Kalau ditanya kenapa bisa lolos UWRF, saya pasti bingung mau menjawab apa, karena saya pun nggak tahu. Mungkin memang lagi rezeki kali ya. hehe.

Beneran, deh. Saya tuh nggak punya cerpen yang dimuat di media tapi memang saya beberapa kali menulis cerpen meski cuma saya simpan saja di laptop. Belum ada keberanian lah buat kirim ke media. Saya ikut lomba saja kalah terus. Haha. Sampai suatu ketika, saya memberanikan diri merombak cerpen yang saya ikutkan lomba yang kalah. Hasil rombakan yang saya kirim ke UWRF juga berbeda jauuuhhhh, meski hampir sama tentang pemanen madu.

Meski saya nggak tahu kenapa saya bisa lolos, saya mau share aja apa yang saya lakukan sebelum saya mengirim cerpen ikut seleksi. Sekalian biar saya juga ingaat terus bagaimana saya bisa menghasilkan cerpen saya Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan Nunsulat.

1. Baca buku

Saya sudah tamat membaca buku Kompas Jurnalistik ke NTT, saya sangat tertarik pada bahasantentang Meo Oni, petani madu dari NTT. Menurut saya sangat unik karena mereka tidak boleh berbuat jahat sebelum memanen madu. Mereka punya ritual pembersihan diri Nakete sebelum memanen madu. Saya kebayang, betapa mendebarkannya saat mereka harus memanen madu di atas pohon Ankai yang sangat tinggi di hutan. Terus saya membayangkan bagaimana kalau mereka tidak benar-benar bertobat saat pembersihan diri itu? Katanya, mereka akan mendapat musibah, entah digigit tawon atau jatuh dari pohon. Nah, dari sini saya coba dramatisir cerita. Dari baca buku ini saya juga mengetahui kondisi lain bahwa orang sana begitu kesulitan sehingga kerja ke kampung lain. Namanya Sore-Kasih artinya kerja pagi dan upah dikasih saat sore hari.

2. Lihat Youtube

Karena saya belum yakin dengan kondisi di sana, jadi saya coba cari di Youtube tentang Meo Oni atau panen madu di NTT. Ternyata banyak sekali dokumentasi panen madu hutan. Jadi saya bisa terbayang bagaimana mereka berjalan ke hutan, mendengar suara hewan, bernyanyi, kemudian memanen. Menonton ini sebenarnya bertujuan untuk menempatkan diri saya sendiri di lokasi tersebut, meski saya belum pernah ke sana. Dengan begitu, cerita lebih hidup seolah-olah kita pernah mengalami memanen madu. Perasaan inilah saya tuangkan dalam cerita. Bagaimana mengerikannya mereka memanjat pohon yang tinggi di pinggir jurang. Jadi saya sudah punya bayangan saat akan mendeskripsikan latar dalam cerita saya.

3. Baca blog orang

Mungkin karena di pedalaman, jadi masih jarang sekali orang yang menuliskan pengalamannya saat berkunjung ke daerah tersebut. Tentang bagaimana perilaku masyarakat, makanan khas yang biasa mereka makan, atau mungkin bagaimana bentuk tempat tinggal mereka (jarak yang berjauhan, berdempetan, rumah kayu lantai tanah, dll). Itu semua menjadi penting, agar cerita menjadi sangat kental lokalitasnya. Dari baca-baca blog ini, saya jadi tahu makanan khas mereka (seperti yang ceritakan sedikit saat Rachel berbicara dengan ibunya yang merupakan sebuah konflik awal ketika waktu makan). Saya juga jadi tahu tempat tinggal mereka sehingga begitu kerasa bagaimana kondisi perekonomian mereka, yang kemudian saya hubungkan dengan pekerjaan Rachel dan ibunya menjadi pekerja Sore-Kasih. Kenapa harus ada jenis pekerjaan itu? Karena tidak mau terkesan menempel, jadi setelah mereka pulang kerja Sore-Kasih itulah si Rachel bertemu Victor. Nah, saya sungguh berterima kasih bagi kalian-kalian yang suka bepergian ke bagian belahan bumi mana pun dan menceritakannya lewat blog, media sosial yang bisa diakses umum, atau pun mendokumentasikannya lewat Youtube.

4. Menulis

Saya pun menulis dengan bayangan yang sudah ada di kepala saya. Saya tulis aja lah pokoknya semua yang ada di kepala. Masalah utamanya adalah si ibu yang nggak setuju Rachel dengan kekasihnya yang jadi Meo Oni. Saya bahkan belum tahu cerita akhirnya tapi saya tulis. Sampai cerita akhirnya menggantung.

Cerita awalnya juga, hanya seorang wanita, Rachel yang menjalin kasih dengan seorang Meo Oni, Victor. Rachel ingin meminta kejelasan hubungan mereka tapi Victor belum tahu ke arah mana. Apalagi ibunya Rachel tidak setuju dengan pekerjaan Victor. Isu sosial ini sebenarnya sudah sering terjadi di lingkungan manapun. Ibu yang tidak setuju dengan pasangan anaknya hanya karena pekerjaan yang tidak jelas. Nah, saya tambahkan juga, kenapa ibunya tidak setuju? rupanya bapaknya Victor dulu juga Meo Oni dan meninggal karena jatuh. Terus saya hubungkan, apakah si suaminya itu melakukan kesalahan? dan saya pun memilih si suami selingkuh. Kemudian awalnya saya terbayang, Victor ini ternyata punya kekasih. Tapi saya rasa kurang kuat. Terus pas saya tahu tema UWRF ini karma, maka saya hubungkan saja. Apa yang dilakukan bapaknya Rachel kembali kepada Rachel. Jadi saya bayangkan Victor ini sudah punya istri. Dan istri ini adalah selingkuhan bapaknya Rachel dulu. Jadi karmanya, bapaknya selingkuh maka anaknya jadi diselingkuhi. Mbulet ya? :D

Plot

Awalnya plotnya maju saja. Tapi katanya awal yang memikat itu dari sebuah tragedi, atau misteri agar orang mau membaca terus. Jadi saya buat tragedi si istri Victor menangis2 melihat Victor berdarah-darah jatuh dari pohon. Setelah itu, saya pakai alur mundur ketika Rachel dan ibunya berdebat tentang pasangan Rachel. Kemudian mundur lagi tentang pertemuan Rachel dan Victor. Kemudian maju saat Rachel meminta kejelasan hubungan. Kemudian maju lagi saat tragedi Victor jatuh di pohon. Kemudian kembali saat tragedi istri Victor menangis-nangis saat warga sedang melayat ke rumah Victor yang memunculkan obrolan ibunya Rachel dan Rachel. Nah, disini saya baru membuka rahasia bahwa Rachel baru tahu kalau Victor sudah punya istri tapi ibunya tidak tahu kalau kekasihnya itu adalah Victor. Jadi jangan buka rahasia di awal cerita, ya! hehe.

5. Minta Kritik Saran, Menghapus, Menambah, Menulis

Setelah itu saya minta krisan dari teman saya, apa yang aneh dan kurang. Bahkan saya baru sadar temanya adalah Karma setelah cerpen yang belum dikritik teman saya itu selesai. Setelah itu, saya rombak lagi dan saya tambah lagi, sampai akhirnya menghasilkan tulisan yang saya kirim untuk seleksi UWRF dan pastinya sesuai tema.

6. Check persyaratan

Nah, ini sangat penting sekali. Setelah cerpen selesai dan akan dikirim saya buka lagi persyaratan yang diminta.
Coba kita lihat persyaratan seleksi UWRF 2020 ya...

- Karya dikirim dalam bentuk dokumen digital (Word atau PDF) yang dapat diunggah melalui formulir di bawah. -->Cerpennya diunggah yaa ..nggak pake email2an sama panitianya..

- Karya yang dikirim merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan. Panitia menggunakan piranti lunak untuk memeriksa kemungkinan karya tiruan. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya fiksi berupa cerita pendek atau puisi. --> CHECK

- Karya yang dikirim merupakan karya yang belum pernah diterbitkan. --> CHECK

- Karya yang dikirim mencerminkan pergulatan manusia dengan isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan. --> Nah, coba deh identifikasi mana isu sosial, isu budaya dan isu lingkungan di cerita kalian?

- Karya yang dikirim menunjukkan kreativitas dalam penggarapan cerita serta pelukisan karakter. --> Twist juga merupakan salah satu kreativitas dalam cerita ya (so jangan umbar semua rahasia ya!) CMIIW. Apa cerita kalian sudah menunjukkan kreativitas? Pelukisan karakter. Kalo ini sudah pasti jago semua ya.

- Peserta cukup mengirimkan satu karya untuk cerita pendek atau dua karya untuk puisi. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori cerita pendek adalah 3.000 kata. --> CHECK

- Panjang maksimal untuk karya dengan kategori puisi adalah 300 kata. --> CHECK

- Panitia memiliki hak untuk menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya yang terpilih ke dalam antologi tahunan festival. -->OK. kalian pasti menyetujui kan.

- Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online melalui tautan di bawah. --> JANGAN LUPAKAN INI YA....

- Paling penting, PERHATIKAN HARI DAN JAM pengumpulan terakhir. Jumat, 6 Maret 2020 jam 5 sore ya..

Jadi jangan sampe ada yang ngirim jam 11 malam pas saat akan ganti hari (seperti saat ikut lomba2 lain yang deadline nya tengah malam).

Saya sendiri pun tak menyangka bisa menghasilkan cerpen begitu dalam semalam (meski persiapannya dari membaca dan menonton bisa sampai sebulan), tiga hari menjelang deadline. Jadi saya menulisnya mengalir saja.

Tapi bukan berarti kalian harus mengikuti plot saya yang maju mundur maju mundur cantik! Jika itu ternyataa membuat ceritamu malah nggak seru ya nggak usah dipaksain plot itu. Dan kalian juga nggak perlu cerita budaya kalau misal kalian sendiri nggak menguasai permasalahan sosialnya. Kalian bisa cerita tentang isu sosial, budaya, lingkungan di daerah urban. Yang paling penting sesuai persyaratan yang diminta.

Saya juga nggak yakin apa saya bisa membuat cerita budaya seperti itu lagi? Sungguh itu kelangkaan yang benar-benar langka. XD


Cerita saya ketika mengikuti Ubud Writers and Readers Festival bisa dibaca di SINI ya.
Read More
Seperti janji saya di blog saya sebelumnya. Baca di SINI. Sekarang saya ingin berbagi pengetahuan tentang penggunaan audiobook di beberapa negara terutama Australia, Inggris dan Indonesia. Sesi roundtable itu dihadiri oleh beberapa penulis dari Australia, Amerika, Turki, Indonesia, India, Italia, dan mungkin negara lain yang saya lupa darimana saja.

Dalam sesi ini, kita mengajukan beberapa tema yang bisa dibahas. Setelah dibuat daftarnya, kami memvoting tema mana yang menarik. Empat terbanyak itulah yang terpilih. Dan saya memilih tema audiobook. Kemudian saya berkumpul dengan kelompok audiobook.



Saya mengikuti tema ini karena memang penasaran bagaimana perkembangan audiobook di negara-negara luar terutama Australia.

Trend Audiobook di Luar Negeri

Di luar negeri, trend audiobook saat ini populer untuk pembaca perempuan. Mungkin karena perempuan bisa mendengarkan audiobook sambil melakukan pekerjaan rumah atau mengasuh anak. Sedangkan dulu, audiobook sering didengar oleh laki-laki saat mereka sedang menyetir mobil.

Di Australia (mungkin juga negara lain seperti Singapura dan Malaysia), trend audibook ini berbentuk podcast (mirip radio tapi bisa diputar berulang-ulang) dan bisa berlangganan. Isinya bisa berupa majalah, komedi, dan bahasan-bahasan ringan lainnya.
Penulis harus mebaca kontrak secara detail.

Di luar negeri seperti Australia dan Inggris, kebanyakan saat ini menerbitkan buku sekalian membuat rekaman audio dari buku itu. Sedangkan dulu, setelah buku terbit baru dibuat audiobook-nya.

Seorang penulis dari Australia kalau tidak salah, dia sudah menghasilkan sebuah buku dan menjualnya di Amazon. Suatu ketika dia kaget karena menemukan audiobook dari buku dia. Dia pun akhirnya tahu kalau hak versi audionya dijual ke perusahaan lain. Makanya dia berpesan bahwa setiap penulis harus tahu hak penerbitan walau kontraknya panjang. Penulis harus membaca secara detail semua yang ada dalam kontrak.

Genre Audiobook

Genre yang biasanya dibuat rekaman audionya adalah fiksi dan nonfiksi. Meski tidak semua genre fiksi dibuat audionya, seperti puisi masih belum populer dibuat audionya. Yang saat ini lagi populer di luar negeri adalah genre crime fiction, romantic fiction. Sedangkan audiobook untuk genre nonfiksi ini memang dari dulu sudah populer. Kata para penulis ini, rata-rata kalau nonfiksi, pembaca masih malas untuk membaca, jadi membuat audiobook itu adalah salah satu alasan agar mereka tertarik membaca genre nonfiksi.

Perusahaan Audiobook

Di luar negeri, perusahaan audiobook yang terkenal adalah AUDIBLE. Ada website dan aplikasinya tapi berbayat. Kalau di Indonesia aplikasi audiobook namanya AudioBuku yang bisa diunduh di Playstore secara gratis.

Pilih Audio dari Negara Mana?

Aksen adalah salah satu pertimbangan perusahaan penerbitan untuk membuat audiobook. Menurut orang Inggris, aksen orang Australia itu jelek sedangkan aksen Inggris yang lebih disukai di Inggris.

Di Inggris sendiri, aksen seseorang pun bisa menunjukkan status sosialnya. Wow. Di negara itu, aksen seseorang bisa dibagi jadi aksen "atas" dan aksen "bawah". Hmm.. aksen menengah mungkin ada kali ya.

Dan ini mempengaruhi perusahaan audiobook di Australia untuk memilih narator audiobook dari negaranya juga pertimbangan untuk distribusi audiobooknya.

Orang Inggris sendiri tahu mana speaker audiobook berasal dari aksen "atas" dan aksen "bawah" yang dilihat dari cara menyampaikan sesuatu, dari struktur kalimat, dan banyak hal. Aksen "atas" ini biasanya berasal dari golongan keturunan bangsawan, atau memang dari keluarga terpandang, kaya raya, keluarga berpendidikan tinggi sehingga pendidikan dari kecil mempengaruhi cara berbicara dan aksennya.

Audiobook di Indonesia?

Sementara beberapa perpustakaan di Indonesia memang sudah ada yang menyediakan audiobook meski jumlahnya tidak sebanyak perpustakaan di luar negeri.Tak hanya di perpustakaan, di aplikasi Play Store sudah banyak aplikasi Audiobuku Indonesia secara gratis dan berbayar.

Audiobuku bisa jadi solusi untuk siapa pun yang nggak doyan baca buku tapi ingin meningkatkan pengetahuan yang dimiliki. Nggak hanya buat yang malas baca buku, audiobook ini sangat memudahkan bagi penyandang tuna netra untuk tetap bisa memperoleh pengetahuan tanpa harus membaca buku braille. Maklum buku braille di Indonesia juga belum banyak.
Selamat Mendengarkan Audiobook!

Read More
Selain sebagai kota pendidikan, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota pariwisata. Yogyakarta selalu menawarkan tempat menarik dan indah untuk dikunjungi. Jika lima belas tahun lalu, wisatawan berbondong-bondong ke Yogyakarta untuk mengunjungi Keraton, Benteng Vredeburg, Malioboro, Pasar Beringharjo, Candi Borobudur dan Candi Prambanan, namun sekarang Yogyakarta juga memberikan pilihan wisata yang lebih banyak dan menarik. Salah satunya adalah wisata petualangan.
Untuk menikmati semua wisata petualangan di Yogyakarta tentu tidak cukup hanya sehari. Selain jaraknya yang cukup jauh antar tempat wisata, waktu berwisata di setiap obyek wisata juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Wisata Cave Tubing Goa Pindul

Ada yang tahu bagaimana tempat wisata Goa Pindul ini tiba-tiba menjadi destinasi popular beberapa tahun lalu hingga saat ini? Semuanya berawal dari sekelompok mahasiswa UGM yang datang untuk melakukan penelitian tentang bebatuan di Goa Pindul yang sudah terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu. Setelah melihat keunikan dan keindahan goa tersebut, para mahasiswa tersebut mengusulkan agar Goa Pindul dijadikan tempat wisata air.

Mungkin karena peran masyarakat dalam pengembangan pariwisata yang besar seperti kelompok Pokdarwis yang aktif, Goa Pindul pun dibuka untuk dijadikan tempat wisata hingga menjadi ramai sampai saat ini. Apalagi adanya peran media sosial membuat tempat wisata ini semakin popular. Masyarakat pun tidak memanfaatkan sungai di Goa Pindul ini untuk mandi dan mencuci karena sudah dilarang akibat adanya tempat wisata ini.

Jika teman-teman akan pergi ke tempat ini, maka kalian harus memperhatikan waktu kedatangan. Karena tempat ini sangat ramai dikunjungi wisatawan, maka saya sarankan untuk datang lebih pagi dari tempat penginapan. Jika sudah siang, Goa Pindul akan terlihat seperti lautan manusia yang sedang berendam di sungai.

Dari kota Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 45 menit jika tidak mengalami kemacetan. Saya sempat mengalami macet di beberapa titik. Belum lagi saya dan keluarga sempat nyasar. Jadi saya tiba di sana sebelum Dzuhur. Oiya, selama perjalanan akan ada banyak orang yang menaiki motor untuk menawarkan tiket masuk Goa Pindul. Nah, jika kalian mau membantu mereka, bisa saja membeli tiket dengan mereka. Meski harganya lebih mahal ya. Jadi mending langsung datang  ke loket di lokasi Goa Pindul.
Sesampainya di sana, kita masih antri bersama pengunjung lain karena waktu itu saya tiba di Cave Tubing siang hari. Paket yang ditawarkan pun beragam.

Tahun 2015, harga tiket untuk Cave Tubing Goa Pindul saja seharga 30ribu, kalau tambah rute ke Kali Oyo menjadi 40ribu per orang selama satu setengah jam. Setelah membeli tiket, maka pengunjung harus menunggu sekitar 30 menit untuk dipanggil oleh petugas loket. Setelah dipanggil, maka kita diminta untuk memakai pelampung dan membawa ban untuk turun ke sungai Goa Pindul. Itu pun kita masih harus menunggu sekitar dua jam! Lama kan! Efek ramai pengunjung jadi harus sabar antri.
Memang kalau kita punya kamera yang bagus untuk berfoto dalam kegelapan, maka wisata Goa Pindul ini bisa membuat banyak orang iri ingin datang. Hehe.


Apa saja keseruan wisata di Cave Tubing Goa Pindul?

Pertama, kalian akan menikmati air sungai dengan ban dan melewati goa yang banyak stalaktik dan stalagmit-nya. Eh, kalau bisa kalian berada dekat dengan pemandunya, ya. Agar kalian tahu informasi yang diberikan oleh pemandunya.

Kedua, kita akan menikmati sinar matahari yang masuk dari dalam goa. Nah, di tempat ini kalian harus jago mengambil gambar dalam waktu yang cepat karena di belakang kalian akan banyak pengunjung yang antri untuk mengambil foto.

Wisata River Kali Oyo

Setelah menikmati cave tubing Goa Pindul, pengunjung yang memiliki paket wisata ke Kali Oyo akan diantarkan pemandu ke mobil pick-up untuk pergi ke sungai Oyo.




Hal-hal yang menarik saat Wisata River Kali Oyo adalah:

Pertama, kita akan melewati sungai kecil yang banyak batunya. Selain itu warnanya biru jernih. Saya benar-benar takjub dibuatnya. Meski, saat wisata river Kali Oyo ini sungainya berwarna cokelat.

Kedua, kalian akan bertualang melewati bebatuan yang licin dengan arus sungai yang cukup deras. Namun jangan khawatir karena pemandu akan membantu kalian melewati sungai tersebut.

Ketiga, menikmati air terjun dan tebing-tebing batu yang cantik dan indah saat menyusuri sungai Oyo.

Wisata Lava Tour Merapi

Awalnya, saya dan keluarga berencana dalam satu hari langsung ke dua tempat agar kami bisa mengunjungi obyek wisata lain. Namun, sayangnya, wisata ke Goa Pindul sudah menghabiskan waktu satu hari. Jadi, pulang dari Goa Pindul kami langsung mencari penginapan yang ada di daerah Sleman. Karena rencananya besok pagi akan ke Lava Tour Merapi.

Besoknya, setelah sarapan di hotel, kami pun berangkat ke Lava Tour Merapi seperti yang sudah saya ceritakan di blog ini.

Terus, apa serunya wisata Lava Tour Merapi?

Pertama, merasakan serunya offroad dengan naik Jeep yang disewa. Semakin berat medan tempuh maka semakin seru perjalanan. Karena waktu itu, kami membawa dua anak kecil, jadi kami meminta melewati medan tempuh yang tidak berat. Tapi kalau kalian mau medan yang berat coba saja minta sama petugas loketnya.


Kedua, mengenang peninggalan desa yang terkena lumpur panas di Museum Sisa Hartaku. Museum ini tidak seperti museum lain yang memiliki bangunan utuh dan terawat. Museum ini hanya berupa bekas-bekas rumah rusak karena lahar panas dan barang-barang yang ditinggalkan pemiliknya. Tidak hanya rumah, tapi juga tulang belulang sapi pun juga di museum kan.

Ketiga, melihat puncak merapi dan pekerjaan tambang pasir dari kejauhan. Di tempat melihat puncak merapi ini kita bisa berfoto-foto menikmati indahnya alam Yogyakarta yang dilatari oleh Gunung Merapi.

Keempat, melihat bunker merapi. Bayangkan merasakan tinggal di bunker merapi saat gunung meletus membuat saya merinding. Namun sayang bunker itu sudah tidak berfungsi dengan baik. Jangan sekali-kali berada di dalam bunker saat sudah tidak berfungsi. Karena ketika kondisi di luar bunker sangat panas karena lahar panas yang menjalar maka dampaknya akan terasa oleh orang-orang yang berada di dalam bunker. Bukannya selamat, malah justru membahayakan jiwa. Banyak warga yang meninggal di dalam bunker ini karena saking panasnya kondisi di luar bunker.


Ini yang paling seru sekaligus menggemaskan

Pengalaman wisata petualangan selama dua hari di Yogyakarta memang sangat menyenangkan sekali. Asal jangan sampai kehabisan tempat menginap seperti saya. Rasanya seru-seru gemes.

Beberapa minggu sebelum berangkat ke Yogya, sebenarnya saya sudah mencari lokasi penginapan di Jogja.. Sayangnya karena waktu itu musim liburan jadi banyak sekali penginapan atau hotel di Yogyakarta yang habis.Oiya, itu hotel yang murah ya.  Pada akhirnya, kami mencari satu per satu daerah dekat kampus UGM. Penginapan yang murah memang sudah penuh. Dan syukurnya, ada satu penginapan yang tersisa dan harganya murah. Kami menambah extra bed karena memang banyak anggota keluarga. Haha.

Dan berdasar pengalaman saya, jika kita ingin menginap di suatu tempat, mencari hotel adalah hal yang tidak boleh dianggap sepele. Karena memang waktu itu, penginapan yang saya telepon mengatakan siapa cepat dia dapat. Maka saya tidak bayar dulu. Eh, sampai di Yogya kondisi sudah capek banget tapi belum dapat penginapan.

Nah, kalau saran saya mending ngga usah mengikuti saran pemilik penginapan itu. Kalian langsung saja booking online. Jangan tunggu sampai tiba di lokasi wisata. Kalian bisa mencari hotel dari Pegipegi.

Kenapa harus Pegipegi?

Salah satu agen travel online terbesar di Indonesia yang dibagun sejak 2012 ini sudah bekerja sama dengan sekitar 1700 hotel/penginapan di seuruh Indonesia. Selain itu, pemesanan hotel melalui Pegipegi juga mudah dan user friendly (alias kalian nggak bingung kalau buka Pegipegi). Fitur pemesanan hotel di Pegipegi juga cukup lengkap. Fitur apa saja itu?

Fitur tanggal 

Fitur ini adalah fitur yang wajib ada untuk semua situs pencarian hotel atau pesawat.

Fitur jumlah tamu dan kamar

Karena waktu itu saya dan keluarga banyaak sekali. Satu mobil Avanza penuh. Jadi pas mencari hotel dekat tempat wisata melalui ponsel sempat bingung kira-kira muat atau tidak dan perlu berapa kamar. Dengan adanya fitur jumlah tamu dan kamar ini akan memudahkan kita untuk mendapatkan kamar yang sesuai dengan jumlah tamu dan harga yang terjangkau.

Fitur Filter

Tarif Kamar
Saya paling suka dengan filter tariff kamar yang paling termurah. Karena saya bisa menyesuaikan budget yang saya miliki.

Peringkat Hotel
Jika kalian tidak terlalu memusingkan tariff kamar, tapi lebih mementingkan kualitas penginapan atau hotel maka fitur ini bisa kalian gunakan. Peringkatnya mulai dari 1 sampai 5.

Fasilitas hotel
Jika kalian mencari hotel untuk stay sementara dari aktivitas wisata, kalian bisa memilih beberapa fasilitas yang mungkin menarik kalian, seperti kolam renang atau fasilitas spa. Fasilitas yang ada dalam fitur ini adalah kolam renang, AC, promo hotel, bath tub, TV satelit, dekat mall, koneksi internet di kamar, WIFi gratis di lobi, dekat pantai, ruangan bebas rokok, fasilitas spa, minibal, pusat kebugaran dan pusat bisnis.

Fitur Urutkan
Kita bisa memilih fitur Urutkan ini dari Rekomendasi, Harga rendah ke tinggi, harga tinggi ke rendah, Bintang 1 ke 5, Bintang 5 ke 1 dan nilai ulasan.

Peta
Jadi saya harus meraba-raba sendiri Fitur ini menurut saya sangat memudahkan kalian jika ingin mencari tempat menginap di dekat tempat wisata maka menggunakan fitur ini sangat memudahkan kalian. Selain lokasinya juga dicantumkan harga per kamar.

Begini tampilan dari fitur pemesanan hotel melalui Pegipegi.

Dari informasi ini kita jadi bisa membayangkan kamar yang akan ditempati. Misal saya akan datang beramai-ramai, maka saya bisa menentukan apakah harus pesan 1 kamar lagi apa tidak (dilihat dari ukuran kamar)

Yang paling penting, kita harus tahu apakah pemesanan ini refundable apa tidak. Kalau non refundable berarti setelah bayar nggak bisa dikembalikan lagi uangnya, jika kita batal menginap.

Pastikan juga lokasi tempat menginap dekat dengan tempat wisata yang kita tuju jika memang itu menjadi salah satu pertimbangan memilih penginapan.

Kalian juga bisa menggunakan fasilitas yang disediakan di tempat menginap. Jadi, jangan minta yang nggak ada dalam fasilitas yang disebutkan ya. Hehe.






Kecuali jika ada kolom permintaan khusus pada kolom isian seperti di bawah ini. Permintaan khusus seperti transfer bandara, kamar lantai atas, kasur ekstra, dll.


Seelah itu, kalian bisa memilih metode pembayaran seperti BCA virtual account, ATM transfer, kartu kredit, internet banking (klikBCA, CIMB clicks) dan cicilan 0% Mandiri.

Setelah yakin, silakan lanjutkan dan detail pembayaran akan dikirimkan lewat email. Setelah itu, konfirmasi jika sudah transaksi pembayaran.



Liburan jadi tenang dan menyenangkan karena nggak perlu ribet harus cari-cari penginapan saat kondisi lagi capek seperti saya. Haha. Selamat liburan!


Referensi
https://www.pindul.net/2015/08/sejarah-dan-asal-usul-goa-pindul.html

Read More
Literasi Baca Tulis (eliterasi.blogspot.com)

Literasi baca-tulis adalah Literasi dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kemampuan individu untuk bisa membaca dan menulis adalah penting di era digital ini. Tidak hanya mampu membaca dan menulis juga, tetapi juga memahami apa maksud dari sebuah bacaan dan tulisan.

Literasi baca-tulis inilah sebagai bentuk terwujudnya awal kesuksesan suatu bangsa. Bayangkan jika warganya tidak memiliki kemampuan dalam Literasi baca-tulis sepertI pada jaman penjajahan. Kita dijajah terus menerus. Eh, tapi meski sekarang juga masih 'dijajah' ya. Ups. Maksud saya, kita benar-benar tidak dibodohi seperti kita biasa mem bodoh anak kecil yang belum tahu baca dan tulis. #duehpengalaman

Kapan mengajarkan Literasi Baca-tulis?

Kira -kira kapan tepatnya diajarkan baca-Tulis untuk anak? Saya sendiri tidak punya patokan kapan anak saya diajarkan baca tulis. Yang penting lihat kesiapan mental anaknya.

Paling-paling saya mengajarkan huruf masing  A-C dan angka 0-5 pada anak saya yang berumur 4 tahun. Sedangkan huruf dan angka arab masih perlahan. Itupun dia sukanya main-main.
Ya udahlah.  beberapa anak seumuran anak saya memang sudah bisa baca tulis, namun, saya buat santai saja. Saya khawatir terlalu memaksakan akan membuat dia trauma dan justru tidak mau belajar.

Membacakan Buku sambil Belajar Abjad

Saat usianya masih dua tahun, saya hanya membacakan cerita saja. Namun, sekarang ketika akan berusia empat tahun, saya sudah mulai menunjukkan beberapa huruf padanya. Saya tidak punya target khusus agar anak bisa hapal 26 abjad di usia PAUD. Saya hanya mempermudah diri saya sendiri untuk mengajarkannya membaca dan menulis abjad saat sekolah. Kalau misal sekarang saat sekolah dasar harus bisa menulis dan membaca abjad maka saya harus sedikit bekerja keras mengajarkan anak saya membaca abjad dan menulis.

Belajar sambil bermain

Saya mencoba menerapkan prinsip belajar sambil bermain. jadi saat sedang bermain, saya mencoba menanyakan huruf dan angka yang tertera pada mainnya. Dengan begitu,  dia akan lebih suka belajar.

Saya jadi teringat masa kecil saya saat diajarkan baca tulis oleh orang tua saya. mungkin beberapa dari teman pernah merasakan hal serupa. Diajarkan oleh ayahnya dengan KERAS?  Duduk di depan ayah dan mulai mengikuti arahan dari ayah untuk membaca setiap huruf dan angka. Jika tidak bisa, maka bentakan akan muncul. Atau pukulan kecil- yang seringkali terlihat besar saat kita masih kecil- sering dilayangkan.  Well, itu sebenarnya membuat saya sedikit takut sama bapak sendiri. wkwkwk.
Kadang setelah saya mengenalkan padanya beberapa huruf dan angka, dia selalu menunjuk angka dan huruf yang dia temui di jalan. Meski dia belum bisa membedakan mana angka dan mana huruf, setidaknya dia sudah tahu bahwa di sekelilingnya dia banyak sekali abjad dan angka yang bisa dibaca.

Nah, saAt saya melihat apa yang dia tunjuk, maka saya menanyakan huruf apa atau angka berapa? Kadang dia bisa benar menjawab, kadang dia juga salah. Karena saya baru mengenalkan dia angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan huruf A, B, C.

Belajar memegang pulpen

Sebenarnya latihan memegang pulpen ini sudah saya ajarkan sejak usianya hampir dua tahun. Awal - awal memang sangat kaku. Namun, lama-lama dia akan terbiasa meski sekarang kadang masih salah.

Setelah dia mulai terbiasa memegang pulpen, maka sesekali saya ajarkan dia membuat garis lurus, melengkung, zigzag. Tujuannya biar mempermudah anak saya untuk menulis angka dan huruf. Setelah itu, baru saya ajarkan dia menulis angka 1, 2 dan 3. Sedangkan menulis huruf belum saya ajarkan. Saya tidak ingin menjadi semuanya takut dia kebingungan. wkwkwk. Mungkin juga teori saya salah.

#WritingChallenge #FLPJatim

Read More
"Kamu ikut tidak ke ruang bawah tanah?" ajak seorang teman saat kami berkunjung ke sebuah warisan cagar budaya di tengah Kota Semarang.

Bangunannya yang besar dan dikenal sebagai tempat pembantaian pada jaman kependudukan Jepang itu cukup membuat saya agak merinding saat teman menawarkan masuk ke terowongan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat pembantaian pribumi dan orang Belanda.


Lawang Sewu (Sumber : IDN Times)

Entah mengapa kesan yang terlihat dari bangunan tua itu adalah menyeramkan padahal kemegahannya cukup membuat siapa pun berdecak kagum saat melihat bangunan itu. Mungkin karena sudah terlanjur banyak cerita 'menarik' saat pengunjung datang ke bangunan dengan pintu yang konon katanya mencapai seribu itu - hingga disebut sebagai Lawang Sewu atau pintu seribu-. Mungkin juga karena pengalaman orang yang melihat penampakan dipertontonkan pada salah satu acara stasiun televisi.

Lawang Sewu (heritage.kai.id)

Dari atas, saya melihat terowongan yang gelap melalui pintu masuk yang turun ke bawah. Sambil menelan ludah, saya membayangkan apa yang di dalam. Antara percaya dan tidak percaya akan cerita-cerita tersebut, saya pun menerima tawaran teman saya. 

Setelah membayar tiket masuk ke ruang bawah tanah - Saya lupa harganya berapa. Sepertinya antara 10.000 hingga 25.000 -, kami pun memakai sepatu boot dan membawa senter. 

Seorang pemandu berjalan di depan kami dan mempersilakan kami masuk ke dalam terowongan. Gemericik air sudah terdengar saat saya menuruni tangga. Mata saya mulai beradaptasi dengan terowongan gelap yang hanya disinari senter. Bau pengap cukup menyesakkan dada.

Pemandu sudah memperingatkan kami dengan jalan yang licin sehingga kami perlu berhati-hati. Pemandu bercerita tentang sejarah terowongan bawah tanah dulu. 

Yang masih saya ingat apa yang diceritakan oleh pemandu itu adalah bahwa pada jaman pendudukan Belanda, terowongan tersebut untuk tempat saluran air. Apalagi Semarang kan rawan banjir rob sejak jaman dulu jadi memang diperuntukkan untuk itu. Dan Lawang Sewu memang digunakan untuk kantor perkeretaapian. 

Kemudian saat Jepang datang, terowongan bawah tanah ini digunakan sebagai tempat penjara untuk para pribumi dan orang Belanda. Mereka dibiarkan berdiri di penjara berdiri berdesak-desakan sampai tidak bisa bergerak dan ditutup teralis. Bahkan dengan kondisi banyak air. Pemandu menunjukkan sebuah penjara berdiri yang ukurannya hanya sekitar 1 X 2 meter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya para terhukum di ruangan menyesakkan itu. 

Terowongan itu sepanjang hampir satu kilometer membuat saya hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Entah kenapa saya merasa ingin menangis. Rasa sesak yang saya rasakan membuat saya ingin kembali ke pintu masuk. Namun, itu tidak mungkin. Jadi saya terus bertanya kepada pemandu kapan sampai. Saya tak sabar ingin segera mengakhiri perjalanan terowongan yang hanya berisi pipa, air, tembok, dan penjara.

Akhirnya, tiba juga saya dan teman saya di ujung terowongan itu. Saya dan teman-teman lega sekali karena sudah sampai. Setelah mengucapkan terima kasih dan melepas boot, kami pun berkeliling dan berfoto-foto di Lawang sewu.

Saya sangat terkesan dengan bangunan peninggalan Belanda yang didesain dengan sangat komprehensif. Mulai dari ketinggian bangunan (jarak antara lantai dan atap) sehingga membuat sirkulasi udara yang membuat tidak terlalu panas meski berada di daerah tropis. Jendela dan pintu dibuat tinggi. 



Di jaman itu,  bahan-bahan untuk membangun Lawang Sewu pada bangunan pertama menggunakan bahan yang diimpor dari Belanda. Kemudian bangunan selanjutnya menggunakan bahan lokal karena kesulitan mengimpor bahan dari Belanda. 

Bangunan ini katanya juga tidak menggunakan semen, tapi adonan bligor (campuran pasir, kapur, dan batu bata merah). Katanya bligor ini membuat bangunan tidak mengalami retak, lebih awet dan mudah menyerap air sehingga ruangan terasa sejuk. Konstruksi pada atap juga tanpa besi sehingga beban tidak terlalu berat.

Belum lagi di ruang utama ada kaca patri setinggi dua meter dengan simbol kota dagang Belanda, gambar Ratu Belanda, Dewi Fortuna, Dewi Sri, Tanaman dan hewan yang merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pembangunan Lawang Sewu pada jaman itu.


Fungsi bangunan Lawang Sewu berubah dari waktu ke waktu. Pertama, digunakan untuk kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau kantor administrasi perkeretaapian. Kedua, saat pendudukan Jepang, Lawang sewu digunakan untuk kantor militer Jepang. Ketiga, setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Keempat, gedung Ini dijadikan Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro). Kelima, gedung ini digunakan untuk Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. 

Setelah itu, gedungnya tidak digunakan sampai sekarang. Waktu saya kuliah di Semarang, saya mendengar isu kalau gedung ini mau digunakan untuk hotel. Namun, rupanya rencana itu tidak berhasil.

Sampai saat ini, setidaknya ketika saya melanjutkan kuliah S2 di Undip tahun 2011, Lawang Sewu masih dimanfaatkan untuk pariwisata saja. Belum dimanfaatkan untuk bisnis. 

Tidak hanya pada bangunan Lawang Sewu saja, bangunan bersejarah lain di Semarang atau pun di kota-kota lainnya juga mengalami permasalahan yang serupa. Belum banyak bangunan cagar budaya itu dimanfaatkan dengan baik.

Banyak faktor penghambat dalam pengelolaan bangunan cagar budaya baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri seperti:

- biaya yang besar dalam merawat dan melestarikan bangunan. Memang sebagian besar dilema akan kehadiran bangunan cagar budaya Indonesia. Bahan-bahan berkualitas yang digunakan sejak membangun bangunan itu membuat perawatannya juga membutuhkan biaya yang cukup besar pula. 

- kurangnya kesadaran dari berbagai pihak untuk melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya.

- masih banyak yang menganggap bahwa bangunan cagar budaya itu kurang menguntungkan dari segi bisnis.

- pajak yang besar jika ingin mengelola bangunan cagar budaya. 
Padahal bangunan bersejarah itu bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan instagramable. Coba perhatikan foto-foto bangunan tua yang ada di luar negeri, bangunan-bangunanya itu menjadi ikon kota mereka. Sama seperti Lawang Sewu yang menjadi ikon kota semarang. 

Tidak hanya untuk berfoto, bangunan tua Lawang Sewu sebagai bukti bahwa dulu pernah terdapat perjuangan yang besar untuk merebut kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Harusnya kita cukup berbangga hati karena memiliki bangunan kokoh peninggalan jaman Belanda diantara bangunan - bangunan tua yang sudah hancur termakan usia.

Bagaimana kalau sampai Lawang Sewu ini tidak terawat dan hancur musnah serta tidak dibangun lagi. Pasti banyak yang bersedih hati karena merasa kehilangan Ikon utama kota Semarang yang fenomena itu. Makanya Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah.

Alasan Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya adalah:

1. Usianya sudah 1 abad lebih. Sedangkan menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kriteria bangunan cagar budaya adalah usianya lebih dari 50 tahun.

2. Menyimpan nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa bangunan tersebut sebagai saksi sejarah dalam perebutan kekuasaan dan saksi pembantaian para pejuang bangsa Indonesia.

Jika bangunan cagar budaya tersebut musnah atau kehilangan sebagian besar unsur atau kehilangan bentuk dan wujud aslinya, maka bangunan itu tidak lagi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. 

Makanya sebagai masyarakat yang ikut menikmati kehadiran bangunan bersejarah itu harusnya ikut serta menjadi bagian dalam pelestarian bangunan bersejarah Lawang Sewu. 

Masyarakat yang dimaksud tidak hanya sebagai pengunjung bangunan bersejarah tapi juga pemilik bangunan bersejarah dimanapun berada.

Saya memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat untuk upaya pelestarian cagar budaya. Tidak hanya Lawang Sewu saja tetapi juga untuk cagar budaya secara umum. 

Upaya - Upaya pelestarian bangunan bersejarah atau cagar budaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah :

1. Menjadi bagian dari komunitas masyarakat peduli sejarah. Sudah banyak komunitas yang cinta sejarah yang sangat peduli dengan segala hal yang terkait dengan sejarah maupun bangunan bersejarah. Adanya komunitas ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap bangunan bersejarah sekaligus sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat umum baik pemilik maupun pengunjung. 

2. Melakukan kampanye peduli bangunan bersejarah. Kampanye ini bisa dilakukan oleh komunitas peduli bangunan bersejarah maupun dari masyarakat umum. Di era teknologi ini media sosial adalah media yang tepat untuk kampanye peduli bangunan bersejarah. 

3. Memberi fungsi yang baru atau memanfaatkan bangunan bersejarah dengan aktivitas sosial budaya dan pariwisata. Agar tidak terlihat mati tanpa aktivitas, maka masyarakat bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya Lawang Sewu maupun bangunan bersejarah lainnya untuk melaksanakan kegiatan festival budaya, literasi atau pameran. Asalkan saat penambahan fasilitas tidak menyalahi aturan konservasi dan tidak merusak unsur bangunannya. Dengan adanya revitalisasi bangunan bersejarah maka diharapkan bangunan akan terus hidup. Tentunya dengan diselenggarakannya festival di bangunan bersejarah bisa membantu perekonomian masyarakat maupun untuk membantu pemasukan pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut.

4. Memanfaatkan untuk pengembangan aspek ekonomi atau sebagai lahan bisnis. Di beberapa tempat, bangunan bersejarah sudah dimanfaatkan untuk lahan bisnis, seperti hotel, Cafe maupun restoran. Masyarakat umum yang memang seorang pebisnis bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya ini untuk usaha mereka. Apalagi jika ditambah spot - spot untuk berfoto dimana hal tersebut bisa menjadi daya tarik pengunjung.

5. Mengikuti festival budaya atau pameran yang ada di bangunan cagar budaya. Dengan mengikuti festival atau acara yang dilakukan di area bangunan bersejarah maka secara tidak langsung kita menghidupkan suasana bangunan bersejarah tersebut agar tidak terlihat mati. Selain itu, pemasukan dari festival itu bisa menyokong untuk upaya pelestarian cagar budaya.

6. Menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini adalah upaya yang tidak sulit untuk dilakukan. Jangan membuang sampah atau mengotori bangunan bersejarah yang dikunjungi. Tanpa mengotorinya maka kita sudah berkontribusi dalam merawat bangunan bersejarah tersebut agar bertahan lebih lama.

7. Tidak merusak bagian dari bangunan cagar budaya. Kita tahu sendiri merestorasi bangunan bersejarah itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jika masyarakat tidak peduli dan suka merusak bagian bangunan cagar budaya, itu sama saja membiarkan bangunan cagar budaya musnah sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi ikon kebanggaan kota.

8. Tidak mencuri barang-barang peninggalan cagar budaya. Mungkin kita tidak mungkin melakukan itu, tapi ada saja loh yang berniat mencuri barang-barang bersejarah itu untuk dijual demi mendapatkan uang lebih. Bahkan di Lawang Sewu ada bagian dari bangunan yang dicuri. Apakah kalian bangga memiliki salah satu unsur bangunan bersejarah yang ternyata dilarang oleh pemerintah? Pencuri itu harusnya mendapat hukuman sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2011.

9. Tidak melakukan vandalisme. Meski saya yakin, pembaca blog saya adalah pengunjung bangunan cagar budaya yang taat peraturan.  Namun, saya sangat mengutuk siapa pun yang melakukan aksi vandalisme. Tahukah bahwa vandalisme Itu mengakibatkan kerusakan unsur-unsur bangunan cagar budaya. Bagaimana jika rumah kalian rusak karena perbuatan vandalisme yang orang lain lakukan? Pasti marah, kan? Sama lah seperti bangunan cagar budaya.

10. Mematuhi peraturan saat berkunjung ke tempat cagar budaya. Setiap bangunan cagar budaya akan berbeda-beda peraturannya. Maka usahakan membaca peraturan sebelum atau saat mengunjungi bangunan cagar budaya. Biasanya akan ada larangan memegang benda-benda bersejarah yang dipamerkan karena sentuhan tangan pengunjung bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan benda bersejarah tersebut.

Jadi, jangan pernah menyepelekan segala aturan yang ditetapkan dalam bangunan cagar budaya karena semua sudah ada alasannya. Pastinya merawat bangunan tua itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang besar. Kita sebagai masyarakat harus menjaga, melindungi, merawat dan melestarikan bangunan bersejarah di tempat kita masing-masing. Caranya gampang sekali, kan? 

Terus manfaatnya apa melestarikan bangunan bersejarah? 

Pertama, bisa menambah lapangan pekerjaan. Bangunan bersejarah yang dimanfaatkan untuk pariwisata tentu akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Tentu saja itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Para pemandu, penjual kerajinan tangan, souvenir, penjual makanan, tukang parkir, dan lain-lain. Kalian mau kan membantu masyarakat lain agar keadaan ekonomi meningkat?

Kedua,  mengurangi beban anggaran pemerintah. Jelas, jika masyarakat banyak yang berkunjung ke tempat wisata bangunan bersejarah akan mengurangi beban anggaran pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut karena adanya tiket masuk. Asalkan tidak merusak ya.

Ketiga, menciptakan sarana - sarana baru. Lawang Sewu sebagai ikon kota semarang sangat menarik wisatawan yang datang ke Semarang. Dengan begitu, fasilitas rumah makan, perdagangan dan penginapan akan berkembang juga. Coba kalau tidak ada Lawang Sewu, pasti Semarang jadi sepi. Makanya kita sebagai masyarakat harus melestarikan bangunan cagar budaya.

Ternyata betapa besar ya manfaat yang diberikan kalau kita sebagai masyarakat melestarikan bangunan bersejarah atau bangunan cagar budaya Indonesia. Semua yang kita lakukan ternyata berdampak juga secara langsung maupun tidak langsung untuk kita. Sesuai lah jika saya menyebutnya :

Pelestarian Cagar Budaya itu Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita

Maka jangan pernah menyepelekan pelestarian cagar budaya Indonesia. Semua ada timbal baliknya.


Selamat menjaga,  melindungi, dan merawat cagar budaya Indonesia.


Ayo, teman-teman ikut partisipasi lomba Blog "Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!"


REFERENSI :
BBC. 2015. Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang? http.s://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150805_majalah_cagarbudaya_semarang

Galikano, Silvia. 2015. Menyingkap Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151119195551-269-92834/menyingkap-kecerdasan-arsitektur-lawang-sewu

Minarti, Ria Ari & Sumiyatun. 2016. PERAN DINAS PARIWISATA KOTA SEMARANG DALAM UPAYA MELESTARIKAN GEDUNG LAWANG SEWU SEBAGAI OBJEK WISATA PENINGGALAN BELANDA DI KOTA SEMARANG JAWA TENGAH TAHUN 2011 – 2014. Jurnal HISTORIA Volume 4, Nomor 1, Tahun 2016, ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728).

Zulfikar, M. 2013. Dedy Gumelar: Pelestarian Cagar Budaya Banyak Manfaatnya. https://m.tribunnews.com/nasional/2013/06/14/dedy-gumelar-pelestarian-cagar-budaya-banyak-manfaatnya

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower