Yang dinanti-nanti pun tiba. Menyapih anak kedua di usianya yang tepat 2 tahun. Ada rasa khawatir sebenarnya, bisakah aku menyapihnya tanpa sebab yang memaksa? Maksudku, dulu anak pertama, aku terpaksa menyapihnya di usia 22 bulan karena waktu itu aku hamil usia 8 bulan dan selalu mengalami konstraksi setiap menyusui. Jadi aku terpaksa menyapihnya. Sedangkan, pada anak kedua, aku sempat bingung, apakah sudah perlu di usia 2 tahun? kenapa tidak 2 tahun setengah?
Alasannya produksi ASI sudah mulai menurun. Kalau dipaksa justru membuat aku sakit. Apalagi dalam ayat Al-Quran pun dituliskan :

"Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya." (QS. Al-Baqarah: ayat 233).

Yang paling terpenting adalah kerelaan dan adanya pembahasan antara kedua belah pihak. Saat ingin menyapih anak kedua sebenarnya tidak ada halangan untuk segera menyapih di usia dua tahun. Jadi tidak harus tepat dua tahun. Makanya saat saya menyapihnya, saya tidak seperti anak pertama yang harus berhasil menyapih dalam waktu tiga hari. Dan pada anak kedua, saya menyapihnya selama seminggu. Itu pun dengan perasaan tega dan nggak tega. Saat tega ya saya biarin nangis-nangis. Saat nggak tega ya terpaksa saya susui kembali termasuk saran suami untuk disuruh pelan-pelan biar nggak kaget.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan." (QS. Al-Ahqaf: ayat 15)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS. Luqman: ayat 14).

Kalau anak pertama, aku langsung melepasnya, nggak boleh mimik sama sekali satu hari penuh. Katanya dengan begitu, anak lebih cepat disapihnya. Biar nggak ingat mimik ke ibunya, dia diajak ayahnya jalan-jalan. Pas kebetulan memang ayahnya ada perlu di bengkel temannya. Dan menyapih anak pertama berhasil hanya dalam 3 hari. Selebihnya dia sadar sendiri dan tidur sendiri. Bagaimana dengan anak kedua? Yang ini perlu ekstra sabar.

Hari pertama

Meski sudah di sounding jauh-jauh hari, tetap saja dia nggak terima. Di hari pertama, dia nangis teriak-teriak nggak karuan karena nggak dikasih mimik. Hingga dia tertidur sendiri. Begitu bangun, dia teriak-teriak lagi sampai narik-narik baju. Aku tawari susu dan dia mau. Ujung-ujungnya tidur sambil minta gendong. Begitu juga saat malam hari, dia nggak bisa tidur karena nggak bisa mimik. Akhirnya minta digendong. Aku tawari susu juga. Jadi, gara-gara menyapih, dia minum susu cukup sering dan nggak habis. Setiap dia tertidur dalam gendongan, aku taruh lagi di tempat tidur. Kadang bangun dan nangis. Kadang nggak bangun dan lanjut tidur. Kalau begitu, aku senang banget.

Hari kedua

Saat tidur siang masih minta mimik, nangis-nangis, tarik baju. Masih sering minta susu. Minta tidur digendong juga. Nah, pas malam hari, dia sempat tidak bisa dibujuk, nangis-nangis ngamuk parah, sampai suami nggak tega, dan nyuruh pelan-pelan biar nggak kaget. Kebetulan juga di hari kedua, rasanya sakit PD karena nggak dimimiki. Mungkin anak bayi punya ikatan batin yang kuat dengan PD ibunya, makanya dia ngamuk nggak terkendali. Terpaksa, aku mimiki deh. Paginya, saat dia minta mimik, nggak aku kasih, dan dia sadar meski nangis dulu akhirnya minta susu. Setelah itu main seperti biasa.

Hari ketiga

Anakku sudah mulai mengerti kalau nggak mimik ke ibunya. Jadi dia minta susu pas inget mau mimik ke ibunya. Tidur siang juga sudah tidur sendiri. Pas malam juga sudah mulai bisa tidur sendiri. Meski tengah malam bangun minta mimik, tapi aku kasih susu. Dan dia mau.

Hari keempat

Aku kira, aku sudah berhasil menyapihnya. Karena waktu anak pertama, hanya perlu waktu tiga hari anak langsung menyapih sendiri. Ternyata anak kedua nggak bisa. Di hari keempat, saat tidur siang dia sudah bisa tidur sendiri. Pas malam hari, dia malah ngamuk-ngamuk parah. Dia minta mimik pas bangun tengah malam. Ayahnya nggak tahan dengar tangisannya. Kebetulan juga PD ku terisi lagi dan kerasa sakit. Terpaksa aku kasih mimik lagi. Hufff.. Berasa gagal menyapih.

Hari kelima

Sepertinya memang benar, anak itu paham dengan kondisi ibunya. Saat hari kelima, anakku sudah nggak mimik dan kebetulan PD ku nggak sakit lagi. Meski dia perlu penyesuaian. Masih meringik minta mimik tapi nggak maksa-maksa dan nggak ngamuk-ngamuk lagi. Jadi setiap dia minta mimik, aku tawari minum susu formula. Dan mau.

Yang paling melelahkan adalah menggendongnya saat dia mau tidur. Bisa sampai setengah jam. Dibuat duduk langsung nangis. Ditidurkan juga nangis. Kemeng deh pokoknya tanganku. Dan benar-benar nggak minta mimik itu setelah lebih dari dua minggu.

Jadi memang nggak bisa memaksa anak untuk menyapih sih karena kalau dipaksa ibunya juga sakit karena masih produksi. Memang yang benar itu perlahan-lahan tidak dikasih biar nggak kaget. Karena PD ibu dan naluri anak itu saling berhubungan. Meskipiun begitu, ditolak aja kalau dia minta mimik selama masih bisa ditolak. Tapi kalau teriak-teriak nggak bisa dibujuk ya mau bagaimana lagi.

Read More
Di usia balita, bermain sepeda dapat melatih kognitif dan motorik anak. Biasanya sebelum berlatih keseimbangan, anak akan menggunakan sepeda roda tiga untuk belajar mengayuh. Sejak usianya 2 tahun, anak saya sudah naik sepeda roda tiga meski belum bisa mengayuh karena kakinya belum sampai. Namun, lama-lama, dia bisa mengayuh karena kakinya sudah sampai.
Jenis sepeda roda tiga ini juga memiliki bermacam-macam fitur ya. Ada yang pakai dorongan, ada yang pijakan kaki di belakang (sepeda shincan), penutup kepala, keranjang, lagu dan mainan, sandaran.

Pilih Yang Mana?

Semua tergantung kebutuhan ya. Kalau anak masih usia dua tahun kurang dan kaki belum sampai, memang sepeda roda tiga dengan fitur yang mainan sangat menyenangkan anak-anak. Kalau misal, mau ajak anak-anak jalan dengan sepeda roda tiga, memang enaknya jika ada keranjang atau tempat menaruh barang dan yang ada pegangan dorong untuk orang tua. Biasahya anak diajak jalan di sekitar rumah agar mau makan atau sekedar cari udara segar. Jadi orang tua tidak perlu membungkuk untuk mendorong. Namun, anak jadi terus merasa tergantung dengan orang tua meski usianya sudah tiga tahun.

Jika usia anak sudah di atas dua tahun dan ingin belajar mengayuh, maka cukup membeli sepeda roda tiga tanpa fitur pegangan dorong. Ini lebih memudahkan anak untuk mengayuh karena lebih ringan dibanding sepeda dengan fitur bermacam-macam. Dan anak dituntut berusaha sendiri mengayuh sepeda tanpa perlu bantuan orang tua.

Semua tergantung kebutuhan ya. Anak saya juga memiliki sepeda roda tiga tanpa pegangan dorong dan keranjang. Jadi saya harus menunggu usianya di atas 2 tahun agar kakinya sampai. Setelah tiga tahun, dia bisa naik sendiri dan mengayuh sendiri.

Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan dan kekurangan menggunakan sepeda roda tiga secara umum berdasarkan pengalaman anak saya adalah :

Kelebihan

1. Berlatih otot kaki untuk belajar mengayuh. Awalnya tidak mudah untuk belajar mengayuh sepeda karena ada yang berat dan ada yang ringan. Hanya saja, anak-anak akan terbiasa mengayuh sepeda saat kakinya sudah sampai.

2. Berlatih mengarahkan. Setelah berlatih mengayuh sepeda, anak juga akan membiasakan diri berlatih mengarahkan ke kanan, ke kiri atau putar arah di jalan sempit.

3. Tanpa pompa ban. Enaknya, sepeda roda tiga ini bukan ban yang dipompa. Jadi nggak perlu khawatir meletus atau kempes.

4. Memudahkan orang tua, khusus sepeda yang memiliki pegangan dorong. Anak-anak yang masih usia 1-2 tahun memang belum bisa mengayuh sendiri maka sepeda yang memiliki pegangan akan memudahkan orang tua mengajak jalan tanpa harus membungkuk untuk mendorong.

5. Menyenangkan dan bisa belajar dari lagu, khusus sepeda yang memiliki fitur musik dan mainan. Anak-anak suka sekali dengan sepeda yang banyak hiasannya, warna terang, fitur mainan dan musik.

6. Terlindung dari panas matahari dan rintik hujan, khusus yang memiliki penutup kepala. Nggak perlu takut kepanasan atau kena rintikan hujan. Asalkan bukan hujan deras ya, Mom. hehe.

7. Aman karena memiliki sandaran, khusus yang memiliki sandaran. Sepeda roda tiga juga ada yang memiliki sandaran dan ada yang nggak memiliki sandaran. Jika anak sudah bisa paham, maka Mom nggak perlu khawatir beli sepeda roda tiga tanpa sandaran tempat duduk.

Kekurangan

1. Terkadang anak merasa malas untuk mengayuh jika terbiasa didorong terus (khusus sepeda roda tiga dengan pegangan dorong). Menurut pengalaman saya, anak yang sudah terbiasa didorong, maka anak cenderung akan merasa malas untuk mengayuh. Mungkin beberapa fitur bisa dicopot sehingga anak bisa belajar mengayuh sepeda sendiri.

2. Rawan jatuh ke belakang, khusus sepeda tanpa sandaran badan. Hati-hati membeli sepeda roda tiga tanpa sandaran badan karena anak akan rawan jatuh apalagi jika digunakan untuk usia 1-2 tahun.

3. Terlalu berat untuk mengayuh, khusus sepeda yang memiliki fitur banyak seperti lagu, mainan, penutup kepala, keranjang, dan lain-lain. Bisa saja fiturnya dilepas agar memudahkan anak belajar mengayuh.

4. Rawan jatuh saat berbelok. Menurut pengalaman, anak saya yang empat tahun pakai sepeda roda tiga dengan fitur sederhana alias nggak ada keranjang, penutup kepala, mainan, dll, saat ngebut dan langsung berbelok dia nyaris terjatuh untung saja dia sangga kakinya. Bahayanya saat adiknya berdiri di belakang dia ikut terjatuh.

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 1-2 tahun

Ada beberapa jenis sepeda tiga roda yang cocok untuk usia anak 1-2 tahun. Mengingat usia tersebut anak-anak masih belum bisa mengayuh dan perlu bantuan orang dewasa.

1.Family 993 DT Musik Lebah Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga yang ada musik ini pasti disukai anak-anak usia 1-2 tahun. Belum lagi desainnya yang lucu dan berwarna cerah yang biasa disukai anak-anak.


Harga 500.000


2. PMB T05 Musik Scoopy Sepeda Anak Roda Tiga

Sepeda roda tiga model scoopy ini juga bisa jadi pilihan Mom. Musik lagu yang ada di sepeda membuat anak suka. Model dan warnanya pasti disukai anak-anak. Model ini juga ada penutup kepala, pendorong, dan pengaman agar anak tidak jatuh.



Harga 412.500


3. PMB 921 BMX Stick Bell Sandaran Tricycle Sepeda Roda Tiga Anak

Model ini lebih sederhana untuk anak usia 1-2 tahun. Kelebihannya ada pengamannya sehingga anak tidak mudah jatuh. Hanya saja perlu diperhatikan apakah anak suka ada pengaman atau tidak.


Harga 315.000

Rekomendasi Sepeda Roda Tiga yang Cocok untuk Anak 2-4 tahun 

Untuk usia di atas dua tahun, Mom bisa beli yang tidak banyak fiturnya, jadi anak bisa belajar mengayuh dan menyetir sendiri.

1. WIMCYCLE Hotwheels Sepeda Anak [Roda 3]

Untuk usia 2-4 tahun, jenis sepeda ini cukup cocok untuk belajar mengayuh dan mengarahkan. Tidak ada sandarannya. Jadi anak perlu hati-hati.

Harga 425.000

2. Tricycle PMB Roda Tiga Sandaran Sepeda Anak - Biru

Desain yang unik dan warna yang cerah membuat anak suka memiliki sepeda roda tiga ini. Kelebihannya adalah ada keranjang dan sandaran kursinya.Di bagian belakang bisa juga digunakan untuk berdiri jika ada temannya. Tapi ini perlu pengawasan ya.


Harga 345.000

3. Alfrex Tricycle Sepeda Anak Roda Tiga - Biru

Warnanya cerah untuk anak-anak pasti suka. Sepeda ini cukup sederhana dan mungkin anak akan merasa nyaman untuk mengayuh dengan model seperti ini.


Harga 325.000

Tapi itu semua tergantung pilihan Mom, ya. Mau pilih fitur lengkap, sampai yang sederhana. Pastikan lagi Mom memilih model sepeda tiga roda  sesuai kebutuhan Mom.

Mom bisa beli sepeda tiga roda tersebut di website blibli.com. Banyak sekali model pilihan sepeda tiga roda  yang sesuai dengan kebutuhan Mom.

Nah, itulah rekomendasi sepeda roda tiga dari usia 1-4 tahun. sedangkan di atas empat tahun, saya sarankan untuk membeli sepeda roda dua dengan dua tambahan bantuan roda kecil di samping ban belakang. Sekalian belajar keseimbangan.

Read More
Kalau ditanya kenapa bisa lolos UWRF, saya pasti bingung mau menjawab apa, karena saya pun nggak tahu. Mungkin memang lagi rezeki kali ya. hehe.

Beneran, deh. Saya tuh nggak punya cerpen yang dimuat di media tapi memang saya beberapa kali menulis cerpen meski cuma saya simpan saja di laptop. Belum ada keberanian lah buat kirim ke media. Saya ikut lomba saja kalah terus. Haha. Sampai suatu ketika, saya memberanikan diri merombak cerpen yang saya ikutkan lomba yang kalah. Hasil rombakan yang saya kirim ke UWRF juga berbeda jauuuhhhh, meski hampir sama tentang pemanen madu.

Meski saya nggak tahu kenapa saya bisa lolos, saya mau share aja apa yang saya lakukan sebelum saya mengirim cerpen ikut seleksi. Sekalian biar saya juga ingaat terus bagaimana saya bisa menghasilkan cerpen saya Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan Nunsulat.

1. Baca buku

Saya sudah tamat membaca buku Kompas Jurnalistik ke NTT, saya sangat tertarik pada bahasantentang Meo Oni, petani madu dari NTT. Menurut saya sangat unik karena mereka tidak boleh berbuat jahat sebelum memanen madu. Mereka punya ritual pembersihan diri Nakete sebelum memanen madu. Saya kebayang, betapa mendebarkannya saat mereka harus memanen madu di atas pohon Ankai yang sangat tinggi di hutan. Terus saya membayangkan bagaimana kalau mereka tidak benar-benar bertobat saat pembersihan diri itu? Katanya, mereka akan mendapat musibah, entah digigit tawon atau jatuh dari pohon. Nah, dari sini saya coba dramatisir cerita. Dari baca buku ini saya juga mengetahui kondisi lain bahwa orang sana begitu kesulitan sehingga kerja ke kampung lain. Namanya Sore-Kasih artinya kerja pagi dan upah dikasih saat sore hari.

2. Lihat Youtube

Karena saya belum yakin dengan kondisi di sana, jadi saya coba cari di Youtube tentang Meo Oni atau panen madu di NTT. Ternyata banyak sekali dokumentasi panen madu hutan. Jadi saya bisa terbayang bagaimana mereka berjalan ke hutan, mendengar suara hewan, bernyanyi, kemudian memanen. Menonton ini sebenarnya bertujuan untuk menempatkan diri saya sendiri di lokasi tersebut, meski saya belum pernah ke sana. Dengan begitu, cerita lebih hidup seolah-olah kita pernah mengalami memanen madu. Perasaan inilah saya tuangkan dalam cerita. Bagaimana mengerikannya mereka memanjat pohon yang tinggi di pinggir jurang. Jadi saya sudah punya bayangan saat akan mendeskripsikan latar dalam cerita saya.

3. Baca blog orang

Mungkin karena di pedalaman, jadi masih jarang sekali orang yang menuliskan pengalamannya saat berkunjung ke daerah tersebut. Tentang bagaimana perilaku masyarakat, makanan khas yang biasa mereka makan, atau mungkin bagaimana bentuk tempat tinggal mereka (jarak yang berjauhan, berdempetan, rumah kayu lantai tanah, dll). Itu semua menjadi penting, agar cerita menjadi sangat kental lokalitasnya. Dari baca-baca blog ini, saya jadi tahu makanan khas mereka (seperti yang ceritakan sedikit saat Rachel berbicara dengan ibunya yang merupakan sebuah konflik awal ketika waktu makan). Saya juga jadi tahu tempat tinggal mereka sehingga begitu kerasa bagaimana kondisi perekonomian mereka, yang kemudian saya hubungkan dengan pekerjaan Rachel dan ibunya menjadi pekerja Sore-Kasih. Kenapa harus ada jenis pekerjaan itu? Karena tidak mau terkesan menempel, jadi setelah mereka pulang kerja Sore-Kasih itulah si Rachel bertemu Victor. Nah, saya sungguh berterima kasih bagi kalian-kalian yang suka bepergian ke bagian belahan bumi mana pun dan menceritakannya lewat blog, media sosial yang bisa diakses umum, atau pun mendokumentasikannya lewat Youtube.

4. Menulis

Saya pun menulis dengan bayangan yang sudah ada di kepala saya. Saya tulis aja lah pokoknya semua yang ada di kepala. Masalah utamanya adalah si ibu yang nggak setuju Rachel dengan kekasihnya yang jadi Meo Oni. Saya bahkan belum tahu cerita akhirnya tapi saya tulis. Sampai cerita akhirnya menggantung.

Cerita awalnya juga, hanya seorang wanita, Rachel yang menjalin kasih dengan seorang Meo Oni, Victor. Rachel ingin meminta kejelasan hubungan mereka tapi Victor belum tahu ke arah mana. Apalagi ibunya Rachel tidak setuju dengan pekerjaan Victor. Isu sosial ini sebenarnya sudah sering terjadi di lingkungan manapun. Ibu yang tidak setuju dengan pasangan anaknya hanya karena pekerjaan yang tidak jelas. Nah, saya tambahkan juga, kenapa ibunya tidak setuju? rupanya bapaknya Victor dulu juga Meo Oni dan meninggal karena jatuh. Terus saya hubungkan, apakah si suaminya itu melakukan kesalahan? dan saya pun memilih si suami selingkuh. Kemudian awalnya saya terbayang, Victor ini ternyata punya kekasih. Tapi saya rasa kurang kuat. Terus pas saya tahu tema UWRF ini karma, maka saya hubungkan saja. Apa yang dilakukan bapaknya Rachel kembali kepada Rachel. Jadi saya bayangkan Victor ini sudah punya istri. Dan istri ini adalah selingkuhan bapaknya Rachel dulu. Jadi karmanya, bapaknya selingkuh maka anaknya jadi diselingkuhi. Mbulet ya? :D

Plot

Awalnya plotnya maju saja. Tapi katanya awal yang memikat itu dari sebuah tragedi, atau misteri agar orang mau membaca terus. Jadi saya buat tragedi si istri Victor menangis2 melihat Victor berdarah-darah jatuh dari pohon. Setelah itu, saya pakai alur mundur ketika Rachel dan ibunya berdebat tentang pasangan Rachel. Kemudian mundur lagi tentang pertemuan Rachel dan Victor. Kemudian maju saat Rachel meminta kejelasan hubungan. Kemudian maju lagi saat tragedi Victor jatuh di pohon. Kemudian kembali saat tragedi istri Victor menangis-nangis saat warga sedang melayat ke rumah Victor yang memunculkan obrolan ibunya Rachel dan Rachel. Nah, disini saya baru membuka rahasia bahwa Rachel baru tahu kalau Victor sudah punya istri tapi ibunya tidak tahu kalau kekasihnya itu adalah Victor. Jadi jangan buka rahasia di awal cerita, ya! hehe.

5. Minta Kritik Saran, Menghapus, Menambah, Menulis

Setelah itu saya minta krisan dari teman saya, apa yang aneh dan kurang. Bahkan saya baru sadar temanya adalah Karma setelah cerpen yang belum dikritik teman saya itu selesai. Setelah itu, saya rombak lagi dan saya tambah lagi, sampai akhirnya menghasilkan tulisan yang saya kirim untuk seleksi UWRF dan pastinya sesuai tema.

6. Check persyaratan

Nah, ini sangat penting sekali. Setelah cerpen selesai dan akan dikirim saya buka lagi persyaratan yang diminta.
Coba kita lihat persyaratan seleksi UWRF 2020 ya...

- Karya dikirim dalam bentuk dokumen digital (Word atau PDF) yang dapat diunggah melalui formulir di bawah. -->Cerpennya diunggah yaa ..nggak pake email2an sama panitianya..

- Karya yang dikirim merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan. Panitia menggunakan piranti lunak untuk memeriksa kemungkinan karya tiruan. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya fiksi berupa cerita pendek atau puisi. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya yang belum pernah diterbitkan. --> CHECK

- Karya yang dikirim mencerminkan pergulatan manusia dengan isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan. --> Nah, coba deh identifikasi mana isu sosial, isu budaya dan isu lingkungan di cerita kalian?

- Karya yang dikirim menunjukkan kreativitas dalam penggarapan cerita serta pelukisan karakter. --> Twist juga merupakan salah satu kreativitas dalam cerita ya (so jangan umbar semua rahasia ya!) CMIIW. Apa cerita kalian sudah menunjukkan kreativitas? Pelukisan karakter. Kalo ini sudah pasti jago semua ya.

- Peserta cukup mengirimkan satu karya untuk cerita pendek atau dua karya untuk puisi. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori cerita pendek adalah 3.000 kata. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori puisi adalah 300 kata. --> CHECK

- Panitia memiliki hak untuk menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya yang terpilih ke dalam antologi tahunan festival. -->OK. kalian pasti menyetujui kan.

- Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online melalui tautan di bawah. --> JANGAN LUPAKAN INI YA....

- Paling penting, PERHATIKAN HARI DAN JAM pengumpulan terakhir. Jumat, 6 Maret 2020 jam 5 sore ya..

Jadi jangan sampe ada yang ngirim jam 11 malam pas saat akan ganti hari (seperti saat ikut lomba2 lain yang deadline nya tengah malam).

Saya sendiri pun tak menyangka bisa menghasilkan cerpen begitu dalam semalam (meski persiapannya dari membaca dan menonton bisa sampai sebulan), tiga hari menjelang deadline. Jadi saya menulisnya mengalir saja.

Tapi bukan berarti kalian harus mengikuti plot saya yang maju mundur maju mundur cantik! Jika itu ternyataa membuat ceritamu malah nggak seru ya nggak usah dipaksain plot itu. Dan kalian juga nggak perlu cerita budaya kalau misal kalian sendiri nggak menguasai permasalahan sosialnya. Kalian bisa cerita tentang isu sosial, budaya, lingkungan di daerah urban. Yang paling penting sesuai persyaratan yang diminta.

Saya juga nggak yakin apa saya bisa membuat cerita budaya seperti itu lagi? Sungguh itu kelangkaan yang benar-benar langka. XD


Cerita saya ketika mengikuti Ubud Writers and Readers Festival bisa dibaca di SINI ya.
Read More

Follower