Museum di yogyakarta
Monjali (dok. Pribadi)

Setelah mengantar suami, aku memilih mengunjungi museum di Yogyakarta. Aku sempat searching museum Yogyakarta apa saja. Dan yang paling dekat dengan tempat acara adalah museum  Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Museum Monumen Jogja Kembali

Monjali adalah singkatan  dari museum Monumen Jogja Kembali yang menghadirkan diorama dan pameran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monjali ini mulai dibangun tahun 1985.

Museum yang berbentuk menyerupai tumpeng ini memiliki tanah seluas 49.920 m2, dengan ketinggian 31,8 meter.

Saat aku telusuri, tidak ada sesuatu hal yang unik untuk dikunjungi selain bentuk museumnya seperti kerucut. 

Setelah aku pikir-pikir, aku harus ke museum ini nih karena dulu Yogya sempat menjadi ibukota Indonesia. 

Lokasi museum Monjali

Monjali berada di Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada di jalan utama sehingga tidak susah dicari tapi memang berada di kawasan yang ramai dan macet. Akses jalannya lebih enak jika kita melewati terabasan biar tidak putar balik. 

Jam buka museum Monjali ini  dari hari selasa  sampai hari minggu dan tutup hari senin dari jam 8 sampai jam 4 sore. Aku tiba di sana sebelum jam 2. Masih ada waktu untuk makan dan mengunjungi museum.

Aku melewati jalan tembusan yang mudah meskipun jalannya kecil. Aku udah membayangkan museumnya ramai. Tempat makan juga ramai.

Tapi aku lupa banget. Ini museum bukan mall yang selalu ramai. Wkwkwk. Pas mau masuk ke parkir mobil, aku agak terheran-heran juga. Fakta di lapangan berbeda dengan ekspektasiku. Tempatnya sepi. 

Tiket Masuk Monjali

Aku menghentikan mobilku di depan loket tiket masuk Museum. Perbincangan dua orang petugas perempuan berhenti. Tanpa keluar dari mobil, petugas itu mendatangiku dan memberitahukan nominal tiket masuk Museum Monjali yang murah seharga 15ribu rupiah.

Aku pun memarkirkan mobil di bawah pepohonan yang rindang. Suasana siang itu benar-benar seperti tanpa ada gairah. Halah. Alias sepi. 

Selain dua mobil pribadi, minibus terparkir di ujung menunggu penumpang masuk ke dalam bus. Saat aku akan parkir, minibus itu siap keluar dari area. Penumpang yang hanya segelintir tampak seperti rombongan dari sekolah. Mungkin kunjungan ke museum sudah selesai. 

Yang paling mengherankan lagi, saat pegawai parkir menagih biaya parkir. Harganya 10ribu, selisih dikit dengan harga tiket masuk. Mau protes tapi kok ga effort lah.

Warung Makan Seadanya

Warung makan di sebelah museum, kukira seperti warung makan biasanya, ternyata hanyalah seperti kios sepetak kecil. Yang dijual seperti gorengan, minuman sachet dan mie cup. 

Tak ada pilihan lain. Sambil menunggu pesanan satu mie cup, aku menunggu di kursi besi di atas akar yang menggembung dari dalam tanah dan membuat meja di depanku miring. 

Warung di monjali

Karena di bawah pepohonan, meja itu penuh dengan bunga berjatuhan. Hewan-hewan kecil kadang melewati di depanku dengan santai.

Aku menikmati tiap suapan kuah indomie cup. Setelah selesai dan membayar, aku segera masuk ke ruangan monjali lewat pintu utama. Dari tempat parkir, akses masuk Museum tidak sulit. Hanya perlu naik dan turun. 

Monjali ini seperti berada di daerah cekungan. Kira harus turun untuk masuk ke museum.

Tembok Pahlawan Yang Gugur

Sebelum memasuki museum, aku menyempatkan memotret daftar nama pahlawan yang gugur saat clash kedua tahun 1948-1949 di wilayah Yogyakarta.

Daftar nama ini diukir dan memenuhi dinding yang panjang dan tinggi.

Pahlawan yang gugur clash kedua 1948
Daftar Nama Pahlawan Yang Gugur (dok. Pribadi)

Arah menuju pintu masuk, aku melihat relief besar berwarna cokelat tentang sejarah masa lalu. 

Relief yang ada di Monjali yaitu relief surat Panglima Soedirman, relief pengambilan sumpah Soedirman, relief Serangan ibukota RI, relief Soedirman naik dokar, relief Serangan 1 Maret, dan relief perundingan Roem-Royen.

Relief sejarah di Monjali

Di sekitar Monjali

Ternyata Monjali ini dikelilingi oleh kolam ikan yang cukup banyak pemancing memancing di sana. 

Selain itu, ada bebek-bebek yang dikayuh untuk mengelilingi kolam. Siang itu tak ada satu pun pengunjung yang menaiki bebek-bebek air itu.

Di dalam sini juga ada Warung makan yang menunya lebih bervariasi. Aku lihat ada menu bakso dan soto. Tempatnya juga lebih nyaman.

Di sekitar juga ada taman dengan permainan anak-anak tapi sepi pengunjung.

Kesan Pertama Masuk Museum

Ketika masuk Museum, aku disambut oleh petugas museum yang masih muda, entah mahasiswa atau peserta magang. Ternyata sudah ada beberapa orang tampang mahasiswa di duduk di sekitar meja. 

Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali)
Pintu masuk Museum Monjali (dok. Pribadi)

Beberapa kali kudengar mereka tertawa-tawa bercanda. Bagiku, candaan mereka membuat suasana museum yang tenang menjadi ramai. Awalnya aku sedikit terganggu tapi lama-lama jadi membantuku.

Aku pergi ke toilet sebentar. Toiletnya lumayan bersih meski agak sempit. 

Museum ini masih konvensional beda kayak museum Gedung Sate Bandung. Sepertinya belum ada inovasi lebih modern untuk menampilkan pameran-pameran. 

Di lantai 1 ini terdiri dari 4 museum (ruangan) yang menampilkan koleksi yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, perang Gerilya dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, peristiwa Serangan Umum 1949, dan koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia.

Museum 1: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ketika aku berjalan menuju museum 1, tampak koridor museum yang sepi, tiba-tiba aku terkejut ada patung kepala sampai dada Pak Harto yang cukup besar di pintu depan menyambut kedatangan pengunjung. Tatapan matanya menghadap depan tapi cukup membuatku menelan ludah. 

Monjali

Begitu masuk ke museum 1, saat mataku menatap patung para pemuda perjuangan dari berbagai pasukan (Heiho, Peta, Laswi, dll) dengan pakaiannya yang khas, tiba-tiba hatiku berdesir. Darahku seperti naik ke kepala.

Heiho Peta di Museum Monjali
Pasukan dengan kostumnya (dok. Pribadi)

Di ruangan itu tak ada orang. Tak ada pengunjung lain. Astagfirullah. Sepertinya aku mulai merinding. Aku nggak pernah masuk Museum sampai merinding begini. 

Ya Allah apakah aku bisa menyelesaikan kunjungan ke museum ini sampai akhir? Apakah aku akan mengalami kejadian aneh-aneh di museum ini?

Mari lanjutkan...

Suara candaan petugas di depan ternyata cukup mengurangi ketakutanku saat memasuki museum. Aku jadi tidak tenang membaca setiap keterangan yang ada di dalamnya. 

Di museum 1 ini aku lumayan lama dan masih berani membaca setiap keterangan pada benda museum.

Ada foto-foto pasukan bambu runcing. Ada barang-barang yang dipakai saat perang dulu seperti guchi, senjata, bekal makan dan minum. Ada miniatur perahu perang. Ada jaket milik pahlawan. Ada kertas berita yang dikirim pakai burung merpati.

Aku pun keluar dari museum 1 (ruangan pertama). Selanjutnya aku masuk lagi di ruangan selanjutnya atau museum 2. Suasana lebih sepi. Suara keramaian mulai terasa jauh. Masih juga tidak ada pengunjung. 

Museum 2: Perang Gerilya

Di museum 2 aku mulai bisa mengendalikan diri. Di museum 2 ini tentang perang gerilya. Foto-foto saat perang gerilya. Wolkie-tolkie saat perang gerilya. Mesin jahit untuk menjahit baju pasukan. Songkok Langenastro juga dipamerkan. Tandu, dokar dan selop milik Panglima Soedirman pun dipamerkan.

Tandu soedirman
Tandu dan selop Panglima Soedirman (Dok. Pribadi)

Museum 3 : peristiwa Serangan Umum 1949

Di museum 3 ini sudah menjauh dari pintu masuk. Dan suara-suara keramaian masih terdengar tapi sudah mengecil. 

Ketika aku memasuki ruangan, aku hampir teriak. Aku melihat diorama di pojok kanan seorang perempuan berambut panjang sedang meniup bara tungku. Kukira ada orang di sana. Atau penampakan 

Aku pun langsung... ya Allah... ya Allah. 

Aku juga mulai nggak konsentrasi. Rasanya pengen cepet keluar dari museum. Wkwk.

Monjali
Beneran hampir teriak lihat ini wkwk (dok. Pribadi)

Ih apa-apan tiba-tiba perasaanku nggak enak begini. 

Museum 4 : koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia

Di ruangan terakhir di lantai 1 ini aku tidak banyak mengambil foto karena banyak koleksi kerumahtanggaan presiden seperti dipan kasur dan selambu putih, kursi dan meja, dan lain-lain. 

Mon maap aku lihat selambu putih di kasurnya pun agak-agak gimana gituu. Beda pas aku lihat kasur dan selambu putih di museum HOS. Cokroaminoto.

Perpustakaan

Ternyata di museum ini juga ada perpustakaannya. Sepertinya buku-buku yang tersedia juga berkaitan dengan sejarah-sejarah kemerdekaan atau setidaknya sumber pustaka dari koleksi yang ada di museum ini.

Perpustakaan di Monjali
Perpustakaan di Monjali (dok. Pribadi)

Spot Foto Berbayar

Di museum Monjali banyak tempat spot foto berbayar yang disediakan pihak museum seperti foto bersama Soekarno dan Soedirman, foto bersama meriam, dll. Kalau tidak salah bayar 10ribu atau 5ribu gitu.

Museum Monjali
Spot Foto Berbayar Di Monjali (dok. Pribadi)

Pameran lukisan

Di koridor antara dua ruangan (museum 3 dan 4 kalau tidak salah) terdapat pameran lukisan dari berbagai pelukis. Karena aku bukan penikmat lukisan jadi aku hanya melihat lukisan-lukisan itu sekilas.

Di koridor ini pencahayaannya lebih terang. Anehnya justru di sini aku bisa lebih tenang dan tidak waswas. Hehe.

Pameran lukisan di Monjali Yogyakarta
Pameran Lukisan Di Monjali 

Melihat Diorama Sendirian? 

Nah di lantai 2 ini khusus diorama. Masalahnya aku sempat maju mundur. Mau neruskan kok agak ngeri ya. Haha. 

Tapi akhirnya aku maju ajalah. Sambil baca ayat Kursi. Ya Allahhhh...

Diorama di Monjali
Diorama perang (dok. Pribadi)

Setiap diorama ada rekaman suara perjuangannya. Dibilang takut juga nggak karena jadi ramai. Tapi koridornya sepi banget. Duh. Sepanjang jalan pengen cepet selesai. Kok kayak panjang bangeet. Haha. Aku cuma foto dan video aja lah. Agak creepy juga sendirian. Haha.

Mengenang Jasa Pahlawan di Lantai 3

Di lantai 3 ini di mana bagian gedung semakin megerucut ke atas. Tak ada koleksi yang dipamerkan tapi hanya ruang kosong untuk mengirim doa kepada para pahlawan. 

Hanya ada tiang bendera dan ukiran timbul tangan di kanan dan kiri. 

Berani Pergi ke Museum Monjali Sendirian? 

Cukup sekali ya aku pergi ke museum Monjali. Sendirian pula. Hahaha. Serius aku jadi penakut gitu. Padahal juga biasanya cuek aja tapi ini entah kenapa takut bet.

Ya Rabba. Kalau kalian nggak takutan sih nggak apa-apa. Aku tiba-tiba jadi takut gituu. Ya Allah... 

Sebenarnya banyak sih pengetahuan baru tiap ke museum. Aku jadi tahu kondisi zaman dulu saat perang gimana. Tapi please.. gimana ya biar dibikin nggak terlalu serem. Apa karena sepi ya jadi kayak serem gitu. 

Mungkin kalo aku ke Museum Gedung Sate sendirian juga bakal takut kali ya.

Eh apa ternyata aku ini dasarnya penakut??? Apa momen creepy kalian saat ke museum? 

Yaudahlah mari kita nikmati bebek-bebek tanpa penumpang di kolam Monjali ini. Menghibur diri dan menenangkan diri. Memberi selamat pada diri bahwa tak ada kejadian aneh-aneh di dalam museum. Haha.

Monjali dan bebek air



Read More
Perjalanan kami di Solo akhirnya singgah juga di Masjid Agung Kraton Surakarta. Alasan kami tentu saja karena kami belum menginjakkan kaki di salah satu masjid tertua di Solo. Beberapa kali lewat sini bukan masuk waktu sholat.

Dulu, aku sudah pernah sholat di masjid Kraton Solo ini. Saat itu masih mahasiswa. Sebenarnya tak ada perbedaan yang spesifik. Suasana masjid Kraton Solo itu masih sama.

Kejauhan parkir mobil

Kami sama-sama tidak paham di mana harus parkir mobil karena kondisinya jalanan macet. Takut nggak keburu, kami memarkirkan mobil di seberang alun-alun Lor (utara) Surakarta.

Memang jalannya jadi jauh, kami harus menyeberangi alun-alun dulu apalagi tidak boleh sembarangan menerobos rerumputan. Ada papan larangan menginjak rumput. Jadi kami harus memutar melewati jalan yang sudah disediakan.

Alun-alun Lor hanya rerumputan dan pepohonan di tengahnya. Tidak ada pengunjung. Berbeda deegan alun-alun Kidul (selatan) yang lebih ramai dan banyak penjual street food di pinggirnya. Alun-alun kidul ini juga sering disebut dengan Alkid.

Anak kami sepertinya lelah berjalan kaki dan meminta gendong ayahnya. Meskipun tampaknya masjid di seberang tidak terlalu jauh, jalannya juga lumayan jauh. Hehe.

Tampak gapura masjid yang tinggi. Di depan gapura, ada halaman yang cukup luas di mana mobil bahkan bus bisa parkir. 

Walah, ternyata ada tempat parkir tepat di depan masjid. Kita aja ngga tahu lokasinya.

Masjid Agung Solo, Pusat Syiar Agama Islam

Masjid agung Kraton Solo

Masjid Agung Kraton Surakarta ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1763 oleh Sunan Paku Buwono III. Lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan (Kraton), sosial (alun-alun), ekonomi (pasar Klewer) dan kebudayaan. Bisa dibilang masjid ini merupakan masjid kerajaan karena tak hanya digunakan untuk ibadah tetapi juga untuk kegiatan kerajaan yang berkaitan dengan agama.

Upacara budaya yang berkaitan dengan agama dan biasa digelar di Masjid Agung Solo seperti Garebeg (Sekaten/Mulud, Syawal/Grebeg Poso, dan Grebeg Besar) dan Malam Salikuran. Grebeg Mulud saat Maulud Nabi, Grebeg Poso saat idul Fitri dan Grebeg besar saat Idul Adha.

Di alun-alun Kidul pula sering diselenggarakan kirab Kebo Bule jelang malam satu suro dan Sekaten Solo (pasar malam). MaasyaAllah kebayang rame banget kalau udah acara budaya itu.

Sejarah Masjid Agung Surakarta ini sangatlah panjang. Di zaman dulu, masjid ini menjadi pusat syiar agama Islam.

Luas masjid ini sekitar 19.180 meter persegi. Dengan luas tersebut, masjid ini memiliki beberapa fasilitas yang terus mengalami perkembangan fungsi dan bentuk. 

Gapura Masjid

Kami melewati gapura putih tinggi bergaya Timur Tengah yang polos. Gapura ini memiliki tiga pintu. Satu pintu utama di bagian tengah dan dua pintu lainnya yang lebih kecil di sebelahnya. Di bagian atas ada jam bulat kecil. 

Gapura utama ini menghadap ke arah alun-alun Lor. Dua gapura lainnya memiliki ukuran lebih kecil di sisi lainnya.

Gapura masjid Solo

Kehadiran gapura ini seolah membatasi pandanganku arsitektur masjid Agung. Aku baru bisa memotretnga setelah melewati gapura. 

Arsitektur Masjid

Dari depan, atap bangunan Masjid Agung Solo ini berbentuk tajug tumpang tiga yang mengerucut yang biasa dijumpai pada bangunan masjid tradisional Jawa. Bagian ujung atap tidak berbentuk kubah seperti di masjid Timur Tengah. Di bagian tengah, tempat pintu masuk masjid. 

Masjid ini memiliki serambi yang luas dan memiliki lorong yang menjorok ke depan. Pagar-pagar setinggi satu meter mengelilingi masjid.

Sepanjang jalan masuk ke masjid, lampu hias tradisional Jawa berwarna biru berdiri di sisinya. 

Aku melewati serambi dan menuju ke ruang wudhu perempuan di sisi kiri atau disebut pawestren. Sementara suami dan anak mencari tempat wudhu pria di sisi kanan.

Di ruangan wudhu ini cukup besar dan ramai. Kamar mandinya banyak dan sedikit tercium aroma kamar mandi, hehe. Di bagian tempat wudhu masih dipertahankan keasliannya karena di bagian tengah adalah penampungannya kemudian dialirkan ke kran-kran yang ada di pinggirnya.

Sebuah pipa mengalir masuk ke tempat penampungan tersebut. 

Aku pun segera sholat di tempat khusus perempuan yang masih bergabung dengan bangunan masjid tetapi tetap tertutup dari bangunan utama sehingga tidak terlihat oleh pria.

Setelah selesai, aku segera menemui suami di serambi depan tapi aku tidak menemukannya.

Aku menyempatkan mengintip sedikit dari depan pintu tempat sholat pria. Pintu-pintu yang terbuat dari kayu ini banyak. Hanya saja yang terbuka cuma dua kalau tidak salah. 

Masjid jami' Solo

MaasyaAllah tempatnya adem, tenang, dan khas bangunan masjid Jawa. Didominasi kayu, lampu sedikit redup, di tengah ada lampu gantung yang tampak mewah.

Di serambi masjid, tiang-tiangnya tampak sederhana tanpa ukiran, tidak seperti tiang serambi di Masjid Agung Yogyakarta, yang memiliki ukiran-ukiran berwarna emas. Di beberapa bagian atap, terdapat lampu gantung jadul.

Lantai keramiknya pun masih pakai keramik lama semakin menambah kesan tradisional.

Menara masjid

Dari jauh sudah tampak menara masjid yang dibangun jauh setelah masjid selesai, yaitu sekitar tahun 1901. Menara ini tampak berbeda dari menara yang ada di Masjid Pura Mangkunegaran atau di Masjid Al-Akbar yang modern.

Pada masjid Agung Solo, menaranya memiliki garis-garis simetris, pintu masuknya berbentuk melengkung.

Menara Masjid Agung Solo


Sebenarnya pembangunan menara ini tidak ada dalam arsitektur masjid tradisional Jawa, tetapi pengaruh dari Timur Tengah, India, dan Persia. Menurut beberapa sumber, menara ini bergaya menara India, terinspirasi dari Qutb Minar.

Jam Istiwak

Yang menarik, di masjid ini ada jam istiwak untuk menentukan waktu sholat dari pergerakan matahari. Jam istiwak sudah ada sejak tahun 1757. Jam ini dianggap lebih akurat daripada jam konvensional. Sayangnya, kalau matahari tidak muncul karena mendung maka susah untuk menentukan waktunya.

Menerobos Gerimis

Langit mulai gelap, sepertinya akan hujan deras, sementara kami harus melewati alun-alun lagi. 

Masjid masih ramai dengan pengunjung. Aku mencari suami diantara keramaian orang-orang. Ternyata suami sudah keluar masjid dari tadi. Ia memanggilku agar segera kembali ke mobil. 

Aku masih penasaran dengan bangunan lainnya di sekitar masjid. Aku sempat melihat bangunan takmir di samping masjid dan beberapa bangunan lainnya. Bentuknya masih jadul. 

Aku melewati halaman masjid. Angin berhembus cukup kencang. Mulai rintik-rintik dan aku segera berlari.

Aku, suami dan anakku harus berlarian di tengah alun-alun menerjang gerimis. Begitu masuk ke dalam mobil, hujan langsung jatuh seperti pintu yang jebol. Begitu deras.

Alhamdulillahhhh. Nggak sampai kehujanan.

Read More
Setelah zonk cari kuliner malam di Probolinggo yang udah aku ceritakan di artikel keliling kota Probolinggo, aku nggak mau capek-capek lagi cari tempat makan recommended di Probolinggo. Dahlah, aku cari kuliner dekat alun-alun saja. Nggak mau berlama-lama lagi mencari tempat makan, aku langsung memilih rumah makan Ikan Bakar Gatsu. Yaahh setidaknya nggak kecewa bener lahh bisa makan hasil laut, hehe.

Ikan bakar gatsu probolinggo
Ikan bakar Gatsu Probolinggo (foto: Google ikan bakar Gatsu)

Resto Ikan Bakar Gatsu, Special Seafood di Probolinggo

Rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini merupakan kuliner Probolinggo yang menjual berbagai menu masakan laut, mulai dari ikan, dan udang baik dibakar maupun digoreng. Kalau lihat ulasan di google sih tampak lezat banget yaa. Ikan Bakar Gatsu ini sudah dibangun sejak tahun 2007. Meski ada ikan yang digoreng tapi di rumah makan ini recommended dibakar. Jam buka resto ikan bakar Gatsu dari setiap hari dari pukul 09.30 sampai 21.30.

Lokasi dekat alun-alun, parkir aman?

Ikan Bakar Gatsu berada di sebelah timur alun-alun Probolinggo, tepatnya di Jalan KH. Mas Mansyur. No. 50. 

Kuliner di probolinggo
Parkir mobil Ikan Bakar Gatsu di pinggir jalan (Google foto: Maria Alkayyis)

Sampai di sana, alhamdulillah saja, masih ada tempat parkir mobil meski di pinggir jalan, sedangkan motor ada tempat parkir khusus. Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman di dekat jendela besar agar kami bisa melihat aktivitas orang di jalanan. Dan tentunya, agar tidak terlalu panas. Meskipun di resto ini disediakan kipas, kami memilih untuk penghawaan alami.

Bangunan rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini memanfaatkan bangunan lawas sekitar alun-alun. Sangat tampak dari desain bangunannya yang tinggi, berjendela besar, berpintu besar dan berhalaman luas. Tapi yang unik, bangunan lawas itu sedikit diubah jadi seolah-olah bangunan ala Jepang.

Dalam bahasa Jepang, Gatsu artinya bulan (dalam kalender), misalnya bulan Januari disebut ichi-gatsu atau bulan satu.

Untuk nama resto, di bagian atap depan menggunakan lampu neon warna pink dan biru yang dibentuk menjadi nama resto.

Di dalam bangunannya, atapnya tampak tinggi. Meski tidak ada AC, ruangan tidak panas. 

Menu resto Ikan Bakar Gatsu

Sebenarnya keluarga kami itu sedikit kesulitan makan ikan, jadi kami pilih ikan Gurame bakar karena durinya sedikit. Artinya, durinya hanya besar di bagian tengah dan pinggir saja.

Selain Gurame, sebenarnya tersedia menu lainnya seperti udang, cumi, kakap dan kerapu. Bisa dibilang variasi menu makanan di sini tidak terlalu banyak. Biasanya, di resto seafood, jenis menu makanan seafood bermacam-macam.

Kami pun memilih gurame bakar dan udang bakar. Untuk minuman, kami memecan jeruk panas, teh dan es cao.

Antrian lama

Ketika kamu memasuki resto, pengunjung resto sebenarnya tidak terlalu banyak tapi rupanya belum dilayani semua. Kira-kira ada 6 grup pengunjung yang belum dilayani. Beberapa pengunjung tampak menoleh ke arah lain berharap pesanan sudah selesai.

Kami memilih tempat duduk di pinggir jendela. Petugas mendatangi kami untuk bertanya pesan apa. Sayangnya tidak ada buku menu jadi aku harus bertanya menu apa saja. Sebenarnya kurang nyaman sih karena akhirnya kami tanya-tanya mulu. Jadi sabar aja ya mbak pegawai...

Kami menunggu di dekat jendela besar sambil melihat aktivitas masyarakat yang lewat. Ada odong-odong yang melewati alun-alun.

5 menit... 10 menit... pesanan belum datang juga... kulihat pengunjung lain yang kulihat tadi tampak wajah menahan lapar dan juga belum dilayani.

Wah, sepertinya akan lama. Anak-anak pun mulai bosan menunggu. Mereka selalu bertanya kapan makanannya datang?

Beberapa kali mereka keluar masuk resto dan menyapaku lewat jendela, kadang manjat-manjat pula.

Menunggu pesanan datang (dok. Pribadi)

Aku ikut juga keluar resto hanya untuk melihat aktivitas orang yang sedang membakar seafood pesanan pengunjung. Tempat bakaran ini berada di bangunan tambahan dari bangunan resto. 

Asap mengepul di sela-sela jeruji besi. Tampang pegawai yang sedang membakar ikan mengkerut seolah ingin menghindari asap yang memenuhi wajahnya.

Rumah makan seafood Probolinggo
Tempat Bakaran Ikan Bakar Gatsu (Google Foto: Eko Prasetyo)

Sepertinya memang akan lama padahal ada 3 pemanggang. Satu pemanggang untuk dua ikan besar. MaasyaAllah benar-benar diuji kesabaran yaaa.

Aku pun kembali ke tempat dudukku.

Saat melihat odong-odong lewat, mereka minta naik odong-odong.

Karena aku juga bosan menunggu, aku pun mengajak dua anakku aja naik odong-odong. Untungnya si kakak tidak minta ikut juga, hehe.

Kami pun naik odong-odong seperti yang aku ceritakan di artikel sebelumnya.

Ketika kami selesai naik odong-odong, makanan sudah datang. Pengunjung sebelum kami pun juga sedang menyantap pesanan mereka.

Kami segera cuci tangan dan makan.

Cita rasa menu bakaran Gatsu

Gurame bakar dan udang bakar tampak lezat sekali. Seafood bakar itu diletakkan di piring anyaman bambu yang dilapis kertas bungkus dan daun pisang. Di piring lain, sambal terasi beserta sayur lalapannya (kemangi, kubis, timun) tampak segar. Aku tak sabar ingin melahapnya.

Kuliner seafood probolinggo
Menu Seafood Ikan Bakar Gatsu (Google foto: Maria Hutomo)

Saat mencicipi menu bakaran Gatsu, rasanya menurutku kurang nendang sih. Daging yang dibakar tidak terlalu gosong tapi matang merata. Dagingnya pun lembut. Rasa bumbunya meresap dan tidak terlalu pedas sehingga anak-anak masih bisa makan.

Rasa ikannya juga segar kok tidak terasa seperti ikan yang sudah lama dibiarkan.

Begitu juga dengan udang bakarnya yang ditusuk dengan tusuk sate dan dibelah jadi dua. Tampak lezat. Rasanya kurang lebih sama kok karena dasar bumbunya sama. Dagingnya lembut.

Rasa sambalnya segar sekali, cukup pedas. Karena kami lapar, rasanya ikan bakar yang dimakan dengan sepiring nasi hangat dan sambal terasi yang pedas jadi terasa lezaaaat. Anak-anak pun makan dengan lahap.

Untuk minumannya, menurutku, es cao, es blewah, teh dan jeruknya manissss.

Akhirnya selesai juga, rasa lapar kami seolah hilang seketika. Alhamdulillah. Meskipun rasanya kurang nendang dikiiit tapi saat makan tidak dicela rasanya jadi enak aja bahkan sampai nasi habis.

Mungkin begitulah, ketika ingin merasakan suatu kenikmatan, kita harus menunggu dengan sabaarrrr.. ya kaaannn.. sama lah kalau masuk surgaa, kudu banyak sabaaarr..

Pembayaran

Saat itu, untunglah pembayaran bisa dilakukan dengan QRIS. Semua makanan yang kami pesan harganya normal seperti layaknya makanan seafood. Aku lupa sih berapa total, tapi kalau tidak salah tidak sampai 200ribu.

Apakah Layak Dikunjungi Lagi?

Kalau melihat antrian yang cukup lama, mending ke sana saat kondisi perut tidak terlalu lapar. Atau datang jangan terlalu malam, setelah magrib atau isya gitu. Selain itu, kayaknya semua menu dicoba aja, mulai dari udang bakar, ikan bakar dan cumi bakar.
Read More
Tiba-tiba aja kami pergi ke Probolinggo mengunjungi cucu. Iyaa... CUCU. Aku udah punya cucu di usia 35 tahun. MaasyaAllah. Kok bisaaa? Bukan cucu dari anakku tapi dari ponakanku. Eh, gimana, ya? Pakdeku (kakak dari ibu, alm) punya cucu. Cucunya ini punya anak. Nah, bisa dibilang aku jadi mbah-mbah! Wkwkwk.

Jadilah kedatangan kami ke Probolinggo ini bukan untuk wisata tapi menengok cucu. Perjalanan dari rumah ke Probolinggo ini sekitar 1.5 jam lewat tol dengan jarak 100km, lebih jauh daripada ke Malang. Jadi kami udah bisa disebut musafir lah yaaa.

Tiba di Probolinggo sudah mendekati maghrib, jadi kami mencari masjid di Probolinggo untuk sholat dulu. 

Dan pastinya tempat yang ada masjidnya tanpa harus cari-cari adalah alun-alun. Tahu, kan, konsep alun-alun sudah ada sejak zaman Belanda. Di mana ada alun-alun disitu ada masjid. 

Di alun-alun Kota Probolinggo yang tak begitu jauh dari pesisir, kami menemukan masjid hijau di barat alun-alun. Memang Kota Probolinggo ini berada di kawasan pesisir. Kotanya pun tidak terlalu ramai. 

Jumlah penduduk Kota Probolinggo hampir seperempat dari jumlah penduduk Kota Malang, dan sedikit lebih banyak dari Kota Blitar. Suasana Kota Probolinggo ini lebih tenang. Tapi karena Kota ini menjadi kota pesisir yang dekat dengan pelabuhan dan menghubungkan kota-kota besar lainnya di Jawa Timur, kita masih bisa melihat truk-truk besar yang lewati pinggiran Kota atau tol.

Alun-alun Kota Probolinggo

Akun-Alun Probolinggo setelah direvitalisasi (sumber foto: nuansajatim.com)

Salah satu alasan aku males pergi ke alun-alun kalau naik kendaraan roda empat adalah  kesulitan mencari tempat parkirnya. Jarang sekali ada tempat parkir mobil kecuali di pinggir jalan. Kalau udah penuh mobil, harus cari parkirnya agak jauh.

Alhamdulillah, di samping masjid disediakan tanah kosong untuk tempat parkir mobil lumayan luas. Jadi nggak perlu bingung parkir di pinggir jalan.

Hampir sama dengan alun-alun kota lainnya seperti di Malang, alun-alun kota Probolinggo berbentuk segiempat yang berupa rerumputan. 

Di malam hari, bisa dibilang tidak banyak warga yang memadati alun-alun tersebut. Apalagi pencahayaan kurang terang. Tidak ada aktivitas yang cukup menarik perhatian kami. 

Saat kami ke sana, alun-alun Probolinggo belum direvitalisasi. Kira-kira tiga bulan kemudian, sekitar Juli 2025, alun-alun direvitalisasi.

Sekarang, alun-alun sudah dibuka untuk umum. Di bagian depan, ada tulisan besar 'Alun-Alun Probolinggo' dan beberapa sisi dipercantik. 

Ketika kami ke sana, alun-alun kota malam itu tidak terlalu ramai tapi di satu ruas jalan cukup ramai dengan aktivitas odong-odong hias bertingkat yang membuat jalanan macet. Alun-alun ini menjadi salah satu wisata keluarga di kota Probolinggo.

Setelah parkir mobil, kami melewati pedagang kaki lima yang memenuhi jalanan di sisi depan masjid. Di saat perut lapar, street food di depan masjid alun-alun Probolinggo itu tampak menggiurkan tapi hanya untuk mengganjal perut saja, bukan termasuk jenis makanan berat yang mengenyangkan.

Masjid Agung Raudlatul Jannah

Masjid Agung Raudlatul Jannah yang berwarna hijau ini tampak jauh lebih ramai dari alun-alun. Para jamaah keluar masuk dari pintu utama. 

Masjid Raudlatul Jannah Probolinggo (sumber foto: Radar Bromo)

Suami dan anak-anak memasuki pintu utama masjid. Sedangkan aku mencari pintu untuk akhwat. Pintu masuk perempuan berada di ujung masjid. 

Sebagian jamaah perempuan sudah selesai menyelesaikan kewajibannya.

Desain masjid ini memang tidak seperti masjid-masjid modern lainnya. Konsepnya sama seperti desain masjid zaman dulu, didominasi warna hijau, dan sederhana. Sayang banget aku nggak sempat foto di bagian depan masjid.

Antrian panjang

Tempat wudhu dan toilet perempuan cukup ramai. Aku tidak yakin bisa masuk kamar mandi atau nggak. Tapi apa salahnya mencoba. menunggu di depan pintu kamar mandi sambil menahan BAK tapi yang di dalam kamar mandi tak kunjung keluar. Rasanya ingin kegedor-gedor. Tiga kamar mandi lainnya pun sudah ada yang antri.

Lagi sabar menunggu, eh tiba-tiba seorang ibu berdiri di depanku, seolah-olah aku ini makhluk kasat mata. Menoleh padaku pun tidak. Dia benar-benar mengira aku ini bukan manusia. Rasanya gemes tapi mau negur kok sungkan. Karena aku udah sebel jadi aku memilih untuk beranjak dari antrian. 

Aku pun mengambil wudhu. Di tempat sholat, jamaah sholat magrib sudah selesai tapi masih ada yang melaksanakan sholat di beberapa bagian masjid. 

Al-Qur'an Raksasa

Setelah selesai sholat, aku menghampiri anak-anak yang sudah di teras masjid. Anak-anak memberitahu bahwa ada Al-Quran besar banget.

Aku tak melihat apa pun di masjid ini. Mereka membawaku ke sebuah tempat di mana para jamaah laki-laki hilir mudik. Awalnya aku malu tapi karena anakku sedikit memaksa jadi aku mengikuti saja. 

Di dekat pintu masuk masjid jamaah laki-laki, terdapat lemari kayu besar dengan penutup kaca yang ternyata di dalamnya tempat menyimpan Al-Quran. 

Di depanku, sebuah Al-Quran besar terbuka. Tampak tulisannya pun besar-besar. Aku tidak memperhatikan halaman terbuka di surah apa. Ukuran lebar Al-Quran kira-kira sepanjang lengan tanganku. Panjangnya dua kali lengan. Waooww.  

Yang mantap lagi setiap baris ayat itu seperti ada garis tipis pensil. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata bukan hasil percetakan tetapi hasil tulisan tangan seseorang. MaasyaAllah. Benar-benar nggak terlihat seperti tulisan tangan. Saking rapinya.

Al-Qur'an Akbar ini dibuat tahun 2022. Al-Qur'an Akbar ini memiliki ukuran panjang 1.5 meter, lebar 1 meter, tebal 25 cm, sebanyak 310 halaman, menggunakan tinta tahan air, dan dipilih dengan bahan kayu hardplex dilapisi Oscar. Penulisan Al-Qur'an menggunakan Rasm Utsmani.

Al-Quran Akbar Masjid Probolinggo
Anakku di dekat Al-Quran Raksasa (dok. Pribadi)

Al-Qur'an ini ditulis oleh tiga dosen dari Universitas Sain Al-Quran (Unsiq) Wonosobo dan menghabiskan 20 liter tinta selama 7 bulan. Allahuakbar.

Cari Makan di Resto Dekat Laut 'Agak Laen'

Perut kami mulai lapar. Kami maunya mencari tempat makan yang 'agak laen'. Artinya, karena ini di pesisir jadi cari yang deket pesisir atau makanan laut. Ngebayangin kayak di Balikpapan gitu lah. Haha.

Dari Google, kami nemu satu resto dekat pesisir. Namanya Warung Kama. Kami pun mengikuti jalan yang diarahkan Google Map. Tapi semakin kita menjauhi kota dan mendekati pesisir kok tempatnya sepi sekali yaa. Mana penerangan jalannya juga kurang banget. Jalannya juga jelek seperti tidak pernah terawat. 

Ini serius?

Ya karena kami percaya aja sama Google, kami ikut sajaa meski hati agak ketar-ketir. Emang ada bisnis lewat tempat sepi gini?

Kami melewati BeeJee resto apung yang tampak paling terang dan ramai. Meskipun tidak bisa disebut ramai juga untuk ukuran resto. Hehe. Memang ada beberapa mobil masuk ke resto apung itu. Pintu masuknya pun keren. Tapi itu bukan tujuan kami. 

Akhirnya kami jalan terus. Ada bapak satpam menanyakan kami mau ke mana. Kami menjawab ke resto (aku lupa menyebut nama restonya atau nggak), tapi beliau tetap mempersilakan kami jalan. 

Semakin ke utara, tidak ada penerangan. Kiri kami ada pabrik-pabrik. Sebagian air laut masuk ke daratan. Di kanan kami tanah kosong tak tampak apa pun. 

Tibalah kami di ujung jalan. Tak ada aktivitas apa pun hanya bilik kayu sempit penjual rokok, kopi atau apa pun itu. Suara-suara penjual yang meramaikan malam itu. Di depan kami, entahlah seperti tempat pelelangan ikan. Di kanan kami, bangunan kayu yang cukup luas tampak seperti resto yang sudah tutup.

Kami bertanya pada penjual itu dna beliau menunjuk bangunan di kanan kami. Nggak ada cerita apapun tentang resto itu. 

Agak laen bener. Wkwkwk

Dah lah fix kita kena zonk. Di Google Map masih melaporkan bisnis itu buka (tahun 2025). Sekarang setelah aku lihat udah tutup.

Akhirnya, kita kembali ke alun-alun. Kita cari makan di tengah kota aja. Wkwkw.

Melihat Kapal Nelayan

Perjalanan pulang, suami sempat berbelok di suatu tempat yang kosong. Di ujungnya, pagar besi itu ditutup. 

Di seberang kami, banyak perahu kayu tradisional nelayan sedang bersandar. Suara mesin motor kapal terdengar cukup kencang. 

Pemandangan di depan kami memang baru pertama kali dilihat anak-anak. Kami menjelaskan kapan nelayan itu berangkat dan kembali. 

Pelabuhan Nelayan Probolinggo
Parkir di area pelabuhan kapal nelayan (dok. Pribadi)

Naik Odong-odong di Alun-Alun Probolinggo

Nggak mau lagi cari resto zonk, kami pun memilih tempat makan dekat alun-alun. Ngga lagi niat cari tempat makan yang 'agak laen'. Wkwkwk.

Pilihan jatuh di warung ikan bakar Gatsu yang mungkin aku bahas lain kali. Setelah kami memesan makanan ternyata keluarnya cukup lama. 

Anakku minta naik odong-odong. Sambil menunggu makanan, aku mengajak dua anakku naik odong-odong. 

Kami menunggu di pinggir alun-alun. Odong-odong di sini mirip kayak di alun-alun Malang. Bentuknya bertingkat-tingkat. Dan hiasannya seperti ada sayap terbang atau naga. Aku dan anak-anak duduk di belakang. 

Kami keliling sekitar alun-alun Probolinggo. Anak-anak senang sekali bisa naik odong-odong yang berlagu itu. 

Meskipun tampaknya alun-alun itu sepi ternyata yang naik odong-odong lumayan ramai. Yaaa nggak sampai duduk berdempetan. Di beberapa titik, jalanan macet karena odong-odong. Hehe.

Naik odong-odong di alun-alun Probolinggo


Setelah keliling dua putaran kami pun berhenti. Aku lupa bayar berapa. 20ribu atau 30ribu ya.. pokoknya sekitar segituuuu yaa.

Tak lama, pesanan kami datang. Dengan lahan, kami habiskan ikan laut bakar itu. Karena sudah hampir jam 9 malam, kami segera ke rumah cucuuuuu sekitar 15 menit dari alun-alun. Cucunya udah tidur. Wkwkwk.

Read More
Suatu ketika, setelah anak-anak nonton Doraemon, mereka bilang enak yaa bisa ketemu Doraemon. Bisa minta apa aja. Hahaha. Nak, kita punya Allah yang bisa minta apa aja bahkan lebihhhhh banyakkk dari Doraemon. Hehe. Akhirnya berceritalah tentang negara Jepang yang juga punya pinguin dan salju. Mereka penasaran ingin lihat pinguin di Jepang sambil bermain salju. Ngebayangin ngajak bocah-bocah jalan-jalan main salju pas musim dingin, atau sekadar lari-larian di taman bermain atau lihat pinguin kok kayaknya seru banget ya, hehe.

Visa ke jepang apa saja

Terus karena aku iseng, aku cari-cari info persiapan ke Jepang, khususnya visa, kok bingung yaa. Emang sih urusan visa ini agak membingungkan. Dulu, sebelum ke Prancis, aku terima beres aja. Urusan visa udah dibantu sama lembaga pendidikan. Waktu ke mekkah juga udah diuruskan travel.

Nah kalau ngebahas liburan luar negeri bareng keluarga, hal pertama yang muncul di kepalaku tuh visa ke Jepang apa saja jenisnya? Karena tiap negara pasti memiliki kebijakan visanya berbeda. Ngurusin dokumen buat sekeluarga juga butuh energi ekstra.

Urusan beginian kalau tanya suami visa ke Jepang apa saja jenis dan aturannya, sih, pasti udah angkat tangan duluan. Jadilah aku coba cari-cari sendiri.

Biar kalian nggak ikutan pusing nyari info sana-sini, aku coba ngerangkum catatanku di sini ya geeesss.

Apa Saja Jenis Jenis Visa untuk Ke Jepang dan Fungsinya

Jenis Visa Jepang

Kalau jalan-jalan di dalam negeri kan enak, tinggal pesan penginapan, beres-beres koper, dan bawa badan.

Nah, kalau mau ke negara orang, urusan surat-menyuratnya lumayan bikin deg-degan. Biar urusannya lancar dan nggak bikin ribet, kita emang wajib tahu detail visa ke Jepang apa saja beserta fungsi spesifiknya.

Apalagi kalau bawa rombongan yang kadang moodnya nggak bisa ditebak. Biar nggak salah urus dokumen dan malah jadi runyam, kita langsung bedah aja satu-satu jenisnya, hehe.

Bebas Visa (Visa Waiver) Khusus e-Paspor

Pas lagi nge-list visa ke Jepang apa saja, aku baru sadar kalau jenis paspor itu berpengaruh banget ke prosesnya.

Waktu pengalaman bikin paspor kadaluarsa lewat aplikasi M-Paspor, sekarang udah ngga ada paspor biasa. Adanya e-paspor yang harganya 650ribu. Setelah datang langsung  ke Imigrasi Juanda Surabaya, aku udah bisa pegang e-paspor!

Ternyata salah satu kelebihan pemegang e-paspor (yang ada lambang cip di bagian depannya), urusannya jauh lebih gampang karena ada fasilitas bebas visa alias visa waiver dari kedutaan Jepang.

Berdasarkan hasil ngulik-ngulik dari berbagai sumber, ini dia beberapa poin pentingnya:
  • Tetap Harus Registrasi: Mentang-mentang namanya bebas visa, bukan berarti kita bisa langsung main nyelonong ke bandara ya. Kita tetep wajib mendaftarkan e-paspor kita ke kedutaan sebelum jadwal keberangkatan.
  • Masa Berlaku Panjang: Enaknya tuh, registrasi ini berlakunya lumayan lama, sampai 3 tahun lho.
  • Waktu Kunjungan: Lewat jalur ini, kita dikasih izin tinggal sampai maksimal 15 hari aja buat tiap kunjungan. Cukuplah ya buat liburan bareng keluarga, kalau kelamaan nanti tagihan di rumah pada menjerit hahaha.

Visa Kunjungan Singkat (Single Entry)

Terus, ngomongin soal visa ke Jepang apa saja, ada juga dokumen yang namanya Single Entry. Ini khusus diperuntukkan buat turis yang masih pakai paspor biasa atau paspor buku hijau. Paspor suami masih paspor biasa yang belum e-paspor dan masih berlaku.

Dari semua daftar visa, jenis visa single entry ini persyaratannya yang agak bikin ketar-ketir (eh, maksudnya bikin deg-degan wkwk). Soalnya, persyaratannya lumayan detail:

  • Sekali Masuk: Namanya juga single entry, jadi cuma bisa dipakai buat satu kali perjalanan aja. Lumayan makan waktu ya kalau bawa keluarga besar tapi harus ngurus dari awal lagi pas mau berangkat tahun depan.
  • Durasi Izin Tinggal: Biasanya sih izin tinggal yang dikasih tetap sama, yaitu sekitar 15 hari tergantung sama jadwal itinerary kita.
  • Wajib Bukti Keuangan: Nah, ini dia nih! Kita wajib ngelampirin mutasi rekening koran tiga bulan terakhir. Saldonya harus dipastikan cukup buat nutupin biaya hidup sekeluarga di sana. Bener-bener harus nabung kenceng nih pak suami wkwk.


Visa Kunjungan Berkali-kali (Multiple Entry)

Kalau misalnya kita ada urusan di Jepang ya misal bisnis maka lebih baik memilih jenis visa multiple entry ini. Atau siapa tahu ya kaan rencana liburannya bolak-balik. Hehe. 

Ini tuh ibarat punya akses jalur khusus VIP. Cocok banget buat orang yang mobilitasnya tinggi atau memang super sering liburan ke luar negeri. Info pentingnya kayak gini:
  • Masa Berlaku Bertahun-tahun: Sekali bikin dokumen ini, masa berlakunya bisa bertahan mulai dari 1 tahun sampai maksimal 5 tahun!
  • Durasi Tinggal Lebih Lama: Buat tiap kunjungannya, durasi izin tinggalnya juga bisa dikasih lebih panjang sampai 30 hari.
  • Syarat Penghasilan: Tapi ya gitu, syaratnya tentu jauh lebih ketat karena harus ngebuktiin kemampuan finansial yang cukup besar. Dahlah, emak-emak mending pakai yang jalur bebas visa aja kayanya lebih tenang urusannya.

Visa Khusus Transit

Waktu lanjut baca-baca info visa ke Jepang apa saja, ternyata ada juga fasilitas khusus buat turis yang cuma numpang lewat.

Misalnya nih, tujuan akhir perjalanan kita ke negara lain, tapi pesawatnya mengharuskan kita buat turun dan transit dulu nunggu penerbangan esok hari.

Jenis izin transit ini gunanya:
  • Hanya Untuk Singgah: Izin ini bener-bener cuma berlaku buat mampir sebentar aja pas lagi dalam perjalanan.
  • Waktu Sangat Terbatas: Durasinya sangat singkat, jadi jangan ngarep bisa jalan-jalan jauh keliling kota pakai izin yang satu ini ya geeesss.

Bismillah, Semangat Nabung Buat Liburan Rombongan!


Setelah ngulik panjang lebar tentang visa ke Jepang apa saja, rasanya lega banget udah punya bayangan. Nggak kebayang kalau harus jalan buta tanpa riset dulu.

Apalagi liburan bawa anak-anak yang mood nya kadang suka naik-turun pas lagi capek jalan. Ngurusin ginian emang butuh niat dan kesabaran seluas samudra, hehe.

Kalau urusan surat dan dokumen udah jelas arahnya, pe-er kami selanjutnya tinggal milih layanan penerbangan.

Jujur aja, perjalanan berjam-jam bawa anak kecil itu tantangannya luar biasa. Makanya, sebisa mungkin nyari maskapai penerbangan yang ruang kakinya ekstra lega, apalagi kaki suami tuh panjang. Ngga bisa pilih transportasi umum yang jarak antar tempat duduknya sempit.

Yang jelas sih biar bocil-bocil bisa duduk rileks dan nggak rewel karena kesempitan. Apalagi anak cowok yaaa geraknya maasyaAllah. Banyak banget.

Terus, kalau dapet maskapai yang ngasih fasilitas hiburan layar di tiap kursi penumpang, itu bener-bener penolong banget! Paling nggak, anak-anak bisa anteng nonton, dan ibunya bisa ikutan merem sebentar, hehe.

Semoga aja niat baik rencana liburan keluarga ini segera terwujud ya. Aamiinn.

Sambil nyicil beresin urusan dokumen dan nyocokin jadwal, dari sekarang harus mulai rajin pantau ketersediaan tiket ke Jepang nih buat dapetin penerbangan yang pas di hati. Doain ya geeesss, semoga urusannya dilancarkan!
Read More
Alhamdulillah, akhirnya aku punya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip). Sebenarnya sudah lama ingin ke sini, tapi karena lokasinya cukup jauh dari rumah jadi aku tidak pernah pergi ke perpustakaan ini. Qodarullah, aku mewakili organisasiku untuk berkunjung ke perpustakaan provinsi Jatim.

Disperpusip Jatim

Kesan pertama keliling perpustakaan

Kesan pertama akan kuceritakan dari berbagai aspek, seperti lokasi, gedung, suasana, apakah nyaman untuk membaca atau belajar?

Dari lokasi, perpustakaan ini berada di Jalan Menur Pumpungan No.32, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya. Lokasi ini cukup jauh dari rumahku, sekitar 45 menit. 

Jam buka Perpustakaan Provinsi Jatim ini:
Senin-Sabtu: 08.00-15.30, kecuali Jumat 08.00-16.00
Khusus ruang baca umum/dewasa 
Senin - Kamis: 08.00-19.30
Jumat : 08.30-20.00

Layanan arsip
Senin-Jumat : 08.30-14.30

Minggu/hari libur nasional Tutup

Awalnya aku enggan juga nyetir mobil ke sini, tapi karena penasaran, aku datang ke sini bersama anakku.

Aku memilih parkir di luar karena ada tempat yang kosong. Aku juga tidak mau putar mencari yang gampang dan teduh.

Oiya, aku tidak memasuki lewat pintu utama, tapi lewat pintu yang terbuka sedikit. Di dekat tempat parkir mobil ini, anakku memasuki area kebun hidroponik yang ditanam macam-macam sayuran, solar panel, dan kolam ikan kecil. Uniknya, kebun hidroponik ini menggunakan solar panel untuk menyalakan pompa air sehingga tanaman tetap mendapat air dari pompa air otomatis.

Solar Hydroponic
Kebun Mini Disperpusip Jatim dengan Solar Hydroponic (dok. Pribadi)

Setelah memberitahukan keperluan kepada petugas keamanan, kami pun diminta menunggu di dalam gedung kantor.

Anakku bermain di depan ruang baca anak-anak karena di sana ada ayunan dan perosotan. Lumayan lah bisa mengurangi kebosanannya menunggu. Namanya anak-anak yaa baru bentar juga udah bosan. Sedangkan aku masih menunggu kepala dinas yang sedang ada acara.

Ternyata terjadi miskom antara pegawai perpustakaan dan teman kami. Akhirnya kami diterima sebagai tamu dan diajak mengobrol di ruang setda,

Setelahnya, kami diajak berkeliling perpustakaan.

Apa saja yang ada di dalamnya?

Kunjungan pertama kami adalah ruang baca anak yang berada paling dekat.

Ruang baca anak

Ruang baca anak ini didesain menarik untuk anak. Dinding-dindingnya dilukis seperti berada di dalam kapal selam dengan pemandangan bawah laut. Jendelanya berbentuk lingkaran-lingkaran seperti jendela kapal. Bentuk ruang anak ini seperti panggung. Anakku berjalan hingga ke sofa di ujung ruangan. Lemari-lemari buku berada di pinggir ruangan. Di bagian depan, meja-meja bundar berwarna-warni untuk tempat membaca.

Ruang baca anak (dok. Pribadi)

Ketika aku berkunjung ke sana, pengunjung ruang baca anak-anak hanya sekitar 3 orang. Mungkin karena jam kerja jadi tidak ada anak-anak, dan akan ramai saat akhir pekan.

Menurutku, untuk variasi buku di perpustakaan ini tidak sebanyak di Perpustakaan Kota Surabaya di Rungkut. Di sini menang fasilitasnya. Ada playground mini juga. Jadi anak tak hanya membaca buku saja tapi juga melakukan aktivitas lainnya. 

Tapi jadinya anakku heboh pas bermain di playground. Takutnya ganggu yang lain. 

Ruang Dongeng

Yang membuatku terkesima adalah di perpustakaan ini memiliki ruang dongeng. Ruangan ini berupa ruang kosong tanpa kursi. Hanya ada panggung dan beberapa sound system. Di dalamnya, beberapa anak-anak disabilitas sedang duduk menunggu arahan gurunya. Kami menyapa mereka. Mereka menyambut sapaan kami dengan antusias.

Ruang Dongeng (dok. Pribadi)

Oiya, ruangan ini bisa dipinjam loh untuk kegiatan literasi, bisa lomba mewarnai, latihan pentas drama/tari, pelatihan menulis, dan lain-lain.

Ruang buku non fiksi

Di ruang referensi, ada satu deret lemari yang berwarna cokelat dan berbeda dengan lemari lainnya. Setiap lemari ini diberi nama per kota di Jawa Timur yang di dalamnya berisi buku-buku dari kota/kabupaten tersebut. Adanya lemari tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa beberapa kota kecil/kabupaten masih memiliki sumber buku yang terbatas. Harapannya, buku-buku tentang kearifan lokal tiap daerah bisa lebih banyak.

Ruang baca non fiksi (dok. Pribadi)

Ruang Referensi

Di ruang ini, cukup banyak buku-buku pengetahuan yang bisa dijadikan referensi. Saat memasuki ruang referensi, kita harus melewati pintu berputar untuk memasuki tuang ini. Ada koleksi tentang kerajaan zaman duu.

Mungkin karena sedang hari kerja, jadi yang datang ke perpustakaan bisa dihitung dengan jari.

Ruang Naskah Kuno

Yang paling unik, kami diberi kesempatan untuk melihat naskah kuno yang sedang dianalisis di ruang khusus pegawai. Beberapa petugas sedang duduk dikursi masing-masing. 

Ruang baca disperpusip jatim


Pada bagian ini, petugas melakukan proses identifikasi, pendaftaran, pelestarian, hingga penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ilmiah naskah kuno tersebut. Waktu uang dibutuhkan untuk pengelolaan naskah kuno antara tiga hingga lima tahun. Tentunya, proses tersebut juga bekerja sama dengan pihak-pihak ahli.
.

Kunjungan ke Galeri Majapahit

Ruangan ini sebenarnya menghubungkan ruang anak dan ruang perpustakaan lainnya. Galeri Majapahit ini seperti layaknya museum yang menjelaskan tentang sejarah Majapahit yang berupa auduovisual melalui layar televisi maupun bentuk miniatur, permainan edukatif hingga pengalaman virtual 360 derajat yang bisa menampilkan suasana masa lalu. Sebenarnya tak hanya Majapahit saja, tetapi juga penjelasan tentang Wali Songo secara ringkas dan padat.




Ruang Diskusi dan Podcast

Kami diajak ke ruangan di lantai dua. Di dalamnya ada ruang diskusi atau rapat yang terdiri dari sofa, kursi dan meja. Di bagian dalam, ruang podcast dengan berbagai alat rekam ini dan ruang diskusi bisÅ•a juga dipinjam. 
Selain itu, kita juga diajak melihat ruang rapat lainnya yang bisa muat 20an orang.


Drive Thru

Yang Keren dari perpustakaan ini adalah adanya fasilitas Drive Thru jadi masyarakat tak perlu masuk gedung untuk mengembalikan buku. Fasilitas ini memudahkan peminjam buku dan membuat waktu menjadi lebih efisien.

Musholla, Kantin dan Toilet

Di bagian samping bangunan ada musholla, kantin dan toilet. 

Untuk tempat sholat akhwat tidak terlalu luas. Jadi saat waktu sholat mungkin ramai dan harus melewati orang sholat atau bergantian. Toilet sih lumayan bersih meski ada kecil bau-bau hehe. 

Untuk kantin terbatas saja ya makanannya. Rata-rata snack aja. Kalau makaman berat sebelum jam 12 udah habis. Aku beli mie cup saja biar lebih cepat. Lumayan mengganjal perut. Harganya 10ribu. Ada minuman sachet juga. Bisa bayar pakai QRIS.

Ruang Co-working Space

Selain ruang baca, Perpustakaan Provinsi Jawa Timur ini juga memiliki ruang co working space. Ruang khusus pengunjung yang ingin menggunakan bekerja secara mandiri atau kelompok tanpa harus mengganggu pengunjung lain. 

Co-working space Disperpusip Jatim (Sumber foto: Disperpusip Jatim)

Co-working space tampak nyaman karena sudah ada karpet, lampu, meja lesehan, AC, bantal/bag bean. 

Ruang baca umum/dewasa

Di ruang ini di bagian depan dekat meja pendaftaran. Ruangan ini cukup besar. Ada meja-meja untuk pengunjung perpustakaan. Mejanya juga cukup banyak. Jadi insyaallah selalu ada tempat. Ketika aku berkunjung ke sana, suasana cukup ramai. Pengunjung perpustakaan serius saat menghadap laptop atau pun membaca buku. 

Ruang tunggu

Di bagian depan terdapat ruang tunggu untuk pengunjung. Sofa-sofa yang empuk ini menjadi tempat para pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum lanjut beraktivitas lainnya.

Meja Pendaftaran
Bagi yang memiliki KTP Jawa Timur bisa mendaftar di perpustakaan dan kearsipan Jatim ini. Mendaftarkan pun gratis dan mudah. Tinggal ikuti arahan petugas saja. Sekarang serba digital sih. Jadi harus mengisi data di komputer dan di foto dulu. 

Perpustakaan Ramai Pertanda?

Pengunjung yang datang ke perpustakaan Prov Jatim cukup ramai. Pertanda bahwa harusnya kita tidak ragu dengan tingkat minat baca masyarakat. Memang sepertinya kelengkapan buki perpustakaan dan fasilitas menjadi salah satu alasan pengunjung datang ke perpustakaan. Fasilitas di Disperpusip Prov Jatim ini emang keren sih.


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower