Ketika aku masih tinggal di Paris tahun 2013, beberapa kali aku berjumpa dengan orang Indonesia yang sedang liburan ke Paris, mengikuti kegiatan perlombaan atau ada kegiatan kenegaraan. Sebagai musafir, Allah udah beri kemudahan untuk jamak/qashar sholat. Sayangnya, kita tidak punya banyak tempat sholat di Paris, entah musholla atau masjid. Bisa-bisa aja sih menggelar tikar/sajadah di taman kemudian sholat. Tapi apakah kita yakin kalau di sekitar rumput itu suci? Apalagi Parisiens banyak yang pelihara anjing. Selama liburan di Paris, jangan lupa untuk melaksanakan sholat di Grande Mosquèe de Paris (baca : grongd moske de pari). Memang tidak banyak orang Asia yang mengunjungi masjid terbesar di Prancis ini.

Sebagai negara sekuler, memang kita kudu hati-hati dalam menunjukkan simbol-simbol keagamaan apalagi sholat di tempat umum. 

Qodarullah, kampus 2 ku dulu (AgroParis Tech tapi sekarang pindah deh kayanya. Soalnya pas di searching udah di luar kota) cukup dekat dengan masjid Paris. Bisa jalan kaki atau naik bus cuma berhenti 2 halte kalo ga salah. Naik métro cuma 1 stasiun tapi tetep jalan kaki. Hampir tiap hari pokoknya selama ada kuliah di kampus 2, di jam istirahat aku selalu mengunjungi masjid ini.


Grande Mosquée de Paris

Tidak seperti kebanyakan masjid-masjid di Indonesia, masjid di Paris ini mengikuti arsitektur 'maghreban' atau Maroko (daerah Afrika Utara). 

Sejarah Grande Mosquée de Paris

Sejarah masjid Paris ini ternyata cukup panjang. Di abad 19, masjid Paris ini rencana mau dibangun tapi gagal terus. Selama Perang Dunia 1, banyak tentara muslim sekitar 100ribu yang meninggal akibat peperangan. Akhirnya dibangunlah Grande Mosquée de Paris.

Di masa itu, aku mengira mereka juga mengalami namanya Islamophobia, tapi justru negara mendukung pembangunan masjid. Pembiayaan pun didapatkan dari negara dan juga sumbangan dari negeri muslim. Masjid Paris diresmikan tahun 1926. 

Arsitektur Grande Mosquée de Paris

Desain arsitektur masjid Paris ini bergaya Neo-Moorish, yang mirip dengan gaya masjid atau bangunan di Andalusia atau Afrika Utara. Desain arsitektur ini merupakan perpaduan antara Barat dan timur. 



Meskipun arsiteknya banyak dari Prancis, seperti Maurice Mantout, Maurice Tranchant de Lunel, Charles Heubès, dan Robert Fournez, tetapi tenaga bangunannya banyak dari Aljazair yang bekerja sangat detail pada setiap ukiran. Sekitar 450 pengrajin dan seniman mengerjakan pembangunan dalam empat tahun. Berkat keterampilan dan keahlian mereka, masjid Paris ini menjadikan masjid yang indah di Eropa Barat. Tamannya yang indah, deretan tiang kolam masjid, mozaik di bagian masjid, kaligrafi, kayu-kayu, menjadi elemen masjid yang memancarkan budaya arsitektur muslim.

Dindingnya dari luar tampak cokelat muda dan klasik. Terbuat dari batu bata segiempat yang besar. Tampak garis-garis batu bata itu tersusun. Di bagian pintu bentuk melengkung dengan ukiran-ukiran di atasnya.

Tamannya berada di dalam masjid. Sebagian sudah keramik. Tanaman menjulang tinggi seperti lilin tumbuh di setiap sudutnya yang serasi.

Yang paling aku suka adalah elemen-elemen ukiran bangunannya yang detail di antara lengkungan-lengkungan pintu.


Di tengah taman, ada air mancur kecil yang terus mengalir. Bawahnya berbentuk bintang. Sebagian sudah berumur.


Keramik-keramik di dalam masjidnya disusun berbentuk mozaik-mozaik berwarna dominan biru.


Menara masjid menjulang di langit Paris meski adzan tak pernah terdengar keluar dari ujung menara. Menaranya sangat khas dari Andalusia atau Afrika Utara. Simbol bintang dan bulan juga tampak dari atas masjid.


Oiya, di masjid ini ada terowongan yang ternyata menyambung ke Sungai Bièvre. Dulunya terowongan ini untuk menyelamatkan orang Yahudi saat terjadi pendudukan Jerman di Paris yang dipimpin oleh Hitler tahun 1940-1944. Sampai-sampai masjid mengeluarkan sertifikat muslim palsu pada orang-orang Yahudi. Orang yang melakukan ini ternyata orang Aljazair ya g menjadi imam masjid tapi juga jadi pendeta. Hadeuh. Pada akhirnya orang itu ditangkap dan dideportasi ke Jerman tahun 1944.

Sayangnya saat ke sana, aku tidak melihat ada akses menuju terowongan bawah tanah itu.

Hingga saat ini Grande Mosquée de Paris menjadi pusat bimbingan spiritual umat Islam.

Wallahu a'lam

Naik Métro atau Bus?

Lokasi Grande Mosquée de Paris ini berada di arrondisement V (sejenis kecamatan gitu ya) di pertigaan jalan Rue Daubenton dan Rue Georges Desplas. Berdampingan dengan Jardin des Plantes (seperti kebun tapi luas mirip hutan kota khusus untuk tanaman). Di sekitar Latin Quartier di mana kawasan akademisi dan intelektual. Tak jauh dari sana juga ada kampus Paris Sorbonne dan juga Monumen Panthéon yang terkenal.

Meski lokasi ini bisa diakses dengan kereta bawah tanah atau métro dan bus. Tapi dari kampus saya suka naik bus. Jalan dari kampus ke halte dekat. Turun dari bus pun, dari halte ke masjid pun dekat. 

Kalau naik métro turun di stasiun Censier-Daubenton. Kalau halte, aku lupa halte apa. Hehe.

Tempat Terbaik Untuk Menenangkan Diri

Biasanya setelah seharian mendengar suara-suara berbahasa yang bikin aku berpikir keras. Dosen yang menjelaskan materi di kelas. Teman-teman yang berbicara pakai bahasa siang. Semua hiruk-pikuk itu ingin aku hindari sejenak.

Tempat terbaik jika aku sedang kuliah di AgroParis Tech adalah Grande Mosquée de Paris. 

Begitu memasuki pintu utamanya yang terbuka dan terbuat dari kayu, aku melihat taman-tamannya yang hijau di musim semi dan memutih tertutup salju di musim dingin. 

Taman (jardin) ini berbentuk segiempat dikelilingi bangunan dengan lengkungan di antara tiang-tiang. Di tengahnya banyak tanaman yang diatur hingga tampak indah.

Ketika aku penasaran dengan taman di bagian belakang yang tampaknya tidak terlalu terawat, ada seorang wanita memakai kain tutup rambut tapi masih menampakkan rambutnya sedang duduk di tangga.

Ia tiba-tiba meminta welas kasihku. Aku terkejut. Memang di Paris banyak pengemis tapi aku belum menemukan pengemis muslim. Terus terang sebagai saudara semuslim agak sedih. Tapi aku juga tidak yakin apa benar-benar muslim? Karena aku agak takut, jadinya aku tolak. Ya Allah.

Ketika aku memasuki ruang besar kosong yang juga tempat sholat saat hari Jumat, rasa tenang langsung menyergap dalam hatiku. Meski aku masih mendengar bahasa-bahasa seksi itu tapi aku tidak perlu berpikir mereka berkata apa. Karena aku ingin segera ke ruang wudhu.


Perjalanan ke ruang wudhu pun melewati 'resepsionis' yang membantu para turus asing yang ingin mengunjungi masjid Paris dan menikmati setiap detail masjid yang khas. Tidak selalu ada orang di resepsionis. 


Dan setiap turis yang ingin melihat-melihat diminta membayar 5 euro, sedangkan anak-anak Cuma 3 euro. Tapi untuk yang sholat di masjid tidak perlu membayar kayak aku. Jadi aku mau keliling jardin pun nggak bayar. Apa aku yang nggak paham ya.. wkwkw..

Di waktu tertentu bahkan petugas menunggu turis, kadang menjelaskan sesuatu pada turis.

Untuk tempat wudhu wanita seingetku menuruni tangga. Tempat tertutup dan aman dari luar. Meski aku mencium bau tak sedap dari kamar mandi, aku sedikit maklum. Jadi inget di Indonesia. 


Kamar mandi di masjid tidak seperti kamar mandi di tempat lain di Prancis. Seingetku ada ember kecil. Kloset duduk tapi terbuat dari besi. Dan aku harus beradaptasi lagi dengan kondisi toiletnya. Hampir mirip tapi tetap berbeda. Air tetap mengucur deras tidak seperti toilet lain di Prancis yang tidak basah dan hanya pakai tisu.

Adzan belum berkumandang. Aku duduk di dalam ruang sholat perempuan. Beberapa perempuan muslim sedang sholat. 


Aku mengeluarkan bekal makan siang dan langsung melahap isi makananku. Setelah selesai menyantap bekal makan yang dingin karena udara yang dingin, aku segera berwudhu sebab adzan berkumandang. 

Aku memasang mukenahku dan menempati barisan di depan. Seorang dari Pakistan tersenyum melihatku memakai mukenah. Dia bilang lucu bangeettt. Dia tampak baru sekali ini melihat mukenahku yang warna karena mereka sholat pakai baju panjang dan celana panjang saja dengan jilbab yang dililit2 itu. 

Aku segera keluar dari masjid karena perkuliahan selanjutnya akan dimulai. Sebenarnya jadwal kuliah bentrok dengan jadwal sholat tapi kalo aku ngga sholat dulu, kuliahnya bisa sampai maghrib. Alhasil masuk kelas pasti terlambat.

Di luar, beberapa orang berlalu lalang, ada yang memasuki restoran dan cafe masjid yang ada di samping. Aku penasaran melihat cafe dari luar tapi aku ngga ada keinginan masuk dan beli makanannya. Maklum mahasiswa hemaaatttt. Harganya juga lumayan mahal bagi ukuran mahasiswa. Hehe.


Sumber:
https://www.grandemosqueedeparis.fr/copie-de-une-histoire
Read More
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush sholihaat. Allah beri kami nikmat bisa menginap di hotel Mercure Madiun. Aku agak takjub, kota kecil Madiun punya hotel bintang 4! Eh, tapi nggak heran sih soalnya Madiun punya INKA dan Pertamina. Pastilah banyak tamu besar yang ke Madiun ya..hehe..

Mercure Hotel Madiun
Mercure Hotel Madiun (Web All Accor)

Hotel Mercure Madiun, Hotel Bintang 4 di Kota Kecil

Mercure Madiun adalah hotel bintang 4 dari jaringan All Accor ini di Jl. H. Agus Salim, pusat kota Madiun, dengan konsep modern. Hotel ini memiliki sekitar 153 kamar, restoran, kolam renang, gym, kids facility, meeting room, dan ballroom.

Jam check in Mercure Hotel Madiun yaitu jam 14.00 dan check put jam 12.00.

Lokasi Hotel Strategis

Perjalanan ke Hotel Mercure Madiun ini bisa dibilang tidak sulit. Dengan bermodal Google Maps, kita bisa tiba di hotel. 

Hotel Mercure Madiun ini cukup strategis karena dekat dengan alun-Alun Madiun, pusat kuliner, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan stasiun. Akses ke Stasiun Madiun sekitar 2.5 km. Sedangkan ke Tol Gate Madiun sekitar 13 km.

Malam Hari itu, suasana sepanjang Jalan Agus Salim cukup ramai apalagi di sepanjang jalan itu memang dimanfaatkan untuk wisata kuliner dengan lampu-lampu hias ala Malioboro. Banyak mobil-mobil parkir pinggir jalan.

Bagi yang suka lapar di malam hari, mengunjungi kawasan ini seperti surga di malam hari. Hampir semua jenis makanan ada.

Tak hanya itu, lokasi hotel Mercure Madiun ini berada tak jauh dari alun-alun Kota Madiun. Tinggal jalan kaki aja bisa. 

Tapiii kami sudah terlalu lelah, nggak ada tenaga mau jalan ke alun-alun Kota Madiun yang ramai. Hehe.

Tampilan gedung hotel

Dari depan tampilan gedung Mercure Hotel ini tinggi dan terbilang mewah. Gedung dominan kaca dengan lampu hias yang terang di lobi hotel tampak dari luar. 

Tempat parkir hotel

Kami langsung menuju tempat parkir mobil yang berada di bagian bawah gedung. Jalanan agak menurun. Kemudian kami menjumpai lahan parkir di luar gedung, tanpa peneduh. Pepohonan yang masih muda di tanam di beberapa sudut. Semoga kelak yang akan memenuhi mobil-mobil yang parkir. 

Pepohonan itu berayun-ayun. Rupanya angin cukup kencang malam itu. Sebenarnya sejak di sirkuit Magetan anginnya juga nggak sabar banget. Aku tidak mau ambil resiko masuk angin. Segera kuminta anak-anak masuk ke hotel.

Kami memasuki hotel lewat lift di parkir bawah. Aku sudah memegang kunci kamar yang berupa kartu. Koridor hotel tampak nyaman dan modern dengan lapisan karpet dan warna dominan krem.

Mercure Hotel Madiun
Anak-anak mencari kamar (dok. Pribadi)

Kami mencari lift dan menekan tombol 8. Oiya, jangan lupa menempelkan kartu sebagai akses keluar masuk hotel. Lift berhenti di lantai 8.

Ruang kamar, tempat ternyaman untuk istirahat

Sebenarnya aku tak sabar ingin segera istirahat. Eh, aku lupa banget kalau ada kelas menulis jam setengah 8.

Di depan kamar, aku menempelkan kartu ke alat siang. Seketika pintu kamar terbuka.

Begitu sampai kamar, aku segera meletakkan laptop di samping tempat tidur, menyalakan laptop, menyambungkan kabel charge, menyambungkan ke Internet dan join ke ruang zoom. 

Suami juga membuka laptop, mencari colokan listrik dan menyalakan WiFi.

Awalnya, saat aku belum tersambung WiFi, suami lebih dulu mengakses WiFi. Meski sempat bingung akhirnya bisa tersambung internet. Ternyata aksesnya masuk ke Web all accor dan join dulu tanpa password apa-apa udah bisa join langsung. Nggak pakai lemot sih...

Kamar Hotel Mercure Madiun
Kamar hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Sejenak aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan. MaasyaAllah. Kamar hotel Mercure Madiun ini desain interiornya keren dan modern. Ukuran kamarnya kurang lebih sama kayak Fave Hotel Madiun, hanya saja kamar Hotel Mercure lebih modern. 

Wardrobe-nya dihiasi lampu hingga tampak mewah. Tempat gantungan baju tidak tertutup dan lebih panjang. Di bawahnya, lemari yang agak panjang untuk tempat menaruh tas, sepatu dan lain sebagainya.

Di samping tempat tidur, ada dua meja, satu sofa dan satu kursi bulat. Di bagian ujung ruangan, ada safe deposit box, coffee/tea maker dan air mineral. 

Aku menatap ke arah jendela kaca yang memperlihatkan lampu-lampu kota Madiun. Memang tidak tampak seterang di Surabaya tapi di pagi hari, pemandangan gunung terlihat jelas. Aku tidak hapal itu Gunung Lawu atau bukan.

View dari kamar hotel Mercure Madiun
Pemandangan pegunungan dari kamar hotel (dok. Pribadi)

Seketika, aku merasa kedinginan. Aku mencari remote AC. Eh tapi nggak ada. Yang ada hanya control AC tanpa remote dan touchless gitu. Jadi diarahkan sedikit tanpa disentuh sudah berganti. 

Hotel di Madiun

Kamar mandi

Kelas belum dimulai, aku memandikan si kecil. Di kamar mandi yang ukurannya tidak besar dan tidak kecil kebersihannya terjaga. Toiletries yang tersedia di bawah wastafel seperti sabun cair sekaligus shampoo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, tisu, shower cap. 

Penginapan di Madiun
Kamar mandi Hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Yang berbeda, untuk bungkus sikat gigi dan odolnya tidak memakai plastik tetapi pakai bungkus kertas. Ini adalah cara mereka untuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan.

Kemasan sikat dan pasta gigi (dok. Pribadi)  

Hair dryer berada di atas wastafel dan menempel di dinding.

Saat kumandikan anak pakai shower, air panasnya stabil. Tidak tiba-tiba panas banget atau dingin. Showernya pun 3 Way. Air keluar dari shower paling atas dan besar, air keluar dari kran bisa untuk wudhu, dan satu lagi yang keluar dari shower kecil.

Tekanan air juga cukup baik.

Setelah itu kakak-kakaknya mandi sendiri. Aku hanya mengatakan bahwa kran yang panas ke arah kanan. Kubilang ngga usah diubah-ubah. . 

Setelah mandi, aku meminta mereka makan nasi kotak yang kubawa. Tidak terlalu banyak sih tapi cukup untuk mengganjal perut. Sembari mereka makan dan nonton, kelas pun dimulai. 

Ikut kelas dulu (dok. Pribadi)

Sarapan Bervariasi dan Enak 

Jam buka restoran ini dari jam 6 sampai jam 10 pagi. Menu anak juga bervariasi. Bagi vegetarian dan makanan dengan gluten free juga tersedia di sini. Suasana restoran di jam 7 pagi masih sepi. Pas jam 8 udah ramai. Kita di sana bisa sampai 1 jam. Haha.

Oiya, karena kami bawa 3 anak jadi tetap kena charge ya. Aku lupa berapa. Kalau tidak salah untuk anak-anak separuh harga orang dewasa. Harga 1 orang dewasa 98ribu. 

Sarapan di hotel bintang 4 itu biasanya menunya bervariasi. Biasanya yang membedakan apakah stok diisi dengan cepat atau tidak.

Restoran Djawara Hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Sarapan di restoran Djawara Hotel Mercure Madiun ini bervariasi. Menunya tak hanya menu tradisional Indonesia, Western maupun Asia Timur. Tentu saja karena di Madiun ada kuliner khas Madiun yaitu Pecel Madiun.

Menunya lengkap mulai dari kue, salad, buah, roti, jajanan tradisional, makanan utama, cereal, minuman. 

Menu hotel

Menu hotel mercure madiun

Rekomendasi hotel di madiun

Menu favorit anak-anak adalah sushi. Sama seperti saat menginap di Hotel Illira Banyuwangi, anakku semua makan sushi, ngga mau coba makan yang lain. Dan untungnya, sushi ini cepat diisi kembali. Selain itu, mereka juga makan cereal dikasih susu.

Menu hotel yang enak

Ide menu hotel

Sebagai orang Indonesia, ku meminta mereka makan nasi. Hehe. Kutawarkan nasi goreng atau soto. Eh ternyata sotonya tidak ada nasi. Kalau mau ambil nasi bisa diambil di stand prasmanan. Di stand prasmanan ini juga bervariasi. Yang paling utama makanan tradisional gitu, ada pecel Madiun, tumis sawit buncis, gule daging, mie goreng, dsb. Makanan yang biasa dijual di warung pun ada. Hehe. Konsep menunya emang tradisional.

Mereka mengambil mie kuah yang sebenarnya banyak isiannya tapi mereka cuma ambil mie saja. Isiannya sih aneka dumpling gitu.

Nasi goreng pun alhamdulillah bisa minta dibuatkan sedikit. Tapi anakku juga nggak habis. Soto pun juga.

Aku sendiri memilih makan nasi sedikit, daging, salad sayur dengan berbagai macam saos, salad buah yang dicelup dengan coklat fountain. 

Pastry dan roti di hotel

Roti-rotian dan pastry-nya juga menarik. Di sini disediakan juga roti gluten free. 

Nah biar bisa nyicipin semua pastry dan roti-rotian, biasanya nih aku bawa kotak makan terus aku bawa pulang hehehe.

Soal rasa makanannya sih sebenarnya kurang micin aja hehe. Tapi bukankah itu yang sehat yaaa.. Kalo roti-rotian dan pastry enak semua. Jajanan tradisional juga ada seperti bubur sumsum, kolak, takoyaki juga ada.

Untuk minum-minuman seperti jus buah aku tidak mencicipi. Anakku suka jus jeruknya. Ada jus jambu juga.

Karena anak-anakku alhamdulillah kenyang, kami pun lanjut berenang.

Kolam renang, Gym, Playground, Dan Kelinci

Ketika kita tiba di kolam renang, eh ternyata ada kasih makan kelinci gratis. Anak-anak jadi lupa mau renang. Mereka excited kasih makan kelinci. Bapak penjaga menyiapkan pancingan yang ujungnya dikasih makanan. Anakku duduk sambil memberi makan kelinci.

Kasih makan kelinci di Mercure Madiun

Kalau nggak dihentikan, mereka ngasih makan kelinci terus nggak renang-renang. Mereka pun berenang setelah aku stop mereka kasih makan kelinci.

Kolam renang di hotel Mercure Madiun ini outdoor dengan dua kolam untuk dewasa dan anak-anak. Ukuran kolamnya juga tidak terlalu panjang. 

Kolam renang Mercure Madiun

Sekitar kolam renang pun kebersihannya terjaga. Di sekitar kolam ada banyak tempat duduk untuk berjemur. Di ujung, ada shower terbuka untuk membalas badan.

Aku duduk-duduk sambil scroll-scrool. Ternyata akses WiFi di kolam renang pun lancar.

Kedalaman kolam renang dewasa sekitar 1.3 m. Sedangkan anak-anak sekitar 0.7 m.

Ternyata mereka juga nggak berlama-lama di kolam renang. Baru sebentar sudah minta mandi. Kami meminjam handuk yang sudah disediakan hotel. 

Setelah selesai mandi, anakku yang kecil langsung berlarian menuju ke arah playground yang ada di dekat kolam renang. Menarik banget ini di dekat kolam renang disediakan fasilitas untuk anak. Cari hotel yang punya playground anak emang ngga banyak. Dan di Mercure Hotel ini playground-nya disediakan ruang sendiri. 

Hotel yang punya playground

Sedangkan dua anakku yang lain malah masuk ke ruang gym dan mencoba alat sepeda dan baebel di sana. Tidak Semua hotel mengizinkan anak kecil main di ruang gym ini karena menurut mereka berbahaya. Sebenarnya kalau ada yang awasi sih nggak apa-apa yaa..

Seorang bapak yang mungkin sudah 60an sedang nge-gym dengan baik hati membantu anakku untuk mencoba alat treadmill. 

Hotel dengan Fasilitas Anak di Madiun

Nggak kebayang sih bisa menginap di Hotel Mercure Madiun. Selain  makanannya enak dan bervariasi, kamar hotel nyaman, ada kasih makan kelinci, ada playground juga. Kolam renang anak yang ditunggu-tunggu anak. Untuk rate hotel per malamnya sekitar 700ribu. Dengan fasilitas dan pelayanan yang didapat emang layak sih.. Beneran sih hotel ini bikin anak-anak senang. Cocok banget buat staycation buat keluarga.

Read More
Suatu waktu, keluarga besar berencana akan pergi ke sebuah tempat wisata yang komplit mulai dari berenang, makan, main, outbond, menginap di sekitar kota Malang. Tempat wisata itu namanya Taman Dolan Batu. Agenda utamanya adalah berenang, makan-makan dan berkumpul. Berangkatlah kami dengan kendaraan bersama-sama.

Dalam bahasa Jawa, dolan artinya bermain. Kalau Taman Dolan berarti Taman Bermain. Nama ini cukup mewakili wisata alam di sekitar kota Malang.

Kenapa Memilih Taman Dolan

Jujur, aku tidak ikut menentukan memilih Taman Dolan. Tapi menurut keluarga yang sudah pernah ke sana, Taman Dolan ini tempat wisata di Kota Batu yang tenang dan cocok untuk keluarga. Di dalamnya banyak tempat bermain untuk anak-anak tapi bukan seperti wahana permainan Jatim Park atau Klub Bunga Theme Park di Batu. Hanya outbond sederhana menyebrangi sungai. Dan itu lah menjadi salah satu alasan kami memilih Taman Dolan.

Taman Dolan Batu ini merupakan tempat wisata dengan nuansa alam yang dekat dengan sumber air begitu asri ketika kami tiba di lokasi. Konsep tempat wisata ini memang dekat dengan alam di mana di sekitar tempat wisata masih ada persawahan, sumber air, dan hutan bambu.

Aku pun tak pernah mendengar Taman Dolan tapi saat aku lihat di ulasan Google, sepertinya tempatnya mengasyikkan. Hanya saja akan tidak ada ekspektasi sebelum mengunjungi wisata alam di Batu ini.

Tempat wisata alam ini cocok untuk keluarga, anak-anak, teman maupun pasangan. Sedangkan untuk lansia, memang sedikit harus berhati-hati karena jalanannya yang naik turun.


Perjalanan Menuju Taman Dolan

Perjalanan menuju lokasi menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Lokasi wisata alam Taman Dolan berada di Jl. Raya Pandanrejo No.308, Giripurno, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dari rumah mertua atau sekitar 14 km.

Tidak terlalu sulit menemukan wisata Taman Dolan ini. Rute perjalanan dari Candi Panggung - belok menuju Jalan Sasando - belok kiri ke Jalan Ngijo Karangploso. Nah, Taman Dolan berada di jalan Ngijo tersebut.

Kondisi perjalanan menuju tempat wisata bisa dikatakan baik dan mulus. Tidak ada papan petunjuk. Suasana sejuk menimpa wajah kami.

Jika tanpa Google Map, agaknya kita tidak terlalu yakin dengan lokasinya karena memang minim papan penunjuk. Jadi dengan menggunakan Google Maps, kita lebih mudah mencari tempat wisatanya.

Kesan pertama saat tiba

Pertama kali memasuki halaman parkir mobil, aku melihat banyak pepohonan di Taman Dolan ini. Bangunan untuk resepsionisnya pun bergaya arsitektur Jawa. Bangunannya berupa kayu, atapnya berbentuk limasan, dan pintu masuknya dari tengah bangunan dengan pilar-pilar yang tampak menyangga bangunan. Seolah-olah, saat itu aku sedang berada di kampung halaman zaman aku kecil dulu di mana bangunan kakek nenek masih asli bentuknya.

Aku memasuki pintu gerbang dari bebatuan. Pepohonan rindang tampak memenuhi tempat wisata itu. Udara menjadi lebih segar dan tidak terlalu panas.

Jalannya banyak tangga naik dan turun. Memang tempat wisata ini tidak berada di dataran yang datar sehingga kita perlu berhati-hati agar tidak terpeleset. Apalagi saat musim hujan kita harus ekstra hati-hati karena sepertinya jalanan menjadi licin.

Dari jauh, terdengar suara air berbaur dengan suara anak-anak kecil yang sedang asyik berenang. Waterpark dengan kedalaman yang berbeda menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak.

Jika kita terus berjalan kaki, kita akan menemukan bangunan-bangunan yang terpisah. Ada tempat untuk duduk-duduk atau tempat makan untuk khusus pengunjung restoran atau kolam renang. Bangunan tersebut ternyata homestay. Di sisi lain juga homestay dengan bangunan bertingkat di mana di bagian bawahnya juga terdapat kolam pemandian.

Di bagian dekat persawahan terdapat tempat outbond anak-anak di atas sungai kecil yang airnya mengalir. Tidak dalam tapi tetap harus berhati-hati.

Kesan pertama masuk ke tempat wisata alam Taman Dolan ini cukup menenangkan. Suasana pedesaan sangat kental di sini seolah menjadi tempat healing yang cocok bagi yang biasa hari-harinya diisi dengan hiruk pikuk perkotaan.

Kami bisa leluasa menikmati kolam renang, tempat makan tanpa harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Hal pertama yang menarik perhatian adalah suasananya tenang dan nyaman.

Apa saja yang bisa dilakukan?

Taman Dolan ini tak hanya sekadar taman bermain saja tetapi lebih dari itu. Apa saja yang bisa dilakukan di Taman Dolan Batu?

Berenang

Taman Dolan memiliki tiga jenis kolam renang. Pertama, di dekat pintu masuk, kolam renang khusus anak dengan kedalaman bervariasi dilengkapi dengan wahana permainan seperti perosotan di waterpark.


Tempat renang di Kota Batu
Kolam renang anak Taman Dolan Batu (Foto Google: Azizah Maya)

Kedua, kolam renang yang memang untuk dewasa yang memiliki kedalaman sepertinya sekitar 1,3 meter. Bayangkan ajaa yaa kota Batu udah dingin terus pada berenang.

Kolam renang di Batu
Berenang di Taman Dolan Kota Batu (Dok. pribadi)

Di kolam kedua ini ada kayu yang melintang di kolam yang bisa dijadikan jembatan. Air kolam renang ini berasal dari sumber mata air yang berada dekat dengan Taman Dolan.

Kolam ketiga ini berbeda dengan dua kolam lainnya dimana tidak dipasang keramik hanya plester saja. Kolam ini ada di bawah penginapan bertingkat sehingga benar-benar tampak tradisional.

Menikmati sajian kuliner

Selain berenang, Taman Dolan juga menyediakan berbagai menu kuliner tradisional, seperti ikan gurame, sayur, udang goreng, ayam goreng, soto ayam, pecel, dan berbagai macam makanan lokal lainnya. Kuliner di Taman Dolan cocok bagi siapa saja yang menyukai makanan tradisional. Jika kita mengajak tamu yang ingin menikmati sajian khas Jawa bisa jadikan Taman Dolan ini opsi.

Waktu itu, kami memesan gurame, ayam goreng, ayam bakar, udang goreng, sayur kangkung sama apa lagi ya.. Semua makanan yang diantar juga dibungkus plastik wrap agar terjaga kebersihannya.

Rumah Makan di Kota Batu
Sajian kuliner tradisional di Taman Dolan Batu (Dok. pribadi)

Outbond

Aku coba susuri Taman Dolan hingga ke ujung tempat wisata dengan menyusuri pinggir sungai kecil. Aliran airnya yang tidak besar dimanfaatkan untuk outbond atau kegiatan susur sungai dari atas sampai bawah. Sepertinya, sungai kecil itu bisa dilalui hingga ke ujung tempat wisata di mana terdapat tantangan untuk melewati titian dan beberapa ban. Siap-siap basah aja yaa..

Aku mau mengajak anakku kesini setelah berenang. Eh, setelah berenang tampaknya mereka sudah lelah jadi aku batal mengajak mereka ke tempat outbond.

Melihat Kandang Hewan

Di sudut Taman Dolan terdapat beberapa kandang burung dan ada satu hewan buas, seperti musang. Saat aku melewatinya, tiba-tiba dia seperti ingin menyerang dan menabrak kandangnya sendiri. Aku hampir teriak dan menabrak kandang lainnya saking kagetnya.

Wisata Alam di Omah Dolan Batu
Hewan yang mengejutkanku (Dok. Pribadi)

Bersantai bersama keluarga

Taman Dolan tentu saja dibangun sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga. Kita bisa memilih duduk di gazebo sambil melihat pemandangan alam dan kolam renang dari atas. Atau duduk di gazebo di sudut lain untuk melihat pemandangan sawah yang terbentang hijau. Semilir angin sejuk begitu terasa saat kita bersantai bersama keluarga.

Penginapan bernuansa tradisional

Bagi kalian ingin merasakan penginapan bernuansa tradisional dengan pemandangan sawah sambil healing menikmati suara alam ingin mencari ketenangan, mungkin penginapan ini bisa menjadi salah satu opsi untuk dipilih.

Bermain di ruang terbuka

Taman Dolan punya satu ruang terbuka atau lapangan untuk tempat berkumpul pengunjung. Di ruang terbuka ini bisa dilakukan berbagai macam aktivitas. Misal ada fun gathering di Batu bisa ke Taman Dolan dan bisa menjadi tempat berkumpul.

Tempat Gathering di Batu
Ruang Terbuka di Taman Dolan Batu (Dok. Pribadi)

Pengalaman datang bersama anak

Karena aku datang ke sini bersama anak-anak, mereka tampak senang dan tidak bosan berenang. Padahal udaranya dingin. Airnya pun dingin. Mereka bisa tahan dan senang bermain. Apa mungkin karena airnya dari air sumber ya jadi segar.

Aku belum sempat mengajak mereka melihat kandang burung dan outbond. Aktivitas yang paling menarik buat anak-anak masih di kolam renangnya.

Anak-anak tampak nyaman bermain di Taman Dolan. Namun perlu diperhatikan agar anak-anak tidak lari-lari di sekitar sini karena banyak tangga.

Fasilitas yang Tersedia

Beberapa fasilitas yang tersedia di Taman Dolan adalah:
  • Area parkir. Untuk area parkir ini jalannya agak turun dan tidak terlalu luas. Jika target yang datang ke sini adalah pengunjung bermobil memang alangkah baiknya jika tempat parkir ditambah. Alhamdulillah sih kita datang masih kebagian tempat parkir dan itupun sudah hampir penuh. Mencari parkir yang proper pun agak susah karena jalanan yang menanjak.
  • Toilet, Toilet untuk pengunjung yang berenang disediakan ada 4 toilet kalau tidak salah. Meskipun bangunan biasa tapi air lancar dan penerangan oke.
  • Tempat makan ini bisa di dekat kolam renang atau di gazebo. Di tempat makan dekat kolam renang kedua ini disediakan tempat cuci tangan, kursi dan meja kayu.
  • Musala. Taman Dolan juga menyediakan musala bagi umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah.
  • Gazebo. Di beberapa tempat juga disediakan gazebo atau tempat duduk di pinggir sungai.
  • Kolam renang. Sudah aku jelaskan sebelumnya.
  • Penginapan. Di Taman Dolan juga disediakan penginapan dengan tipe yang berbeda. Ada yang jenis vila dengan bangunan sendiri atau kamar seperti bangunan hotel biasanya.
  • Outbond. Sayang banget aku tidak sempat mengajak mereka bermain outbond.

Harga Tiket dan Jam Buka

Harga tiket masuk Taman Dolan Batu yaitu 15 tibu saat hari kerja, dan 20 ribu untuk akhir pekan.
Jam buka Taman Dolan Batu setiap hari dari pukul 08.00 - 17.00 WIB.
  • Tiket Masuk Weekday Rp15.000
  • Tiket Masuk Weekend Rp20.000
  • Outbound Anak Rp85.000 – Rp135.000
  • Outbound Dewasa Team Building Rp110.000 – Rp195.000
  • Outbound Dewasa Family Gathering Rp299.000 – Rp495.000
  • Range Harga Adventure Activity: River Tubing, Battle Paintball, Jeep Adventure Rp60.000 – Rp610.000

Kesimpulan

Selama beberapa jam saat wisata keluarga di Taman Dolan Batu, hal yang masih terkenang sampai saat ini adalah anak-anak saat berenang dan makan bersama. Suasana alam di Taman Dolan Batu cocok banget untuk tempat healing karena nuansa pedesaan yang tenang.


Read More
Kalau pergi ke Magetan pasti anggapannya mau wisata ke telaga Sarangan. Berhubung suami ada kegiatan di Magetan dan udah pernah menginap di villa Sarangan sambil menikmati telaga Sarangan yang indah dan tenang, jadi wisata Sarangan bukanlah tujuan utama kami. Bukan pula sekalian ke Magetan sekalian ke Sarangan karena pergi ke Telaga Sarangan masih 26 km dari tempat kegiatan. Selama suami ada kegiatan di Sirkuit Magetan, aku mencoba menikmati lingkungan sekitar.


Sirkuit Suryo Magetan

Sebenarnya Indonesia memiliki cukup banyak sirkuit, yang paling pertama adalah Sirkuit Sentul kemudian Sirkuit Mandalika. Sementara di Jawa juga memiliki beberapa sirkuit yang tidak sebesar dua sirkuit fenomenal itu. Salah satunya sirkuit Magetan. 

Sirkuit Magetan yang dikenal dengan Sirkuit Suryo Magetan ini menjadi sirkuit kebanggaan orang Magetan dan baru dibangun tahun 2025 dan baru diresmika Maret 2026. Jadi kehadiran sirkuit Magetan diharapkan mampu melahirkan bibit unggul mengikuti jejak pembalap internasional asal Magetan. Hmm.. ada yang tahu? Aku pun ngga tauuuu wkwkwk.

Lokasi sirkuit Magetan ini berada di Jalan Raya Parang, kelurahan Parang, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Bisa dibilang sirkuit Magetan ini berada di tengah-tengah. Tidak terlalu jauh dari Yogyakarta dan Surabaya. Jadi bagi pembalap yang berasal dari timur Jawa bisa latihan di sirkuit ini.

Biasanya yang latihan balapan di sirkuit Magetan ini pembalap motor kecil yang biasa dipakai anak-anak sampai orang dewasa dan juga pembalap karting (gokart).

Nah, yang menarik dari sirkuit ini adalah posisinya yang seolah-olah berada di lembah. Di sebelah utaranya dataran tinggi. Di siang hari, lokasi ini memang sangat panas. Tempat berteduh yang nyaman tanpa kena sinar matahari yaa di depan paddock.

Nongkrong di Pinggiran Sirkuit

Biasanya setiap akhir pekan, ketika sore tiba, di sekitar sirkuit ini selalu ramai masyarakat yang menonton aksi para pembalap yang sedang latihan. Biasanya mereka adalah para remaja, orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk melihat aksi pembalap yang sedang latihan. Kadang-kadang mereka duduk-duduk di rerumputan tapi tetap di luar track sirkuit. Kadang ada yang berfoto bersama pembalapnya. Hehe.

Di sisi utara sirkuit, masyarakat duduk-duduk di pinggir jalan sambil menyantap makanan sambil melihat aksi para pembalap.

Aku ingin menikmati siang menjelang soreku di pinggir jalan itu. Sore itu, aku melangkahkan kaki keluar dari sirkuit, menerabas track saat tak ada yang latihan. Melewati jalanan di pinggir sirkuit yang berumput, bersebelahan dengan kebun jagung yang tumbuh subur. Jalur yang cukup menanjak ini memang sengaja disiapkan bagi pejalan kaki agar bisa mengakses pertokoan di pinggir jalan tanpa harus memutar.

Jalur itu sangat menguntungkan bagi pejalan kaki karena kita tidak perlu memutar. Meski terik matahari membuat kulit terasa seperti terbakar, aku tetap berjalan bersama anak-anak untuk mencari makan. Rerumputan yang kering menempel di bawahan kami. Kadang menusuk-nusuk sampai kita membersihkannya.

Aneka Street Food 

Begitu sampai atas, mataku menatap ke arah kanan, tidak terlalu banyak penjual makanan. Di seberang jalan, papan menu sebuah warung makan berdiri di depan warung itu. Aku membaca sekilas tetapi aku memilih untuk mencari makanan lain.

Mataku menatap ke arah kiri. Lokasi sirkuit ini dekat dengan Pasar Parang, sehingga banyak rombong penjual makanan berderet membuat keramaian tersendiri. Makanan yang dijual juga beraneka macam. Hanya saja rata-rata, makanan yang dijual adalah bukan menu nasi, seperti kebab, mie goreng, mie ayam, es teler, bakso, cilok, aneka minuman rasa-rasa, dll. Harganya bervariasi tapi tetap terjangkau.



Di sebelah kananku, tidak banyak rombong yang menjual makanan-makanan, hanya rombong di depan ruko. Pun kondisinya lebih sepi. Yang dijual makanan jajanan dan minuman seperti tahu kriuk, minuman, es teler, dll. Dan tentu saja tidak ada tempat yang bisa menikmati sirkuit langsung.

Seperti ada magnet yang menarikku, aku pun mengajak anak-anak ke arah kiri yang banyak menjual makanan. 

Maunya menikmati siang menjelang soreku duduk-duduk di pinggir jalan yang menghadap sirkuit. Eits, tenang. Bukan aku aja kok yang duduk di pinggir jalan, tetapi banyak banget warga yang duduk beralaskan tikar yang disediakan penjualnya.

Apakah berbahaya?

Alhamdulillah sih kendaraan yang lewat jalan ini tidak terlalu ramai. Kadang memang ada truk tapi bukan truk trailer atau truk pabrik muatan besar. Dan tampaknya juga tidak terlalu berbahaya berjalan di pinggir jalan. Kendaraannya kalem-kalem.

Aku pun mencari warung dengan menu nasi tapi belum nemu, akhirnya kami jalan mencari yang lain.

Eh kami melewati warung non permanen yang menjual menu-menu makanan berat kayak soto, pecel, dan ayam goreng tapi anak-anak nggak mau. 

Cari lagi deh. Mataku terarah pada penjual mie ayam yang ramai dikunjungi orang. Aku pun menawarkan mereka. Mereka pun menyetujui untuk makan mie ayam. 

Tanpa pikir panjang lagi, kami menyeberang jalan dan aku pun memesan mie ayam yang mereka mau. Aku memesan 3 mangkok mie ayam dan 2 es teler.

Kami duduk di tempat makan yang disediakan. Ada meja dan tikar di atas lantai cor yang masih diisi orang yang sedang menikmati mie ayam. Anakku di sini nggak bisa tenang. Huaa.. bawa mainan hotwheel dan ramai banget sampe malu deh sama pengunjung lain.

Orang di depan kami belum menyelesaikan makannya sementara di pinggir jalan yang beralaskan tikar masih ramai. Anakku mengatakan ingin duduk di pinggir sirkuit di bawah pohon. Sayangnya, tidak ada tempat kosong. 

Eh, kok ya pak penjualnya mencarikan alas tikar agar kita bisa duduk di sana. 

Alhamdulillah dapat tikar kosong. Kami pun menyeberang lagi dan duduk di tikar kosong itu. Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat dengan leluasa tanpa hambatan sirkuit Magetan. 

Di depan kami sudah plengsengan tinggi seolah-olah kami adalah penonton tribun stadion tanpa kursi yang bisa nonton tanpa terhalang apa pun. 

Sesekali, seorang pembalap motor beraksi di sepanjang sirkuit. Suara mesin motornya menggema ke udara. Cukup kencang seperti suara motor berisik yang dilarang masuk ke perumahan itu loh. Hehe..

Angin menjelang sore itu cukup kencang. Pesanan pun datang. Aku segera meminta mereka makan. Makanya kalau tidak diisi makanan, tubuh ini bisa kalah dengan pasukan angin ini. Daripada anakku di perjalanan mual atau muntah.

Di kanan kiri kami, banyak pasangan muda mudi juga keluarga yang bawa anak duduk-duduk juga sedang menyantap yang mereka beli sambil menatap ke arah sirkuit.

Mulai siang, tempat jajanan itu sudah ramai pengunjung untuk makan siang maupun jajan sore. 

Aku juga nggak perhatikan buka jam berapa. Sepertinya jam 10 gitu udah buka. Siang jam 11 udah banyak yang makan di pinggir jalan itu.

Anak-anak berusaha keras untuk menghabiskan semangkok mie yang cukup banyak. Anak kedua dan ketiga tidak sampai habis. Seperti biasa aku yang menghabiskan.

Untuk es teler juga gituuu. Mereka tidak bisa menghabiskan akhirnya ibunya yang menghabiskan. Hehe..

Karena anginnya cukup kencang dan makanan selesai. Aku segera membayar dan segera kembali ke mobil biar nggak masuk angin. 
Read More
Museum di yogyakarta
Monjali (dok. Pribadi)

Setelah mengantar suami, aku memilih mengunjungi museum di Yogyakarta. Aku sempat searching museum Yogyakarta apa saja. Dan yang paling dekat dengan tempat acara adalah museum  Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Museum Monumen Jogja Kembali

Monjali adalah singkatan  dari museum Monumen Jogja Kembali yang menghadirkan diorama dan pameran tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monjali ini mulai dibangun tahun 1985.

Museum yang berbentuk menyerupai tumpeng ini memiliki tanah seluas 49.920 m2, dengan ketinggian 31,8 meter.

Saat aku telusuri, tidak ada sesuatu hal yang unik untuk dikunjungi selain bentuk museumnya seperti kerucut. 

Setelah aku pikir-pikir, aku harus ke museum ini nih karena dulu Yogya sempat menjadi ibukota Indonesia. 

Lokasi museum Monjali

Monjali berada di Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada di jalan utama sehingga tidak susah dicari tapi memang berada di kawasan yang ramai dan macet. Akses jalannya lebih enak jika kita melewati terabasan biar tidak putar balik. 

Jam buka museum Monjali ini  dari hari selasa  sampai hari minggu dan tutup hari senin dari jam 8 sampai jam 4 sore. Aku tiba di sana sebelum jam 2. Masih ada waktu untuk makan dan mengunjungi museum.

Aku melewati jalan tembusan yang mudah meskipun jalannya kecil. Aku udah membayangkan museumnya ramai. Tempat makan juga ramai.

Tapi aku lupa banget. Ini museum bukan mall yang selalu ramai. Wkwkwk. Pas mau masuk ke parkir mobil, aku agak terheran-heran juga. Fakta di lapangan berbeda dengan ekspektasiku. Tempatnya sepi. 

Tiket Masuk Monjali

Aku menghentikan mobilku di depan loket tiket masuk Museum. Perbincangan dua orang petugas perempuan berhenti. Tanpa keluar dari mobil, petugas itu mendatangiku dan memberitahukan nominal tiket masuk Museum Monjali yang murah seharga 15ribu rupiah.

Aku pun memarkirkan mobil di bawah pepohonan yang rindang. Suasana siang itu benar-benar seperti tanpa ada gairah. Halah. Alias sepi. 

Selain dua mobil pribadi, minibus terparkir di ujung menunggu penumpang masuk ke dalam bus. Saat aku akan parkir, minibus itu siap keluar dari area. Penumpang yang hanya segelintir tampak seperti rombongan dari sekolah. Mungkin kunjungan ke museum sudah selesai. 

Yang paling mengherankan lagi, saat pegawai parkir menagih biaya parkir. Harganya 10ribu, selisih dikit dengan harga tiket masuk. Mau protes tapi kok ga effort lah.

Warung Makan Seadanya

Warung makan di sebelah museum, kukira seperti warung makan biasanya, ternyata hanyalah seperti kios sepetak kecil. Yang dijual seperti gorengan, minuman sachet dan mie cup. 

Tak ada pilihan lain. Sambil menunggu pesanan satu mie cup, aku menunggu di kursi besi di atas akar yang menggembung dari dalam tanah dan membuat meja di depanku miring. 

Warung di monjali

Karena di bawah pepohonan, meja itu penuh dengan bunga berjatuhan. Hewan-hewan kecil kadang melewati di depanku dengan santai.

Aku menikmati tiap suapan kuah indomie cup. Setelah selesai dan membayar, aku segera masuk ke ruangan monjali lewat pintu utama. Dari tempat parkir, akses masuk Museum tidak sulit. Hanya perlu naik dan turun. 

Monjali ini seperti berada di daerah cekungan. Kira harus turun untuk masuk ke museum.

Tembok Pahlawan Yang Gugur

Sebelum memasuki museum, aku menyempatkan memotret daftar nama pahlawan yang gugur saat clash kedua tahun 1948-1949 di wilayah Yogyakarta.

Daftar nama ini diukir dan memenuhi dinding yang panjang dan tinggi.

Pahlawan yang gugur clash kedua 1948
Daftar Nama Pahlawan Yang Gugur (dok. Pribadi)

Arah menuju pintu masuk, aku melihat relief besar berwarna cokelat tentang sejarah masa lalu. 

Relief yang ada di Monjali yaitu relief surat Panglima Soedirman, relief pengambilan sumpah Soedirman, relief Serangan ibukota RI, relief Soedirman naik dokar, relief Serangan 1 Maret, dan relief perundingan Roem-Royen.

Relief sejarah di Monjali

Di sekitar Monjali

Ternyata Monjali ini dikelilingi oleh kolam ikan yang cukup banyak pemancing memancing di sana. 

Selain itu, ada bebek-bebek yang dikayuh untuk mengelilingi kolam. Siang itu tak ada satu pun pengunjung yang menaiki bebek-bebek air itu.

Di dalam sini juga ada Warung makan yang menunya lebih bervariasi. Aku lihat ada menu bakso dan soto. Tempatnya juga lebih nyaman.

Di sekitar juga ada taman dengan permainan anak-anak tapi sepi pengunjung.

Kesan Pertama Masuk Museum

Ketika masuk Museum, aku disambut oleh petugas museum yang masih muda, entah mahasiswa atau peserta magang. Ternyata sudah ada beberapa orang tampang mahasiswa di duduk di sekitar meja. 

Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali)
Pintu masuk Museum Monjali (dok. Pribadi)

Beberapa kali kudengar mereka tertawa-tawa bercanda. Bagiku, candaan mereka membuat suasana museum yang tenang menjadi ramai. Awalnya aku sedikit terganggu tapi lama-lama jadi membantuku.

Aku pergi ke toilet sebentar. Toiletnya lumayan bersih meski agak sempit. 

Museum ini masih konvensional beda kayak museum Gedung Sate Bandung. Sepertinya belum ada inovasi lebih modern untuk menampilkan pameran-pameran. 

Di lantai 1 ini terdiri dari 4 museum (ruangan) yang menampilkan koleksi yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, perang Gerilya dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, peristiwa Serangan Umum 1949, dan koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia.

Museum 1: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ketika aku berjalan menuju museum 1, tampak koridor museum yang sepi, tiba-tiba aku terkejut ada patung kepala sampai dada Pak Harto yang cukup besar di pintu depan menyambut kedatangan pengunjung. Tatapan matanya menghadap depan tapi cukup membuatku menelan ludah. 

Monjali

Begitu masuk ke museum 1, saat mataku menatap patung para pemuda perjuangan dari berbagai pasukan (Heiho, Peta, Laswi, dll) dengan pakaiannya yang khas, tiba-tiba hatiku berdesir. Darahku seperti naik ke kepala.

Heiho Peta di Museum Monjali
Pasukan dengan kostumnya (dok. Pribadi)

Di ruangan itu tak ada orang. Tak ada pengunjung lain. Astagfirullah. Sepertinya aku mulai merinding. Aku nggak pernah masuk Museum sampai merinding begini. 

Ya Allah apakah aku bisa menyelesaikan kunjungan ke museum ini sampai akhir? Apakah aku akan mengalami kejadian aneh-aneh di museum ini?

Mari lanjutkan...

Suara candaan petugas di depan ternyata cukup mengurangi ketakutanku saat memasuki museum. Aku jadi tidak tenang membaca setiap keterangan yang ada di dalamnya. 

Di museum 1 ini aku lumayan lama dan masih berani membaca setiap keterangan pada benda museum.

Ada foto-foto pasukan bambu runcing. Ada barang-barang yang dipakai saat perang dulu seperti guchi, senjata, bekal makan dan minum. Ada miniatur perahu perang. Ada jaket milik pahlawan. Ada kertas berita yang dikirim pakai burung merpati.

Aku pun keluar dari museum 1 (ruangan pertama). Selanjutnya aku masuk lagi di ruangan selanjutnya atau museum 2. Suasana lebih sepi. Suara keramaian mulai terasa jauh. Masih juga tidak ada pengunjung. 

Museum 2: Perang Gerilya

Di museum 2 aku mulai bisa mengendalikan diri. Di museum 2 ini tentang perang gerilya. Foto-foto saat perang gerilya. Wolkie-tolkie saat perang gerilya. Mesin jahit untuk menjahit baju pasukan. Songkok Langenastro juga dipamerkan. Tandu, dokar dan selop milik Panglima Soedirman pun dipamerkan.

Tandu soedirman
Tandu dan selop Panglima Soedirman (Dok. Pribadi)

Museum 3 : peristiwa Serangan Umum 1949

Di museum 3 ini sudah menjauh dari pintu masuk. Dan suara-suara keramaian masih terdengar tapi sudah mengecil. 

Ketika aku memasuki ruangan, aku hampir teriak. Aku melihat diorama di pojok kanan seorang perempuan berambut panjang sedang meniup bara tungku. Kukira ada orang di sana. Atau penampakan 

Aku pun langsung... ya Allah... ya Allah. 

Aku juga mulai nggak konsentrasi. Rasanya pengen cepet keluar dari museum. Wkwk.

Monjali
Beneran hampir teriak lihat ini wkwk (dok. Pribadi)

Ih apa-apan tiba-tiba perasaanku nggak enak begini. 

Museum 4 : koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Negara Republik Indonesia

Di ruangan terakhir di lantai 1 ini aku tidak banyak mengambil foto karena banyak koleksi kerumahtanggaan presiden seperti dipan kasur dan selambu putih, kursi dan meja, dan lain-lain. 

Mon maap aku lihat selambu putih di kasurnya pun agak-agak gimana gituu. Beda pas aku lihat kasur dan selambu putih di museum HOS. Cokroaminoto.

Perpustakaan

Ternyata di museum ini juga ada perpustakaannya. Sepertinya buku-buku yang tersedia juga berkaitan dengan sejarah-sejarah kemerdekaan atau setidaknya sumber pustaka dari koleksi yang ada di museum ini.

Perpustakaan di Monjali
Perpustakaan di Monjali (dok. Pribadi)

Spot Foto Berbayar

Di museum Monjali banyak tempat spot foto berbayar yang disediakan pihak museum seperti foto bersama Soekarno dan Soedirman, foto bersama meriam, dll. Kalau tidak salah bayar 10ribu atau 5ribu gitu.

Museum Monjali
Spot Foto Berbayar Di Monjali (dok. Pribadi)

Pameran lukisan

Di koridor antara dua ruangan (museum 3 dan 4 kalau tidak salah) terdapat pameran lukisan dari berbagai pelukis. Karena aku bukan penikmat lukisan jadi aku hanya melihat lukisan-lukisan itu sekilas.

Di koridor ini pencahayaannya lebih terang. Anehnya justru di sini aku bisa lebih tenang dan tidak waswas. Hehe.

Pameran lukisan di Monjali Yogyakarta
Pameran Lukisan Di Monjali 

Melihat Diorama Sendirian? 

Nah di lantai 2 ini khusus diorama. Masalahnya aku sempat maju mundur. Mau neruskan kok agak ngeri ya. Haha. 

Tapi akhirnya aku maju ajalah. Sambil baca ayat Kursi. Ya Allahhhh...

Diorama di Monjali
Diorama perang (dok. Pribadi)

Setiap diorama ada rekaman suara perjuangannya. Dibilang takut juga nggak karena jadi ramai. Tapi koridornya sepi banget. Duh. Sepanjang jalan pengen cepet selesai. Kok kayak panjang bangeet. Haha. Aku cuma foto dan video aja lah. Agak creepy juga sendirian. Haha.

Mengenang Jasa Pahlawan di Lantai 3

Di lantai 3 ini di mana bagian gedung semakin megerucut ke atas. Tak ada koleksi yang dipamerkan tapi hanya ruang kosong untuk mengirim doa kepada para pahlawan. 

Hanya ada tiang bendera dan ukiran timbul tangan di kanan dan kiri. 

Berani Pergi ke Museum Monjali Sendirian? 

Cukup sekali ya aku pergi ke museum Monjali. Sendirian pula. Hahaha. Serius aku jadi penakut gitu. Padahal juga biasanya cuek aja tapi ini entah kenapa takut bet.

Ya Rabba. Kalau kalian nggak takutan sih nggak apa-apa. Aku tiba-tiba jadi takut gituu. Ya Allah... 

Sebenarnya banyak sih pengetahuan baru tiap ke museum. Aku jadi tahu kondisi zaman dulu saat perang gimana. Tapi please.. gimana ya biar dibikin nggak terlalu serem. Apa karena sepi ya jadi kayak serem gitu. 

Mungkin kalo aku ke Museum Gedung Sate sendirian juga bakal takut kali ya.

Eh apa ternyata aku ini dasarnya penakut??? Apa momen creepy kalian saat ke museum? 

Yaudahlah mari kita nikmati bebek-bebek tanpa penumpang di kolam Monjali ini. Menghibur diri dan menenangkan diri. Memberi selamat pada diri bahwa tak ada kejadian aneh-aneh di dalam museum. Haha.

Monjali dan bebek air



Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower