Kekhawatiran Bulan Juli : Dari Karhutla, Asap, Pandemi Covid-19, sampai Cuaca Dingin

No Comments
Juli adalah mulanya bulan yang dikhawatirkan bagi sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di Sumatera dan Kalimantan.

Apa sebabnya?

Karena bulan Juli adalah permulaan musim kemarau. Di bulan Juli pula, titik api kebakaran hutan dan lahan banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kemudian, asap kebakaran mengganggu aktivitas manusia termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ditambah, tahun 2020 ini, pandemi Covid-19 menambah parahnya dampak kesehatan penduduk.


Kebakaran Hutan (Antara)

Tak bisa dipungkiri, bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh 99 persen ulah manusia dan 1 persen alam. Demi mendapatkan uang, banyak pihak yang membuka lahan dengan membakar hutan untuk bercocok tanam bahkan banyak perusahaan terlibat. Apalagi jika pembukaan lahan dengan pembakaran itu dilakukan di lahan gambut dimana jenis lahan tersebut sulit untuk dipadamkan jika terjadi kebakaran.
Tahun 2019 yang lalu merupakan tahun terparah selama empat tahun terjadinya karhutla di Indonesia. Lonjakan hotspot-nya tidak tanggung-tanggung prosentasenya melebihi 86% atau sekitar 17.774 titik api. Trend pola waktu kejadiannya adalah bulan Juli yang menjadi awal mula lonjakan karhutla. Agustus -September merupakan puncak karhutla. Kemudian akan mengalami penurunan saat November. 


Titik Panas Api September 2019 (Sumber : Lapan)

Data KLHK mencatat luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 134.227 ha lahan terbakar, di Kalimanan Barat (Kalbar) lahan terbakar seluas 127.462 ha, dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 113.454 ha. Sisanya di Riau 75.871 ha lahan terbakar, di Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha dan Jambi 39.638 ha.



Total luasan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luasan karhutla dalam tiga tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu ha, sedangkan pada 2016 sebesar 438 ribu ha.
Faktanya, 80% lahan yang terbakar tersebut berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Kondisi yang ganjil ketika ditemukan di lapangan bahwa lahan yang terbakar tersebut adalah hutan, sedangkan perkebunan sawit tidak terbakar.


Provinsi rawan Karhutla?

Kalian yang tinggal di tujuh provinsi rawan karhutla harus waspada terhadap asap yang mungkin mulai memasuki kota. Ketujuh provinsi yang masuk kategori rawan kebakaran hutan yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Akibat Karhutla?

Rawan Terserang Penyakit 

Penduduk rawan terkena penyakit ISPA, asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Di tahun 2019, penderita ISPA di Indonesia sebesar 919.554 jiwa tersebar di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng dan Kalsel. 

8


Rentan Terpapar Covid-19

Belum lagi, di masa pandemi Covid-19 ini, para penduduk yang terkena ISPA harus waspada terhadap virus tersebut. Kondisi paru-paru yang tidak sehat penduduk yang rentan terpapar Covid-19. 


Menurut Dokter Penyakit Paru, Feni Fitriani, kepada jurnalis KBR, Fitri Anggraini, Karhutla itu memberi beban ganda bagi masyarakat di daerah di masa pandemi Covid-19 ini. Kelompok usia anak-anak, orang yang berpenyakit ISPA, paru kronik, karena asap kebakaran adalah kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Penduduk yang berstatus PDP dan ODP pun juga memiliki kesehatan yang rentan jika terkena asap kebakaran.

Masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan karhutla diharapkan mengenal tanda-tanda jika terdapat asap kebakaran hutan dan lahan. Nah, agar masyarakat mengetahui kualitas udara yang memburuk dengan melihat tanda-tanda seperti:


-  Gedung yang biasanya terlihat dari jauh tiba-tiba tidak terlihat atau kabur, apalagi di bulan-bulan Juli-Oktober. Masyarakat diharapkan peka terhadap kondisi tersebut.


- Unduh aplikasi Air Quality Index atau cek di website. Dengan mengunduh aplikasi kualitas udara maka masyarakat tahu bahwa saat itu udara sedang buruk atau tidak.


Jika terdapat tanda-tanda itu dan indeks kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan tidak boleh keluar rumah. Kalaupun keluar rumah HANYA untuk URUSAN URGENT. Jika bisa dilakukan di rumah maka lakukan di rumah, tidak perlu keluar rumah. 


Jika keluar rumah maka pakailah MASKER! Karena partikel yang akan masuk melalui rongga hidung itu sangat kecil sekali. Bila perlu, maskernya dibasahi bagi yang memiliki lubang lebih besar.


Pertumbuhan ekonomi menurun

Aktivitas ekonomi menurun dan membuat pendapatan masyarakat menurun. Beberapa kegiatan penerbangan menjadi berhenti beroperasi. Kegiatan transportasi menjadi terhambat. Begitu juga kegiatan pendidikan di sekolah diliburkan. Kerugian Indonesia tahun 2019 mencapai Rp. 72,95 triliun (Indonesia Economic Quarterly Reports dari World Bank). Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 adalah 0,09%. Kerugian tersebut dihitung pada delapan provinsi prioritas yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Timur dan Papua.

Kerusakan Ekologis

Selain itu, kebakaran hutan memberi dampak negatif yang cukup besar bagi kerusakan ekologis dan menurunnya keanekaragaman hayati. Pemulihan hutan yang telah terbakar tersebut tidaklah mudah karena struktur tanahnya telah rusak. Tumbuhan tidak dapat lagi menampung air hujan dalam jumlah besar sehingga mudah terjadi erosi. Bencana banjir, longsor dan kekeringan pun akhirnya melanda di beberapa wilayah.
Apalagi hutan hujan tropis Indonesia yang terbakar merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia. Kekayaan hayati di hutan hujan tropis begitu penting karena 50% jenis keanekaragaman hayati dunia ada di jenis hutan tersebut. Kelangsungan hidup flora dan fauna di hutan tersebut terancam punah. 

Kualitas Udara Buruk

Kualitas udara menjadi jelek karena asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Indeks kualitas udara di Palangkaraya pada September 2019 mencapai 480; Riau mencapai 415; Pekanbaru mencapai 489. Indeks tersebut menunjukkan bahwa polusi udara berbahaya karena jauh dari batas aman 100. Dampak dari kualitas udara tersebut adalah banyak penduduk yang mengalami penyakit ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan lainnya. 

Ternyata tingkat polusi udara di Palangkaraya tahun 2019 itu sama dengan menghirup asap rokok sebanyak 43 batang. Wow! Mengerikan ya!



Kebakaran hutan menyebabkan emisi karbon meningkat hampir 20% karena kandungan gasnya yang memperburuk atmosfer. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), sulfur dioksida (SO2) dan lainnya ke udara. Gas CO2 itu tidak dapat diikat oleh tumbuhan karena hutan yang hilang. Hasilnya, gas karbon dioksida bebas berada di atmosfer dan menimbulkan efek rumah kaca. Bumi pun semakin panas. Implikasinya, pemanasan global semakin meningkat.

Perubahan Iklim

Berbicara tentang perubahan iklim ini memiliki hubungan sebab akibat yang sangat kompleks. Namun, jika dirunut secara terstruktur, pemanasan global ini lebih diakibatkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia sendiri sangat banyak seperti deforestasi, penggunaan kendaraan bermotor, aktivitas industri, penumpukan sampah, dan lain-lain.


Deforestasi atau kehilangan tutupan lahan akan dengan membakar lahan menyebabkan polusi udara dimana CO2 dan gas lainnya terlepas ke udara. Polusi udara ini menyebabkan penduduk mengalami penyakit ISPA, asma dan paru kronik. Gas-gas tersebut juga menyebabkan efek rumah kaca dan perubahan iklim. Jika sudah terjadi perubahan iklim, maka kondisi buruk dapat dirasakan oleh manusia sendiri, seperti gunung es mencair, air laut naik, cuaca yang tak menentu/ cuaca ekstrim, kekeringan, dan angin kencang. 

Cuaca ekstrim ini bisa dibagi menjadi dua kondisi dimana suatu daerah akan mengalami hujan terus menerus atau kekeringan yang berkepanjangan. Hujan yang terus-menerus ini yang akan menyebabkan banjir. Deforestasi ini juga bisa menyebabkan bencana lain seperti banjir, longsor, dan erosi. Kekeringan ini menyebabkan gagal panen. 


Sementara perubahan iklim yang menyebabkan angin kencang, kekeringan dan cuaca panas ini menjadi faktor alam terjadinya kebakaran di hutan. Jika diperhatikan, semuanya seperti lingkaran setan yang tak ada habisnya.










Iklim Malang yang "Aneh"

Aku pun merasakan bagaimana perubahan iklim itu terjadi di kota tempat tinggalku. Cuaca yang aneh sudah terjadi sejak saya tiba di kota Malang tahun 2006. Bahkan sampai saat ini. 


Hal yang paling aku ingat dari perkataan Masku ketika menjemput dari terminal adalah Kota Malang itu memiliki iklim yang "aneh". Di Malang, saat musim kemarau malah sering terjadi hujan.

Awalnya aku tidak percaya, namun ketika menjalani empat tahun di Malang, perkataan Masku itu benar. Aku juga tidak paham kenapa seperti itu.

Ternyata, setelah aku cari informasi di google, banyak daerah saat ini yang mengalami hal serupa. Hujan saat musim kemarau.

Cerita lain lagi ketika aku berkata pada kakak kos setelah selesai mandi.

“Duh, airnya sudah dingin ditambah lagi udaranya yang dingin. Sepertinya bulan kemarin nggak seperti ini.”
Dia berkata, “Soalnya menyambut Maba (Mahasiswa Baru).”
Awalnya aku tidak paham maksud perkataan kakak kosku. Apa hubungannya udara dingin dengan menyambut Maba?
Ternyata, setiap bulan Juli dan Agustus dimana bulan-bulan penerimaan mahasiswa baru, termasuk ospek, suhu di Malang menjadi rendah sekali.
“Masak, sih?” Aku tidak percaya.
“Lohhh… Ya sudah,” ucap kakak kos sambil senyum-senyum saja.

Fakta baru itu selalu kuingat-ingat sampai akhirnya di tahun-tahun selanjutnya aku merasakan suhu kota Malang setiap bulan Juli-Agustus itu begitu dingin. Padahal pada bulan-bulan itu Kota Malang harusnya mengalami musim kemarau dengan suhu yang panas menyengat.

Empat tahun tinggal di Kota Malang membuat tubuhku segera beradaptasi dengan suhunya yang dingin. Setelah itu, aku melanjutkan kuliah di kota Semarang yang panas sama seperti di Samarinda. Setelah tiga tahun tidak tinggal di Malang, akhirnya aku kembali ke Malang karena menikah dengan orang Malang. Saat itulah, aku mulai merasakan perbedaannya jika dibandingkan ketika aku tiba di kota tersebut.
Kota Malang mengalami perkembangan pembangunan yang cukup cepat selama tiga tahun. Gedung-gedung baru terlihat di beberapa bagian kota berdampak pada kurangnya resapan air. Lahan sawah dan kebun di pinggir kota telah bertransformasi menjadi bangunan perumahan membuat air tidak langsung masuk ke dalam tanah. Ditambah lagi, pembangunan jalan tol yang mengambil lahan hijau seperti hutan, sawah dan kebun, menambah cepatnya aliran air dari hulu ke hilir sementara daerah hilir belum siap menampung limpasan air hujan yang begitu tinggi. Maka, banjir di Kota Malang tak bisa dihindari lagi.

Tak cuma di Malang saja, ketika aku pulang kampung di kota kelahiran Samarinda tahun 2010, aku juga merasakan perbedaan. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda, yang dulunya semak belukar, hutan, dan kebun sudah dialihfungsikan menjadi jalan dan bangunan. Belum lagi, ketika tiba di Samarinda, aku melihat ada bukit yang dulu hijau menjadi gundul. Tak heran jika Samarinda saat ini juga sering mengalami banjir.


Apa yang dilakukan pemerintah?

Hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di masa pandemi Covid-19 ini adalah :

1. Pengeboman air dengan menggunakan helikopter mencapai 392 juta liter. 
2. Melakukan operasi udara berupa teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPPT dan TNI.
3. Pemeriksaan kondisi sumur bor dan sekat kanal agar dapat berfungsi dengan baik saat akan digunakan.


4. Meskipun masa pandemi Covid-19 ini terdapat refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap melakukan target-target terkait Karhutla dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti saat melakukan patroli terpadu, patroli mandiri, kampanye, sosialisasi dan pemadaman.

5. Penyemperotan desinfektan, pemberian hand sanitizer, dan masker yang dilakukan oleh Manggala Agni (Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan)



Solusi Praktis



Banyak hal yang bisa kita lakukan dari rumah sebagai solusi praktis dalam mengatasi perubahan iklim di masa pandemi Covid-19:



1. Menghemat penggunaan listrik


Energi listrik di Indonesia sebagian besar masih berasal dari sumber alam seperti batubara dan air. Makanya dengan penghematan penggunaan listrik maka kita akan menghemat sumber alam yang terbatas tersebut. 



2. Menghemat penggunaan air


Hampir setiap tahun Indonesia selalu mengalami kekeringan. Beberapa wilayah sulit mengjangkau air bersih. Hal tersebut karena cadangan air tanah yang semakin sedikit. So, dengan menghemat penggunaan air maka kita sudah membantu menyimpan cadangan air tanah.



3. Pemilahan sampah. 


Di lingkungan rumahku memang sudah menerapkan pemilahan sampah. Pembagian sampah dibagi menjadi sampah basah, residu (sampah tidak bisa dijual seperti popok), sampah plastik dan sampah kering (yang masih bisa dijual). Seorang warga yang menjadi pengurus RW terlibat dalam pengumpulan sampah dari para warga. Beliau mengumpulkan sampah kering saja kemudian hasil penjualannya untuk tabungan warga yang bisa diambil jika sudah terkumpul banyak. Pengurangan sampah dengan pemilahan sampah ini berkontribusi dalam pengurangan gas methan yang muncul saat penumpukan sampah di TPA. Gas methan ini juga menjadi penyumbang gas rumah kaca dan pemanasan global.



4. Minimalisir penggunaan plastik


Jika aku tidak meminimalisir penggunaan plastik, dalam seminggu aku sudah menumpuk sampah plastik sampai satu kresek besar. Kemudian plastik itu akan diangkut oleh tukang sampah sementara pengolahan sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama. So, saat belanja ke pasar biasanya aku bawa tas sendiri atau saat aku tidak membawa tas dan penjual memberikan kresek aku menolaknya lantaran aku bisa membawanya tanpa harus pakai kresek. 



5. Minimalisir penggunaan kertas


Semua tahu bahwa paperless sekarang sudah mulai berkembang baik untuk menulis atau pun berkirim karya. Syukurnya, karena aku ibu rumah tangga jadi penggunaan kertas tidak terlalu banyak. Hanya saja aku punya dua buku catatan untuk mencatat materi kepenulisan dan saat mengikuti kajian. Dan satu buku itu aku jatah untuk satu tahun bahkan bisa lebih.



6. Minimalisir penggunaan kendaraan bermotor


Akibat pandemi Covid-19 ini, aku lebih sering berada di rumah. Otomatis, penggunaan kendaraan bermotor berkurang. Namun, aku juga masih perlu ke pasar atau ke swalayan untuk berbelanja. Dan aku memilih menggunakan sepeda pancal jika aku tidak membawa barang banyak dan jaraknya tidak jauh. Alasannya selain hemat bahan bakar minyak agar sumber daya alam tidak cepat habis, aku jadi bisa berolahraga. Ya, kan.



7. Minimalisir penggunaan pendingin ruangan

Ah, untungnya, di rumahku tidak memasang AC tapi memasang kipas angin. Karena rumahku berdempetan dan agaknya sulit menggunakan cahaya alami sebagai penerangan di siang hari, maka aku tetap menyalakan lampu, seperti di kamar mandi. Meskipun begitu, aku berusaha untuk mematikan lampu di siang hari saat tidak digunakan.



8. Penggunaan masker kain


Penggunaan masker kain yang washable juga menjadi salah satu solusi praktis untuk mengurangi sampah yang menjadi kontribusi dalam pemanasan global.


Begitulah pengalamanku soal perubahan iklim. Satu langkah kecil dari satu orang terlihat tak berarti namun ketika satu langkah kecil dari seribu orang pasti akan berpengaruh. Sehingga kekhawatiran bulan Juli terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan serta cuaca esktrim di bulan selanjutnya dapat diminialisir.
Solusi praktis kalian bagaimana untuk meminimalisir dampak pemanasan global di tengah pandemi Covid-19 ini?






Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.



REFERENSI
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/19/juli-oktober-paling-rawan-terjadi-kebakaran-hutan-dan-lahan
https://nationalgeographic.grid.id/read/131864595/jumlah-penderita-ispa-akibat-karhutla-capai-919516-orang-di-bulan-september
https://nasional.tempo.co/read/1251408/bnpb-korban-ispa-akibat-karhutla-mencapai-900-ribu-jiwa/full?view=ok
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20190717190919-199-413054/lapan-tujuh-provinsi-rawan-kebakaran-hutan
https://www.mongabay.co.id/2019/10/22/kebakaran-hutan-dan-lahan-sampai-september-2019-hampir-900-ribu-hektar/
Rasyid, Fachmi. 2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara, Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2014, p.47-59. KLHK: Tangerang Selatan.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower