Villa Arjuna dengan Panorama Indah Telaga Sarangan

No Comments
Liburan bersama keluarga besar di Telaga Sarangan sebenarnya sudah dilakukan September 2023 lalu, tapi baru aku ceritakan sekarang. Parah banget ya. Wkwkwk. Pencarian pertama adalah mencari vila di Sarangan. Karena aku juga cari vila lewat online, tidak punya kenalan siapa pun, maka harus teliti dan hati-hati. Kadang aku takut saja kalau ternyata terkena penipuan. Jadi benar-benar harus ditelusuri.

View telaga sarangan
View Telaga Sarangan dari Teras Villa

Pertimbangan Memilih Vila di Sarangan

Yang paling memusingkan memilih vila itu karena cukup banyak pertimbangan. Berhari-hari aku mentelengin layar hape untuk cari vila lewat google dan media sosial sampai pussiinggg. Sekarang sih lebih mudah karena banyak penginapan/vila yang memiliki media sosial dan ada kontak yang bisa dihubungi.

Beberapa pertimbangan memilih vila di Telaga Sarangan yaitu:

· Jenis bangunan

Pertama kali yang kulihat saat pilih vila adalah bangunannya. Karena di Sarangan itu banyak vila yang vibe-nya klasik. Bangunan modern sih jarang. Pertama, pasti aku cari yang bangunannya modern, sedangkan bangunan biasa bisa jadi pilihan kedua.

· Lokasi

Setelah itu, aku lihat jarak vila ke telaga Sarangan melalui peta, vila yang dekat dengan telaga Sarangan sebagai nilai plus dalam pertimbangan memilih vila.

· Fasilitas vila

Yang penting juga, aku menghitung jumlah kamar yang tersedia, ruangannya bagaimana, kamar mandi, air hangat, teras, gazebo, dan lain-lain. Karena aku datang bersama keluarga besar yang sudah berkeluarga juga jadi aku cari kamar yang muat untuk 5 keluarga. Agak-agak susah karena biasanya vila hanya terbatas 3 kamar. Ada yang bisa sampai 8 kamar tapi besar sekali. Aku juga memastikan untuk nambah ekstra bed dan biayanya. Ada yang memberikan gratis, ada yang tidak bisa.

· View menghadap telaga

Yang paling menarik dan menjadi nilai plus yang bisa dipertimbangkan adalah vila dengan view menghadap telaga Sarangan. Tidak banyak vila yang memiliki view menghadap telaga secara langsung. Rata-rata terhalang oleh pepohonan atau warung-warung.

· Parkir mobil

Kami datang sekitar bawa tiga mobil. Jadi aku juga mempertimbangkan parkir mobilnya apakah cukup atau tidak. Nah, ada juga vila dengan bangunan modern, view telaga Sarangan tapi cukup jauh, karena berada di atas bukit, parkirnya susah. Akhirnya batal ke vila tersebut, karena jumlah kamar yang tidak banyak. Ada satu vila yang langsung berhadapan dengan telaga dan parkir mobilnya tampak kurang luas, tapi saat ditanyakan ke pemilik penginapan, katanya cukup untuk tiga mobil.

· Harga

Vila di Sarangan itu harganya bermacam-macam, dari harga yang paling murah sampai harga yang paling mahal. Nah, sulitnya kalau mencari online adalah kita tidak tahu apakah orang itu pemilik vila langsung atau sudah pihak ketiga atau keempat bahkan kelima. Karena kalau sudah pihak ke sekian itu harganya jadi mahal. Nah, salah satunya cara sih, pastikan di internet itu nomornya sama. Tidak berbeda-beda. Kalau beda-beda dipastikan harganya mahal.

· Tempat makan

Sebenarnya lokasi tempat makan ini bukan menjadi pertimbangan utama karena rata-rata di pinggir telaga Sarangan banyak yang menjual makanan. Toh, kita juga rencana membawa bahan dan peralatan makan sendiri, seperti daging slice, sayuran, rice cooker, wajan, perbumbuan, dan lain-lain. Makanya, aku juga memastikan apakah vilanya sudah tersedia gas dan kompor.

· Atraksi wisat

Atraksi wisata bukan jadi pilihan utama saat memilih vila, tapi kami cukup tahu aja ada atraksi wisata apa di sana, seperti speed boat, berkuda, mainan anak-anak. Yang paling seru memang naik speed boat.

Vila depan Telaga Sarangan

Setelah membanding-bandingkan beberapa vila di sana, akhirnya diputuskan vila yang berada tepat di depan telaga sarangan. Namanya Vila Arjuna 1. Lokasinya di Jalan Telaga Sarangan, RT 28, RW 02, Sarangan, Ngluweng, Magetan, Jatim. Informasi untuk vila ini cukup banyak karena pihak vila memiliki media sosial untuk marketing vila. Kontaknya pun langsung ke vila.

Keluarga di Malang, perjalanan dimulai dini hari dan tiba di Telaga Sarangan jam 7 pagi. Sedangkan kami dari Sidoarjo mulai berangkat juga dini hari tapi lebih terlambat. Tiba di sana jam 8an. Tentu saja kami belum boleh check in. Jadi kami cari sarapan dulu, terus menunggu di depan vila seraya menatap air danau yang berkilau terkena cahaya matahari pagi.

Naik Kuda di Sarangan

Suasana Sarangan sejuk tapi mataharinya cukup terik. Suara kaki kuda terdengar saat kami sedang menunggu. Anak-anak heboh ingin naik kuda. Maka, sambil menunggu check in, kami keliling Telaga Sarangan dengan naik kuda. Aku lupa berapa harga naik kuda di Sarangan. Menaiki satu kuda harganya 80ribu kalau nggak salah. Karena cucu-cucunya Bani Suryadi ini banyak (ada 10 anak), jadi satu kuda dinaiki dua orang. Lumayan lah hemat. Hahaha.

Naik kuda lagi

Tahu sendiri kan, anak kecil-kecil yang masih balita, TK dan SD kalau sudah kumpul hebohnya gimana. Yang satu mau naik sendiri, yang satu nggak mau di belakang. Hebooohh. Pussinnggg emaknya nih.

Pokoknya gimana caranya mereka bisa legowo atas keputusan emaknya. Alhamdulillah, mereka mau menurut, dan mulai keliling Telaga Sarangan naik kuda dengan dipandu pemilik kudanya.

Sarapan di pinggir Telaga

Setelah anak-anak puas berkeliling telaga dengan kuda, kami mencari sarapan di sekitar telaga. Banyak penjual yang menawarkan makanan, mulai dari sate kelinci, pecel khas Magetan, soto, gorengan, dan lain-lain. Tapi yang paling banyak sate kelinci.

Aku, suami dan mertua memesan nasi pecel yang ramai dikunjungi banyak pembeli. Sayur-sayurnya tampak segar, dan bumbunya tampak menarik. Rasanya juga lumayan. Rasa-rasanya harganya nggak mahal, mungkin sekitar 10ribu sudah sama lauk telur.

Masuk Villa

Setelah keliling telaga dan mencari sarapan sekitar telaga, kami pun boleh check in. Aku lupa tepatnya jam berapa. Bangunan Villa Arjuna 1 ini ada tiga tingkat. Lantai 1 hanya terdiri dari kamar-kamar yang menghadap tempat parkir. Di lantai 2, ada kamar-kamar, ruangan bersama dan balkon. Beberapa orang terlihat menempati lantai dua tersebut.

Kami menempati lantai 3 yang memiliki teras dan gazebo yang langsung menghadap Telaga Sarangan. MaasyaAllah. Pemandangan dari lantai atas terlihat lebih luas dan sangat menyenangkan. Angin dingin menerpa wajahku. Anak-anak terlihat senang berlarian di teras. Semua melihat pemandangan telaga di depan.

Kami memilih kamar masing-masing. Di bagian depan, ada satu double bed dan kamar mandi. Di kamar tengah, ada dua kasur single dan kamar mandi. Di kamar belakang, menghadap ke hutan, double bed dan kamar mandi. Sementara kamar dekat tangga di bagian luar dan terpisah dengan kamar lain, hanya ada kasur-kasur  tanpa dipan. Tapi jadi leluasa tidur di sana, meskipun maaf mungkin sedikit berdebu. 

Untuk kamar mandi ini, ternyata besoknya kehabisan air panas. Gasnya habis. Hampir di semua kamar yang ada kamar mandi. Haha. Syukurnya, kita sudah terbiasa dengan air dingin di Malang, jadi tidak terlalu bermasalah. Cuma anak-anak bayi saja yang heboh. Haha.

Oiya, karena masih kurang satu kamar, jadi kami nambah satu kamar lagi di lantai satu hanya untuk tidur. Sedangkan kalau makan dan kumpul-kumpul kembali lagi ke lantai atas.

Kami mulai mengatur urusan dapur untuk memasak. Tidak ada dapur khusus untuk memasak. Hanya teras di samping bangunan yang bisa digunakan untuk memasak. Meja satu untuk meletakkan makanan.

Saat itu, belum ada gas. Hanya ada kompor. Setelah kami meminta, gas diantarkan oleh petugas villa. Kami pun mulai mengolah daging slice yang sudah dibumbui.

Paling enak mengolah daging slice ini karena tidak perlu memakan waktu yang lama. Rasanya enak dan empuk juga, dicampur dengan salad sayur yang segar yang kami bawa dari Malang.

Naik Speed Boat

Setelah sholat ashar, kami berencana menaiki speed boat beramai-ramai. Kami berjalan kaki menuju dermaga. Setelah menawar sejumlah harga, karena kami banyak orang, kami pun membagi rombongan menjadi beberapa boat.

Anakku yang bayi masih 2 tahun ingin ikut aku naik speedboat, tapi aku larang. Aku sendiri nggak berani bawa anak bayi naik speed boat. Takut dia mabuk atau kenapa-kenapa. Jadi aku titipkan dulu sama utinya. Alhasil, dia nangis-nagis kejer pas aku, suami dan anak-anak naik speed boat ninggalin dia. Ya Allah... maaf yaaa...



Selama sekitar setengah jam, speed boat terus menerjang ombak kecil telaga tanpa rem dan membuat kami seperti dibanting-banting di atas air. Tanganku tak berhenti berpegangan erat pada besi di bagian dudukan belakang. Jilbabku sudah tak karuan terkena angin kencang.

Beberapa kali aku memperingatkan anakku dengan suara keras agar mereka berpegangan kuat. Terus terang aku takut pegangan mereka terlepas dan jatuh ke air, meskipun kami sudah pakai pelampung.

Anak-anakku sangat menikmati naik speed boat yang melaju kencang di atas danau. Kapal mulai memelan ketika sudah berada dekat dengan tulisan Telaga Sarangan. Driver menawarkan kami untuk berfoto. Kapal berhenti. Tak ingin melewatkan kesempatan, kami pun bergaya di depan kamera sebanyak mungkin.

Setelah itu, kami pun kembali ke dermaga dengan kecepatan yang masih sama. Ya Rabbb... seruuu!

Untuk harga naik speedboat ini kalau tidak salah Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,- per kapal.

Malam-malam di Sarangan yang dingin

Kesalahanku saat pergi ke sarangan adalah nggak bawa jaket. Anak-anak pun juga nggak bawa jaket. Dingin bangettt sampai 17 derajat. Beda ya waktu di Paris 17 derajat itu masih terbilang panas. Hehe. Duh, tapi anak-anak enjoy aja main sama sepupunya.

Maunya malam-malam itu duduk di gazebo menikmati makanan sambil menatap telaga. Tapi saking dinginnya, nggak sanggup keluar ke teras. Cuma melihat dari dalam rumah saja. Ya

Telaga Sarangan di malam hari dari vila


Dari jendela kaca kamar, aku masih bisa melihat lampu-lampu yang ada di seberang danau.

Keliling Telaga Sarangan dengan Berjalan Kaki

Esok pagi ba’da subuh, masih dingin, ketika matahari naik sedikit sekitar pukul setengah 6 pagi, aku dan suami berjalan kaki mengelilingi Telaga Sarangan.

Di bagian utara dan timur telaga, beberapa penjual makanan sudah buka, tapi ada lagi yang belum buka. Penjual toko oleh-oleh pun belum buka. Jalanan pertigaan besar sebagai pintu masuk ke area wisata Telaga Sarangan pun masih terlihat sepi.

Kera mencari makanan diantara tumpukan sampah

Selanjutnya, di bagian barat, di mana terlihat tulisan Telaga Sarangan yang besar, di situlah banyak pepohonan. Bahkan masih banyak kera-kera yang bergelantungan di pepohonan dan berkeliaran di jalanan mencari makanan di antara sampah-sampah yang tak dibuang di tempat sampah.

Telaga Sarangan saat matahari terbit


Di vila pojokan yang sempat aku cari di Google ramai dengan para penyewa vila. Di sini lebih banyak penjual makanan. Di sini, ternyata banyak vila tapi untuk akses mobil sedikit susah bahkan ada palangnya. Vila-vilanya juga lebih kecil dan tampak lebih padat.

Oiya ada akses menuju air terjun juga tapi jalannya masuk dan jauh ke dalam. 

Bye, Sarangan!

Dulu, ketika masih kecil, aku pernah diajak ke Sarangan sama orang tua dan naik kuda di sana. Setelah naik kuda, isi perut seperti ditusuk-tusuk. Setelah itu, aku tidak mau lagi naik kuda. Tapi sekarang, nggak masalah. Haha. 

Setelah keliling Telaga Sarangan, tibalah kami di Villa kembali. Bersiap sarapan, foto-foto satu keluarga dan pulang kembali ke rumah masing-masing. 

Kapan-kapan bisa kembali ke sini lagi soalnya lumayan dekat dengan Sragen tapi ngga usah pake nginep. 


Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower