Museum Brawijaya : Dari Penataan Kota Malang hingga Sejarah Kepahlawanan

2 comments
Di suatu minggu, aku, suami dan ponakan-ponakan pergi ke CFD Kota Malang. Langkah kami terhenti sejenak menikmati kentang spiral dan batagor dekat perpustakaan pusat. Terik matahari dan sesaknya para manusia di CFD membuat kami ingin berbalik pulang.

Jalan boulevard yang biasanya penuh dengan kendaraan, sekarang dipenuhi dengan orang bersepeda santai ataupun berjalan kaki. Kami melewati pinggiran boulevard tanpa merusak tanaman yang menjadi ikon Kota Malang sejak jaman Belanda, boulevard Ijen.

Di seberang jalan, museum Brawijaya cukup ramai dipenuhi anak kecil yang menikmati bekas tank perang. Ponakan yang masih SD meminta untuk mengunjungi museum.

Aku, yang nggak kepikiran, akhirnya mengiyakan juga mengajak mereka mengenal sejarah bangsa Indonesia. Walaupun sebenarnya aku lebih banyak mengawasi ponakan terkecil, yang suka berlari-lari kesana kemari. Akhirnya sang kakak yang meminta ke museum hanya bisa melihat-lihat tanpa banyak memahami sejarah bangsa.


Bagian depan museum yang terdapat tangki perang bekas sebagai tempat hiburan anak kecil dan mengembangkan imajinasi mereka saat perang melawan penjajah.


Pintu masuk museum brawijaya dengan harga tiket 3.000/orang.

Sekitar enam tahun yang lalu, masuk museum ini masih seharga 2000 per orang. Sayangnya, masuk museum nggak ada karcisnya. Jadi aku nggak tahu uang itu akan masuk untuk pengelolaan museum atau untuk pribadi. Entahlah, aku juga nggak mau kepo. Semoga aja digunakan untuk pengelolaan museum.


Awal masuk, langsung disuguhkan dengan daerah tugas pasukan Garuda yang terkenal sampai mancanegara bahkan sampai Afrika. Membayangkan betapa hebatnya pasukan Indonesia dulu.

 
Peta Kota Malang tahun 1914 -1942


Peta Kota Malang tahun 1942-1950

Sejarah perkembangan kota yang berawal dari alun-alun kota Malang, kawasan militer Brawijaya kemudian kota Malang meluas hingga ke wilayah utara dan selatan. Perkembangan ke utara dan ke selatan lebih mudah dilakukan mengingat batasan fisik alam yang tidak sulit. Yang berwarna biru muda itu administrasi kota Malang tahun 1950.



Anak-anak suka sekali melihat senjata ini, benar-benar nyata! Mereka seolah-olah sedang berperang menghadapi musuh.


Jangan salah, walaupun penduduknya belum padat, kota Malang juga memiliki permasalahan tata kotanya, seperti kesulitan air bersih, fisik jalan yang masih kualitas rendag, perumahan kumuh, bahkan gorong-gorong untuk saluran air limbah. 


 
Kota Malang Tahun 1950an.

Kota Malang yang akan datang



Bayangkan kumuhnya rumah penduduk yang masih menggu akan kayu, bambu. Tapi yang membuatku salut, drainasenya sudah plengsengan walupun di pinggirnya masih banyak rumah kumuh. 


Untuk mengatasi kekurangan air bersih dan meningkatkan kualitasnya, pemerintah membangun instalasi air minum dan saluran yang menghubungkan ke rumah-rumah, terutama rumah para Belanda. Sayangnya tidak ada penjelasan signifikan mengenai setiap foto. Ini membuat pengunjung hanya menginterpretasi sendiri dari sebuah foto tanpa sebuah petunjuk.


Foto bangunan tua sebenarnya bisa menceritakan banyak hal. Bangunan desain kolonial Belanda punya karakter khusus seperti bentuk jendela, kecuraman atap, orientasi bangunan, bahkan pola ruangnya yang memiliki tujuan tertentu. 

Tentu saja bentuk fisik yang diambil sudah diadaptasi dengan iklim di Indonesia. Karena Indonesia beriklim tropis, maka jarak antara lantai dan atap cukup tinggi untuk memudahkan sirkulasi udara sehingga ruangan tetap dingin walaupun berada di negara tropis. Begitu juga dengan jendelanya yang menghadap ke arah tertentu untuk mendapatkan sinar matahari juga angin.



Sayangnya bangunan tua itu semakin sedikit. Hanya beberapa yang masih utuh dengan restorasi dan rehabilitasi banghnan, seperti kantor walikota, stasiun, bank Mandiri, beberapa sekolah. Sedangkan bangunan lain kebanyakan sudah dibongkar atau hancur karena perang.




Tidak hanya membahas kotanya, tapi juga perjuangan para pahlawan kita. Tentu kita sudah mengenal Jend. Soedirman yang terkenal dengan taktik gerilya nya. Seperti di gambar bahwa peta itu adalah sebuah rute gerilya. Dan quote atau kutipan Jenderal Soedirman yang membuatku tersenyum.

"Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, irihati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran" (Jend. Soedirman)


Suka banget sama lukisan ini membuatku membayangkan adegan di film-film perang. Kalau dipikir-pikir sebenarnya ini salah satu moda transportasi yang terintegrasi. Kenapa? Saat kita menggunakan kereta dan akan berpindah ke moda transportasi lain (kapal) kita tinggal jalan dan sudah bisa menggunakan transportasi lain, tanpa harus mencari-cari moda lain.

Bayangkan kalau saat ini, kita ingin ke suatu tempat dengan angkutan umum, tapi untuk mencapai tujuan lain, tidak ada moda transportasi umum lainnya kecuali dijangkau dengan kendaraan pribadi. Itu bukan terintegrasi namanya.


Pikiranku tetap melayang bersama para tentara itu, membayangkan Mallaby terjebak diantara para pejuang indonesia yang tak menyerah. Membayangkan aku sebagai Mallaby yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika tak ada lagi bantuan untuk menyelamatkan Mallaby.



Di tengah-tengah menunggu ponakan kecil makan (padahal dilarang bawa makanan, jangan ditiru ya, hehe), aku menikmati lukisan pertempuran 10 Nopember. Indonesia memang tidak memiliki senjata seperti para musuhnya. Tapi semangat mereka, kerja sama dan saling percaya membuat mereka mampu melawan penjajah.


Kapal para pejuang

Memang mengunjungi museum harusnya bisa dinikmati ketika tampilan dan penjelasan akan sejarahnya menarik para pengunjung. Banyak cara visualisasi agar pengunjung tidak jenuh dengan obyeknya. Di luar negeri, museum menjadi tempat yang menurutku untuk masuk saja menghabiskan duit makan selama seminggu. Untungnya saat di Prancis, aku dapat gratisan karena mahasiswa yang kurang dari 24 tahun. Sedangkan yang lebih dari itu, harus bayar full, misalnya di museum Louvre sekitar 25 euro, dan memang visualisasinya nggak bosenin. Semoga saja museum-museum sejarah kepahlawana di Indonesia bisa berkembang.


Museum ini juga ada lantai atas, lumayan bisa melihat kegiatan CFD, yang sedang senam.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

2 komentar

rinda septiani mengatakan...

walaupun belum pernah ke malang, tp sudah terbayang bagaimana indahnya kota ini

Lita Lestianti mengatakan...

iya kak pasti langsung jatuh hati hehe apalagi kalo ke kota batu, dingin banget

Follower