Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Bagi pecinta kereta api, sayang banget kalau tidak pergi ke Museum kereta api Ambarawa yang punya kereta uap ikonik dan juga sayang banget melewatkan event yang hanya dibuka satu kali satu tahun oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng. 

Kunjunganku ke Balai Yasa Surabaya Gubeng itu pun tidak direncanakan. Tiba-tiba saat scroll Instagram, muncul postingan tentang Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng. Tentu saja aku tidak mau melewatkan event tahunan ini. Kalau mau ke stasiun pun bisa, bisa lihat kereta di pinggir rel kereta api kapan pun. Tapi kalau ke bengkel kereta api, tidak setiap hari bisa. Makanya aku nggak mau ketinggalan event Open House dari KAI ini.

Balai Yasa

Balai Yasa merupakan bengkel khusus kereta api untuk perbaikan dan perawatan lokomotif, gerbong, kereta maupun sarana perkeretaapian milik PT. KAI. Indonesia memiliki delapan Balai Yasa yaitu Manggarai, Kiaracondong, Tegal, Yogyakarta, Surabaya Gubeng, Pulubrayan, Padang, dan Lahat.

Seneng banget di kotaku ada Balai Yasa Surabaya Gubeng. Lebih excited lagi ternyata Balai Yasa Surabaya Gubeng mengadakan open house. Event satu tahun sekali ini emang kudu banget dikunjungi! Selain menyenangkan untuk anak-anak.

Tiket Masuk Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng

Mencari informasi tentang tiket masuk ke Open House Balai Yasa ini agak membingungkan. Cuma entah bagaimana akhirnya setelah mencari-cari informasi melalu media sosial maupun website, aku dapat juga tiketnya. Gratis. Kita tinggal memilih jam kunjungan. Dan aku memilih jam 11 siang. Kebayang panasnya Surabaya. Hehe. Tapi demiii banget biar anak-anak seneng ya udah lanjut ajaaa.

Melihat Bengkel Kereta Api

Mendekati lokasi, ternyata jalanan lumayan padat. Jalanan yang tidak terlalu lebar menambah kepadatan lalu lintas siang itu. Mobil-mobil sudah parkir di pinggir jalan. Mau tak mau kami juga mencari parkir di luar. 

Setelah mendapat parkir, kami segera menuju pintu masuk Open House. Kami mengira pintu masuk untuk Open House itu sama dengan Balai Yasa. Ternyata beda. Kami diarahkan ke pintu masuk di mana banyak orang menuju berjalan ke arah itu.

Meski panas sudah berada di atas kepala, para pengunjung sudah banyak yang antri padahal masih di depan gerbang. MaasyaAllah. Di depan, beberapa petugas pengecekan tiket dan bagian keamanan berjaga di depan gerbang. Bagi yang sudah menunjukkan tiket, pegunjung diperbolehkan masuk. Setelah antri sekitar 10 menit, kami pun memasuki Balai Yasa yang menjadi jalur masuknya kereta api yang akan diperbaiki. 

Ruang terbuka tampak ramai dengan orang berlalu-lalang. Panasnya membuat kami segera mencari tempat teduh. Eh, tapi kami berfoto dulu di tulisan BUMN. Hehe. 



Kami juga berfoto di depan seperti mesin excavator tapi tidak pakai ban untuk di jalan raya tapi pakai roda kereta api.


Tak lama, odong-odong datang dan berhenti di dekat kami. Beberapa orang turun dan kemudian naik saling berebutan. 

Awalnya, aku mau ajak naik odong-odong tapi kok kalah sama ras terkuat di bumi ini. Alias para ibu-ibu. Meski aku juga ibu-ibu, tapi aku kalah duluan. Hehe. Mereka rebutan naik dan aku gagal.

Sebelum Itu, Lihat Satwa liar Dulu

Yausah, aku, suami dan anak-anak pergi ke tempat pameran. Sebelum melihat kereta api, kami mendatangi stand paling depan yang memamerkan beberapa hewan liar, seperti beberapa jenis ular, iguana, dan lain-lain. Petugas yang juga pemilik hewan itu berdiri mengawasi para pengunjung yang ingin merasakan sensasi memegang hewan paling menggelikan.

Aku mengira anakku takut, rupanya mereka penasaran ingin memegang. Okelah, meski aku agak geli-geli juga, kubiarkan mereka memegangnya.

Setelah sekitar 10 menit, aku menyuruh mereka sudah saja. Soalnya aku takut nanti aku berubah jadi Nagin. Cacacaca.. XD

Melihat Kereta Panoramic dari Dekat

Satu obyek di Open House yang menarik perhatian banyak pengunjung adalah adanya kereta panoramic yang viral. Naik kereta panoramic emang dambaan banyak orang kayaknya yaa.. siapa yang nggak pengen bisa naik kereta mirip di luar negeri bisa melihat pemandangan alam yang indah. Kereta panoramic ini harganya lumayan sih. Nah, karena belum kesempatan naik kereta panoramic jadi kita manfaatkan nih di event ini bisa merasakan kereta panoramic.


Eh, sayangnyaaaa...banyak banget yang mau masuk ke gerbong kereta panoramic dan foto-foto di dalam. Jadi pas aku udah naik, cuma sempet ngerasain AC gerbong panoramic yang dingin, tapi nggak bisa masuk karena semua pengunjung udah duduk di kursi, foto-foto, dan cukup penuh. 

Wes lah. Capek juga mau pencitraan naik kereta panoramic. Wkwkwk. Akhirnya anak-anak aja aku suruh foto di depan gerbong kereta panoramic dan ikut foto sama bapak petugas KAI. 

Barisan Gerbong Kereta

Sebenarnya aku juga nggak begitu paham dengan kereta. Jadi kebanyakan saat kunjungan ke bengkel kereta api, suamiku yang lebih banyak cerita. Saat gerbong-gerbong kereta berbaris rapi di depo, sebuah tempat khusus beratap untuk memperbaiki mesin kereta. Gimana gerbong kereta dibawa sampai ke tempat bengkel. 


Tidak tampak aktivitas pegawai Balai Yasa yang sedang memperbaiki gerbong kereta. Kami pergi ke ruang lain yang memang sudah diperuntukkan untuk pameran. Pengunjung cukup ramai melihat petugas Balai Yasa yang menjelaskan sistem roda perkeretaapiaan. Emang cocok banget sih buat anak kuliahan. Aku nggak paham. Hiks. Suamiku yang bisa lama di ruang pameran itu sih karena emang paham.


Naik Roll Wagon

Yang unik dari Balai Yasa ini yaitu pengunjung bisa naik roll wagon yang merupakan fasilitas perkeretaapian untuk membawa gerbong kereta ke depo kereta. Roll wagon ini bentuknya memanjang menyesuaikan panjang gerbong. Di bagian tengah roll wagon tersusun konstruksi rel kereta. Di bagian depan ada ruang khusus pengemudi. Roll wagon ini hanya jalan maju dan mundur saja. 


Aku pun mengajak anak-anak naik roll wagon. Kami sudah berdiri di pinggir agar bisa segera naik. Saat berhenti, pengunjung rebutan naik. Tapi kalau ini kayaknya semua pengunjung bisa merasakan semua. Setelah roll wagon cukup terisi banyak pengunjung, roll wagon berjalan.

Sensasinya sih seperti naik kereta dengan kecepatan pelan tapi jalan maju sampai ujung kemudian mundur lagi. Dan tidak ada pembatas kaca jadi masih merasakan angin sedikit. Syukurnya ada atap jadi tidak terasa panas. 


Kesimpulan

Naik roll wagon ini seperti puncak acara ikutan open house Balai Yasa. Ikutan open house ini selain memperkenalkan profesi kereta api juga mengenalkan sistem kereta api kepada anak-anak. Open House Balai Yasa ini emang kudu banget sih dikunjungi apalagi anak-anak yang suka kereta api. Cuma aku kurang paham yaa kalau di kota lain apa ngadain Open House juga apa nggak. Coba di cek-cek aja medsosnya.

Read More
Kadang di satu momen, aku bingung mau ajak anak-anak main ke mana di Solo. Aku cari tempat yang tidak terlalu jauh dan banyak permainannya. Sebenarnya mau ke playground-playground gitu tapi kok kurang lokal banget soalnya di Surabaya juga banyak. Yang paling penting sihh harganya tidak mahal. Hahaha. Sampai akhirnya aku ajak mereka ke Taman Cerdas Jebres. Teman bermain anak di Solo ini cukup menarik perhatianku. Menurutku banyak atraksi yang lumayan bikin anak-anak tertarik. Dan kayaknya beda kayak teman Cerdas biasanya.

Konsep taman Cerdas ini mulai berkembang di tahun 2000. Konsep ini digunakan agar taman tidak hanya sebagai tempat berkumpul bersama keluarga tetapi juga untuk meningkatkan pengetahuan pengunjungnya. Tentu saja, fasilitasnya berbeda seperti taman biasa. Ada beberapa fasilitas.


Akses Taman Cerdas Jebres Solo

Lokasi Taman Cerdas Jebres Solo ini ada di belakang kampus UNS Solo. Mampirlah kami ke sana. Aku sih berharap ada hal-hal lain tak terduga ada menyenangkan.

Alamat Taman Cerdas Jebres ini ada di Jl. Surya I Gg. Love Bird No.25, RT.003/RW.022, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta.

Oiya di situ tulisannya Gang Love Bird tapi mobil bisa kok masuk ke jalan ini. Lokasinya memang agak nyempil begitu tapi jalannya cukup untuk dua mobil.

Taman Cerdas Jebres

Sesampainya di sana, sudah ada beberapa pengunjung yang bermain di area bermain. Suasana cukup tenang. Tidak terdengar hiruk pikuk kendaraan. Di dekat tempat parkir mobil, ada beberapa warung non permanen. Aku membeli beberapa roti untuk anakku yang susah makan. Anak-anakku tidak sabar ingin mengeksplorasi Taman Cerdas jebres.

Taman berpagar di pinggir jalan itu tidak tampak seperti fasilitas umum dari pemerintahan. Tidak hanya taman berumput saja tapi juga banyak bangunan di dalamnya. Justru terlihat seperti bangunan TK swasta. Selain warnanya cerah, juga tampak mewah bila disebut taman. Bangunan besar di tengah taman tidak terlihat seperti taman. 

Pepohonan besar tersebar di area taman bermain membuat anak-anak nyaman bermain di taman yang teduh. Kalau siang-siang ke sini juga aman ya insyaallah nggak terlalu panas.

Tak hanya itu, lokasi Taman Cerdas ini ada di daerah kelerengan. Jadi ada bagian taman yang memiliki kontur cukup tinggi sehingga kita harus mengakses tangga untuk naik ke sudut lain.

Perpustakaan

Ketika memasuki taman ini dari pintu gerbang utama, kita akan melihat bangunan perpustakaan yang sayangnya waktu itu sedang tutup.


Playground

Di taman itu, anak-anak bermain di playground. Mereka bermain ayunan. Perosotan pun dibuat permanen dari beton. Mungkinbiar tidak cepat rusak kali yaa. Cuma perasaanku jadi lebih keras. 

Permainan di playground ini masih terbilang bagus. Waktu itu belum ada yang rusak tapi entah sekarang yaa..


Patung dan Robot

Kami naik tangga ke bagian taman di bagian atas. Dari bawah tampak ada robot-robot besar. Anakku excited saat melihat robot besar. Ia mengira robotnya bisa bergerak. Aku mengajaknya berfoto bersama robot itu.

Selain robot-robot, di taman ini juga ada patung penari khas Jawa Tengah. Di atas, ada ruangan berkaca yang tertutup menampakkan set main musik gamelan. Sepertinya di waktu tertentu, taman ini digunakan untuk pertunjukan musik khas Jawa. 

Tak hanya itu, di sudut lain, ada patung dinosaurus beraneka ragam. Anak-anak excited sekali melihat patung dinosaurus. 



Tanaman Hidroponik

Di dekat playground, pipa-pipa hidroponik terpasang. Benih-benih sayuran tumbuh subur.  

Mushola

Berlama-lama di Taman Cerdas juga aman aja dari siang sampai sore karena ada musholla. Kita bisa sholat tanpa harus keluar dari taman.

Ruang Radio Anak

Pas lewat bangunan ini, aku agak kaget sih. Taman Cerdas ini juga dilengkapi dengan Ruang Radio Anak. Aku juga kurang paham apakah anak-anak berlatih seperti seorang penyiar begitu ataukah tetap ada penyiar dari orang dewasa kemudian diwawancarai atau seperti konsep talk show. 

Ruang Edukasi

Setelah naik-naik ke beberapa fasilitas umum di Taman Cerdas, akhirnya kita turun juga menuju Ruang Edukasi. Ruang Edukasi juga tersedia di Taman Cerdas Jebres. Fasilitas umum ini juga lumayan bagus sih. Bangunannya dua tingkat seperti sekolah saja. Kalau lihat dari luar lewat kaca, di dalamnya tersedia media pembelajaran untuk anak. Di depannya ada ruang terbuka untuk tempat berkumpul anak-anak. Di tengahnya ada kursi dan meja besi.

Pendopo

Oiya lupa, di ujung taman, pendopo yang tidak terlalu besar bisa digunakan anak-anak untuk berkumpul, belajar, membuat kreasi atau latihan. Saat aku di sana, aku melihat beberapa anak perempuan sedang berlatih menari. Berarti Taman Cerdas ini memang digunakan masyarakat sekitar untuk beraktivitas.

Kesimpulan

Anak-anak suka banget sih bisa berkunjung ke Taman Cerdas ini meski kami tidak juga berlama-lama di sini. Tapi memang bagi masyarakat sekitar taman Cerdas ini menjadi tempat hiburan anak-anak tanpa harus bayar mahal karena tidak ada tiket masuk.

Menurutku, Taman Cerdas ini keren kalau bener-bener bisa dimanfaatkan oleh umum meski hari libur. 

Sayangnya tidak semua fasilitas umum dibuka untuk umum seperti Ruang Edukasi atau Perpustakaan. Mungkin saat kami ke sana itu hari libur jadi tidak ada penjaganya. 


Read More
Kalau liburan di Surabaya itu yang bikin kita mikir-mikir adalah cuaca panasnya, seperti pergi ke pantai, kolam renang, taman. Kalau mau ajak anak-anak main ke tempat yang adem, kita bisa ke playground. Banyak playground di Surabaya yang bisa jadi pilihan menyenangkan anak-anak. Aku sendiri lebih memilih mengajak anak berenang daripada ke playground di Surabaya. Mungkin bisalah ya sesekali ke sana. 

Kebetulan, keluarga suami di Malang penasaran pengen mencoba playground yang terkenal di Surabaya yaitu Playlandia. Anak-anak pun diajak. 

Setelah beristirahat sejenak, kami berangkat ke Tunjungan Plaza. Lokasi Playlandia ini ada di Tunjungan Plaza 3 (TP3). Pasti semua sudah tahu lah yaaa salah satu mall terbesar di Indonesia ini. Kalau liburan ke mall terbesar ini sih udah nggak mungkin kepanasan yaaa kecuali kalau mati lampu. Hihi.

Playlandia Tunjungan Plaza Surabaya
Playlandia Tunjungan Plaza Surabaya (sumber foto: tiket.com)

Playlandia, Tempat Bermain Anak dan Dewasa

Playlandia merupakan playground indoor di Surabaya untuk segala usia. Bisa kebayang permainan apakah kira-kira yang tersedia untuk anak-anak dan orang dewasa. Orang dewasa kayak aku ini juga bisa ikut bermain, haha. Kira-kira jenis permainannya apa aja ya? Apa kayak TransMart atau duFan?

Playlandia ini berada di lantai 5 TP3. Oiya, kalau parkir mobil di TP ini harus diingat banget loh lokasi parkir di mana. Kalau perlu difoto aja lokasi parkirnya karena luas banget. Kita bisa lupa keluarnya dimana.

Tiket Masuk Playlandia

Ketika tiba di depan Playlandia, kami bis amelihst sebagian wahan permainannya. Lampu-lampu warna-warni, ungu, pink, biru, hijau, lebih mendominasi. Tampak sedikit wahana permainan yang membuat aku bertanya-tanya. Amankah buat anak kecil?

Aku melihat antrian yang cukup memanjang. Wajah-wajah pengunjung tampak mencoba bersabar. Sepertinya mereka sudah lama mengantri.  sudah cukup banyak yang antri. Untung saja salah satu adik suami sudah mengantrikan. Jadi kami bisa ikut antrian adik ipar, hihihi. 

Kebetulan saat itu ada diskon, kalau tidak salah beli 1 gratis 1. Oiya, untuk anak-anak yang kurang dari 135cm harus bersama 1 pendamping dan pendamping ini tidak perlu bayar tiket. Harga tiket masuk Playlandia 1 orang seingatku 100ribu.

Aku termasuk pendamping karena mendampingi anakku yang masih usia 3 tahun. Karena kami datang keluarga besar, promo ini lumayan banget sih. Aku tuh malah ngga update hal-hal kayak gini. Nggak pernah kepikiran kesini kalau nggak ada yang ngajakin wkwkwk. MaasyaAllah barakallahu.

Sebelum Masuk Playlandia

Sebelum masuk ke Playlandia, ternyata setiap pengunjung diwajibkan memakai kaos kaki khusus yang tidak licin atau anti slip. Jadi di bagian bah alasnya ada grip silikon untuk mencegah kaki tergelincir.

Kaos kaki ini di luar harga tiket, jadi kita harus beli lagi kalau tidak salah sekitar 25.000 (please drop comment kalau harga sekarang berubah). Ukurannya pun macam-macam. Sayangnya, untuk ukuran kaki besar sekitar 42 itu yang jarang, jadi pakai kaos kaki ukuran bawahnya dan agak ketat. Hehe. 

Seru-seruan di Playlandia

Giliran kami memasuki Playlandia setelah antri sekitar hampir 1 jam. Kami melewati pintu masuk yang dijaga petugas dengan menunjukkan gelang kertas yang ditempel di tangan. Loker-loker tempat barang cukup banyak di area pintu masuk. Jadi kita nggak perlu bingung naruh barang di mana. Dengan jenis permainan di playlandia rasanya emang kita jangan bawa tas berat dan banyak.

Anak-anakku nggak sabar berlarian sama saudara sepupunya, sementara si kecil aku gandeng. Sebenarnya banyaaak banget jenis permainan di Playlandia, nanya saja hanya sedikit saja yang cocok untuk anak-anak.

Slides dan Ball Pool

Permainan pertama yang dimainkan adalah perosotan besar berbentuk corong dan tinggi. Bagiku ini cukup tinggi untuk ukuran balita. Dia nggak sabar ingin perosotan ngikuti kakak-kakaknya. Saking besarnya, aku hanya istighfar saat ia meluncur... beneran bikin jantugku deg-degan. Haha. Kakinya terangkat ke atas dan badannya berbaring. Bukan seperti orang main perosotan di taman. Hahha.

Si Kecil Bermain Slides (dok. Pribadi)

Udah gitu, dia masih mau coba lagi. Ya Allaaahhh... karena ngeri, aku memintanya ganti permainan lain. Tapi namanya anak masih penasaran jadi ya lanjutt lagi. Aku dari ujung siap-siap nangkap kalau dia kenapa-kenapa. Alhamdulillah sih nggak kenapa-kenapa. Haha.

Slides yang Berakhir di Ball Pool (Dok. Pribadi)

Si kecil pun berpindah ke perosotan lain yang ada bola-bolanya. Di sini, perosotan tidak terlalu tinggi seperti tadi. Tapi memang harus hati-hati karena banyak anak kecil yang main. Jangan sampai ada meluncur dan mengenai pengunjung lain.

Redbull, Mengendalikan Banteng Mengamuk

Saat anakku lagi asyik main perosotan dan bola, aku melihat wahana permainan redbull yang menjadi salah satu daya tarik pengunjung dewasa untuk bermain. Setelah melihat anakku bermain dengan aman, aku dan suami ingin mencoba redbull. Haha.

Redbull ini permainan menaiki banteng kemudian nanti mesin akan menyala dan memutar-mutar banteng dengan arah jam atau berlawanan. Semakin lama putaran banteng ini semakin kencang. Rider mungkin kesulitan untuk mengendalikan diri dan bisa saja jatuh di matras yang empuk.

Beberapa orang antri ingin mencoba menaiki banteng matador itu. Rata-rata, rider akan terjatuh di menit ke 7 menit.

Redbull Playlandia (dok. Pribadi)

Suami pun ikut mencoba. Tibalah giliran saya menaiki patung banteng bertanduk yang bisa berputar-putar itu. Tubuh patung itu cukup besar. Sepertinya kalau cuma bermodal pegangan saja rasanya tidak akan kuat. Jadi aku mencoba memegang smabil merapatkan kaki meski tidak yakin akan bertahan lama. Di putaran pertama, masih bisa dikendalikan, gerakannya masih pelan. Putaran selanjutnya operator mulai menaikkan level banteng mengamuk. 

Dan aku mulai kewalahan. Otot-otot kaki, tangan dan hampir seluruh tubuhku mencoba mengendalikan seluruh gerakan banteng. Banteng terus berputar semakin kencang dan pada akhirnya aku terlempar. Haha.

Parah ya ternyata. Mungkin redbull ini seperti filosofi amarah manusia kali yaa. Di saat emosi tidak bisa dikendalikan, mungkin kehidupan kita akan remuk redam. Keluar dari titik kehidupan normal. Bahayanya bisa merusak kehidupan kita, seperti halnya tubuh kita yang terlempar dan menabrak yang ada di sekitar.

Slides untuk Dewasa

Di sisi lain, ada bermacam-macam perosotan untuk orang dewasa, seperti rainbow slides, dan tunnel slides. Kita harus menaiki semacam lorong jika ingin bermain slides ini. Untuk rainbow slides harus pakai ban yaa. Untuk anak-anak masih bisa kok coba perosotan pelangi.

Rainbow slides (dok. Pribadi)

Sedangkan extreme slides itu sudutnya hampir tegak, ngeri banget. Perosotan yang ekstrim itu harus pakai alas seperti alas tidur. Dan harus ada penjaganya.

Aku coba slides ini cukup mengerikan karena sudutnya hampir 90°. Seperti terjatuh dari ketinggian padahal sudha coba buat tidur. Parahnya anakku naik ini nggak pakai alas. Ya Allah alhamdulillah masih nggak apa-apa. Kasihan soalnya punggung pasti sakit. Sempat ditegur sama petugas karena anakku nggak baca tulisan sebelum meluncur. Di sini, aku berpesan padanya bahwa untuk baca dulu tulisan yang ada. 

Ninja Warriors

Ninja warriors ini ada di lantai atas. Di sini, kita bertualang untuk berjalan dan melompat seperti ninja dari satu pijakan ke pijakan lainnya. Ada tali, ada seperti bandulan, dan lain sebagainya. Untuk anak-anak masih aman sih main di sini tapi tetap harus diawasi.

Ninja Warriors (dok. Pribadi)

Kolam pasir

Di bagian belakang, ada satu kolam pasir untuk anak-anak. Pasirnya bukan pasir beneran tapi pasir sintetis berwarna putih seperti salju. Di sini, perosotan mini dan juga ada playground mini untuk anak-anak bayi.  Di sini banyak mainan-mainan, seperti sekop, truk, dan lain-lain. Setelah keluar dari tempat ini, petugas akan meminta kita harus berdiri di atas tempat khusus dan membersihkan pasir-pasir yang menempel. Setelah itu baru boleh keluar.

Main pasir putih sintetis (dok. Pribadi)

Flying Fox

Bagi anak-anak yang suka petualangan tapi tidak berani terlalu ekstrem bisa mencoba flying fox sederhana itu. Tidak terlalu tinggi dan tidak jauh sehingga cocok untuk anak balita. Asalkan pegangannya kuat ya.. karena kita hanya menggantung di tempat tali.

Panjat tebing

Di bagian sudut Playlandia ternyata ada panjat tebing untuk dewasa dan anak-anak. Di bagian depan, dekat pintu masuk di sebelah kiri, ada panjat tebing sederhana untuk anak-anak di bawahnya berisi balok-balok dari busa. Kita bisa tidur-tiduran di situ. 

Panjat tebing sederhana dan balok busa (dok. Pribadi)

Sedangkan panjat tebing yang beneran itu di ujug dekat slides. Meski ada sekitar 4 atau 5 titik panjat tebing tapi yang antri lumayan banyak. Akhirnya, anakku gagal nyobain. 

Rope Adventure

Wahana permainan ini yang menurutku paling utama di Playlandia yang kudu dicobain, tapi memang terbatas dengan tinggi minimal 135 cm dan tinggi maksimal 185 cm. Berat minimal 20 kg dan maksimal 80 kg. Di sini pengunjung harus melewati tantangan yang berada di ketinggian dengan sistem keamanan yang terjamin. Tantangannya macam-macam sepertinya harus melewati jalan dengan memegang tali-tali yang menggantung, atau main seluncur tali. Yang takut ketinggian sepertinya harus pikir ulang kalau mau melewati ini. Hehehe.

Sebenarnya aku mau coba ternyata antrinya lumayan banyak dan lama. Yang antri pun duduk-duduk di pinggir lorong wahana. Kayaknya bakal lama dan ngga sempet waktunya.

Antri (dok. Pribadi)

Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak lagi wahana di Playlandia tapi hanya sedikitt yang aku ceritakan. Playlandia di Tunjungan Plaza ini merupakan playground terbesar di Surabaya. Playground ini dibangun dengan konsep bertingkat khususnya rope adventure yang memang menguji nyali pengunjung. Keamanan pengunjung diperhatikan dengan dipasang tali pengaman atau semacam seatbelt dan helm. Yang pasti ada berat minimal dan tinggi minimal. Konsep Playlandia ini bener-bener berbeda sama playground yang biasa aku kunjungi di Malang. Sekadang udah berkembang pesat banget. 
Read More
Salah satu destinasi wisata kota Solo yang wajib dikunjungi adalah Kampung Wisata Batik Kauman Solo. Saat aku berkunjung ke kampung batik ini, aku membayangkan bisa melihat proses pembuatan batik secara langsung. Kunjunganku kali ini sama seperti kunjunganku ke tempat wisata lainnya, tanpa rencana. 

Lucunya, kami keliling Solo kali ini tidak bawa mobil seperti biasanya, tetapi pinjam motor teman suami. Sebenarnya, dari sragen suami sudah ngajak bawa motor, tapi kan jauh bakal capek banget dan bisa bikin masuk angin. Akhirnya pinjam motor teman saja. Hehe.

Kami janjian di kampus UNS. Mobil kami pun parkir di UNS hihi. MaasyaAllah kalau enaknya punya teman dari komunitas yang sama.

Ketika ditanya kami mau ke mana, kami cuma bisa nyengir nggak jelas. Kami nggak punya tujuan kemana wkwk. Kami jawab saja keliling Solo. 

Sepanjang perjalanan, aku mikir mau kemana yaa.. Aku tahu kalau Solo itu khas banget sama batiknya. Meski beberapa kali ke solo, aku belum pernah mengunjungi kampung batik. Karena menurutku ke kampung batik itu identik dengan belanja-belanja kain atau baju batik. 

Justru aku tertarik pergi ke kampung batik itu melihat aktivitas pengrajin sedang membatik. Aku tidak berharap banyak sih setelah melihat di foto Google bahwa kebanyakan emang butik batik. Yah, daripada aku bengong mau ke mana akhirnya memutuskan untuk pergi melihat salah satu tempat wisata khas Solo itu. Biar aku tampak Indonesia banget gitu loh. Hehe

Kampung Batik Solo

Kampung Batik di Solo ini ada dua yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman Solo. Awalnya, aku mau ke Laweyan saja. Setelah melihat foto di Google, sepertinya lebih menarik pergi ke Kampung Batik Kauman Solo. Kalau mau pergi ke Laweyan pun sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi waktu itu sudah hampir sore, dan kami memilih untuk mengunjungi satu tempat wisata saja.

Kampung Batik Terkenal di solo
Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Kampung Batik Kauman Solo

Untuk menuju ke Kampung Batik Kauman Solo, kami melewati jalan utama Solo yaitu Jalan Selamet Riyadi. Sebenarnya bisa lewat jalan tembusan, aku sempat melihat bahwa jalan yang kami lewati itu tembus, tapi sama Google diarahkan jalan yang jauh, jadi kami muter-muter. Jalannya pun sempit. MaasyaAllah ini namanya naluri manusia yang hilang akibat terlalu percaya Google Maps. Hehe. 

Penanda kami telah tiba di Kampung Batik Kauman adalah kami melewati gerbang besi biru bertuliskan Kampung Batik Kauman Solo. Masih bermodal google Maps juga, hehe. Suami menghentikan motornya kemudian bapak parkir di sekitar kami mempersilakan kami parkir masuk di dalam. Untuk mobil tidak bisa masuk ke dalam jalan ini ya. 

Aku memilih berjalan kaki karena aku ingin menikmati setiap detail bangunan di kampung ini. Karena masih di awal-awal, masih tampak biasa saja. Lampu hias dipasang di dinding bangunan di sepanjang jalan. Vegetasi menjalar tumbuh menjadi peneduh jalanan di siang hari. Beberapa plang butik batik tampak di beberapa bangunan.

Di bagian awal-awal ini masih belum tampak aktivitas pengunjung kampung batik. Beberapa kali aku bertanya pada orang di mana Kampung Batiknya. Mereka menunjukkan arah di tengah kampung yang padat. Memang beberapa bangunan rumah sudah menjadi butik atau cafe dengan desain yang tetap selaras dengan khas Jawa. 

Kami terus berjalan. Sudah tampak pengunjung lainnya. Hampir tiap bangunan sudah berubah menjadi butik batik dan cafe. Bangunannya MaasyaAllah keren dan unik! 

Kami melewati butik plus cafe sebagai tempat parkir motor. Pengunjung berlalu lalang masuk keluar dari butik tersebut. Cafe tidak tampak ramai. Lampu remang menguatkan karakter cafe jadul tapi tetap apik, bersih dan rapi.

Kami berjalan kaki melewati gang rumah penduduk. Jendela-jendela kayu terbuka ke arah jalan menampakkan sedikit isi bagian rumah. Ada yang penjahit. Di sisi kanan, tampak rumah seperti telah lama tidak dirawat. 

Beberapa pengunjung perempuan berjalan berlawanan arah memakai pakaian khas Jawa dan sibuk mengambil sudut foto yang bagus. Perempuan-perempuan muda itu memang tak ingin melewatkan momen terbaiknya di Kampung Batik Kauman Solo. 

Butik Batik Gunawan Setiawan

Kami pun tiba di pertigaan yang ramai. Di kiri saya, bangunan berwarna putih menarik perhatian saya karena lebih mewah dibanding bangunan lainnya. Agak terkejut karena ada mobil terparkir di sana. Rumah itu pun juga ada tempat parkir mobil sementara rumah lain hampir tidak ada. 

Butik Batik Tulis Solo
Galeri Batik Gunawan Setiawan (dok. Pri)

Terasnya lebih tinggi dibanding halaman parkir mobil. Ada tangga untuk memasuki rumah. Pagar di teras rumahnya pun seperti rumah-rumah saudagar zaman dulu. Lampu hias menggantung di teras rumah. Lampunya yang remang-remang membuat rumah itu semakin eksotis.

Bagaimana tidak keren ternyata rumah itu dimiliki oleh pengrajin batik tulis tradisional yang terkenal di Solo dan sudah berdiri sejak tahun 1970an yaitu Gunawan Setiawan. Kerajinan batik Gunawan Setiawan ini diwariskan turun temurun. 

Dulunya, kain batik ini dikerjakan oleh putri-putri raja. Berjalannya waktu, batik-batik dikerjakan oleh masyarakat sekitar di Kampung Kauman. 

Di butik Gunawan Setiawan  menyediakan batik-batik tulis yang  berkualitas. Di dalamnya, kain-kain batik terpajang di ruang galeri. Di bagian samping bangunan, tampak petugas butik memperhatikanku yang sedang mengambil foto. Beberapa orang memasuki rumah batik itu. 

Oiya di dalam butik ini tidak boleh mengambil foto kecuali di tempat membatiknya.

Belajar Membatik di Solo

Branding sebagai kampung batik tak hanya tempat untuk membeli batik saja tetapi juga memberikan pengalaman unik bagi pengunjungnya seperti di Butik Gunawan Setiawan ini pengunjung bisa mencoba pengalaman seru dengan belajar membatik. Rasanya kurang afdol kalau ke Solo tidak belajar membatik. Tapi sayang aku tidak mencobanya. Hehe

Harga belajar membatik di sini ada dua paket. Pertama, paket dengan harga 55ribu tanpa dapat kopi. Sedangkan paket kedua harganya 70ribu.

Tetap hati-hati ya karena kalau tidak biasa, tintanya bisa mbleber kemana-mana, hehe. Yang paling tidak enak kalau sampai kena panasnya lilin. 

Tempat konten yang unik

Tak hanya untuk memasarkan produk batik tulis tradisional, di kampung Batik ini juga pengunjung bisa menikmati sajian di cafe, berfoto dan ngonten. 

Kampung Batik Kauman Solo
Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Banyak sekali pengunjung yang memakai baju kebaya warna-warni dan bermake up untuk mengambil foto atau video di lingkungan ini. Di sisi lain, sekitar lima orang berkumpul menggunakan baju kebaya jawa hitam dan jarik. Wajah yang dirias itu semakin menambah kesan wanita jawa modern. Entahlah apakah di kampung ini juga menyediakan tempat sewa baju kebaya atau mereka memang membawa dari rumah. Sungguh benar-benar niat. Memang sih jadi keren banget. 

Mereka berfoto di dekat jendela-jendela tua Jawa, di dekat kaca jalanan, di gang-gang sempit, di bawah payung-payung, atau di depan rumah Jawa. Meramaikan sudut-sudut kampung dengan tawa dan canda. Semua sudut kampung Kauman yang estetik cocok untuk dijadikan latar foto. 

Saya berfoto sejenak di dekat pintu jendela yang ditempel di dinding bertuliskan Batik Gunawan Setiawan. Setelah itu, ya, kami nggak ngapa-ngapain lagi. Haha.

Kampung Batik Kauman Solo
Spot Foto di Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Lanjut pulang, dan aku mengambil video footage anak motor ala ala gitu deh. Melewati dinding khas Jawa banget. Setelah itu, magrib tiba dan kami segera mencari makan malam, kuliner khas Solo yaitu Selat Solo.
 


Read More
Sebenarnya liburan-liburanku sebelumnya nggak jauh-jauh dari mencari ketenangan. Apakah kehidupanku betul-betul jauh dari ketenangan? Sebuah pertanyaan yang cukup mengusik hati.

Dibilang tidak tenang tidak juga, tapi hari-hariku cukup gedebak gedebuk. Dan ada beberapa jam akan terasa santai, lambat dan tenang ketika anak-anak tidur di saat aku tidak tidur. Tapi liburan itu memang seorang ibu tidak benar-benar libur. Hanya pindah tempat ngasuh aja. Bedanya nggak masak-masak aja. Hehe.

Selama di Yogya, selain mencari suasana yang tenang dengan pergi ke Hutan Pinus Mangunan, aku tidak mau melewatkan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (dok. Pri)

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta di Tengah Kota

Kalau tidak salah kami sudah selesai mengunjungi Taman Sari Yogyakarta, kami harus mencari masjid terdekat yaitu di Masjid Gedhe Kauman.

Masjid ini berada di dekat alun-alun Kraton Ngayogyakarta di Jalan Masjid Gedhe, Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Penentuan lokasi masjid Gedhe Kauman Yogya ini mengikuti konsep penataan kota-kota di Jawa di mana lokasi masjid berada di sebelah barat alun-alun (utara).

Kenapa harus ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta?

Sebenarnya banyak alasan kenapa aku pengen sholat di masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Dulu waktu tugas kuliah harus stay di Yogya selama seminggu, aku sebenarnya tidak terlalu mengingat apakah aku sholat di masjid ini atau tidak. Seingatku belum sama sekali. Jadi rasanya aku tidak ingin melewatkan sholat di sini selama beberapa hari di Yogya. 

Termasuk bangunan cagar budaya

Tapi tentunya karena masjid ini punya sejarah yang kuat. Masjid Gedhe Kauman Yogya telah melewati masa-masa sejarah Indonesia hingga ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya. 

Salah satu kriteria bangunan ditetapkan sebagai cagar budaya adalah jika usianya di atas 50 tahun. 

Karena waktu kuliahku dulu juga membahas tentang pelestarian bangunan bersejarah jadi rasanya kunjungan ke bangunan cagar budaya itu jadi wishlist. Aku tidak mau melewatkannya. 

Saksi Sejarah Kesultanan

Masjid Gedhe Kauman ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono 1 setelah membangun Keraton Yogyakarta sekitar tahun 1773 M. Di tahun tersebut, Indonesia masih dikuasai oleh kongsi dagang Belanda atau VOC.

Masjid tersebut dibangun tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat kebudayaan kraton.

Arsitektur Yang Keren

Ketika aku melewati gerbang masjid, dari jauh tampak atap masjid yang bertumpang tiga, hampir sama seperti masjid Sunan Ampel, dan memiliki ukiran yang khas Kraton Yogyakarta.

Seorang tukang sedang berdiri di depan atap berukiran berlogo Kraton Yogyakarta tersebut. Saat itu atap masjid sedang dalam renovasi dan dicat. 

Yang Keren di bagian puncak atap ada hiasan seperti mustaka begitu yang tak hanya bermanfaat menjadi penangkal petir. 

Di bagian depan masjid ini ada ruang terbuka yang luas dikelilingi oleh bangunan khas zaman dulu yang masih terawat. Beberapa pohon ditanam berjejer di pinggir ruang terbuka masjid.

Beberapa orang berlalu lalang keluar dan masuk masjid. Sebagian telah melaksanakan ibadah wajib.

Di depan masjid terdapat pagar tembok berlubang sehingga aktivitas di dalamnya tidak terlihat dari ruang terbuka. Ini bagus agar aktivitas akhwat tidak terlalu terekspos. 

Ketika masuk masjid, beberapa orang sedang melaksanakan sholat di serambi masjid yang tampak dari luar. Masjid ini hampir sama seperti masjid Jami' di Solo.  

Aku pun segera pergi ke tempat wudhu. Sayangnya tempat wudhu sedikit terbuka sehingga harus hati-hati agar tidak tampak oleh ikhwan.

Sebenarnya konsep tempat wudhu masjid ini masih menggunakan konsep jaman dulu di mana penampungan air diletakkan di tengah berbentuk lingkaran dan kran-kran mengelilinginya.

Di bagian serambi tampak pilar-pilar berhiaskan ukiran yang sangat khas. Warna emas lebih mendominasi pada ukiran atap dan pilar masjid. 

Atap serambi masjid yang atapnya penuh ukiran (dok. Pri)

Lampu-lampu hias masjid menggantung di atapnya membuat semakin mewah. Aku terpana meski hanya di serambi masjid.

Untuk memasuki serambi masjid, aku harus naik karena posisinya lebih tinggi dari tanah.

Aku tidak memasuki bagian dalam masjid. Saat itu aku melihat pintu masjid ke bagian dalam masjid sedang tertutup. Pintu masjidnya pun berukiran berwarna emas dan cokelat.

Di bagian atasnya, ada tulisan berjalan untuk memberi keterangan waktu sholat.

Di sekeliling masjid ini juga ada taman kecil tapi saat itu sedang direnovasi. 

Lampu-lampu khas seperti di Malioboro juga dipasang di pinggir taman masjid ini. Beberapa pak tukang sedang memperbaikinya. 

Anak-anak melewati jembatan kecil, bermain di taman yang sederhana. Beberapa orang masih duduk-duduk di serambi masjid. 

Garis Shaf Yang Berubah

Adakah yang mengikuti kisah KH. Ahmad Dahlan yang dulu pernah memberi tahu arah shaf sholat yang benar?

Shaf baru dengan garis hitam (dok. Pri)

Dan di masjid Gedhe ini juga tampak perubahan tersebut. Sangat jelas terlihat banyak garis berwarna hitam yang miring tidak sesuai dengan arah bangunan masjid. 

Ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmu KH. Ahmad Dahlan yang belajar di tanah Haram terus dirasakan oleh umat Islam sampai saat ini.

MaasyaAllah. InsyaAllah menjadi pahala jariyah beliau.

Kesimpulan

Alhamdulillah akhirnya aku bisa merasakan sholat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Tapi kalau dibandingkan dengan masjid-masjid yang pernah aku kunjungi, seperti masjid Pura Mangkunegaran, masjid Ar-Rahman, masjid Jami' Solo atau Masjid Al-Akbar, maka masjid Gedhe Kauman Yogya ini sangat khas banget ukirannya. Sebenarnya ada banyak makna dari tiap ukiran tersebut. Sayangnya nggak aku bahas karena pasti banyak banget. Sayang bangetnya lagi aku nggak lihat bagian dalam masjid yang tampaknya juga mewah. Mungkin kapan-kapan lagi aku harus sholat di masjid ini.

Read More
Hutan Pinus Mangunan
Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta (dok.pri)

Di tengah hutan Yogyakarta, tepatnya di Bantul, Hutan Pinus Mangunan menjadi salah satu destinasi wisata di Yogyakarta yang wajib kukunjungi. Sebenarnya bukan karena fasilitasnya tapi karena menatap kawanan pepohonan seperti melepas kerinduanku pada kehidupan masa kecilku di Kalimantan.

Bersama keluarga besar mertua, kami berangkat dari villa sekitar jam 10an. Berbekal Google Maps, perjalanan ke Hutan Pinus Mangunan melewati jalanan terabasan, tidak lebar, berlubang, dan berbukit. Jalanan yang tidak biasa dilewati oleh mobil. Dan mungkin hanya dilewati oleh orang-orang yang hanya memasrahkan diri pada arahan cantik operator Google Maps tanpa dikritisi.


Kami ramai memprotes arahan operator GMaps. Bersikukuh memilih jalan yang benar tapi driver kami tetap melanjutkan dengan pandangan yang tenang.

Sekitar setengah jam, kami kembali ke jalanan utama. Jalanan aspal yang lebih halus, lebih lebar dan lebih ramai. Legalah kami. Jalanannya naik dan turun karena kami memang akan berjalan menuju perbukitan.

Tibalah kami di daerah hutan-hutan yang penuh dengan pepohonan tinggi. Udaranya sejuk meski tidak sesejuk udara kota Malang. Sekitar satu jam kami tiba di wisata alam Hutan Pinus Mangunan. Banyak kendaraan yang berbelok ke arah tempat parkir di bawah pepohonan.

Di sebelah kanan jalanan tampak tulisan Hutan Pinus Mangunan, sebelah kiri tampak banyak mobil dan bus yang terparkir di bawah pohon pinus. Tulisan parkir terlihat jelas. Kami berbelok dan memasuki wilayah yang luas, yang banyak pepohonan dan berpasir.

Meski sudah menunjukkan pukul 11 lebih, siang itu tidak terlalu panas karena kami dilindungi oleh pepohonan yang banyak dan tinggi.

Daerah Ketinggian Yogya Yang Sejuk dan Teduh

Hutan Pinus Mangunan ini berada di desa Mangunan, kecamatan Dlingo, Kabupateh Bantul, DIY. Hutan Pinus ini berada di sekitar 200-300 mpdl karena itu udara di sana sejuk tidak seperti di pusat kota Yogya.

Untuk orang Malang yang terbiasa dengan udara sejuk mungkin lebih betah di daerah ketinggian ini. Oleh karenanya, pohon-pohon pinus hsia dptjmbuh di dataran yang tinggi ini.

Wisata Murah Meriah

Wisata alam di Yogyakarta ini bisa dibilang murah banget karena harga tiket satu pengunjung hanya tujuh ribu rupiah. Kedatangan kami yang rombongan memang meramaikan suasana tempat wisata. Loket yang kami datangi tampak bingung dengan kehebohan para krucil. Ia sibuk menghitung, kami pun sibuk menghitung. Kebayang kalau jadi guru TK ngurusin anak kecil banyak banget! Dah nyerah banget.

Setelah menghitung total jumlah tiket yang harus dibayar, anak-anak langsung berlarian di antara pepohonan.

Nge-charge Energi di Bawah Pepohonan Pinus Mangunan

Di depanku, tampak pepohonan pinus berbaris layaknya pasukan yang siap bertempur. Halah. Dedaunan yang hijau menyejukkan pandangan mata.

Efek kamera saja yaaa (dok.pri) 

Mungkin bagi sebagian orang merasa biasa saja memasuki salah satu tempat wisata alam yang viral di Yogyakarta. Tapi bagi aku, mengunjungi hutan pinus Mangunan seperti mengisi energi yang telah lama habis.

Anak-anak senang berlarian ke sana kemari. Aku rasa meski kontur tempat wisata ini menurun, tempat ini aman untuk dikunjungi semua usia. Jembatan-jembatan kayu dipasang untuk memfasilitasi pengunjung yang kesulitan melewati jalan yang menurun. Jadi tidak ada yang terpleset. Di jalur-jalur yang dibangun jembatan itu, juga ada tempat berfoto agar terlihat barisan pepohonan.

Ada apa di Hutan Pinus Mangunan?

Sebenarnya di sini tidak terlalu banyak fasilitas bermain seperti di Lawu Green Forest. Di sini lebih sederhana. Ada taman, studio alam, spot kapal, aula dan panggung. 

Di tengah-tengah tempat wisata ada amphitheatre terbuka dengan tempat duduk kayu yang berundak-undak. Di bagian depan terdapat seperti panggung alami tanpa kayu. Sebagian pengunjung duduk di kursi kayu itu untuk beristirahat, mengobrol, meski tidak ada pertunjukan di hadapan mereka.

Panggung dengan pola seperti amphitheatre (dok. Pri)

Di sisi lain, tempat mini outbound untuk anak-anak banyak diminati anak-anak. Ada jaring-jaring tali pendek. Pengunjung anak-anak senang hisa merasakan berjalan di atas tali simpul. Mereka harus berhati-hati jika tidak ingin kaki mereka masuk ke dalam lubang tali. Dari wajah mereka tampak ada rasa takut tapi juga penasaran ingin mencoba. Akhirnya mereka mencoba dan mengendalikan rasa takutnya.

Mini Outbond (dok. Pri)

Menikmati Makan Siang di Bawah Pepohonan

Para orang tua duduk menyaksikan anak-anak mereka bermain-main. Sekitar setengah jam berlalu, perutku terasa seperti ditusuk-tusuk. Dan tentu tidak cuma aku saja, keluagaku juga merasakannya. Memang ini waktunya jam makan siang karena sudah pukul 1 siang.

Mertua mengajak kami mencari tempat untuk makan siang. Kami pun duduk di tanah yang agak lapang dan agak rata. Alas duduk dihamparkan. Tempat-tempat makan yang diambil dari mobil diletakkan di atas alas duduk. Anak-anak sudah bermain di dekat kami.

Mereka menyusun potongan-potongan kayu yang ada di sekitar dan menumpuknya seolah-olah sedang membuat api unggun atau tempat memanggang hewan buruan, meski tak ada juga hewan buruan.

Setelah itu, kami segera makan dan menghabiskan makanan yang kami bawa. Alhamdulilah, perut kami terisi dan tidak lagi berbunyi hehe.

Sayang banget bagian ini nggak kefoto karena sudah terlalu lapar. Sudah tidak ingat mau ambil foto. Hehe.

Kesimpulan

Wisata ini memang cocok untuk pengunjung yang suka selfie atau wefie karena memang pohonnya secantik itu. Memang kurang wahana bermain untuk anak-anak dan hanya bisa untuk berlarian. Tempat ini cocok untuk kalian yang mau mencari tempat yang tenang dan membiarkan anak mengeksplorasi tempat sesukanya tanpa harus membatasi kreasi mereka. 
Read More
Kedatanganku kali ini ke Blitar, setelah sekian kali berkunjung ke Bumi Bung Karno itu, aku menikmati sore hari di Alun-alun Blitar. Sebenarnya banyak tempat wisata Blitar yang bisa dikunjungi, tapi rasanya kami sudah terlalu lelah untuk berwisata, apalagi waktu itu momen idulfitri. 

Alun-alun blitar
Aloon-aloon Blitar (foto Google/ Darsehsri)

Sore hari, kami duduk di masjid dekat Alun-alun Blitar, tempat hiburan dan kegiatan masyarakat Blitar. Biasanya kami menunjungi alun-alun kota Blitar saat siang hari. Tidak ada pedagang, tidak ada penyewaan mainan dan lain-lain. Karena kami tiba di sana sore hari, banyak sekali persewaan mainan yang begitu menggoda iman anak-anak dan  dompet ibunya.

Aku lupa atas momen apa akhirnya aku bermain di Alun-alun Blitar bersama anak-anak dan para keponakan. Kalau tidak salah lebaran idul Fitri 2026.

Anak-anak tentu saja excited karena diizinkan bermain di Alun-alun Blitar. Mbah Yanto sudah berjalan ke arah alun-alun dan diikuti oleh cucu-cucunya. Para cucu itu berlari mengeluarkan sisa tenaga mereka yang rasanya masih maksimal. Tidak ada kata lelah di kamus mereka sementara aku rasanya ingin rebahan. 

Mertua dan suami sedang berbincang-bincang di masjid. Dengan suara merengek, si kecil menarik tanganku memaksa untuk ikut kakak-kakaknya. Siapa yang tak tergiur melihat kakak-kakaknya berlarian di lapangan luas sementara dia cuma diam di masjid? Aku mencari alasan untuk menolak karena aku lelah tapi.. setelah kupikir-pikir tak ada alasan untuk menolak. Hmm.. akhirnya aku bilang ke si kecil ikut mbah saja. Ia pun berlari mengejar untuk menyusul mbah dan kakak-kakaknya.

Aku menunggu di masjid sambil melamun, menatap aktivitas orang, scroll medsos atau mendengar obrolan ringan mertua. Tapi lama-lama kok sungkan juga ya membiarkan mbahnya menjaga para cucu yang banyak terutama bayi 4 tahunku.

Aku pun beranjak melawan rasa malas, menyebrangi jalanan yang diekspansi para PKL dan parkir kendaraan. Tak ada kendaraan yang ngebut jadi aman menyeberangi jalanan. 

Sore itu, alun-alun Blitar di sore hari tampak menyenangkan di mata anak-anak, dan sedikit menakutkan bagiku hahaa. Karena membayangkan harus merayu anak-anakku agar tidak memilih semua mainan saja susahnya ya Allah.

Alun-alun Blitar

Aloon-aloon Blitar
Pintu gerbang Aloon-aloon Blitar (Foto Google/Tommy Yohannes)

Alun-alun Blitar ini berada di pusat kota Blitar yang dikelilingi oleh pagar dan memiliki gerbang utama di bagian depan. Meskipun dibatasi oleh pagar, masyarakat bisa menikmati alun-alun Blitar selama 24 jam. 

Sejarah alun-alun Blitar tidak lepas dari zaman penjajahan Belanda. Mungkin juga hampir di seluruh wilayah di Jawa, konsep alun-alun menjadi bagian dari unsur yang wajib dibangun oleh pemerintah kolonial sebagai tempat berkumpul masyarakat. Alun-alun Blitar telah dibangun sejak abad ke-19 sesuai dengan konsep tata kota tradisional Jawa dimana biasanya dikelilingi dengan pusat aktivitas seperti pusat peribadatan (masjid), pusat pemerintahan (pendopo/kantor bupati), pusat ekonomi (pasar), dan pusat keramaian atau penjara. Mungkin zaman dulu banyak yang dipenjara kali ya sampai dikatakan pusat keramaian? 

Alun-alun Blitar ini didesain memang sedikit berbeda dengan alun-alun kota lainnya. Di tengah ada 1 saja pohon Beringin yang di 'kurung'. Ternyata sebelumnya ada dua pohon Beringin yang tumbuh di tengah kemudian mati dan berganti pohon Beringin yang baru. Kenapa dikurung? Kalau katanya sih sakral. Tapi menurutku biar tidak dirusak aja dan tetap tumbuh hingga lama.

Kemudian terdapat pendopo di sisi lainnya untuk tempat melakukan kegiatan. Tanaman tumbuh di pinggirnya menutup jalan jalur pejalan kaki yang terbuat dari semen. Jalur ini bisa dibuat untuk olahraga pagi atau sore. 

Melihat kawanan burung Blekok

Yang paling unik, di sekitar alun-alun Blitar ada pepohonan tinggi besar yang biasa dihinggapi burung kuntul atau burung blekok. Burung-burung ini berwarna putih dan besar seperti di area tambak. Kawanan burung blekok ini bertengger di pepohonan semakin menambah suasana sore di alun-alun Blitar menjadi lebih menyenangkan seolah kita sedang duduk menikmati keindahan alam.

Burung kuntul atau blekok di alun-alun blitar
Kawanan Burung Blekok di Alun-alun Blitar (Jawa Pos/M. Luki Azhari)

Tempat Wisata Kuliner

Mungkin memang tidak sebanyak kuliner di sekitar alun-alun Jember, Alun-alun Kidul Solo  yang penuh dengan kuliner di sekitarnya. Tidak juga seperti alun-alun Malang yang jalan dikit udah banyak wisata kuliner Malang. Tapi semakin malam semakin banyak yang berjualan di pinggir alun-alun dan juga di depan masjid. Meskipun street food yang dijual standar saja bukan kuliner khas Blitar. Kalau mau kuliner khas Blitar bisa makan soto khas Blitar dengan mangkok kecil.

Tempat hiburan keluarga

Hampir sama di semua tempat di mana permainan anak-anak menjadi satu daya tarik pengunjung. Alun-alun Blitar menjadi menarik ketika ada banyak wahana permainan anak-anak meskipun kita harus mengeluarkan uang. Jadi siap-siap aja. Ada banyak macam sewa permainan dengan harga per permainan sekitar 10-25ribu.

Bisa bermain mobil-mobilan

Setelah mengejar anak yang terus berlari-lari di alun-alun, aku melihat kakak-kakaknya dan sepupu-sepupunya bermain mobil ATV, mobil remote atau motor-motor mengelilingi bunderan pohon. Kebanyakan mereka memilih motor-motor.

Karena rata-rata usia yang bermain di atas 7 tahun, jadi bayangkan aja banyak anak cowok sekitar umur segitu menaiki kendaraan bermotor. Jiwa pembalap yang sepertinya selalu dimiliki anak lelaki pun keluar. 

Wahana permainan di alun-alun blitar
Ngikutin anak keliling-keliling kayak lagi tawaf wkwkwk (dok. Pribadi)

Dalam sekejap, lintasan dari semen di alun-alun Blitar menjadi arena 'banter2an' alias cepet-cepetan untuk anak-anak cowok. Sampai si pemilik motor berteriak, "WEE OJOK BANTER-BANTER!!!" (Hei jangan kencang-kencang)

Aku pun melihat dengan perasaan takut. Ngeri banget. Ya termasuk anakku sih. Hihi. Tapi ada satu lagi yang kelihatan lebih gua dari anakku yang kenceng banget kalau nyetir sampai hampir nabrak kendaraan lain.

Setelah ditegur pemilik sewa mobil-mobilan menegur, situasi jadi aman terkendali.

Bermain layang-layang

Satu hal lagi yang menyenangkan buat anak-anak di alun-alun Blitar adalah ada penjual layang-layang beraneka model. Harga layang-layang kalau tidak salah 25ribu. Agak mahal sih karena memang ada modelnya, bukan cuma ketupat gitu.

Saat aku mendatangi mereka setelah selesai menemani si bayi keliling naik mobil-mobilan, anak-anak sudah berhasil menaikkan layang. Padahal anak-anakku nggak pernah bisa menaikkan layang-layang waktu main layang-layang di tanah lapang Surabaya dekat tol Pondok Chandra (Pokcan)

Meski angin tidak terlalu kencang seperti di dekat tol Pokcan, tapi layang-layang justru bisa terbang. Katanya justru angin yang tenang itu yang bisa menerbangkan layang-layang.

Berlarian sak kesel e!

Namanya anak-anak pasti bakal hepi banget kalau udah berada di lapangan yang luas. Kayaknya mereka nggak nduwe (punya) kesel. Hanya emaknya aja yang ngelihat mereka udah kesel. Tapi emang alun-alun jadi tempat yang aman untuk berlarian. Tanahnya berumput jadi kalau jatuh pun tidak terlalu sakit, meski nampaknya juga sakit. Hehe.

Alun-alun Blitar, Tempat Kumpul Keluarga

Sebenarnya tempat wisata Blitar ini cukup banyak apalagi Blitar kota masa kecil Bung Karno m dan juga makam Bung Karno. Tapi berkali-kali ke Blitar kami belum pernah ke Istana Gebang karena emang waktunya mepet sekali dan udah capek duluan. Mungkin lain waktu...
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower