Mengunjungi Masjid Ar-Rahman yang Terkenal dengan Masjid Nabawi-nya Blitar

No Comments
Setibanya kami di Blitar, sudah tiba waktu dzuhur, kami mencari masjid yang tidak terlalu jauh. dari jauh aku melihat masjid ikonik di Blitar. Pada akhirnya, kami memutuskan sholat di masjid Ar-Rahman Blitar, masjid yang desain arsitekturnya mirip masjid Nabawi.

Masjid Nabawi Masjid Ar-Rahman Blitar
Gapura Masjid Seperti Monumen Ikonik Jeddah-Mekkah (dok. Pribadi)

Dari kejauhan sudah terlihat payung mini seperti payung-payung Madinah yang bisa dibuka. Di depan masjid, tampak gerbang berbentuk Al-Quran yang menyerupai monumen ikonik di jalan raya Jeddah – Mekkah, Arab Saudi, hanya saja lebih kecil. Menatap gerbang ini aku tersenyum, seolah-olah aku bisa membayangkan sedang memasuki kota Mekkah. Ketika melewati gerbang ini, kita akan bisa melihat masjid dan payung Madinah. Seolah-olah kita sedang berada di Madinah.

Lokasi masjid Ar-Rahman ini ada di Jalan Ciliwung No. 2, Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Lokasinya berada di pertigaan jalan dekat Stadion Soepriadi Kota Blitar. Lokasi ini terbilang strategis karena sering dilalui kendaraan yang keluar kota Blitar sehingga tentu saja siapa yang tidak mengenal masjid ini saat ke Blitar.

Saking terkenalnya, pengunjung masjid ini cukup ramai. Bus-bus luar kota berhenti dekat pintu gerbang yang berbentuk seperti gerbang Mekkah.

Kami berhenti di depan gerbang mencari tempat parkir mobil. Karena ada beberapa mobil parkir di depan masjid tapi tak ada tempat kosong lagi. Mendeteksi wajah-wajah bingung kami, Pak petugas masjid atau mungkin pak parkir menghampiri kami. Aku bertanya di mana parkir mobil, ia mengarahkan kami untuk parkir di depan stadion.

Memasuki area parkir, kami disambut oleh lapak penjual oleh-oleh Blitar di halaman stadion. Wajah-wajah antusias para penjual sedang melayani pembeli baju anak-anak. Membeli oleh-oleh bertuliskan Blitar adalah sebuah bentuk validasi dari pengunjung ketika berada di suatu daerah maka perlulah membeli kaos-kaos dengan jenama “Blitar”.

Kami pun berjalan memasuki masjid.

Sejarah Masjid Ar-Rahman Blitar

Bermula dari keinginan seorang pengusaha sukses Blitar, Abah Hariyanto, yang menjadi pemilik PT. Mayangkara Group untuk selalu merasakan suasana seperti di masjid Nabawi. Sebab menurutnya saat di masjid Nabawi, ia merasakan kenikmatan ibadah yang tidak dirasakan di masjid lain. Dia tidka ingin merasakan kehilangan momen terbaik dalam hihidunya.

Masjid ini dibangun sekitar akhir tahun 2018 dan selesai tahun 2019 di atas tanah selyas 2.806 meter persegi. Kemudian masjid itu diperluas kembali tahun 2020 dan selesai akhir tahun 2022.

Abah Hariyanto berharap dengan hadirnya masjid Ar-Rahman bisa menghalau rasa rindunya akan masjid Nabawi.

Fasilitas Masjid Ar-Rahman

Suasana masjid Ar-Rahman saat dzuhur tidak tampak ramai di pelatarannya karena panasnya cuaca membuat pengunjung enggan berada di pelataran masjid. Mereka semua mencari tempat berteduh. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang mengambil foto di beberapa sudut masjid.

Welcome Drink

Memasuki lorong khusus akhwat, di meja-meja disuguhkan minuman dalam termos-termos besar berisi teh dan ... apa yaa (lupa, hehe). Beberapa pengunjung mengambil gelas plastik dan mengisinya dengan air yang telah disuguhkan. Mereka tampak duduk-duduk di kursi panjang menikmati minuman es dan hangat.

Aku dan ibu mertua tidak mengambilnya. Tanpa perlu mencari-cari karena kali ini ibu mertuaku yang menunjukkan arah tempat wudhu. Beliau pernah mengunjungi masjid ini.

Lapangan Golf Mini

Seorang wanita berpakaian formal berwarna hitam dengan logo perusahaan di bajunya sedang berdiri di dekat pintu masuk ke tempat area golf. Iya, ternyata, di masjid ini juga punya lapangan golf mini atau Padang Golf Mayangkara. Lapangan ini memiliki luas sekitar 2 hektar dengan 3 hole.

Tempat wudhu dan toilet

Tempat wudhu dan toilet di masjid Ar-Rahman cukup mewah dan bersih. Untuk kran wudhu pun banyak jadi kalau rombongan datang ke sini tidak perlu khwatir antri lama.

Selanjutnya, aku segera mengambil air wudhu setelah membuang air kecil di deket. Di antara tempat wudhu dan toilet ada ruang terbuka yang terbatas akses.

Tempat wudhu modern

Oiya, untuk tempat wudhu pria ini lebih mewah dan unik. Para jamaah duduk di pinggir kolam yang berbentuk melingkar, dan berwudhu dari air kran yang keluar dari kolam itu.

Tempat peminjaman mukenah

Di dekat pintu masuk tempat wudhu, ada tempat untuk meminjam mukenah. Seorang petugas dengan seragam hitam menjaga tempat peminjaman mukenah ini.

Bagi yang sudah selesai memakai mukenah, bisa diletakkan kembali ke tempat mukenah yang sudah dipakai untuk dicuci oleh petugas.

Serambi sebelah barat

Ternyata di bagian serambi masjid sebelah barat yang tertutup juga disediakan minuman yang sama seperti di pintu masuk tadi. Rasa penasaranku mendorongku untuk mengambil secukupnya. Eh, ternyata isinya kosong. Sepertinya petugas belum mengisi ulang termos air minum. Hehe.

Di serambi ini cukup luas dan bisa digunakan untuk bersantai atau berfoto bersama rombongan. Kita bisa mengambil foto dengan latar pintu emas masjid atau di bawah lengkungan seperti di masjid Nabawi.

Payung-payung Madinah

Salah satu hal yang membuat masjid ini berbeda dengan masjid lainnya adalah adanya payung-payung Madinah yang berada di teras masjid. Ternyata payung-payung ini terbuka setelah dzuhur dan tertutup saat sholat maghrib. Payung ini memberikan keteduhan bagi jamaah yang melewati area pelataran ini.

Payung madinah masjid Ar-Rahman Blitar
Payung Madinah di Masjid Ar-Rahman Blitar (dok. Pribadi)

Hmm.. jadi teringat payung-payung di masjid Jami’ Semarang.

Meskipun jumlah payung ini cukup banyak sekitar tujuh payung, tetapi hanya tiga payung saja yang bisa dibuka dan ditutup otomatis. Sedangkan empat payung lainnya permanen yang berfungsi untuk menguatkan kesan Masjid Nabawi.

Asmaul Husna

Di bagian sisi lain dari masjid, juga terdapat dinding hitam bertuliskan asmaul husna yang berwarna emas. Biasanya jamaah berfoto di masjid ini.

Arsitektur Masjid Ar-Rahman

Kenapa arsitektur Masjid Ar-Rahman ini bisa mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah? Karena memang desain bangunannya mengadopsi gaya arsitektur Utsmaniyah Mamluk yang indah. Masjid ini memiliki kubah besar dengan menara yang menjulang tinggi. Kekhasan pada masjid ini terlihat pada pilar dan lengkungan yang berwarna hitam dan putih.

Pintu-pintu masjid pun dibuat semirip mungkin dengan masjid di tanah Haram. Pintu kayu berwarna cokelat dengan hiasanya emas di pintunya. Ukurannya memang agak kecil tetapi sudah cukup mirip dengan pintu di masjid tanah haram.

Desain pintu masjid
Desain pintu yang khas (dok. Pribadi)

Yang membuat masjid ini tampak mewah juga karena lantai yang digunakan adalah granit yang tampak mengkilap. Tujuannya agar pengunjung tidak kepanasan karena mengira

Ketika aku memasuki dalam masjid, memang tampak mewah meski tidak terlalu luas. Mirip dengan masjid Nabawi di mana lengkungan di antara tiang itu dominasi warna hitam dan putih. Di tengah ruangan juga ada lampu-lampu berbentuk melingkar.

Pilar masjid Ar-Rahman Blitar


Di dekat pintu, juga masih ada dua pegawai yang membantu para jamaah untuk membawakan mukenah yang sudah digunakan.

Aku melihat kain kiswah di bagian depan tempat imam sholat. Aku mengira itu hanya imitasi, tapi kata ibu mertua itu kiswah asli yagn didatangkan langsung dari Museum Ka’bah di Arab Saudi. Sudah pada tahu kan kiswah itu apa? Kiswah itu kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra dengan benang emas dan perak.

Setelah aku searching di Google, ternyata kiswah di Masjid Ar-Rahman ini pernah menghiasai Ka’bah sekitar tahun 2009 atau 1430 Hijriah.

You know lah, sebagai pengunjung yang menyukai foto selfie, pada ingin berfoto di dekat kiswah atau di bawah lampu-lampu yang indah. Sangat disayangkan jika perilaku ini justru mengganggu orang yang sholat kalau tidak diatur dengan baik.

Kapan ke Masjid Ar-Rahman Blitar?

Tidak seperti saat sholat di masjid Sunan Ampel yang ramai oleh pengunjung ziarah, di masjid Ar-Rahman Blitar ini lebih tenang, tidak ramai meski bus-bus wisata datang ke sini. Sama tenangnya seperti saat sholat di masjid Al-Akbar Surabaya.

Kalau kalian baru satu kali ke Blitar, berkunjung ke Masjid Ar-Rahman Blitar bisa menjadi destinasi wisata religi Blitar. Yang terpenting, ibadah bukan karena urusan bangunan yang megah, bahkan hanya untuk berselfie ria hingga mengganggu jamaah lain. Masjid tetap menjadi tempat melaksanakan kewajiban sholat, memanjatkan doa untuk mendapat ridho Allah.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower