Kali ini aku akan membahas kuliner Karanganyar. Setiap wisata ke Kemuning, setelah pergi ke paralayang Kemuning rasanya kurang lengkap kalau kita tidak mencari kuliner khas Karanganyar. Yang aku heran, kenapa hampir tiap daerah yang tinggi, memiliki kuliner khas yang sama. Seperti di Kota Batu, makanan khasnya ada sate Kelinci, di Boyolali daerah pegunungan juga begitu. Sekarang di Karanganyar khususnya di Kemuning, salah satu makanan yang biasa direkomendasikan itu sate kelinci. Meski aku juga tidak tahu bedanya apa yaa. Mungkin sambelnya kali? 

Tentu saja aku tidak mencobanya karena udah pernah mencoba sate kelinci di Boyolali dan Kota Batu. Sebenarnya banyak kuliner Karanganyar yang recommended, rata-rata sih menu-menu yang biasa aku temui di kota lain.

Saat kuliner di Kemuning, orang tuaku merekomendasikan kuliner rica-rica mentok Lek Man. Dan ternyata ramai banget, loh.



Lokasi Warung Lek Man

Lokasi warung Lek Man ini berada di Spranten, Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kalau habis wisata ke Kemuning, aku dan keluarga langsung pergi ke Warung Lek Man. Lokasinya berada di pojok jalan, di dekat kebun sayur yang luas dengan pemandangan Gunung Lawu. Sulitnya, warung ini tidak ada tempat parkir khusus mobil. Jadi mobil parkir di pinggir jalan. 


Setiap pergi ke Warung Lek Man saat makan siang selalu ramai. Kadang bingung mau parkir di mana. Soalnya kan di pinggir jalan. Syukurnya ada pak tukang parkir yang mau arahkan parkir di mana. Mobilku pun parkir di bawah tulisan besar Lek Man Rica Menthok.


Warung Lesehan Lek Man Rica Menthok

Kalau dilihat bangunan warung Lek Man ini cukup sederhana dan bukan bangunan rumah tertutup. Tentu saja, kita bisa melihat aktivitas pengunjung dari luar. Sebagian lelaki sibuk dengan gadgetnya, sisanya sibuk mengobrol sambil mengebulkan asap rokok dan menikmati hidangan yang sudah tersaji. Sebagian wanita sibuk dengan anak-anaknya, sebagiannya lagi sibuk makan dan gadgetny. Anak-anak pun sibuk merecoki orang tuanya. Haha. Anak-anak itu membuka mulut untuk menerima makanan, tapi matanya tak lepas dari layar gadget di depannya.



Hampir seluruh meja telah terisi penuh dengan pengunjung. Bersyukurlah, masih ada sisa satu meja. Beberapa kali datang ke sini, meski tampak ramai, tapi selalu ada tempat. Aku pun memesan makanan dengan mendatangi meja kasir yang dekat dengan dapur sederhana biar segera dieksekusi. Maklum sudah lapar. 


Beberapa orang melewatiku dengan nampan di satu tangannya. Piring-piring nasi bertumpuk di atasnya dan akan segera menemui pemesannya. Pria yang mengantarkan bergerak cepat seolah banyak hal yang harus dikerjakan. Pegawai wanita mengantarkan gelas-gelas berisi teh-teh khas Kemuning. Penjaja pasti tak sabar menyegarkan tenggorokan mereka dengan teh-teh itu.


Aku pun tak sabar ingin segera mencicipi makanannya. Selama menunggu itu, anakku yang kecil menunjukkan gelagat tak enak. Beberapa kali tangannya memegang bagian tiittt. Dan ia berucap ingin ke kamar mandi. Baiklah. Aku mencari kamar mandi yang ternyata ada di bawah bangunan. Kami melewati tangga menuju ke bawah. Toiletnya di dekat tangga. Di dalamnya cukup luas dan bersih. Tak ada bak mandi, hanya ember cukup besar berisi air yang dingin sedingin es. 


Dari situ, aku tahu bahwa di lantai bawah juga ada tempat makan tapi tidak seramai yang di lantai atas. Pemandangan ke hutan di belakang warung terlihat dari tempat aku berdiri. Suasananya lebih dingin. Menurutku lebih nyaman di lantai atas karena udaranya lebih hangat. 


Setelah kembali ke tempat duduk, tak sampai 10 menit, makanan yang aku pesan pun sudah tiba. Sebenernya tidak terlalu lama juga menurutku. Layanan juga cukuplah. Aku tidak merasa mendapat layanan buruk saat makan di sana.

Setelah itu, kami melahapnya.


Menu Warung Lek Man Ramah Anak

Ketika hendak kunjungan pertama kali ke Warung Lek Man, aku mengira menu yang ditawarkan hanya rica-rica mentok saja. Kalau cuma rica-rica saja, aku pasti nggak mau ke sana karena anak-anak makan apa.


Menu Rica-Rica di Lek Man Karanganyar (Foto : Gandhes)

Ternyata ada menu lainnya. Alhamdulillah. Menu Lek Man Rica Menthok yaitu :

Rica Basah

Rica basah ini rica-rica menthok yang ada kuatnya. Meskipun enak dan gurih tapi rasanya pedas. Bagi pencinta pedas memang cocok makan ini. Mulut dan lambung tentu tidak mungkin bisa menerima makanan pedas itu. Daripada maagku kambuh, aku makan menu lainnya. Cuma incip sedikit. Suamiku yang kuat makan rica basah.


Dagingnya juga empuk. Tidak alot. Bagi orang tua yang giginya mulai banyak yang cocok kayak ortuku, cocok sih makan ini. Menurutku dagingnya juga nggak amis. Bagi sebagian ulasan mengatakan agak amis dan harga lebih mahal dibanding warung lain yang katanya lebih enak, porsi banyak dan murah. Waduh, di mana tuh. Jadi penasaran. 

Rica Goreng

Rica goreng ini sama pedasnya seperti rica basah tapi digoreng. Tentunya tidak ada kuah. Kalau kalian lebih suka goreng memang mending pilih ini. Siap-siap pedes yaa.

Goreng biasa

Nah, bagi yang tidak suka pedas tapi tetap mau merasakan menthok bisa pesan goreng biasa. Menu ramah anak ini menjadi penyelamat perut anak-anak yang sudah lapar. Rasanya juga gurih dan disukai anak-anakku. Dagingnya juga empuk.

Ayam goreng

Kalau nggak suka mentok, anak-anak bisa makan ayam goreng juga. Tapi aku tidak memesan ayam goreng karena udah terlalu biasa masak di rumah. Eh, tapi kalau mau coba, nggak apa-apa loh. Mungkin rasanya beda sama masakan di rumah. Hehe. 

Trancam, Pete dan Sambal

Sebenarnya cukup mengherankan, rica-rica yang sudah pedas begitu masih ada sambal yang disuguhkan. Kira-kira siapa yang makan kalau bukan orang yang doyan sambal? Kalau aku suka banget beli pete dan trancamnya. Segar banget. Perasaanku, ketiga kali beli trancam  rasanya beda dibandingkan pertama kali beli disana. Seperti ada yang berubah tapi tetep seger sih.

Teh Khas Kemuning 

Ada satu minuman khas Warung Lek Man yaitu teh kemuning yang diambil dari kebun-kebun teh di Kemuning. Rasanya memang segar tapi menurutku sedikit lebih pahit dibanding teh biasanya. Jadinya aku pesan teh biasa. Semua soal selera sih yaa.

Teh Kampul

Selain teh Kemuning, juga ada teh Kampul yang merupakan minuman khas Karanganyar. Kampul ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambang. Jadi teh ini lebih kental dan diberi potongan jeruk nipis atau lemon. Kalau bahasa Inggris, lemon tea. Hahaha. Rasanya segar seperti lemot tea biasanya tapi ternyata terasa lebih kuat.

Harga

Untuk harga warung Lek Man Rica Menthok menurutku termasuk tidak mahal. Untuk makan bertujuh aja biasanya habis sekitar 150an ribu. Untuk harga mentok dan ayam sekitar 22ribu - 33 ribu. Aku tidak terlalu memperhatikan juga saat bayar. 


Kuliner Karanganyar Yang Lain?

Jadi menurutku, makan siang di sini cukup worth it dan cukup mengenyangkan. Rasanya enak, tidak amis, harga nggak mahal, dan bumbunya meresap. Nah, kira-kira kalian punya rekomendasi kuliner Karanganyar nggak yang ramah anak, enak dan murah.

Read More
Wisata budaya di Solo dengan Keliling Pura Mangkunegaran memang berkesan sih buat aku. Memasuki kehidupan kerajaan seperti punya pengalaman berbeda. Seolah, aku yang menjadi rakyat biasa, bisa sedekat itu dengan kehidupan kerajaan (yaa meski Cuma dari ‘luar’ saja). Dan setelah berwisata ke Pura Mangkunegaran, aku saranin kalian pergi ke masjid Pura Mangkunegaran yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran. Namanya Masjid Al-Wustha (dibaca Al-Wustho).

Masjid al-Wustha Pura Mangkunegaran, Solo (dok. Pri)

Kunjungan tak terencana ke masjid Pura Mangkunegaran itu sebenarnya bukan menjadi tujuan wisata budaya kami. Awalnya, kami hanya ingin mencari masjid untuk sholat ashar karena setelah seharian keliling Solo, rasanya terlalu capek kalau harus ke masjid yang jauh, seperti masjid agung Kraton Solo. Saat melihat Google Maps, kami diarahkan ke masjid Al-Wustho yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran.

Lokasinya tidak jauh dari Pura Mangkunegaran. Jika kalian keluar dari gerbang Pura Mangkunegaran bagian utama, kalian belok kanan kemudian belok kanan lagi. Di sepanjang jalan yang dibatasi dinding, kalian cukup menoleh ke kiri, jika kalian melihat pintu gerbang dengan tulisan kaligrafi, maka disitulah masjid Al-Wustho.

Pura Mangkunegaran yang dipagari dinding tinggi (dok. Pri)

Masjidnya tidak terlalu ramai. Bagiku, itu sudah cukup menyenangkan. Parkirnya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung sepuluhan mobil. Semenjak memasuki halaman masjid, aku terkesima dengan arsitektur masjid Al-Wustho yang masih asli. Aku sempat menebak-nebak, ini pasti bukan masjid biasa. Apakah ini masjid para bangsawan di zaman itu? Karena sudah jarang masjid di Solo yang memiliki desain bangunan ‘berkelas’ yang masih dipertahankan sampai sekarang. Pasti memiliki sejarah yang kuat.

Saking penasarannya, aku pun cari di Google.

Sejarah Masjid Al-Wustha

Ternyata benar! Masjid yang awalnya disebut dengan masjid Mangkunegaran ini memang dibangun untuk keluarga kerajaan di tahun 1878. Pantas saja, bangunan itu dibatasi oleh dinding tinggi, sebagai bentuk eksklusivitas dan perlindungan kehidupan kerajaan, seperti bangunan Pura Mangkunegaran dan Kraton Kasunanan.

Kalian tahu siapa yang arsiteknya? Dia adalah orang yang merancang kota Bandung, Malang dan Semarang. Siapa lagi kalau bukan Thomas Karsten. Atas dasar ide Mangkunegara I inilah Masjid Al-Wustha dibangun. Sebelumnya masjid yang patut dilestarikan ini berada di dekat Pasar Legi, kemudian saat Mangkunegara IV memimpin, masjid ini dipindah ke sisi barat Pura Mangkunegaran.

Pembangunan masjid sempat tertunda karena saat itu Mangkunegara fokus dalam pemulihan kondisi perekonomian Mangkunegaran. Masjid Al-Wustha dibangun kembali tahun 1918.

Arsitektur Masjid Al-Wustha

Hampir sama seperti masjid keraton lainnya, masjid Al-Wustho mengusung arsitektur khas Jawa, meskipun dirancang oleh Thomas Karsten. Atapnya berbentuk tajug, menyerupai piramida yang menjulang tinggi serupa doa tanpa putus menuju langit. Di sisi timur masjid berdiri sebuah menara yang kini digunakan untuk meletakkan pengeras suara.

Kakiku menapaki serambi masjid yang cukup luas. Aroma masa lalu terasa ketika kakiku menyentuh keramik klasik. Seperti lantai rumah masa kecilku. Hatiku terasa haru dan rindu.


Sebuah beduk besar dari kayu dan kulit lembu tampak berada di sudut serambi. Aku sudah melewatkan waktu mendengar ramai tabuhan bergema memanggil sholat. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah pelan, tentu saja menghargai para hamba yang sedang menghiba pada Allah. Kepanikanku muncul saat anakku berlari ke sana kemari. Aduh! Aku berusaha menenangkannya sebab takut suara-suara kakinya mengganggu naiknya doa-doa menuju langit.

Ketika anakku cukup tenang, aku pun menuju wudhu yang berada di sisi barat masjid.

Dalam perjalanan menuju tempat wudhu, mataku tertambat pada sebuah bangunan kecil melingkar yang berdiri terpisah dari bangunan utama. Sepintas tampak asing, bukan ruang tunggu, tidak tampak tempat duduk, bukan pula tempat berteduh. Bangunan apa ini?

Maligen, tempat khitan zaman dulu

Ternyata bangunan tersebut bernama maligen, yaitu tempat khitanan pada masa lampau. Ah, maligen itu telah membuat banyak tangis anak laki-laki pecah di sana dan doa para orang tua dan kiai yang mengiringi mereka. Kini, bangunan itu hanya menjadi penanda bahwa tradisi pernah berjalan di sana.

Area kamar mandi dan tempat wudhu tampak sudah direnovasi, terlihat lebih modern dibandingkan bagian masjid lainnya.

Setelah itu, aku memasuki ruang utama masjid dan segera mengambil mukenah. Usai mengenakannya, mataku menelusuri setiap detail arsitektur masjid dengan warna teduh di mata, cokelat, hijau, kuning dan putih.


Empat tiang penyangga utama berdiri kokoh dengan hiasan kaligrafi, sementara tiang lainnya berukuran lebih kecil tanpa ornamen tulisan kaligrafi. 


Lantai bergaya klasik semakin menegaskan kesan bangunan tempo dulu, tetapi tetap terawat dengan baik. Atap kayu dan lampu hias menggantung di beberapa sudut menambah kehangatan suasana.

Bentuk pintunya pun masih setia pada bentuk khas Jawa zaman dulu. Klasik. Sebagian terbuat dari kaca memungkinkan pandangan mengalir bebas antara dalam dan luar. Bagian atas pintu menyerupai kubah masjid dengan ukiran kaligrafi yang indah.


Meski tidak ada AC, masjid ini tidak terlalu panas. Angin berputar-putar dari kipas-kipas di sudut ruangan. Jendela kaca dan besar yang terbuka membiarkan udara masuk menyegarkan para jama’ah. Lengkungan atas jendela serupa motif kubah dengan bingkai kaligrafi sebagai pengingat akan Yang Maha. Dan ternyata tiap kaligrafi di atas jendela itu adalah ayat-ayat Al-Quran, hadits, rukun iman dan rukun islam. MaasyaAllah.

Kaligrafi pada kusen pintu dan jendela (Mulyadi, 2015)

Di salah satu pojok, tepat di area saf para akhwat, terdapat ruangan khusus yang tersembunyi di balik pintu hijau tanpa kaca. Cahaya lampu tampak berpendar melalui kaca patri polos. Rupanya, ruangan itu digunakan untuk menyimpan perangkat sound system. Di area ikhwan terdapat ruangan serupa, ada ruangan bersekat khusus, tapi aku tidak tahu apakah sama untuk meletakkan sound system.

Tempat sound system (dokpri)

Aku mengambil tempat sholat dan berdiri dengan niat yang perlahan menenangkan hati. Takbir pertama terucap dalam hati. Usai salam, aku tetap terduduk. Gerakan bibirku seirama dengan gerakan jemariku, sementara pandanganku berkelana menyusuri setiap sudut masjid.

Bangunan tua yang dirawat begitu baik bisa juga terlihat indah dan khas, meski saat ini banyak bangunan masjid yang megah dan modern. Bagiku, masjid ini punya karakternya sendiri.

Mungkin begitu juga iman, meski zaman terus berubah, lebih modern, tapi iman harus dirawat dan dijaga dengan baik, agar tetap memiliki tempat khusus, tak hanya di hati manusia tapi juga di mata Allah. Selesainya memanjatkan doa, aku segera membereskan mukenah dan keluar dari masjid.

Kaligrafi di Gapura


Dari tengah serambi, aku menatap gerbang depan tempat keluar masuk kendaraan. Tulisan kaligrafi berwarna hijau menghiasi gerbang itu. Tak hanya di gerbang tempat masuk dan keluarnya kendaraan saja, tetapi juga di bagian markiz, seperti pintu utama berupa teras depan yang menonjol.

Sebenarnya apa sih tujuannya kaligrafi ditulis di gapura dan markiz? Aku mencoba mengeja tulisan kaligrafi itu. Huruf-huruf itu melengkung indah dan saling bertaut. Semakin aku eja satu per satu, semakin kusadari....Aku nggak bisa bacaaaa, huaaa...

Membaca kaligrafi memang harus punya ilmu tentang apa yang ditulis. Dan itu memudahkan kita memahaminya. Rasa penasaran tumbuh. Mungkinkah itu penggalan ayat? Sebuah hadits? Atau hanya kata mutiara? Saking penasarannya, aku cari di internet.

Gapura Arah Masuk

Ternyata gapura itu diambil dari bahasa arab “ghafura” yang artinya pengampunan. Artinya bahwa siapa yang memasuki gapura masjid artinya dia telah diampuni oleh Allah (insyaAllah). Seolah, memasuki gapura seperti memasuki ‘dunia’ baru yang memiliki kewajiban baru

Kaligrafi yang terukir di gapura masjid itu diambil dari Al-Qur’an dan hadits, meski tak paham artinya, seolah kalimat itu sebagai ajakan untuk kembali kepada Allah.

Nah, aku mau teman-teman ikut membaca tulisan arab yang aku tulis berikut.

Kalau kalian masuk dari gapura masjid dari arah depan, kalian akan melihat kaligrafi bertuliskan:

Atas:

َاْلاِسْلامُ يَعْلَى وَلا يُعْلَى عَلَيْهِ


“Agama Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, nomor 2825.)

Kaligrafi di gapura pintu masuk (dokpri)

Makna dari hadits ini bukan sekadar pernyataan keunggulan, melainkan sebuah motivasi bagi umat Muslim untuk terus berbuat yang terbaik. Bersyukurlah aku terlahir sebagai muslim dan semoga Allah menjaga nikmat iman dan islam yang sudah diberikan. Aammiinn.

Bawah:


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ و أَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Sudah pada tahu kan kalau ini syarat menjadi seorang muslim: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Gapura arah keluar

Jika kalian keluar dari gerbang menuju jalan raya, akan menemukan kaligrafi bertuliskan:

Atas:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ اَلطُّهُوْرُ اَلطُّهُوْرُ نِصْفُ اْلِايْمَانِ

“Kunci shalat adalah bersuci. Bersuci adalah sebagian dari Iman.”

Kaligrafi di gapura arah keluar (dokpri)

Dua kalimat tersebut merupakan beberapa hadits yang digabung jadi satu rangkaian kaligrafi. Tentu saja sebagai pengingat kita bahwa untuk sholat kita harus bersuci.

Sedangkan di bagian bawahnya tertulis:

Bawah:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ عَل يْ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فَمَا بَقِيَ مِنْ ذَالِكَ الدَّنًسُ

“Perumpamaan shalat lima waktu ibarat sungai yang mengalir di pintu salah seorang kamu apabila ia mandi lima kali setiap hari maka tidak akan ada sisa kotoran.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

MaasyaAllah. Sebenarnya bagus sekali sih pengingatnya ini. Kotoran ini tentu saja tidak hanya di kulit saja, tetapi di lisan, hati dan perbuatan. Dengan melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar, diharapkan tubuh dan hatinya bersih.

Sayangnya, aku yakin, tidak semua orang paham dengan artinya. Mungkin bisa saja ya ada tambahan tulisan begitu seperti plang di bawah gapura, yang tidak menghalangi jalan orang. Setidaknya sebagai pengingat bagi siapa pun yang masih mager melaksanakan sholat lima waktu.

Markiz depan

Apakah teman-teman bisa membaca ini?

Markiz bagian depan (dokpri)

Atas:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat diwajibkan atas orang yang beriman pada waktu yang ditetapkan.” (An-Nisa: 103)

Bawah:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah itu lebih baik dari shalat sendiri 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650]

Ya udah yuk, kita sholat berjamaah daripada sholat sendiri.

Markiz samping kanan

Kalau ini apa kalian bisa baca?

Kaligrafi di Markiz samping (dokpri)

Susah kan yaaa?

Tulisannya begini...

Atas:

فَبَشِّرْ عِبَاديَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Maka beri kabar gembiralah hambaku yang mendengarkan perkataan mereka mengikutinya dan berbuat baik.” (Az-Zumar : 17-18)


Bawah:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ كُتِبَ مُنَافِقًا

“Barangsiapa yang meninggalkan jum`at tiga kali maka ia dicatat sebagai orang yang munafik.” (HR. Ath-Thabrani).

Markiz samping kiri

Masih kesulitan baca? Samaaa


Kayaknya yang hanya lulusan bahasa arab yang bisa baca ini. Hehehe.  

Atas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan para pemimpin di antara kamu.” (An-Nisa : 59)

Bawah:

حِفْظُ دِيْنٍ ثُمَّ نَفْسِ مَالٍ نَسَبٍ وَ مِثْلُهَا عَقْلٍ عَرْضٍ قَدْ وَجَبَ

“Menjaga agama, kemudian jiwa, harta dan demikian juga aqal, kehormatan adalah wajib.”

Teman-teman udah baca semua yang aku tulis, kan?

Alhamdulillahhhhh. Malaikat mencatat pahala dari setiap huruf yang diucapkan. aamiin.

Wisata Religi?

Mulanya, aku cuma cari masjid terdekat agar segera sholat ashar sebelum pulang ke Sragen, nyatanya, aku malah wisata religi (tanpa kunjungan makam) dadakan ke Masjid Pura Mangkunegaran. 

It's ok. Yang penting aku bisa menikmati di mana pun aku berada.

Referensi

Mulyadi. 2015. Penerapan Kaligrafi Pada Elemen Interior Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta. https://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/467/files/2015/08/Kaligrafi-masjid-Al-Wustho-2015.pdf




Read More
Berkeliling ke Karanganyar itu biasa untuk wisata keluarga. Sementara berkeliling Solo itu seperti mengingat kenangan- mungkin karena sebelum nikah aku sering ke Solo. Ada rasa yang kurang jika tidak mengunjungi Solo. Tapi kalau ditanya, tempat yang wajib dikunjungi di Solo itu apa? Aku akan jawab Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Dua tempat bersejarah itu yang menjadikan Solo terlihat khas dan menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah.

Aku sudah beberapa kali pergi ke Kraton Kasunanan Surakarta, sebelum aku menikah. Sekarang aku akan menceritakan pengalamanku pergi ke Pura Mangkunegaran. Sebenarnya aku sudah lama ingin ke sana, tapi aku belum tahu cara pergi ke Pura Mangkunegaran.


Setelah acara pernikahan Kaesang-Erina di Pura Mangkunegaran, aku jadi semakin ingin pergi ke Pura Mangkunegaran. Saat ke Solo, aku mencari cara mengunjungi Pura Mangkunegaran. Karena awalnya, aku kira Pura Mangkunegaran tidak dibuka untuk umum. Sampai akhirnya, saat aku mencari di Google, Pura Mangkunegaran bisa dikunjungi masyarakat umum. Yeay. Senangnya.

Ibuku yang saat itu sendirian di rumah (bapak lagi di Kalimantan), aku mengajak beliau jalan ke solo. Tapi aku bilang dulu, "Bu, aku mau ke Pura Mangkunegaran, tapi di sana jalan, nggak apa-apa?"

Eh, tapi aku khawatir, sih, jangan-jangan dikira tempat ibadah orang Hindu. Hehe.

Jadi aku bilang, "Pura Mangkunegaran ini bukan tempat ibadah orang Hindu ya. Ini tempat tinggal raja. (Bukan raja juga sih.)"

Ibu menjawab, "Oiya, nggak apa-apa."

Intinya, selama ini kalau pergi wisata kan ke tempat wisata pada umumnya, seperti ke air terjun Jumog, wisata Kalimas, paralayang Kemuning atau agrowisata Amanah, dan sejenisnya. Tapi sekarang aku ngajak ke tempat yang mungkin sebagian orang menganggap "kurang menarik" karena hanya melihat-lihat. Kalau aku memang suka ke museum, atau tempat sejarah lainnya. Banyak pengetahuan yang bisa aku peroleh.

Dinding Tinggi, Pembatas Pura

Ternyata lokasi Pura Mangkunegaran sering aku lewati tiap ke Solo, hanya saja aku tidak menyadari. Seperti Kraton Kasunanan yang dikelilingi tembok tinggi, bagian samping dan belakang Pura Mangkunegaran juga dikelilingi tembok tinggi, kecuali pamédan (halaman luas)–tempat para prajurit dulu latihan–yang hanya dikelilingi pagar besi. Di sebelah timur terdapat markas pasukan infanteri dan kavaleri Legiun Mangkunegaran yang terkenal karena didikan dari pasukan Napoleon Bonaparte.

Pura Mangkunegaran ini sebenarnya di bawah pemerintahan Kasunanan Solo yang berbentuk kadipaten (seperti kabupaten di bawah provinsi).

Dinding tinggi pembatas pura ini menunjukkan bahwa kedudukan kadipaten dalam pemerintahan cukup penting. Pura Mangkunegaran ini sebagai bentuk realisasi dari Perjanjian Salatiga yang sudah disepakati antara Raden Mas Said atau disebut Pangeran Sambernyawa kemudian menjadi Mangkunegara I (pendiri Mangkunegaran), Sunan Pakubuwana III, Sultan Hamengkubuwana I, dan VOC pada tahun 1757.

Antrian mengular

Setelah parkir mobil di halaman yang luas dan panas, antrian mengular di depan pintu masuk telah terlihat.

Ternyata pengunjung harus mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk (bisa cash dan QRIS). Meskipun mengular, kami tidak menunggu terlalu lama. Tiket masuk Pura Mangkunegaran sebesar Rp. 30.000,-.

Arsitektur Pura Mangkunegaran

Ketika keluar dari bangunan gerbang tempat penjualan tiket, kami menuju ruang terbuka di depan pendopo megah. Kolam melingkar di depan pendopo menarik perhatian anakku. Di dalamnya ada teratai yang berbunga pink. Di tengah ada patung anak kecil yang menaiki angsa berwarna emas.



Aku tahu pasti mereka ingin bermain air di sana. Kularang saat tangannya akan menyentuh airnya yang sudah berwarna hijau. haha.

Pura Mangkunegaran dibangun menyerupai istana, mengikuti arsitektur Jawa dan campuran Empire, dari Prancis yang saat itu sedang berkembang di abad 18. Ukiran emas yang detail di bagian atas pendopo menambah kesan mewah. Gaya arsitektur Prancis terlihat dari ornamen hias seperti relief malaikat, kaca patri, lampu gantung dan hiasan bergaya Eropa.
 

Ruangan Pura Mangkunegaran  

Pura Mangkunegaran memiliki banyak ruangan dan tidak semua ruangan boleh diakses dan difoto untuk menjaga privasi.

Pendopo Ageng

Ruangan pendopo saat itu sedang ramai. Yang tertangkap mataku adalah anak-anak kecil memakai selendang sedang mengikuti gerakan instruktur di depan mereka. Ketika instruktur menekuk lutut, mereka juga mengikutinya. Ketika instruktur berputar sambil mengepakkan sayap yang berbentuk selendang, mereka pun ikut berputar.

Di bagian lain pendopo, banyak seperangkat gamelan pusaka yang biasa digunakan oleh abdi dalam saat Pura Mangkunegaran sedang melaksanakan acara.

Tiang-tiang yang menyangga bangunan pendopo menjadi ciri khas arsitektur jawa. Di bagian atap, hiasan langit berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa. Lampu-lampu cantik nan megah tergantung di atapnya. 



Seseorang pegawai mendekati kami dan meminta kami untuk membawa alas kaki kami kemudian memasukkannya ke dalam tas khusus sepatu yang diberikan pegawai.

Bangunan ini terlihat jelas dari luar. Beberapa kelompok pengunjung berdiri mengelilingi seorang guide dari Pura Mangkunegaran untuk dipandu memasuki ruangan. Sayangnya, kami tidak diizinkan untuk memotret apa pun yang ada di dalam ruangan Dalem Ageng.

Memasuki ruangan pun harus menunggu rombongan lain keluar dari ruangan. Sebelum itu, aku sibuk berfoto dan melihat foto-foto para adipati yang berderet dipajang di depan ruangan.

Dalem Ageng

Ruangan ini merupakan bangunan induk Pura Mangkunegaran yang hanya dimasuki oleh keluarga Mangkunegara dan abdi dalem. Ruangan ini menjadi ruang tidur pengantin kerajaan yang sekarang sudah dijadikan museum. Itulah mengapa di ruangan ini kita tidak boleh mengambil foto. Di ruangan ini, ada koleksi peninggalan dari zaman dulu sampai sekarang, seperti senjata, perhiasan, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, dan benda seni lainnya.

Keluar dari Dalem Ageng, kami disambut oleh taman terbuka dengan kolam ikan di tengah Pura Mangkunegaran yang sejuk dan menyenangkan. Jauh dari keramaian kota. Suara burung terdengar jelas. Sangkat burung besar berada di pinggir taman. Patung di tengah kolam ikan memancarkan air menambah suasana tenang.

Beranda Dalem (Pracimayasa)

Ruang keluarga Mangkunegaran yang menghadap ke taman terbuka ini hanya boleh dilihat dari luar karena diberi pembatas. Di dalamnya, terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. 

Ruangan makan

Aku juga sempat masuk ke ruang makan dan dapur. Kaca-kaca menempel di bagian atap dan dinding sehingga aku bisa melihat anakku yang beraksi dari atas maupun samping. Hehe.
Sayang banget aku tidak melihat Pracimasana dan Pracimaloka yang lagi viral itu. Tahu kan restoran di dalam Pura Mangkunegaran yang sangat eksotik dan seperti sedang makan di keluarga kerajaan. Dahlah kapan-kapan ke sana lagi. Haha.

Perpustakaan

Oiya, aku baru tahu ternyata di lantai dua ada perpustakaannya, yang berada di atas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Sayangnya, aku tidak pergi ke sana. Di perpustakaan itu, banyak koleksi buku, foto dan dokumen bersejarah. Kebanyakan dalam bahasa Jawa. 

Butik

Berjalan keluar ruangan, di sepanjang koridor, aku melihat butik yang menjual berbagai macam kain batik. 

Markas Legiun

Ternyata lumayan olahraga kaki juga berkeliling Pura Mangkunegaran tapi menyenangkan. Selanjutnya saat keluar menuju parkir, aku mengunjungi markas Legiun sejenak. Di depannya, aku takjub dan membayangkan yang terjadi di masa silam.

Markas Legiun Mangkunegaran

Para prajurit Mangkunegaran, infanteri dan kavaleri, mengadopsi didikan militer Prancis hingga memiliki kemampuan setara dengan militer Eropa. Di masa itu, Perang Napoleon tengah meletus di Eropa. Belanda kalah dari Prancis, sehingga secara tak langsung semua jajahan Belanda, seperti Hindia Belanda, juga dikuasai Prancis. Napoleon memerintahkan Daendels untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, termasuk membentuk pasukan elit militer Mangkunegaran.

Penutup: Refleksi Kehidupan Kerajaan

Hal yang menyenangkan bisa berjalan-jalan di Pura Mangkunegaran adalah bisa menikmati ruang terbuka yang luas, menikmati suasana tenang dan asri di tengah Pura Mangkunegaran. 

Hanya terbayang saja di masa itu, kehidupan adipati dan keluarganya bisa menikmati bangunan begitu megahnya, hampir di semua kerajaan seperti itu, di mana pun bahkan di Eropa. 

Sedangkan yang pernah aku baca, kondisi rakyat di masa itu cukup susah. Memang sangat kontras.

Aku kembali ke masa kini, tak perlu jauh-jauh. Para pemimpin kita saat ini pun hidup dalam harta yang berlimpah. Namun, oke, mungkin itu adalah hak yang diterima mereka. Tapi mbok yaa... yang jadi pemimpin, yang ngga boleh dilupakan untuk semua para pemimpin, siapa pun yang akan jadi pemimpin, dari segala kenikmatan yang mereka peroleh, adalah bagaimana memimpin bangsa ini, mengayomi, memakmurkan masyarakatnya dan berbuat adil. Yang tentunya, menjadi amanah berat bagi para pemimpin. 

Read More

Beberapa kali ke Karanganyar, ke air terjun Ngargoyoso, ke air terjun Jumog, juga main ciblon di Kalimas, rasanya tempat wisata Karanganyar belum habis-habis aku kunjungi. Kali ini, aku ke wisata paling terkenal di Karanganyar, tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan kalau pergi ke Karanganyar, yaitu wisata paralayang Kemuning. Tak perlu bisa olahraga paralayang kok kalau pergi ke wisata dekat Solo itu, kita hanya menjadi penonton paraglider. 


Awalnya aku membayangkan pergi ke sana hanya untuk melihat aksi paraglider membelah langit Karanganyar saja. Hampir sama seperti paralayang di Malang. Perjalanan ke sana pun tidak kusambut terlalu antusias tetapi bagiku mengunjungi Kemuning seolah selalu memberiku ketenangan setelah keriweuhan mengurus anak-anak. 

Perjalanan Tak Membosankan

Pemandangan hijau yang terlihat di perbukitan pegunungan Lawu yang banyak ditumbuhi kebuh teh, awan yang tampak seperti kabut dan udara dingin menyambut kami sepanjang perjalanan, rumah-rumah penduduk dengan kebun-kebun sayur terlihat berada di atas dan bawah jalanan, suasana yang tenang ternyata mampu memberiku semangat dan ketenangan. 

Perjalanan dengan pemandangan indah seperti Swiss

MaasyaAllah. Itu kenapa Allah menciptakan desa dengan karakteristik lansekapnya yang indah dan berbeda dengan kota. Salah satu tujuannya adalah tempat 'healing' dari penatnya kegiatan harian. Makanya sayang banget kalau pemandangan indah di pedesaan berubah menjadi bangunan.


Sepanjang perjalanan selama 45 menit dengan mobil tidak terasa membosankan. Justru menyenangkan. Mungkin karena dilewati bersama orang-orang tersayang. Akses jalan mendekati Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar sempit dan cukup tinggi. Di satu bagian jalan, hanya muat dilewati untuk satu mobil. Bagi yang baru pertama kali melewatinya pasti akan terasa menakutkan. 


Sebelum masuk ke tempat parkir wisata di sisi kiri dan kanan jalan, beberapa bangunan cafe yang menyuguhkan pemandangan Karanganyar dari ketinggian terlihat cukup ramai.


Wisata Bukit Paralayang Segorogunung Kemuning 

Ternyata wisata paralayang Karanganyar lebih ramai dibandingkan dengan tempat paralayang Malang yang hanya ada tempat untuk paragliding. Sedangkan wisata paralayang Karanganyar dikelola dengan banyak pilihan.


Bangunan hijau bertingkat dua yang semi terbuka terlihat mencolok di antara bangunan lain di tempat wisata Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar. Dari balkon bangunan itu yang menjadi tempat makan, kami bisa melihat paraglider beraksi tanpa terhalang manusia-manusia lain.  


Hanya satu penyesalanku pas datang ke sana adalah aku lupa membawakan jaket untuk anak-anak. Alhasil mereka kedinginan. Anginnya juga lumayan kencang. Kasihan aja kalau mereka masuk angin.


Menikmati Makan Siang 

Saat kami tiba di wisata Paralayang ituq, sebenarnya banyak sekali tempat makan, dari cafe sampai warung makan biasa. ada yang harus naik tangga dulu. Sedangkan kami hanya di dekat tempat parkir mobil saja yang berada dekat dengan bangunan hijau. 


Kedatangan kami memang cukup kesiangan di saat jam makan siang. Tempat makan tidak terlalu ramai, jadi kami bisa memilih duduk di mana. Anak-anak mulai berisik dan lapar karena memang waktunya sudah makan siang. Kita hanya beli pop mie yang bisa dinikmati anak-anak. Ada juga gorengan dan minuman hangat. Untuk harganya masih normal seperti warung lainnya. Selesai makan, anak-anak mulai ceria kembali. Mungkin makanannya telah terbakar menjadi kalori dan membuat tubuh mereka tetap hangat.  


Menikmati Keindahan Karanganyar

Beruntung saat aku ke sana siang hari, cuaca sedang cerah. Langitnya biru. Awan berarak tapi tak banyak. Jadi kami bisa melihat pemandangan Karanganyar dari atas gunung. Setelah itu, kita berfoto-foto sejenak. Anakku yang bayi terlihat kedinginan. Sepertinya kami memang tidak kuat berlama-lama di sana. Karena meski cuaca sempat cerah, setelah jam 12 siang, langit mulai gelap dan diselimuti awan. 

Wisata paralayang Kemuning
Pemandangan kota di belakang kami (foto pribadi)

Wisata paralayang

Melihat paraglider meluncur dan terbang memang seru sekali. Meskipun kelihatannya cukup deg-degan saat mereka baru awal terbang. Berlari-lari di rumput dan ketika parasut sudah mulai melayang, mereka mengangkat kaki mereka dan terbang menembus awan. Beberapa paraglider pun juga harus mengulang karena parasut belum mengembang. Beberapa pengunjung juga mencoba olahraga menegangkan itu dengan cara menjadi tandem paraglider. 
Paralayang kemuning karanganyar
Paragliding di Bukit Paralayang Segorogunung (foto pribadi)

Olahraga paralayang ini memang cukup menegangkan, makanya harus dilakukan oleh profesional yang sudah pernah melakukan training selama beberapa bulan (biasanya 3 bulan) dan sudah mendapatkan sertifikat.

Dulu, ketika baru lulus kuliah, masih muda sekitar umur 21 tahun, rasanya tertantang banget ingin tandem tapi harganya lumayan. Harganya sekitar 350 ribu. Dan kok rasanya aneh kalau tandem sama cowok lain. Hahaha.

Kalau mau tandem di paralayang Kemuning ini harganya 450 ribu hingga 600 ribu. Fasilitasnya bisa tandem dengan paraglider berlisensi Master Tandemu dan mendapatkan transportasi dari take off sampai landing. Bedanya, yang 600ribu dapat dokumentasi saat terbang.

Untuk masalah asuransi, aku tidak terlalu paham. Apa sekarang sudah ada atau tidak. Suatu ketika pernah ada seorang wisatawan yang ingin tandem. Ketika bersiap terbang, ternyata wisatawan ini kesandung batu bata di pojok hingga mereka gagal terbang dan menyebabkan ia luka berat (geger otak ringan dan patah tulang). Pada akhirnya, beliau dilarikan ke rumah sakit di Solo dan harus membayar biaya pengobatan hingga 20 juta. Sementara dari pihak paralayang memberi 'ganti rugi', mungkin saja berupa uang tapi keluarga korban saat itu belum tahu jumlahnya berapa karena sedang fokus pada pengobatan korban. 

Ya Allah semoga kita selalu berada dalam lindunganNya.

Camping Ground

Nggak cuma tempat nongkrong, di depan tempat makan, aku melihat beberapa tenda camping berjejer. Ternyata wisata Paralayang Kemuning ini juga memberikan fasilitas camping ground. Beberapa anak muda beraktivitas di sekitarnya. Ada yang duduk-duduk saja. Ada yang sedang mempersiapkan makanan


Kelihatannya memang seru sekali bisa camping 'ringan' di dekat paralayang sambil menikmati paraglider berolahraga. Nggak perlu berat-berat jauh ke atas puncak gunung yang ngga ada toilet dan harus masak sendiri. Di sini, kita bisa camping seperti di gunung tapi dengan fasilitas yang sudah disediakan (toilet dan warung makan).


Saat malam hari, saat cuaca cerah, pasti bisa lihat keindahan kota yang dihiasi lampu-lampu yang terang. Ternyata dari sini, pengunjung bisa melihat keindahan ciptaan Allah saat matahari terbit dan matahari terbenam. Romantis banget, euy! Bisa banget jadi alternatif tempat healing di Karanganyar.

Camping ground surakarta
Camping ground Karanganyar saat malam hari (IG @cahsoerakarta)

Biaya sewa camping ground area Surakarta juga murah saja sekitar 10ribu per orang. Sedangkan untuk tenda tentu bisa bawa atau sewa sendiri.

Tertarik?

Kalau aku pergi wisata paralayang Kemuning lagi, kira-kira aku bakal ikut tandem paragliding atau camping ya? Menurut kalian yang mana enaknya kalau bawa anak 4 tahun, 8 tahun dan 10 tahun?

Read More

Follower