Oiya untuk postingan kali ini, aku tidak membahas Paris dulu, tetapi bahas kuliner di Sragen. Tempat ini tak sengaja aku temukan karena sebenarnya suamiku mau makan kwetiau. Dimana cari kwetiau di sragen? Setelah googling akhirnya aku nemu tempat makan kwetiau di Sragen yang kukira warung biasa ternyata bukan.

Rumah Makan Warso di Sragen

Nama rumah makannya adalah Warso atau singkatan dari Warung Ndeso. Dan konsep rumah makan di Sragen seperti rumah joglo. Bisa-bisanya kami baru menemukan rumah makan ini sekarang. 

Tak jauh dari kota

Lokasi Warso memang tidak jauh dari rumah orang tuaku. Awalnya kami ragu dengan lokasi yang semakin ke selatan semakin sepi. Jangan-jangan kami salah tempat. Setelah kami tiba si lokasi, kami yakin tidak salah tempat. Cuma ternyata tempat itu rumah makan yang biasa buat acara kondangan.

Lokasinya masih di dalam kota Sragen. Tepatnya di Ngablak, Kroyo, Kec. Karangmalang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. 

Kalau dari alun-alun tinggal ke Selatan saja. Ikutin Google maps aja insyaallah nyampe kok. Hehe.

Kami melewati barisan sawah-sawah yang terhampar hijau. Sekarang di Sragen lagi banyak banget tempat makan yang dekat sawah. Hiks. Salahnya semakin sedikit.

Ketika sampai di parkiran Warso, aku merasa tempat makan ini agak mahal gara -gara melihat desain interior bangunan. Ada mobil yang parkir di sana. Motor juga cukup banyak.

Rumah makan konsep Jawa

Memasuki halaman rumah makan sudah cukup membuatku mengira makan minuman di sini mahal. 

Begitu masuk ke dalamnya. Ternyata konsepnya semi terbuka. Beberapa bangunan Joglo terpisah. 


Di bagian sisi kiri dan kanan kemudian di belakang yang lebih luas. Di tengah-tengah ruang terbuka yang diberikan kursi dan meja yang menghadap ke sawah.

Sebenarnya rumah makan ini bisa dibilang bangunannya lebih mengarah pada konsep Jawa yaitu rumah Joglo dan terbuka. Bukan seperti bangunan konsep cafe. Pencahayaan lebih banyak dari cahaya alami begitu juga penghawaan dari alami. 

Bisa ditebak dengan konsep seperti itu perkiraan awalku tentang harga makanan dan minumannya mahal itu salah. 

Di sisi kanan, ada mobil retro yang sengaja dipajang untuk keindahan karena sudah tidak ada bannya lagi. Beberapa tanaman ditanam untuk menambah kesan alami, sederhana tapi tampak menarik. Ada lesung untuk menumbuk padi yang dimanfaatkan untuk pot bunga tampak dibiarkan di sisi kiri. Tanaman-tanaman hijau lebih mendominasi di ruang joglo bagian depan.


Di sisi kiri bangunan joglo dengan meja dan kursi yang diatur berkelompok. Beberapa pengunjung sedang makan sambil bercakap-cakap lirih. 


Di sisi lain, seorang perempuan menunggu di meja kasir. Di depannya ada gerobak sebagai tempat untuk meletakkan jajanan tradisional. Di seberangnya ada kulkas untuk menaruh minuman dingin.

Aku pun mendatangi mbak kasir dan menanyakan bagaimana mau pesan makan. 

Untuk pemesanan, pengunjung harus memesan makanan dan minuman lewat kasir langsung. Mbak yang ada di kasir akan memberikan beberapa lembar menu untuk kita isi.

Aku melihat menu dan harga menu yang dijual di Warso. Bener aja. Harganya murah. Menunya juga banyak sekali.

Kubawa dua lembar menu yang cukup panjang itu dan mendatangi suami. Kebayang kan menunya seberapa banyak.

Aku melewati wastafel di bagian joglo depan ini. Kami berjalan ke bagian dalam rumah makan.

Aku mengajak suami mencari tempat duduk di bagian sisi lain rumah makan. 

Di sisi kanan,  seseorang sedang sibuk memasak sesuatu, baunya seperti nasi goreng. Tak hanya itu, ada tempat bakarnya juga. 


Kami berada di bagian tengah yang berupa ruang terbuka. Kursi-kursi portable yang biasa untuk camping ditata di sisi menghadap sawah.

Kami mencoba duduk di sana sambil menentukan menu yang dipesan. Sawah di depan kami mungkin lebih bagus kalau untuk sore hari. Kalau malam tidak terlihat. Kebayang kalau sawahnya udah berubah jadi bangunan udah ngga ada lagi pemandangannya hehe.

Eh tapiii baru duduk bentar aja anginnya kok kencengggg. Bisa-bisa pulang dari sini malah masuk angiinn. 


Aku memilih menu makanan karena suami sudah pasti mie godog. Menu makanan dan minuman di Warso ini cukup bervariasi. Rata-rata nasi goreng, kwetiau, mie godog Jawa, seafood tapi terbatas, dan capcay. Minumannya juga banyak banget. Selain itu ada jajanan juga. 
Setelah memilih menu, kami cari tempat yang tidak begitu kerasa anginnya. 

Aku coba ke arah belakang. Ada ruang VIP juga dengan konsep modern dan ber-AC. 


Di sisi kiri ada ruang untuk makan lesehan yang terbuat dari kayu dan terbuka. Ada ruang joglo yang lebih luas dengan meja lebih panjang.

Semakin ke belakang, ruangan joglo yang tampak semakin berbeda karena ada selambu-selambunya. 




Di bagian paling belakang ada musholla, toilet dan taman tapiii sepi dan agak gimana gitu. Mungkin kalu sore atau siang gitu nggak masalah sih ya. Kalau malam sepertinya perlu pencahayaan lagi.

