Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Pagi itu, asap mengebul dari pawon (dapur) rumah mbah. Pertanda bahwa bude belum selesai memasak. Aku masih asyik bermain di halaman rumah yang penuh dengan tanaman pangan. Ya, halaman rumah mbahku dari dulu memang digunakan untuk menanam segala macam tanaman pangan, mulai dari singkong, cabe, jeruk, dan sayur-sayuran untuk lalapan. Bude dan pakdeku lah yang menanam, memanen sampai mengolahnya.

Tak lama, Bude memanggilku untuk segera sarapan. Asap-asap itu mulai berkurang. “Ayo, Nduk. Ndang makan,” ujarnya. Aku yang masih asyik bermain tak menghiraukan panggilannya. Sampai akhirnya beliau menawariku makanan yang membuat aku menoleh. “Sama sego tiwul gelem ora? Wuenak iki dikasih gula.”

Sebagai anak kecil yang suka dengan sesuatu yang manis, tentu saja merespon tawaran itu. Tanpa melepas sandal, aku masuk ke ruang makan sekaligus dapur tanah yang masih menyisakan asap bakar dari tungku.

“Ini, Nduk.” Bude memberikanku sepiring tiwul berwarna cokelat yang dicampur dengan gula dan parutan kelapa. “Sego tiwul. Ndang makan. Mau makan nasi putih ya juga ada. Mau makan tiwul juga bisa.”


Tanpa pikir panjang, aku pun segera melahapnya. Suapan pertama, kedua, hingga akhirnya suapan terakhir. Rasanya manis dan gurih. Ternyata enak!

“Tambah, Bude!” ujarku. Semenjak itu, aku jadi suka tiwul yang dikasih parutan kelapa dan gula.

Bude pun memberiku sepiring tiwul, gula dan parutan kelapa. Aku pun makan lagi. Namun ada yang membuatku terkejut. Ternyata bude dan pakdeku makan sego tiwul ditambah lauk ayam, sambel, dan sayur lalapan. Rasanya aneh melihat orang makan sego tiwul sama lauk dan sayur. Yang kupahami, tiwul lebih enak untuk cemilan.

Tiwul yang selalu tersaji di meja makan

Di masa kecil bude pakdeku, juga bapakku, mereka sering makan sego tiwul daripada nasi. Singkong bisa ditanam di halaman depan rumah mereka, lebih mudah daripada harus menanam padi.

Sampai saat ini pun, setiap pulang ke rumah bude, nasi tiwul selalu tersaji di meja makan, selain nasi tentunya, yang kemudian dicampur dengan lauk dan sayur.


Ternyata, orang dulu sangat cerdas karena tidak bergantung pada beras, tetapi memanfaatkan pangan lokal yang ada.

Sebagai orang kota, aku sangat tergantung dengan beras. Belum disebut makan kalau belum makan nasi. Betapa tergantungnya diriku akan nasi.

Mengapa pangan lokal yang dulu begitu akrab dengan generasi sebelumnya, sekarang menjadi terasa asing dan tidak lagi menjadi pilihan menu utama dalam sebuah keluarga. Kita terbiasa menjadikan beras sebagai makanan pokok orang Indonesia, padahal kita punya pangan lokal lainnya yang mengandung karbohidrat.

Lain negara, lain kebiasaan dan lain pula sumber bahan pangan lokal. 

Ini kisah lainku di beda negara...

Hidup di Prancis, Memaksa Makan Selain Nasi

Suatu ketika, di musim dingin, sepulangnya kuliah, aku berjalan kaki menuju resto kampus. Aku tidak sempat memasak untuk bekal makan siang, jadi makan siang kali ini di resto kampus.

Sesampainya di sana, antrian cukup ramai. Aku mengambil makanan pembuka dulu. Kemudian, aku berdiri di depan menu makanan utama. Mataku memperhatikan satu per satu sajian di depanku. Petugas menunggu sambil memperhatikanku.

Ada mashed potato, ayam/ikan kuah krim, sayur tumis. Aku bertanya, “Apa tidak ada nasi?”

Dia menjawab, “Tidak ada.”

Mau tidak mau, aku mengambil mashed potato, ikan kuah krim, dan sayur tumis.

Menu makan siang di resto kampus (dok. Pribadi)

Aku pun mencari tempat duduk kosong. Aku pesimis. Bisa nggak ya makan tanpa nasi? Makan selesai dan aku kembali ke kampus. Rupanya, sampai pulang kuliah pukul 5 sore, aku justru kuat menahan cuaca musim dingin dan tidak cepat lapar. Wow. Ternyata dengan pola makan mengikuti orang lokal justru tubuhku bisa bertahan dari cuaca dingin.

Aku sadar bahwa setiap masyarakat punya kebiasaan pangan yang dipengaruhi kondisi alam, budaya, dan ketersediaan bahan pangan. Semenjak itu, mindsetku berubah. Makanan pokok itu tidak harus nasi. Jika tidak ada nasi, sumber karbohidrat lainnya, seperti roti, kentang, singkong, ubi, roti dan lain-lain, bisa menjadi alternatif pengganti nasi yang tergantung dengan daerah masing-masing. Tentunya, lauk dan sayur tetap menjadi pendamping karbohidrat.

Dari Gambut ke Meja Makan: 

Apa Hubungan Lingkungan dan Pangan?

Kenapa beras bisa menjadi makanan pokok Indonesia?

Awalnya, orang Indonesia zaman dulu, sebelum beras menjadi makanan pokok Indonesia, masyarakat lokal banyak mengonsumsi sumber karbohidrat lain, seperti sagu, umbi-umbian dan jagung. Bukan beras, roti apalagi gandum. Ya, karena memang tanahnya Indonesia lebih cocok dengan tanaman pangan tropis.

Dan beras sendiri berasal dari Tiongkok yang dibawa ke Indonesia saat pedagang dari Tiongkok dan India datang ke Indonesia sekitar 2000 tahun silam. 


Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, beras menjadi makanan kaum bangsawan dan raja. Kemudian ketika masa orde baru, Soeharto menggalakkan program pencetakan sawah baru hingga ke timur Indonesia hingga mencapai swasembada beras 1984. Meski setelah itu, Indonesia gagal mempertahankan swasembada beras. Indonesia terus mengimpor hingga tahun 2025.

Dari tahun 2025 hingga saat ini, Indonesia memang tidak lagi impor beras dalam jumlah besar. Menurut Badan Pangan Nasional, stok beras nasional masih cukup hingga 10,8 bulan mendatang.

Hutan Gambut Rusak Rawan Terhadap Karhutla

Masalahnya, yang jadi polemik adalah sejak kasus cetak sawah di beberapa wilayah di Timur Indonesia, khususnya Merauke (Papua), telah menghilangkan hutan tempat masyarakat mencari sumber pangan lokal. Masyarakat tidak lagi makan sumber pangan lokal mereka, seperti sagu, dan tidak lagi berburu, tetapi mengonsumsi beras yang harus mereka beli.

Di tahun 2022, hutan-hutan yang hilang untuk proyek ambisius food estate itu seluas hampir 3.000 hektare atau setara 4.207 lapangan bola. Di Kalimantan Tengah, lahan food estate terbengkalai dan selalu terbakar. Saat ini, Merauke, Papua Selatan, yang juga terdapat proyek food estate and energy pun mengalami kebakaran hutan.


Di Kalimantan Tengah, lahan untuk food estate itu dibangun di atas tanah eks PLG (Proyek Pengembangan Lahan Gambut). Saat ini, banyak hutan gambut rusak untuk pembukaan lahan perkebunan baru. 

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau dan Papua Selatan, saat ini sebagian besar berupa lahan gambut, yang sudah dikeringkan akibat kanalisasi untuk ditanami tanaman perkebunan. Api menjadi susah dipadamkan karena terperangkap di lapisan bawah tanah gambut.

Kanalisasi pada lahan gambut 

Menurut Kak Yoga dari Pantau Gambut saat aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad yang berjudul “Dari Gambut ke Meja Makan: Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan”, kanalisasi berlebihan telah merusak daya dukung hidrologis gambut di mana kanalisasi dilakukan setelah pembukaan lahan.
 

Kandungan air yang ada dalam tanah gambut akan keluar menuju ke kanal hingga membuat tanah gambut kering, rusak, dan rawan terjadi kebakaran. Kondisi gambut yang sudah rusak dan rawan kebakaran itu diperparah lagi dengan kondisi El Nino.

Dari total 24,2 juta hektar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia, sekitar 16,4 juta hektar diklasifikasikan memiliki kerentanan kebakaran tingkat tinggi hingga sedang (Peatland Fire Alert, 2023). 

Sekitar 43% (kira-kira 10,3 juta hektar) diklasifikasikan memiliki kerentanan banjir tingkat tinggi hingga sedang (Drowned Peatland, 2025). Beberapa kali petani mencoba menanam padi dengan bibit varietas yang diberikan pemerintah di tanah gambut selalu gagal karena tanah yang selalu banjir.

Dampak kerusakan lahan gambut pada ekosistem

Hutan gambut itu penyimpan karbon raksasa untuk mencegah krisis iklim. Saat hujan, lahan gambut menjadi pengatur tata air yang menyerap air hujan dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan saat kemarau. 

Dengan begitu, di sekitar lahan gambut tidak akan mengalami kebanjiran saat musim hujan dan tidak mengalami kekeringan dan kebakaran hutan saat musim kemarau. 

Sayangnya, banyak lahan gambut yang rusak dan berdampak buruk bagi ekosistem. Kanalisasi atau pengeringan secara besar-besaran merusak biodiversitas tanah dan flora-fauna, memicu degradasi serta kebakaran.

Gambut juga menjadi ekosistem bagi berbagai spesies unik yang terancam punah seperti orangutan dan harimau. 

Masyarakat lokal menggantungkan hidupnya pada lahan gambut, seperti untuk aktivitas perikanan, hasil hutan non-kayu, dan pertanian masyarakat lokal yang dikelola secara bijak.

Lahan gambut memiliki lapisan mineral pirit (FeS2). Saat masih terendam air, pirit tidak akan memberikan dampak bagi sekelilingnya. Tapi ketika terjadi kanalisasi, dimana air gambut mengalir ke kanal yang dibuat manusia, lahan gambut menjadi kering. 

Saat itu, mineral pirit akan teroksidasi atau bersentuhan dengan oksigen. Oksidasi pirit ini akan menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida membuat tanah menjadi asam dengan pH 2-3. Tanah yang asam ini ikut larut ke kanal dan sungai besar sehingga air menjadi lebih asam dan tanaman serta binatang di sungai bisa keracunan.

Konversi lahan gambut menjadi perkebunan dapat menghilangkan vegetasi alami, habitat satwa, memperparah emisi karbon, dan menghilangkan mikroorganisme dalam tanah hingga kesuburan tanah berkurang.

Satwa liar, seperti orang utan, kehilangan habitatnya. Kadang mereka memasuki perkampungan. Tidak sedikit juga kesehatan satwa liar terganggu karena asap kebakaran.


Belum lagi asap kebakaran berdampak bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat bahkan anak kecil yang mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Aktivitas masyarakat terhambat karena asap. Tidak bisa sekolah dan bekerja.


Tumbuhan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat juga berpotensi hilang karena gambut terbakar.

Gambut itu bukan lahan kosong yang tidak punya manfaat. Justru lahan gambut menjadi ekosistem penopang kehidupan dan memiliki fungsi ekologis penting.

Menjaga Biodiversitas, Menjaga Ketersediaan Pangan

Lahan gambut menjadi habitat biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Ketika lahan gambut rusak, maka flora dan fauna pun hilang. Padahal flora dan fauna tak hanya penting bagi ekosistem lainnya tetapi juga keberlangsungan hidup manusia.

Beberapa jenis tanaman pangan di lahan gambut yang bisa tumbuh seperti sagu, padi dengan varietas lokal, jagung dan kedelai, ubi, talas, nanas. 

Tanaman tersebut cocok tumbuh di ekosistem rawa gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi, mampu beradaptasi pada lingkungan basah, tanpa merusak kondisi lahan.

Menjaga biodiversitas di tanah gambut bisa dilakukan dengan pengelolaan tanaman gambut yang ramah gambut agar kelestariannya terjaga, misalnya dengan pengaturan tata air tanpa harus mengurangi kandungan air dalam tanah, koreksi keasaman dan hara dan sistem paludikultur tanpa melakukan pengeringan.

Dengan pengelolaan penanaman yang sesuai, ketersediaan pangan akan tetap terjaga dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Ketika lahan gambut rusak, maka ketersediaan pangan pun berkurang. Contohnya ketika di Merauke, adanya proyek Food and Energy Estate yang mengalihfungsikan hutan gambut menjadi perkebunan membuat masyarakat kehilangan sumber pangan lokal dari hutan tersebut. Dulu, mereka biasa makan sagu, ketika hutan terbabat habis, tanaman sagu berkurang, mereka pun beralih dari sagu ke beras.

Banyak kejadian anak-anak mengalami gizi buruk dan stunting di Papua karena tidak cukup asupan gizi akibat pembabatan hutan yang menjadi sumber pangan lokal mereka.

Tanpa sadar, gastrokolonialisme terjadi di negeri ini. Gastrokolonialisme adalah bentuk penjajahan atau dominasi lewat sistem pangan, di mana kekuatan korporasi besar atau sistem global merusak dan mengikis pola makan serta budaya pangan lokal, lalu menggantinya dengan ketergantungan pada produk impor, pangan olahan, atau komoditas seragam.

Gastrokoloanialisme ini membuat kita tergantung pada satu jenis komoditas. 

Ketika terjadi krisis ekonomi, bencana alam, atau kelangkaan bahan pokok, mungkin masyarakat akan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.  

Jika kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas saja, ketahanan pangan keluarga lebih kuat dan stabil.

Itulah pentingnya kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas, misal beras saja atau sagu saja. Dengan adanya diversifikasi pangan, maka kita tidak akan tergantung pada kelangkaan bahan pangan pokok, keragaman gizi semakin tinggi, tubuh tetap terjaga kesehatannya. Tentu saja dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung ekonomi petani lokal.

Diversifikasi pangan juga bisa menstabilkan ekosistem pertanian yang bisa memutus rantai penyebaran hama dan penyakit dengan pola tanam campuran atau rotasi. Ketika sistem perakaran bervariasi maka struktur tanah dan penyerapan air bisa menjadi lebih baik. Erosi juga bisa dicegah.

Dengan keragaman pangan, saat satu jenis tanaman gagal akibat anomali iklim, jenis tanaman lain yang lebih kuat bisa bertahan.

Mengenali Pangan Lokal, Umbi-umbian Sebagai Alternatif Nasi

Nasi bukalah satu-satunya sumber karbohidrat. Indonesia memiliki alternatif pangan lokal yang menyimpan potensi gizi. 


Banyak sekali sumber karbohidrat lokal yang bisa tumbuh di sekitar kita, misalnya singkong, ubi jalar, kentang, talas, kimpul, gembili, ganyong, garut, dan lain sebagainya. Setiap tanaman tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari bentuk fisik, cara penanaman, umur panen, begitu juga cara pengolahan.


Umbi-umbian bisa menjadi dari keragaman pangan karena kandungan yang ada di umbi-umbian tidak dimiliki pada makanan pokok kita saat ini yaitu beras. Tak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga mengandung vitamin, mineral dan fitonutrien yang berbeda dengan nasi. Ternyata indeks glikemik umbi-umbian juga lebih rendah dibanding nasi. Dengan begitu, energi bisa bertahan lebih lama. Kandungan serat pangan juga lebih tinggi sehingga bagus untuk pencernaan dan menjaga kesehatan usus.

Bahkan pati dari umbi-umbian singkong atau talas tidak mengandung gluten sehingga aman dan sehat bagi pencernaan, khususnya yang mengalami masalah medis tertentu.

Dengan konsumsi umbi-umbian, kita dapat mmutus ketergantungan masyarakat pada satu jenis komoditas pangan lokal utama. Indones

Bahan Pangan Lokal yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim bisa mengancam tanaman pangan utama dari kekeringan seperti padi sehingga eksplorasi tumbuhan lokal ini diarahkan sebagai alternatif pangan lokal selain padi. Tentu saja, tumbuhan asli daerah memiliki adaptasi alami yang kuat terhadap kondisi cuaca ekstrem setempat. Tidak mungkin jika Indonesia ditanami gandum dan Prancis ditanami padi. Hehehe.

Sistem pertanian yang hanya ditanami satu jenis komoditas atau monokultur sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat cuaca ekstrem sehinga eksplorasi tanaman lokal diintegrasikan ke dalam sistem agroforestri.

Kondisi tersebut tentunya menuntut kita membekali diri pengetahuan tentang tanaman lokal yang bisa dimakan, cara budidaya, cara budidaya, musim panen dan pengolahannya untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Kita bisa memanfaatkan pekarangan rumah atau ruang yang tersisa di rumah untuk menanam sayur atau tanaman pangan mandiri.

Di sini, aku tidak menunjukkan memilih varietas tumbuhan atau cara menanam, tetapi eksplorasi pangan lokal yang mampu bertahan hidup dengan suplai air yang minim, tidak mudah gagal panen meski cuaca ekstrim dan memiliki sistem imun alami yang kuat dari hama.


Menurut beberapa penelitian, singkong menjadi tanaman yang mampu adaptif terhadap perubahan iklim, tumbuh di mana saja, tahan kekeringan, dan tidak mudah hancur oleh hujan deras. Uniknya, ternyata Indonesia menjadi salah satu produsen singkong terbesar di dunia, setelah Nigeria, Republik Kongo, Thailand dan Ghana.

Singkong, Kaya Karbohidrat Pengganti Nasi

Dulu, mohon maaf ni, bukan maksud merendahkan, aku mengira orang yang makan singkong itu seperti orang yang kesulitan membeli beras, sehingga mengonsumsi singkong yang ada di kebun mereka adalah solusi terbaik. 

Sekarang, setelah aku belajar banyak, ternyat opiniku salah besar. Justru orang dulu itu cerdas, mereka bisa memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok mereka tanpa tergantung beras. Ternyata kandungan karbohidrat singkong lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasi putih dalam berat yang sama:
- Singkong (per 100 gram): Mengandung sekitar 38 gram hingga 40 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 112–160 kkal).
- Nasi putih (per 100 gram): Mengandung sekitar 27,9 gram hingga 28,5 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 129 kkal).

Mungkin untuk pelaku diet, bisa mengurangi porsinya. Sementara untuk anak-anak yang mengalami stunting atau gizi buruk, singkong bisa menjadi salah satu sumber gizi selain beras.

Justru sekarang ini, akhirnya kita terlalu tergantung pada beras, termasuk aku juga, singkong bukan lagi sumber pangan utama masyarakat Indonesia dan menjadikan singkong adalah teman cemilan. Padahal zaman sejak dahulu, singkong menjadi salah satu pangan pokok di Indonesia, setidaknya yang terlihat pada keluargaku di Jawa.

Nasi Tiwul, Olahan Singkong Favorit

Terus terang, aku tidak pernah dan tidak bisa masak tiwul seperti budeku. Aku hanya tahu sekilas bagaimana bude membuatnya.

Prosesnya membuat tiwul cukup panjang. Singkong dijemur sampai berwarna kehitaman. Oiya, nasi tiwul yang dibuat budeku itu berwarna kehitaman. Sedangkan yang biasa aku beli berwarna kecokelatan.


Perbedaan warna ini tergantung berapa lama penjemuran yang dilakukan. Semakin lama proses penjemuran atau proses fermentasi alami sehingga warna singkong berubah menjadi kehitaman. 

Biasanya tiwul yang berwarna hitam ini aroma singkongnya lebih kuat, rasanya sedikit pahit, dan teksturnya lebih kasar. Beda dengan tiwul berwarna cokelat yang memiliki rasa lebih manis, lebih umum dan mudah dijumpai di pasar.

Cara mengolah tiwul ini memang butuh kesabaran karena prosesnya cukup lama. Salut banget sama orang dulu yang masih mengolah singkong jadi tiwul untuk konsumsi pribadi. Setelah singkong dikupas dan dipotong, kemudian dijemur hingga kering (disebut gaplek). 

Gaplek, singkong yang dijemur

Biasanya bude menjemurnya sampai berwarna kehitaman. Setelah itu, gaplek ditumbuk hingga halus, diperciki air sambil diaduk sampai menjadi butiran kecil. Jika sudah menjadi butiran kecil, adonan dikukus hingga matang (biasanya sampai 15-20 menit.

Nasi tiwul bisa disajikan dengan berbagai macam sajian, seperti jika tiwul manis maka ditambahkan gula dan parutan kelapa. Jika dengan lauk, maka tiwul menjadi pengganti nasi, tinggal ditambah lauk, sayur dan sambal.

Tradisi dan Pengetahuan Lokal sebagai Penjaga Biodiversitas Pangan

Jika di Jawa terkenal dengan tiwul, maka di Cimahi terkenal dengan beras singkong atau dikenal dengan rasi. Rasi ini sudah ditetapkan sebagai warisan tak benda karena memiliki sejarah yang panjang dan sudah menjadi bagian dari komunitas adat di Cireundeu. Bahkan sampai saat ini, sekitar 60an keluarga di Kampung Cireundeu masih mengonsumsi rasi yang lebih cepat mengenyangkan daripada beras.

Beras singkong atau Rasi dari Cimahi (sumber: travelingyuk.com)

Sejak 2019, Cireundeu ditetapkan sebagai kampung wisata. Para perempuan kampung Cireundeu mengembangkan sentra oleh-oleh dengan menjual berbagai produk olahan singkong.

Di zaman dulu, rasi menjadi sebuah simbol perlawanan masyarakatnya terhadap Belanda karena saat itu pemerintah kolonial Belanda mengambil hasil bumi rakyat Indonesia agar pribumi kelaparan dan tidak bisa melawan penjajah.

Ternyata ngeri banget nggak, sih?! Aku jadi merasa takut, jangan-jangan salah satu cara agar generasi saat ini tidak mampu melawan ‘penjajah modern’ adalah dengan mengintervensi sumber pangan lokal mereka.

Nah, saat itu, pemimpinnya menyerukan kepada warga untuk mencari alternatif pangan pengganti beras di tengah krisis pangan. Mereka membuat beras dari singkong agar tetap bisa bertahan dari kelaparan. MaasyaAllah. Keren banget ternyata mereka sudah punya kearifan lokal dari dulu yang harusnya bisa ditiru.

Namun, sayang, pembangunan kota semakin berkembang menghilangkan perkebunan singkong mereka. Petani singkong semakin sedikit. Akibatnya, warga mengajukan permohonan diterbitkannya peraturan tentang hak ulayat masyarakat adat Cireundeu, Cimahi. Dengan begitu, kawasan kampung adat tidak semua dialihfungsi menjadi bangunan tetapi ada bagian yang harus dijaga seperti Hutan Larangan, Hutan Tutupan, Hutan Baladahan dan untuk permukiman.

Seperti di Papua, hutan yang hilang akibat Food and Energy Estate menyebabkan masayrakat kehilangan sumber pangan lokal dan berpengaruh pada ketahanan pangan keluarga yang stabil.

Kembalikan Keragaman Pangan ke Meja Makan

Setelah tinggal di Prancis, menguatkan pandanganku bahwa makanan pokok tidak harus nasi. Dan semakin menguat ketika aku melihat budeku selalu menyediakan nasi tiwul. 

Dulu, aku mengira kebiasaan menyiadakan tiwul di rumah bude hanyalah untuk memenuhi pangan sehari-hari. Ternyata tidak sesederhana itu, setelah aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad, Pantau Gambut dan Nusantara Food Diversity, pandanganku berubah. Dengan menjaga lahan gambut dari karhutla, berarti juga menjaga keberagaman sumber pangan lokal.

Masyarakat lokal maupun komunitas adat memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Mereka punya hak dan suara dalam menjaga tanah dan hutan mereka. Kita harus menghormati hak masyarakat adat atas pengetahuan, wilayah dan sumber daya yang mereka miliki. Karena ternyata melibatkan masyarakat lokal atau adat dalam pelestarian pangan lokal berkaitan dengan sejarah dan tradisi budaya.

Kita sebagai orang tua mungkin bisa melakukan langkah kecil dengan mengenali apa yang tumbuh di sekitar tempat tinggal kita atau membeli hasil panen lokal yang ada di pasar tradisional, mengolahnya dan mengenalkannya kepada anak-anak.

Anak makan nasi tiwul dan parutan kelapa, ibu makan nasi tiwul plus lauk (dok. Pribadi)

Referensi:

https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/63a135d01ffda/sejarah-impor-beras-indonesia-sejak-era-1950-an

https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/06997f04a7db92466a2baa6ebc8b872d

https://mongabay.co.id/2022/07/04/singkong-tanaman-ajaib-yang-adaptif-terhadap-perubahan-iklim/

https://disarpus.wonogirikab.go.id/wonogiripedia/nasi-tiwul-wonogiri

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3g88pp31xyo
Read More
Perempuan-perempuan itu memang tak pergi jauh seperti para lelaki pesisir Raja Ampat yang menempuh puluhan kilometer ke tengah laut untuk menangkap hasil laut. 

Para lelaki tinggalkan keluarga mereka berhari-hari demi mendapatkan hasil laut. 

Perempuan-perempuan itu harus bisa bertahan hidup ketika suami mereka meninggalkan mereka selama beberapa hari. 

Mereka lebih banyak beraktivitas di sekitar kawasan mangrove dan di darat.

Eco Lodge di Kampung Friwen, Raja Ampat (sumber: TripAdvisor.com)

Ketika Mangrove Mulai Menghilang...

Bagi mereka, hutan mangrove adalah nadi kehidupan mereka yang terus berdenyut. Namun, denyut-denyut itu melemah memberikan sinyal ancaman untuk keberlangsungan hidup mereka semenjak Raja Ampat menjadi wilayah otonom sendiri di tahun 2003 hingga berkembang menjadi kawasan pariwisata mulai tahun 2009. Hutan mangrove di Raja Ampat pun mulai mengalami degradasi setelah bertahun-tahun kemudian menjadi kawasan pariwisata

Padahal mangrove bukan hanya sekadar hutan pesisir. Mangrove berperan sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota laut, dan sumber pangan dan penghidupan bagi masyarakat. 
Menjaga mangrove berarti menjaga ketahanan pangan, keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Resort dan penginapan yang berdiri di atas air laut sebening kaca di pesisir Raja Ampat itu dibangun dari kayu-kayu mangrove. Para turis domestik maupun mancanegara bisa dengan nyaman tinggal di dalamnya. Para perempuan Raja Ampat cukup menyadari bahwa hutan mangrove mulai mengalami kerusakan.

Kenapa mangrove jadi napas kehidupan?

Semua ini bermula dari kisah suku Biak di pulau Supiori yang melakukan perjalanan ke Raja Ampat. Rupanya, sejak abad 14, Suku Biak telah mengenal dan mengkonsumsi mangrove. Kearifan lokal pada gastronomi mereka tampak dalam penyimpanan mangrove mentah selama 10 tahun. Ketika akan mengkonsumsinya, mereka akan mengambil secukupnya dan mengolahnya.

Sementara buah dari mangrove jenis lindur (Bruguiera gynnorhiza) yang dikonsumsi untuk bekal perjalanan jauh antar pulau itu menjadi warisan gastronomi turun-temurun karena sifatnya yang sangat awet meski telah diolah. 

Buah mangrove jenis lindur/aibon cocok untuk tepung mangrove, stik mangrove dll

Buah bakau ini menjadi sumber karbohidrat alternatif yang penting sebagai pengganti ubi atau sagu ketika sulit didapatkan.

Bagi mereka, mangrove menjadi bukti ketahanan pangan mereka. Mangrove telah menjadi napas kehidupan mereka. Sampai saat ini pun, masyarakat pesisir masih menjadikan mangrove sebagai sumber bahan pangan mereka.

Mangrove memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai perlindungan ekosistem juga sebagai sumber pangan lokal. Ketika hutan mangrove mereka terjaga maka sumber pangan mereka juga terjaga.

Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan

Menurut Wawiyai Steve, narasumber Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), saat webinar bersama Eco Blogger Squad bersama TAF (The Asia Foundation) dan PKPRA, kerusakan mangrove di tahun 2019 sudah mencapai 57%. 

Wilayah Mangrove Raja Ampat yang Mengalami Perubahan

Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu mangrove untuk pembangunan penginapan atau resort. Ini menjadi tantangan besar sebab Raja Ampat merupakan pulau karst sehingga hutan kayu tidak bisa tumbuh. Mereka pun menggunakan kayu mangrove untuk pembangunan.

Inspirasi dari Suara Perempuan Raja Ampat

Di balik keindahan Raja Ampat, ternyata kawasan pesisir Raja Ampat tersebut menyimpan permasalahan lingkungan yang berdampak bagi masyarakatnya, terutama para perempuan Raja Ampat.

Dalam tiap permasalahan, hukum adat berperan penting. Menurut hukum adat, para perempuan ini tak punya kuasa untuk memutuskan terhadap pengelolaan sumber daya alam.

Kira-kira bagaimana kaum perempuan ini menyikapi hukum adat yang melekat dalam kehidupan mereka?

Hukum adat bukan berarti tidak melibatkan perempuan pada tanah yang mereka pijak. Dari cerita Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, para perempuan Raja Ampat khususnya di kampung Friwen dan Yenbesser memberikan inspirasinya dalam restorasi mangrove.

Mari kita simak inspirasi ketahanan pangan dari para perempuan Raja Ampat.

Keberanian bersuara dari Perempuan Raja Ampat

Keputusan memang di tangan para laki-laki, namun para perempuan juga punya hak suara yang harus didengarkan. 

Yang menjadi inspirasi perempuan Raja Ampat di sini adalah keberanian bersuara atas permasalahan lingkungan di kampung mereka. Tidak semua orang mau dan berani dalam menghadapi masalah lingkungan. 

Diskusi-diskusi pun dilakukan antara laki-laki dan perempuan dan menghasilkan keputusan bahwa mereka membagi ruang kelola kelompok laki-laki dan perempuan. Pada akhirnya, kelompok perempuan menjadi kelompok yang dominan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan mangrove.

Peka dan peduli terhadap masalah lingkungan

Tidak semua orang mau peduli dengan masalah kerusakan lingkungan yang ada di sekitarnya. Namun, para perempuan di Raja Ampat ini cukup peka dan peduli terhadap degradasi hutan mangrove yang menjadi sumber pangan mereka. 

Ikut terlibat dalam perlindungan mangrove

Keterlibatan masyarakat Friwen dan Yenbesser dalam perlindungan mangrove menjadi inspirasi bagi kita semua. Hasilnya terasa ketika masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut berperan aktif dalam pengelolaan dan pengawasan mangrove sejak tahun 2019.

Beberapa kegiatan masyarakat dalam merestorasi mangrove adalah melakukan :

Pembibitan, persemaian dan penanaman di kawasan yang mengalami kerusakan

Para perempuan di Raja Ampat ini ikut terlibat dari pembibitan hingga penanaman kembali mangrove.

Pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dalam peningkatan ekonomi masyarakat.

Masyarakat mengidentifikasi jenis mangrove yang nantinya akan diolah menjadi bahan pangan lokal.

Jenis mangrove yang bisa diolah dari jenis Bruguiera gynnorhiza. Bagian mangrove yang diolah adalah buahnya (aibon) memiliki nilai ekonomi yang dapat dijual bagi wisatawan. Dengan begitu, produk hutan mangrove dari kayu bisa berkurang.

Aibon yang sudah dikeringkan (IG Kawan Pesisir)

Menciptakan ketahanan pangan memang perlu dilakukan pelatihan-pelatihan agar para perempuan di Friwen dan Yenbesser ini mampu berinovasi terhadap bahan pangan lokal. 

Para perempuan ini membuat berbagai macam produk mangrove, seperti tepung mangrove, kukis mangrove, mie mangrove, sirup mangrove, madu mangrove dan lain-lain. Produk mangrove tersebut dikemas untuk dijadikan produk yang ditawarkan pada wisatawan di Raja Ampat.

Pangan lokal Raja Ampat: mie mangrove, kukis mangrove dan kripik mangrove 

Mereka membuat kegiatan pelatihan gastronomi yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengembalikan resep orang tua yang mulai hilang.

Mama-Mama Papua di Raja Ampat Mengolah Pangan Lokal (IG Kawan Pesisir)

Harapannya, produk pangan lokal ini bisa menjadi ketahanan pangan masyarakat Raja Ampat.

Cerita unik ketika Bupati Raja Ampat mencoba produk mangrove, ia menangis. Ternyata beliau teringat masa kecilnya yang tinggal di kawasan mangrove dan terbiasa dengan konsumsi produk mangrove. Sayangnya, saat ini cita rasa produk mangrove itu hilang. Adanya pelatihan gastronomi ini penting untuk menjaga warisan pangan lokal yang mulai hilang.

Jasa lingkungan dan program adopsi mangrove bagi wisatawan.

Mengunjungi Raja Ampat akan menjadi pengalaman yang luar biasa karena masyarakat Raja Ampat, khususnya di Friwen dan Yenbesser, menyedakan jasa lingkungan seperti mangrove tracking, forest tracking, bird watching, pasir timbul, diving dan snorkeling, dan wisata pantai lainnya.

Melek hukum dengan pengajuan kegalitas hukum

Apalah artinya sebuah upaya perlindungan tanpa legalitas hukum. Sebab tanah yang kita jaga bisa saja ternyata adalah milik pihak lain. Tak sebatas itu, tentu saja tanpa legalitas hukum maka mereka tak bisa punya hak atas tanah yang mereka tinggali.

Kelompok Tani Mangrove mengajukan legalitas hukum akses sumber daya alam yang sudah mereka jaga. Didukung oleh Kawan Pesisir dan The Asia Foundation dalam PAPeDA 4, mereka memperkuat peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan perlindungan mangrove. Dari upaya tersebut, masyarakat Raja Ampat memperoleh SK Hutan Desa seluas 1025 hektar yang menjadi ruang pengelolaan sumber daya alam berbasis perhutanan sosial.


Yang paling penting dalam penglolaan sumberdaya alam adalah membagi pemanfaatan ruang dari 1025 hektar menjadi tiga bagian: hutan lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan berbasis konservasi (di dalamnya ada tempat ‘keramat’ yang harus dijaga).

Dengan adanya akses legal ini, masyarakat hukum adat sekitar di kawasan hutan mangrove dapat mengelola dan memanfaatkan hasil hutan tanpa merusaknya.

Tujuan utamanya tentu saja untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan, menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian fungsi hutan mangrove, dan mencegah serta menyelesaikan konflik di sekitar kawasan hutan.

Namun, terbitnya legalitas hukum bukan berarti masalah selesai. Justru disitulah masalah terberat. Paska akses legalitas diperlukan penguatan kelembagaan. Bagaimana masyarakat tetap bertahan dalam pengelolaan mangrove secara terorganisir. 

Bersama Kawan Pesisir dan The Asia Foundation ini dalam program PAPeDA 5, masyarakat Friwen dan Yenbesser melakukan penguatan kelembagaan melalui program LPHD/LPHK dan 4 kelompok perhutanan sosial (KUPS kerajinan tangan, KUPS pengolahan hasil hutan non kayu, KUPS agroforestri dan KUPS jasa lingkungan).

Dari PAPeDA 5 ini mulai munculnya pembicaraan mengenai Bantuan Keuangan Ekologi (BKE) sebagai bagian dari kebijakan fiskal daerah.

Melakukan praktik Sasi (Pengawasan Berbasis Masyarakat)

Dalam penjelasan dari Daniel Kbarek, masyarakat pesisir Raja Ampat memiliki kearifan lokal dalam pengawasan berbasis masyarakat yang dikenal dengan Sasi. Kearifan lokal ini bisa menjadi inspirasi masyarakat di daerah lainnya untuk menjaga kawasan hutan.

1. Penegakan hukum adat

2. Zonasi kearifan lokal

3. Pelibatan tokoh masyarakat.

Menyadari peran perempuan sangat besar

Dari awal mula, suara perempuan menjadi pengaruh yang besar terhadap keberlanjutan pengelolaan mangrove. Kemudian kelembagaan didominasi oleh perempuan.

Sebesar 80-90% KUPS diisi oleh perempuan yang memainkan peran dalam peningkatan ekonomi rumah tangga mereka. Kelompok patroli pun anggotanya 100% perempuan (10 orang).

Baru-baru ini, mereka mengirimkan salah satu perempuan dari Friwen di Bogor untuk mengikuti pelatihan membuat business plan di Bogor oleh Kementerian Kehutanan.

Kelompok horti dan kelompok tani kopi dikelola dengan baik terutama dari kelompok perempuan. Gender perempuan sangat luar biasa di Raja Ampat. Bahkan, direncanakan akan ada hutan desa perempuan pertama di Indonesia yang memiliki sumberdaya alam dan ketahanan pangan.

Tantangan lainnya dalam pengelolaan mangrove adalah dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh masyarakat. 

Beberapa kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim adalah mangrove tidak harus ditebang, kayu tidak lagi dijual untuk kebutuhan bahan baku pembangunan resort. 

Pemanfaatan mangrove untuk ekowisata. Mereka juga mencoba berinovasi membuat produk tradisional menjadi produk yang bernilai ekonomi. Selain itu, rasanya usaha mereka tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada sinergitas bersama antara pemerintah daerah, swasta dan mitra pembangunan lainnya. Harapannya, kemitraan bersama pemerintah, swasta dan pihak lainnya akan terus berjalan.

Dari Inspirasi Ketahanan Pangan Raja Ampat, Ke Pangan Lokal Jawa Timur

Cerita dari Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, aku pun terinspirasi mencari tanaman di Sidoarjo, Jawa Timur yang memiliki dua peran ganda, seperti mangrove. Tanaman itu kalian pasti nggak asing lagi dan kalian pasti pernah memakannya.

Namanya sukun.

Kalau mendengar kata sukun, mungkin yang terbayang adalah potongan buah yang dagingnya lembut seperti roti dan berwarna putih kekuningan. Ketika digoreng, bagian luarnya renyah. Di beberapa daerah, sukun juga diolah menjadi keripik, direbus, atau dimasak menjadi berbagai makanan tradisional. Bahkan sekarang sudah banyak inovasi olahan sukun yang lezat-lezat.

Mengenal pohon sukun

Pohon dengan nama ilmiah Artocarpus altilis ini merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat menyediakan makanan sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan. Selain pohonnya yang rindang, tanaman ini juga menjadi bagian dari ketahanan pangan lokal.

Buah sukun

Sukun memang banyak dikenal di daerah tropis, termasuk Indonesia. Pohonnya dapat ditemukan di pekarangan rumah, kebun, maupun berbagai wilayah pedesaan. Di dekat rumahku, pohon sukun tumbuh cukup besar dengan tajuk yang rimbun. Daunnya lebar dan memiliki bentuk yang khas sehingga pohon sukun mudah dikenali.

Sukun bahkan dikenal sebagai salah satu tanaman pangan penting karena buahnya dapat menjadi sumber karbohidrat.

Kenangan masa kecil

Mendengar kata sukun, tentu ingatan masa kecilku kembali terbayang di pelupuk mata. Di lingkungan rumah masa kecil, aku mengalami pohon sukun yang tumbuh besar. 

Ketika ibu memasaknya menjadi sukun goreng yang gurih dan manis, aku langsung jatuh hati! Seenak itu!

Tak salah, tiap melihat pohon ini, aku teringat pada kampung masa kecil dan makanan yang dahulu dibuat oleh ibu.

Pohon Sukun

Buah sukun yang sederhana dapat menjadi bagian dari kenangan masa kecil.

Karena dapat menghasilkan buah dalam jumlah banyak, sukun menjadi salah satu tanaman yang menarik bagi masyarakat yang membutuhkan sumber pangan yang dapat tumbuh di wilayah tropis.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sebuah pohon sebenarnya menyimpan kenangan yang jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat di pasar atau di atas piring.

Dari pohon ke meja makan

Mendapatkan sukun sebenarnya relatif sederhana apabila pohonnya tumbuh di sekitar rumah atau kebun. Buah dipanen ketika sudah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk kebutuhan pengolahan.

Setelah dipanen, buah dicuci dan dibersihkan. Kulitnya dapat dikupas sebelum daging buah dipotong sesuai kebutuhan.

Untuk membuat sukun goreng, misalnya, daging buah dapat dipotong menjadi beberapa bagian kemudian digoreng hingga matang.


Sementara itu, jika ingin membuat produk yang lebih tahan lama, sukun dapat dikembangkan menjadi keripik atau diolah menjadi tepung.


Cara pengolahan seperti ini menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Dengan pengetahuan dan kreativitas, bahan pangan yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi berbagai produk.

Hal tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal.

Manfaat pohon pangan yang menjadi bagian dari lingkungan

Sebagai pohon yang memiliki tajuk cukup lebat, sukun dapat memberikan keteduhan bagi lingkungan di sekitarnya. Daunnya membantu membentuk kanopi yang membuat area di bawah pohon terasa lebih teduh.


Seperti tanaman pada umumnya, pohon sukun juga menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Sistem perakarannya membantu menjaga kondisi tanah dan membuat pohon ini dapat menjadi bagian dari vegetasi di lingkungan tempatnya tumbuh.

Jika pohon sukun ditanam dalam sistem agroforestri, sistem ini dapat membantu mempertahankan kualitas tanah, siklus hara dan mengurangi erosi.


Uniknya, sukun ini mampu hidup di kondisi tanah yang kering. Pohon ini juga berumur panjang. Kita tak perlu sibuk menanam ulang karena pohon ini dapat hidup dan berbuah hingga 50 tahun.

Dengan kemampuan tersebut, pohon sukun memiliki ketahanan yang kuat terhadap krisis iklim. Berbeda dengan mangrove yang rentan jika terjadi perubahan iklim.

Itulah kenapa bulan Oktober ini, Bangkok Climate Action Week akan membicarakan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Solusi nggak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. 

Komunitas lokal memanfaatkan sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim.

Adanya ketahanan yang kuat tersebut menjadikan sukun bisa menjadi sumber ketahanan pangan lokal. 

Bagian utama sukun yang dimanfaatkan sebagai pangan adalah buahnya. Buah sukun yang sudah cukup matang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Salah satu cara yang paling populer adalah menggorengnya. Daging buah yang lembut berubah menjadi makanan dengan bagian luar yang renyah.

Namun, sukun tidak hanya diolah dengan digoreng saja. Buahnya dapat direbus, dikukus, dipanggang, dibuat menjadi keripik, maupun diolah menjadi berbagai produk pangan lainnya. Dalam pengembangan pangan lokal, sukun juga berpotensi diolah menjadi tepung sehingga dapat digunakan sebagai bahan dalam berbagai jenis makanan.

Sukun dan pelajaran tentang pangan lokal

Hari ini, ketika pembicaraan mengenai ketahanan pangan semakin penting, tanaman seperti sukun menjadi menarik untuk kembali diperhatikan. Ketahanan pangan tidak selalu berarti memiliki makanan dalam jumlah besar di gudang. Ada pula pertanyaan tentang seberapa beragam sumber pangan yang kita miliki. 

Ketika masyarakat hanya bergantung pada beberapa jenis tanaman pangan, perubahan iklim, gangguan produksi, atau masalah distribusi dapat memberikan dampak yang lebih besar. Sebaliknya, keberadaan berbagai tanaman pangan lokal dapat membantu memperkaya pilihan sumber makanan. Sukun dapat menjadi salah satunya.

Sukun tumbuh memberikan keteduhan, menyimpan karbon, dan menghasilkan buah yang dapat diolah menjadi makanan. Dari satu tanaman, ada manfaat ekologis sekaligus manfaat pangan.

Menanam pohon, menanam sumber pangan

Mungkin selama ini kita lebih sering melihat pohon sebagai sesuatu yang harus dilindungi karena menghasilkan oksigen atau membuat lingkungan menjadi hijau. Sukun mengajak kita melihat pohon dari sudut pandang lain. Pohon sukun juga bisa menjadi bagian dari sistem pangan.

Ketika sebuah pohon menghasilkan makanan, menjaga keberadaannya berarti ikut menjaga salah satu sumber pangan. Ketika buahnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi, pohon tersebut bahkan dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

Karena itu, mengenal tanaman pangan lokal seperti sukun nggak hanya mengingat makanan tradisional. Ini juga tentang mengingat kembali bahwa alam di sekitar kita memiliki banyak sumber kehidupan.

Sukun mungkin hanya terlihat seperti pohon biasa di halaman rumah. Tetapi dari satu pohon itu, kita bisa mendapatkan buah, makanan, keteduhan, manfaat bagi lingkungan, bahkan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjaga pohon pangan berarti menjaga lebih dari sekadar pohon. Kita sedang menjaga pilihan pangan, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup.

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen

Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota. Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.

Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.

Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda.



Read More
Siang itu, kegaduhan terjadi saat anak-anak saya mendatangi salah satu stand pameran kerajinan kayu di kampus swasta di Surabaya. Mereka saling berebutan. 

Mata mereka berbinar seolah baru saja menemukan harta karun yang mereka cari selama ini. Pandangan mereka menyelusuri satu persatu keunikan setiap mainan di stand itu hingga mereka bisa menentukan mainan mana yang akan dibawa pulang.

Mainan kayu dari limbah kayu di Artdias Gallery (dokpri)


“Wah, aku suka,” ujarr anak kedua saya yang belum memilih salah satu mainan.

“Yang mana. Yang mana. Ini ada truk. Ada mobil.” Dengan senyum dan keramahannya, pemilik stand, Achmad Adias Wijaya, menanyakan mainan yang mana. 

Ia juga mempersilakan anak-anak menjelajahi ruang pameran kecilnya yang penuh mainan. Ada kebahagiaan tersendiri bagi beliau saat melihat anak-anak itu begitu excited melihat hasil karyanya.

“Ibu, aku mau ini!” ujar anak kedua saya dengan penuh harap sambil menatap ibunya agar diizinkan membawa pulang sebuah tempat pensil berbentuk truk trailer. Saya meminta mereka izin pada ayahnya

“Aku yang ini!” Si paling kecil tak mau kalah sambil menunjuk mainan kayu bentuk yang sama.

Sementara anak pertama saya mencermati satu per satu mainan yang dipajang. Ia ambil satu diorama rumah-rumahan. Ia perhatikan secara detail bentuk kayu itu yang dicat dan dibuat hiasan dinding di rumah.

Diorama rumah di pinggir pantai Artdias Gallery (dok.pri)


Kak Dias menjelaskan pada kami, “Ini kayunya dari sisa-sisa kayu yang nggak dipakai.”

Beliau menunjukkan kerajinan yang berasal dari limbah kayu pinus, bekas palet dan lain-lain. Jam dinding dari velg dan kayu bekas juga terlihat dipajang di stand pameran tersebut. Diorama rumah-rumahan dari kayu bekas menjadi fokus anak saya.

“Wah, kok bisa ya jadi begini,” ujar anak saya yang masih berusia 10 tahun itu terpesona.

Dari situlah, anak saya mengenal bahwa sisa kayu bisa dicat dan dijadikan hiasan dinding, mainan atau pun fungsi yang lain. Anak saya pun belajar bahwa sampah atau limbah tak melulu harus dibuang begitu saja. Justru jika diolah bisa menjadi barang yang bermanfaat. Dari aktivitas bermain itu, anak-anak paham dan bisa mendapat pengalaman seru dengan mengenal kerajinan kayu dari limbah kayu.

Meskipun begitu, perjalanan Kak Dias menjalankan bisnis yang produknya sangat diminati anak-anak itu dan tak terjadi dalam waktu sekejap. Semua perlu proses hingga menjadikan bisnis yang lebih peduli pada lingkungan.

Kritikan yang Menggerakkan

Beberapa tahun silam, sebelum berkutat dengan kerajinan kayu, pekerjaan utamanya di perbankan sempat membuatnya dilema. Namun, ia belum punya keberanian untuk mengajukan pengunduran diri.

Hingga akhirnya, di tahun 2015, ia mencoba berwirausaha di bidang kerajinan kayu. Di tahun itu, beliau masih mengambil produk kerajinan kayu dari keluarganya di Bojonegoro untuk dijual kembali di Pasuruan.

Produk awal kerajinan Artdias Gallery (IG @artdias_gallery)


Hari minggu pagi adalah hari yang ditunggu-tunggu. Beliau menjual produk kerajinan kayu saat Car Free Day di Kota Pasuruan. Penjualannya tak disangka-sangka. Keuntungannya lumayan bagus.

Dari pameran ke pameran, ia mulai memperkenalkan branding diri “Artdias Gallery” yang merupakan perpaduan seni dan namanya sendiri.

Di tahun 2015, beliau mengunjungi Disperindag dan minta diajak saat ada pameran di Pasuruan. Bahkan beliau mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran bahkan dapat satu stand sendiri, sementara paguyuban UMKM khusus furnitur atau kerajinan diberikan satu stand untuk beberapa UMKM. Jelas, itu menimbulkan kecemburuan antar UMKM. Mereka mengkritik produk Artdias Gallery sebab bukan produk asli Pasuruan.

Dari kritikan itu, lahirlah tekad yang menggerakkan hingga akhirnya ia menciptakan produknya sendiri di tahun 2018 setelah memberanikan diri untuk resign. Di sinilah kreativitas beliau mulai terasah. Kreativitasnya terlihat saat beliau menciptakan produk-produk pertamanya, seperti home decor, seperti jam dinding, rak dinding sekaligus tempat gantungan kunci, tempat lampu, rak gantung, lampu meja, dan lain-lain.

Produk Home Decor Buatan Sendiri (IG @artdias_gallery)


Keunikan dari produk tersebut yang menjadi nilai jual Artdias Gallery. Sayangnya, pandemi Covid-19 menyebabkan penjualannya semakin menurun. Kegagalan itu tak membuatnya terus berhenti mengembangkan usahanya dari limbah kayu.

Bagi pria lulusan Jurusan Pertanian Universitas Brawijaya ini memanfaatkan barang bekas itu tak hanya ide saja yang diperlukan tetapi juga kerja keras. Keinginan Kak Dias untuk terus berkembang cukup besar. Ia mencoba bergabung dengan grup komunitas dengan hobi kayu di Malang. Ia mengembangkan kemampuannya dengan mengikuti kursus dari anggota grup komunitas tersebut di Malang.

Hingga suatu ketika...

Keramaian anak-anak kecil terdengar. Bukan bermain nekeran, gobak sodor, atau lompat karet, tetapi mereka tengah asyik scroll layar ponsel. Saat libur sekolah, pulang sekolah, atau saat senggang pun tangan generasi muda itu tak lepas dari aktivitas pada layar. Sangat disayangkan jika masa pertumbuhan fisik, kognitif, emosional dan sosial itu dibatasi oleh layar ponsel.

Dari keresahan itu, Achmad Adias Wijaya memikirkan bagaimana generasi penerus bangsa itu tidak menjadi tergantung pada ponsel sebab masa depan bangsa sangat tergantung pada kondisi anak-anak saat ini. Ia tak ingin masa kecil anak-anak itu dihabiskan di depan layar ponsel.

Ia tak berpikir muluk-muluk. “Apa yang saya punya yang bisa saya manfaatkan semaksimal mungkin,” pikir beliau saat itu.

Berbekal telusur desain mainan anak di Youtube, ia mencoba membuat mainan sederhana dari kayu dengan peralatan yang ia miliki, seperti jigsaw, gerinda, amplas, bor tangan, dan bor listrik. Tangannya dengan hati-hati memotong sisa-sisa kerajinan kayu itu untuk dibentuk menjadi mainan mobil-mobilan kemudian dihaluskan agar lebih aman digunakan anak-anak saat bermain.

Kebahagiaan begitu terasa ketika melihat hasil kerajinan mainan anak dari kayu miliknya diminati banyak orang. Tentunya ada rasa senang karena kreativitasnya dihargai banyak orang dan memicu semangat untuk membuat mainan anak lainnya yang lebih edukatif.

Ide-ide segar terkadang tidak bisa datang sendiri tetapi harus dicari. Ia mulai mencari desain mainan kayu yang unik dan belum banyak dijual di Indonesia melalui Pinterest.

“Saya senang kreativitas dan mencari hal yang baru yang belum dilakukan,” ujarnya saat wawancara melalui voice note WhatsApp.

Limbah Kayu Tak Selalu Barang Tak Perlu

Pemanfaatan limbah kayu untuk kerajinan kayu dilakukan oleh Achmad Adias Wijaya sejak tahun 2018 saat mulai membuat produk sendiri. Beliau tak kehilangan akal untuk memanfaatkan bahan baku yang murah.

Di lingkungan sekitarnya, potongan-potongan kayu dari industri kerajinan kayu tergeletak begitu saja dan menunggu untuk dibuang, dibakar atau juga dijual kembali.

Bayangkan saja berapa banyak limbah kayu yang dihasilkan dari mebel kayu di Pasuruan jika tidak di-recycle? Belum lagi, jika limbah-limbah kayu itu dibakar, asapnya sangat mengganggu masyarakat sekitar.

Hal itulah yang menyadarkan Kak Dias untuk memanfaatkan limbah kayu untuk diolah kembali agar memiliki nilai jual. Beliau menggunakan limbah kayu jati, pinus, bekas palet, dan lain sebagainya yang memiliki ukuran dan bentuk yang masih bisa digunakan. Sedangkan detail dan aksesoris mainan anak lainnya yang berasal dari logam, beliau peroleh dari pasar loak.

Limbah kayu jati yang tidak dipakai (@artdias_gallery)

Pemilihan limbah kayu yang berbeda-beda ini juga memiliki alasan tersendiri. Misalnya, kayu pinus ini dipilih karena biasanya kayu pinus yang berasal dari pabrik luar negeri ini sudah diberi obat anti rayap dan diproses pengeringannya. Kak Dias tinggal memotong dan mendesain saja. Sedangkan untuk limbah kayu jati, meskipun bekas tapi memiliki serat yang menarik dan berkualitas.


Bahan baku kerajinan
Kayu pinus limbah palet (IG @artdias_gallery)


Tidak semua limbah kayu itu beliau peroleh secara cuma-cuma dari industri mebel. Beberapa jenis kayu harus beliau beli seperti kayu pinus limbah palet/jati. Biasanya beliau menyewa pick-up untuk membawa limbah kayu.

Kayu jati yang diangkut dengan TOSA (@artdias_gallery)


Di sinilah tantangan Kak Dias. Ia harus mengolah limbah kayu dari berbagai macam bentuk dan ukuran itu menjadi kerajinan kayu yang keren dan unik. Limbah kayu pinus juga dipilih karena mudah dibentuk dan memiliki warna yang cerah yang akan membuat kerajinan menjadi lebih estetis.

Usaha Kak Dias dalam pemanfaatan limbah kayu sebagai usaha untuk mengurangi sampah industri mebel, mengurangi aktivitas penebangan pohon dan tentunya mendukung gaya hidup hijau.

Dari komitmen Artdias Gallery ini dalam menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku pembuatan mainan anak, ia pun berhasil mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards Tahun 2024 dari Astra di bidang Kewirausahaan.

Mencari Tenaga ‘Ngeplong’

Di ruangan khusus di sebelah rumahnya, suara mesin potongan kayu terdengar. Mulai tahun 2018, ia mulai melengkapi peralatan untuk pemotongan kayu seperti table saw, bandsaw, jigsaw dan mittersaw, untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaannya.

Alat yang digunakan saat proses pembuatan (@artdias_gallery)


Dalam prosesnya, Kak Dias memang sebagian besar mengolah sendiri, mulai dari mencari bahan baku, desain produk, pemotongan, penghalusan, finishing, dan penjualannya.

Sebenarnya, Artdias Gallery bisa memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya di sekitar. Sayangnya tidak banyak pengrajin mebel di Pasuruan yang mau dan terbiasa membuat kerajinan mainan kayu yang berukuran kecil dan perlu ketelitian. Namun, Kak Dias berusaha untuk mengajak pekerja mebel di sekitarnya yang bisa ikut berkontribusi bagi pembuatan mainan anak yang ramah lingkungan.

Ia pun mendekati salah seorang pekerja mebel yang kira-kira bisa menjadi bagian dalam proses pembuatan kerajinan mainan anak.

“Ayo, Mas. Ini lebih mudah daripada sampeyan (kamu) membuat ukiran-ukiran. Biayanya berapa, saya bayar,” bujuk Kak Dias pada salah satu pekerja mebel. Tentu, bujukan itu pun disetujui dan dihargai Rp. 1000,- per pcs.

Beliau akhirnya memiliki tenaga yang bersedia membantunya bagian ‘ngeplong’ yang melubangi kayu atau membentuk kayu menjadi kerajinan tangan (handmade) dengan jigsaw. Adanya tenaga kerja tersebut sangat membantu Kak Dias dalam produksi mainan anak dalam jumlah besar.

Mainan Edukatif dari Limbah Kayu

Stand pameran siang itu semakin ramai oleh pengunjung yang datang. Mereka mencoba permainan edukatif dari kayu milik Artdias Gallery. Satu permainan yang menarik minat anak pertama saya adalah permainan kayu yang ditarik pakai tali. Tangan kanan dan kiri memegang tali. Di papannya banyak lubang-lubang. Pemain harus mengikuti jalur dan harus menjalankan kotak berisi kelereng sesuai jalurnya. Jika kelereng masuk ke dalam lubang maka permainan selesai.

Permainan edukatif di Artdias Gallery (@artdias_gallery)


Anak saya kesal karena hampir mendekati garis finish, ia gagal. Tentu saja, permainan ini mengasah kemampuan motorik halus anak, kesabaran dan ketenangan. Nilai-nilai itu yang harus ditanamkan pada anak-anak saat ini yang sering terpapar gadget dan lebih .

Anak saya yang paling kecil mencoba permainan puzzle kayu dan berusaha menyelesaikan puzzle tersebut dengan benar. Sesekali ia meminta bantuan Kak Dias untuk menyelesaikan puzzle. Pada akhirnya dia menyerah dan melihat-lihat mainan kayu lainnya.

Seorang anak bermain puzzle kayu dari Artdias Gallery (@artdias_gallery)


Tak hanya itu saja, masih banyak permainan edukatif lainnya yang dibuat oleh Artdias Gallery untuk melatih anak dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, melatih emosional anak, mengasah imajinasi dan kreativitas.

Di tangannya yang inovatif, Artdias Gallery mampu memproduksi mainan edukatif dari kayu sebanyak 200 pcs selama satu bulan yang siap digunakan untuk anak-anak agar teralihkan dari gadget tapi tetap peduli lingkungan.

Penawaran Produk yang Mengejutkan

Tantangan Kak Dias tidak hanya pada proses pembuatannya saja. Beliau harus melakukan pemasaran produk sendiri, dengan menawarkannya di sosial media dan mengikuti pameran-pameran. Beliau juga harus menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) yang tepat dan terukur agar keuntungan bisa diketahui.

Artdias Gallery saat mengikuti pameran di Pasuruan (@artdias_gallery)


Kak Dias pun sudah memiliki harga pada produk yang akan dipamerkan di beberapa pameran sekitar Rp. 5.000,- hingga Rp. 700.000,- tergantung jenis bahan, desain dan proses pembuatannya. Namun, ia mengalami pengalaman mengejutkan saat mengikuti mengikuti pameran di Surabaya. Pertama kalinya, beliau membawa diorama rumah-rumahan.

Seorang ibu-ibu pun mendatanginya. Setelah mengetahui harga dioramanya hanya Rp. 35.000,-, ia pun berkata dengan penuh keyakinan, “Boleh aku beli Rp. 65.000,-?”

Terang saja Kak Dias terkejut. Bagaimana bisa harga 35 ditawar 65?

Wanita itu bercerita bahwa dia sering belanja souvenir ke luar negeri. Apalagi di kota besar, produk yang dijual bisa dapat untung berkali-kali lipat. Akhirnya, wanita itu membeli diorama seharga Rp. 65.000,-.

Dari tawaran beliau tentu saja mengisyaratkan bahwa produk Indonesia tentu tidak kalah dengan luar negeri.

Selamatkan Masa Anak-Anak dan Masa Depan Mereka

Anak-anak memang suka bermain sebab begitulah fitrah anak-anak. Bermain menjadi kebutuhan alami mereka untuk belajar, tumbuh dan menyalurkan energinya. Menyentuh mainan kayu dan merasakan tekstur kayu yang halus merupakan bahan belajar mereka untuk mengenal bahan alam yang bisa dijadikan mainan yang menarik. Tentu saja, hal itu juga menjadi cara belajar anak-anak saat penentuan pengambilan keputusan. Mereka punya pilihan pertimbangan sendiri dan keputusan sendiri.

Meskipun tidak sepenuhnya bisa menghilangkan ketergantungan pada gadget, setidaknya waktu screen time anak-anak bisa berkurang. Anak-anak pun bisa lupa sejenak dengan gadget. Begitulah peran Achmad Adias Wijaya ini untuk anak-anak Indonesia agar teralihkan dari gadget melalui media mainan anak dari limbah kayu.

Anak-anak di lingkungan tempat tinggal sedang mengecat bersama (IG @artdias_gallery)


Jangan sampai masa anak-anak habis di depan gadget karena masa depan anak-anak ditentukan oleh kehidupan mereka di masa anak-anak.

Tak hanya peduli pada masa depan mereka melalui mainan edukatif, Kak Dias terus bergerak dalam pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan limbah kayu pada proses pembuatan mainan anak dari kayu.

Berasal dari limbah kayu, produk-produk mainan kayu dari Artdias Gallery pun menjadi payu (dalam bahasa jawa: Laku) di pasaran.

Referensi :
Wawancara langsung 

Wawancara via WhatsApp

https://youtu.be/x8lYk12rCiE?si=5kjHYOdsABKHOlJU

https://portaljtv.com/news/artdias-gallery-umkm-asal-pasuruan-ciptakan-kerajinan-tangan-dari-limbah-kayu?biro=portal-jtv


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower