Tampilkan postingan dengan label Akomodasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akomodasi. Tampilkan semua postingan
Suatu waktu, sekeluarga pergi wisata ke Yogyakarta dan menyewa villa di daerah Bantul. Dulu, mencari villa di Yogyakarta memang susah-susah gampang. Entah bagaimana akhirnya, seorang kenalan bapak mertua memberikan informasi mengenai villa yang bisa kami tempati. Sayangnya, foto-foto tentang villa itu sudah hilang entah kemana. Hanya beberapa saja yang masih tersimpan. Tapi, yang jelas aku mau menyimpan kenangannya di sini laahh. Sayang banget kalau tidak aku tuliskan.

Bisa dibilang waktu itu masa liburan sekolah anak-anak. Tapi anak-anak libur apakah ibu benar-benar bisa berlibur??

Dan tujuan kami ke Yogyakarta adalah untuk bersua dengan keluarga bapak mertua yang sempat hilang kontak bahkan kampung masa kecil sebagian besar hancur semenjak gempa Yogyakarta 2006 silam. Saat itu keluarga mbah sudah pindah ke Blitar. Makanya sering banget aku ke Blitar–jalan-jalan ke alun-alun Blitar.

Dari malang, kami sekeluarga rombongan berangkat naik 2 mobil. Kami tiba di Yogyakarta menjelang siang hari. Matahari sudah terik. Kami menuju villa yang ada daerah Bantul. Dengan bantuan Google Map, kami menyusuri dari jalan-jalanan yang ramai hingga masuk kampung dengan jalanan yang sempit dan sepi. 

Rumah Joglo di Kawasan Yang Tenang

Kami sempat mengira salah jalan, karena rasanya tidak mungkin ada rumah villa di antara kampung-kampung ini. Dan setelah ditelusuri ternyata memang benar ada. Lokasinya di jalanan turunan di pojok kampung yang tidak mungkin dikira siapa pun. 

Pintu gerbangnya terbuat dari kayu dengan atap kayu. Desainnya seperti rumah jawa tradisional. Tak lama menunggu, penjaga villa datang dan membukakan pintu gerbang.

Ketika pintu terbuka, rumah joglo yang khas dengan bangunan semi terbuka tampak menyenangkan ditambah halaman rumput yang cukup dengan tiga mobil. 

Villa Joglo dari Luar (Hanya ini foto yang ada di Gallery ku wkwk)

Rumah joglo ini ada dua bangunan. Satu bangunan besar dan satu bangunan kecil untuk tempat bercengkerama. Vibe kehidupan Jawa begitu terasa. 

Mobil memasuki halaman berumput yang bisa menampung tiga mobil. Kami pun menurunkan barang-barang dari mobil. Anak-anak mulai berlarian ke tengah ruangan.

Di bagian depan bangunan di sisi kiri adalah ruang tamu. Furnitur-furniturnya terbuat dari kayu dan ditata sedemikian rapi. Di depan bangunan joglo ada taman-taman dengan meja kursi taman berpayung untuk menikmati suasana pagi dan sore tanpa khawatir terik matahari.

Di sisi kanan bangunan adalah dapur semi terbuka yang tidak terlalu besar ditambah mini bar untuk tempat meletakkan makanan. Di dapur sudah tersedia peralatan memasak jadi kami tidak perlu bingung untuk memasak. Ada kulkas juga untuk menyimpan makanan.

Anak-anak tak ada suaranya sebab layar tivi yang menempel di dinding mampu menhipnotis pandangan mereka. Mengalihkan pikiran mereka yang suka ramai menjadi tenang. Yap. Mereka sudah duduk anteng menikmati acara anak di layar tivi. 

Bangunan utama ini memiliki tiga kamar. Kamar pertama dekat dapur. Ruangannya cukup bagus dengan springbed di dalamnya. Ada kaca besar yang mengarah ke kebun yang penuh dengan pepohonan. Tidak bisa disebut kebun karena terlalu rindang dan lebat. Bisa dibilang seperti hutan.

Di sebelahnya ada musholla kemudian kamar mandi dan tempat wudhu. Di sebelahnya, ada kamar tidur dengan memiliki satu kasur single dengan dipan tinggi. Pintu kamar ini masih tradisional yang memiliki dua pintu yang berukir dan berlubang. Kamar yang paling ujung seperti kamar biasanya. Satu pintu dan kasur.

Ukiran pada pintu (dok. Pribadi)

Pemilik villa memberi kami 3 extra bed dengan kasur busa yang cukup besar. Karena kamar tidak cukup, sebagian ada yang tidur di luar. Meski ruangan tidak ber-AC tapi rasanya aku tidak mengeluh kepanasan. Mungkin karena rumah joglo, jadi anginnya masuk ke dalam rumah dan hawa terasa adem. Alhamdulilah anak-anak juga tidak ada yang rewel saat tidur mungkin karena capek banget ya.

Tragedi di Kolam Renang

Setelah menikmati hidangan, anak-anak tak sabar untuk berenang. Mereka segera bergegas melepas baju dan menuju ke kolam renang yang ada di dekat taman. Untuk menuju ke kolam renang, kita harus melewati tangga turun sedikit. Beberapa kali kami memberi pesan agar tidak berlari karena tangganya cukup tinggi. Khawatir licin aja sih.

Mereka pun segera berenang. Kolam renang ini memiliki dua jenis kolam yaitu untuk anak-anak dan untuk dewasa. Untuk dewasa dalamnya bisa mencapai 1 meter, sedangkan untuk anak-anak, kedalaman kolam sekitar 80 cm. Dan anak-anak bisa berenang sampai 3x sehari kayak minum obat aja. Hahaha. Kayaknya anak-anak nggak punya kesel ya.

Kolam anak-anak dan kolam orang dewasa (dok. Pribadi)

Yang palig kuingat adalah anakku ternyata sempat tenggelam. Ceritanya waktu itu tidak ada orang dewasa. Dia berjalan-jalan di pinggir kolam orang dewasa, terus dia mau mengambil daun yang sudah masuk ke kolam. Tapi namanya daun kalau di dalam air pasti ikut jalan. Tangannya mencoba mengambil daun sampai akhirnya tubuhnya tidak seimbang dan jatuh. 

Beruntung kakak sepupunya yang sudah besar dan berada di dekatnya segera menggapai tangannya agar segera tertolong. Bersyukurlah anakku langsung diangkat dan reflek menggapai pinggir kolam.

Kolam renang ini menurutku agak creepy padahal aku berenang juga tidak sendiri suami. Angin yang bertiup di antara sela tanaman sebenarnya terasa menenagkan tapi aku malah merinding. Hahaha. Akhirnya, aku tidak berenang lama-lama. Tapi ini hanya aku yang merasa begitu. Yang lainnya sih nggak. 

Di bagian belakang rumah, aku menuruni tangga dan melihat banyak perkakas-perkakas untuk berkebun atau membersihkan rumah. Di sekitarnya banyak pepohonan yang tumbuh.

Ketika malam hari, udara tidak panas karena angin malam memasuki seluruh ruangan. Anak-anak sudah mulai beristirahat. Saking lelahnya mereka terlelap.

Harga?

Aku lupa-lupa ingat untuk harga vila ini selama 2 hari 3 malam. Kalau tidak salah 5jutaan. Aku tidak tahu murah atau mahal ya? Aku rasa masih sesuai lah sama fasilitas yang tersedia. Karena di musim liburan waktu itu kami tidak menemukan vila lain yang bisa untuk orang banyak dan harganya terjangkau.

Akses 

Meski berada di Bantul–aku lupa banget nama daerahnya, kalau tidak salah Pleret– akses ke beberapa lokasi wisata di yogya tidak terlalu jauh kok. Mau ke pusat Kota Yogyakarta, kraton yogyakarta, ke Taman Sari yogyakarta, ke Museum Dirgantara Yogyakarta, juga masih cukup dekat. Mau wisata ke kabupaten seperti ke Hutan Pinus Mangunan pun juga tidak jauh. Artinya lokasi ini berada di tengah-tengah.

Vila yang Cocok Untuk Menenangkan Diri

Bagiku, villa ini cocok banget untuk healing. Tempatnya tenang. Jauh dari keramaian karena masih di suasana desa. Tempatnya pun di pojok desa. Semua fasilitas pun sudah lengkap. Air, listrik, kolam renang, dapur. Cukup bawa bahan makanan saja. 

Duduk-duduk di ruang tamu sambil menulis atau baca buku saat anak-anak asyik bermain bersama sepupunya membuat me-time semakin menyenangkan.

Plak!

Tapi itu hanya bertahan cuma sebentar. Selebihnya kembali ke dunia nyata. Karena begitulah tugas ibu tak pernah berhenti selama 24 jam. Kecuali kalau anak-anak tidur. Haha. 

Read More
Setelah lelah menunggu dari pagi sampai siang melihat karya anak negeri di Universitas Negeri Jember, aku mulai browsing-browsing hotel di Jember yang murah-murah ajaa. Karena bawa anak-anak, aku mencari hotel yang ada kolam renang. Setelah diskusi akhirnya kita pilih menginap di Hotel Bandung Permai Jember depan Trans Mall.

Bandung Permain Hotel Jember (agoda.com)

Hotel Bandung Permai Pernah Jaya di Masanya

Hotel Bandung Permai Jember merupakan hotel bintang 3 yang berlokasi di Kaliwates. Kalau dari arah kota Jember, kita harus putar balik. Hotel ini dibangun sejak tahun 1980an. Lama bangeett..

Dari tampilan di internet, gedungnya besar dan masih bangunan tua. Bagi sebagian orang mungkin tampak menyeramkan.

Meski tampak jadul, bangunan luarnya juga masih terawat. Biasanya bangunan tahun segitu sudah banyak yang ngelupas, rusak dan bocor. Sepertinya di hotel ini tidak begitu tampak rusak parah.

Saat pesan hotel ini pun aku nggak kepikiran macam-macam. Entah kepikiran serem atau mistis. Nggak sama sekali karena memang masih terawat. Hawa-hawanya juga normal-normal aja.

Biasanya kalau datang ke suatu bangunan lawas, kita akan merasakan hawa tidak enak. Merasa seperti ada yang mengawasi. Seperti saat masuk ke Hotel Majapahit Surabaya. Bangunan tua dan mewah yang menurutku vibe-nya sedikit menyeramkan. Hehe.

Ternyata hotel ini pernah jaya di masanya, loh. Semakin lama, hotel ini kehilangan pamornya dan kalah dengan hotel-hotel modern lainnya di tengah kota Jember. Isunya, hotel ini dijual atau dialihkan ke pemilik lain begitu. Entah sudah dialihkan atau sedang proses. Terlepas dari itu semua, sekarang hotel itu masih aktif dan menerima pengunjung.

Harga Kamar Hotel

Kalau pesan datang langsung ke hotel, rate kamar hotel ini lebih murah dibanding kalau pesan di OTA. Rate per kamar kalau nggak salah Rp. 250.000,-. Kalau di OTA di atas itu.

Gara-gara aku baca review, aku chat WA dulu yang aku dapat dari IG-nya. Apakah masih tersedia kamarnya? Jawabannya akan dicek dulu tapi kok lama banget. Aku menunggu chatnya sampai satu jam. Karena tidak segera dapat jawaban, aku memilih datang langsung saja dan menanyakan ketersediaan hotel.

Fasilitas Hotel

Parkir mobil

Saat aku masuk ke gerbangnya, aku lihat ada tiga bus parkir yang sepertinya akan menunggu penumpang check out hotel. Mobilku berhenti di dekat lobby. 

Hotel murah jember
Parkir mobil di belakang (agoda.com)


Sebenarnya di parkir depan gedung ini tidak terlalu luas. Di bagian belakang gedung, justru bisa muat banyak mobil. Tempatnya ada yang teduh juga. Di sana sudah ada beberapa mobil yang parkir.

Lobby hotel

Saat di lobby, aku disambut oleh pegawai yang ramah. Aku menanyakan kamar kosong apakah masih tersedia? Sayangnya mereka nggak bisa menjawab karena harus menunggu sekitar jam 2 karena masih ada rombongan yang belum check out.

Hotel murah ada kolam remang jember
Lobby hotel (hotelmurah.com)

Akhirnya aku menunggu di lobby hotel. Aku mengajak anak-anak duduk di sofa dekat lobby. Tapi namanya anak-anak mana bisa diam. Ada aja tingkahnya. Mulai keliling lobby, lihat-lihat bagian belakang gedung yang ada kolam renangnya, atau memperhatikan mbak-mbak lobby yang sibuk melayani pengunjung.

Ruang lobby ini tampak biasa. Bukan bangunan modern. Tapi cukup bersih. Sofanya pun masih layak diduduki.

Hotel 200ribuan jember
Sofa di lobby hotel (reserving.com)
 
Setelah sekitar 1 jam menunggu, dan setelah aku bertanya bolak-balik, kami pun dapat kamar. Awalnya mau dikasih menghadap Trans Mall tapi aku minta yang menghadap kolam renang. Mereka memastikan lagi kalau kamarnya sudah ready. Jadi kami menunggu lagi. Untuk urusan ini memang agak riweuh sedikit.

Lift Hotel

Petugas dengan senyum ramahnya dan selalu bersemangat itu mengantarkan kami menuju kamar. Sebenarnya kami hanya naik ke lantai 2 saja tapi petugas mengarahkan kami untuk pakai lift dekat lobby. Sampai di lantai 2, koridor hotel lebih terang dan di bagian sini tampak kontras dengan ruang lobby. Di Lantai dua, bangunan sudah direnovasi jadi tampak bersih dan bagus meskipun bukan desain ala hotel bintang 4 dan 5 ya..

Kamar yang luas

Beliau membuka pintu kamar yang menggunakan kunci manual dan pegangan pintu yang diputar. Kami pun dipersilakan masuk. Kesan pertamaku adalah... luas dan lumayanlah kamarnya. Tidak sejadul bangunan luarnya. Mungkin karena hotel zaman dulu kamarnya pasti luas dan ada sofa ya.

Bandung Permai Hotel Jember
Kamar luas (tiket.com)

Lemari baju

Ada lemari cukup besar di sebelah kanan. Meskipun beberapa sudutnya sudah ada yang sedikit rusak tapi masih bisa untuk menggantung baju. Di sebelah kiri ada kamar mandi dengan bath tub. Di dekat lemari ada meja dengan kaca besar di atasnya ada tivi. Di sebelah kanan ada spring bed. Di sampingnya ada meja. Satu sofa cokelat dekat jendela.

Televisi, cara agar anak anteng

Jujur, kadang capek juga lihat anak nggak bisa diam apalagi kalau udah di luar kota begini. Nah, satu-satunya cara biar mereka diam ya hanya diberikan tontonan. Sebenarnya, aku termasuk ibu yang tidak ingin anaknya terlalu lama menonton. Di rumah pun, aku tidak pernah menyalakan televisi. 

Di rumah, dia tidak pernah saya kasih tontonan Youtube kecuali kalau aku harus keluar dan mereka di rumah; dan saat mereka pulang ke rumah kakek dan neneknya. 

Banyak yang tanya, hiburannya apa? 

Ada lego, kadang menggambar, mainan blok, bermain peran dll. Meski pun kadang rebutan dan menguras kesabaran ibu, itu lebih bisa dimaklumi daripada nonton film berjam-jam. Duh, efeknya itu soalnya.

Di kamar hotel, bersyukur sekali sudah ada televisi. Televisinya bukan televisi tabung ya. Tapi sudah layar LED dan ditempel di dinding. Mereka sampai kamar hotel pun setelah beres berenang langsung nonton sampai check out.

Tapi sayangnya, televisi hanya bisa menyala sampai lama waktu tertentu. Setelah dua jam, televisi akan mati dan tidak bisa dinyalakan. Atau aku saja yang tidak bisa menyalakan?

Tapi ya sudah lah, mungkin memang waktunya istirahat. Hehe..

Tempat tidur yang luas dan sofa

Menurutku tempat tidurnya lebih luas dibanding di kamar Sun Apartemen atau bahkan hotel lain yang pernah kukunjungi. Sofa di kamar sebenarnya membantu kami kalau tempat tidur nggak cukup. Salah satu dari kami bisa tidur di sofa. 

Agak aneh sih, seluas-luasnya spring bed biasanya ukuran berapa sih? Meskipun kami berlima tidur bareng, masih ada sisa tempat kasur. Mungkin ini anugerah dari Allah yang memberi kami badan kurus-kurus. Salah satunya biar bisa cukup satu kasur berlima. Hehe. Meskipun ada selimut tapi kami tidak pakai karena gerah. Loh?

Fasilitas hotel Bandung permai hotel
Tempat tidur luas (agoda.com)

Pemandangan indah

Aku membuka gorden sedikit. Jendela besar dengan gorden besar menampakkan pemandangan kolam renang dan pegunungan. Cocok banget untuk menenangkan diri.

Hotel view gunung di jember
View gunung dan kereta lewat (foto pribadi)

Kadang malam hari, kami mendengar kereta lewat. Suaranya terdengar jelas. Meski dibatasi tembok hotel, tapi kami bisa melihat kereta lewat. Tidak terlalu mengganggu karena tidak sering.

AC Kamar Tidak Dingin

Sayaaang bangettt, AC kamarnya nggak dingin meskipun ada angin yang keluar dari AC-nya. Hiks. Yaa namanya juga minta murah wkwkwk. Saking panasnya kalau siang, kami buka jendela. Berharap ada angin sepoi-sepoi masuk tapi juga nggak ada angin. Huaaa.

Eh kalau malam, meski jendela ditutup, kondisi kamar tidak terlalu panas, sih. Jadi kami tetap bisa tidur dengan nyenyak soalnya udah capek bangeeett.

Kolam renang

Kolam ini berada di sebelah parkir mobil. Setelah mengantar suami ke Unej, aku kembali ke hotel dan mengajak anak-anak berenang.

Hotel dengan kolam renang jember
Kolam renang Bandung Permai Hotel (agoda com)

Kita memasuki bangunan yang terpisah. Sebuah meja menjadi pintu pengunjung di mana penjaga kolam renang duduk di sana dan menanyakan apakah tamu hotel atau bukan. Setelah konfirmasi, kami boleh masuk.

Kolam renang Bandung Permai Hotel ini dibagi dua kolam: dewasa dan anak. Kolam renangnya cukup luas. Di sekitarnya ada tempat duduk dan ayunan.

Berenang di sini selalu sepi kulihat. Bisa dihitung jari yang berenang di sini. Ada yang pengunjung hotel . Ada pula anak-anak yang berlatih berenang.

Namanya anak-anak yaa... pas ketemu anakku malah ikut main, haha. Sampai dipanggil berapa kali sama coach.

Aku menunggui mereka di tempat yang dingin. Kadang di ayunan, kadang di tempat duduk yang tidak terkena matahari. Kira-kira hampir satu jam berenang, aku meminta mereka menyudahi berenang.

Kakaknya sudah lebih dulu membersihkan diri di kamar mandi kolam renang, sedangkan adik-adiknya aku meminta mereka membersihkan diri di kamar. Karena aku tidak mau repot. Hehe.

Kalau di kamar hotel, baju jalanku tidak basah.

Kamar mandi di kamar hotel

Kamar mandi juga masih jadul. Anak-anak sangat excited melihat bath tub. Mereka kira bisa bermain air di bath tub. Tapi karena aku tidak menemukan penutupnya, jadi mereka tidak bisa mengumpulkan air di bath tub dan bermain.

Meski mereka tampak kecewa, tapi mereka tak kehabisan akal untuk membuat segala sesuatu di dekatnya menjadi menyenangkan. Dengan shower yang airnya jatuh ke bath tub, mereka tetap bisa bermain air.

Di kamar mandi ini disediakan gayung. Aku mengira buat mandi tapi karena tidak ada ember, sepertinya gayung itu untuk berkumur saat gosok gigi. Di bagian bawah wastafel sudah ada bak sampah. Dua handuk dan perlengkapan mandi juga sudah disediakan. Yang kurang, memang tidak ada air hangat, meski ada kran putaran air panas. Hehe.

Musholla

Musholla ini berada di dekat tempat penjaga tadi duduk. Beberapa orang keluar masuk dari musholla. Sepertinya pengunjung yang sedang ada acara di aula hotel.

Hotel jadul, hotel menyeramkan?

Setelah menginap di Bandung Permai Hotel Jember, apakah hotel jadul ini pasti menyeramkan? Jawabanku tidak. Karena aku alhamdulillah tidak ditunjukkan hal-hal mistis itu. Vibes-nya oke-oke aja. Tidak ada hawa tidak enak atau menyeramkan. Hotel ini bisa jadi alternatif yang bawa anak banyak dan ingin berenang. Tapi pastikan lagi cari kamar yang AC-nya menyala. Sekian review Bandung Permai Hotel Jember.

Read More
Lebaran adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga besar. Di momen itu, keluarga mertua ingin memanfaatkan momen itu untuk berkumpul dengan nuansa baru bersama anak cucunya. Cuma karena momen lebaran ini biasanya juga ada acara di keluarga menantu masing-masing, jadi kita memutuskan mencari tempat berkumpul yang tidak jauh dari Malang yaitu kota Batu. Mertua inginnya menginap di villa kota Batu.

Sebenarnya di waktu itu, sekitar sembilan tahun lalu, mencari villa di Batu tidak semudah sekarang, apalagi villa di Yogya. Dahlah pengen nangis ingetnya.

Sekarang, banyak sekali villa Batu estetik yang menawarkan beragam fasilitas yang menarik seperti desain bangunan yang modern seperti di hotel, kolam renang privat, air panas, alat masak, ruang keluarga, pemandangan gunung, pedesaan. Harganya juga bervariasi, tergantung fasilitas dan kapasitas. Mencari villa di Batu, Malang, pilihannya jauh lebih banyak daripada villa di Sarangan.

Saat pertama kali kami memesan villa Batu Malang murah yang dekat dengan alun-alun Kota Batu, suami mencari villa dengan rekomendasi orang yang dikenal. Kami pun harus cek ke sana dulu: mengecek kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan memastikan ada extra bed karena rombongan kami cukup banyak. Pembayaran pun langsung dilakukan di hadapan orangnya. Lebih ribet tapi karena memang kami prosesnya aman.

Sekarang sudah banyak sistem booking villa lewat online, lebih mudah, dan seharusnya aman karena ada website resmi.

Villa Alcola, Villa Mewah di Kota Batu

Kali ini, pilihan villa di Batu memang banyak, tapi akhirnya kami mencari villa Batu privat pool yaitu villa Alcola – unit Caspia yang ada di daerah Panderman Hill Batu. Sebenarnya Villa Alcola memiliki banyak pilihan unit dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Alcola Boutique Villa ini termasuk best luxury villa atau villa mewah terbaik dengan harga cukup terjangkau di Kota Batu. Villa Alcola memiliki beberapa unit yaitu Astonia, Bahama, Caspia dan Dania. Yang menarik perhatian kita, dengan fasilitas yang ada dan cocok dengan kapasitas kami, adalah unit Caspia. MaasyaAllah. Rasanya lega kami bisa berhasil menyewa villa di Batu untuk 20 orang.

Villa estetik di batu

Villa Caspia ini menjadi villa paling luas di antara semua unit di villa Alcola, sekitar 320 m2, dengan 5 kamar tidur, 4 kamar mandi, privat pool, barbeque grill, free WiFi, pantry, alat masak standar, tempat tidur King Bed Size, dua sepeda gunung, dll.

Yuk, kita room tour villa Unit Caspia ini.

Desain bangunan mewah dan modern

Bangunan ini tidak rata dengan jalanan. Tempat parkir mobil berada di lantai bawah, untuk masuk ke vila, kita naik tangga dan bertemu dengan taman kecil tanpa pembatas. Hati-hati dengan anak-anak yang bermain di sini karena cukup tinggi dan berbahaya.

Villa caspia Batu.

Bangunan ini didominasi dengan kaca-kaca besar dari lantai satu sampai lantai dua sehingga sinar matahari pagi menghangatkan ruangan villa, bisa menembus hingga bagian dapur. 

Kalau sedang memasak di dapur pagi hari, di atas jam 7 pagi, siap-siap merasa panas! Tirai-tirai penutup kaca besar hanya mampu mengurangi panas teriknya matahari pagi. Meskipun Batu cukup dingin, ketika terkena matahari pagi yang terik juga bikin keringatan.

Atap ruang utama yang tinggi dihiasi dengan lampu-lampu gantung menambah kesan lega dan mewah. Dari lantai bawah kita bisa melihat lantai dua dengan pagar kaca.

Villa estetik di batu

Ruang tamu dilengkapi dengan sofa abu-abu yang empuk dan smart tv menjadi tempat berkumpul bersama keluarga. Jika pagi hari sampai siang, di dalam rumah terasa panas karena terkena terik matahari, justru sore-malam-subuh, udara berubah jadi dingin. Pintu ditutup pun terasa dingin.

Di ruang ini, kami melaksanakan sholat bersama, duduk bersama mendengar petuah dari mertua, bermain game dan makan malam bersama.

Saat barbeque di sini, udara jadi dingin. Makan di teras depan juga dingin, tapi untuk yang terbiasa tinggal di Malang, mungkin biasa saja. Karena aku udah biasa di Sidoarjo yang panas, aku harus duduk berkumpul dengan orang atau dekat tempat grill biar hangat. Hehe.

Kamar tidur seperti kamar hotel

Aku menempati Superior room di lantai atas tanpa kamar mandi. Ukuran superior ini tidak seperti ukuran master room yang luas tapi cukup untuk kami berlima. Ukuran spring bed King Size cukup besar. Anak-anak juga masih kecil, jadi cukup untuk kami. Di dalam kamar, jendela kamar kaca mengarah ke bangunan lainnya.

Di lantai atas memang tidak ada kamar mandi per kamar, jadi pakai kamar mandi di luar kamar tapi di lantai yang sama. Kamar mandinya juga bersih seperti kamar mandi hotel. Sudah disediakan handuk putih, sabun, sikat gigi, odol, dan alat mandi lainnya.

Villa batu malang


Kamar Master Bedroom 1 ini berada di lantai 1 dengan akses langsung ke kolam renang dan dilengkapi dengan kamar mandi di dalam. Di kamar ini, ada lemari baju, meja kerja, dan smart tivi.

Villa di batu

Kamar Master Bedroom 2 berada di lantai 2 juga memiliki fasilitas yang hampir sama. Bedanya tidak ada akses langsung ke kolam renang.

Deluxe Bedroom dan Superior Bedroom ini hampir sama. Bedanya, Superior Bedroom ada kursi panjang dengan bantal kursi (bukan kursi sofa ya) tapi tidak ada meja kerja. Kalau Deluxe Bedroom tidak ada kursi panjang dengan bantal tapi ada meja kerja. Harapannya si kakak mau tidur di sana tapi ternyat nggak mau juga. Haha.

Yang terakhir kamar Twins Bedroom dengan kasur tipe queen size bed ada 2, dan meja kerja. Di kamar ini , bisa ditempati 4 orang dewasa.

Villa modern di batu

Dan yang pasti, semua kamar di villa ini ada AC-nya! Bayangkan kota Batu yang sudah dingin masih harus pakai AC. Wkwkwk.

Dan aku baru sadar kenapa pakai AC karena pas aku masuk kamar malam hari agak sumuk. Ternyata meski jendelanya besar, tidak ada ventilasi. Sirkulasi udara dari luar dan ke luar tidak ada. Itu membuat kamar agak sumuk meski atap kamar termasuk tinggi.

Sebenarnya ini yang menjadi pikiranku, kebanyakan rumah dengan desain modern itu tidak punya ventilasi atau ventilasinya tertutup.

Kembali ke kamar, dan akhirnya kami memakai AC meski hanya bisa bertahan pada suhu 29 Celcius. Padahal kan ventilasi nih bagus ya buat sirkulasi udara, bikin hemat energi dan tidak panas.

Kolam renang privat

Sejurus mata memandang, pintu kaca terbuka dan langsung mengarah kolam renang privat. Anak-anak melihat kolam renang langsung bahagia dan tidak sabar ingin berenang.

Kolam renang ini untuk anak-anak yang sudah bisa berenang di air dalam karena ketinggiannya sekitar 1 meter. Jadi jangan lupa bawa pelampung atau ban dari rumah ya.


Biasanya anak-anak bisa berenang sampai lama, tapi karena kolamnya agak dalam dan udaranya dingin, mereka hanya bisa berenang sebentar. Mereka menggigil kedinginan.

Anakku yang masih usia 3 tahun duduk di pinggir kolam. Di dalam kolam, ada omnya yang sedang bantu anaknya berenang. Entah bagaimana ceritanya, dia ingin mengambil sesuatu di pinggir kolam eh malah badannya ikut miring dan akhirnya tercebur di kolam. Waktu itu aku lagi ngurus anakku yang lain.

Semua langsung heboh karena melihat anakku tercebur ke kolam. Alhamdulillah omnya yang ada di dekatnya langsung cepat menggendong. Ayahnya melihat kejadian itu. Sebenarnya ada di dekatnya tapi nggak lebih cepat dari omnya. Katanya, anakku itu bertahan dengan bergaya seperti sedang berenang, jadi meski tenggelam, kepala tetap mengarah ke atas dengan tangan dan kaki digerak-gerakkan.

Duh... duh...

Menikmati Keindahan Alam Pegunungan

Saat menaiki tangga motif kayu, kaca lebar berada di hadapan kita menampakkan hijaunya gunung Panderman berlatar langit biru. Di lantai atas, selain kamar-kamar, juga ada teras tempat menikmati pemandangan kota Batu di antar senja dan gunung Arjuno.


Setelah sholat subuh, ufuk langit mulai menyamarkan jingga dan langit fajar gelap mulai berjalan merayap menuju terang. Cahaya bintang pun planet masih tampak di antara langit gelap. Lampu-lampu rumah penduduk kota masih belum menyala. Tandanya, aktivitas pagi belum benar-benar dimulai. Mungkin mereka masih terlelap di antara dinginnya udara kota Batu.

Villa view gunung di Batu


Duduk di teras atas saat subuh sendirian menikmati me time sambil scroll media sosial memang menyenangkan. Menghirup udara Kota Batu yang menyegarkan tapi juga merasakan tiupan angin pagi yang dingin. Pada akhirnya, aku memilih masuk kembali ke dalam ruangan dan menghangatkan diri. Aku nggak kuat berlama-lama di luar. Hehe.

Villa view gunung di Batu

Nge-grill bareng

Hampir sama saat makan di villa Sarangan sama saat nge-grill di tepian sungai Bedengan Malang, menu makan malam kami pasti ada menunya daging slice yang dimarinasi berbagai macam bumbu. Malamnya, kami nge-grill daging slice dengan alat grill yang sudah disediakan villa. Kipasnya pun juga sudah ada.

Dapur estetis

Siapa yang betah masak dengan dapur estetis seperti di villa Batu ini? Hmm.. kayaknya nih kalau aku bakal betah, tapi juga eman kalau kotor. Hahaha. Namanya dapur ya, pasti ada aja bekas minyak, sisa makanan yang jatuh dan segala macam. Kalau tidak segera dibersihkan, dapur estetisnya nggak bakal estetis lagi hehe. Kalau di vila ini nanti tetap ada yang bersihkan kok.

Villa batu malang murah
Nggak ada foto dapur. Adanya dari ruang tamu ini. Di belakang sofa ada meja makan dan di belakangnya dapur.

Kalau kalian dari luar kota mau menginap di villa Caspia Batu ini, kalian tidak perlu repot bawa peralatan makan atau memasak. Pemilik villa sudah menyediakan kulkas, dispenser, alat masak, seperti kompor, rice cooker, microwave, sutil, wajan, panci, dll; serta juga alat makan, seperti piring, sendok, gelas, mangkok, pisau, dll.


Pemesanan Villa

Pemesanan unit di Villa Alcola Unit Caspia ini semua dilakukan di website alcolavilla.com. Kita bisa melihat jenis-jenis villa, jadwal villa yang tersedia dan harganya. Kalau ingin melihat unitnya lebih jelas lagi, bisa meluncur saja ke Instagram alcola.id.

Rasanya Menginap di Villa Mewah?

Kalau ditanya bagaimana rasanya... itu seperti ini "bukan aku banget". Hahaha. Merasakan kemewahan dalam hidup itu adalah seperti sebuah "privilege" karena seolah ini adalah faktor eksternal aku bisa merasakannya. 

Aku pernah menginap di hotel bintang 5 Jakarta, Le Meridien, rasanya memang menyenangkan. Tapi, yang aku rasakan... aku tidak bisa tidur nyenyak, hati tidak tenang, dan tidak bisa santai. Haha. Entahlah, rasanya tidak lega begitu. 

Mungkin karena aku hanya ibu rumah tangga yang hari-harinya di rumah, tidak terbiasa dengan kehidupan seperti itu, jadi aku merasa aneh tiba-tiba tidur di kasur King Size Bed villa estetik di Batu.

Kalau disuruh menginap lagi di sana, mau nggak? Hmm.. mau-mau aja sih kalau dibayarin. Hahaha. Kalau bayar sendiri, pikir-pikir lagi. Wkwkwkwk.




Read More
Sepulangnya dari Celosia, kami lanjut ke kota Semarang di mana kami sudah booking hotel. Cerita mencari penginapan ini tidak sesulit mencari jodoh. Eeeh bukan. Maksudnya tidak sesulit mencari villa di Telaga Sarangan. Haha. Soalnya kami hanya keluarga kecil yang maunya nggak banyak-banyak. Yang penting ada "ada kolam renang". Sesederhana itu emang bahagia kami. Hihi. 

Dari berbagai macam jenis hotel Semarang dengan fasilitas kolam renang, dari yang mahal sampai yang menengah, aku mencari kolam renang yang anti mainstream yaitu di atas gedung tinggi. Aku udah bayangin anak-anak pasti seneng banget.

Alasan Memilih Sun Apartment Semarang

Sebenarnya banyak pilihan penginapan dengan kolam renang di Semarang tapi setelah melihat review pengunjung dan harganya, akhirnya kami memilih penginapan di Sun Apartment Semarang. 


Beberapa alasan memilih Sun Apartment yaitu:

Harga Terjangkau

Karena kami tidak akan berlama-lama di penginapan, malam baru sampai penginapan dan besok paginya sudah ke tempat acara, kami mencari penginapan yang harganya terjangkau, fasilitas cukup buat kami. Kalau tidak salah, rate per malam 250ribu atau 200ribu ya lupaaa booking via WhatsApp. 

Kamarnya deluxe city view tanpa sarapan yaa karena emang kita mau kuliner pagi-pagi di Semarang. Tapi tetap aja kulinernya rawon dan soto hahaha. Sebagai orang yang lama tinggal di Kalimantan dan jawa Timur yang cenderung gurih, kuliner Semarang ini manis-manisss.

Gedung Tidak Menyeramkan

Serius. Beberapa penginapan bahkan apartemen yang aku cari dengan rate segitu kadang terlihat menyeramkan. Apalagi apartemen yang jarang penghuninya. Ulasan dari pengunjung lain sangat berguna banget buatku. Aku tahu kira-kira gambaran penginapannya gimana.

Sun Apartment ini tidak menyeramkan karena sebenarnya satu gedung dengan Hotel Horison Semarang. Di bagian bawah gedung, pintu masuk hotel Horison, sedangkan pintu masuk Sun Apartment aksesnya lewat parkir mobil. 

Petugas ramah dan memberikan video cara jalan menuju ke apartemennya agar kita tidak bingung.

Ketika masuk ke ruangan pun, bangunannya sebenarnya memang biasa saja. Pintu kamar dan memang sepi. Resepsionisnya pun di ruangan sendiri. Sederhana. Pegawainya ramah. 

Lokasi Strategis

Karena dulu waktu kuliah, beberapa kali berkunjung ke Java Mall dan cukup hafal dengan Semarang, aku tidak terlalu sulit menemukan lokasi hotelnya dan amenities di sekitarnya. 

Aku masih hafal jalan-jalan dari Ungaran-Tembalang-dan Semarang bawah. Setiap jalan yang kulalui mengingatkanku pada perjuanganku kuliah dulu. Saat weekday, aku harus kuliah di Undip Tembalang. Saat weekend, aku harus les bahasa Prancis di Semarang bawah. Semua kulakukan selama hampir 1 tahun. Kembali ke Semarang sangat membuat hatiku trenyuh. Rinduuu. Ya Allah segitu berjuangnya akuuu demi impian yang ingin kugapai: kuliah di Prancis. Yang akhirnya Allah izinkan aku kuliah di Paris Nanterre dengan segala dinamikanya. 

Lokasi Sun Apartment ini sangat strategis karena di tengah kota, dekat Java Mall, di sekitarnya juga banyak tempat makan. Kami juga sengaja ambil hotel Semarang ini karena tidak begitu jauh dari Undip Tembalang dan tidak jauh dari Simpang Lima Semarang.

Fasilitas Sederhana

Fasilitas kamar memang sederhana tapi menurutku cukup dan sesuai kebutuhan. 


Saat kami memasuki kamar, kami melihat kitchen set tanpa ada isi apa pun. Sepertinya memang cocok untuk kalian yang akan lama di sini dan membawa perlengkapan memasak.

Ada tempat cuci piring karena memang konsepnya kamar apartemen. Beda dengan kamar hotel. Ada kulkas di dalam lemari dan mini bar dengan kursi. Di atasnya ada dispenser cuma di foto di atas pas nggak ada. Aku lupa foto waktu di sana. Kalau foto di bawah ini beda tidak telrihat kitchen setnya. Cuma secara keseluruhan hanpir sama.



Fasilitas kamar yang kami dapatkan:
  • Kasur Queen size bed yang nyaman
  • Dispenser berisi air. Lumayan banget buat menghangatkan tubuh dari luar.
  • Welcome snack. Snackmya sih sederhana. Ada teh, kopi, gula, satu indomie. Aku lupa ada chiki apa ngga yaa.
  • Smart TV dan Akses WiFi. Anak-anak happy banget dong ada TV. Mereka sampai kamar langsung nonton TV sambil istirahat di tempat tidur. Nyaman Banaarrr.
  • Perlengkapan mandi (handuk, sikat gigi, sabun, shower)
  • Kitchen set sih tapi nggak ada kompor wajan dll yaa.. cuma kayak dapur aja. Ada tempat cuci piring.
  • AC. Seingetku AC nya sedikit apa ya.. nggak bisa disetting. Pas banget arahnya ke tempat tidur jadi agak nggak enak juga kena AC langsung.
  • Kulkas
  • Meja dan kaca

Kolam renang di atas gedung

Yang paling 'mewah' sih sebenarnya bisa berenang di atas gedung. Kolam renang ini merupakan bagian dari Hotel Horison tapi penghuni apartemen boleh memiliki akses kolam renang ini. 



Jadi kalau mau ke kolam renang ini kita naik lift untuk pengunjung hotel Horison. Jadi kita memasuki pintu menuju gedung Hotel Horison. Nah, bedanya terlihat banget karena lorongnya berkarpet, lampunya sendu, dan desain interior dinding per kamarnya juga eksklusif. Bagi kami sih udah cukup banget bisa ikut berenang di kolam renang di atas gedung. 

Ketika berada di kolam renangnya, aku sangat terkesima dengan pemandangan kota Semarang dari ketinggian. Sebenarnya kalau malam hari lebih keren lagi tapi kalau tidak salah jam aksesnya terbatas dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam.

Aku bisa melihat masjid Jami' Semarang yang jadi destinasi kami bersama anak-anak. Cuma aku nggak ceritakan lagi deh. Udah pernah aku tulis dulu.

Kolam renang khusus anak-anak juga lebar, begitu juga kolam dewasa. Anak-anak bisa puas bermain-main air ke sana kemari. Sedangkan untuk kolam dewasa memang kurang luas apalagi kalau orang dewasanya banyak yang berenang. Meskipun begitu kolam renang ini menurutku lebih luas daripada kolam renang di Hotel Best Western Bandung.

Kamar dengan City View

Salah satu alasan kami memilih Sun Apartment adalah memilih kamar dengan city view. Untuk office berada di lantai 9. Dan kamar kami tidak jauh dari office-nya. Ternyata city vew dari kamar mentok banget ke Java Mall dan jalanan berbukit. Haha. Bukan ke arah tengah kota. Yaudahlah. Setidaknya lihat aktivitas orang di bawah sana. Wkwkwk.

Mau menginap di sini lagi?

Kalau ditanya bakal menginap ke Sun Apartment lagi nggak? Tergantung sih. Bisa iya bisa tidak. Haha. Kalau akan lama di hotel mending cari yang lain tapi kalau cuma sejenak numpang tidur aja dan pengen berenang di kolam renang dari ketinggian, masih oke aja kok. 
Read More
Liburan bersama keluarga besar di Telaga Sarangan sebenarnya sudah dilakukan September 2023 lalu, tapi baru aku ceritakan sekarang. Parah banget ya. Wkwkwk. Pencarian pertama adalah mencari vila di Sarangan. Karena aku juga cari vila lewat online, tidak punya kenalan siapa pun, maka harus teliti dan hati-hati. Kadang aku takut saja kalau ternyata terkena penipuan. Jadi benar-benar harus ditelusuri.

View telaga sarangan
View Telaga Sarangan dari Teras Villa

Pertimbangan Memilih Vila di Sarangan

Yang paling memusingkan memilih vila itu karena cukup banyak pertimbangan. Berhari-hari aku mentelengin layar hape untuk cari vila lewat google dan media sosial sampai pussiinggg. Sekarang sih lebih mudah karena banyak penginapan/vila yang memiliki media sosial dan ada kontak yang bisa dihubungi.

Beberapa pertimbangan memilih vila di Telaga Sarangan yaitu:

· Jenis bangunan

Pertama kali yang kulihat saat pilih vila adalah bangunannya. Karena di Sarangan itu banyak vila yang vibe-nya klasik. Bangunan modern sih jarang. Pertama, pasti aku cari yang bangunannya modern, sedangkan bangunan biasa bisa jadi pilihan kedua.

· Lokasi

Setelah itu, aku lihat jarak vila ke telaga Sarangan melalui peta, vila yang dekat dengan telaga Sarangan sebagai nilai plus dalam pertimbangan memilih vila.

· Fasilitas vila

Yang penting juga, aku menghitung jumlah kamar yang tersedia, ruangannya bagaimana, kamar mandi, air hangat, teras, gazebo, dan lain-lain. Karena aku datang bersama keluarga besar yang sudah berkeluarga juga jadi aku cari kamar yang muat untuk 5 keluarga. Agak-agak susah karena biasanya vila hanya terbatas 3 kamar. Ada yang bisa sampai 8 kamar tapi besar sekali. Aku juga memastikan untuk nambah ekstra bed dan biayanya. Ada yang memberikan gratis, ada yang tidak bisa.

· View menghadap telaga

Yang paling menarik dan menjadi nilai plus yang bisa dipertimbangkan adalah vila dengan view menghadap telaga Sarangan. Tidak banyak vila yang memiliki view menghadap telaga secara langsung. Rata-rata terhalang oleh pepohonan atau warung-warung.

· Parkir mobil

Kami datang sekitar bawa tiga mobil. Jadi aku juga mempertimbangkan parkir mobilnya apakah cukup atau tidak. Nah, ada juga vila dengan bangunan modern, view telaga Sarangan tapi cukup jauh, karena berada di atas bukit, parkirnya susah. Akhirnya batal ke vila tersebut, karena jumlah kamar yang tidak banyak. Ada satu vila yang langsung berhadapan dengan telaga dan parkir mobilnya tampak kurang luas, tapi saat ditanyakan ke pemilik penginapan, katanya cukup untuk tiga mobil.

· Harga

Vila di Sarangan itu harganya bermacam-macam, dari harga yang paling murah sampai harga yang paling mahal. Nah, sulitnya kalau mencari online adalah kita tidak tahu apakah orang itu pemilik vila langsung atau sudah pihak ketiga atau keempat bahkan kelima. Karena kalau sudah pihak ke sekian itu harganya jadi mahal. Nah, salah satunya cara sih, pastikan di internet itu nomornya sama. Tidak berbeda-beda. Kalau beda-beda dipastikan harganya mahal.

· Tempat makan

Sebenarnya lokasi tempat makan ini bukan menjadi pertimbangan utama karena rata-rata di pinggir telaga Sarangan banyak yang menjual makanan. Toh, kita juga rencana membawa bahan dan peralatan makan sendiri, seperti daging slice, sayuran, rice cooker, wajan, perbumbuan, dan lain-lain. Makanya, aku juga memastikan apakah vilanya sudah tersedia gas dan kompor.

· Atraksi wisata

Atraksi wisata bukan jadi pilihan utama saat memilih vila, tapi kami cukup tahu aja ada atraksi wisata apa di sana, seperti speed boat, berkuda, mainan anak-anak. Yang paling seru memang naik speed boat. 

Vila depan Telaga Sarangan

Setelah membanding-bandingkan beberapa vila di sana, akhirnya diputuskan vila yang berada tepat di depan telaga sarangan. Namanya Vila Arjuna 1. Lokasinya di Jalan Telaga Sarangan, RT 28, RW 02, Sarangan, Ngluweng, Magetan, Jatim. Informasi untuk vila ini cukup banyak karena pihak vila memiliki media sosial untuk marketing vila. Kontaknya pun langsung ke vila.

Keluarga di Malang, perjalanan dimulai dini hari dan tiba di Telaga Sarangan jam 7 pagi. Sedangkan kami dari Sidoarjo mulai berangkat juga dini hari tapi lebih terlambat. Tiba di sana jam 8an. Tentu saja kami belum boleh check in. Jadi kami cari sarapan dulu, terus menunggu di depan vila seraya menatap air danau yang berkilau terkena cahaya matahari pagi.

Naik Kuda di Sarangan

Suasana Sarangan sejuk tapi mataharinya cukup terik. Suara kaki kuda terdengar saat kami sedang menunggu. Anak-anak heboh ingin naik kuda. Maka, sambil menunggu check in, kami keliling Telaga Sarangan dengan naik kuda. Aku lupa berapa harga naik kuda di Sarangan. Menaiki satu kuda harganya 80ribu kalau nggak salah. Karena cucu-cucunya Bani Suryadi ini banyak (ada 10 anak), jadi satu kuda dinaiki dua orang. Lumayan lah hemat. Hahaha.

Naik kuda lagi

Tahu sendiri kan, anak kecil-kecil yang masih balita, TK dan SD kalau sudah kumpul hebohnya gimana. Yang satu mau naik sendiri, yang satu nggak mau di belakang. Hebooohh. Pussinnggg emaknya nih.

Pokoknya gimana caranya mereka bisa legowo atas keputusan emaknya. Alhamdulillah, mereka mau menurut, dan mulai keliling Telaga Sarangan naik kuda dengan dipandu pemilik kudanya.

Sarapan di pinggir Telaga

Setelah anak-anak puas berkeliling telaga dengan kuda, kami mencari sarapan di sekitar telaga. Banyak penjual yang menawarkan makanan, mulai dari sate kelinci, pecel khas Magetan, soto, gorengan, dan lain-lain. Tapi yang paling banyak sate kelinci.

Aku, suami dan mertua memesan nasi pecel yang ramai dikunjungi banyak pembeli. Sayur-sayurnya tampak segar, dan bumbunya tampak menarik. Rasanya juga lumayan. Rasa-rasanya harganya nggak mahal, mungkin sekitar 10ribu sudah sama lauk telur.

Masuk Villa

Setelah keliling telaga dan mencari sarapan sekitar telaga, kami pun boleh check in. Aku lupa tepatnya jam berapa. Bangunan Villa Arjuna 1 ini ada tiga tingkat. Lantai 1 hanya terdiri dari kamar-kamar yang menghadap tempat parkir. Di lantai 2, ada kamar-kamar, ruangan bersama dan balkon. Beberapa orang terlihat menempati lantai dua tersebut.

Kami menempati lantai 3 yang memiliki teras dan gazebo yang langsung menghadap Telaga Sarangan. MaasyaAllah. Pemandangan dari lantai atas terlihat lebih luas dan sangat menyenangkan. Angin dingin menerpa wajahku. Anak-anak terlihat senang berlarian di teras. Semua melihat pemandangan telaga di depan.

Kami memilih kamar masing-masing. Di bagian depan, ada satu double bed dan kamar mandi. Di kamar tengah, ada dua kasur single dan kamar mandi. Di kamar belakang, menghadap ke hutan, double bed dan kamar mandi. Sementara kamar dekat tangga di bagian luar dan terpisah dengan kamar lain, hanya ada kasur-kasur  tanpa dipan. Tapi jadi leluasa tidur di sana, meskipun maaf mungkin sedikit berdebu. 

Untuk kamar mandi ini, ternyata besoknya kehabisan air panas. Gasnya habis. Hampir di semua kamar yang ada kamar mandi. Haha. Syukurnya, kita sudah terbiasa dengan air dingin di Malang, jadi tidak terlalu bermasalah. Cuma anak-anak bayi saja yang heboh. Haha.

Oiya, karena masih kurang satu kamar, jadi kami nambah satu kamar lagi di lantai satu hanya untuk tidur. Sedangkan kalau makan dan kumpul-kumpul kembali lagi ke lantai atas.

Kami mulai mengatur urusan dapur untuk memasak. Tidak ada dapur khusus untuk memasak. Hanya teras di samping bangunan yang bisa digunakan untuk memasak. Meja satu untuk meletakkan makanan.

Saat itu, belum ada gas. Hanya ada kompor. Setelah kami meminta, gas diantarkan oleh petugas villa. Kami pun mulai mengolah daging slice yang sudah dibumbui.

Paling enak mengolah daging slice ini karena tidak perlu memakan waktu yang lama. Rasanya enak dan empuk juga, dicampur dengan salad sayur yang segar yang kami bawa dari Malang.

Naik Speed Boat

Setelah sholat ashar, kami berencana menaiki speed boat beramai-ramai. Kami berjalan kaki menuju dermaga. Setelah menawar sejumlah harga, karena kami banyak orang, kami pun membagi rombongan menjadi beberapa boat.

Anakku yang bayi masih 2 tahun ingin ikut aku naik speedboat, tapi aku larang. Aku sendiri nggak berani bawa anak bayi naik speed boat. Takut dia mabuk atau kenapa-kenapa. Jadi aku titipkan dulu sama utinya. Alhasil, dia nangis-nagis kejer pas aku, suami dan anak-anak naik speed boat ninggalin dia. Ya Allah... maaf yaaa...



Selama sekitar setengah jam, speed boat terus menerjang ombak kecil telaga tanpa rem dan membuat kami seperti dibanting-banting di atas air. Tanganku tak berhenti berpegangan erat pada besi di bagian dudukan belakang. Jilbabku sudah tak karuan terkena angin kencang.

Beberapa kali aku memperingatkan anakku dengan suara keras agar mereka berpegangan kuat. Terus terang aku takut pegangan mereka terlepas dan jatuh ke air, meskipun kami sudah pakai pelampung.

Anak-anakku sangat menikmati naik speed boat yang melaju kencang di atas danau. Kapal mulai memelan ketika sudah berada dekat dengan tulisan Telaga Sarangan. Driver menawarkan kami untuk berfoto. Kapal berhenti. Tak ingin melewatkan kesempatan, kami pun bergaya di depan kamera sebanyak mungkin.

Setelah itu, kami pun kembali ke dermaga dengan kecepatan yang masih sama. Ya Rabbb... seruuu!

Untuk harga naik speedboat ini kalau tidak salah Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,- per kapal.

Malam-malam di Sarangan yang dingin

Kesalahanku saat pergi ke sarangan adalah nggak bawa jaket. Anak-anak pun juga nggak bawa jaket. Dingin bangettt sampai 17 derajat. Beda ya waktu di Paris 17 derajat itu masih terbilang panas. Hehe. Duh, tapi anak-anak enjoy aja main sama sepupunya.

Maunya malam-malam itu duduk di gazebo menikmati makanan sambil menatap telaga. Tapi saking dinginnya, nggak sanggup keluar ke teras. Cuma melihat dari dalam rumah saja. Ya

Telaga Sarangan di malam hari dari vila


Dari jendela kaca kamar, aku masih bisa melihat lampu-lampu yang ada di seberang danau.

Keliling Telaga Sarangan dengan Berjalan Kaki

Esok pagi ba’da subuh, masih dingin, ketika matahari naik sedikit sekitar pukul setengah 6 pagi, aku dan suami berjalan kaki mengelilingi Telaga Sarangan.

Di bagian utara dan timur telaga, beberapa penjual makanan sudah buka, tapi ada lagi yang belum buka. Penjual toko oleh-oleh pun belum buka. Jalanan pertigaan besar sebagai pintu masuk ke area wisata Telaga Sarangan pun masih terlihat sepi.

Kera mencari makanan diantara tumpukan sampah

Selanjutnya, di bagian barat, di mana terlihat tulisan Telaga Sarangan yang besar, di situlah banyak pepohonan. Bahkan masih banyak kera-kera yang bergelantungan di pepohonan dan berkeliaran di jalanan mencari makanan di antara sampah-sampah yang tak dibuang di tempat sampah.

Telaga Sarangan saat matahari terbit


Di vila pojokan yang sempat aku cari di Google ramai dengan para penyewa vila. Di sini lebih banyak penjual makanan. Di sini, ternyata banyak vila tapi untuk akses mobil sedikit susah bahkan ada palangnya. Vila-vilanya juga lebih kecil dan tampak lebih padat.

Oiya ada akses menuju air terjun juga tapi jalannya masuk dan jauh ke dalam. 

Bye, Sarangan!

Dulu, ketika masih kecil, aku pernah diajak ke Sarangan sama orang tua dan naik kuda di sana. Setelah naik kuda, isi perut seperti ditusuk-tusuk. Setelah itu, aku tidak mau lagi naik kuda. Tapi sekarang, nggak masalah. Haha. 

Setelah keliling Telaga Sarangan, tibalah kami di Villa kembali. Bersiap sarapan, foto-foto satu keluarga dan pulang kembali ke rumah masing-masing. 

Kapan-kapan bisa kembali ke sini lagi soalnya lumayan dekat dengan Sragen tapi ngga usah pake nginep. 

Sebelum pulang, kita jalan-jalan dulu ke Lawu Green Forest.


Read More

Review hotel Illira Banyuwangi

Setelah perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi akhirnya tibalah kami di Hotel Illira. Aku akan review hotel Illira Banyuwangi dalam tulisanku kali ini. 

Kami menunggu di lobi hotel sampai kami mendapatkan kunci kamar yang sudah diatur oleh pihak travel. Rasanya jelas capek banget padahal kami hanya duduk saja di dalam bus.

Setelah kami mendapat kunci kamar berbentuk kartu, kami pun antri naik lift. Kami mendapat kamar di lantai lima. Ketika sampai kamar, aku langsung membuka jendela kamar. 

Jalanan kota Banyuwangi tidak ramai. Lampu-lampu dominan berada si sepanjang jalan. Bangunan besar juga tidak sebanyak Sidoarjo tapi kerennya kita bisa melihat pemandangan laut dari balkon hotel.

Lokasi Hotel

Lokasi Hotel Banyuwangi view pantai ini tidak jauh dari Alun-alun kota Banyuwangi. Tapi memang di sekitar hotel tidak terlihat aktivitas perdagangan di mana kita bisa jalan malam hari sambil berbelanja. Hehe.

Harga per kamar

Sebenarnya ada hotel tepi pantai Banyuwangi yang terkenal dan memiliki kolam renang yang dekat bibir pantai, seperti Villa So Long, Dialoog Banyuwangi, Ketapang Indah Hotel. Tapi rate kamar per malam di atas 1 juta.

Karena aku menginap di hotel Banyuwangi dekat pantai ini sudah gabung dengan kantor suami jadi aku hanya terima jadi saja. Kalau lihat di internet sih, harga hotel Illira Banyuwangi per malam sih sekitar 500-700 ribu rupiah. Dan menurutku harga segitu sudah sesuai dengan fasilitas yang di dapat.

Tidak semua fasilitas hotel bisa aku nikmati dengan bebas. Sebabnya ada yang harus dibayar di luar biaya menginap. Beberapa fasilitas Hotel Illira yaitu.

Alasan Menginap di Hotel Illira Banyuwangi

Aku akan jelaskan kenapa harga segitu sudah sesuai dan alasan menginap di Hotel Illira Banyuwangi.

Keindahan pantai dan gunung yang memukau

Kelebihan hotel Ilira Banyuwangi ini adalah kita bisa melihat pantai di depan kita dan gunung Ijen di belakang kita dari balkon kamar. Keindahan Allah yang bisa dinikmati dari balkon kamar. Subhanallah.

Hotel banyuwangi view gunung
View gunung dari balkon hotel (dok.pri)

Nuansa modernitas di tengah pedesaan yang banyak diciptakan seperti halnya di wilayah pedesaan di Bali. Suasana tenang dari keindahan alam rasanya membuat jiwa juga ikut tenang. Tapi entah mengapa nuansa alami itu di beberapa tempat sudah mulai hilang akibat pembangunan yang terus menerus. Apa yang kita kira bisa memperbaiki kehidupan manusia tanpa sadar malah merusaknya. Naudzubillahi.

Hotel Banyuwangi view laut
View laut dari balkon hotel (dok.pri)

Sayangnya, kontemplasi diri yang sangat singkat itu harus aku akhiri sebab aku tak bisa duduk berlama-lama di balkon. Anginnya cukup kencang di lantai 5!

Kamar nyaman dan luas

Jika sebelumnya aku menginap di Hotel Le Meridien yang isi kamarnya padat, ketika aku menginap di Hotel Illira Banyuwangi, aku merasa kamar hotel Illira cukup lowong. Kamar berisi fasilitas hotel bintang empat biasanya seperti kamar tidur, meja kecil di kedua sisi tempat tidur, satu kursi, ada tempat duduk di bawah tivi, bar mini, lemari dengan brankas dan pendingin.
.
Kamar hotel Illira Banyuwangi
Sebelum ditinggal di foto dulu makanya berantakan hehe (dok.pri)

Kami berlima menempati satu tempat tidur yang harus berbagi. Haha. Dengan ukuran double bed jelas untuk 2 dewasa, 3 anak kecil cukup mepet ya meskipun kami harus mengatur posisi tidur biar semua bisa tidur 1 kasur. Sebenarnya di bawah tivi ada tempat duduk memanjang bisa untuk tidur, tapi karena di bawah AC, aku tidak mau ada yang tidur di situ.

Bar mini hotel

AC juga tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Bisa disetel sih tapi menurutku suhunya stabil. 

Kamar mandinya unik karena pintunya langsung gabung dengan ruang shower. Di dalam kamar mandi disekat antara tempat shower dengan wastafel dan kloset. Nah, pintu kamar mandi ini digabung dengan pintu shower. Jadi kalau mau tutup pintu kamar mandi maka ruang shower terbuka. Begitu juga ketika pintu ruang shower ditutup maka bagian ruang wastafel dan kloset akan terbuka dan terlihat dari luar.

Di wastafel ada laci untuk tempat menyimpan pengering rambut. Ada kaca yang besar. Ada fasilitas sabun mandi, sikat gigi, odol, shower cap, dan handuk. Di ruang shower ada sabun dan shampo di dalam botol.

Kamar mandi hotel
Pintu kamar mandi yang gabung dengan pintu shower (dok.pri)

Oh iya, kalau mau membuka pintu balkon harus menghubungi resepsionis melalui telepon. Nanti petugas akan datang ke kamar untuk membuka pintu balkon.

Keamanan terjamin dengan keylock kamar

Kunci kamar menggunakan sistem kartu. Kartu ini digunakan juga untuk menyalakan listrik di kamar. Dengan sistem kartu tersebut insyaallah keamanan kamar terjamin.

Sarapan hotel yang bervariasi

Yang paling menyenangkan dari menginap di Hotel adalah sarapan pagi. Sebelum aku masuk restoran, aku ditanya nomor kamar berapa. Aku pun menyebutkan nomor kamar. Setelah itu, aku diminta membayar 50.000 per anak karena aku membawa tiga anak kecil. Pegawai hotel mengatakan sarapan di hotel tambah tiga anak dikenai charge tambahan. Aku kaget harusnya aku tidak perlu membayar lagi karena karena aku termasuk rombongan dari kantor suami. Suami pun mengatakan bahwa kami adalah rombongan dari kantor XXX. Pegawai pun mengizinkan kami masuk restoran dengan tiga anak tanpa charge.

Sinar matahari pagi yang mulai terik menyinari sebagian meja makan restoran. Bagi yang ingin menikmati udara pagi bisa duduk di luar restoran yang berhadapan dengan kolam renang. Beberapa tamu sudah ada yang berenang di sana.

Restoran Hotel Illira
Restoran Hotel Illira (Foto Google Adriani k. d)

Aku langsung mencari tempat duduk dan meminta anak-anak untuk duduk. Setelah itu aku mengambilkan sereal untuk si Ahmad paling kecil. Setelah aku kembali, dua Ahmad lainnya kuminta mereka ambil sendiri dan berpesan untuk berhati-hati karena banyak barang pecah belah.

Makanan di restoran Hotel Illira ini bervariasi mulai dari Western Food sampai Asian Food. Seleraku hampir sama dengan anak-anak. Sereal plus susu, omelette, pancake, puding, salad buah dan sayur serta bakery.

Dan seperti biasa, setiap ke hotel, aku selalu membawa kotak makan kecil. Beberapa bakery dipaksa masuk ke kotak makan. Nggak banyak sih, paling cuma 3 atau 4 roti. Lumayan buat makan ketika lapar di perjalanan. Hehe.

Restoran hotel bintang 4
Restoran Hotel Banyuwangi (Foto Google AO W) 

Makanan utama di restoran Hotel Illira ada bubur ayam, nasi kare, ayam crispy, mie goreng, sosis, dan lainnya. Dua hari makan di restoran Hotel Illira, aku menikmati salah satu makanan berkuah seperti sop tapi pedas, berbumbu kuat dan isinya ikan. Rasanya segar dan agak pedas tapi sayang aku lupa namanya apa.

Ada juga jajanan tradisional di restoran Hotel Illira seperti telo rebus, pisang rebus, klepon, kacang rebus tapi karena aku tamu domestik jadi aku ambil klepon dan telo rebus. Alhasil, aku kekenyangan dan tidak mencicipi semua makanan.

Kolam renang dengan view gunung dan laut

Selama aku menikmati sarapan di resto, sebenarnya aku tidak sabar ingin mengajak anak-anakku berenang. Akhirnya ketika suami sedang rapat, aku mengajak anak-anak berenang.

Kolam renang dibagi dua yaitu untuk anak dan untuk dewasa. Kedalaman kolam renang Hotel Illira untuk dewasa sekitar 1,5 meter. Tidak ada perosotan. Lantai kolam renang tidak keramik seperti kolam renang biasanya tapi seperti diberi alas terpal atau apa gitu namanya.

Kolam renang Hotel Illira (Foto Google Wilmar Desrizal)

Kolam renang ini ada di lantai tiga jadi kita bisa melihat pemandangan dari kolam renang yang bagus banget. Kita bisa melihat selat Bali dan pegunungan. Subhanallah.

Fasilitas shower ada di dekat kolam renang. Kita juga bisa mandi dan ganti baju di kamar mandi yang ada di dekat kolam renang. Kamar mandinya cukup luas dan banyak bilik.

Fasilitas lain

Fasilitas lain di hotel bintang 4 Banyuwangi itu masih banyak lagi, tapi aku tidak merasakan semua seperti fasilitas gym yang ada di dekat kolam renang, bar/lounge di lantai atas, dan spa/massage. Untuk WiFi hotel lancar. 

Oiya, aku baru tahu setelah dua malam menginap di hotel Illira Banyuwangi, kalau hotel juga menyediakan sepeda untuk tamu yang ingin bersepeda di sekitar hotel. Anak-anakku mencoba memakai sepeda sebelum check out.

Fasilitas hotel bintang 4

Uniknya, setelah check out, seorang perempuan memakai baju penari gandrung stand by di depan hotel. Kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama.

Hotel Illira Banyuwangi memang keren!

Bagiku, pelayanan Hotel Illira cukup bagus. Nggak salah kalau travel pilih hotel Illira Banyuwangi ini sebagai rekomendasi hotel Banyuwangi yang murah dan bagus. Setelah check out hotel ini, kami menuju ke tempat wisata selanjutnya dan yang aku tunggu-tunggu, snorkeling di Bangsring sebagai obyek wisata yang dikunjungi selama di Banyuwangi.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower