Literasi Digital Bagi Ibu Rumah Tangga Yang Tidak Bekerja

41 comments

Perempuan Berumah Tangga dan Pengembangan Kemampuan

Kehidupan ibu-ibu berumah tangga itu identik sekali dengan stereotype dapur, sumur dan kasur. Seolah stereotype itu begitu melekat pada perempuan yang sudah menikah yang hanya untuk mengurusi dapur, sumur dan kasur. Well, sebagai seseorang yang lahir di era milenial yaitu abad 20, stereotype itu cukup mengganggu diriku. Aku nggak mau kehidupanku sebagai ibu rumah tangga hanya berputar pada tiga hal itu. Aku ingin ada hal lain yang harus aku kembangkan di era teknologi 4.0 ini.

 

Tujuannya tak lain adalah mengasah otakku sendiri. Sepertinya stereotype itu hanya terjadi pada perempuan jaman dulu. Sekarang, sudah banyak perempuan berumah tangga yang juga berkontribusi bagi kehidupan masyarakat luas, misalnya bekerja atau sekedar menyalurkan hobi.

Literasi Digital
Literasi Digital


Bekerja pun saat ini bisa dilakukan di kantor maupun di rumah. Yah, meski status orang bekerja kantoran dan dikerjakan di rumah (Work From Home), mereka punya high prestige-lah dibanding di rumah. Eh, benar tidak? Sebenarnya tidak juga. Toh sekarang semua juga tahu kalau bekerja bisa dari rumah gara-gara pandemi Covid-19. Baik yang punya status pegawai kantor ataupun freelance. Toh, semua sama-sama bisa menghasilkan.


Rasanya ibu rumah tangga saat ini memang harus dituntut mengikuti perkembangan jaman, mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan zaman. Eh, zaman yang gimana? Yah, zaman yang erat kaitannya dengan era teknologi 4.0 dimana teknologi sudah cukup maju, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak terpisahkan. 


Perempuan berumah tangga (yang tidak bekerja sebagai pegawai kantoran) harus mampu memberi nutrisi pada otaknya dan mengasahnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya mencari ilmu pengetahuan melalui artikel di internet, mengikuti webinar-webinar, ataupun berkontribusi memberi pengetahuan kepada khalayak umum seperti menulis di media online ataupun memanfaatkan media digital.


Kemampuan berpikir kritis bisa terasah dan memiliki kepercayaan diri kalau seorang perempuan berumah tangga terus mengembangkan pengetahuannya dengan mengikuti berita secara digital ataupun online dan memanfaatkan teknologi saat ini. 


Apalagi saat ini digaungkan literasi digital sebagai upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Eh, perlu sekali kan seorang perempuan berumah tangga yang bukan berstatus pegawai kantor melaksanakan literasi digital. Dan literasi digital memang untuk semua kalangan sih. Sebenarnya lingkup literasi digital itu apa aja?


Apa itu Literasi Digital?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Sebutan lain literasi adalah aksara. Jadi sebenarnya literasi tidak memiliki arti sempit yang memiliki lingkup membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan lain untuk mengolah informasi atau pengetahuan. Literasi ini biasanya digabungkan dengan bidang kemampuan lain seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi komputer, literasi sains, literasi internet, literasi finansial, dan sederet penggabungan kata lain.


Sedangkan arti dari literasi digital, menurut seorang penulis dari buku yang berjudul digital literacy yang diterbitkan pada tahun 1997, adalah kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Belshaw menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan, alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi.


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adanya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namanya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi.


Jadi literasi digital itu sangat luas lingkupnya. Memanfaatkan literasi digital itu berarti membaca informasi secara digital melalui perangkat komputer atau ponsel, menggunakan aplikasi digital untuk mengolah dan menyebarluaskan informasi dengan sebuah kreativitas.



Perkembangan Teknologi dan Minat Baca Masyarakat

Saat ini perkembangan teknologi memang sangat besar. Di Indonesia, penetrasi teknologi informasi dan komunikasi cukup besar. Menurut Kominfo tahun 2018, kepemilikan telepon genggam sebanyak 355 juta sedangkan menurut APJII tahun 2018, pengguna internet sebanyak 171 juta jiwa. 


Namun sayang, jumlah tersebut tidak sesuai dengan minat baca masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.


Yang paling disayangkan lagi, minat baca masyarakat Indonesia itu rendah tapi menatap layar ponsel atau PC bisa sampai sembilan jam hanya untuk scrol-scrol saja! Padahal hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan literasi digital kita.

 

Literasi Digital, Apa Manfaatnya?


Sebenarnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari literasi digital:

1. Merangsang minat baca masyarakat. Jika sembilan jam digunakan hanya untuk membaca status masyarakat di linimasa yang biasanya kurang bermanfaat, sepertinya lebih baik untuk membaca berita atau cerita yang ada di media digital. Sembilan jam itu sangat banyak untuk bisa menyerap jutaan informasi di media digital. Dan untuk menghabiskan satu buku cerita saja, baik digital maupun bentuk fisik, sudah bisa selesai. Jadi, ini sebagai hal positif yang harus dialihkan ke arah yang lebih bermanfaat.


2. Lebih aware dan kritis dalam menerima informasi dari sumber digital. Dalam dunia digital, informasi apapun sangat mudah diperoleh. Mungkin pertama-tama ketika terjun dalam literasi digital, semua informasi dianggap benar sehingga mudah percaya dengan informasi apapun yang berseliweran di media digital. Namun, lama-lama kita akan paham sendiri dan mampu menilai serta mengolah manakah informasi yang layak dipercaya dan tidak. Bahkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang informasi melalui media digital.


3. Memudahkan dalam membuat keputusan. Informasi yang banyak tersedia di media digital sangat memudahkan masyarakat untuk membuat keputusan. Misalnya, jika berencana pergi ke suatu tempat maka informasi tentang cuaca, lokasi kemacetan, lokasi penginapan, dan lain sebagainya yang tersedia di internet memudahkan kita untuk mengambil keputusan. Semua tinggal cari di internet saja.


4. Memperoleh hiburan digital. Tak cuma tentang berita saja, masyarakat bisa memperoleh hiburan secara digital, misalnya menonton film di web tertentu, Youtube, video atau konten yang tersebar di media sosial.


5. Tidak ketinggalan berita. Manfaat literasi digital lainnya adalah tidak ketinggalan berita karena setiap membuka sosial media maka akan ada banyak komentar orang tentang suatu berita. Atau setidaknya ada pemberitahuan berita berlangganan.


6. Hemat biaya dan waktu. Untuk mencari informasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke tempat lain untuk memperoleh informasi. Jika tersedia di internet maka akan sangat memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan biaya rendah dan dengan waktu yang singkat. 


7. Bisa memperoleh pendapatan dari media digital. Tidak percaya? Coba saja diseriusi. Banyak caranya. Mulai menulis di blog dengan konten yang sering dicari orang. Bisa pengalaman sendiri saat travelling, hamil, menyusui, anak sakit, dll.


8. Mengurangi resiko penuaan dini. Eh, maksud aku setidaknya kalau otak kita terus terasah, maka insyallah resiko penyakit tua bisa berkurang karena otak sering terasah, seperti cepat lupa atau hilang konsentrasi. Maklum biasanya ibu-ibu yang hanya mengurus rumah lama-lama kemampuan otak akan menurun. Sayang banget kalau nggak memanfaatkan media digital untuk mengasah kemampuan otak.


Apalagi kalau view sudah ribuan dalam satu bulan. Bisa dapat google adsense, content placement, atau sponsor post. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan itu. Hihi. Eh, kecuali google adsense. Tidak cuma blog, kalau suka editing video dibanding menulis bisa juga untuk membuat konten di Youtube atau editing audio untuk publikasi di podcast. 


Aplikasi editing video yang user friendly banyak sekali tersedia di Play Store. Mudah dan murah. Kadang ada juga agency yang cari Youtuber yang biasa review produk di Youtube. Apalagi kalau view ribuan. 


Instagram, Twitter dan Facebook saja bisa juga menghasilkan uang dengan meningkatkan follower dan membuat konten yang menarik di medsos. Eh, tentunya ada prosesnya loh ya. Nggak langsung ujug-ujug dapat duit.



Perananku Dalam Membangun Literasi Digital yang Positif

Sebagai rumah tangga yang mengisi waktunya untuk menulis di blog dan media lainnya, ada beberapa peranan dalam membangun literasi digital, adalah:


1. Memanfaatkan media digital untuk menambah pengetahuan. Ini adalah perananku yang paling rendah karena aku hanya menggunakan media digital untuk mencari informasi, baik dari aplikasi peminjaman buku (Ipusnas), membaca cerita di platform menulis, membaca blog, menonton Youtube, mendengarkan Podcast, mengunduh aplikasi berita, dan lain sebagainya.


2. Pembuat konten di beberapa media digital dengan aplikasi user friendly. Selain itu, aku juga berusaha membuat konten positif di blog, platform menulis, Youtube atau podcast. Dan aplikasi yang aku gunakan tidak mempersulitkanku.


3. Penyebarluasan konten positif baik sebagai penulis blog, fiksi, youtuber maupun podcaster. Banyak sekali konten-konten yang menyebarkan berita negatif atau sesuatu yang memancing kerusuhan. Daripada aku menyebar fitnah yang belum jelas kebenarannya-karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya, hanya dari pihak ketiga yang belum benar infromasinya-maka lebih baik aku menyebarkan konten positif baik di blog, di platform menulis (Wattpad), Youtube dan Podcast.


4. Menjadi blogger dan penulis yang memperhatikan kaidah penulisan EBI. Masih banyak di luar sana yang masih menulis tapi tidak memperhatikan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Maka dengan menulis EBI yang benar, setidaknya pembaca akan terbiasa membaca EBI yang benar sehingga mempengaruhi cara pembaca untuk menulis selanjutnya. Karena kalau kita menulis dengan tata bahasa yang baik maka akan enak dibaca seperti yang dijelaskan oleh Gemaulani saat Materi 1 Kelas Growthing Blogger 2 tentang Teknik Menulis dan Editing Blogpost. Jadi aku harus menerapkannya dalam tulisanku ini. 



Jadi, teman-teman lebih baik kita menjadi insan yang literat digital ya daripada insan yang suka melakukan perundungan sana sini. Pertanggungjawabannya sampai akhirat loh, apalagi kalau menyebarkan hoax yang belum tentu benar. Jadinya fitnah kan! 

Yuk, emak-emak kita manfaatkan saja media digital untuk pengembangan diri kita. 










Sumber :

https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/

https://www.jawapos.com/opini/29/09/2019/literasi/

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media







Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

41 komentar

  1. Walau ibu rumah tangga, tetap semangat memberi penyadaran pentingnya literasi kepada publik ya Mbaak. Semangat!

    BalasHapus
  2. Waahh.... bukan perempuan biasa nulis tentang perempuan.

    BalasHapus
  3. wah...keren๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰
    Saatnya perempuan memajukan literasi Indonesia...semangat๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  4. Ah sekarang memang banyak konten unfaedah. Males

    BalasHapus
  5. Sangat menginspirasi sekali, mengingat jaman digital sekarang stereotip lama tentang ibu rumah tangga harus diubah. Tetap semangat menginspirasi ibu rumah tangga di luar sana mbak ๐Ÿ‘

    BalasHapus
  6. Sepakat. Sudah seharusnya seorang ibu rumah tangga lebih melek literasi, karena mendidik anak juga butuh ilmu.

    BalasHapus
  7. Jadi benar ya, kata siapa IRT nggak bisa memajukan bangsa? Buktinya dengan produktif menulis bisa menjadikan seorang IRT ikut berperan dalam literasi digital ya kak

    BalasHapus
  8. Meski hanya sebagai ibu rumah tangga, penting juga mengenal dan memahami literasi digital ini ya mbak. karena berita hoax di dunia maya tak terbendung jumlahnya. Sayang banget kalau ibu rumah tangga yang ikut menyebarkan berita palsu tanpa merasa bersalah, hehe

    BalasHapus
  9. Sepakat kalau ibu rumah tangga pun harus digitally literate, karena merupakan tonggak pertama anak-anaknya. Pendidikan dimulai dari rumah. Keep up the good work, ibu-ibuuu...

    BalasHapus
  10. Justru sumber hoax terbanyak biasanya dari IRT yah mbak. Makanya kalau ngga punya literasi yang baikk, bakal jadi barisan emak2 penggiring opini yak

    BalasHapus
  11. Well, jujur boleh kak? kalau bicara soal ibu rumah tangga, saya selalu sedih. kenapa? saya sebagai ibu rumah tangga merasakan sendiri betapa waktu yang kita jalani menjadi pembatas keras antara diri dan pengembangan potensi. ada hal-hal yang tidak bisa diganti dengan uang atau emas. walau ada suami yang menawari istri berhenti bekerja dan janji bakal dicukupi segala kebutuhannya, bagi saya itu sangat tidak sepadan.

    Rezeki nggak hanya uang. Bisa memiliki prestasi, punya ilmu, manfaat sosial, skill yang terus naik, adalah hal-hal yang tidak akan tergantikan dengan uang sama sekali. Malah, lebih parahnya, nilai berupa materi pun malah jarang didapat secara pantas karena irt dianggap tidak bekerja seperti suami. Miris. Walau ngga semua begitu ya... tapi kebanyakan gitu. Cek aja grup-grup curhatan wanita di media sosial. Negluhnya seputar itu kabanyakan.

    BalasHapus
  12. Haha.. Pekerjaan utama ku juga ibu rumah tangga. Yang lain sambilan doang. Meski di rumah bukan berarti gak belajar dan nggak ngapa2in. Banyak hal yg bisa kita lakukan meski cuma di rumah.
    Tapi aku setuju nih upgrade diri itu penting biar gak kena penuaan diri. Hehe

    BalasHapus
  13. Aku setuju ka, walaupun IRT harus punya literasi digital. Tujuan nya ya buat diri sendiri dan orang-orang terdekat, dengan begitunjuga kita meminimalisir terjadinya berita unfaedah.

    BalasHapus
  14. Saya bekerja sebagai pekerja lepas dari rumah, Mba. Tanpa bantuan ART juga. Bagiku,IRT itu bekerja. Pekerjaan yang dihargai dengan dpa anak anak yang diasuhnya sepenuh jiwa.

    IRT wajib melek literasi digital. Karena ditangan para ibu lah, generasi selanjutnya tumbuh dan berkembang.

    Semangat selalu bagi para ibu pembelajar, ibu penggiat literasi digital.

    BalasHapus
  15. Tulisan yang menginspirasi, keren mba, sukses selalu

    BalasHapus
  16. Minimal, ibuk saya nggak nyuruh saya berkutat di area kasur, sumur dan dapur aja haha. Meskipun orang desa, beliau ngerti kalau saya kerjaannya di internet. Jadi, kalau saya kasih tau tentang dunia digital itu beliau mau dengerin, itu cara saya mengedukasi kepada keluarga agar melek internet secara sebenarnya.

    BalasHapus
  17. Setuju dengan tulisan mba ini. Saya merasakan sendiri manfaat dari literasi digital tersebut. Saya jadi lebih melek sama perkembangan dunia meskipun cuma ibu rumah tangga yang sehari-harinya berada di rumah. Bahkan saya bisa menghasilkan uang sendiri melalui tulisan saya di dunia maya. Alhamdulillah, senangnya.

    BalasHapus
  18. Walau IRT sadar berliterasi itu penting agar sll update info terbaru ya. Kereeen.

    BalasHapus
  19. Salah satu manfaat literasi digital menurut saya adalah bisa mengurangi peredaran sampah kertas dan pada akhirnya membuat penebangan pohon bisa dikurangi

    BalasHapus
  20. Informatif & reflektif. Bagus Mba tulisannya! Sukses terus menghasilkan karya-karya hebat & berdampak!

    BalasHapus
  21. Suka deh sama tulisan mbak Lita. Aku setuju banget, ibu rumah tangga pun harus mengikuti perkembangan zaman karena ada anak yang harus dididik dan didukung juga suami yang harus didukung. Nah untuk melakukan ini, ibu rumah tangga bisa mulai dari ber-literasi digital ya, mbak. Aku sendiri baru mulai nih, dan semoga bisa Istiqomah, do'a in ya mbak litaaaaa.

    BalasHapus
  22. Setuju Kak memjadi blogger yang bijak dan paham tentang literasi digital. Nice artikel

    BalasHapus
  23. sebagai perempuan sendiri kita perlu menguasai teknologi dan media, apalagi setelah memiliki anak yaaa. penguasaan literasi digital perlu sekali dimiliki.

    BalasHapus
  24. Literasi digital perlu juga memang untuk ibu rumah tangga, apalagi sering banget tuh kimpul di group WA langsung kirim aja tanpa dilihat lagi bener gak yang di share itu berita valid.

    BalasHapus
  25. Sepakat mb...menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kita nggak bisa apa-apa. Justru ibu itu harus banyak tahu, agar bisa jadi sumber ilmu untuk anak-anaknya. Literasi digital sangat penting kita kuasai agar kita bisa memilih dan memilah informasi. Syukur-syukur bisa berkontribusi memberi konten-konten yang positif...

    BalasHapus
  26. Makna literasi ternyata cukup luas ya dan ternyata banyak juga ya manfaat dari literasi digita. Btw baru ngeh aktivitas sebagai blogger atau konten creator yanb menyebarkan konten-konten positif itu juga termasuk literasi digital ya. Noted nih

    BalasHapus
  27. Setuju banget, Mbak. Meski ibu rumah tangga, literasi digital juga harus dimiliki. Sekarang semuanya serba digital, mau enggak mau, emak-emak ini juga harus melek digital dong. Biar enggak ketinggalan dan tentunya bisa jadi fasilitas pengembangan diri :)

    BalasHapus
  28. Ahhh... setuju banget saya kalo literasi digital bisa mencegah penuaan dini. hehehe.. Iyalah ya.. Meskipun IRT, tapi ibu-ibu sekarang tetap update dengan berita-berita terbaru lhoo.. Asalkan gak asal nelan berita, tapi mampu mengolah, memilih dan memilah, insyaallah fine-fine aja. Dan kalo ngobrol sama orang lain tetep bisa nyambung.

    BalasHapus
  29. Jadi ibu jaman sekarang memang harus paham literasi digital ya. Dilarang gaptek. Harus mau menjelajahi dunia digital. Selain dapat banyak ilmu juga bisa juga dapat duit. Lumayan nambah penghasilan rumah tangga. Bisa tambah uang belanja dan juga bisa beli skincare sendiri hehe

    BalasHapus
  30. Setujuuuu, semoga dengan pemahaman literasi digital bagi ibu rumah tangga, tidak ada lagi ibu-ibu yang menyebar informasi tidak valid apalagi hoax melalui wa group ๐Ÿ˜…

    BalasHapus
  31. kerja atau tidak kerja itu menurut saya tetap penting karena berkaitan dengan kemampuan dalam melihat satu masalah terutama berkaitan dengan dunia digital

    BalasHapus
  32. Peran ibu rumah tangga nggak bs dianggap remeh juga ya mba dalam literasi digital. Rasanya pengen edukasi ibu2 gimana cara ngolah informasi yang bener, minimal kritis biar nggak mudah kemakan hoax hehe. Semangat buat para ibu rumah tangga untuk tetep isi blog dan mengikuti perkembangan jaman. Aduh apa kabar blogku nih :D

    BalasHapus
  33. Jika internet dapat dimanfaatkan untuk hal positig apalagi menambah income, jangan menjadi pengguna yang menyebarkan hal negatif ya, Mba.

    BalasHapus
  34. Iya Mbak. Rasanya kalo ibu rumah tangga nggak ikutin perkembangan literasi digital, bakal kalah salah anak nantinya ๐Ÿ˜

    BalasHapus
  35. Setuju nih mbak, kita mempunyai peran dalam mengkampanyekan pentingnya menguasai literasi digital. Salah satunya adalah dengan membuat konten positif dan juga menyebarkan konten yang positif pula

    BalasHapus
  36. Setuju, Mbak
    Dari perempuan, untuk perempuan
    Kalau bukan kita sendiri yang peduli, siapa lagi :)

    BalasHapus
  37. Semangat selalu berliterasi, baik buku fisik maupun melalui digital. Semoga selalu menginpirasi untuk wanita-wanita lainnya.

    BalasHapus
  38. Wah, tulisan yang mengena dan inspiratif. Keren Mbak.

    BalasHapus
  39. Meski jadi IRT, eh IRT itu kerja juga dong Mba, hihihi.
    Bahkan kerjaannya buanyaaakkk banget, tak berujung :D

    Dan kudu melek literasi, terutama di zaman pandemi ini, biar nggak kek iklan apa ya itu di TV.

    "Ibuuuu, internetnya mati!"

    "Terus , ibu bisa apa?"

    hehehehe

    BalasHapus
  40. Miris banget ya liat kenyataan pertumbuhan minat baca dan kepemilikan gadget berbanding terbalik. Tapi mau gimana toh kita hanya bisa merubah diri sendiri, semua yang di luar kita biarlah alam yang mengendalikan eeeaaaa....
    Saya sepemikiran denganmu, Mba. Membaca kerap bisa bantu realease kepenatan. Waktu ketemu di Ubud pun langsung klik wah ini nih emak2 produktif. Keceh abis dah pokoknya. Keep writing dan menginspirasi kami para ibu rumah tangga ya mbaa. Sending virtual hug ๐Ÿฅฐ

    BalasHapus

Follower