Beberapa bulan lalu, sebelum ramai virus covid-19, suami ngajak makan ikan di daerah yang (katanya) tak begitu jauh dari rumah. Nyatabya, dari Waru (Sidoarjo) sampai sentral penjualan ikan sekitar 20-30 menit dengan kendaraan roda empat. Sebenarnya suami juga belum pernah ke sana jadi suami hanya menerka-nerka saja dimana tempat jual ikan yang murah. Itu pun hanya berbekal petunjuk dari seorang teman. 

Lokasi Gubuk Latarombo

Katanya, tempatnya jalan terus sampai pertigaan belok kiri, jalan terus sampai ketemu pasar. Nah, kami belum belok kiri sudah ketemu seperti pasar. Setelah pasar, sepanjang jalan yang tidak lebar itu, hamparan tambak terbentang luas di sebelah kanan kiri jalan. Anginnya begitu kencang. Bau amisnya juga menyengat begitu menusuk.


Di sebelah kanan kiri jalan banyak warung-warung kayu kecil di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan jual jenis hasil tambak, seperti ikan mujaer, gurame, kakap, kepiting, lobster, udang.


 Ikan-ikan dan hasil tambak lainnya dijejer di depan warung itu. Kami terus saja jalan sampai bertemu pertigaan dan belok ke kiri. Namun, setelah itu kita tidak bertemu pasar. Hanya rumah-rumah penduduk. Tidak terlihat ada orang menjual ikan seperti yang baru saja kami lewati.


Suasana di Gubuk Latarombo

Jadi terpaksa kami kembali dan memilih makan di warung makan Latarombo. Suasananya sepi. Maklum di samping dan seberangnya adalah tambak. Tempat parkirannya juga masih tanah. Kami menduga tidak ada yang datang ke rumah makan itu.


Meskipun terkesan sepi, desain pintu masuknya yang melewati sungai kecil cukup sederhana dan tidak kaku. Begitu masuk, aku melihat gazebo-gazebo di pinggir tambak yang terlihat romantis. Selain itu juga ada satu spot khusus foto-foto dengan latar tambak dan latarombo.


Kami pun memilih gazebo bambu itu yang dekat dengan musholla. Sayang gazebonya ada beberapa bambu yang rusak. Aman sih tapi aku tetap meminta anak-anak untuk berhati-hati. apalagi mereka suka manjat-manjat. 


Menu di rumah makan ini juga kebanyakan hasil laut seperti gurame, kakap merah, lobster, udang, dan lain-lain. Bumbunya juga bisa pilih bakar, asam manis atau lada hitam. Harganya untuk lobster, 2 gurame, sekitar 250.000 rupiah. 


Sambil menunggu ikan dibakar, kami menikmati pemandangan tambak dengan burung-burung putih yang sibuk mencari ikan di tambak. Beberapa orang memancing ikan di pinggir tambak. Sebagian sumringah karena berhasil mendapatkan ikan, sebagian lagi masih menunggu dalam diam. Anak-anak bermain ayunan, aku mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat.


Menikmati Sajian Bakaran Gubuk Latarombo

Setengah jam makanan kami pun siap. Hal yang sangat diperhatikan oleh suamiku adalah tidak ada asap bakar. Aneh katanya. Tapi kubilang, ya bisa aja lah pakai happy call yang nggak pakai asap. Haha. ada-ada saja suamiku. Kami pun makan dengan lahap. Memang pas lagi lapar-laparnya. 


Rasanya kubilang enak aja sih. Tapi beda selera ya. Selama kami makan, beberapa pengunjung mulai datang. Mungkin tempat tersebut ramainya sore dan malam karena memang tempatnya romantis banget. 



Read More
Well, setelah mengalami kehilangan file-file naskah juga foto-foto untuk blog di tab, mood ku langsung terjun bebas untuk kembali menulis baik fiksi maupun blog. Namun, kusadar mengendalikan mood itu harus dilakukan untuk terus menghasilkan karya. Maka ketika mood menguasaiku saat ini, aku coba menulis yang mudah dulu, seperti curhatan di blog sambil memperbaiki moodku.

Sebelum file-file ku hilang, aku sudah mencatat beberapa hal yang akan kutulis dalam blog. Namun, selalu kutunda-tunda. Sampai foto-foto hilang aku pun mencoba menyelesaikan semua rencana tulisan itu meski banyak foto yang hilang.

So, mungkin dalam blogku, aku akan menulis dari hasil pengalamanku tanpa banyak foto atau mungkin memakai foto dari yang lain, kecuali kalau ada kesempatan kesana lagi baru deh diupdate fotonya. Pfuuh. Rasanya memang kurang sreg kalau tidak pakai foto sendiri.

Ceritanya, aku pengen cerita saat aku makan Mie Aceh di daerah Rungkut. Aku sudah lama ingin mencicipi Mie Aceh yang terkenal pedas dan kaya rempah itu. Di Malang, juga ada menjual Mie Aceh tapi konsep tempat makannya modern, aku kurang tertarik karena kupikir rasanya juga sudah nggak original.

So, setelah menemani suami ke mantan kampusnya di ITS, kita pun makan siang di rumah makan Mie Aceh. Namanya warung makan Asokaya.

Tempatnya biasa, alias bukan warung modern. Sayangnya, parkir mobil di sana agak susah karena berada dekat persimpangan dan jalannya pun tidak lebar. Apalagi saat jam istirahat siang jalanan daerah situ ramai banget. Jadi, harus pinter parkir mepet-mepet, hehe. Kalau nggak, bisa menimbulkan kemacetan.

Menunya sebenarnya banyak banget hanya saja yang membedakan campurannya seperti untuk Mie Aceh ada daging, udang, kepiting, telur, cumi atau istimewa. Mie gorengnya bisa dibikin kuah, tumis, atau goreng. Menu Nasi Gorengnya juga bisa mau pilih yang biasa, daging, udang, kepiting, cumi, telur atau istimewa. Sebenarnya ada menu sate juga, tapi saat kami pesan, ternyata lagi kosong.

Jadi, kami pun memesan makanan Mie Aceh daging dan Nasi goreng istimewa (campurannya daging sama sea food). Terus, kami pun memesan teh tarik atau teh tarek yang menjadi minuman nasional di Malaysia.

Sekitar 20 menit, akhirnya makanan pun datang. Tak sabar, suami dan aku melahapnya apalagi perut kami juga lapar. Rasanyaaa.. tebakanku benarr.. Pedaaaas dan kaya rempah!



Aku mencoba nasi goreng istimewanya juga begitu. Menurutku, rasa Mie goreng dan Nasi Gorengnya sedikit berasa kare-nya. Aku jadi inget cerita seseorang yang pernah ke Malaysia kalau di sana itu makanan serba rasa kare.

Kenapa makanan Aceh juga terasa ada karenya seperti di Malaysia? Mungkin karena jaman dulu Aceh dan Melaka punya hubungan perdagangan yang kuat hingga terjadi akulturasi budaya termasuk juga kulinernya. Begitu pun dengan minuman teh tarikhya. Minuman ini juga berasal dari orang India muslim yang berimigrasi ke Malaysia.

Sebenarnya, aku agak khawatir karena perutku nggak tahan sama yang makanan pedas. Akan tetapi saat itu aku lahap saja sampai habis. hahaha.

Dan pada akhirnya, anakku cuma minum teh tarik aja. Minuman campuran teh, susu dan creamer ini cukup menyegarkan dan harganya juga murah meski menurutku kurang kental.

Harga Mie Aceh dan Mie Goreng berkisar 10.000-25.000. Murah apa nggak?

sumber : Instagram surabaya makan-makan

Alamat warungnya di Jalan Kali Rungkut No 68, Surabaya.

Referensi :
infosurabaya.id.
travel.kompas.com
id.wikipedia.org

Read More

Deskripsi Buku

Judul : Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa
Nama penulis : Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Muari/Kim, dan Erinda Nur Anisa
Penerbit : Anara Publishing House
Cetakan: Maret 2020
Halaman: 114+ii
Harga:
ISBN :978-623-7229-57-5

Kisah Cinta dalam Antologi


Kalian pasti pernah kan merasakan jatuh hati. Tapiii... apakah cinta kalian selalu berbalas?  Coba hitung, berapa banyak yang bertepuk sebelah tangan? Banyak! Aihhh.... tapi memang begitulah ya, kadang Allah ngasih kita yang terbaik meski kita harus sakit hati dulu.

Syukur-syukur, tanpa harus merasakan jatuh hati tiba-tiba diminta seseorang yang ternyata didamba hampir sebagian besar orang kemudian dilamar dan menikah. Wew, betapa beruntungnya! Sama seperti cerita Haura dalam antologi ini yang masih SMA dan dilamar oleh seorang Habib yang religius, lulusan Kairo, tampan, didambakan banyak santriwati.

Haura yang biasa saja dan seorang siswa yang masih sekolah SMA jelas dibuatnya bingung. Bahkan ia berprasangka buruk kalau Habib itu mau poligami sampai-sampai Haura memberinya syarat selama menikah dengannya sang Habib tidak boleh poligami. Syarat itu tidak memberatkan Habib. Ia setia. Justru suatu ketika, Haura merasa bersalah dengan persyaratannya itu.

Dari Haura, kita bisa belajar bagaimana seharusnya cinta kepada pasangan itu tidak berlebihan sehingga muncul keikhlasan ketika kita harus merelakannya dengan wanita lain. Ah! Keikhlasan itu kadang menyakitkan meski bernilai pahala. Jangan sampai Allah cemburu karena kita terlalu berlebihan mencintai pasangan kita. Penulis menyadarkan pembaca dengan bagaimana menjadi seseorang yang ikhlas ketika cinta harus berbagi. Berat. Sangat berat.

Jika perjalanan menjemput kekasih tidak begitu sulit, lain halnya dengan Vana yang berbeda status dengan kekasihnya, Deri. Vana tidak diterima oleh orang tua sang kekasih karena statusnya sebagai anak miskin. Vana selalu berdoa dalam sholatnya agar ia direstui kedua orang tuanya. Allah terkadang selalu punya cara untuk mempertemukan sepasang kekasih dengan cobaan yang cukup berat. Tak lain agar pasangan itu saling menghargai bagaimana usaha sepasang kekasih pada awal-awal kisah mereka sampai direstui orang tua.

Selain status sosial Deri dan Vana, status perkawinan juga sempat menimbulkan keraguan di hati orang tua Felishia, seorang janda beranak satu, yang akan dinikahi oleh Raihan, seorang perjaka. Namun, status itu bukan menjadi halangan mereka untuk bisa bersama.

Begitu pun dengan kisah Chiko yang baru saja jadi mualaf dan mendatangi orang tua Jihan untuk melamar. Meski Jihan ragu, akhirnya ia menerima Chiko untuk menjadi suaminya. Perjalanan membersamai seorang mualaf pun tidak mudah apalagi orang tua Chiko masih berstatus non muslim. Gaya hidup sebelum menjadi mualaf pun masih terbawa dalam kehidupan mereka. Belum lagi seorang wanita yang dulu selalu bersama Chiko masih hadir dalam kehidupan mereka. Lama-lama Jihan tidak tahan.

Bahasa Tulis dalam Karya Antologi


Bahasa dalam cerita-cerita tersebut mudah dipahami, meskipun beberapa bagian kalimat ada yang harus disesuaikan dengan aturan PUEBI. Secara garis besar, cerita pendek-cerita pendek yang ditulis 13 penulis ini berkisah tentang perempuan yang mencintai seorang pria dengan permasalahan berbeda. Saya membaca kisah ini seolah-olah saya kembali ke masa remaja.

Cerita cinta dalam antologi ini begitu dekat dengan kehidupan para remaja dengan emosi, kebimbangan, juga tingkah lakunya saat berhadapan dengan kekasih yang dicintainya. Ketika membaca biografi penulisnya, usia mereka sekitar 20-25 tahun.

Kontak Penulis

Jika kalian penasaran dengan cerita cinta yang ditulis oleh mereka, kalian bisa hubungi salah satu penulisnya yaitu Kak Nuri Thakya.

Instagram : Nurithakya99
Fan Page : Nuri Thakya
Email : Nuri.Thakya99@gmail.com
Blog : nurithakya7.blogspot.com
Kontak: 082119514772.

Read More

foto : instagram@sugianto.shu

Laut terlalu bermurah hati karena mungkin ia begitu iba pada kita yang sangat tergantung padanya. Begitu banyak kebaikan yang sudah Laut berikan kepada kita. Namun, lihatlah, apa yang kita lakukan padanya? Kerakusan dan keegoisan diri manusia membuat laut kehilangan keindahannya bahkan ‘sakit’ alias rusak. 

Banyak contoh kerusakan yang terjadi pada laut dan berdampak pada manusia. Pembuangan sampah yang membuat banyaknya ikan mati sehingga nelayan kesulitan mencari ikan. Eksploitasi besar-besaran yang pada akhirnya manusia tidak bisa lagi menikmati hasil laut. Penggunaan teknologi yang merusak terumbu karang secara tidak langsung juga merusak ekosistem ikan di perairan laut. Betapa menyedihkannya, surga lautan Indonesia harus rusak karena ketamakan manusia.

Harusnya kita bisa belajar menahan ego dan menghindari kerakusan dari masyarakat Papua. Mereka bisa menahan diri dari eksploitasi hasil laut. Mereka percaya bahwa laut merupakan sumber kebaikan dan sumber penghidupan. 

Kepercayaan itulah yang membuat mereka menjaga kelestarian laut. Mereka masih bisa menikmati hasil laut. Kelak, anak cucu mereka juga masih bisa menikmati kekayaan laut yang begitu berlimpah.
Tak hanya hasil laut untuk pangan, eksotisme pemandangan bawah laut juga begitu memukau. 

Kejernihan airnya mempersilakan mata untuk menikmati biota laut. Keindahan itulah yang mengundang para wisatawan datang memanjakan mata ke Papua. Tentu, semua itu karena masyarakatnya pandai menjaga kelestarian laut.

Kenapa Papua merupakan destinasi wisata hijau?

Alasan pertama : kekayaan alam yang berlimpah

Kekayaan alam di darat dan lautan itu menjadi salah satu alasan mengapa Pulau Papua disebut sebagai destinasi wisata hijau. Daratan hijaunya yang berupa hutan begitu mendominasi sebesar 33 juta hektar atau 81% dari luas daratan. Hutan tanah Papua merupakan garda terakhir hutan di Indonesia, bahkan dunia. Di dalamnya terdapat 15.000-20.000 jenis tumbuhan, 602 jenis burung, 125 jenis mamalia dan 223 jenis reptilia (econusa_id). 

Satwa darat di pulau Papua seperti burung Cendrawasih, kanguru pohon, beragam kupu-kupu, dan hewan langka lainnya menunjukkan betapa ramahnya hutan Papua untuk mereka tinggali. Begitupun dengan keanekaragaman hayati laut seperti terumbu karang, lamun, ikan hiu, ikan paus, ikan kakatua, penyu, kakap, red firefish menjadi daya tarik untuk bagi pengunjung untuk diving. Belum lagi hutan mangrove atau mangi-mangi yang luas menjadi tempat tinggal berbagai jenis spesies ikan.

Alasan kedua : kearifan lokal yang mendukung konservasi laut

Tidak hanya dari kekayaan alam saja yang menjadi anugerah Tuhan saja, tetapi juga dari sosial kemasyarakatan yang menjadikan pulau tersebut disebut sebagai destinasi wisata hijau. Masyarakat Papua memiliki kearifan local yang mendukung kelestarian alam lautan. 

Mereka menyebutnya sasi laut atau Sasi Nggama seperti yang dilakukan di Kaimana dan Buruway. Biota laut seperti lola atau kerang, teripang, dan siput batulaga merupakan klasifikasi biota yang dilindungi pada sasi laut tersebut.

Perlindungan biota laut tersebut didukung oleh sistem penangkapan hewan laut yang tertutup. Praktis sistem ini mampu menjaga sumber daya alam di laut secara berkelanjutan dan melindungi sumber daya alam untuk dieksploitasi.

Masyarakat memanfaatkan menangkap hasil laut ini selama dua minggu sampai tiga bulan. Batasan pemanfaatan tersebut hanya perkiraan semata. Tidak berlebihan apalagi sampai merusak ekosistem laut. 

Selama penangkapan sumberdaya laut tersebut, masyarakat tidak boleh menggunakan alat-alat yang merusak. Mereka juga tidak menangkap ikan yang masih kecil saat masa sasi laut dibuka. Tujuannya agar biota laut lain bisa terus berkembang biak saat sasi laut ditutup sehingga hasil laut tetap melimpah di perairan Papua. Lama ditutupnya sasi laut sekitar satu sampai dua tahun. 

Meskipun sasi laut tidak ada peraturan tertulis, masyarakat sudah menaati aturan tersebut secara turun temurun. Jika mereka melanggar aturan tersebut, mereka akan dikenai sanksi sosial dari pemimpin adat atau denda berupa uang. Namun, ketika ada orang luar yang melanggar aturan sasi, seperti tetap mengambil ikan pada bulan-bulan yang dilarang, maka orang tersebut tidak bisa dikenai hukuman oleh pemimpin adat. So, apakah kelestarian lingkungan dapat terjaga jika orang luar tidak memperhatikan aturan adat tersebut?

Apalagi, adat sasi laut ini tentunya tidak terlepas dari pelaksanaan-pelaksanaan ritual sebelum melaksanakan sasi laut. Dalam ritual ini, masyarakat melakukan pembacaan-pembacaan doa untuk meminta berkat dari Tuhan. Mereka begitu sadar bahwa sumber daya alam yang melimpah ruah adalah berkat dari Tuhan. Mereka menjaga hubungan manusia dengan Tuhan dengan melakukan ritual tersebut sebelum melakukan sasi laut.

Tak hanya sasi laut saja, tradisi menjaga Mangrove di Kampung Kambala juga menjadi cara untuk mengontrol pemanfaatan sumber daya di kawasan mangrove. Seperti yang dikutip dari econusa_id, bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan hutan tersebut, mereka harus melakukan upacara adat Sinara. Memang, dengan adanya tradisi ini membuat tidak sembarang orang bisa masuk ke hutan mangrove sehingga kawasan hutan tersebut tetap lestari.
Pembukaan Sasi Laut (foto : hijauku.com)

Kehadiran warisan konservasi tradisional dari nenek moyang membuat biota laut begitu terjaga kelestariannya. Berbagai macam ikan warna-warni, terumbu karang yang indah begitu memikat. Perairan Papua ini menjadi pariwisata primadona Indonesia juga dunia.

Alasan ketiga : stakeholder yang sadar konservasi laut

Selain sumber daya alam dan sosial masyarakat, setiap pemangku kepentingan (stakeholder) baik masyarakat ataupun lembaga pemerintah maupun non pemerintah menyadari akan kekayaan sumber daya kelautan yang harus dijaga dan dilestarikan. 

Pemangku kepentingan tersebut saling terhubung sehingga pengelolaan sumber daya alam sejalan dengan konservasi lingkungan laut, seperti Deklarasi Koral yang telah dilaksanakan oleh EcoNusa beserta organisasi non-profit lainnya untuk mengingatkan peran pemerintah dan semua pihak untuk mengedepankan pemulihan laut Indonesia. 

EcoNusa sendiri adalah organisasi non-profit yang menjembatani komunikasi pemangku kepentingan itu di wilayah Indonesia Timur adalah Yayasan EcoNusa . Lembaga tersebut bertujuan untuk memaksimalkan praktek pengelolaan sumber daya alam dan konservasi lingkungan dengan penguatan inisiatif masyarakat lokal. Keberadaan organisasi non profit ini menjadi salah satu peran dalam perlindungan sumber daya alam di tanah Papua termasuk mendukung pengembangan Papua destinasi wisata hijau.

Serupa Surga di Kota Senja

Terkenal dengan sasi lautnya, Kaimana menjadi salah satu destinasi wisata hijau yang ingin saya kunjungi. Distrik yang dikenal dengan Kota Senja ini seperti surga yang menawarkan berjuta pesona keindahan. 

Kenapa harus Kaimana?
   
      Tak kalah dengan Raja Ampat



Raja Ampat memang sangat terkenal dengan keindahannya. Namun, sesungguhnya, Teluk Triton di Kabupaten Kaimana tak kalah indah dengan Raja Ampat. Teluk Triton juga memiliki deretan pulau karang yang menyebar dengan gradasi warna laut biru hingga hijau tosca. Karena kekayaan biota laut dan peninggalan prasejarah inilah yang membuat Teluk Triton dijuluki The Lost Paradise

Kejernihan air laut Teluk Triton Tak kalah dengan destinasi wisata di luar negeri (foto : ksmtour)
 


         Hiu paus yang langka di pulau karang yang indah

Daya tarik Teluk Triton lainnya adalah keberadaan ikan hiu paus yang bisa dijumpai saat musim tertentu. Jika kalian membayangkan bertemu ikan ini akan memakan manusia, maka kalian salah! Hiu paus ini jinak dan memakan plankton serta ikan kecil. Karena jinaknya itulah, kita bisa menyelam dari jarak dekat dengan hiu paus ini, kira-kira sekitar dua meter. Kalian mau berenang dekat dengan ikan paus terbesar ini?

Serunya berenang dekat dengan Hiu Paus di Kaimana (foto: Mongabay)

        
          Kehadiran lukisan kuno dari jaman prasejarah

Kaimana ternyata menyimpan sebuah lukisan yang dipercaya telah ada sejak jaman prasejarah. Lukisan tersebut bergambar tangan dan gambar-gambar lain selayaknya simbol-simbol dari jaman dahulu ini tergambar pada tebing-tebing yang tinggi.

Lukisan kuno (foto: travel.kompas.com)


          Romantisnya menikmati Senja di Kaimana


Tak heran jika lagu Senja di Kaimana begitu fenomenal di tahun 70-an, ternyata senja di Kaimana begitu indah dan romantis. Daerah yang tidak begitu banyak dikenal dulunya, kini mulai mengundang orang untuk datang. Duduk di pinggir pantai sambil memandang semburat oranye di langit Papua begitu terasa syahdu. Pemandangan matahari tenggelam bisa dinikmati di berbagai tempat di Kaimana seperti Pulau Venu, Tanjung Kinara, dan Pantai Bantemi. Waktu yang bagus untuk melihat sunset di Kaimanasekitar bulan Oktober sampai Januari.

      
Senja di Kaimana (foto : ethnotraveller.net)


      Melihat penyu bertelur


Tak ada yang paling menyenangkan selain menjadi saksi munculnya kehidupan baru. Melihat penyu bertelur tentunya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Berkunjung ke Pulau Venu memungkinkan kita untuk melihat satwa yang dilindungi tersebut bertelur.

Penyu kembali ke laut setelah menetas (foto : birdsheadseascape.com)


Keindahan bawah laut yang kaya

Di kawasan Teluk Triton terdapat 959 jenis ikan karang, 471 jenis karang dan 28 spesies udang mantis. Kawasan konservasi ini menyumbang biomassa terbesar di Asia Tenggara yaitu 228 ton per kilometer persegi (travel.kompas.com). Masih di Kaimana, di Tanjung Papisoi dijumpai 330 spesies ikan sekaligus pada satu lokasi. Betapa kayanya biota laut di Kaimana. Tak salah jika Kaimana menjadi salah satu destinasi wisata hijau di Bumi Cendrawasih.

Keindahan alam bawah laut Teluk Triton (foto : jhoeraprap.wordpress.com)



Tidak perlu bingung untuk menyelami keindahan alam bawah laut di Kaimana karena begitu banyak tempat yang bisa dijelajahi seperti Teluk Triton, Pulau Venu, Pulau Kilimala, Pulau Karawutu, dan Tanjung Kinara. Namun, Teluk Triton merupakan spot terbaik untuk menyelam. 


       Melihat beraneka ragam satwa burung

Bird watching dengan beraneka ragam satwa yang tak pernah kita temukan sebelumnya tentu akan menjadi  pengalaman menyenangkan di Tanjung Kinara. Selain itu, di atas Jembatan wisata alam KM 14 kita juga bisa menikmati satwa burung yang langka.

Satwa burung di Kaimana (foto : peburungamatir.wordpress.com)


Keeksotisan alam Kaimana itulah yang membuat saya ingin mengunjungi Kaimana sebagai destinasi wisata hijau. Bisa mengunjungi Kaimana seolah telah mengunjungi hutan di seluruh Papua. Semua keanekaragaman hayati di Papua sudah terwakili di Kaimana. 

Namun, tak lupa...

Ketika laut sudah memberikan kebaikannya kepada manusia, maka sekarang manusia memberikan perlindungannya kepada laut. Hingga selamanya, laut dan manusia hidup berdampingan tanpa ada yang dirugikan.




Salam Hijau,



Referensi :

https://suarapapua.com/2019/08/06/ini-luas-hutan-provinsi-dan-kabupaten-di-papua-dan-papua-barat/

 https://www.mongabay.co.id/2019/08/31/begini-eksotisme-keindahan-kepulauan-dan-bawah-laut-fakfak/

 https://wri-indonesia.org/id/blog/menjadikan-sasi-laut-solusi-konservasi-laut-indonesia-timur

 https://m.kumparan.com/kumparannews/adat-sasi-pelindung-potensi-alam-papua-sejak-zaman-nenek-moyang-1sSguUoxrFg


Read More
Yang dinanti-nanti pun tiba. Menyapih anak kedua di usianya yang tepat 2 tahun. Ada rasa khawatir sebenarnya, bisakah aku menyapihnya tanpa sebab yang memaksa? Maksudku, dulu anak pertama, aku terpaksa menyapihnya di usia 22 bulan karena waktu itu aku hamil usia 8 bulan dan selalu mengalami konstraksi setiap menyusui. Jadi aku terpaksa menyapihnya. Sedangkan, pada anak kedua, aku sempat bingung, apakah sudah perlu di usia 2 tahun? kenapa tidak 2 tahun setengah?
Alasannya produksi ASI sudah mulai menurun. Kalau dipaksa justru membuat aku sakit. Apalagi dalam ayat Al-Quran pun dituliskan :

"Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya." (QS. Al-Baqarah: ayat 233).

Yang paling terpenting adalah kerelaan dan adanya pembahasan antara kedua belah pihak. Saat ingin menyapih anak kedua sebenarnya tidak ada halangan untuk segera menyapih di usia dua tahun. Jadi tidak harus tepat dua tahun. Makanya saat saya menyapihnya, saya tidak seperti anak pertama yang harus berhasil menyapih dalam waktu tiga hari. Dan pada anak kedua, saya menyapihnya selama seminggu. Itu pun dengan perasaan tega dan nggak tega. Saat tega ya saya biarin nangis-nangis. Saat nggak tega ya terpaksa saya susui kembali termasuk saran suami untuk disuruh pelan-pelan biar nggak kaget.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan." (QS. Al-Ahqaf: ayat 15)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS. Luqman: ayat 14).

Kalau anak pertama, aku langsung melepasnya, nggak boleh mimik sama sekali satu hari penuh. Katanya dengan begitu, anak lebih cepat disapihnya. Biar nggak ingat mimik ke ibunya, dia diajak ayahnya jalan-jalan. Pas kebetulan memang ayahnya ada perlu di bengkel temannya. Dan menyapih anak pertama berhasil hanya dalam 3 hari. Selebihnya dia sadar sendiri dan tidur sendiri. Bagaimana dengan anak kedua? Yang ini perlu ekstra sabar.

Hari pertama menyapih

Meski sudah di sounding jauh-jauh hari, tetap saja dia nggak terima. Di hari pertama, dia nangis teriak-teriak nggak karuan karena nggak dikasih mimik. Hingga dia tertidur sendiri. Begitu bangun, dia teriak-teriak lagi sampai narik-narik baju. Aku tawari susu dan dia mau. Ujung-ujungnya tidur sambil minta gendong. Begitu juga saat malam hari, dia nggak bisa tidur karena nggak bisa mimik. Akhirnya minta digendong. Aku tawari susu juga. Jadi, gara-gara menyapih, dia minum susu cukup sering dan nggak habis. Setiap dia tertidur dalam gendongan, aku taruh lagi di tempat tidur. Kadang bangun dan nangis. Kadang nggak bangun dan lanjut tidur. Kalau begitu, aku senang banget.

Hari kedua menyapih

Saat tidur siang masih minta mimik, nangis-nangis, tarik baju. Masih sering minta susu. Minta tidur digendong juga. Nah, pas malam hari, dia sempat tidak bisa dibujuk, nangis-nangis ngamuk parah, sampai suami nggak tega, dan nyuruh pelan-pelan biar nggak kaget. Kebetulan juga di hari kedua, rasanya sakit PD karena nggak dimimiki. Mungkin anak bayi punya ikatan batin yang kuat dengan PD ibunya, makanya dia ngamuk nggak terkendali. Terpaksa, aku mimiki deh. Paginya, saat dia minta mimik, nggak aku kasih, dan dia sadar meski nangis dulu akhirnya minta susu. Setelah itu main seperti biasa.

Hari ketiga menyapih

Anakku sudah mulai mengerti kalau nggak mimik ke ibunya. Jadi dia minta susu pas inget mau mimik ke ibunya. Tidur siang juga sudah tidur sendiri. Pas malam juga sudah mulai bisa tidur sendiri. Meski tengah malam bangun minta mimik, tapi aku kasih susu. Dan dia mau.

Hari keempat menyapih

Aku kira, aku sudah berhasil menyapihnya. Karena waktu anak pertama, hanya perlu waktu tiga hari anak langsung menyapih sendiri. Ternyata anak kedua nggak bisa. Di hari keempat, saat tidur siang dia sudah bisa tidur sendiri. Pas malam hari, dia malah ngamuk-ngamuk parah. Dia minta mimik pas bangun tengah malam. Ayahnya nggak tahan dengar tangisannya. Kebetulan juga PD ku terisi lagi dan kerasa sakit. Terpaksa aku kasih mimik lagi. Hufff.. Berasa gagal menyapih.

Hari kelima menyapih

Sepertinya memang benar, anak itu paham dengan kondisi ibunya. Saat hari kelima, anakku sudah nggak mimik dan kebetulan PD ku nggak sakit lagi. Meski dia perlu penyesuaian. Masih meringik minta mimik tapi nggak maksa-maksa dan nggak ngamuk-ngamuk lagi. Jadi setiap dia minta mimik, aku tawari minum susu formula. Dan mau.

Yang paling melelahkan adalah menggendongnya saat dia mau tidur. Bisa sampai setengah jam. Dibuat duduk langsung nangis. Ditidurkan juga nangis. Kemeng deh pokoknya tanganku. Dan benar-benar nggak minta mimik itu setelah lebih dari dua minggu.

Jadi memang nggak bisa memaksa anak untuk menyapih sih karena kalau dipaksa ibunya juga sakit karena masih produksi. Memang yang benar itu perlahan-lahan tidak dikasih biar nggak kaget. Karena PD ibu dan naluri anak itu saling berhubungan. Meskipiun begitu, ditolak aja kalau dia minta mimik selama masih bisa ditolak. Tapi kalau teriak-teriak nggak bisa dibujuk ya mau bagaimana lagi.

Read More

Follower