Perjalanan kami di Solo akhirnya singgah juga di Masjid Agung Kraton Surakarta. Alasan kami tentu saja karena kami belum menginjakkan kaki di salah satu masjid tertua di Solo. Beberapa kali lewat sini bukan masuk waktu sholat.
Dulu, aku sudah pernah sholat di masjid Kraton Solo ini. Saat itu masih mahasiswa. Sebenarnya tak ada perbedaan yang spesifik. Suasana masjid Kraton Solo itu masih sama.
Kejauhan parkir mobil
Kami sama-sama tidak paham di mana harus parkir mobil karena kondisinya jalanan macet. Takut nggak keburu, kami memarkirkan mobil di seberang alun-alun Lor (utara) Surakarta.
Memang jalannya jadi jauh, kami harus menyeberangi alun-alun dulu apalagi tidak boleh sembarangan menerobos rerumputan. Ada papan larangan menginjak rumput. Jadi kami harus memutar melewati jalan yang sudah disediakan.
Alun-alun Lor hanya rerumputan dan pepohonan di tengahnya. Tidak ada pengunjung. Berbeda deegan alun-alun Kidul (selatan) yang lebih ramai dan banyak penjual street food di pinggirnya. Alun-alun kidul ini juga sering disebut dengan Alkid.
Anak kami sepertinya lelah berjalan kaki dan meminta gendong ayahnya. Meskipun tampaknya masjid di seberang tidak terlalu jauh, jalannya juga lumayan jauh. Hehe.
Tampak gapura masjid yang tinggi. Di depan gapura, ada halaman yang cukup luas di mana mobil bahkan bus bisa parkir.
Walah, ternyata ada tempat parkir tepat di depan masjid. Kita aja ngga tahu lokasinya.
Masjid Agung Solo, Pusat Syiar Agama Islam
Masjid Agung Kraton Surakarta ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1763 oleh Sunan Paku Buwono III. Lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan (Kraton), sosial (alun-alun), ekonomi (pasar Klewer) dan kebudayaan. Bisa dibilang masjid ini merupakan masjid kerajaan karena tak hanya digunakan untuk ibadah tetapi juga untuk kegiatan kerajaan yang berkaitan dengan agama.
Upacara budaya yang berkaitan dengan agama dan biasa digelar di Masjid Agung Solo seperti Garebeg (Sekaten/Mulud, Syawal/Grebeg Poso, dan Grebeg Besar) dan Malam Salikuran. Grebeg Mulud saat Maulud Nabi, Grebeg Poso saat idul Fitri dan Grebeg besar saat Idul Adha.
Di alun-alun Kidul pula sering diselenggarakan kirab Kebo Bule jelang malam satu suro dan Sekaten Solo (pasar malam). MaasyaAllah kebayang rame banget kalau udah acara budaya itu.
Sejarah Masjid Agung Surakarta ini sangatlah panjang. Di zaman dulu, masjid ini menjadi pusat syiar agama Islam.
Luas masjid ini sekitar 19.180 meter persegi. Dengan luas tersebut, masjid ini memiliki beberapa fasilitas yang terus mengalami perkembangan fungsi dan bentuk.
Gapura Masjid
Kami melewati gapura putih tinggi bergaya Timur Tengah yang polos. Gapura ini memiliki tiga pintu. Satu pintu utama di bagian tengah dan dua pintu lainnya yang lebih kecil di sebelahnya. Di bagian atas ada jam bulat kecil.
Gapura utama ini menghadap ke arah alun-alun Lor. Dua gapura lainnya memiliki ukuran lebih kecil di sisi lainnya.
Kehadiran gapura ini seolah membatasi pandanganku arsitektur masjid Agung. Aku baru bisa memotretnga setelah melewati gapura.
Arsitektur Masjid
Dari depan, atap bangunan Masjid Agung Solo ini berbentuk tajug tumpang tiga yang mengerucut yang biasa dijumpai pada bangunan masjid tradisional Jawa. Bagian ujung atap tidak berbentuk kubah seperti di masjid Timur Tengah. Di bagian tengah, tempat pintu masuk masjid.
Masjid ini memiliki serambi yang luas dan memiliki lorong yang menjorok ke depan. Pagar-pagar setinggi satu meter mengelilingi masjid.
Sepanjang jalan masuk ke masjid, lampu hias tradisional Jawa berwarna biru berdiri di sisinya.
Aku melewati serambi dan menuju ke ruang wudhu perempuan di sisi kiri atau disebut pawestren. Sementara suami dan anak mencari tempat wudhu pria di sisi kanan.
Di ruangan wudhu ini cukup besar dan ramai. Kamar mandinya banyak dan sedikit tercium aroma kamar mandi, hehe. Di bagian tempat wudhu masih dipertahankan keasliannya karena di bagian tengah adalah penampungannya kemudian dialirkan ke kran-kran yang ada di pinggirnya.
Sebuah pipa mengalir masuk ke tempat penampungan tersebut.
Aku pun segera sholat di tempat khusus perempuan yang masih bergabung dengan bangunan masjid tetapi tetap tertutup dari bangunan utama sehingga tidak terlihat oleh pria.
Setelah selesai, aku segera menemui suami di serambi depan tapi aku tidak menemukannya.
Aku menyempatkan mengintip sedikit dari depan pintu tempat sholat pria. Pintu-pintu yang terbuat dari kayu ini banyak. Hanya saja yang terbuka cuma dua kalau tidak salah.
MaasyaAllah tempatnya adem, tenang, dan khas bangunan masjid Jawa. Didominasi kayu, lampu sedikit redup, di tengah ada lampu gantung yang tampak mewah.
Di serambi masjid, tiang-tiangnya tampak sederhana tanpa ukiran, tidak seperti tiang serambi di Masjid Agung Yogyakarta, yang memiliki ukiran-ukiran berwarna emas. Di beberapa bagian atap, terdapat lampu gantung jadul.
Lantai keramiknya pun masih pakai keramik lama semakin menambah kesan tradisional.
Menara masjid
Dari jauh sudah tampak menara masjid yang dibangun jauh setelah masjid selesai, yaitu sekitar tahun 1901. Menara ini tampak berbeda dari menara yang ada di Masjid Pura Mangkunegaran atau di Masjid Al-Akbar yang modern.
Pada masjid Agung Solo, menaranya memiliki garis-garis simetris, pintu masuknya berbentuk melengkung.
Sebenarnya pembangunan menara ini tidak ada dalam arsitektur masjid tradisional Jawa, tetapi pengaruh dari Timur Tengah, India, dan Persia. Menurut beberapa sumber, menara ini bergaya menara India, terinspirasi dari Qutb Minar.
Jam Istiwak
Yang menarik, di masjid ini ada jam istiwak untuk menentukan waktu sholat dari pergerakan matahari. Jam istiwak sudah ada sejak tahun 1757. Jam ini dianggap lebih akurat daripada jam konvensional. Sayangnya, kalau matahari tidak muncul karena mendung maka susah untuk menentukan waktunya.
Menerobos Gerimis
Langit mulai gelap, sepertinya akan hujan deras, sementara kami harus melewati alun-alun lagi.
Masjid masih ramai dengan pengunjung. Aku mencari suami diantara keramaian orang-orang. Ternyata suami sudah keluar masjid dari tadi. Ia memanggilku agar segera kembali ke mobil.
Aku masih penasaran dengan bangunan lainnya di sekitar masjid. Aku sempat melihat bangunan takmir di samping masjid dan beberapa bangunan lainnya. Bentuknya masih jadul.
Aku melewati halaman masjid. Angin berhembus cukup kencang. Mulai rintik-rintik dan aku segera berlari.
Aku, suami dan anakku harus berlarian di tengah alun-alun menerjang gerimis. Begitu masuk ke dalam mobil, hujan langsung jatuh seperti pintu yang jebol. Begitu deras.
Alhamdulillahhhh. Nggak sampai kehujanan.


































