Tampilkan postingan dengan label Wisata Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Museum. Tampilkan semua postingan
Setelah dari Museum Kota Bandung, esoknya saat acara terakhir sudah selesai, aku mengajak suami berjalan-jalan di Bandung dengan jalan kaki. Sekali lagi.... JALAN KAKI. Aku lagi pengen aja menikmati kota Bandung dengan jalan kaki dari Hotel Best Western ke Gedung Sate terus ke Museum Pos Indonesia. Kalau dilihat dari peta sebenarnya cuma 1.7 km sih tapi kenyataannya capek jugaaa. Apalagi bawa anak kecil yang maunya digendong mulu. Wkwkw. Pulangnya kita nggak mau nyari capek lagi. Cukuplah naik gocar aja. :D

Dengan perjuangan yang melelahkan, ya Allah yang kubayangkan saat itu, belum umroh ini ternyata 1.7 km itu bikin capek. Sempet underestimated bisa nggak saat umroh aku jalan kaki sejauh itu? Ah, mungkin karena belum terbiasa, batinku.

Kami pun tiba di depan Gedung Sate. Saat aku ingin berfoto-foto sejenak, tiba-tiba bus mini berhenti di depan kami menutupi pemandangan gedung sate uang unik. Seorang pemandu yang ada di dalam Bandung Tour on Bus menjelaskan tentang sejarah Gedung Sate. 

Tak lama, Bandros itu pun pergi. Aku pun mulai mengambil berfoto-foto di depan gedung sate. Setelah puas, kami berjalan mendekat ke arah  gedung sate. Kami pun berjalan lewat samping. Museum Pos Indonesia tidak jauh dari Gedung Sate..leganyaa...

Di depan Museum Pos Indonesia Bandung (Foto Pribadi)

Sejarah Museum Pos Indonesia

Kami sudah berada di Jalan Cilaki No. 73 Bandung di mana Museum Pos Indonesia berada. Kami memasuki gerbang museum. Mobil-mobil terparkir di halamannya yang luas. Sedangkan untuk museum berada di samping foto ini. Jadi kita jalan sedikit ke arah samping bangunan.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini keren banget. Sejarah Museum Pos Indonesia ini cukup panjang dan melewati banyak masa. Pendirian museum ini tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda. 

Tepatnya tahun 1920, Museum Pos Bandung ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda yaitu Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst untuk menyimpan barang-barang pos, seperti perangko, baju dinas petugas Pos, surat-surat emas, alat transportasi yang digunakan untuk mengirim surat, dan lain-lain.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini sangat khas. Setiap bagian jendela atau pintu berbentuk melengkung seperti masa Renaissance. Ada yang menyebut juga bangunan ini bergaya eklektik yang memadukan gaya Moor dan Oriental (Thailan dan Indonesia).

Museum Pos Indonesia menjadi salah satu museum tertua di Bandung karena di tahun 1932, museum ini dibuka dengan nama Museum Pos dan berganti Museum Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Sempat vakum setelah perang dunia kedua, Museum PTT berubah menjadi Museum Pos dan Giro ditahun 1983.  Di tahun 1995, museum tersebut berubah menjadi Museum Pos Indonesia.

Tiket dan Jam Buka Museum Pos Indonesia

Pintu masuk Museum Pos Indonesia (Dok. pribadi)

Saat kami bertanya berapa tiket masuk Museum Pos, ternyata tiket museum Pos keren ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami hanya perlu laporan saja.

Wah, ternyata emang banyak banget museum gratis di Bandung. Sebenarnya ini adalah cara biar banyak yang datang berkunjung ke Museum Pos Indonesia. 

Menurutku Museum Pos Bandung ini lebih ramai daripada Museum Kota Bandung. Mungkin yang dipamerkan di museum Pos ini lebih banyak dan tidak hanya poster-poster saja. Selain itu, memang museum ini bergabung dengan kantor pos pusat Bandung jadi banyak pegawai yang seliweran dekat pintu masuk.

Jam buka Museum Pos ini dari Senin sampai Jumat pukul 09.00 - 15.00 WIB, Sabtu pukul 09.00 - 13.00 WIB.

Kepala Kantor Pos Indonesia dari Masa ke Masa

Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung

Memasuki Museum Pos Indonesia bikin aku takjub karena aku jadi tahu banyak hal tentang psistem perposan Indonesia. Pertama, aku melihat Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung dari masa ke masa. Pada awalnya, Pos Indonesiai yang bernama Post Telegraf dan Telepon dipimpin oleh orang Belanda sejak tahun 1897 hingga tahun 1937. Selanjutnya kantor pos berganti nama dan berganti kepemimpinan yang dikepalai oleh orang Indonesia.

Pos Teriak

Di zaman dahulu ketika belum ada pengiriman surat atau barang melalui pos, sebelum orang zaman dulu menulis di batu, pelepah daun, dan lain sebagainya, penyampaian pesan jarak jauh dilakukan secara lisan dan visual. Yang lucu ternyata di zaman kerajaan, pengiriman pesan tulisan dilakukan dengan berteriak dari satu orang ke orang lain sehingga pesan bisa sampai kepada penerima.

Penyampaian berita zaman dulu dilakukan dengan memukul kentongan, genta, meniup sangkakala (duh kok kayak mau kiamat ya, hehe!), menyalakan api atau cahaya, 

Pengiriman Pesan pada Zaman Kerajaan

Di zaman ini, pengiriman pos dilakukan dengan menuliskan pesan di atas batu, kayu, kertas, kulit kayu bambu. Tapi yang lumrah ditulis di atas daun lontar. Jenis tulisan yang ditulis adalah bahasa Sansekerta sehingga tidak semua orang bisa melakukan surat menyurat tertulis ini. Semenjak itu, muncullah profesi pengantar surat bernama pesuratan, pelayangan gadek, dan caraka.

Lucunya, dalam surat-surat pada masa kerajaan itu, bahasa banyak digunakan oleh raja-raja di Indonesia saat korespondesi kepada raja di luar negeri (Inggris) adalah bahasa dan aksara arab. Tergantung raja mana sih. Kalau di Bali, berarti pakai bahasa dan aksara Bali. Kalau di Bugis, raja memakai bahasa dan aksara Bugis dengan cap dalam bahasa arab.

MaasyaAllah, ternyata di masa itu, korespondensi pun masih memakai bahasa dan aksara lokal. coba deh sekarang, pasti disuruh pakai bahasa Inggris. Itu tandanya, di masa itu, pengaruh raja-raja Indonesia begitu kuatnya sehingga raja-raja di luar negeri pun menerima surat dengan menggunakan bahasa lokal.

Namanya surat ini adalah surat emas, naskah Melayu bersungging yang paling indah. Di masa itu, korespondensi menggunakan bahasa yang indah. Struktur suratnya pun sangat rapi. Pembuka surat menggunakan puji-pujian, memiliki keindahan kaligrafi, dan kehalusan seni sungging. Tak hanya itu pemberian hadiah juga tergantung derajat sang pengirim dan penerima surat.

Mesin Pencetak Perangko

Di zaman itu, aku kurang paham mungkin setelah kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos sudah memiliki mesin cetak perangko dengan uang koin. 

Mesin Cetak Perangko (dok. pribadi)

Benda bersejarah museum pos ini menarik perhatianku karena dulu aku suka mengumpulkan perangko dari surat yang aku terima dari berbagai wilayah. Prangko-prangko di museum ini diletakkan pada lemari kayu besar. Ternyata dulu aku pernah menjadi filateli dan sekarang perangkonya sudah hilang seiring aku pindah-pindah kota.



Benda Pos Bersejarah

Tak cuma itu, aku juga melihat banyak peralatan pos yang digunakan untuk mengirimkan pos ke tempat tujuan, baju-baju dinas pegawai tukang pos sampai kendaraan sepeda pak tukang pos. 

Pakaian dinas Pegawai Pos (dok. pribadi)

Aku juga melihat kotak pos yang berbeda-beda, mulai dari berwarna abu-abu, oranye, merah sampai cokelat. Bentuknya pun bermacam-macam. 


Kotak pos Brievenbus

Kesimpulan

Cerita di Museum Pos Indonesia ini seru-seru sih sebenarnya. Banyak banget ide di kepala buat dijadikan cerpen tapi sampai sekarang pun belum kesampaian. Setelah mengunjungi Museum Pos Indonesia, aku jadi bisa membayangkan bagaimana raja-raja di zaman itu memiliki hubungan diplomatik yang kuat antara nusantara dengan raja-raja Inggris. Kekuatan raja-raja nusantara tak bisa diremehkan.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun segera bergegas keluar ruangan. Kami segera mencari musholla untuk menunggu sholat ashar. Setelah selesai sholat, sembari menunggu suami keluar dari musholla, aku melihat petugas sedang membersihkan dinding-dinding bangunan yang tinggi itu dengan kemoceng yang sudah dipasangkan kayu panjang. Padahal nggak kelihatan kotor loh. Hehe. 


Read More
Alhamdulillah Allah kasih kesempatan bisa mengunjungi kota Bandung. Terakhir, ketika aku kuliah antara tahun 2008-2009 untuk study tour. Sekarang, aku ngekor suamiku pas lagi ikut seminar. Karena acaranya sekitar 3 hari, aku bingung mau ke mana. Mau sendiri pergi pun aneh aja gitu bawa anak. Hehe. Akhirnya aku cari destinasi wisata Bandung yang dekat dengan hotel tempatku menginap, Best Western Bandung.

Di depan hotel sebenarnya ada Mall, tapi aku kurang berminat hehe. Saat mencari di Google Map, ternyata ada museum kota Bandung dekat hotel.

Yah, jalan sedikit lah. Cuma memang karena bawa anak kecil nih siap-siap aja si kecil minta gendong. Ya udahlah. Toh deket aja. Sebenarnya banyak banget pilihan wisata edukasi dan sejarah di Bandung, seperti museum-museum begitu. Jadi aku memilih museum yang kudu aku kunjungi. Salah satunya adalah museum Kota Bandung. Anak tata kota kudu banget sih datang ke museum ini buat belajar tentang sejarah kota Bandung.

Museum Kota Bandung

Aku meminta si kecil untuk mematikan televisi yang ia tonton. Aku pun mengajak si kecil pergi ke Museum Kota Bandung. Awalnya, dia mau jalan sendiri, tapi setelah 100 meter, dia minta gendong. Yaahh... cuaca Bandung menurutku tidak dingin dan tidak terlalu panas.

Museum Kota Bandung buka dari pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. Bayangkan saja berjalan ke museum jam 10 pagi itu matahari sudah mulai terika.

Berjalan ke Museum Kota Bandung sambil gendong si bayi pun cukup bikin keringatan. Kondisi trotoar yang kurang rata pun bikin usahaku makin maksimal. Kadang ngedumel juga, kapan sih punya trotoar bagus kayak di luar negeri. Di negara kita sih trotoar bagus Cuma di jalan utama. Sisanya? Sabar ajaaa...

Perjuangan belum selesai karena aku harus menunggu kendaraan itu berhenti saat lampu merah. Kukira jaraknya tidak akan membuatku lelah sebelum tiba, nyatanya...kok nggak nyampe-nyampe ya? Berjalan kaki di negeri ini emang se-effort itu apalagi gendong anak bayi. MaasyaAllah. Ternyata dekat di Google Map tidak dekat di kenyataan, apalagi bawa bayi. Hahaha.

Lokasi Museum Kota Bandung ini ada di Jalan Aceh No. 47, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.

Tak lama, kami pun tiba di Museum Kota Bandung. Dari luar sudah tampak bangunan ala zaman kolonial Belanda. Bangunan lawas yang tampat terawat itu membuat lelahku langsung menguap.

Ternyata dulunya Museum Kota Bandung ini adalah sekolah taman kanak-kanak Frobelschool yang didirikan tahun 1880. Kemudian di tahun 1950 berubah menjadi sekolah “Yahua” hingga rahun 1960, kepimilikan museum ini diambil oleh pemerintah.

Aku meminta si kecil turun dan berjalan. Ia langsung mengeksplor apa yang ada di dekatku.

Patung Dewi Sartika

Di dekat kami, ada patung dewi sartika yang hanya setengah badan, tanpa tangan. Di bagian bawah berupa batu dan papan informasi kecil yang menjelaskan tentang sejarah Dewi Sartika. Kalian sudah pada tahun kan siapa Dewi Sartika? Sampai patungnya diabadikan di Museum Kota Bandung.

Perjuangan Dewi Sartika ini berliku demi memajukan perempuan Sunda. Dewi Sartika membangun fasilitas pendidikan berupa sekolah khusus perempuan. Ia mendirikan Sakola Istri pada bulan Rabu di tahun 1904.

Aku sempat salah masuk karena tidak ada tanda pintu masuk. Lagian juga di museum itu sepi banget. Aku pun agak bingung, ini bener buka atau tidak? Pintu masuknya mana? Setelah celingak-celinguk, seorang petugas mendatangiku dan memberitahu pintu masuk. Aku pun mengajak anakku masuk. Sekolah itu pun semakin berkembang.

Sisi samping Museum Kota Bandung (Dok. Pri)

Tiket Gratis

Ketika memasuki gedung museum, aku langsung melihat ruang pameran besar. Tidak ada petugas yang berjaga ataupun yang menarik tiket. Biasanya kan museum ada tiketnya walau Cuma 5000. Ternyata semua pengunjung diperbolehkan masuk tanpa membayar tiket masuk alias GRATIS! Wah, keren banget sih. Karena biasanya museum kota itu ditarik uang meski Cuma lima ribu rupiah. MaasyaAllah berarti pemerintah kota Bandung keren banget. Biasanya nih ya... biasanya, museum gratis-an itu tidak terawat tapi saat aku memasukinya emang vibe-nya beda.

Ruang pameran

Di ruang pameran pertama ini cukup luas, di dinding-dindingnya terpajang foto para pahlawan. Bung Karno berorasi dengan semangat membara.

Dari dinding satu ke dinding lainnya memuat sejarah Kota Bandung. Aku tidak terlalu menikmati membaca setiap informasi karena anakku sudah berlarian ke sana kemari. Aku takut saja mengganggu pnu

Di ruang pameran selanjutnya menjelaskan tentang sejarah kota Bandung dari awal banget. Sejarah kota Bandung ini dijelaskan secara singkat dari tahun ke tahun.

Yang paling menarik adalah sejarah pengembangan kota Bandung. Aku jadi teringat ketika aku masih kuliah dan mempelajari sejarah Kota Bandung. Thomas Karsten sangat berjasa membangun kota-kota di Jawa di zaman kolonial.

Sejarah Rencana Pengembangan Kota (dok. pri)

Di museum ini juga dijelaskan tentang sejarah Kweekschool atau sekolah guru pertama di Karesidenan Priangan.

Selain pendidikan, pembangunan kota juga tidak melupakan pengembangan taman. Museum Kota Bandung juga menceritakan tentang pengembangan taman kota yang menjadi salah satu elemen penting. Di tahun 1885, taman tertua di Kota Bandung, Pieters Park, dibangun. Di tahun 1879, perkumpulan berbadan hukum untuk orang Eropa, Societit Concordia, dibangun.

Tak hanya pendidikan dan ruang terbuka hijau, pembangunan Kota Bandung juga terus berlanjut dengan membangun usaha penginapan. Di zaman itu, banyak perkebunan di sekitar kota Bandung. Pada akhir pekan, pengusaha perkebunan itu pergi ke Bandung dan menginap di sana. Maka dibangunlah usaha penginapan/ hotel.

Lokasi titik nol Bandung pun ada sejarahnya.

Sebenarnya banyak kalau mau diceritakan akan jadi banyak banget, tapi daripada aku spill mending datang langsung aja, hehe. Takutnya ni artikel nanti jadi artikel sejarah bukan travelling. MaasyaAllah. Ternyata mengunjungi Museum Kota Bandung menambah wawasanku tentang pembangunan kota. Tak hanya berkaitan dengan sejarah fasilitas pendidikan di Kota Bandung, tetapi juga fasilitas penginapan, sosial masyarakat, ruang terbuka hijau, permukiman, dan lain-lain.

Bedanya museum Kota Bandung dengan museum kota lainnya, adalah tidak ada artefak atau benda peninggalan seperti pada museum lain. Sayangnya karena bawa anak kecil jadi tidak bisa berlama-lama.

Kesimpulan

Aku pun segera keluar dari museum dan duduk sejenak di kursi besi. Di sebelah kanan aku, tampak tulisan dari Bung Karno mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Dan kedatanganku kali ini sebagai bukti bahwa sejarah tidak akan aku lupakan.



Menurutku Museum Kota Bandung ini sudah dibikin sekeren gini, ditambah lagi gratis. Harapannya kan pasti bisa menarik banyak pengunjung, khususnya anak muda. Sayang banget tapi ini masih sepi sih. Memang ada beberapa pengunjung tapi rasanya kok nggak serame Mall gitu. Hehe.
Read More
Setelah mengistirahatkan diri di villa Yogyakarta, kami mencari tempat wisata di Yogyakarta. Ada beberapa tempat yang menarik dikunjungi selain Malioboro. Aku juga penasaran dengan tempatnya. Salah satunya adalah Taman Sari Yogyakarta, yang sebenarnya kurang cocok buat anak-anak sih. Selain wisata budaya, aku mencari tempat wisata sejarah yang disukai anak-anak. Tiba-tiba aku teringat setiap ke Yogyakarta selalu melewati kompleks Angkatan Udara. Jangan-jangan ada museumnya? Setelah searching di Google, eh iya bener ada namanya Museum Dirgantara.

museum dirgantara yogyakarta
Museum Dirgantara Yogyakarta (dok. pribadi)

Oiya sebenarnya aku udah lama banget pergi ke sini, mungkin sekitar 3 tahun lalu, tapi baru aku tulis sekarang hehe. Setelah aku lihat di Google, foto bangunannya seperti sudah direnovasi dan tampilannya beda seperti dulu. 

Museum Dirgantara

Matahari pagi itu memang sudah beranjak naik. Setelah sarapan, aku mengajak suami, anak-anak dan mertua ke Museum Dirgantara. 

pangkalan TNI AU Adi Sutjipto
Masuk ke Museum Dirgantara (dok. pribadi)

Perjalanan tidak terasa jauh. Ketika kami sudah berada di lokasi yang ditunjukkan Google Maps, kami sempat bingung dimana pintu masuknya. Kami sempat salah masuk gerbang, setelah itu petugas mengarahkan kami ke pintu gerbang menuju museum. Kami memasuki kompleks perumahan angkatan udara, melewati gerbang yang ada penjaganya. Aku tidak begitu ingat apakah petugas meminta kami menunjukkan identitas atau nggak.

Tampak keramaian di depan kami. Mobil-mobil terparkir. Orang-orang berlalu lalang. Anak-anak kecil berlarian. Tampak pesawat-pesawat yang tidak digunakan lagi diparkir dekat dengan parkir mobil. Mobil kami berjalan pelan. Warung-warung makan berada di kiri kanan bangunan. Ada yang sedang menikmati makanan. Kami mencari tempat parkir mobil. Anak-anak sudah heboh melihat pesawat-pesawat yang terparkir.

Kami berjalan mengikuti kebanyakan orang-orang karena aku sedikit kesulitan mencari pintu masuk. Hanya ada satu arah di mana pengunjung berbondong-bondong. Kupikir disitulah pintu masuknya. Setelah agak dekat, tulisan "Pintu Masuk" berwarna terang tampak meyakinkan setiap pengunjung bahwa mereka tidak salah jalan.

Tiket masuk Museum Dirgantara murah kok sekitar 10.000 rupiah. Karena aku tidak begitu ingat urutan ruangannya jadi aku akan menjelaskan apa yang masih teringat saja.

Apa yang menarik di Museum Dirgantara?

Museum Dirgantara adalah Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Yogyakarta yang berada di Banguntapan, Yogyakarta, dan mulai dibangun sekitar tahun 1978. Museum ini berisikan koleksi sejarah yang didominasi oleh pesawat terbang.

Banyak ruangan di museum ini yang menampilkan benda bersejarah TNI AU. Ada ruangan utama, ruang kronologi, ruang pahlawan, ruang alutsista, ruang diorama, dan lain-lain.

Berbagai macam dipamerkan di museum ini, seperti pesawat serbu, pesawat tempur, helikopter, pesawat patroli, dan pesawat lainnya.

Bagi anak-anak, melihat pesawat dari dekat adalah sesuatu yang menyenangkan. 

Melihat banyak jenis pesawat di ruang Alutsista

Ketika memasuki hanggar pesawat, pengunjung disuguhkan dengan banyaknya jenis pesawat helikopter. Di hanggar ini jelas cukup panas karena kurangnya pendingin ruangan, entah kipas atau AC portabel, atau sirkulasi udara yang kurang. Atap tinggi tidak menjamin sirkulasi udara bagus dan membuat suhu turun.

Suara pun cukup bising. Tak hanya berasal dari para pengunjung yang ramai. Juga dari mesin. Beberapa sudut dipasang kipas angin tapi rasanya masih panas.

Di setiap pesawat yang dipamerkan, sudah ada keterangan di bagian depan pesawat. Sebenarnya ktia tidak perlu bingung jenis pesawat apa. Tapi bagiku yang awam mengerti tentang pesawat, bagiku semua hampir sama saja.

Kalau nggak baca deskripsinya aku tidak akan tahu bahwa ada satu pesawat yang menjadi hadiah dari presiden Amerika Serikat bagi presiden RI yang menjadi pesawat kepresidenan di tahun 1962. Pesawat ini sudah membawa peesiden ke beberapa negara tetangga.

Ada juga semacam torpedo atau ruang kosong panjang yang menjadi ruang latihan awak pesawat untuk mengenalkan aerofisiologi.

Satu pesawat yang sengaja dibuka agar pengunjung bisa menaiki pesawat sudah menjadi rebutan para pengunjung. Mereka silih berganti turun dari pesawat kemudian diganti oleh pengunjung lain.

Naik pesawat di Yogyakarta
Anak-anak dan Atuknya di pesawat (dok. pribadi)

Anakku tidak sabar ingin menaikinya. Aku bilang sabar karena masih banyak pengunjung yang turun. Begitu mereka naik dari bagian ekor belakang, di dalamnya ada bangku-bangku, yang saling berhadapan. Maju sedikit menuju kepala pesawat, ruangannya lebih gelap dan padat. Duduknya menghadap depan. Koridor pesawat hanya bisa untuk 1 orang. Di bagian depan, sudah banyak anak-anak kecil yang belum bisa mencoba menyetir pesawat. Anakku pun bisa mencoba nyetir pesawat setelah menunggu dengan sabar.

main di cockpit pesawat
Naik cockpit pesawat (dok. pribadi)

Mengenal Tokoh TNI AU

Sebenarnya bagi anak-anak ruangan ini tidak terlalu menarik meski mereka jadi mengenal mengenai pakaian. Ruangan ini menjelaskan para tokoh TNI AU yang berjasa dalam dunia kemiliteran AU. Di sisi lain, ada satu peta Indonesia yang besar. Sebenarnya aku tidak terlalu berlama-lama di ruangan ini karena yaa begitu... hehe..

Tapi mertua dan suami malah bisa berlama-lama di sana. 

Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Yogyakarta
Mengenal Tokoh TNI AU (dok. pribadi)

Diorama yang cukup menarik 

Ruang diorama ini cukup luas dan menarik. Diawali dengan pengenalan tokoh pahlawan TNI AU. Di bagian awal ini, anak-anak malah lebih suka berlarian karena tempatnya yang luas. 

Beberapa kali aku harus memanggil mereka ketika akan memberi tahu sesuatu, misalnya saat menjelaskan foto-foto kegiatan para TNI AU, tentang Sekolah Penerbang, pahlawan TNI AU, tentang baju-baju para TNI AU.

Diorama di ruangan ini berisi patung dengan pakaian para TNI AU dan ada papan yang menceritakan tentang tokoh tersebut. Cuma masalahnya, kadang tulisannya terlalu penuh jadi mau baca pun udah capek duluan. Harusnya yang singkat-singkat aja. 

Kami juga mengenalkan kepada anak-anak tentang penggambaran 3 dimensi tentang peristiwa bersejarah perjalanan TNI AU dari tahun 1945-1960, koleksi senjata, komunikasi dna elektronika, dll.

Berapa lama keliling?

Kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Sebenarnya kalau mau menikmati semua diorama dan membaca semua keterangan pada diorama bisa menghabiskan waktu sampai 3 jam lebih. Tapi karena aku bawa anak-anak nggak bisa lama-lama. Mereka sudah rewel duluan. Merekanya happy aja bisa lihat banyak pesawat, lari ke sana ke mari, tapi kayaknya aku masih kurang banget kalau mau menikmati semua yang ada di museum. Sebenarnya seru banget sih ajak anak-anak. Apa lain kali aku sama suami aja kali ya yang datang? Jadi ngedate ke museum, hehehe.



Read More
Setelah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, kami pun melanjutkan destinasi wisata sejarah Surabaya selanjutnya yaitu mengunjungi museum HOS. Tjokroaminoto atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Tidak Jauh dari Rumah Kelahiran Bung Karno

Jarak dari Rumah Kelahiran Bung Karno ke Museum HOS. Tjokroaminoto sekitar 350 meter atau 6 menit dengan berjalan kaki. Meski harus berjalan di bawah terik jam 11 siang, kami– eh aku aja kali ya– tetep semangat pergi ke rumah tokoh pergerakan nasional HOS. Tjokroaminoto. Ihiiyy.

Sebenarnya lokasinya tidak terlalu susah dicari karena sudah ada papan penanda. Hanya perlu ketelitian saja karena papannya tidak terlalu besar.

Di sisi kanan jalan, kendaraan berbelok melewati jembatan Peneleh yang melewati Kalimas–sudah pada tahu kan wisata perahu Kalimas?

Di jembatan ini di mana Soekarno pernah bercengkerama bersama Siti Oetari yang menjadi istri pertama Soekarno. Sayangnya, beliau ini bercerai. Setelah itu, Siti Oetari menikah dengan Sigit Bachroensalam dan memiliki anak bernama Harjono Sigit, seorang arsitek dan pernah menjadi rektor ITS. Harjono Sigit inilah ayahnda Maia Estianty.

Siang itu, kendaraan tidak terlalu ramai. Persis di depan jembatan ada jalan menuju museum HOS. Tjokroaminoto, yaitu Jalan Peneleh Gang 7.

Toko buku peneleh
Toko Buku Peneleh adalah tempat Bung Karno sering mencari buku dulu (dok. Pribadi)


Suami memarkirkan mobil dekat toko buku Peneleh yang menjual buku-buku jadul. Beberapa orang terlihat seperti pengunjung di Gang tersebut.

Museum HOS Cokroaminoto
Museum HOS. Cokroaminoto dari depan (dok.pribadi)

Kami berdiri di depan bangunan berwarna hijau dan putih yang masih terjaga keasliannya. Kalaupun direnovasi hanya untuk memperbaiki kerusakan. Catnya masih tampak baru. Vibe-nya masih seperti rumah jadul. Pintu lebar dua sisi. Jendela lebar kayu yang bisa dibuka atas dan bawah. Bangunan tidak terlalu tinggi. Atap limasan. Pagar kayu hijau. Dua tiang kayu di bagian depan khas rumah limasan. Di depan museum ada bendera merah dan putih.

Di bagian depan, tampak dua nomor bangunan : 29 dan 31.

Beli Tiket Museum Online

Ketika kami mau masuk, kami dicegat penjaga dan meminta menunjukkan karcis kami. Ternyata kami harus pesan tiket dulu di tiketwisata.surabaya.go.id. 

Kita pilih tujuan wisata kemudian pilih hari dan jamnya. Perhatikan kuotanya. Kalau habis berarti pilih di jam berikutnya. Cuma setahu aku sih nggak strict banget. Terus isi data diri. Setelah itu lakukan pembayaran yang hanya bisa QRIS.

Setelah membeli tiket dan menunjukkan kepada penjaga, kami pun memasuki rumah bergaya klasik berwarna hijau itu.

Rumah Pendiri Sarekat Islam

Suasananya tampak sendu dan remang karena lampunya sengaja digunakan lampu kuning seperti zaman dulu.

Karena berada di wilayah padat penduduk, bangunan ini hanya memiliki jendela di bagian depan. Sehingga pencahayaan cuma dari depan bangunan dan lampu di dalamnya. Sirkulasi udara pun hanya dari jendela depan. Namun, museum ini sudah dilengkapi dengan AC portable sehingga pengunjung tidak akan kegerahan memasuki museum (apalagi kalau berdiri dekat AC. Haha).

Ruang tamu, dulu tempat berkumpulnya para pahlawan

Museum HOS Tjokroaminoto Surabaya
Ruang tamu (Ulasan Google Hanif Kusumaning Tyas) 

Ketika memasuki museum, suasana tenang dengan lampu kuning dan remang khas lampu pameran.

Sebuah buku besar diletakkan di atas kayu seperti podium untuk tempat pidato. Aku membacanya sebagai pengantar sebelum memasuki area yang lain.

Dari sini aku jadi membayangkan sedikit bagaimana tampilan fisik HOS. Tjokroaminoto jika beliau di depanku. Tinggi, ganteng dengan sorot mata tajam. Bunda Maia aja cantikkkk gituu apalagi kakek buyutnya.

Aku pun jadi mengerti sangat sedikit bagaimana karakter pendiri Sarikat Islam ini. Apa yang membuat beliau memiliki banyak pengikut. Soekarno muda pun saat ngekos di rumah beliau belajar banyak dari beliau. Tokoh pergerakan nasional itu telah mengajarkan Bung Karno banyak hal, mengenai pemikiran, kepemimpinan, komunikasi yang bisa membangkitkan nasionalisme. Karena itulah Pak Tjokro menjadi idolanya Bung Karno. Ia telah dididik bagaimana harusnya menjadi pemimpin bangsa.

Salah satu pesan Pak Tjokro:

"Jika kalian ingin menjadi pemimpin, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator."

Meski orasi Pak Tjokro terkenal kaku, lurus, to the point, intonasi datar tetapi menggelegar dan bisa membangkitkan semangat nasionalisme bagi pendengarnya.

Bung Karno mempelajari semua tipikal orasi Pak Tjokro bahkan Bung Karno melakukan teknik rasi yang berbeda yang bisa membedakan dengan Pak Tjokro. Yaitu menggunakan intonasi. Yang kita bisa lihat di video-video orasi Bung Karno yang penuh pemantik api semangat.

Di sisi kanan ada satu set kursi tamu kayu dengan meja bandar. Di dinding tertempel foto para tokoh pergerakan nasional. Di dekatnya ada lemari kayu berisi penghargaan sebagai bukti pengabdian HOS. Tjokroaminoto.

Aku tidak terlalu banyak mengambil foto karena kamera tidak bisa menangkap jelas saat kondisi kurang cahaya.

Kamar HOS. Tjokroaminoto

Kami memasuki ruangan kamar yang seluas sekitar 2.5 x 2.5 m. Kamar yang sitempati HOS Tjokroaminoto dan istrinya ini memiliki perabotan yang tertata rapi dan desain yang klasik seolah kita sedang memasuki zaman kolonial. 

Rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya
Kamar HOS. Tjokroaminoto (dok. Pribadi)

Ranjang besi dengan kasur kapuk dan seprei putih ditambah selambu putih menambah kesan klasik. Lampu teplok menerangi sedikit ruangan kamar itu. Meja rias kayu yang sedikit besar dan ranjang yang membuat ruang kamar terasa sempit. Di dindingnya, ada dua potret tokoh warna abu-abu dengan keterangan di bawahnya.

Kamar kos Bung Karno

Bagaimana bisa Bung Karno ngekos di rumah HOS. Tjokroaminoto ini bermula dari permintaan ayahnya, Soekemi, agar Soekarno melanjutkan sekolah ke HBS setelah lulus dari ELS. 

Karena Soekemi dan HOS. Tjokroaminoto ini bestie, jadi Soekarno ngekos di rumah Pak Tjokro. 

Kamar kosnya ada di lantai atas seperti di bagian atap bersama dengan temannya yang lain, seperti Musso, Alimin, Kartosuwiryo, Darsono dan lain-lain. Menuju ke kamarnya ini agak serem karena harus melewati tangga yang agak tegak. Anak kecil harus didampingi karena tangganya bukan seperti tangga biasa. 

Kamar kos Soekarno di Surabaya
Kamar Kos Soekarno (dok. Pribadi)

Di kamar kos ini, Soekarno mempraktikkan ilmu orasi yang didapatkan dari Pak Tjokro. Ia berorasi di depan teman-teman sekamarnya hingga membuat mereka terbangun dan tertawa.

Ruang pameran

Ruang pameran ini berada di depan kamar HOS Tjokroaminoto di mana di tempat ini dulunya menjadi tempat makan. 

Di ruang ini, pengunjung bisa melihat baju Soekarno yang dipakai saat ke sekolah HBS dan di rumah Pak tjokro.

Kemeja arrow putih dengan dasi kupu dan jas ivory. Bagian bawah pakai jarik batik motif parang barong. Alas kaki memakai selop.

Pakaian sekolah HBS Soekarno
Pakaian Sekolah Bung Karno di HBS dulu (dok. Pribadi)

Di sini juga ada koran Bandera Islam yang dibingkai di mana Pak Tjokro menjadi redaksinya, sejarah kongres PPKI dan sejarah ISDV atau Partai Komunis Indonesia.

Kenapa sampai ada sejarah PKI di rumah Pak Tjokro ini?

Karena ternyata anak kos yang juga anak didik ideologis Pak Tjokro ini merupakan tokoh utama PKI awal. 

Semakin bertumbuhnya pemahaman dan pengetahuan anak didiknya pada berbagai macam ilmu politik justru membuat ideologis anak didiknya berbeda dengan ideologis Pak Tjokro. Paham sosialisasi dan komunisme berkembang di bawah panji Sarekat Islam.

Tokoh Komunis ini menyusup di tubuh Sarekat Islam. Karena itulah, Pak Tjokro membersihkan paham yang berbeda itu dari kalangan buruh Sarekat Islam.

Dalam buku Islam dan Sosialisme karya HOS. Tjokroaminoto ini mengungkapkan bahwa sosialisme dalam Islam bisa berjalan sesuai dengan nilai kemanusiaan dan akhlak.

Pemuda Penggerak Bangsa

Dari perjalanan ke museum HOS. Tjokroaminoto, aku pun tahu bawah peran pemuda ini begitu penting dalam melawan kolonialisme. Usia HOS. Tjokroaminoto saat memimpin Sarekat Islam adalah 25 tahun. Bung Karno saat menjadi proklamasi kemerdekaan di usianya 25 tahun. 

Maka harusnya pemuda-pemuda sekarang bisa meniru beliau-beliau dalam memajukan peradaban masyarakat atau bangsa. 

Oiya dari rumah kos inilah, Soekarno jatuh cinta pada anak HOS. Tjokroaminoto, Siti Oetari, dan akhirnya menikah. Aw aw aw so sweet banget.

Ternyata punya bapak kos seorang tokoh pergerakan nasional bisa 'menghasilkan' anak kos dengan berbagai ideologi, bahkan menjadi proklamator dan Presiden Pertama RI. 

Terus aku jadi mikir mungkin harusnya nyari kos itu ya sama seperti nyari teman. Berteman sama penjual wewangian akan ikut wangi.. nyari bapak kos yang ahli ibadah bisa ikut rajin ibadah. Nyari bapak kos yang ahli ilmu, kita jadi pintar. Nyari bapak kos yg ternyata tokoh pergerakan nasional, kita pasti akan menjadi tokoh penting juga. Nah kayaknya bisa banget nih kalo yang cari kos juga harus lihat latar belakang pemilik kosnya. Soalnya kayak cari jodoh dan akan memengaruhi kehidupan kita.

Selesailah kunjungan wisata sejarah kami ke rumah HOS. Tjokroaminoto di Surabaya. Karena adzan sudah berkumandang, kami pun ke masjid terdekat, Masjid Peneleh, yang ternyata adalah masjidnya Sunan Ampel dulu. MaasyaAllah.
Read More
Perjalanan panjang bangsa ini tak lepas dari peran para pemuda di zaman dulu. Keberanian dan semangat pantang menyerah untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bisa terlihat jelas pada diri pahlawan bangsa. Presiden pertama RI dan bisa disebut pemuda menjadi salah satu pahlawan bangsa yang berjasa memerdekakan bangsa ini.

Ir. Soekarno telah melewati masa-masa berat dan suram. Tapi aku kali ini tidak akan menjadi guru sejarah yang akan membuat para pembaca yang baik hati mengantuk karena tulisanku. Hehe. Semoga memang tidak mengantuk ya..

Rencana mengunjungi Peneleh akhirnya terwujud juga. Kunjungan pertama adalah ke rumah masa kecil Ir. Soekarno. Berbekal Google Maps kami pun tiba di sekitar kawasan Peneleh, salah satu kawasan tertua di Surabaya yang sudah ada sejak tahun 1275.

Yang agak susah, tempat parkir untuk mobil yang terbatas. Kami pun parkir di pinggir jalan tanpa pepohonan. Beberapa bus juga terparkir di sisi jalan yang lain. 

Ternyata ada hotel di sekitar Peneleh yang sepertinya untuk rombongan trip sejarah. Sepertinya...

Di tengah panasnya Surabaya meski masih jam 10 pagi, kami berjalan menyusuri jalanan pinggir Peneleh, yang dekat dengan sungai Kalimas. 

Wisata Sejarah surabaya
Gerbang Rumah Kelahiran bung Karno (dok. Pribadi)

Kami berhenti sejenak di depan gapura bertuliskan Rumah Kelahiran Bung Karno. Aku mengambil foto-foto sejenak. Gapuranya biasa. Ada sketsa di sisi kiri gapura. Ada juga ikon buaya dan ikon hiu ditempel di gapura. Seorang penjaga duduk di dekat gerbang masuk. 

Gang di depan kami sama seperti gang Surabaya lainnya, kecil, paving dan bukan jalur untuk mobil. Jalan ini bernama Jalan Pandean IV yang pernah menjadi saksi lahirnya putra bangsa.  

Memasuki Kampung Pandean, gang yang bersih dan padat dengan rumah penduduk, aku melihat sisi kiri lukisan tentang perjalanan Bung Karno dari lahir. Tanaman hijau sederhana memperindah pemandangan dari luar.

Perjalanan Bung Karno di Surabaya

Wisata sejarah Rumah Lahir Bung Karno Surabaya
Seni mural perjalanan masa kecil Soekarno (dok. Pribadi)

Dari seni mural di Jalan Pandean IV ini memberikan kisah singkat tentang sejsrha rumah lahir Bung Karno di Surabaya.

Kami memasuki rumah tanpa teras yang memiliki penanda rumah masa kecil Bung Karno. Rumahnya jelas sudah direnovasi. Dindingnya bercat putih dengan jendela kaca dan bingkai kayu cokelat. Pintu rumah berada di tengah bangunan. Di bagian atas pintu ada penanda berbentuk kipas bertuliskan "Rumah Lahir Bung Karno".

Rumah Kelahiran Bung Karno
Depan Rumah Kelahiran Bung Karno (dok. Pribadi)

Dari luar, tidak tampak seperti rumah di sekitarnya. Unsur jadul memang masih terasa sedikit meski tampaknya sudah bangunan baru karena sudah direnovasi. Sepertinya bagian atap juga sudah ditinggikan. Biasanya nih bangunan jadul milik pribumi tidak terlalu tinggi jarak lantai ke atap.

Tak ada petugas loket di bagian depan. Tak ada pengunjung lain. Semua tampak sepi seperti gang yang kami lewati. Hanya suara anak-anakku yang berisik. 

Undakan sedikit untuk memasuki rumahnya. Ketika membuka pintu, foto masa kecil Soekarno yang memakai blangkon tampak jelas menyambut pengunjung. Wajahnya yang tampan membuatku mengaguminya. Tak heran jika di waktu itu banyak perempuan yang jatuh hati pada beliau.

Di sampingnya bertuliskan:

"...Saja dilahirkan di Surabaja jadi saja arek Surabaja." - Ir. Soekarno.

Soekarno masa kecil
Soekarno Masa Muda (dok. Pribadi)

Jelas yo rek! Bung Karno arek Suroboyo! Hehehe

Keluarga Bung Karno

R. Soekeni, ayah Bung Karno, merupakan orang Tulungagung yang berprofesi sebagai guru Tweede Klasse Scholen di Buleleng, Bali, pada tahun 1891. 

Kemudian bertemu dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Meski berbeda agama, islam dan Hindu, mereka akhirnya menikah tahun 1897. Karena perbedaan agama ini, keluarga mereka tidak merestui hingga nikah lari. 

Mereka memiliki anak pertama bernama Soekarmini tahun 1898. Di tahun yang sama mereka pindah ke Jawa, tepatnya di Surabaya. Pada waktu itu status rumah masih mengontrak.

R. Soekeni mengajar di Inland Scool (sekarang: SDN Sulung) di Surabaya.

Kelahiran Bung Karno

Dua tahun di Jawa, Ida Ayu melahirkan anak kedua bernama Koesno Sosrodihardjo di tahun 1901 pada pagi hari, yang kita kenal sebagai presiden pertama Indonesia.

Dalam bahasa Jawa, Koesno artinya kesentausaan dan menyukai ilmu pengetahuan. 

Yang paling mengharukan dari perkataan ibunya pada Bung Karno kecil adalah:

Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau anakku kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena ibu melahirkan saat fajar menyingsing. Jangan sekali-kali engkau lupa, Nak, bahwa putra sang fajar.

MaasyaAllah. Saat baca ini. Aku terharu. Bagaimana tidak, kata-kata seorang ibu itu ibarat doa yang mudah sekali Allah wujudkan. Padahal seorang Ida Ayu masih menganut Hindu hingga akhir hayatnya. Mungkin ia tahu bahwa ucapan ibu adalah doa.

Aku berkaca pada diriku. Tiga anakku semua lahir saat fajar. Semoga kelak mereka menjadi orang mulia dan pemimpin rakyat. Semoga lisanku juga mudah berucap kata baik-baik untuk anak-anakku. Aamiinn.

Dan kamar Koesno kecil yang dulu masih berupa tanah dan bambu, kini telah difungsikan untuk pemutaran film dokumenter Pak Soekarno kecil. 

Ruangan kamar Koesno kecil juga telah direnovasi. Tidak ada benda peninggalan apa pun dari Soekarno dalam rumah ini. Di ruangan tersebut disediakan beberapa kursi, televisi untuk menayangkan film dokumenter dipasang di dinding, dan di pojok ruangan, sound system dipasang agar suara lebih terdengar jelas. 

Ruangan Augmented Reality

Uniknya, di ruangan lain, disediakan layar augmented reality. Ketika kita duduk di kursi, maka layar akan menyala otomatis. 

Seketika layar memperlihatkan rekaman masa kecil Soekarno dan gambar Soekarno sedang berdiri memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. 

Anakku excited ketika melihat mereka bisa masuk ke dalam televisi. Tangan mereka terangkat. Mereka tertawa. Mereka bergeser dari kiri ke kanan. Lucu.

Teknologi augmented reality di rumah kelahiran Bung Karno
Ruangan Augmented Reality (dok. Pribadi)

Pekerjaan Soekeni dan Sekolah Soekarno

Setelah enam bulan lahir, ayahnya, R. Soekeni ditugaskan menjadi guru di Jombang. Saat orang tuanya tingga di Jombang, sekitar tahun 1903, Soekarno diasuh kakaknya di Tulungagung. Koesno kecil ini sering sekali sakit. Sampai akhirnya keluarga memutuskan agar mengganti namanya menjadi Soekarno. Penggantian nama ini diikuti dengan selametan. 

Kemudian tak lama Soekeni dipindahkan lagi ke Sidoarjo dan Mojokerto. 

Di tahun 1915, Soekeni ditugaskan ke Blitar. Satu tahun kemudian, di usia 16 tahun, saat orang tuanya di Blitar, Soekarno kembali ke Surabaya untuk menuntut ilmu di Hoogere Burgerschool (HBS). Beliau mengontrak di rumah HOS. Cokroaminoto yang tidak jauh dari rumah lahirnya hingga lulus tahun 1921.

Perjalanan hidup Soekarno
Perjalanan Hidup Soekarno (dok. Pribadi)

Belajar dari orang tua Soekarno

Alasan aku kenapa menyukai pergi ke museum adalah karena biasanya ada cerita yang bikin hati terasa trenyuh atau bisa jadi refleksi diri untuk menjadi lebih baik. 

Pertama ketika membaca tulisan di bawah potret ayahnda, Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Beliau mengajarkan tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Koesno sering dihukum karena melanggar aturan yang sudah diajarkan Soekeni.  

Apakah kalian juga menerapkan hukuman pada keluarga kecil kalian?

Semoga Allah terus membimbing kami. Semoga menjadikan anak-anak kami (para laki-laki) ini tegas dan disiplin. Calon pemimpin masa depan. Aamiinn

Beliau juga mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk hidup. Beliau juga menanamkan pendidikan formal dan agama secara mendalam kepada anak-anaknya.

Sementara ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, ketika Koesno mendapat hukuman dari ayahnya, maka ibunya ini menjadi penyeimbang dengan memberikan pelukan hangat. Ibu menjadi tempat untuk berlindung dan mengadu. 

Terakhir, tentang persaudaraan dengan kakak perempuannya. Aku benar-benar lupa. Tidak sempat aku foto. Dan pesannya mirip sekali dengan kondisi anak-anak kami.

Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah Kecil Penuh Makna

Meskipun sederhana, tidak bisa disebut museum karena memang tidak ada barang bersejarah yang dimuseumkan. Tapi meski tampak rumah biasa dan tak ada banyak benda bersejarah, selain kisah sejarah hidup Soekarno, ternyata Rumah Bung Karno Surabaya ini menyimpan makna tentang hubungan orang tua dan anak serta persaudaraan.  dan sejarah.

Ketika kalian mencari wisata sejarah Surabaya, datanglah ke rumah lahir Bung Karno. Peneleh tak hanya menyimpan cerita tentang rumah lahirnya Soekarno tetapi juga rumah HOS Cokroaminoto yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari rumah Soekarno.

Ada yang sudah pernah mengunjungi Rumah Lahir Soekarno?

Oiya kalau kalian sudah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, saranku kalian pergi ke Sumur Tua Majapahit yang hanya beda dua gang saja. Aku pun baru tahu loh infonya jadi aku nggak sempat ke sana. Setelah itu baru ke rumah museum HOS. Cokroaminoto.
Read More

Saat pulang kampung ke Sragen, saya dan suami mengunjungi Museum de Tjolomadoe, di Karanganyar. Memang selama ini Pabrik de Tjolomadoe dikenal berada di Surakarta (Solo) karena memang tempatnya berdekatan dengan Solo. Sebenarnya Pabrik de Tlojomadoe atau Colomadu yang menjadi destinasi wisata favorit di Solo dan sekitarnya berada di Kabupaten Karanganyar.


Beberapa kali saya melewati destinasi wisata bersejarah Museum Colomadu tapi baru ini saya berkunjung. Bangunannya yang berada di pinggir jalan antar kota dengan cerobong asap yang tinggi dan halaman yang luas memang menarik perhatian saya setiap melewati jalan tersebut.


Hanya saja, baru pulang kampung beberapa bulan lalu kami baru sempat mengunjunginya.


Karena Pabrik de Tjolomadoe adalah wisata museum yang mungkin membuat anak-anak kami berlarian kesana kemari bahkan mengajak kami pulang sebelum selesai eksplorasi museum, maka saya memutuskan tidak mengajak anak-anak kami yang masih balita.


Lokasi wisata yang strategis

Saya cukup sering lewat jalur alternatif dari Boyolali menuju tempat ini. Jadi saya sering lihat bangunan de Tjolomadoe ini. Lokasi Museum Colomadu tidak jauh dengan Bandara Adi Soemarmo yaitu berada di Jl. Adi Sucipto No.1, Paulan Wetan, Malangjiwan, Kec. Colomadu, Kabupaten Karanganyar.


Cocok untuk Sesi Foto

Ketika saya baru tiba, saya ditanya oleh Pak Satpam begini, “Maaf, ada keperluan apa Pak?”


Pertanyaan yang sempat bikin kaget. Mungkin kami terlalu pagi datangnya. Sekitar jam 9an, sementara museum buka jam 10an. Tapi kami tetap saja bingung. Lah, memangnya selain berkunjung ke museum, mau ngapain lagi ya? Setelah kita bilang berkunjung, kemudian kami dipersilakan masuk setelah membayar uang parkir. Katanya nanti tiket parkir itu akan dikembalikan uangnya khusus pengunjung museum.


Sepertinya kami pengunjung pertama karena di area parkir yang sangat luas itu tidak ada kendaraan. Ada sih kendaraan di area yang lain tapi bukan tempat parkir. Beberapa orang saya lihat keluar dari halaman gedung yang ada di belakang dengan tampilan modis. Saya bisa menebak mereka pasti habis sesi foto.


Nah, saya pun tidak mau melewatkan kesempatan ini. Mumpung parkiran lagi sepi dan belum banyak orang berlalu lalang di depan gedung, saya pun mengambil foto-foto dengan latar gedung Pabrik de Tjolomadoe. Pabrik gula yang sudah ada sejak tahun 1861.


Keren banget kok!


Museum de Tjolomadoe


Jam buka dan tiket masuk

Jam buka Wisata Museum De Tjolomadoe ini dari hari Selasa sampai Ahad/Minggu pukul 10.00 – 17.00 WIB.


Harga tiketnya untuk satu orang dewasa sekitar 35 ribu. Kalau tidak salah harga parkir mobilnya gratis bagi pengunjung museum tapi kita ditarik uang parkir dulu saat melewati pos jaga. Nanti dikembalikan uangnya saat di loket tiket masuk. 


Museum Colomadu yang Modern 

Saat masuk, saya diminta berdiri di depan layar dengan kamera terpasang untuk diperiksa suhu tubuh dan wajah saya terlihat di layar. Baru kali ini tubuh saya dicek dengan teknologi layar thermal. 


Setelah cek suhu tubuh, saya langsung disuguhkan dengan mesin penggiling tebu yang besar. Bentuknya seperti roda dengan jari-jari dua kali tinggi orang dewasa. Saya sih langsung bertanya-tanya dalam hati bagaimana prosesnya.


Kemudian di pojok bangunan ada papan berisi foto-foto tentang sejarah revitalisasi pabrik Colomadu dan sejarah Pabrik Gula de Tjolomadoe.


Alasan Anak Milenial Harus Datang ke Museum Colomadu

Setelah itu, saya masuk ke dalam dan saya terkesima karena baru ini saya melihat museum di Indonesia yang keren dan moderen. Kesimpulan saya waktu itu, wah ini kemajuan besar bagi perkembangan museum Indonesia. Wajar sekali jika museum sangat diidentikkan dengan wisata sejarah yang membosankan dan kurang atraktif. Namun, tidak saya rasakan di Museum Colomadu ini. Apa saja alasan kalian harus ke Museum Colomadu ini?


Peninggalan bangunan yang menjadi estetis 

Sisa-sisa peninggalan benda pada bangunan pabrik gula Colomadu yang berubah menjadi estetis dan indah dipandang. Contohnya mesin penggilingan, tempat pemurnian, mesin ketelan, bahkan akar pohon yang merayapi dinding saja dibiarkan.

Wisata sejarah de Tjolomadoe

Diorama sederhana, mudah dimengerti tapi tampak elegan

Diorama adalah wujud benda tiga dimensi dalam ukuran kecil untuk menggambarkan suatu pemandangan atau adegan agar lebih mudah dipahami. 


Diorama yang paling menarik saya adalah diorama proses penggilingan tebu yang ditutup dengan kotak kaca dan lampu sorot kecil di setiap sudutnya sehingga tampak elegan. 


Dari diorama itulah, saya jadi tahu bagaimana proses penggilingan tebu yang dibawa oleh petani tebu dengan gerobak kecil, kemudian digiling di miniatur Pabrik Colomadu dan hasilnya dibawa lagi oleh pekerja dengan gendongan bambu.

Diorama Museum Colomadu


Peta penyebaran pabrik gula yang interaktif 

Saya paling suka dengan media informasi sejarah yang berupa peta ini. Misalnya peta jalur kedatangan  gula di Hindia Belanda. Peta jalur ini tidak seperti peta yang kita lihat di buku Atlas dulu tapi ditampilkan di dinding dengan ukuran besar. Informasi yang ada di dalam petanya pun tidak penuh sehingga pengunjung tidak pusing dengan informasi yang diberikan.


Peta lainnya yang menurut saya begitu mengesankan adalah peta pabrik gula di pulau Jawa yang berupa topografi tapi berbentuk animasi. Sebenarnya peta ini ditampilkan dalam sebuah layar gelap dan posisinya tertidur. Ketika pulau Jawa ditampilkan seolah-olah pulau itu muncul berbentuk tiga dimensi dan ada konturnya padahal hanya ditampilkan di layar datar.

Peta pabrik gula di Pulau Jawa


Deskripsi bilingual Indonesia dan Inggris

Museum ini tidak hanya ditujukan untuk warga lokal saja tapi juga orang asing karena informasi yang diberikan ada dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.


Maket dan denah bangunan pabrik Colomadu

Denah pabrik Colomadu yang dibuat ini  merepresentasikan kondisi pabrik tahun 1998. Denah yang dibuat tampak biasa meski maket yang dibuat menurut saya benar-benar Jawasentris karena dibuat dari bahan kayu seperti rumah Jawa.


Linimasa perkembangan pabrik gula Colomadu

Untuk mengetahui sejarah suatu tempat biasanya museum akan menampilkan linimasa sejarah tersebut. Kadang linimasa hanyalah untaian kata-kata panjang begitu menjemukan. Namun, hanya dengan tambahan foto, narasi singkat dan penambahan garis linimasa dari tahun ke tahun justru memudahkan pengunjung Wisata Museum Colomadu menyerap informasi.


Infografis yang informatif pada dinding museum 

Saya temukan banyak sekali infografis-infografis berukuran besar di dinding museum. Informasi yang diberikan mulai dari sejarah pabrik gula Colomadu, jumlah produksi gula Colomadu 1900-1935, distribusi dan ekspor gula, kebijakan politik pemerintah kolonial di Hindia Belanda, alih otoritas Mangkunegaran di Colomadu, kontribusi terhadap masyarakat, dan juga sosial budayanya.


Ruangan warna-warni

Salah satu keunikan dari museum pabrik gula Colomadu adalah adanya ruangan khusus Glow In The Dark dari Artificial Intelligent Architecture. Jadi saat lampunya dimatikan, gambar warna-warni itu akan tetap menyala. 


Gambarnya tentang lansekap gunung Lawu dan pabrik gula Colomadu. Sedangkan tangan besar itu saya nggak paham maksudnya apa. Mungkin ada yang tahu? Karena kurangnya informasi jadi saya kurang mengerti. Ruangan ini cocok untuk kaum milenial yang ingin berswafoto.


Glow in the dark Colomadu


Video tentang sejarah perkebunan tebu

Tak hanya berupa tulisan saja informasi disajikan tetapi juga banyak video-video yang ditampilkan. Mulai dari video lawas orang jaman dulu yang ada di kebun tebu sampai video animasi proses pengolahan tebu termasuk juga proses kimiawinya di Pabrik Gula Colomadu. 


Etalase berisi potongan tebu

Ada lagi etalasae yang di dalamnya terdapat tiga jenis potongan tebu yang dipakai oleh PG Colomadu dulu. Saya tak hapal membedakan ketiganya. Bentuknya kok kayanya sama saja semuanya. Hehe.


Blueprint desain pabrik

Blueprint atau cetak biru ini ditampilkan juga untuk memberi informasi mengenai rancangan mesin, cerobong asap pabrik Colomadu di atas kertas berwarna biru. Blueprint pabrik Colomadu ini dibuat tahun 1916, masih berbahasa Belanda dan beberapa bagian sudah ada yang sobek. 


Cover buku tentang pengolahan tebu

Uniknya lagi, ternyata pabrik Colomadu juga mengeluarkan buku cetak mengenai mesin gilingan tebu, teknik mesin penggilingan nira, proses mesin pemurnian nira, proses mesin penguapan nira, proses mesin kristalisasi, mesin pengeringan, pendinginan dan pengemasan. 

Buku Proses Pengolahan Nira Colomadu


Dan ini sebenarnya suatu perkembangan yang maju di zaman itu karena pabrik gula juga membuat buku tentang mesin pengolahan nira.


Bermain peran jadi petani tebu

Keunikan yang selanjutnya nih, yang baru saya temui di wisata museum (entah mungkin di museum lain juga ada tapi saya belum pernah berkunjung) adalah kita bisa bermain peran jadi petani tebu secara virtual.


Saya berdiri di atas gundukan tanah berumput imitasi (tidak asli). Cangkul di sebelah saya, saya biarkan saja. Di depan saya ada layar yang menampilkan animasi kebun tebu yang mengelilingi saya yang sedang berdiri di atas gundukan tanah. 


Di dalam layar tersebut terlihat seorang petani tebu lain dengan kerbau bajaknya menyapa saya, padahal di ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Tanah kosong di dalam layar kemudian mulai diolah sama bapak petani. 


Setelah itu proses penanaman tebu dimulai. Mulai dari mencangkul tanah, memberi bibit, menyirami sampai burung bangau datang dan tebu-tebu tumbuh tinggi. Petani datang lagi memotong semua tebu karena sudah panen. Tebu-tebu itu dibawa mereka ke pabrik.


De Tjolomadoe
Maaf ya ini yang nampang malah suami wkwk


Video animasi pun selesai. Ketika saya turun dari gundukan tanah pura-pura itu, video terhenti. Ketika saya naik kembali, video pun dimulai. Sensor yang ada di gundukan tanah itu yang membuat video berjalan atau berhenti.


Animasi kereta tebu

Satu lagi keunikan yang ada di museum Colomadu yaitu adanya animasi kereta tebu seperti film kartun. Animasi ini merupakan karya anak bangsa. 


Animasi kereta tebu dan pabrik Colomadu


Bagaimana Kesan Saya?

Wisata ke Museum Colomadu kali ini benar berkesan buat saya. Saya sangat senang karena sebenarnya museum di Indonesia bisa berkembang lebih baik, lebih interaktif dan tidak membosankan pengunjung. 


Salah satu alasannya mungkin karena Museum Colomadu tidak melupakan karakter-karakter anak milenial dan era 4.0 sehingga teknologi begitu berperan dalam pengembangan museum. Harusnya memang seperti itu, museum-museum di Indonesia bisa sejalan dengan perkembangan teknologi.


Semoga museum-museum di Indonesia lebih interaktif lagi. Setidaknya bisa seperti Museum Colomadu yang nyaman, tidak panas, dan bisa beriringan dengan era 4.0.


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower