Tentang Buku
Review Buku
Ketika kabar bahwa rekanku emerging writer UWRF 2019, Nurillah Achmad, sudah berhasil
menerbitkan buku solonya, aku begitu antusias menyambutnya. Betapa tidak,
menghasilkan karya solo adalah upaya yang berkawan setia dengan disiplin dan komitmen
kuat. Jika tidak ada itu semua, tak akan ada karya solo bahkan karya apa pun. Jangan
jadikan pemilik blog ini sebagai contoh. Haha.
Tahun 2020 karya Nurillah Achmad yang berjudul Lahbako sudah
bisa dicari di toko buku seperti Gramedia. Beruntungnya, aku mendapat kiriman buku
karya beliau. Thanks Mbak Yu. Sebagai janjinya, aku mereviewnya di blogku. Tenang,
aku tidak akan memberitahu akhir jalan ceritanya. Sebab, kalian pasti tidak
akan penasaran lagi.
Sebenarnya, aku sudah menyelesaikan membaca karya ini
beberapa bulan lalu. Hanya saja baru sempat menuliskan review novel Lahbako di
blog ini sekarang. Yes. Maklum, ibu-ibu sok sibuk di dapur ini kesulitan
membagi waktu menulis apalagi ketika gawai tab yang biasa dibuat menulis sudah
tidak bisa digunakan. Mood pun menurun drastic. Entah, untuk satu itu aku masih
sangat dikendalikan mood. Jangan ditiru, please!
Lanjut.
Judul Novel: Lahbako
Penulis: Nurillah Achmad
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan Ke: 1
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 165
ISBN: 978-623-00-2374-3
Harga: Rp. 65.000
Lahbako. Tak banyak yang tahu arti dari kata ini selain
para penutur lokal Madura. Setelah aku membacanya, ternyata Lahbako ini
artinya adalah tanah (Lah) tembakau (Bako). Bisa dibayangkan kalau cerita ini
tidak jauh-jauh dari dunia tembakau yang sangat berpengaruh kepada kehidupan
penulisnya.
Nurillah Achmad tinggal di Jember. Sementara orang tuanya
dulu adalah petani tembakau yang sering mengalami pasang surut panen. Konflik sosial
ekonomi yang penulis angkat sebenarnya tidak jauh-jauh dari kehidupan para
petani tembakau di sana.
Tak lupa, sebagai lulusan sarjana hukum, penulis juga
memasukkan masalah hukum yang sudah biasa di ranah hukum tapi sungguh membuat
pembaca sepertiku terhenyak. Aku sudah sering mendengar tentang hukum di
Indonesia, tapi ada sisi lain yang membuatku terhenyak. Sebegitu kah hukum di
Indonesia?
Bekerja menukar uang
dengan pasal, begitu yang tertulis di buku Lahbako. Seolah mencerminkan
gambaran tentang hukum di Indonesia. Entah siapa pelakunya.
Tak hanya itu, novel ini juga menceritakan dilematis dan
perbedaan pandangan antara seorang anak dan ibunya akan keputusan menjual tanah
tembakau atau tidak. Hingga pada akhirnya, permasalahan itu membawa Aram
melakukan sesuatu yang tidak biasa bahkan sangat bertolak belakang dengan
pekerjaannya sebagai pengacara.
Dalam novel ini, pembaca sudah disuguhkan kisah menarik pada
bab pertama. Menurutku, penulis berhasil mengisahkan sesuatu yang membuat
pembaca bertanya-tanya tentang sebuah kejadian. Meski aku sempat bertanya-tanya
apa alasan Aram bisa mengalihkan pasal pengedar menjadi pasal pemakai. Dan
semua hanya satu alasan.
Salah satu yang aku suka dari tulisan Nurillah adalah dia
suka memberi kejutan di akhir cerita. Dan aku menunggu-nunggu kejutan itu.
Meski aku merasa hingga pertengahan novel, kisah ini sedikit lambat mungkin karena
adanya narasi yang terselip di dalam cerita ini. Tetapi itu tidak masalah
sebagai pendukung dari sebuah permasalahan. Setelah itu ceritanya selalu memberi
kisah baru di setiap babnya dan membuat kisah ini begitu menarik.
Dan benar, ada hal yang tak terduga di bagian akhir cerita. Dan
inilah memang yang seharusnya diperhatikan oleh siapa pun yang ingin menulis
bahwa tidak semua rahasia diungkapkan di bagian awal cerita. Justru harus ada
cerita yang diungkapkan di bagian akhir sebagai sebuah rahasia yang patut
dibongkar untuk pembaca. Dan hal itu tentu tidak mudah jika tidak dirancang
dari awal.
Dua lokasi dalam cerita ini berada di Jakarta dan Tenap di lereng
Hyang Argopuro (di Jember, Jawa Timur). Kurasa penulis sudah tepat mengambil
lokasi cerita di tempat kelahirannya ini. Menurutku, memang banyak sekali
penulis pemula yang terjebak memilih setting tempat tapi tak kuat alasannya. Hanya
sekedar tempelan tanpa ada koneksi antara konflik dan setting tempatnya. Sementara
Nurillah mampu membuktikannya. Alasannya, kekhasan wilayah itu memang terasa
dalam novelnya karena memang Jember terkenal dengan tembakaunya. Dan kuharap
banyak penulis lokal yang mengambil cerita di tempat asalnya sebagai bentuk
memperkaya kisah sastra yang berdasar kearifan lokal.
Satu hal lagi kelebihan Nurillah dalam novel ini adalah ia
berhasil melibatkan emosi pembaca ke dalam ceritanya. Mungkin ini akan berbeda
setiap pembaca karena subyektivitas dalam penilaian emosi ini begitu kuat. Terkadang
aku gemas dengan sikap ibunya. Terkadang, aku juga kesal dengan Aram. Juga dengan
ayahnya ketika masih hidup. Cak Wan yang juga kurang ajar. Jika Munawar bisa
ditunjukkan lagi adegan sesuai karakternya, mungkin aku juga akan kesal sekali
dengan Munawar.
Oiya, tidak mudah membuat novel dengan sudut pandang banyak
tokoh. Namun, Nuril paham apa yang harus dia ceritakan dan tidak ketika menulis
sudut pandang dari banyak tokoh tersebut.
Well, secara keseluruhan buku ini cukup memuaskan untuk dimiliki mengingat bahasa sastranya yang oke (kuakui ini adalah kelebihan Nuril sebagai emerging writer UWRF 2019 dan aku harus belajar banyak dari karyanya), twist-nya di akhir cerita yang cukup mengejutkan, dan pastinya membuka wawasan kita terkait kehidupan para petani tembakau di timur pulau Jawa, bahkan memberi motivasi bagi petani di seluruh nusantara yang menggantungkan hidupnya pada ketidakpastian hasil produksi pertanian. Sekian review buku Lahbako yang sederhana ini. Semoga tulisanku juga segera selesai dan menyusul Nuril yang sudah terbit. Masyaallah. Sukses terus untuk karyanya Nuril.
Deskripsi Buku
Nama penulis : Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Muari/Kim, dan Erinda Nur Anisa
Penerbit : Anara Publishing House
Cetakan: Maret 2020
Halaman: 114+ii
Harga:
ISBN :978-623-7229-57-5
Kisah Cinta dalam Antologi
Kalian pasti pernah kan merasakan jatuh hati. Tapiii... apakah cinta kalian selalu berbalas? Coba hitung, berapa banyak yang bertepuk sebelah tangan? Banyak! Aihhh.... tapi memang begitulah ya, kadang Allah ngasih kita yang terbaik meski kita harus sakit hati dulu.
Syukur-syukur, tanpa harus merasakan jatuh hati tiba-tiba diminta seseorang yang ternyata didamba hampir sebagian besar orang kemudian dilamar dan menikah. Wew, betapa beruntungnya! Sama seperti cerita Haura dalam antologi ini yang masih SMA dan dilamar oleh seorang Habib yang religius, lulusan Kairo, tampan, didambakan banyak santriwati.
Haura yang biasa saja dan seorang siswa yang masih sekolah SMA jelas dibuatnya bingung. Bahkan ia berprasangka buruk kalau Habib itu mau poligami sampai-sampai Haura memberinya syarat selama menikah dengannya sang Habib tidak boleh poligami. Syarat itu tidak memberatkan Habib. Ia setia. Justru suatu ketika, Haura merasa bersalah dengan persyaratannya itu.
Dari Haura, kita bisa belajar bagaimana seharusnya cinta kepada pasangan itu tidak berlebihan sehingga muncul keikhlasan ketika kita harus merelakannya dengan wanita lain. Ah! Keikhlasan itu kadang menyakitkan meski bernilai pahala. Jangan sampai Allah cemburu karena kita terlalu berlebihan mencintai pasangan kita. Penulis menyadarkan pembaca dengan bagaimana menjadi seseorang yang ikhlas ketika cinta harus berbagi. Berat. Sangat berat.
Jika perjalanan menjemput kekasih tidak begitu sulit, lain halnya dengan Vana yang berbeda status dengan kekasihnya, Deri. Vana tidak diterima oleh orang tua sang kekasih karena statusnya sebagai anak miskin. Vana selalu berdoa dalam sholatnya agar ia direstui kedua orang tuanya. Allah terkadang selalu punya cara untuk mempertemukan sepasang kekasih dengan cobaan yang cukup berat. Tak lain agar pasangan itu saling menghargai bagaimana usaha sepasang kekasih pada awal-awal kisah mereka sampai direstui orang tua.
Selain status sosial Deri dan Vana, status perkawinan juga sempat menimbulkan keraguan di hati orang tua Felishia, seorang janda beranak satu, yang akan dinikahi oleh Raihan, seorang perjaka. Namun, status itu bukan menjadi halangan mereka untuk bisa bersama.
Begitu pun dengan kisah Chiko yang baru saja jadi mualaf dan mendatangi orang tua Jihan untuk melamar. Meski Jihan ragu, akhirnya ia menerima Chiko untuk menjadi suaminya. Perjalanan membersamai seorang mualaf pun tidak mudah apalagi orang tua Chiko masih berstatus non muslim. Gaya hidup sebelum menjadi mualaf pun masih terbawa dalam kehidupan mereka. Belum lagi seorang wanita yang dulu selalu bersama Chiko masih hadir dalam kehidupan mereka. Lama-lama Jihan tidak tahan.
Bahasa Tulis dalam Karya Antologi
Bahasa dalam cerita-cerita tersebut mudah dipahami, meskipun beberapa bagian kalimat ada yang harus disesuaikan dengan aturan PUEBI. Secara garis besar, cerita pendek-cerita pendek yang ditulis 13 penulis ini berkisah tentang perempuan yang mencintai seorang pria dengan permasalahan berbeda. Saya membaca kisah ini seolah-olah saya kembali ke masa remaja.
Cerita cinta dalam antologi ini begitu dekat dengan kehidupan para remaja dengan emosi, kebimbangan, juga tingkah lakunya saat berhadapan dengan kekasih yang dicintainya. Ketika membaca biografi penulisnya, usia mereka sekitar 20-25 tahun.
Kontak Penulis
Jika kalian penasaran dengan cerita cinta yang ditulis oleh mereka, kalian bisa hubungi salah satu penulisnya yaitu Kak Nuri Thakya.Instagram : Nurithakya99
Fan Page : Nuri Thakya
Email : Nuri.Thakya99@gmail.com
Blog : nurithakya7.blogspot.com
Kontak: 082119514772.
Penulis : Rafif Amir
Penerbit : Penerbit Satoe
Suatu ketika, dalam lamunan singkat saya, akan tiba masa saya menghadap-Nya, saya selalu terbayang masa-masa sakaratul maut yang mungkin menyakitkan saat nyawa sampai di tenggorokan. Begitu saya membaca kumpulan puisi pada bab Tuhan, lamunan singkat saya itu tak seberapa dibandingkan lamunan-lamunan panjang penulis yang melahirkan kata-kata pengingat kematian. Syair-syair indah nan menyentakkan hati berhasil membuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan masalah ke-horor-annya melainkan bayangan saya akan kematian itu. Berhasil pula mengingatkan saya kembali bahwa sejatinya kita, manusia, harus memperbanyak amal ibadah sebelum penyesalan datang ketika ketetapanNya akan kematian yang tak bisa diinterupsi itu tiba.
![]() |
| Kumpulan Puisi Kepak Cahaya oleh Rafif Amir |
Selain tentang pergolakan batin penulis tentang kematian, syair-syair indah dalam buku Kepak Cahaya ini juga memiliki untaian makna dan pesan yang begitu mendalam. Tak hanya tentang sakitnya sakaratul maut, kemenangan dalam peperangan, penyesalan, kedudukan manusia di dunia, tapi juga pesan tersirat dalam menghadapi cobaan-cobaan duniawi. Bahkan perjalanan dalam menjalani puasa Ramadhan, penulis mampu merangkainya menjadi puisi yang indah. Sungguh, saya menggeleng dan berdecak kagum. Saya iri dan tak mampu menulis syair seperti itu.
Bagian kedua dari kumpulan puisi ini adalah tentang Cinta. Tak hanya cinta kepada kekasih, tetapi juga kepada orang tua dan keluarga. Bab cinta ini cukup mengaduk-ngaduk perasaan saya ketika pertemuan dua insan yang membahagiakan namun juga menyedihkan ketika cinta harus berpisah. Terutama ayah dan ibu. Kerinduan seorang anak kepada ayahnya yang pergi jauh begitu memuncak dituliskan dalam syair dalam kumpulan puisi ini. #mewek. Penyajian puisi yang berbeda sudut pandang ini membuat saya tahu bahwa harapan orang tua pada anaknya begitu besar. Saya sedih karenanya.
Uniknya, sebuah judul puisi yang menceritakan pernikahan dua insan di keluarga kerajaan Inggris Raya, William and Kate, dengan sudut pandang yang berbeda juga hadir dalam kumpulan puisi ini.
Beberapa protes tentang carut-marutnya negeri ini juga hadir dalam bab Untuk Negara dan Bangsa. Judul pertama dalam bab ini adalah Anak-Anak Bangsa yang menurut saya cukup menarik. Saya pun menyetujuinya pada ide kritik terhadap aturan yang berlaku di dalam masyarakat.
mereka dipenjara matematika
mereka dibelenggu orang tua mereka sendiri
dengan kata-kata sakti,
"Nak, sekolah yang rajin terus kuliah terus kerja dan menikah. Kelak, kau pasti akan bahagia"
(Hal. 110)
Tak hanya itu, penulis juga menuliskan protes terhadap kehidupan bangsa dan negara ini ke dalam kalimat-kalimat yang terkadang jelas maknanya. Namun, beberapa bagian kalimat-kalimat pada judul yang lain, begitu juga dengan bab lain, memang perlu dibaca berulang kali untuk memahaminya. Banyak kata yang saya sendiri masih asing. Tentu itu membuat saya harus membuka KBBI dan akhirnya menambah kosakata baru saya.
Bab terakhir dari buku kumpulan puisi Kepak Cahaya ini adalah Untuk Keluarga dan Sahabat. Sebagian besar judul-judul puisi dalam bab ini adalah nama-nama orang dan sepertinys mengisahkan pengalaman tentang orang itu bersama penulis. Beberapa kisah yang dituangkan dalam puisi tak selalu menyenangkan tapi juga menyedihkan.
Penulis sudah menulis sebanyak 109 judul puisi yang ditulis sejak tahun 2010 (semoga nggak kelewatan) dengan total halaman 181. Dan tahun 2019 ini baru dicetak oleh Penerbit Satoe yang berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 30, Sidoarjo. Jika kalian berminat beli bukunya, bisa kontak penulis Rafif Amir di IG beliau @rafif_amir atau ke website beliau disini.
Sekian review buku kumpulan puisi dari saya. Semoga memberi pandangan bagi yang ingin membeli bukunya.












