Sebenarnya liburan-liburanku sebelumnya nggak jauh-jauh dari mencari ketenangan. Apakah kehidupanku betul-betul jauh dari ketenangan? Sebuah pertanyaan yang cukup mengusik hati.
Dibilang tidak tenang tidak juga, tapi hari-hariku cukup gedebak gedebuk. Dan ada beberapa jam akan terasa santai, lambat dan tenang ketika anak-anak tidur di saat aku tidak tidur. Tapi liburan itu memang seorang ibu tidak benar-benar libur. Hanya pindah tempat ngasuh aja. Bedanya nggak masak-masak aja. Hehe.
Selama di Yogya, selain mencari suasana yang tenang dengan pergi ke Hutan Pinus Mangunan, aku tidak mau melewatkan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
![]() |
| Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (dok. Pri) |
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta di Tengah Kota
Kalau tidak salah kami sudah selesai mengunjungi Taman Sari Yogyakarta, kami harus mencari masjid terdekat yaitu di Masjid Gedhe Kauman.
Masjid ini berada di dekat alun-alun Kraton Ngayogyakarta di Jalan Masjid Gedhe, Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Penentuan lokasi masjid Gedhe Kauman Yogya ini mengikuti konsep penataan kota-kota di Jawa di mana lokasi masjid berada di sebelah barat alun-alun (utara).
Kenapa harus ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta?
Sebenarnya banyak alasan kenapa aku pengen sholat di masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Dulu waktu tugas kuliah harus stay di Yogya selama seminggu, aku sebenarnya tidak terlalu mengingat apakah aku sholat di masjid ini atau tidak. Seingatku belum sama sekali. Jadi rasanya aku tidak ingin melewatkan sholat di sini selama beberapa hari di Yogya.
Termasuk bangunan cagar budaya
Tapi tentunya karena masjid ini punya sejarah yang kuat. Masjid Gedhe Kauman Yogya telah melewati masa-masa sejarah Indonesia hingga ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya.
Salah satu kriteria bangunan ditetapkan sebagai cagar budaya adalah jika usianya di atas 50 tahun.
Karena waktu kuliahku dulu juga membahas tentang pelestarian bangunan bersejarah jadi rasanya kunjungan ke bangunan cagar budaya itu jadi wishlist. Aku tidak mau melewatkannya.
Saksi Sejarah Kesultanan
Masjid Gedhe Kauman ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono 1 setelah membangun Keraton Yogyakarta sekitar tahun 1773 M. Di tahun tersebut, Indonesia masih dikuasai oleh kongsi dagang Belanda atau VOC.
Masjid tersebut dibangun tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat kebudayaan kraton.
Arsitektur Yang Keren
Ketika aku melewati gerbang masjid, dari jauh tampak atap masjid yang bertumpang tiga, hampir sama seperti masjid Sunan Ampel, dan memiliki ukiran yang khas Kraton Yogyakarta.
Seorang tukang sedang berdiri di depan atap berukiran berlogo Kraton Yogyakarta tersebut. Saat itu atap masjid sedang dalam renovasi dan dicat.
Yang Keren di bagian puncak atap ada hiasan seperti mustaka begitu yang tak hanya bermanfaat menjadi penangkal petir.
Di bagian depan masjid ini ada ruang terbuka yang luas dikelilingi oleh bangunan khas zaman dulu yang masih terawat. Beberapa pohon ditanam berjejer di pinggir ruang terbuka masjid.
Beberapa orang berlalu lalang keluar dan masuk masjid. Sebagian telah melaksanakan ibadah wajib.
Di depan masjid terdapat pagar tembok berlubang sehingga aktivitas di dalamnya tidak terlihat dari ruang terbuka. Ini bagus agar aktivitas akhwat tidak terlalu terekspos.
Ketika masuk masjid, beberapa orang sedang melaksanakan sholat di serambi masjid yang tampak dari luar. Masjid ini hampir sama seperti masjid Jami' di Solo.
Aku pun segera pergi ke tempat wudhu. Sayangnya tempat wudhu sedikit terbuka sehingga harus hati-hati agar tidak tampak oleh ikhwan.
Sebenarnya konsep tempat wudhu masjid ini masih menggunakan konsep jaman dulu di mana penampungan air diletakkan di tengah berbentuk lingkaran dan kran-kran mengelilinginya.
Di bagian serambi tampak pilar-pilar berhiaskan ukiran yang sangat khas. Warna emas lebih mendominasi pada ukiran atap dan pilar masjid.
![]() |
| Atap serambi masjid yang atapnya penuh ukiran (dok. Pri) |
Lampu-lampu hias masjid menggantung di atapnya membuat semakin mewah. Aku terpana meski hanya di serambi masjid.
Untuk memasuki serambi masjid, aku harus naik karena posisinya lebih tinggi dari tanah.
Aku tidak memasuki bagian dalam masjid. Saat itu aku melihat pintu masjid ke bagian dalam masjid sedang tertutup. Pintu masjidnya pun berukiran berwarna emas dan cokelat.
Di bagian atasnya, ada tulisan berjalan untuk memberi keterangan waktu sholat.
Di sekeliling masjid ini juga ada taman kecil tapi saat itu sedang direnovasi.
Lampu-lampu khas seperti di Malioboro juga dipasang di pinggir taman masjid ini. Beberapa pak tukang sedang memperbaikinya.
Anak-anak melewati jembatan kecil, bermain di taman yang sederhana. Beberapa orang masih duduk-duduk di serambi masjid.
Garis Shaf Yang Berubah
Adakah yang mengikuti kisah KH. Ahmad Dahlan yang dulu pernah memberi tahu arah shaf sholat yang benar?
![]() |
| Shaf baru dengan garis hitam (dok. Pri) |
Dan di masjid Gedhe ini juga tampak perubahan tersebut. Sangat jelas terlihat banyak garis berwarna hitam yang miring tidak sesuai dengan arah bangunan masjid.
Ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmu KH. Ahmad Dahlan yang belajar di tanah Haram terus dirasakan oleh umat Islam sampai saat ini.
MaasyaAllah. InsyaAllah menjadi pahala jariyah beliau.
Kesimpulan
Alhamdulillah akhirnya aku bisa merasakan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Tapi kalau dibandingkan dengan masjid-masjid yang pernah aku kunjungi, seperti masjid Pura Mangkunegaran, masjid Ar-Rahman, masjid Jami' Solo atau Masjid Al-Akbar, maka masjid Gedhe Kauman Yogya ini sangat khas banget ukirannya. Sebenarnya ada banyak makna dari tiap ukiran tersebut. Sayangnya nggak aku bahas karena pasti banyak banget. Sayang bangetnya lagi aku nggak lihat bagian dalam masjid yang tampaknya juga mewah. Mungkin kapan-kapan lagi aku harus sholat di masjid ini.



































