Menulis blog



Terjerumus dalam Dunia Blog


Sebenarnya tak ada yang menjerumuskan aku ke dalam dunia blog. Aku sudah menulis di blog tahun 2008. Aku lupa nama blog pertamaku apa dulu tapi masih belum domain berbayar alias belakangnya masih blogspot.com. Eh iya, banyak banget yang salah mengira kalau di belakang URL blogspot.com itu depannya pakai www. Misalnya www.namablog.blogspot.com. Padahal kalau pakai www itu artinya sudah domain berbayar atau sudah Top Level Domain (TLD) sedangkan kalau blogspot.com itu artinya blog masih belum TLD.


Dulu, aku berencana mencatat semua pengalamanku dari semester 1 sampai selesai. Sayangnya, itu belum terwujud. Alasannya karena setiap semester terlalu banyak tugas dan jadwal kuliah.


Di awal menulis blog pribadi, hanya ada tiga artikel di tahun 2008 dan tiga artikel di tahun 2009. Semua tulisan tentang materi perkuliahan, satu artikel tentang organisasi dan satu artikel tentang kehidupan perkuliahan. 


Di tahun 2010 mulai meningkat sebanyak sepuluh artikel. Aku mulai mencoba mewujudkan keinginanku untuk menulis pengalaman dari semester satu sampai selesai karena waktu itu aku sudah lulus. Kupikir akan ada banyak waktu untuk menulis blog. Nyatanya, tidak juga. Hahhaa.


Aku berpikir untuk apa aku menulis di blog? Apa sebenarnya tujuanku mengabadikan tulisan di blog kalau cuma isinya tidak ada manfaatnya sama sekali. Aku kemudian berpikir bagaimana blogku setidaknya bermanfat bagi orang yang ingin mendapatkan informasi sesuatu.


Kemudian, aku mulai memanfaatkan blogku dengan memasukkan tugas-tugas kuliah di sana. Dan itu bertahan sampai S2. Terkadang juga menceritakan tentang pengalaman pergi ke suatu tempat atau mengisi weekend di sela-sela kuliah. Dan gimana isinya? Bisa dipastikan isinya sangat sederhana dan tidak seperti sekarang. Dulu, isi blog diceritakan sangat umum sekali. Kurang mendetail. Terasa sekali banyak informasi yang kurang.


Alasan Bertahan di Dunia Blog

Sampai suatu ketika, view blogku setiap artikel mulai bertambah gara-gara setelah tugas selesai aku memasukkan dalam blog. Entah kenapa aku dulu tidak kepikiran plagiarisme ya. Jadi pokoknya tugas artikel itu aku masukkan ke dalam blog.


Hasilnya, view dari cuma 10-an bisa sampai 50-an. Bahkan ada komentar ucapan terima kasih karena telah memublikasikan suatu artikel tentang mata kuliah. Aku merasa menjadi lebih bersemangat. Aku menulis tentang tempat yang aku kunjungi, tentang apa pun yang mungkin orang lain perlu tahu. 


Aku mulai lebih banyak menulis pengalaman aku hidup di luar negeri. Meski tidak begitu banyak tapi alhamdulillah view artikel sudah mencapai ratusan waktu itu.


Sampai suatu ketika, aku menikah dan resign dari pekerjaanku, aku mengikuti lomba blog dari Goodnewsfromindonesia. Tak menyangka, artikelku menjadi dua puluh pemenang lomba blog dan dibukukan dengan judul Inovasi Daerahku. 


Prestasi pertama dalam dunia menulis di blog itulah yang menjadi lecutan untuk terus menulis di blog. Prestasi pertama itulah yang akhirnya aku mengubah nama domainku. Waktu itu, nama domainku adalah litaetlavie.blogspot.com yang tercantum dalam buku Inovasi Daerahku. Setelah itu, prestasi menulis blog alhamdulillah masih lanjut meski tidak banyak. 


Dibalik Nama Domain Lestelita.com

Aku lupa bagaimana ceritanya. Seorang temanku di FLP dan blogger, Mbak Fauziah, mengiming-imingiku untuk mengganti nama blog menjadi TLD. Ibaratnya investasi untuk blog. Mbak Fauziah bilang menulis blog bisa dibayar karena akan ada banyak sekali tawaran job kalau blognya sudah TLD. 


Awalnya aku tidak percaya. Apakah benar menulis blog bisa mendapatkan uang? Mengingat investasi blog itu lumayan juga. Untuk beli domain saja sekitar 150.000 rupiah selama satu tahun tergantung pakai hosting yang mana. Beliau malah cerita, harga segitu sudah murah sekali apalagi kalau dapat job di total bisa berkali-kali lipat.


Memang sih selama ini aku lebih sering menulis artikel blog tapi belum pernah kepikiran untuk mengganti menjadi TLD. Apalagi memperoleh pendapatan dari blog. Rasanya itu jauh dari bayangan. 


Nama blogku sebelum TLD adalah litaetlavie.blogspot.com. Kalau dalam bahasa Prancis, Lita et La vie itu artinya Lita dan kehidupannya. Tapi kemudian aku mengubah nama itu menjadi nama lain yang lebih mudah dibaca yaitu Lestelita. 


Kenapa Lestelita?

Kalau temanku SMA pasti sudah tahu alasannya karena Leste itu nama panggilanku waktu SMA. Gara-gara aku memberi nama gelasku itu Lesteea dari nama belakang Lestianti. Eh, diplesetin sama temanku itu Leste. Timor Leste!


Oh! Setelah itulah nama panggilanku Lita menjadi Leste. Haha. Dan atas kisah masa lalu itulah, aku memberi nama blogku Leste ditambah nama asliku Lita. Jadilah nama domain blogku Lestelita. Dan itu berubah sekitar tahun 2015. Tapi untuk headernya blog aku kasih nama Lestiaa's.


Masyallah, tidak menyangka aku sudah bertahan lima tahun!


Keputusan Membeli Top Level Domain (TLD)

Kembali lagi ketika aku akhirnya memutuskan membeli domain. Alasannya, aku mau mencoba membuktikan. Haha. Jika ternyata satu tahun berjalan aku tidak dapat pemasukan dari blogku, ya lebih baik kembali ke blogspotcom saja.


Aku pun mencari-cari provider yang menyediakan domain dengan harga yang cukup murah tapi kualitas lumayan. Akhirnya aku memilih salah satu agen hosting yang lumayan murah dan profesional setelah cari di internet berjam-jam.


Eh, setelah aku beli domain dan nama blogku berubah menjadi lestelita.com seperti yang teman-teman lihat sekarang. Alhamdulillah benar saja. Aku mendapat beberapa tawaran job, mulai dari sponsored post maupun content placement.


Tapi yang harus diingat semua juga tidak ujug-ujug begitu ya. Kita harus konsisten menulis untuk mendapatkan view. Dan dari keputusan membeli domain TLD itu aku mulai mengenal edit html, edit template, desain logo blog, dan lain sebagainya. Paling tersulit adalah aku belajar SEO dasar, misalnya menulis keyword yang biasa dicari orang, biar bisa page one meski aku tidak pernah berhasil, haha. Bahkan akhirnya aku memasang Google Analytic dan Google Search Console demi melihat perkembangan blogku dan.. untuk job. Haha.


Tentang Blog Lestiaa's

Dulunya dari view cuma hitungan jari, sekarang hitungan jari kali seribu per bulan. Alhamdulillah sekarang viewku setiap bulan masih sekitar 7.800 pageview.

Memangnya di blog membahas apaan? Blogku memang awal-awal banyak menjelaskan tentang materi kuliah. Kalau aku lihat sekarang, viewnya memang lumayan. Apakah karena sudah lama? Atau memang pencarian materi kuliah tertentu selalu banyak? Kalau begitu sepertinya aku akan menulis materi kuliah yang lain. wkwkwk.

Karena sekarang aku tidak bekerja, jadi aku menceritakan pengalamanku sebagai seorang ibu, baik saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak yang sakit, ataupun segala hal tentang kehidupan seorang ibu dengan anaknya. Tak cuma itu, aku juga menceritakan segala hal tentang tempat yang aku kunjungi, literasi, review produk kecantikan dan perawatan kecantikan, bahkan lomba blog yang aku ikutin juga aku tulis di blog.


Sepertinya tulisan yang sampai sekarang selalu bermunculan komentarnya adalah tentang penipuan online. Banyak sekali yang bertanya tentang kasus mereka apakah uang bisa kembali.


Rata-rata sih aku menulis dengan gaya storytelling yang katanya lebih memikat klien. Namun, rupanya aku masih kurang kuat gaya storytelling dalam blog. Aku harus lebih banyak belajar menulis blog dengan gaya storytelling setelah mengikuti materi Storytelling dari Bambang Irwanto di kelas Growthing Blogger Batch 2.


Menurut beliau, menulis dengan gaya storytelling memiliki keuntungan. Pertama, personal branding akan terbentuk lewat tulisan karena orang akan mengenal diri kita dengan gaya menulis kita. Kedua, dengan menulis artikel bergaya story telling, maka tulisan akan lebih natural. Ketiga, dengan menulis bergaya storytelling, maka dijamin kemampuan menulis akan semakin berkembang. Tidak akan plagiat. 



Keinginan dari Blog Lestiaa's

Sampai saat ini, aku berharap bisa terus mengembangkan blogku, menjadikan blogku jadi lebih sehat. Karena ketika aku ikutan Kelas Growthing Blogger dan menilai blogku pakai SEO Tools, ternyata blogku kurang sehat. Haha. 


Skor website-ku cuma 64 dari 100, performa blogku di rentang moderate. Alias aku harus berhati-hati karena berada tidak jauh di atas batas performa rendah. Tak cuma itu, aku mau meningkatkan view blogku, menulis blog yang baik dan benar dan bisa dapat uang dari blog. Eh, monetisasi sebenarnya tidak melulu soal uang ya. Karena monetisasi bisa juga berupa produk. 


Namun, keinginanku yang paling utama adalah blog Lestiaa's ini bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan suatu informasi sesuai dengan slogan blogku. The more we share, the more useful we are to others. Tapi kalau ada yang ingin menjadikan blog yang berubah domain menjadi sumber penghidupan, maka perlu strategi lain, termasuk belajar SEO. Nah, kalau aku sih, selama ini memang buat senang-senang dan berbagi informasi saja, syukur-syukur kalau dapat sponsored post atau content placement dari luar. 


Jadi kebayang kan 12 tahun ini blog untuk apa aja. Dan gimana perkembangannya yang sangat lamban jika dibandingkan blogger-blogger lainnya.


Nah, teman-teman yang sudah punya blog tapi belum diurus sama sekali, apa tidak tertarik merawat blognya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain? 






Read More

Perempuan Berumah Tangga dan Pengembangan Kemampuan

Kehidupan ibu-ibu berumah tangga itu identik sekali dengan stereotype dapur, sumur dan kasur. Seolah stereotype itu begitu melekat pada perempuan yang sudah menikah yang hanya untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Well, sebagai seseorang yang lahir di era milenial yaitu abad 20, stereotype itu cukup mengganggu diriku. Aku nggak mau kehidupanku sebagai ibu rumah tangga hanya berputar pada tiga hal itu. Aku ingin ada hal lain yang harus aku kembangkan di era teknologi 4.0 ini.

 

Tujuannya tak lain adalah mengasah otakku sendiri. Sepertinya stereotype itu hanya terjadi pada perempuan jaman dulu. Sekarang, sudah banyak perempuan berumah tangga yang juga berkontribusi bagi kehidupan masyarakat luas, misalnya bekerja atau sekedar menyalurkan hobi.

Literasi Digital
Literasi Digital


Bekerja pun saat ini bisa dilakukan di kantor maupun di rumah. Yah, meski status orang bekerja kantoran dan dikerjakan di rumah (Work From Home), mereka punya high prestige-lah dibanding di rumah. Eh, benar tidak? Sebenarnya tidak juga. Toh sekarang semua juga tahu kalau bekerja bisa dari rumah gara-gara pandemi Covid-19. Baik yang punya status pegawai kantor ataupun freelance. Toh, semua sama-sama bisa menghasilkan.


Rasanya ibu rumah tangga saat ini memang harus dituntut mengikuti perkembangan jaman, mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan zaman. Eh, zaman yang gimana? Yah, zaman yang erat kaitannya dengan era teknologi 4.0 dimana teknologi sudah cukup maju, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak terpisahkan. 


Perempuan berumah tangga (yang tidak bekerja sebagai pegawai kantoran) harus mampu memberi nutrisi pada otaknya dan mengasahnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya mencari ilmu pengetahuan melalui artikel di internet, mengikuti webinar-webinar, ataupun berkontribusi memberi pengetahuan kepada khalayak umum seperti menulis di media online ataupun memanfaatkan media digital.


Kemampuan berpikir kritis bisa terasah dan memiliki kepercayaan diri kalau seorang perempuan berumah tangga terus mengembangkan pengetahuannya dengan mengikuti berita secara digital ataupun online dan memanfaatkan teknologi saat ini. 


Apalagi saat ini digaungkan literasi digital sebagai upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Eh, perlu sekali kan seorang perempuan berumah tangga yang bukan berstatus pegawai kantor melaksanakan literasi digital. Dan literasi digital memang untuk semua kalangan sih. Sebenarnya lingkup literasi digital itu apa aja?


Apa itu Literasi Digital?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Sebutan lain literasi adalah aksara. Jadi sebenarnya literasi tidak memiliki arti sempit yang memiliki lingkup membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan lain untuk mengolah informasi atau pengetahuan. Literasi ini biasanya digabungkan dengan bidang kemampuan lain seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi komputer, literasi sains, literasi internet, literasi finansial, dan sederet penggabungan kata lain.


Sedangkan arti dari literasi digital, menurut seorang penulis dari buku yang berjudul digital literacy yang diterbitkan pada tahun 1997, adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Belshaw menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan, alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi.


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adanya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namanya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi.


Jadi literasi digital itu sangat luas lingkupnya. Memanfaatkan literasi digital itu berarti membaca informasi secara digital melalui perangkat komputer atau ponsel, menggunakan aplikasi digital untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi dengan sebuah kreativitas.



Perkembangan Teknologi dan Minat Baca Masyarakat

Saat ini perkembangan teknologi memang sangat besar. Di Indonesia, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi cukup besar. Menurut Kominfo tahun 2018, kepemilikan telepon genggam sebanyak 355 juta sedangkan menurut APJII tahun 2018, pengguna internet sebanyak 171 juta jiwa. 


Namun sayang, jumlah tersebut tidak sesuai dengan minat baca masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.


Yang paling disayangkan lagi, minat baca masyarakat Indonesia itu rendah tapi menatap layar ponsel atau PC bisa sampai sembilan jam hanya untuk scrol-scrol saja! Padahal hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan literasi digital kita.

 

Literasi Digital, Apa Manfaatnya?


Sebenarnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari literasi digital:

1. Merangsang minat baca masyarakat. Jika sembilan jam digunakan hanya untuk membaca status masyarakat di linimasa yang biasanya kurang bermanfaat, sepertinya lebih baik untuk membaca berita atau cerita yang ada di media digital. Sembilan jam itu sangat banyak untuk bisa menyerap jutaan informasi di media digital. Dan untuk menghabiskan satu buku cerita saja, baik digital maupun bentuk fisik, sudah bisa selesai. Jadi, ini sebagai hal positif yang harus dialihkan ke arah yang lebih bermanfaat.


2. Lebih aware dan kritis dalam menerima informasi dari sumber digital. Dalam dunia digital, informasi apapun sangat mudah diperoleh. Mungkin pertama-tama ketika terjun dalam literasi digital, semua informasi dianggap benar sehingga mudah percaya dengan informasi apapun yang berseliweran di media digital. Namun, lama-lama kita akan paham sendiri dan mampu menilai serta mengolah manakah informasi yang layak dipercaya dan tidak. Bahkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang informasi melalui media digital.


3. Memudahkan dalam membuat keputusan. Informasi yang banyak tersedia di media digital sangat memudahkan masyarakat untuk membuat keputusan. Misalnya, jika berencana pergi ke suatu tempat maka informasi tentang cuaca, lokasi kemacetan, lokasi penginapan, dan lain sebagainya yang tersedia di internet memudahkan kita untuk mengambil keputusan. Semua tinggal cari di internet saja.


4. Memperoleh hiburan digital. Tak cuma tentang berita saja, masyarakat bisa memperoleh hiburan secara digital, misalnya menonton film di web tertentu, Youtube, video atau konten yang tersebar di media sosial.


5. Tidak ketinggalan berita. Manfaat literasi digital lainnya adalah tidak ketinggalan berita karena setiap membuka sosial media maka akan ada banyak komentar orang tentang suatu berita. Atau setidaknya ada pemberitahuan berita berlangganan.


6. Hemat biaya dan waktu. Untuk mencari informasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke tempat lain untuk memperoleh informasi. Jika tersedia di internet maka akan sangat memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan biaya rendah dan dengan waktu yang singkat. 


7. Bisa memperoleh pendapatan dari media digital. Tidak percaya? Coba saja diseriusi. Banyak caranya. Mulai menulis di blog dengan konten yang sering dicari orang. Bisa pengalaman sendiri saat travelling, hamil, menyusui, anak sakit, dll.


8. Mengurangi resiko penuaan dini. Eh, maksud aku setidaknya kalau otak kita terus terasah, maka insyallah resiko penyakit tua bisa berkurang karena otak sering terasah, seperti cepat lupa atau hilang konsentrasi. Maklum biasanya ibu-ibu yang hanya mengurus rumah lama-lama kemampuan otak akan menurun. Sayang banget kalau nggak memanfaatkan media digital untuk mengasah kemampuan otak.


Apalagi kalau view sudah ribuan dalam satu bulan. Bisa dapat google adsense, content placement, atau sponsor post. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan itu. Hihi. Eh, kecuali google adsense. Tidak cuma blog, kalau suka editing video dibanding menulis bisa juga untuk membuat konten di Youtube atau editing audio untuk publikasi di podcast. 


Aplikasi editing video yang user friendly banyak sekali tersedia di Play Store. Mudah dan murah. Kadang ada juga agency yang cari Youtuber yang biasa review produk di Youtube. Apalagi kalau view ribuan. 


Instagram, Twitter dan Facebook saja bisa juga menghasilkan uang dengan meningkatkan follower dan membuat konten yang menarik di medsos. Eh, tentunya ada prosesnya loh ya. Nggak langsung ujug-ujug dapat duit.



Perananku Dalam Membangun Literasi Digital yang Positif

Sebagai rumah tangga yang mengisi waktunya untuk menulis di blog dan media lainnya, ada beberapa peranan dalam membangun literasi digital, adalah:


1. Memanfaatkan media digital untuk menambah pengetahuan. Ini adalah perananku yang paling rendah karena aku hanya menggunakan media digital untuk mencari informasi, baik dari aplikasi peminjaman buku (Ipusnas), membaca cerita di platform menulis, membaca blog, menonton Youtube, mendengarkan Podcast, mengunduh aplikasi berita, dan lain sebagainya.


2. Pembuat konten di beberapa media digital dengan aplikasi user friendly. Selain itu, aku juga berusaha membuat konten positif di blog, platform menulis, Youtube atau podcast. Dan aplikasi yang aku gunakan tidak mempersulitkanku.


3. Penyebarluasan konten positif baik sebagai penulis blog, fiksi, youtuber maupun podcaster. Banyak sekali konten-konten yang menyebarkan berita negatif atau sesuatu yang memancing kerusuhan. Daripada aku menyebar fitnah yang belum jelas kebenarannya-karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya, hanya dari pihak ketiga yang belum benar infromasinya-maka lebih baik aku menyebarkan konten positif baik di blog, di platform menulis (Wattpad), Youtube dan Podcast.


4. Menjadi blogger dan penulis yang memperhatikan kaidah penulisan EBI. Masih banyak di luar sana yang masih menulis tapi tidak memperhatikan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Maka dengan menulis EBI yang benar, setidaknya pembaca akan terbiasa membaca EBI yang benar sehingga mempengaruhi cara pembaca untuk menulis selanjutnya. Karena kalau kita menulis dengan tata bahasa yang baik maka akan enak dibaca seperti yang dijelaskan oleh Gemaulani saat Materi 1 Kelas Growthing Blogger 2 tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost. Jadi aku harus menerapkannya dalam tulisanku ini. 



Jadi, teman-teman lebih baik kita menjadi insan yang literat digital ya daripada insan yang suka melakukan perundungan sana sini. Pertanggungjawabannya sampai akhirat loh, apalagi kalau menyebarkan hoax yang belum tentu benar. Jadinya fitnah kan! 

Yuk, emak-emak kita manfaatkan saja media digital untuk pengembangan diri kita. 










Sumber :

https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/

https://www.jawapos.com/opini/29/09/2019/literasi/

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media







Read More

 Menabung?


Sepertinya hal ini cukup sulit buatku. Haha. Karrna aku hampir nggak pernah menabung padahal dari kecil aku selalu menyanyi lagu :


Bang Bing Bung Yok... Kita Nabung..

Tang Ting Tung Hei Jangan Dihitung.. 

Tahu-tahu Kita nanti pasti untung.


Agak miris aja sih. Pas masih kecil dulu dikasih sangu setidaknya ada beberapa bagian yang ditabung. Hasilnya, lumayan bisa beli sesuatu yang dipengen, misalnya alat tulis yang lucu-lucu, makanan, atau bahkan buku cerita. Kenapa coba aku sampai nggak bisa menabung? Bahkan cenderung minta lagi sama suami? Haha. Ini rahasia sih. Tapi ada sesuatu di balik itu.


Jadi setiap bulan suami kasih uang bulanan sekian. Nggak semua gajinya dikasih. Nah, biasanya dari bulanan itu aku akan alokasikan dengan menaruh ditempat khusus.

- Biaya SPP TK anak per bulan Rp. 150.000,- 

- Iuran RT 70.000

- Listrik air Rp. 230.000

- Susu formula dan popok Rp. 250.000

- Beras 10 kg 100.000

- Pulsa 100.000 untuk aku dan suami.

Nah sisanya baru deh buat beli sayur, minyak, ayam, ikan, dan lain-lain. Tapi yaa karena gaji dosen aja nggak sampai UMR, jadi aku harus menghemat-hemat. Jangan bilang-bilang ya! Hahaha. Yang penting keluargaku tetap bisa jalan-jalan wkwkwk. Jadi sisanya nggak sebanyak hitungan di atas itu. 


Meskipun aku nggak bisa menabung tapi sebisa mungkin uang tiap bulan itu cukup kalaupun kurang seenggaknya nggak jauh2 nambah 200.000. Harusnya sih biaya satu hari makan itu sekitar 20.000 tapi terkadang malah bisa sampai 50.000.  Kadang suami sampai protes dikasih tahu tempe doang hahahahhaa. Kalau udah gitu, langsung deh beli ayam satu kilo bisa buat makan 2 hari, dibuat ayam crispy atau soto pakai bumbu Machmudah. 


So, tips hemat alaku meskipun nggak bisa menabung adalah #wkwkwk #nggakusahdicontoh.


- Pintar-pintar modifikasi makanan berbahan dasar tahu, tempe, jagung manis, telor, karena bahan-bahan itu murah didapatnya. Sekarsng sih memang enak banget dapat informasi resep. Tinggal buka hape dan gugling dapat deh karena di Cookpad udah banyak banget ide memasak yang sederhana.


- Seminggu sekali atau dua kali lah makan ayam, itu pun bukan ayam kampung ya, tapi ayam horen. Biasanya ku beli udang untuk campuran perkedel jagung dan untuk di crispy. Atau ikan pindang marning untuk anak-anak.


- Beli makanan di luar yang murah. Kadang ku beli soto di luar dua plastik bisa dibuat makan 2x untuk 2 dewasa dan 2 anak kecil. Harganya 20.000 tanpa nasi. Kalau habis beli makan dengan harga melewati batasnya, terpaksa besok-besoknya makan hu mpe mbel enak rasanya lagi.


- Pokok cari barang yang paling muraaah! Misal nih aku memilih beli air isi ulang galon seharga 4000 daripada yang aqua asli seharga 18.000. Lumayan bangettt..


- Jarang jajan. Biasanya sih anak-anak yang suka jajan macam sari roti dan itu bisa habis sehari, Haha. Kalau sudah gitu atur-atur lagi deh menu makanan yang bisanhemat.


- Terima apa yang ada. Aku masak dengan bahan murah sederhana, yang penting makan nasi. Dan itu memang berdampak banget buat menghemat pengeluaran.


Dua poin terbawah adalah caraku makan hemat dengan beasiswa terbatas ketika di luar negeri. Jadi untuk makan aku memang bisa hemat sekali. Aku bisa mengerem jajan di lusr apalagi beli makan di luar negeri tuh mahal banget dan kehalalannya juga nggak terjamin. Mau halal dan murah cuma kebab. Kenyang banget malah tapi kan bosen aja makan itu terus. Kalau mau makanan khas negara dan halal harganya sangat-sanggat nggak affordable buat mahasiswa kere macam aku waktu itu. Haha.


Eh, kembali lagi deh. Jadi, kalau aku bisa menghemat pengeluaran, maka sisa gaji di rekening bisa digunakan untuk menabung. Antara aku dan suamiku itu yang paling susah nahan belanja ya aku. Kalau sudah pegang duit pasti tergoda banget beli ini itu. Kecil2 tapi banyak. Dan itu ngehabisin duit banget. Haha. Jadi urusan nabung menabung kuserahkan pada suami aja. 


Nah, kalau aku dapat rezeki dari menulis baru deh aku buat beli macam-macam. Haha. Sebenarnya minta suami pun nggak apa-apa sih tapi biarin buat ditabung ajaa.



Read More

Beberapa waktu lalu, aku risiiiihh banget sama kulit yang mulai muncul bercak flek cokelat di wajah. Aku tanya sama emak-emak blogger Kodew Malang di grup, ya emang grup blogger khusus emak-emak itu nggak cuma urusan ngeblog aja, tapi juga urusan macam perawatan dan pengalaman lainnya. Jawabannya macam-macam. Dari pakai SPF sampai ke skin care.



Iya sih, selama pandemi ini aku udah nggak pernah lagi ke skin care. Biasanya, seenggaknya 1 tahun sekali aku ke skin care. Tapi tahun kemaren nggak sama sekali. #nangis


Akhirnya aku cuma perawatan seadanya dirumah. Perawatan itu pun cuma facial wash, terus krim pagi. Itu yang paling simpel seantero jagat raya dan memang cocok perawatan wajah untuk pemula. 


FACIAL WASH

Pemilihan facial wash juga ditentukan dengan kulit wajah. Kalau kulit wajahku kering cenderung berminyak, dan aku biasanya tetap pilih facial wash untuk kulit normal. Biasanya aku pakai Ponds selama bertahun-tahun, sekitar 15 tahun. Wow banget yah! Ternyata Ponds bener-bener menemani perjalanan perawatan wajahku. 


Selama aku pakai itu, memang wajah terasa lebih segar dan bersih setelah pakai, tapi pas setelah lama di luar tetap terasa lusuh. Dan memang beda sih kalau perawatan di salon sama perawatan sederhana itu. Aku pernah nggak pakai produk skin care yang beredar di toko tapi memilih di skin care. 


Kulitku bener-bener kinclong, kenyal dan nggak kusam meski sudah berlama-lama di luar. Tapiii setelah itu, jerawatku tumbuh banyak. Dan disuruh berhenti memakai krim dari skin care itu. Sengaja nggak aku sebutin. Kata dokternya memang agak bermasalah skin care itu.



Setelah sembuh akhirnya aku pindah facial foam Citra. Nggak ada alasan khusus sih, memang pengen ganti aja. Hasilnya sih kurang lebih sama. Hahaha. Terus pas di web Wardah ada promo aku coba aja facial wash untuk oil dari Wardah. Hasilnya belum kerasa sih karena baru beberap kali pakai.


SERUM

Nah, biasanya habis pakai facial wash, aku pakai pelembab atau cream tanpa SPF (Entah kenapa sekarang susah banget cari day cream tanpa SPF). Tapi karena aku beli day cream anti aging di web Wardah jadi deh aku dapat bonus facial foam dan serum Hazel. Lumayan banget.



Manfaat serum sendiri membuat kulit wajah lembab, membantu meringkas pori karena mengandung Vitamin E dan Hyaluronic Acid.


Jangan tanyakan efeknya di wajahku karena aku baru pakai sekali. wkwkw. Dasar emang agak males sih. Soalnya baru pertama coba jadi agak takut karena dulu pernah jerawatan. Teman-temanku malah pengen banget dapat serumnya, Haha.


CREAM 

Kalau krim wajah ini wajib dipunya setelah pemakaian facial wash karena setelah pakai facial wash biasanya kulit agak kering jadi perlu pakai pelembab. Nah, sekarang tuh jarang banget cream yang nggak pakai SPF. Semua krim siang biasanya selalu ada SPF nya padahal kan kalau nggak keluar rumah nggak perlu pakai SPF. Bener gitu nggak? Atau harus tetep pakai SPF di dalam rumah? Cream ini bisa cuma moisturizer tanpa SPF, day cream dengan SPF dan night cream.


- MOISTURIZER

Ini yang sering aku pakai dari dulu setelah pemakaian facial wash. Cream moisturizer, krim pelembab. Lumayan memang membuat kulit wajah terasa lembab. Aku biasanya pakai pelembab wajah Ponds sejak aku remaja, terus aku pindah pakai krim Citra, sekarang pindah lagi pakai Wardah. Haha.





- DAY CREAM SPF

Sebenarnya aku nggak biasa sih pakai SPF, tapi mengingat wajah semakin menua, sinar UV dari matahari semakin berbahaya, rasanya pemakaian SPF saat keluar rumah itu wajib. Maka, saya usahakan pakai SPF setiap keluar rumah, kecuali nyapu depan rumah sih. Oiya, sebenarnya SPF ini bisa terkandung di dalam day cream atau liquid foundation. Sayangnya, setelah selesai pakai day cream SPF wajahku langsung timbul merintis-merintis kecil banyak. Kadang malah jerawat yang gedean dan sakit. Setelah itu biasanya aku nggak pakai SPF day cream. Apa karena nggak cocok pakai SPF? Terus gimana dong kalau lagi keluar rumah nggak pakai SPF? tapi emang sih setelah pemakaian day cream SPF kalau selesai mandi aku pakai facial foam, bukan pakai cleansing milk atau toner, semacam itu. Dan kayaknya aku nggak cocok deh pakai SPF.







- NIGHT CREAM

Entah kenapa suatu waktu aku beli night cream, pengennya perawatan komplit yang sederhana di rumah. Eh ada nggak sih komplit yang sederhana? haha. Jadilah aku beli night cream. Sebelum tidur aku pakai night cream. Pas bangun tidur kerasa lebih lembab gitu. Beda kalo nggak pake night cream yang terasa muncul minyak di beberapa bagian wajah dan kering di beberapa bagian.



Terus aku kudu gimana dong kalau mau perawatan wajah yang makin sensitif ini? Hiks.






Read More

Setelah bolak-balik tes darah yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya tetang Bintik Merah dan Trombosit Turun. Sekarang aku mau cerita tentang pengalaman anakku opname di Rumah Sakit Bunda, Waru, sidoarjo, yang terkenal reviewnya yang jelek.


Aku nggak tahu kenapa tetap nekat pergi ke rumah sakit itu. Mungkin karena rumah sakit Bunda lokasinya strategis dan dekat dari rumah, jadi kalau aku perlu apa sama suami, nggak perlu jauh-jauh datang.


Oiya, sebelum Ghalib sakit, sejak dia mulai makan nasi lembut, sekitar usia 10 bulan (sebelumnya makan bubur bayi), dia sudah menunjukkan ketidaktertarikannya dengan makanan apapun kecuali snack. Jadi setiap dia makan nasi cuma tiga suap setelah itu nggak mau sama sekali. Dipaksa pun nggak bisa. Beda sama Masnya meskipun sulit makan, dipaksa kadang masih bisa. Apalagi timbangan Ghalib nggak naik-naik. Grafik berat badan dia sudah mepet kuning soalnya. Aku kira, mungkin karena itulah anakku akhirnya jatuh sakit. 


Sesampainya di IGD rumah sakit Waru, dokter IGD memeriksa hasil tes darah dan widal yang aku berikan. Beliau mengatakan anakku harus diopname. Aku disuruh tanya ke bagian administrasi dulu apakah masih ada kamar atau tidak. Kalau ada, baru daftar sesuai prosedur opname di rumah sakit.


Lobi rumah sakit Bunda, Waru, ramai penuh sesak. Meski Covid belum merebak, aku agak-agak ngeri lihat keramaian di rumah sakit waktu itu. Para adminnya sibuk melayani keluarga pasien yang mau bayar, pasien BPJS, mau daftar, menunggu dokter, dan lain-lain.


Aku menunggu sekitar 3 orang, kemudian giliranku. Aku bertanya apa masih ada kamar? Petugas yang super sibuk tetap bisa bercanda bersama pegawai lain di sela-sela melayani keluarga pasien. Dia menanyakan pasien BPJS atau bukan. Karena aanakku belum punya kartu BPJS, jadi aku mengatakan bukan BPJS.


Dia menyuruhku menunggu. Dan dia masih menyelesaikan pekerjaan lainnya. Tak lama, dia menelepon petugas yang ada di bagian back office. 


Alhamdulillah masih sisa 1 kamar kelas dua. Lega banget. Kemudian dia menjelaskan jumlah biaya opname rumah sakit Bunda yang harus dikeluarkan per malam. Aku lupa tepatnya berapa biayanya. Kalau nggak salah 150.000, diluar obat per hari dan visitasi. Aku iya-iya aja deh. Nggak mikir yang penting anakku segera ditangani.


Akhirnya aku pun mendaftar, membaca ketentuan, prosedur opname di rumah sakit, dan membayar sejumlah uang untuk DP. Jadi nanti total berapa tergantung berapa jumlah hari menginap terus kekurangannya bisa dibayar saat mau keluar dari rumah sakit.


Kira-kira butuh waktu setengah jam aku melakukan pendaftaran apalagi petugasnya memang sering bercanda dengan pegawai lain. Aku perhatikan sih wajar lah mereka begitu, pasti kerjaan mereka bikin kepala puyeng. Yang penting nggak sampai terbengkalai pasien. 


Setelah itu aku kembali ke IGD dan mereka mempersiapkan alat untuk menginfus anakku. Anakku melihat ruangan IGD yang banyak tempat tidur nggak mau sama sekali lepas dariku. Mungkin ia takut karena merasa asing dengan tempatnya itu. Meski sudah kubujuk-bujuk untuk tidur di tempat tidur IGD, dia nggak mau. Okelah, akhirnya aku pangku sambil gendong.


Aku pun sempat bertanya bintik merah pada kulit bayi setelah demam? Mereka menjawab bisa jadi karena panasnya tinggi.


Perawat pun mendatangiku. Semua petugas di IGD pada menanyakanku, "Kemana keluarganya? Ayahnya?"


Aku bilang, "Nggak ada, Pak. Suami saya jaga anak saya yang kena tipes di rumah." Duh, berasa sedih banget ya. Mereka mungkin kasihan sama aku. Karena aku harus tetap wira-wiri untuk ambil obat dan bayar dan siapa yang akan menjaga anakku kalau aku wira-wiri.


Seharusnya sih rumah sakit punya sistem atau aturan yang bisa mengantisipasi masalah itu. Nggak semua pasien punya keluarga terdekat yang bisa dimintai tolong untuk menolong.


Akhirnya, petugas IGD malah membantuku untuk membelikan obat dari resep dokter IGD. Alhamdulillah, Allah beri kemudahan. Aku sangat berterima kasih karena kebaikan beliau. Aku pun membayar sejumlah uang sesuai yang tertera di kwitansi. Beliau pun kembali lagi ke apotek. Menunggu obat jadi, saatnya anakku dikasih infus.


Dan ini adalah momen yang nggak aku lupa. Rasanya pengen nangis saat melihat tangan kecilnya ditusukkan jarum. Anakku menangis, menendang-nendang, dna memukul-mukulkan tangannya. Aku memeluk dan menahan tangannya agar perawat gampang memasukkan infus.


Anakku cuma mengatakan sambil menangis dan mengeluarkan air mata, "Acit, Bu...Acit..." dengan pengucapannya yang belum jelas. Aku cuma bisa bilang, "Sabar, ya.. Sabar... nanti sembuh, kok..." Meskipun aku nggak yakin dia bakal paham arti dari sabar, tapi tetap saja kukatakan begitu.


Perawat IGD cukup kesulitan memasukkan jarum infus ke tangannya karena trombositnya rendah. Masnya cerita kalau trombosit rendah itu biasanya pembuluh darah sulit ditembus atau pecah atau gimana gitu ya. Aku nggak paham. Jadi harus bolak-balik ditusuk lagi dengan jarum. Hiks..


Setelah beberapa menit, akhirnya, jarum infus masuk juga. Tangan anakku sudah dikasih infus beserta penyangga kayunya biar tidak mudah lepas. Ghalib heran melihat tangannya diberi infus dan kayu. Dia melihat-lihat sambil memutar-mutarkan tangannya. Karena itulah, infusnya selalu berdarah. Aku gupuh karena darahnya jadi masuk ke infus. Kata petugasnya kalau bisa posisinya turun ke bawah tangannya.


Setelah kamar siap, akupun diantar dengan naik kursi roda. Ya. Aku naik kursi roda sambil menggendong anakku yang lemas. Tas berisi pakaianku dibawakan sama masnys. Oh, Ya Allah beruntunglah aku karena mereka super baik. Aku pun lewat lift khusus yang hanya bisa diakses dengan ID petugas karena ada barcode nya.


Akhirnya aku sampai juga di kamarku lantai 2. Begitu masuk, aku melihat ada tiga tempat tidur yang disekat-sekat. Dan semua sudah penuh kecuali di pojokan. Aku pun membaringkan anakku di sana. Awalnya dia nggak mau dan takut tapi aku membujuknya. Akhirnya dia mau juga.


Dan mulailah malam itu kami bermalam di sana.


Makan malam selalu diberikan pukul 4 sore, sementara makan pagi pukul 6 pagi, dan makan siang pukul 11. Setiap makan selalu ada sayur, lauk ayam/ikan, tempe/tahu dan cemilan. Anakku juga disuruh minum obat antibiotik 1 hari 2x dengan jeda 6 jam, minum obat diare (kebetulan saat sebelum ke rumah sakit dia diare), dan obat batuk pilek (meski bapil cuma sedikit). 


Drama banget lah saat minumin obat. Aku sempat bingung karena dia pasti lonjak-lonjak sementara tangannya diinfus. Aku takut aja dia lonjak-lonjak terus lepas. Eh, alhamdulillah dia masih bisa dikendalikan meski aku harus menahan badan dan tangannya dengan kakiku kemudian kedua tanganku meminumkan obat. Pfiuh. Alhamdulillah juga dia mau makan nasinya.


Jangan tanyakan aku makan gimana. Aku benar-benar lupa. Ingatku aku masak opor dengan bumbu instan dan aku bawa saat itu. Kalau nggak ya aku makan sisa makan Ghalib. Pengalaman luar biasa. Aku nggak pernah opname, malah anakku yang opname. Hiks.


Saat visitasi pertama di hari kedua sekitar jam 8 malam, dokter datang dan menanyakan keluhan dan kondisi. Aku juga nggak tahu kenapa dokternya baru datang di hari kedua. Orang di sebelahku udah protes kesal karena dokternya visitasi cuma sekali satu hari. Aku sih biasa aja. Aku nggak pernah berurusan dengan rumah sakit, jadi aku nggak bisa membandingkan dengan rumah sakit lainnya. Mungkin bunda-bunda punya pengalaman di rumah sakit berapa kali dokternya visitasi ke pasien?


Pas dokternya datang, Ghalib diperiksa suhu tubuhnya, denyut jantungnya. Terus aku bilang awalnya sempat mencret, nggak mau makan, demam, batuk. Saat visitasi, Ghalib sudah nggak mencret, nggak demam, tapi masih lemes dan nggak mau makan. Setelah itu, dokter akan menentukan apakah masih lanjut dengan obatnya, ditambahi obat, atau berhenti. Karena anakku sudah nggak mencret, jadi obat diarenya disuruh berhenti minum.


Ketika air infus habis, aku menghubungi perawat untuk segera diganti. Eh, kebetulan perawat yang menangani baru pindahan dari rumah sakit lain. Kayaknya lebih muda gitu jadi agak ragu saat akan memutuskan sesuatu tapi sudha cukup mahir untuk mengganti infus.


Dua hari sudah aku di rumah sakit, alhamdulillah anakku di rumah sudah baikan. Untungnya di rumah ada tantenya juga pas weekend ada yang nemenin dan masakin. Tapi pas besoknya, ayahnya harus kerja. Tantenya juga kerja. Jadi terpaksa anakku pertama ikut menunggu di rumah sakit. Aku menyuruhnya pakai masker dan jaket. Begitu juga dengan suamiku. 


Pas Ghalib ngelihat ayahnya dan masnya, ada rasa senang terlihat di wajahnya apalagi dibelikan makanan meski dia masih merasa lemas tidur di tempat tidur. Ayahnya juga sempat menggendong Ghalib. Pas digendong itu, Ghalib malah cerita banyak meski suaranya nggak begitu jelas. Kelihatan banget dia semangat bercerita. Begitu ayahnya pulang, Raceqy yang susah dibujuk karena nggak mau ayahnya pergi. 


Akhirnya tak ajak nonton televisi. Meskipun Raceqy menonton televisi di kamar sambil duduk di pinggir tempat tidur, tapi tetep aja dia nggak betah. Ngelihat anakku yang kedua terbaring di tempat tidur, wajahnya sedikit takut-takut gitu. Mungkin juga ada rasa kasihan. Beberapa kali minta pulang.


Pas dokternya datang visitasi malah ditegur kok ikut ke rumah sakit. Haha. Ya gimana sih. Menjelang maghrib akhirnya suamiku datang dan menjemput anakku. 


Aku lupa berapa kali Raceqy datang menjenguk ke rumah sakit. Ingatku cuma sekali. Total empat hari aku di rumah sakit. Hari keempat, aku sudah boleh pulang oleh dokter. Kondisi anakku sudah nggak begitu lemas. Diminumin obat udah punya tenaga untuk menolak. Aku kewalahan sendiri. Makan juga udah mulai lahap. Mencret udah nggak. 


Pas dokternya visitasi terakhir sebelum aku pulang, aku tanyakan penyakit apa kok trombosit turun tapi bukan DBDn. Soalnya trombosit turun menurut artikel yang aku baca dokternya nggak bilang kena penyakit apa. Beliau cuma bilang paling cuma infeksi. Kan aku bingung. Tapi yaudahlah.


Susahnya menjaga anak sendirian itu, pas aku harus mengurus administrasi, aku harus meminta orang untuk menjaga Ghalib. Kebetulan waktu itu ayahnya lagi nggak ads jadwal ngajar jadi bisa nemaninRaceqy di rumah. Akhirnya aku meminta tolong perawat menjaga anakku yang sedang tidur sementara aku ke lobi.


Oiya, untuk mengurus administrasi kepulangan aku harus menunggu aba-aba dari perawat yang stand by dekat kamar karena mereka yang harus menyelesaikan semua daftar tanggungan yang harus aku bayar. Kira-kira satu jam, baru deh aku disuruh ke lobi.


Aku kira urusan langsung selesai, ternyata aku harus wiwa wiri. Ke apotek dulu, bayar obat dulu, nunggu resep, terus ke lobi, masih nunggu lagi, terus dipanggil. Total biaya opname di rumah sakit Bunda Waru lumayan banget sih 4 hr sekitar 2jt rupiah (di kelas 2). Hiks..Gara-gara nggak pake BPJS. Yaudahlah. Yang penting anakku sehattt.


Sama dokternya, aku masih disuruh cek satu bulan lagi tapi waktu itu pas jadwalnya pas aku nggak bisa. Aku lupa lagi kemana ya. Suami juga bilang yaudahlah anak juga sudah sembuh wkwkwkwk. 


Alhamdulillah, semenjak keluar dari rumah sakit, makannya lahap banget dan banyak. Sampai aku kewalahan. Kalau tengah malam banguh, dia minta makan, bingung nggak ada lauk. Untungnya dia mau nasi kecap doang. Semakin lama, sekitar 1 tahun kemudian, sudah nggak selahap itu. Udah bosan makan nasi kecap juga. Sukanya makan ikan. Masyaallah. Sampai sekarang makannya jadi membaik. Dulu cuma tiga suap sekarang sudah banyak. Cuma ya gitu, kalau nggak mau ya bener-bener nggak mau. Ngemil juga banyak. Dan... badannya tetap kurus. Haha.


Sekian ya cerita pengalaman anakku opname di rumah sakit gara-gara bintik merah di kulit bayi dan trombosit turun disertai demam tapi bukan DBD.

Ketika menemani anak opname di rumah sakit, banyak hikmah yang kudapat seperti:

1. Banyak kondisi anak lain yang lebih parah saat diopname. Ini adalah hal pertama yang harus disyukuri. 


2. Betapapun kuatnya si ibu, tetap saja ia akan lemah melihat anaknya sakit. Itulah kenapa ibu-ibu selalu merasa khawatir saat anaknya sakit tapi tinggal jauh. Yang dekat saja sudah terasa sedihnya, apalagi jauh. 


3. Sesendiri apapun kamu, akan selalu ada Allah menemanimu. Sebaik-baik penolong ya Allah. Minta sama Allah. Orang lain menganggap kamu nggak bisa melakukannya sendiri tapi berkat Allah semua bisa. Entah tiba2 ada saja yang nolongin.


4. Googling tentang penyakit yang diaami anak itu bisa membuat kita tenang atau malah makin kalut. Biar tenang, pergi ke dokter dan berdoa pada Pemilik Kehidupan.


5. Jangan percaya dengan kata orang atau komentar orang tentang pelayanan suatu fasilitas kalau tidak mengalaminya sendiri. Memang harus dicoba dulu baru percaya. Setiap orang punya standar sendiri2. Bisa aja orang bilang baik, kita menganggap biasa aja atau malah bagus.

Read More

Follower