![]() |
| Monjali (dok. Pribadi) |
Setelah mengantar suami, aku memilih mengunjungi museum di Yogyakarta. Aku sempat searching museum Yogyakarta apa saja. Dan yang paling dekat dengan tempat acara adalah museum Monumen Jogja Kembali (Monjali).
Museum Monumen Jogja Kembali
Monjali adalah singkatan dari museum Monumen Jogja Kembali yang menghadirkan diorama dan pameran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monjali ini mulai dibangun tahun 1985.
Museum yang berbentuk menyerupai tumpeng ini memiliki tanah seluas 49.920 m2, dengan ketinggian 31,8 meter.
Saat aku telusuri, tidak ada sesuatu hal yang unik untuk dikunjungi selain bentuk museumnya seperti kerucut.
Setelah aku pikir-pikir, aku harus ke museum ini nih karena dulu Yogya sempat menjadi ibukota Indonesia.
Lokasi museum Monjali
Monjali berada di Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada di jalan utama sehingga tidak susah dicari tapi memang berada di kawasan yang ramai dan macet. Akses jalannya lebih enak jika kita melewati terabasan biar tidak putar balik.
Jam buka museum Monjali ini dari hari selasa sampai hari minggu dan tutup hari senin dari jam 8 sampai jam 4 sore. Aku tiba di sana sebelum jam 2. Masih ada waktu untuk makan dan mengunjungi museum.
Aku melewati jalan tembusan yang mudah meskipun jalannya kecil. Aku udah membayangkan museumnya ramai. Tempat makan juga ramai.
Tapi aku lupa banget. Ini museum bukan mall yang selalu ramai. Wkwkwk. Pas mau masuk ke parkir mobil, aku agak terheran-heran juga. Fakta di lapangan berbeda dengan ekspektasiku. Tempatnya sepi.
Tiket Masuk Monjali
Aku menghentikan mobilku di depan loket tiket masuk Museum. Perbincangan dua orang petugas perempuan berhenti. Tanpa keluar dari mobil, petugas itu mendatangiku dan memberitahukan nominal tiket masuk Museum Monjali yang murah seharga 15ribu rupiah.
Aku pun memarkirkan mobil di bawah pepohonan yang rindang. Suasana siang itu benar-benar seperti tanpa ada gairah. Halah. Alias sepi.
Selain dua mobil pribadi, minibus terparkir di ujung menunggu penumpang masuk ke dalam bus. Saat aku akan parkir, minibus itu siap keluar dari area. Penumpang yang hanya segelintir tampak seperti rombongan dari sekolah. Mungkin kunjungan ke museum sudah selesai.
Yang paling mengherankan lagi, saat pegawai parkir menagih biaya parkir. Harganya 10ribu, selisih dikit dengan harga tiket masuk. Mau protes tapi kok ga effort lah.
Warung Makan Seadanya
Warung makan di sebelah museum, kukira seperti warung makan biasanya, ternyata hanyalah seperti kios sepetak kecil. Yang dijual seperti gorengan, minuman sachet dan mie cup.
Tak ada pilihan lain. Sambil menunggu pesanan satu mie cup, aku menunggu di kursi besi di atas akar yang menggembung dari dalam tanah dan membuat meja di depanku miring.
Karena di bawah pepohonan, meja itu penuh dengan bunga berjatuhan. Hewan-hewan kecil kadang melewati di depanku dengan santai.
Aku menikmati tiap suapan kuah indomie cup. Setelah selesai dan membayar, aku segera masuk ke ruangan monjali lewat pintu utama. Dari tempat parkir, akses masuk Museum tidak sulit. Hanya perlu naik dan turun.
Monjali ini seperti berada di daerah cekungan. Kira harus turun untuk masuk ke museum.
Tembok Pahlawan Yang Gugur
Sebelum memasuki museum, aku menyempatkan memotret daftar nama pahlawan yang gugur saat clash kedua tahun 1948-1949 di wilayah Yogyakarta.
Daftar nama ini diukir dan memenuhi dinding yang panjang dan tinggi.
![]() |
| Daftar Nama Pahlawan Yang Gugur (dok. Pribadi) |
Arah menuju pintu masuk, aku melihat relief besar berwarna cokelat tentang sejarah masa lalu.
Relief yang ada di Monjali yaitu relief surat Panglima Soedirman, relief pengambilan sumpah Soedirman, relief Serangan ibukota RI, relief Soedirman naik dokar, relief Serangan 1 Maret, dan relief perundingan Roem-Royen.
Di sekitar Monjali
Ternyata Monjali ini dikelilingi oleh kolam ikan yang cukup banyak pemancing memancing di sana.
Selain itu, ada bebek-bebek yang dikayuh untuk mengelilingi kolam. Siang itu tak ada satu pun pengunjung yang menaiki bebek-bebek air itu.
Di dalam sini juga ada Warung makan yang menunya lebih bervariasi. Aku lihat ada menu bakso dan soto. Tempatnya juga lebih nyaman.
Di sekitar juga ada taman dengan permainan anak-anak tapi sepi pengunjung.
Kesan Pertama Masuk Museum
Ketika masuk Museum, aku disambut oleh petugas museum yang masih muda, entah mahasiswa atau peserta magang. Ternyata sudah ada beberapa orang tampang mahasiswa di duduk di sekitar meja.
![]() |
| Pintu masuk Museum Monjali (dok. Pribadi) |
Beberapa kali kudengar mereka tertawa-tawa bercanda. Bagiku, candaan mereka membuat suasana museum yang tenang menjadi ramai. Awalnya aku sedikit terganggu tapi lama-lama jadi membantuku.
Aku pergi ke toilet sebentar. Toiletnya lumayan bersih meski agak sempit.
Museum ini masih konvensional beda kayak museum Gedung Sate Bandung. Sepertinya belum ada inovasi lebih modern untuk menampilkan pameran-pameran.
Di lantai 1 ini terdiri dari 4 museum (ruangan) yang menampilkan koleksi yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, perang Gerilya dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, peristiwa Serangan Umum 1949, dan koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia.
Museum 1: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Ketika aku berjalan menuju museum 1, tampak koridor museum yang sepi, tiba-tiba aku terkejut ada patung kepala sampai dada Pak Harto yang cukup besar di pintu depan menyambut kedatangan pengunjung. Tatapan matanya menghadap depan tapi cukup membuatku menelan ludah.
Begitu masuk ke museum 1, saat mataku menatap patung para pemuda perjuangan dari berbagai pasukan (Heiho, Peta, Laswi, dll) dengan pakaiannya yang khas, tiba-tiba hatiku berdesir. Darahku seperti naik ke kepala.
![]() |
| Pasukan dengan kostumnya (dok. Pribadi) |
Di ruangan itu tak ada orang. Tak ada pengunjung lain. Astagfirullah. Sepertinya aku mulai merinding. Aku nggak pernah masuk Museum sampai merinding begini.
Ya Allah apakah aku bisa menyelesaikan kunjungan ke museum ini sampai akhir? Apakah aku akan mengalami kejadian aneh-aneh di museum ini?
Mari lanjutkan...
Suara candaan petugas di depan ternyata cukup mengurangi ketakutanku saat memasuki museum. Aku jadi tidak tenang membaca setiap keterangan yang ada di dalamnya.
Di museum 1 ini aku lumayan lama dan masih berani membaca setiap keterangan pada benda museum.
Ada foto-foto pasukan bambu runcing. Ada barang-barang yang dipakai saat perang dulu seperti guchi, senjata, bekal makan dan minum. Ada miniatur perahu perang. Ada jaket milik pahlawan. Ada kertas berita yang dikirim pakai burung merpati.
Aku pun keluar dari museum 1 (ruangan pertama). Selanjutnya aku masuk lagi di ruangan selanjutnya atau museum 2. Suasana lebih sepi. Suara keramaian mulai terasa jauh. Masih juga tidak ada pengunjung.
Museum 2: Perang Gerilya
Di museum 2 aku mulai bisa mengendalikan diri. Di museum 2 ini tentang perang gerilya. Foto-foto saat perang gerilya. Wolkie-tolkie saat perang gerilya. Mesin jahit untuk menjahit baju pasukan. Songkok Langenastro juga dipamerkan. Tandu, dokar dan selop milik Panglima Soedirman pun dipamerkan.
![]() |
| Tandu dan selop Panglima Soedirman (Dok. Pribadi) |
Museum 3 : peristiwa Serangan Umum 1949
Di museum 3 ini sudah menjauh dari pintu masuk. Dan suara-suara keramaian masih terdengar tapi sudah mengecil.
Ketika aku memasuki ruangan, aku hampir teriak. Aku melihat diorama di pojok kanan seorang perempuan berambut panjang sedang meniup bara tungku. Kukira ada orang di sana. Atau penampakan
Aku pun langsung... ya Allah... ya Allah.
Aku juga mulai nggak konsentrasi. Rasanya pengen cepet keluar dari museum. Wkwk.
![]() |
| Beneran hampir teriak lihat ini wkwk (dok. Pribadi) |
Ih apa-apan tiba-tiba perasaanku nggak enak begini.
Museum 4 : koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia
Di ruangan terakhir di lantai 1 ini aku tidak banyak mengambil foto karena banyak koleksi kerumahtanggaan presiden seperti dipan kasur dan selambu putih, kursi dan meja, dan lain-lain.
Mon maap aku lihat selambu putih di kasurnya pun agak-agak gimana gituu. Beda pas aku lihat kasur dan selambu putih di museum HOS. Cokroaminoto.
Perpustakaan
Ternyata di museum ini juga ada perpustakaannya. Sepertinya buku-buku yang tersedia juga berkaitan dengan sejarah-sejarah kemerdekaan atau setidaknya sumber pustaka dari koleksi yang ada di museum ini.
![]() |
| Perpustakaan di Monjali (dok. Pribadi) |
Spot Foto Berbayar
Di museum Monjali banyak tempat spot foto berbayar yang disediakan pihak museum seperti foto bersama Soekarno dan Soedirman, foto bersama meriam, dll. Kalau tidak salah bayar 10ribu atau 5ribu gitu.
![]() |
| Spot Foto Berbayar Di Monjali (dok. Pribadi) |
Pameran lukisan
Di koridor antara dua ruangan (museum 3 dan 4 kalau tidak salah) terdapat pameran lukisan dari berbagai pelukis. Karena aku bukan penikmat lukisan jadi aku hanya melihat lukisan-lukisan itu sekilas.
Di koridor ini pencahayaannya lebih terang. Anehnya justru di sini aku bisa lebih tenang dan tidak waswas. Hehe.
![]() |
| Pameran Lukisan Di Monjali |
Melihat Diorama Sendirian?
Nah di lantai 2 ini khusus diorama. Masalahnya aku sempat maju mundur. Mau neruskan kok agak ngeri ya. Haha.
Tapi akhirnya aku maju ajalah. Sambil baca ayat Kursi. Ya Allahhhh...
![]() |
| Diorama perang (dok. Pribadi) |
Setiap diorama ada rekaman suara perjuangannya. Dibilang takut juga nggak karena jadi ramai. Tapi koridornya sepi banget. Duh. Sepanjang jalan pengen cepet selesai. Kok kayak panjang bangeet. Haha. Aku cuma foto dan video aja lah. Agak creepy juga sendirian. Haha.
Mengenang Jasa Pahlawan di Lantai 3
Di lantai 3 ini di mana bagian gedung semakin megerucut ke atas. Tak ada koleksi yang dipamerkan tapi hanya ruang kosong untuk mengirim doa kepada para pahlawan.
Hanya ada tiang bendera dan ukiran timbul tangan di kanan dan kiri.
Berani Pergi ke Museum Monjali Sendirian?
Cukup sekali ya aku pergi ke museum Monjali. Sendirian pula. Hahaha. Serius aku jadi penakut gitu. Padahal juga biasanya cuek aja tapi ini entah kenapa takut bet.
Ya Rabba. Kalau kalian nggak takutan sih nggak apa-apa. Aku tiba-tiba jadi takut gituu. Ya Allah...
Sebenarnya banyak sih pengetahuan baru tiap ke museum. Aku jadi tahu kondisi zaman dulu saat perang gimana. Tapi please.. gimana ya biar dibikin nggak terlalu serem. Apa karena sepi ya jadi kayak serem gitu.
Mungkin kalo aku ke Museum Gedung Sate sendirian juga bakal takut kali ya.
Eh apa ternyata aku ini dasarnya penakut??? Apa momen creepy kalian saat ke museum?
Yaudahlah mari kita nikmati bebek-bebek tanpa penumpang di kolam Monjali ini. Menghibur diri dan menenangkan diri. Memberi selamat pada diri bahwa tak ada kejadian aneh-aneh di dalam museum. Haha.
![]() |
| Monjali dan bebek air |











































