Dari Selat Solo Sampai Sate Buntel, Kuliner Khas Solo yang Sayang Untuk Dilewatkan

1 comment
Setiap jalan-jalan ke Solo, seperti setelah aku mengunjungi kampung Batik Kauman Solo, aku tidak mau melewatkan mencicipi kuliner khas Solo. Banyak sekali kuliner khas Solo yang bisa kita coba, seperti Selat Solo, Sop Matahari, nasi liwet, sate buntel, tengkleng, dan lain sebagainya. Nah, biasanya karena Sragen lokasinya dekat dengan Solo jadi masih banyak warung makan yang menjual makanan khas Solo di Sragen. Tapiii rasanya beda sih. Aku ceritakan beberapa kuliner khas Solo yang patut dicoba jika kita hanya satu hari di Solo.

Kuliner Khas Solo

Ada banyak sekali kuliner khas Solo tapi yang aku tulis di sini yang selalu aku coba setiap ke Solo. Karena menurutku, rasanya yang pas banget di lidah dan khas Solo banget.

Selat Solo

Kuliner Solo satu ini emang khas banget, meski dari segi sejarah kuliner ini mendapat pengaruh dari Eropa. Dulunya orang Eropa yang masih menduduki Indonesia, khususnya Solo, biasa makan bistik sapi. Kemudian hidangan khas Eropa itu ditambah sayur dan kuah manis hingga jadilah seperti salad tapi ala Jawa. Ada juga yang mengatakan bahwa Selat berasal dari bahasa Belanda "Slachtje" yang artinya penyembelihan karena berasal dari daging sapi. Orang Jawa jadi ngomongnya Selat. 

Selat Solo di Warung Tenda Biru (Foto Google Anggraini)

Kalau kalian biasa makan porsi besar, maka seporsi Selat Solo ini pasti kurang karena Selat Solo tidak pakai nasi. Sama seperti makanan Eropa yang memakai kentang sebagai pengganti nasi. 

Seporsi Selat Solo ini terdiri dari potongan kentang, wortel, buncis, sayur selada, telor rebus kecap, daging stik, disiram dengan kuah yang gurih manis. 

Cita rasa Selat Solo ini hampir sama dengan sebagian besar makanan Jawa Tengah yang cenderung manis. Daging stiknya bisa berupa daging asli yang diolah dengan bumbu manis kecap atau biasanya ada yang pakai rolade daging. 

Meskipun rasanya manis tapi tetap ada gurihnya kok. Ada rasa pedas dari merica. Jadi bagi lidah yang lebih suka makan gurih pun nggak kaget dengan rasanya Selat Solo. Tetap bisa dinikmati. Di akhir artikel aku akan kasih tempat makan Selat Solo yang recommended yaa.

Sate Buntel

Sate Buntel ini juga jadi salah satu kuliner Solo yang wajib didatangi saat ke Solo. Sebab tak semua kota menjual Sate Buntel ini. Tentunya rasanya juga beda sih. 

Sate Buntel (Foto Google Banafsha Za)

Apa sih Sate Buntel itu? Sate buntel itu sajian khas Solo yang berasal dari daging sapi/kambing/ayam cincang yang diberi bumbu dilapisi lemak tipis kemudian dibentuk/dibuntel dililitkan pada tusuk sate. Kemudian dibakar. Di beberapa rumah makan, sate buntel ini dilapisi aluminium foil terus dibakar. 

Salah satu alasan lagi kenapa sate buntel jadi kuliner wajib saat di Solo adalah karena lebih mudah dikunyah daripada sate kambing yang dipotong-potong. Maklum kami sekeluarga ini memang agak susah makan sate kambing kalau nggak yang empuk banget. 

Dan menurutku sate buntel ini paling enak pakai daging kambing sih. Lebih sedap. Bau apa nggak? Menurutku sih nggak kerasa baunya meski aku makan di beberapa tempat. 

Di Solo, ada satu tempat makan Sate Buntel yang recommended yang aku akan ceritakan.

Rekomendasi Rumah Makan Kuliner Solo

Aku rekomendasikan dua tempat makan di Solo yang menyediakan kuliner khas Solo. Untuk makan Selat Solo bisa ke rumah makan Tenda Biru. Sedangkan untuk Sate Buntel bisa ke Sate Pak H. Kasdi.

Rumah Makan Tenda Biru Solo

Sebenarnya banyak rumah makan di Solo yang menyuguhkan Selat Solo, tapi aku lebih suka makan Selat Solo di Tenda Biru Solo.

Meskipun namanya Tenda Biru tapi sebenarnya Rumah Makan ini berupa bangunan permanen. 

Rumah Makan Tenda Biru Solo di Malam Hari (Dok. pribadi)

Saat kami ke sana setelah magrib, mobil-mobil antri masuk dan keluar dari rumah makan. Tampaknya sangat ramai malam itu. 

Kami menaiki motor pinjaman teman. Kami tidak perlu rebutan parkir. Di Tenda Biru memang tersedia tempat parkir mobil yang cukup luas jadi suatu waktu ke sini bawa mobil alhamdulillah selalu ada tempat untuk parkir.

Kami memasuki rumah yang cukup luas. Di bagian depan, kasir sedang melayani pembayaran dari pembeli. Aku mencari tempat yang kosong. Malam itu benar-benar ramai. Untung saja ada sedikit meja tanpa penghuni. Aku segera duduk.

Kami pun memesan Selat Solo. Sayangnya, menu yang akan kami pesan habis. Begitulah kalau berkunjung di malam hari selalu kehabisan. Akhirnya aku memesan menu lainnya. Aku lupa apakah pesan Sop galantin atau Sop Manten. Ah, sayang banget.

Menu Selat Solo Tenda Biru
Menu Tenda Biru (Foto Google Nia Naizi Zakaria)

Di Tenda Biru Solo ini juga menyediakan banyak menu makanan, mulai dari Selat Solo, Sop Matahari, Galantin dan berbagai macam menu lainnya.

Tapi dari semua menu, aku suka Selat Solo. Rasanya gurih meski manis. Kuahnya tidak terlalu kental. Kalau kalian yang suka makan banyak emang mending beli 2. Karena porsi Selat Solo ini untuk sarapan atau orang diet wkwkwk.

Sayangnya kehabisan Selat Solo jadi pesan Selat Galantin (dok. Pri)

Kalau nggak salah sih ini Sop Manten (dok. Pribadi)

Harganya pun bisa dibilang cukup murah. 

Kalau kalian ke sini saat jam 7 malam kemungkinan sudah banyak menu yang habis khususnya Selat Solo. Jadi saranku ke sini saat makan siang. Dan harus sabar yaa menunggu menu keluar karena emang seramai itu.

Sate Kambing Pak. H. Kasdi

Nah, kalau makan siang makan Selat Solo masih kurang, maka aku bisa mengenyangkan perut saat makan malam di Sate Kambing Pak H. Kasdi. Hehe. Sate yang berada dekat stasiun Balapan ini cukup terkenal. 

Sate Kambing Pak H. Kasdi (Foto Google Ricky)

Pertama kali aku datang ke Sate Kambing ini, waktu itu menjelang maghrib, hujan cukup deras dan antriannya mengular. MaasyaAllah. Kudu sabar banget antri sebanyak itu. Meski antrinya lama tapi pas udah giliran kita, makanan yang dipesan juga tidak lama datang. Karena biasanya mereka sudah menyiapkan hampir semua menu termasuk sate buntel bakarnya. 

Jadi saat sudah giliran antrian kita, kita akan ditanya berapa piring nasi. Sate buntel di piring sendiri. Kalau mau beli tengkleng atau tongseng pun bisa. Rasanya cenderung manis sih. Kuahnya kental dan sedap. Kalau aku mending beli sate buntelnya. Hehe.

Sate Buntel dan Sate Kambing (Foto Google Wahed)

Soal harga menurutku tak jadi soal karena harga sate buntel standar segitu dan memang rasanya enak. Tapi kalau antrinya panjang dan kalian udah lapar banget mending pikir-pikir lagi. Hehe.

Menu Sate Kambing Pak H. Kasdi (
Foto Google Hendro Sukarso)

Kesimpulan

Menurut aku kalau mau kuliner Selat Solo mending siang gitu kalau mau kesana biar nggak kehabisan. Kecuali kalau mau cari rumah makan lain juga banyak kookk. 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower