Dunia Siniar

"You are never too old to set another goal or to dream a new dream."

- C. S. Lewis

 

Rasanya hatiku langsung tergugah ketika membaca quote itu. Tergugah untuk mewujudkan keinginan lama yang pernah terlupakan bertahun-tahun lamanya. Mungkin bukan keinginan yang persis seperti dulu lagi. Setidaknya di dunia yang sama.


Sejak SMA, aku sangat suka sekali mendengarkan radio. Suara penyiar yang merdu kadang membuatku iri. Namun, keinginan itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak perlu diseriusi untuk dilanjutkan. Aku tahu orang tua mungkin kurang setuju jika aku memilih menjadi penyiar. Aku sadar diri juga kalau suaraku kadang terdengar cempreng. Meskipun begitu, aku selalu saja menjadi pembaca UUD'45 bahkan sejak masih SD hingga SMA. Apakah itu adalah pertanda suaraku memang terdengar merdu? Ah! Aku terlalu pede!


Ketertarikanku dengan dunia broadcasting membuatku membeli buku tentang pekerjaan penyiar radio. Lagi-lagi, buku itu hanya berakhir di rak buku. Aku tidak ada keberanian untuk mewujudkannya.


Suatu siang, ketika aku baru menjadi mahasiswa baru di Fakultas Teknik, aku sedang duduk bersama teman satu kelompok yang berbeda jurusan untuk mengerjakan tugas. Tiba-tiba seorang teman heran dengan kecerewetanku. Mungkin aku terlalu sering mengoceh sampai telinganya seperti dijejali kertas-kertas. Sumpek. Mungkin itu adalah kata yang tepat.


Iseng saja aku berkata, "Sebenarnya aku tertarik dengan penyiar radio." Keinginan itu terucap begitu saja tanpa pikir panjang.


"Oh, pantes!" ujarnya. Aku sedikit terkejut. Pantas suaraku bagus atau pantas aku cerewet? Haha. Mungkin lebih tepatnya karena aku bercerita panjang dan lebar tanpa jeda.


Tahun demi tahun berganti. Tugas kuliah yang padat membuatku tidak lagi berjumpa dengan temanku itu. Hingga akhirnya, dia menanyakan keinginanku itu apakah sudah terwujud? Aku sempat lupa beberapa saat kemudian dia mengingatkanku. Lantas aku tertawa. Kuanggap keinginanku itu tidak serius. Rupanya dianggap serius sama dia.


"Sudah. Sudah. Nggak serius itu," jawabku kala itu.


Sekarang, membaca quote di atas, aku tersadar bahwa tak ada kata terlambat untuk mewujudkan impian dan tujuan yang ingin dicapai. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk mewujudkan itu?



Mengingat, kondisi sekarang yang sudah berumah tangga dan memiliki dua buah hati berbeda dengan dulu yang masih single dan mudah untuk melakukan mobilisasi kemana saja dan kapan saja. Aku tidak mungkin lagi menjadi penyiar radio karena selain kondisi tersebut usiaku pun sudah terlambat. Tapi, apakah benar-benar terlambat terjun di dunia suara? Sepertinya tidak juga. Mari kita lihat kisahku selanjutnya.

 

Awal Mula Berkarya di dalam Dunia Siniar

Perkembangan dunia siniar saat ini semakin pesat dibarengi kemajuan teknologi. Apalagi para pendengar siniar rata-rata adalah anak muda usia 20-35 tahun. Content Creator di siniar juga semakin berkembang.


Tahun 2020 kemarin aku melihat sebuah pengumuman di media sosial tentang kelas Podcast buat pemula dari Siberkreasi. Aku pun teringat dengan keinginan lawasku itu. Meski aku tidak mungkin menjadi penyiar lagi, kusadar diri usia dan kemampuan tidak nutut. Jadi aku menganggap ini kesempatanku untuk menyalurkan hobiku dalam 'bersuara'.


Karena aku belum tahu apa-apa tentang dunia siniar, maka aku mendaftar kelas Podcast Siberkreasi Batch 2 yang bekerja sama dengan Kemenkominfo tersebut. Tujuannya tak lain agar aku bisa lebih aham dengan dunia siniar.


Ternyata, ilmu tentang dunia siniar bagi orang baru sepertiku begitu banyak. Materi diberikan sekitar dua kali pertemuan selama tiga bulan. Senang rasanya bisa mengikuti kelas tersebut karena aku jadi tahu banyak hal tentang dunia siniar.


Aku jadi tahu bagaimana persiapan rekaman dengan membuat script, pembagian season dan episode, teknik merekam dengan ponsel atau dengan mic, alat-alat apa saja yang biasa dipakai untuk rekaman, teknik auditing audio dengan aplikasi di ponsel atau di PC, dan cara memublikasikan di Anchor, editing sampul, monetisasi, bahkan sampai branding suara kita.


Belum sampai disitu, Siberkreasi menyelenggarakan lagi Master Class podcast. Tak ingin melewatkan, aku ikut mendaftar.


Aku bisa menyimpulkan sebenarnya lingkup podcast lebih luas dibanding blogging. Podcast itu sebenarnya blogging yang disuarakan. Itu menurutku sebagai podcast pemula ya.


Bedanya, blogging itu ditulis dan podcast itu direkam. Semua sama-sama membutuhkan perangkat untuk editing. Kalau blogging memerlukan editing gambar dan video untuk mendukung isi konten. Sementara kalau podcast membutuhkan editing audio, gambar, audiogram dan bisa juga video singkat hanya untuk promosi podcast.


Blogging juga perlu platform untuk menulis, bisa Wordpress atau Blogger. Sementara podcast perlu platform seperti Anchor.fm yang bisa memublikasikan hasil rekaman, membuat episode, mengedit audio, menambah latar musik, dan personalisasi akun podcast kita.

 

Siniar : Inovasi Media Berkarya di Era Digital

Karena podcast termasuk dunia suara, jadi podcast itu sebenarnya hampir mirip dengan radio. Hanya saja podcast itu bisa didengarkan secara on-demand dengan aplikasi kapan saja dan dimana saja. Podcast itu bisa didengarkan sambil beraktivitas lain dan bisa jadi pengisi kebosanan ketika sedang menunggu sesuatu, seperti di tengah kemacetan atau menunggu antrian.

 

Kenapa sih Memilih Podcast?

Nah, kenapa sih aku memilih podcast sebagai ruangku untuk berkarya?


1. Mencoba hal baru. Aku termasuk orang yang kalau penasaran dengan hal baru ingin mencoba. Dunia siniar ini termasuk hal baru buatku. Hanya pernah mendengarkan beberapa episode tapi tidak pernah tahu bagaimana cara membuatnya. Harapanku, pengalamanku tentang podcast bisa lebih baik.


2. Hobi. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya kalau aku tertarik dengan dunia "suara", bukan dunia tarik suara seperti menyanyi ya! Senang saja rasanya berceloteh dengan gaya ala penyiar radio meskipun suaraku tidak sebagus penyiar radio. Rasanya pas ya dengan statusku saat ini sebagai emak-emak yang suka mengomel. Bagus deh kalau aku ngomel-ngomel pakai intonasi ala penyiar radio. Sekalian latihan, kan! 


3. Menambah jaringan pertemanan. Menjadi podcaster tentunya akan terhubung dengan jaringan pertemanan yang lebih luas. Dari jaringan pertemanan ini setidaknya aku bisa belajar mengolah suara karena mendengarkan suara-suara para master di podcast. Belum lagi jika tergabung dalam komunitas maka ada saja program untuk pengembangan diri, seperti review podcast kita dari para masternya, mengikuti challenge bersuara, dan lain sebagainya.


4. Menambah ilmu dan pengalaman. Jelas sekali ini ilmu dan pengetahuan tentang podcaster akan bertambah ketika kita masuk ke dalam dunia siniar. Pengalaman pembuatan script, rekaman, editing audio, audiogram dan lain sebagainya adalah hal yang sangat baru buatku.


5. Dekat dengan pendengar. Karena produk dari podcast ini adalah audio atau suara kita jadi seolah-olah podcaster dan pendengar itu tidak ada jarak. Seperti memiliki kedekatan yang erat. Meski tak bertatap muka namun terasa sedang duduk bersebelahan dan bercerita tentang banyak hal.


6. Bisa monetisasi. Sebenarnya poin ini bukan menjadi hal utama buatku. Hanya saja jika podcast-ku bisa dimonetisasi kenapa tidak? Oiya, monetisasi ini tidak melulu untuk mendapatkan uang ya, tetapi juga mendapatkan sebuah produk untuk direview. Sesuatu yang kita peroleh ketika mengembangkan podcast. Dan karena aku baru sekitar 30 episode jadi aku belum monetisasi. Belum maksimal sih. Ah! Semoga setelah ini bisa dimonetisasi.

 

7. Sebagai media pembelajaran untuk milenial. Salah satu tujuan terakhirku adalah podcast bisa menjadi media pembelajaran untuk milenial dan membuka pikiran tentang suatu fenomena. Sebenarnya aku juga tidak ingin podcast-ku terlalu berat untuk didengarkan tetapi ada entertain dan edukasinya. Karena kalau sasaran anak milenial yang suka dengan acara hiburan, jadinya tujuan media pembelajaran yang kaku akan sulit diterima. Makanya aku masih berusaha membuat podcast dengan tema yang ringan dan bisa diterima.

 

Alasan Memilih Podcast
Alasan Memilih Podcast

Terjun Langsung ke Dunia Siniar

Tak perlu waktu lama setelah kelas Master selesai, aku mulai merancang apa yang aku jelaskan di podcast. Belum sempat melakukan rekaman, komunitas The Podcasters Indonesia yang menyelenggarakan dua kelas podcaster mengadakan tantangan 30 Hari Bersuara.


Ah, kesempatan nih untuk mengisi konten podcast! Pikirku waktu itu. Namun, tetap saja ada terbersit dalam kepala, "Apakah aku yakin bisa melewati tantangan 30 Hari Bersuara? Mengingat 30 hari adalah waktu yang cukup panjang. Aku pernah mencoba menulis setiap hari menulis saja selalu ada yang bolong, apalagi ini bersuara yang aku tidak pernah terjun langsung ke dalamnya.


Kira-kira aku bisa nggak ya? Yakin anakku nggak keteteran? Kerjaan lain juga nggak keteteran? Terus kapan aku harus podcast? Pastinya malam hari saat semua sudah tidur. Apa aku bisa menahan kantuk malam-malam demi rekaman?


Setelah mencoba menjawab pertanyaan itu dan antisipasi semua yang mungkin terjadi, akhirnya aku mendaftarkan diri untuk mengikuti challenge 30 Hari Bersuara dari The Podcasters Indonesia. Yeay!

 

 

Persiapan Produksi Podcast

Aku sempat menganggap produksi podcast itu susah sekali. Namun, aku coba membuatnya. Banyak persiapan yang kulakukan sebelum produksi podcast.


1. Menentukan nama dan niche podcast

Menentukan nama dan niche podcast ini termasuk cukup sulit karena nama podcast lebih baik yang mudah diingat dan niche yang tidak biasa. Ada beberapa pilihan niche waktu itu, seperti parenting, literasi, sastra atau fiksi, ataukah tentang latar pendidikanku dalam bidang perencanaan kota? Aku memutuskan mengambil sesuai latar pendidikanku. Alasannya sih agar aku tidak sampai melupakan ilmu yang aku dapat.


Tapi apakah akan ada yang mendengar? Mengingat aku ingin tujuan podcastku itu menghibur tapi juga mendidik, tidak berat dan dekat dengan keseharian, apalagi usia milenial (sekitar 20an) yang lebih banyak mendengar podcast.


Aku sempat bingung dengan niche podcast yang mau aku buat. Memang sih bisa saja kalau gado-gado tapi katanya lebih baik podcast memiliki niche khusus. Akhirnya aku membuat nama Kotakatalita dengan niche perkotaan atau segala hal yang ada di kota dan desa.

 

2. Install aplikasi pendukung podcast

Beberapa aplikasi yang aku gunakan untuk podcast adalah Anchor.fm, Spotify, Audilab, Canva, Headliner. Untuk merekam suara sebenarnya bisa menggunakan Anchor.fm, tetapi kurang leluasa jadi aku menggunakan perekam suara yang sudah tersedia di ponsel. Untuk mengedit audio atau hasil rekaman, aku memakai Audilab.


Sebenarnya aku mau mencari aplikasi Audicity versi ponsel atau paling tidak mirip Audicity di PlayStore jadi bisa menambah audio di layer kedua dan ketiga kemudian bisa diedit volumenya ketika aku ada suara sedang berbicara. Namun, ternyata sangat susah sekali mencarinya karena Audicity ini hanya bisa digunakan di PC. Dan, Audicity ini salah satu software yang direkomendasikan saat ikut kelas podcast Siberkreasi.


Mencari aplikasi editing audio di Play Store ini juga cukup lama karena aku harus mencari yang tidak berat di ponsel tapi punya fitur yang cukup dasar seperti cut, mix, trim, dan efek. Bolak-balik aku instal dan uninstall aplikasi dari Play Store karena banyak yang tidak cocok. Akhirnya, aku menemukan Audilab. Memang sih sedikit terpisah-pisah untuk editing, tapi lumayan lah untuk edit audio.


Aku juga menginstall Spotify Lite yang lebih ringan dibanding Spotify untuk mendengar podcast. Setelah kita mengunggah hasil edit rekaman kita di Anchor.fm, maka secara otomatis podcast kita akan muncul di Spotify, Google Podcast, Breaker, PocketCasts, dan Radio Public.


Sedangkan saat editing gambar sampul episode podcast aku pakai Canva yang memiliki banyak template gratis dan menarik. Tidak cuma itu, aku menginstal Headliner untuk membuat Audiogram yang bisa memunculkan gelombang suara kita pada sebuah gambar. Audiogram ini pas sekali untuk promosi episode podcast kita di media sosial seperti Instagram.

 

3. Membuat akun Podcast

Mungkin banyak yang bingung bagaimana caranya membuat podcast? Sebelum melakukan rekaman, maka kita harus punya akun podcast dulu. Membuat akun podcast ini bisa dilakukan di Anchor.fm. Tinggal masukkan saja nama podcast, deskripsi podcast, kategori podcast dan bahasa podcast.

 

4. Mempersiapkan perlengkapan podcast

Membuat podcast tentu aku harus mempersiapkan perlengkapan yang memadai. Karena aku hanya memiliki alat yang terbatas maka aku cuma menggunakan ponsel saja. Sedangkan kalau lihat podcast-podcast senior, alat-alat mereka begitu komplit, seperti:

- Microphone

- Pop filter

- Audio Interface

- Headphone

- Digital Audio Workstation

- PC

 

Memulai Produksi Podcast

 

Setelah persiapan selesai, aku juga melakukan beberapa hal hingga podcast Kotakatalita siap diperdengarkan kepada khalayak.


1. Pembuatan Script

Oiya, awalnya aku membuat trailer untuk menjelaskan secara singkat tentang podcast yang aku beri nama Kotakatalita. Podcast yang bercerita tentang segala hal yang ads di kota dan desa.  Sebelum rekaman trailer, aku membuat script.


Sempat salah berkali-kali. Aku tulis ulang lagi. Rekaman berkali-kali. Ternyata prosesnya memang tidak gampang. Apalagi tidak terbiasa berbicara dengan intonasi yang menyenangkan. Akhirnya aku sudahi saja membuat trailer. Mungkin nanti aku akan merekam ulang lagi.


Aku mulai berkonsentrasi dengan challenge 30 Hari Bersuara. Aku membuat script di siang hari sesuai dengan tema yang sudah ditentukan. Script yang aku tulis berupa paragraf lengkap alias bukan berupa poin-poin. Alasannya karena aku belum terbiasa berbicara tanpa teks. Ngomong sendiri dengan poin-poin itu membuatku khawatir tidak akan bisa ngomong.

 

2. Proses Rekaman

Nah, ini dia yang agak deg-degan. Pertama rekaman aku jongkok di ruang tamu dan ditutupi selimut saat malam hari. Terus ketika ada suara tokek dan kodok, terpaksa aku harus mengulang karena suara hewan itu masuk ke rekaman. Terus aku coba rekaman di bawah meja. Ternyata ada suara noise cukup mengganggu. Dan aku baru sadar kalau aku berada sekitat 1,5 meter dari kulkas. Itu sangat mengganggu. Akhirnya aku masuk ke dalam mobil. Haha. Dan hasilnya lumayan. Noise jauh berkurang. Suara kodok dan tokek tidak terdengar.


Saat aku rekaman menggunakan ponsel pun posisinya seperti orang sedang menelepon. Jadi ponsel ditaruh di telinga. Proses rekaman tema pertama membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit hanya untuk podcast lima menit karena harus cari tempat yang pas. Jadi aku mengulang berkali-kali karena merasa intonasi kurang, belepotan, dan lain-lain.


Daripada aku mengulang terus, besok-besoknya setiap aku salah omong aku tetap melanjutkan rekaman tapi hanya mengulang di bagian yang salah saja. Selanjutnya yang salah itu akan aku hapus lewat aplikasi.


Hasilnya bagaimana merekam pakai ponsel? Suara memang terdengar nyaring tetapi saking dekatnya dengan ponsel jadi suara menarik nafas saja kedengeran atau bunyi lidah klak klak juga kedengeran. Sementara ketika aku ikut kelas Siberkreasi, suara klak klak itu mengganggu kualitas dan bisa diedit dengan software jadi suara bisa lebih halus.

 

3. Editing Audio

Sebenarnya bisa juga kok setelah rekaman, hasilnya langsung diunggah di Anchor.fm dan ditambah dengan latar musik. Lebih simpel. Tapi aku masih harus mengeditnya di aplikasi karena ada beberapa bagian yang harus ku hapus, seperti omongan yang salah dan jeda yang terlalu lama. Aku juga menambah volume, memberi efek dan menghapus noise agar terdengar lebih jelas.



Nah, paling sebal itu, kalau aku merekam lebih dari 10 menit ternyata memori sudah penuh. Pada akhirnya beberapa foto, video, dokumen aku pindahkan dulu ke Drive atau aku hapus. Bahkan beberapa aplikasi yang belum dipakai terpaksa aku uninstall. Baru deh bisa lagi mengedit suaranya.

 

4. Editing Sampul

Pembuatan grafis untuk sampul ini setidaknya mampu menarik perhatian pendengar. Setelah selesai edit audio, aku menggunakan aplikasi Canva untuk membuat sampul episodenya karena prosesnya lebih sederhana.


5. Publikasi di platform

Rasanya hati begitu bahagia ketika hasil edit rekaman aku unggah ke Anchor.fm. Aku pun memilih-milih musik latar pada rekaman podcastku. Kelegaan begitu kuat terasa ketika audio ditambahkan ke segmen episode, menulis judul, menambahkan deskripsi, mengunggah ganbar sampul dan tulisan publish di pilih.


Yeay! Episode podcast berhasil dipublikasi. Hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit, episode podcast sudah bisa didengarkan di Spotify, Google Podcast, Breaker, PocketCasts dan Radio Public. Sekarang sudah ada 32 episode podcast yang bisa didengarkan di podcast Kotakatalita.

 

6. Membuat audiogram

Eh meskipun senang melihat episode podcast sudah bisa didengarkan di Spotify, aku masih harus memublikasikan di Instagram Kotakatalita dengan tampilan unik audiogram. Di aplikasi itu, tinggal memilih episode yang sudah dipublish maka gelombang suara akan muncul. Kita bisa pilih berbagai macam gelombang suara.

 


 

7. Publikasi di sosial media

Proses terakhir inilah yang menentukan jumlah pendengar podcast. Atas saran podcaster senior bahwa lebih baik ada media sosial khusus untuk podcast. Dan aku akhirnya membuat Instagram Kotakatalita hanya untuk podcast tentang perkotaan.

 

Kendala-Kendala Produksi Podcast

Meskipun membuat konten di podcast Kotakatalita sudah mencapai 32 episode, bukan berarti aku tidak mengalami kendala dalam produksi podcast. Membuat konten secara teratur demi meningkatkan jumlah pendengar itu memiliki tantangan tersendiri buatku apalagi selama ini aku melakukan produksi podcast di ponsel saja. Bagi teman-teman yang mau produksi podcast lewat ponsel mungkin juga perlu mengantisipasi kendala podcast lewat ponsel seperti yang aku alami. Kendala selama produksi podcast lewat ponsel yang aku alami yaitu:

 

1. Noise yang masih muncul

Lingkungan rekaman itu sangat mempengaruhi juga kualitas suara. Biasanya orang merekam di lingkungabbn yang sepi tapi kalau di rumahku dimana antar tetangga itu sangat dekat, tentu saja akan ada suara-suara lain yang terdengar. Memang bagusnya di ruangan yang tidak terdengar suara burung, motor, atau tetangga sedang berbicara.


Penggunaan alat rekaman memang sangat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan. Tantangan rekaman menggunakan ponsel adalah suara noise yang masih terdengar dan suara lidah yang terdengar klak klak klak. Dan itu sangat mengganggu. Beda sekali kalau mendengar podcaster lainnya, apalagi yang podcast exclusif, rekaman audio mereka tidak terdengar suara noise, atau bahkan suara klak klak lidah dengan mulut. Beda sekali denganku yang memakai rekaman ponsel. Suara noise dan bunyi klak klak tetap ada. Biasanya podcaster pro memakai microphone, pop filter, dan disambungkan ke PC/laptop untuk proses rekaman sehingga suara bisa lebih jernih. Tujuan pop filter ini memang meminimalisir suara noise.


Sebenarnya aku sudah mencoba menghilangkan suara yang mengganggu itu dengan aplikasi. Sayangnya, suara itu tetap saja muncul. Akhirnya aku biarkan saja. Ada rasa kurang puas saja dengan kualitas suara yang ada.

 

2. Ruang penyimpanan yang terbatas

Salah satu hal yang paling menyebalkan saat edit audio di ponsel adalah ruang penyimpanan yang terbatas. Pada akhirnya, aku terbatas untuk berbicara karena semakin lama waktu maka ruang yang dibutuhkan untuk menyimpan file semakin besar. Sementara untuk edit rekaman 10 menit saja aku sampai mengorbankan beberapa aplikasi untuk dihapus. Biasanya aku antisipasi untuk membiarkan beberapa bagian audio yang tidak begitu parah. Sedangkan yang kesalahan parah baru aku hapus rekamannya.


Belum lagi aku harus membuat sampul episode dan audiogram yang juga memakan ruang penyimpanan yang tidak sedikit. Dan itu sangat mengganggu waktuku yang bisa untuk kegiatan lainnya. Keterbatasan ruang penyimpanan ternyata mampu mengurangi efektifitas produksi.

 

3. Tiba-tiba eror saat editing

Edit audio podcast lima menit saja bisa membutuhkan waktu sampai setengah jam. Apalagi kalau banyak yang belibet ngomongnya. Terus pas lagi asyik-asyiknya edit rekaman tiba-tiba aplikasi eror. Sebel banget deh! Dan itu sering terjadi saat aku masih mengedit rekaman lima menit pertama. Kalau sudah begitu aku harus mengulangi lagi. Kalau sudah kesal, akhirnya aku membiarkan ada yang belibet sedikit. Huff! Kalau kalian ada waktu untuk mendengar podcastku coba perhatikan saja pada bagian-bagian yang belibet kalimatnya.

 

4. Gelombang suara yang kurang detail

Meskipun podcaster itu lebih berfokus pada editing audio, namun saat mengedit pun podcaster menggunakan software/aplikasi yang menampilkan gelombang suara rekaman. Semakin diperbesar maka gelombang suara itu semakin terlihat jelas sehingga mudah untuk mengedit batas antara tiap kata. Tampilan grafis yang berkualitas tentu memudahkan podcaster untuk mengedit audio.

 

5. Perlu usaha besar untuk editing

Kadang-kadang saat edit audio, perangkat menjadi melambat padahal baru saja memulai editing tapi loadingnya cukup lama. Atau sudah edit lama, tinggal sedikit lagi selesai, eh perangkat lagi loading lemot bahkan tak jarang langsung eror. Rasanya sebel banget kan. Dengan masalah-masalah tersebut, pada akhirnya aku perlu usaha besar untuk edit audio. Tentu sangat menguras energi dan waktu. Pekerjaan lain kadang jadi tidak segera tersentuh.

 

Kreativitas di Dunia Siniar dengan VivoBook 14 A416

Dari kendala-kendala yang aku sebutin di atas, itulah kenapa diperlukan laptop atau PC dengan fitur yang bisa memenuhi kebutuhan untuk nge-podcast dibandingkan dengan smartphone yang memiliki ukuran yang kecil. Tentunya menggunakan laptop atau PC yang memiliki kinerja bertenaga, kapasitas penyimpanan besar, dan kecepatan data yang besar itu tidak akan mengganggu produktivitas kita.

Ruang Siniar


Cuma aku juga sempat berpikir apakah aku akan terus berkarya di podcast selain menulis blog dan fiksi? Apakah kalau aku menggunakan laptop atau PC yang performanya bagus akan meningkatkan produktivitasku dalam berkarya? Bagi podcaster, blogger, penulis sekaligus sesekali menjadi youtuber sepertiku memang perlu perangkat yang mendukung produktivitas dalam berkarya. Apalagi ketika aku harus personal branding di media sosial. Pastinya semua aplikasi multimedia harus dimanfaatkan.

 

Sampai saat ini pun, laptop merupakan perangkat teknologi yang bisa dibawa kemana-mana. Namun, laptop yang seperti apa? Bagi para podcaster yang ingin mencari laptop berkualitas tinggi dan dapat diandalkan kapan pun, dimana pun dan oleh siapa pun maka pilihan laptop ASUS inilah yang tepat, khususnya ASUS Vivobook 14 A416. Seolah memberi titik terang untuk para podcaster, ASUS Vivobook A416 ini memberikan kinerja dan visual yang imersif. Kenapa begitu? Ini dia alasannya.

 

1. Desain yang Elegan, Ringkas dan Simpel

Siapa yang tidak suka dengan desain yang elegan? Semua pasti suka karena menjadi pemicu semangat untuk berkarya. Desain Asus Vivobook 14 A416 ini didesain mengikuti gaya hidup kita yang serba ringkas karena laptop portabel ini hanya memiliki bobot 1,6 kg dengan ketebalan 19,9 mm sehingga mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, charger ringkas dan mudah dimasukkan ke dakam kompartemen di dalam tas. Tampilannya sangat bagus dan elegan dengan lapisan Transparent Silver atau Slate Grey.

 


Kenapa laptop ini jadi terlihat lebih kecil dibanding laptop pada umumnya? Karena adanya teknologi Nano Edge Bezel. Teknologi ini meghadirkan bezel yang sangat tipis laptop ini dengan screen-to-body ratio 82% membuat area layar laptop ASUS Vivobook 14 A416 ini lebih banyak dibanding laptop biasanya. Dengan begitu maka pengalaman bekerja, berkarya dan bermain dengan laptop ini akan menjadi lebih imersif termasuk juga dalam menikmati konten multimedia. Rasanya kita akan sangat lega menggunakan laptop ASUS ini karena menggunakan teknologi Nano Edge Bezel.


Tepatlah jika laptop ini terkanl menjadi salah satu laptop 14 inchi paling kecil di dunia. Meskipun layar laptop ini berukuran Full HD 14" tetapi layar laptop ini bisa dibuat dalam form factor sebuah laptop berukuran 13". Hal itu karena teknologi Nano Edge Bezel. Perbandingan rasio layar dengan besar laptop mencapai 97%. Itulah kenapa laptop ini terlihat maksimal layarnya meskipun ukurannya kecil.



Kalau sudah berbicara layar, maka penting banget untuk mengetahui ketersediaan lapisan anti-glare di laptop. Apalagi untuk pengguna yang sering banget berhadapan dengan laptop. Aku sering banget mengalami mata panas karena sering menatap layar dan jadi nggak fokus dengan apa yang aku kerjakan di laptop padahal aku harus bisa terus fokus meski dalam waktu beberapa lama untuk menyelesaikan semua pekerjaanku.


Nah, tujuan lapisan anti glare atau anti silau ini adalah untuk mengurangi gangguan yang tidak diinginkan dari pantulan dan silau yang mengganggu. Pokoknya nggak perlu khawatir deh kalau sampai fokus hilang gara-gara layar yang silau, apalagi yang berkacamata sepertiku dan tidak bisa tahan berlama-lama di depan laptop.


Oiya, kelebihan lainnya laptop ini adalah sudut pandang yang luas sebesar 178°. Artinya, dimanapun pengguna berdiri atau duduk dari sudut layar laptop maka konten pada layar masih akan terlihat jelas. Sangat cocok jika kita ingin berdiskusi dengan content creator lainnya.

 

2. Kinerja Cepat dan Efisien

Di era modern yang dituntut kerja serba cepat ini, maka penggunaan laptop ASUS Vivobook 14 A416 sangatlah mendukung gaya hidup kita sekarang. Nggak mau kan waktu terbuang hanya gara-gara loading laptop yang lama yang membuat kita harus bersabar menunggu padahal masih banyak kewajiban lain yang harus dikerjakan. Apalagi aku juga mengurus rumah tanpa asisten rumah tangga jadi aku membutuhkan perangkat yang mendukungku untuk tetap berkarya dari rumah.


Laptop ASUS VivoBook 14 A416 ini merupakan laptop mainstream yang menggunakan prosesor Intel Core generasi ke-10 yang ditujukan untuk produktivitas sehari-hari. Laptop level entri Vivobook 14 A416 ini didukung prosesor Intel Core i3 sampai i5 dengan RAM hingga 8GB. Prosesor ini ibaratnya "otak" dalam tubuh laptop. Jadi semakin tinggi spesifikasi prosesornya maka semakin bagus performanya. Namun, kita harus perhatikan juga kebutuhan kita.


Apa perbedaan generasi 10 dengan sebelumnya? Jelas generasi 10 dirancang untuk perangkat berperforma tinggi seperti untuk pembuatan konten dan gaming karena memiliki peningkatan jumlah core dan thread pada prosesornya. Seorang pembuat konten yang menggunakan aplikasi membutuhkan core dan thread yang banyak sehingga kinerja menjadi lebih cepat, paling banyak terdapat pada Intel Core i5 dengan 4 Core dan 8 thread serta boost clock hingga 3,6 GHz.


Nah, bedanya apa sih i3 dan i5? Tentu beda harga dan kinerjanya. Kalau Intel Core i3 bisa digunakan untuk pekerjaan yang tidak terlalu berat seperti mengetik, mengedit gambar, audio atau video yang sederhana. Sementara Intel Core i5 memiliki kinerja yang lebih cepat dan digunakan untuk pekerjaan yang lebih berat seperti untuk software 3D dan animasi. Pastinya harga laptop dengan prosesor Intel Core i5 lebih mahal ketimbang Intel Core i3. Tak cuma Intel Core, kita juga bisa pilih spesifikasi Intel Celeron dimana performa yang dibutuhkan prosesor jenis ini tidak untuk pekerjaan yang berat seperti Microsoft Office dan Web Browsing dan tidak disarankan untuk multitasking.


Selain itu, laptop ini juga didukung oleh grafis diskrit NVIDIA GeForce MX330 yang berfungsi untuk mengolah dan memberikan tampilan output ke layar dalam format standar. Adanya diskrit NVIDIA GeForce ini akan menentukan kualitas tampilan yang baik.


Nah, untuk prosesor, kita tinggal pilih yang mana sesuai kebutuhan kita. Kalau aku sudah jelas Intel Core i3 karena memang perlu pekerjaan multitasking tapi juga nggak menggunakan software 3D dan animasi. Dan itu sudah sangat cukup untuk membantuku dalam menyelesaikan konten yang aku buat untuk Podcast, Youtube, Blog maupun menulis.

 

3. Ruang Penyimpanan Yang Besar

Pernah kan mengalami laptop tiba-tiba lemot karena ruang penyimpanan yang sedikit sementara data yang digunakan besar. Maka, kita nggak perlu khawatir untuk menyimpan data yang besar karena Asus Vivobook 4 A416 ini memiliki ruang penyimpanan yang besar sehingga kinerja data menjadi supercepat.


VivoBook14 A416 ini telah menggunakan DDR4 yang merupakan standar laptop modern dengan kapasitas yang dapat di upgrade hingga 12 GB. Laptop ini juga mengandalkan dua jenis penyimpanan yaitu 2.5" SATA dan M.2 PCle.


Untuk respons dan waktu load yang lebih cepat, kita bisa instal aplikasi di SSD hingga 256 GB. Sementara untuk menyimpan file besar, seperti film, koleksi musik, dan album foto bisa menggunakan HDD hingga 1 TB.


4. SonicMaster untuk Suara Kencang dan Jernih

Sebagai podcaster, pasti penting banget audio ini. Kita jadi tahu suara hasil rekaman kita. Seberapa jernihnya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa kendalaku saat rekaman yang membuat muncul noise. Nah, dengan peralatan pendukung yang diinputkan ke laptop tentu akan mempengaruhi kualitas suara. Apalagi saat editing audio maka teknologi SonicMaster ini sangat membantu untuk mengetahui kualitas suara hasil rekaman.


Ketika aku rekaman menggunakan ponsel, biasanya saat editing aku akan menambahkan efek Crystal sehingga suaraku lebih tajam. Namun, kalau laptop dengan teknologi Sonic Master yang ditenagai dua amplifier ini maka suara yang dihasilkan akan terdengar lebih tajam dan jelas (crystal clear sound), presisi lebih tinggi, dan suara lebih kencang  meskipun di ruang yang cukup besar.

SonicMaster
Olah gambar : Lita L.

Nah di laptop ASUS ini sudah ada recording mode yang memastikan kualias rekaman terdengar sangat jelas dan seimbang. Pas banget sama podcaster sepertiku yang kadang mengalami distorsi frekuensi yang tinggi dan kompresi rekaman buruk sehingga suaranya terdengar jelek.


Oiya nggak cuma recording mode, di laptop ASUS ini juga ada mode lainnya seperti music mode, gaming mode, movie mode, dan manual mode. Semua mode memiliki hasil yang berbeda dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Mau bermain game, menonton film atau hanya mendengarkan musik. Pilih yang mana? Semua ada! Keren kan.

 

5. Konektivitas Penting Bagi Gaya Hidup Masa Kini

Sekarang semua orang inginnya serba cepat, mengerjakan sesuatu dalam jumlah banyak dengan waktu sedikit dan perangkat yang memadai untuk kerja cepat. Nah, laptop ASUS sangat mendukung bagi pengguna dengan mobilitas tinggi. Konektivitas nirkabelnya dibekali WiFi 5.0 untuk terhubung dengan internet sehingga kita bisa berselancar dengan mudah. Bluetooth 4.1 memudahkan pemindahan berkas dari perangkat lain.


Selain itu, ASUS Vivobook 14 A416 juga dilengkapi dengan port USB 3.2 Type-C dan USB 3.2 Type-A yang memudahkan konektivitas sehari-hari. USB 3.2 ini memiliki transfer data sepuluh kali lebih cepst daripada USB 2.0.


Biasanya kita kalau mau mencolokkan USB harus dilihat dulu posisinya apakah terbalik atau tidak. Nah, beda nih sama USB Type C karena kita bisa menggunakan USB secara bolak-balik tanpa harus bingung posisi mana yang benar. Semua posisi sama saja. Desainnya juga lebih ramping. Dan USB Type C ini sudah mulai banyak digunakan di beberapa perangkat. Keren banget kan!

Konektivitas VivoBook 14 A416


Kalau USB Type A ini bisa digunakan untuk flashdisk, USB Hub, USB Flashdrive, dan lainnya sehingga tidak bisa dibolak-balik seperti USB Type C. Namun, USB Type A ini jugs menjanjikan kemampuan transfer data yang cepat.


Belum lagi port MicroSD Card reader yang memudahkan kita mentrasfer data dengan cepat dari Micro SD yang kita punya.


Tak hanya itu, port HDMI ini adalah konektor yang menghubungkan berbagai macam elektronik seperti TV, monitor, proyektor, komputer, DVD Player, dan lain-lain. Laptop ini memiliki 1x audio Combo Jack. Nah, ini sebenarnya jadi ringkas karena untuk headphone dan microphone menjadi satu. Simpel!

 

6. Konstruksi yang tangguh

Sering banget kan saat lagi perjalanan, laptop kita juga ikut berguncang. Dan itu berbahaya banget bagi sama harddisk laptop kita. Sedangkan laptop ASUS Vivobook 14 A416 ini sudah dilengkapi E-A-R HDD Protection yang dapat menyerap getaran saat perangkat terguncang dan dapat memberi perlindungan pada harddisk yang ada di dalamnya sehingga masa hidup laptop akan tahan lama.


Selain itu, di beberapa bagian seperti chasis utama dan rangka layar dari logam untuk memperkuat keseluruhan bodi namun tetap ringan dan ringkas. Misalnya di bagian bawah keyboard terdapat chasis yang akan membuat stabil saat mengetik dan touchpad. Selain itu, kekakuan logam besinya akan melindungi bagian internal laptop dan engsel laptop. Benar-benar perlindungan yang maksimal!

 

7. Keyboard yang ergonomis

Kalau kita sering berlama-lama di depan laptop pasti laptop akan terasa panas karena aliran udara yang kurang maksimal. Beda lagi dengan laptop ASUS ini. Desainnya yang ergolift pada engsel dengan kemiringan sedikit 4° bertujuan untuk membuka ruang ventilasi tambahan untuk lebih banyak sliran udara di bawah sasis untuk menjaga suhu internal lebih rendah dari laptop standar.



Kalian pernah tidak merasa sering lelah saat mengetik atau mungkin sering salah-salah mengetik karena kurang familiar sama keyboardnya? Nah, dengan desain yang ErgoLift ini memberi posisi mengetik yang sempurna dan membuat pengguna lebih familiar dengan keyboardnya.


Selain kelebihan itu, Vivobook 14 A416 ini juga memiliki kelebihan lain yaitu keyboard full size dengan backlit dapat memudahkan kita mengetik pada tempat yang minim cahaya.


Pernah mengetik dengan keyboard yang besar-besar? Dan ternyata itu mengeluarkan energi yang cukup besar apalagi dibuat mengetik banyak dokumen seperti pembuatan script atau novel. Sedangkan laptop ASUS Vivoboom 14 A416 ini memiliki ukuran key travel yang cukup kecil sebesar 1,4 mm. Dan ini memengaruhi kecepatan dalam mengetik dan pastinya menghemat tenaga bagi yang ingin mengetik banyak teks.

 

8. Fitur Numberpad yang canggih

Ini adalah kelebihan lain dari laptop ASUS Vivobook 14 A416 karena memiliki numberpad yang memudahkan pengguna saat akan menggunakan nomor. Hanya dengan mengetuk panel snetuh maka panel angka akan muncul diterangi LED.

 

9. Keamanan Tinggi dengan Teknologi Fingerprint

Selama ini kalau kita mau masuk ke desktop yang ditanyakan adalah password. Kadang banyak juga yang tidak memakai password. Penggunaan password itu rentan lupa. Sementara kalau tidak password itu jadi tidak aman.

(Gambar: Asus; Desain: Lita L)


ASUS menerapkan kemanan biometrik melalui fingerprint sensor atau sensor sidik jari untuk mengatasi masalah tersebut di laptop ASUS kelas premium. Tidak ada lagi lupa password atau pemakaian tanpa ijin. Kita hanya menyentuhkan sidik jari kita pada panel fingerprint sensor maka kita akan dibawa masuk ke dalam Windows 10 Home melalui Windows Hello tanpa perlu mengetik password.

 

10. Mau Upgrade Diri dengan Mengikuti Webinar? Bisa!

Karena laptop ASUS Vivobook 14 A416 ini dilengkapi dengan kamera VGA Web Camera sehingga bisa digunakan untuk pembelajaran jarak jauh atau webinsr-webinar untuk pengembangan diri.

 

11. Tak Perlu Bingung dengan Software Office

Aku pernah saat dulu sekali membeli laptop atau ketika suami membeli laptop, Microsoft Office tidak menjadi paket dalam pembelian tersebut sehingga kita harus mencari install-nya dari orang lain. Tentunya ada biaya tambahan. Apalagi kalau misalnya Office nya tidak genuine (asli). Ah, sering sekali terjadi crash atau malah disuruh updatr dan berakibat Office tidak bisa dipakai. Nggak mau kejadian seperti itu? Makanya ketika membeli laptop ASUS Vivobook 14 A416 ini sudah dilengkapi dengan Microsoft Office Pre-Installed. Dan tidak ada biaya tambahan lagi.


Bahkan, Microsoft Office Home & Student 2019 dapat terus diupdate sehingga terbebas dari berbagai ancaman keamanan dan malware. Pokoknya aman deh! Produktivitas tetap jalan terus!

 

 

12. Lebih Mudah dengan MyAsus

Ternyata di laptop ASUS VivoBook 14 A 416 ini sudah ada aplikasi bawaan yang merupakan pusat kontrol untuk laptop. Dengan MyAsus, kita bisa memantau status laptopnya, troubleshooting, memindai sistem, menemukan masalah, memperbaiki otomatis, memperlihatkan status garansi perangkat, dan fasilitas untuk menghubungi layanan konsumen ASUS.


Pada suatu waktu aku perlu memindahkan file dari ponsel ke laptop karena memori ponsel sudah terlalu banyak. Satu-satunya cara adalah dengan mengaktifkan Bluetooth karena kabel data kadang-kadang saja terhubung, itupun device suka out sendiri.


Nah, di laptop ini kita bisa menguhubungkan dengan Link to My Asus dimana kita bisa memindahkan file secara instan dengan aplikasi yang terhubung dari ponsel ke laptop. Jadi, layar ponsel adalah layar kedua. Gampang banget kalau begitu. Tinggal salin tempel saja file yang mau dipindah sudah terproses.


Bahkan kita bisa menerima telepon di laptop, loh!


Spesifikasi

Main Spec.

VivoBook 14 (A416)

CPU

Intel® Core™ i5-1035G1 Processor 1.0 GHz (6M Cache, up to 3.6 GHz)

Intel® Core™ i3-1005G1 Processor 1.2 GHz (4M Cache, up to 3.4 GHz)

Intel® Celeron N4020 Processor 1.1GHz (4M Cache, up to 2.8GHz)

Operating System

Windows 10

Memory

4GB DDR4 RAM

Storage

1TB 5400 rpm SATA HDD

256GB PCIe® Gen3 x2 SSD

512GB PCIe® Gen3 x2 SSD

1TB HDD + 256GB SSD

Display

14.0" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) IPS Anti-Glare

14.0" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) Anti-Glare

14.0" (16:9) LED backlit HD (1366x768) Anti-Glare

Graphics

NVIDIA GeForce MX350 (optional)

Intel UHD Graphics

Input/Output

1x HDMI 1.4, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-C, 2x USB 2.0 Type-A, Micro SD card reader

Camera

VGA Web Camera

Connectivity

Wi-Fi 5 (802.11ac), Bluetooth 4.1

Audio

SonicMaster, Audio by ICEpower®, Built-in speaker, Built-in microphone

Battery

37WHrs, 2S1P, 2-cell Li-ion

Dimension

32.54 x 21.60 x 1.99 ~ 1.99 cm

Weight

1,6 Kg

Colors

Transparent Silver, Slate Grey

Price

Rp4.799.000 (Celeron N4020 / Intel UHD Graphics / 4GB / 1TB HDD)

Rp4.899.000 (Celeron N4020 / Intel UHD Graphics / 256GB PCIe SSD)

Rp6.699.000 (Core i3 / Intel UHD Graphics / 4GB / 1TB HDD)

Rp7.099.000 (Core i3 / Intel UHD Graphics / 4GB / 512GB PCIe SSD)

Rp7.499.000 (Core i3 / GeForce MX330 / 4GB / 256GB PCIe SSD)

Rp10.099.000 (Core i5 / GeForce MX330 / 4GB / 512GB PCIe SSD)

Rp10.799.000 (Core i5 / GeForce MX330 / 4GB / 1TB HDD + 256GB PCIe SSD)

Warranty

2 tahun garansi global


Menjadi Produktif Bersama VivoBook 14 A416

Membaca penjelasan di atas, benarlah komitmen ASUS dalam menghadirkan perangkat yang berkualitas tinggi yang didukung dengan teknologi dan fitur terkini namun tetap bisa dipakai semua kalangan. ASUS VivoBook 14 A 416 bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dipakai oleh podcaster yang ingin berkarya di dunia siniar namun dengan kinerja laptop yang bertenaga. Nggak ada lagi masalah penyimpanan terbatas, eror, loading, noise yang mengganggu yang mempengaruhi produktivitas dalam berkarya. Dengan penggunaan ASUS VivoBook 14 A416 tentunya akan memberi semangat terus menerus bagi para podcaster dalam menyebarkan konten yang bermanfaat dan berkualitas.


Kalau sudah begini, aku berharap bisa menjadi podcaster produktif mulai dari membuat script, rekaman, editing audio sampai editing gambar untuk sampul episode dengan ASUS VivoBook 14 A416 meskipun aku hanya ibu rumah tangga yang pekerjaan sambilannya sebagai content creator. Maka tak heran jika laptop ini diberi gelar "Easy portability" dan "Effortless Productivity" karena memang segala kemudahan dalam fiturnya membuat produktivitas yang meningkat tanpa harus usaha yang besar.



Semangat bersuara di dunia siniar!

 

 


Sumber referensi:

https://www.google.com/amp/s/www.indoworx.com/perbedaan-prosesor-core-i3-i5-dan-i7/amp/

 https://pemmzchannel.com/2020/05/16/intel-core-generasi-ke-10-vs-intel-core-generasi-ke-9-siapa-lebih-unggul/amp/

 https://techijau.com/asus-vivobook-14-a416-laptop-murah/

 https://getective.com/perbedaan-processor-celeron-pentium-dan-core-i3-i5-i7/

 https://www.arenalaptop.com/4787/memaksimalkan-performa-nvidia-geforce-pada-laptop/

 https://www.asus.com/id/Laptops/ASUS-Laptop-14-X415JP/

 https://www.google.com/amp/s/blog.dimensidata.com/perbedaan-usb-tipe-a-tipe-b-dan-tipe-c-serta-kelebihannya/amp/

 https://www.google.com/amp/s/m.jitunews.com/amp/read/62454/mengenal-apa-itu-port-hdmi

 https://www.baktikominfo.id/id/informasi/pengetahuan/travel_distance_pada_keyboard_apa_maksudnya-835

https://glints.com/id/lowongan/alat-untuk-membuat-podcast/#.YAO09uwxW2c

Read More
Menulis blog



Terjerumus dalam Dunia Blog


Sebenarnya tak ada yang menjerumuskan aku ke dalam dunia blog. Aku sudah menulis di blog tahun 2008. Aku lupa nama blog pertamaku apa dulu tapi masih belum domain berbayar alias belakangnya masih blogspot.com. Eh iya, banyak banget yang salah mengira kalau di belakang URL blogspot.com itu depannya pakai www. Misalnya wwww.namablog.blogspot.com. Padahal kalau pakai www itu artinya sudah domain berbayar atau sudah Top Level Domain (TLD) sedangkan kalau blogspot.com itu artinya blog masih belum TLD.


Dulu, aku berencana mencatat semua pengalamanku dari semester 1 sampai selesai. Sayangnya, itu belum terwujud. Alasannya karena setiap semester terlalu banyak tugas dan jadwal kuliah.


Di awal menulis blog pribadi, hanya ada tiga artikel di tahun 2008 dan tiga artikel di tahun 2009. Semua tulisan tentang materi perkuliahan, satu artikel tentang organisasi dan satu artikel tentang kehidupan perkuliahan. 


Di tahun 2010 mulai meningkat sebanyak sepuluh artikel. Aku mulai mencoba mewujudkan keinginanku untuk menulis pengalaman dari semester satu sampai selesai karena waktu itu aku sudah lulus. Kupikir akan ada banyak waktu untuk menulis blog. Nyatanya, tidak juga. Hahhaa.


Aku berpikir untuk apa aku menulis di blog? Apa sebenarnya tujuanku mengabadikan tulisan di blog kalau cuma isinya tidak ada manfaatnya sama sekali. Aku kemudian berpikir bagaimana blogku setidaknya bermanfat bagi orang yang ingin mendapatkan informasi sesuatu.


Kemudian, aku mulai memanfaatkan blogku dengan memasukkan tugas-tugas kuliah di sana. Dan itu bertahan sampai S2. Terkadang juga menceritakan tentang pengalaman pergi ke suatu tempat atau mengisi weekend di sela-sela kuliah. Dan gimana isinya? Bisa dipastikan isinya sangat sederhana dan tidak seperti sekarang. Dulu, isi blog diceritakan sangat umum sekali. Kurang mendetail. Terasa sekali banyak informasi yang kurang.


Alasan Bertahan di Dunia Blog

Sampai suatu ketika, view blogku setiap artikel mulai bertambah gara-gara setelah tugas selesai aku memasukkan dalam blog. Entah kenapa aku dulu tidak kepikiran plagiarisme ya. Jadi pokoknya tugas artikel itu aku masukkan ke dalam blog.


Hasilnya, view dari cuma 10-an bisa sampai 50-an. Bahkan ada komentar ucapan terima kasih karena telah memublikasikan suatu artikel tentang mata kuliah. Aku merasa menjadi lebih bersemangat. Aku menulis tentang tempat yang aku kunjungi, tentang apa pun yang mungkin orang lain perlu tahu. 


Aku mulai lebih banyak menulis pengalaman aku hidup di luar negeri. Meski tidak begitu banyak tapi alhamdulillah view artikel sudah mencapai ratusan waktu itu.


Sampai suatu ketika, aku menikah dan resign dari pekerjaanku, aku mengikuti lomba blog dari Goodnewsfromindonesia. Tak menyangka, artikelku menjadi dua puluh pemenang lomba blog dan dibukukan dengan judul Inovasi Daerahku. 


Prestasi pertama dalam dunia menulis di blog itulah yang menjadi lecutan untuk terus menulis di blog. Prestasi pertama itulah yang akhirnya aku mengubah nama domainku. Waktu itu, nama domainku adalah litaetlavie.blogspot.com yang tercantum dalam buku Inovasi Daerahku. Setelah itu, prestasi menulis blog alhamdulillah masih lanjut meski tidak banyak. 


Dibalik Nama Domain Lestelita.com

Aku lupa bagaimana ceritanya. Seorang temanku di FLP dan blogger, Mbak Fauziah, mengiming-imingiku untuk mengganti nama blog menjadi TLD. Ibaratnya investasi untuk blog. Mbak Fauziah bilang menulis blog bisa dibayar karena akan ada banyak sekali tawaran job kalau blognya sudah TLD. 


Awalnya aku tidak percaya. Apakah benar menulis blog bisa mendapatkan uang? Mengingat investasi blog itu lumayan juga. Untuk beli domain saja sekitar 150.000 rupiah selama satu tahun tergantung pakai hosting yang mana. Beliau malah cerita, harga segitu sudah murah sekali apalagi kalau dapat job di total bisa berkali-kali lipat.


Memang sih selama ini aku lebih sering menulis artikel blog tapi belum pernah kepikiran untuk mengganti menjadi TLD. Apalagi memperoleh pendapatan dari blog. Rasanya itu jauh dari bayangan. 


Namaku sebelum TLD adalah litaetlavie.blogspot.com. Kalau dalam bahasa Prancis, Lita et La vie itu artinya Lita dan kehidupannya. Tapi kemudian aku mengubah nama itu menjadi nama lain yang lebih mudah dibaca yaitu Lestelita. 


Kenapa Lestelita?

Kalau temanku SMA pasti sudah tahu alasannya karena Leste itu nama panggilanku waktu SMA. Gara-gara aku memberi nama gelasku itu Lesteea dari nama belakang Lestianti. Eh, diplesetin sama temanku itu Leste. Timor Leste!


Oh! Setelah itulah nama panggilanku Lita menjadi Leste. Haha. Dan atas kisah masa lalu itulah, aku memberi nama blogku Leste ditambah nama asliku Lita. Jadilah nama domain blogku Lestelita. Dan itu berubah sekitar tahun 2015. Tapi untuk headernya blog aku kasih nama Lestiaa's.


Masyallah, tidak menyangka aku sudah bertahan lima tahun!


Keputusan Membeli Top Level Domain (TLD)

Kembali lagi ketika aku akhirnya memutuskan membeli domain. Alasannya, aku mau mencoba membuktikan. Haha. Jika ternyata satu tahun berjalan aku tidak dapat pemasukan dari blogku, ya lebih baik kembali ke blogspotcom saja.


Aku pun mencari-cari provider yang menyediakan domain dengan harga yang cukup murah tapi kualitas lumayan. Akhirnya aku memilih salah satu agen hosting yang lumayan murah dan profesional setelah cari di internet berjam-jam.


Eh, setelah aku beli domain dan nama blogku berubah menjadi lestelita.com seperti yang teman-teman lihat sekarang. Alhamdulillah benar saja. Aku mendapat beberapa tawaran job, mulai dari sponsored post maupun content placement.


Tapi yang harus diingat semua juga tidak ujug-ujug begitu ya. Kita harus konsisten menulis untuk mendapatkan view. Dan dari keputusan membeli domain TLD itu aku mulai mengenal edit html, edit template, desain logo blog, dan lain sebagainya. Paling tersulit adalah aku belajar SEO dasar, misalnya menulis keyword yang biasa dicari orang, biar bisa page one meski aku tidak pernah berhasil, haha. Bahkan akhirnya aku memasang Google Analytic dan Google Search Console demi melihat perkembangan blogku dan.. untuk job. Haha.


Tentang Blog Lestiaa's

Dulunya dari view cuma hitungan jari, sekarang hitungan jari kali seribu per bulan. Alhamdulillah sekarang viewku setiap bulan masih sekitar 7.800 pageview.

Memangnya di blog membahas apaan? Blogku memang awal-awal banyak menjelaskan tentang materi kuliah. Kalau aku lihat sekarang, viewnya memang lumayan. Apakah karena sudah lama? Atau memang pencarian materi kuliah tertentu selalu banyak? Kalau begitu sepertinya aku akan menulis materi kuliah yang lain. wkwkwk.

Karena sekarang aku tidak bekerja, jadi aku menceritakan pengalamanku sebagai seorang ibu, baik saat hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak yang sakit, ataupun segala hal tentang kehidupan seorang ibu dengan anaknya. Tak cuma itu, aku juga menceritakan segala hal tentang tempat yang aku kunjungi, literasi, review produk kecantikan dan perawatan kecantikan, bahkan lomba blog yang aku ikutin juga aku tulis di blog.


Sepertinya tulisan yang sampai sekarang selalu bermunculan komentarnya adalah tentang penipuan online. Banyak sekali yang bertanya tentang kasus mereka apakah uang bisa kembali.


Rata-rata sih aku menulis dengan gaya storytelling yang katanya lebih memikat klien. Namun, rupanya aku masih kurang kuat gaya storytelling dalam blog. Aku harus lebih banyak belajar menulis blog dengan gaya storytelling setelah mengikuti materi Storytelling dari Bambang Irwanto di kelas Growthing Blogger Batch 2.


Menurut beliau, menulis dengan gaya storytelling memiliki keuntungan. Pertama, personal branding akan terbentuk lewat tulisan karena orang akan mengenal diri kita dengan gaya menulis kita. Kedua, dengan menulis artikel bergaya story telling, maka tulisan akan lebih natural. Ketiga, dengan menulis bergaya storytelling, maka dijamin kemampuan menulis akan semakin berkembang. Tidak akan plagiat. 



Keinginan dari Blog Lestiaa's

Sampai saat ini, aku berharap bisa terus mengembangkan blogku, menjadikan blogku jadi lebih sehat. Karena ketika aku ikutan Kelas Growthing Blogger dan menilai blogku pakai SEO Tools, ternyata blogku kurang sehat. Haha. 


Skor website-ku cuma 64 dari 100, performa blogku di rentang moderate. Alias aku harus berhati-hati karena berada tidak jauh di atas batas performa rendah. Tak cuma itu, aku mau meningkatkan view blogku, menulis blog yang baik dan benar dan bisa dapat uang dari blog. Eh, monetisasi sebenarnya tidak melulu soal uang ya. Karena monetisasi bisa juga berupa produk. 


Namun, keinginanku yang paling utama adalah blog Lestiaa's ini bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan suatu informasi sesuai dengan slogan blogku. The more we share, the more useful we are to others. Tapi kalau ada yang ingin menjadikan blog yang berubah domain menjadi sumber penghidupan, maka perlu strategi lain, termasuk belajar SEO. Nah, kalau aku sih, selama ini memang buat senang-senang dan berbagi informasi saja, syukur-syukur kalau dapat sponsored post atau content placement dari luar. 


Jadi kebayang kan 12 tahun ini blog untuk apa aja. Dan gimana perkembangannya yang sangat lamban jika dibandingkan blogger-blogger lainnya.


Nah, teman-teman yang sudah punya blog tapi belum diurus sama sekali, apa tidak tertarik merawat blognya menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain? 






Read More

Perempuan Berumah Tangga dan Pengembangan Kemampuan

Kehidupan ibu-ibu berumah tangga itu identik sekali dengan stereotype dapur, sumur dan kasur. Seolah stereotype itu begitu melekat pada perempuan yang sudah menikah yang hanya untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Well, sebagai seseorang yang lahir di era milenial yaitu abad 20, stereotype itu cukup mengganggu diriku. Aku nggak mau kehidupanku sebagai ibu rumah tangga hanya berputar pada tiga hal itu. Aku ingin ada hal lain yang harus aku kembangkan di era teknologi 4.0 ini.

 

Tujuannya tak lain adalah mengasah otakku sendiri. Sepertinya stereotype itu hanya terjadi pada perempuan jaman dulu. Sekarang, sudah banyak perempuan berumah tangga yang juga berkontribusi bagi kehidupan masyarakat luas, misalnya bekerja atau sekedar menyalurkan hobi.

Literasi Digital
Literasi Digital


Bekerja pun saat ini bisa dilakukan di kantor maupun di rumah. Yah, meski status orang bekerja kantoran dan dikerjakan di rumah (Work From Home), mereka punya high prestige-lah dibanding di rumah. Eh, benar tidak? Sebenarnya tidak juga. Toh sekarang semua juga tahu kalau bekerja bisa dari rumah gara-gara pandemi Covid-19. Baik yang punya status pegawai kantor ataupun freelance. Toh, semua sama-sama bisa menghasilkan.


Rasanya ibu rumah tangga saat ini memang harus dituntut mengikuti perkembangan jaman, mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan zaman. Eh, zaman yang gimana? Yah, zaman yang erat kaitannya dengan era teknologi 4.0 dimana teknologi sudah cukup maju, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak terpisahkan. 


Perempuan berumah tangga (yang tidak bekerja sebagai pegawai kantoran) harus mampu memberi nutrisi pada otaknya dan mengasahnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya mencari ilmu pengetahuan melalui artikel di internet, mengikuti webinar-webinar, ataupun berkontribusi memberi pengetahuan kepada khalayak umum seperti menulis di media online ataupun memanfaatkan media digital.


Kemampuan berpikir kritis bisa terasah dan memiliki kepercayaan diri kalau seorang perempuan berumah tangga terus mengembangkan pengetahuannya dengan mengikuti berita secara digital ataupun online dan memanfaatkan teknologi saat ini. 


Apalagi saat ini digaungkan literasi digital sebagai upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Eh, perlu sekali kan seorang perempuan berumah tangga yang bukan berstatus pegawai kantor melaksanakan literasi digital. Dan literasi digital memang untuk semua kalangan sih. Sebenarnya lingkup literasi digital itu apa aja?


Apa itu Literasi Digital?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Sebutan lain literasi adalah aksara. Jadi sebenarnya literasi tidak memiliki arti sempit yang memiliki lingkup membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan lain untuk mengolah informasi atau pengetahuan. Literasi ini biasanya digabungkan dengan bidang kemampuan lain seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi komputer, literasi sains, literasi internet, literasi finansial, dan sederet penggabungan kata lain.


Sedangkan arti dari literasi digital, menurut seorang penulis dari buku yang berjudul digital literacy yang diterbitkan pada tahun 1997, adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Belshaw menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan, alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi.


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adanya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namanya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi.


Jadi literasi digital itu sangat luas lingkupnya. Memanfaatkan literasi digital itu berarti membaca informasi secara digital melalui perangkat komputer atau ponsel, menggunakan aplikasi digital untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi dengan sebuah kreativitas.



Perkembangan Teknologi dan Minat Baca Masyarakat

Saat ini perkembangan teknologi memang sangat besar. Di Indonesia, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi cukup besar. Menurut Kominfo tahun 2018, kepemilikan telepon genggam sebanyak 355 juta sedangkan menurut APJII tahun 2018, pengguna internet sebanyak 171 juta jiwa. 


Namun sayang, jumlah tersebut tidak sesuai dengan minat baca masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.


Yang paling disayangkan lagi, minat baca masyarakat Indonesia itu rendah tapi menatap layar ponsel atau PC bisa sampai sembilan jam hanya untuk scrol-scrol saja! Padahal hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan literasi digital kita.

 

Literasi Digital, Apa Manfaatnya?


Sebenarnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari literasi digital:

1. Merangsang minat baca masyarakat. Jika sembilan jam digunakan hanya untuk membaca status masyarakat di linimasa yang biasanya kurang bermanfaat, sepertinya lebih baik untuk membaca berita atau cerita yang ada di media digital. Sembilan jam itu sangat banyak untuk bisa menyerap jutaan informasi di media digital. Dan untuk menghabiskan satu buku cerita saja, baik digital maupun bentuk fisik, sudah bisa selesai. Jadi, ini sebagai hal positif yang harus dialihkan ke arah yang lebih bermanfaat.


2. Lebih aware dan kritis dalam menerima informasi dari sumber digital. Dalam dunia digital, informasi apapun sangat mudah diperoleh. Mungkin pertama-tama ketika terjun dalam literasi digital, semua informasi dianggap benar sehingga mudah percaya dengan informasi apapun yang berseliweran di media digital. Namun, lama-lama kita akan paham sendiri dan mampu menilai serta mengolah manakah informasi yang layak dipercaya dan tidak. Bahkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang informasi melalui media digital.


3. Memudahkan dalam membuat keputusan. Informasi yang banyak tersedia di media digital sangat memudahkan masyarakat untuk membuat keputusan. Misalnya, jika berencana pergi ke suatu tempat maka informasi tentang cuaca, lokasi kemacetan, lokasi penginapan, dan lain sebagainya yang tersedia di internet memudahkan kita untuk mengambil keputusan. Semua tinggal cari di internet saja.


4. Memperoleh hiburan digital. Tak cuma tentang berita saja, masyarakat bisa memperoleh hiburan secara digital, misalnya menonton film di web tertentu, Youtube, video atau konten yang tersebar di media sosial.


5. Tidak ketinggalan berita. Manfaat literasi digital lainnya adalah tidak ketinggalan berita karena setiap membuka sosial media maka akan ada banyak komentar orang tentang suatu berita. Atau setidaknya ada pemberitahuan berita berlangganan.


6. Hemat biaya dan waktu. Untuk mencari informasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke tempat lain untuk memperoleh informasi. Jika tersedia di internet maka akan sangat memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan biaya rendah dan dengan waktu yang singkat. 


7. Bisa memperoleh pendapatan dari media digital. Tidak percaya? Coba saja diseriusi. Banyak caranya. Mulai menulis di blog dengan konten yang sering dicari orang. Bisa pengalaman sendiri saat travelling, hamil, menyusui, anak sakit, dll.


8. Mengurangi resiko penuaan dini. Eh, maksud aku setidaknya kalau otak kita terus terasah, maka insyallah resiko penyakit tua bisa berkurang karena otak sering terasah, seperti cepat lupa atau hilang konsentrasi. Maklum biasanya ibu-ibu yang hanya mengurus rumah lama-lama kemampuan otak akan menurun. Sayang banget kalau nggak memanfaatkan media digital untuk mengasah kemampuan otak.


Apalagi kalau view sudah ribuan dalam satu bulan. Bisa dapat google adsense, content placement, atau sponsor post. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan itu. Hihi. Eh, kecuali google adsense. Tidak cuma blog, kalau suka editing video dibanding menulis bisa juga untuk membuat konten di Youtube atau editing audio untuk publikasi di podcast. 


Aplikasi editing video yang user friendly banyak sekali tersedia di Play Store. Mudah dan murah. Kadang ada juga agency yang cari Youtuber yang biasa review produk di Youtube. Apalagi kalau view ribuan. 


Instagram, Twitter dan Facebook saja bisa juga menghasilkan uang dengan meningkatkan follower dan membuat konten yang menarik di medsos. Eh, tentunya ada prosesnya loh ya. Nggak langsung ujug-ujug dapat duit.



Perananku Dalam Membangun Literasi Digital yang Positif

Sebagai rumah tangga yang mengisi waktunya untuk menulis di blog dan media lainnya, ada beberapa peranan dalam membangun literasi digital, adalah:


1. Memanfaatkan media digital untuk menambah pengetahuan. Ini adalah perananku yang paling rendah karena aku hanya menggunakan media digital untuk mencari informasi, baik dari aplikasi peminjaman buku (Ipusnas), membaca cerita di platform menulis, membaca blog, menonton Youtube, mendengarkan Podcast, mengunduh aplikasi berita, dan lain sebagainya.


2. Pembuat konten di beberapa media digital dengan aplikasi user friendly. Selain itu, aku juga berusaha membuat konten positif di blog, platform menulis, Youtube atau podcast. Dan aplikasi yang aku gunakan tidak mempersulitkanku.


3. Penyebarluasan konten positif baik sebagai penulis blog, fiksi, youtuber maupun podcaster. Banyak sekali konten-konten yang menyebarkan berita negatif atau sesuatu yang memancing kerusuhan. Daripada aku menyebar fitnah yang belum jelas kebenarannya-karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya, hanya dari pihak ketiga yang belum benar infromasinya-maka lebih baik aku menyebarkan konten positif baik di blog, di platform menulis (Wattpad), Youtube dan Podcast.


4. Menjadi blogger dan penulis yang memperhatikan kaidah penulisan EBI. Masih banyak di luar sana yang masih menulis tapi tidak memperhatikan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Maka dengan menulis EBI yang benar, setidaknya pembaca akan terbiasa membaca EBI yang benar sehingga mempengaruhi cara pembaca untuk menulis selanjutnya. Karena kalau kita menulis dengan tata bahasa yang baik maka akan enak dibaca seperti yang dijelaskan oleh Gemaulani saat Materi 1 Kelas Growthing Blogger 2 tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost. Jadi aku harus menerapkannya dalam tulisanku ini. 



Jadi, teman-teman lebih baik kita menjadi insan yang literat digital ya daripada insan yang suka melakukan perundungan sana sini. Pertanggungjawabannya sampai akhirat loh, apalagi kalau menyebarkan hoax yang belum tentu benar. Jadinya fitnah kan! 

Yuk, emak-emak kita manfaatkan saja media digital untuk pengembangan diri kita. 










Sumber :

https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/

https://www.jawapos.com/opini/29/09/2019/literasi/

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media







Read More

Follower