Salah satu list wisata wajib di kota Paris yang baru kulakukan sebelum kepulanganku ke Indonesia adalah wisata perahu sungai Seine Paris. Sama seperti yang sudah aku ceritakan di artikel saat naik menara Eiffel, aku masih menunggu sisa-sisa uangku hehe. Selain itu, menurutku, naik kapal pesiar di sungai Seine Paris di musim panas adalah waktu yang tepat. Meski ramai dengan turis tapi tidak terkendala dengan cuaca.

Kali ini, aku tidak sendirian. Aku bersama teman dari Indonesia yang kuliah di Sorbonne dan juga sudah selesai. Masih di bulan ramadan, kami menyusuri sungai Seine dengan kapal pesiar.

Seine River Cruise

Setiap kali aku berkunjung ke Eiffel, melihat kapal-kapal berlalu lalang di Sungai Seine yang melewati menara Eiffel bikin aku mupeng. Wisata ini memang menjadi atraksi yang paling menarik bagi turis mancanegara. Tapi aku belum ada rencana naik kapal keliling sungai Seine karena yaaa aku nggak mau terlalu cepat membuang uangku wkwkwk. .

Seine River Cruise ini sebenarnya ada tiga jenis kapal yaitu Vedettes (baca; Vedet), Bateaux Mouches (baca: bato mush) dan Bateaux Parisiens (baca: bato parisiang). Perbedaan Vedettes, Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens terletak pada harga, luas kapal, fasilitas yang ditawarkan dan lokasi naik dan turunnya.

Vedettes du Pont Neuf, Bateaux Mouches, Bateaux Parisiens

Perjalanan menyusuri sungai Seine dengan naik kapal Vedettes dimulai dari jembatan Pont Neuf, jembatan tertua di Paris. Bateaux Mouches dimulai dari Pont de l’Alma, yang lebih dekat ke menara Eiffel. Bateaux Parisiens dari kaki menara Eiffel.

Bateaux-Mouches (seinerivercruise.com)
 
Bateaux Mouches ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1867, Cuma sempat redup dan dihidupkan kembali tahun 1949. Vedettes ini sudah beroperasi sejak tahun 1976. Bateaux Parisiens dibangun dan mulai beroperasi tahun 1956. MaasyaAllah ternyata pariwisata mereka itu udah sejak zaman dahulu. Kepemilikannya pun berbeda-beda.

Ukuran kapal Vedettes lebih kecil dan ramping dibanding Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens. Jika dua kapal Bateaux ini bisa menampung hingga 700 wisatawan, maka Vedettes ini hanya bisa menampung sekitar 30an wisatawan. Bayangin aja naik kapal dengan jumlah wisatawan sampai 700 an. Pasti ramai bangeetttt.

Vedettes de Pont Neuf 

Vedettes berfokus pada wisata ya, sedangkan Bateaux menyediakan paket mewah untuk makan siang dan malam dengan musik pengiring. Jadi kalau kalian mau berfoto Eiffel di atas kapal sambil dinner atau makan siang bisa naik Bateaux.

Harga tiket Vedettes dan Bateaux sama aja kecuali kalau tambah makan.

Harga tiket kapal keliling Sungai Seine

Qodarullah, di akhir masa tinggalku di Prancis, aku punya kesempatan naik kapal pesiar keliling sungai Seine. Menurutku, musim panas menjadi momen paling pas mengelilingi Paris. Nah karena aku cari yang murah, yang penting bisa naik kapal keliling sungai Seine, melihat Eiffel dari atas kapal, dan nggak terlalu ramai, jadi aku ambil Vedettes.

Vedette du Pont Neuf
Penumpang antri sebelum naik Vedettes (dok. pribadi)

Tiket Vedettes dan Bateaux kalau keliling aja sekitar 17 euro, tapi kalau makan bisa antara 60-100 euro, udah hampir seharga biaya makanku 2 pekan di sana. Tanpa pakai pikir panjang, aku langsung mengiyakan naik vedettes. Soalnya kalau aku konversikan ke rupiah, bisa-bisa batal naik kapal. Hehe.

Menyusuri Sungai Seine dengan Vedettes

Aku mencari tempat duduk di lantai dua tanpa atap. Dengan begitu, kita bisa melihat pemandangan dari atas kapal tanpa ada penghalang. Pengunjung lain pun juga duduk di bagian lantai atas kapal. Kursi-kursi di susun menghadap depan dengan dua bagian kiri dan kanan. Kursinya berdempetan. Aku dan temanku memilih kursi di bagian belakang kapal.

Tak lama, kapal berjalan pelan terus menuju ke tengah sungai. Seorang pemandu wisata berdiri di bagian depan dan menghadap pada wisatawa. Ia menjelaskan sejarah dalam bahasa Prancis dan Inggris. Sayangnya, karena berada di tempat yang ramai, suara terdengar putus-putus.

Kami melewati berbagai bangunan bersejarah di kanan dan kiri. Landmark ikonik Paris sangat menarik seperti Musée d'Orsay, Museum Louvre, Katedral Notre-Dame, dan jembatan-jembatan bersejarah lainnya.




Pont Alexandre III, Jembatan Favoritku soalnya keren. Plis abaikan orang di belakang (dok. Pribadi)

Pont Alexandre III, jembatan favorit (dok. pribadi)

Eiffel Tower
Eiffel dari atas kapal (dok. pribadi)

Aku menikmati perjalanan cruise. Sampai di menara Eiffel sekitar 10 menit kemudian. Guide tetap menjalankan misinya untuk terus menjelaskan tentang apa saja yang mereka lewati. Aku sibuk memotret apa saja seolah tak ingin melewatkan sedetik pun apaan pun yang ada di sana. 

Kapal sempat memelan. Para turis mulai berfoto dengan latar Eiffel. Aku juga tidak ingin melewatkan kenangan indah dengan memotret Eiffel dari kapal. 

Selanjutnya kapal berjalan dan berputar balik tak jauh dari Eiffel. 

Jembatan dekat Notre-Dame (dok. pribadi)



Conciergerie Paris
Conciergerie, penjaranya Marie Antoinette (dok. pribadi)


Melewati jembatan tertua, Pont Neuf (dok. pribadi)


Vedettes du Pont Neuf
Titik naik Vedettes du Pont Neuf (dok. pribadi)

Akhirnya sampai juggaa (dok. pribadi)

Pulang...

Di sini aku sempat merasa sedih karena pada akhirnya aku harus pulang. Perjalanan menikmati sungai Seine dengan naik Vedette sama seperti Perjalanan studiku. Atau... justru seperti perjalanan hidup?

Bahwa selama perjalanan kita akan menikmati segala keindahan. Kadang kita harus berhenti sejenak demi menikmati hidup. Melupakan sejenak segala gedebak-gedebuk tapi tetap harus berjalan kembali dengan fokus satu tujuan.

Justru sebenarnya ini adalah simulasi akhir ujian hidup. Mampu tidak kita melewatinya. Meski banyak godaan hidup, berhenti sejenak hanya untuk mem kita fokus pada satu tujuan.

Bagiku Vedettes ini memang layak untuk dicoba.






Read More

Awal-awal kedatanganku ke Paris, jetlag masih terasa. Aku belum bisa menahan rasa kantuk di siang hari. Di malam hari pun, mataku sulit menutupkan mata. Teman-teman dari kampus di Indonesia (karena kami double degree) mengajakku jalan-jalan ke Arc de Triomphe dan Musée du Louvre. Aku sempat naik ke Arc de Triomphe. 

Saat di Musée du Louvre, kita cuma foto di depan Piramida kaca dan taman tempat Harry Potter dan musuhnya bertarung.



Siang itu cukup panas meski seharusnya sudah masuk musim gugur di bulan September. Mungkin karena aku belum bisa mengendalikan jetlag-ku, jadi aku tidak begitu antusias melihat bangunan Louvre yang keren itu. Kebayang banget, orang-orang yang travelling cuma beberapa hari di Eropa, belum juga ngendalikan jetlag udah balik ke Indo. 

Musée du Louvre

Musée du Louvre atau Louvre Museum adalah museum di Paris, Prancis, yang terkenal dengan lukisan Monalisa dan piramida kaca. Museum ini menyimpan banyak karya seni dan artefak dari seluruh dunia. Jumlahnya sekitar 38.000 karya dari zaman prasejarah hingga abad 19. Luas Museum Louvre ini sekitar 60.600 m2. Luass bangetttt kaaann. Dan aku nggak nyangka karyanya banyak banget dan tempatnya seluas ituu.

Museum Louvre ini dulunya istana Louvre dan juga benteng yang dibangun pada 12, di bawah kepemimpinan Philip II. Kemudian istana ketika dipindah ke Versailles, Louvre dijadikan tempat menyimpan koleksi kerajaan dan di tahun 1692 dijadikan tempat pendidikan seni.

Bisa dikatakan museum Louvre menjadi salah satu museum terbesar yang dibuka tahun 1793 dengan memamerkan sekitar 573 karya lukisan di tahun itu.

Akses Museum Louvre

Untuk mengunjungi Musée du Louvre, kita bisa naik métro line 1 dan 7 dan turun di stasiun Palais Royal - Musée du Louvre.

Masuk ke pintu utama di bawah pintu Piramida kaca di lantai -2. Kita harus turun ke bawah dulu.

Jadi bangunan Louvre ini sebenarnya ada 5 lantai tapi dua lantai di bawah lantai dasar dan dua lantai di atas lantai dasar. Dan bangunannya tidak terlalu tinggi.


Tiket Masuk Museum Louvre

Kunjunganku ke Louvre sudah kulakukan sampai 2x. Sebenarnya ke Louvre ini berbayar tapi ada juga yang gratis. Harga tiket masuk Museum Louvre untuk dewasa sekitar 32 euro.

Dulu, setiap hari ahad di pekan pertama tiap bulan tiket Louvre selalu gratis. 

Setelah aku baca di webnya sekarang. Tiket gratis masuk Museum Louvre ini untuk:
  • Anak usia 18 tahun ke bawah
  • Usia kurang 26 tahun baik orang asli Eropa atau orang yang tinggal di Eropa yang dibuktikan dengan izin tinggal
  • Jumat pertama di tiap bulan setelah jam 6 sore (kecuali Juli dan Agustus pas musim panas) 
Kunjungan pertamaku, meski agak-agak membingungkan, aku berhasil menjadi pengunjung yang masuk Louvre dengan gratis karena waktu itu usiaku masih 24 dan nunjukin kartu izin tinggal (kartu mahasiswa). Oiya sebelum masuk Louvre, jangan lupa buang air kecil di apartemen/hotel/studio, karena toilet di Louvre mahal banget sekitar 10-15 euro.

Jam buka Museum Louvre

Jam buka museum Louvre agak compliquée sih. Setiap hari buka kecuali selasa.
  • Hari senin, kamis, sabtu, minggu buka pukul 09.00 - 18.00
  • Hari rabu, jumat buka pukul 09.00 - 21.00
  • Hari libur nasional pada 1 Januari, 1 Mei dan 25 Desember TUTUP. Sedangkan hari libur nasional lain tetap buka.

Keliling Museum Louvre

Setelah berhasil melewati antrian wisatawan, aku melewati piramida kaca terbalik yang memang berada dekat dengan loket.

Aku tidak begitu ingat yaa saat keliling Museum Louvre. Yang aku ingat, aku melewati ruangan dengan lukisan berukiran emas yang detail. Agak takjub sih. 


Mereka bisa buat ukiran-ukiran yang detail. Lukisan yang besar dan detail. Rata-rata tentang kehidupan kerajaan di masa itu. Patung-patung kadang memperlihatkan aurat wkwkwk. Yang sebenarnya aku tidak terlalu berminat. 

Lukisan Mona Lisa

Aku lebih penasaran sama lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang terkenal itu. Aku mengikuti alur jalan antar ruangan dan tiba-tiba udah di depan segerombolan pengunjung sedang berfoto di depan sebuah karya yang tidak begitu jelas.

Begitu aku mendekati ternyata di depan pengunjung itu adalah lukisan Mona Lisa. Dan apa yang membuat aku kaget adalah ternyata lukisan Mona Lisa kecil bangeettt wkwkwk. 

Lukisan Mona Lisa yang kecil dalam kerumunan pengunjung (dok. Pribadi)

Aku berfoto-foto sejenak. Aku mencoba menerobos pengunjung lain hingga ke baris depan dan berfoto. Selesai berfoto, aku segera menjauh dari kerumunan yang masih memperhatikan lukisan itu.

Pembagian departemen pameran

Selanjutnya aku pergi ke ruangan-ruangan lain di Museum Louvre yang memamerkan barang antik dari beberapa benua. Karya yang dipamerkan seperti lukisan, patung, gambar, keramik, artefak arkeologi, dan karya seni dalam berbagai bahan.

Koridor yang menghubungkan satu ruang ke ruang lain (dok. Pribadi)

Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Awalnya aku berada di ruangan dengan barang bersejarah dari Mesir. Kemudian ke ruangan lain dengan barang bersejarah dari Yunani, Etruska dan Romawi. Aku mengira aku sudah selesai ternyata belum. Ini masih di awal-Awal. Dan perjalanan masih panjangggggg. Hahaha.

Museum ini dibagi menjadi beberapa departemen.
  1. Barang Antik Mesir ( 66.300 )
  2. Barang Antik Oriental ( 137.628 )
  3. Barang Antik Yunani, Etruska, dan Romawi ( 68.362 )
  4. Seni Islam ( 15.311 )
  5. Lukisan ( 12.660 )
  6. Patung ( 6.115 )
  7. Karya Seni ( 23.405 )
  8. Seni Grafis ( 122.212 )
  9. Koleksi Rothschild ( 86.858 )
  10. Kalkografi ( 14.647 ).
  11. Seni Bizantium dan Kekristenan di Timur ( 501.167 )
Well, dari semua pameran itu, aku tidak bisa berlama-lama karena saking luasnyaaa dan ya Allahhhh nggak selesai-selesai. Sampai kayak engap sendiri. Mana ngga ada kursi buat tempat duduk. Istananya luas banget. 

Seni Islam

Di Kunjungan pertama memang aku tidak terlalu menikmati. Kunjungan kedua aku mencoba mencari sesuatu yang menarik. Sebenarnya kunjungan kedua itu adalah permintaan temanku untuk mengunjungi departemen seni Islam.


Di departemen seni Islam banyak karya dari peradaban Islam yang dipamerkan di museum ini seperti ukiran kaligrafi dan barang-barang peninggalan kekhalifahan. MaasyaAllah. Ternyata mereka menaruh perhatian pada kejayaan peradaban Islam. 


Aku kira departemen ini bakal sepi. Eh ternyata tetap ramai. Bagiku, departemen seni Islam ini paling menarik karena terasa dekat dengan kehidupanku dibanding departemen lain.

Seni karya Indonesia di Louvre

Nggak cuma seni Islam, di Museum Louvre juga ada seni karya dari Indonesia yang dipamerkan di sana. Seperti karya seni patung dari Papua dan wilayah lain. 

Patung dari Papua (dok. Pribadi)

Hampir 4 jam keliling Museum

Kedatanganku kalau tidak salah sekitar jam 9 pagi dan aku pulang sekitar jam 1 siang. Itu pun aku tidak terlalu detail melihat setiap karya di sana. Karena emang banyak banget ya Allahhhh... capeekkkkkk. Apalagi nggak banyak tempat istirahat di dalam. Beneran kalau bawa anak kecil kudu bawa stroller. Dan mungkin akan jadi tempat yang membosankan bagi mereka. Tapiii meskipun menghabiskan waktu seharian, kalau kalian pencinta museum, kudu banget masuk ke museum Louvre. Jadi nggak cuma foto di depan Piramida kaca.
Read More
Tempat wisata di Paris itu banyak sekali. Kalau cuma satu hari di Paris rasanya kurang banget tapi nggak bisa dipungkiri kalau obyek wisata di Paris itu mahal-mahal. Apalagi kalau kalian ke sana mencari oleh-oleh barang branded. Kalau cuma satu hari memang lebih baik naik ke menara Eiffel terus duduk-duduk atau berjalan-jalan di Champs-de-Mars, ruang terbuka hijau di antara Eiffel dan Ecole Militaire, menikmati Eiffel dari berbagai sudut.

Champ-de-Mars memberi kenangan tersendiri buatku. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Champ-de-Mars ini yang aku ceritakan selanjutnya. 

Champ-de-Mars dari menara Eiffel (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars

Champ-de-Mars adalah salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Parisyang berada di antara menara Eiffel dan École militaire. Luasnya mencapai 24 hektar. Taman ini dibangun sejak tahun 1770. Saking luasnya kalian harus kuat jalan kaki. 

Akses

Untuk bisa mengunjungi menara Eiffel dan Champ-de-Mars, teman-teman bisa naik métro line 6 dan turun di Trocadéro, Passy, Bir Hakeim atau Dupleix. Kalau mau turun di stasiun yang dekat dengan menara Eiffel turun di Trocadéro. 
Kalau mau lihat champ-de-mars maka turunnya bisa di ecole militaire. Kalau aku sendiri lebih suka nani.

Dulu masih bisa turun di stasiun Champ de Mars-Tour Eiffel naik kereta jarak jauh RER C tapi katanya sekarang sudah ditutup. Entah bener atau nggak? 

Apa yang dilakukan di Champ-de-Mars?

Banyak hal yang bisa dilakukan di champ-de-Mars. Ini beberapa hal yang aku lakukan selama di Paris.

Piknik

Taman ini cocok untuk piknik. Tanahnya lebih lapang dan hijau. Beberapa pengunjung biasa duduk-duduk di taman ini tanpa alas lagi. Makanan dan minuman dikeluarkan. Burung-burung merpati terbang ke sana-kemari. Meninggalkan jejak kotoran yang bisa diketahui manusia.


Temam-temanku mulai menyantap makanan dan minuman yang enak. Sedangkan kondisi tubuh aku masih belum 100%. 

Di musim panas, duduk-duduk di taman ini memang menyenangkan. Meski hawanya agak nyelekit di kulit. Musim dingin pun tidak mungkin karena hawanya dingin. Paling enak memang saat musim semi karena udaranya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.

Pertama kali aku melihat Eiffel, aku dan teman-teman duduk-duduk di Champ-de-Mars. Eiffel berdiri dengan megahnya di dekat kami. Kami tidak duduk dekat kaki menara tapi saat di foto, kaki menara cukup jelas terlibat. Sayangnya saat itu kepalaku lagi pening. Jadi tidak terlalu bisa menikmati. 

Banyak pengunjung yang juga melakukan piknik di Champ-de-Mars dengan membawa makanan. Mereka duduk sambil baca novel, atau sekedar melihat orang berlalu lalang.

Kumpul bersama teman

Kalau pun tidak membawa makanan, kita bisa hanya duduk-duduk berkumpul bersama teman, pasangan atau kacang. Ya hampir sama kayak piknik tapi di sini kita bisa berkumpul untuk tujuan tertentu.

Jadi setelah beberapa bulan di Paris, seorang desainer pakaian dan penyanyi terkenal sedang pergi ke Paris. Ngga tau gimana yaa... para mahasiswa berkumpul. 

Kita di sana melakukan permainan games. Yang aku ingat, mbak Dian Pelangi membuat permainan memakai hijab. Siapa yang tercepat akan membawa hadiahnya.

Saat lomba dimulai, aku melilitkan pashmina warna-warni langsung ke kepala peserta.

Eh alhamdulillah banget. Aku bisa memenangkan lomba dan mendapat alat kosmetik dari Wardah dan hijab pashmina dari Dian Pelangi. Hijab itu sering aku pakai selama kuliah di sana.

Setelah itu kami berfoto bersama. Hehe.

Nonton orkestra 14 Juli

Yang paling berkesan menurutku saat duduk-duduk di Champ-de-Mars adalah bisa nonton orkestra saat perayaan Bastille Day 14 Juli. Ibaratnya hari kemerdekaan Prancis meski tidak ada penjajahan.

Pengalaman ini tidak bisa aku dapatkan tanpa izin dari Allah. 

Aku ingat banget, saat itu masih puasa ramadhan. Sedangkan orkestra itu dimulai sejak siang hingga malam kemudian berlanjut dengan kembang api di Eiffel.

Teman Indonesiaku qadarallah bisa mendapatkan tiket vip. Jadi kami bisa duduk di bagian depan dekat dengan panggung orkestra yang ada di kaki Eiffel.

Teman perjuangan (dok. Pribadi)

Kami masih puasa donggg di bawah terik matahari musim panas (dok. Pribadi)

Dari siang, vip udah ramai banget (dok. Pribadi)

Buka puasa jam 9.30 malam (dok. Pribadi)

Nonton Orkestra (dok. Pribadi)

Suasana magrib (dok. Pribadi)

Mulai malam (dok. Pribadi)

Kalau kami tidak mendapat tempat duduk vip, kemungkinan kami akan berebut tempat duduk di bagian belakang. Meskipun di atas rerumputan tapi pengunjung Eiffel ini sangat banyak. 

Saat siang terik. Sekitar jam 3 siang kami sudah tiba di tempat. Puasa ramadan jadi tidak begitu terasa. Ketika maghrib tiba sekitar pukul 9, kami segera buka puasa. Tak lama setelah itu, langit semakin gelap, lampu-lampu Eiffel terus menyala. Panggung orkestra pun semakin terang oleh pencahayaan malam. MaasyaAllah keren banget.

Ketika orkestra sudah selesai. Tiba-tiba suasana hening. MC kemudian membawakan bait-bait syair perjalanan Prancis hingga terjadi Bastille Day sampai saat ini. Seketika Eiffel menjadi terang dengan lampu-lampu yang terang berkerlap-kerlip. Kemudian kembang api keluar berkejar-kejaran di langit. Meramaikan suasana malam itu. Semua penonton riuh melihatnya. Aku asyik merekamnya dengan kameraku.



Momen ini hanya pernah terjadi saat 14 Juli saja. Aku pernah menunggu kembang api di Eiffel saat tahun baru. Rela aku tidak tidur demi pergantian tahun eh malah tidak terjadi apa-apa. Hanya lampu kerlap-kerlip saja. Haha. 

Berfoto-foto

Tempat ini asyik banget buat berfoto di empat musim. Paling seru adalah saat aku berburu foto menara Eiffel saat musim dingin.

Salju turun tepat saat ulang tahunku di bulan maret. MaasyaAllah. Dan turunnya cukup deras. 

Aku menahan dingin saat air salju menembus sepatuku. Jaketku yang tebal juga ternyata masih kurang menahan dinginnya salju.

Aku berjalan hingga di depan Champ-de-Mars mendekati École Militaire yang tertutup salju. Semua menjadi putih. Tak ada hijau yang menutupi taman seperti biasanya. 

Aku berfoto di jalan pinggir taman bersama teman-temanku dengan latar menara Eiffel yang samar tertutup kabut salju. Bukan aku dan temanku saja yang mengejar foto Eiffel saat bersalju. Beberapa orang meski tak banyak juga tak ingin luput mengabadikan momen yang jarang terjadi di Paris. Yup, memang jarang sekali salju turun deras di kota besar akibat pemanasan global. Isu itu sudah ada sejak aku tinggal di sana, tiga belas tahun silam.

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. pribadi)

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. Pribadi)
 
Champ-de-Mars saat salju berkurang (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars, tempat terbaik menikmati Eiffel

Bagiku, Champ-de-Mars punya kenangan sendiri. Tempat terbaik untuk menikmati Eiffel dan berfoto dengan latar menara Eiffel. Momen Bastille Day 14 Juli juga menjadi momen yang nggak akan kulupa. Aku bisa melihat Eiffel menyala dengan riuhnya kembang api. Jangan kecele, karena saat tahun baru tidak ada kembang api di Eiffel.
Read More
Menara Eiffel dari tepi Sungai Seine di musim panas (dok. pribadi)

Dulu, aku nggak kepikiran sama sekali menulis pengalaman pergi ke tempat wisata paling populer di Paris, Prancis, yaitu naik menara Eiffel. Padahal banyak banget yang bisa diceritakan. Entahlah, aku terlalu banyak pikiran jadi aku tidak menuliskannya sama sekali. So, ini aku coba menuliskan kembali meski sudah sekian lama. Semoga masih relevan yaa. Hanya perlu update harga aja.

Sebelum kepulanganku ke Indonesia, aku harus mencoba menaiki naik menara Eiffel. Dalam bahasa Prancis disebut La Tour Eiffel. Kalau le tour itu artinya keliling/tur, seperti le tour de France, kompetisi sepeda balap mengelilingi Prancis. Beda artikel le/la aja udah beda arti. Hehe.

Kenapa menaiki menara Eiffel baru kulakukan saat akan pulang ke Indonesia? Di mana teman-temanku juga sudah banyak yang pulang? Ya, sejujurnya, mengeluarkan uang 15 euro itu cukup berat mengingat beasiswa datang terlambat, jadi aku harus berhemat. Setelah aku yakin masih ada sisa uang di akhir-akhir masa studiku, aku baru memutuskan untuk naik menara Eiffel.

Saat itu, tepat musim panas, di mana banyak turis yang datang ke Paris. Metro-metro jalur wisatawan, seperti Line 1, 6, dipenuhi para turis, baik dari Eropa, Amerika atau pun Asia, dan juga dipenuhi oleh pencopet lihai. Kudu hati-hati banget naik metro di jalur itu. Apalagi saat berdempetan dengan orang lain. Hati-hatiiiiiii. Aku pun pernah menangkap basah pencopetnya. Untungnya dia gagal ngambil dompet di kantong jaket korban.

Sejarah singkat Menara Eiffel

Menara Eiffel ini dibangun oleh Gustave Eiffel pada tahun 1887-1889 dan menjadikan salah satu monumen paling bersejarah di Paris dan terkenal di seluruh dunia. Menara Eiffel (La Tour Eiffel) yang menjadi ikon Prancis ini berada di taman yang terkenal dan indah yaitu Champs-de-Mars di tepi sungai Seine. Ketinggian menara Eiffel sampai atas 330 meter.

Awalnya, Gustave Eiffel akan membangun menara ini di Barcelona, tetapi walikota di sana tidak menyetujui karena mahal dan aneh membangun menara setinggi itu. Hingga kemudian, ia mengirim draf desainnya kepada penanggung jawab pameran dunia, Exposition Universelle, dan akhirnya dibangun satu tahun kemudian. Di zaman itu, membangun menara yang tinggi memang memiliki resiko keamanan. Dari 300an pekerja, hanya satu orang yang meninggal.

Sejak awal abad ke-20, berkat ketinggiannya, menara Eiffel digunakan untuk transmisi radio. Kabel-kabel memang tampak, namun kemudian kabel tersebut ditanam di bawah tanah.

Sebenarnya, di awal pembangunan, publik banyak yang tidak setuju karena menara dari besi hitam ini merusak keindahan kota Paris. Menara Eiffel memiliki izin berdiri hanya dalam 20 tahun. Setelah itu, menara Eiffel direncanakan akan dibongkar. Namun, setelah melihat track record-nya yang mendatangkan banyak wisatawan, memberi keuntungan dari sisi ekonomi dan komunikasi (dekat dengan pendidikan militer), menara ini dibiarkan berdiri dan bisa tetap aku saksikan sampai saat ini.

Ternyata Menara Eiffel dari dulu sudah menarik banyak turis. Tapi emang arsitektur bangunannya pun sangat detail. Menurutku, nggak ada negara lain yang punya bangunan bisa sedetail Prancis. Jerman pun tidak. Makanya Hitler saat ke Paris pun terpesona dan tidak menghancurkan bangunan di sana.

Antri Beli Tiket Menara Eiffel

Kembali lagi...

Temanku bercerita, kalau datang pagi-pagi aja jam 8 atau siang jam 1 masih agak sepi, karena musim panas ini ramai banget. Oke baiklahhh.

Aku memilih datang setelah jam 1 siang, sudah selesai dzuhur dan waktu ashar masih panjang. Ternyata ramai bangeeeet. Para turis ada yang berseliweran dan ada yang sudah mengantri di depan loket. Petugas keamanan berbaju hitam, dipunggungnya bertuliskan POLICE, juga tampak mengawasi para pengunjung di sekitar Eiffel. Meski masih pagi, udara sudah mulai panas. Oya, saat itu, umat muslim sedang menjalankan puasa ramadan. Jadi, lumayan banget, jalan kaki di musim panas dan antri.

Antrian sudah tampak mengular bikin mengelus dada. Aku berjalan menuju loket tiket dan membaca harga tiket naik menara Eiffel yang terpampang di atas loket tiket. Ternyata harga tiket naik menara Eiffel ini berbeda-beda. Mau pakai lift atau tangga. Mau sampai lantai 2 saja atau sampai puncak.

Tarif Lewat Lift (ascenseur)

Lewat lift sampai lantai 2:
Full tarif / dewasa : 23,5 euro
umur 12 - 24 tahun : 11,8 euro
umur 4 - 11 tahun dan cacat: 6 euro

Lewat lift sampai puncak
Full tarif / dewasa : 36,7 euro
umur 12 - 24 tahun : 18,4 euro
umur 4 - 11 tahun dan cacat: 9,2 euro

Tarif Naik Tangga (escalier)

Naik tangga sampai lantai 2
Full tarif / dewasa : 14,8 euro
umur 12 - 24 tahun : 7,4 euro
umur 4 - 11 tahun : 3,8 euro

Kalau ini, mixed sampai lantai dua pakai tangga, dari lantai dua ke puncak pakai lift.

Full tarif/ dewasa : 23,5 euro
umur 12 - 24 tahun : 23,5 euro
umur 4 - 11 tahun : 7 euro
usia kurang dari 4 tahun gratis.

Awalnya, aku memilih naik tangga aja lebih murah, tapi setelah mataku menatap tangga-tangga di kaki menara Eiffel itu dan melihat pengunjung menaikinya, dahlah... nyerah aja. Mana puasa lagi.

Aku mencari antrian terakhir tapi mataku tak menemukannya. Seorang turis memberitahukanku dengan bahasa Inggris bahwa aku harus ke belakang sana.

Oh, baik!

Dan tahukah berapa lama aku mengantri untuk tiba di depan loket tiket?

Satu jam! Hahaha. Ya Allah.

Di depan loket, aku memilih tiket naik lift (escalier). Untungnya, saat itu, usiaku masih 24 tahun jadi aku memilih naik lift ajaaa. Alhamdulillah masih terjangkau. Waktu itu aku cuma bayar 15 euro dengan kurs 11ribu. Sekarang jangan ditanya, kurs euro udah 20ribu, hehe. Dan harga tiket di atas udah naik.

Kalau sekarang sih, nggak perlu antri lama-lama, karena pengunjung sudah bisa beli tiket online lewat website Tour Eiffel Paris.

Antri naik lift

Dan ternyata perjuangan belum berakhir. Saking ramainya, setelah berhasil beli tiket, aku masih harus antri naik lift lagi. Antriannya mungkin tidak sepanjang tadi, tapi yang naik lift lebih banyak daripada yang naik tangga.

Aku baru bisa masuk lift sekitar 1 jam kemudian. Tapi lelahnya antri tetap kalah dengan pemandangan kota Paris dari atas.

Jam buka menara Eiffel

Oiya, kalau kalian mau naik ke menara Eiffel, saranku coba cek jam bukanya di website La Tour Eiffel Paris karena kalau ada masalah cuaca biasanya tutup, apalagi kalau musim dingin dan gugur ya. Memang lebih enak saat musim panas karena siangnya lebih lama daripada malam dan pemandangan juga jelas terlihat. 

Menara Eiffel

Lantai satu Menara Eiffel

Aku tidak begitu ingat, apakah aku turun di lantai satu atau langsung ke lantai dua. Saat ini menara Eiffel sudah mengalami perkembangan yang semakin keren.

Di lantai satu, ada Experience Immersive. Dulu sih nggak adaaa. Kita bisa pakai scan barcode kita atau berdiri di gambar kaki. Nanti Gustave Eiffel, tokoh yang membangun Eiffel, menjelaskan sejarah Menara Eiffel. Seperti virtual reality gitu yaa... Seolah-olah kita sedang kembali ke masa lalu ke tahun 1887.

Di lantai 1 ini ada restoran, bar dan toko. Tempat untuk beristirahat sejenak setelah dari puncak Eiffel. Mungkin harganya bagi mahasiswa agak pricey ya. Hehe. Secara sasarannya kan buat turis mancanegara. Tapi gak apa-apa lah kalau kalian mau ngeluarin uang dikit buat duduk-duduk sambil menikmati Paris dari Eiffel sambil minum kopi atau macaron khas Prancis (bukan Macron presidennya yaaa).

Kota Paris dari lantai dua

Aku menaiki lift diikuti turis lainnya. Lift sudah hampir penuh. Yang paling menyenangkan di dalam lift adalah aku bisa mendengar para turis berbicara dari bahasa mereka masing-masing. Meski nggak paham, tapi aku senang. Mau kenalan rasanya sungkan. Haha. MaasyaAllah banget Allah itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa.

Pintu tertutup otomatis. Lift pertama ini berjalan miring mengikuti miringnya kaki menara Eiffel. Saat lift berjalan naik, rasanya hatiku berdesir karena takjub melihat bangunan di depan semakin mengecil dan aku berada di atas kota Paris.

Kemudian lift berhenti di lantai dua. Beberapa turis keluar, begitu juga aku. Sebagian masuk ke dalam lift.


Di lantai ini, turis cukup ramai. aku sedikit kesulitan berjalan dan mencari tempat kosong untuk memotret keindahan kota Paris dari atas.

Bangunan kota Paris dari lantai 2 ini masih tampak dekat. Di lantai ini, aku bisa melihat jembatan dan Trocadero yang didepannya bangunan museum yang tampak lebih leluasa. Tempat di mana banyak turis berfoto dengan latar Eiffel. Pepohonan rindang menambah keteduhan di antara masifnya bangunan kota Paris. Bateaux mouches dan juga vedettes, kapal-kapal yang melewati sungai Seine tampak berjalan pelan dari arah berlawanan.

Place du Trocadero, tempat orang berfoto latar Menara Eiffel (dok. pribadi)

Mataku menatap ke atas. Langit biru cerah diiringi awan putih yang berarak melewati besi tua tinggi di ujung puncak Eiffel yang tinggi.

Di beberapa bagian terdapat teropong untuk melihat bangunan lebih dekat. Di sekitarnya, banyak turis mencobanya. Petugas keamanan (securite) membiarkan para turis mencobanya. Seingetku teropong itu tidak gratis. Kita harus memasukkan bebrapa koin agar teropong bisa berfungsi dengan baik.

Aku mengelilingi lantai dua yang berbentuk segi empat itu. Di lantai dua ini ada tangga untuk naik ke lantai atas lagi, tapi masih di area lantai dua.

Di lantai dua tapi ada lantai atasnya lagi (dok. pribadi) 

Untuk saat ini, ternyata lantai dua sudah jauh berkembang. Ada restoran berbintang Jules Verne dengan akses lift pribadi dan beberapa toko. Sekarang pun sudah ada Virtual Reality.

Para petugas memberitahukan bahwa pengunjung cukup 10 menit saja tidak perlu berlama-lama dan bisa keluar dari lantai dua. Turun atau naik ke atas.

Aku pun ikut antri di lift untuk naik ke puncak puncak menara Eiffel (sommet). Petugas berjaga di depan lift untuk memberitahu apakah lift naik ke puncak atau turun.

276 Meter di Atas Kota Paris!

Tak sabar ingin segera berada di puncak Eiffel, aku menaiki lift. Lift mulai berjalan membawaku ke puncak Eiffel. Meski terhalang besi-besi Eiffel, tapi aku bisa melihat bangunan-bangunan putih yang mendominasi Kota Paris tampak mengecil seolah susunan lego-lego putih. MaasyaAllah. 

Lift pun berhenti di puncak Eiffel. Begitu keluar, para turis yang sudah daritadi di atas menunggu di depan lift untuk segera turun ke bawah. Kami keluar dulu. Meski beberapa turis sudah naik lift, tapi di puncak yang tidak selebar di lantai dua ini, terasa lebih sesak karena ramainya pengunjung.

Begitu keluar ruangan, di bagian dindingnya terdapat panel tentang informasi ketinggian menara-menara di dunia, beserta bendera dan nama negara, yang dibandingkan dengan menara Eiffel.

Yeay!

Aku sudah berada 276 meter di atas kota Paris. Tak terdengar lagi suara deru kendaraan. Hanya hembusan angin yang meniupkan jilbabku. Jantungku cukup berdebar melihat Paris jauh di bawahku. Rasanya seperti akan terbang. Ini tinggi banget!

Bangunan-bangunan tampak memutih. Detail-detail arsitektur bangunan Paris yang indah itu sudah tidak tampak. Hanya tampak memutih dengan ketinggian yang hampir sama. Di kota Paris ini memang ada maksimal ketinggian bangunan klasiknya yaitu 7 lantai. Jadi tak ada lomba ketinggian bangunan seperti di kota besar lainnya. Semua tampak seragam dan jadi lebih indah.

Musée de l'Armée - Invalides - Tombeau de Napoléon yang aku zoom (dok. pribadi)

Aku mencoba mengidentifikasi bangunan-bangunan dan taman-taman terkenal yang aku tahu, mulai dari Champs-de-Mars, Ecole militaire, Musee des Invalides, Tour Montparnasse, Notre Dame, Arc-de-Triomphe, dan lain sebagainya. Kapal-kapal wisata menyusuri sungai Seine yang membentang dari timur ke barat dengan jembatan-jembatannya.

La Defense, pusat komersial dan bisnis, di pinggiran kota Paris (mall dan perkantoran) di baliknya situlah kampusku (dok. pribadi)

Pont Alexandre yang keren, Plade de la Concorde, Hotel de la Marine, Petit Palais, Grand Palais (dok. pribadi)

Notre Dame dan Jembatan Pont Neuf (Dok. pribadi)
 

Sacre-Coeur Mont-Martre, daerah tingginya Paris, dari puncak Eiffel (dok. pribadi)

Sepertinya ini Bois de Boulogne alias hutan kotanya Paris (dok. pribadi)

Kawasan modern nya Paris. Di ujung pulau ada Patung Liberty KW hehe (dok. pribadi)


Arc de Triomphe dari puncak Eiffel (dok. pribadi)


Des Invalides, Notre Dame, Pantheon yang tampak dari atas Eiffel (dok. pribadi)

Di puncak Eiffel ini, juga ada miniatur puncak Eiffel yang berwarna merah dan ditempatkan di ruangan berkaca. Pengunjung masih bisa melihat tanpa harus menyentuhnya. Selain itu, juga ada ruangan khusus rekontruksi kantor Gustave Eiffel. Di dalamnya, dua patung lilin yang mirip aslinya pendiri Menara Eiffel, Gustave Eiffel dan penemu terkenal Amerika, Thomas Edison.

Patung lilin Gustave Eiffel dan Thomas Edison (dok. pribadi)

Tak lupa, aku meminta tolong orang untuk memotret ku dengan latar belakang kota Paris.


Belum bisa move on....

MaasyaAllah atas nikmat Allah aku pernah berdiri di menara Eiffel. Kadang masih nggak nyangka bisa naik ke menara Eiffel. Alhamdulillah bini’mati tatimmusholihat. Semoga kelak aku bisa ke sini lagiiiiiii. Ngga bisa move on beneraaann.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower