Juli adalah mulanya bulan yang dikhawatirkan bagi sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di Sumatera dan Kalimantan.

Apa sebabnya?

Karena bulan Juli adalah permulaan musim kemarau. Di bulan Juli pula, titik api kebakaran hutan dan lahan banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kemudian, asap kebakaran mengganggu aktivitas manusia termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ditambah, tahun 2020 ini, pandemi Covid-19 menambah parahnya dampak kesehatan penduduk.


Kebakaran Hutan (Antara)

Tak bisa dipungkiri, bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh 99 persen ulah manusia dan 1 persen alam. Demi mendapatkan uang, banyak pihak yang membuka lahan dengan membakar hutan untuk bercocok tanam bahkan banyak perusahaan terlibat. Apalagi jika pembukaan lahan dengan pembakaran itu dilakukan di lahan gambut dimana jenis lahan tersebut sulit untuk dipadamkan jika terjadi kebakaran.
Tahun 2019 yang lalu merupakan tahun terparah selama empat tahun terjadinya karhutla di Indonesia. Lonjakan hotspot-nya tidak tanggung-tanggung prosentasenya melebihi 86% atau sekitar 17.774 titik api. Trend pola waktu kejadiannya adalah bulan Juli yang menjadi awal mula lonjakan karhutla. Agustus -September merupakan puncak karhutla. Kemudian akan mengalami penurunan saat November. 


Titik Panas Api September 2019 (Sumber : Lapan)

Data KLHK mencatat luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 134.227 ha lahan terbakar, di Kalimanan Barat (Kalbar) lahan terbakar seluas 127.462 ha, dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 113.454 ha. Sisanya di Riau 75.871 ha lahan terbakar, di Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha dan Jambi 39.638 ha.



Total luasan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luasan karhutla dalam tiga tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu ha, sedangkan pada 2016 sebesar 438 ribu ha.
Faktanya, 80% lahan yang terbakar tersebut berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Kondisi yang ganjil ketika ditemukan di lapangan bahwa lahan yang terbakar tersebut adalah hutan, sedangkan perkebunan sawit tidak terbakar.


Provinsi rawan Karhutla?

Kalian yang tinggal di tujuh provinsi rawan karhutla harus waspada terhadap asap yang mungkin mulai memasuki kota. Ketujuh provinsi yang masuk kategori rawan kebakaran hutan yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Akibat Karhutla?

Rawan Terserang Penyakit 

Penduduk rawan terkena penyakit ISPA, asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Di tahun 2019, penderita ISPA di Indonesia sebesar 919.554 jiwa tersebar di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng dan Kalsel. 

8


Rentan Terpapar Covid-19

Belum lagi, di masa pandemi Covid-19 ini, para penduduk yang terkena ISPA harus waspada terhadap virus tersebut. Kondisi paru-paru yang tidak sehat penduduk yang rentan terpapar Covid-19. 


Menurut Dokter Penyakit Paru, Feni Fitriani, kepada jurnalis KBR, Fitri Anggraini, Karhutla itu memberi beban ganda bagi masyarakat di daerah di masa pandemi Covid-19 ini. Kelompok usia anak-anak, orang yang berpenyakit ISPA, paru kronik, karena asap kebakaran adalah kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Penduduk yang berstatus PDP dan ODP pun juga memiliki kesehatan yang rentan jika terkena asap kebakaran.

Masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan karhutla diharapkan mengenal tanda-tanda jika terdapat asap kebakaran hutan dan lahan. Nah, agar masyarakat mengetahui kualitas udara yang memburuk dengan melihat tanda-tanda seperti:


-  Gedung yang biasanya terlihat dari jauh tiba-tiba tidak terlihat atau kabur, apalagi di bulan-bulan Juli-Oktober. Masyarakat diharapkan peka terhadap kondisi tersebut.


- Unduh aplikasi Air Quality Index atau cek di website. Dengan mengunduh aplikasi kualitas udara maka masyarakat tahu bahwa saat itu udara sedang buruk atau tidak.


Jika terdapat tanda-tanda itu dan indeks kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan tidak boleh keluar rumah. Kalaupun keluar rumah HANYA untuk URUSAN URGENT. Jika bisa dilakukan di rumah maka lakukan di rumah, tidak perlu keluar rumah. 


Jika keluar rumah maka pakailah MASKER! Karena partikel yang akan masuk melalui rongga hidung itu sangat kecil sekali. Bila perlu, maskernya dibasahi bagi yang memiliki lubang lebih besar.


Pertumbuhan ekonomi menurun

Aktivitas ekonomi menurun dan membuat pendapatan masyarakat menurun. Beberapa kegiatan penerbangan menjadi berhenti beroperasi. Kegiatan transportasi menjadi terhambat. Begitu juga kegiatan pendidikan di sekolah diliburkan. Kerugian Indonesia tahun 2019 mencapai Rp. 72,95 triliun (Indonesia Economic Quarterly Reports dari World Bank). Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 adalah 0,09%. Kerugian tersebut dihitung pada delapan provinsi prioritas yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Timur dan Papua.

Kerusakan Ekologis

Selain itu, kebakaran hutan memberi dampak negatif yang cukup besar bagi kerusakan ekologis dan menurunnya keanekaragaman hayati. Pemulihan hutan yang telah terbakar tersebut tidaklah mudah karena struktur tanahnya telah rusak. Tumbuhan tidak dapat lagi menampung air hujan dalam jumlah besar sehingga mudah terjadi erosi. Bencana banjir, longsor dan kekeringan pun akhirnya melanda di beberapa wilayah.
Apalagi hutan hujan tropis Indonesia yang terbakar merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia. Kekayaan hayati di hutan hujan tropis begitu penting karena 50% jenis keanekaragaman hayati dunia ada di jenis hutan tersebut. Kelangsungan hidup flora dan fauna di hutan tersebut terancam punah. 

Kualitas Udara Buruk

Kualitas udara menjadi jelek karena asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Indeks kualitas udara di Palangkaraya pada September 2019 mencapai 480; Riau mencapai 415; Pekanbaru mencapai 489. Indeks tersebut menunjukkan bahwa polusi udara berbahaya karena jauh dari batas aman 100. Dampak dari kualitas udara tersebut adalah banyak penduduk yang mengalami penyakit ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan lainnya. 

Ternyata tingkat polusi udara di Palangkaraya tahun 2019 itu sama dengan menghirup asap rokok sebanyak 43 batang. Wow! Mengerikan ya!



Kebakaran hutan menyebabkan emisi karbon meningkat hampir 20% karena kandungan gasnya yang memperburuk atmosfer. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), sulfur dioksida (SO2) dan lainnya ke udara. Gas CO2 itu tidak dapat diikat oleh tumbuhan karena hutan yang hilang. Hasilnya, gas karbon dioksida bebas berada di atmosfer dan menimbulkan efek rumah kaca. Bumi pun semakin panas. Implikasinya, pemanasan global semakin meningkat.

Perubahan Iklim

Berbicara tentang perubahan iklim ini memiliki hubungan sebab akibat yang sangat kompleks. Namun, jika dirunut secara terstruktur, pemanasan global ini lebih diakibatkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia sendiri sangat banyak seperti deforestasi, penggunaan kendaraan bermotor, aktivitas industri, penumpukan sampah, dan lain-lain.


Deforestasi atau kehilangan tutupan lahan akan dengan membakar lahan menyebabkan polusi udara dimana CO2 dan gas lainnya terlepas ke udara. Polusi udara ini menyebabkan penduduk mengalami penyakit ISPA, asma dan paru kronik. Gas-gas tersebut juga menyebabkan efek rumah kaca dan perubahan iklim. Jika sudah terjadi perubahan iklim, maka kondisi buruk dapat dirasakan oleh manusia sendiri, seperti gunung es mencair, air laut naik, cuaca yang tak menentu/ cuaca ekstrim, kekeringan, dan angin kencang. 

Cuaca ekstrim ini bisa dibagi menjadi dua kondisi dimana suatu daerah akan mengalami hujan terus menerus atau kekeringan yang berkepanjangan. Hujan yang terus-menerus ini yang akan menyebabkan banjir. Deforestasi ini juga bisa menyebabkan bencana lain seperti banjir, longsor, dan erosi. Kekeringan ini menyebabkan gagal panen. 


Sementara perubahan iklim yang menyebabkan angin kencang, kekeringan dan cuaca panas ini menjadi faktor alam terjadinya kebakaran di hutan. Jika diperhatikan, semuanya seperti lingkaran setan yang tak ada habisnya.










Iklim Malang yang "Aneh"

Aku pun merasakan bagaimana perubahan iklim itu terjadi di kota tempat tinggalku. Cuaca yang aneh sudah terjadi sejak saya tiba di kota Malang tahun 2006. Bahkan sampai saat ini. 


Hal yang paling aku ingat dari perkataan Masku ketika menjemput dari terminal adalah Kota Malang itu memiliki iklim yang "aneh". Di Malang, saat musim kemarau malah sering terjadi hujan.

Awalnya aku tidak percaya, namun ketika menjalani empat tahun di Malang, perkataan Masku itu benar. Aku juga tidak paham kenapa seperti itu.

Ternyata, setelah aku cari informasi di google, banyak daerah saat ini yang mengalami hal serupa. Hujan saat musim kemarau.

Cerita lain lagi ketika aku berkata pada kakak kos setelah selesai mandi.

“Duh, airnya sudah dingin ditambah lagi udaranya yang dingin. Sepertinya bulan kemarin nggak seperti ini.”
Dia berkata, “Soalnya menyambut Maba (Mahasiswa Baru).”
Awalnya aku tidak paham maksud perkataan kakak kosku. Apa hubungannya udara dingin dengan menyambut Maba?
Ternyata, setiap bulan Juli dan Agustus dimana bulan-bulan penerimaan mahasiswa baru, termasuk ospek, suhu di Malang menjadi rendah sekali.
“Masak, sih?” Aku tidak percaya.
“Lohhh… Ya sudah,” ucap kakak kos sambil senyum-senyum saja.

Fakta baru itu selalu kuingat-ingat sampai akhirnya di tahun-tahun selanjutnya aku merasakan suhu kota Malang setiap bulan Juli-Agustus itu begitu dingin. Padahal pada bulan-bulan itu Kota Malang harusnya mengalami musim kemarau dengan suhu yang panas menyengat.

Empat tahun tinggal di Kota Malang membuat tubuhku segera beradaptasi dengan suhunya yang dingin. Setelah itu, aku melanjutkan kuliah di kota Semarang yang panas sama seperti di Samarinda. Setelah tiga tahun tidak tinggal di Malang, akhirnya aku kembali ke Malang karena menikah dengan orang Malang. Saat itulah, aku mulai merasakan perbedaannya jika dibandingkan ketika aku tiba di kota tersebut.
Kota Malang mengalami perkembangan pembangunan yang cukup cepat selama tiga tahun. Gedung-gedung baru terlihat di beberapa bagian kota berdampak pada kurangnya resapan air. Lahan sawah dan kebun di pinggir kota telah bertransformasi menjadi bangunan perumahan membuat air tidak langsung masuk ke dalam tanah. Ditambah lagi, pembangunan jalan tol yang mengambil lahan hijau seperti hutan, sawah dan kebun, menambah cepatnya aliran air dari hulu ke hilir sementara daerah hilir belum siap menampung limpasan air hujan yang begitu tinggi. Maka, banjir di Kota Malang tak bisa dihindari lagi.

Tak cuma di Malang saja, ketika aku pulang kampung di kota kelahiran Samarinda tahun 2010, aku juga merasakan perbedaan. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda, yang dulunya semak belukar, hutan, dan kebun sudah dialihfungsikan menjadi jalan dan bangunan. Belum lagi, ketika tiba di Samarinda, aku melihat ada bukit yang dulu hijau menjadi gundul. Tak heran jika Samarinda saat ini juga sering mengalami banjir.


Apa yang dilakukan pemerintah?

Hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di masa pandemi Covid-19 ini adalah :

1. Pengeboman air dengan menggunakan helikopter mencapai 392 juta liter. 
2. Melakukan operasi udara berupa teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPPT dan TNI.
3. Pemeriksaan kondisi sumur bor dan sekat kanal agar dapat berfungsi dengan baik saat akan digunakan.


4. Meskipun masa pandemi Covid-19 ini terdapat refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap melakukan target-target terkait Karhutla dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti saat melakukan patroli terpadu, patroli mandiri, kampanye, sosialisasi dan pemadaman.

5. Penyemperotan desinfektan, pemberian hand sanitizer, dan masker yang dilakukan oleh Manggala Agni (Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan)



Solusi Praktis



Banyak hal yang bisa kita lakukan dari rumah sebagai solusi praktis dalam mengatasi perubahan iklim di masa pandemi Covid-19:



1. Menghemat penggunaan listrik


Energi listrik di Indonesia sebagian besar masih berasal dari sumber alam seperti batubara dan air. Makanya dengan penghematan penggunaan listrik maka kita akan menghemat sumber alam yang terbatas tersebut. 



2. Menghemat penggunaan air


Hampir setiap tahun Indonesia selalu mengalami kekeringan. Beberapa wilayah sulit mengjangkau air bersih. Hal tersebut karena cadangan air tanah yang semakin sedikit. So, dengan menghemat penggunaan air maka kita sudah membantu menyimpan cadangan air tanah.



3. Pemilahan sampah. 


Di lingkungan rumahku memang sudah menerapkan pemilahan sampah. Pembagian sampah dibagi menjadi sampah basah, residu (sampah tidak bisa dijual seperti popok), sampah plastik dan sampah kering (yang masih bisa dijual). Seorang warga yang menjadi pengurus RW terlibat dalam pengumpulan sampah dari para warga. Beliau mengumpulkan sampah kering saja kemudian hasil penjualannya untuk tabungan warga yang bisa diambil jika sudah terkumpul banyak. Pengurangan sampah dengan pemilahan sampah ini berkontribusi dalam pengurangan gas methan yang muncul saat penumpukan sampah di TPA. Gas methan ini juga menjadi penyumbang gas rumah kaca dan pemanasan global.



4. Minimalisir penggunaan plastik


Jika aku tidak meminimalisir penggunaan plastik, dalam seminggu aku sudah menumpuk sampah plastik sampai satu kresek besar. Kemudian plastik itu akan diangkut oleh tukang sampah sementara pengolahan sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama. So, saat belanja ke pasar biasanya aku bawa tas sendiri atau saat aku tidak membawa tas dan penjual memberikan kresek aku menolaknya lantaran aku bisa membawanya tanpa harus pakai kresek. 



5. Minimalisir penggunaan kertas


Semua tahu bahwa paperless sekarang sudah mulai berkembang baik untuk menulis atau pun berkirim karya. Syukurnya, karena aku ibu rumah tangga jadi penggunaan kertas tidak terlalu banyak. Hanya saja aku punya dua buku catatan untuk mencatat materi kepenulisan dan saat mengikuti kajian. Dan satu buku itu aku jatah untuk satu tahun bahkan bisa lebih.



6. Minimalisir penggunaan kendaraan bermotor


Akibat pandemi Covid-19 ini, aku lebih sering berada di rumah. Otomatis, penggunaan kendaraan bermotor berkurang. Namun, aku juga masih perlu ke pasar atau ke swalayan untuk berbelanja. Dan aku memilih menggunakan sepeda pancal jika aku tidak membawa barang banyak dan jaraknya tidak jauh. Alasannya selain hemat bahan bakar minyak agar sumber daya alam tidak cepat habis, aku jadi bisa berolahraga. Ya, kan.



7. Minimalisir penggunaan pendingin ruangan

Ah, untungnya, di rumahku tidak memasang AC tapi memasang kipas angin. Karena rumahku berdempetan dan agaknya sulit menggunakan cahaya alami sebagai penerangan di siang hari, maka aku tetap menyalakan lampu, seperti di kamar mandi. Meskipun begitu, aku berusaha untuk mematikan lampu di siang hari saat tidak digunakan.



8. Penggunaan masker kain


Penggunaan masker kain yang washable juga menjadi salah satu solusi praktis untuk mengurangi sampah yang menjadi kontribusi dalam pemanasan global.


Begitulah pengalamanku soal perubahan iklim. Satu langkah kecil dari satu orang terlihat tak berarti namun ketika satu langkah kecil dari seribu orang pasti akan berpengaruh. Sehingga kekhawatiran bulan Juli terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan serta cuaca esktrim di bulan selanjutnya dapat diminialisir.
Solusi praktis kalian bagaimana untuk meminimalisir dampak pemanasan global di tengah pandemi Covid-19 ini?






Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.



REFERENSI
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/19/juli-oktober-paling-rawan-terjadi-kebakaran-hutan-dan-lahan
https://nationalgeographic.grid.id/read/131864595/jumlah-penderita-ispa-akibat-karhutla-capai-919516-orang-di-bulan-september
https://nasional.tempo.co/read/1251408/bnpb-korban-ispa-akibat-karhutla-mencapai-900-ribu-jiwa/full?view=ok
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20190717190919-199-413054/lapan-tujuh-provinsi-rawan-kebakaran-hutan
https://www.mongabay.co.id/2019/10/22/kebakaran-hutan-dan-lahan-sampai-september-2019-hampir-900-ribu-hektar/
Rasyid, Fachmi. 2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara, Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2014, p.47-59. KLHK: Tangerang Selatan.


Read More

Membahas minat baca anak, saya selalu teringat dialog-dialog yang terjadi antara saya dan anak saya tentang buku.

Dialog 1.
Saya siap tertidur malam dan sangat mengantuk. Tiba-tiba anak saya membawa beberapa buku.
"Ibu, tolong bacain," pintanya sambil menatap saya.
Dengan menahan kantuk, saya membacakan cerita. 
Beberapa menit kemudian.
"Aahh! Ibu! Ibu! Bacaaiinn!" Ternyata saya ketiduran. Haha. Saya tertawa sendiri. Dan itu terjadi tidak hanya saat ingin tidur malam tapi juga saat siang hari. Biasanya, akan terjadi tiga kondisi. Pertama, saya tidak mengantuk, namun saat membacakan cerita saya mengantuk dan tertidur. Kedua, saya tidak mengantuk, dan ketika saya membacakan cerita, anak saya yang tertidur. Ketiga, saya mengantuk, namun saya tetap membacakan cerita karena permintaannya, akhirnya saya yang tertidur.

Dialog 2.
Di toko buku.
Anak saya memilih-milih buku di lemari. 
"Bu, ini," katanya sambil menunjuk buku.
Terus dia melihat buku yang lain. 
"Bu, yang ini aja ya boleh?"
Saya mengangguk dan menukar buku yang diinginkan.
"Eh. Ini aja Bu." Dia mulai bimbang sendiri. Pada akhirnya, dia memutuskan yang mana yang mau dibawa pulang.

Dialog 3.
Ini terjadi malam ini, ketika suami membawakan kertas bekas yang banyak gambar dari internet. Anak saya sangat senang sekali. Mereka pun mulai melukis dengan cat air. 
Setelah selesai melukis, dia meminta pada saya, "Bu, ini yang sudah aku lukis, dikasih tulisan ya. Nanti bacain ya."
Sret... srett...
Dia memberi saya lembaran kertas yang sudah dia beri kotak di bagian atas untuk judul dan bawah untuk ceritanya. Masyallah. Saya pun menulis cerita asal saja di setiap kotak yang sudah dia gambar. Setelah selesai dengan segala upaya, dia meminta lagi, "Bu, ini di isolasi."
"Untuk apa?"
"Biar jadi buku."
"Lah. Ngapain?"
"Iya. Ibu sih nggak belikan aku buku," kata anak saya. Saya tertawa.
"Kan udah di belikan waktu di Malang."
"Kan di sini (Sidoarjo) belum."
Akhirnya saya menuruti permintaannya untuk menjadikan lembaran-lembaran itu menjadi buku. 




Saya punya kekhawatiran jika anak saya tidak suka membaca buku karena katanya di usia delapan sampai sembilan tahun minat baca anak bisa menurun, seperti yang dijelaskan pada Bu Sofie dalam website Litara.or.id:

Survei menyimpulkan bahwa minat membaca untuk kesenangan menurun ketika anak berusia delapan hingga sembilan tahun. Menariknya, penurunan minat ini tak ditemukan pada sedikit anak yang memang telah memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini. Ini menjelaskan mengapa banyak penelitian menganjurkan beragam kegiatan membaca yang menarik minat pembaca berusia dini.


Namun, dari dialog-dialog tersebut, saya cukup senang jika anak saya yang masih usia dini memiliki ketertarikan terhadap buku. Saya harap hal tersebut tidak akan menurun seiring bertambahnya usia. Karena menurut saya, minat baca anak saya itu adalah salah satu modal untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam membaca buku.

Suatu ketika, seseorang bertanya kepada saya tentang bagaimana agar anak mau membaca buku?

Saya berusaha menjawab dengan pengetahuan minim yang saya miliki bahwa semua tergantung jenis buku yang dibaca untuk menarik anak untuk membaca. Jika anak masih usia dini, maka buku bergambar (picture book) mungkin lebih tepat diberikan karena tulisannya tidak banyak dan menyenangkan.

Inilah cerita saya tentang cara saya menumbuhkan minat baca anak saya....




Ketika anak saya berusia enam bulan, saya mulai berpikir bagaimana anak saya ini bisa tertarik dengan buku?

Ketertarikan terhadap buku adalah hal yang harus saya capai terlebih dahulu. Sebenarnya, tidak perlu menunggu usia enam bulan untuk menarik minat baca anak. Dari hamil pun bisa dilakukan oleh ibu untuk membaca (termasuk Al-Quran).

Pada akhirnya saya membelikan buku bergambar yang memang sesuai usianya atau sesuai levelnya. Setiap buku bergambar biasanya sudah ada usia pembaca. Buku bergambar yang saya miliki pertama kali untuk anak saya adalah buku bergambar tentang hiu dan lumba-lumba. Rupanya anak saya sangat menyenangi itu karena gambarnya yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Membacakan buku pun tidak melulu sebelum tidur malam, tetapi bisa juga sebelum tidur siang, waktu makan ataupun setelah selesai bermain. Langkah awal saya untuk menarik minat baca anak adalah mengajaknya membaca.

Tak hanya jenis buku yang sesuai usia atau level dan juga bacaan yang menyenangkan, tetapi juga usaha dari orang tua untuk membacakan buku. Dukungan orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak tidak hanya pada saat membelikan buku saja, tetapi juga perlu usaha lain agar anak menjadi tertarik pada buku, seperti tak menolak saat anak meminta dibacakan buku meskipun orang tua merasa bosan dan capek.

Terus terang, saya pernah merasa lelah karena anak terus-terusan minta dibacakan buku padahal mulut saya sudah berbuih. Namun, waktu itu saya berpikir, bagaimana anak saya bisa suka dengan buku jika saya sendiri tidak membuatnya menyukainya hanya karena malas, lelah dan bosan membacakan buku untuknya? Setelah itu, saya selalu berusaha membacakan buku cerita untuknya.

Selain itu, anak-anak adalah peniru ulung. Mereka dengan mudahnya meniru kebiasaan orang yang ada di sekitarnya. Jika orang tuanya suka melakukan sesuatu, kemungkinan besar anak akan menirunya. Maka, ketika orang tua ingin menumbuhkan minat baca anak, maka orang tua itu juga harus membaca buku, setidaknya terlihat depan anak-anak.

Saya katakan pada seseorang yang bertanya pada saya bahwa orang tua juga harus menunjukkan minat baca terhadap buku sehingga anak akan percaya dan akan meniru orang tuanya untuk membaca.

Siapa pun tidak akan suka jika seseorang menyuruh melakukan sesuatu sementara dia sendiri tidak melakukannya. Orang tua tidak bisa memaksa anak untuk suka membaca buku sementara orang tuanya sendiri tidak suka membaca. Anak tidak akan mau menuruti permintaan orang tuanya yang hanya disuruh, "Coba kamu baca buku saja." Sementara orang tuanya tidak pernah memegang buku atau tidak menjadikan buku itu sesuatu yang menarik. Lingkungan yang literat akan memudahkan menumbuhkan minat baca anak.

Bersyukur, saya sendiri memang sudah menyukai membaca buku sejak kecil. Meski orang tua saya hanya membaca koran setiap hari dan tidak memaksa saya untuk menyukai buku, tapi saya memiliki kesempatan bisa mengakses buku cerita. Orang tua saya memfasilitasi dengan menyediakan buku-buki dirumah. Saudara saya yang suka sekali membaca majalah anak-anak bahkan sampai berlangganan.

Sampai saat ini, saya pun masih membaca buku dan menyelesaikannya. Selain memang untuk kebutuhan nutrisi gaya menulis, membaca buku, khususnya di depan anak-anak, adalah cara agar anak menjadi akrab dengan buku. Tak heran, di rumah saya, buku yang keluar dari lemari sudah berada dimana-mana, seperti tempat tidur, ruang tamu, dan tempat makan (kebetulan juga rumah saya tidak begitu besar).

Penempatan buku-buku di tempat yang terlihat juga cara menumbuhkan minat baca anak, misalnya di kamar, di dekat kotak mainan, di meja makan, di ruang tamu. Jika tidak ingin terlihat berceceran, maka letakkan rak buku di tempat yang sering dilalui anak-anak. Tidak hanya menjadi hiasan semata.  Sampai-sampai saya membeli meja makan yang ada rak bukunya. Alhasil, anak saya sering meminta dibacakan buku saat dia sedang makan.


Memilih Buku pun Bisa Menjadi Dilema bagi Anak Usia Dini (Dok. Pri)

Sesekali, saya juga mengajak anak saya pergi ke toko buku, bazar buku maupun ke perpustakaan kota. Di sana, saya mengajaknya melihat buku anak-anak bergambar (karena anak saya masih Balita) dan membawa pulang beberapa buku untuk mereka. Mereka begitu antusias.

Apakah saya hanya membacakan buku fisik yang saya beli dari toko atau bazar?

Tidak. Justru saya tidak menghalangi anak mengenal teknologi. Hanya saja saya perlu strategi tersendiri. Saya tidak mau anak saya dikendalikan oleh tayangan-tayangan adiktif pada kanal video melalui ponsel. Maka, saya mengunduh aplikasi membaca untuk anak yaitu aplikasi Let's Read yang bisa diunduh melalui playstore.


Bacaan di Let's Read ini sudah menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Adanya fitur level baca ini memudahkan pembaca memilih level membaca sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, ada juga terjemahan bahasa asing juga bahasa lokal. Selain itu, ceritanya pun unik, tidak biasa dan sangat menarik.



Karena cerita yang menyenangkan pada platform Let's Read itulah anak saya semakin betah dan senang dibacakan cerita pada platform itu. Bahkan dia selalu mencari cerita favorit yang dia minta bacakan berulang kali. Judulnya "Ira Tidak Takut Lagi". Karena dia minta baca cerita itu terus, saya mencarikan cerita lainnya. Awalnya dia tidak mau. Pokoknya cerita tentang Ira melulu. Sampai saya bujuk-bujuk untuk membaca cerita lain akhirnya dia mau meski baru berhasil sekitar sebulan ini.

Selain itu, mengajak anak saya membaca cerita melalui platform Let's Read secara perlahan mampu mengalihkan perhatian anak saya dari tontonan kanal video. Mindset nya berubah. Ia tidak lagi menganggap bahwa ponsel hanya untuk menonton tapi bisa untuk membaca.

Ketika dia mulai terlihat memegang ponsel, maka saya melarangnya untuk menonton, dia pun memilih untuk dibacakan cerita dari platform Let's Read. Jadi membaca media digital untuk kasus saya lebih membantu anak mengalihkan keinginannya dari tontonan video yang bisa dilakukan berjam-jam. Harapannya, pondasi minat baca anak sudah terbentuk sejak usia dini karena didukung oleh aplikasi Let's Read.

Mungkin Mom tertarik? Mom bisa unduh aplikasinya di Play Store ya atau unduh dari link nya di sini.

Belum ada kata terlambat untuk menanam pondasi minat baca anak. Banyak cara untuk melakukannya. Hal di atas adalah yang saya lakukan terhadap anak saya yang masih balita dan mungkin bisa diterapkan pada sebagian anak.

Selamat mencoba!


Read More

Follower