Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Nasional. Tampilkan semua postingan
Menghadapi drama anak-anak jarak jauh sebelum pertemuan GLN 2024 ternyata cukup menguras emosi. Perjalanan naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta terasa sangat lama dan membuat hati tidak tenang. Sayembara Gerakan Literasi Nasional memang selalu dinanti para penulis cerita anak Indonesia. 

Sebelumnya, biidznillah aku pernah menjadi peserta GLN 2017-2018 hingga pertemuan terakhir. Saat itu, anak-anakku juga masih belum sekolah. Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan ikut GLN 2024.

Mungkin teman-teman masih ada yang asing tentang GLN itu apa? GLN atau Gerakan Literasi Nasional adalah program yang dicanangkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud, sejak tahun 2016 dengan menyediakan bahan bacaan khususnya kepada anak-anak Indonesia. 

GLN 2024

Untuk menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia, Badan Bahasa Kemdikbud mengadakan sayembara GLN setiap tahun dengan mencari mencari naskah-naskah cerita anak yang akan disebar ke berbagai daerah. Keterlibatan publik dalam penyediaan bahan bacaan ini sangat penting karena memiliki jangkauan pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas sehingga bahan bacaan akan lebih menyenangkan dan beranekaragam.

Jika tahun-tahun sebelumnya, GLN hanya menyeleksi buku bergambar jenjang B1, B2, dan B3. GLN 2024 sudah menerima naskah novel jenjang D untuk remaja SMP. Waktu GLN 2017-2018, naskah yang dikumpulkan harus sudah selesai (dummy) termasuk juga ilustrasi. Formatnya waktu itu kumpulan cerita, novel, dst dengan –kalau tidak salah– minimal 50 halaman.

GLN 2024 ini hanya mengumpulkan contoh penulisan dan ilustrasi saja. Jika buku bergambar, proses seleksi dengan mengirimkan naskah dengan 3 kolom dan 1 ilustrasi. Sedangkan untuk novel, peserta harus mengirimkan outline, 8 halaman pertama dan 1 ilustrasi.

GLN 2024, aku mengikuti jenjang B3 dan novel. Ternyata Allah mengizinkan aku ikut GLN 2024 melalui jenjang D. Alhamdulillah bisa mengikuti pertemuan GLN di Hotel Le Meridien Jakarta, tanggal 27 Juni – 1 Juli 2024. 

Aku tiba di hotel malam hari dan tidak mengikuti acara pembukaan acara di sore hari. Jadi aku langsung masuk kamar. Meskipun saat tiba di hotel kepalaku pusing dan sudah capek (gara-gara menunggu delay pesawat), tetap saja aku tidak bisa tidur nyenyak–padahal hotelnya nyaman sekali. Hati memikirkan anak-anak bagaimana tanpa ibunya.

Pagi hari, kepalaku agak ringan meskipun setelah sarapan yang sangat enak di hotel, perutku mules dan bolak-balik kamar mandi. Syukurlah panitia memiliki persediaan obat diare.

Novel jenjang D GLN

Pembagian kelas dilakukan sesuai jenjang. Jenjang D diminta masuk ke ruangan yang lebih kecil karena hanya 50 peserta. Di kelas, aku harus menahan perut mules dan badan lemas. Oh, sungguh tidak menyenangkan.

AC ruangan terasa sangat dingin. Aku tetap masuk kelas meski sesekali harus ke kamar mandi untuk setoran. Haha.

Sebelum pertemuan GLN 2024

Jadi sebelum pertemuan GLN 2024 ke Jakarta–setelah pengumuman penulis terpilih GLN 2024 pada tanggal 10 Juni 2024– seluruh peserta harus sudah menyelesaikan naskahnya sebanyak 60 halaman– termasuk beberapa ilustrasi yang sketsa maupun yang diwarnai itu–untuk dikumpulkan.

Jenjang D tanggal 18 Juni 2024, mentor memberi catatan naskah yang harus diperbaiki dan dikumpulkan sebelum pertemuan tanggal 27 Juni.

Selama 8 hari penyelesaian naskah aku sempat merasa kurang sreg sama naskahku. Meskipun ada outline yang membantu menulis naskah, tetap saja aku merasa ada yang kurang pas. Karena catatan naskah belum diberikan, aku memutuskan untuk menunda menyelesaikan.

Setelah ada catatan naskah, aku mencoba menyelesaikan tapi sempat mentok. Heran, loh, padahal sudah ada outline. Naskah aku biarkan beberapa hari, aku mencari ide dulu. Entah kapan ide itu muncul. Aku merombak beberapa, menyusunnya kembali agar muncul rasa penasaran–memasukkan hook di tiap halaman.

Ngapain saja di dalam kelas?

Karena ini adalah bimbingan teknis, setiap peserta harus maju ke depan mentor untuk menjelaskan naskahnya dan revisi yang sudah dilakukan. Karena ada 50 orang, persentasi baru selesai Ahad siang. Itu pun jadwalnya penuh dari jam 8 pagi, siang, sore, jam 9an malam.

Mengikuti paparan naskah Teman-teman, aku sempat merasa ciut. Naskah peserta lain keren-keren. Aku banyak belajar dari Naskah GLN Jenjang D. Dari penentuan tema, masalah, riset, tokoh, karakter, tata bahasa, sampai ilustrasi. Dari para mentor aku juga banyak belajar ilmu kepenulisan fiksi novel, khususnya jenjang D.

Novel GLN jenjang D
Aku bersama mentorku, Kak Ary Nilandari dan Kak Ali Muakhir

Belajar dari Naskah Novel GLN Jenjang D

Beberapa pesan dari para mentor untuk naskah GLN novel jenjang D yaitu:

Tema

Pengambilan tema novel ini harus dipastikan benar-benar tidak sekadar tempelan. Khawatirnya, tema tentang lingkungan tapi lingkungannya hanya tempelan. Salah satu caranya bisa menjadikan masalah lingkungan itu menjadi fokus cerita. Kita bisa membuat premis cerita dulu agar naskah tidak melebar kemana-mana dan fokus.

Untuk tema kekerasan, jangan sampai ada kata-kata bullying dalam naskah. Bagiku ini harus pintar-pintar penulisnya, sih.

Problematika

Problematika ini sebenarnya banyak di sekitar kita. Hanya saja untuk dimasukkan ke dalam novel harus dipilah-pilah lagi. Penentuan masalah ini yang menjadi salah satu daya tarik juri ketika seleksi. Juri akan memilih novel yang memiliki problematika yang kekinian, misalnya ketika mengambil tema isu lingkungan bisa membahas tentang kebakaran hutan, pengerukan pasir, dll.

Sebenarnya problematika tersebut sangat umum, namun akan menjadi nilai tambah jika memiliki kekhasan. Misalnya, mentor mengomentari naskahku tentang sampah. Masalah sampah ini kan masalah umum, tetapi aku tidak membahas sampah secara umum itu tapi lebih spesifik ke sampah makanan (food waste) dan pakaian. Hal ini berkaitan dengan perubahan iklim. Sampah tersebut bisa menyumbang pemanasan global dan perubahan iklim. Tak hanya itu, mentor berkata bahwa problematika naskahku juga termasuk masalah kekinian atau masalah anak muda yang suka buang makanan dan suka belanja pakaian terus-menerus.

Contoh lain, naskah yang membahas sampah tak melulu sampah plastik. Beberapa penulis GLN novel jenjang D mengangkat masalah sampah organik dan maggot, limbah tempe, atau sampah-sampah yang turun dari langit.

Judul

Bagiku membuat judul yang menarik ini sangat susah. Kebanyakan mindset penulis bahwa naskah yang bernuansa lokal itu lebih dicari sehingga penulis tergoda untuk membuat judul dengan bahasa lokal. Sayangnya, tidak semua pembaca yang notabene anak remaja paham dengan judul tersebut. Alih-alih menarik pembaca, buku tersebut justru tidak dipilih. Buatlah judul yang menarik, yang mengundang penasaran pembaca. Jangan buat judul yang ambigu.

Riset

Riset ini penting untuk memberi nyawa bagi ruh naskah. Naskah yang kurang riset pasti terasa hambar dan kurang kuat. Problematika dan solusi menjadi tak masuk akal akibat kurang riset. Tanpa riset ini bisa menyumbang plot hole dalam novel. Saat persentasi, novel jenjang D yang menurutku keren terlihat dari hasil riset yang baik, perpaduan ide dan imajinasi penulis.

Ilustrasi

Masalah ilustrasi ini sering dikomentari oleh juri karena kurang dewasa. Mungkin ilustrator terbiasa menggambar tokoh untuk jenjang B sehingga saat menggambar untuk jenjang D masih terlihat kekanak-kanakan. Untuk ilustrasi memang agak tricky ya. Jadi pintar-pintarnya ilustrator saja tidak membuat tokoh yang terlalu kekanak-kanakan atau terlalu tua.

Genre

Beberapa genre di novel jenjang D GLN juga ada yang mengambil genre fantasi dan sains fiksi. Sekali lagi, membuat naskah dengan dua genre tersebut memang perlu matang. Tidak terburu-buru. Worldbuildingnya harus kuat agar tidak terasa aneh. Aku bisa memberi applause pada teman-teman yang mengambil dua genre novel tersebut. Aku hanya bisa bercerita sedikit tentang novel di dua genre tersebut. Kelogisan juga perlu dipikirkan, meskipun di genre lain juga harus.

Revisi Naskah

Siapa bilang setelah persentasi terus lega? Yah ada benarnya. Tapi sebenarnya masih ada revisi lagi. Hehe.

Pertemuan GLN 2024
Revisi seraya menikmati kudapan yang tersisa demi mengurangi food waste hehe

Saat persentasi, naskahku mendapat tanggapan dari para mentor. Alhamdulillah revisiku bukan revisi plot. Sampai kamar, aku tidak langsung rebahan. Aku merevisi naskah malam-malam sambil menikmati kudapan red velvet cake yang enak banget.

Sampai Jumpa GLN

Di akhir pertemuan itu, kita dikumpulkan di ruangan besar, kemudian penulis menandatangani SPK atau surat perjanjian kerjasama. Karena aku terburu-buru, jadi aku segera mengambil sertifikat dan segala administrasi. 

Rasa-rasanya, aku tidak ingin mengakhiri bagian dari GLN. Tapi karena semua ada awal, maka pasti akan ada akhir. Hehe.

Demikian ceritaku tentang hasil pertemuan GLN 2024. Semoga bisa memberi manfaat yang akan menulis novel jenjang D. Semoga Allah beri kesempatan lagi untuk ikut GLN tahun depan. Aamiinn.

Read More
GLN 2024

Sebelum pengumuman Sayembara GLN 2024, aku cukup deg-degan menanti pengumuman. Sering bertanya-tanya, aku masuk apa nggak, ya?

Untuk jenjang B3, aku emang berusaha maksimal banget ngerjainnya. Mulai dari teks yang berima, tokoh yang tidak biasa, dan judul yang kubuat agak berbeda–menurutku. Sedangkan jenjang D, aku sering berpikir, Ah, harusnya bisa kutulis begini dan begitu.

Apalagi setelah melihat status Kak Ary Nilandari di FB tentang menulis novel untuk remaja. Aku udah mengira kalau beliau itu juri novel jenjang D. Di satu statusnya, aku merasa naskahku yang dikritisi. Soalnya kok mirip naskahku–GR banget, Bund. Dan saat itu aku batin, “Wah, gagal, deh, ini.” Setelah baca itu. aku nggak yakin bisa lolos pada jenjang D. Haha.

Hari Pengumuman GLN 2024 

Sampai Hari H, pengumuman tak kunjung muncul di website. Tak ada ramai-ramai juga ucapan selamat di grup kepenulisan cuma satu grup ramai banget membahas GLN yaitu grup wa FLP yang ikut GLN. 

Karena aku agak insecure dan membuat hati cemas akhirnya aku leave grup wa. Haha.. 

Tenang, deh. 

Sampai malam, tak ada juga keramaian di medsos tentang pencapaian diri di Sayembara GLN. Oh, berarti belum pengumuman, pikirku. Saat aku sedang menulis–30 hari menulis dari NAD–sekitar jam 11 malam, aku iseng buka website Badan Bahasa Kemdikbud.

Aku ikut dua kategori di jenjang B3 dan jenjang D. Pas lewat jenjang B3 ternyata namaku tidak ada. Pada saat tahu tidak ada namaku. Dalam hati berkata, "yah, gagal lagi. Nggak bakat kali, ya, nulis picbook. Wkwkwk." 

Ternyata yang aku kira udah maksimal ternyata gagal. 

Bagaimana dengan jenjang D?

Pas scroll ke bawah di jenjang D ternyata namaku ada!

Allahuakbar.



Rasanya lega dan juga penasaran. Ini juri serius nggak salah ambil judul? Haha. Meskipun merasa dikritisi di status juri, aku mulai memikirkan sepertinya ini harus difokuskan ke satu karakter.

Aku melanjutkan menulis 30HM dari NAD. Semalam itu, aku tidak bisa tidur. Bergulat dengan pemikiran bagaimana anak-anakku nanti saat aku berangkat pertemuan penulis?

Aku sudah memikirkan rencana akan dititipkan utinya di malang bersama ayahnya.

Besoknya, aku mengabarkan pada suami dan ilustratorku yang juga adik iparku bahwa aku lolos. Sudah bisa dipastikan bahwa setelahnya adalah hari-hari yang menyenangkan, membingungkan dan juga menyedihkan karena gagal B3.

Memang belum diizinkan saja sama Allah, pikirku. Mungkin dari jenjang D ini aku bisa mengajak orang dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Yang aku bahas dalam novelku di jenjang D ini terkait food waste dan fast fashion.

Yang intinya, tidak boleh buang-buang makanan dan tidak boleh boros membeli pakaian. Dalam Islam memang diajarkan untuk makan secukupnya karena bisa saja ada keberkahan di sisa makanan terakhir (kecuali tulang ya). Begitu juga dengan membeli pakaian yang tidak berlebih-lebihan.

Esoknya, grup dan media sosial sudah ramai dengan pengumuman GLN. Beberapa grup wa sudah mengucapkan selamat. Dulu, saat GLN 2017, aku pun tahunya dari grup wa karena di-mention. Jadi intinya nggak usah cari pengumumannya. Cukup menunggu disebutkan di grup nomor kita berarti lolos. Wkwkw. Kalau nggak disebut berarti gagal (sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya). Hehe.

Aku menahan- nahan diri untuk tidak publikasi ke media sosial karena aku pernah di pihak yang mengalami kegagalan. Hiks.

Proses Menyelesaikan Naskah

Itu juga aku sempat galau karena kata panitia harus menunggu revisi dari juri dulu. Sedangkan waktu sudah berjalan dan revisi belum keterima. Revisi dari juri dikirimkan beberapa hari sebelum pertemuan.

Beberapa malam aku begadang untuk menyelesaikan novelku karena saat sayembara hanya 8 halaman pertama dan contoh 1 ilustrasi yang dikumpulkan termasuk outline. Setelah pengumuman aku langsung mengejar 15 bab yang akhirnya berubah dikit. Sampai H -1 naskahku baru selesai. Aku minta ilustrator untuk mengerjakan layout atau pengatakan di Indesign. Dan ini ilustratorku sport jantung karena belum pernah pakai InDesign jadi masih meraba-raba. Alhasil baru selesai mepet jam 7 malam tanggal 27 Juni 2024 padahal kata panitia jam 7 malam itu terakhir. Di jam itu aku baru landing. Bagaimana bingungnya ilustratorku. Wkwkwk.

Aku teruskan saja email naskah format pdf dan Indesign itu ke panitia. Udah nggak ada waktu cek-cek lagi. Soalnya kan nanti dipresentasikan dan akan diberikan review lagi jadi akan ada revisi-revisi selanjutnya.

Bagaimana dengan Anak-Anak?

Sebenarnya masalah di luar itu adalah memastikan bahwa anak-anak ini ada yang jaga. Jadi aku pastikan jadwal kerja suamiku tidak bentrok.

Aku bahkan sempat memilih opsi naik mobil karena sebelum berangkat kami akan ke Semarang. Dari Semarang naik mobil ke Jakarta. Tapi akhirnya batal karena pasti terasa melelahkan dengan dua sopir dan 3 anak-anak.

Jadinya anak-anak aku titipkan di Malang sama utinya. Ternyata agak susah menentukan jadwal suami di akhir semester. Aku kira bakal tidak mengajar lagi ternyata masih ada rapat-rapat, bimbingan dan ujian mahasiswa yang mengejar akhir semester.

Aku memutuskan membeli tiket berangkat dari Surabaya sore hari. Aku izin telat datang ke tempat acara karena harus menjaga anakku dulu.

Bela-belain datang sore eh ternyata pertemuan yang malam hari diminta untuk revisi mandiri. Yah, tahu gitu aku datang tengah malam atau pagi-pagi banget. Haha.

Kejadian sore sebelum berangkat ke bandara emang seru banget. Ditambah lagi ternyata delaynya setengah jam. Ih, kan. Gemes.

sensor

Behind the scene harus dirahasiakan biar tidak jadi konsumsi publik yang bisa mengancam kehidupan saya dan keluarga. Wkwkwk.

Udahlah. Yang penting aku sudah sampai Jakarta dan anakku sudah bersama tantenya karena suami tidak jadi berangkat hari itu.

Pertemuan Penulis GLN 2024 di Hari Pertama

Karena aku datang terlambat, aku tidak ikut acara pembukaan. Tapi aku mengikuti lewat zoom karena disediakan ruang zoom bagi ilustrator yang ingin mengikuti. Beda banget ketika GLN 2017 dan 2018 yang tidak disediakan ruang Zoom. Pandemi benar-benar mengubah pertemuan jarak jauh jadi terasa dekat.

Sampai bandara Halim Perdana Kusuma maunya aku naik grab atau gocar tapi antrinya banyak banget. Akhirnya aku naik taksi bandara yang lumayan mahal. Yaudah deh, wong diganti juga, pikirku. Tapi aku pastikan dulu kalau aku dapat struk untuk bukti reimburse.

Setelah sampai hotel bintang 5 itu–MasyaAllah nikmat mana yang harus aku dustakan, semoga aku tidak menyia-nyiakan uang negara, hiks–aku langsung menemui panitia untuk mengurus administrasi dan segala macam. Bertemu dengan teman dan sudah tak minat lagi untuk makan.

Teman sekamarku sudah chat WA aku semenjak di bandara. Jadi aku udah tahu nomor kamar. Beberapa teman sempat keliru naik Lift karena beda gedung. Sedangkan aku ada di tower building.

Eh, aku lupa dong minta akses ke dalam kamar soalnya Lift nya harus pakai kartu kamar. Wkwkw. Akhirnya aku numpang orang yang mau ke lantai atas. Baru deh bisa naik.

Sampai kamar aku takjub dengan kaca-kaca gedung-gedung pencakar langit di depanku yang masih menyala. Untuk review kamar hotel Le Meridien sudah aku tulis juga. 

View hotel Le Meridien Jakarta

Setelah berkenalan dengan teman sekamar, Mbak Linda Nurhayati, aku pun mandi dan segera istirahat untuk menghadapi pertemuan GLN 2024 hari kedua esok hari bersama mentor yang pasti banyak ilmu tentang novel GLN Jenjang D yang akan aku dapatkan.

Read More
Aku kaget saat membaca pesan whatsapp dari Mas Danang kalau naskahku lolos saat mengikuti sayembara penulisan bahan bacaan untuk anak SD yang diselenggarakan Kemdikbud.




Wajarlah kalau aku kaget karena baru kali ini aku menulis cerita anak-anak dan lolos. Walaupun aku ada niatan untuk menulis cerita anak lagi dan dikirim penerbit. Ya, hanya sebatas niatan, belum kukirimkan.

Begitu dapat kabar itu, aku langsung membuka website Kemdikbud. Benar saja ada namaku tercantum dalam daftar penulis terpilih.

Kemudian aku mengecek email. Ternyata sudah ada email dari Kemdikbud yang mengatakan naskahku terpilih. Mereka mengirimi surat kesediaan untuk mengikuti pertemuan di Jakarta selama tiga hari untuk menindaklanjuti naskah. Semua akomodasi ditanggung.

Ada rasa senang tapi juga bingung. Senang karena menjadi penulis terpilih dan akan mengikuti kegiatan di Jakarta. Pengalaman baru ini nggak ingin aku lewati.

Sempat bingung karena saat itu Raceqy masih usia 15 bulan. Apakah aku harus meninggalkannya di mbahnya atau harus kubawa? Mengingat dia masih asi rasanya nggak mungkin kalau harus menitipkannya . Walaupun bisa saja di pumping dan asi disimpan freezer seperti ibu-ibu bekerja itu. Sayangnya aku nggak punya pengalaman tentang itu jadi aku nggak berani menitipkannya.

Setelah menanyakan ke pihak Kemdikbud bahwa anak boleh dibawa tapi biaya tiket pesawat nggak ditanggung. Alhamdulillah.. aku semakin senang karena bisa ikut kegiatan di Jakarta sambil membawa si kecil. Aku harap setiap kegiatan kepenulisan bisa “ramah terhadap anak”, hehe.

Setelah konfirmasi itu, aku langsung beli tiket pesawat dan menyiapkan semua berkas yang harus dibawa seperti surat SPPD seperti orang kantoran saja. Karena nggak mewakili instansi, akhirnya aku memakai nama FLP saja karena harus ada stempel dan tanda tangan organisasinya. Waktu itu aku minta tanda tangan Ketua FLP Wilayah, Pak Rafif. Sedangkan penulis lain yang tidak terikat instansi atau organisasi tertentu maka menggunakan tanda tangan Pak Lurah.

Ada rasa deg-degan juga karena baru kali ini perjalanan jauh membawa anak bayi. Sesampainya di Jakarta, aku langsung memesan taksi. Masih ada beberapa jam untuk persiapan. Setibanya di gedung LPMP Jakarta, Mbak Kity, sambil membantu membawakanku koper, menunjukkan kamarku menginap. Setiap penulis memang disediakan kamar. Aku pun beristirahat sebelum acara dimulai.

----------------
Setelah beristirahat dan menyusui sebentar, aku menuju gedung acara sambil menggendong si kecil dengan gendongan carrier. Satu kekhawatiranku adalah si kecil akan teriak-teriak, nangis atau bahkan berlari-lari. Akhirnya aku memilih duduk paling belakang biar memantaunya dengan mudah.

Pertemuan Pertama

Saat pertama-tama acara, si kecil bisa duduk anteng. Aku sudah bawa mainan dan snack biar dia duduk anteng. Tapi tetap saja sih namanya anak kecil pasti nggak betah berlama-lama duduk. Akhirnya dia mulai duduk di bawah, bermain kursi dan bermain-main di belakang.




Materi yang diberikan yaitu pembinaan generasi emas melalui Gerakan Literasi Nasional, penguatan penumbuhan budaya literasi 2017, kebijakan perbukuan, penilaian kelayakan bahan bacaan.

Sempat kaget juga ternyata yang mengikuti sayembara ini sebanyak 727 peserta dan terpilih 120 naskah. Sebanyak itu. Apalagi aki tidak pernah menulis cerita anak. Hanya modal tanya-tanya, baca referensi dari perpustakaan, sampai searching di internet.

Dari 4 tema (kuliner, bahasa daerah, arsitektur tradisional, dan tokoh),-oiya ada satu lagi: pergeseran sosial juga- saya memilih arsitektur tradisional. Alasannya karena saya tidak asing dengan tema itu mengingat saya pernah belajar di bangku kuliah. Satu bulan saya mencari referensi tentang arsitektur tradisional di daerah bencana gempa. Hal yang menarik yang ingin saya ceritakan kepada anak Indonesia adalah suku-suku kita di Indonesia itu sudah punya pengetahuan membangun rumah yang bisa beradaptasi dengan gempa. Dengan bahasa sederhana, saya uraikan di naskah yang saya tulis, dan saya padukan dengan kisah anak-anak tanpa melupakan pesan moralnya. Tentunya tanpa sifat yang menggurui.

Hari kedua, peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan masuk ke ruangan kelas masing-masing. Lagi-lagi saya berharap si kecil tidak rewel. Untungnya dia bisa anteng walau akhirnya tiga jam setelah Pak Maman, dosen FIB UI, memberi penjelasan, dia mulai gelisah, bosan di kelas.

Dengan segera saya menanyakan revisi yang dimaksud dan menunjukkan hasil revisian. Beliau bilang oke. Setelah itu saya langsung menuju kamar meninabobokan si kecil. Kemudian saya mengerjakan revisian yang belum selesai, tambahan pertanyaan pemantik, termasuk melayout naskah di InDesign yang baru saja saya pelajari. Pada akhirnya saya pun ikut ketiduran dengan si kecil, hahaha.

Tepat jam 8 malam, saya ditagih Bu Kity untuk menyerahkan hasil revisian dan menunjukkan pertanyaan pemantik yang baru dibuat. Selesailah tanggungan saya hari itu.

Keesokannya ternyata acara penutupan dilakukan lebih cepat. Si Raceqy (read: reski) sudah mulai kelelahan sepertinya hingga dia rewel selalu minta keluar aula. Baiklah, saya turuti walau saya juga mulai lelah. Akhirnya selesai juga acara, dan sesi foto-foto pun berlanjut. Alhamdulillah masih diberi kesempatan merasakan pengalaman baru ini.

insyaAllah setelah revisi ini akan ada evaluasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas mengenai naskah yang ditulis sudah layakkah menjadi buku bahaan anak SD. Kalaupun belum layak, akan terus ada revisi. Kalaupun sudah, insyaAllah akan dicetak dan disebar di beberapa sekolah di Indonesia.

"Menulislah karena itu shodaqoh ilmu" (Ibu Suprihatin)




Hari kedua pun berjalan lancar. Kekhawatiran-kekhawatiranku dengan si kecil syukurnya bisa teratasi.

Esoknya adalah hari terakhir kegiatan yang diisi dengan beberapa patah kata dari pihak kemdikbud. Nggak terasa tiga hari rangkaian acara selesai juga.



Pertemuan kedua

Pertemuan kedua ini diselenggarakan di Hotel Santika TMII tanggal 5 – 7 Oktober 2017. Lamanya acara juga sama dengan pertemuan pertama, hanya saja pertemuan kedua ini adalah pertemuan terakhir dan dihadiri oleh Pak Muhadjir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Acara dimulai pukul tiga sore dan semua penulis diwajibkan memakai baju batik. Materi yang diberikan sebelum Pak Muhadjir datang yaitu penumbuhan budi pekerti melalui membaca, kebijakan perbukuan. Kemudian setelah sholat maghrib dan makan malam acara pun dimulai.
Para hadirin diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu ada penampilan seorang anak yang mendongeng.

Pak Dadang selaku Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga turut memberikan penjelasan terkait gerakan literasi nasional.

Pemberian hadiah pemenang sayembara secara simbolis diberikan kepada enam pemenang dari tiga wilayah. Setelah pemberian hadiah, kami harus menunggu kedatangan Pak Muhadjir.

Si kecil waktu itu sudah mulai mengantuk dan tertidur di kursi. Hehe.
Besoknya, setiap penulis harus berada di kelas dan menyelesaikan tugasnya. Untungnya revisi sudah kukerjakan saat malam hari jadi di kelas aku hanya mengedit layout di Indesign dengan bertanya-tanya Mbak Intan.
Untungnya si kecil bisa diajak kerjasama.

Revisi pun selesai kukerjakan dan kuberikan ke panitia di malam hari setelah si kecil tidur.

Besoknya, acara penutupan dan pemberian hadiah panitia. Setiap penulis dipanggil dan harus menandatangani surat bermaterai tentang hak dan kewajiban penulis. Semacam surat kerjasama.



Sekarang, naskah ku yang sudah selesai dinilai Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud sudah bisa diunduh di website Kemdikbud.
Sedangkan buku cetaknya dan penyebaran ke sekolah-sekolah nanti diurus oleh Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah).
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower