Setelah dari Museum Kota Bandung, esoknya saat acara terakhir sudah selesai, aku mengajak suami berjalan-jalan di Bandung dengan jalan kaki. Sekali lagi.... JALAN KAKI. Aku lagi pengen aja menikmati kota Bandung dengan jalan kaki dari Hotel Best Western ke Gedung Sate terus ke Museum Pos Indonesia. Kalau dilihat dari peta sebenarnya cuma 1.7 km sih tapi kenyataannya capek jugaaa. Apalagi bawa anak kecil yang maunya digendong mulu. Wkwkw. Pulangnya kita nggak mau nyari capek lagi. Cukuplah naik gocar aja. :D

Dengan perjuangan yang melelahkan, ya Allah yang kubayangkan saat itu, belum umroh ini ternyata 1.7 km itu bikin capek. Sempet underestimated bisa nggak saat umroh aku jalan kaki sejauh itu? Ah, mungkin karena belum terbiasa, batinku.

Kami pun tiba di depan Gedung Sate. Saat aku ingin berfoto-foto sejenak, tiba-tiba bus mini berhenti di depan kami menutupi pemandangan gedung sate uang unik. Seorang pemandu yang ada di dalam Bandung Tour on Bus menjelaskan tentang sejarah Gedung Sate. 

Tak lama, Bandros itu pun pergi. Aku pun mulai mengambil berfoto-foto di depan gedung sate. Setelah puas, kami berjalan mendekat ke arah  gedung sate. Kami pun berjalan lewat samping. Museum Pos Indonesia tidak jauh dari Gedung Sate..leganyaa...

Di depan Museum Pos Indonesia Bandung (Foto Pribadi)

Sejarah Museum Pos Indonesia

Kami sudah berada di Jalan Cilaki No. 73 Bandung di mana Museum Pos Indonesia berada. Kami memasuki gerbang museum. Mobil-mobil terparkir di halamannya yang luas. Sedangkan untuk museum berada di samping foto ini. Jadi kita jalan sedikit ke arah samping bangunan.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini keren banget. Sejarah Museum Pos Indonesia ini cukup panjang dan melewati banyak masa. Pendirian museum ini tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda. 

Tepatnya tahun 1920, Museum Pos Bandung ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda yaitu Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst untuk menyimpan barang-barang pos, seperti perangko, baju dinas petugas Pos, surat-surat emas, alat transportasi yang digunakan untuk mengirim surat, dan lain-lain.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini sangat khas. Setiap bagian jendela atau pintu berbentuk melengkung seperti masa Renaissance. Ada yang menyebut juga bangunan ini bergaya eklektik yang memadukan gaya Moor dan Oriental (Thailan dan Indonesia).

Museum Pos Indonesia menjadi salah satu museum tertua di Bandung karena di tahun 1932, museum ini dibuka dengan nama Museum Pos dan berganti Museum Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Sempat vakum setelah perang dunia kedua, Museum PTT berubah menjadi Museum Pos dan Giro ditahun 1983.  Di tahun 1995, museum tersebut berubah menjadi Museum Pos Indonesia.

Tiket dan Jam Buka Museum Pos Indonesia

Pintu masuk Museum Pos Indonesia (Dok. pribadi)

Saat kami bertanya berapa tiket masuk Museum Pos, ternyata tiket museum Pos keren ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami hanya perlu laporan saja.

Wah, ternyata emang banyak banget museum gratis di Bandung. Sebenarnya ini adalah cara biar banyak yang datang berkunjung ke Museum Pos Indonesia. 

Menurutku Museum Pos Bandung ini lebih ramai daripada Museum Kota Bandung. Mungkin yang dipamerkan di museum Pos ini lebih banyak dan tidak hanya poster-poster saja. Selain itu, memang museum ini bergabung dengan kantor pos pusat Bandung jadi banyak pegawai yang seliweran dekat pintu masuk.

Jam buka Museum Pos ini dari Senin sampai Jumat pukul 09.00 - 15.00 WIB, Sabtu pukul 09.00 - 13.00 WIB.

Kepala Kantor Pos Indonesia dari Masa ke Masa

Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung

Memasuki Museum Pos Indonesia bikin aku takjub karena aku jadi tahu banyak hal tentang psistem perposan Indonesia. Pertama, aku melihat Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung dari masa ke masa. Pada awalnya, Pos Indonesiai yang bernama Post Telegraf dan Telepon dipimpin oleh orang Belanda sejak tahun 1897 hingga tahun 1937. Selanjutnya kantor pos berganti nama dan berganti kepemimpinan yang dikepalai oleh orang Indonesia.

Pos Teriak

Di zaman dahulu ketika belum ada pengiriman surat atau barang melalui pos, sebelum orang zaman dulu menulis di batu, pelepah daun, dan lain sebagainya, penyampaian pesan jarak jauh dilakukan secara lisan dan visual. Yang lucu ternyata di zaman kerajaan, pengiriman pesan tulisan dilakukan dengan berteriak dari satu orang ke orang lain sehingga pesan bisa sampai kepada penerima.

Penyampaian berita zaman dulu dilakukan dengan memukul kentongan, genta, meniup sangkakala (duh kok kayak mau kiamat ya, hehe!), menyalakan api atau cahaya, 

Pengiriman Pesan pada Zaman Kerajaan

Di zaman ini, pengiriman pos dilakukan dengan menuliskan pesan di atas batu, kayu, kertas, kulit kayu bambu. Tapi yang lumrah ditulis di atas daun lontar. Jenis tulisan yang ditulis adalah bahasa Sansekerta sehingga tidak semua orang bisa melakukan surat menyurat tertulis ini. Semenjak itu, muncullah profesi pengantar surat bernama pesuratan, pelayangan gadek, dan caraka.

Lucunya, dalam surat-surat pada masa kerajaan itu, bahasa banyak digunakan oleh raja-raja di Indonesia saat korespondesi kepada raja di luar negeri (Inggris) adalah bahasa dan aksara arab. Tergantung raja mana sih. Kalau di Bali, berarti pakai bahasa dan aksara Bali. Kalau di Bugis, raja memakai bahasa dan aksara Bugis dengan cap dalam bahasa arab.

MaasyaAllah, ternyata di masa itu, korespondensi pun masih memakai bahasa dan aksara lokal. coba deh sekarang, pasti disuruh pakai bahasa Inggris. Itu tandanya, di masa itu, pengaruh raja-raja Indonesia begitu kuatnya sehingga raja-raja di luar negeri pun menerima surat dengan menggunakan bahasa lokal.

Namanya surat ini adalah surat emas, naskah Melayu bersungging yang paling indah. Di masa itu, korespondensi menggunakan bahasa yang indah. Struktur suratnya pun sangat rapi. Pembuka surat menggunakan puji-pujian, memiliki keindahan kaligrafi, dan kehalusan seni sungging. Tak hanya itu pemberian hadiah juga tergantung derajat sang pengirim dan penerima surat.

Mesin Pencetak Perangko

Di zaman itu, aku kurang paham mungkin setelah kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos sudah memiliki mesin cetak perangko dengan uang koin. 

Mesin Cetak Perangko (dok. pribadi)

Benda bersejarah museum pos ini menarik perhatianku karena dulu aku suka mengumpulkan perangko dari surat yang aku terima dari berbagai wilayah. Prangko-prangko di museum ini diletakkan pada lemari kayu besar. Ternyata dulu aku pernah menjadi filateli dan sekarang perangkonya sudah hilang seiring aku pindah-pindah kota.



Benda Pos Bersejarah

Tak cuma itu, aku juga melihat banyak peralatan pos yang digunakan untuk mengirimkan pos ke tempat tujuan, baju-baju dinas pegawai tukang pos sampai kendaraan sepeda pak tukang pos. 

Pakaian dinas Pegawai Pos (dok. pribadi)

Aku juga melihat kotak pos yang berbeda-beda, mulai dari berwarna abu-abu, oranye, merah sampai cokelat. Bentuknya pun bermacam-macam. 


Kotak pos Brievenbus

Kesimpulan

Cerita di Museum Pos Indonesia ini seru-seru sih sebenarnya. Banyak banget ide di kepala buat dijadikan cerpen tapi sampai sekarang pun belum kesampaian. Setelah mengunjungi Museum Pos Indonesia, aku jadi bisa membayangkan bagaimana raja-raja di zaman itu memiliki hubungan diplomatik yang kuat antara nusantara dengan raja-raja Inggris. Kekuatan raja-raja nusantara tak bisa diremehkan.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun segera bergegas keluar ruangan. Kami segera mencari musholla untuk menunggu sholat ashar. Setelah selesai sholat, sembari menunggu suami keluar dari musholla, aku melihat petugas sedang membersihkan dinding-dinding bangunan yang tinggi itu dengan kemoceng yang sudah dipasangkan kayu panjang. Padahal nggak kelihatan kotor loh. Hehe. 


Read More
Alhamdulillah Allah kasih kesempatan bisa mengunjungi kota Bandung. Terakhir, ketika aku kuliah antara tahun 2008-2009 untuk study tour. Sekarang, aku ngekor suamiku pas lagi ikut seminar. Karena acaranya sekitar 3 hari, aku bingung mau ke mana. Mau sendiri pergi pun aneh aja gitu bawa anak. Hehe. Akhirnya aku cari destinasi wisata Bandung yang dekat dengan hotel tempatku menginap, Best Western Bandung.

Di depan hotel sebenarnya ada Mall, tapi aku kurang berminat hehe. Saat mencari di Google Map, ternyata ada museum kota Bandung dekat hotel.

Yah, jalan sedikit lah. Cuma memang karena bawa anak kecil nih siap-siap aja si kecil minta gendong. Ya udahlah. Toh deket aja. Sebenarnya banyak banget pilihan wisata edukasi dan sejarah di Bandung, seperti museum-museum begitu. Jadi aku memilih museum yang kudu aku kunjungi. Salah satunya adalah museum Kota Bandung. Anak tata kota kudu banget sih datang ke museum ini buat belajar tentang sejarah kota Bandung.

Museum Kota Bandung

Aku meminta si kecil untuk mematikan televisi yang ia tonton. Aku pun mengajak si kecil pergi ke Museum Kota Bandung. Awalnya, dia mau jalan sendiri, tapi setelah 100 meter, dia minta gendong. Yaahh... cuaca Bandung menurutku tidak dingin dan tidak terlalu panas.

Museum Kota Bandung buka dari pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. Bayangkan saja berjalan ke museum jam 10 pagi itu matahari sudah mulai terika.

Berjalan ke Museum Kota Bandung sambil gendong si bayi pun cukup bikin keringatan. Kondisi trotoar yang kurang rata pun bikin usahaku makin maksimal. Kadang ngedumel juga, kapan sih punya trotoar bagus kayak di luar negeri. Di negara kita sih trotoar bagus Cuma di jalan utama. Sisanya? Sabar ajaaa...

Perjuangan belum selesai karena aku harus menunggu kendaraan itu berhenti saat lampu merah. Kukira jaraknya tidak akan membuatku lelah sebelum tiba, nyatanya...kok nggak nyampe-nyampe ya? Berjalan kaki di negeri ini emang se-effort itu apalagi gendong anak bayi. MaasyaAllah. Ternyata dekat di Google Map tidak dekat di kenyataan, apalagi bawa bayi. Hahaha.

Lokasi Museum Kota Bandung ini ada di Jalan Aceh No. 47, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.

Tak lama, kami pun tiba di Museum Kota Bandung. Dari luar sudah tampak bangunan ala zaman kolonial Belanda. Bangunan lawas yang tampat terawat itu membuat lelahku langsung menguap.

Ternyata dulunya Museum Kota Bandung ini adalah sekolah taman kanak-kanak Frobelschool yang didirikan tahun 1880. Kemudian di tahun 1950 berubah menjadi sekolah “Yahua” hingga rahun 1960, kepimilikan museum ini diambil oleh pemerintah.

Aku meminta si kecil turun dan berjalan. Ia langsung mengeksplor apa yang ada di dekatku.

Patung Dewi Sartika

Di dekat kami, ada patung dewi sartika yang hanya setengah badan, tanpa tangan. Di bagian bawah berupa batu dan papan informasi kecil yang menjelaskan tentang sejarah Dewi Sartika. Kalian sudah pada tahun kan siapa Dewi Sartika? Sampai patungnya diabadikan di Museum Kota Bandung.

Perjuangan Dewi Sartika ini berliku demi memajukan perempuan Sunda. Dewi Sartika membangun fasilitas pendidikan berupa sekolah khusus perempuan. Ia mendirikan Sakola Istri pada bulan Rabu di tahun 1904.

Aku sempat salah masuk karena tidak ada tanda pintu masuk. Lagian juga di museum itu sepi banget. Aku pun agak bingung, ini bener buka atau tidak? Pintu masuknya mana? Setelah celingak-celinguk, seorang petugas mendatangiku dan memberitahu pintu masuk. Aku pun mengajak anakku masuk. Sekolah itu pun semakin berkembang.

Sisi samping Museum Kota Bandung (Dok. Pri)

Tiket Gratis

Ketika memasuki gedung museum, aku langsung melihat ruang pameran besar. Tidak ada petugas yang berjaga ataupun yang menarik tiket. Biasanya kan museum ada tiketnya walau Cuma 5000. Ternyata semua pengunjung diperbolehkan masuk tanpa membayar tiket masuk alias GRATIS! Wah, keren banget sih. Karena biasanya museum kota itu ditarik uang meski Cuma lima ribu rupiah. MaasyaAllah berarti pemerintah kota Bandung keren banget. Biasanya nih ya... biasanya, museum gratis-an itu tidak terawat tapi saat aku memasukinya emang vibe-nya beda.

Ruang pameran

Di ruang pameran pertama ini cukup luas, di dinding-dindingnya terpajang foto para pahlawan. Bung Karno berorasi dengan semangat membara.

Dari dinding satu ke dinding lainnya memuat sejarah Kota Bandung. Aku tidak terlalu menikmati membaca setiap informasi karena anakku sudah berlarian ke sana kemari. Aku takut saja mengganggu pnu

Di ruang pameran selanjutnya menjelaskan tentang sejarah kota Bandung dari awal banget. Sejarah kota Bandung ini dijelaskan secara singkat dari tahun ke tahun.

Yang paling menarik adalah sejarah pengembangan kota Bandung. Aku jadi teringat ketika aku masih kuliah dan mempelajari sejarah Kota Bandung. Thomas Karsten sangat berjasa membangun kota-kota di Jawa di zaman kolonial.

Sejarah Rencana Pengembangan Kota (dok. pri)

Di museum ini juga dijelaskan tentang sejarah Kweekschool atau sekolah guru pertama di Karesidenan Priangan.

Selain pendidikan, pembangunan kota juga tidak melupakan pengembangan taman. Museum Kota Bandung juga menceritakan tentang pengembangan taman kota yang menjadi salah satu elemen penting. Di tahun 1885, taman tertua di Kota Bandung, Pieters Park, dibangun. Di tahun 1879, perkumpulan berbadan hukum untuk orang Eropa, Societit Concordia, dibangun.

Tak hanya pendidikan dan ruang terbuka hijau, pembangunan Kota Bandung juga terus berlanjut dengan membangun usaha penginapan. Di zaman itu, banyak perkebunan di sekitar kota Bandung. Pada akhir pekan, pengusaha perkebunan itu pergi ke Bandung dan menginap di sana. Maka dibangunlah usaha penginapan/ hotel.

Lokasi titik nol Bandung pun ada sejarahnya.

Sebenarnya banyak kalau mau diceritakan akan jadi banyak banget, tapi daripada aku spill mending datang langsung aja, hehe. Takutnya ni artikel nanti jadi artikel sejarah bukan travelling. MaasyaAllah. Ternyata mengunjungi Museum Kota Bandung menambah wawasanku tentang pembangunan kota. Tak hanya berkaitan dengan sejarah fasilitas pendidikan di Kota Bandung, tetapi juga fasilitas penginapan, sosial masyarakat, ruang terbuka hijau, permukiman, dan lain-lain.

Bedanya museum Kota Bandung dengan museum kota lainnya, adalah tidak ada artefak atau benda peninggalan seperti pada museum lain. Sayangnya karena bawa anak kecil jadi tidak bisa berlama-lama.

Kesimpulan

Aku pun segera keluar dari museum dan duduk sejenak di kursi besi. Di sebelah kanan aku, tampak tulisan dari Bung Karno mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Dan kedatanganku kali ini sebagai bukti bahwa sejarah tidak akan aku lupakan.



Menurutku Museum Kota Bandung ini sudah dibikin sekeren gini, ditambah lagi gratis. Harapannya kan pasti bisa menarik banyak pengunjung, khususnya anak muda. Sayang banget tapi ini masih sepi sih. Memang ada beberapa pengunjung tapi rasanya kok nggak serame Mall gitu. Hehe.
Read More
Bagi pecinta kereta api, sayang banget kalau tidak pergi ke Museum kereta api Ambarawa yang punya kereta uap ikonik dan juga sayang banget melewatkan event yang hanya dibuka satu kali satu tahun oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng. 

Kunjunganku ke Balai Yasa Surabaya Gubeng itu pun tidak direncanakan. Tiba-tiba saat scroll Instagram, muncul postingan tentang Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng. Tentu saja aku tidak mau melewatkan event tahunan ini. Kalau mau ke stasiun pun bisa, bisa lihat kereta di pinggir rel kereta api kapan pun. Tapi kalau ke bengkel kereta api, tidak setiap hari bisa. Makanya aku nggak mau ketinggalan event Open House dari KAI ini.

Balai Yasa

Balai Yasa merupakan bengkel khusus kereta api untuk perbaikan dan perawatan lokomotif, gerbong, kereta maupun sarana perkeretaapian milik PT. KAI. Indonesia memiliki delapan Balai Yasa yaitu Manggarai, Kiaracondong, Tegal, Yogyakarta, Surabaya Gubeng, Pulubrayan, Padang, dan Lahat.

Seneng banget di kotaku ada Balai Yasa Surabaya Gubeng. Lebih excited lagi ternyata Balai Yasa Surabaya Gubeng mengadakan open house. Event satu tahun sekali ini emang kudu banget dikunjungi! Selain menyenangkan untuk anak-anak.

Tiket Masuk Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng

Mencari informasi tentang tiket masuk ke Open House Balai Yasa ini agak membingungkan. Cuma entah bagaimana akhirnya setelah mencari-cari informasi melalu media sosial maupun website, aku dapat juga tiketnya. Gratis. Kita tinggal memilih jam kunjungan. Dan aku memilih jam 11 siang. Kebayang panasnya Surabaya. Hehe. Tapi demiii banget biar anak-anak seneng ya udah lanjut ajaaa.

Melihat Bengkel Kereta Api

Mendekati lokasi, ternyata jalanan lumayan padat. Jalanan yang tidak terlalu lebar menambah kepadatan lalu lintas siang itu. Mobil-mobil sudah parkir di pinggir jalan. Mau tak mau kami juga mencari parkir di luar. 

Setelah mendapat parkir, kami segera menuju pintu masuk Open House. Kami mengira pintu masuk untuk Open House itu sama dengan Balai Yasa. Ternyata beda. Kami diarahkan ke pintu masuk di mana banyak orang menuju berjalan ke arah itu.

Meski panas sudah berada di atas kepala, para pengunjung sudah banyak yang antri padahal masih di depan gerbang. MaasyaAllah. Di depan, beberapa petugas pengecekan tiket dan bagian keamanan berjaga di depan gerbang. Bagi yang sudah menunjukkan tiket, pegunjung diperbolehkan masuk. Setelah antri sekitar 10 menit, kami pun memasuki Balai Yasa yang menjadi jalur masuknya kereta api yang akan diperbaiki. 

Ruang terbuka tampak ramai dengan orang berlalu-lalang. Panasnya membuat kami segera mencari tempat teduh. Eh, tapi kami berfoto dulu di tulisan BUMN. Hehe. 



Kami juga berfoto di depan seperti mesin excavator tapi tidak pakai ban untuk di jalan raya tapi pakai roda kereta api.


Tak lama, odong-odong datang dan berhenti di dekat kami. Beberapa orang turun dan kemudian naik saling berebutan. 

Awalnya, aku mau ajak naik odong-odong tapi kok kalah sama ras terkuat di bumi ini. Alias para ibu-ibu. Meski aku juga ibu-ibu, tapi aku kalah duluan. Hehe. Mereka rebutan naik dan aku gagal.

Sebelum Itu, Lihat Satwa liar Dulu

Yausah, aku, suami dan anak-anak pergi ke tempat pameran. Sebelum melihat kereta api, kami mendatangi stand paling depan yang memamerkan beberapa hewan liar, seperti beberapa jenis ular, iguana, dan lain-lain. Petugas yang juga pemilik hewan itu berdiri mengawasi para pengunjung yang ingin merasakan sensasi memegang hewan paling menggelikan.

Aku mengira anakku takut, rupanya mereka penasaran ingin memegang. Okelah, meski aku agak geli-geli juga, kubiarkan mereka memegangnya.

Setelah sekitar 10 menit, aku menyuruh mereka sudah saja. Soalnya aku takut nanti aku berubah jadi Nagin. Cacacaca.. XD

Melihat Kereta Panoramic dari Dekat

Satu obyek di Open House yang menarik perhatian banyak pengunjung adalah adanya kereta panoramic yang viral. Naik kereta panoramic emang dambaan banyak orang kayaknya yaa.. siapa yang nggak pengen bisa naik kereta mirip di luar negeri bisa melihat pemandangan alam yang indah. Kereta panoramic ini harganya lumayan sih. Nah, karena belum kesempatan naik kereta panoramic jadi kita manfaatkan nih di event ini bisa merasakan kereta panoramic.


Eh, sayangnyaaaa...banyak banget yang mau masuk ke gerbong kereta panoramic dan foto-foto di dalam. Jadi pas aku udah naik, cuma sempet ngerasain AC gerbong panoramic yang dingin, tapi nggak bisa masuk karena semua pengunjung udah duduk di kursi, foto-foto, dan cukup penuh. 

Wes lah. Capek juga mau pencitraan naik kereta panoramic. Wkwkwk. Akhirnya anak-anak aja aku suruh foto di depan gerbong kereta panoramic dan ikut foto sama bapak petugas KAI. 

Barisan Gerbong Kereta

Sebenarnya aku juga nggak begitu paham dengan kereta. Jadi kebanyakan saat kunjungan ke bengkel kereta api, suamiku yang lebih banyak cerita. Saat gerbong-gerbong kereta berbaris rapi di depo, sebuah tempat khusus beratap untuk memperbaiki mesin kereta. Gimana gerbong kereta dibawa sampai ke tempat bengkel. 


Tidak tampak aktivitas pegawai Balai Yasa yang sedang memperbaiki gerbong kereta. Kami pergi ke ruang lain yang memang sudah diperuntukkan untuk pameran. Pengunjung cukup ramai melihat petugas Balai Yasa yang menjelaskan sistem roda perkeretaapiaan. Emang cocok banget sih buat anak kuliahan. Aku nggak paham. Hiks. Suamiku yang bisa lama di ruang pameran itu sih karena emang paham.


Naik Roll Wagon

Yang unik dari Balai Yasa ini yaitu pengunjung bisa naik roll wagon yang merupakan fasilitas perkeretaapian untuk membawa gerbong kereta ke depo kereta. Roll wagon ini bentuknya memanjang menyesuaikan panjang gerbong. Di bagian tengah roll wagon tersusun konstruksi rel kereta. Di bagian depan ada ruang khusus pengemudi. Roll wagon ini hanya jalan maju dan mundur saja. 


Aku pun mengajak anak-anak naik roll wagon. Kami sudah berdiri di pinggir agar bisa segera naik. Saat berhenti, pengunjung rebutan naik. Tapi kalau ini kayaknya semua pengunjung bisa merasakan semua. Setelah roll wagon cukup terisi banyak pengunjung, roll wagon berjalan.

Sensasinya sih seperti naik kereta dengan kecepatan pelan tapi jalan maju sampai ujung kemudian mundur lagi. Dan tidak ada pembatas kaca jadi masih merasakan angin sedikit. Syukurnya ada atap jadi tidak terasa panas. 


Kesimpulan

Naik roll wagon ini seperti puncak acara ikutan open house Balai Yasa. Ikutan open house ini selain memperkenalkan profesi kereta api juga mengenalkan sistem kereta api kepada anak-anak. Open House Balai Yasa ini emang kudu banget sih dikunjungi apalagi anak-anak yang suka kereta api. Cuma aku kurang paham yaa kalau di kota lain apa ngadain Open House juga apa nggak. Coba di cek-cek aja medsosnya.

Read More
Kadang di satu momen, aku bingung mau ajak anak-anak main ke mana di Solo. Aku cari tempat yang tidak terlalu jauh dan banyak permainannya. Sebenarnya mau ke playground-playground gitu tapi kok kurang lokal banget soalnya di Surabaya juga banyak. Yang paling penting sihh harganya tidak mahal. Hahaha. Sampai akhirnya aku ajak mereka ke Taman Cerdas Jebres. Teman bermain anak di Solo ini cukup menarik perhatianku. Menurutku banyak atraksi yang lumayan bikin anak-anak tertarik. Dan kayaknya beda kayak teman Cerdas biasanya.

Konsep taman Cerdas ini mulai berkembang di tahun 2000. Konsep ini digunakan agar taman tidak hanya sebagai tempat berkumpul bersama keluarga tetapi juga untuk meningkatkan pengetahuan pengunjungnya. Tentu saja, fasilitasnya berbeda seperti taman biasa. Ada beberapa fasilitas.


Akses Taman Cerdas Jebres Solo

Lokasi Taman Cerdas Jebres Solo ini ada di belakang kampus UNS Solo. Mampirlah kami ke sana. Aku sih berharap ada hal-hal lain tak terduga ada menyenangkan.

Alamat Taman Cerdas Jebres ini ada di Jl. Surya I Gg. Love Bird No.25, RT.003/RW.022, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta.

Oiya di situ tulisannya Gang Love Bird tapi mobil bisa kok masuk ke jalan ini. Lokasinya memang agak nyempil begitu tapi jalannya cukup untuk dua mobil.

Taman Cerdas Jebres

Sesampainya di sana, sudah ada beberapa pengunjung yang bermain di area bermain. Suasana cukup tenang. Tidak terdengar hiruk pikuk kendaraan. Di dekat tempat parkir mobil, ada beberapa warung non permanen. Aku membeli beberapa roti untuk anakku yang susah makan. Anak-anakku tidak sabar ingin mengeksplorasi Taman Cerdas jebres.

Taman berpagar di pinggir jalan itu tidak tampak seperti fasilitas umum dari pemerintahan. Tidak hanya taman berumput saja tapi juga banyak bangunan di dalamnya. Justru terlihat seperti bangunan TK swasta. Selain warnanya cerah, juga tampak mewah bila disebut taman. Bangunan besar di tengah taman tidak terlihat seperti taman. 

Pepohonan besar tersebar di area taman bermain membuat anak-anak nyaman bermain di taman yang teduh. Kalau siang-siang ke sini juga aman ya insyaallah nggak terlalu panas.

Tak hanya itu, lokasi Taman Cerdas ini ada di daerah kelerengan. Jadi ada bagian taman yang memiliki kontur cukup tinggi sehingga kita harus mengakses tangga untuk naik ke sudut lain.

Perpustakaan

Ketika memasuki taman ini dari pintu gerbang utama, kita akan melihat bangunan perpustakaan yang sayangnya waktu itu sedang tutup.


Playground

Di taman itu, anak-anak bermain di playground. Mereka bermain ayunan. Perosotan pun dibuat permanen dari beton. Mungkinbiar tidak cepat rusak kali yaa. Cuma perasaanku jadi lebih keras. 

Permainan di playground ini masih terbilang bagus. Waktu itu belum ada yang rusak tapi entah sekarang yaa..


Patung dan Robot

Kami naik tangga ke bagian taman di bagian atas. Dari bawah tampak ada robot-robot besar. Anakku excited saat melihat robot besar. Ia mengira robotnya bisa bergerak. Aku mengajaknya berfoto bersama robot itu.

Selain robot-robot, di taman ini juga ada patung penari khas Jawa Tengah. Di atas, ada ruangan berkaca yang tertutup menampakkan set main musik gamelan. Sepertinya di waktu tertentu, taman ini digunakan untuk pertunjukan musik khas Jawa. 

Tak hanya itu, di sudut lain, ada patung dinosaurus beraneka ragam. Anak-anak excited sekali melihat patung dinosaurus. 



Tanaman Hidroponik

Di dekat playground, pipa-pipa hidroponik terpasang. Benih-benih sayuran tumbuh subur.  

Mushola

Berlama-lama di Taman Cerdas juga aman aja dari siang sampai sore karena ada musholla. Kita bisa sholat tanpa harus keluar dari taman.

Ruang Radio Anak

Pas lewat bangunan ini, aku agak kaget sih. Taman Cerdas ini juga dilengkapi dengan Ruang Radio Anak. Aku juga kurang paham apakah anak-anak berlatih seperti seorang penyiar begitu ataukah tetap ada penyiar dari orang dewasa kemudian diwawancarai atau seperti konsep talk show. 

Ruang Edukasi

Setelah naik-naik ke beberapa fasilitas umum di Taman Cerdas, akhirnya kita turun juga menuju Ruang Edukasi. Ruang Edukasi juga tersedia di Taman Cerdas Jebres. Fasilitas umum ini juga lumayan bagus sih. Bangunannya dua tingkat seperti sekolah saja. Kalau lihat dari luar lewat kaca, di dalamnya tersedia media pembelajaran untuk anak. Di depannya ada ruang terbuka untuk tempat berkumpul anak-anak. Di tengahnya ada kursi dan meja besi.

Pendopo

Oiya lupa, di ujung taman, pendopo yang tidak terlalu besar bisa digunakan anak-anak untuk berkumpul, belajar, membuat kreasi atau latihan. Saat aku di sana, aku melihat beberapa anak perempuan sedang berlatih menari. Berarti Taman Cerdas ini memang digunakan masyarakat sekitar untuk beraktivitas.

Kesimpulan

Anak-anak suka banget sih bisa berkunjung ke Taman Cerdas ini meski kami tidak juga berlama-lama di sini. Tapi memang bagi masyarakat sekitar taman Cerdas ini menjadi tempat hiburan anak-anak tanpa harus bayar mahal karena tidak ada tiket masuk.

Menurutku, Taman Cerdas ini keren kalau bener-bener bisa dimanfaatkan oleh umum meski hari libur. 

Sayangnya tidak semua fasilitas umum dibuka untuk umum seperti Ruang Edukasi atau Perpustakaan. Mungkin saat kami ke sana itu hari libur jadi tidak ada penjaganya. 


Read More
Setiap jalan-jalan ke Solo, seperti setelah aku mengunjungi kampung Batik Kauman Solo, aku tidak mau melewatkan mencicipi kuliner khas Solo. Banyak sekali kuliner khas Solo yang bisa kita coba, seperti Selat Solo, Sop Matahari, nasi liwet, sate buntel, tengkleng, dan lain sebagainya. Nah, biasanya karena Sragen lokasinya dekat dengan Solo jadi masih banyak warung makan yang menjual makanan khas Solo di Sragen. Tapiii rasanya beda sih. Aku ceritakan beberapa kuliner khas Solo yang patut dicoba jika kita hanya satu hari di Solo.

Kuliner Khas Solo

Ada banyak sekali kuliner khas Solo tapi yang aku tulis di sini yang selalu aku coba setiap ke Solo. Karena menurutku, rasanya yang pas banget di lidah dan khas Solo banget.

Selat Solo

Kuliner Solo satu ini emang khas banget, meski dari segi sejarah kuliner ini mendapat pengaruh dari Eropa. Dulunya orang Eropa yang masih menduduki Indonesia, khususnya Solo, biasa makan bistik sapi. Kemudian hidangan khas Eropa itu ditambah sayur dan kuah manis hingga jadilah seperti salad tapi ala Jawa. Ada juga yang mengatakan bahwa Selat berasal dari bahasa Belanda "Slachtje" yang artinya penyembelihan karena berasal dari daging sapi. Orang Jawa jadi ngomongnya Selat. 

Selat Solo di Warung Tenda Biru (Foto Google Anggraini)

Kalau kalian biasa makan porsi besar, maka seporsi Selat Solo ini pasti kurang karena Selat Solo tidak pakai nasi. Sama seperti makanan Eropa yang memakai kentang sebagai pengganti nasi. 

Seporsi Selat Solo ini terdiri dari potongan kentang, wortel, buncis, sayur selada, telor rebus kecap, daging stik, disiram dengan kuah yang gurih manis. 

Cita rasa Selat Solo ini hampir sama dengan sebagian besar makanan Jawa Tengah yang cenderung manis. Daging stiknya bisa berupa daging asli yang diolah dengan bumbu manis kecap atau biasanya ada yang pakai rolade daging. 

Meskipun rasanya manis tapi tetap ada gurihnya kok. Ada rasa pedas dari merica. Jadi bagi lidah yang lebih suka makan gurih pun nggak kaget dengan rasanya Selat Solo. Tetap bisa dinikmati. Di akhir artikel aku akan kasih tempat makan Selat Solo yang recommended yaa.

Sate Buntel

Sate Buntel ini juga jadi salah satu kuliner Solo yang wajib didatangi saat ke Solo. Sebab tak semua kota menjual Sate Buntel ini. Tentunya rasanya juga beda sih. 

Sate Buntel (Foto Google Banafsha Za)

Apa sih Sate Buntel itu? Sate buntel itu sajian khas Solo yang berasal dari daging sapi/kambing/ayam cincang yang diberi bumbu dilapisi lemak tipis kemudian dibentuk/dibuntel dililitkan pada tusuk sate. Kemudian dibakar. Di beberapa rumah makan, sate buntel ini dilapisi aluminium foil terus dibakar. 

Salah satu alasan lagi kenapa sate buntel jadi kuliner wajib saat di Solo adalah karena lebih mudah dikunyah daripada sate kambing yang dipotong-potong. Maklum kami sekeluarga ini memang agak susah makan sate kambing kalau nggak yang empuk banget. 

Dan menurutku sate buntel ini paling enak pakai daging kambing sih. Lebih sedap. Bau apa nggak? Menurutku sih nggak kerasa baunya meski aku makan di beberapa tempat. 

Di Solo, ada satu tempat makan Sate Buntel yang recommended yang aku akan ceritakan.

Rekomendasi Rumah Makan Kuliner Solo

Aku rekomendasikan dua tempat makan di Solo yang menyediakan kuliner khas Solo. Untuk makan Selat Solo bisa ke rumah makan Tenda Biru. Sedangkan untuk Sate Buntel bisa ke Sate Pak H. Kasdi.

Rumah Makan Tenda Biru Solo

Sebenarnya banyak rumah makan di Solo yang menyuguhkan Selat Solo, tapi aku lebih suka makan Selat Solo di Tenda Biru Solo.

Meskipun namanya Tenda Biru tapi sebenarnya Rumah Makan ini berupa bangunan permanen. 

Rumah Makan Tenda Biru Solo di Malam Hari (Dok. pribadi)

Saat kami ke sana setelah magrib, mobil-mobil antri masuk dan keluar dari rumah makan. Tampaknya sangat ramai malam itu. 

Kami menaiki motor pinjaman teman. Kami tidak perlu rebutan parkir. Di Tenda Biru memang tersedia tempat parkir mobil yang cukup luas jadi suatu waktu ke sini bawa mobil alhamdulillah selalu ada tempat untuk parkir.

Kami memasuki rumah yang cukup luas. Di bagian depan, kasir sedang melayani pembayaran dari pembeli. Aku mencari tempat yang kosong. Malam itu benar-benar ramai. Untung saja ada sedikit meja tanpa penghuni. Aku segera duduk.

Kami pun memesan Selat Solo. Sayangnya, menu yang akan kami pesan habis. Begitulah kalau berkunjung di malam hari selalu kehabisan. Akhirnya aku memesan menu lainnya. Aku lupa apakah pesan Sop galantin atau Sop Manten. Ah, sayang banget.

Menu Selat Solo Tenda Biru
Menu Tenda Biru (Foto Google Nia Naizi Zakaria)

Di Tenda Biru Solo ini juga menyediakan banyak menu makanan, mulai dari Selat Solo, Sop Matahari, Galantin dan berbagai macam menu lainnya.

Tapi dari semua menu, aku suka Selat Solo. Rasanya gurih meski manis. Kuahnya tidak terlalu kental. Kalau kalian yang suka makan banyak emang mending beli 2. Karena porsi Selat Solo ini untuk sarapan atau orang diet wkwkwk.

Sayangnya kehabisan Selat Solo jadi pesan Selat Galantin (dok. Pri)

Kalau nggak salah sih ini Sop Manten (dok. Pribadi)

Harganya pun bisa dibilang cukup murah. 

Kalau kalian ke sini saat jam 7 malam kemungkinan sudah banyak menu yang habis khususnya Selat Solo. Jadi saranku ke sini saat makan siang. Dan harus sabar yaa menunggu menu keluar karena emang seramai itu.

Sate Kambing Pak. H. Kasdi

Nah, kalau makan siang makan Selat Solo masih kurang, maka aku bisa mengenyangkan perut saat makan malam di Sate Kambing Pak H. Kasdi. Hehe. Sate yang berada dekat stasiun Balapan ini cukup terkenal. 

Sate Kambing Pak H. Kasdi (Foto Google Ricky)

Pertama kali aku datang ke Sate Kambing ini, waktu itu menjelang maghrib, hujan cukup deras dan antriannya mengular. MaasyaAllah. Kudu sabar banget antri sebanyak itu. Meski antrinya lama tapi pas udah giliran kita, makanan yang dipesan juga tidak lama datang. Karena biasanya mereka sudah menyiapkan hampir semua menu termasuk sate buntel bakarnya. 

Jadi saat sudah giliran antrian kita, kita akan ditanya berapa piring nasi. Sate buntel di piring sendiri. Kalau mau beli tengkleng atau tongseng pun bisa. Rasanya cenderung manis sih. Kuahnya kental dan sedap. Kalau aku mending beli sate buntelnya. Hehe.

Sate Buntel dan Sate Kambing (Foto Google Wahed)

Soal harga menurutku tak jadi soal karena harga sate buntel standar segitu dan memang rasanya enak. Tapi kalau antrinya panjang dan kalian udah lapar banget mending pikir-pikir lagi. Hehe.

Menu Sate Kambing Pak H. Kasdi (
Foto Google Hendro Sukarso)

Kesimpulan

Menurut aku kalau mau kuliner Selat Solo mending siang gitu kalau mau kesana biar nggak kehabisan. Kecuali kalau mau cari rumah makan lain juga banyak kookk. 
Read More
Kalau liburan di Surabaya itu yang bikin kita mikir-mikir adalah cuaca panasnya, seperti pergi ke pantai, kolam renang, taman. Kalau mau ajak anak-anak main ke tempat yang adem, kita bisa ke playground. Banyak playground di Surabaya yang bisa jadi pilihan menyenangkan anak-anak. Aku sendiri lebih memilih mengajak anak berenang daripada ke playground di Surabaya. Mungkin bisalah ya sesekali ke sana. 

Kebetulan, keluarga suami di Malang penasaran pengen mencoba playground yang terkenal di Surabaya yaitu Playlandia. Anak-anak pun diajak. 

Setelah beristirahat sejenak, kami berangkat ke Tunjungan Plaza. Lokasi Playlandia ini ada di Tunjungan Plaza 3 (TP3). Pasti semua sudah tahu lah yaaa salah satu mall terbesar di Indonesia ini. Kalau liburan ke mall terbesar ini sih udah nggak mungkin kepanasan yaaa kecuali kalau mati lampu. Hihi.

Playlandia Tunjungan Plaza Surabaya
Playlandia Tunjungan Plaza Surabaya (sumber foto: tiket.com)

Playlandia, Tempat Bermain Anak dan Dewasa

Playlandia merupakan playground indoor di Surabaya untuk segala usia. Bisa kebayang permainan apakah kira-kira yang tersedia untuk anak-anak dan orang dewasa. Orang dewasa kayak aku ini juga bisa ikut bermain, haha. Kira-kira jenis permainannya apa aja ya? Apa kayak TransMart atau duFan?

Playlandia ini berada di lantai 5 TP3. Oiya, kalau parkir mobil di TP ini harus diingat banget loh lokasi parkir di mana. Kalau perlu difoto aja lokasi parkirnya karena luas banget. Kita bisa lupa keluarnya dimana.

Tiket Masuk Playlandia

Ketika tiba di depan Playlandia, kami bis amelihst sebagian wahan permainannya. Lampu-lampu warna-warni, ungu, pink, biru, hijau, lebih mendominasi. Tampak sedikit wahana permainan yang membuat aku bertanya-tanya. Amankah buat anak kecil?

Aku melihat antrian yang cukup memanjang. Wajah-wajah pengunjung tampak mencoba bersabar. Sepertinya mereka sudah lama mengantri.  sudah cukup banyak yang antri. Untung saja salah satu adik suami sudah mengantrikan. Jadi kami bisa ikut antrian adik ipar, hihihi. 

Kebetulan saat itu ada diskon, kalau tidak salah beli 1 gratis 1. Oiya, untuk anak-anak yang kurang dari 135cm harus bersama 1 pendamping dan pendamping ini tidak perlu bayar tiket. Harga tiket masuk Playlandia 1 orang seingatku 100ribu.

Aku termasuk pendamping karena mendampingi anakku yang masih usia 3 tahun. Karena kami datang keluarga besar, promo ini lumayan banget sih. Aku tuh malah ngga update hal-hal kayak gini. Nggak pernah kepikiran kesini kalau nggak ada yang ngajakin wkwkwk. MaasyaAllah barakallahu.

Sebelum Masuk Playlandia

Sebelum masuk ke Playlandia, ternyata setiap pengunjung diwajibkan memakai kaos kaki khusus yang tidak licin atau anti slip. Jadi di bagian bah alasnya ada grip silikon untuk mencegah kaki tergelincir.

Kaos kaki ini di luar harga tiket, jadi kita harus beli lagi kalau tidak salah sekitar 25.000 (please drop comment kalau harga sekarang berubah). Ukurannya pun macam-macam. Sayangnya, untuk ukuran kaki besar sekitar 42 itu yang jarang, jadi pakai kaos kaki ukuran bawahnya dan agak ketat. Hehe. 

Seru-seruan di Playlandia

Giliran kami memasuki Playlandia setelah antri sekitar hampir 1 jam. Kami melewati pintu masuk yang dijaga petugas dengan menunjukkan gelang kertas yang ditempel di tangan. Loker-loker tempat barang cukup banyak di area pintu masuk. Jadi kita nggak perlu bingung naruh barang di mana. Dengan jenis permainan di playlandia rasanya emang kita jangan bawa tas berat dan banyak.

Anak-anakku nggak sabar berlarian sama saudara sepupunya, sementara si kecil aku gandeng. Sebenarnya banyaaak banget jenis permainan di Playlandia, nanya saja hanya sedikit saja yang cocok untuk anak-anak.

Slides dan Ball Pool

Permainan pertama yang dimainkan adalah perosotan besar berbentuk corong dan tinggi. Bagiku ini cukup tinggi untuk ukuran balita. Dia nggak sabar ingin perosotan ngikuti kakak-kakaknya. Saking besarnya, aku hanya istighfar saat ia meluncur... beneran bikin jantugku deg-degan. Haha. Kakinya terangkat ke atas dan badannya berbaring. Bukan seperti orang main perosotan di taman. Hahha.

Si Kecil Bermain Slides (dok. Pribadi)

Udah gitu, dia masih mau coba lagi. Ya Allaaahhh... karena ngeri, aku memintanya ganti permainan lain. Tapi namanya anak masih penasaran jadi ya lanjutt lagi. Aku dari ujung siap-siap nangkap kalau dia kenapa-kenapa. Alhamdulillah sih nggak kenapa-kenapa. Haha.

Slides yang Berakhir di Ball Pool (Dok. Pribadi)

Si kecil pun berpindah ke perosotan lain yang ada bola-bolanya. Di sini, perosotan tidak terlalu tinggi seperti tadi. Tapi memang harus hati-hati karena banyak anak kecil yang main. Jangan sampai ada meluncur dan mengenai pengunjung lain.

Redbull, Mengendalikan Banteng Mengamuk

Saat anakku lagi asyik main perosotan dan bola, aku melihat wahana permainan redbull yang menjadi salah satu daya tarik pengunjung dewasa untuk bermain. Setelah melihat anakku bermain dengan aman, aku dan suami ingin mencoba redbull. Haha.

Redbull ini permainan menaiki banteng kemudian nanti mesin akan menyala dan memutar-mutar banteng dengan arah jam atau berlawanan. Semakin lama putaran banteng ini semakin kencang. Rider mungkin kesulitan untuk mengendalikan diri dan bisa saja jatuh di matras yang empuk.

Beberapa orang antri ingin mencoba menaiki banteng matador itu. Rata-rata, rider akan terjatuh di menit ke 7 menit.

Redbull Playlandia (dok. Pribadi)

Suami pun ikut mencoba. Tibalah giliran saya menaiki patung banteng bertanduk yang bisa berputar-putar itu. Tubuh patung itu cukup besar. Sepertinya kalau cuma bermodal pegangan saja rasanya tidak akan kuat. Jadi aku mencoba memegang smabil merapatkan kaki meski tidak yakin akan bertahan lama. Di putaran pertama, masih bisa dikendalikan, gerakannya masih pelan. Putaran selanjutnya operator mulai menaikkan level banteng mengamuk. 

Dan aku mulai kewalahan. Otot-otot kaki, tangan dan hampir seluruh tubuhku mencoba mengendalikan seluruh gerakan banteng. Banteng terus berputar semakin kencang dan pada akhirnya aku terlempar. Haha.

Parah ya ternyata. Mungkin redbull ini seperti filosofi amarah manusia kali yaa. Di saat emosi tidak bisa dikendalikan, mungkin kehidupan kita akan remuk redam. Keluar dari titik kehidupan normal. Bahayanya bisa merusak kehidupan kita, seperti halnya tubuh kita yang terlempar dan menabrak yang ada di sekitar.

Slides untuk Dewasa

Di sisi lain, ada bermacam-macam perosotan untuk orang dewasa, seperti rainbow slides, dan tunnel slides. Kita harus menaiki semacam lorong jika ingin bermain slides ini. Untuk rainbow slides harus pakai ban yaa. Untuk anak-anak masih bisa kok coba perosotan pelangi.

Rainbow slides (dok. Pribadi)

Sedangkan extreme slides itu sudutnya hampir tegak, ngeri banget. Perosotan yang ekstrim itu harus pakai alas seperti alas tidur. Dan harus ada penjaganya.

Aku coba slides ini cukup mengerikan karena sudutnya hampir 90°. Seperti terjatuh dari ketinggian padahal sudha coba buat tidur. Parahnya anakku naik ini nggak pakai alas. Ya Allah alhamdulillah masih nggak apa-apa. Kasihan soalnya punggung pasti sakit. Sempat ditegur sama petugas karena anakku nggak baca tulisan sebelum meluncur. Di sini, aku berpesan padanya bahwa untuk baca dulu tulisan yang ada. 

Ninja Warriors

Ninja warriors ini ada di lantai atas. Di sini, kita bertualang untuk berjalan dan melompat seperti ninja dari satu pijakan ke pijakan lainnya. Ada tali, ada seperti bandulan, dan lain sebagainya. Untuk anak-anak masih aman sih main di sini tapi tetap harus diawasi.

Ninja Warriors (dok. Pribadi)

Kolam pasir

Di bagian belakang, ada satu kolam pasir untuk anak-anak. Pasirnya bukan pasir beneran tapi pasir sintetis berwarna putih seperti salju. Di sini, perosotan mini dan juga ada playground mini untuk anak-anak bayi.  Di sini banyak mainan-mainan, seperti sekop, truk, dan lain-lain. Setelah keluar dari tempat ini, petugas akan meminta kita harus berdiri di atas tempat khusus dan membersihkan pasir-pasir yang menempel. Setelah itu baru boleh keluar.

Main pasir putih sintetis (dok. Pribadi)

Flying Fox

Bagi anak-anak yang suka petualangan tapi tidak berani terlalu ekstrem bisa mencoba flying fox sederhana itu. Tidak terlalu tinggi dan tidak jauh sehingga cocok untuk anak balita. Asalkan pegangannya kuat ya.. karena kita hanya menggantung di tempat tali.

Panjat tebing

Di bagian sudut Playlandia ternyata ada panjat tebing untuk dewasa dan anak-anak. Di bagian depan, dekat pintu masuk di sebelah kiri, ada panjat tebing sederhana untuk anak-anak di bawahnya berisi balok-balok dari busa. Kita bisa tidur-tiduran di situ. 

Panjat tebing sederhana dan balok busa (dok. Pribadi)

Sedangkan panjat tebing yang beneran itu di ujug dekat slides. Meski ada sekitar 4 atau 5 titik panjat tebing tapi yang antri lumayan banyak. Akhirnya, anakku gagal nyobain. 

Rope Adventure

Wahana permainan ini yang menurutku paling utama di Playlandia yang kudu dicobain, tapi memang terbatas dengan tinggi minimal 135 cm dan tinggi maksimal 185 cm. Berat minimal 20 kg dan maksimal 80 kg. Di sini pengunjung harus melewati tantangan yang berada di ketinggian dengan sistem keamanan yang terjamin. Tantangannya macam-macam sepertinya harus melewati jalan dengan memegang tali-tali yang menggantung, atau main seluncur tali. Yang takut ketinggian sepertinya harus pikir ulang kalau mau melewati ini. Hehehe.

Sebenarnya aku mau coba ternyata antrinya lumayan banyak dan lama. Yang antri pun duduk-duduk di pinggir lorong wahana. Kayaknya bakal lama dan ngga sempet waktunya.

Antri (dok. Pribadi)

Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak lagi wahana di Playlandia tapi hanya sedikitt yang aku ceritakan. Playlandia di Tunjungan Plaza ini merupakan playground terbesar di Surabaya. Playground ini dibangun dengan konsep bertingkat khususnya rope adventure yang memang menguji nyali pengunjung. Keamanan pengunjung diperhatikan dengan dipasang tali pengaman atau semacam seatbelt dan helm. Yang pasti ada berat minimal dan tinggi minimal. Konsep Playlandia ini bener-bener berbeda sama playground yang biasa aku kunjungi di Malang. Sekadang udah berkembang pesat banget. 
Read More
Salah satu destinasi wisata kota Solo yang wajib dikunjungi adalah Kampung Wisata Batik Kauman Solo. Saat aku berkunjung ke kampung batik ini, aku membayangkan bisa melihat proses pembuatan batik secara langsung. Kunjunganku kali ini sama seperti kunjunganku ke tempat wisata lainnya, tanpa rencana. 

Lucunya, kami keliling Solo kali ini tidak bawa mobil seperti biasanya, tetapi pinjam motor teman suami. Sebenarnya, dari sragen suami sudah ngajak bawa motor, tapi kan jauh bakal capek banget dan bisa bikin masuk angin. Akhirnya pinjam motor teman saja. Hehe.

Kami janjian di kampus UNS. Mobil kami pun parkir di UNS hihi. MaasyaAllah kalau enaknya punya teman dari komunitas yang sama.

Ketika ditanya kami mau ke mana, kami cuma bisa nyengir nggak jelas. Kami nggak punya tujuan kemana wkwk. Kami jawab saja keliling Solo. 

Sepanjang perjalanan, aku mikir mau kemana yaa.. Aku tahu kalau Solo itu khas banget sama batiknya. Meski beberapa kali ke solo, aku belum pernah mengunjungi kampung batik. Karena menurutku ke kampung batik itu identik dengan belanja-belanja kain atau baju batik. 

Justru aku tertarik pergi ke kampung batik itu melihat aktivitas pengrajin sedang membatik. Aku tidak berharap banyak sih setelah melihat di foto Google bahwa kebanyakan emang butik batik. Yah, daripada aku bengong mau ke mana akhirnya memutuskan untuk pergi melihat salah satu tempat wisata khas Solo itu. Biar aku tampak Indonesia banget gitu loh. Hehe

Kampung Batik Solo

Kampung Batik di Solo ini ada dua yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman Solo. Awalnya, aku mau ke Laweyan saja. Setelah melihat foto di Google, sepertinya lebih menarik pergi ke Kampung Batik Kauman Solo. Kalau mau pergi ke Laweyan pun sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi waktu itu sudah hampir sore, dan kami memilih untuk mengunjungi satu tempat wisata saja.

Kampung Batik Terkenal di solo
Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Kampung Batik Kauman Solo

Untuk menuju ke Kampung Batik Kauman Solo, kami melewati jalan utama Solo yaitu Jalan Selamet Riyadi. Sebenarnya bisa lewat jalan tembusan, aku sempat melihat bahwa jalan yang kami lewati itu tembus, tapi sama Google diarahkan jalan yang jauh, jadi kami muter-muter. Jalannya pun sempit. MaasyaAllah ini namanya naluri manusia yang hilang akibat terlalu percaya Google Maps. Hehe. 

Penanda kami telah tiba di Kampung Batik Kauman adalah kami melewati gerbang besi biru bertuliskan Kampung Batik Kauman Solo. Masih bermodal google Maps juga, hehe. Suami menghentikan motornya kemudian bapak parkir di sekitar kami mempersilakan kami parkir masuk di dalam. Untuk mobil tidak bisa masuk ke dalam jalan ini ya. 

Aku memilih berjalan kaki karena aku ingin menikmati setiap detail bangunan di kampung ini. Karena masih di awal-awal, masih tampak biasa saja. Lampu hias dipasang di dinding bangunan di sepanjang jalan. Vegetasi menjalar tumbuh menjadi peneduh jalanan di siang hari. Beberapa plang butik batik tampak di beberapa bangunan.

Di bagian awal-awal ini masih belum tampak aktivitas pengunjung kampung batik. Beberapa kali aku bertanya pada orang di mana Kampung Batiknya. Mereka menunjukkan arah di tengah kampung yang padat. Memang beberapa bangunan rumah sudah menjadi butik atau cafe dengan desain yang tetap selaras dengan khas Jawa. 

Kami terus berjalan. Sudah tampak pengunjung lainnya. Hampir tiap bangunan sudah berubah menjadi butik batik dan cafe. Bangunannya MaasyaAllah keren dan unik! 

Kami melewati butik plus cafe sebagai tempat parkir motor. Pengunjung berlalu lalang masuk keluar dari butik tersebut. Cafe tidak tampak ramai. Lampu remang menguatkan karakter cafe jadul tapi tetap apik, bersih dan rapi.

Kami berjalan kaki melewati gang rumah penduduk. Jendela-jendela kayu terbuka ke arah jalan menampakkan sedikit isi bagian rumah. Ada yang penjahit. Di sisi kanan, tampak rumah seperti telah lama tidak dirawat. 

Beberapa pengunjung perempuan berjalan berlawanan arah memakai pakaian khas Jawa dan sibuk mengambil sudut foto yang bagus. Perempuan-perempuan muda itu memang tak ingin melewatkan momen terbaiknya di Kampung Batik Kauman Solo. 

Butik Batik Gunawan Setiawan

Kami pun tiba di pertigaan yang ramai. Di kiri saya, bangunan berwarna putih menarik perhatian saya karena lebih mewah dibanding bangunan lainnya. Agak terkejut karena ada mobil terparkir di sana. Rumah itu pun juga ada tempat parkir mobil sementara rumah lain hampir tidak ada. 

Butik Batik Tulis Solo
Galeri Batik Gunawan Setiawan (dok. Pri)

Terasnya lebih tinggi dibanding halaman parkir mobil. Ada tangga untuk memasuki rumah. Pagar di teras rumahnya pun seperti rumah-rumah saudagar zaman dulu. Lampu hias menggantung di teras rumah. Lampunya yang remang-remang membuat rumah itu semakin eksotis.

Bagaimana tidak keren ternyata rumah itu dimiliki oleh pengrajin batik tulis tradisional yang terkenal di Solo dan sudah berdiri sejak tahun 1970an yaitu Gunawan Setiawan. Kerajinan batik Gunawan Setiawan ini diwariskan turun temurun. 

Dulunya, kain batik ini dikerjakan oleh putri-putri raja. Berjalannya waktu, batik-batik dikerjakan oleh masyarakat sekitar di Kampung Kauman. 

Di butik Gunawan Setiawan  menyediakan batik-batik tulis yang  berkualitas. Di dalamnya, kain-kain batik terpajang di ruang galeri. Di bagian samping bangunan, tampak petugas butik memperhatikanku yang sedang mengambil foto. Beberapa orang memasuki rumah batik itu. 

Oiya di dalam butik ini tidak boleh mengambil foto kecuali di tempat membatiknya.

Belajar Membatik di Solo

Branding sebagai kampung batik tak hanya tempat untuk membeli batik saja tetapi juga memberikan pengalaman unik bagi pengunjungnya seperti di Butik Gunawan Setiawan ini pengunjung bisa mencoba pengalaman seru dengan belajar membatik. Rasanya kurang afdol kalau ke Solo tidak belajar membatik. Tapi sayang aku tidak mencobanya. Hehe

Harga belajar membatik di sini ada dua paket. Pertama, paket dengan harga 55ribu tanpa dapat kopi. Sedangkan paket kedua harganya 70ribu.

Tetap hati-hati ya karena kalau tidak biasa, tintanya bisa mbleber kemana-mana, hehe. Yang paling tidak enak kalau sampai kena panasnya lilin. 

Tempat konten yang unik

Tak hanya untuk memasarkan produk batik tulis tradisional, di kampung Batik ini juga pengunjung bisa menikmati sajian di cafe, berfoto dan ngonten. 

Kampung Batik Kauman Solo
Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Banyak sekali pengunjung yang memakai baju kebaya warna-warni dan bermake up untuk mengambil foto atau video di lingkungan ini. Di sisi lain, sekitar lima orang berkumpul menggunakan baju kebaya jawa hitam dan jarik. Wajah yang dirias itu semakin menambah kesan wanita jawa modern. Entahlah apakah di kampung ini juga menyediakan tempat sewa baju kebaya atau mereka memang membawa dari rumah. Sungguh benar-benar niat. Memang sih jadi keren banget. 

Mereka berfoto di dekat jendela-jendela tua Jawa, di dekat kaca jalanan, di gang-gang sempit, di bawah payung-payung, atau di depan rumah Jawa. Meramaikan sudut-sudut kampung dengan tawa dan canda. Semua sudut kampung Kauman yang estetik cocok untuk dijadikan latar foto. 

Saya berfoto sejenak di dekat pintu jendela yang ditempel di dinding bertuliskan Batik Gunawan Setiawan. Setelah itu, ya, kami nggak ngapa-ngapain lagi. Haha.

Kampung Batik Kauman Solo
Spot Foto di Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri)

Lanjut pulang, dan aku mengambil video footage anak motor ala ala gitu deh. Melewati dinding khas Jawa banget. Setelah itu, magrib tiba dan kami segera mencari makan malam, kuliner khas Solo yaitu Selat Solo.
 


Read More

Follower