Sebagai orang tua yang sudah punya anak kecil, rasanya menjadi hal yang lumrah mengetahui tempat bermain anak kecil atau playground di lokasi kita tinggal. Harganya pun bervariasi dari yamg gratis, murah sampai yang cukup mahal. Fasilitasnya pun bermacam-macam.

Mengajak anak bermain di tempat bermain anak memang banyak kelebihannya. Playground menyediakan banyak sekali permainan anak yang mungkin tidak dimiliki di rumah. Bagi anak yang belum sekolah, bermain di playground akan mengajarkan anak bersosialisasi. Bermain di playground juga mengasah kekreativitasan anak karena fasilitas di dalam playground beraneka ragam.

Bermain di playground atau tempat bermain umum juga akan menuntut anak kita untuk saling berbagi dan tidak menuruti egonya. Memang susah anak kecil yang terbiasa bermain sendiri akan mau berbagi bermain dengan temannya. Karena setiap anak akan memiliki ego sendiri-sendiri.
Harapannya dengan bermain di tempat bermain umum ini akan melatih anak untuk saling berbagi.

Beberapa playground di Kota Malang yaitu:

Playground kiddy di Matos

Playground ini berada d lantai 2. Harga tiket masuk per 30 menit 25.000/anak dan per 60 menit seharga 35.000/anak. Setiap anak hanya diperbolehkan satu pendamping tapi pernah juga sih pas lagi sepi tepatnya pas hari kerja boleh dua pendamping masuk. Kalau saat ramai di akhir pekan biasanya hanya diijinkan satu pendamping.

Setiap anak akan diberi gelang atau stiker yang ditempel di baju dengan tulisan batas waktu bermain. Kalau melebihi batas waktu biasanya penjaga akan menegur kalau waktunya sudah selesai.

Fasilitas bermain di playground Matos ini cukup banyak dan beragam sehingga anak-anak tidak cepat bosan bermain di playground Matos. Selain itu, di playground Matos juga ada flying fox. Tenang, flying fox nya tidak tinggi dan tidak terlalu cepat untuk anak kecil. Walaupun sedikit berbahaya bagi anak-anak yang bermain di bawahnya karena bisa terkena kaki yang bermain flying fox. Tapi tenang ada mbak-mbak petugas yang akan mengevakuasi para anak-anak yang main di bawah wilayah flying fox.
Memang lebih baik jangan saat akhir pekan karena playground akan ramai sekali. Anak mungkin tidak leluasa bermain karena banyak yang ingin bermain.

Baca Juga : 

Wisata Murah Meriah dan Ramah Anak Kecil, Sumber Maron, Malang

Playground di MOG

Playground di MOG berada di lantai paling atas. Tempatnya cukup luas. Jadi enak banget kalau mau selonjoran bahkan glundung-glundung, hehe. Sayangnya, mainannya tidak sebanyak playground di Matos bahkan ada beberapa yang tidak bisa dipakai seperti mobil-mobilan. Pokoknya anak jangan sampai rebutan sama pengunjung yang lain ya, hehe.

 


Tiketnya 50.000 sepuasnya, kalau ada kartu member lebih murah lagi sekitar 40.000 rupiah. Jadi, kalau mau main mending sore-sore saja. Saya dulu kesana waktu mepet jam tutup, jadi nggak bisa sepuasnya.

Oiya, jangan lupa bawa kaos kaki dari rumah karena setiap orang yang masuk playground harus pakai kaos kaki. Kalau tidak bawa kaos kaki juga bisa sewa kaos kaki. Saya lupa harga sewanya berapa.

Playground di Plaza Araya

Pertama kali ke Plaza Araya saat perpanjangan SIM suami. Jadi sembari menunggu loket buka, saya mengajak anak bermain di playground Araya. Harga tiket masuk kalau tidak salah 35.000/jam/anak. Permainannya pun cukup bervariasi walaupun tidak sebanyak playground Matos tapi lebih baik daripada playground di MOG karena mobil-mobilannya bervariasi dan permainan lego dan puzzle juga tersedia di playground Araya.

Playground di De Rumah

Playground di De Rumah ini terletak di sebelah Mall Malang Town Square (Matos) tidak jauh dari pintu masuk perumahan De Rumah. Tepatnya di belakang Taman Makam Pahlawan. Arena bermain di De Rumah ini juga ada kolam renang untuk anak kecil. Fasiltias bermainnya pun cukup banyak. Dengan harga tiket masuk 12.000-20.000 sudah bisa sepuasnya bermain di De Rumah.

Baca Juga : Wisata Seru Offroad ke Gunung Merapi Tetap Aman untuk Anak Kecil !

Playground di Alun-Alun Kota Malang

Alun-alun Kota Malang sudah cukup lama berbenah diri terbukti semakin nyamannya alun-akun Kota Malang untuk dikunjungi. Alun-alun ini juga disebut sebagai alun-alun merdeka. Saat ini memang alun-alun Kota Malang lebih ramai dikunjungi karena banyak yang bisa menyenangkan pengunjung terutama anak kecil seperti adanya spot-spot bermain anak kecil.

Ada satu bagian kecil di alun-alun yang digunakan sebagai arena bermain anak atau playground. Walaupun tidak banyak fasilitas bermain tapi cukup mampu menyenangkan anak kecil. Apalagi tidak ada tiket masuk ke playground ini. Karena gratis, otomatis banyak anak yang bermain di playground alun-alun Merdeka.

Playground di Perpustakaan Kota Malang

Pasti pada kaget ya karena perpustakaan Kota Malang juga punya satu ruangan kecil tempat bermain anak. Playground mini ini lumayan membuat anak senang saat kita mengunjungi perpustakaan. Jadi anak tidak akan bosan untuk bermain di perpustakaan karena ada plauground mini di bagian ruang baca anak. Yang jelas tidak ada tiket masuknya karena playground nya cuma sedikit fasilitasnya.
Read More
Setiap kehamilan dan kelahiran setiap orang pasti beda-beda, ya. Begitu juga seorang ibu yang sudah hamil dan melahirkan lebih dari sekali juga pasti beda-beda. Kehamilan anak pertama dulu cukup sering mengalami mual, muntah dan nggak nafsu makan.

Saat kehamilan anak kedua ternyata alhamdulillah berjalan lancar. Walaupun sempat mengalami mual dan nggak nafsu makan, tapi nggak sampai muntah-muntah. Bahkan aku sempat ke Jakarta dua kali bersama anak pertama pas hamil satu bulan sama enam bulan. Itupun pas pertama nggak tahu kalau lagi hamil.

Udah gitu pas kehamilan kedua ini kerasa banget tulang-tulang cepet remek mungkin karena keseringan gendong si Raceqy buat minum susu di malam hari. Yang pling bikin seneng itu saat si bayi kedua di dalam perut ini lincah banget sampai nendangnya kenceng banget.

Yang paling mengerikan itu saat Raceqy, yang masih dua tahun, suka main kuda-kudaan. Bayangkan emaknya kadang jadi sasaran kuda-kudaan. Yah, walaupun bisa dihalau sih tetap aja serem. Kasihan sebenarnya karena emang masa-masanya dia minta main tapi malah dibatasi. Belum lagi, kalau dia lagi rewel atau nggak enak badan dan minta gendong terus. Walah emaknya pegeell. Kasihan kadang sama si baby dalam perut jadi seperti nggak diperhatikan.

Akhirnya masa yg dinanti-nanti pun datang juga. Tiba-tiba jam 11 malam perut terasa sangat mules. Karena masih bisa kutahan, jadi kubuat tidur saj. Dan ternyata membuatku nggak bisa tidur sampai subuh. Belum lagi si kecil nangis-nangis maunya kugendong untuk dibuatin susu. Haduh, maaf, Nak. Ibumu nggak kuat kalau harus gendong. Digendong ayahnya pun nangis-nangis. Raceqy mah pakem banget anaknya. Kalau udah terbiasa A ya harus A. Jarang bisa berubah kalau nggak dibujuk dulu.

Sebelum Melahirkan

Sebagai seorang ibu yang sudah tahu Hari Perkiraan Lahir harusnya sudah ada persiapan setidaknya satu bulan sebelumnya. Karena aku menduga HPL masih akhir Januari atau awal Februari jadi aku santai saja. Baju-baju bayiku dulu pun belum kusiapkan padahal sudah kepikiran mau masukin tas khusus begitu juga baju-baju dan pakaian dalamku. Lah, kok ternyata malah maju dua minggu. Akhirnya bingung juga mau siapin baju buat ke bidan, seperti baju kancing depan, rok, pakaian dalam, korset Mooimom, gurita, popok kain tali, bedong, softex, jilbab.

Subuh pun tiba, perut semakin terasa mules. Aku mulai merasa bahwa sebentar lagi si baby mau keluar. Sambil menahan-nahan perut mules, akhirnya tiba juga di tempat bidan jam setengah enam pagi.

Aku pilih Bidan Indri soalnya bidan senior dan telaten. Bidan Indri juga termasuk yang direkomendasikan oleh beberapa rekan ibu mertua. Itu kenapa saat kelahiran pertama, aku lahiran di bidan ini.

Ternyata bidannya masih di masjid karena nggak datang-datang ibu mertua jemput ke masjid. Iya, aku paling nggak tahan dicuekin kalau sudah sakit begitu. Sempat terpikir untuk pindah bidan lain atau rumah sakit. Tapi aku nggak yakin kalau bakal ditangani cepat. Akhirnya tetep bertahan menunggu dijemput mertua.

Leganya saat melihat ibu bidan itu sudah di rumah. Aku pun keluar dari mobil sambil dituntun suami. Duh, rasanya jalan saja sudah nggak kuat. Sampai ruang persalinan, aku pun diperiksa dan ternyata sudah bukaan 9. Antara lega tapi juga khawatir.

Karena semalaman nggak tidur menahan mules, tanganku gemetar, akhirnya aku minta belikan bubur ayam. Aku nggak mau seperti kelahiran pertama sampai kehabisan tenaga karena semalaman menahan sakit. Karena efeknya aku harus disuntik biar ada tenaga. Beberapa menit kemudian suami datang membawa bubur ayam dan roti goreng. Aku pun makan dengan lahap disuapi mertua, haha. Setelah makan, badan jadi sedikit bertenaga.

Tak terasa dua jam berlalu melewati rasa sakit dan berhasil menghadap kiri terus. Tiap rasa sakit muncul, ibu mertua selalu mengelus-elus bagian punggung tengah yang memang sangat berefek mengurangi rasa sakitnya.
Dan alhamdulillah akhirnya jam 07.20 suara tangis bayi membuatku mengucapkan syukur dan menangis. Rasa lega setelah melewati rasa sakit yang membuatku menangis. Haduh, gile. Kayak gini mau melahirkan lagi? Haha.

Setelah Melahirkan

Seorang bayi laki-laki mungil berat 2,9 kg dan panjang 50 cm terbaring di ranjang bayi. Seorang asisten bidan membantu bidan membersihkan bekas-bekas lahiran termasuk memakaikan korset. Setelah pakai korset Mooimom, aku pun hanya boleh tidur terlentang sampai kira-kira tiga jam. Rasanya perutku yang baru melar langsung ketarik lagi pakai korset Mooimom.

Korset memang sangat membantu mengembalikan bentuk perut dan rahim menjadi ke bentuk semula. Nggak cuma pasca melahirkan, korset juga bisa dapat digunakan bagi kalian yang mengalami masalah perut buncit, pinggang karena sering duduk, suka berduduk-duduk lama di depan laptop, masalah pinggang dan juga masalah abdomen.

Lumayan juga pakai korset ini mengurangi sakit pinggang karena selama ini keseringan gendong bayi.

Aku pernah pakai korset yang ada kawatnya. Memang bikin badan tegak tapi habis itu rasanya malah pegal semua dan sakit. Kalau korset Mooimom ini nyaman dipakai, bikin badan nggak pegal tapi tetap tegak.

Dan yang pasti aku suka korset ini simpel sekali cara pakainya. Tinggal tempel jadi deh. Kebayang kalau pakai korset jaman dulu atau gurita, duh anaknya selak nangis kehausan. hehe

Nama korset yang aku pakai dari Mooimom yaitu Postpartum Belly Band yang bisa didapatkan disini. Produk ini salah satu produk terlaris yang dijual Mooimom di websitenya www.mooimom.id.

Pakai Korset Moimom Setelah Kelahiran

Keunggulan Korset Mooimom 

Agak khawatir sebenarnya pas asisten bidan bantuin masangin korset, muat apa nggak. Yah, walaupun aku cukup kurus tapi kalau habis melahirkan perut juga tetap besar. Asisten bidannya sampai narik-narik korset biar cukup. Awalnya aku agak kesusahan bernafas, tapi karena korsetnya yang elastis, jadinya lama-lama kebiasa juga. Saat latihan duduk pun punggung jadi tegak, perut berasa langsing kembali, hehe.

Untungnya lagi, korset Mooimom Postpartum Belly Band ini anti bau dan anti bakteri. Bukan berarti nggak dicuci setahun terus korset tetap wangi ya. Maksudnya karena anti bakteri otomatis korset tidak cepat bau dan berjamur.

Keunggulan Korset Postpartum Belly Band (dok. Pribadi)

Dari segi bahan, korset ini terbuat dari nilon, karet elastis, arang bambu. nylon ini berada di antara karet-karet elastis dan ini yang bikin korset nyaman dipakai dan nggak berkeringat. Walaupun seharian pakai korset ini, aku nggak merasa kepanasan sama sekali, nggak berkeringat karena bahannya yang breathable.

Di sisi bagian dalam yang bersentuhan dengan kulit pun benangnya halus jadi tidak membuat kulit iritasi. Jahitannya pun rapiii.

Yang paling penting buat korset itu adalah tempelan atau kretekan atau velcro. Menurut pengalaman, biasanya kalau bulu-bulu velcro pendek itu nggak tahan lama melekat dan nggak kuat. Paling-paling bentar juga nggak nempel. Tapi kalau bulu velcro panjang maka akan lama dan pasti kuat. Nah, buku-bulu velcro korset Mooimom ini panjang dan itu yang membuat rekatan velcro korset lebih lama dan kuat.


Kelebihan korset Mooimom Postpartum Belly Band adalah anti radiasi elektromagnetik karena radiasi elektromagnetik ini dapat mengganggu kesehatan kita seperti menyebabkan kanker,

Nggak perlu takut juga kalau peredaran darah kurang lancar karena pemakaian korset karena korset Postpartum Belly Band ini memiliki teknologi Far-infrared yang membantu melancarkan peredaran darah.

Korset ini memanfaatkan bahan lingkungan yaitu penggunaan arang bambu pada benangnya sebesar 19%. Arang bambu ini melewati proses karbonisasi dan pemanasan sampai 800 derajat. Fungsinya untuk menyerap bau keringat dan menjaga kelembaban sehingga pertumbuhan bakteri terhambat.

Uniknya, korset Postpartum Belly Band ini bisa menyesuaikan kondisi cuaca. Kalau cuaca panas, korset ini bisa membuat penggunanya tidak ikut kepanasan seperti yang aku ceritakan di atas. Begitu juga saat cuaca dingin, korset ini akan membuat penggunanya hangat.

Bahannya juga lembut di kulit, nggak perlu takut iritasi. Hanya saja karena ketarik-tarik, kulit jadi berlipat-lipat. Lipatan kulit yang terus menerus ditekan ini jadi akan terasa gatal. Apalagi saat korset dilepas, kerasa banget perut yang kembali ke bentuk melar. Kalau sudah gatal-gatal begitu, langsung kasih minyak-minyakan, karena punya minyak biawak yang memang untuk mengurangi gatal-gatal, jadi aku pakai itu aja. Kalau nggak ada, bisa pakai herocyn atau baby cream.

Di Mooimom juga jual cream anti strechmark juga loh, coba aja kunjungi  Mooimom disini:


Memang nggak salah pilih korset Postpartum Belly Band dari Mooimom ini, hemm... jadi tertarik nyoba produk yang lain...hehe...
Read More
Toilet Training

Sebenarnya sudah sempat kepikiran mengajarkan toilet training buat si kecil tapi kalau bayangin capeknya kayaknya belum siap. Gara-gara pernah ngelihat keluarga yang anaknya memang nggak pernah pakai pospak (popok sekali pakai) maklum kalau anak di desa jarang yang pakai pospak. Dan kalau ngelihat bolak balik pipis, ngelap, ngepelin, nyuci bekas ompol yang bertumpuk-tumpuk rasanya belum ikhlas banget ngelepas pospak dari si bayi.

Terus mau kapan? Tunggu siap aja deh.

Pas si baby usia 18 bulan, aku coba lepas popok. Memang di usia segitu anak sebenarnya sudah bisa diajak berkomunikasi, sedikit bisa diarahkan, walaupun belum lancar ngomong biasanya usia segitu sudah bisa menunjukkan keinginannya, entah ingin mainan, mimik atau pipis. Tapi ternyata ngga semudah yang dibayangkan. Hanya dalam waktu tiga jam dia pipis bolak balik. Alhasil, aku harus bolak balik ngepel lantai dan akhirnya absen dulu dari dunia masak-memasak.

Menurut artikel di google yang membahas pengalaman toilet training, beberapa artikel mengatakan mending tunggu kesiapan si anak saja karena ternyata itu lebih mudah untuk tioilet training?


Toilet training buat BAB


Akhirnya nggak aku lanjutin deh toilet trainingnya BAK. Hanya saja kalau mau buang air besar masih bisa kelihatan tanda-tandanya, seperti ngedan. Kalau sudah ngedan, aku langsung mengajaknya kamar mandi. Awalnya dia nggak biasa BAB di toilet dan nggak mau keluar. Aku ajak omong terus istilahnya di sounding ya, "kalau mau pup di toilet ya..."

Pada waktu masa sounding itu dia masih pakai popok clodi, kadang pospak. Kadang kebablasan juga. Kalau kebablasan gitu, soundingnya makin gencar. Semakin lama dia semakin paham kalau mau buang air besar ke kamar mandi. Bahkan kadang dia langsung mendatangiku sambil ngeden-ngeden.

Kadang sempat sebel juga, sih, baru ganti pospak eh dianya BAB di pospak. Nggak kasih tau padahal sebelumnya selalu kasih tau.


Pura-pura ngeden


Nah, ini dia yang bikin aku gregetan. Jadi karena tiap dia ngeden kuajak ke kamar mandi, jadi kalau ada yang di kamar mandi (misal ayahnya), aku langsung suruh dia masuk dan BAB dipegangi ayahnya. Lah, ternyata dia nggak mau BAB tapi cuma mau ikut mandi aja. Mau main air tepatnya.
Giliran aku yang mandi, dia akan ngeden-ngeden di depan ayahnya. Pastinya ayahnya heboh donk kalau anaknya mau BAB. Padahal aku tahu dia pura-pura, biar ikut mandi dan main air.
Duh..duh...
Kadang kalau dia pura-pura ngeden, kubiarkan saja sampai nangis-nangis. Dan memang dia nggak BAB. Setelah itu, aku sounding terus-terusan nggak boleh seperti itu. Ditambahn omelan yang panjang dan lebar. Ngefek, sih. Walaupun kadang masih ngikut-ngikut juga. Jadi ngeden bagi dia itu adalah kode minta mandi dan main air.

Toilet training buat BAK


Sejak sebulan lalu, aku memutuskan konsisten untuk toilet training buat si baby. Usianya waktu itu 23 bulan. Alasan pertama, aku sering ngeliat si baby yang selalu merasa risih dengan popoknya. Dia tunjukkan dengan menarik-narik popoknya sambil ngomel padahal popok belum lama dipakai. Selain itu, dia pasti gatal-gatal di bagian-bagian tertentu, seperti tangan, kaki, paha, dada, punggung tempat karet popok. Bagian-bagian tertentu memang nggak ada hubungannya sama popok sih. Tapi aku merasa aneh.

Anak ini kenapa sih?

Akhirnya aku kasih bedak aja. Rasa risih dengan popok dan gatal-gatal masih berlanjut. Tiba-tiba aku kepikiran untuk lepas popok saja. Agak menarik nafas juga karena harus siap-siap ngepel terus-terusan. Belum lagi kalau ngompol di kasur, alamak! Mau jemur dimana? Berat pula! Pikiran-pikiran tentang capeknya toilet training udah berseliweran.
Aku memutuskan hari pertama toilet training nggak masak.

Apa hubungannya?

Ya, lah, pasti toilet training bikin capek. Daripada tambah capek karena harus masak-masak jadi lebih baik masaknya libur dulu dan beli diluar, hehe.

Minggu pertama

Hari pertama, pagi setelah mandi, aku nggak memakaikan pospak. Terus kuajak dia main diluar kamar tidur. Pertama-tama setiap sepuluh menit kuajak ke kamar mandi buat pipis. Awalnya berdiri, nggak keluar-keluar. Kubiarin aja dia main air. Hampir sepuluh menit di kamar mandi pun tak pipis-pipis. Kasihan juga kalau dipaksa. Akhirnya kusuruh jongkok eh malah pipis. Semenjak itu tiap pipis kusuruh jongkok. Lega rasanya kalau dia bisa pipis.
Eh belum sampai sepuluh menit, dia pipis lagi di lantai. Berkali-kali lah belum kuajak ke kamar mandi udah pipis duluan. Giliran ke kamar mandi dia nggak pipis. Pusing lah. Akhirnya bolak-balik dia pipis di lantai dan terkadang terpleset. Nangis-nangis lah.

Kuajak bicara terus, "kalau pipis ke kamar mandi, bukan di lantai. Kalau di lantai basah, jadi kepeleset."

Jadi tiap dia pipis di lantai, dia akan diam nggak kemana-mana. Dan terus menangis di hari pertama. Soundingku gencar banget lah.

Pas tidur siang juga nggak aku pakaikan pospaknya dikasih perlak. Efeknya, pas dia pipis, dia terbangun dan menangis. Setelah diganti celananya, dia tidur lagi. Pas tidur malam baru aku pakaikan popoknya karena aku ikut tidur juga jadi nggak bisa mengawasi. Soalnya kalau tidur malam dia kemana-mana sih.

Hari pertama benar-benar menguras tenaga dan emosi lah.

Hari kedua dia sudah mulai bisa mengikuti pola setiap beberapa menit ke kamar mandi. Dan sudah berkurang intensitas pipis sembarangan. Walaupun masih kebablasan pipis di lantai, yah wajarlah. Kalau sudah begitu, aku sounding terus biar pipis di kamar mandi.

Tiap lima menit kutanyakan apa mau pipis ke kamar mandi? Kalau dia geleng-geleng kepala, kuturuti aja. Kalau sudah sepuluh menit kuajak langsung tanpa kutanyakan. Setidaknya hari ini aku masih bisa masak dan bersantai walau tetap mengawasi dia bermain.

Satu bulan toilet training

Nggak kerasa memang sudah satu bulan saja ngelatih si bayi toilet training. Ada suka ada duka juga. Sukanya kalau dia nunjuk-nunjuk celananya mau pipis atau mendatangiku sambil ngeden-ngeden. Kalau dia berhasil pipis di kamar mandi, tak lupa lah kukasih pujian biar dia merasa senanggg. Dukanya, kalau dia nggak mau diajak ke kamar mandi dan tiba-tiba pipis aja di lantai bolak balik. Duh, rasanya. Sounding selama satu bulan pertama masih tetap kulakukan. Dia masih kuajak ke kamar mandi tiap setengah jam atau kira-kira minumnya banyak ya nggak sampai setengah jam.
Pola pipisnya sudah bisa terlihat sebenarnya, saking aja kalau emaknya keasyikan hapean, anaknya jadi pipis sembarangan, hehe. Tapi kalau emaknya nggak main hape, jeda pipisnya dia sudah lebih lama dibanding awal-awal toilet training. Dan kalau malam masih aku kasih pospak kecuali kalau siang hari. Saat jalan keluar rumah juga dikasih popok.
Pernah suatu ketika, pas perjalanan Surabay-Malang, dia manggil-manggil ayahnya sambil nunjuk-nunjuk celananya. Aku suruh tahan-tahan aja padahal kalau pipis atau pup di pospak pun yasudahlah namanya juga perjalanan tapi nggak aku suruh.

Aku bilang, "tahan sebentar ya, ayah cari kamar mandi dulu."
Akhirnya nemu masjid dan ke kamar mandinya, ternyata dia pipis banyakkk dan buang air besar juga. Walah...

Oiya, menurut salah satu keluarga, biar anaknya pipis tiap beberapa waktu diajak ke kamar mandi terus ditiup bagian keluar pipis itu. Katanya biar pipis. Aku coba praktekkan emang dominan ngefek sih, hehe.

Toilet training itu memang menggemaskan, menguras tenaga dan emosi. Memang toilet training dilakukan pas anak memang sudah merasa siap dan bisa mengkomunikasikan keinginan pipis dan BAB nya dengan bahasa isyarat atau ngomong langsung.

Efek mood ibu terhadap keberhasilan toilet training


Dan satu hari ini, setelah 1 bulan berjalan, efek keberhasilan toilet training tergantung pada mood ibu. Kemarin saat dia ngompol sekali dan nggak bilang, soundingku sedikit terdengar seperti orang mengomel. Wajah si kecil pun berubah seperti sadar kalau dimarahi. Jadinya seharian itu dia ikut nggak mood juga kalau disuruh pipis ke kamar mandi. Alhasil, dia sering ngompol berkali-kali.

Tapi kalau mood ibu baik, anak sekali pipis tapi nggak dimarahi. Disounding dengan cara halus dan menyenangkan. Justru dia malah happy juga dan nggak ngompol sembarangan bahkan tidur siang pun selama dua jam dia bisa nahan pipis layaknya orang dewasa.

Semangat buat ibu-ibu yang berproses melatih anak toilet training. Ini semua karena kenyamanan pospak maka kita harus melewati prosesnya yang super ribet. Hahahaha.

Read More

Follower