Setelah dari Museum Kota Bandung, esoknya saat acara terakhir sudah selesai, aku mengajak suami berjalan-jalan di Bandung dengan jalan kaki. Sekali lagi.... JALAN KAKI. Aku lagi pengen aja menikmati kota Bandung dengan jalan kaki dari Hotel Best Western ke Gedung Sate terus ke Museum Pos Indonesia. Kalau dilihat dari peta sebenarnya cuma 1.7 km sih tapi kenyataannya capek jugaaa. Apalagi bawa anak kecil yang maunya digendong mulu. Wkwkw. Pulangnya kita nggak mau nyari capek lagi. Cukuplah naik gocar aja. :D
Dengan perjuangan yang melelahkan, ya Allah yang kubayangkan saat itu, belum umroh ini ternyata 1.7 km itu bikin capek. Sempet underestimated bisa nggak saat umroh aku jalan kaki sejauh itu? Ah, mungkin karena belum terbiasa, batinku.
Kami pun tiba di depan Gedung Sate. Saat aku ingin berfoto-foto sejenak, tiba-tiba bus mini berhenti di depan kami menutupi pemandangan gedung sate uang unik. Seorang pemandu yang ada di dalam Bandung Tour on Bus menjelaskan tentang sejarah Gedung Sate.
Tak lama, Bandros itu pun pergi. Aku pun mulai mengambil berfoto-foto di depan gedung sate. Setelah puas, kami berjalan mendekat ke arah gedung sate. Kami pun berjalan lewat samping. Museum Pos Indonesia tidak jauh dari Gedung Sate..leganyaa...
![]() |
| Di depan Museum Pos Indonesia Bandung (Foto Pribadi) |
Sejarah Museum Pos Indonesia
Kami sudah berada di Jalan Cilaki No. 73 Bandung di mana Museum Pos Indonesia berada. Kami memasuki gerbang museum. Mobil-mobil terparkir di halamannya yang luas. Sedangkan untuk museum berada di samping foto ini. Jadi kita jalan sedikit ke arah samping bangunan.
Bangunan Museum Pos Indonesia ini keren banget. Sejarah Museum Pos Indonesia ini cukup panjang dan melewati banyak masa. Pendirian museum ini tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda.
Tepatnya tahun 1920, Museum Pos Bandung ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda yaitu Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst untuk menyimpan barang-barang pos, seperti perangko, baju dinas petugas Pos, surat-surat emas, alat transportasi yang digunakan untuk mengirim surat, dan lain-lain.
Bangunan Museum Pos Indonesia ini sangat khas. Setiap bagian jendela atau pintu berbentuk melengkung seperti masa Renaissance. Ada yang menyebut juga bangunan ini bergaya eklektik yang memadukan gaya Moor dan Oriental (Thailan dan Indonesia).
Museum Pos Indonesia menjadi salah satu museum tertua di Bandung karena di tahun 1932, museum ini dibuka dengan nama Museum Pos dan berganti Museum Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Sempat vakum setelah perang dunia kedua, Museum PTT berubah menjadi Museum Pos dan Giro ditahun 1983. Di tahun 1995, museum tersebut berubah menjadi Museum Pos Indonesia.
Tiket dan Jam Buka Museum Pos Indonesia
![]() |
| Pintu masuk Museum Pos Indonesia (Dok. pribadi) |
Saat kami bertanya berapa tiket masuk Museum Pos, ternyata tiket museum Pos keren ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami hanya perlu laporan saja.
Wah, ternyata emang banyak banget museum gratis di Bandung. Sebenarnya ini adalah cara biar banyak yang datang berkunjung ke Museum Pos Indonesia.
Menurutku Museum Pos Bandung ini lebih ramai daripada Museum Kota Bandung. Mungkin yang dipamerkan di museum Pos ini lebih banyak dan tidak hanya poster-poster saja. Selain itu, memang museum ini bergabung dengan kantor pos pusat Bandung jadi banyak pegawai yang seliweran dekat pintu masuk.
Jam buka Museum Pos ini dari Senin sampai Jumat pukul 09.00 - 15.00 WIB, Sabtu pukul 09.00 - 13.00 WIB.
Kepala Kantor Pos Indonesia dari Masa ke Masa
![]() |
| Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung |
Memasuki Museum Pos Indonesia bikin aku takjub karena aku jadi tahu banyak hal tentang psistem perposan Indonesia. Pertama, aku melihat Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung dari masa ke masa. Pada awalnya, Pos Indonesiai yang bernama Post Telegraf dan Telepon dipimpin oleh orang Belanda sejak tahun 1897 hingga tahun 1937. Selanjutnya kantor pos berganti nama dan berganti kepemimpinan yang dikepalai oleh orang Indonesia.
Pos Teriak
Di zaman dahulu ketika belum ada pengiriman surat atau barang melalui pos, sebelum orang zaman dulu menulis di batu, pelepah daun, dan lain sebagainya, penyampaian pesan jarak jauh dilakukan secara lisan dan visual. Yang lucu ternyata di zaman kerajaan, pengiriman pesan tulisan dilakukan dengan berteriak dari satu orang ke orang lain sehingga pesan bisa sampai kepada penerima.
Penyampaian berita zaman dulu dilakukan dengan memukul kentongan, genta, meniup sangkakala (duh kok kayak mau kiamat ya, hehe!), menyalakan api atau cahaya,
Pengiriman Pesan pada Zaman Kerajaan
Di zaman ini, pengiriman pos dilakukan dengan menuliskan pesan di atas batu, kayu, kertas, kulit kayu bambu. Tapi yang lumrah ditulis di atas daun lontar. Jenis tulisan yang ditulis adalah bahasa Sansekerta sehingga tidak semua orang bisa melakukan surat menyurat tertulis ini. Semenjak itu, muncullah profesi pengantar surat bernama pesuratan, pelayangan gadek, dan caraka.
Lucunya, dalam surat-surat pada masa kerajaan itu, bahasa banyak digunakan oleh raja-raja di Indonesia saat korespondesi kepada raja di luar negeri (Inggris) adalah bahasa dan aksara arab. Tergantung raja mana sih. Kalau di Bali, berarti pakai bahasa dan aksara Bali. Kalau di Bugis, raja memakai bahasa dan aksara Bugis dengan cap dalam bahasa arab.
MaasyaAllah, ternyata di masa itu, korespondensi pun masih memakai bahasa dan aksara lokal. coba deh sekarang, pasti disuruh pakai bahasa Inggris. Itu tandanya, di masa itu, pengaruh raja-raja Indonesia begitu kuatnya sehingga raja-raja di luar negeri pun menerima surat dengan menggunakan bahasa lokal.
Namanya surat ini adalah surat emas, naskah Melayu bersungging yang paling indah. Di masa itu, korespondensi menggunakan bahasa yang indah. Struktur suratnya pun sangat rapi. Pembuka surat menggunakan puji-pujian, memiliki keindahan kaligrafi, dan kehalusan seni sungging. Tak hanya itu pemberian hadiah juga tergantung derajat sang pengirim dan penerima surat.
Mesin Pencetak Perangko
Di zaman itu, aku kurang paham mungkin setelah kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos sudah memiliki mesin cetak perangko dengan uang koin.
![]() |
| Mesin Cetak Perangko (dok. pribadi) |
Benda bersejarah museum pos ini menarik perhatianku karena dulu aku suka mengumpulkan perangko dari surat yang aku terima dari berbagai wilayah. Prangko-prangko di museum ini diletakkan pada lemari kayu besar. Ternyata dulu aku pernah menjadi filateli dan sekarang perangkonya sudah hilang seiring aku pindah-pindah kota.
Benda Pos Bersejarah
Tak cuma itu, aku juga melihat banyak peralatan pos yang digunakan untuk mengirimkan pos ke tempat tujuan, baju-baju dinas pegawai tukang pos sampai kendaraan sepeda pak tukang pos.
![]() |
| Pakaian dinas Pegawai Pos (dok. pribadi) |
Aku juga melihat kotak pos yang berbeda-beda, mulai dari berwarna abu-abu, oranye, merah sampai cokelat. Bentuknya pun bermacam-macam.
![]() |
| Kotak pos Brievenbus |
Kesimpulan
Cerita di Museum Pos Indonesia ini seru-seru sih sebenarnya. Banyak banget ide di kepala buat dijadikan cerpen tapi sampai sekarang pun belum kesampaian. Setelah mengunjungi Museum Pos Indonesia, aku jadi bisa membayangkan bagaimana raja-raja di zaman itu memiliki hubungan diplomatik yang kuat antara nusantara dengan raja-raja Inggris. Kekuatan raja-raja nusantara tak bisa diremehkan.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun segera bergegas keluar ruangan. Kami segera mencari musholla untuk menunggu sholat ashar. Setelah selesai sholat, sembari menunggu suami keluar dari musholla, aku melihat petugas sedang membersihkan dinding-dinding bangunan yang tinggi itu dengan kemoceng yang sudah dipasangkan kayu panjang. Padahal nggak kelihatan kotor loh. Hehe.
.jpg)













































