Review Hotel Yulia Village Inn : Penginapan Strategis dan Nyaman di Tengah Kota, Ubud, Bali

No Comments
Malam-malam tiba di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, Bali, rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur. Meski sudah jam 9 malam, tapi sepanjang jalan Monkey Forest para bule masih berjalan kaki di sepanjang trotoar dan masih banyak yang menikmati sajian di resto yang sudah mengalami akulturasi Asia dan Eropa. Bahkan beberapa pasangan terlihat saling cium di tempat umum. OH! Saya merasa tidak sedang di Indonesia.

Don't judge a hotel by its cover haha

Saya segera ke resepsionis dan menanyakan kamar atas nama saya dan dari UWRF. Namun sayang seperti yang sudah saya ceritakan di blog saya sebelumnya, nama saya tidak ada. Betapa kaget nya. Wajah saya berubah jadi bingung, lelah dan amarah. Masnya sempat agak gimana begitu. Saya cek panduan saat tiba di Ubud yang dikirim oleh Mbak Sarah.  Memang untuk check in bisa dimulai tanggal 22 Oktober malam. Saya pun memberitahukan kepada pihak hotel. Sembari mereka mengecek, pegawai lain memberi welcome drink seperti es teh ditambah lemon. Segar. Sesekali ada bule yang mematikan jadwal check in mereka.

Akhirnya saya diperbolehkan check in juga setelah mereka cek dan konfirmasi bahwa Itu kesalahan mereka karena waktu itu memang sedang perbaikan sistem. Jadi, alhamdulillah.


Baca juga : Dari Keliling Ubud Hingga Sesi Terakhir di Hari Kelima UWRF (Selesai)



Sebelum mengantar saya ke kamar, Mas Resepsionis memberi saya selembar menu untuk sarapan pagi besok. Aturannya, jika ingin sarapan besok pagi maka satu hari sebelumnya harus sudah memesan menu makanannya. Maksimal jam 9 malam. namun, karena saya baru datang (lebih dari jam 9 malam) maka saya tetap diperbolehkan booking menu dulu.

Menunya dalam bahasa inggris jadi saya peru mem bayangkan apa saja makanan-makanan itu. Ada bacon, nasi goreng, mie goreng, pancake, omelet. Saya pilih nasi goreng saja dua dan jus jeruk meski saya tidak yakin saya suka dengan jeruk nya apa nggak.

Pegawai resepsionis mem bantu membawakan koper kami, sementara anak saya yang pertama minta gendong saya karena sudah ngantuk berat. Jadinya si kecil digendong ayahnya.

Kami melewati parkir hotel yang cukup luas.



Kemudian melewati Gapura kecil khas Bali.

Kami melewati taman yang remanh - remang karena lampu taman yang tidak cukup terang. Melewati kolam renang dan tiga kamar dalam satu bangunan atau dua kamar dalam satu bangunan. Antara bangunan dipisah oleh taman dan jalan. Apa ya namanya? bungalow?


Pegawai hotel membukakan pintu dan masuk ke kamar.. Melihat kamarnya saya merasa hommy.  Yes, saya dan keluar harus merasa hommy karena di kamar ini saya harus tinggal hingga 5 hari ke depan. lama ya. But, anak-anak suka! Karena kamarnya nyaman. Ada tegasnya juga untuk duduk-duduk. Di dalam kamar, ada tempat tidur double. Untungnya saya sudah bilang pihak panitia kalau saya akan membawa keluarga. Jadi saya dapat kamar dengan tempat tidur double.




Di sebelah tempat tidur ada tempat santai untuk menonton. Seperti kursi sofa tapi saya lihat seperti tempat tidur dengan beberapa guling kecil dan bantal kecil. Hanya saja tidak seempuk springbed. Masnya menjelaskan bahwa di kulkas itu berbayar. Yang gratis hanya coffee and tea, mineral yang di luar kulkas.
Di kamar mandi ada shower , wastafel, kloset, lemari dan hair dryer. Pintunya juga klasik sekali karena terbuat dari kayu jati (sepertinya) dengan ukiran. Kuncinya pun pakai pengunci kayu.

Masnya pun pergi setelah saling mengucapkan terima kasih.

Besoknya, kami pun sarapan nasi goreng dan jus jeruk. Saya kira, jus nya akan eneg ternyata segar banget. Saya saja yang nggak doyan jeruk jadi doyan banget sama minuman jus dari hotel itu. Kami juga bisa menikmati roti, teh, kopi, krimer, air putih yang disediakan di meja dilengkapi dengan alat pemanggang roti. Beberapa hari di sana saya rasanya mulai bosan jika makan nasi goreng terus. Akhirnya saya coba saja semua menu kecuali bacon. Ternyata daging bacon bisa diganti sosis ayam. Yang pasti saya memastikan kesalahannya. Ah! saya lupa memotret nya!  Maklum saya sudah terlalu lapar. Di hari yang lain, saya memesan mie goreng. Rasanya Rasanya jugaenak. Hari selanjutnya saya coba pancake. Dan rasanya enak dan lembut. sekitar empat pancake di tumpuk kemudian diberi madu dan gula khas Bali. Di hari lain, saya memesan (saya lupa namanya) kentang puree tapi digoreng ada crispy,  sosis, telor, roti baguette, dan sayuran. Lengkap deh gizinya. Ada menu lain yang belum saya coba yaitu menu cereal.


Untuk masalah jus nya, semuanya ENAK! Saya coba jus semangka, jus jeruk, jus pisang (awalnya saya kebayang enek nya tapi ternyata enaaak), dan jus nanas. Pasti mereka membuat sesuai takaran biar tidak terlalu manis dan enek.


Fasilitas lain yang ditunggu anak-anak adalah kolam renang. Pagi-pagi kami berenang dan airnya hangat! Saya kira airnya dingin seperti di surabaya. Di dekat kolam renang juga ada kamar mandi dan shower untuk ganti baju tapi rupanya mandi di kamar sendiri lebih enak.

Jangan khawatir lantai basah karena jalan menuju ke kamar memang di luar ruangan. Tidak seperti waktu saya di hotel Ibis Budget Jakarta utara yang kolam renangnya indoor jadi kalau mau ke kamar harus melewati lobby, dan lift. Basah semua deh. Meski enak kalau indoor nggak bakal kehujanan. (eh, kok jadi bandingin begini hehe). Untungnya lagi ada tempat menjemur pakaian. Jadi setelah berenang, baju renang saya jemur dulu di kamar mandi (tempat jemur handuk) setelah airnya tidak menetes saya jemur di teras.

Setiap hari kamar hotel selalu dibersihkan. Seprai dan selimut. Karena pakai AC, anak saya lebih sering pipis dan kadang malah tembus di kasur padahal sudah pakai popok. Jadi saya juga laporan kalau baru saja diompolin anak. Pegawai kebersihan pun akan mengganti sprei kamar.


Baca juga : Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019


Oiya, di hotel ini juga disediakan sewa kendaraan. Saya tanya untuk motor sebesar 80rb rupiah per hari (24 jam). Lumayan juga yah. Pada akhirnya saya menyewa motor dekat tempat acara seharga 70 ribu rupiah saat hari ketiga, dan di akhir acara saya rencana agak terlambat mengembalikan jadi menambah 30 ribu.  Jadi sama aja sih jatuhnya 80ribu. Haha. Menyewa motor menurut saya lebih efisien dari segi waktu dan nggak Begitu capek karena saya beberapa waktu saya membiarkan anak saya di hotel, sedangkan saya mengikuti acara. Dan saya pun harus segera pulang setelah acara selesai.

Sebenarnya saya ada penjemputan dan pengantaran saat sesi saya, tapi menungu dijemput dan diantar juga cukup memakan waktu karena harus antri. Jadi saya memilih menyewa saja biar anak-anak tidak kelamaan menunggu saya.

Memang lokasi hotel ini berada tidak jauh dari pusat kota. Jalan kaki ke tempat makan juga dekat meski kebanyakan yang dijual makanan bule. Ada juga kok yang menjual makanan halal. Kalau biasa jalan kaki sih enak. Kalau tidak biasa mending sewa motor. Makanan halal di Ubud yang sudah pernah saya coba nanti saya tuliskan ya.
 

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower