Sejak pindah ke Sidoarjo tahun 2016 silam, saya harus mengikuti aturan tempat tinggal saya yang ramah lingkungan. Mulai dari memilah sampah, menanam tanaman, belanja dengan tas ramah lingkungan agar mengurangi sampah plastik (menuju zero waste). Bahkan sempat ada program menyiram tanaman di kebun RT yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah.

Namun, pelaksanaan program yang ramah lingkungan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kali ini saya akan cerita tentang gaya hidup yang ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal saya di Perum. Rewwin, meski sebenarnya tidak 100% ramah lingkungan. Saya pun masih berusaha keras mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan. Ternyata susah-susah gampang.

Oiya. Di perumahan saya memang belum semuanya menerapkan program-program itu. Di RT saya sudah menjalankan program itu cukup lama. Mungkin memang tergantung dari pengurus RT/RW dan juga kerja sama masyarakatnya.

Pemilahan Sampah

Seorang kader lingkungan yang tinggal berjarak dua rumah terlihat sibuk ketika akan ada penilaian tentang pemilahan sampah warga. Beliau memastikan bahwa warganya sudah benar dalam memilah sampah. Jika ada yang salah, biasanya beliau tegur langsung, termasuk saya. Hehe.. Beliau memang bertugas mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, kebersihan lingkungan dan penghijauan di depan rumah warga.

Penilaian tahun lalu ini para juri akan datang ke RT dan menanyakan terkait dengan pemilahan sampah. Pertanyaan yang diajukan cukup sederhana, seperti, "Tusuk sate masuk sampah apa? Bungkus indomie masuk sampah mana?"

Gampang menjawab pertanyaan itu bagi praktisi pemilah sampah. Bungkus mie waktu itu masuk residu karena tidak laku dijual. Tusuk sate masuk residu/limbah beracun berbahaya. Saya sempat ditegur sama kader lingkungan saat saya memasukkan ke sampah organik, katanya tusuk sate masuk limbah berbahaya. Begitu saya tanya alasannya, tusuk sate masuk limbah berbahaya. Padahal menurut saya definisi limbah berbahaya bukan itu ya. Atau saya yang selama ini salah? Beliau cerita kaki petugas sampah pernah terkena tusuk sate dan bengkak. Akhirnya tusuk sate termasuk sampah berbahaya/residu dan harus diikat dengan karet.

Tahun lalu pemilahan sampah hanya tiga kategori yaitu sampah basah (organik), sampah kering (anorganik dan bisa dijual) dan residu atau limbah B3 (anorganik dan tidak bisa dijual). Jadi setiap rumah akan memiliki 1 bak ember cat yang besar itu untuk sampah organik sedangkan sampah residu dimasukkan dalam kresek dan akan saya keluarkan saat ada jadwal pengambilan sampah.

Pertama kali menerapkan itu, saya cukup kagok. Antara teori yang saya dapatkan sangat berbeda dengan praktiknya. Setiap mau buang sampah saya pasti mikir, ini masuk mana ya? Pada akhirnya kadang ya masukkan semuanya ke residu (sampah popok, pembalut, stereofoam, bungkus saos, dll) hehe. Sedangkan sampah kering seperti botol aqua, botol saos, botok kecap, kemasan rinso, kertas, duplex, mika, karton, semua diserahkan sama seorang pengurus Bank Sampah di RT. Di rumahnya pun sampai ada daftar bungkus-bungkus plastik yang tidak laku dijual di pasaran. Biasanya beliau mencatat total timbangannya di buku khusus. Hasilnya sih selama ini baru digunakan untuk rekreasi ibu-ibu ke tempat wisata. Hihi.

Oiya, FYI, masyarakat disini kebanyakan pensiunan meski beberapa masih ada yang bekerja. Bayangkan, para orang tua ini di masa tuanya masih harus memikirkan sampah-sampah ini. Kadang saya malu sendiri, yang masih muda, tapi nggak bersemangat. Yaah meski beberapa ada yang asal saja dan tidak dipilah. Biasanya nih petugas sampah nggak akan mengambil sampah yang tidak dipilah. Serem kan.

