Pagi itu, asap mengebul dari pawon (dapur) rumah mbah. Pertanda bahwa bude belum selesai memasak. Aku masih asyik bermain di halaman rumah yang penuh dengan tanaman pangan. Ya, halaman rumah mbahku dari dulu memang digunakan untuk menanam segala macam tanaman pangan, mulai dari singkong, cabe, jeruk, dan sayur-sayuran untuk lalapan. Bude dan pakdeku lah yang menanam, memanen sampai mengolahnya.
Tak lama, Bude memanggilku untuk
segera sarapan. Asap-asap itu mulai berkurang. “Ayo, Nduk. Ndang makan,” ujarnya. Aku yang masih asyik bermain tak menghiraukan panggilannya. Sampai akhirnya beliau menawariku makanan yang membuat aku menoleh. “Sama sego tiwul gelem ora? Wuenak iki dikasih gula.”
Sebagai anak kecil yang suka dengan sesuatu yang manis, tentu saja merespon tawaran itu. Tanpa melepas sandal, aku masuk ke ruang makan sekaligus dapur tanah yang masih menyisakan asap bakar dari tungku.
“Ini, Nduk.” Bude memberikanku sepiring tiwul berwarna cokelat yang dicampur dengan gula dan parutan kelapa. “Sego tiwul. Ndang makan. Mau makan nasi putih ya juga ada. Mau makan tiwul juga bisa.”
Tanpa pikir panjang, aku pun segera melahapnya. Suapan pertama, kedua, hingga akhirnya suapan terakhir. Rasanya manis dan gurih. Ternyata enak!
“Tambah, Bude!” ujarku. Semenjak itu, aku jadi suka tiwul yang dikasih parutan kelapa dan gula.
Bude pun memberiku sepiring tiwul, gula dan parutan kelapa. Aku pun makan lagi. Namun ada yang membuatku terkejut. Ternyata bude dan pakdeku makan sego tiwul ditambah lauk ayam, sambel, dan sayur lalapan. Rasanya aneh melihat orang makan sego tiwul sama lauk dan sayur. Yang kupahami, tiwul lebih enak untuk cemilan.
Tiwul yang selalu tersaji di meja makan
Di masa kecil bude pakdeku, juga bapakku, mereka sering makan sego tiwul daripada nasi. Singkong bisa ditanam di halaman depan rumah mereka, lebih mudah daripada harus menanam padi.
Sampai saat ini pun, setiap pulang ke rumah bude, nasi tiwul selalu tersaji di meja makan, selain nasi tentunya, yang kemudian dicampur dengan lauk dan sayur.
Ternyata, orang dulu sangat cerdas karena tidak bergantung pada beras, tetapi memanfaatkan pangan lokal yang ada.
Sebagai orang kota, aku sangat tergantung dengan beras. Belum disebut makan kalau belum makan nasi. Betapa tergantungnya diriku akan nasi.
Mengapa pangan lokal yang dulu begitu akrab dengan generasi sebelumnya, sekarang menjadi terasa asing dan tidak lagi menjadi pilihan menu utama dalam sebuah keluarga. Kita terbiasa menjadikan beras sebagai makanan pokok orang Indonesia, padahal kita punya pangan lokal lainnya yang mengandung karbohidrat.
Hidup di Prancis, Memaksa Makan Selain Nasi
Suatu ketika, di musim dingin, sepulangnya kuliah, aku berjalan kaki menuju resto kampus. Aku tidak sempat memasak untuk bekal makan siang, jadi makan siang kali ini di resto kampus.
Sesampainya di sana, antrian cukup ramai. Aku mengambil makanan pembuka dulu. Kemudian, aku berdiri di depan menu makanan utama. Mataku memperhatikan satu per satu sajian di depanku. Petugas menunggu sambil memperhatikanku.
Ada mashed potato, ayam/ikan kuah krim, sayur tumis. Aku bertanya, “Apa tidak ada nasi?”
Dia menjawab, “Tidak ada.”
Mau tidak mau, aku mengambil mashed potato, ikan kuah krim, dan sayur tumis.
Aku pun mencari tempat duduk kosong. Aku pesimis. Bisa nggak ya makan tanpa nasi? Makan selesai dan aku kembali ke kampus. Rupanya, sampai pulang kuliah pukul 5 sore, aku justru kuat menahan cuaca musim dingin dan tidak cepat lapar. Wow. Ternyata dengan pola makan mengikuti orang lokal justru tubuhku bisa bertahan dari cuaca dingin.
Aku sadar bahwa setiap masyarakat punya kebiasaan pangan yang dipengaruhi kondisi alam, budaya, dan ketersediaan bahan pangan. Semenjak itu, mindsetku berubah. Makanan pokok itu tidak harus nasi. Jika tidak ada nasi, sumber karbohidrat lainnya, seperti roti, kentang, singkong, ubi, roti dan lain-lain, bisa menjadi alternatif pengganti nasi yang tergantung dengan daerah masing-masing. Tentunya, lauk dan sayur tetap menjadi pendamping karbohidrat.
Dari Gambut ke Meja Makan:
Apa Hubungan Lingkungan dan Pangan?
Kenapa beras bisa menjadi makanan pokok Indonesia?
Awalnya, orang Indonesia zaman dulu, sebelum beras menjadi makanan pokok Indonesia, masyarakat lokal banyak mengonsumsi sumber karbohidrat lain, seperti sagu, umbi-umbian dan jagung. Bukan beras, roti apalagi gandum. Ya, karena memang tanahnya Indonesia lebih cocok dengan tanaman pangan tropis.
Dan beras sendiri berasal dari Tiongkok yang dibawa ke Indonesia saat pedagang dari Tiongkok dan India datang ke Indonesia sekitar 2000 tahun silam.
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, beras menjadi makanan kaum bangsawan dan raja. Kemudian ketika masa orde baru, Soeharto menggalakkan program pencetakan sawah baru hingga ke timur Indonesia hingga mencapai swasembada beras 1984. Meski setelah itu, Indonesia gagal mempertahankan swasembada beras. Indonesia terus mengimpor hingga tahun 2025.
Dari tahun 2025 hingga saat ini, Indonesia memang tidak lagi impor beras dalam jumlah besar. Menurut Badan Pangan Nasional, stok beras nasional masih cukup hingga 10,8 bulan mendatang.
Hutan Gambut Rusak Rawan Terhadap Karhutla
Masalahnya, yang jadi polemik adalah sejak kasus cetak sawah di beberapa wilayah di Timur Indonesia, khususnya Merauke (Papua), telah menghilangkan hutan tempat masyarakat mencari sumber pangan lokal. Masyarakat tidak lagi makan sumber pangan lokal mereka, seperti sagu, dan tidak lagi berburu, tetapi mengonsumsi beras yang harus mereka beli.
Di tahun 2022, hutan-hutan yang hilang untuk proyek ambisius food estate itu seluas hampir 3.000 hektare atau setara 4.207 lapangan bola. Di Kalimantan Tengah, lahan food estate terbengkalai dan selalu terbakar. Saat ini, Merauke, Papua Selatan, yang juga terdapat proyek food estate and energy pun mengalami kebakaran hutan.
Di Kalimantan Tengah, lahan untuk food estate itu dibangun di atas tanah eks PLG (Proyek Pengembangan Lahan Gambut). Saat ini, banyak hutan gambut rusak untuk pembukaan lahan perkebunan baru.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau dan Papua Selatan, saat ini sebagian besar berupa lahan gambut, yang sudah dikeringkan akibat kanalisasi untuk ditanami tanaman perkebunan. Api menjadi susah dipadamkan karena terperangkap di lapisan bawah tanah gambut.
![]() |
| Kanalisasi pada lahan gambut |
Menurut Kak Yoga dari Pantau Gambut saat aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad yang berjudul “Dari Gambut ke Meja Makan: Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan”, kanalisasi berlebihan telah merusak daya dukung hidrologis gambut di mana kanalisasi dilakukan setelah pembukaan lahan. Kandungan air yang ada dalam tanah gambut akan keluar menuju ke kanal hingga membuat tanah gambut kering, rusak, dan rawan terjadi kebakaran. Kondisi gambut yang sudah rusak dan rawan kebakaran itu diperparah lagi dengan kondisi El Nino.
Dari total 24,2 juta hektar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia, sekitar 16,4 juta hektar diklasifikasikan memiliki kerentanan kebakaran tingkat tinggi hingga sedang (Peatland Fire Alert, 2023). Sekitar 43% (kira-kira 10,3 juta hektar) diklasifikasikan memiliki kerentanan banjir tingkat tinggi hingga sedang (Drowned Peatland, 2025). Beberapa kali petani mencoba menanam padi dengan bibit varietas yang diberikan pemerintah di tanah gambut selalu gagal karena tanah yang selalu banjir.
Dampak kerusakan lahan gambut pada ekosistem
Lahan gambut yang rusak berdampak buruk bagi ekosistem. Kanalisasi atau pengeringan secara besar-besaran merusak biodiversitas tanah dan flora-fauna, memicu degradasi serta kebakaran.
Hutan gambut itu penyimpan karbon raksasa untuk mencegah krisis iklim. Saat hujan, lahan gambut menjadi pengatur tata air yang menyerap air hujan dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan saat kemarau.
Dengan begitu, di sekitar lahan gambut tidak akan mengalami kebanjiran saat musim hujan dan tidak mengalami kekeringan dan kebakaran hutan saat musim kemarau.
Gambut juga menjadi ekosistem bagi berbagai spesies unik yang terancam punah seperti orangutan dan harimau.
Masyarakat lokal menggantungkan hidupnya pada lahan gambut, seperti untuk aktivitas perikanan, hasil hutan non-kayu, dan pertanian masyarakat lokal yang dikelola secara bijak.
Lahan gambut memiliki lapisan mineral pirit (FeS2). Saat masih terendam air, pirit tidak akan memberikan dampak bagi sekelilingnya. Tapi ketika terjadi kanalisasi, dimana air gambut mengalir ke kanal yang dibuat manusia, lahan gambut menjadi kering.
Saat itu, mineral pirit akan teroksidasi atau bersentuhan dengan oksigen. Oksidasi pirit ini akan menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida membuat tanah menjadi asam dengan pH 2-3. Tanah yang asam ini ikut larut ke kanal dan sungai besar sehingga air menjadi lebih asam dan tanaman serta binatang di sungai bisa keracunan.
Konversi lahan gambut menjadi perkebunan dapat menghilangkan vegetasi alami, habitat satwa, memperparah emisi karbon, dan menghilangkan mikroorganisme dalam tanah hingga kesuburan tanah berkurang.
Satwa liar, seperti orang utan, kehilangan habitatnya. Kadang mereka memasuki perkampungan. Tidak sedikit juga kesehatan satwa liar terganggu karena asap kebakaran.
Belum lagi asap kebakaran berdampak bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat bahkan anak kecil yang mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Aktivitas masyarakat terhambat karena asap. Tidak bisa sekolah dan bekerja.
Tumbuhan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat juga berpotensi hilang karena gambut terbakar.
Gambut itu bukan lahan kosong yang tidak punya manfaat. Justru lahan gambut menjadi ekosistem penopang kehidupan dan memiliki fungsi ekologis penting.
Menjaga Biodiversitas, Menjaga Ketersediaan Pangan
Lahan gambut menjadi habitat biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Ketika lahan gambut rusak, maka flora dan fauna pun hilang. Padahal flora dan fauna tak hanya penting bagi ekosistem lainnya tetapi juga keberlangsungan hidup manusia.
Beberapa jenis tanaman pangan di lahan gambut yang bisa tumbuh seperti sagu, padi dengan varietas lokal, jagung dan kedelai, ubi, talas, nanas.
Tanaman tersebut cocok tumbuh di ekosistem rawa gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi, mampu beradaptasi pada lingkungan basah, tanpa merusak kondisi lahan.
Menjaga biodiversitas di tanah gambut bisa dilakukan dengan pengelolaan tanaman gambut yang ramah gambut agar kelestariannya terjaga, misalnya dengan pengaturan tata air tanpa harus mengurangi kandungan air dalam tanah, koreksi keasaman dan hara dan sistem paludikultur tanpa melakukan pengeringan.
Dengan pengelolaan penanaman yang sesuai, ketersediaan pangan akan tetap terjaga dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Ketika lahan gambut rusak, maka ketersediaan pangan pun berkurang. Contohnya ketika di Merauke, adanya proyek Food and Energy Estate yang mengalihfungsikan hutan gambut menjadi perkebunan membuat masyarakat kehilangan sumber pangan lokal dari hutan tersebut. Dulu, mereka biasa makan sagu, ketika hutan terbabat habis, tanaman sagu berkurang, mereka pun beralih dari sagu ke beras.
Banyak kejadian anak-anak mengalami gizi buruk dan stunting di Papua karena tidak cukup asupan gizi akibat pembabatan hutan yang menjadi sumber pangan lokal mereka.
Tanpa sadar, gastrokolonialisme terjadi di negeri ini. Gastrokolonialisme adalah bentuk penjajahan atau dominasi lewat sistem pangan, di mana kekuatan korporasi besar atau sistem global merusak dan mengikis pola makan serta budaya pangan lokal, lalu menggantinya dengan ketergantungan pada produk impor, pangan olahan, atau komoditas seragam.
Gastrokoloanialisme ini membuat kita tergantung pada satu jenis komoditas.
Ketika terjadi krisis ekonomi, bencana alam, atau kelangkaan bahan pokok, mungkin masyarakat akan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
Jika kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas saja, ketahanan pangan keluarga lebih kuat dan stabil.
Itulah pentingnya kita tidak tergantung pada satu jenis komoditas, misal beras saja atau sagu saja. Dengan adanya diversifikasi pangan, maka kita tidak akan tergantung pada kelangkaan bahan pangan pokok, keragaman gizi semakin tinggi, tubuh tetap terjaga kesehatannya. Tentu saja dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung ekonomi petani lokal.
Diversifikasi pangan juga bisa menstabilkan ekosistem pertanian yang bisa memutus rantai penyebaran hama dan penyakit dengan pola tanam campuran atau rotasi. Ketika sistem perakaran bervariasi maka struktur tanah dan penyerapan air bisa menjadi lebih baik. Erosi juga bisa dicegah.
Dengan keragaman pangan, saat satu jenis tanaman gagal akibat anomali iklim, jenis tanaman lain yang lebih kuat bisa bertahan.
Mengenali Pangan Lokal, Umbi-umbian Sebagai Alternatif Nasi
Nasi bukalah satu-satunya sumber karbohidrat. Indonesia memiliki alternatif pangan lokal yang menyimpan potensi gizi.
Banyak sekali sumber karbohidrat lokal yang bisa tumbuh di sekitar kita, misalnya singkong, ubi jalar, kentang, talas, kimpul, gembili, ganyong, garut, dan lain sebagainya. Setiap tanaman tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari bentuk fisik, cara penanaman, umur panen, begitu juga cara pengolahan.
Umbi-umbian bisa menjadi dari keragaman pangan karena kandungan yang ada di umbi-umbian tidak dimiliki pada makanan pokok kita saat ini yaitu beras. Tak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga mengandung vitamin, mineral dan fitonutrien yang berbeda dengan nasi. Ternyata indeks glikemik umbi-umbian juga lebih rendah dibanding nasi. Dengan begitu, energi bisa bertahan lebih lama. Kandungan serat pangan juga lebih tinggi sehingga bagus untuk pencernaan dan menjaga kesehatan usus.
Bahkan pati dari umbi-umbian singkong atau talas tidak mengandung gluten sehingga aman dan sehat bagi pencernaan, khususnya yang mengalami masalah medis tertentu.
Dengan konsumsi umbi-umbian, kita dapat mmutus ketergantungan masyarakat pada satu jenis komoditas pangan lokal utama. Indones
Bahan Pangan Lokal yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim
Perubahan iklim bisa mengancam tanaman pangan utama dari kekeringan seperti padi sehingga eksplorasi tumbuhan lokal ini diarahkan sebagai alternatif pangan lokal selain padi. Tentu saja, tumbuhan asli daerah memiliki adaptasi alami yang kuat terhadap kondisi cuaca ekstrem setempat. Tidak mungkin jika Indonesia ditanami gandum dan Prancis ditanami padi. Hehehe.
Sistem pertanian yang hanya ditanami satu jenis komoditas atau monokultur sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat cuaca ekstrem sehinga eksplorasi tanaman lokal diintegrasikan ke dalam sistem agroforestri.
Kondisi tersebut tentunya menuntut kita membekali diri pengetahuan tentang tanaman lokal yang bisa dimakan, cara budidaya, cara budidaya, musim panen dan pengolahannya untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Kita bisa memanfaatkan pekarangan rumah atau ruang yang tersisa di rumah untuk menanam sayur atau tanaman pangan mandiri.
Di sini, aku tidak menunjukkan memilih varietas tumbuhan atau cara menanam, tetapi eksplorasi pangan lokal yang mampu bertahan hidup dengan suplai air yang minim, tidak mudah gagal panen meski cuaca ekstrim dan memiliki sistem imun alami yang kuat dari hama.
Menurut beberapa penelitian, singkong menjadi tanaman yang mampu adaptif terhadap perubahan iklim, tumbuh di mana saja, tahan kekeringan, dan tidak mudah hancur oleh hujan deras. Uniknya, ternyata Indonesia menjadi salah satu produsen singkong terbesar di dunia, setelah Nigeria, Republik Kongo, Thailand dan Ghana.
Singkong, Kaya Karbohidrat Pengganti Nasi
Dulu, mohon maaf ni, bukan maksud merendahkan, aku mengira orang yang makan singkong itu seperti orang yang kesulitan membeli beras, sehingga mengonsumsi singkong yang ada di kebun mereka adalah solusi terbaik.
Sekarang, setelah aku belajar banyak, ternyat opiniku salah besar. Justru orang dulu itu cerdas, mereka bisa memanfaatkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok mereka tanpa tergantung beras. Ternyata kandungan karbohidrat singkong lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasi putih dalam berat yang sama:
- Singkong (per 100 gram): Mengandung sekitar 38 gram hingga 40 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 112–160 kkal).
- Nasi putih (per 100 gram): Mengandung sekitar 27,9 gram hingga 28,5 gram karbohidrat (dengan total kalori sekitar 129 kkal).
Mungkin untuk pelaku diet, bisa mengurangi porsinya. Sementara untuk anak-anak yang mengalami stunting atau gizi buruk, singkong bisa menjadi salah satu sumber gizi selain beras.
Justru sekarang ini, akhirnya kita terlalu tergantung pada beras, termasuk aku juga, singkong bukan lagi sumber pangan utama masyarakat Indonesia dan menjadikan singkong adalah teman cemilan. Padahal zaman sejak dahulu, singkong menjadi salah satu pangan pokok di Indonesia, setidaknya yang terlihat pada keluargaku di Jawa.
Nasi Tiwul, Olahan Singkong Favorit
Terus terang, aku tidak pernah dan tidak bisa masak tiwul seperti budeku. Aku hanya tahu sekilas bagaimana bude membuatnya.
Prosesnya membuat tiwul cukup panjang. Singkong dijemur sampai berwarna kehitaman. Oiya, nasi tiwul yang dibuat budeku itu berwarna kehitaman. Sedangkan yang biasa aku beli berwarna kecokelatan.
Perbedaan warna ini tergantung berapa lama penjemuran yang dilakukan. Semakin lama proses penjemuran atau proses fermentasi alami sehingga warna singkong berubah menjadi kehitaman.
Biasanya tiwul yang berwarna hitam ini aroma singkongnya lebih kuat, rasanya sedikit pahit, dan teksturnya lebih kasar. Beda dengan tiwul berwarna cokelat yang memiliki rasa lebih manis, lebih umum dan mudah dijumpai di pasar.
Cara mengolah tiwul ini memang butuh kesabaran karena prosesnya cukup lama. Salut banget sama orang dulu yang masih mengolah singkong jadi tiwul untuk konsumsi pribadi. Setelah singkong dikupas dan dipotong, kemudian dijemur hingga kering (disebut gaplek).
![]() |
| Gaplek, singkong yang dijemur |
Biasanya bude menjemurnya sampai berwarna kehitaman. Setelah itu, gaplek ditumbuh hingga halus, diperciki air sambil diaduk sampai menjadi butiran kecil. Jika sudah menjadi butiran kecil, adonan dikukus hingga matang (biasanya sampai 15-20 menit.
Nasi tiwul bisa disajikan dengan berbagai macam sajian, seperti jika tiwul manis maka ditambahkan gula dan parutan kelapa. Jika dengan lauk, maka tiwul menjadi pengganti nasi, tinggal ditambah lauk, sayur dan sambal.
Tradisi dan Pengetahuan Lokal sebagai Penjaga Biodiversitas Pangan
Jika di Jawa terkenal dengan tiwul, maka di Cimahi terkenal dengan beras singkong atau dikenal dengan rasi. Rasi ini sudah ditetapkan sebagai warisan tak benda karena memiliki sejarah yang panjang dan sudah menjadi bagian dari komunitas adat di Cireundeu. Bahkan sampai saat ini, sekitar 60an keluarga di Kampung Cireundeu masih mengonsumsi rasi yang lebih cepat mengenyangkan daripada beras.
![]() |
| Beras singkong atau Rasi dari Cimahi (sumber: travelingyuk.com) |
Sejak 2019, Cireundeu ditetapkan sebagai kampung wisata. Para perempuan kampung Cireundeu mengembangkan sentra oleh-oleh dengan menjual berbagai produk olahan singkong.
Di zaman dulu, rasi menjadi sebuah simbol perlawanan masyarakatnya terhadap Belanda karena saat itu pemerintah kolonial Belanda mengambil hasil bumi rakyat Indonesia agar pribumi kelaparan dan tidak bisa melawan penjajah.
Ternyata ngeri banget nggak, sih?! Aku jadi merasa takut, jangan-jangan salah satu cara agar generasi saat ini tidak mampu melawan ‘penjajah modern’ adalah dengan mengintervensi sumber pangan lokal mereka.
Nah, saat itu, pemimpinnya menyerukan kepada warga untuk mencari alternatif pangan pengganti beras di tengah krisis pangan. Mereka membuat beras dari singkong agar tetap bisa bertahan dari kelaparan. MaasyaAllah. Keren banget ternyata mereka sudah punya kearifan lokal dari dulu yang harusnya bisa ditiru.
Namun, sayang, pembangunan kota semakin berkembang menghilangkan perkebunan singkong mereka. Petani singkong semakin sedikit. Akibatnya, warga mengajukan permohonan diterbitkannya peraturan tentang hak ulayat masyarakat adat Cireundeu, Cimahi. Dengan begitu, kawasan kampung adat tidak semua dialihfungsi menjadi bangunan tetapi ada bagian yang harus dijaga seperti Hutan Larangan, Hutan Tutupan, Hutan Baladahan dan untuk permukiman.
Seperti di Papua, hutan yang hilang akibat Food and Energy Estate menyebabkan masayrakat kehilangan sumber pangan lokal dan berpengaruh pada ketahanan pangan keluarga yang stabil.
Kembalikan Keragaman Pangan ke Meja Makan
Setelah tinggal di Prancis, menguatkan pandanganku bahwa makanan pokok tidak harus nasi. Dan semakin menguat ketika aku melihat budeku selalu menyediakan nasi tiwul.
Dulu, aku mengira kebiasaan menyiadakan tiwul di rumah bude hanyalah untuk memenuhi pangan sehari-hari. Ternyata tidak sesederhana itu, setelah aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad, Pantau Gambut dan Nusantara Food Diversity, pandanganku berubah. Dengan menjaga lahan gambut dari karhutla, berarti juga menjaga keberagaman sumber pangan lokal.
Masyarakat lokal maupun komunitas adat memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Mereka punya hak dan suara dalam menjaga tanah dan hutan mereka. Kita harus menghormati hak masyarakat adat atas pengetahuan, wilayah dan sumber daya yang mereka miliki. Karena ternyata melibatkan masyarakat lokal atau adat dalam pelestarian pangan lokal berkaitan dengan sejarah dan tradisi budaya.
Kita sebagai orang tua mungkin bisa melakukan langkah kecil dengan mengenali apa yang tumbuh di sekitar tempat tinggal kita atau membeli hasil panen lokal yang ada di pasar tradisional, mengolahnya dan mengenalkannya kepada anak-anak.
![]() |
| Anak makan nasi tiwul dan parutan kelapa, ibu makan nasi tiwul plus lauk (dok. Pribadi) |
Referensi:
https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/63a135d01ffda/sejarah-impor-beras-indonesia-sejak-era-1950-an
https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/06997f04a7db92466a2baa6ebc8b872d
https://mongabay.co.id/2022/07/04/singkong-tanaman-ajaib-yang-adaptif-terhadap-perubahan-iklim/
https://disarpus.wonogirikab.go.id/wonogiripedia/nasi-tiwul-wonogiri
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3g88pp31xyo








































.jpg)

.jpg)








.jpg)




