Suatu waktu, keluarga besar berencana akan pergi ke sebuah tempat wisata yang komplit mulai dari berenang, makan, main, outbond, menginap di sekitar kota Malang. Tempat wisata itu namanya Taman Dolan Batu. Agenda utamanya adalah berenang, makan-makan dan berkumpul. Berangkatlah kami dengan kendaraan bersama-sama.

Dalam bahasa Jawa, dolan artinya bermain. Kalau Taman Dolan berarti Taman Bermain. Nama ini cukup mewakili wisata alam di sekitar kota Malang.

Kenapa Memilih Taman Dolan

Jujur, aku tidak ikut menentukan memilih Taman Dolan. Tapi menurut keluarga yang sudah pernah ke sana, Taman Dolan ini tempat wisata di Kota Batu yang tenang dan cocok untuk keluarga. Di dalamnya banyak tempat bermain untuk anak-anak tapi bukan seperti wahana permainan Jatim Park atau Klub Bunga Theme Park di Batu. Hanya outbond sederhana menyebrangi sungai. Dan itu lah menjadi salah satu alasan kami memilih Taman Dolan.

Taman Dolan Batu ini merupakan tempat wisata dengan nuansa alam yang dekat dengan sumber air begitu asri ketika kami tiba di lokasi. Konsep tempat wisata ini memang dekat dengan alam di mana di sekitar tempat wisata masih ada persawahan, sumber air, dan hutan bambu.

Aku pun tak pernah mendengar Taman Dolan tapi saat aku lihat di ulasan Google, sepertinya tempatnya mengasyikkan. Hanya saja akan tidak ada ekspektasi sebelum mengunjungi wisata alam di Batu ini.

Tempat wisata alam ini cocok untuk keluarga, anak-anak, teman maupun pasangan. Sedangkan untuk lansia, memang sedikit harus berhati-hati karena jalanannya yang naik turun.


Perjalanan Menuju Taman Dolan

Perjalanan menuju lokasi menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Lokasi wisata alam Taman Dolan berada di Jl. Raya Pandanrejo No.308, Giripurno, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dari rumah mertua atau sekitar 14 km.

Tidak terlalu sulit menemukan wisata Taman Dolan ini. Rute perjalanan dari Candi Panggung - belok menuju Jalan Sasando - belok kiri ke Jalan Ngijo Karangploso. Nah, Taman Dolan berada di jalan Ngijo tersebut.

Kondisi perjalanan menuju tempat wisata bisa dikatakan baik dan mulus. Tidak ada papan petunjuk. Suasana sejuk menimpa wajah kami.

Jika tanpa Google Map, agaknya kita tidak terlalu yakin dengan lokasinya karena memang minim papan penunjuk. Jadi dengan menggunakan Google Maps, kita lebih mudah mencari tempat wisatanya.

Kesan pertama saat tiba

Pertama kali memasuki halaman parkir mobil, aku melihat banyak pepohonan di Taman Dolan ini. Bangunan untuk resepsionisnya pun bergaya arsitektur Jawa. Bangunannya berupa kayu, atapnya berbentuk limasan, dan pintu masuknya dari tengah bangunan dengan pilar-pilar yang tampak menyangga bangunan. Seolah-olah, saat itu aku sedang berada di kampung halaman zaman aku kecil dulu di mana bangunan kakek nenek masih asli bentuknya.

Aku memasuki pintu gerbang dari bebatuan. Pepohonan rindang tampak memenuhi tempat wisata itu. Udara menjadi lebih segar dan tidak terlalu panas.

Jalannya banyak tangga naik dan turun. Memang tempat wisata ini tidak berada di dataran yang datar sehingga kita perlu berhati-hati agar tidak terpeleset. Apalagi saat musim hujan kita harus ekstra hati-hati karena sepertinya jalanan menjadi licin.

Dari jauh, terdengar suara air berbaur dengan suara anak-anak kecil yang sedang asyik berenang. Waterpark dengan kedalaman yang berbeda menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak.

Jika kita terus berjalan kaki, kita akan menemukan bangunan-bangunan yang terpisah. Ada tempat untuk duduk-duduk atau tempat makan untuk khusus pengunjung restoran atau kolam renang. Bangunan tersebut ternyata homestay. Di sisi lain juga homestay dengan bangunan bertingkat di mana di bagian bawahnya juga terdapat kolam pemandian.

Di bagian dekat persawahan terdapat tempat outbond anak-anak di atas sungai kecil yang airnya mengalir. Tidak dalam tapi tetap harus berhati-hati.

Kesan pertama masuk ke tempat wisata alam Taman Dolan ini cukup menenangkan. Suasana pedesaan sangat kental di sini seolah menjadi tempat healing yang cocok bagi yang biasa hari-harinya diisi dengan hiruk pikuk perkotaan.

Kami bisa leluasa menikmati kolam renang, tempat makan tanpa harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Hal pertama yang menarik perhatian adalah suasananya tenang dan nyaman.

Apa saja yang bisa dilakukan?

Taman Dolan ini tak hanya sekadar taman bermain saja tetapi lebih dari itu. Apa saja yang bisa dilakukan di Taman Dolan Batu?

Berenang

Taman Dolan memiliki tiga jenis kolam renang. Pertama, di dekat pintu masuk, kolam renang khusus anak dengan kedalaman bervariasi dilengkapi dengan wahana permainan seperti perosotan di waterpark.


Tempat renang di Kota Batu
Kolam renang anak Taman Dolan Batu (Foto Google: Azizah Maya)

Kedua, kolam renang yang memang untuk dewasa yang memiliki kedalaman sepertinya sekitar 1,3 meter. Bayangkan ajaa yaa kota Batu udah dingin terus pada berenang.

Kolam renang di Batu
Berenang di Taman Dolan Kota Batu (Dok. pribadi)

Di kolam kedua ini ada kayu yang melintang di kolam yang bisa dijadikan jembatan. Air kolam renang ini berasal dari sumber mata air yang berada dekat dengan Taman Dolan.

Kolam ketiga ini berbeda dengan dua kolam lainnya dimana tidak dipasang keramik hanya plester saja. Kolam ini ada di bawah penginapan bertingkat sehingga benar-benar tampak tradisional.

Menikmati sajian kuliner

Selain berenang, Taman Dolan juga menyediakan berbagai menu kuliner tradisional, seperti ikan gurame, sayur, udang goreng, ayam goreng, soto ayam, pecel, dan berbagai macam makanan lokal lainnya. Kuliner di Taman Dolan cocok bagi siapa saja yang menyukai makanan tradisional. Jika kita mengajak tamu yang ingin menikmati sajian khas Jawa bisa jadikan Taman Dolan ini opsi.

Waktu itu, kami memesan gurame, ayam goreng, ayam bakar, udang goreng, sayur kangkung sama apa lagi ya.. Semua makanan yang diantar juga dibungkus plastik wrap agar terjaga kebersihannya.

Rumah Makan di Kota Batu
Sajian kuliner tradisional di Taman Dolan Batu (Dok. pribadi)

Outbond

Aku coba susuri Taman Dolan hingga ke ujung tempat wisata dengan menyusuri pinggir sungai kecil. Aliran airnya yang tidak besar dimanfaatkan untuk outbond atau kegiatan susur sungai dari atas sampai bawah. Sepertinya, sungai kecil itu bisa dilalui hingga ke ujung tempat wisata di mana terdapat tantangan untuk melewati titian dan beberapa ban. Siap-siap basah aja yaa..

Aku mau mengajak anakku kesini setelah berenang. Eh, setelah berenang tampaknya mereka sudah lelah jadi aku batal mengajak mereka ke tempat outbond.

Melihat Kandang Hewan

Di sudut Taman Dolan terdapat beberapa kandang burung dan ada satu hewan buas, seperti musang. Saat aku melewatinya, tiba-tiba dia seperti ingin menyerang dan menabrak kandangnya sendiri. Aku hampir teriak dan menabrak kandang lainnya saking kagetnya.

Wisata Alam di Omah Dolan Batu
Hewan yang mengejutkanku (Dok. Pribadi)

Bersantai bersama keluarga

Taman Dolan tentu saja dibangun sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga. Kita bisa memilih duduk di gazebo sambil melihat pemandangan alam dan kolam renang dari atas. Atau duduk di gazebo di sudut lain untuk melihat pemandangan sawah yang terbentang hijau. Semilir angin sejuk begitu terasa saat kita bersantai bersama keluarga.

Penginapan bernuansa tradisional

Bagi kalian ingin merasakan penginapan bernuansa tradisional dengan pemandangan sawah sambil healing menikmati suara alam ingin mencari ketenangan, mungkin penginapan ini bisa menjadi salah satu opsi untuk dipilih.

Bermain di ruang terbuka

Taman Dolan punya satu ruang terbuka atau lapangan untuk tempat berkumpul pengunjung. Di ruang terbuka ini bisa dilakukan berbagai macam aktivitas. Misal ada fun gathering di Batu bisa ke Taman Dolan dan bisa menjadi tempat berkumpul.

Tempat Gathering di Batu
Ruang Terbuka di Taman Dolan Batu (Dok. Pribadi)

Pengalaman datang bersama anak

Karena aku datang ke sini bersama anak-anak, mereka tampak senang dan tidak bosan berenang. Padahal udaranya dingin. Airnya pun dingin. Mereka bisa tahan dan senang bermain. Apa mungkin karena airnya dari air sumber ya jadi segar.

Aku belum sempat mengajak mereka melihat kandang burung dan outbond. Aktivitas yang paling menarik buat anak-anak masih di kolam renangnya.

Anak-anak tampak nyaman bermain di Taman Dolan. Namun perlu diperhatikan agar anak-anak tidak lari-lari di sekitar sini karena banyak tangga.

Fasilitas yang Tersedia

Beberapa fasilitas yang tersedia di Taman Dolan adalah:
  • Area parkir. Untuk area parkir ini jalannya agak turun dan tidak terlalu luas. Jika target yang datang ke sini adalah pengunjung bermobil memang alangkah baiknya jika tempat parkir ditambah. Alhamdulillah sih kita datang masih kebagian tempat parkir dan itupun sudah hampir penuh. Mencari parkir yang proper pun agak susah karena jalanan yang menanjak.
  • Toilet, Toilet untuk pengunjung yang berenang disediakan ada 4 toilet kalau tidak salah. Meskipun bangunan biasa tapi air lancar dan penerangan oke.
  • Tempat makan ini bisa di dekat kolam renang atau di gazebo. Di tempat makan dekat kolam renang kedua ini disediakan tempat cuci tangan, kursi dan meja kayu.
  • Musala. Taman Dolan juga menyediakan musala bagi umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah.
  • Gazebo. Di beberapa tempat juga disediakan gazebo atau tempat duduk di pinggir sungai.
  • Kolam renang. Sudah aku jelaskan sebelumnya.
  • Penginapan. Di Taman Dolan juga disediakan penginapan dengan tipe yang berbeda. Ada yang jenis vila dengan bangunan sendiri atau kamar seperti bangunan hotel biasanya.
  • Outbond. Sayang banget aku tidak sempat mengajak mereka bermain outbond.

Harga Tiket dan Jam Buka

Harga tiket masuk Taman Dolan Batu yaitu 15 tibu saat hari kerja, dan 20 ribu untuk akhir pekan.
Jam buka Taman Dolan Batu setiap hari dari pukul 08.00 - 17.00 WIB.
  • Tiket Masuk Weekday Rp15.000
  • Tiket Masuk Weekend Rp20.000
  • Outbound Anak Rp85.000 – Rp135.000
  • Outbound Dewasa Team Building Rp110.000 – Rp195.000
  • Outbound Dewasa Family Gathering Rp299.000 – Rp495.000
  • Range Harga Adventure Activity: River Tubing, Battle Paintball, Jeep Adventure Rp60.000 – Rp610.000

Kesimpulan

Selama beberapa jam saat wisata keluarga di Taman Dolan Batu, hal yang masih terkenang sampai saat ini adalah anak-anak saat berenang dan makan bersama. Suasana alam di Taman Dolan Batu cocok banget untuk tempat healing karena nuansa pedesaan yang tenang.


Read More
Kalau pergi ke Magetan pasti anggapannya mau wisata ke telaga Sarangan. Berhubung suami ada kegiatan di Magetan dan udah pernah menginap di villa Sarangan sambil menikmati telaga Sarangan yang indah dan tenang, jadi wisata Sarangan bukanlah tujuan utama kami. Bukan pula sekalian ke Magetan sekalian ke Sarangan karena pergi ke Telaga Sarangan masih 26 km dari tempat kegiatan. Selama suami ada kegiatan di Sirkuit Magetan, aku mencoba menikmati lingkungan sekitar.


Sirkuit Suryo Magetan

Sebenarnya Indonesia memiliki cukup banyak sirkuit, yang paling pertama adalah Sirkuit Sentul kemudian Sirkuit Mandalika. Sementara di Jawa juga memiliki beberapa sirkuit yang tidak sebesar dua sirkuit fenomenal itu. Salah satunya sirkuit Magetan. 

Sirkuit Magetan yang dikenal dengan Sirkuit Suryo Magetan ini menjadi sirkuit kebanggaan orang Magetan dan baru dibangun tahun 2025 dan baru diresmika Maret 2026. Jadi kehadiran sirkuit Magetan diharapkan mampu melahirkan bibit unggul mengikuti jejak pembalap internasional asal Magetan. Hmm.. ada yang tahu? Aku pun ngga tauuuu wkwkwk.

Lokasi sirkuit Magetan ini berada di Jalan Raya Parang, kelurahan Parang, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Bisa dibilang sirkuit Magetan ini berada di tengah-tengah. Tidak terlalu jauh dari Yogyakarta dan Surabaya. Jadi bagi pembalap yang berasal dari timur Jawa bisa latihan di sirkuit ini.

Biasanya yang latihan balapan di sirkuit Magetan ini pembalap motor kecil yang biasa dipakai anak-anak sampai orang dewasa dan juga pembalap karting (gokart).

Nah, yang menarik dari sirkuit ini adalah posisinya yang seolah-olah berada di lembah. Di sebelah utaranya dataran tinggi. Di siang hari, lokasi ini memang sangat panas. Tempat berteduh yang nyaman tanpa kena sinar matahari yaa di depan paddock.

Nongkrong di Pinggiran Sirkuit

Biasanya setiap akhir pekan, ketika sore tiba, di sekitar sirkuit ini selalu ramai masyarakat yang menonton aksi para pembalap yang sedang latihan. Biasanya mereka adalah para remaja, orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk melihat aksi pembalap yang sedang latihan. Kadang-kadang mereka duduk-duduk di rerumputan tapi tetap di luar track sirkuit. Kadang ada yang berfoto bersama pembalapnya. Hehe.

Di sisi utara sirkuit, masyarakat duduk-duduk di pinggir jalan sambil menyantap makanan sambil melihat aksi para pembalap.

Aku ingin menikmati siang menjelang soreku di pinggir jalan itu. Sore itu, aku melangkahkan kaki keluar dari sirkuit, menerabas track saat tak ada yang latihan. Melewati jalanan di pinggir sirkuit yang berumput, bersebelahan dengan kebun jagung yang tumbuh subur. Jalur yang cukup menanjak ini memang sengaja disiapkan bagi pejalan kaki agar bisa mengakses pertokoan di pinggir jalan tanpa harus memutar.

Jalur itu sangat menguntungkan bagi pejalan kaki karena kita tidak perlu memutar. Meski terik matahari membuat kulit terasa seperti terbakar, aku tetap berjalan bersama anak-anak untuk mencari makan. Rerumputan yang kering menempel di bawahan kami. Kadang menusuk-nusuk sampai kita membersihkannya.

Aneka Street Food 

Begitu sampai atas, mataku menatap ke arah kanan, tidak terlalu banyak penjual makanan. Di seberang jalan, papan menu sebuah warung makan berdiri di depan warung itu. Aku membaca sekilas tetapi aku memilih untuk mencari makanan lain.

Mataku menatap ke arah kiri. Lokasi sirkuit ini dekat dengan Pasar Parang, sehingga banyak rombong penjual makanan berderet membuat keramaian tersendiri. Makanan yang dijual juga beraneka macam. Hanya saja rata-rata, makanan yang dijual adalah bukan menu nasi, seperti kebab, mie goreng, mie ayam, es teler, bakso, cilok, aneka minuman rasa-rasa, dll. Harganya bervariasi tapi tetap terjangkau.



Di sebelah kananku, tidak banyak rombong yang menjual makanan-makanan, hanya rombong di depan ruko. Pun kondisinya lebih sepi. Yang dijual makanan jajanan dan minuman seperti tahu kriuk, minuman, es teler, dll. Dan tentu saja tidak ada tempat yang bisa menikmati sirkuit langsung.

Seperti ada magnet yang menarikku, aku pun mengajak anak-anak ke arah kiri yang banyak menjual makanan. 

Maunya menikmati siang menjelang soreku duduk-duduk di pinggir jalan yang menghadap sirkuit. Eits, tenang. Bukan aku aja kok yang duduk di pinggir jalan, tetapi banyak banget warga yang duduk beralaskan tikar yang disediakan penjualnya.

Apakah berbahaya?

Alhamdulillah sih kendaraan yang lewat jalan ini tidak terlalu ramai. Kadang memang ada truk tapi bukan truk trailer atau truk pabrik muatan besar. Dan tampaknya juga tidak terlalu berbahaya berjalan di pinggir jalan. Kendaraannya kalem-kalem.

Aku pun mencari warung dengan menu nasi tapi belum nemu, akhirnya kami jalan mencari yang lain.

Eh kami melewati warung non permanen yang menjual menu-menu makanan berat kayak soto, pecel, dan ayam goreng tapi anak-anak nggak mau. 

Cari lagi deh. Mataku terarah pada penjual mie ayam yang ramai dikunjungi orang. Aku pun menawarkan mereka. Mereka pun menyetujui untuk makan mie ayam. 

Tanpa pikir panjang lagi, kami menyeberang jalan dan aku pun memesan mie ayam yang mereka mau. Aku memesan 3 mangkok mie ayam dan 2 es teler.

Kami duduk di tempat makan yang disediakan. Ada meja dan tikar di atas lantai cor yang masih diisi orang yang sedang menikmati mie ayam. Anakku di sini nggak bisa tenang. Huaa.. bawa mainan hotwheel dan ramai banget sampe malu deh sama pengunjung lain.

Orang di depan kami belum menyelesaikan makannya sementara di pinggir jalan yang beralaskan tikar masih ramai. Anakku mengatakan ingin duduk di pinggir sirkuit di bawah pohon. Sayangnya, tidak ada tempat kosong. 

Eh, kok ya pak penjualnya mencarikan alas tikar agar kita bisa duduk di sana. 

Alhamdulillah dapat tikar kosong. Kami pun menyeberang lagi dan duduk di tikar kosong itu. Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat dengan leluasa tanpa hambatan sirkuit Magetan. 

Di depan kami sudah plengsengan tinggi seolah-olah kami adalah penonton tribun stadion tanpa kursi yang bisa nonton tanpa terhalang apa pun. 

Sesekali, seorang pembalap motor beraksi di sepanjang sirkuit. Suara mesin motornya menggema ke udara. Cukup kencang seperti suara motor berisik yang dilarang masuk ke perumahan itu loh. Hehe..

Angin menjelang sore itu cukup kencang. Pesanan pun datang. Aku segera meminta mereka makan. Makanya kalau tidak diisi makanan, tubuh ini bisa kalah dengan pasukan angin ini. Daripada anakku di perjalanan mual atau muntah.

Di kanan kiri kami, banyak pasangan muda mudi juga keluarga yang bawa anak duduk-duduk juga sedang menyantap yang mereka beli sambil menatap ke arah sirkuit.

Mulai siang, tempat jajanan itu sudah ramai pengunjung untuk makan siang maupun jajan sore. 

Aku juga nggak perhatikan buka jam berapa. Sepertinya jam 10 gitu udah buka. Siang jam 11 udah banyak yang makan di pinggir jalan itu.

Anak-anak berusaha keras untuk menghabiskan semangkok mie yang cukup banyak. Anak kedua dan ketiga tidak sampai habis. Seperti biasa aku yang menghabiskan.

Untuk es teler juga gituuu. Mereka tidak bisa menghabiskan akhirnya ibunya yang menghabiskan. Hehe..

Karena anginnya cukup kencang dan makanan selesai. Aku segera membayar dan segera kembali ke mobil biar nggak masuk angin. 
Read More
Museum di yogyakarta
Monjali (dok. Pribadi)

Setelah mengantar suami, aku memilih mengunjungi museum di Yogyakarta. Aku sempat searching museum Yogyakarta apa saja. Dan yang paling dekat dengan tempat acara adalah museum  Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Museum Monumen Jogja Kembali

Monjali adalah singkatan  dari museum Monumen Jogja Kembali yang menghadirkan diorama dan pameran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monjali ini mulai dibangun tahun 1985.

Museum yang berbentuk menyerupai tumpeng ini memiliki tanah seluas 49.920 m2, dengan ketinggian 31,8 meter.

Saat aku telusuri, tidak ada sesuatu hal yang unik untuk dikunjungi selain bentuk museumnya seperti kerucut. 

Setelah aku pikir-pikir, aku harus ke museum ini nih karena dulu Yogya sempat menjadi ibukota Indonesia. 

Lokasi museum Monjali

Monjali berada di Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada di jalan utama sehingga tidak susah dicari tapi memang berada di kawasan yang ramai dan macet. Akses jalannya lebih enak jika kita melewati terabasan biar tidak putar balik. 

Jam buka museum Monjali ini  dari hari selasa  sampai hari minggu dan tutup hari senin dari jam 8 sampai jam 4 sore. Aku tiba di sana sebelum jam 2. Masih ada waktu untuk makan dan mengunjungi museum.

Aku melewati jalan tembusan yang mudah meskipun jalannya kecil. Aku udah membayangkan museumnya ramai. Tempat makan juga ramai.

Tapi aku lupa banget. Ini museum bukan mall yang selalu ramai. Wkwkwk. Pas mau masuk ke parkir mobil, aku agak terheran-heran juga. Fakta di lapangan berbeda dengan ekspektasiku. Tempatnya sepi. 

Tiket Masuk Monjali

Aku menghentikan mobilku di depan loket tiket masuk Museum. Perbincangan dua orang petugas perempuan berhenti. Tanpa keluar dari mobil, petugas itu mendatangiku dan memberitahukan nominal tiket masuk Museum Monjali yang murah seharga 15ribu rupiah.

Aku pun memarkirkan mobil di bawah pepohonan yang rindang. Suasana siang itu benar-benar seperti tanpa ada gairah. Halah. Alias sepi. 

Selain dua mobil pribadi, minibus terparkir di ujung menunggu penumpang masuk ke dalam bus. Saat aku akan parkir, minibus itu siap keluar dari area. Penumpang yang hanya segelintir tampak seperti rombongan dari sekolah. Mungkin kunjungan ke museum sudah selesai. 

Yang paling mengherankan lagi, saat pegawai parkir menagih biaya parkir. Harganya 10ribu, selisih dikit dengan harga tiket masuk. Mau protes tapi kok ga effort lah.

Warung Makan Seadanya

Warung makan di sebelah museum, kukira seperti warung makan biasanya, ternyata hanyalah seperti kios sepetak kecil. Yang dijual seperti gorengan, minuman sachet dan mie cup. 

Tak ada pilihan lain. Sambil menunggu pesanan satu mie cup, aku menunggu di kursi besi di atas akar yang menggembung dari dalam tanah dan membuat meja di depanku miring. 

Warung di monjali

Karena di bawah pepohonan, meja itu penuh dengan bunga berjatuhan. Hewan-hewan kecil kadang melewati di depanku dengan santai.

Aku menikmati tiap suapan kuah indomie cup. Setelah selesai dan membayar, aku segera masuk ke ruangan monjali lewat pintu utama. Dari tempat parkir, akses masuk Museum tidak sulit. Hanya perlu naik dan turun. 

Monjali ini seperti berada di daerah cekungan. Kira harus turun untuk masuk ke museum.

Tembok Pahlawan Yang Gugur

Sebelum memasuki museum, aku menyempatkan memotret daftar nama pahlawan yang gugur saat clash kedua tahun 1948-1949 di wilayah Yogyakarta.

Daftar nama ini diukir dan memenuhi dinding yang panjang dan tinggi.

Pahlawan yang gugur clash kedua 1948
Daftar Nama Pahlawan Yang Gugur (dok. Pribadi)

Arah menuju pintu masuk, aku melihat relief besar berwarna cokelat tentang sejarah masa lalu. 

Relief yang ada di Monjali yaitu relief surat Panglima Soedirman, relief pengambilan sumpah Soedirman, relief Serangan ibukota RI, relief Soedirman naik dokar, relief Serangan 1 Maret, dan relief perundingan Roem-Royen.

Relief sejarah di Monjali

Di sekitar Monjali

Ternyata Monjali ini dikelilingi oleh kolam ikan yang cukup banyak pemancing memancing di sana. 

Selain itu, ada bebek-bebek yang dikayuh untuk mengelilingi kolam. Siang itu tak ada satu pun pengunjung yang menaiki bebek-bebek air itu.

Di dalam sini juga ada Warung makan yang menunya lebih bervariasi. Aku lihat ada menu bakso dan soto. Tempatnya juga lebih nyaman.

Di sekitar juga ada taman dengan permainan anak-anak tapi sepi pengunjung.

Kesan Pertama Masuk Museum

Ketika masuk Museum, aku disambut oleh petugas museum yang masih muda, entah mahasiswa atau peserta magang. Ternyata sudah ada beberapa orang tampang mahasiswa di duduk di sekitar meja. 

Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali)
Pintu masuk Museum Monjali (dok. Pribadi)

Beberapa kali kudengar mereka tertawa-tawa bercanda. Bagiku, candaan mereka membuat suasana museum yang tenang menjadi ramai. Awalnya aku sedikit terganggu tapi lama-lama jadi membantuku.

Aku pergi ke toilet sebentar. Toiletnya lumayan bersih meski agak sempit. 

Museum ini masih konvensional beda kayak museum Gedung Sate Bandung. Sepertinya belum ada inovasi lebih modern untuk menampilkan pameran-pameran. 

Di lantai 1 ini terdiri dari 4 museum (ruangan) yang menampilkan koleksi yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, perang Gerilya dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, peristiwa Serangan Umum 1949, dan koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia.

Museum 1: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ketika aku berjalan menuju museum 1, tampak koridor museum yang sepi, tiba-tiba aku terkejut ada patung kepala sampai dada Pak Harto yang cukup besar di pintu depan menyambut kedatangan pengunjung. Tatapan matanya menghadap depan tapi cukup membuatku menelan ludah. 

Monjali

Begitu masuk ke museum 1, saat mataku menatap patung para pemuda perjuangan dari berbagai pasukan (Heiho, Peta, Laswi, dll) dengan pakaiannya yang khas, tiba-tiba hatiku berdesir. Darahku seperti naik ke kepala.

Heiho Peta di Museum Monjali
Pasukan dengan kostumnya (dok. Pribadi)

Di ruangan itu tak ada orang. Tak ada pengunjung lain. Astagfirullah. Sepertinya aku mulai merinding. Aku nggak pernah masuk Museum sampai merinding begini. 

Ya Allah apakah aku bisa menyelesaikan kunjungan ke museum ini sampai akhir? Apakah aku akan mengalami kejadian aneh-aneh di museum ini?

Mari lanjutkan...

Suara candaan petugas di depan ternyata cukup mengurangi ketakutanku saat memasuki museum. Aku jadi tidak tenang membaca setiap keterangan yang ada di dalamnya. 

Di museum 1 ini aku lumayan lama dan masih berani membaca setiap keterangan pada benda museum.

Ada foto-foto pasukan bambu runcing. Ada barang-barang yang dipakai saat perang dulu seperti guchi, senjata, bekal makan dan minum. Ada miniatur perahu perang. Ada jaket milik pahlawan. Ada kertas berita yang dikirim pakai burung merpati.

Aku pun keluar dari museum 1 (ruangan pertama). Selanjutnya aku masuk lagi di ruangan selanjutnya atau museum 2. Suasana lebih sepi. Suara keramaian mulai terasa jauh. Masih juga tidak ada pengunjung. 

Museum 2: Perang Gerilya

Di museum 2 aku mulai bisa mengendalikan diri. Di museum 2 ini tentang perang gerilya. Foto-foto saat perang gerilya. Wolkie-tolkie saat perang gerilya. Mesin jahit untuk menjahit baju pasukan. Songkok Langenastro juga dipamerkan. Tandu, dokar dan selop milik Panglima Soedirman pun dipamerkan.

Tandu soedirman
Tandu dan selop Panglima Soedirman (Dok. Pribadi)

Museum 3 : peristiwa Serangan Umum 1949

Di museum 3 ini sudah menjauh dari pintu masuk. Dan suara-suara keramaian masih terdengar tapi sudah mengecil. 

Ketika aku memasuki ruangan, aku hampir teriak. Aku melihat diorama di pojok kanan seorang perempuan berambut panjang sedang meniup bara tungku. Kukira ada orang di sana. Atau penampakan 

Aku pun langsung... ya Allah... ya Allah. 

Aku juga mulai nggak konsentrasi. Rasanya pengen cepet keluar dari museum. Wkwk.

Monjali
Beneran hampir teriak lihat ini wkwk (dok. Pribadi)

Ih apa-apan tiba-tiba perasaanku nggak enak begini. 

Museum 4 : koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia

Di ruangan terakhir di lantai 1 ini aku tidak banyak mengambil foto karena banyak koleksi kerumahtanggaan presiden seperti dipan kasur dan selambu putih, kursi dan meja, dan lain-lain. 

Mon maap aku lihat selambu putih di kasurnya pun agak-agak gimana gituu. Beda pas aku lihat kasur dan selambu putih di museum HOS. Cokroaminoto.

Perpustakaan

Ternyata di museum ini juga ada perpustakaannya. Sepertinya buku-buku yang tersedia juga berkaitan dengan sejarah-sejarah kemerdekaan atau setidaknya sumber pustaka dari koleksi yang ada di museum ini.

Perpustakaan di Monjali
Perpustakaan di Monjali (dok. Pribadi)

Spot Foto Berbayar

Di museum Monjali banyak tempat spot foto berbayar yang disediakan pihak museum seperti foto bersama Soekarno dan Soedirman, foto bersama meriam, dll. Kalau tidak salah bayar 10ribu atau 5ribu gitu.

Museum Monjali
Spot Foto Berbayar Di Monjali (dok. Pribadi)

Pameran lukisan

Di koridor antara dua ruangan (museum 3 dan 4 kalau tidak salah) terdapat pameran lukisan dari berbagai pelukis. Karena aku bukan penikmat lukisan jadi aku hanya melihat lukisan-lukisan itu sekilas.

Di koridor ini pencahayaannya lebih terang. Anehnya justru di sini aku bisa lebih tenang dan tidak waswas. Hehe.

Pameran lukisan di Monjali Yogyakarta
Pameran Lukisan Di Monjali 

Melihat Diorama Sendirian? 

Nah di lantai 2 ini khusus diorama. Masalahnya aku sempat maju mundur. Mau neruskan kok agak ngeri ya. Haha. 

Tapi akhirnya aku maju ajalah. Sambil baca ayat Kursi. Ya Allahhhh...

Diorama di Monjali
Diorama perang (dok. Pribadi)

Setiap diorama ada rekaman suara perjuangannya. Dibilang takut juga nggak karena jadi ramai. Tapi koridornya sepi banget. Duh. Sepanjang jalan pengen cepet selesai. Kok kayak panjang bangeet. Haha. Aku cuma foto dan video aja lah. Agak creepy juga sendirian. Haha.

Mengenang Jasa Pahlawan di Lantai 3

Di lantai 3 ini di mana bagian gedung semakin megerucut ke atas. Tak ada koleksi yang dipamerkan tapi hanya ruang kosong untuk mengirim doa kepada para pahlawan. 

Hanya ada tiang bendera dan ukiran timbul tangan di kanan dan kiri. 

Berani Pergi ke Museum Monjali Sendirian? 

Cukup sekali ya aku pergi ke museum Monjali. Sendirian pula. Hahaha. Serius aku jadi penakut gitu. Padahal juga biasanya cuek aja tapi ini entah kenapa takut bet.

Ya Rabba. Kalau kalian nggak takutan sih nggak apa-apa. Aku tiba-tiba jadi takut gituu. Ya Allah... 

Sebenarnya banyak sih pengetahuan baru tiap ke museum. Aku jadi tahu kondisi zaman dulu saat perang gimana. Tapi please.. gimana ya biar dibikin nggak terlalu serem. Apa karena sepi ya jadi kayak serem gitu. 

Mungkin kalo aku ke Museum Gedung Sate sendirian juga bakal takut kali ya.

Eh apa ternyata aku ini dasarnya penakut??? Apa momen creepy kalian saat ke museum? 

Yaudahlah mari kita nikmati bebek-bebek tanpa penumpang di kolam Monjali ini. Menghibur diri dan menenangkan diri. Memberi selamat pada diri bahwa tak ada kejadian aneh-aneh di dalam museum. Haha.

Monjali dan bebek air



Read More
Perjalanan kami di Solo akhirnya singgah juga di Masjid Agung Kraton Surakarta. Alasan kami tentu saja karena kami belum menginjakkan kaki di salah satu masjid tertua di Solo. Beberapa kali lewat sini bukan masuk waktu sholat.

Dulu, aku sudah pernah sholat di masjid Kraton Solo ini. Saat itu masih mahasiswa. Sebenarnya tak ada perbedaan yang spesifik. Suasana masjid Kraton Solo itu masih sama.

Kejauhan parkir mobil

Kami sama-sama tidak paham di mana harus parkir mobil karena kondisinya jalanan macet. Takut nggak keburu, kami memarkirkan mobil di seberang alun-alun Lor (utara) Surakarta.

Memang jalannya jadi jauh, kami harus menyeberangi alun-alun dulu apalagi tidak boleh sembarangan menerobos rerumputan. Ada papan larangan menginjak rumput. Jadi kami harus memutar melewati jalan yang sudah disediakan.

Alun-alun Lor hanya rerumputan dan pepohonan di tengahnya. Tidak ada pengunjung. Berbeda deegan alun-alun Kidul (selatan) yang lebih ramai dan banyak penjual street food di pinggirnya. Alun-alun kidul ini juga sering disebut dengan Alkid.

Anak kami sepertinya lelah berjalan kaki dan meminta gendong ayahnya. Meskipun tampaknya masjid di seberang tidak terlalu jauh, jalannya juga lumayan jauh. Hehe.

Tampak gapura masjid yang tinggi. Di depan gapura, ada halaman yang cukup luas di mana mobil bahkan bus bisa parkir. 

Walah, ternyata ada tempat parkir tepat di depan masjid. Kita aja ngga tahu lokasinya.

Masjid Agung Solo, Pusat Syiar Agama Islam

Masjid agung Kraton Solo

Masjid Agung Kraton Surakarta ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1763 oleh Sunan Paku Buwono III. Lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan (Kraton), sosial (alun-alun), ekonomi (pasar Klewer) dan kebudayaan. Bisa dibilang masjid ini merupakan masjid kerajaan karena tak hanya digunakan untuk ibadah tetapi juga untuk kegiatan kerajaan yang berkaitan dengan agama.

Upacara budaya yang berkaitan dengan agama dan biasa digelar di Masjid Agung Solo seperti Garebeg (Sekaten/Mulud, Syawal/Grebeg Poso, dan Grebeg Besar) dan Malam Salikuran. Grebeg Mulud saat Maulud Nabi, Grebeg Poso saat idul Fitri dan Grebeg besar saat Idul Adha.

Di alun-alun Kidul pula sering diselenggarakan kirab Kebo Bule jelang malam satu suro dan Sekaten Solo (pasar malam). MaasyaAllah kebayang rame banget kalau udah acara budaya itu.

Sejarah Masjid Agung Surakarta ini sangatlah panjang. Di zaman dulu, masjid ini menjadi pusat syiar agama Islam.

Luas masjid ini sekitar 19.180 meter persegi. Dengan luas tersebut, masjid ini memiliki beberapa fasilitas yang terus mengalami perkembangan fungsi dan bentuk. 

Gapura Masjid

Kami melewati gapura putih tinggi bergaya Timur Tengah yang polos. Gapura ini memiliki tiga pintu. Satu pintu utama di bagian tengah dan dua pintu lainnya yang lebih kecil di sebelahnya. Di bagian atas ada jam bulat kecil. 

Gapura utama ini menghadap ke arah alun-alun Lor. Dua gapura lainnya memiliki ukuran lebih kecil di sisi lainnya.

Gapura masjid Solo

Kehadiran gapura ini seolah membatasi pandanganku arsitektur masjid Agung. Aku baru bisa memotretnga setelah melewati gapura. 

Arsitektur Masjid

Dari depan, atap bangunan Masjid Agung Solo ini berbentuk tajug tumpang tiga yang mengerucut yang biasa dijumpai pada bangunan masjid tradisional Jawa. Bagian ujung atap tidak berbentuk kubah seperti di masjid Timur Tengah. Di bagian tengah, tempat pintu masuk masjid. 

Masjid ini memiliki serambi yang luas dan memiliki lorong yang menjorok ke depan. Pagar-pagar setinggi satu meter mengelilingi masjid.

Sepanjang jalan masuk ke masjid, lampu hias tradisional Jawa berwarna biru berdiri di sisinya. 

Aku melewati serambi dan menuju ke ruang wudhu perempuan di sisi kiri atau disebut pawestren. Sementara suami dan anak mencari tempat wudhu pria di sisi kanan.

Di ruangan wudhu ini cukup besar dan ramai. Kamar mandinya banyak dan sedikit tercium aroma kamar mandi, hehe. Di bagian tempat wudhu masih dipertahankan keasliannya karena di bagian tengah adalah penampungannya kemudian dialirkan ke kran-kran yang ada di pinggirnya.

Sebuah pipa mengalir masuk ke tempat penampungan tersebut. 

Aku pun segera sholat di tempat khusus perempuan yang masih bergabung dengan bangunan masjid tetapi tetap tertutup dari bangunan utama sehingga tidak terlihat oleh pria.

Setelah selesai, aku segera menemui suami di serambi depan tapi aku tidak menemukannya.

Aku menyempatkan mengintip sedikit dari depan pintu tempat sholat pria. Pintu-pintu yang terbuat dari kayu ini banyak. Hanya saja yang terbuka cuma dua kalau tidak salah. 

Masjid jami' Solo

MaasyaAllah tempatnya adem, tenang, dan khas bangunan masjid Jawa. Didominasi kayu, lampu sedikit redup, di tengah ada lampu gantung yang tampak mewah.

Di serambi masjid, tiang-tiangnya tampak sederhana tanpa ukiran, tidak seperti tiang serambi di Masjid Agung Yogyakarta, yang memiliki ukiran-ukiran berwarna emas. Di beberapa bagian atap, terdapat lampu gantung jadul.

Lantai keramiknya pun masih pakai keramik lama semakin menambah kesan tradisional.

Menara masjid

Dari jauh sudah tampak menara masjid yang dibangun jauh setelah masjid selesai, yaitu sekitar tahun 1901. Menara ini tampak berbeda dari menara yang ada di Masjid Pura Mangkunegaran atau di Masjid Al-Akbar yang modern.

Pada masjid Agung Solo, menaranya memiliki garis-garis simetris, pintu masuknya berbentuk melengkung.

Menara Masjid Agung Solo


Sebenarnya pembangunan menara ini tidak ada dalam arsitektur masjid tradisional Jawa, tetapi pengaruh dari Timur Tengah, India, dan Persia. Menurut beberapa sumber, menara ini bergaya menara India, terinspirasi dari Qutb Minar.

Jam Istiwak

Yang menarik, di masjid ini ada jam istiwak untuk menentukan waktu sholat dari pergerakan matahari. Jam istiwak sudah ada sejak tahun 1757. Jam ini dianggap lebih akurat daripada jam konvensional. Sayangnya, kalau matahari tidak muncul karena mendung maka susah untuk menentukan waktunya.

Menerobos Gerimis

Langit mulai gelap, sepertinya akan hujan deras, sementara kami harus melewati alun-alun lagi. 

Masjid masih ramai dengan pengunjung. Aku mencari suami diantara keramaian orang-orang. Ternyata suami sudah keluar masjid dari tadi. Ia memanggilku agar segera kembali ke mobil. 

Aku masih penasaran dengan bangunan lainnya di sekitar masjid. Aku sempat melihat bangunan takmir di samping masjid dan beberapa bangunan lainnya. Bentuknya masih jadul. 

Aku melewati halaman masjid. Angin berhembus cukup kencang. Mulai rintik-rintik dan aku segera berlari.

Aku, suami dan anakku harus berlarian di tengah alun-alun menerjang gerimis. Begitu masuk ke dalam mobil, hujan langsung jatuh seperti pintu yang jebol. Begitu deras.

Alhamdulillahhhh. Nggak sampai kehujanan.

Read More
Setelah zonk cari kuliner malam di Probolinggo yang udah aku ceritakan di artikel keliling kota Probolinggo, aku nggak mau capek-capek lagi cari tempat makan recommended di Probolinggo. Dahlah, aku cari kuliner dekat alun-alun saja. Nggak mau berlama-lama lagi mencari tempat makan, aku langsung memilih rumah makan Ikan Bakar Gatsu. Yaahh setidaknya nggak kecewa bener lahh bisa makan hasil laut, hehe.

Ikan bakar gatsu probolinggo
Ikan bakar Gatsu Probolinggo (foto: Google ikan bakar Gatsu)

Resto Ikan Bakar Gatsu, Special Seafood di Probolinggo

Rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini merupakan kuliner Probolinggo yang menjual berbagai menu masakan laut, mulai dari ikan, dan udang baik dibakar maupun digoreng. Kalau lihat ulasan di google sih tampak lezat banget yaa. Ikan Bakar Gatsu ini sudah dibangun sejak tahun 2007. Meski ada ikan yang digoreng tapi di rumah makan ini recommended dibakar. Jam buka resto ikan bakar Gatsu dari setiap hari dari pukul 09.30 sampai 21.30.

Lokasi dekat alun-alun, parkir aman?

Ikan Bakar Gatsu berada di sebelah timur alun-alun Probolinggo, tepatnya di Jalan KH. Mas Mansyur. No. 50. 

Kuliner di probolinggo
Parkir mobil Ikan Bakar Gatsu di pinggir jalan (Google foto: Maria Alkayyis)

Sampai di sana, alhamdulillah saja, masih ada tempat parkir mobil meski di pinggir jalan, sedangkan motor ada tempat parkir khusus. Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman di dekat jendela besar agar kami bisa melihat aktivitas orang di jalanan. Dan tentunya, agar tidak terlalu panas. Meskipun di resto ini disediakan kipas, kami memilih untuk penghawaan alami.

Bangunan rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini memanfaatkan bangunan lawas sekitar alun-alun. Sangat tampak dari desain bangunannya yang tinggi, berjendela besar, berpintu besar dan berhalaman luas. Tapi yang unik, bangunan lawas itu sedikit diubah jadi seolah-olah bangunan ala Jepang.

Dalam bahasa Jepang, Gatsu artinya bulan (dalam kalender), misalnya bulan Januari disebut ichi-gatsu atau bulan satu.

Untuk nama resto, di bagian atap depan menggunakan lampu neon warna pink dan biru yang dibentuk menjadi nama resto.

Di dalam bangunannya, atapnya tampak tinggi. Meski tidak ada AC, ruangan tidak panas. 

Menu resto Ikan Bakar Gatsu

Sebenarnya keluarga kami itu sedikit kesulitan makan ikan, jadi kami pilih ikan Gurame bakar karena durinya sedikit. Artinya, durinya hanya besar di bagian tengah dan pinggir saja.

Selain Gurame, sebenarnya tersedia menu lainnya seperti udang, cumi, kakap dan kerapu. Bisa dibilang variasi menu makanan di sini tidak terlalu banyak. Biasanya, di resto seafood, jenis menu makanan seafood bermacam-macam.

Kami pun memilih gurame bakar dan udang bakar. Untuk minuman, kami memecan jeruk panas, teh dan es cao.

Antrian lama

Ketika kamu memasuki resto, pengunjung resto sebenarnya tidak terlalu banyak tapi rupanya belum dilayani semua. Kira-kira ada 6 grup pengunjung yang belum dilayani. Beberapa pengunjung tampak menoleh ke arah lain berharap pesanan sudah selesai.

Kami memilih tempat duduk di pinggir jendela. Petugas mendatangi kami untuk bertanya pesan apa. Sayangnya tidak ada buku menu jadi aku harus bertanya menu apa saja. Sebenarnya kurang nyaman sih karena akhirnya kami tanya-tanya mulu. Jadi sabar aja ya mbak pegawai...

Kami menunggu di dekat jendela besar sambil melihat aktivitas masyarakat yang lewat. Ada odong-odong yang melewati alun-alun.

5 menit... 10 menit... pesanan belum datang juga... kulihat pengunjung lain yang kulihat tadi tampak wajah menahan lapar dan juga belum dilayani.

Wah, sepertinya akan lama. Anak-anak pun mulai bosan menunggu. Mereka selalu bertanya kapan makanannya datang?

Beberapa kali mereka keluar masuk resto dan menyapaku lewat jendela, kadang manjat-manjat pula.

Menunggu pesanan datang (dok. Pribadi)

Aku ikut juga keluar resto hanya untuk melihat aktivitas orang yang sedang membakar seafood pesanan pengunjung. Tempat bakaran ini berada di bangunan tambahan dari bangunan resto. 

Asap mengepul di sela-sela jeruji besi. Tampang pegawai yang sedang membakar ikan mengkerut seolah ingin menghindari asap yang memenuhi wajahnya.

Rumah makan seafood Probolinggo
Tempat Bakaran Ikan Bakar Gatsu (Google Foto: Eko Prasetyo)

Sepertinya memang akan lama padahal ada 3 pemanggang. Satu pemanggang untuk dua ikan besar. MaasyaAllah benar-benar diuji kesabaran yaaa.

Aku pun kembali ke tempat dudukku.

Saat melihat odong-odong lewat, mereka minta naik odong-odong.

Karena aku juga bosan menunggu, aku pun mengajak dua anakku aja naik odong-odong. Untungnya si kakak tidak minta ikut juga, hehe.

Kami pun naik odong-odong seperti yang aku ceritakan di artikel sebelumnya.

Ketika kami selesai naik odong-odong, makanan sudah datang. Pengunjung sebelum kami pun juga sedang menyantap pesanan mereka.

Kami segera cuci tangan dan makan.

Cita rasa menu bakaran Gatsu

Gurame bakar dan udang bakar tampak lezat sekali. Seafood bakar itu diletakkan di piring anyaman bambu yang dilapis kertas bungkus dan daun pisang. Di piring lain, sambal terasi beserta sayur lalapannya (kemangi, kubis, timun) tampak segar. Aku tak sabar ingin melahapnya.

Kuliner seafood probolinggo
Menu Seafood Ikan Bakar Gatsu (Google foto: Maria Hutomo)

Saat mencicipi menu bakaran Gatsu, rasanya menurutku kurang nendang sih. Daging yang dibakar tidak terlalu gosong tapi matang merata. Dagingnya pun lembut. Rasa bumbunya meresap dan tidak terlalu pedas sehingga anak-anak masih bisa makan.

Rasa ikannya juga segar kok tidak terasa seperti ikan yang sudah lama dibiarkan.

Begitu juga dengan udang bakarnya yang ditusuk dengan tusuk sate dan dibelah jadi dua. Tampak lezat. Rasanya kurang lebih sama kok karena dasar bumbunya sama. Dagingnya lembut.

Rasa sambalnya segar sekali, cukup pedas. Karena kami lapar, rasanya ikan bakar yang dimakan dengan sepiring nasi hangat dan sambal terasi yang pedas jadi terasa lezaaaat. Anak-anak pun makan dengan lahap.

Untuk minumannya, menurutku, es cao, es blewah, teh dan jeruknya manissss.

Akhirnya selesai juga, rasa lapar kami seolah hilang seketika. Alhamdulillah. Meskipun rasanya kurang nendang dikiiit tapi saat makan tidak dicela rasanya jadi enak aja bahkan sampai nasi habis.

Mungkin begitulah, ketika ingin merasakan suatu kenikmatan, kita harus menunggu dengan sabaarrrr.. ya kaaannn.. sama lah kalau masuk surgaa, kudu banyak sabaaarr..

Pembayaran

Saat itu, untunglah pembayaran bisa dilakukan dengan QRIS. Semua makanan yang kami pesan harganya normal seperti layaknya makanan seafood. Aku lupa sih berapa total, tapi kalau tidak salah tidak sampai 200ribu.

Apakah Layak Dikunjungi Lagi?

Kalau melihat antrian yang cukup lama, mending ke sana saat kondisi perut tidak terlalu lapar. Atau datang jangan terlalu malam, setelah magrib atau isya gitu. Selain itu, kayaknya semua menu dicoba aja, mulai dari udang bakar, ikan bakar dan cumi bakar.
Read More
Tiba-tiba aja kami pergi ke Probolinggo mengunjungi cucu. Iyaa... CUCU. Aku udah punya cucu di usia 35 tahun. MaasyaAllah. Kok bisaaa? Bukan cucu dari anakku tapi dari ponakanku. Eh, gimana, ya? Pakdeku (kakak dari ibu, alm) punya cucu. Cucunya ini punya anak. Nah, bisa dibilang aku jadi mbah-mbah! Wkwkwk.

Jadilah kedatangan kami ke Probolinggo ini bukan untuk wisata tapi menengok cucu. Perjalanan dari rumah ke Probolinggo ini sekitar 1.5 jam lewat tol dengan jarak 100km, lebih jauh daripada ke Malang. Jadi kami udah bisa disebut musafir lah yaaa.

Tiba di Probolinggo sudah mendekati maghrib, jadi kami mencari masjid di Probolinggo untuk sholat dulu. 

Dan pastinya tempat yang ada masjidnya tanpa harus cari-cari adalah alun-alun. Tahu, kan, konsep alun-alun sudah ada sejak zaman Belanda. Di mana ada alun-alun disitu ada masjid. 

Di alun-alun Kota Probolinggo yang tak begitu jauh dari pesisir, kami menemukan masjid hijau di barat alun-alun. Memang Kota Probolinggo ini berada di kawasan pesisir. Kotanya pun tidak terlalu ramai. 

Jumlah penduduk Kota Probolinggo hampir seperempat dari jumlah penduduk Kota Malang, dan sedikit lebih banyak dari Kota Blitar. Suasana Kota Probolinggo ini lebih tenang. Tapi karena Kota ini menjadi kota pesisir yang dekat dengan pelabuhan dan menghubungkan kota-kota besar lainnya di Jawa Timur, kita masih bisa melihat truk-truk besar yang lewati pinggiran Kota atau tol.

Alun-alun Kota Probolinggo

Akun-Alun Probolinggo setelah direvitalisasi (sumber foto: nuansajatim.com)

Salah satu alasan aku males pergi ke alun-alun kalau naik kendaraan roda empat adalah  kesulitan mencari tempat parkirnya. Jarang sekali ada tempat parkir mobil kecuali di pinggir jalan. Kalau udah penuh mobil, harus cari parkirnya agak jauh.

Alhamdulillah, di samping masjid disediakan tanah kosong untuk tempat parkir mobil lumayan luas. Jadi nggak perlu bingung parkir di pinggir jalan.

Hampir sama dengan alun-alun kota lainnya seperti di Malang, alun-alun kota Probolinggo berbentuk segiempat yang berupa rerumputan. 

Di malam hari, bisa dibilang tidak banyak warga yang memadati alun-alun tersebut. Apalagi pencahayaan kurang terang. Tidak ada aktivitas yang cukup menarik perhatian kami. 

Saat kami ke sana, alun-alun Probolinggo belum direvitalisasi. Kira-kira tiga bulan kemudian, sekitar Juli 2025, alun-alun direvitalisasi.

Sekarang, alun-alun sudah dibuka untuk umum. Di bagian depan, ada tulisan besar 'Alun-Alun Probolinggo' dan beberapa sisi dipercantik. 

Ketika kami ke sana, alun-alun kota malam itu tidak terlalu ramai tapi di satu ruas jalan cukup ramai dengan aktivitas odong-odong hias bertingkat yang membuat jalanan macet. Alun-alun ini menjadi salah satu wisata keluarga di kota Probolinggo.

Setelah parkir mobil, kami melewati pedagang kaki lima yang memenuhi jalanan di sisi depan masjid. Di saat perut lapar, street food di depan masjid alun-alun Probolinggo itu tampak menggiurkan tapi hanya untuk mengganjal perut saja, bukan termasuk jenis makanan berat yang mengenyangkan.

Masjid Agung Raudlatul Jannah

Masjid Agung Raudlatul Jannah yang berwarna hijau ini tampak jauh lebih ramai dari alun-alun. Para jamaah keluar masuk dari pintu utama. 

Masjid Raudlatul Jannah Probolinggo (sumber foto: Radar Bromo)

Suami dan anak-anak memasuki pintu utama masjid. Sedangkan aku mencari pintu untuk akhwat. Pintu masuk perempuan berada di ujung masjid. 

Sebagian jamaah perempuan sudah selesai menyelesaikan kewajibannya.

Desain masjid ini memang tidak seperti masjid-masjid modern lainnya. Konsepnya sama seperti desain masjid zaman dulu, didominasi warna hijau, dan sederhana. Sayang banget aku nggak sempat foto di bagian depan masjid.

Antrian panjang

Tempat wudhu dan toilet perempuan cukup ramai. Aku tidak yakin bisa masuk kamar mandi atau nggak. Tapi apa salahnya mencoba. menunggu di depan pintu kamar mandi sambil menahan BAK tapi yang di dalam kamar mandi tak kunjung keluar. Rasanya ingin kegedor-gedor. Tiga kamar mandi lainnya pun sudah ada yang antri.

Lagi sabar menunggu, eh tiba-tiba seorang ibu berdiri di depanku, seolah-olah aku ini makhluk kasat mata. Menoleh padaku pun tidak. Dia benar-benar mengira aku ini bukan manusia. Rasanya gemes tapi mau negur kok sungkan. Karena aku udah sebel jadi aku memilih untuk beranjak dari antrian. 

Aku pun mengambil wudhu. Di tempat sholat, jamaah sholat magrib sudah selesai tapi masih ada yang melaksanakan sholat di beberapa bagian masjid. 

Al-Qur'an Raksasa

Setelah selesai sholat, aku menghampiri anak-anak yang sudah di teras masjid. Anak-anak memberitahu bahwa ada Al-Quran besar banget.

Aku tak melihat apa pun di masjid ini. Mereka membawaku ke sebuah tempat di mana para jamaah laki-laki hilir mudik. Awalnya aku malu tapi karena anakku sedikit memaksa jadi aku mengikuti saja. 

Di dekat pintu masuk masjid jamaah laki-laki, terdapat lemari kayu besar dengan penutup kaca yang ternyata di dalamnya tempat menyimpan Al-Quran. 

Di depanku, sebuah Al-Quran besar terbuka. Tampak tulisannya pun besar-besar. Aku tidak memperhatikan halaman terbuka di surah apa. Ukuran lebar Al-Quran kira-kira sepanjang lengan tanganku. Panjangnya dua kali lengan. Waooww.  

Yang mantap lagi setiap baris ayat itu seperti ada garis tipis pensil. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata bukan hasil percetakan tetapi hasil tulisan tangan seseorang. MaasyaAllah. Benar-benar nggak terlihat seperti tulisan tangan. Saking rapinya.

Al-Qur'an Akbar ini dibuat tahun 2022. Al-Qur'an Akbar ini memiliki ukuran panjang 1.5 meter, lebar 1 meter, tebal 25 cm, sebanyak 310 halaman, menggunakan tinta tahan air, dan dipilih dengan bahan kayu hardplex dilapisi Oscar. Penulisan Al-Qur'an menggunakan Rasm Utsmani.

Al-Quran Akbar Masjid Probolinggo
Anakku di dekat Al-Quran Raksasa (dok. Pribadi)

Al-Qur'an ini ditulis oleh tiga dosen dari Universitas Sain Al-Quran (Unsiq) Wonosobo dan menghabiskan 20 liter tinta selama 7 bulan. Allahuakbar.

Cari Makan di Resto Dekat Laut 'Agak Laen'

Perut kami mulai lapar. Kami maunya mencari tempat makan yang 'agak laen'. Artinya, karena ini di pesisir jadi cari yang deket pesisir atau makanan laut. Ngebayangin kayak di Balikpapan gitu lah. Haha.

Dari Google, kami nemu satu resto dekat pesisir. Namanya Warung Kama. Kami pun mengikuti jalan yang diarahkan Google Map. Tapi semakin kita menjauhi kota dan mendekati pesisir kok tempatnya sepi sekali yaa. Mana penerangan jalannya juga kurang banget. Jalannya juga jelek seperti tidak pernah terawat. 

Ini serius?

Ya karena kami percaya aja sama Google, kami ikut sajaa meski hati agak ketar-ketir. Emang ada bisnis lewat tempat sepi gini?

Kami melewati BeeJee resto apung yang tampak paling terang dan ramai. Meskipun tidak bisa disebut ramai juga untuk ukuran resto. Hehe. Memang ada beberapa mobil masuk ke resto apung itu. Pintu masuknya pun keren. Tapi itu bukan tujuan kami. 

Akhirnya kami jalan terus. Ada bapak satpam menanyakan kami mau ke mana. Kami menjawab ke resto (aku lupa menyebut nama restonya atau nggak), tapi beliau tetap mempersilakan kami jalan. 

Semakin ke utara, tidak ada penerangan. Kiri kami ada pabrik-pabrik. Sebagian air laut masuk ke daratan. Di kanan kami tanah kosong tak tampak apa pun. 

Tibalah kami di ujung jalan. Tak ada aktivitas apa pun hanya bilik kayu sempit penjual rokok, kopi atau apa pun itu. Suara-suara penjual yang meramaikan malam itu. Di depan kami, entahlah seperti tempat pelelangan ikan. Di kanan kami, bangunan kayu yang cukup luas tampak seperti resto yang sudah tutup.

Kami bertanya pada penjual itu dna beliau menunjuk bangunan di kanan kami. Nggak ada cerita apapun tentang resto itu. 

Agak laen bener. Wkwkwk

Dah lah fix kita kena zonk. Di Google Map masih melaporkan bisnis itu buka (tahun 2025). Sekarang setelah aku lihat udah tutup.

Akhirnya, kita kembali ke alun-alun. Kita cari makan di tengah kota aja. Wkwkw.

Melihat Kapal Nelayan

Perjalanan pulang, suami sempat berbelok di suatu tempat yang kosong. Di ujungnya, pagar besi itu ditutup. 

Di seberang kami, banyak perahu kayu tradisional nelayan sedang bersandar. Suara mesin motor kapal terdengar cukup kencang. 

Pemandangan di depan kami memang baru pertama kali dilihat anak-anak. Kami menjelaskan kapan nelayan itu berangkat dan kembali. 

Pelabuhan Nelayan Probolinggo
Parkir di area pelabuhan kapal nelayan (dok. Pribadi)

Naik Odong-odong di Alun-Alun Probolinggo

Nggak mau lagi cari resto zonk, kami pun memilih tempat makan dekat alun-alun. Ngga lagi niat cari tempat makan yang 'agak laen'. Wkwkwk.

Pilihan jatuh di warung ikan bakar Gatsu yang mungkin aku bahas lain kali. Setelah kami memesan makanan ternyata keluarnya cukup lama. 

Anakku minta naik odong-odong. Sambil menunggu makanan, aku mengajak dua anakku naik odong-odong. 

Kami menunggu di pinggir alun-alun. Odong-odong di sini mirip kayak di alun-alun Malang. Bentuknya bertingkat-tingkat. Dan hiasannya seperti ada sayap terbang atau naga. Aku dan anak-anak duduk di belakang. 

Kami keliling sekitar alun-alun Probolinggo. Anak-anak senang sekali bisa naik odong-odong yang berlagu itu. 

Meskipun tampaknya alun-alun itu sepi ternyata yang naik odong-odong lumayan ramai. Yaaa nggak sampai duduk berdempetan. Di beberapa titik, jalanan macet karena odong-odong. Hehe.

Naik odong-odong di alun-alun Probolinggo


Setelah keliling dua putaran kami pun berhenti. Aku lupa bayar berapa. 20ribu atau 30ribu ya.. pokoknya sekitar segituuuu yaa.

Tak lama, pesanan kami datang. Dengan lahan, kami habiskan ikan laut bakar itu. Karena sudah hampir jam 9 malam, kami segera ke rumah cucuuuuu sekitar 15 menit dari alun-alun. Cucunya udah tidur. Wkwkwk.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower