Sebagai negara maritim, salah satu hal yang sayang sekali untuk dilewatkan adalah mengunjungi ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sejak lama memang aku menginginkan pergi ke tempat yang menjual berbagai macam hasil laut tersebut. Lebih tepatnya, semenjak suami mengirimkan foto sedang makan bersama temannya di warung dekat TPI, aku begitu tergugah tapi belum juga pergi ke sana. 


Sebenarnya sebelum diajak temannya suami, sebut saja Mas R, dia pernah memberitahu kalau di daerah Kalanganyar ada pasar yang menjual ikan murah dan segar. Kami diberitahu ancer-ancernya. Ternyata di sana kami bingung dimana tempatnya. Karena tempatnya malah menjauh dari pasar Kalanganyar. Akhirnya, kami berhenti di rumah makan Latarombo. Dan memilih makan di sana. Setelah diajak Mas R, kami jadi tahu tempatnya dan masih jauh dari Latarombo. 


Baca juga : Rumah Makan Seafood Gubuk Latarombo, Sidoarjo


Ketika suami ingin makan lobster, tanpa banyak pikir, aku menanyakan kapan kesana setelah suami menyelesaikan tanggung jawabnya mengurus mahasiswanya lewat daring. Berangkatlah kami Jumat pagi yang sudah beranjak siang (sekitar jam 8 pagi).


Perjalanan menuju ke sana disuguhkan dengan pemandangan yang jarang kutemui. Pemandangan tambak di kanan kiri begitu menyenangkan. Para petani garam juga sedang sibuk panen di tambak. Meski jalanan cukup jelek, berdebu dan tidak lebar, tapi aku begitu menikmatinya. Mungkin karena pemandangan tambak yang bagus.


Jam delapan pagi di daerah pesisir memang terik sekali. Panas kering. Alangkah baiknya kalau mengunjungi tempat -tempat itu kalian bisa menggunakan kacamata hitam, topi, dan masker.


Perjalanan kami pun hanya memakan waktu 20 menit dengan mobil. Dari rumah makan Latarombo masih terus saja kemudian bertemu pertigaan belok kiri melewati jembatan kecil. Nah itu, jalan masih terus mengikuti jalan utama bertemu tambak di kanan kiri sampai bertemu gapura selamat datang tidak sampai masuk gapura tapi belok ke kanan. 


Tibalah kami di TPI Sidodadi Juanda yang beralamat di Jl. Tambak Cemandi No.1, Gisik Cemandi, Kec. Sedati, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Oiya, lokasi ini dekat sekali dengan Bandara Juanda. Jadi kalau pesawat mau mendarat terlihat banget di kanan kiri tambak yang membentang luas termasuk TPI ini. 




Tempat parkir mobil luas, masih tanah dan minim pohon teduh sangatlah lowong. Alias tidak banyak pengunjung. Maklum saat itu sedang hari Jumat sedangkan kalau weekend tempatnya ramai sekali.


Aku melihat pasar masih sepi dari pengunjung, termasuk penjual yang membuka lapaknya. Beberapa orang duduk-duduk saja seolah ada yang ditunggu. Aku langsung mendatangi lapak paling depan. Penjual itu tidak hanya menjual lobster tapi juga kerang, udang, kepiting, dan ikan.



Untuk harganya jangan kaget ya! Harga lobster 175 ribu rupiah per kilo. Isinya 4 lobster yang sedang dan 1-2 lobster yang besar. Bagi sebagian orang menganggap ini mahal, tapi bagi sebagian lainnya akan mengatakan itu murah sekali. Ya, sangat tergantung apa yang kita bandingkan. Dulu, kukira membeli ikan di TPI itu harus ada pembelian minimalnya. Ternyata tidak.


Setelah mendapatkan lobster yang diinginkan suami, aku pun berkelana masuk ke dalam pasar. Sayangnya, banyak meja-meja yang kosong. Aku mencari gurame tapi yang banyak malah orang yang berjualan ikan asin, bandeng, mujaer, dan ikan yang panjang itu (lupa namanya). Sempat tanya ke beberapa orang, mereka hanya menjawab tidak. Akhirnya aku keluar dari pasar.


Tak jauh dari pasar, aku mendatangi warung yang menyediakan jasa bakar. Sebenarnya ada rasa lain juga misal asam manis atau lada hitam. Tentu, harganya juga berbeda. Aku hanya meminta bakar saja. Harganya juga dihitung per kilo. 



Tak hanya jasa bakar ikan, di warung itu juga disediakan ikan bakar dengan harga yang tentunya lebih mahal. Karena aku tidak mendapatkan gurame, jadi aku memesan ikan gurame bakar di san saja. Eh ternyata kehabisan. 


Aku disuruh membeli ke toko menjual ikan fresh yang menyeberang jalan utama. Namun, seorang pengunjung yang juga ingin meminta bakar ikan mengatakan padaku kalau di pasar ada yang menjual gurame. Dengan baik hati, dia menunjuk tempat orang yang berjualan gurame di TPI.


Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke pasar, ke lapak yang ditunjukkan dari jauh tadi. Ternyata gurame yang dijual masih dimasukkan dalam box es yang besar. Pantas saja aku tidak tahu. Dan harganya juga lebih murah ketimbang di tukang sayur yang biasa aku beli. Harga gurame Rp. 35.000 per kilo sudah dibersihkan sama orangnya.




Aku kembali lagi ke warung dengan membawa dua kilo gurame. Isinya 3 ukuran sedang dan 2 ukuran besar. Murah banget untuk makan bersama keluarga besar. 



Ikan dan lobster siap bakar


Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk membakar semua ikan dan lobsterku. Dan hasilnya juga dibungkus dengan daun pisang biar sedap. Kalau mau makan di sana juga bisa. Tentu harganya juga tambah untuk nasi dan minum.


Menurut Mas R, kalau datang ke sana pas weekend, orang yang datang ke sana banyak. Yang antri membakar ikannya juga banyak. Bahkan kalau datang sore hari dan saat antri banyak, kemungkinan besar akan ditolak.


Lobster bakar


Meski kekurangan TPI Sidodadi Juanda adalah tempatnya yang menurut saya perlu perbaikan agar pengunjung dan penjual juga nyaman, tapi aku senang berkunjung ke TPI ini karena harganya yang murah, produk hasil lautnya yang segar dan pilihannya juga tidak semua tersedia di pasar umum.



Dan recommended banget buat makan dengan personil yang banyak. Menurutku rasanya juga enak. Kalau untuk anak-anak, lobster bakarnya sedikit lebih pedas sedangkan ikan bakarnya tidak pedas. Serunya ajak anak-anak kesini adalah banyak perahu yang bersandar di sungai samping TPI.






Read More

Pada bulan Desember 2019, virus corona atau coronavirus deasease (Covid-19) muncul pertama kali di Wuhan, Cina Pemberitaan itu emmbuat heboh seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus itu menyebar begitu cepat dan membuat banyak orang mati karenanya. Yang paling membuat bergidik, saat penayangan video beberapa orang di Wuhan yang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh dan meninggal. Dan itu terjadi pada banyak orang di Wuhan. 

Berita selanjutnya dari Italia, dimana banyak orang yang meninggal karena virus corona. Maklum di Italia banysk sekali penduduk berusia senja yang rentan dengan virus itu. Negara Italia di lockdown. Nggak ada yang bisa masuk dan keluar dari negara itu. Juga Taiwan, Singapura, dan negara lain.

Apa yang terjadi setelah itu?

1. Pemberitaan tak pernah berhenti

Setelah itu, pemberitaan tentang corona tak pernah berhenti. Informasi tentang jumlah kematian orang yang terkena corona terus meningkat. Semua jadi waspada, mungkin lebih tepatnya takut. Semua tahu ciri-ciri terkena corona adalah demam 38°C, batuk, sesak nafas, namun ternyata gejalanya tidak hanya itu saja. Diare, infeksi pencernaan juga katanyaa bisa disebabkan oelh corona. Huft.

2. Status pengidap corona

Kukira pengidap corona hanya satu disebut pengidap corona saja. Nyatanya tidak. Ada banyak status seperti PDP, ODP, dan OTG. Dan yang menyusahkan adalah pengidap OTG yang dinyatakan positif setekah ikut tes tapi dia tidak merasakan gejala apapun. 

3. Lockdown, WFH, WFO, SFH.

Aktifitas negara lumpuh. Bandara, pelabuhan, akses keluar negeri dan masuk ditutup. Semua disarankan stay at home saja sampai-sampai hashtag itu menjadi trending di media sosial. Kita tidak boleh keluar rumah, bekerja dan sekolah di rumah. Lingkungan rumah di lockdown, alias tidak ada yang boleh keluar rumah selama 40 hari. Yang terpaksa bekerja di luar rumah harus punya keterangan surat dari tempat bekerja dan surat domisili. Karena ketika di lockdown, lingkungan hanya dibuka satu pintu itupun jam 9 malam sampai jam 4 pagi ditutup. 

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Meskipun tetap saja masih ada orang yang berkeliaran di jalan. Di Sidoarjo, di dekat rumahku, jalanan cukup sepi dari aktivitas orang.

Sampai bulan September 2020, sekolah-sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pembelajaran dilakukan secara daring. Beberapa perkantoran sempat dilakukan Work From Home (WFH) meski pada akhirnya pekerjaan tetap dilakukan di kantor (WFO).

4. Cafe, Mall, ditutup

Pemerintah mengeluarkan edaran agar aktifitas bukan primer ditutup, seperti Mall dan Cafe. Kebayang berapa kerugian yang didapat oleh owner dan vendor. Tidak ada lagi orang yang 

5. Banyak orang kehilangan pekerjaan

Akibat aktivitas di luar rumah berkurang, banyak pengusaha mengalami kerugian. Dan pastinya banyak karyawan yang akhirnya kehilangan pekerjaan.

6. Kewajiban Memakai Masker dan Cuci Tangan

Pada akhirnya, masker menjadi barang yang dicari-cari karena himbauan pemerintah untuk memakai masker saat keluar rumah. Karena virus corona akan cepat berpindah melalui kontak secara langsung.

Begitu juga dengan hand sanitizer yang sempat langka karena banyak orang yang memborongnya karena dianggap Corona akan mati jika terkena alkohol yang ada di dalam kandungan hand sanitizer. Sebagai gantinya, sabun menjadi alternatif bila tidak memiliki hand sanitizer. 

Jadi penggunaan masker dan cuci tangan saat sampai rumah seperti menjadi gaya hidup saat ini. Alias menjadi kebiasaan. Bahkan orang yang baru sampai di rumah setelah melakukan keperluan di luar rumah disarankan untuk cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian.



Bayangkan,  bagaimana omset usaha masker, sabun dan hand sanitizer di masa pandemi? seolah berkah, pendapatan mereka menjadi meningkat. 

7. Sering di rumah, suntuk melanda

Kupikir akan banyak orang stres selama pandemi ini. Aku membayangkan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tapi harus tetap menghidupi keluarganya, apalagi sekolah daring yang membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Aku saja yang memang selalu di rumah, di masa pandemi ini, aku tidak kemana-mana. Sampai akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan New Normal, aku masih merasa tidak bisa dengan leluasa pergi kemana-mana. Meskipun aku tetap berkunjung ke rumah eyangnya anak-anak sebelum itu dan pergi ke pantai satu kali. Itu juga tiap ngelihat orang bawaannya serem aja.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama masa pandemi ini. 


Read More

 “Hutan ini yang juga menghidupi saya. Hutan adalah ibu yang memberikan nafas panjang bagi banyak orang. Dengan menjaga dan melestarikan kehidupan yang ada di dalamnya, kampung saya jadi dikenal dan didatangi banyak orang. Saya dan masyarakat di sini akan berjuang sekuat tenaga mempertahankan hutan kami menjaga warna-warni yang telah diberikan kepada kami. Karena kini saya paham, menjaga alam dengan baik, maka alam pun akan memberikan kebaikan juga untuk saya.”


Kalimat yang diucapkan oleh Obaja Kalami, seorang pemandu wisata ekowisata burung surga di Malagufuk, Papua, dalam film pendek dari EcoNusa yang berjudul Malagufuk atau Hutan Kami Hidup Kami, cukup membuka mata saya. 



Tak hanya keindahan dan kekayaan Papua yang sudah terkenal seluruh nusantara bahkan dunia, tetapi juga usaha masyarakat yang besar dalam upaya menjaga “ibu” a.k.a hutan untuk menghidupi manusia di dunia. Betapa seharusnya saya berterima kasih pada mereka.


Ya. Menjaga “Ibu” untuk menghidupi masyarakat di dunia. Kalimat itu membuat saya tersadar setelah mengikuti Virtual Blogger Gathering via Zoom tanggal 7 Agustus 2020 silam.


Hutan adalah "nafas" mereka dan "nafas" kita. Sebuah kiasan yang menunjukkan betapa besar peran hutan dalam kelangsungan hidup makhluk hidup. Tak hanya masyarakat lokal dan penduduk dunia tapi juga flora dan fauna yang tumbuh di dalamnya.


Beruntung Obaja Kalami dan masyarakat suku Moi lainnya menjaga dan melestarikan hutan sehingga banyak satwa langka yang masih hidup, seperti Burung Cenderawasih atau bird-of-paradise. Hingga akhirnya hutan tempat tinggalnya tersebut dikembangkan menjadi ekowisata. Banyak wisatawan yang datang ke Malagufuk untuk melihat satwa langka Cenderawasih (birdwatching). Dampaknya, masyarakat lokal dapat melangsungkan hidup berkat pengembangan ekowisata.


Bayangkan apa yang terjadi jika hutan-hutan tersebut ditebang dan satwa langka punah? Selain penyumbang efek rumah kaca dan menyebabkan pemanasan global, kelangsungan hidup masyarakat suku juga akan menghilang.


Menurut Pak Bustar Maitar, seorang CEO EcoNusa dalam Virtual Blogger Gathering tersebut, Papua itu unik. Tak hanya flora dan faunanya yang langka, tetapi juga budayanya. Di hutan Papua tidak memiliki hewan besar (Gajah, Harimau, Orang Utan) seperti di Sumatera dan Kalimantan. Di hutan Papua, fauna khas adalah jenis burung Cenderawasih dan Kasuari.


Pak Bustar menyampaikan materi tentang Papua Destinasi Hijau

Alasan Papua Menjadi Destinasi Hijau


Saat ini permasalahan hutan-hutan di Indonesia adalah sudah mulai mengalami degradasi hutan. Banyak hutan yang sudah dialihfungsi menjadi perkebunan sawit, dan guna lahan lainnya. Dan ini mengancam kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Jangan sampai hutan Papua sebagai The Last Frontier mengalami hal serupa. Hutan hilang, flora fauna hilang dan mengancam kehidupan masyarakat suku yang hidupnya sangat tergantung dengan alam.


Itulah mengapa Papua didorong menjadi destinasi hijau sebagai bentuk pengembangan ekowisata. Makna Papua destinasi hijau ini hanyalah sebuah kiasan. Selain memang berbasis pada alam, destinasi hijau ini dikelola oleh masyarakat adat sendiri dengan cara yang ramah lingkungan. Adat dan budaya masyarakat Papua juga masih kental.


"Orang Papua menganggap tanah, hutan, alam, laut adalah ibu." Hutan Papua tidak saja memberi makan bagi masyarakatnya, tapi juga memberikan udara segar bagi orang lokal dan pengunjung. Oleh karena itu, jika dirusak maka sama saja merusak hidup orang Papua.


Baca Juga : "The Lost Paradise" Tanah Papua


Ekowisata Papua Yang Recommended Untuk Dikunjungi


Jika ada rezeki berwisata ke Papua, Pak Bustar menyarankan untuk mengunjungi SEMUA tempat di Papua! Wow. Saking indahnya dan setiap tempat punya ciri khas yang berbeda ya. Pasti mau dong bisa keliling Papua. Namun, jika tidak sempat mengunjungi semua tempat ekowisata di Papua, ada nih tempat ekowisata yang direkomendasikan untuk dikunjungi di Papua yang saya rangkum dari narasumbet adalah:

1. Danau sentani

Danau ini sangat indah. Jika naik pesawat dari Jakarta berangkat malam hari, maka akan tiba di Papua pagi hari. Saat itulah kesempatan untuk melihat Danau Sentani dari ketinggian.

Danau Sentani dari dalam pesawat (www.mytrip.co)


2. Tempat melihat Burung Cenderawasih tidak jauh dari kota Sorong.

Sayangnya wilayah tersebut overlap dengan rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit dimana tempat itu adalah tempat tinggal burung Cendrawasih. Saya membayangkan kalau burung Cenderawasih dan endemik khas Papua lainnya hilang dari tanah Papua.


Apa lagi flora dan fauna yang menjadi kekhasan Papua? Papua tidak akan punya kekhasan itu?


Apa kata anak cucu saat menanyakan, "apa hewan khas Papua?"


Kita mau jawab apa?


"Hmm... Burung Cenderawasih, tapi itu dulu sebelum hutan ditebang dan dijadikan ini dan 

itu."

Apa kita masih mengatakan itu dengan bangga? 

 

The-Bird-of-Paradise atau Burung Cenderawasih

3. Pegunungan Arfak yang memiliki banyak satwa endemik Papua. 

Wisatawan bisa melihat aktivitas The Bird of Ballerina atau burung Cenderawasih. Kenapa Burung Cenderawasih? Karena burung ini sangat pintar dan memiliki suara yang merdu. Kok bisa pintat? Ya. Karena burung ini pandai membuat "rumah". Jika sudah berhasil membuat sarang yang indah, dia akan menari untuk mengundang jantan datang ke rumahnya. Keren ya!


4. Raja Ampat yang ada di Papua Barat ini paling seksi ekowisatanya.

Siapa yang tidak kenal dengan keindahan Raja Ampat ini. Deretan pulau karang yang menyebar dengan gradasi warna biru laut dan hijau tosca menambah cantiknya pulau ini.

Keindahan Raja Ampat di Papua Barat (Dok. Agoda)


5. Teluk Cenderawasih di Kabupaten Teluk Wondama

Keindahan dan kekayaan alam Teluk Cenderawasih membuat tempat ini menjadi obyek wisata yang layak dikunjungi. Banyak hal yang bisa dilakukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini seperti Diving, Ski air, memancing, menikmati pantai, sumber air panas, surfing, pengamatan burung dan rusa, dan lain sebagainya.

Keindahan Pulau di Teluk Cenderawasih


6. Ekowisata di Kabupaten Tambrauw

Kabupaten Tambrauw juga memiliki banyak sekali tempat ekowisata yang bisa dikunjungi seperti pantai, air terjun, birdwatching, keindahan padang hijau di bukit, dan pemandian air panas.

Pantai di Kabupaten Tambrauw  (wisato.id)


7. Air Terjun di Fakfak

 Air terjun menjadi salah satu destinasi hijau di Papua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Di Fakfak, banyak air terjun yang indah dan seperti memiliki tangga. Airnya sangat jernih dan suasananya juga tenang.


Air Terjun di Kali Ubadari

Sebenarnya banyak sekali tempat ekowisata yang layak untuk dikunjungi. Semua ada di Papua, dari air terjun, lembah, bukit, pegunungan, hutan, melihat satwa, laut, dan lain sebagainya.


Perilaku Pengunjung Yang Memperhatikan Kelestarian Lingkungan

Pengunjung atau wisatawan yang datang ke Papua dan ingin menikmati destinasi hijau harus mempertimbangkan perilaku-perilaku yang ramah lingkungan. Mereka harus ikut bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan bersama masyarakat adat yang ada di dalamnya. Jadi, destinasi hijau ini tidak hanya hijau saja obyek wisatanya tetapi juga perilakunya.


Beberapa perilaku pengunjung yang ramah lingkungan menurut beberapa narasumber dalm Virtual Blogger Gathering bersama EcoNusa,


1. traveler harus jaga kebersihan. Jangan bawa sampah dari luar agar Raja Ampat tetap indah.


2. pengunjung tidak menginjak karang sehingga karang tetap terjaga.


3. Tidak berperilaku yang menakuti burung di kampung Arfak sehingga burung tetap menari.


4. Adanya Covid-19 memaksakan pengunjung pada hal-hal baru yang harus diikuti, seperti mematuhi persyaratan kesehatan yang ditetapkan.


Dengan perilaku tersebut, jika hutan tetap terjaga, destinasi hijau ini bisa dinikmati semua orang di Indonesia juga dunia tanpa melupakan kelestarian alam, flora dan faunanya. Tentunya, jika destinasi hijau dalam pengembangan ekowisata ini terus berjalan seiring dengan kelestarian alam, maka dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat lokal.


Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pengunjung untuk mengembangkan ekonomi masyarakat lokal adalah memilih homestay yang didirikan masyarakat lokal sebagai tempat penginapan. Beberapa masyarakat suku di Papua memilih membuka usaha dengan membangun homestay bagi wisatawan.

Kenapa homestay?

1. Homestay yang dibangun ramah lingkungan seperti yang dikatakan oleh Pak Christian, seorang kepala asosiasi Homestay Papua. Bahan yang digunakan tidak samai merusak lingkungan.


2. pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat suku Papua.


3. Pengunjung dapat merasakan makanan khas yang dibuat langsung oleh orang lokal.


4. Pengunjung dapat merasa lebih dekat dengan suasana alam Papua.


Sampai saat ini, wisatawan yang datang ke Papua, termasuk Papua Barat sudah ada yang memanfaatkan Homestay sebagai tempat menginap. Meskipun begitu, pengembangan homestay bagi masyarakat lokal tak terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pemilik homestay.


Tantangan Mengembangkan Homestay

Menurut Pak Christian, tantangan pengelolaan homestay di Papua, khususnya Raja Ampat, Papua Barat, adalah :

1. Kurangnya pemahaman bahasa inggris bagi masyarakat lokal. 

Seperti dalam video yang saya tonton dalam Youtube Econusa. 

Beberapa penduduk mengatakan jika mereka tidak bisa bahasa Inggris, mereka harus menyewa Guide yang akan mengeluarkan uang banyak. Jadi, sebagian kecil mengikuti les bahasa inggris sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan pengunjung mancanegara. Dengan begitu pengeluaran akan terbatas.


Menurut saya, pemerintah daerah harusnya bisa menjadi pihak yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa inggris para pengelola homestay, misalnya dengan mengadakan pelatihan bahasa inggris khusus pengelola homestay yang dibiayai dari APBN atau APBD.

2. Bersaing dengan banyak resort yang harganya selalu turun. 

Bayangkan homestay yang sudah murah masih harus bersaing dengan resort yang juga menurunkan harganya. Otomatis, pengunjung akan memilih resort dengan fasilitas yang lebih lengkap. Padahal resort punya kelas tersendiri, harga dan fasilitas tersendiri. Pelayanannya pun tidak sama karena sesuai dengan harganya. Kalau sudah begitu, ekonomi masyarakat lokal akan menurun.


Pendapat saya tentang poin ini adalah seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan dalam menentukan batas minimal harga dan fasilitas yang harus ditetapkan pada resort sehingga secara tidak langsung melindungi kehidupan masyarakat lokal yang memiliki usaha homestay.

3. Kurangnya fasilitas dive center dan alat snorkeling yang berpengaruh pada wisatawan yang akan datang. 

Biasanya homestay yang memiliki dive center akan banyak didatangi oleh wisatawan. Namun, tidak semua homestay memiliki dive center karena tidak banyak orang yang memiliki pemahaman tentang dive center.


Lagi-lagi ini adalah saran saya bahwa pemerintah daerah harus menjadi kail yang menangkap umpan karena memang Pemerintah Daerah ikut bertanggung jawab dalam pengembangan ekowisata ini. Kebijakan yang dilakukan bisa dengan mengadakan pelatihan dive center bagi pengelola homestay atau masyarakat lokal yang berada dekat di homestay, dan menyediakan sarada penunjang dasar untuk kegiatan diving. Memang, pada akhirnya pemerintah daerah harus mengajukan anggaran ke pusat. Namun, memang begitulah upaya dalam pengembangan destinasi hijau berbasis ekowisata dan pengembangan masyarakat lokal Papua.


Harapannya, dengan memfasilitasi masyarakat lokal untuk pengembangan homestay, maka banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang datang berkunjung. Dampaknya, kesejahteraan masyarakat meningkat, pengembangan ekowisata juga berkembang bahkan terkenal di dunia, dan pastinya pendapatan daerah (PDB) juga akan meningkat.


Bagaimana agar pengembangan ekowisata Papua bisa mendunia?

Menurut Kak Alfa Ahoren, seorang anak muda Papua, mengatakan cara yang dilakukan agar Papua tetap hijau dan mendunia adalah :


1. Menjaga ekosistem keanekaragaman hayati agar tetap ada sampai anak cucu bisa melihat cendrawasih, anggrek, dan ekosistem endemic.


2. Menjaga tanah papua agar tetap lestari. Papua sangat kaya dengan flora dan fauna. Hutan papua sebagai rumah bagi flora dan fauna. Kalau hutan ditebang maka kita tidak melihat hutan yang indah, ekosistem flora dan fauna yang khas di mata dunia. Tak hanya flora dan fauna, tapi juga orang Papua. Orang papua hidup berdampingan dengan alam. Apa yang dilakukan masyarakat Papua sangat tergantung dengan alam. Jika alam hancur, maka penduduk juga akan 'hilang'. Tempat tinggalnya juga akan hilang.


3. Tidak menebang pohon sembarangan


4. Mencintai keanekaragaman hayati


5. Tidak merusak lingkungan saat berkunjung. Pengunjung harus menghargai tradisi budaya setempat dan ekosistemnya. Misalnya saat ke pgunungan Arfak, bagaimana kehadiran pengunjung tidak mengusik burung cenderawasih.


6. Mulai dari diri sendiri untuk menunjukkan empati pada lingkungan.


Dan paling penting dan paling menentukan adalah kebijakan pemerintah daerah dan nasional untuk tetap menjaga kawasan hutan Papua dan tidak memenuhi kepentingan tertentu yang mengkonversi hutan menjadi perkebunan seperti mengubah tempat tinggal burung Cenderawasih menjadi kepala sawit.


Jika hutan terus berkurang maka tak mungkin Papua menjadi destinasi hijau yang mendunia.

****


Betapa senangnya karena saya mendapat kesempatan mengikuti virtual blogger gathering bersama EcoNusa dan Blogger Perempuan Network tanggal 7 Agustus 2020 lalu. Gathering ini diisi oleh narasumber :


1. Bustar Maitar, CEO EcoNusa.

2. Christian Sauyai, Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat

3. Alfa Ahoren, perwakilan anak muda Papua.


Acara ini dipandu oleh Mbak Jeni Karay, seorang Papua influencer Social Media.

 

Dari virtual blogger gathering tersebut, saya memperoleh banyak sekali pengetahuan tentang Papua Destinasi Hijau, Ekowisata di Papua, keunikan hewan endemik Papua dan perilaku wisatawan saat berkunjung ke Papua yang menjaga kelestarian lingkungan.


Tak hanya itu, saya mendapat hampers berisi totebag, notebook dan kopi Wamena.


Kalian tahu tidak dengan kopi Wamena? Kopi wamena tumbuh di ketinggian 1600 dpl, bisa tumbuh subur tanpa menggunakan bubuk kimia atau kopi organic. Proses penanaman kopi Wamena dengan menggunakan alat tradisional tanpa alat modern. Rasanya pun berbeda dan digemari masyarakat. Di Papua, daerah penghasil kopi terbaik adalah di Nabire dan Wamena.


Saya juga dapat resep untuk mengolah kopi tersebut. Saya mencoba membuat Oatmeal Latte karena dasarnya saya memang suka susu dan oatmeal. Jadi perpaduan ini cocok bagi kalian yang tidak begitu menyukai kopi bercita rasa kopi kental tapi suka dengan susu dan oatmeal.


View this post on Instagram

Alhamdulillah saya sempat merasakan kopi asli Wamena dimana salah satu kopi terbaik di Papua. Yang saya olah menjadi oatmeal latte. . Kopi ini ditanam oleh masyarakat lokal Papua dengan cara tradisional. . Papua saat ini memang menerapkan konsep #papuadestinasihijau yang merupakan konsep pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. . Selain itu, keberadaan homestay sebagai salah satu pendukung sektor pariwisata menjadi tantangan bagi masyarakat lokal. . Homestay yang dibangun masyarakat lokal harus bersaing harga dengan resort di Papua Barat padahal jelas kelas resort dan homestay sudah berbeda. Namun, resort berani menurunkan harga yang tidak jauh berbeda dengan resort. Pada akhirnya, tingkat preferensi pengunjung terhadap homestay menjadi rendah. . Semua itu dibahas saat saya mengikuti blogger gathering via Zoom yang diadakan oleh @econusa_id dan @bloggerperempuan . Teman2 juga bisa menonton rekamannya gathering ini di Youtube @econusa_id . #econusaxbpn

A post shared by Lita Lestianti (@ly_lestem) on



Yuk, dapatkan informasi sangat menarik mengenai Papua melalui media sosialnya!

Instagram EcoNusa : https://www.instagram.com/econusa_id/

Youtube EcoNusa : https://www.youtube.com/c/HutanPapuaTv/videos

Website EcoNusa : https://www.econusa.id/

Facebook EcoNusa : https://www.facebook.com/econusa.id/



Tambahan Referensi :

Read More

Mendengar kata New Normal, hal yang pertama terlintas di pikiran saya adalah: Yakinkah dengan kondisi jumlah yang terkena Covid-19 masih banyak ini diterapkan New Normal?

Awalnya saya belum bisa menerima kebijakan baru tersebut. Ketika PSBB diberlakukan, saya dan keluarga harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Masker adalah barang wajib yang harus kami pakai. Mencuci tangan dan kaki merupakan hal yang paling sering kami lakukan setelah bepergian. Mudik Sidoarjo-Malang menjadi sesuatu hal yang kami tunda beberapa waktu.

Namun, kebiasaan baru yang rutin kami lakukan dan sangat mempengaruhi kesehatan kami semenjak PSBB adalah minum ramuan jamu empon-empon.

RAMUAN HERBAL KAYA MANFAAT

Setelah ramai diberitakan bahwa ramuan jamu empon-empon bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terkena penyakit, termasuk penyakit Covid-19, kami pun rutin mengkonsumsinya.

Memang sih belum ada penelitian yang mengatakan ramuan itu ampuh untuk mencegah penyakit Covid-19, tapi kami percaya bahwa bahan alam yang segar dan kaya manfaat itu bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

Tanaman rimpang ini berkhasiat sebagai immunomodulator pada beberapa antibodi spesifik dan meningkatkan kemampuan sel fagosit untuk menelan bakteri, virus dan zat antigen. Kemampuannya ini lemah sehingga perlu senyawa immunomodulator.

Zat kimia yang terdapat dalam jahe, kunyit, dan serai ini dipercaya dapat melemahkan virus pada saluran pernapasan. Banyak lagi manfaat lainnya pada tanaman rimpang tersebut apalagi ditambah madu dan jeruk nipis yang segar.




Seperti ada dorongan untuk mengambil khasiat dari ramuan jamu empon-empon tersebut, saya memutuskan untuk rutin minum jamu terebut. Hanya dengan sepuluh ribu saya sudah bisa dapat bahan itu cukup banyak.

Di rumah, saya pisahkan sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya yang saya biasa saya beli ke dalam kulkas. Pemisahan ini sebenarnya bertujuan agar bahan makanan tahan lama dan tetap segar. Pemisahan tersebut juga saya lakukan pada tanaman herbal atau bahan empon-empon yang saya beli. Tambahan, ada perlakuan khusus saat menyimpan tanaman herbal tersebut.

PERLAKUAN KHUSUS SAAT PENYIMPANAN TANAMAN HERBAL

Sebelum saya mengkonsumsi empon-empon, setiap saya menyimpan bumbu dapur (kunyit, jahe, kencur, kunci, daun salam, daun jeruk, serai, dll) di kulkas selalu tidak tahan lama karena basah dan lembab. Dan itu menyebabkan beberapa bumbu dapur busuk, tidak segar, bau tidak sedap dan tidak bisa dikonsumsi. Dan saya berpikir bagaimana agar saya tetap rutin minum jamu empon-empon tanpa repot-repot setiap akan memasaknya. Maklum, dua balita di rumah sudah membuat saya tidak menjalani gaya hidup sehat. Jadinya, saya ingin tetap bisa menjalani gaya hidup sehat dengan minum empon-empon dan tidak merepotkan saya.

Saya ingin setiap akan merebus saya tinggal mengambil bahan empon-empon dan memasukkannya dalam rebusan air tanpa repot merajangnya dulu. Nah, saya pun punya ide.  Jadi, saya melakukan beberapa tahap agar tanaman herbal bisa tahan lama dan bisa layak dikonsumsi, seperti:

1. Membersihkan kulitnya

Biasanya kunyit dan jahe yang dari pasar itu sudah bersih, tapi tetap saya bersihkan dulu kulitnya. Saya bilas dulu dengan air. Tidak perlu sampai bersih hanya mengerok kulitnya dan menghilangkan tanah-tanah yang menempel pada kulitnya.

2. Memotong kecil-kecil

Setelah bersih kulitnya, saya memotongnya tipis-tipis. Tujuannya agar saat akan merebus ramuan ini, saya tinggal mengambil beberapa bagian saja. Tidak perlu repot saat akan merebusnya. Lebih praktis karena sudah dipotong-potong.

 
3. Melakukan pengeringan

Bahan empon-empon yang sudah dibersihkan dengan air dan dipotong kecil-kecil, memang alangkah baiknya jika dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan bahan herbal ini perlu perlakuan khusus agar tidak hilang zat aktifnya namun tetap tahan lama.

Beberapa jenis pengeringan bahan herbal adalah pengeringan udara, pengeringan sinar matahari, pengeringan oven, dehidrator dan pengeringan kulkas. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya.

Pengeringan udara. Bahan herbal hanya perlu dikeringkan di tempat terbuka tanpa terkena sinar matahari dan tidak terkena air lagi. Namun, pengeringan udara membutuhkan waktu berhari-hari.

Pengeringan matahari. Cara ini paling populer digunakan. Namun, jangan sampai terpapar terlalu lama karena akan menyebabkan nutrisi di dalamnya akan hilang.

Pengeringan oven. Untuk metode ini memang perlu pengaturan suhu yang bisa diatur pada oven otomatis. Suhu yang digunakan suhu terendah. Sementara untuk oven tangkring (otang) yang hanya mengandalkan api kompor, maka pengaturan suhu dengan menyalakan api yang sedang cenderung rendah. Cara ini merupakan cara paling cepat di antara cara yang lain meski zat aktif mengalami denaturasi.

Dehidrator. Pengeringan dengan dehidrator ini menyebabkan tanaman herbal bisa tahan selama 1-2 tahun. Biaya penyediaan alat ini cukup besar sehingga cocok untuk usaha jamu herbal.

Pengeringan di kulkas. Nah, pengeringan yang paling ringkas dan tidak ribet. Tinggal masukkan saja ke dalam kulkas dan tinggal diambil saat akan dipakai. Namun, tentu saja harus dipisah di sebuah wadah.

4. Memisahkan di tempat berbeda

Setelah dikeringkan, saya pisahkan setiap jenis tanaman herbal tersebut pada tempat berbeda. Kontak dengan potongan herbal lain juga membuat kondisi lembab dan membuat jamur bertumbuh cepat. Pemisahan ini bertujuan agar ketika satu bagian berjamur maka tidak mempengaruhi yang lain.

5. Memasukkan di dalam kulkas

Saya menggunakan jenis pengeringan udara dan kulkas. Jadi setelah dipisahkan dalam wadah berbeda, saya masukkan ke dalam kulkas sehingga tanaman herbal bisa tahan lama.


Tanaman Herbal untuk Empon-empon (Dok.pri)


JANGAN MEREBUS DI PANCI ALUMUNIUM!

Selanjutnya adalah merebus tanaman herbal. Merebus adalah cara mengolah tanaman herbal, seperti kunyit, jahe dan  serai, agar bakteri hilang dan membuat zat aktifnya keluar ketika bercampur dengan air panas.

Biasanya saya mengambil segenggam kunyit, jahe dan serai. Untuk jumlah ini sesuai selera saja setelah uji coba beberapa kali perebusan. Biasanya dalam segenggam itu sudah termasuk serai, kunyit dan jahe. Lumayan tidak terlalu pekat.

Setelah itu saya rebus di panci ukuran kecil, biasanya untuk buat mie. Merebusnya pun harus menggunakan wadah khusus.

Untuk merebusnya, panci yang digunakan TIDAK BOLEH berbahan besi dan alumunium. Merebus bahan herbal harus menggunakan panci berbahan stainless steel, gerabah, dan keramik.

Panci Stainless Steel (sumber : Alibaba.com)


Tujuannya agar kontaminan seperti zat besi dan alumunium tidak mencemari ramuan minuman yang dibuat. Jika kontaminan itu masuk ke dalam minuman maka akan membahayakan bagi tubuh.

Setelah direbus, aku memberinya madu agak banyak sampai kerasa manisnya dan perasan jeruk nipis. Hasilnya dari oranye pekat berubah jadi oranye terang karena jeruk nipis.

TAHAN BERAPA LAMA?

Menaruh bahan empon-empon di dalam kulkas sebenarnya tahan sekitar 2 minggu. Tapi karena saya beli hanya sepuluh ribu, dalam 10 hari bahan sudah habis untuk konsumsi 3 gelas ukuran masing-masing 350an ml.

Jadi, biasanya saya harus ke pasar lagi untuk beli bahan herbal itu sekaligus sayur-sayuran.

BELI EMPON-EMPON SAAT NEW NORMAL?

Ketika PSBB, saya terpaksa harus ke pasar untuk belanja bahan herbal dan sayuran. Sebenarnya mau ke pasar saja mikir berkali lipat. Jadi saya datang di jam yang sepi dari pengunjung. Pagi-pagi sekalian atau siang jam 10an. Kekurangannya sih akan kehabisan banyak sayur. Tapi kalau rezeki juga pasti masih kebagian sayurnya, hehe.

Begitu juga saat New Normal. Bukan berarti saya bisa bebas berkeliaran. Saya juga tetap pergi ke pasar untuk beli empon-empon sekitar seminggu atau dua minggu sekali untuk mengurangi interaksi dengan orang luar.

BELI EMPON-EMPON SEKALIAN BANYAK?

Sebenarnya kenapa saya tidak beli sekalian banyak saja? Saya pernah menyimpan tanaman herbal yang sudah dipotong-potong itu banyak sekali. Waktu itu saya cuma melakukan pengeringan kulkas. 

Sekitar hampir 1,5 bulan bagian jahe, kunyit dan serai mulai muncul jamur. Padahal masih sisa banyak. Pada akhirnya ada bagian yang harus dibuang. Kan sayang banget. Makanya, setelah itu, saya hanya menyimpan secukupnya untuk 10 harian.

Agak sulit memang beradaptasi dengan kondisi begini. Dilema, karena inginnya menyiapkan makanan yang selalu fresh tapi juga tidak bisa setiap hari pergi ke pasar.

Apalagi bagi para Mom yang bekerja di daerah perkotaan dimana banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, pasti akan sangat merepotkan jika harus belanja setiap hari.

KEMAMPUAN ISTIMEWA SMART SENSOR REFRIGERATOR MODENA 

Mom nggak perlu khawatir karena sekarang ada teknologi yang selalu membuat sayuran, buah-buahan juga tanaman herbal bisa tahan lama. Teknologi Smart Sensor pada kulkas Modena menjawab kekhawatiran para Mom yang memiliki mobilitas tinggi dan kesibukan pekerjaan.

Sejak tahun 2019, Modena mengeluarkan kulkas teknologi terbaru dengan Smart Sensor yang menunjang gaya hidup sehat. Sensor pintar ini akan mengintegrasikan segala fitur yang ada sehingga bisa bekerja secara optimal. Press Release Smart Sensor Modena bisa di baca di website Modena ya.

KEUNGGULAN SMART SENSOR REFRIGERATOR MODENA


Beberapa keunggulan Smart Sensor Refrigerator Modena ad3alah:

SENSOR PINTAR, SUHU PUN STABIL

Dua anak saya suka sekali buka tutup kulkas dan sering saya beritahu kalau melakukan itu bisa membuat kulkas tidak dingin. Kalau sudah tidak dingin, bahan makanan, sayuran, buah-buahan, dan empon-empon juga akan cepat busuk. Tidak bisa dikonsumsi. Fluktuasi temperatur adalah tantangan bagi kulkas mana pun. Namun, pada kulkas Smart Sensor Modena ini mampu menjaga kestabilan suhu lemari es akibat dari intensitas kegiatan membuka dan menutup pintu.

TERJAGA KESEGARANNYA BERKAT FRESH KEEPER 



Beberapa kali saya mendapati sayuran saya yang belum sempat saya konsumsi sudah tidak segar alias layu. Pada akhirnya beberapa bagian sayur saya buang sehingga hanya sedikit sekali yang bisa dikonsumsi. Begitu juga, saat saya mendapati empon-empon saya sudah banyak jamurnya. Saya harus memisahkan jahe, kunyit, serai yang belum ada jamurnya kemudian saya jemur sebentar. Sedangkan empon-empon yang sudah rusak karena jamur saya buang. Maka, perlu perlakuan khusus untuk menyimpan bahan yang mudah busuk dan layu.

Kulkas Modena sensor pintar ini sudah memiliki tempat penyimpanan khusus atau fresh keeper yang berupa laci khusus buah dan sayur dengan humidity control yang bisa diatur kelembabannya. Karena kelembaban ini yang membuat makanan, sayuran, buah, tanaman herbal tidak segar lagi dan cepat mengalami pembusukan. 

Sumber : Youtube Modena Indonesia


Berkat fitur itulah, sayur, buah, tanaman herbal, dan makanan lainnya bisa tetap segar seperti hari pertama sesuai dengan konsepnya Fresh As Day One. Menyenangkan sekali, bukan?

AROMA TAK SEDAP HILANG DAN HIGIENIS 

Di masa pandemi memang segalanya harus dijaga kebersihan dan ke-higienis-annya, termasuk sayur, buah dan tanaman herbal. Saya pernah mengalami kulkas yang aromanya tidak sedap. Terpaksa saya harus membersihkan isi kulkas dan membuang penyebab aroma tidak sedap. Saya tidak mau bakteri bermunculan dan merusak bahan makanan lainnya. 

Beda lagi dengan kulkas yang memiliki fitur LTC Sterilization. Teknologi canggih tersebut menjamin bahan makanan, buah, sayur, empon-empon bebas bakteri dan menetralisir bau tidak sedap.  

Sumber : Youtube Modena Indonesia

KONSUMSI ENERGI RENDAH

Yang saya khawatirkan dari penggunaan kulkas adalah jumlah watt-nya yang besar. Pastinya berdampak pada pengeluaran listrik tiap bulannya padahal kebutuhan saya lainnya juga besar. Mungkin karena kulkasnya belum menggunakan teknologi inverter. 

Kulkas Smart Sensor ini sudah menggunakan Intelligent Compressor dengan teknologi inverter. Intelligent Compressor ini yang menjadi pondasi performa lemari es sensor pintar ini. Kompresor inverter memiliki daya tahan lebih prima dibanding non-inverter. 

Berkat teknologi tersebut, konsumsi energi menurun lebih dari 20 persen dibanding lemari konvensional. Jadi nggak perlu mengeluh lagi karena listrik membengkak.



Intelligent Compressor Inverter (Youtube Modena Indonesia)

LED LIGHT YANG OPTIMAL, HEMAT DAN TAHAN LAMA

Suatu ketika anak saya suka sekali memainkan tombol lampu pada kulkas. Saya khawatir jika nanti lampu kulkas rusak dan saya kesulitan untuk melihat bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Hal itu tentu tidak terjadi pada kulkas smart sensor yang menggunakan lampu LED sehingga secara otomatis menyala saat pintu kulkas dibuka. Pencahayaannya pun optimal. Kita tidak kesulitan mencari bahan makanan meski ukuran kulkasnya cukup tinggi. Lampu LED juga memberikan kesan modern. Penggunaan listrik LED Light pada kulkas smart sensor pun rendah dan tahan lama sehingga hemat biaya listrik dan perawatan.


TAK KHAWATIR MUDAH BUSUK BERKAT MULTIFLOW COOLING SYSTEM

Frekuensi saya pergi ke pasar cukup jarang sehingga saya harus menyetok sayur, buah, tanaman herbal untuk beberapa hari. Hal itu membuat kulkas saya penuh sampai di setiap sudutnya. Kulkas yang penuh itu tentu membuat proses pendinginan tidak tersebar merata. Alhasil, beberapa buah dan sayur cepat mengalami pembusukan.

Beda lagi dengan kulkas smart sensor Modena. Meski kulkas isinya penuh, dan menaruh di sudut manapun, suhu dinginnya tetap sama dan tersebar merata di kompartemen melalui ventilasi udsra. Buah, sayur, dan tanaman herbal tetap segar dan zat aktifnya terjaga. Apalagi tidak ada sekat di kompartemennya sehingga kita bisa leluasa menaruh bahan makanan di dalam kulkas.

Sumber : Youtube Modena Indonesia
Dengan kulkas sensor pintar Modena, maka sayur, buah dan tanaman herbal lainnya bisa bertahan sampai 3 minggu lamanya.

KENDALI LAYAR SENTUH YANG MODERN DAN MUDAH DIOPERASIKAN

Pernah nggak mengalami kesulitan saat ingin menyetel suhu dingin melalui panel yang ada di bagian dalam kulkas? Apalagi pas kulkas penuh. Terpaksa, bahan makanan yang di dalam harus dikeluarkan dulu. Kemudian dimasukkan lagi. 

Kalau kulkas Smart Sensor Modena memang didesain agar kita tidak perlu merogoh tangan kita masuk ke dalam kulkas melewati bahan makanan yang penuh sesak. Kendali layar sentuhnya juga modern dan mudah dioperasikan. Jadi nggak perlu repot saat menyetel suhunya. Tinggal sentuh saja dengan lembut panelnya, maka kita bisa menyetel suhunya.

Oiya, hebatnya panel kendali kulkas sensor pintar ini punya banyak kelebihan. Dengan teknologi tercanggih, kita bisa mengatur suhu pada freezer dan refrigerator dengan cara menekan ikon Fridge dan Freezer kemudian menekan kembali sampai angka suhunya berubah pada angka yang kita inginkan.

Ikon Lock ini berfungsi agar tidak ada yang mengubah suhunya, seperti anak-anak yang suka menekan-nekan sesuatu yang baru. Menyetel Mode juga bisa membuat hemat listrik tapi juga membuat makanan tetap terjaga kesegarannya. Kita bisa mendinginkan dan membekukan makanan di Fridge tanpa bingung.


Sumber : Youtube Modena Indonesia

FROST?? NO WAY!!!

Saya mengira kemunculan bunga es (frost) adalah hal biasa setelah penggunaan kulkas beberapa bulan. Nyatanya, kehadiran bunga es ini bisa menyebabkan bahan makanan cepat membusuk. Bunga es itu tidak akan muncul pada kulkas Smart Sensor Modena karena proses defrost bekerja otomatis agar ruang freezer bebas bunga es. Suhu pendinginan jadi optimal dan stabil. Keren ya!

DESAIN PINTU YANG ELEGAN

Biasanya setelah beberapa bulan kemudian, bagian pintu kulkas sering kotor. Entah karena tumpahan air, minyak, sirup, atau susu. Pintu kulkas Smart sensor Modena ini berbahan stainless steel sehingga lebih mudah dibersihkan. Perawatannya pun gampang hanya menggunakan kanebo untuk membersihkan bagian luar kulkas. Selain itu, pilihan warnanya membuat tampilannya terlihat elegan.

TEMPERED GLASS SHELVES

Beberapa kali saya harus memindahkan penyekat agar beberapa bahan makanan bisa muat masuk ke dalam kulkas. Penyekat kaca pada kulkas smart sensor ini juga memudahkan kita mengatur posisi saat akan meletakkan bahan makanan karena mudah dilepas dan dipindahkan. Tidak perlu khawatir mudah pecah akibat beban yang banyak, penyekat kaca pada kulkas smart sensor Modena ini pastinya dibuat dengan cukup kuat.

HOLIDAY POWER SAVING 

Ketika PSBB dan New Normal, memang saya lebih sering berada di rumah sehingga fitur ini sebenarnya belum digunakan. Tapi ketika nanti semua berjalan seperti biasa dan pemilik rumah harus pergi ke luar kota, maka fitur ini sangat bermanfaat. Sayang banget kan ketika tidak di rumah tapi kulkas tetap berjalan seperti biasa. Dengan menyetel fitur Holiday Power Saving maka penggunaan listrik menjadi lebih rendah namun tetap tidak khawatir bahan makanan rusak saat ditinggal.

DOOR ALARM

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas bahwa anak-anak saya suka sekali membuka pintu lemari terlalu lama. Kerennya di Kulkas Smart Sensor ini terdapat door alarm child yang akan berbunyi jika mencegah pintu kulkas terbuka terlalu lama sehingga pendinginan lebih efektif dan efisien.




VARIAN KULKAS SMART SENSOR

Kulkas Modena Smart Sensor memiliki lima varian yaitu :

Argento RF 4540 S 
Vetrolia RF 2555 L
Argento RF 2336 S
Argento RF 2335 S
Argento RF 2255 S


Apa perbedaannya? Sebenarnya semuanya konsepnya sama Smart Sensor Refrigerator. Hanya saja ada beberapa fitur yang berbeda. Harganya pun berbeda. Tinggal pertimbangan kalian saja kalau ingin pilih varian tersebut. Perbedaan spesifikasi tiap varian tersebut bisa kalian lihat pada tabel berikut ya. Semoga terlihat jelas ya.






HARGA

Dengan varian dan fitur yang berbeda tentu harga yang diberikan juga berbeda. Kulkas Modena Smart Sensor memiliki harga sekitar 10-20 juta rupiah. Sesuai ya dengan kualitas yang didapat. Memang, kulkas ini ditujukan untuk kalangan menengah ke atas yang memiliki mobilitas tinggi dan ataupun siapa saja yang tidak mungkin pergi berbelanja setiap hari, apalagi di tengah pandemi seperti ini, yang sangat memperhatikan kesehatan dan ke-higienis-an bahan makanan.

GARANSI

Pembeli akan mendapat garansi kompresornya selama 10 tahun dan suku cadangnya selama satu tahun.


****

Saya tahu rutin minum ramuan empon-empon sangat membutuhkan kedisiplinan. Kadang muncul rasa malas karena harus membersihkan, memotong, mengeringkan, dan merebusnya. Namun, semua memang harus dilakukan demi daya tahan tubuh keluarga yang sehat di masa pandemi Covid-19 ini. 

Apalagi kalau ditunjang dengan  Smart Sensor Refrigerator Modena yang memudahkan pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak balita agar tidak perlu sering-sering ke pasar. Interaksi dengan orang luar pun berkurang sehingga saya tetap sehat dengan rutin konsumsi empon-empon yang segar, higienis, dan nutritif.

Kalau kalian bagaimana gaya hidup sehat kalian di masa pandemi ini? Ceritakan di kolom komentar ya!



SUMBER REFERENSI :

https://surabaya.tribunnews.com/2019/08/25/modena-luncurkan-kulkas-seri-baru-untuk-masyarakat-urban-pakai-teknologi-smart-sensor-refrigerators
https://investor.id/it-and-telecommunication/luncurkan-5-kulkas-smart-sensor-modena-sasar-segmen-premium
http://cookingwsheila.com/cara-cepat-mengeringkan-tanaman-herbal/
Youtube Modena Indonesia


Grafis : Lita Lestianti


Read More

Mengurus BPJS memang nggak susah tapi kadang ribet. Kupikir dengan diluncurkan mpbile JKN segalanya hanya perlu klik-klik semua beres. Nyatanya tidak semua urusan bisa dilakukan di aplikasi itu.

Contohnya untuk menambah anggota tidak bisa dilakukan di aplikasi tersebut. Ceritanya, setelah lahir anak kedua, sekitar dua tahun kemudian saya baru mau mengurus BPJS. Saya lebih sering di Sidoarjo daripada di Malang. Dan untuk mengurus BPJS di Sidoarjo jaraknya cukup jauh dari rumah belum lagi saya harus bawa dua anak saya karena tidak mungkin ditinggal di rumah dalam jangka waktu lama.

Jadi saya memilih mengurus di Malang, selain jaraknya yang dekat dengan rumah mbahnya, saya bisa titipkan anak saya.

Akhirnya sebelum corona datang, saya sempatin datang ke kantor BPJS. Oiya, status anak saya ini sudah dilaporkan di kantor suami. Jadi selain dapat tunjangan anak, gaji suami sudah pemotongan biaya BPJS semua anggota. Jadi saya rugi kalau tidak mengurus kartu. Benar kan begitu?

Saya kira kalau cuma nambah anggota, saya hanya bawa akte lahir anak dan KK. Ternyata saya harus bawa slip gaji suami lagi padahal saya tidak bawa. Akhirnya saya pulang ke rumah, dan besok-besoknya saat suami ke kantor, suami minta slip gaji ke kantor.

Eh, setiap ke Malang cuma weekend jadi nggak bisa ke kantor BPJS. Sampai beberapa bulan setelah Corona datang, sekitar bulan April, saya dapat kiriman surat dari kantor BPJS. Isinya adalah kartu BPJS anak kedua saya yang belum saya daftarin waktu itu.

Kaget. Saya sendiri datang kesana ditolak karena berkas nggak lengkap. Sekarang kartunya malah sudah jadi.

Akhirnya saya coba cek di mobile JKN. Setelah masukkan data, saya pun login.

Wow. Tambah kaget lah saya karena ternyata faskesnya tingkat 3 bukan tingkat 1 seperti punya saya, suami dan anak pertama saya. Itu pun datanya tidak bisa gabung jadi satu dengan punya kami bertiga. Jadi anak saya yang kedua terpisah dari tiga anggota lainnya. Fyi, untuk pengabdi negara dari kementerian memang dapatnya faskes 1.



Nah, kebetulan saya ke Malang pas jam kerja. Di masa pandemi begini memang agak khawatir kalau mau ke sana kemari. Di kantor BPJS sendiri sudah menerapkan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan di depan kantor, cek suhu tubuh, dan tempat duduk yang berjarak. Selain itu, kantor BPJS juga tidak seramai biasanya. Jadi tidak begitu khawatir aih meski ada rasa deg-degan.



Setelah saya bertanya dengan petugas yang ada di depan, saya pun baru tahu alasan anak saya dapat kartu BPJS meski belum daftar.

Saya semakin kaget.

Ternyata, pemerintah kota Malang baru memiliki kebijakan bahwa semua NIK kota Malang yang belum terdaftar BPJS memperoleh bantuan biaya premi BPJS setiap bulan.

Karena anak saya sudah terdaftar dari kantor suami dan kemungkinan juga sudah dipotong untuk biaya BPJS maka saya minta diubah saja datanya. Petugas menyuruh saya mengambil nomor antrian setelah memberi blanko.

Eh, dasar sayanya sih nggak baca detail. Jadi saya langsung ambil nomor antrian dan menunggu.

Ketika dipanggil, ternyata blangko yang dikasih tadi harus dilengkapi dan diberi materai 6.000. Waduh, dimana beli materai? Biasanya saya selalu sedia materai di dompet. Tapi waktu itu habis karena sudah dipakai. Alhasil saya beli di toko sebelah kantor BPJS.

Setelah itu saya antri lagi. Untung saja tidak ramai. Begitu dipanggil, saya langsung maju dan memberi semua persyaratan yang diminta.



Setelah semua berkas lengkap, petugas pun mengisi data di komputer. Dalam waktu kurang dari lima menit semua data sudah dimasukkan. Dan karena bulan Juli sudah mau habis, jadi BPJS anak kedua saya baru dimulai bulan Agustus 2020.

Kenapa kok saya tetap mengubah data faskes anak saya? Padahal kan enak dapat bantuan dari pemerintah kota. Pertama, saya tidak mau ambil resiko karena kebijakan pemerintah daerah itu bisa saja berubah lebih cepat. Dan berdampak pada keharusan saya membayar premi meski didiskon.

Kedua, karena memang gaji suami saya juga sudah dipotong untuk BPJS anak saya.

Ketiga, karena bantuan dari pemerintah kota Malang, jadi saya tidak bisa pindah faskes di kota lain meski sama-sama faskes 3. Dan ini tidak mungkin saya harus berobat ke Malang saat anak saya butuh pertolongan medis di Sidoarjo. 2 jam perjalanan lumayan juga.
Setelah petugas menginput data, saya pun memperoleh kartu BPJS anak kedua saya dengan data yang sudah diubah. Anak saya pun bukan lagi menjadi penerima bantuan dari pemerintah kota Malang.

Salam sehat.


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower