Setelah tiba di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul enam sore, aku sempat bingung mau naik apa ke tempat acara. Kalau dari bandara sih yang murah biasanya pakai bus DAMRI tapi ya gitu harus menunggu cukup lama. Apalagi jam acara dimulai pukul tujuh malam. Jadi aku harus pilih kendaraan yang bisa cepat. Apalagi kalau bukan taksi? Tinggal memutuskan taksi online atau taksi bandara. 

Begitu keluar pintu kedatangan, aku nggak melihat counter-counter taksi bandara walaupun banyak taksi bandara berkeliaran. Di tempat lain, kulihat beberapa orang memenuhi counter taksi online.
Apa ikut antri taksi online kali ya? Duh, tapi aku nggak punya aplikasi taksi online soalnya tabletku nggak support untuk aplikasi macam itu. Sebenarnya bisa aja sih ngehubungi saudara yang bisa pesankan taksi online, tapi kok ekspresi orang-orang yang berdiri di counter taksi online pada bete ya. Apa nunggunya lama? Mungkin saja sangat lama.

Akhirnya aku ikut masuk antrian orang-orang yang ingin menaiki taksi bandara. Antriannya memang mengular. Tapi taksi yang datang pun banyak langsung tiga taksi jadi sebenarnya tidak terasa juga. Sekitar 15 menit tiba juga giliranku yang naik taksi.

Kali ini tujuanku ke Hotel Kartika Chandra adalah untuk mengikuti Pertemuan Penulis Tahap Pertama. Pertemuan ini merupakan pertemuan para penulis yang menang sayembara bahan bacaan SD oleh Badan Bahasa Kemdikbud.

Lokasi Hotel Kartika Chandra

Hotel Kartika Chandra ini berada di Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 18-20, Karet Semanggi, Setia Budi, RT.8/RW.2, Jakarta Selatan

Ternyata hotel ini berada di deretan bangunan-bangunan penting di ibukota. Jadi nggak begitu sulit mencarinya. Hanya saja waktu itu lagi jam pulang kantor sekitar jam setengah tujuh malam. Alhasil, jalanan di google map berwarna merah. Banyak titik-titik macet. Sempat khawatir juga karena jam tujuh malam acara selanjutnya dimulai.

Sebenarnya Pak Sopir menyarankan lewat tol saja biar cepat tapi kami sama-sama nggak punya e-money.  Bapaknya sempat bilang nekad aja lewat tol tanpa e-money tapi nanti pinjam e-money mobil belakang.

Haduh, repot banget deh. Akhirnya aku bilang lewat bawah aja. Nggak usah lewat tol.

Alhamdulillah walaupun melewati macet setidaknya nggak telat-telat banget sampai tempat acara.

Begitu sampai hotel, aku takjub. Dari luar bangunannya mewah banget dan besar.

Hotel Kartika Chandra dari depan (traveloka.com)


Parkir hotel

Parkir hotelnya luas banget. Kalau aku disuruh jalan kaki dari depan gerbang hotel ke lobby hotel dengan bawa anak dan tas mungkin aku sudah pingsan kali saking luasnya.

Di sebelah hotel ada bioskop XXI juga. Wah, kebayang nih kalau sudah selesai acara pada nonton di bioskop. Tapi aku nggak mungkin sih soalnya bawa bayi, hehe.

Bangunan Hotel

Kalau dilihat-lihat dari luar, bangunan hotel Kartika Chandra seperti bangunan tua. Kutebak hotel itu dibangun sekitar tahun 1980/1990-an. Walaupun begitu, bangunan ini terlihat mewah dari luar.

Keramahan Pegawai Hotel

Taksi pun menurunkan aku di depan pintu lobby. Seorang pegawai hotel berpakaian jas hitam dan kopi hitam menyambutku dengan senyuman ramah.
Kubilang, “Saya mau ikut acara badan bahasa.”

Ia pun mempersilakanku untuk check in terlebih dahulu. Aku pun setuju karena ingin menaruh barang-barang di kamar. 

Di resepsionis, seseorang menerimaku dan memberikan sebuah daftar nama setelah tahu bahwa aku salah satu peserta pertemuan. Aku menandatangani daftar nama itu. Aku sekamar dengan teman yang sudah cukup kukenal. Namanya Mbak Ira Diana.

Lobi Hotel Kartika Chamdra

Aku pun menuju ke kamar setelah mendapatkan kunci yang berupa kartu dari pegawai resepsionis.

Kamar Old-fashioned dan Elegant

Begitu masuk kamar, lampu redup kamar hotel bintang 4 ini membuat mataku ingin terlelap. Ups, aku ingat kalau harus ikut materi. Aku rebahkan si kecil di tempat tidur yang lagi tertidur pulas.

Tempat tidur twin-bed memang diperuntukkan untuk aku dan Mbak Ira. Tapi aku nggak lihat barang-barang Mbak Ira. Mungkin Mbak Ira nggak nginep di hotel? Soalnya Mbaknya memang tinggal di Jakarta. 

Aku mencoba mengatur suhu kamar agar tidak kedinginan. Tapi aku kaget karena AC nya nggak seperti AC masa kini. Tombolnya juga berbeda. Semua tombol di kamar benar-benar tombol old-fashioned!

Aku seperti sedang memecahkan teka-teki. Kulihat dan kuperhatikan dengan seksama tombol AC kamar. Kuharap ada petunjuk yang jelas untuk mengurangi dan menambah suhu. Mungkin karena sudah malam dan lelah jadinya aku nggak begitu teliti. 

Setelah selesai acara, aku penasaran dengan tombol AC. Begitu kulihat lagi, eh ternyata tinggal memutar saja seperti putaran kipas angin. Hehe.

Tombol-tombol lampu pun begitu. Inginnya mematikan salah satu lampu kamar tapi aku nggak menemukan tombolnya. Yang kulihat hanya tombol tua yang kuanggap sebagai tombol lampu kamar. Kutekan-tekan tombolnya, tak ada perubahan. Kucari tombol-tombol lain di setiap sudut kamar tapi hanya tombol tadilah yang kutemukan.

Aku menghembuskan nafas. Sepertinya hotel old-fashioned ini benar-benar membuatku kebingungan. Jadinya aku membiarkan lampu-lampu itu menyala sepanjang siang dan malam hari.

Kamar Hotel Kartika Chandra

Kamar Mandi

Aku mencoba melihat kamar mandi. Jangan-jangan aku harus mencari tombol-tombol ajaib untuk menyalakan air. Ketika kubuka pintu kamar mandi, kulihat wastafel di sebelah pintu kamar mandi dengan tempat tisu berbahan besi tertempel di dinding. Kamar mandinya cukup luas. Di sebelah kiri, ada bathtub dengan shower terletak di atas kran air. Kloset berada di ujung. 

Memang hotel-hotel baru dan modern hampir nggak menggunakan bathtub lagi. Katanya penggunaan bathtub itu membuat air boros dibanding shower.

Melihat kamar mandi sejenak ternyata membuat aku memutuskan untuk mandi saja sebelum ikut acara. Secepat kilat, aku mandi. Untung si bayi masih terlelap. Segera aku gendong lagi dan pergi ke tempat acara.

Hall

Tempat acaranya berada di Gedung sebelah. Jadi aku berjalan kaki melewati restoran hotel yang sudah tutup. Aku baru ingat kalau aku belum makan malam hanya roti dari pesawat untuk mengganjal perutku. Itu belum cukup. Aku berdoa semoga maag ku nggak kambuh. 

Begitu aku tiba di ruang acara dan melengkapi keperluan administrasi, aku pun membuka pintu kayu yang berat dengan ukir-ukiran bunga. Aku lupa nama Hall nya apa ya, hehe.

Acara-acara sudah dimulai. Kursi-kursi sudah penuh terisi peserta. Ada beberapa kursi yang kosong tapi di tengah-tengah. Aku harus blusuk untuk bisa duduk disitu. Akhirnya aku memilih kursi di pojok ruangan. Mungkin kursi untuk panitia. Lebih nyaman karena aku bisa menyusui dengan mudah kalau anakku menangis. Dan lagi aku langsung bisa ngeloyor pergi kalau tangisan anakku tak kunjung berhenti.

Hall hotel Kartika Chandra kubilang cukup mewah. Mungkin karena ada ukir-ukirannya. Dengan jumlah peserta sekitar 150 orang, Hall itu cukup untuk menampung peserta tanpa overload dan masih lowong. Yang pasti AC-nya nggak panas. 

Musholla

Musholla juga disediakan bagi peserta yang ingin sholat tanpa harus ke kamar. Letaknya di sebelah Hall. Ruangannya cukup luas untuk sebuah musholla hotel. Biasanya Musholla ini tempatku menyusui si bayi.


Breakfast

Dengan rate per kamar 800an ribu, aku merasa sangat worth it mendapatkan segala fasilitas yang diberikan termasuk sarapannya. Menurutku selama sarapan di beberapa hotel, menu sarapan di Hotel Kartika Chandra sangat beragam. Ada masakan Indonesia dan masakan Eropa. Tak perlu bingung buat turis asing yang nggak terbiasa dengan makanan kaya rempah bisa menikmati makanan dari negaranya seperti salad sayur, salad buah, roti-roti, wafel. Bagi orang Indonesia juga nggak perlu risau karena makanannya sudah disesuaikan dengan lidah orang indo yang kaya rempah seperti bubur ayam, nasi goreng, capcay, ayam, ikan fillet. Aku kayak orang kalap pas sarapan di sana. Semua menu kucoba. Wkwkwk.

Karena anakku masih 7 bulan. Jadinya aku belikan dia jus buah pepaya tanpa gula dan tanpa konsentrat di resto hotel. Harganya lumayan bowkk. 45 ribu. Wkakaka. Dan anaknya malah makan sedikiitttt. Sedihh.

Oiya, ternyata pas ketemu Mbak Ira katanya nginep di kamar satunya karena dapat jatah dari kantor dan sekalian bawa anaknya, hehe.

Selesai sudah menginap di hotel yang old-fashioned tapi elegant. Acara pun selesai. Tanggungan selesai. Tapi masih ada pertemuan kedua lagi.




Read More

Makanan yang dianjurkan untuk bayi adalah makanan yang mengandung banyak gizi dan jangan yang mengandung MSG. Jika makanan bayi tidak bergizi maka tumbuh kembangnya akan terganggu. Oleh karena itu anda harus memperhatikan makanan yang akan diberikan pada bayi anda. Bagimana jika makanan instan untuk bayi? Tidak apa sih jika sesekali saja bayi anda memakan makanan instan. Tetapi bagaimana pun tetap instan dan dibuatnya melalui proses yang mungkin berbeda jika kita sendiri membuatnya di rumah. Sehingga gizi bayi anda takutnya tak akan terpenuhi jika hanya mengonsumsi makanan instan walaupun yang diperuntukan untuk bayi. Maka sangat perlu memberikan makanan sehat untuk bayi. Dengan begitu bayi anda akan mempunyai pertumbuhan yang baik pula. 

Makanan Sehat Untuk Bayi Dibawah 1 tahun

Bayi mulai makan makanan pendamping adalah ketika sudah berusia 6 bulan. Bayi berusia 6 bulan boleh memakan makanan yang memang dianjurkan oleh WHO. Makanan tersebut harus bertekstur halus dan juga harus makanan yang tidak megandung bahan yang berbahaya. Sehingga untuk pertama kali makan ketika berusia 6 bulan, bayi dianjurkan untuk mengonsumsi buah-buahan. Buahnya pun yang termasuk super food. Buah yang termasuk ke dalam kriteria tersebut adalah seperti alpukat, pepaya dan pisang. 

Anda bisa membuat buah tersebut menjadi jus. Jadi anda bisa menghaluskan alpukat tanpa tambahan gula dan pemanisa buatan lainnya. Biarkan bayi merasakan rasa yang original dari buah tersebut. Untuk buah pepaya juga anda bisa memblendernya hingga halus. Khusus pisang, anda bisa memberikannya lansung namun dengan disendok dengan tipis-tipis. Setelah memberikan buah selama seminggu atau 2 minggu. Anda mulai bisa memberikan makanan jenis lain seperti kentang, ubi, jagung, telur, ikan atau bahkan nasi. Jadi kenalkan 1 persatu dengan menjadikan semua bahan tersebut menjadi bubur. Jadi misalnya membuat kentang menjadi bubur dengan direbus dahulu baru diblender. 

Foto oleh AMSW Photography -Alisha Smith Watkins: pexels.com

Makanan Sehat Untuk Bayi Diatas 1 Tahun

Setelah diatas 1 tahun bayi mulai bisa memakan makanan yang sama seperti anggota keluarga. Artinya tidak lagi bubur atau sudah bertekstur kasar. Namun anda juga harus lihat kemampuan bayi. Jika bayi belum bisa, anda jangan memaksakan dulu. Kenalkan saja dulu, nanti jika mereka sudah terbiasa baru ubah tekstur dan menu. Untuk makanan bayi di atas 1 tahun juga tetap perlu diperhatikan. Janga mengandung MSG dan juga gula yang berlebih. Agar bayi  anda tetap sehat.
Anda bisa membuat makanan bayi dengan mempertimbangkan semua elemen masuk. Jadi karbohidrat, nabati, protein, dan juga sayuran harus anda. anda bisa memberi mereka sayur bayam dengan tambahan tahu putih, lalu goreng ikan salmon dengan margarin khusus bayi. Kemudian makan dengan nasi putih. Jika bayi belum bisa makan nasi putih yang seperti biasa, anda bisa membuatnya sedikit lembek. Untuk cemilannya anda bisa memberikan agar buah yang bergizi. Tentu anda bisa mengganti gula dengan susu murni atau madu. Cemilan sehat lainnya bisa anda buat kue kukus pisang. Tentu saja menggunakan bahan yang sehat seperti pisang, keju dan juga susu murni. Semua bahan dicampur jadi satu. Dicetak lalu dikukus hingga matang. 

Makanan sehat bayi untuk umur 1 tahun ke bawah atau 1 tahun ke atas sebenarnya tidak beda jauh. Hanya saja yang membedakan adalah tekstur makanan dan bagaimana makanan diolah. Maka bahan yang digunakan tidak jauh berbeda. Sehingga anda jangan  terlalu cemas atau pusing jika bayi mulai beranjak 1 tahun ke atas, tetap berikan makanan yang bergizi. Dan usahakan untuk tidak memberikan makanan cepat saji.
Read More

Minggu pagi, saya dan keluarga bergegas-gegas check out dari Hotel Kesambi Hijau. Rasanya badan saya sudah lebih segar karena beristirahat semalam di hotel bintang dua yang cukup nyaman di Semarang itu. Memang sudah saya jadwalkan untuk minggu pagi ini kami berangkat dari hotel paling lambat jam setengah tujuh pagi. Tujuan wisata keluarga kali ini adalah ke Museum Kereta Ambarawa.

Sebenarnya sekitar tahun 2011 atau 2012, waktu saya kuliah di Semarang, saya sudah pernah mengunjungi museum ini. Sayangnya dulu terlalu siang jadi saya tidak sempat naik kereta yang ada di Museum Kereta Ambarawa.
Memang apa menariknya?

Apalagi kalau sudah mendengar kata museum, pasti sangat membosankan karena isinya begitu-begitu saja. Tak ada yang menarik. Tapi Museum Kereta Ambarawa ini punya daya tarik yang membuat banyak sekali pengunjung yang pergi ke sana.

Jadi, setelah saya menelusuri tentang wisata semarang di google, kok ada yang bercerita tentang wisata museum di kota Ambarawa itu. Saya pun tertarik apalagi anak saya suka sekali dengan kereta. Saya juga sempat bertanya-tanya dengan teman saya yang tinggal di Semarang tentang wisata ke Museum Kereta Ambarawa. Teman saya malah menyarankan untuk datang gasik (pagi-pagi) agar tidak kehabisan tiket kereta. Ketika saya tanya, gasiknya jam berapa? Katanya sekitar jam setengah delapan.

Oh, okelah. Makanya saya dan keluarga check out dari hotel Kesambi Hijau jam setengah tujuh paling lambat karena perjalanan ke Ambarawa anggap saja paling lama satu jam. Belum nyasar-nyasarnya.

Lokasi

Dua tahun tinggal di Semarang ternyata nggak menjamin kalau saya bisa hapal jalanan kota Semarang dan sekitarnya. Alhasil, saat perjalanan menuju Museum Kereta Ambarawa saya mengaktifkan Google Map sepanjang jalan. Itu adalah kesalahan saya. Pada akhirnya baterai saya sudah tinggal separuh saat tiba di museumnya. Wkwkwk.

Museum Kereta Ambarawa ini berada di Jl. Stasiun No. 1, Panjang, Ambarawa, Panjang Kidul, Panjang, Ambarawa, Semarang.
Ketika saya perjalanan kesana, saya sempat nyasar untung belum jauh. Begitu sampai museum, saya sudah melihat ada dua mobil dan satu motor yang antri di depan gerbang masuk padahal belum jam delapan pagi. Gerbang masih ditutup dan belum ada tanda-tanda petugas di dalam museum.

Gerbang Museum Kereta Ambarawa


Di depan museum, pasar telah ramai didatangi pengunjung. Penjual bubur ayam dan roti goreng termasuk penjual yang ramai dikunjungi.

Lima belas menit kemudian, terlihat sudah ada petugas-petugas yang mulai datang. Pengunjung pun sudah mulai ramai memadati gerbang museum kereta. Pak satpam sudah terlihat berdiri di depan gerbang.

Uniknya, menurut pegawai kantor, ketika gerbang dibuka, akan ada pengunjung yang berlari-lari menuju loket untuk mengambil antrian dan pengunjung yang naik kendaraan seperti di sirkuit.

Gerbang pun dibuka. Semua berebut ingin mendapatkan antrian di loket. Eh, ternyata loketnya masih belum dibuka. Saya pun mendapatkan antrian yang kelima.

Pintu Masuk Loket Museum

Tiket

Begitu sampai di depan petugas loket, saya menjawab, "dua dewasa, satu  anak-anak". Harga tiket masuk museum saja :
Anak (3-12 tahun) : Rp. 5.000,-
Pelajar (berseragam) : Rp. 5.000,-
Dewasa : Rp. 10.000,-
Wisman : Rp. 15.000,- (ehm. Semoga saya nggak salah lihat ya, hehe)

Begitu kami masuk dalam museum, kami segera ke loket kereta wisata untuk antri lagi. Ibu-ibu banyak yang harus lari-lari menuju loket agar tidak kehabisan. Ckckck. Padahal dua gerbong kereta wisata dijatah untuk 100an orang. Dan kita pagi itu belum sampai 100 orang, hehe.

Oiya untuk beli tiket kereta wisata harus menunjukkan karcis masuk museum. Dan untuk 1 orang pembeli karcis hanya boleh membelikan karcis kereta wisata maksimal 4 orang. Rombongan lebih dari 20 orang harus melakukan sewa/reservasi ke Unit Pengusahaan Aset Daop 4, PT. KAI Daop 4 Semarang. Harga tiket kereta wisata sebesar 50.000 rupiah per orang baik anak-anak (diatas 3 tahun) maupun dewasa.

Kereta wisata yang digunakan pengunjung adalah kereta wisata regular (diesel) dengan model vintage dan kereta uap. Untuk kereta wisata mesin diesel dilayani tiap hari sabtu, minggu, dan hari libur nasional.

Sedangkan kereta wisata yang saya naiki adalah kereta wisata regular (diesel). Sedangkan kereta uap hanya boleh disewa maksimal 20 orang per gerbong dengan harga sekitar (Rp 6.000.000,-). Memang kereta uap ini lebih mahal. Bayangkan saja, mau naik kereta, bahan bakarnya kayu yang dibakar sampai mesin panas karena keluar uapnya.


Jam Buka

Loket masuk museum sudah dibuka pukul 08.00 begitu juga untuk loket tiket kereta wisata. Pembelian tiket juga bisa untuk jam keberangkatan kapan pun. Waktu saya kesana, hari minggu, jam keberangkatan kereta wisata adalah jam 10.00, 11.00, 12.00, dan 14.00.


Rute kereta

Rute kereta wisata ini adalah Ambarawa – Tuntang atau Ambarawa – Bedono. Waktu saya beli tiket, rute kereta adalah Ambarawa – Tuntang. Sayangnya saya juga nggak menanyakan untuk rute Ambarawa – Bedono kapan saja.

Apa saja yang ada di Museum Kereta Api Ambarawa?

Poster Sejarah

Masuk museum kereta, kita akan disuguhkan poster-poster tentang sejarah museum kereta Ambarawa. Dulu, museum ini bernama Stasiun Willem I tahun 1787 sebagai wujud penghormatan terhadap Kerajaan Belanda. Stasiun Willem I dulunya melayani Yogyakarta sampai Semarang melewati Ambarawa. Jalur ini cukup penting untuk membawa pasukan-pasukan Belanda.

Di Museum Kereta Ambarawa juga dipajang poster yang panjang untuk menjelaskan sejarah perkeretaapian secara singkat.

NISM adalah perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Sejarah transportasi massal berawal dari Desa Kemijen, Semarang tahun 1864 dimana pembangunan rel kereta api dimulai. Hingga terowongan Wilhemina yang terkenal panjang tapi sudah tidak pernah digunakan lagi.

Lokomotif Jaman Dulu

Jaman dulu memang kereta api masih menggunakan mesin uap. Bayangkan saja jika ingin menggunakan kereta api harus dipanaskan dulu dengan cara dibakar kayunya untuk mendapatkan uap panas agar bisa jalan.  Betapa merepotkan, ya.

Di museum ini terdapat sekitar 20an lokomotif uap yang sudah dimuseumkan. Jenisnya pun macam-macam. Tapi saya nggak hapal, hehe. Tak lupa, saya dan keluarga berfoto-foto di depan lokomotif.


Suasana Stasiun Jaman Dulu

Karena museum ini dahulunya ada stasiun sehingga suasana yang ditawarkan juga jadul. Desain arsitektur museum jaman kolonial menambah suasana jaman dulu. Disini kita bisa berfoto-foto.

  



Barang Peninggalan Stasiun

Barang-barang peninggalan stasiun kereta api jaman dulu dipamerkan di museum ini (yang sempat terekam oleh kamera) seperti loket kereta, mesin cetak tiket, timbangan barang, mesin hitung, lampu handsign, lemari tiket, semboyan, topi dinas, telegraf, peneng asongan, telepon ladang.





Saya terbayang bagaimana penumpang dulu naik kereta. Setiap akan naik kereta, mereka siap menyerahkan tiket. Dari tiket itu, petugas kereta akan memeriksa karcis menggunakan mesin cetak tiket. Mesinnya pun besar.

Yang unik menurut saya adalah lampu handsign yang digunakan untuk memberi tanda bagi masinis di malam hari. Ada lagi peneng asongan yang bertugas untuk meminta pedagang asongan agar memberitahu kalau mereka harus turun dari kereta karena akan berangkat.

"I Ambarawa"

Satu lagi ikon museum kereta Ambarawa yang nggak boleh dilewatkan adalah berfoto di depan tulisan I Ambarawa. Memang enak pagi pas lagi sepi dan ketika matahari belum panas. Kita bisa berfoto tanpa harus berebut dengan pengunjung.


Toilet, Musholla, Arena Bermain

Museum juga menyediakan toilet dan musholla yang nyaman bagi pengunjung. Selain itu, ada arena bermain bagi anak-anak sambil menunggu kereta wisata berangkat.

Piknik Dalam Museum

Bisa banget loh piknik dalam Museum Kereta. Waktu saya kesana saya lihat ada pengunjung bawa tikar juga satu kotak yang saya duga berisi makanan. Benar saja, pas saya masuk ke dalam museum sudah ada pengunjung yang gelar tikar di bawah pohon yang teduh ditambah angin sepoi-sepoi. Soalnya di dalam museum ini nggak ada yang jual makanan, adanya di luar museum dan di samping pagar. Pengunjung biasa beli dari dalam. Mungkin beberapa pengunjung yang tahu tentang hal itu akhirnya membawa makanan dan tikar sendiri untuk dimakan saat siang.

Kereta wisata

Akhirnya tibalah waktunya bagi para pengunjung untuk menikmati pegunungan dengan menaiki kereta wisata atau mountain railway tour. Begitu petugas meminta para pengunjung untuk tidak terlalu dekat dengan jalur kereta, tak lama kereta wisata itu pun tiba. Lokomotif yang berwarna kuning dan menambah kesan vintage sudah terlihat dari kejauhan.

Gerbongnya yang berwarna hijau tua juga pun tak kalah vintage dan sangat mendukung warna lokomotifnya. Pagar kereta di desain seperti kereta jaman dulu.



Pengunjung sepertinya tak sabar untuk segera menaiki kereta tersebut. Begitu kereta berhenti, mereka terburu-buru untuk segera naik kereta. Saya dan suami pun menyusul mereka naik gerbong itu. Saya dan keluarga dapat tempat duduk dekat pintu masuk. Pengunjung lain pun segera menaiki gerbong kereta, sementara lokomotifnya berbalik arah di tempat berputar (aduh namanya apa ya?). Lokomotif kereta jaman dulu belum bisa mundur, jadi harus diputar di tempat khusus. Lokomotif datang dan menyambungkan kembali sambungan ke gerbong penumpang. Kereta pun jalan.

Tujuan perjalanan wisata kereta ini yaitu stasiun Tuntang. Pemandangan sepanjang perjalanan tak hanya memperlihatkan kehidupan pedesaan Ambarawa tapi juga pegunungan, sawah, dan Rawa Pening. Kami melihat aktivitas para petani, penambak, sampai penduduk yang menaiki perahu kecil untuk memancing ikan.



Sekitar setengah jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tuntang. Di sana, kereta wisata beristirahat selama 15 menit. Saya dan suami turun dari kereta untuk sekedar melihat-lihat rupa stasiun sementara lokomotif harus berganti posisi lagi untuk kembali ke Ambarawa.

Sambungan antara lokomotif dan gerbong sudah terpasang, para penumpang langsung menaiki kereta kembali. Perjalanan kembali pulang ke Ambarawa.

Selama satu jam akhirnya kami kembali ke Museum Kereta Ambarawa. Dengan waktu selama itu, saya sendiri merasa puas dengan harga tiket pulang pergi seharga Rp. 50.000,-.

Begitu sampai stasiun Ambarawa, banyak pengunjung untuk kloter selanjutnya yang menanti kedatangan kereta kami. Saat kami turun pun, mereka terburu-buru untuk segera naik alhasil kami sempat tidak bisa turun. Petugas pun menghimbau untuk menunggu penumpang turun dulu.
Pengunjung Museum Kereta Ambarawa di hari minggu jam 11.00 siang saja sudah banyak sekali orang. Untung saja saya dan suami sudah sejak tadi pagi tiba di stasiun. Selain udara tidak panas, pengunjung pun belum begitu banyak, jadi saya puas berfoto-foto. Akhirnya kami pun pulang dengan rasa puas karena sudah keturutan, hehe.

Kalau lagi berwisata ke Semarang, Museum Kereta Api Ambarawa ini adalah salah satu destinasi wisata sejarah yang patut dicoba.
Read More

Follower