Terus kalau ada yang protes akhirnya dijawab, "Bapaknya nggak mau ngambil kalau nggak dipilah". Gimana coba masalah sampah saja kadang bikin gregetan atau malah bikin memunculkan permasalahan antar warga? Makanya di beberapa RW tidak begitu berjalan karena memang masyarakatnya sendiri kurang mendukung. Akhirnya kader lingkungan juga kurang aktif bergerak.

Tahun ini, pembagian sampah lebih banyak lagi. Selain residu dan sampah basah, kita harus memilah lagi ke dalam kategori plastik kotor seperti plastik bekas beli sayur, ikan, daging, ayam, udang, bumbu-bumbu, tahu, wafer, cokelat, dll. Nah sampah residu ini nggak boleh ada kresek. Dulu saya cuma pakai kresek besar khusus residu, sekarang pakai bak cat biar nggak kececeran dan biar terlihat rapi saja.

Jadi setiap rumah itu harusnya punya 3 macam wadah pemilahan sampah (di tempat kami berupa bak cat). Karena saya cuma punya 1 bak, saya beli lagi bak seharga 20.000 di tetangga, sedangkan plastik kotor saya pakai tempat es krim kiloan punya mbak hehe. Jadwal pengambilan pun lebih sering. Jadi plastik-plastik itu tidak boleh dimasukkan dalam bak residu karena harapannya plastik/kresek kotor ini setelah dibersihkan bisa dijual lagi.


Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah Residu dan Plastik Kotor

Awalnya saya juga bingung, karena belum terbiasa. Biasanya plastik saya langsung masukkan ke residu. Sekarang harus saya masukkan di tempat khusus. Kalau dulu mau buang softex biasa pakai kresek, sekarang nggak boleh dan harus pakai kertas/koran. Dulu buang popok bekas pup pakai kresek, sekarang nggak.

Akibatnya, rumah saya banyak sekali sampah-sampah kering karena saya biasanya mengumpulkan sampah kering itu sampai bertumpuk baru kemudian menyerahkan pada Bank Sampah. Begitu pun dengan sampah residu, jadwalnya hari selasa, dan cuma seminggu sekali. Jadi sampah residu masih tersimpan di rumah sampai minggu depannya. Kadang bertumpuk banyak. Kadang nggak banyak.
Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah kering yang berisi botol, duplex, dan bungkus plastik

Selain itu, karena rumah saya ada pohon mangga dan sekarang lagi musim kemarau, otomatis banyak sekali daun berguguran. Saya harus menyapunya sampai berkali-kali dalam sehari. Kadang nggak sama sekali. Begitu lihat keluar rumah udah bersih karena tetangga yang nyapu wkwkwk.

Penghijauan

Meski rumah kami kecil dan tidak memiliki halaman rumah, namun kami memiliki petak kecil di depan rumah untuk tempat menanam tanaman. Jenis tanaman yang dianjurkan adalah tanaman toga, zodia, dan.., hmm lupa apa. Wkwkwkwk.

Nah, biasanya kader lingkungan akan sibuk mengabsen satu persatu rumah di RT. Beliau akan memastikan jenis tanaman yang diminta juri sudah tersedia demi lomba penghijauan 17 agustus. Minggu kemaren penilaian ketersediaan tanaman Zodia di RT saya sudah terlaksana. Tanaman Zodia ini katanya bermanfaat untuk mencegah berkembangnya nyamuk termasuk nyamuk aedes penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Beberapa minggu sebelumnya, warga mulai heboh mencari tanaman Zodia. Laris deh penjual tanaman kalau program penghijauan ini terus berjalan. Untung pembelian Zodia dilakukan secara kolektif, jadi biasanya ibu-ibu beli kolektif saja daripada harus cari sendiri.

Penggunaan tas belanja

Suatu ketika, saya diberi sebuah tas berwarna hijau oleh bu RT. Katanya untuk meminimalisir plastik jadi belanjanya pakai tas belanja. Well, maksudnya baik. Namun, kenyataannya, terkadang saya masih lupa untuk membawa tas belanja ini saat belanja sayur pada abang yang lewat. Kalau ke pasar justru kepakai karena tas belanja saya taruh di keranjang sepeda. Ya, saya naik sepeda ke pasar dengan gonceng si besar di belakang dan si bayi gendong depan. Meski tetap, kresek masih masuk ke dalam tas belanja saya.

Sebenarnya program-program ini cukup penting mengingat dunia kita sudah banyak menanggung tumpukan sampah plastik. Jadi, mau tidak mau kita harus menjaganya. Mau tidak mau juga harus melaksanakan program yang diminta pemerintah agar sampah tidak makin bertumpuk bahkan bisa melaksanakan zero waste. Sebagai umat muslim pun tidak merusak bumi adalah perintha yang tertuang dalam ayat Al Quran. Memang efeknya, sampai saat ini tidak terasa tapi untuk kedepan pasti sangat berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.


Read More

Saat lebaran Idul Fitri tiba, banyak keluarga memanfaatkan waktu tersebut untuk berkumpul dengan keluarga. Mereka yang merantau tentu sudah menyiapkan rencana jauh-jauh hari untuk berkumpul di suatu tempat. Maka tak heran jika banyak tempat wisata dibanjiri pengunjung. 

Salah satu tempat yang nyaman untuk berkumpul dengan keluarga adalah villa. Memang salah satu tempat ini tidak banyak yang merencanakan. Selain harganya yang lumayan, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain memanfaatkan kumpul bersama atau family time.

Biasanya Villa ini banyak tersebar di daerah yang berada di dataran tinggi seperti kota Batu, Malang, Pasuruan, Bandung, Magetan dekat Telaga Sarangan, Ponorogo daerah Telaga Ngebel.

Villa di kota Batu juga sudah banyak sekali tersebar. Keluarga dari suami sudah jauh-jauh hari mencari villa yang nyaman untuk anak kecil, orang tua dan bisa untuk kumpul-kumpul. Akhirnya kami menemukan villa yang memiliki kolam renang, nyaman dan harganya cukup murah.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Villa di pagi hari

Lokasi

Lokasi villa ini ke Alun-Alun Kota Batu sekitarr 1,5 km. Jalanannya naik turun yaa cukup membakar kalori yaa… villa ini berada di pojokan perumahan alias di jalan buntu. Namanya Perumahan Metro Orchid di Jalan Metro, Kota Batu. Perumahannya juga tidak besar. hanya berada dalam satu ruas jalan. Jalan perumahannya pun mepet untuk dua mobil. Karena di jalan buntu otomatis untuk memutar kendaraan cukup butuh usaha hehe. Apalagi jalanannya sedikit menanjak.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.


Harga

Untuk harga vila saat lebaran/liburan 6 juta untuk 2 malam sedangkan hari biasa hanya sekitar 2 juta. Gila ya perbedaannya! Tapi karena waktu itu hari kedua lebaran sudah ada yang booking jadi kami mau hanya pakai hari pertama lebaran sampai hari kedua lebaran siang hari. Kebetulan sekali! Karena setelah itu, anak-anak mertua saya sudah rencana berlebaran di keluarga suami di daerah yang lain. Nah karena cuma semalam jadi kami hanya membayar villa 3,5 juta. Kalau dibandingkan dengan harga villa lainnya di saat lebaran, harga sewa di villa itu sudah termasuk murah.

Fasilitas Villa

Villa yang kami sewa juga memiliki fasilitas yang cukup banyak. Fasilitas villa yang biasanya dicari orang adalah kolam renang apalagi kalau anggota keluarga banyak anak kecil.

Kolam renang

Yang paling disuka sama villa ini adalah ada kolam renangnya dengan pemandangan pegunungan. Dan karena berada di dataran tinggi, airnya dingin sekali. Saya saja baru beberapa menit sudah kedinginan. Sedangkan anak-anak bisa tahan sekali berenang berlama-lama. Setelah itu saya langsung olesi minyak telon/minyak kayu putih dan saya pakaikan baju panjang. Sayangnya, kami tidak bawa ban kecil untuk anak-anak sehingga mereka tidak bisa berenang sendirian karena kedalaman airnya cukup tinggi untuk anak usia 3 tahun.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Kolam renang Villa

Kamar

Kamar di villa ini ada 3 kamar dengan 3 extra bed. Menurut saya sudah cukup untuk keluarga mertua saya yang berjumlah 13 dewasa dengan 7 anak-anak dan balita. Di dalam kamar juga sudah disediakan bantal, kursi, lemari, selimut. menurut saya kamar villa ini cukup enak.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.

Kamar mandi

Saya juga suka sama kamar mandinya karena selain bersih juga memiliki fasilitas air panas, shower, bathtub, ember, gayung, wastafel, kloset duduk, wc jongkok. Kamar mandi yang memiliki bath tub dan kloset duduk ada di bawah tangga. Sedangkan kamar mandi yang hanya shower dan wc jongkok ada di dekat dapur. Yakin deh setelah berdingin-dingin di kolam renang, langsung masuk kamar mandi untuk mandi air hangat. 

Kamar mandi villa (dok. pribadi)
Sayangnya, dari kolam renang menuju ke kamar mandi harus melewati ruang keluarga atau dapur sehingga lantai basah dan tidak ada kain pel. Sering sekali anak-anak terpeleset karena belum sempat dibersihkan mereka sudah jalan di atas lantai yang basah itu.

Tempat jemur

Di villa ini juga disediakan tempat jemuran di lantai 2. Jadi setelah berenang, bajunya masih bisa dipakai buat besok dan sementara dijemur di lantai 2 ini.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Tempat jemur (dok. pribadi)

Teras atas

Kalau kalian mencari villa dengan pemandangan yang bagus dan villa dengan teras atas, maka villa ini bisa menjadi pertimbangan kalian. Di teras atas villa, terdapat meja kayu yang cukup besar dan juga kursi kayu dimana kami bisa duduk-duduk sambil menikmati minuman hangat dan pemandangan pegunungan, kebun-kebun, rumah-rumah, dan awan indah yang berarak menutupi pegunungan.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Indahnya Pemandangan Batu dari Teras Atas Villa

Di tempat ini juga kami bisa bekumpul sambil duduk lesehan dengan tikar yang kami bawa sendiri dari rumah. Jaket, kaos kaki, baju tebal dan baju panjang menjadi sangat berguna saat duduk berlama-lama di teras ini karena anginnya cukup kencang. Belum lagi hawanya yang dingin.

Garasi

Kami kesana dengan membawa dua mobil. Sebenarnya garasi ini cukup untuk 1 mobil. Namun kami tetap memasukkan dua mobil ke garasi. Alhasil, pagarnya tidak bisa tertutup. Hehe. Setidaknya lumayan lah mobil tidak kepanasan dan kehujanan.

Shower dekat kolam renang

Sebelum berenang atau setelah berenang biasanya kami membilas diri kami dulu. Biasanya… nah, di pinggir kolam renang ini disediakan shower terbuka untuk membilas badan.

Tempat bakar

Sebenarnya tidak semua villa menyediakan tempat bakar. Namun pemilik villa ini bisa menyediakan tempat bakar sate dan kipasnya. Itu pun penyewa harus request dulu. Jika tidak, mungkin tidak dibawakan. Hanya saja untuk arang kami cari sendiri. Kipas untuk menyalakan arang juga penyewa bawa sendiri. 

Waktu itu, kami sempat kehabisan arang bakar. Akhirnya mencari di sekamir kota Batu yang menyediakan tempat bakar. Kami sudah memperkirakan biaya yang dikeluarkan ternyata gratis. Alhamdulillah.

Wifi

Meski family time itu sebagai kegiatan utama, rasanya kurang lengkap kalau tidak mengkoneksi internet dan membagikannya ke media social, hehe. Awalnya wifi villa ini tidak bisa diakses meski sudah diberi tahu kodenya. Setelah menghubungi pihak villa, akhirnya wifi bisa diakses.

Dapur (kompor dan peralatan)

Sebelum kami deal menyewa villa ini, saya dan suami sempat melihat-lihat villa-nya. Di dapurnya memang disediakan kompor gas, tabung gas dua biji, pisau, wajan, panci, Teflon, sutil, piring, rice cooker, sendok, dan gelas. Karena kami akan masak cap cay dengan porsi besar sedangkan di villa tidak disediakan jadi kami membawa wajan yang besar.

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Dapur Villa (dok. pribadi)

Villa murah kota batu, villa murah malang, villa di malang, fasilitas lengkap villa, Malang, Batu, Villa dekat alun-alun Batu.
Dapur Villa (dok. pribadi)

Gallon

Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah air gallon. Karena keluarganya cukup banyak maka menyediakan air gallon lebih murah dibanding air mineral botolan. Khawatir kurang, kami tetap membawa 1 galon meski sudah tersedia di villa. Hehe. Bayangkan bawaan kami sebanyak 3 mobil sudah seperti orang mau pindahan rumah. Haha.

Televisi

Alat elektronik satu ini sepertinya menjadi alat yang dapat mendiamkan anak-anak kecil yang aktif. Mereka yang aktif secara cepat akan duduk manis dan terdiam menonton acara televisi yang disuguhkan. Yah, setidaknya mamaknya seneng bisa bersantai-santai, hehe.

Menurut saya, fasilitas dalam villa itu cukup lengkap. Namun, kalian tetap booking jauh-jauh hari biar tidak kehabisan. Sebenarnya suami saya dapat villa ini juga dari website. Hanya saja saya kurang tahu website yang mana. Hehe. Nanti kalau dapat kontaknya saya update lagi.
Read More


Setelah puas makan durian di pinggir telaga Ngebel, naik perahu santai, dan menikmati sajian laut di rumah makan pinggir telaga, kami pun pergi ke Mloko Sewu. Katanya Mloko Sewu ini tempatnya bagus. Pengunjung bisa melihat telaga Ngebel dari ketinggian. Saya dan keluarga sempat penasaran, sebagus apakah? Memang ada apa di sana?

Setelah diberi petunjuk oleh teman Bapak yang kebetulan ke Ngebel, kami pun pergi ke Mloko Sewu. Kami melewati jalan-jalan yang di sampingnya banyak sekali hotel dan villa. Kemudian kami masuk ke dalam hutan. Di kanan kiri banyak sekali pohon durian. Ada yang siap jatuh dan ada juga yang masih kecil.

 

Akses jalan Mloko Sewu

Jalan menuju ke Mloko Sewu cukup jelek, muat dua mobil ngepres, dan jalanan terus menanjak. Bagi yang ingin kesini harus jeli melihat papan penunjuk jalan menuju Mloko Sewu. 500 meter dari jalur masuk telaga sebelah selatan ada pertigaan masuk desa gondowido (arah air terjun toyomerto). dari situ naik sekitar 3 km melewati hutan, sampai ketemu jalur bercabang setelah makam ambil kiri (gapura masuk desa pupus) dari gapura sekitar 50 meter mentok pertigaan belok kiri (jalan cor) sekitar 15 meter masuk jalan tanah

Terkadang, kami bisa melihat telaga Ngebel dari jalanan. Namun, kami belum sampai Mloko Sewu. Perjalanan sampai ke Mloko Sewu sekitar 15-20 menit. Andaikan jalannya bagus mungkin lebih cepat. 

Saya pun membatin dalam hati, duh jalan sejelek begini kalau obyek wisatanya juga kurang menarik sih sama saja. Sayang banget sudah jauh-jauh, ternyata cuma gitu-gitu aja. Tapi kalau saya lihat di foto yang ada di penunjuk jalan sih kayaknya lumayan bagus tempatnya.


IG @yazid_el_zaada93

Kami pun sampai di perkampungan penduduk. Jalanannya yang cukup sempit baru saja selesai di plester. Sayangnya, parit di kiri kanan jalan terbuka sehingga kalau ada dua mobil berpapasan, maka dua mobil itu nggak bisa jalan karena ada parit yang terbuka.

Parkir Kendaraan

Setelah tidak terlihat ada penunjuk jalan, kami bertanya pada warga yang ada di sana. Ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat kami. Setelah itu, kami menanyakan tempat parkir mobil. Ternyata tempat parkirnya masih berupa tanah dan di lapangan kecil sebelah rumah penduduk. Kapasitasnya cukup kecil mungkin hanya sekitar 5 mobil.



 

Tiket Masuk dan Jam Buka Mloko Sewu

Tiket masuknya menurut saya cukup murah. Tiket masuk dibagi menjadi tiket masuk, tiket selfie dan tiket terusan. Kalau tiket masuk ke Mloko Sewu cukup murah hanya 5.000 rupiah. Tiket selfie Mloko Sewu juga 8.000 rupiah. Tiket terusan hanya 10.000 rupiah.




Tiket selfie untuk berfoto di balon udara, pintu langit dan ayunan. Sedangkan tiket terusan itu untuk selfie tapi juga tiket masuk. Nah, bapak saya belinya tiket terusan. Saat saya masih asyik berfoto, saya sempat melihat sekilas bapak mempertanyakan jenis tiketnya itu. Waktu itu saya sempat melihat bapak bingung tapi akhirnya bayar tiket terusan. Lah saya baru ngeh juga saat saya nulis blog ini. Apa bedanya tiket selfie dengan tiket terusan? Toh tiket selfie juga pasti bisa masuk. Saya juga nggak tanya waktu itu masuk itu maksudnya masuk kemana. Haha. Ambigu ya.

Taman bunga

Kalau lihat konsepnya, wisata Mloko Sewu ini sama seperti wisata Coban Rais hanya saja jauh lebih sederhana dan lebih murah. Setelah kita membayar tiket di loket, kita akan melihat taman bunga. Sayangnya, waktu saya kesana bunganya belum bermekaran, jadi masih kuncup begitu. Tapi tak apalah, namanya juga penasaran. Taman bunga ini berada di antara pohon-pohon pinus. Jadi tetap tidak panas walau berkunjung saat siang hari.

Gardu Pandang

Saya juga melihat ada dua gardu pandang dari kayu, kalau nggak salah. Yang pertama untuk melihat taman bunga dan sekitarnya. Yang kedua kedua untuk melihat telaga Ngebel dari atas. Untuk naik ke atas, pakai tangga bambu.

Warung kecil

Di dekat gardu pandang itu ada warung ngopi dengan tempat duduk berupa kayu. Bagi yang ingin menghangatkan badan atau mengisi perut bisa beli di warung ini.

Balon Udara, Pintu Langit dan Ayunan

Saya belum sempat menjelajah Pintu Langit dan Ayunan yang katanya bagus buat foto selfie. Saya cuma sempat lihat Balon Udara sampai satu kejadian yang membuat kami harus segera keluar dari tempat wisata itu.

Sumber www.tripzilla.id

Gara-gara saya nyuruh orang tua saya berfoto di balon udara bersama anak-anak saya. Balon udara ini bagus banget buat foto-foto. Si kakak sudah digendong mbahnya. Si adek masih belum digendong. Saya sedang pegang kamera hape untuk mengambil foto agak jauh dari mereka. Pintu balon udara udah saya tutup tapi ternyata didorong anak saya hingga dia terjatuh dan giginya menatap bebatuan di bawah. Sedihhhh. Giginya goyang. Gusi dan bibirnya berdarah. Huaahhh...
Pada akhirnya kami membawanya ke rumah sakit di kota yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Dalam perjalanan itu, dia nangis-nangis karena nggak bisa menyusu. Darahnya nggak berhenti-henti. Miris lihatnya. 

Saat di rumah sakit, dokternya nggak ada dan untungnya ditelepon. Dokternya mau datang sekitar 15 menit. Dan terpaksa dokter gigi harus mencabut giginya yang baru tumbuh. Hiks. Setelah itu, dia udah nggak merasa kesakitan lagi jadi udah nggak nangis lagi setelah dikasih balon berbentuk tangan. Padahal waktu pertama datang ke Mloko Sewu, si kecil senang banget berjalan dengan ketawa-ketiwi. Pulang-pulang udah nangis-nangis. Hiksss...

Jadinya nggak bisa menikmati rekreasi di Mloko Sewu. Kalau saya ke Ngebel, kira-kira perlu datang lagi nggak ya ke Mloko Sewu? Apalagi jalannya menanjak dan cukup rusak. Mengingat kejadian itu yang bikin miriissss.... #crying
Read More

Follower