Literasi Baca Tulis (eliterasi.blogspot.com)

Literasi baca-tulis adalah Literasi dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kemampuan individu untuk bisa membaca dan menulis adalah penting di era digital ini. Tidak hanya mampu membaca dan menulis juga, tetapi juga memahami apa maksud dari sebuah bacaan dan tulisan.

Literasi baca-tulis inilah sebagai bentuk terwujudnya awal kesuksesan suatu bangsa. Bayangkan jika warganya tidak memiliki kemampuan dalam Literasi baca-tulis sepertI pada jaman penjajahan. Kita dijajah terus menerus. Eh, tapi meski sekarang juga masih 'dijajah' ya. Ups. Maksud saya, kita benar-benar tidak dibodohi seperti kita biasa mem bodoh anak kecil yang belum tahu baca dan tulis. #duehpengalaman

Kapan mengajarkan Literasi Baca-tulis?

Kira -kira kapan tepatnya diajarkan baca-Tulis untuk anak? Saya sendiri tidak punya patokan kapan anak saya diajarkan baca tulis. Yang penting lihat kesiapan mental anaknya.

Paling-paling saya mengajarkan huruf masing  A-C dan angka 0-5 pada anak saya yang berumur 4 tahun. Sedangkan huruf dan angka arab masih perlahan. Itupun dia sukanya main-main.
Ya udahlah.  beberapa anak seumuran anak saya memang sudah bisa baca tulis, namun, saya buat santai saja. Saya khawatir terlalu memaksakan akan membuat dia trauma dan justru tidak mau belajar.

Membacakan Buku sambil Belajar Abjad

Saat usianya masih dua tahun, saya hanya membacakan cerita saja. Namun, sekarang ketika akan berusia empat tahun, saya sudah mulai menunjukkan beberapa huruf padanya. Saya tidak punya target khusus agar anak bisa hapal 26 abjad di usia PAUD. Saya hanya mempermudah diri saya sendiri untuk mengajarkannya membaca dan menulis abjad saat sekolah. Kalau misal sekarang saat sekolah dasar harus bisa menulis dan membaca abjad maka saya harus sedikit bekerja keras mengajarkan anak saya membaca abjad dan menulis.

Belajar sambil bermain

Saya mencoba menerapkan prinsip belajar sambil bermain. jadi saat sedang bermain, saya mencoba menanyakan huruf dan angka yang tertera pada mainnya. Dengan begitu,  dia akan lebih suka belajar.

Saya jadi teringat masa kecil saya saat diajarkan baca tulis oleh orang tua saya. mungkin beberapa dari teman pernah merasakan hal serupa. Diajarkan oleh ayahnya dengan KERAS?  Duduk di depan ayah dan mulai mengikuti arahan dari ayah untuk membaca setiap huruf dan angka. Jika tidak bisa, maka bentakan akan muncul. Atau pukulan kecil- yang seringkali terlihat besar saat kita masih kecil- sering dilayangkan.  Well, itu sebenarnya membuat saya sedikit takut sama bapak sendiri. wkwkwk.
Kadang setelah saya mengenalkan padanya beberapa huruf dan angka, dia selalu menunjuk angka dan huruf yang dia temui di jalan. Meski dia belum bisa membedakan mana angka dan mana huruf, setidaknya dia sudah tahu bahwa di sekelilingnya dia banyak sekali abjad dan angka yang bisa dibaca.

Nah, saAt saya melihat apa yang dia tunjuk, maka saya menanyakan huruf apa atau angka berapa? Kadang dia bisa benar menjawab, kadang dia juga salah. Karena saya baru mengenalkan dia angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan huruf A, B, C.

Belajar memegang pulpen

Sebenarnya latihan memegang pulpen ini sudah saya ajarkan sejak usianya hampir dua tahun. Awal - awal memang sangat kaku. Namun, lama-lama dia akan terbiasa meski sekarang kadang masih salah.

Setelah dia mulai terbiasa memegang pulpen, maka sesekali saya ajarkan dia membuat garis lurus, melengkung, zigzag. Tujuannya biar mempermudah anak saya untuk menulis angka dan huruf. Setelah itu, baru saya ajarkan dia menulis angka 1, 2 dan 3. Sedangkan menulis huruf belum saya ajarkan. Saya tidak ingin menjadi semuanya takut dia kebingungan. wkwkwk. Mungkin juga teori saya salah.

#WritingChallenge #FLPJatim

Read More
"Kamu ikut tidak ke ruang bawah tanah?" ajak seorang teman saat kami berkunjung ke sebuah warisan cagar budaya di tengah Kota Semarang.

Bangunannya yang besar dan dikenal sebagai tempat pembantaian pada jaman kependudukan Jepang itu cukup membuat saya agak merinding saat teman menawarkan masuk ke terowongan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat pembantaian pribumi dan orang Belanda.


Lawang Sewu (Sumber : IDN Times)

Entah mengapa kesan yang terlihat dari bangunan tua itu adalah menyeramkan padahal kemegahannya cukup membuat siapa pun berdecak kagum saat melihat bangunan itu. Mungkin karena sudah terlanjur banyak cerita 'menarik' saat pengunjung datang ke bangunan dengan pintu yang konon katanya mencapai seribu itu - hingga disebut sebagai Lawang Sewu atau pintu seribu-. Mungkin juga karena pengalaman orang yang melihat penampakan dipertontonkan pada salah satu acara stasiun televisi.

Lawang Sewu (heritage.kai.id)

Dari atas, saya melihat terowongan yang gelap melalui pintu masuk yang turun ke bawah. Sambil menelan ludah, saya membayangkan apa yang di dalam. Antara percaya dan tidak percaya akan cerita-cerita tersebut, saya pun menerima tawaran teman saya. 

Setelah membayar tiket masuk ke ruang bawah tanah - Saya lupa harganya berapa. Sepertinya antara 10.000 hingga 25.000 -, kami pun memakai sepatu boot dan membawa senter. 

Seorang pemandu berjalan di depan kami dan mempersilakan kami masuk ke dalam terowongan. Gemericik air sudah terdengar saat saya menuruni tangga. Mata saya mulai beradaptasi dengan terowongan gelap yang hanya disinari senter. Bau pengap cukup menyesakkan dada.

Pemandu sudah memperingatkan kami dengan jalan yang licin sehingga kami perlu berhati-hati. Pemandu bercerita tentang sejarah terowongan bawah tanah dulu. 

Yang masih saya ingat apa yang diceritakan oleh pemandu itu adalah bahwa pada jaman pendudukan Belanda, terowongan tersebut untuk tempat saluran air. Apalagi Semarang kan rawan banjir rob sejak jaman dulu jadi memang diperuntukkan untuk itu. Dan Lawang Sewu memang digunakan untuk kantor perkeretaapian. 

Kemudian saat Jepang datang, terowongan bawah tanah ini digunakan sebagai tempat penjara untuk para pribumi dan orang Belanda. Mereka dibiarkan berdiri di penjara berdiri berdesak-desakan sampai tidak bisa bergerak dan ditutup teralis. Bahkan dengan kondisi banyak air. Pemandu menunjukkan sebuah penjara berdiri yang ukurannya hanya sekitar 1 X 2 meter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya para terhukum di ruangan menyesakkan itu. 

Terowongan itu sepanjang hampir satu kilometer membuat saya hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Entah kenapa saya merasa ingin menangis. Rasa sesak yang saya rasakan membuat saya ingin kembali ke pintu masuk. Namun, itu tidak mungkin. Jadi saya terus bertanya kepada pemandu kapan sampai. Saya tak sabar ingin segera mengakhiri perjalanan terowongan yang hanya berisi pipa, air, tembok, dan penjara.

Akhirnya, tiba juga saya dan teman saya di ujung terowongan itu. Saya dan teman-teman lega sekali karena sudah sampai. Setelah mengucapkan terima kasih dan melepas boot, kami pun berkeliling dan berfoto-foto di Lawang sewu.

Saya sangat terkesan dengan bangunan peninggalan Belanda yang didesain dengan sangat komprehensif. Mulai dari ketinggian bangunan (jarak antara lantai dan atap) sehingga membuat sirkulasi udara yang membuat tidak terlalu panas meski berada di daerah tropis. Jendela dan pintu dibuat tinggi. 



Di jaman itu,  bahan-bahan untuk membangun Lawang Sewu pada bangunan pertama menggunakan bahan yang diimpor dari Belanda. Kemudian bangunan selanjutnya menggunakan bahan lokal karena kesulitan mengimpor bahan dari Belanda. 

Bangunan ini katanya juga tidak menggunakan semen, tapi adonan bligor (campuran pasir, kapur, dan batu bata merah). Katanya bligor ini membuat bangunan tidak mengalami retak, lebih awet dan mudah menyerap air sehingga ruangan terasa sejuk. Konstruksi pada atap juga tanpa besi sehingga beban tidak terlalu berat.

Belum lagi di ruang utama ada kaca patri setinggi dua meter dengan simbol kota dagang Belanda, gambar Ratu Belanda, Dewi Fortuna, Dewi Sri, Tanaman dan hewan yang merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pembangunan Lawang Sewu pada jaman itu.


Fungsi bangunan Lawang Sewu berubah dari waktu ke waktu. Pertama, digunakan untuk kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau kantor administrasi perkeretaapian. Kedua, saat pendudukan Jepang, Lawang sewu digunakan untuk kantor militer Jepang. Ketiga, setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Keempat, gedung Ini dijadikan Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro). Kelima, gedung ini digunakan untuk Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. 

Setelah itu, gedungnya tidak digunakan sampai sekarang. Waktu saya kuliah di Semarang, saya mendengar isu kalau gedung ini mau digunakan untuk hotel. Namun, rupanya rencana itu tidak berhasil.

Sampai saat ini, setidaknya ketika saya melanjutkan kuliah S2 di Undip tahun 2011, Lawang Sewu masih dimanfaatkan untuk pariwisata saja. Belum dimanfaatkan untuk bisnis. 

Tidak hanya pada bangunan Lawang Sewu saja, bangunan bersejarah lain di Semarang atau pun di kota-kota lainnya juga mengalami permasalahan yang serupa. Belum banyak bangunan cagar budaya itu dimanfaatkan dengan baik.

Banyak faktor penghambat dalam pengelolaan bangunan cagar budaya baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri seperti:

- biaya yang besar dalam merawat dan melestarikan bangunan. Memang sebagian besar dilema akan kehadiran bangunan cagar budaya Indonesia. Bahan-bahan berkualitas yang digunakan sejak membangun bangunan itu membuat perawatannya juga membutuhkan biaya yang cukup besar pula. 

- kurangnya kesadaran dari berbagai pihak untuk melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya.

- masih banyak yang menganggap bahwa bangunan cagar budaya itu kurang menguntungkan dari segi bisnis.

- pajak yang besar jika ingin mengelola bangunan cagar budaya. 
Padahal bangunan bersejarah itu bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan instagramable. Coba perhatikan foto-foto bangunan tua yang ada di luar negeri, bangunan-bangunanya itu menjadi ikon kota mereka. Sama seperti Lawang Sewu yang menjadi ikon kota semarang. 

Tidak hanya untuk berfoto, bangunan tua Lawang Sewu sebagai bukti bahwa dulu pernah terdapat perjuangan yang besar untuk merebut kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Harusnya kita cukup berbangga hati karena memiliki bangunan kokoh peninggalan jaman Belanda diantara bangunan - bangunan tua yang sudah hancur termakan usia.

Bagaimana kalau sampai Lawang Sewu ini tidak terawat dan hancur musnah serta tidak dibangun lagi. Pasti banyak yang bersedih hati karena merasa kehilangan Ikon utama kota Semarang yang fenomena itu. Makanya Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah.

Alasan Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya adalah:

1. Usianya sudah 1 abad lebih. Sedangkan menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kriteria bangunan cagar budaya adalah usianya lebih dari 50 tahun.

2. Menyimpan nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa bangunan tersebut sebagai saksi sejarah dalam perebutan kekuasaan dan saksi pembantaian para pejuang bangsa Indonesia.

Jika bangunan cagar budaya tersebut musnah atau kehilangan sebagian besar unsur atau kehilangan bentuk dan wujud aslinya, maka bangunan itu tidak lagi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. 

Makanya sebagai masyarakat yang ikut menikmati kehadiran bangunan bersejarah itu harusnya ikut serta menjadi bagian dalam pelestarian bangunan bersejarah Lawang Sewu. 

Masyarakat yang dimaksud tidak hanya sebagai pengunjung bangunan bersejarah tapi juga pemilik bangunan bersejarah dimanapun berada.

Saya memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat untuk upaya pelestarian cagar budaya. Tidak hanya Lawang Sewu saja tetapi juga untuk cagar budaya secara umum. 

Upaya - Upaya pelestarian bangunan bersejarah atau cagar budaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah :

1. Menjadi bagian dari komunitas masyarakat peduli sejarah. Sudah banyak komunitas yang cinta sejarah yang sangat peduli dengan segala hal yang terkait dengan sejarah maupun bangunan bersejarah. Adanya komunitas ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap bangunan bersejarah sekaligus sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat umum baik pemilik maupun pengunjung. 

2. Melakukan kampanye peduli bangunan bersejarah. Kampanye ini bisa dilakukan oleh komunitas peduli bangunan bersejarah maupun dari masyarakat umum. Di era teknologi ini media sosial adalah media yang tepat untuk kampanye peduli bangunan bersejarah. 

3. Memberi fungsi yang baru atau memanfaatkan bangunan bersejarah dengan aktivitas sosial budaya dan pariwisata. Agar tidak terlihat mati tanpa aktivitas, maka masyarakat bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya Lawang Sewu maupun bangunan bersejarah lainnya untuk melaksanakan kegiatan festival budaya, literasi atau pameran. Asalkan saat penambahan fasilitas tidak menyalahi aturan konservasi dan tidak merusak unsur bangunannya. Dengan adanya revitalisasi bangunan bersejarah maka diharapkan bangunan akan terus hidup. Tentunya dengan diselenggarakannya festival di bangunan bersejarah bisa membantu perekonomian masyarakat maupun untuk membantu pemasukan pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut.

4. Memanfaatkan untuk pengembangan aspek ekonomi atau sebagai lahan bisnis. Di beberapa tempat, bangunan bersejarah sudah dimanfaatkan untuk lahan bisnis, seperti hotel, Cafe maupun restoran. Masyarakat umum yang memang seorang pebisnis bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya ini untuk usaha mereka. Apalagi jika ditambah spot - spot untuk berfoto dimana hal tersebut bisa menjadi daya tarik pengunjung.

5. Mengikuti festival budaya atau pameran yang ada di bangunan cagar budaya. Dengan mengikuti festival atau acara yang dilakukan di area bangunan bersejarah maka secara tidak langsung kita menghidupkan suasana bangunan bersejarah tersebut agar tidak terlihat mati. Selain itu, pemasukan dari festival itu bisa menyokong untuk upaya pelestarian cagar budaya.

6. Menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini adalah upaya yang tidak sulit untuk dilakukan. Jangan membuang sampah atau mengotori bangunan bersejarah yang dikunjungi. Tanpa mengotorinya maka kita sudah berkontribusi dalam merawat bangunan bersejarah tersebut agar bertahan lebih lama.

7. Tidak merusak bagian dari bangunan cagar budaya. Kita tahu sendiri merestorasi bangunan bersejarah itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jika masyarakat tidak peduli dan suka merusak bagian bangunan cagar budaya, itu sama saja membiarkan bangunan cagar budaya musnah sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi ikon kebanggaan kota.

8. Tidak mencuri barang-barang peninggalan cagar budaya. Mungkin kita tidak mungkin melakukan itu, tapi ada saja loh yang berniat mencuri barang-barang bersejarah itu untuk dijual demi mendapatkan uang lebih. Bahkan di Lawang Sewu ada bagian dari bangunan yang dicuri. Apakah kalian bangga memiliki salah satu unsur bangunan bersejarah yang ternyata dilarang oleh pemerintah? Pencuri itu harusnya mendapat hukuman sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2011.

9. Tidak melakukan vandalisme. Meski saya yakin, pembaca blog saya adalah pengunjung bangunan cagar budaya yang taat peraturan.  Namun, saya sangat mengutuk siapa pun yang melakukan aksi vandalisme. Tahukah bahwa vandalisme Itu mengakibatkan kerusakan unsur-unsur bangunan cagar budaya. Bagaimana jika rumah kalian rusak karena perbuatan vandalisme yang orang lain lakukan? Pasti marah, kan? Sama lah seperti bangunan cagar budaya.

10. Mematuhi peraturan saat berkunjung ke tempat cagar budaya. Setiap bangunan cagar budaya akan berbeda-beda peraturannya. Maka usahakan membaca peraturan sebelum atau saat mengunjungi bangunan cagar budaya. Biasanya akan ada larangan memegang benda-benda bersejarah yang dipamerkan karena sentuhan tangan pengunjung bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan benda bersejarah tersebut.

Jadi, jangan pernah menyepelekan segala aturan yang ditetapkan dalam bangunan cagar budaya karena semua sudah ada alasannya. Pastinya merawat bangunan tua itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang besar. Kita sebagai masyarakat harus menjaga, melindungi, merawat dan melestarikan bangunan bersejarah di tempat kita masing-masing. Caranya gampang sekali, kan? 

Terus manfaatnya apa melestarikan bangunan bersejarah? 

Pertama, bisa menambah lapangan pekerjaan. Bangunan bersejarah yang dimanfaatkan untuk pariwisata tentu akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Tentu saja itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Para pemandu, penjual kerajinan tangan, souvenir, penjual makanan, tukang parkir, dan lain-lain. Kalian mau kan membantu masyarakat lain agar keadaan ekonomi meningkat?

Kedua,  mengurangi beban anggaran pemerintah. Jelas, jika masyarakat banyak yang berkunjung ke tempat wisata bangunan bersejarah akan mengurangi beban anggaran pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut karena adanya tiket masuk. Asalkan tidak merusak ya.

Ketiga, menciptakan sarana - sarana baru. Lawang Sewu sebagai ikon kota semarang sangat menarik wisatawan yang datang ke Semarang. Dengan begitu, fasilitas rumah makan, perdagangan dan penginapan akan berkembang juga. Coba kalau tidak ada Lawang Sewu, pasti Semarang jadi sepi. Makanya kita sebagai masyarakat harus melestarikan bangunan cagar budaya.

Ternyata betapa besar ya manfaat yang diberikan kalau kita sebagai masyarakat melestarikan bangunan bersejarah atau bangunan cagar budaya Indonesia. Semua yang kita lakukan ternyata berdampak juga secara langsung maupun tidak langsung untuk kita. Sesuai lah jika saya menyebutnya :

Pelestarian Cagar Budaya itu Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita

Maka jangan pernah menyepelekan pelestarian cagar budaya Indonesia. Semua ada timbal baliknya.


Selamat menjaga,  melindungi, dan merawat cagar budaya Indonesia.


Ayo, teman-teman ikut partisipasi lomba Blog "Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!"


REFERENSI :
BBC. 2015. Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang? http.s://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150805_majalah_cagarbudaya_semarang

Galikano, Silvia. 2015. Menyingkap Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151119195551-269-92834/menyingkap-kecerdasan-arsitektur-lawang-sewu

Minarti, Ria Ari & Sumiyatun. 2016. PERAN DINAS PARIWISATA KOTA SEMARANG DALAM UPAYA MELESTARIKAN GEDUNG LAWANG SEWU SEBAGAI OBJEK WISATA PENINGGALAN BELANDA DI KOTA SEMARANG JAWA TENGAH TAHUN 2011 – 2014. Jurnal HISTORIA Volume 4, Nomor 1, Tahun 2016, ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728).

Zulfikar, M. 2013. Dedy Gumelar: Pelestarian Cagar Budaya Banyak Manfaatnya. https://m.tribunnews.com/nasional/2013/06/14/dedy-gumelar-pelestarian-cagar-budaya-banyak-manfaatnya

Read More
Saya baru membaca sebuah artikel tentang Ranger di Pulau Komodo. Namanya mengingatkan saya pada Power rangers. Bukan. Bukan itu. Ranger disini maksudnya para pawang komodo. Saya membaca kehidupan pawang komodo ini tidak gampang. Mereka menjadi pemandu bagi wisatawan yang datang ke Pulau Komodo. Biasanya Ranger ini adalah masyarakat asli yang ada di pulau itu. Jadi mereka terbiasa sejak lahir melihat Komodo. Menjadi Ranger pun tidak ada pelatihannya. Ilmu menjadi pawang komodo diberikan secara turun temurun dari kakek nenek mereka.

Ranger akan meminta wisatawan untuk menjaga jarak dengan hewan karnivora ini. Jika dia menyerang kita, maka gigitannya yang besar itu akan bisa membuat tubuh kita kehilangan banyak darah. Tapi siapa yang tidak penasaran Ingin melihat hewan yang panjangnya tiga meter ini? Kesempatan bisa pergi ke Labuan Bajo maka seharusnya juga mengunjungi pulau Komodo ini.

Apa saja yang bisa kita lakukan di Pulau Komodo?

1. Melihat Komodo yang menjadi daya tarik para turis mancanegara untuk datang ke pulau ini. Tahu sendiri kan kalau komodo ini merupakan hewan langka dan sudah sangat tua. Jadi memang tidak banyak negara yang memiliki hewan ini.

2. Melihat sunset dan sunrise di spot tertentu. Keindahan pulau ini tidak hanya terletak pada pantai dan kontra berbukit-bukIt tapi juga keindahan yang ditawarkan sehingga bisa melihat matahari terbenam dan matahari terbit di pulau tersebut.

3. Melihat satwa liar lainnya. Kehidupan di Pulau komodo tidak hanya mendukung kehidupan komodo saja tapi juga satwa liar lainnya. Wisatawan bisa melihat kerbau super besar.

Nah, kalau kita mau pergi ke Pulau Komodo ini bisa dengan mandiri atau dengan agen tur. Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Alhamdulillah saya pernah melakukan traveling secara mandiri maupun pakai agen tour.

Jika ditanya, suka mana? Saya bingung mau menjawab apa karena menurut saya semua ada kelebihan dan kekurangannya.

Travelling secara mandiri

Menurut saya traveling secara mandiri ini kita bisa menyesuaikan waktu dan tempat yang kita inginkan. Selain itu interaksi dengan masyarakat lokal lebih intens karena saat kita tidak tahu jalan, tersesat, maka kita harus tanya dengan orang lokal. Yang pasti, lebih banyak mikirnya. hehe. Susahnya, kadang kita bisa saja dimanfaatkan orang lokal karena ketidaktahuan kita. Makanya kita harus lebih berhati-hati saat melakukan traveling secara mandiri.

Traveling melalui agen tur

Bukan berarti ikut agen tur juga tidak perlu berhati-hati, traveling dengan agen tur juga harus berhati-hati dalam hal barang bawaan bukan pungutan liar. Saya baru tahu kalau mereka punya jaringan yang kuat. Biasanya mereka sudah banyak kerjasama dengan tempat-tempat wisata. Kepuasan dengan agen tur juga tergantung pilih agen tur yang mana ya. Saya pernah pakai agen tur ke Bali, sebenarnya mereka bisa berangkat on time,  hanya saja waktu itu menunggu beberapa orang yang akhirnya membuat keberangkatan pun molor. Itinerary pun sudah disusun sesuai jadwal. Jadi kita tidak perlu pusing - pusing lagi cari kendaraan menuju ke tempat wisata karena sudah diatur sama agen tur. Orang lokal pun Jadi tidak macam-macam sama kita. Alias jika ingin menghindari pungutan liar di tempat wisata ya pakai agen tur saja.

Mandiri atau Agen Tour?

Kembali Kembali lagi pertanyaannya. Kalau melihat lokasi masih asing dan jauh dari perkotaan mungkin alangkah baiknya kalau menggunakan agen tur. Biasanya agen tur sudah tahu transportasi yang digunakan, lokasi tempat wisata, tempat makan, tempat menginap , penjual oleh-oleh. Dan ini memudahkan kita. Biasanya juga agen tur sudah punya paket wisata yang harganya lebih murah dIbanding kalau kita traveling Mandiri. Karena di beberapa lokasi wisata, biasanya ada sharing cost begitu, misal saat menyewa perahu yang ada minimal penumpangnya sehingga harganya bisa lebih murah. Kalau pakai agen tur, kita tidak perlu pusing lagi cari orang untuk sharing cost.

Kalau kalian mau pilih agen tur, salah satu alternatif adalah menggunakan agen tur Blibli tur. Di Blibli ini ada paket wisata pulau Komodo yang beraneka macam. Blibli menawarkan paket wisata pulau Komodo yang berbeda jumlah hari dan fasilitasnya.

kenapa harus beli paket tur wisata di Blibli? 


1. Satu-satunya toko online yang jual paket tur. Blibli memang punya Brand agen tur sendiri bernama Blibli Tur yang menyediakan jasa paket wisata pulau Komodo dan wisata lainnya. Tak hanya itu, brand yang menjual paket wisata pulau Komodo di Blibli juga banyak dengan harga berbeda karena jumlah hari berbeda dan fasilitas juga berbeda. Untuk khusus brand Blibli Tour sendiri yang ada gambarnya Blibli di samping tulisannya.

2. Harga terjangkau. Hal ini karena di Blibli biasanya ada promo menarik yang membuat harga paket turnya lebih murah.

3. Rewards. Setiap kita belanja di Blibli maka kita akan mendapatkan rewards. Nah, rewards ini bisa ditukarkan saat kita berbelanja di Blibli selanjutnya.

4. Bisa cicilan. Bagi yang sudah ingin sekali liburan tapi belum ada dana, maka bisa mengikuti program cicilan ini tanpa harus pakai kartu kredit. Pasti pada mikir bunga ya? cicilan cuma 0%. Untuk syarat dan ketentuan ini bisa dilihat di setiap paket wisata ya.

Hanya saja, untuk meeting dan ending point nya biasanya langsung di bandara. Jadi, tiket pesawat kita yang beli sendiri. Karena bisa saja setiap individu senang dengan maskapai tertentu. Selamat berlibur!

Read More
Malam-malam tiba di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, Bali, rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur. Meski sudah jam 9 malam, tapi sepanjang jalan Monkey Forest para bule masih berjalan kaki di sepanjang trotoar dan masih banyak yang menikmati sajian di resto yang sudah mengalami akulturasi Asia dan Eropa. Bahkan beberapa pasangan terlihat saling cium di tempat umum. OH! Saya merasa tidak sedang di Indonesia.

Don't judge a hotel by its cover haha

Saya segera ke resepsionis dan menanyakan kamar atas nama saya dan dari UWRF. Namun sayang seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya, nama saya tidak ada. Betapa kaget nya. Wajah saya berubah jadi bingung, lelah dan amarah. Masnya sempat agak gimana begitu. Saya cek panduan saat tiba di Ubud yang dikirim oleh Mbak Sarah.  Memang untuk check in bisa dimulai tanggal 22 Oktober malam. Saya pun memberitahukan kepada pihak hotel. Sembari mereka mengecek, pegawai lain memberi welcome drink seperti es teh ditambah lemon. Segar. Sesekali ada bule yang mematikan jadwal check in mereka.

Akhirnya saya diperbolehkan check in juga setelah mereka cek dan konfirmasi bahwa Itu kesalahan mereka karena waktu itu memang sedang perbaikan sistem. Jadi, alhamdulillah.


Baca juga : Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai)



Sebelum mengantar saya ke kamar, Mas Resepsionis memberi saya selembar menu untuk sarapan pagi besok. Aturannya, jika ingin sarapan besok pagi maka satu hari sebelumnya harus sudah memesan menu makanannya. Maksimal jam 9 malam. namun, karena saya baru datang (lebih dari jam 9 malam) maka saya tetap diperbolehkan booking menu dulu.

Menunya dalam bahasa inggris jadi saya peru mem bayangkan apa saja makanan-makanan itu. Ada bacon, nasi goreng, mie goreng, pancake, omelet. Saya pilih nasi goreng saja dua dan jus jeruk meski saya tidak yakin saya suka dengan jeruk nya apa nggak.

Pegawai resepsionis mem bantu membawakan koper kami, sementara anak saya yang pertama minta gendong saya karena sudah ngantuk berat. Jadinya si kecil digendong ayahnya.

Kami melewati parkir hotel yang cukup luas.



Kemudian melewati Gapura kecil khas Bali.

Kami melewati taman yang remanh - remang karena lampu taman yang tidak cukup terang. Melewati kolam renang dan tiga kamar dalam satu bangunan atau dua kamar dalam satu bangunan. Antara bangunan dipisah oleh taman dan jalan. Apa ya namanya? bungalow?


Pegawai hotel membukakan pintu dan masuk ke kamar.. Melihat kamarnya saya merasa hommy.  Yes, saya dan keluar harus merasa hommy karena di kamar ini saya harus tinggal hingga 5 hari ke depan. lama ya. But, anak-anak suka! Karena kamarnya nyaman. Ada tegasnya juga untuk duduk-duduk. Di dalam kamar, ada tempat tidur double. Untungnya saya sudah bilang pihak panitia kalau saya akan membawa keluarga. Jadi saya dapat kamar dengan tempat tidur double.




Di sebelah tempat tidur ada tempat santai untuk menonton. Seperti kursi sofa tapi saya lihat seperti tempat tidur dengan beberapa guling kecil dan bantal kecil. Hanya saja tidak seempuk springbed. Masnya menjelaskan bahwa di kulkas itu berbayar. Yang gratis hanya coffee and tea, mineral yang di luar kulkas.
Di kamar mandi ada shower , wastafel, kloset, lemari dan hair dryer. Pintunya juga klasik sekali karena terbuat dari kayu jati (sepertinya) dengan ukiran. Kuncinya pun pakai pengunci kayu.

Masnya pun pergi setelah saling mengucapkan terima kasih.

Besoknya, kami pun sarapan nasi goreng dan jus jeruk. Saya kira, jus nya akan eneg ternyata segar banget. Saya saja yang nggak doyan jeruk jadi doyan banget sama minuman jus dari hotel itu. Kami juga bisa menikmati roti, teh, kopi, krimer, air putih yang disediakan di meja dilengkapi dengan alat pemanggang roti. Beberapa hari di sana saya rasanya mulai bosan jika makan nasi goreng terus. Akhirnya saya coba saja semua menu kecuali bacon. Ternyata daging bacon bisa diganti sosis ayam. Yang pasti saya memastikan kesalahannya. Ah! saya lupa memotret nya!  Maklum saya sudah terlalu lapar. Di hari yang lain, saya memesan mie goreng. Rasanya Rasanya jugaenak. Hari selanjutnya saya coba pancake. Dan rasanya enak dan lembut. sekitar empat pancake di tumpuk kemudian diberi madu dan gula khas Bali. Di hari lain, saya memesan (saya lupa namanya) kentang puree tapi digoreng ada crispy,  sosis, telor, roti baguette, dan sayuran. Lengkap deh gizinya. Ada menu lain yang belum saya coba yaitu menu cereal.


Untuk masalah jus nya, semuanya ENAK! Saya coba jus semangka, jus jeruk, jus pisang (awalnya saya kebayang enek nya tapi ternyata enaaak), dan jus nanas. Pasti mereka membuat sesuai takaran biar tidak terlalu manis dan enek.


Fasilitas lain yang ditunggu anak-anak adalah kolam renang. Pagi-pagi kami berenang dan airnya hangat! Saya kira airnya dingin seperti di surabaya. Di dekat kolam renang juga ada kamar mandi dan shower untuk ganti baju tapi rupanya mandi di kamar sendiri lebih enak.

Jangan khawatir lantai basah karena jalan menuju ke kamar memang di luar ruangan. Tidak seperti waktu saya di hotel Ibis Budget Jakarta utara yang kolam renangnya indoor jadi kalau mau ke kamar harus melewati lobby, dan lift. Basah semua deh. Meski enak kalau indoor nggak bakal kehujanan. (eh, kok jadi bandingin begini hehe). Untungnya lagi ada tempat menjemur pakaian. Jadi setelah berenang, baju renang saya jemur dulu di kamar mandi (tempat jemur handuk) setelah airnya tidak menetes saya jemur di teras.

Setiap hari kamar hotel selalu dibersihkan. Seprai dan selimut. Karena pakai AC, anak saya lebih sering pipis dan kadang malah tembus di kasur padahal sudah pakai popok. Jadi saya juga laporan kalau baru saja diompolin anak. Pegawai kebersihan pun akan mengganti sprei kamar.


Baca juga : Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019


Oiya, di hotel ini juga disediakan sewa kendaraan. Saya tanya untuk motor sebesar 80rb rupiah per hari (24 jam). Lumayan juga yah. Pada akhirnya saya menyewa motor dekat tempat acara seharga 70 ribu rupiah saat hari ketiga, dan di akhir acara saya rencana agak terlambat mengembalikan jadi menambah 30 ribu.  Jadi sama aja sih jatuhnya 80ribu. Haha. Menyewa motor menurut saya lebih efisien dari segi waktu dan nggak Begitu capek karena saya beberapa waktu saya membiarkan anak saya di hotel, sedangkan saya mengikuti acara. Dan saya pun harus segera pulang setelah acara selesai.

Sebenarnya saya ada penjemputan dan pengantaran saat sesi saya, tapi menungu dijemput dan diantar juga cukup memakan waktu karena harus antri. Jadi saya memilih menyewa saja biar anak-anak tidak kelamaan menunggu saya.

Memang lokasi hotel ini berada tidak jauh dari pusat kota. Jalan kaki ke tempat makan juga dekat meski kebanyakan yang dijual makanan bule. Ada juga kok yang menjual makanan halal. Kalau biasa jalan kaki sih enak. Kalau tidak biasa mending sewa motor. Makanan halal di Ubud yang sudah pernah saya coba nanti saya tuliskan ya.
 

Read More
Akhirnya ini adalah hari terakhir di Ubud, ada rasa senang dan haru karena sudah melewati lima hari yang menyenangkan di Ubud. Dan tentunya sedih karena saya belum memaksimalkan semua main session festival. 

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan-jalan mengelilingi Ubud.

Setelah mengikuti rangkaian acara UWRF dari Perkenalan Hari Pertama yang Menyenangkan, Hari Kedua yang Mendebarkan, Pengen Salto di Hari Ketiga, hingga Mendapat Pengetahuan Baru di Keempat meski tidak full, saya menyempatkan diri jalan-jalan mengelilingi Ubud bersama keluarga saya. Awalnya kami mau mengunjungi Monkey Forest yang tidak jauh dari hotel kami, tapi setelah cek tiket harganya lumayan mahal yaitu 80rb rupiah per orang. Waduh, akhirnya kami ganti rencana lagi.

Saya meminta suami untuk memotret saya di depan Ubud Palace yang lokasinya berada di persimpangan jalan. Saya suka spot ini karena kelihatan banget ciri khas Bali. Berbeda sekali ketika berjalan di Jalan Suweta dan Jalan Monkey Forest yang terlihat seperti di luar negeri karena banyaknya butik, resto dan Cafe ala luar negeri.



Setelah itu, saya mengajak suami ke Desa adat Nya kuning karena saya tertarik dengan rumah Orang Bali. Meski sempat salah jalan (padahal sudah pakai Google map), akhirnya kami bertemu dengan desa adat itu. Lokasinya tidak besar hanya di sepanjang gang.

Gapura kecil sebagai penanda pintu masuk dengan pagar bata merah ditambah pohon Kamboja di pinggir jalan semakin memperkuat kesan Bali di gang itu. Saya pun menyempatkan diri berfoto di depan salah satu rumah Bali. Lagi-lagi, saya teringat materi kuliah saya dulu.




Setelah selesai, kami pun berjalan-jalan lagi, meski tak tujuan tapi suami mengikuti jalan di depan kami. Tak jauh dari Desa adat itu terdapat banyak resto dan Cafe. Beberapa bule duduk-duduk sambil menikmati sarapan di tempat makan tersebut.
Saat saya lihat google maps, ternyata di ujung jalan itu ada Monkey Forest! Sepertinya jalan buntu tapi suami mengikuti orang yang ada di depannya. Sampailah kami di hutan yang luas dimana banyak monyet - monyet duduk di pagar sambil melihat orang berlalu lalang. Ada yang sedang mencari kutu juga. wkwkwk.

Eh, kok ada yang naik motor menerobos di samping Monkey Forest. Suami pun mengikuti. Ternyata memang ada jalan tembusan menuju Jalan Monkey Forest yang biasa kami lewati. Sepanjang jalan itu banyak sekali monyet-monyet menampakkan diri. Tanpa harus bayar mahal, kami sudah melihat monyet-monyet itu. haha.

Setelah itu kami pergi ke Pasar Ubud, pengennya cari pie susu ternyata hanya satu penjual saja itupun nggak ditaruh dalam kotak duplex tapi hanya plastik biasa. Saya pun membelinya, harganya juga murah 1 bungkus 1000 rupiah.

Pasar Ubud (Dokumen Pribadi)


Kami pun memutuskan kembali ke hotel. Karena waktu dzuhur sudah masuk, saya sholat dulu sebelum saya pergi ke Festival hub. Ada dua sesi yang menarik buat saya hadiri setelah dzuhur yaitu Landfill Life dan story telling

Main Program : Landfill Life

Pada sesi Landfill, ceritanya sangat mengharukan buat saya. Bagaimana tidak, orang-orang yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan akhir sampah mengalami penyakit yang cukup serius gara-gara memakan kangkung yang tumbuh dekat deket air leachate. Mbak Resa juga bercerita bahwa mereka biasa menemukan sisa ayam goreng yang kemudian mereka bawa pulang dan mereka goreng lagi (saya mendengarkan ceritanya dalam bahasa inggris dan semoga tidak salah interpretasi karena saya masih tak percaya saja). Pernah juga para pemulung ini mendapat jam merk terkenal di tempat sampah. Ia pun menjualnya kepada mbak Resa, pembicara Landfill Life ini, dengan harga 20.000 saja sedangkan kalau di toko harganya sudah hampir satu juta. Mereka juga pernah menemukan cincin emas yang juga dijual ke Mbak Resa. Lucu juga saat lagi acara itu Mbak Resa memakai aksesoris yang di dapat dari TPA.

Jangan bayangkan mereka yang hidup di sana itu penuh kepedihan dan kesedihan. ketika Mbak resa bertanya, "apakah kalian bahagia tinggal di tempat ini?" (lokasinya di Bantar Gobang). Mereka menjawab, "Iya, saya sangat bahagia karena kalau di Bantar Gobang saya bisa bekerja untuk menghidupi keluarga saya, kadang saya menemukan barang-barang di sampah yang bisa dijual dan bisa untuk menghidupi mereka. sedangkan di kampung saya, saya malah tidak bisa bekerja. buka warung saja tidak banyak yang beli."

Mbak Resa juga bertanya, "bagaimana jika kalian di relokasi ke apartemen atau ke tempat yang jauh lebih layak?"
Mereka menjawab, "Saya tidak masalah asalkan ada lapangan pekerjaan untuk saya." Mbak Resa juga mengemukakan pendapatnya, memang yang jadi masalah selama ini, relokasi permukiman hanya memberikan rumah di lokasi tertentu tanpa memikirkan pekerjaan yang bisa dijangkau oleh mereka. Jadi terkadang mereka menolak ada relokasi tersebut.

Mereka pun yang terbiasa berhadapan dengan tempat yang seperti itu (tahu kan bagaimana kondisi dan baunya), tubuh mereka sudah beradaptasi dengan hal-hal tersebut, jadi ketika mereka pergi ke tempat lain, yang mungkin lebih bersih, tubuh mereka juga akan beradaptasi. Entah tiba-tiba pusing atau pilek.

Sejenak di Sesi Story Telling

Saya tidak bisa mengikuti sesi story telling sampai selesai karena saya datang terlambat, kebetulan mau minta tanda tangan Faisal Oddang jadi saya hanya sebentar di sesi ini. apalagi anak-anak udah mulai membuat keramaian. Maka setelah bertemu dengan Faisal Oddang, saya pun segera ke Joglo untuk mengikuti sesi book launching antologi saya bersama penulis lainnya.

Sesi Launching Buku Antologi UWRF

Sesi ini akhirnya para penulis di buku antologi pun bertemu. Saya dan ketiga teman saya (sayangnya, Mas Heru sudah pulang duluan jadi tidak bisa mengikuti sesi ini) duduk di depan bersama Bu Janet dan membacakan sedikit bagian dari cerita kami. Setelah itu, kami berfoto-foto bersama. Saya pun menyempatkan untuk berfoto dengan Bu Leila S. Chudori, Valiant Budi, I Wayan Juniarta, para interpreter dan bersama teman-teman penulis lainnya.

Pamela Allen sedang memberikan sambutan (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Saya membacakan bagian karya saya (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)

Berfoto bersama para pe, nulis di buku antologi, founder (Janet Deneefe)juri (Leila S. Chudori, I Wayan Juniarta), Patron (Julia), Translator Buku (Pamela Allen), koordinator event, dkk (Credit : Vifick Bolang dan UWRF)


Ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat saya. Saya bisa mengenal banyak penulis yang sudah jago dan saya bisa belajar dari mereka bahwa harusnya Hobi itu tidak dapat dikuasai oleh Mood. Sedikit motivasi dan dorongan yang diberikan oleh saya bahwa ada yang menunggu karya saya selanjutnya. Maka saya harus tetap menulis. Semoga ini menjadi amal jariyah saya. Aammiinn.

Malamnya, saya dan teman-teman mengikuti Closing Party sekaligus suami mengembalikan motor. Closing Party diadakan Di Blanco Museum. Saya kesana naik diantar suami naik motor, kemudian masuk tempat acara, dan suami pergi mengembalikan motor dan pulangnya jalan kaki sejauh 300 meter sambil gendong si adik. Lelaaahhh juga boowk. Dan saya menggendong anak saya yang pertama yang sudah mengantuk. Haha.

Di Closing Party diadakan pentas musik dari bermacam-macam negara. Sebenarnya cocok nih buat ajang berkenalan dengan penulis lain, namun kondisi saya yang sudah lelah dan anak yang sudah mengantuk, jadi saya tidak berlama-lama di Closing Party. Thanks semua pihak UWRF, Bu Janet, Pak Ijun, atas kebaikan kalian.


Read More
Tak terasaa akhirnya sudah hampir di ujung acara UWRF yaitu di Hari Keempat UWRF. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari festival ini.


Sabtu, 27 Oktober 2019

Begitu lega saya setelah mengisi workshop kemaren, saya jadi lebih santai. Hari ini ada banyak sesi menarik untuk diikuti. Saya sudah menjadwalkan akan mengikuti lima sesi Main Program tapi kenyataannya saya hanya bisa satu sesi saja karena saya harus ikut private roundtable jam 2 siang padahal di jam-jam itu, sesi nya banyak yang menarik.

Main program : Precious Peatlands

Saya sempat mengikuti sesi ini meski sedikit terlambat. Sesi ini berbicara tentang konservasi hutan diisi oleh Nirarta Samadhi, Butet Manurung, I Wayan Juniarta, Saras Dewi,  dan Nirwan Dewanto. Saya benar-benar tidak pernah terpikir untuk menulis tentang konservasi hutan dimana materi itu sebenarnya tidak jauh dari materi kuliah saya. Kalau mengingat kembali materi kuliah saya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dijadikan bahan cerita. Hanya saja memang butuh diolah sehingga tidak kaku.
Saya memang sudah mengetahui tulisan-tulisan yang berbau lingkungan atau disebut dengan Sastra Hijau tapi memang saya belum mencoba menuliskannya. Padahal tema-tema lingkungan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.

Wawancara dengan Literary Podcasts Malaysia


Oiya, saya lupa di hari ini, saya janji dengan Honey ahmad, seorang warga Malaysia yang memiliki toko buku dan juga Literary podcasts di sana. Janji itu adalah sebuah wawancara untuk podcast nya. Ia pun mengeluarkan peralatan untuk merekam. Pertanyaannya juga sederhana seperti latar belakang pendidikan, kapan mulai menulis, buku yang sudah diterbitkan, dan pesan-pesan bagi yang siapapun terutama ibu rumah tangga untuk tetap bisa menulis. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya jadi banyak mengenal orang. Wawancara pun selesai dalam waktu 18 menit meski sempat tersendat karena anak saya menangis. hehe.
Bersama Honey Achmad dan Nurillah

Main Program : Reza Aslan: God, A Human History

Reza Aslan ini adalah penulis yang hidup pada keluarga syiah, dan dia migrasi ke US saat revolusi Iran terjadi. Kemudian dia convert ke kristen dan pindah lagi ke islam. Dia menceritakan pengalaman kehidupan dia yang berpengaruh dalam proses menulisnya. Dan sesi yang dilaksanakan di Restaurant Industri ini sangat penuuh sekali padahal biasanya pasti ada kursi kosong. Saya juga nggak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan karena begitu penuh dan soundsystem kurang jelas terdengar bagi saya yang bahasa inggrisnya terbatas jadi saya memilih untuk pulang ke hotel.

Private Roundtable

Setelah mengantarkan anak ke hotel untuk dititipkan ke suami, saya pun pergi ke Blockchain zoo, lokasinya bersebelahan dengan tempat acara. Setelah sudah mencentang nama saya yang ada di daftar peserta, saya dan teman-teman emerging lainnya naik ke ruangan atas. Di dalamnya sudah ada beberapa penulis dari USA dan Australia.

Moderator Inno (kiri) dan Jim Coney (kanan)





Jadi sesi ini memang dihadiri khusus penulis dan mendiskusikan beberapa kondisi dunia kepedulian dari negara yang berbeda. Topik yang dibahas pun juga sesuai permintaan audiensi.  Jim Coney, lulusan RMIT University ini bekerja di penerbitan di Australia. Dia menjadi moderator pada sesi ini bersama dengan Innogato, penulis USA yang masa kecilnya tinggal di Indonesia.
Setelah mengadakan voting pada topik yang dibahas maka didapatlah empat topik utama yang menjadi bahasan tiap kelompok. Saya tertarik dengan audiobook jadilah saya ikut kelompok audiobooks. Cerita tentang audio books akan saya tulis secara khusus nanti ya.

Kik benar-benar membantu saya dalam menginterpretasi pembicaraan para speaker. Mereka berbicara sangat cepat sekali dan banyak istilah atau idiom yang tidak begitu saya pahami.
Setelah sesi itu, saya pun pergi ke rental motor untuk memperpanjang penyewaan sampai minggu malam. Saya harus menambah 30 ribu karena menambah 6 jam lagi.

Oya, sebenarnya setiap malam, UWRF mengadakan acara Live music and art, jadi isinya membaca puisi, pertunjukan musik, menonton film, menari tradisional, dan lain-lain. Sayangnya, saya sudah terlalu lelah jadi saya memilih beristirahat di hotel.

Di Hari Kelima UWRF, saya sempatkan jalan-jalan keliling Ubud dengan sewaan sepeda motor seperti yang saya ceritakan di blog saya yang berjudul Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai).

Read More
Akhirnya Hari Kedua UWRF yang mendebarkan pun terlewati, rasanya masih panjaaang sekali perjalanan saya di UWRF dan saya menikmati setiap harinya di sana. Hari Ketiga UWRF ini tak kalah serunya bahkan saya pengen salto, wkwkwk.

Jumat, 25 Oktober 2019

Sebenarnya dari kemaren saya ingin ikut beberapa sesi Main Program.  Banyak sebenarnya sesi Main Program yang sangat menarik, tapi beberapa sesi jadwalnya bersamaan, jadi saya harus memilah lagi beberapa yang saya butuhkan. Sayangnya, kemaren karena anak membutuhkan perhatian lebih, jadi saya mengajaknya makan Di sekitar pusat ubud dengan motor sewaan. Akhirnya saya tidak mengikuti sesi yang saya inginkan.

Hari ini rencananya saya mau ikut sesi Main Program: Imagining The Past yang diisi oleh Iksaka Banu, Azhari Aiyub, Alessandro Baricco, Toni Jordan, dan Sebastian Partogi. Saya suka sebenarnya menulis hal-hal yang berbau historis, menantang tapi juga cukup sulit karena memang tidak pernah menyaksikan momen itu. Jadi hanya imajinasi dan beberapa kejadian sejarah yang mendukung cerita kita. Otomatis riset mendalam sangat dibutuhkan seperti yang dilakukan oleh Iksaka Banu.

Selanjutnya, saya mengikuti sesi Andreas Harsono: Race, Islam, and Power. Saya sedikit terlambat pada sesi ini jadi saya hanya mengikuti sebagian. Dalam Sesi ini ia menceritakan tentang pengalaman dia saat pergi ke pelosok dan melihat kehidupan penduduk ras tertentu, kalau nggak salah daerah Papua dan Ambon. Dan dia menceritakan kehidupan suku Ambon dan yang memeluk agama islam.

Short Story Session

Karena suami pergi mencari masjid Ubuddiyah untuk sholat jumat, jadi saya pergi ke Green room untuk menunggu suami sekaligus bersiap-siap workshop children and youth : short story session. Nah, waktu beberapa bulan lalu, saya sempat mengisi formulir kemampuan saya yang sedikiiiitttttt dan belum banyak pengalaman ini yang bisa dibagikan. Saya menulis mengisi workshop short story untuk anak-anak. Sebenarnya, maksud saya short story nya bercerita tentang cerita anak-anak, tapi audiens nya tetap orang dewasa. Eh, ternyata saya dimasukkan dalam workshop children and youth festival. Ya nggak apa-apa sebagai pengalaman aja.


Terus kesalahan saya selanjutnya adalah katanya saya akan mendapat interpreter selama di sana, jadi saya mengajukan workshop dengan bahasa bilingual. Ketika ditempat workshop, ternyata tidak ada interpreter. Saya pun baru sadar kalau bilingual itu nanti saya yang harus berbicara sendiri dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Nah, LOH!

Awalnya saya minta panitia saja menerjemahkan tapi lama-lama saya menjelaskan sendiri dalam bahasa inggris. eciyeeehh. Untung saja bahasanya masih sederhana. Jadi saya masih bisa lah meski kadang beberapa kata saya lupa dalam bahasa inggrisnya. Jadi saya tanya panitia.



Eh, untungnya audiens nya kebanyakan anak-anak bule yang memang sedikit bisa bahasa indonesia dan orang indonesia yang bisa bahasa inggris. Jadi benar-benar kombinasi yang menguntungkan lah. Tapi ada juga dari Australia yang memang tidak bisa bahasa Indonesia.

Di akhir penjelasan, saya meminta mereka menulis cerita pendek yang sangat pendek dalam satu halaman hvs. Tanpa berpikir lama, mereka langsung menuliskannya dengan baik. Semua peserta menuliskannya dalam bahasa inggris termasuk juga peserta dari indonesia. Keren sekali mereka. Saya kalah deh, Imajinasi mereka juga keren.


Jangan kira semua berjalan dengan damai, tenang, dan kalem. Anak-anak bule itu cukup ramai dan kritis. Saya sampai kagok deh dibuatnya. Bener-bener pengen SALTO deh. hahaha. But, saya buat santai ajalah, ketimbang saya stres sendiri, jadi kadang saya ajak guyon aja.

Setelah selesai, saya pun segera pulang ke hotel bersama anak-anak dan suami yang sudah menunggui saya saat Short Story Session. Makasih banget deh sama suami yang udah mau jagain si kecil.

Di Hari Keempat UWRF ini semakin banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Yuk, dibaca saja di blog saya berjudul Ilmu Baru di Hari Keempat UWRF.

Read More
Setelah cukup disibukkan dengan Hari Pertama UWRF, maka Hari Kedua UWRF ini tidak kalah serunya dan mendebarkan.

Kamis, 24 Oktober 2019

Saya sudah mencentang beberapa Main Program yang ingin saya ikuti. Main program ini adalah program utama yang diisi oleh penulis-penulis dari Indonesia maupun luar negeri. Sayangnya, saya tidak mengikuti satu pun.

Mungkin saya terlalu lelah, jadinya pagi hari di hotel saya istirahat dan menemani anak berenang. Jam 10 saya dijemput untuk sesi Main Program : Indonesian Emerging Writers 2019.

Sesi Indonesian Emerging Writers

Saya dan teman-teman menunggu di Green Room setengah jam sebelum acara dimulai. Para interpreter pun sudah berseliweran di dekat ruangan itu dan siap melaksanakan tugasnya. Kik juga mengingatkan saya kalau berbicara pelan-pelan saja agar memudahkan memudahkan untuk menginterpretasi.
Meski saya tidak sendiri, saya cukup deg-degan duduk di atas panggung dengan audiens yang cukup banyak. Maklum saya biasanya juga di dapur, audiens saya cuma dua anak saya dan suami saya, jadi wajarlah rasa nervous itu ada. wkwk.


Pada sesi itu, saya diminta memperkenalkan diri saya, kapan mulai menulis, latar belakang menulis cerita pendek saya, dan lain-lain. Karena di profil saya tertulis ibu rumah tangga, moderator pun bertanya bagaimana mengatur waktu menulis. Yaah saya jawab saja, memang waktu kita 24 jam, mestinya ada waktu untuk menulis, biasanya saya menulis saat malam hari atau sebelum subuh, bisa juga saat siang hari, yang paling penting saat anak-anak tidur. Itu yang bisa saya sarankan untuk ibu rumah tangga yang juga ingin menulis. Kita juga perlu aktivitas "Me Time" dengan menulis. Ketika ada karya yang dihasilkan pasti rasa senangnya juga berlipat. Mungkin itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan buat ibu rumah tangga dengan segala kewajibannya di rumah yang kadang bahkan sering bikin ngelus dada. wkwkwk. Namun, semua kembali kepada masing-masing individu yang bisa menentukan prioritas yang mana. Dan aktivitas "Me Time" apa yang memang menyenangkan buat seorang ibu rumah tangga.  Dan penting juga suami mengetahuI kesukaan istri.
Bukan karena gaya pembacaan saya yang mengagumkan tapi karena dia mencari-cari paragraf mana yang saya baca agar Kik bisa membacakan bahasa inggrisnya

Selain itu, saya dan teman-teman juga diminta membacakan cerita milik masing-masing. Pertanyaannya sebenarnya tidak terlalu susah paling hanya sebatas karya kita saja, tapi kalau tanpa persiapan juga bikin kagok, hehe.

Serunya, setelah sesi ini, ada yang ingin berfoto dan berkenalan dengan saya. Ada juga yang memberi portofolio desain ilustrasi.  Saya juga diperkenalkan oleh Kik kepada penerjemah cerita pendek saya yang bernama Pamela Allen, seorang pensiunan dosen universitas Tazmania, Australia.
Bersama Pamela Allen

Nah, uniknya, saat saya sedang duduk di Green Room, seseorang yang berasal dari singapura mendekati saya dan minta waktu kapan saya bisa diwawancarai. Wah, saya kaget tapi juga senang. Dia perlu waktu untuk membaca karya saya dan meminta wa saya. Saya pun minta hari sabtu siang saja karena lebih lowong. Ia pun menyetujui.

Hal yang bisa saya pelajari dalam sesi ini adalah bahwa isu sosial, permasalahan dalam masyarakat, sekecil apapun bisa menjadi bahan untuk dijadikan cerita pendek. Dan saya masih terus belajar dan terus belajar.

Sesi Hijab Files


Setelah selesai sesi pertama, Kik mendekati saya dan meminta saya untuk mempersiapkan materi untuk sesi selanjutnya. Sebenarnya moderator, Maryam, seorang penulis dari Australia,  sudah mengirimkan email pertanyaan untuk sesi ini. Salah satunya, apa pengaruh hijab dalam proses menulis saya. Saya bingung untuk menjawab, mengingat saya belum pernah menulis cerita yang tokohnya memakai hijab. Meski, dalam cerita anak saya, tokoh ibu ini memakai hijab tapi hanya sebagai setting yang tidak begitu kuat. Sesi ini sebenarnya cukup membuat saya ingin untuk segera menyelesaikan cerita saya yang tokohnya berhijab.
Ternyata, apa yang saya bayangkan terjadi juga. Ketika Maryam bertanya tentang tantangan apa yang saya terima saat menulis tokoh berhijab. Saya jawab tidak ada. Beberapa pertanyaan lain saya juga menjawab tidak. Sesungguhnya memang tulisan saya belum membahas orang berhijab.
Sesi Hijab Files bersama Maryam (kiri), Uzma Jalaluddin (kanan), saya dan Nurillah (paling kanan) 

Untungnya, Uzma Jalaluddin, penulis dari Kanada, membeberkan tantangan dia sebagai penulis muslim dan minoritas di negaranya. Dia cukup sulit mencari memprofilkan dirinya di sana karena dia berhijab. Begitu juga cerita dalam bukunya yang berjudul Ayesha At Last yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang berjudul Ayesha.

Menjawab pertanyaan


Menurut saya, sesi ini cukup sulit apalagi saat audiens,  yang jumlahnya 2 kali lipat dari sesi saya sebelumnya, memberi pertanyaan yang cukup menggebu-gebu yang menurut saya sudah di luar dari konteks sesi.

Contohnya bagaimana pendapat anda saat ada yang pertama berhijab kemudian melepasnya, atau bagaimana pendapat anda tentang perpaduan agama dan budaya, misalnya saat menikah harus memakai konde-konde, dll, bagaimana pendapat anda tentang peraturan di Aceh yang mengharuskan berhijab.

Saya tidak menjawab mengenai ketika seseorang melepas hijab karena si penanya pernah melakukan itu dan dia merasa bebas, tidak ada beban, ketika melepaskannya. Karena menurut saya mereka sudah tahu dalam islam itu berjilbab adalah perintah. Setiap orang yang beragama islam tahu sendiri tidak semua bisa menjalankan perintah yang sudah jelas. Jadi saya tidak menjawab daripada menimbulkan perdebatan.

Saya langsung menjawab bahwa ketika menikah saya memakai baju Jawa dan hijab dan di rias seperti pernikahan jawa, sedangkan prosesi menginjak telur, menyuapi suami, adalah sebuah simbolik yang lebih penting esensinya. Sedangkan peraturan di Aceh saya kemudian bercerita bahwa saya TERPAKSA melepas hijab ketika di Prancis saat mereka meminta pas foto tanpa hijab. Kalau tidak maka saya tidak bisa mengurus kemitraan. Saya pun pergi ke fotobox dan melepas hijab tanpa dilihat orang kemudian memakainya lagi dan memberikan pasfoto tanpa hijab saya kepada petugas imigrasi. Setelah itu saya bilang, dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak, eh bener kan ya? Jadi kalau kamu diminta memakai hijab di Aceh ya lakukanlah.. karena saya pun terpaksa melakukan hal yang dalam agama saya itu adalah perintah, begitupun kalian saat pergi ke Aceh dimana memakai baju panjang dan celana panjang serta syal adalah bukan sebuah dosa kan dalam agama kalian? Kalau saya lepas jilbab sudah tercatat dosa kan.. Itu pendapat saya yang mungkin masih banyak orang yang belum setuju.

Ya kembali ke kalian aja. Karena kalau saya tidak menuruti aturan "foto tanpa alas di kepala", maka keimigrasian saya dicabut dan tidak akan bisa sekolah. Sama kalau kalian ke Aceh dan tidak mengikuti aturan di sana, kalian tidak akan bisa menyelesaikan urusan kalian di sana.


Yang pasti, ada beban baru saat saya selesai mengikuti sesi ini. Masih banyak yang menganggap hijab adalah bentuk ketidakbebasan,  pengekangan, teroris, dan banyak hal image buruk. Dari situ, saya bisa melihat, bahwa penulis muslim cukup memiliki beban yang berat untuk menghasilkan tulisan yang bisa membuka mata tentang pendapat mereka selama ini. Tentunya, pesan-pesan tanpa menggurui. Sebagai penulis muslim harus punya karakter dalam setiap karyanya.

Setelah sesi ini juga, saya didekati oleh orang bule dari Belanda dan meminta foto bersama. Ya allah, saya berasa artis, wkwk. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia meski dia lebih suka berbahasa Inggris. Dan Kik bersedia menerjemahkan nya.

Thanks Kik.
Karena sudah jam 5 sore, saya pun segera pamit pulang dengan motor yang saya sewa dari rental motor yang dekat dengan tempat acara.

Selanjutnya, cerita Hari Ketiga UWRF saya malah Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019, bisa dibaca di sini ya.
Read More
Selasa, 22 Oktober 2019

Tiba juga saya, suami, dan dua anak saya di bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul delapan malam. Setelah mengambil bagasi, kami segera keluar dari pintu kedatangan. Saya sempat khawatir karena biasanya saat di bandara saya harus mengontak orang yang menjemput saya, tapi dalam acara ini, tidak ada kontak dengan penjemput. Saya hanya diberi panduan untuk menemui panitia dengan baju UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) atau seseorang yang berpakaian Bali yang menjemput saya sambil membawa kertas bertuliskan Lita Lestianti.

Saya tidak melihat, justru suami saya melihat dan menunjuk ke arah panitia. Oiya, benar! Ada nama saya TERPAMPANG!  haha. sungguh saya tidak pernah dijemput dengan model seperti artis itu. Perjalanan dari bandara ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam karena waktu itu memang lalu lintas padat sedangkan jalan-jalan di Bali pun kebanyakan tidak lebar.

Saya pun sampai di hotel Yulia Village Inn yang ada di Jalan Monkey Forest. Rupanya, saya sudah kelelahan sampai saya lupa senyum kepada resepsionis. Gara-gara, katanya malam itu saya belum masuk dalam daftar reservasi. OMG! saya sudah kebayang saya akan cari hotel malam-malam yang belum tentu tersedia. Ternyata setelah di cek, petugas hotelnya yang salah memasukkan ke sistem karena waktu pemesanan dari panitia, sistemnya memang sempat eror. Ugh, leganya.

Dijemput panitia UWRF


Setelah mandi, saya pun ingin segera beristirahat di kamar yang nyaman sekali. Sayangnya, anak-anak baru saja terbangun dan mengajak main. Saya mempelajari jadwal acara UWRF.  Entah kenapa saya pun tidak bisa tidur membayangkan acara yang akan saya lalui lima hari selanjutnya. Setelah berhasil membujuk anak untuk tidur, saya pun ikut tidur.


Rabu, 23 Oktober 2019


Patron Brunch

Esoknya, saya pun siap-siap berangkat untuk Patron Brunch sekitar jam 10 pagi. Nah, di sini ada miskom dengan Writer Liaison (WL) saya. Dari awal sebenarnya sudah dibilang ada sesi penjemputan kendaraan pada sesi saya. Nah, beberapa jam sebelum acara saya tidak mendapat informasi via wa atau email, jadi saya kira tidak ada penjemputan. Ketika saya tanya WL, bisa tanya ke sesi transportasi, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut siapa sesi transportasi (begitulah karena saya malu bertanya jadi kelamaan di jalan wkwk). Alhasil, saya, suami dan anak saya berharap pada shuttle bus di Museum Puri Lukisan yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari hotel saya. Begitu sampai museum itu, ternyata shuttle bus gratis untuk acara UWRF baru ada besok tanggal 24 Oktober 2019. wkwk wkwk.  Akhirnya kami memutuskan jalan kaki karena melihat di peta masih 2 kilo lagi. Sedangkan kalau naik taksi harus bayar 80rb. mahal yee padahal deket aja. Dan ternyata jalannya menanjak saudara-saudaraaaa. Beberapa kali kami harus berhenti di jalan. Si kecil kasihan karena kadang digendong, kadang harus jalan sendiri. wkwk.  kebodohan hakiki.



Nah, begitu sampai tempat acara, saya melihat ada briefing untuk para volunteer UWRF. Selanjutnya, anak dan suami saya pun menunggu di Indomaret, saya pun mengikuti Patron Brunch bersama si kecil.

Patron Brunch ini merupakan private event yang mempertemukan emerging writers dengan Indonesia Patron, Julia, dengan Founder event UWRF, Janet Deneefe, sambil menikmati makan siang nasi campur ala Bali.

Dari Patron Brunch ini saya mengenal keempat penulis emerging lainnya, yaitu Nurillah dari Jember, Ilhamdi dari Padang, Chandra dari Jakarta, dan Heru dari Nganjuk. Saya juga mengenal Manajer Program, Pak I Wayan Juniarta (Ijun) yang sudah menyeleksi karya sebanyak sekitar 1500an karya.
Patron Brunch UWRF 2019 (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF)

Kami berbicara banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, latar belakang cerita, dan segala hal. Karena Julia ini dari Australia jadi kebanyakan dia berbicara bahasa Inggris yang kadang kami menimpali dengan bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Syukurlah ada Pak Ijun yang bersedia menerjemahkan.
Ya Allah baru kusadari aku kumus kurus soalnya jarang ngaca wkwk (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF) 

Saya kira hanya orang Eropa saja yang suka memuji. Ternyata orang Australia juga sangat suka sekali memuji. Apapun itu. Mulai dari makanannya, bayi saya yang lucu, cerita kami berempat, dan everything. Namun, memang saat mereka tidak suka, mereka akan bilang terus terang. Saya pernah mengalaminya saat saya berada di negeri antah berantah.

Briefing

Setelah Patron Brunch, saya dan teman-teman lainnya briefing bersama para interpreter. Interpreter saya adalah Kik Hughes, seorang bule Australia yang tinggal di Singapura. Interpreter ini yang akan membantu saya saat saya tidak mengerti bahasa inggris dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dalam bahasa inggris. Maklum emak-emak yang hampir nggak pernah ngomong bahasa inggris. Daripada kagok di depan audiensi mending saya pakai jasa interpreter. Dan ternyata berguna banget!

Bersama Mbak Kik Hughes (Credit: Kik Hughes)


saat briefing kami diberitahu agar saat berbicara itu hanya dua paragraf dulu agar interpreter tidak bingung. Saya pun juga menyadari bahwa tidak hanya kami berlima saja yang grogi, para interpreter yang sudah berpengalaman pun bisa saja nervous. Saya pun akhirnya mengetahui kalau audiensi yang banyak bule itu kebanyakan juga bisa bahasa Indonesia,  itulah mengapa jika interpreter salah menginterpretasi atau ada yang kurang infonya, mereka akan merasa gagal di depan para audiens.

Workshop

Nah, sesi selanjutnya adalah sesi workshop menulis dengan Mirandi Riwoe, seorang penulis dari Australia di sebuah ruangan dengan pemandangan Bukit Campuhan dan sebuah gunung. Anak saya yang kecil pun saya titipkan pada ayahnya dan dibawa ke hotel. Saya pun bisa konsentrasi belajar dan tidak mengganggu peserta lain.

Di workshop ini dia menjelaskan ceritanya tentang crime fiction, bagaimana membuat judul, bagaimana menulis genre yang berbeda, bagaimana mengatasi writers block, dan banyak hal.
Buku yang dia tulis (saya lupa judulnyaa) merupakan hasil dari tugasnya saat kuliah di jurusan Creative Writing di Australia.  Nah, buku yang dia tulis itu harus menjadi rujukan pada disertasinya S3. Dia menulis dari sudut historis tapi yang kejadiannya bisa terjadi masa sekarang seperti Human Trafficking dan Racism.
Mengerjakan tugas menulis 2 paragraf (Credit : Kik Hughes)

Hanya ada dua interpreter di workshop ini yaitu mas Raka dan Kik. Untungnya bahasa inggris masih mudah dimengerti dan kadang saya perlu melatih bahasa inggris saya, kadang saya juga perlu interpreter untuk menjelaskan kembali maksud saya dalam bahasa inggris.

Sesi Tanya Jawab (dokumen pribadi)
Namun, yang saya bisa ambil pelajaran dari workshop dari Mirandi ini adalah bahwa hadapi saja distraksi atau penundaan saat menulis cerita. Karena dari penundaan atau distraksi itu merupakan proses kita untuk berpikir cerita yang kita tulis. Mirandi berpesan, jangan tulis seluruhnya, tapi tinggalkan beberapa untuk besok sehingga ada keinginan untuk terus menulis. namun,  dia juga memberi saran untuk mengatasi writer's block yaitu Keep writing, writing  and writing!
o iyaa, dia juga bilang kalau misal kalah dalam perlombaan maka jangan kecewa karena lomba itu jurinya subjektif. Jadi jangan sampai terpuruk dan tidak menulis karena kecewa kalah lomba. Ah! menohok banget bagi saya nih yang juga sering kalah lomba. haha.

Workshop bersama Mirandi Riwoe


Saya pun balik ke hotel diantar oleh driver UWRF. Setelah bertemu anak dan mandi, saya pun dijemput untuk mengikuti acara Gala Opening di Ubud Palace. Tidak jauh dari hotel saya sih tapi setelah berjalan 3 kilometer saya memilih untuk naik kendaraan saja.

Gala opening

Saya pergi bersama anak saya yang kecil. Saya pun mengisi buku tamu. Beberapa peserta berfoto-foto di depan baliho-baliho ala artis Hollywood. Dua orang perempuan Bali dengan pakaiannya yang khas Bali menyematkan bunga di baju para peserta. Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk, saya pun melewati para peserta yang berdiri dekat pintu masuk. Ramai sekali. Sesak.
Eh, saya bertemu dengan Seno Gumira Ajidarma. Tapi sayang saya malu-malu minta foto bahkan Mengucap hello, hehe.
Saya mencari tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Saya sampai tidak bisa menikmati pertunjukannya karena anak saya yang mulai rewel. Saya pun membeli snack untuk anak saya. Oiya, toko-toko di Bali sudah tidak menggunakan plastik, loh! Keren, ya. Jadi siap-siap bawa tas sendiri untuk menampung makanan-makanan yang kalian beli.



Gala Opening (dokumen pribadi)

Writer's Dinner

Saya pun bertemu teman-teman saya. Jam 7 malam kami menuju Casa Luna, resto ala Bali yang dimiliki oleh Janet Deneefe. Karena ini private event jadi panitia harus mengecek nama yang akan masuk ke resto yang memang sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya.

Sayangnya, mungkin karena saya terlalu capek, jadi saya tidak maksimal. Maksimal dalam artian saya tidak bisa membangun koneksi alias SKSD. Sok kenal sok dekat sok yes lah sama mereka. haha. Setidaknya untuk berkenalan dengan Writer yang sudah terkenal. Saya hanya ingin segera pulang ke hotel. Saya dan dua teman Emerging yang wanita pun pulang ke hotel diantar oleh driver UWRF.

Masih ada hari esok dan saya merasa lelah sekali. Sampai di hotel Yulia Village Inn yang saya review di sini juga, ternyata saya tidak bisa tidur. OH!

Lanjut cerita hari kedua UWRF yang Mendebarkan.

Read More

Follower