Temani Anak Memancing Sekalian Wisata Kedung Ombo Sragen

No Comments
Anakku remaja yang semakin penasaran dengan hal-hal baru mulai merayu orang tuanya untuk mengantarkan ke tempat pemancingan. Mungkin selera memancingnya sedang kuat. 

Ketika mudik ke Sragen, dia tak henti-henti minta diantarkan ke kolam pemancingan dekat rumah. Akung punggung mengantarkan ke pemancingan dekat rumah. Pulang-pulang dari sana, aku sudah membayangkan ikan nila menggelepar di kresek siap untuk di masak. Namun, aku tak melihat apa pun di tangan selain alat pancing dan segelas kecil bekas air mineral. Di dalamnya, makhluk kecil-kecil berkeliling di air keruh. Saat kutanya dapat ikan apa, ia menunjukkan ikan kecil sekecil ikan teri yang lebih kecil lagi.

Rupanya, tak ada satu pun ikan nila yang berhasil ia tangkap. Karena kesal, ia bilang menangkap ikan pakai jaring dengan pegangan kayu. Meski ikan kecil-kecil berhasil di bawa pulang, wajahnya tampak bahagia. Aku gagal menyantap ikan nila. Haha.

Rasa penasarannya tak berhenti sampai di sana. Ia masih merengek minta memancing ke tempat yang lain yang banyak ikannya. Nggak tanggung-tanggung, akung mengajaknya memancing di tempat wisata Sragen yang ada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Grobogan, Sragen dan Boyolali, yaitu Waduk Kedungombo, Sragen. Nggak kurang ombo taaa?? Wes puas wes banyak ikan di sana.

Perjalanan jauh demi cucu

Perjalanan sejauh satu jam tetap dijalani demi cucu tersayang. Pusing juga dengerin tiap hari minta mancing muluuu. Alat pancing ikan yang dibeli di Sidoarjo sudah dimasukkan ke dalam mobil. 

Sepanjang perjalanan, anakku bingung nanti ikannya mau dikasih umpan apa. Akhirnya, kami melewati sebuah toko alat pancing ikan. Mobil berhenti dan akung keluar dari mobil untuk membeli pelet, jangan sampai lah makanan cacing. Haha. Harga pelet ikan murah kok hanya lima ribu rupiah udah dapat banyak. 

Wah, kebayang dong berapa ikan yang bakal didapat. Hehe. Masalahnya, aku dan suami nggak pernah mancing. Jadi kuserahkan aja semuanya pada akung e.

Sepanjang perjalanan mendekati waduk, terlihat pepohonan di kanan kiri dengan kondisi kering. Sepertinya daerah kurang air padahal dekat dengan waduk. Atau mungkin alirannya tak sampai ke sana. Mendekati waduk, pepohonan terlihat lebih segar. 

Waduk Kedung Ombo, Yang Uomboooo

Sebenarnya beberapa kali berwisata ke Waduk Kedung Ombo, yang pertama banget sebelum nikah. Sempat foto beberapa kali di sana dan bermain di dekat air di atas bebatuan. Sayangnya, aku tidak ingat lewat mana. 

Tapi ingatanku tidak lupa saat melewati bendungan waduk yang keren seperti di luar negeri karena tanggulnya yang sangat tinggi dan ditanami rerumputan hijau terawat. Meski siang panas terik, banyak motor terparkir di pinggir tanggul. Pemiliknya sedang asyik berswafoto.

Sebelah kiri waduk yang dibatasi tanggul


Itu tandanya, perjalananku sebentar lagi tiba di tempat tujuan. Kami melewati PLTA Mrica. Aku tetap meneruskan perjalanan.

Sebenarnya di sepanjang jalan Waduk Kedung Ombo, ada beberapa tempat wisata, seperti Embun Bening Park Kedung Ombo dan Wana Wisata Waduk Kedung Ombo. Sebelum tanggul itunada juga Green Lake Kedung Ombo. Tapi aku dan keluarga memilih pergi ke Wana Wisata Waduk Kedung Ombo yang ada resto apungnya.

Dulu, aku pernah juga wisata ke Waduk Kedung Ombo ada kolam renangnya di pinggir waduk tapi saat aku ke sana, yang aku lihat kolamnya sudah tenggelam karena air waduk yang semakin tinggi. Beberapa tempat juga mulai tenggelam. 

Tempat kolam renang yang tenggelam saat ini

Warung apung 

Akhirnya kami pergi warung apung. Sama seperti warung apung lainnya, bangunan dari kayu itu mengapung di atas air. Ibuku harus berhati-hati saat menaiki jembatan yang bergerak. Kami mengantri dengan pengunjung lainnya karena jembatan yang sempit.

Pintu masuk warung apung

Setelah berjalan, beberapa orang sibuk memesan makanan di loket khusus pemesanan makanan. Kulihat mereka mencatat pesanan orang. Di sampingnya terlihat alat pancing dan ternyata juga menyediakan makanan ikan. 

Tempat bermain

Kami mencari tempat duduk yang masih kosong. Di tengah-tengah ternyata ada tempat bermain anak, seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan lainnya. Anakku yang kecil tak sabar untuk bermain. Kami duduk lesehan di dekat tempat bermain itu.
 

Tempat memancing

Sebenarnya tidak ada tempat khusus untuk memancing. Hanya saja di pinggir warung apung, tidak ada pagar dan hanya tempat duduk lesehan untuk tempat memancing.
Kami memesan makanan ikan bakar sementara anakku mulai mencari tempat untuk memancing. Di sana juga banyak orang yang memancing. 

Anakku mencari tempat. Ia diajarkan akungnya memasang pelet di ujung alat pancing kemudian menjatuhkannya ke air. Tapi beberapa kali pelet itu hancur bahkan belum sempat dimakan ikan. Pelet selanjutnya berhasil terpasang. Dan menunggu ikan untuk menyantapnya.



Beberapa orang sudah mulai memancing sambil duduk dan bersantai. Di dekat anakku, dua orang pria datang dan duduk dengan santainya. Mereka mulai memasang kali di ujung pancingnya. Kalau dilihat dari alat pancingnya, pasti mereka pemancing profesional. Umpan ikan yang dipasang pun besar banget.

Rintik hujan mulai turun. Bibir anakku mulai cemberut. Ia belum mendapatkan satu ikan pun. Sedihnya. Sementara dua pria di sebelahnya sudah mendapat ikan hampir 10 biji. Ya Allah...

Ternyata aku baru kalau umpan ikan dipakaikan essence biar wangi dan ikan mau makan umpannya.
Sampai makanan jadi pun, anakku nggak dapat sama sekali. Haha. 

Toilet

Toilet warung apung ada di ujung warung dan sendiri, agak terisolir dari warung makan. Aku bahkan ngga pergi ke toilet karena takut. Hahaha.

Ada lagi kok toilet di dekat tempat parkir tapi tidak di atas warung apung. Jadi aman.

Menu makanan

Menu makanannya sangat terbatas. Jadi aku hanya memesan ikan bakar saja. Selama menunggu ikan bakar, anak-anak bermain di tempat bermain. Ibuku bercerita panjang lebar tentang apa pun. Untuk harga ikan bakar di warung Kedung Ombo.

Setelah datang, anak-anak segera makan. Kami pun makan. Rasanya sih... hmmm... aku akan memberinya 7 saja. Biasa sih. Kurang bervariasi dan berasa. Setelah dilihat-lihat, ikan Yang aku pesan ternyata digoreng dulu baru dibakar. Mungkin untuk mengurangi waktu memasak. Untuk lidah orang tuaku, mereka merasa kurang sreg.

Untuk harga makanan ikan bakar yang aku pesan masih normal. Beli dua ikan bakar total habis sekitar 250an ribu

Musholla

Usai makan siang, kami pun segera pulang dan menunaikan sholat dzuhur dulu. Musholla berada di bagian depan dekat tempat parkir.

Resto

Jadi selain warung apung, juga ada resto sebelum masuk warung apung. Aku kurang begitu paham berapa harganya dan juga menu yang dijual.

Playground dan ATV

Di dekat parkir mobil, ada playground tapi dari balon istana itu. Anakku beberapa kali minta main ke sana tapi nggak aku bolehnya karena susah ngawasinnya. Ketika pulang, aku melihat ada beberapa orang naik ATV keliling tempat wisata di bagian atas.

Senang Nggak Mancing di Waduk?

Anakku kalau ditanya senang apa nggak mancing di waduk? Katanya nggak senang karena nggak dapat ikan sama sekali. Haha.
Aku bilang ya emang bukan rezeki kita. Mau mancing di mana aja kalau bukan rezeki kita juga nggak dapat. Sama seperti ladang pekerjaan kita. Mau semudah apa pun kerjaannya kalau bukan rezeki juga nggak akan menghampiri kita. Tapi kalau sudah rezeki juga pasti datang. Seperti cerita tentang mancing lele di postinganku selanjutnya.

Kalau ke sana lagi sepertinya aku memilih tidak. 



Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower