada bule yang mematikan jadwal check in mereka.

Akhirnya saya diperbolehkan check in juga setelah mereka cek dan konfirmasi bahwa Itu kesalahan mereka karena waktu itu memang sedang perbaikan sistem. Jadi, alhamdulillah.


Baca juga : Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai)



Menu Makanan Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali

Sebelum mengantar saya ke kamar, Mas Resepsionis memberi saya selembar menu untuk sarapan pagi besok. Aturannya, jika ingin sarapan besok pagi maka satu hari sebelumnya harus sudah memesan menu makanannya. Maksimal jam 9 malam. namun, karena saya baru datang (lebih dari jam 9 malam) maka saya tetap diperbolehkan booking menu dulu.

Menunya dalam bahasa inggris jadi saya peru mem bayangkan apa saja makanan-makanan itu. Ada bacon, nasi goreng, mie goreng, pancake, omelet. Saya pilih nasi goreng saja dua dan jus jeruk meski saya tidak yakin saya suka dengan jeruk nya apa nggak.

Pegawai resepsionis mem bantu membawakan koper kami, sementara anak saya yang pertama minta gendong saya karena sudah ngantuk berat. Jadinya si kecil digendong ayahnya.

Kami melewati parkir hotel yang cukup luas.

Tempat Parkir Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Kemudian melewati Gapura kecil khas Bali.

Kami melewati taman yang remanh - remang karena lampu taman yang tidak cukup terang. Melewati kolam renang dan tiga kamar dalam satu bangunan atau dua kamar dalam satu bangunan. Antara bangunan dipisah oleh taman dan jalan. Apa ya namanya? bungalow?

Depan Kamar Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Kamar Yulia Inn yang Nyaman


Pegawai hotel membukakan pintu dan masuk ke kamar.. Melihat kamarnya saya merasa hommy.  Yes, saya dan keluar harus merasa hommy karena di kamar ini saya harus tinggal hingga 5 hari ke depan. lama ya. But, anak-anak suka! Karena kamarnya nyaman. Ada tegasnya juga untuk duduk-duduk. Di dalam kamar, ada tempat tidur double. Untungnya saya sudah bilang pihak panitia kalau saya akan membawa keluarga. Jadi saya dapat kamar dengan tempat tidur double.

Kamar di Yulia Inn, Ubud, Bali

Kamar di Hotel Yulia Inn, Ubud, Bali


Di sebelah tempat tidur ada tempat santai untuk menonton. Seperti kursi sofa tapi saya lihat seperti tempat tidur dengan beberapa guling kecil dan bantal kecil. Hanya saja tidak seempuk springbed. Masnya menjelaskan bahwa di kulkas itu berbayar. Yang gratis hanya coffee and tea, mineral yang di luar kulkas.
Di kamar mandi ada shower , wastafel, kloset, lemari dan hair dryer. Pintunya juga klasik sekali karena terbuat dari kayu jati (sepertinya) dengan ukiran. Kuncinya pun pakai pengunci kayu.

Masnya pun pergi setelah saling mengucapkan terima kasih.

Sarapan di Yulia Inn


Besoknya, kami pun sarapan nasi goreng dan jus jeruk. Saya kira, jus nya akan eneg ternyata segar banget. Saya saja yang nggak doyan jeruk jadi doyan banget sama minuman jus dari hotel itu. Kami juga bisa menikmati roti, teh, kopi, krimer, air putih yang disediakan di meja dilengkapi dengan alat pemanggang roti. Beberapa hari di sana saya rasanya mulai bosan jika makan nasi goreng terus. Akhirnya saya coba saja semua menu kecuali bacon. Ternyata daging bacon bisa diganti sosis ayam. Yang pasti saya memastikan kesalahannya. Ah! saya lupa memotret nya!  Maklum saya sudah terlalu lapar. Di hari yang lain, saya memesan mie goreng. Rasanya Rasanya jugaenak. Hari selanjutnya saya coba pancake. Dan rasanya enak dan lembut. sekitar empat pancake di tumpuk kemudian diberi madu dan gula khas Bali. Di hari lain, saya memesan (saya lupa namanya) kentang puree tapi digoreng ada crispy,  sosis, telor, roti baguette, dan sayuran. Lengkap deh gizinya. Ada menu lain yang belum saya coba yaitu menu cereal.

Restoran Yulia Inn

Untuk masalah jus nya, semuanya ENAK! Saya coba jus semangka, jus jeruk, jus pisang (awalnya saya kebayang enek nya tapi ternyata enaaak), dan jus nanas. Pasti mereka membuat sesuai takaran biar tidak terlalu manis dan enek.

Fasilitas di Yulia Inn


Kolam Renang Hotel Yulia Inn

Fasilitas lain yang ditunggu anak-anak adalah kolam renang. Pagi-pagi kami berenang dan airnya hangat! Saya kira airnya dingin seperti di surabaya. Di dekat kolam renang juga ada kamar mandi dan shower untuk ganti baju tapi rupanya mandi di kamar sendiri lebih enak.

Jangan khawatir lantai basah karena jalan menuju ke kamar memang di luar ruangan. Tidak seperti waktu saya di hotel Ibis Budget Jakarta utara yang kolam renangnya indoor jadi kalau mau ke kamar harus melewati lobby, dan lift. Basah semua deh. Meski enak kalau indoor nggak bakal kehujanan. (eh, kok jadi bandingin begini hehe). Untungnya lagi ada tempat menjemur pakaian. Jadi setelah berenang, baju renang saya jemur dulu di kamar mandi (tempat jemur handuk) setelah airnya tidak menetes saya jemur di teras.

Setiap hari kamar hotel selalu dibersihkan. Seprai dan selimut. Karena pakai AC, anak saya lebih sering pipis dan kadang malah tembus di kasur padahal sudah pakai popok. Jadi saya juga laporan kalau baru saja diompolin anak. Pegawai kebersihan pun akan mengganti sprei kamar.


Baca juga : Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019


Oiya, di hotel ini juga disediakan sewa kendaraan. Saya tanya untuk motor sebesar 80rb rupiah per hari (24 jam). Lumayan juga yah. Pada akhirnya saya menyewa motor dekat tempat acara seharga 70 ribu rupiah saat hari ketiga, dan di akhir acara saya rencana agak terlambat mengembalikan jadi menambah 30 ribu.  Jadi sama aja sih jatuhnya 80ribu. Haha. Menyewa motor menurut saya lebih efisien dari segi waktu dan nggak Begitu capek karena saya beberapa waktu saya membiarkan anak saya di hotel, sedangkan saya mengikuti acara. Dan saya pun harus segera pulang setelah acara selesai.

Sebenarnya saya ada penjemputan dan pengantaran saat sesi saya, tapi menungu dijemput dan diantar juga cukup memakan waktu karena harus antri. Jadi saya memilih menyewa saja biar anak-anak tidak kelamaan menunggu saya.

Memang lokasi hotel ini berada tidak jauh dari pusat kota. Jalan kaki ke tempat makan juga dekat meski kebanyakan yang dijual makanan bule. Ada juga kok yang menjual makanan halal. Kalau biasa jalan kaki sih enak. Kalau tidak biasa mending sewa motor. Makanan halal di Ubud yang sudah pernah saya coba nanti saya tuliskan ya.
 

Read More
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud.

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More

Follower