Sebagai negara maritim, salah satu hal yang sayang sekali untuk dilewatkan adalah mengunjungi ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sejak lama memang aku menginginkan pergi ke tempat yang menjual berbagai macam hasil laut tersebut. Lebih tepatnya, semenjak suami mengirimkan foto sedang makan bersama temannya di warung dekat TPI, aku begitu tergugah tapi belum juga pergi ke sana. 


Sebenarnya sebelum diajak temannya suami, sebut saja Mas R, dia pernah memberitahu kalau di daerah Kalanganyar ada pasar yang menjual ikan murah dan segar. Kami diberitahu ancer-ancernya. Ternyata di sana kami bingung dimana tempatnya. Karena tempatnya malah menjauh dari pasar Kalanganyar. Akhirnya, kami berhenti di rumah makan Latarombo. Dan memilih makan di sana. Setelah diajak Mas R, kami jadi tahu tempatnya dan masih jauh dari Latarombo. 


Baca juga : Rumah Makan Seafood Gubuk Latarombo, Sidoarjo


Ketika suami ingin makan lobster, tanpa banyak pikir, aku menanyakan kapan kesana setelah suami menyelesaikan tanggung jawabnya mengurus mahasiswanya lewat daring. Berangkatlah kami Jumat pagi yang sudah beranjak siang (sekitar jam 8 pagi).


Perjalanan menuju ke sana disuguhkan dengan pemandangan yang jarang kutemui. Pemandangan tambak di kanan kiri begitu menyenangkan. Para petani garam juga sedang sibuk panen di tambak. Meski jalanan cukup jelek, berdebu dan tidak lebar, tapi aku begitu menikmatinya. Mungkin karena pemandangan tambak yang bagus.


Jam delapan pagi di daerah pesisir memang terik sekali. Panas kering. Alangkah baiknya kalau mengunjungi tempat -tempat itu kalian bisa menggunakan kacamata hitam, topi, dan masker.


Perjalanan kami pun hanya memakan waktu 20 menit dengan mobil. Dari rumah makan Latarombo masih terus saja kemudian bertemu pertigaan belok kiri melewati jembatan kecil. Nah itu, jalan masih terus mengikuti jalan utama bertemu tambak di kanan kiri sampai bertemu gapura selamat datang tidak sampai masuk gapura tapi belok ke kanan. 


Tibalah kami di TPI Sidodadi Juanda yang beralamat di Jl. Tambak Cemandi No.1, Gisik Cemandi, Kec. Sedati, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Oiya, lokasi ini dekat sekali dengan Bandara Juanda. Jadi kalau pesawat mau mendarat terlihat banget di kanan kiri tambak yang membentang luas termasuk TPI ini. 




Tempat parkir mobil luas, masih tanah dan minim pohon teduh sangatlah lowong. Alias tidak banyak pengunjung. Maklum saat itu sedang hari Jumat sedangkan kalau weekend tempatnya ramai sekali.


Aku melihat pasar masih sepi dari pengunjung, termasuk penjual yang membuka lapaknya. Beberapa orang duduk-duduk saja seolah ada yang ditunggu. Aku langsung mendatangi lapak paling depan. Penjual itu tidak hanya menjual lobster tapi juga kerang, udang, kepiting, dan ikan.



Untuk harganya jangan kaget ya! Harga lobster 175 ribu rupiah per kilo. Isinya 4 lobster yang sedang dan 1-2 lobster yang besar. Bagi sebagian orang menganggap ini mahal, tapi bagi sebagian lainnya akan mengatakan itu murah sekali. Ya, sangat tergantung apa yang kita bandingkan. Dulu, kukira membeli ikan di TPI itu harus ada pembelian minimalnya. Ternyata tidak.


Setelah mendapatkan lobster yang diinginkan suami, aku pun berkelana masuk ke dalam pasar. Sayangnya, banyak meja-meja yang kosong. Aku mencari gurame tapi yang banyak malah orang yang berjualan ikan asin, bandeng, mujaer, dan ikan yang panjang itu (lupa namanya). Sempat tanya ke beberapa orang, mereka hanya menjawab tidak. Akhirnya aku keluar dari pasar.


Tak jauh dari pasar, aku mendatangi warung yang menyediakan jasa bakar. Sebenarnya ada rasa lain juga misal asam manis atau lada hitam. Tentu, harganya juga berbeda. Aku hanya meminta bakar saja. Harganya juga dihitung per kilo. 



Tak hanya jasa bakar ikan, di warung itu juga disediakan ikan bakar dengan harga yang tentunya lebih mahal. Karena aku tidak mendapatkan gurame, jadi aku memesan ikan gurame bakar di san saja. Eh ternyata kehabisan. 


Aku disuruh membeli ke toko menjual ikan fresh yang menyeberang jalan utama. Namun, seorang pengunjung yang juga ingin meminta bakar ikan mengatakan padaku kalau di pasar ada yang menjual gurame. Dengan baik hati, dia menunjuk tempat orang yang berjualan gurame di TPI.


Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke pasar, ke lapak yang ditunjukkan dari jauh tadi. Ternyata gurame yang dijual masih dimasukkan dalam box es yang besar. Pantas saja aku tidak tahu. Dan harganya juga lebih murah ketimbang di tukang sayur yang biasa aku beli. Harga gurame Rp. 35.000 per kilo sudah dibersihkan sama orangnya.




Aku kembali lagi ke warung dengan membawa dua kilo gurame. Isinya 3 ukuran sedang dan 2 ukuran besar. Murah banget untuk makan bersama keluarga besar. 



Ikan dan lobster siap bakar


Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk membakar semua ikan dan lobsterku. Dan hasilnya juga dibungkus dengan daun pisang biar sedap. Kalau mau makan di sana juga bisa. Tentu harganya juga tambah untuk nasi dan minum.


Menurut Mas R, kalau datang ke sana pas weekend, orang yang datang ke sana banyak. Yang antri membakar ikannya juga banyak. Bahkan kalau datang sore hari dan saat antri banyak, kemungkinan besar akan ditolak.


Lobster bakar


Meski kekurangan TPI Sidodadi Juanda adalah tempatnya yang menurut saya perlu perbaikan agar pengunjung dan penjual juga nyaman, tapi aku senang berkunjung ke TPI ini karena harganya yang murah, produk hasil lautnya yang segar dan pilihannya juga tidak semua tersedia di pasar umum.



Dan recommended banget buat makan dengan personil yang banyak. Menurutku rasanya juga enak. Kalau untuk anak-anak, lobster bakarnya sedikit lebih pedas sedangkan ikan bakarnya tidak pedas. Serunya ajak anak-anak kesini adalah banyak perahu yang bersandar di sungai samping TPI.






Read More

Pada bulan Desember 2019, virus corona atau coronavirus deasease (Covid-19) muncul pertama kali di Wuhan, Cina Pemberitaan itu emmbuat heboh seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus itu menyebar begitu cepat dan membuat banyak orang mati karenanya. Yang paling membuat bergidik, saat penayangan video beberapa orang di Wuhan yang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh dan meninggal. Dan itu terjadi pada banyak orang di Wuhan. 

Berita selanjutnya dari Italia, dimana banyak orang yang meninggal karena virus corona. Maklum di Italia banysk sekali penduduk berusia senja yang rentan dengan virus itu. Negara Italia di lockdown. Nggak ada yang bisa masuk dan keluar dari negara itu. Juga Taiwan, Singapura, dan negara lain.

Apa yang terjadi setelah itu?

1. Pemberitaan tak pernah berhenti

Setelah itu, pemberitaan tentang corona tak pernah berhenti. Informasi tentang jumlah kematian orang yang terkena corona terus meningkat. Semua jadi waspada, mungkin lebih tepatnya takut. Semua tahu ciri-ciri terkena corona adalah demam 38°C, batuk, sesak nafas, namun ternyata gejalanya tidak hanya itu saja. Diare, infeksi pencernaan juga katanyaa bisa disebabkan oelh corona. Huft.

2. Status pengidap corona

Kukira pengidap corona hanya satu disebut pengidap corona saja. Nyatanya tidak. Ada banyak status seperti PDP, ODP, dan OTG. Dan yang menyusahkan adalah pengidap OTG yang dinyatakan positif setekah ikut tes tapi dia tidak merasakan gejala apapun. 

3. Lockdown, WFH, WFO, SFH.

Aktifitas negara lumpuh. Bandara, pelabuhan, akses keluar negeri dan masuk ditutup. Semua disarankan stay at home saja sampai-sampai hashtag itu menjadi trending di media sosial. Kita tidak boleh keluar rumah, bekerja dan sekolah di rumah. Lingkungan rumah di lockdown, alias tidak ada yang boleh keluar rumah selama 40 hari. Yang terpaksa bekerja di luar rumah harus punya keterangan surat dari tempat bekerja dan surat domisili. Karena ketika di lockdown, lingkungan hanya dibuka satu pintu itupun jam 9 malam sampai jam 4 pagi ditutup. 

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Meskipun tetap saja masih ada orang yang berkeliaran di jalan. Di Sidoarjo, di dekat rumahku, jalanan cukup sepi dari aktivitas orang.

Sampai bulan September 2020, sekolah-sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pembelajaran dilakukan secara daring. Beberapa perkantoran sempat dilakukan Work From Home (WFH) meski pada akhirnya pekerjaan tetap dilakukan di kantor (WFO).

4. Cafe, Mall, ditutup

Pemerintah mengeluarkan edaran agar aktifitas bukan primer ditutup, seperti Mall dan Cafe. Kebayang berapa kerugian yang didapat oleh owner dan vendor. Tidak ada lagi orang yang 

5. Banyak orang kehilangan pekerjaan

Akibat aktivitas di luar rumah berkurang, banyak pengusaha mengalami kerugian. Dan pastinya banyak karyawan yang akhirnya kehilangan pekerjaan.

6. Kewajiban Memakai Masker dan Cuci Tangan

Pada akhirnya, masker menjadi barang yang dicari-cari karena himbauan pemerintah untuk memakai masker saat keluar rumah. Karena virus corona akan cepat berpindah melalui kontak secara langsung.

Begitu juga dengan hand sanitizer yang sempat langka karena banyak orang yang memborongnya karena dianggap Corona akan mati jika terkena alkohol yang ada di dalam kandungan hand sanitizer. Sebagai gantinya, sabun menjadi alternatif bila tidak memiliki hand sanitizer. 

Jadi penggunaan masker dan cuci tangan saat sampai rumah seperti menjadi gaya hidup saat ini. Alias menjadi kebiasaan. Bahkan orang yang baru sampai di rumah setelah melakukan keperluan di luar rumah disarankan untuk cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian.



Bayangkan,  bagaimana omset usaha masker, sabun dan hand sanitizer di masa pandemi? seolah berkah, pendapatan mereka menjadi meningkat. 

7. Sering di rumah, suntuk melanda

Kupikir akan banyak orang stres selama pandemi ini. Aku membayangkan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tapi harus tetap menghidupi keluarganya, apalagi sekolah daring yang membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Aku saja yang memang selalu di rumah, di masa pandemi ini, aku tidak kemana-mana. Sampai akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan New Normal, aku masih merasa tidak bisa dengan leluasa pergi kemana-mana. Meskipun aku tetap berkunjung ke rumah eyangnya anak-anak sebelum itu dan pergi ke pantai satu kali. Itu juga tiap ngelihat orang bawaannya serem aja.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama masa pandemi ini. 


Read More

Follower