Kunjungan ke Masjid Ampel sebenarnya bukan jadi tujuanku satu-satunya saat itu. Setelah bertahun-tahun tinggal di Waru, perbatasan Sidoarjo-Surabaya, baru kali ini aku pergi ke masjid Ampel yang berada di kawasan Ampel. Bukan untuk wisata religi tapi memang kami melaksanakan sholat wajib.
Waktu itu, suami sedang mengunjungi temannya yang tinggal di kawasan Ampel, cukup dekat dengan masjid Ampel.
Suasana Kawasan Ampel
![]() |
| Menikmati Vibe Timur Tengah di Kawasan Ampel (Dok. Pribadi) |
Meski aku belum pernah ke Arab, suasana kawasan Ampel ini seperti berada di Arab (meski tidak terlalu mirip juga sih haha).
Beberapa kali orang-orang berwajah Arab berlalu lalang di depanku. Toko-toko yang ada di kawasan Ampel kebanyakan penjualnya orang Arab, seperti toko parfum, resto nasi mandhi.
Menjelang Ashar, anak-anak Arab berjalan melewati trotoar sudah siap menuju Masjid. Anak laki-laki memakai gamis. Anak perempuan yang memakai jilbab, berwajah manis, mendekap Al-Qur'an di dada. Langkah kakinya mantap menyusuri jalan-jalan Ampel kemudian berbelok masuk ke dalam gang. Ternyata anakku yang cowok, masih 7 tahun, menatap anak perempuan itu terus-terusan. Sampai suamiku menegur biar ngga ngelihatin terus. Haha. Lucu banget.
Berada di kawasan yang menjadi cikal bakal penyebaran ajaran agama Islam di Jawa Timur membuat vibe negara multikultural semakin terasa.
Lokasi Masjid Sunan Ampel
Lokasi masjid Ampel ini berada di tengah kampung arab yang kental dengan budaya timur tengah.
Di sinilah pusat penyebaran Islam di Jawa Timur bermula melalui perdagangan dari mouth-to-mouth yang menjadi sarana efektif dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.
Lokasi masjid sunan Ampel tepatnya berada di Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Surabaya.
Karena lokasinya berada di tengah permukiman penduduk yang padat maka jika datang ke sini pakai kendaraan pribadi bisa melewati jalan sebelah RS PKU Muhammadiyah, belok kiri kemudian di pertigaan belok kanan.
Dan ternyata tempat parkirnya cukup luas ada masjid yang lain juga.
Sejarah Singkat Kawasan Ampel
Seperti yang udah aku ceritakan sekilas di tulisanku tentang Masjid Peneleh, sejarah kawasan Ampel ini tak lepas dari kiprah Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat yang dikenal sebagai Sunan Ampel.
Ketika itu, Raden Rahmat diminta untuk memperbaiki kondisi moral masyarakat dan elite kerajaan yang banyak melakukan perbuatan tidak baik, seperti mabuk, zina, maling atau korupsi.
Raden Rahmat pun diberikan sebidang tanah di Ampeldenta (yang sekarang tempat berdirinya masjid Sunan Ampel) untuk membangun masjid yang terinspirasi dari kisah Rasulullah saat hijrah ke Madinah.
Beliau mendirikan pesantren sebagai tempat untuk mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa pun yang mau datang belajar kepada beliau.
Hasil didikan beliau dikenal dengan falsafah Molimo yang merupakan gabungan dari kata Mo (dalam bahasa Jawa artinya tidak mau) dan limo (dalam bahasa Jawa artinya lima). Secara keseluruhan, Molimo artinya tidak mau melakukan lima perkara yang dilarang.
Lima perkara tersebut adalah Emoh Main (tidak mau berjudi), Emoh ngumbi (tidak mau minum minuman yang memabukkan), Emoh madat (tidak mau mengisap candu atau ganja), Emoh maling (tidak mau kolusi atau mencuri) dan Emoh Madon (tidak mau zina).
Atas hasil didikan Raden Rahmat, raja Prabu Brawijaya sangat senang karena memberi pengaruh kebaikan bagi masyarakatnya. Dan dari sinilah, penyebaran agama Islam meluas hingga sampai Jawa Timur.
Pasar Kampung Sunan Ampel
Kami memasuki gang menuju Masjid Ampel. Rumah-rumah saling berdempetan dan tidak ada halaman. Di ujung gang aku lihat banyak penjual memenuhi gang. Ada yang berjualan gamis, baju koko, kopiah, makanan khas arab (kurma, kebab), parfum dan oleh-oleh khas Ampel.
Di sepanjang jalan seperti di gang pasar-pasar, yang sempit dan banyak orang, para penjual menawarkan oleh-oleh. Harga baju dan celana seukuran anak-anak sekitar 35 ribu.
Karena padat sekali, udara jadi agak sampek. Pasar-pasar di gang ini tidak terlalu panjang tapi rasanya jadi kurang nyaman terutama bagi kita bukan peziarah, hanya untuk sholat.
Setelah keluar dari gang dengan gapura sebagai penanda, aku lega sekali bisa menghirup udara segar. Ternyata masjid Ampel ini berada di tengah-tengah kampung. Tak ada akses untuk kendaraan bermotor. Para pengunjung semua berjalan kaki untuk menuju masjid.
Di sekitarnya pun juga masih banyak penjual makanan kebab, parfum, dan oleh-oleh lainnya.
![]() |
| Penjual parfum di depan masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi) |
Arsitektur Masjid Sunan Ampel
Di depan gerbang pasar kampung Ampel, aku bisa melihat masjid Ampel beratapkan limas atau tajuk bertumpang tiga.
![]() |
| Masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi) |
Kalau dilihat secara keseluruhan, tampaknya masjid ini sudah direnovasi banyak. Sudah banyak ornamen yang terlihat tidak otentik.
Pintunya menggunakan kayu jati dan desainnya lebih modern. Jika dibandingkan dengan pintu Mangkunegaran rasanya jauh sekali.
Aku mencoba mendekati bangunan masjid itu. Di sisi luar diberi pagar besi. Beberapa literatur mengatakan bahwa gaya arsitektur dari masjid Ampel ini akulturasi budaya antara pengaruh Hindu-Budha dan Jawa.
Bangunan masjid ini memiliki 16 tiang penyangga dengan tinggi sekitar 17 meter sebagai bentuk jumlah rakaat dalam shalat wajib dalam satu hari.
Menara kuno masjid Ampel berbentuk lingkaran di ujungnya terlihat dari jauh. Di menara juga ada jendela kecil.
Di dalam kawasan masjid ini memiliki 5 gapura yang dipadukan dengan pintu melengkung (lingkungan Persia/Arab).
![]() |
| Gapura Sunan Ampel yang menghubungkan Pasar Kampung Ampel (dok. Pribadi) |
Di sekitar masjid, sudah banyak pengunjung yang datang. Meski pada di mana harusnya segera sholat tapi mereka memimpin.
Di luar ada tempat wudhu pria berbentuk melingkar. Sedangkan tempat wudhu wanita berada di sisi yang lain. Ada yang ke kantin.
Sholat di Masjid Sunan Ampel
Sholat ashar di masjid Sunan Ampel saat akhir pekan sangat ramai sekali. Aku kira banyak didatangi orang kampung Ampel tapi aku jarang melihat wajah arab di sana. Rata-rata jamaah yang sholat adalah peziarah dari luar kota.
![]() |
| Sempat bingung tempat sholat akhwat. Para peziarah di barisan belakang. Jamaah sholat ashar di depan (dok. Pribadi) |
Di bagian akhwat, banyak kelompok jamaah berbaju putih yang sedang berkumpul. Aku ngga tau sedang apa mereka. Seperti sedang berdoa padahal di depan imam dan makmum sedang sholat.
Aku sendiri bingung kalau sholat dengan kondisi ramai begitu. Pantesan aku jarang lihat orang Arab sholat di sini karena memang seramai itu dan kurang nyaman bagi selain peziarah.
Makam Sunan Ampel
Di kawasan Sunan Ampel ini ternyata banyak sekali makamnya dan terpisah-pisah. Tapi yang paling banyak yang berada di dekat Makam Sunan Ampel.
![]() |
| Petunjuk arah kawasan Masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi) |
Untuk menuju ke makam, pengunjung harus melewati bangunan sekolah bahasa Arab, kemudian memasuki gerbang.
Banyak orang berlalu lalang. Ketika aku coba memasuki makam Sunan Ampel, weh ternyata ramai juga. Banyak peziarah masuk dan duduk di dekat makam.
Sebenarnya aku agak merinding juga masuk ke sana apalagi bawa anak kecil. Mana mereka tahu itu makam. Bahkan pinggiran makam-makam tanpa pembatas, tanpa lantai dan tanpa atap itu banyak jadi tempat duduk pengunjung.
![]() |
| Para Peziarah Makam (dok. Pribadi) |
Sedangkan di bagian lain, makamnya memiliki atap dan berlantai keramik. Sedangkan makam Sunan Ampel terlihat beda sendiri tapi tidak ada atapnya. Beberapa orang terlihat duduk menghadap makam Sunan Ampel.
![]() |
| Melihat aktivitas para peziarah (dok. Pribadi) |
Hmm.. karena aku juga nggak ngapa-ngapain di sana jadi aku segera melipir dan ambil foto-foto seperlunya.
Penutup
Bagi kalian yang hanya ingin menumpang sholat, lebih baik mencari tempat sholat di masjid atau mushola lain saja. Karena suasananya ramai sekali dengan peziarah. Dan ini membuat kita kurang nyaman. Di bagian akhwat pun digunakan penziarah untuk berkumpul dan berdoa bersama. Ketika ada sholat ashar berjamaah mereka membaca doa di belakang.











0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.