Perempuan Berumah Tangga dan Pengembangan Kemampuan

Kehidupan ibu-ibu berumah tangga itu identik sekali dengan stereotype dapur, sumur dan kasur. Seolah stereotype itu begitu melekat pada perempuan yang sudah menikah yang hanya untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Well, sebagai seseorang yang lahir di era milenial yaitu abad 20, stereotype itu cukup mengganggu diriku. Aku nggak mau kehidupanku sebagai ibu rumah tangga hanya berputar pada tiga hal itu. Aku ingin ada hal lain yang harus aku kembangkan di era teknologi 4.0 ini.

 

Tujuannya tak lain adalah mengasah otakku sendiri. Sepertinya stereotype itu hanya terjadi pada perempuan jaman dulu. Sekarang, sudah banyak perempuan berumah tangga yang juga berkontribusi bagi kehidupan masyarakat luas, misalnya bekerja atau sekedar menyalurkan hobi.

Literasi Digital
Literasi Digital


Bekerja pun saat ini bisa dilakukan di kantor maupun di rumah. Yah, meski status orang bekerja kantoran dan dikerjakan di rumah (Work From Home), mereka punya high prestige-lah dibanding di rumah. Eh, benar tidak? Sebenarnya tidak juga. Toh sekarang semua juga tahu kalau bekerja bisa dari rumah gara-gara pandemi Covid-19. Baik yang punya status pegawai kantor ataupun freelance. Toh, semua sama-sama bisa menghasilkan.


Rasanya ibu rumah tangga saat ini memang harus dituntut mengikuti perkembangan jaman, mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan zaman. Eh, zaman yang gimana? Yah, zaman yang erat kaitannya dengan era teknologi 4.0 dimana teknologi sudah cukup maju, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak terpisahkan. 


Perempuan berumah tangga (yang tidak bekerja sebagai pegawai kantoran) harus mampu memberi nutrisi pada otaknya dan mengasahnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya mencari ilmu pengetahuan melalui artikel di internet, mengikuti webinar-webinar, ataupun berkontribusi memberi pengetahuan kepada khalayak umum seperti menulis di media online ataupun memanfaatkan media digital.


Kemampuan berpikir kritis bisa terasah dan memiliki kepercayaan diri kalau seorang perempuan berumah tangga terus mengembangkan pengetahuannya dengan mengikuti berita secara digital ataupun online dan memanfaatkan teknologi saat ini. 


Apalagi saat ini digaungkan literasi digital sebagai upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Eh, perlu sekali kan seorang perempuan berumah tangga yang bukan berstatus pegawai kantor melaksanakan literasi digital. Dan literasi digital memang untuk semua kalangan sih. Sebenarnya lingkup literasi digital itu apa aja?


Apa itu Literasi Digital?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Sebutan lain literasi adalah aksara. Jadi sebenarnya literasi tidak memiliki arti sempit yang memiliki lingkup membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan lain untuk mengolah informasi atau pengetahuan. Literasi ini biasanya digabungkan dengan bidang kemampuan lain seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi komputer, literasi sains, literasi internet, literasi finansial, dan sederet penggabungan kata lain.


Sedangkan arti dari literasi digital, menurut seorang penulis dari buku yang berjudul digital literacy yang diterbitkan pada tahun 1997, adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Belshaw menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan, alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi.


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adanya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namanya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi.


Jadi literasi digital itu sangat luas lingkupnya. Memanfaatkan literasi digital itu berarti membaca informasi secara digital melalui perangkat komputer atau ponsel, menggunakan aplikasi digital untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi dengan sebuah kreativitas.



Perkembangan Teknologi dan Minat Baca Masyarakat

Saat ini perkembangan teknologi memang sangat besar. Di Indonesia, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi cukup besar. Menurut Kominfo tahun 2018, kepemilikan telepon genggam sebanyak 355 juta sedangkan menurut APJII tahun 2018, pengguna internet sebanyak 171 juta jiwa. 


Namun sayang, jumlah tersebut tidak sesuai dengan minat baca masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.


Yang paling disayangkan lagi, minat baca masyarakat Indonesia itu rendah tapi menatap layar ponsel atau PC bisa sampai sembilan jam hanya untuk scrol-scrol saja! Padahal hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan literasi digital kita.

 

Literasi Digital, Apa Manfaatnya?


Sebenarnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari literasi digital:

1. Merangsang minat baca masyarakat. Jika sembilan jam digunakan hanya untuk membaca status masyarakat di linimasa yang biasanya kurang bermanfaat, sepertinya lebih baik untuk membaca berita atau cerita yang ada di media digital. Sembilan jam itu sangat banyak untuk bisa menyerap jutaan informasi di media digital. Dan untuk menghabiskan satu buku cerita saja, baik digital maupun bentuk fisik, sudah bisa selesai. Jadi, ini sebagai hal positif yang harus dialihkan ke arah yang lebih bermanfaat.


2. Lebih aware dan kritis dalam menerima informasi dari sumber digital. Dalam dunia digital, informasi apapun sangat mudah diperoleh. Mungkin pertama-tama ketika terjun dalam literasi digital, semua informasi dianggap benar sehingga mudah percaya dengan informasi apapun yang berseliweran di media digital. Namun, lama-lama kita akan paham sendiri dan mampu menilai serta mengolah manakah informasi yang layak dipercaya dan tidak. Bahkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang informasi melalui media digital.


3. Memudahkan dalam membuat keputusan. Informasi yang banyak tersedia di media digital sangat memudahkan masyarakat untuk membuat keputusan. Misalnya, jika berencana pergi ke suatu tempat maka informasi tentang cuaca, lokasi kemacetan, lokasi penginapan, dan lain sebagainya yang tersedia di internet memudahkan kita untuk mengambil keputusan. Semua tinggal cari di internet saja.


4. Memperoleh hiburan digital. Tak cuma tentang berita saja, masyarakat bisa memperoleh hiburan secara digital, misalnya menonton film di web tertentu, Youtube, video atau konten yang tersebar di media sosial.


5. Tidak ketinggalan berita. Manfaat literasi digital lainnya adalah tidak ketinggalan berita karena setiap membuka sosial media maka akan ada banyak komentar orang tentang suatu berita. Atau setidaknya ada pemberitahuan berita berlangganan.


6. Hemat biaya dan waktu. Untuk mencari informasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke tempat lain untuk memperoleh informasi. Jika tersedia di internet maka akan sangat memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan biaya rendah dan dengan waktu yang singkat. 


7. Bisa memperoleh pendapatan dari media digital. Tidak percaya? Coba saja diseriusi. Banyak caranya. Mulai menulis di blog dengan konten yang sering dicari orang. Bisa pengalaman sendiri saat travelling, hamil, menyusui, anak sakit, dll.


8. Mengurangi resiko penuaan dini. Eh, maksud aku setidaknya kalau otak kita terus terasah, maka insyallah resiko penyakit tua bisa berkurang karena otak sering terasah, seperti cepat lupa atau hilang konsentrasi. Maklum biasanya ibu-ibu yang hanya mengurus rumah lama-lama kemampuan otak akan menurun. Sayang banget kalau nggak memanfaatkan media digital untuk mengasah kemampuan otak.


Apalagi kalau view sudah ribuan dalam satu bulan. Bisa dapat google adsense, content placement, atau sponsor post. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan itu. Hihi. Eh, kecuali google adsense. Tidak cuma blog, kalau suka editing video dibanding menulis bisa juga untuk membuat konten di Youtube atau editing audio untuk publikasi di podcast. 


Aplikasi editing video yang user friendly banyak sekali tersedia di Play Store. Mudah dan murah. Kadang ada juga agency yang cari Youtuber yang biasa review produk di Youtube. Apalagi kalau view ribuan. 


Instagram, Twitter dan Facebook saja bisa juga menghasilkan uang dengan meningkatkan follower dan membuat konten yang menarik di medsos. Eh, tentunya ada prosesnya loh ya. Nggak langsung ujug-ujug dapat duit.



Perananku Dalam Membangun Literasi Digital yang Positif

Sebagai rumah tangga yang mengisi waktunya untuk menulis di blog dan media lainnya, ada beberapa peranan dalam membangun literasi digital, adalah:


1. Memanfaatkan media digital untuk menambah pengetahuan. Ini adalah perananku yang paling rendah karena aku hanya menggunakan media digital untuk mencari informasi, baik dari aplikasi peminjaman buku (Ipusnas), membaca cerita di platform menulis, membaca blog, menonton Youtube, mendengarkan Podcast, mengunduh aplikasi berita, dan lain sebagainya.


2. Pembuat konten di beberapa media digital dengan aplikasi user friendly. Selain itu, aku juga berusaha membuat konten positif di blog, platform menulis, Youtube atau podcast. Dan aplikasi yang aku gunakan tidak mempersulitkanku.


3. Penyebarluasan konten positif baik sebagai penulis blog, fiksi, youtuber maupun podcaster. Banyak sekali konten-konten yang menyebarkan berita negatif atau sesuatu yang memancing kerusuhan. Daripada aku menyebar fitnah yang belum jelas kebenarannya-karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya, hanya dari pihak ketiga yang belum benar infromasinya-maka lebih baik aku menyebarkan konten positif baik di blog, di platform menulis (Wattpad), Youtube dan Podcast.


4. Menjadi blogger dan penulis yang memperhatikan kaidah penulisan EBI. Masih banyak di luar sana yang masih menulis tapi tidak memperhatikan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Maka dengan menulis EBI yang benar, setidaknya pembaca akan terbiasa membaca EBI yang benar sehingga mempengaruhi cara pembaca untuk menulis selanjutnya. Karena kalau kita menulis dengan tata bahasa yang baik maka akan enak dibaca seperti yang dijelaskan oleh Gemaulani saat Materi 1 Kelas Growthing Blogger 2 tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost. Jadi aku harus menerapkannya dalam tulisanku ini. 



Jadi, teman-teman lebih baik kita menjadi insan yang literat digital ya daripada insan yang suka melakukan perundungan sana sini. Pertanggungjawabannya sampai akhirat loh, apalagi kalau menyebarkan hoax yang belum tentu benar. Jadinya fitnah kan! 

Yuk, emak-emak kita manfaatkan saja media digital untuk pengembangan diri kita. 










Sumber :

https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/

https://www.jawapos.com/opini/29/09/2019/literasi/

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media







Read More

 Menabung?


Sepertinya hal ini cukup sulit buatku. Haha. Karrna aku hampir nggak pernah menabung padahal dari kecil aku selalu menyanyi lagu :


Bang Bing Bung Yok... Kita Nabung..

Tang Ting Tung Hei Jangan Dihitung.. 

Tahu-tahu Kita nanti pasti untung.


Agak miris aja sih. Pas masih kecil dulu dikasih sangu setidaknya ada beberapa bagian yang ditabung. Hasilnya, lumayan bisa beli sesuatu yang dipengen, misalnya alat tulis yang lucu-lucu, makanan, atau bahkan buku cerita. Kenapa coba aku sampai nggak bisa menabung? Bahkan cenderung minta lagi sama suami? Haha. Ini rahasia sih. Tapi ada sesuatu di balik itu.


Jadi setiap bulan suami kasih uang bulanan sekian. Nggak semua gajinya dikasih. Nah, biasanya dari bulanan itu aku akan alokasikan dengan menaruh ditempat khusus.

- Biaya SPP TK anak per bulan Rp. 150.000,- 

- Iuran RT 70.000

- Listrik air Rp. 230.000

- Susu formula dan popok Rp. 250.000

- Beras 10 kg 100.000

- Pulsa 100.000 untuk aku dan suami.

Nah sisanya baru deh buat beli sayur, minyak, ayam, ikan, dan lain-lain. Tapi yaa karena gaji dosen aja nggak sampai UMR, jadi aku harus menghemat-hemat. Jangan bilang-bilang ya! Hahaha. Yang penting keluargaku tetap bisa jalan-jalan wkwkwk. Jadi sisanya nggak sebanyak hitungan di atas itu. 


Meskipun aku nggak bisa menabung tapi sebisa mungkin uang tiap bulan itu cukup kalaupun kurang seenggaknya nggak jauh2 nambah 200.000. Harusnya sih biaya satu hari makan itu sekitar 20.000 tapi terkadang malah bisa sampai 50.000.  Kadang suami sampai protes dikasih tahu tempe doang hahahahhaa. Kalau udah gitu, langsung deh beli ayam satu kilo bisa buat makan 2 hari, dibuat ayam crispy atau soto pakai bumbu Machmudah. 


So, tips hemat alaku meskipun nggak bisa menabung adalah #wkwkwk #nggakusahdicontoh.


- Pintar-pintar modifikasi makanan berbahan dasar tahu, tempe, jagung manis, telor, karena bahan-bahan itu murah didapatnya. Sekarsng sih memang enak banget dapat informasi resep. Tinggal buka hape dan gugling dapat deh karena di Cookpad udah banyak banget ide memasak yang sederhana.


- Seminggu sekali atau dua kali lah makan ayam, itu pun bukan ayam kampung ya, tapi ayam horen. Biasanya ku beli udang untuk campuran perkedel jagung dan untuk di crispy. Atau ikan pindang marning untuk anak-anak.


- Beli makanan di luar yang murah. Kadang ku beli soto di luar dua plastik bisa dibuat makan 2x untuk 2 dewasa dan 2 anak kecil. Harganya 20.000 tanpa nasi. Kalau habis beli makan dengan harga melewati batasnya, terpaksa besok-besoknya makan hu mpe mbel enak rasanya lagi.


- Pokok cari barang yang paling muraaah! Misal nih aku memilih beli air isi ulang galon seharga 4000 daripada yang aqua asli seharga 18.000. Lumayan bangettt..


- Jarang jajan. Biasanya sih anak-anak yang suka jajan macam sari roti dan itu bisa habis sehari, Haha. Kalau sudah gitu atur-atur lagi deh menu makanan yang bisanhemat.


- Terima apa yang ada. Aku masak dengan bahan murah sederhana, yang penting makan nasi. Dan itu memang berdampak banget buat menghemat pengeluaran.


Dua poin terbawah adalah caraku makan hemat dengan beasiswa terbatas ketika di luar negeri. Jadi untuk makan aku memang bisa hemat sekali. Aku bisa mengerem jajan di lusr apalagi beli makan di luar negeri tuh mahal banget dan kehalalannya juga nggak terjamin. Mau halal dan murah cuma kebab. Kenyang banget malah tapi kan bosen aja makan itu terus. Kalau mau makanan khas negara dan halal harganya sangat-sanggat nggak affordable buat mahasiswa kere macam aku waktu itu. Haha.


Eh, kembali lagi deh. Jadi, kalau aku bisa menghemat pengeluaran, maka sisa gaji di rekening bisa digunakan untuk menabung. Antara aku dan suamiku itu yang paling susah nahan belanja ya aku. Kalau sudah pegang duit pasti tergoda banget beli ini itu. Kecil2 tapi banyak. Dan itu ngehabisin duit banget. Haha. Jadi urusan nabung menabung kuserahkan pada suami aja. 


Nah, kalau aku dapat rezeki dari menulis baru deh aku buat beli macam-macam. Haha. Sebenarnya minta suami pun nggak apa-apa sih tapi biarin buat ditabung ajaa.



Read More

Beberapa waktu lalu, aku risiiiihh banget sama kulit yang mulai muncul bercak flek cokelat di wajah. Aku tanya sama emak-emak blogger Kodew Malang di grup, ya emang grup blogger khusus emak-emak itu nggak cuma urusan ngeblog aja, tapi juga urusan macam perawatan dan pengalaman lainnya. Jawabannya macam-macam. Dari pakai SPF sampai ke skin care.



Iya sih, selama pandemi ini aku udah nggak pernah lagi ke skin care. Biasanya, seenggaknya 1 tahun sekali aku ke skin care. Tapi tahun kemaren nggak sama sekali. #nangis


Akhirnya aku cuma perawatan seadanya dirumah. Perawatan itu pun cuma facial wash, terus krim pagi. Itu yang paling simpel seantero jagat raya dan memang cocok perawatan wajah untuk pemula. 


FACIAL WASH

Pemilihan facial wash juga ditentukan dengan kulit wajah. Kalau kulit wajahku kering cenderung berminyak, dan aku biasanya tetap pilih facial wash untuk kulit normal. Biasanya aku pakai Ponds selama bertahun-tahun, sekitar 15 tahun. Wow banget yah! Ternyata Ponds bener-bener menemani perjalanan perawatan wajahku. 


Selama aku pakai itu, memang wajah terasa lebih segar dan bersih setelah pakai, tapi pas setelah lama di luar tetap terasa lusuh. Dan memang beda sih kalau perawatan di salon sama perawatan sederhana itu. Aku pernah nggak pakai produk skin care yang beredar di toko tapi memilih di skin care. 


Kulitku bener-bener kinclong, kenyal dan nggak kusam meski sudah berlama-lama di luar. Tapiii setelah itu, jerawatku tumbuh banyak. Dan disuruh berhenti memakai krim dari skin care itu. Sengaja nggak aku sebutin. Kata dokternya memang agak bermasalah skin care itu.



Setelah sembuh akhirnya aku pindah facial foam Citra. Nggak ada alasan khusus sih, memang pengen ganti aja. Hasilnya sih kurang lebih sama. Hahaha. Terus pas di web Wardah ada promo aku coba aja facial wash untuk oil dari Wardah. Hasilnya belum kerasa sih karena baru beberap kali pakai.


SERUM

Nah, biasanya habis pakai facial wash, aku pakai pelembab atau cream tanpa SPF (Entah kenapa sekarang susah banget cari day cream tanpa SPF). Tapi karena aku beli day cream anti aging di web Wardah jadi deh aku dapat bonus facial foam dan serum Hazel. Lumayan banget.



Manfaat serum sendiri membuat kulit wajah lembab, membantu meringkas pori karena mengandung Vitamin E dan Hyaluronic Acid.


Jangan tanyakan efeknya di wajahku karena aku baru pakai sekali. wkwkw. Dasar emang agak males sih. Soalnya baru pertama coba jadi agak takut karena dulu pernah jerawatan. Teman-temanku malah pengen banget dapat serumnya, Haha.


CREAM 

Kalau krim wajah ini wajib dipunya setelah pemakaian facial wash karena setelah pakai facial wash biasanya kulit agak kering jadi perlu pakai pelembab. Nah, sekarang tuh jarang banget cream yang nggak pakai SPF. Semua krim siang biasanya selalu ada SPF nya padahal kan kalau nggak keluar rumah nggak perlu pakai SPF. Bener gitu nggak? Atau harus tetep pakai SPF di dalam rumah? Cream ini bisa cuma moisturizer tanpa SPF, day cream dengan SPF dan night cream.


- MOISTURIZER

Ini yang sering aku pakai dari dulu setelah pemakaian facial wash. Cream moisturizer, krim pelembab. Lumayan memang membuat kulit wajah terasa lembab. Aku biasanya pakai pelembab wajah Ponds sejak aku remaja, terus aku pindah pakai krim Citra, sekarang pindah lagi pakai Wardah. Haha.





- DAY CREAM SPF

Sebenarnya aku nggak biasa sih pakai SPF, tapi mengingat wajah semakin menua, sinar UV dari matahari semakin berbahaya, rasanya pemakaian SPF saat keluar rumah itu wajib. Maka, saya usahakan pakai SPF setiap keluar rumah, kecuali nyapu depan rumah sih. Oiya, sebenarnya SPF ini bisa terkandung di dalam day cream atau liquid foundation. Sayangnya, setelah selesai pakai day cream SPF wajahku langsung timbul merintis-merintis kecil banyak. Kadang malah jerawat yang gedean dan sakit. Setelah itu biasanya aku nggak pakai SPF day cream. Apa karena nggak cocok pakai SPF? Terus gimana dong kalau lagi keluar rumah nggak pakai SPF? tapi emang sih setelah pemakaian day cream SPF kalau selesai mandi aku pakai facial foam, bukan pakai cleansing milk atau toner, semacam itu. Dan kayaknya aku nggak cocok deh pakai SPF.







- NIGHT CREAM

Entah kenapa suatu waktu aku beli night cream, pengennya perawatan komplit yang sederhana di rumah. Eh ada nggak sih komplit yang sederhana? haha. Jadilah aku beli night cream. Sebelum tidur aku pakai night cream. Pas bangun tidur kerasa lebih lembab gitu. Beda kalo nggak pake night cream yang terasa muncul minyak di beberapa bagian wajah dan kering di beberapa bagian.



Terus aku kudu gimana dong kalau mau perawatan wajah yang makin sensitif ini? Hiks.






Read More

Setelah bolak-balik tes darah yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya tetang Bintik Merah dan Trombosit Turun. Sekarang aku mau cerita tentang pengalaman anakku opname di Rumah Sakit Bunda, Waru, sidoarjo, yang terkenal reviewnya yang jelek.


Aku nggak tahu kenapa tetap nekat pergi ke rumah sakit itu. Mungkin karena rumah sakit Bunda lokasinya strategis dan dekat dari rumah, jadi kalau aku perlu apa sama suami, nggak perlu jauh-jauh datang.


Oiya, sebelum Ghalib sakit, sejak dia mulai makan nasi lembut, sekitar usia 10 bulan (sebelumnya makan bubur bayi), dia sudah menunjukkan ketidaktertarikannya dengan makanan apapun kecuali snack. Jadi setiap dia makan nasi cuma tiga suap setelah itu nggak mau sama sekali. Dipaksa pun nggak bisa. Beda sama Masnya meskipun sulit makan, dipaksa kadang masih bisa. Apalagi timbangan Ghalib nggak naik-naik. Grafik berat badan dia sudah mepet kuning soalnya. Aku kira, mungkin karena itulah anakku akhirnya jatuh sakit. 


Sesampainya di IGD rumah sakit Waru, dokter IGD memeriksa hasil tes darah dan widal yang aku berikan. Beliau mengatakan anakku harus diopname. Aku disuruh tanya ke bagian administrasi dulu apakah masih ada kamar atau tidak. Kalau ada, baru daftar sesuai prosedur opname di rumah sakit.


Lobi rumah sakit Bunda, Waru, ramai penuh sesak. Meski Covid belum merebak, aku agak-agak ngeri lihat keramaian di rumah sakit waktu itu. Para adminnya sibuk melayani keluarga pasien yang mau bayar, pasien BPJS, mau daftar, menunggu dokter, dan lain-lain.


Aku menunggu sekitar 3 orang, kemudian giliranku. Aku bertanya apa masih ada kamar? Petugas yang super sibuk tetap bisa bercanda bersama pegawai lain di sela-sela melayani keluarga pasien. Dia menanyakan pasien BPJS atau bukan. Karena aanakku belum punya kartu BPJS, jadi aku mengatakan bukan BPJS.


Dia menyuruhku menunggu. Dan dia masih menyelesaikan pekerjaan lainnya. Tak lama, dia menelepon petugas yang ada di bagian back office. 


Alhamdulillah masih sisa 1 kamar kelas dua. Lega banget. Kemudian dia menjelaskan jumlah biaya opname rumah sakit Bunda yang harus dikeluarkan per malam. Aku lupa tepatnya berapa biayanya. Kalau nggak salah 150.000, diluar obat per hari dan visitasi. Aku iya-iya aja deh. Nggak mikir yang penting anakku segera ditangani.


Akhirnya aku pun mendaftar, membaca ketentuan, prosedur opname di rumah sakit, dan membayar sejumlah uang untuk DP. Jadi nanti total berapa tergantung berapa jumlah hari menginap terus kekurangannya bisa dibayar saat mau keluar dari rumah sakit.


Kira-kira butuh waktu setengah jam aku melakukan pendaftaran apalagi petugasnya memang sering bercanda dengan pegawai lain. Aku perhatikan sih wajar lah mereka begitu, pasti kerjaan mereka bikin kepala puyeng. Yang penting nggak sampai terbengkalai pasien. 


Setelah itu aku kembali ke IGD dan mereka mempersiapkan alat untuk menginfus anakku. Anakku melihat ruangan IGD yang banyak tempat tidur nggak mau sama sekali lepas dariku. Mungkin ia takut karena merasa asing dengan tempatnya itu. Meski sudah kubujuk-bujuk untuk tidur di tempat tidur IGD, dia nggak mau. Okelah, akhirnya aku pangku sambil gendong.


Aku pun sempat bertanya bintik merah pada kulit bayi setelah demam? Mereka menjawab bisa jadi karena panasnya tinggi.


Perawat pun mendatangiku. Semua petugas di IGD pada menanyakanku, "Kemana keluarganya? Ayahnya?"


Aku bilang, "Nggak ada, Pak. Suami saya jaga anak saya yang kena tipes di rumah." Duh, berasa sedih banget ya. Mereka mungkin kasihan sama aku. Karena aku harus tetap wira-wiri untuk ambil obat dan bayar dan siapa yang akan menjaga anakku kalau aku wira-wiri.


Seharusnya sih rumah sakit punya sistem atau aturan yang bisa mengantisipasi masalah itu. Nggak semua pasien punya keluarga terdekat yang bisa dimintai tolong untuk menolong.


Akhirnya, petugas IGD malah membantuku untuk membelikan obat dari resep dokter IGD. Alhamdulillah, Allah beri kemudahan. Aku sangat berterima kasih karena kebaikan beliau. Aku pun membayar sejumlah uang sesuai yang tertera di kwitansi. Beliau pun kembali lagi ke apotek. Menunggu obat jadi, saatnya anakku dikasih infus.


Dan ini adalah momen yang nggak aku lupa. Rasanya pengen nangis saat melihat tangan kecilnya ditusukkan jarum. Anakku menangis, menendang-nendang, dna memukul-mukulkan tangannya. Aku memeluk dan menahan tangannya agar perawat gampang memasukkan infus.


Anakku cuma mengatakan sambil menangis dan mengeluarkan air mata, "Acit, Bu...Acit..." dengan pengucapannya yang belum jelas. Aku cuma bisa bilang, "Sabar, ya.. Sabar... nanti sembuh, kok..." Meskipun aku nggak yakin dia bakal paham arti dari sabar, tapi tetap saja kukatakan begitu.


Perawat IGD cukup kesulitan memasukkan jarum infus ke tangannya karena trombositnya rendah. Masnya cerita kalau trombosit rendah itu biasanya pembuluh darah sulit ditembus atau pecah atau gimana gitu ya. Aku nggak paham. Jadi harus bolak-balik ditusuk lagi dengan jarum. Hiks..


Setelah beberapa menit, akhirnya, jarum infus masuk juga. Tangan anakku sudah dikasih infus beserta penyangga kayunya biar tidak mudah lepas. Ghalib heran melihat tangannya diberi infus dan kayu. Dia melihat-lihat sambil memutar-mutarkan tangannya. Karena itulah, infusnya selalu berdarah. Aku gupuh karena darahnya jadi masuk ke infus. Kata petugasnya kalau bisa posisinya turun ke bawah tangannya.


Setelah kamar siap, akupun diantar dengan naik kursi roda. Ya. Aku naik kursi roda sambil menggendong anakku yang lemas. Tas berisi pakaianku dibawakan sama masnys. Oh, Ya Allah beruntunglah aku karena mereka super baik. Aku pun lewat lift khusus yang hanya bisa diakses dengan ID petugas karena ada barcode nya.


Akhirnya aku sampai juga di kamarku lantai 2. Begitu masuk, aku melihat ada tiga tempat tidur yang disekat-sekat. Dan semua sudah penuh kecuali di pojokan. Aku pun membaringkan anakku di sana. Awalnya dia nggak mau dan takut tapi aku membujuknya. Akhirnya dia mau juga.


Dan mulailah malam itu kami bermalam di sana.


Makan malam selalu diberikan pukul 4 sore, sementara makan pagi pukul 6 pagi, dan makan siang pukul 11. Setiap makan selalu ada sayur, lauk ayam/ikan, tempe/tahu dan cemilan. Anakku juga disuruh minum obat antibiotik 1 hari 2x dengan jeda 6 jam, minum obat diare (kebetulan saat sebelum ke rumah sakit dia diare), dan obat batuk pilek (meski bapil cuma sedikit). 


Drama banget lah saat minumin obat. Aku sempat bingung karena dia pasti lonjak-lonjak sementara tangannya diinfus. Aku takut aja dia lonjak-lonjak terus lepas. Eh, alhamdulillah dia masih bisa dikendalikan meski aku harus menahan badan dan tangannya dengan kakiku kemudian kedua tanganku meminumkan obat. Pfiuh. Alhamdulillah juga dia mau makan nasinya.


Jangan tanyakan aku makan gimana. Aku benar-benar lupa. Ingatku aku masak opor dengan bumbu instan dan aku bawa saat itu. Kalau nggak ya aku makan sisa makan Ghalib. Pengalaman luar biasa. Aku nggak pernah opname, malah anakku yang opname. Hiks.


Saat visitasi pertama di hari kedua sekitar jam 8 malam, dokter datang dan menanyakan keluhan dan kondisi. Aku juga nggak tahu kenapa dokternya baru datang di hari kedua. Orang di sebelahku udah protes kesal karena dokternya visitasi cuma sekali satu hari. Aku sih biasa aja. Aku nggak pernah berurusan dengan rumah sakit, jadi aku nggak bisa membandingkan dengan rumah sakit lainnya. Mungkin bunda-bunda punya pengalaman di rumah sakit berapa kali dokternya visitasi ke pasien?


Pas dokternya datang, Ghalib diperiksa suhu tubuhnya, denyut jantungnya. Terus aku bilang awalnya sempat mencret, nggak mau makan, demam, batuk. Saat visitasi, Ghalib sudah nggak mencret, nggak demam, tapi masih lemes dan nggak mau makan. Setelah itu, dokter akan menentukan apakah masih lanjut dengan obatnya, ditambahi obat, atau berhenti. Karena anakku sudah nggak mencret, jadi obat diarenya disuruh berhenti minum.


Ketika air infus habis, aku menghubungi perawat untuk segera diganti. Eh, kebetulan perawat yang menangani baru pindahan dari rumah sakit lain. Kayaknya lebih muda gitu jadi agak ragu saat akan memutuskan sesuatu tapi sudha cukup mahir untuk mengganti infus.


Dua hari sudah aku di rumah sakit, alhamdulillah anakku di rumah sudah baikan. Untungnya di rumah ada tantenya juga pas weekend ada yang nemenin dan masakin. Tapi pas besoknya, ayahnya harus kerja. Tantenya juga kerja. Jadi terpaksa anakku pertama ikut menunggu di rumah sakit. Aku menyuruhnya pakai masker dan jaket. Begitu juga dengan suamiku. 


Pas Ghalib ngelihat ayahnya dan masnya, ada rasa senang terlihat di wajahnya apalagi dibelikan makanan meski dia masih merasa lemas tidur di tempat tidur. Ayahnya juga sempat menggendong Ghalib. Pas digendong itu, Ghalib malah cerita banyak meski suaranya nggak begitu jelas. Kelihatan banget dia semangat bercerita. Begitu ayahnya pulang, Raceqy yang susah dibujuk karena nggak mau ayahnya pergi. 


Akhirnya tak ajak nonton televisi. Meskipun Raceqy menonton televisi di kamar sambil duduk di pinggir tempat tidur, tapi tetep aja dia nggak betah. Ngelihat anakku yang kedua terbaring di tempat tidur, wajahnya sedikit takut-takut gitu. Mungkin juga ada rasa kasihan. Beberapa kali minta pulang.


Pas dokternya datang visitasi malah ditegur kok ikut ke rumah sakit. Haha. Ya gimana sih. Menjelang maghrib akhirnya suamiku datang dan menjemput anakku. 


Aku lupa berapa kali Raceqy datang menjenguk ke rumah sakit. Ingatku cuma sekali. Total empat hari aku di rumah sakit. Hari keempat, aku sudah boleh pulang oleh dokter. Kondisi anakku sudah nggak begitu lemas. Diminumin obat udah punya tenaga untuk menolak. Aku kewalahan sendiri. Makan juga udah mulai lahap. Mencret udah nggak. 


Pas dokternya visitasi terakhir sebelum aku pulang, aku tanyakan penyakit apa kok trombosit turun tapi bukan DBDn. Soalnya trombosit turun menurut artikel yang aku baca dokternya nggak bilang kena penyakit apa. Beliau cuma bilang paling cuma infeksi. Kan aku bingung. Tapi yaudahlah.


Susahnya menjaga anak sendirian itu, pas aku harus mengurus administrasi, aku harus meminta orang untuk menjaga Ghalib. Kebetulan waktu itu ayahnya lagi nggak ads jadwal ngajar jadi bisa nemaninRaceqy di rumah. Akhirnya aku meminta tolong perawat menjaga anakku yang sedang tidur sementara aku ke lobi.


Oiya, untuk mengurus administrasi kepulangan aku harus menunggu aba-aba dari perawat yang stand by dekat kamar karena mereka yang harus menyelesaikan semua daftar tanggungan yang harus aku bayar. Kira-kira satu jam, baru deh aku disuruh ke lobi.


Aku kira urusan langsung selesai, ternyata aku harus wiwa wiri. Ke apotek dulu, bayar obat dulu, nunggu resep, terus ke lobi, masih nunggu lagi, terus dipanggil. Total biaya opname di rumah sakit Bunda Waru lumayan banget sih 4 hr sekitar 2jt rupiah (di kelas 2). Hiks..Gara-gara nggak pake BPJS. Yaudahlah. Yang penting anakku sehattt.


Sama dokternya, aku masih disuruh cek satu bulan lagi tapi waktu itu pas jadwalnya pas aku nggak bisa. Aku lupa lagi kemana ya. Suami juga bilang yaudahlah anak juga sudah sembuh wkwkwkwk. 


Alhamdulillah, semenjak keluar dari rumah sakit, makannya lahap banget dan banyak. Sampai aku kewalahan. Kalau tengah malam banguh, dia minta makan, bingung nggak ada lauk. Untungnya dia mau nasi kecap doang. Semakin lama, sekitar 1 tahun kemudian, sudah nggak selahap itu. Udah bosan makan nasi kecap juga. Sukanya makan ikan. Masyaallah. Sampai sekarang makannya jadi membaik. Dulu cuma tiga suap sekarang sudah banyak. Cuma ya gitu, kalau nggak mau ya bener-bener nggak mau. Ngemil juga banyak. Dan... badannya tetap kurus. Haha.


Sekian ya cerita pengalaman anakku opname di rumah sakit gara-gara bintik merah di kulit bayi dan trombosit turun disertai demam tapi bukan DBD.

Ketika menemani anak opname di rumah sakit, banyak hikmah yang kudapat seperti:

1. Banyak kondisi anak lain yang lebih parah saat diopname. Ini adalah hal pertama yang harus disyukuri. 


2. Betapapun kuatnya si ibu, tetap saja ia akan lemah melihat anaknya sakit. Itulah kenapa ibu-ibu selalu merasa khawatir saat anaknya sakit tapi tinggal jauh. Yang dekat saja sudah terasa sedihnya, apalagi jauh. 


3. Sesendiri apapun kamu, akan selalu ada Allah menemanimu. Sebaik-baik penolong ya Allah. Minta sama Allah. Orang lain menganggap kamu nggak bisa melakukannya sendiri tapi berkat Allah semua bisa. Entah tiba2 ada saja yang nolongin.


4. Googling tentang penyakit yang diaami anak itu bisa membuat kita tenang atau malah makin kalut. Biar tenang, pergi ke dokter dan berdoa pada Pemilik Kehidupan.


5. Jangan percaya dengan kata orang atau komentar orang tentang pelayanan suatu fasilitas kalau tidak mengalaminya sendiri. Memang harus dicoba dulu baru percaya. Setiap orang punya standar sendiri2. Bisa aja orang bilang baik, kita menganggap biasa aja atau malah bagus.

Read More

Sebenarnya ini cerita 1 tahun yang lalu, tepatnya awal bulan Februari 2020. Cerita yang bikin aku galau dan mewek.


Waktu itu anakku tiba-tiba demam dan nggak mau makan. Aku lupa siapa yang duluan sakit. Anak pertama (Raceqy) atau anak kedua (Ghalib). Yang kuingat mereka sama-sama sakit demam. 


Aku kira mereka mau batuk pilek. Jadi aku kasih Sanmol. Biasanya setelah  satu hari, demam akan turun. 


Demam Raceqy turun di siang hari, pas malamnya malah panas nggak karuan. Sampe menggigil. Belum lagi dia mengeluh sakit perut. Nggak mau makan. Jadi aku belikan makanan kesukaannya, yang penting ada makanan masuk termasuk susu. Sanmol juga tetap kuberikan. Tapi sakit tak kunjung turun. Nggak ada tanda-tanda dia pilek atau batuk seperti biasanya. Eh, apa batuk juga ya. Aku agak lupa. Seingatku nggak batuk atau batuk tapi nggak parah. 


Belum sembuh si kakak, adiknya juga ikutan sakit. Ghalib juga cuma tidur-tiduran di tempat tidur. Demam. Lemas. Menggigil. Nggak mau makan, maunya minum susu formula. Dia sudah lepas menyusui satu bulan sebelum itu. Yang agak aneh itu dia selalu menatap satu sudut kamar tanpa mengerlipkan mata. Aku coba ajak dia ngmong tapi dia cuma emnoleh sebentar terus kembali lagi menatap sudut kamar. Aku agak merinding sih.


Di hari ketiga ternyata Raceqy masih demam naik turun, lemas, nggak mau makan. Cuma dari kondisi mereka berdua, kondisi Raceqy yang agak memperihatinkan. Aku mulai khawatir nih. Tapi pas aku lihat kulitnya nggak ada bintik-bintik merah. Terus dia mengeluh sakit perut di bagian bawah. Kupikir dia mencret tahunya nggak. 


Pas hari ketiga juga aku cek kulit Ghalib ternyata malah muncul bintik-bintik merah. Duh, langsung khawatir deh. Akhirnya aku ajak dia cek darah lengkap dan widal di klinik dekat rumah. Aku cek darah dinKlinik Geo Medika, Waru, Sidoarjo. Harganya 120-40ribu, aku lupa tepatnya. Maaf. Sementara Raceqy di rumah sama ayahnya.



Saat itu Ghalib lagi lemas. Saking lemasnya, saat jarum suntik dimasukkan ke dalam kulit, dia nggak menjerit, tapi nangis aja pasrah gitu. Duh, baru ini lihat anakku diambil darahnya rasanya gimanaaa gitu.


Terus aku minta petugas kesehatan untuk ke rumah, maunya periksa anakku yang pertama di rumah aja. Karena setahuku petugas klinik bisa datang ke rumah. Home Visit gitu. Kayaknya aku nggak mungkin ajak mereka berdua ke klinik pas periksa anak kedua. Maklim anakku yang kedua masih nggak bisa pisah sama mboknya. 


Ternyata dokternya lagi keluar jadi aku harus menunggu dokter bisa datang ke rumah. Aku pun pulang dan menunggu di rumah. Sayangnya dokter nggak kunjung datang, jadi aku nggak ngarep lagi dokter datang ke rumah. Aku kesana lagi untuk ambil hasil tes darah.


Satu kekhawatiranku saat baca hasil tes darah pertama Ghalib adalah aku nggak paham isinya. Setelah aku buka amplopnya, aku tanya sama petugas klinik di sana. Dia pun menjelaskan kalau trombosit anakku Ghalib masih normal sekitar 222.000 jadi kemungkinan demam berdarah rendah. Tiphoid negatif. Semua normal kecuali Hb dan Hematokrit. Aku tanya Hematrokit apa. Dia menjelaskan dengan bahasa awam intinya karena kurang air jadi darah pekat. 






Oh. Ok. Aku lega karena bintik-bintik itu berarti bukan demam berdarah. Tapi aku penasaran terus kenapa? Akhirnya aku minta ketemu dokter.


Terus dokternya bilang kalau tes darahnya masih terhitung 2 hari karena aku tes hari ketiga dia sakit. Bukan seperti hitungan dokter.


Kalau menurut dokternya, harusnya 3 hari setelah demam. Bukan hari ketiga ya. Jadi 24 jam setelah dia demam berarti dihitung satu hari. Jadi hari keempat baru valid kelihatan hasilnya. Dokternya minta aku datang lagi besok lagi. 


Dia juga bilang kalau bintik-bintik demam berdarah bukan begitu. Kalau bintik demam berdarah itu, kalau kita tekan jari kita ke bintiknya dan mengusapnya bintik merahnya masih kelihatan berarti DB tapi kalau ditekan kencang dan nggak kelihatan bintik merah berarti bukan seperti pada kulit Ghalib. Jadi dokternya menekan kulit Ghalib dan bintiknya memang nggak kelihatan. Lega sih. 


Akhirnya aku besok datang lagi dan membawa anakku Raceqy untuk ambil tes darah juga. Jadi ku harus kebal lah mendengar mereka berdua nangis. Rasanya teriris banget lah. Hiks. Mewek.


Kami pun pulang lagi. Dan aku mengambil hasilnya dua jam kemudian. Ketika kulihat hasil tes darah  Raceqy hasil tiphoid nya postif 1/80 yang artinya anakku kena tifus kalau kata mbak petugasnya. Langsung deh aku minta ketemu dokter. 


Benarlah kata petugasnya, menurut dokter Raceqy kena tifus. Pengen nangis rasanya. Tapi dokter bilang tingkatnya masih rendah, jadi masih bisa dirawat di rumah dengan resep dari dokternya. Nggak perlu diopname di rumah sakit. Legalah akhirnya.


Ketika melihat hasil tes darah Ghalib yang trombositnya makin menurun menjadi 110.000 meskipun masih di atas normal sedikit. Sayang, aku lupa foto dan aku lupa taruh dimana.


Aku khawatir. Aku jadi tanya ke dokternya. Memang sih turunnya dalam seminggu sakit nggak seperti DB yang bisa sehari saja drop banget. Itu yang dikatakan dokternya. Dia bilang besok tes lagi aja, kalau misal turun lagi ya terpaksa harus diopname. Pas pulang, aku belikan minuman jus jambu. Pokoknya semua makanan yang dia suka dan yang bisa menambah trombosit. Sari kurma, madu. Tapi aku nggak yakin bisa nambah trombosit dalam waktu satu hari.


Karena besoknya Ghalib masih lemes, sementara Raceqy meski masih tidur-tiduran, tapi suaranya sudah muali bersemangat. Kuanggap dia mulai baikan, jadi aku tes darah lagi untuk Ghalib. Duh, kasihan banget bolak-balik tes darah gara-gara salah perhitungan hari. Maklum sudah khawatir duluan ngelihat bintik-bintik merahnya.


Aku bilang sama suami. Kalau misal trombositnya masih turun lagi, aku nyerah. Aku sudah berupaya buat trombositnya naik, tapi kalau belum berhasil, aku terpaksa ke rumah sakit.


Besok pagi-pagi setelah mendapat hasil tes lab darah yang ketiga kalinya, aku cukup sedih. Hasil trombositnya semakin turun sekitar 80.000. Sayangnya hasil tes ini aku kasih ke dokter di rumah sakit jadi belum sempat foto karena sudah kalut.


Ingetku aku langsung pulang ke rumah dan memberitahukan hasilnya kepada suami. Kami sempat bingung mau ke rumah sakit mana. Apalagi Ghalib belum sempat dibuatkan BPJS. Ada rumah sakit besar A tapi biayanya pasti besar banget. Ada juga rumah sakit kecil B semacam ruko gitu, parkir mobil susah, tapi katanya sih lumayan dibanding rumah sakit C. Sedangkan rumah sakit C katanya pelayanan jelek, di dekat kampung, pasar, tapi parkir besar dan lebih besar dari rumah sakit B. Harganya juga murah kalo aku lihat-lihat di internet. Memang aku sempat searching malam sebelumnya.


Akhirnya kami memutuskan ke rumah sakit C. Rumah Sakit Bunda Waru. Bismillah aja. 


Aku pun masukkan baju ke dalam tas. Bajuku dan Ghalib. Aku minta suami jagain anak pertama di rumah, sedangkan aku pergi ke rumah sakit dengan Go-Car. Dia juga pasrah aja waktu itu. Sepanjang perjalanan rasanya campur aduk.


Sampai sana aku langsung ke IGD,petugas IGD bilang memang harus opname kalo trombosit segitu. Disuruh tanya dulu ada kamar atau nggak. Setelah itu urus administrasi.


Pas ke administrasi, banyak banget pengunjungnya. Aku menunggu antrianku. Untuk cerita selanjutnya, aku ceritain kapan-kapan ya. Pegel juga nih ngetiknya. Haha.


Beberapa pelajaran yang bisa diambil sebagai orang tua ketika anak sakit adalah :


1. Jangan biarkan anak terbiasa makan snack terus-terusan tanpa asupan protein, karbohidrat, serat yang cukup. Hasilnya bisa dilihat pada anakku Ghalib. Ia mengalami hemoglobin rendah, trombosit turun dan berdampak banget sama berat badan.


2. Kepanikan saat anak sakit malah membuat kita tidak bisa berpikir jernih. 


3. Tiga hari adalah batas yang bisa ditolerir memberikan obat anak selama di rumah. Kalau lebih dari tiga hari, maka harus dibawa ke dokter. Kalau bisa sampai hari keempat. Karena biasanya dokter juga belum bisa mendiagnosis penyakit apa. Karena biasanya setelah tiga hari, tanda2 spesifik akan terlihat. Apalagi saat bintik merah terlihat, mending cek darah untuk menenangkan diri.


4. Setiap detik kita harus peka terhadap perubahan kondisi anak. Kalau bisa diperiksa seluruh badannya setiap hari.

Read More

Follower