Kalau pergi ke Magetan pasti anggapannya mau wisata ke telaga Sarangan. Berhubung suami ada kegiatan di Magetan dan udah pernah menginap di villa Sarangan sambil menikmati telaga Sarangan yang indah dan tenang, jadi wisata Sarangan bukanlah tujuan utama kami. Bukan pula sekalian ke Magetan sekalian ke Sarangan karena pergi ke Telaga Sarangan masih 26 km dari tempat kegiatan. Selama suami ada kegiatan di Sirkuit Magetan, aku mencoba menikmati lingkungan sekitar.
Sirkuit Suryo Magetan
Sebenarnya Indonesia memiliki cukup banyak sirkuit, yang paling pertama adalah Sirkuit Sentul kemudian Sirkuit Mandalika. Sementara di Jawa juga memiliki beberapa sirkuit yang tidak sebesar dua sirkuit fenomenal itu. Salah satunya sirkuit Magetan.
Sirkuit Magetan yang dikenal dengan Sirkuit Suryo Magetan ini menjadi sirkuit kebanggaan orang Magetan dan baru dibangun tahun 2025 dan baru diresmika Maret 2026. Jadi kehadiran sirkuit Magetan diharapkan mampu melahirkan bibit unggul mengikuti jejak pembalap internasional asal Magetan. Hmm.. ada yang tahu? Aku pun ngga tauuuu wkwkwk.
Lokasi sirkuit Magetan ini berada di Jalan Raya Parang, kelurahan Parang, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Bisa dibilang sirkuit Magetan ini berada di tengah-tengah. Tidak terlalu jauh dari Yogyakarta dan Surabaya. Jadi bagi pembalap yang berasal dari timur Jawa bisa latihan di sirkuit ini.
Biasanya yang latihan balapan di sirkuit Magetan ini pembalap motor kecil yang biasa dipakai anak-anak sampai orang dewasa dan juga pembalap karting (gokart).
Nah, yang menarik dari sirkuit ini adalah posisinya yang seolah-olah berada di lembah. Di sebelah utaranya dataran tinggi. Di siang hari, lokasi ini memang sangat panas. Tempat berteduh yang nyaman tanpa kena sinar matahari yaa di depan paddock.
Nongkrong di Pinggiran Sirkuit
Biasanya setiap akhir pekan, ketika sore tiba, di sekitar sirkuit ini selalu ramai masyarakat yang menonton aksi para pembalap yang sedang latihan. Biasanya mereka adalah para remaja, orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk melihat aksi pembalap yang sedang latihan. Kadang-kadang mereka duduk-duduk di rerumputan tapi tetap di luar track sirkuit. Kadang ada yang berfoto bersama pembalapnya. Hehe.
Di sisi utara sirkuit, masyarakat duduk-duduk di pinggir jalan sambil menyantap makanan sambil melihat aksi para pembalap.
Aku ingin menikmati siang menjelang soreku di pinggir jalan itu. Sore itu, aku melangkahkan kaki keluar dari sirkuit, menerabas track saat tak ada yang latihan. Melewati jalanan di pinggir sirkuit yang berumput, bersebelahan dengan kebun jagung yang tumbuh subur. Jalur yang cukup menanjak ini memang sengaja disiapkan bagi pejalan kaki agar bisa mengakses pertokoan di pinggir jalan tanpa harus memutar.
Jalur itu sangat menguntungkan bagi pejalan kaki karena kita tidak perlu memutar. Meski terik matahari membuat kulit terasa seperti terbakar, aku tetap berjalan bersama anak-anak untuk mencari makan. Rerumputan yang kering menempel di bawahan kami. Kadang menusuk-nusuk sampai kita membersihkannya.
Aneka Street Food
Begitu sampai atas, mataku menatap ke arah kanan, tidak terlalu banyak penjual makanan. Di seberang jalan, papan menu sebuah warung makan berdiri di depan warung itu. Aku membaca sekilas tetapi aku memilih untuk mencari makanan lain.
Mataku menatap ke arah kiri. Lokasi sirkuit ini dekat dengan Pasar Parang, sehingga banyak rombong penjual makanan berderet membuat keramaian tersendiri. Makanan yang dijual juga beraneka macam. Hanya saja rata-rata, makanan yang dijual adalah bukan menu nasi, seperti kebab, mie goreng, mie ayam, es teler, bakso, cilok, aneka minuman rasa-rasa, dll. Harganya bervariasi tapi tetap terjangkau.
Di sebelah kananku, tidak banyak rombong yang menjual makanan-makanan, hanya rombong di depan ruko. Pun kondisinya lebih sepi. Yang dijual makanan jajanan dan minuman seperti tahu kriuk, minuman, es teler, dll. Dan tentu saja tidak ada tempat yang bisa menikmati sirkuit langsung.
Seperti ada magnet yang menarikku, aku pun mengajak anak-anak ke arah kiri yang banyak menjual makanan.
Maunya menikmati siang menjelang soreku duduk-duduk di pinggir jalan yang menghadap sirkuit. Eits, tenang. Bukan aku aja kok yang duduk di pinggir jalan, tetapi banyak banget warga yang duduk beralaskan tikar yang disediakan penjualnya.
Apakah berbahaya?
Alhamdulillah sih kendaraan yang lewat jalan ini tidak terlalu ramai. Kadang memang ada truk tapi bukan truk trailer atau truk pabrik muatan besar. Dan tampaknya juga tidak terlalu berbahaya berjalan di pinggir jalan. Kendaraannya kalem-kalem.
Aku pun mencari warung dengan menu nasi tapi belum nemu, akhirnya kami jalan mencari yang lain.
Eh kami melewati warung non permanen yang menjual menu-menu makanan berat kayak soto, pecel, dan ayam goreng tapi anak-anak nggak mau.
Cari lagi deh. Mataku terarah pada penjual mie ayam yang ramai dikunjungi orang. Aku pun menawarkan mereka. Mereka pun menyetujui untuk makan mie ayam.
Tanpa pikir panjang lagi, kami menyeberang jalan dan aku pun memesan mie ayam yang mereka mau. Aku memesan 3 mangkok mie ayam dan 2 es teler.
Kami duduk di tempat makan yang disediakan. Ada meja dan tikar di atas lantai cor yang masih diisi orang yang sedang menikmati mie ayam. Anakku di sini nggak bisa tenang. Huaa.. bawa mainan hotwheel dan ramai banget sampe malu deh sama pengunjung lain.
Orang di depan kami belum menyelesaikan makannya sementara di pinggir jalan yang beralaskan tikar masih ramai. Anakku mengatakan ingin duduk di pinggir sirkuit di bawah pohon. Sayangnya, tidak ada tempat kosong.
Eh, kok ya pak penjualnya mencarikan alas tikar agar kita bisa duduk di sana.
Alhamdulillah dapat tikar kosong. Kami pun menyeberang lagi dan duduk di tikar kosong itu. Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat dengan leluasa tanpa hambatan sirkuit Magetan.
Di depan kami sudah plengsengan tinggi seolah-olah kami adalah penonton tribun stadion tanpa kursi yang bisa nonton tanpa terhalang apa pun.
Sesekali, seorang pembalap motor beraksi di sepanjang sirkuit. Suara mesin motornya menggema ke udara. Cukup kencang seperti suara motor berisik yang dilarang masuk ke perumahan itu loh. Hehe..
Angin menjelang sore itu cukup kencang. Pesanan pun datang. Aku segera meminta mereka makan. Makanya kalau tidak diisi makanan, tubuh ini bisa kalah dengan pasukan angin ini. Daripada anakku di perjalanan mual atau muntah.
Di kanan kiri kami, banyak pasangan muda mudi juga keluarga yang bawa anak duduk-duduk juga sedang menyantap yang mereka beli sambil menatap ke arah sirkuit.
Mulai siang, tempat jajanan itu sudah ramai pengunjung untuk makan siang maupun jajan sore.
Aku juga nggak perhatikan buka jam berapa. Sepertinya jam 10 gitu udah buka. Siang jam 11 udah banyak yang makan di pinggir jalan itu.
Anak-anak berusaha keras untuk menghabiskan semangkok mie yang cukup banyak. Anak kedua dan ketiga tidak sampai habis. Seperti biasa aku yang menghabiskan.
Untuk es teler juga gituuu. Mereka tidak bisa menghabiskan akhirnya ibunya yang menghabiskan. Hehe..
Karena anginnya cukup kencang dan makanan selesai. Aku segera membayar dan segera kembali ke mobil biar nggak masuk angin.


