Taman di belakang

Musholla

Toilet

Karena sepi, dan di bagian belakangnya angin juga kenceng, aku kembali ke depan lagi. Pada akhirnya, kita makan di joglo bagian depan dekat kasir. Hehe.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya makanan pesanan kami pun tiba. 

Mie godog jowo dan kwetiaunya rasanya sangat kuat ayam kampungnya. Porsinya cukup banyak. Meski tidak makan tapi makan mie godog saja sudah kenyang.

Minumannya aku pesan beras kencur dingin. Rasa jamunya cukup kuat dan segar. 

Harga menu makanannya tidak mahal kok sekitar 18 -25k. Bisa bayar pakai QRIS juga. Alhamdulillah. Kayaknya konsep ini cocok kalau bawa keluarga besar. Hehe.
Read More
Beberapa bulan berkuliah, ternyata sudah cukup bikin kepala panas, hati nyesek. Belum juga ganti tahun tapi seperti sudah lama. Aku harus adaptasi dengan administrasi di sini, teman-teman, dengan materi perkuliahan, dengan dosennya. Bahasa yang sudah aku pelajari 11 bulan intensif hingga mendapat sertifikat B2 rasanya belum cukup untuk mengimbangi bahasa native di tanah asal. Dan itu tidak mudah. Cukup Allah sebaik-baik penolong.

Rute Jalan Kaki Susur Sungai Seine

Di tengah penat itu, aku mengajak temanku berjalan kaki ke sekitar apartemen menyusuri sungai Seine dan pulang naik métro. Kali aja penatku hilang terbawa arus sungai, hehe. Sebenarnya lebih dari itu, jalan-jalan sore ini biar aku lebih hafal dengan kondisi sekitar karena begitu banyak tempat menarik di sekitar apartemen yang belum kuketahui.

Apartemen mahasiswa yang kutinggali (sebelah kanan)

Dari Résidence Cîteaux

Bermula dari apartemen mahasiswa CROUS pertamaku, Résidence CROUS Cîteaux, yang ada di Rue de Cîteaux. Perjalanan menuju sungai Seine memang tidak jauh. 

Stasiun Gare de Lyon

Aku dan temanku berjalan ke arah Gare de Lyon, salah satu stasiun besar di Paris. Di sekitar stasiun ini, selalu ramai orang. Mereka menunggu bus, masuk ke stasiun besar. 

(Sepertinya) Melewati Pont d'Austerlitz

Aku tidak terlalu ingat. Jalan setelah Gare de Lyon ini sepi. Tapi yang jelas kalau jalan terus dari Gare de Lyon akan tembus jembatan Pont d'Austerlitz. Rasanya tak mungkin kami berbalik arah menjauh ke Pont Charles de Gaulle. Jembatan yang kami seberangi yang lebih mungkin ya Pont d'Austerlitz. 

Pont d'Austerlitz

Pont d'Austerlitz ini dibangun untuk mengenang kemenangan pertempuran Austerlitz oleh tentara Napoleon Bonaparte Prancis melawan Rusia dan Austria di Austerlitz (Republik Ceko).

Dari jembatan, kita bisa melihat kereta Métro Line 7 melewati jembatan di atas sungai Seine.

Tapi kami tidak melewati stasiun métro Austerlitz. Sungai Seine sudah tampak di depan kami. Seingetku, kami menyeberangi Pont d'Austerlitz. 

Di situ, Sungai Seine yang tampak tenang sudah ada di depan mata. Langit sore berwarna kelabu. Aku merapatkan jaket karena angin menembus jaket. Kulitku mulai kering belum bisa menyesuaikan cuaca musim dingin. 

Tak ada istimewa perjalananku dari Pont d'Austerlitz. Tapi di Jardin de Plantes, kami berfoto di antara pepohonan yang meranggas tinggal ranting saja. 

Jardin de Plantes

Jardin de Plantes merupakan kebun raya tertua di Prancis yang dibangun tahu 1626. Ketika melewati kebun ini, kami melewati barisan pepohonan yang meranggas. Tak ada dedaunan. Justru pemandangannya semakin kece seolah mistis sekali.

Pont de Sully, jembatan menuju pulau yang membelah sungai Seine

Sebelum jembatan itu, tampak kapal cukup besar bersandar. Tidak ada aktivitas yang tampak sekitar kapal. 

Kapal di dekat Pont de Sully (dok. Pribadi)

Aku berfoto sejenak mengabadikan perjalanan singkatku ini.

Foto sebelum nyebrang Pont de Sully

Aku pun mengajak temanku menyeberangi Pont de Sully, jembatan dengan lebar sekitar 20 meter dan panjang 159 meter. Mobil-mobil berlalu lalang di jembatan itu. Kami berjalan di pedestrian yang nyaman dan cukup lebar.

Jembatan Pont de Sully dibangun sekitar tahun 1876 saat Hausmann, perancang kota Paris, sedang gencar-gencarnya membangun Paris.

Pont de Sully (dok. Pribadi)

Pont de Sully ini menjadi jembatan yang menghubungkan ÃŽle Saint-Louis, pulau paling timur yang membelah sungai Seine.

Dari atas jembatan, menyeberangi sungai Seine, pemandangan dari tengah jembatan ini cukup menarik karena kita bisa melihat Notre Dame di ujung sana.

Maaf banget ini karena di zoom jadi blur (dok. Pribadi)

Yaudahlah pakai foto dari Google aja hehe

Kami terus berjalan meski udara sudah tampak semakin dingin dan langit semakin abu-abu. Sesekali temanku mengecek cuaca karena khawatir jika tiba-tiba cuaca memburuk. Salah satu karakter cuaca di 4 musim seperti itu. Suka tiba-tiba berubah. Kadang tiba-tiba cerah. Kadang tiba-tiba gelap dalam hitungan menit.

ÃŽle Saint-Louis

Setelah aman, kami lanjutkan perjalanan kami. Tibalah kami di ÃŽle Saint-Louis. Aku berbelok ke kanan ke sebuah taman yang ada di ujung pulau. Tujuan kami memang menjelajah ujung pulau tersebut.

Tampak sebuah tumpukan kayu cemara di dalam kotak besi berwarna hijau. Setelah kubaca ternyata itu adalah tempat sampah khusus sampah pohon, misal ranting, kayu atau daun. Sepertinya sampah pohon iyu dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi pohon natal.

Tempat sampah aur ulang khusus sampah pohon cemara ( dok. Pribadi )

Aku berjalan masuk ke dalam. Kulihat dari jauh dua orang berdiri berdekatan di ujung taman. Mereka tampak sedikit tersembunyi. Tidak begitu terlihat karena banyak pepohonan. 

Tapi, kumelihat mereka sedang... hmm.. kissing. Ok. Lanjut. Aku nggak mau terus menyaksikan mereka. Yahh taulah orang Prancis terlalu biasa kissing di tempat umum. Jadi aku mengalihkan pandangan. Mereka sepertinya kurang nyaman.

Sampai akhirnya ketika aku mendatangi taman di ujung itu, mereka pergi dengan wajah kesal Haha. Aku juga nggak ngeh sih. Karena kan tujuanku polos aja. Mau lihat sungai Seine dari ujung pulau. 

Eh tapi... ada yang aneh... yang kulihat adalah dua orang pria. Hmm... terus di tempat aku berdiri di mana mereka tadi juga berdiri ada sekitar 3 gembok terpasang pada pagar besi itu. Dan ketika kubaca. Tulisannya adalah dua nama pria. Sementara gembok kain selayaknya nama pasangan kekasih. Pria dan wanita.

Di sana emang lagi booming banget nempelkan gembok di pagar ini tapi sekarang nggak boleh (dok. Pribadi)

Travelling ke Eropa sebenarnya harus siap dengan hal-hal seperti itu. Tidak menormalisasikan atau tidak menganggap itu biasa. Jadi aku lebih milih mengalihkan pandangan saja.

Yaudah. Next we explore...
Kami turun ke bawah pulau. Jadi pulau itu cukup tinggi dari atas permukaan sungai. Ada tangga di samping taman menuju ke sungai. Di bawah ada, ada kursi-kursi untuk duduk. 

Aku juga coba berdiri di ujung pulau sambil menikmati udara. Air mulai pasang. 
Abaikan sampah yang berserakan

Sudah turun dari tangga. Maunya minum airnya biar bisa kembali lagi hehe (dok. Pribadi)

Di sini ada besi sebagai penanda bahwa batas permukaan paving.
Di ujung pulau. Air mulai pasang (dok. Pribadi)

Di sini, aku ditegur temanku yang memang asli Prancis saat aku share bahwa hati-hati di sana karena bisa rawan kesetrum.

Setelah dari taman ini, aku dan temanku berjalan di ÃŽle Saint-Louis. Pulau ini cukup unik. Kecil dan berada di tengah kota Paris. Karena kecil, tidak ada métro atau pun jalur bus. Itu membuat pulau ini tampak tenang dan nyaman seolah berada di wilayah yang terisolir. 

Perjalananku selanjutnya akan kuceritakan lagi. Karena ternyata aku menyusuri sungai seine bahkan sampai menara Eiffel dan itu ternyata panjang sekaliiiii. MaasyaAllah.
Read More
Wisata ke Paris selain pergi ke menara Eiffel adalah pergi ke Arc de Triomphe yang melewati Champs-Élysées, sebuah jalan fenomela di Paris yang menjadi inspirasi sebuah lagu. Kalian tahu nggak sih lagu Champs-Élysées dari Joe Dassin yang cukup terkenal dan dirilis tahun 1969 itu? Ternyata lagu itu dulunya adalah lagu dari Inggris "Waterloo Road" yang gagal di pasaran. Kemudian diganti menjadi salah satu jalan utama terkenal di Paris, Champs-Élysées. Pada akhirnya lagu itu booming bahkan sampai sekrang. Lagu itu mengisahkan sepasang kekasih yang menyusuri Avenue Champs-Élysées yang ramai, dipenuhi musik dan suara burung. Seperti ini lagunya...

Aux Champs-Élysées
Aux Champs-Élysées
Au soleil, sous la pluie
À midi ou à minuit
Il y a tout c'que vous voulez
Aux Champs-Élysées

Berjalan-jalan di sekitar Champs-Élysées di malam hari memberi pengalaman yang berbeda buatku. Kalau siang hari, matahari terik panas dan sumuk membuatku kurang nyaman berlama-lama di Avenue Champs Ésylées.

Malam itu cukup dingin. Aku memakai jaket tebal dan menunggu di pintu keluar stasiun métro. 

Tak lama, teman-temanku datang. Kemudian kami menyusuri tepi Avenue Champs-Élysées yang dipenuhi dengan warna warni lampu berbentuk melingkar dan dipasang sepanjang Avenue. 

Avenue des Champs Élysées di Malam Musim Gugur 

Bagaimana sejarah Avenue des Champs-Élysées?

Avenue des Champs-Élysées merupakan salah satu jalan paling terkenal di Paris, Prancis yang membentang sekitar 1,9 kilometer, dari Place de la Concorde hingga Arc de Triomphe.

Di kawasan ini kalian akan menemukan butik mode dengan brand terkenal dan mewah.

Dulunya, kawasan ini menjadi bagian dari perluasan lanskap kerajaan ke arah barat. Sekitar tahun 1667, André Le Nôtre menata jalur dan taman kerajaan atas perintah Raja Louis XIV. Jalur itu digunakan untuk berjalan-jalan dan berkendara. Bukan untuk perdagangan dan tempat hiburan seperti saat ini.


Pada tahun 1709, jalur tersebut mulai dikenal dengan nama Champs-Élysées. Kawasan ini semakin berkembang jadi tempat berjalan-jalan dan rekreasi warga Paris.


Pada abad ke-19, sekitar 1806, Napoleon Bonaparte memerintahkan untuk membangun Arc de Triomphe. Jalur ini berkembang menjadi boulevard kota yang modern, ada fasilitas hiburan dan penataan taman.

Ini bukan di Gumul Kediri loh yaa geesss

Dari Avenue des Champs-Élysées, kita belajar bahwa kota berkembang sesuai kebutuhan zaman. Dulu hanya taman dari lanskap kerajaan, kemudian berubah menjadi ruang publik sebagai tempat berjalan-jalan dan rekreasi masyarakat. Hingga saat ini kawasan ini berubah menjadi kawasan komersial atau tempat perbelanjaan. 

Dari Place de la Concorde sampai Arc de Triomphe

Ingin menyusuri Avenue des Champs-Élysées? Kita bisa berjalan dari Place de la Concorde, sebuah ruang terbuka atau alun-alun terbesar di Paris di mana di tengahnya terdapat Monumen obelisk Luxor.

Ternyata di tahun 1793, pad amasa Revolusi Prancis, place de la Concorde dulunya adalah tempat untuk eksekusi hukuman mati (guillotine) dilakukan pada Marie Antoinette dan Raja Louis XVI.

Tapi nama Concorde dipakai sebagai lambang kerukunan setelah terjadinya eksekusi tersebut.

Setelah Place de la Concorde, ada taman bersejarah sebagai tempat bersantai yang did alamnya ada Grand Palais dan Petite Palais.

Ferrish Wheel dan Obelisk di sisi kanan di Place de la Concorde (dok. Pribadi)

Adanya taman ini menunjukkan bahwa Paris nggak cuma bangunan megah saja tetapi juga ruang terbuka untuk tempat rekreasi warga, bersantai dan menikmati udara segar. 

Di sepanjang jalan ini banyak toko fashion dengan brand terkenal dan mewah seperti restoran, cafe dan bioskop. Bagiku yang tidak suka berbelanja barang mewah rasanya memang tampak kurang menarik, kecuali hanya bagian foto-foto berlatar Arc de Triomphe di tengah jalan atau bangunan berarsitektur.

Di ujung Champs-Élysées yaitu Arc de Triomphe juga menjadi tempat perayaan kemenangan peserta balap sepeda La Tour de France. Lampu-lampu akan menyala pada bangunan Arc de Triomphe.

Lampu-lampu yang indah menyala di malam hari

Yang tidak boleh dilewatkan saat berwisata ke Paris adalah berjalan-jalan di Champs Élysées saat malam hari. Kenapa?

Karena kita akan melihat lampu-lampu yang indah berjejer seperti pepohonan di sepanjang jalan. Dekorasi lampu-lampu itu akan berbeda sesuai musimnys. Seperti fotoku di atas saat memasuki musim dingin. 

Agak-agak takut foto di zebra cross tengah jalan Champs Élysées

Champs Élysées yang mengarah ke Place de la Concorde (dok. Pribadi)

Avenue des Champs Élysées 

Tempat Marché de Nœl

Di musim dingin, stand berjejer untuk pasar Natal dibuka. Aku menyusuri setiap stand karena penasaran apa yang dijual.

Marché de Nœl

Aku tidak begitu ingat tapi yang paling membekas adalah melihat karya kerajinan yang mirip dibuat oleh anak Indonesia. Temanku sempat heboh karena dia hafal dengan prouk yang sempat dia tekiti. Sayangnya aku tidak begitu hapal apa itu.

Tempat Parade Militer Nasional

Ketika tanggal 14 Juli, sebagai hari Nasional Prancis, jalur ini berubah menjadi panggung untuk parade militer dari beberapa negara.

Avenue des Champs Élysées akan ditutup. Tak ada kendaraan yang lewat. Arc de Triomphe juga ditutup. Orang-orang hanya boleh mengakses pinggir jalan. 


Ketika tanggal 14 Juli, aku datang cukup siang, alhasil aku tidak bisa berada di barisan penonton yang mengarah ke Arc de Triomphe. Semua penuh.




Pada momen ini, aku melihat penerbangan payung udara, pesawat tempur dengan asap pesawat, dan para tentara dari beberapa daerah termasuk Afrika.

Jangan Lupakan Avenue des Champs Élysées 

Dari tulisan tersebut, aku jadi tahu bahwa Champs-Élysées nggak hanya sebuah tempat foto-Foto ya tetapi juga banyak momen penting yang ada di avenue tersebut. 
Read More
Pagi itu, asap mengebul dari pawon (dapur) rumah mbah. Pertanda bahwa bude belum selesai memasak. Aku masih asyik bermain di halaman rumah yang penuh dengan tanaman pangan. Ya, halaman rumah mbahku dari dulu memang digunakan untuk menanam segala macam tanaman pangan, mulai dari singkong, cabe, jeruk, dan sayur-sayuran untuk lalapan. Bude dan pakdeku lah yang menanam, memanen sampai mengolahnya.

Tak lama, Bude memanggilku untuk segera sarapan. Asap-asap itu mulai berkurang. “Ayo, Nduk. Ndang makan,” ujarnya. Aku yang masih asyik bermain tak menghiraukan panggilannya. Sampai akhirnya beliau menawariku makanan yang membuat aku menoleh. “Sama sego tiwul gelem ora? Wuenak iki dikasih gula.”

Sebagai anak kecil yang suka dengan sesuatu yang manis, tentu saja merespon tawaran itu. Tanpa melepas sandal, aku masuk ke ruang makan sekaligus dapur tanah yang masih menyisakan asap bakar dari tungku.

“Ini, Nduk.” Bude memberikanku sepiring tiwul berwarna cokelat yang dicampur dengan gula dan parutan kelapa. “Sego tiwul. Ndang makan. Mau makan nasi putih ya juga ada. Mau makan tiwul juga bisa.”


Tanpa pikir panjang, aku pun segera melahapnya. Suapan pertama, kedua, hingga akhirnya suapan terakhir. Rasanya manis dan gurih. Ternyata enak!

“Tambah, Bude!” ujarku. Semenjak itu, aku jadi suka tiwul yang dikasih parutan kelapa dan gula.

Bude pun memberiku sepiring tiwul, gula dan parutan kelapa. Aku pun makan lagi. Namun ada yang membuatku terkejut. Ternyata bude dan pakdeku makan sego tiwul ditambah lauk ayam, sambel, dan sayur lalapan. Rasanya aneh melihat orang makan sego tiwul sama lauk dan sayur. Yang kupahami, tiwul lebih enak untuk cemilan.

Tiwul yang selalu tersaji di meja makan

Di masa kecil bude pakdeku, juga bapakku, mereka sering makan sego tiwul daripada nasi. Singkong bisa ditanam di halaman depan rumah mereka, lebih mudah daripada harus menanam padi.

Sampai saat ini pun, setiap pulang ke rumah bude, nasi tiwul selalu tersaji di meja makan, selain nasi tentunya, yang kemudian dicampur dengan lauk dan sayur.


Ternyata, orang dulu sangat cerdas karena tidak bergantung pada beras, tetapi memanfaatkan pangan lokal yang ada.

Sebagai orang kota, aku sangat tergantung dengan beras. Belum disebut makan kalau belum makan nasi. Betapa tergantungnya diriku akan nasi.

Mengapa pangan lokal yang dulu begitu akrab dengan generasi sebelumnya, sekarang menjadi terasa asing dan tidak lagi menjadi pilihan menu utama dalam sebuah keluarga. Kita terbiasa menjadikan beras sebagai makanan pokok orang Indonesia, padahal kita punya pangan lokal lainnya yang mengandung karbohidrat.

Lain negara, lain kebiasaan dan lain pula sumber bahan pangan lokal. 

Ini kisah lainku di beda negara...

Hidup di Prancis, Memaksa Makan Selain Nasi

Suatu ketika, di musim dingin, sepulangnya kuliah, aku berjalan kaki menuju resto kampus. Aku tidak sempat memasak untuk bekal makan siang, jadi makan siang kali ini di resto kampus.

Sesampainya di sana, antrian cukup ramai. Aku mengambil makanan pembuka dulu. Kemudian, aku berdiri di depan menu makanan utama. Mataku memperhatikan satu per satu sajian di depanku. Petugas menunggu sambil memperhatikanku.

Ada mashed potato, ayam/ikan kuah krim, sayur tumis. Aku bertanya, “Apa tidak ada nasi?”

Dia menjawab, “Tidak ada.”

Mau tidak mau, aku mengambil mashed potato, ikan kuah krim, dan sayur tumis.

Menu makan siang di resto kampus (dok. Pribadi)

Aku pun mencari tempat duduk kosong. Aku pesimis. Bisa nggak ya makan tanpa nasi? Makan selesai dan aku kembali ke kampus. Rupanya, sampai pulang kuliah pukul 5 sore, aku justru kuat menahan cuaca musim dingin dan tidak cepat lapar. Wow. Ternyata dengan pola makan mengikuti orang lokal justru tubuhku bisa bertahan dari cuaca dingin.

Aku sadar bahwa setiap masyarakat punya kebiasaan pangan yang dipengaruhi kondisi alam, budaya, dan ketersediaan bahan pangan. Semenjak itu, mindsetku berubah. Makanan pokok itu tidak harus nasi. Jika tidak ada nasi, sumber karbohidrat lainnya, seperti roti, kentang, singkong, ubi, roti dan lain-lain, bisa menjadi alternatif pengganti nasi yang tergantung dengan daerah masing-masing. Tentunya, lauk dan sayur tetap menjadi pendamping karbohidrat.

Dari Gambut ke Meja Makan: 

Apa Hubungan Lingkungan dan Pangan?

Kenapa beras bisa menjadi makanan pokok Indonesia?

Awalnya, orang Indonesia zaman dulu, sebelum beras menjadi makanan pokok Indonesia, masyarakat lokal banyak mengonsumsi sumber karbohidrat lain, seperti sagu, umbi-umbian dan jagung. Bukan beras, roti apalagi gandum. Ya, karena memang tanahnya Indonesia lebih cocok dengan tanaman pangan tropis.

Dan beras sendiri berasal dari Tiongkok yang dibawa ke Indonesia saat pedagang dari Tiongkok dan India datang ke Indonesia sekitar 2000 tahun silam. 


Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, beras menjadi makanan kaum bangsawan dan raja. Kemudian ketika masa orde baru, Soeharto menggalakkan program pencetakan sawah baru hingga ke timur Indonesia hingga mencapai swasembada beras 1984. Meski setelah itu, Indonesia gagal mempertahankan swasembada beras. Indonesia terus mengimpor hingga tahun 2025.

Dari tahun 2025 hingga saat ini, Indonesia memang tidak lagi impor beras dalam jumlah besar. Menurut Badan Pangan Nasional, stok beras nasional masih cukup hingga 10,8 bulan mendatang.

Hutan Gambut Rusak Rawan Terhadap Karhutla

Masalahnya, yang jadi polemik adalah sejak kasus cetak sawah di beberapa wilayah di Timur Indonesia, khususnya Merauke (Papua), telah menghilangkan hutan tempat masyarakat mencari sumber pangan lokal. Masyarakat tidak lagi makan sumber pangan lokal mereka, seperti sagu, dan tidak lagi berburu, tetapi mengonsumsi beras yang harus mereka beli.

Di tahun 2022, hutan-hutan yang hilang untuk proyek ambisius food estate itu seluas hampir 3.000 hektare atau setara 4.207 lapangan bola. Di Kalimantan Tengah, lahan food estate terbengkalai dan selalu terbakar. Saat ini, Merauke, Papua Selatan, yang juga terdapat proyek food estate and energy pun mengalami kebakaran hutan.


Di Kalimantan Tengah, lahan untuk food estate itu dibangun di atas tanah eks PLG (Proyek Pengembangan Lahan Gambut). Saat ini, banyak hutan gambut rusak untuk pembukaan lahan perkebunan baru. 

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau dan Papua Selatan, saat ini sebagian besar berupa lahan gambut, yang sudah dikeringkan akibat kanalisasi untuk ditanami tanaman perkebunan. Api menjadi susah dipadamkan karena terperangkap di lapisan bawah tanah gambut.

Kanalisasi pada lahan gambut 

Menurut Kak Yoga dari Pantau Gambut saat aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad yang berjudul “Dari Gambut ke Meja Makan: Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan”, kanalisasi berlebihan telah merusak daya dukung hidrologis gambut di mana kanalisasi dilakukan setelah pembukaan lahan.
 

Kandungan air yang ada dalam tanah gambut akan keluar menuju ke kanal hingga membuat tanah gambut kering, rusak, dan rawan terjadi kebakaran. Kondisi gambut yang sudah rusak dan rawan kebakaran itu diperparah lagi dengan kondisi El Nino.

Dari total 24,2 juta hektar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia, sekitar 16,4 juta hektar diklasifikasikan memiliki kerentanan kebakaran tingkat tinggi hingga sedang (Peatland Fire Alert, 2023). 

Sekitar 43% (kira-kira 10,3 juta hektar) diklasifikasikan memiliki kerentanan banjir tingkat tinggi hingga sedang (Drowned Peatland, 2025). Beberapa kali petani mencoba menanam padi dengan bibit varietas yang diberikan pemerintah di tanah gambut selalu gagal karena tanah yang selalu banjir.

Dampak kerusakan lahan gambut pada ekosistem

Hutan gambut itu penyimpan karbon raksasa untuk mencegah krisis iklim. Saat hujan, lahan gambut menjadi pengatur tata air yang menyerap air hujan dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan saat kemarau. 

Dengan begitu, di sekitar lahan gambut tidak akan mengalami kebanjiran saat musim hujan dan tidak mengalami kekeringan dan kebakaran hutan saat musim kemarau. 

Sayangnya, banyak lahan gambut yang rusak dan berdampak buruk bagi ekosistem. Kanalisasi atau pengeringan secara besar-besaran merusak biodiversitas tanah dan flora-fauna, memicu degradasi serta kebakaran.

Gambut juga menjadi ekosistem bagi berbagai spesies unik yang terancam punah seperti orangutan dan harimau. 

Masyarakat lokal menggantungkan hidupnya pada lahan gambut, seperti untuk aktivitas perikanan, hasil hutan non-kayu, dan pertanian masyarakat lokal yang dikelola secara bijak.

Lahan gambut memiliki lapisan mineral pirit (FeS2). Saat masih terendam air, pirit tidak akan memberikan dampak bagi sekelilingnya. Tapi ketika terjadi kanalisasi, dimana air gambut mengalir ke kanal yang dibuat manusia, lahan gambut menjadi kering. 

Saat itu, mineral pirit akan teroksidasi atau bersentuhan dengan oksigen. Oksidasi pirit ini akan menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida membuat tanah menjadi asam dengan pH 2-3. Tanah yang asam ini ikut larut ke kanal dan sungai besar sehingga air menjadi lebih asam dan tanaman serta binatang di sungai bisa keracunan.

Konversi lahan gambut menjadi perkebunan dapat menghilangkan vegetasi alami, habitat satwa, memperparah emisi karbon, dan menghilangkan mikroorganisme dalam tanah hingga kesuburan tanah berkurang.

Satwa liar, seperti orang utan, kehilangan habitatnya. Kadang mereka memasuki perkampungan. Tidak sedikit juga kesehatan satwa liar terganggu karena asap kebakaran.


Belum lagi asap kebakaran berdampak bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat bahkan anak kecil yang mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Aktivitas masyarakat terhambat karena asap. Tidak bisa sekolah dan bekerja.


Tumbuhan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat juga berpotensi hilang karena gambut terbakar.

Gambut itu bukan lahan kosong yang tidak punya manfaat. Justru lahan gambut menjadi ekosistem penopang kehidupan dan memiliki fungsi ekologis penting.

Menjaga Biodiversitas, Menjaga Ketersediaan Pangan

Lahan gambut menjadi habitat biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Ketika lahan gambut rusak, maka flora dan fauna pun hilang. Padahal flora dan fauna tak hanya penting bagi ekosistem lainnya tetapi juga keberlangsungan hidup manusia.

Beberapa jenis tanaman pangan di lahan gambut yang bisa tumbuh seperti sagu, padi dengan varietas lokal, jagung dan kedelai, ubi, talas, nanas. 

Tanaman tersebut cocok tumbuh di ekosistem rawa gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi, mampu beradaptasi pada lingkungan basah, tanpa merusak kondisi lahan.

Menjaga biodiversitas di tanah gambut bisa dilakukan dengan pengelolaan tanaman gambut yang ramah gambut agar kelestariannya terjaga, misalnya dengan pengaturan tata air tanpa harus mengurangi kandungan air dalam tanah, koreksi keasaman dan hara dan sistem paludikultur tanpa melakukan pengeringan.

Dengan pengelolaan penanaman yang sesuai, ketersediaan pangan akan tetap terjaga dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Ketika lahan gambut rusak, maka ketersediaan pangan pun berkurang. Contohnya ketika di Merauke, adanya proyek Food and Energy Estate yang mengalihfungsikan hutan gambut menjadi perkebunan membuat masyarakat kehilangan sumber pangan lokal dari hutan tersebut. Dulu, mereka biasa makan sagu, ketika hutan terbabat habis, tanaman sagu berkurang, mereka pun beralih dari sagu ke beras.

Banyak kejadian anak-anak mengalami gizi buruk dan stunting di Papua karena tidak cukup asupan gizi akibat pembabatan hutan yang menjadi sumber pangan lokal mereka.

Tanpa sadar, gastrokolonialisme terjadi di negeri ini. Gastrokolonialisme adalah bentuk penjajahan atau dominasi lewat sistem pangan, di mana kekuatan korporasi besar atau sistem global merusak dan mengikis pola makan serta budaya pangan lokal, lalu menggantinya dengan ketergantungan pada produk impor, pangan olahan, atau komoditas seragam.

Gastrokoloanialisme ini membuat kita tergantung pada satu jenis komoditas. 

Ketika terjadi krisis ekonomi, bencana alam, atau kelangkaan bahan pokok, mungkin masyarakat akan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.  

Jika kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas saja, ketahanan pangan keluarga lebih kuat dan stabil.

Itulah pentingnya kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas, misal beras saja atau sagu saja. Dengan adanya diversifikasi pangan, maka kita tidak akan tergantung pada kelangkaan bahan pangan pokok, keragaman gizi semakin tinggi, tubuh tetap terjaga kesehatannya. Tentu saja dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung ekonomi petani lokal.

Diversifikasi pangan juga bisa menstabilkan ekosistem pertanian yang bisa memutus rantai penyebaran hama dan penyakit dengan pola tanam campuran atau rotasi. Ketika sistem perakaran bervariasi maka struktur tanah dan penyerapan air bisa menjadi lebih baik. Erosi juga bisa dicegah.

Dengan keragaman pangan, saat satu jenis tanaman gagal akibat anomali iklim, jenis tanaman lain yang lebih kuat bisa bertahan.

Mengenali Pangan Lokal, Umbi-umbian Sebagai Alternatif Nasi

Nasi bukalah satu-satunya sumber karbohidrat. Indonesia memiliki alternatif pangan lokal yang menyimpan potensi gizi. 


Banyak sekali sumber karbohidrat lokal yang bisa tumbuh di sekitar kita, misalnya singkong, ubi jalar, kentang, talas, kimpul, gembili, ganyong, garut, dan lain sebagainya. Setiap tanaman tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari bentuk fisik, cara penanaman, umur panen, begitu juga cara pengolahan.


Umbi-umbian bisa menjadi dari keragaman pangan karena kandungan yang ada di umbi-umbian tidak dimiliki pada makanan pokok kita saat ini yaitu beras. Tak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga mengandung vitamin, mineral dan fitonutrien yang berbeda dengan nasi. Ternyata indeks glikemik umbi-umbian juga lebih rendah dibanding nasi. Dengan begitu, energi bisa bertahan lebih lama. Kandungan serat pangan juga lebih tinggi sehingga bagus untuk pencernaan dan menjaga kesehatan usus.

Bahkan pati dari umbi-umbian singkong atau talas tidak mengandung gluten sehingga aman dan sehat bagi pencernaan, khususnya yang mengalami masalah medis tertentu.

Dengan konsumsi umbi-umbian, kita dapat mmutus ketergantungan masyarakat pada satu jenis komoditas pangan lokal utama. Indones

Bahan Pangan Lokal yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim bisa mengancam tanaman pangan utama dari kekeringan seperti padi sehingga eksplorasi tumbuhan lokal ini diarahkan sebagai alternatif pangan lokal selain padi. Tentu saja, tumbuhan asli daerah memiliki adaptasi alami yang kuat terhadap kondisi cuaca ekstrem setempat. Tidak mungkin jika Indonesia ditanami gandum dan Prancis ditanami padi. Hehehe.

Sistem pertanian yang hanya ditanami satu jenis komoditas atau monokultur sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat cuaca ekstrem sehinga eksplorasi tanaman lokal diintegrasikan ke dalam sistem agroforestri.

Kondisi tersebut tentunya menuntut kita membekali diri pengetahuan tentang tanaman lokal yang bisa dimakan, cara budidaya, cara budidaya, musim panen dan pengolahannya untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Kita bisa memanfaatkan pekarangan rumah atau ruang yang tersisa di rumah untuk menanam sayur atau tanaman pangan mandiri.

Di sini, aku tidak menunjukkan memilih varietas tumbuhan atau cara menanam, tetapi eksplorasi pangan lokal yang mampu bertahan hidup dengan suplai air yang minim, tidak mudah gagal panen meski cuaca ekstrim dan memiliki sistem imun alami yang kuat dari hama.


Menurut beberapa penelitian, singkong menjadi tanaman yang mampu adaptif terhadap perubahan iklim, tumbuh di mana saja, tahan kekeringan, dan tidak mudah hancur oleh hujan deras. Uniknya, ternyata Indonesia menjadi salah satu produsen singkong terbesar di dunia, setelah Nigeria, Republik Kongo, Thailand dan Ghana.

Singkong, Kaya Karbohidrat Pengganti Nasi

Dulu, mohon maaf ni, bukan maksud merendahkan, aku mengira orang yang makan singkong itu seperti orang yang kesulitan membeli beras, sehingga mengonsumsi singkong yang ada di kebun mereka adalah solusi terbaik. 

Sekarang, setelah aku belajar banyak, ternyat opiniku salah besar. Justru orang dulu itu cerdas, mereka bisa memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok mereka tanpa tergantung beras. Ternyata kandungan karbohidrat singkong lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasi putih dalam berat yang sama:
- Singkong (per 100 gram): Mengandung sekitar 38 gram hingga 40 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 112–160 kkal).
- Nasi putih (per 100 gram): Mengandung sekitar 27,9 gram hingga 28,5 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 129 kkal).

Mungkin untuk pelaku diet, bisa mengurangi porsinya. Sementara untuk anak-anak yang mengalami stunting atau gizi buruk, singkong bisa menjadi salah satu sumber gizi selain beras.

Justru sekarang ini, akhirnya kita terlalu tergantung pada beras, termasuk aku juga, singkong bukan lagi sumber pangan utama masyarakat Indonesia dan menjadikan singkong adalah teman cemilan. Padahal zaman sejak dahulu, singkong menjadi salah satu pangan pokok di Indonesia, setidaknya yang terlihat pada keluargaku di Jawa.

Nasi Tiwul, Olahan Singkong Favorit

Terus terang, aku tidak pernah dan tidak bisa masak tiwul seperti budeku. Aku hanya tahu sekilas bagaimana bude membuatnya.

Prosesnya membuat tiwul cukup panjang. Singkong dijemur sampai berwarna kehitaman. Oiya, nasi tiwul yang dibuat budeku itu berwarna kehitaman. Sedangkan yang biasa aku beli berwarna kecokelatan.


Perbedaan warna ini tergantung berapa lama penjemuran yang dilakukan. Semakin lama proses penjemuran atau proses fermentasi alami sehingga warna singkong berubah menjadi kehitaman. 

Biasanya tiwul yang berwarna hitam ini aroma singkongnya lebih kuat, rasanya sedikit pahit, dan teksturnya lebih kasar. Beda dengan tiwul berwarna cokelat yang memiliki rasa lebih manis, lebih umum dan mudah dijumpai di pasar.

Cara mengolah tiwul ini memang butuh kesabaran karena prosesnya cukup lama. Salut banget sama orang dulu yang masih mengolah singkong jadi tiwul untuk konsumsi pribadi. Setelah singkong dikupas dan dipotong, kemudian dijemur hingga kering (disebut gaplek). 

Gaplek, singkong yang dijemur

Biasanya bude menjemurnya sampai berwarna kehitaman. Setelah itu, gaplek ditumbuk hingga halus, diperciki air sambil diaduk sampai menjadi butiran kecil. Jika sudah menjadi butiran kecil, adonan dikukus hingga matang (biasanya sampai 15-20 menit.

Nasi tiwul bisa disajikan dengan berbagai macam sajian, seperti jika tiwul manis maka ditambahkan gula dan parutan kelapa. Jika dengan lauk, maka tiwul menjadi pengganti nasi, tinggal ditambah lauk, sayur dan sambal.

Tradisi dan Pengetahuan Lokal sebagai Penjaga Biodiversitas Pangan

Jika di Jawa terkenal dengan tiwul, maka di Cimahi terkenal dengan beras singkong atau dikenal dengan rasi. Rasi ini sudah ditetapkan sebagai warisan tak benda karena memiliki sejarah yang panjang dan sudah menjadi bagian dari komunitas adat di Cireundeu. Bahkan sampai saat ini, sekitar 60an keluarga di Kampung Cireundeu masih mengonsumsi rasi yang lebih cepat mengenyangkan daripada beras.

Beras singkong atau Rasi dari Cimahi (sumber: travelingyuk.com)

Sejak 2019, Cireundeu ditetapkan sebagai kampung wisata. Para perempuan kampung Cireundeu mengembangkan sentra oleh-oleh dengan menjual berbagai produk olahan singkong.

Di zaman dulu, rasi menjadi sebuah simbol perlawanan masyarakatnya terhadap Belanda karena saat itu pemerintah kolonial Belanda mengambil hasil bumi rakyat Indonesia agar pribumi kelaparan dan tidak bisa melawan penjajah.

Ternyata ngeri banget nggak, sih?! Aku jadi merasa takut, jangan-jangan salah satu cara agar generasi saat ini tidak mampu melawan ‘penjajah modern’ adalah dengan mengintervensi sumber pangan lokal mereka.

Nah, saat itu, pemimpinnya menyerukan kepada warga untuk mencari alternatif pangan pengganti beras di tengah krisis pangan. Mereka membuat beras dari singkong agar tetap bisa bertahan dari kelaparan. MaasyaAllah. Keren banget ternyata mereka sudah punya kearifan lokal dari dulu yang harusnya bisa ditiru.

Namun, sayang, pembangunan kota semakin berkembang menghilangkan perkebunan singkong mereka. Petani singkong semakin sedikit. Akibatnya, warga mengajukan permohonan diterbitkannya peraturan tentang hak ulayat masyarakat adat Cireundeu, Cimahi. Dengan begitu, kawasan kampung adat tidak semua dialihfungsi menjadi bangunan tetapi ada bagian yang harus dijaga seperti Hutan Larangan, Hutan Tutupan, Hutan Baladahan dan untuk permukiman.

Seperti di Papua, hutan yang hilang akibat Food and Energy Estate menyebabkan masayrakat kehilangan sumber pangan lokal dan berpengaruh pada ketahanan pangan keluarga yang stabil.

Kembalikan Keragaman Pangan ke Meja Makan

Setelah tinggal di Prancis, menguatkan pandanganku bahwa makanan pokok tidak harus nasi. Dan semakin menguat ketika aku melihat budeku selalu menyediakan nasi tiwul. 

Dulu, aku mengira kebiasaan menyiadakan tiwul di rumah bude hanyalah untuk memenuhi pangan sehari-hari. Ternyata tidak sesederhana itu, setelah aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad, Pantau Gambut dan Nusantara Food Diversity, pandanganku berubah. Dengan menjaga lahan gambut dari karhutla, berarti juga menjaga keberagaman sumber pangan lokal.

Masyarakat lokal maupun komunitas adat memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Mereka punya hak dan suara dalam menjaga tanah dan hutan mereka. Kita harus menghormati hak masyarakat adat atas pengetahuan, wilayah dan sumber daya yang mereka miliki. Karena ternyata melibatkan masyarakat lokal atau adat dalam pelestarian pangan lokal berkaitan dengan sejarah dan tradisi budaya.

Kita sebagai orang tua mungkin bisa melakukan langkah kecil dengan mengenali apa yang tumbuh di sekitar tempat tinggal kita atau membeli hasil panen lokal yang ada di pasar tradisional, mengolahnya dan mengenalkannya kepada anak-anak.

Anak makan nasi tiwul dan parutan kelapa, ibu makan nasi tiwul plus lauk (dok. Pribadi)

Referensi:

https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/63a135d01ffda/sejarah-impor-beras-indonesia-sejak-era-1950-an

https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/06997f04a7db92466a2baa6ebc8b872d

https://mongabay.co.id/2022/07/04/singkong-tanaman-ajaib-yang-adaptif-terhadap-perubahan-iklim/

https://disarpus.wonogirikab.go.id/wonogiripedia/nasi-tiwul-wonogiri

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3g88pp31xyo
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower